Cerpen

Ibu Seorang Perampok

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Memasuki pelataran rumah yang terletak di Lembah Kelelawar, Salindri merasakan langkah kakinya bergetar. Tiga puluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Dulu ia meninggalkan Samsul, anak lelakinya yang masih bayi,  dan diasuh Nenek. Ia tak pernah pulang. Tak  pernah bertemu Samsul, yang kini mendekam sepuluh tahun di penjara, menanti hukuman mati, karena merampok seorang nasabah bank, menembak mati  tiga polisi dan membunuh sesama napi.

Di depan pintu rumah kayu Salindri berhadapan dengan Surti, perempuan muda, sintal, agak genit, dan Laila, seorang gadis kecil 9 tahun. Salindri sempat mendengar dari beberapa orang, Surti  seorang penyanyi Orkes Melayu Mawar Rembulan yang diidolakan banyak orang. Begitu juga Laila, anaknya, yang mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi cilik.

Surti dan Laila  memandang Salindri  dengan tatapan aneh. Mereka curiga dengan kehadiran perempuan setengah baya itu. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya itu mendadak mendatangi rumahnya?

Tatapan Salindri  menyelidiki perempuan muda sintal yang dianggapnya sebagai istri Samsul.   

“Apa kau istri anakku?” tanya Salindri menyelidik.   

“Saya istri Samsul. Ibu siapa?”

“Aku perempuan yang melahirkan Samsul.”  

“Samsul selalu cerita, Ibu meninggalkannya ketika ia masih bayi.”

“Tentu dia sangat ingin kuasuh,” kata perempuan setengah baya itu. “Boleh aku menginap di sini?”  

“Oh, tentu saja. Ini rumah Ibu,” balas Surti, dengan keramahan seorang anak menantu pada ibu mertuanya. “Kebetulan sekali Ibu datang. Nanti malam Samsul dihukum mati, besok pagi dimakamkan.”

Pucat  wajah Salindri. Tubuh perempuan setengah baya itu gemetar. Ia merasa bersalah. Ia meninggalkan suami dan anak yang kini menjelang dijatuhi hukuman mati. Ia menyiram bensin dan membakar suami yang tak mau berhenti berjudi. Ia  melarikan diri dari rumah, mengembara di ibu kota, tak berani pulang.

Kini Salindri memasuki kamar yang dikosongkan sejak kematian Panji Rangsang, suaminya. Ia  menemukan tempat tidur dan lemari baju kayu sonokeling, masih kokoh, kecoklatan, kusam berdebu. Tiga puluh tahun meninggalkan rumah papan kayu di Lembah Kelelawar, ia masih menemukan kenangan seperti semasa pengantin baru.

Di dalam kamar itu Salindri merasakan degup jantung yang kencang. Tubuhnya lemas. Ia merasa telah menjelma iblis betina yang mengorbankan anaknya sendiri.     

***  

Pagi berkabut, dalam sunyi tanah kuburan di lereng Gunung Wurung, Salindri berdiri goyah di bawah pohon trembesi, menanti jenazah Samsul dimakamkan. Di sisinya berdiri gelisah Surti dan Laila.     

Hanya beberapa orang yang mengusung dan mengiringi jenazah Samsul. Liang lahat sudah digali kemarin sore. Salindri sangat ingin melihat wajah anak lelakinya. Tetapi komandan regu tembak,  yang mengiringi jenazah Samsul, tak memperkenankannya membuka peti mati. Salindri berdiri memandangi peti mati jenazah anak lelakinya diturunkan ke dalam liang lahat, ditimbuni tanah hingga berupa gundukan yang ditaburi bunga. Seorang ulama membaca doa, seperti tergesa-gesa, dan terkesan melakukan pemakaman rahasia. Hanya beberapa orang desa yang hadir dalam pemakaman. Suro Kolong turut melayat. Lelaki setengah baya itu berdiri di sisi ulama yang membaca doa. Beberapa pelayat  buru-buru meninggalkan makam.  

“Kudengar Samsul kebal peluru,” kata Salindri pada anak menantunya. “Bagaimana mungkin ia bisa ditembak mati?”   

Menuruni jalan setapak makam Gunung Wurung, Salindri terus menunduk, seperti ingin menyembunyikan masa lalu yang dijalaninya bersama Samsul. “Tiap tubuh yang kebal pasti memiliki kelemahan. Peluru yang digunakan menembak Samsul sudah disepuh mantra Suro Kolong yang dikenal sakti. Kekebalan Samsul tak ada artinya.”

Salindri teringat akan sosok Suro Kolong, lelaki yang selalu tirakat di Gunung Jabalkat. “Seingatku, Suro Kolong pernah berguru pada Ki Gandrung Marsudi.”  

“Samsul juga berguru ke sana. Tapi Suro Kolong lebih sakti.”           

***

KetikaSurti mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang miliknya, dimasukkan dalam kopor, dan dikemas rapi, Salindri tercengang. Apakah menantunya akan meninggalkan rumah ini?   

“Apa yang kaulakukan?” tanya Salindri, dengan pandangan tak mengerti.    

”Kami akan meninggalkan rumah ini. Kami akan menetap di kota, agar saya bisa lebih mudah menerima tanggapan nyanyi.”

“Kau akan meninggalkanku seorang diri di rumah ini?”   

“Saya tak bisa bersama Ibu. Seorang lelaki akan melamar saya. Kami segera nikah.”  

“Siapa laki-laki itu?”

“Ibu akan mengenalnya.”

Siang hari komandan regu tembak datang dengan mengendarai mobil sedan. Di belakangnya sebuah truk bak terbuka diparkir di pelataran rumah dan seluruh barang-barang Surti diangkat ke dalamnya. Komandan regu tembak menjemput Surti dan Laila.       

“Itukah calon suamimu?” tanya Salindri dengan sepasang mata keheranan.

“Ya.”

“Kau akan jadi istri kedua?”

Surti mengangguk, setengah terpaksa. “Aku merasa tenteram dan dilindungi.”

“Tapi kenapa dia tampak sungkan padaku? Ia seperti ingin menghindariku.”

“Dia cuma belum akrab pada Ibu. Kalau sudah akrab, ia akan menjadi lelaki yang menyenangkan.”

Salindri merasa bahwa komandan regu tembak menyembunyikan sesuatu yang belum dipahaminya. Sepasang mata komandan regu tembak  memancarkan  rahasia yang ingin disingkap Salindri.    

***

Menjelang sore seluruh barang Surti dan Laila sudah dimasukkan ke dalam truk. Komandan regu tembak mengendarai sebuah mobil sedan memarkir mobil itu di tepi jalan Lembah Kelelawar. Salindri merasakan sepi yang menggerogoti jiwanya. Ia akan tinggal seorang diri di rumah warisan suaminya.  Tak ada tetangga yang menempati rumah di lembah ini.  

“Biar Laila tinggal bersamaku di rumah ini,” pinta Salindri. “Ingin kutebus kesalahanku pada Samsul dengan mengasuh cucu.”  

Lama Surti memandangi Laila dan komandan regu tembak.       

“Laila bukan cucumu. Ia anak gadisku,” balas komandan regu tembak.

“Bagaimana mungkin Laila bukan anak Samsu?”  

Terdiam sesaat, komandan regu tembak itu menukas sopan, “Tanyakan keadaan anak lelakimu itu pada Suro Kolong. Ia pernah mencelakai Samsul.”   

Salindri tertegun. Lama memandangi Laila, dan gadis kecil itu hanya terdiam. Mengikuti semua perintah komandan regu tembak, Surti dan Laila berpamitan pada Salindri.  Lembah Kelelawar senyap. Pohon sonokeling, jati, dan munggur yang rimbun memendam angin pegunungan.

“Kau puas bisa menghukum mati anakku dan mengawini jandanya?” kata Salindri pada komandan regu tembak, ketika lelaki setengah baya itu berpamitan.

***

Matahari hampir tenggelam. Di  ladang jagung Suro Kolong, Salindri   menjumpai lelaki setengah baya itu. Ia sudah mengenal lelaki setengah baya itu semenjak masih tinggal di Lembah Kelelawar, sebelum meninggalkan desa. Perempuan setengah baya itu tampak gugup dan gelisah.     

“Apa yang kaulakukan terhadap anak lelakiku?” tanya Salindri, dengan suara yang bergetar.   

“Oh, dia pernah menggagahi putriku, Tari, di sendang.”

“Lalu, kau balas dendam pada Samsul?”

“Aku memukuli punggungnya pakai tongkat sonokeling.”

“Apa lagi?”

“Samsul pernah mencuri jagung di ladang pada tengah malam. Aku meminta Subro, anak lelakiku untuk memanah selangkangannya.”

“Kenapa kamu sekeji itu?”

“Anakmu akan lebih keji, kalau tak dilukai kelaminnya. Cuma aku yang bisa melukainya.”

Dada Salindri bergemuruh. Tetapi ia tak berani menumpahkan kemarahannya pada lelaki setengah baya di sisinya. Ia menunduk, meninggalkan ladang jagung. Dalam hati ia merencakan balas dendam.***

Pandana Merdeka, Juli 2024


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Cerpen

Alarm

Cerpen Sara Sujana

Tak ada suara alarm, tak ada suara anak-anak yang bernyanyi riang. Aku justru terkejut karena terbangun dalam kesunyian.

Lain dari biasanya.

Meski tak sama seperti hari-hari sebelumnya, namun satu benda yang selalu dan pasti akan kucari setiap bangun dari tidur pulas semalaman, satu benda yang biasa kusimpan rapat di bawah bantal, hanyalah satu: ponselku.

Satu, aku selalu terbangun karena tersentak suara alarm dari ponselku. Dua, aku harus mengecek aplikasi perpesanan, lagi-lagi dari benda yang sama.

Namun kini, di mana itu? Jelas sekali kalau alarm yang harusnya berdering dari sana, pagi ini tidak melaksanakan tugasnya seperti hari-hari lalu.

“Nina…Nin!” teriakku, gusar.

Nina itu nama istriku.

Tak ada jawaban.

Sepi, sunyi.

***

Matahari telah menggantung tinggi di seperempat langit dan cahayanya masuk melalui celah-celah tirai putih di kamar. Aku beranjak dari pembaringan.

Di mana ponselku?

Sial! Jam berapa ini? Mestinya alarm di ponsel itu berbunyi pukul tujuh, membuatku jenggirat dari tempat tidur dan buru-buru meraba ke bawah bantal, mengambil si ponsel dan mematikan alarmnya, bergegas untuk mandi, sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah dan melesat ke kantor melawan kemacetan.

Sial! Ada meeting jam sembilan pagi ini!

***

Melangkah aku keluar kamar, namun seketika kakiku terhenti di depan pintu yang menghubungkan living room dengan ruang makan sambil kutengok dua kamar di depan living room itu, kamar kakak adik yang bersebelahan dan selalu berantakan setiap pagi karena keduanya sibuk mengaduk lemari demi mencari seragam dan atau menyiapkan buku pelajaran. Kini rapi, sepi, kosong. Rumah cluster yang selalu ramai ini terasa ada di ujung bumi.

Pandangku terlempar pada jam dinding bulat yang menempel di ruang makan. Jam sembilan kurang, kurang sepuluh atau lima belas, entah!

Kenapa Nina tidak membangunkanku? Sudah jelas aku telat, kini aku harus bolos kerja dan…

Ah, di mana Nina dan anak-anak?

Di mana ponselku?

***

Dua malam lalu, Nina bilang kalau dia tak sanggup jika harus resign, mungkin dia akan mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk boleh bekerja di rumah.

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Dan tadi malam, Nina pun bilang, “Andre, kalau memang itu yang kamu mau, supaya aku fokus mengurus anak-anak di rumah dan undur dari pekerjaan, mungkin akan kupertimbangkan. Aku bisa menyibukkan diri di rumah dengan membuat konten. Aku suka memasak, aku bisa memasak apa saja lalu menjadikannya konten di Instagram.”

Jawabku, “Terserah kamu saja.”

Yang terjadi di malam-malam sebelumnya, hanyalah pertengkaran-pertengkaran panjang setelah anak-anak tertidur nyaman di pembaringan.

***

Pada akhirnya kutemukan ponselku di atas meja makan.

Aplikasi perpesanan pribadi antara aku dan seseorang, masih terbuka.

Alin : Selamat tidur sayang. Jangan lupa besok pagi meeting jam 9.

Andre : Selamat tidur juga sayang. Ok, siap.

Alin : Jangan lupa taruh hp di bawah bantal!

***

Termangu kini aku, kembali ke kamar, menatap kosong pada setiap sudut ruangan.

Jam di ponsel menunjuk pada angka sembilan kurang tiga. Sudah terlambat untuk meeting, sudah terlambat untuk mencari Nina atau anak-anak.

Sudah jelas semuanya. Keributan demi keributan yang terjadi selama enam bulan terakhir, aku yakin, hari ini kami sudah sama-sama menemukan jalan.

Dua jam yang lalu, sebelum alarm di ponsel itu membangunkanku atau mungkin justru saat alarm itu berteriak dan aku tidak menyadarinya, Nina telah lebih dulu mengambil ponselku, persis di bawah bantal tempatku melabuhkan kepala semalaman. Lalu ia membuka kuncinya dengan ujung jari telunjukku dan menemukan segala macam bukti yang menguatkannya untuk pergi.

Tak ada pertengkaran lagi, Nina pun tak ingin membangunkanku demi amarahnya.

Sebab, kuyakin, Nina juga memang ingin pergi.

Inilah yang terjadi pada akhirnya di antara segala macam perselisihan yang menguatkan alasan untuk perpisahan. Istriku sudah tak tahan, pun aku memilih perselingkuhan. Jadi pagi ini, aku hanya terduduk di ujung ranjang sambil terus menerus berpikir : “sudah, kan?“

Alarm di ponsel berbunyi, tepat pukul 9. Untuk yang satu ini pun aku tahu, tentu Nina yang menyetelnya demikian.


Sara Sujana, dari Yogyakarta. Suka kopi, kadang sehari tiga kali. Instagram: @sarasujana46.

Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Cerpen

Tidak Boleh Ada Dua Surga

Cerpen Puput Sekar

Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.

Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.

Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?

Kondisi alamnya yang indah seperti surga.  Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.

Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.

Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.

Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan,  lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.

Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.

Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.

Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.

Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.

Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.

Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.

Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.

Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.

Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.

Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.

Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.

Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?

Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.

Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.

Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.

Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.

Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.

Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***

Sleman, Mei 2024


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]

Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.

Cerpen

Obituari untuk Ayah

Cerpen Edellweiss London

Baru beberapa jam lalu jenazah ayah dikebumikan, tetapi beberapa sanak saudara sudah berani menyinggung tentang penerus perusahaan di depanku. Sungguh tak punya sopan-santun. Malas menaggapi Paman dan Bibi, aku melipir menjauh.

Aku membuka kantor ayah yang terletak di ujung koridor. Lengang. Kepalaku berdenyut hebat dan mataku terasa berat karena terlalu banyak menangis. Dengan kaki berat, aku menghampiri kursi goyang ayah lalu duduk di sana. Punggungku menggoyang sandaran kursi beberapa kali. Kala ayunan menjadi konstan, mataku mulai terpejam. Ingatan tentang ayah, ibu dan apa yang terjadi di antara mereka mulai berkelebat.

Mati memang tidak membawa harta, tapi tetap saja orang-orang kaya dimakamkan di tempat yang berbeda dengan rakyat jelata. Ayahku, Sastrowijoyo, adalah seorang ningrat keturunan keraton. Sebelum meninggal, ayah telah mempersiapkan tanah berharga ratusan juta untuk dijadikan pusara keluarga.

Makam ayah berada di pekuburan mewah, bersanding tepat di sebelah makam ibu. Mereka sehidup-semati, rupanya. Mengingat betapa tidak akur mereka berdua semasa hidup, aku sungguh tak menyangka jika ayah akan begitu cepat menyusul ibu.

Aku ingat, menjelang kematian ibu, ayah berbisik di telinga ibu sembari terisak, “Aku tak bisa hidup tanpamu, Utari.”

Ternyata kata-kata itu bukan isapan jempol belaka. Ibu baru berpulang kurang dari dua bulan lalu, dan sekarang ayah menyusulnya. Hatiku yang susah payah bertahan selepas kematian ibu, kini harus kembali koyak. Sesak, dan kehilangan memang tak pernah terasa lapang.

Aku kini tinggal seorang diri. Rasanya hampir tak percaya, aku telah menjadi yatim piatu dalam waktu singkat. Jika bukan karena para pelayat itu, aku menyangsikan ayah sudah tak bersamaku lagi.

Berbeda dengan ibu yang selalu mendukungku, semasa hidup ayah adalah pengkritik terbesarku. Walau aku dan ayah sering bersitegang, namun kematiannya terasa seperti tembakan peluru yang meninggalkan lubang di dadaku.

***

Bunyi ketukan pintu membuatku membuka mata. “Masuk,” kataku.

Sesaat kemudian kepala laki-laki itu tersembul dari balik pintu. Aku mengenalinya sebagai pelayan setia ayah.

“Ada apa?” tanyaku ketus. Aku agak sebal karena dia tak membiarkanku beristirahat barang sejenak.

Pelayan setia ayah mengangguk hormat. Dia menghampiri dudukku lalu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, “Nyuwun sewu, Panjenengan diaturi menulis obituari untuk menghormati mendiang bapak.”

Aku tertegun untuk beberapa saat, lalu menggumam, “Obituari?”

Inggih, obituari yang indah. Sama seperti yang Panjenengan tulis untuk mendiang Ndoro Putri.” Laki-laki di hadapanku itu berkata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memang biasa menyapa ibuku dengan sebutan Ndoro Putri.

Saat kematian ibu, aku memang menulis obituari sepanjang tiga halaman yang begitu menyentuh. Aku banyak bercerita tentang kebaikan ibu, juga waktu-waktu yang kami lewatkan berdua. Bahkan aku sempat melihat ayah menitikkan air mata saat membacanya.

“Harus?” tanyaku menyelidik.

Inggih, Mbak. Kita akan menerbitkannya di website perusahaan. Juga, mengirimnya ke beberapa surat kabar.”

“Apa yang harus kutulis dalam obituari tentang ayah? Dari mana aku harus memulainya?” tanyaku pada pelayan setia ayah yang hampir tak pernah kusebut namanya itu.

Dia mematut ujung alisnya, tampak berpikir sebentar. “Mungkin, Mbak Ayu bisa memulainya dari cerita masa kecil, atau kenangan indah bersama bapak.”

Tak ayal, jawaban pelayan setia ayah malah membuatku tercenung. Bagaimanapun, ayah tidak sama dengan ibu. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadiran ayah selama ini lebih banyak memberiku kemarahan. Dia memang tak pernah melakukan kekerasan fisik, namun mentalku terjerembab hingga dasar jurang akibat perilakunya, juga beragam intimidasinya yang terasa mengekang.

Bagaimana aku bisa menulis obituari untuknya, jika apa yang paling kuingat adalah saat dia membawa seorang anak laki-laki ke dalam rumah kami?

“Dia Gada, adikmu. Mulai sekarang akan tinggal bersama kita,” jelas ayah dengan begitu lugas.

Aku masih tujuh tahun ketika itu. Otak kecilku masih bingung mencerna, bagaimana mungkin tiba-tiba aku punya adik yang hampir sama besar dengan diriku?

Gada berumur enam tahun pada saat itu. Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dari aku. Sehingga ibu meraung berhari-hari mengetahui fakta bahwa ayah menghianatinya saat usia pernikahan mereka baru berjalan beberapa tahun.

Sejak kehadiran Gada di rumah kami, ibu jadi sering menangis. Dari mulutnya, berbagai sumpah-serapah untuk ayah seringkali terdengar. Ayah hanya diam membisu. Ayah membawa pulang bukti perselingkuhannya tanpa pernah mengungkap siapa perempuan itu.

Kala ibu bertanya panjang lebar dengan emosi berapi-api, ayah hanya menjawab pendek, “Tak perlu diperpanjang, perempuan itu sudah mati.”

Begitulah, karena ibunda Gada mati muda, ayah membawa anak laki-laki itu ke rumah kami. Aku yang tadinya menikmati segala fasilitas dan kasih sayang sebagai putri tunggal, sejak saat itu harus rela berbagi.

Ibu adalah tipe perempuan Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan. Dia bertindak dengan keanggunan seorang aristokrat. Ibu dibesarkan di tengah keluarga priayi yang tersohor. Perceraian seringkali dianggap aib, maka ibu memilih tetap mendampingi ayah. Ibu memang memaafkan Ayah, namun tak pernah menerima Gada sebagai anaknya.

Ayah berusaha bersikap adil dengan memberi Gada semua fasilitas yang kudapatkan. Sedangkan Ibu, hanya akan mengutamakan kepentinganku tanpa pernah peduli pada anak tirinya.

Gada bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku enggan mengakui dia sebagai adikku. Di sekolah, kami berlakon seperti tak saling kenal. Ibuku pun tak mau mengakui Gada sebagai anaknya dan menolak mengurus segala keperluan anak laki-laki ayah. Ibu hampir tak pernah berbicara pada Gada kecuali marah. Ibu juga tak pernah membiarkan Gada makan semeja dengan kami.

Gada anak yang cerdas. Dia cepat mengerti bahwa kehadirannya tak diterima oleh siapa pun di rumah, kecuali ayah. Dia tak pernah berisik, dan menerima segala caci-maki yang kulontarkan untuknya. Dia tak pernah membalas sumpah-serapahku selama bertahun-tahun, sejak kami masih kecil hingga dewasa. Namun segala penerimaannya justru membuatku merasa muak. Gada telah membuatku merasa menjadi orang jahat.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, ayah tak pernah mempercayaiku. Ayah selalu memasang Gada di sebelahku. Gada hampir tak punya keinginan sendiri. Apa yang dia lakukan hanyalah menuruti perintah ayah. Ke mana pun aku pergi, Gada menjagaku. Dia akan mengantarku ke sana kemari, menungguku dalam diam, lalu menjemputku dengan senyuman. Dia mengerjakan apa pun yang kusuruh, termasuk membeli pembalut saat aku tengah datang bulan.

Jika aku dan ibu pergi berbelanja, Gada akan dengan patuh berjalan di belakang, membawakan seluruh belanjaan yang kami beli. Jika kami mampir ke restoran, dia akan duduk menjauh, tidak akan makan kalau tidak disuruh. Jika ibu berbaik hati menyuruhnya makan, Gada akan memesan menu paling murah. Perbuatan yang membuatku makin membencinya karena dia sok menderita.

Ayah memberikan semua uangnya kepada ibu, mewariskan semua aset perusahaannya kepadaku, namun dia memberikan seluruh hatinya kepada Gada. Bahkan ayah sendiri yang mengajari Gada menyetir mobil. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan untuk aku.

“Kau tak boleh menyetir, biar Gada yang mengantarmu,” begitu kata ayah, membuatku semakin muak.

Ibu hidup untuk aku, ayah hidup untuk Gada. Begitulah keluarga kami terbelah. Ibu dan ayah kerap berdebat karena ibu bersikeras mendahulukan kepentinganku, sedang ayah kerap meminta belas kasihan ibu agar Gada mendapat sesuatu yang sama sepertiku.

Aku tumbuh menjadi perempuan dewasa yang egois. Gada tumbuh menjadi lelaki yang tak punya daya juang. Sekali lagi, dia membuatku membencinya karena telah menempatkanku menjadi penjahat.

Menulis obituari untuk ayah, tak mungkin menafikan kehadiran Gada. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa Gada adalah putra kandung ayah. Di luaran, ayah mengakui Gada sebagai anak angkatnya. Hanya kepada aku dan ibu saja, seorang Sastrowijoyo, pejabat publik yang merangkap pengusaha kayu, mengakui bahwa dia memiliki anak lain di luar nikah. Aku dan ibu mengunci rapat mulut kami. Bagiku dan ibu, kehormatan keluarga adalah nomor satu.

Aku bangkit dari kursi goyang, ganti menghampiri pelayan setia ayah lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Bagaimana kalau kau saja yang menulis obituari untuk ayah? Lagipula, kau juga anaknya, kan, Gada.” ***


Edellweiss London adalah penggiat literasi di Rumah Baca Cerdas Institute A. Malik Fadjar, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang aktif menulis di grup kepenulisan Nulis Aja Dulu, anggota klub menulis Tiga Strata, dan militan eksklusif di Terus Saja Tulis. Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

Cerpen

Bopeng

Cerpen Kathy Okano

Sebelum jatuh cinta pada Hanuman, aku pernah sangat ingin mati. Aku merasa kosong seperti selongsong yang ditinggalkan proyektil apinya. Namun, aku juga merasa berat. Kosong tetapi berat. Aneh bukan? Dan tidak jelas.

Kenangan-kenangan yang kumiliki seperti potongan-potongan puzzle yang berserak. Juga tidak jelas. Kadang aku harus berusaha sangat keras agar setiap potongan sesuai, untuk sebuah ingatan yang utuh. Kadang juga isi kepalaku memuntahkan ingatan-ingatan yang tiba-tiba mencuat seperti kancing baju yang terlepas.

Ketika berusia dua belas, aku pernah mendengar kisah tentang ruh yang tak mau berdamai dengan raga yang ditempatinya. Memberontak. Pemilik raga nyaris sakit jiwa dibuatnya. Itu juga terjadi padaku. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikiranku, nyaris membuatku gila.

Perasaan hampa seperti tabung bejana hampa udara seolah menggerogotiku. Jika kosong sama dengan nol, apakah ia sama juga dengan ketiadaan? Lalu jika aku merasa kosong, apakah itu artinya aku tiada? Tetapi aku merasa diriku ada. Aku berpikir, jadi aku ada. Ada dulu atau berpikir dulu? Ada dulu atau sadar dulu? Mungkinkah manusia sadar selagi dirinya belum ada? Ataukah kesadaran yang membuatnya ada? Ah, omong kosong! Pikiranku terus mengembara dan membuatku muak hingga berteriak. Kasihan. Kasihan. Papa lebih kasihan, aku yakin ia amat terluka melihat putri semata wayangnya seperti ini, dan kekayaan yang dihasilkan pabrik anggurnya tak dapat menolong.

Lalu, Februari itu, ketika langit dengan murah hati menumpahkan hujan, kekosongan itu terasa lebih jinak. Setelah sebulan aku berada di Indonesia–Yogyakarta, Aunty Barnes mengajakku menonton pertunjukan wayang wong yang mementaskan lakon Anoman Obong. Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sang Hanuman. Pada Mas Adi, Argo Dumadi. Aku tersihir oleh penampilannya yang memukau.

Tubuhnya yang tinggi tegap menari-nari lentur dan anggun, dipadu dengan jurus-jurus silat penuh kejantanan. Mengalirkan ekspresi Hanuman sejati. Dengan perjuangan setulus hati, Hanuman mengobrak-abrik kerajaan Alengka.

Hanuman membakar Alengka dengan api berkobar-kobar yang diikatkan di ujung ekornya. Menumpas kecurangan dan kejahatan, serta angkara murka Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Dengan hentakan kaki-kakinya yang kukuh lincah, tangan-tangannya yang perkasa, dan gerakannya yang trengginas Hanuman melompat ke sana-kemari. Melompat dan melesat tinggi-tinggi, melingkar-lingkar bak putaran sejuta cambuk, menangkis serangan Rahwana yang membabi-buta.

Suasana tegang mencekam. Sorot lampu panggung dimainkan gelap-terang-gelap-terang-gelap diakhiri dengan sorot seperti sebuah ledakan ketika Rahwana terkapar. Perjuangan Hanuman yang tanpa pamrih itu berakhir gemilang. Dewi Sinta yang terkulai dalam ketakutan pun bebas dari cengkraman keji Rahwana. Pertunjukan diakhiri dengan Hanuman menyerahkan Dewi Sinta pada suaminya, Sri Rama. Rupanya bukan hanya aku yang terpesona, orang-orang bahkan menjerit histeris untuk Hanuman.

“Ada londo wedok datang ke tobong!” komentar dari anak-anak wayang membuatku geli, ketika pertama kali aku mendatangi tobong. Lazimnya mereka menyebut ras kulit putih dengan wong londo.

Aku mencari Mas Adi. Berdalih melakukan penelitian tentang kehidupan anak-anak wayang. Mereka mengerumuniku, penasaran. Aku berpendapat, kehidupan di tobong ini nyaris tidak memiliki rahasia, tidak memiliki privasi.

Sayang sekali orang yang kucari tidak di tempat. Sedang mengurus perizinan untuk tampil di Surakarta, katanya. Sebagai gantinya, Sri Ratih–istri Mas Adi yang juga seorang ledhek dan perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu sang Hanuman, menemani kami–aku dan Aunty Barnes. Aunty Barnes yang sudah fasih berbahasa Indonesia membuat kami cepat akrab. Aku menikmati kedekatan kami meski dalam hati tersimpan setitik kecewa. Orang yang kusukai sudah beristri.

“Orang Indonesia memang banyak yang menikah muda,” ucap Aunty Barnes ketika kami dalam perjalanan pulang. Sepertinya ia paham bahwa aku patah hati.

Hari-hari berikutnya aku sering datang ke tobong. Siang, sore, atau malam hingga tengah malam. Mewawancarai bintang utama penelitianku dan menonton setiap pementasannya. Orang-orang mengatakan bahwa aku kedanan. Aku tak menampiknya, juga tak membenarkannya.

Aku menikmati kehidupan bersama anak-anak wayang di tobong. Menyantap makanan yang sederhana, sayur lodeh, juga ikan asin. Semuanya terasa nikmat. Aku juga mencintai Asri, putri Mbak Ratih dan Mas Adi. Dan kekosongan yang dulu amat ganas, kini makin jinak.

Asri. Padanya aku berlaku seperti seorang ibu. Menyisir dan mengikat rambutnya, juga menyematkan pita merah. Menggunting kuku-kukunya, menemaninya belajar, tak jarang juga ngeloni saat tidur siang. Ibunya tak sempat.  Mbak Ratih sibuk menyiapkan panggung dan kostum untuk para pemain wayang wong. Asri mengikatku, lebih dari cintaku pada Mas Adi.

Berita-berita miring tentangku dan Mas Adi terus beredar. Namun, tak ada klarifikasi dari Mas Adi, dan aku tak mau memusingkannya. Sedang Mbak Ratih sepertinya memendam sakit hati. Tapi bukankah Mbak Ratih seharusnya yang paling tahu bahwa aku dan Mas Adi tak memiliki hubungan apa-apa? Dan berita-berita miring itu juga tak benar, bahwa aku dan Mas Adi sering bermesraan? Satu-satunya moment kedekatan kami adalah ketika Mas Adi mengantarku pulang ke kaputren dengan naik becak. Hanya itu. Aku menghormati kesetiaannya pada pernikahan karena tak tergoda sedikit pun padaku, yang orang bilang serupa Anne Hathaway.

Kuperhatikan Mbak Ratih selalu murung dan sering melamun, sehingga membuat penampilannya saat menari gambyong tampak tidak semarak. Tidak sedikit penonton yang protes. Tapi dia tidak memperbaiki diri. Ia malah tampil semakin buruk, buruk, dan buruk. Akhirnya ia jatuh sakit. Banyak bisik-bisik yang mengatakan ia ngenes karena berkali-kali menyaksikan aku dan Mas Adi bermesraan. Apakah Mbak Ratih sungguh termakan oleh berita bohong itu?

Aku masih ingat suatu malam ia mengerang-erang sambil memegangi perutnya, ngoling-oling. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru digegat-gegat. Roknya yang kuning berubah menjadi berwarna merah, dengan gemetar aku memperhatikan darah itu bersumber dari vaginanya. Ketika itu semua sedang pentas di panggung, aku tetap di tobong untuk menemaninya dan Asri.

“Sampeyan yang mbuat saya gini. Sampeyan guna-gunai saya!” lirih ia menuduh, tapi penuh dendam. “Agar sampeyan bisa demenan sama suami saya. Dasar londo edan! Minggat sana, jangan sentuh saya!” sambungnya, menghardik.

Aku tidak menghiraukan ucapannya, berusaha bersikap tenang agar bisa menolongnya, sedang tangis Asri sudah meledak.

Oleh dokter, Mbak Ratih dinyatakan menderita kanker rahim. Dan setelah berjuang selama sebulan, ia meninggal. Hari ketika Mbak Ratih dimakamkan, menjadi hari paling menyiksa buatku. Berpuluh-puluh pasang mata seolah menghakimi, menyalahkanku atas kematian istri Mas Adi.

“Terang saja dia mau berkorban gitu karena kedanan Mas Adi–suami Dik Ratih, si Anoman!” seru ibu yang didukung oleh perempuan lainnya, ketika mengetahui biaya pengobatan dan pemakaman aku yang menanggung. Aku melakukannya bukan karena mencintai Mas Adi, tapi karena menyayangi Asri.

“Esmee Helaine tidak kedanan aku. Tapi akulah yang kedanan, mabuk kepayang dan tergila-gila–gandrung kepati-pati sama dia. Jangan salahkan londo itu!” Suara Mas Adi mengiba-iba. “Istriku meninggal karena memang sakit, bukan karena black magic.”  Pembelaan Mas Adi justru menyakiti hatiku dan menempatkanku pada posisi yang serba salah.

Seperti ujung rantai yang ditarik, kemudian bagian lainnya mengikuti, hal-hal buruk terjadi secara beruntun.

Waktu di mana pekat menjadi penguasa hari dan sunyi, rasa hormatku pada sang Hanuman berkecai-kecai. Aku menahan muntah. Gila. Aku tak ingin mempercayai apa yang kulihat. Menjijikkan. Hanuman dan Rahwana bermesraan! Keringat dingin membalutku seperti kepompong, lututku lemas. Apakah Mbak Ratih tahu? Apakah ini penyebab sesungguhnya kengenesannya?  Aku membekap mulutku sendiri dan tanpa kuinginkan, air mata melelehi pipiku. Mereka terkejut ketika mendengar pekikan, dan lebih terkejut lagi ketika melihatku berdiri gemetaran.

“Asri bukan anakku,” Argo Dumadi berkata ketika menghampiriku yang tengah berkemas. Aku bergeming. “Ratih mendapatkannya dari laki-laki lain,” sambungnya, menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya dalam-dalam.

Aku tak menanggapi. Aku juga tak melihatnya. Aku jijik. Meski sesungguhnya aku ingin berteriak dan meludahinya. Menuntut perbuatannya yang tercela dan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi bopengnya. Kalau bukan karena Asri, aku tak akan menginjakkan kaki ke tobong lagi setelah kematian Mbak Ratih, terlebih karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh Mas Adi karena pengakuannya.

Sejak hari itu kondisi kesehatanku menurun drastis. Aunty Barnes mengantarku pulang ke Ostrali. Kekosongan yang kurasakan kembali mengganas dan ingatanku melayang pada Grandma. Ia yang memaksaku menjadi seperti yang diinginkannya, menjadi feminim, menjadi sempurna. Aku ingat, sejak saat itu kekosongan mulai membungkusku seperti selimut kepompong, mengisap habis gairah hidup dan kedamaian dalam dadaku. Aku benci Grandma, aku benci Mas Adi, aku benci Mbak Ratih. Namun, aku mencintai Asri yang sekarang telah tumbuh menjadi gadis cantik. Aunty Barnes yang membawanya kemari untuk mengenyam pendidikan yang lebih layak.

Aku memandangi gadis yang pernah mengalami tangis yang panjang karena kehilangan ibunya, juga ayahnya yang katanya mati gantung diri karena tak kuat oleh tekanan situasi. Sudah terbukakah boroknya?

Ia tengah membelakangiku, membuka jendela-jendela di kamar perawatan agar udara segar menggantikan udara yang mulai terasa pengap. Rasa sayang memenuhi dadaku. Aku tak ingin ia bernasib seperti ayah atau ibunya, karena air cucuran atap ke mana jua jatuhnya? Aku ingin melindunginya dari karma orangtua, maka kuhujamkan pisau pengupas buah berkali-kali ke punggungnya dengan cepat, hingga ia roboh.***


Kathy Okano, nama pena penulis asal Sulawesi Tengah, yang menyukai drakor dan anime. Menamatkan pendidikan S1 pada 2017. Sekarang sedang aktif di klub menulis Tiga Strata, NAD (Nulis Aja Dulu) dan anggota militan eksklusif TST (Tulis Saja Terus). Menyukai makanan pedas dan gurih.

Cerpen

Lelaki Berjubah Putih

Cerpen Pasini

Hujan tak kunjung reda. Sepertinya langit nelangsa dengan seisi bumi yang cukup lama dicengkeram kuasa kemarau dan tergerak menyudahinya. Tapi rerimbun pohon beringin tempat aku berteduh sungguh penuh kasih. Tak setitik pun air yang diperbolehkan menetes di kemejaku.

Pada sisi jalan berbeda, di bawah pohon beringin yang lain, seorang lelaki berjubah putih meneduhkan juga tubuhnya. Ia tersenyum menatapku. Aku mengangguk takzim, sebelum kemudian mataku kembali menekuni bulir-bulir air langit yang jatuh dan mengenai apa saja. Menimpa atap gedung dan meruntuhkan kesombongannya. Menimpa besi dan meninggalkan jejak karat. Melarutkan debu pada jalan aspal dan bebatuan. Serta memupus dahaga tetumbuhan yang menangguk rindu sampai semusim penuh. Beberapa hari ke depan, kelopak bunga akan tersenyum dengan indahnya.

Aku menjadi teringat akan sebuah senyum pula. Milik seorang gadis kecil. Hidupnya belum tercemari legamnya dunia sehingga hanya meminta lalu terkabulkan yang ia tahu. Dan sebaiknya memang begitu. Biarlah kesusahan hanya milik orang-orang dewasa dan jangan dikenalkan pada anak-anak sebelum waktu mereka tiba.

“Sebuah boneka beruang ya, Yah. Yang besar,” pinta gadis itu tadi pagi.

Aku mengangguk sembari mengembalikan senyumnya dengan lebih manis. Lalu kuangkat tubuhnya tinggi-tinggi, hendak kudekatkan dengan langit. Tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan. Bahkan ia masih memelihara senyumnya di beranda dengan pandangan mengikuti angkutan berwarna kuning yang membawaku pergi. Sampai kemudian tubuh mungil gadis itu digantikan dengan pohon palem, pohon akasia, pohon pakis, dan pohon bebungaan di tepi sepanjang jalan menuju pabrik sepatu tempat aku bekerja.

Lelaki berjubah putih tak ada di tempat teduhnya. Mungkin ia menerobos hujan dan tak jenak menunggunya sampai sedikit reda.  Begitu pun senyum gadis kecilku. Mereka sama-sama hilang. Berganti dengan senyum kecutku. Aku membuka tas kerja berwarna hitam untuk sebuah tujuan memberi keyakinan bahwa memang hanya ada amplop tipis di dalamnya.

Sebagian besar isi amplop itu telah berganti dengan senyum seorang lelaki tua berbaju lusuh. Karena perutnya kenyang sekarang. Besok ia bisa memeluk tubuh istri juga cucu. Setelah selama ini menumpuk rindu demi rindu hingga memenuhi setiap sekat, lorong, dan bilik hatinya. Tak ada ruang untuk rasa yang lain. Tak ada keinginan selain bertemu orang-orang terkasih. Tapi sayang keinginan itu selama ini ibarat benda antik tergadai yang belum mampu ia tebus kembali.

Aku sibuk merangkai kalimat yang tepat  untuk kusampaikan pada istriku di rumah. Juga gadis kecil kami. Aku tidak ingin membuat  kecewa tentu saja. Bahkan selama ini aku sanggup melakukan apa pun demi memelihara senyum mereka.

Mungkin istriku akan mendiamkan aku. Atau melontarkan kemarahan. Lalu mengubah kebiasaan secangkir kopi di pagi hari dengan air putih. Mau tidak mau memutar otak agar sisa uang belanja bulan kemarin cukup untuk sampai bulan depan. Daging, telur, diganti dengan tahu dan tempe. Jamur tiram, ikan, diganti dengan kangkung dan bayam. Lalu suasana meja makan akan berubah dingin. Tidak ada gelak tawa. Tidak ada bual cerita. Menghikmati isi piring masing-masing dan tidak disambi tanya: liburan ke mana enaknya akhir pekan. Atau: rilis film terbaru apa di bioskop.

Tapi bagaimana dengan gadis kecilku? Bisakah matanya dibuka pada rupa-rupa dunia sementara yang ada di otaknya hanyalah boneka, keripik kentang, pesta ulang tahun yang meriah, serta gaun berumbai? Apa yang kusebutkan sebagai kesusahan lelaki tua yang menahan lapar dan berpakaian lusuh lagi robek, akan dianggapnya sebagai dongeng belaka sebagaimana isi komik yang istriku bacakan untuknya di ambang waktu tidur. Di kehidupan nyata, peristiwa semacam itu mana mungkin ada.

Sayang, langit prematur menutup kran air yang tercurah ke bumi. Padahal aku belum menemukan patah-patah kata yang tepat. Tapi senja keburu hadir dengan sisa-sisa hujan berupa genangan air di badan jalan yang berlubang. Mau tidak mau aku harus bergegas pulang. Aku tidak mungkin menghindari rumah layaknya prajurit perang yang kalah.

   Sebuah mobil putih menepi. Dikendarai lelaki tua berjubah putih. Ingatanku melayang pada beberapa puluh menit silam, seseorang yang juga meneduhkan tubuhnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon. Tetapi aku tidak begitu meyakininya. Karena bisa saja keduanya adalah orang berbeda.

 “Naiklah. Saya akan mengantar Kisanak sampai tujuan,” tawarnya dengan senyum laksana cahaya.

 “Terima kasih, Pak. Maaf saya tidak ada ongkos. Lagi pula rumah saya tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam jalan juga sampai.”

 “Bukankah Anda sudah membayarnya tadi?”

Aku bingung. Tapi sepasang kakiku buru-buru naik, mendahului  kepalaku yang bahkan masih sibuk mencerna, apa maksud dari kata-katanya barusan. Bagai otak dan rangka tubuhku tidak terhubung dalam satu jalinan koordinasi. Seperti ada yang menggerakkan sendi-sendiku tapi itu bukan perintah pikiranku sendiri. Aku terduduk kikuk pada jok hitam yang licin dan mengkilat. Sepanjang perjalanan, lelaki tua itu banyak tersenyum. Kami hanya bicara seperlunya.

 “Tidakkah waktu Bapak terbuang hanya dengan mengantarkan saya?”

“Tidak ada kebaikan yang percuma. Semua ada hitungannya.” Lalu ia tersenyum lagi.

Aku diturunkan tepat di halaman, sebelum kemudian mobil dan pengemudinya segera menghilang dari pandangan. Tas kerjaku melorot dan nyaris jatuh. Sampai tidak menyadarinya karena sibuk melamun.  Aku hendak membetulkan posisinya pada pundak setelah terlebih dulu menautkan bagian kancing yang agak terbuka. Tanpa sengaja tanganku menyentuh amplop. Padat dan menggelembung. Aku terkesiap.  Ada  lembar-lembar merah.  Jumlah yang mencengangkan. Tubuhku sampai bergetar.

Sesampainya di dalam rumah, tidak pernah kulihat istriku sebahagia ini sebelumnya. Untung ia tidak bertanya dari mana uang sebanyak itu berasal. Karena  memang bukan jawaban atas kemungkinan itu yang kupersiapkan. Aku justru sudah dalam keadaan siaga untuk beberapa hal yang buruk. Bahkan semisal ia mengusirku dan menyuruh tidur di emperan toko karena pulang tanpa membawa sebagian besar uang gajian.

“Gusti…” lirihku dalam zikir.

Menjelang malam, hujan kembali turun dengan derasnya.  Aku terjaga sampai dini hari, tapi tak kunjung menemukan jawaban dari berondong pertanyaan yang menyerang batok kepala. Beranjak pagi aku baru tertidur. Lelaki tua dengan baju yang lusuh mendatangiku dalam mimpi.

***

 “Tiga kali sehari itu jumlah yang berlebihan, Nak. Sekali sehari, tapi setiap hari, itu sudah cukup.” Lelaki tua itu terkekeh.

Beberapa saat sebelumnya, lelaki tua itu melontarkan kegetirannya lewat kisah seorang bocah piatu yang ditinggal berpulang ibunya kala bertaruh nyawa melahirkannya ke dunia. Ayah si bocah berlimpah ke perempuan baru. Menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut pada dirinya dan istrinya yang merupakan orang tua dari perempuan yang meninggal setelah melahirkan itu.

Ketika lelaki tua pergi merantau, cucunya baru berusia tiga bulan. Tapi dalam foto terakhir yang dikirim istrinya dari kampung halaman, bocah itu sudah setinggi pangkal paha orang dewasa. Punya rahang kotak semirip dirinya. Rambut lurus serupa istrinya. Dan mata bulat milik mendiang anaknya.

Dalam surat yang menyertai foto, istrinya menyebutkan bahwa bocah itu begitu pandai bicara. Banyak bertanya. Sampai ia susah menjawabnya. Semisal tanya, apakah surga itu tempat yang teramat jauh sampai-sampai ibunya harus menempuh waktu yang lama untuk bisa menemuinya tapi belum juga tiba sampai hari ini. Atau tanya, kapan kakek membawa pulang mobil-mobilan yang nenek  janjikan.

Ini adalah kota besar yang keras. Tidak memberikan ruang yang lapang bagi seorang tua dan tanpa keahlian. Meski begitu lelaki tua itu pantang menengadahkan tangan. Pagi-pagi sekali ia sudah mendorong gerobaknya  mengitari komplek perumahan, perkantoran, dan gedung-gedung pabrik. Memungut sisa-sisa limbah yang bisa menjadi rupiah. Besi tua, kaleng bekas minuman, botol plastik.

“Berapa lama Bapak tidak pulang?”

“Tiga setengah tahun.”

Dijawabnya dengan mata keras berkedip, menahan sesuatu agar jangan sampai jatuh. Aku tidak bisa membayangkan itu aku yang tidak bertemu istri dan anakku.

Awalnya aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Setengah hari kerja di tanggal muda. Beberapa rencana telah berada di kerangka kepala. Tapi baru beberapa pijak meninggalkan muka gedung, pandanganku singgah pada seorang lelaki tua. Duduk mematung di sisi jalan dengan gerobak sampah di dekatnya. Matanya menatap gerobak bakso, gerobak siomay, dan gerobak ketoprak yang sibuk berlalu-lalang. Acuh melewatinya.

Kuraba amplop cokelat tua yang baru saja diangsurkan bagian keuangan. Beberapa kepentingan saling berperang: boneka beruang, beras, susu, lelaki tua, bayar kontrakan, air ledeng, lalu lelaki tua lagi. Siklus berulang beberapa kali seiring wajah cerah langit yang bertukar kepada muram. Setelah beberapa lama, barulah wajah layu lelaki tua di hadapanku itu keluar sebagai pemenangnya.

 “Saya kira ini cukup untuk ongkos jalan. Belilah mobil-mobilan. Juga kebaya berenda untuk istri Bapak. Sisanya buat pegangan.”

Tanpa kata lelaki tua itu menatapku. Tubuhnya langsung kaku. Ia bagai bukan manusia melainkan patung yang terbuat dari butir-butir pasir lalu dicampur semen dan diguyur bulir-bulir air. Sejenak kemudian mata lelaki tua itu mengembun, tangannya bergetar.

 “Cepatlah Bapak cari tiket kereta atau bus. Cuacanya sungguh tidak bersahabat…”

Ujung kalimatku disambung dengan titik-titik gerimis. Tapi untung saja kami masih sempat berpelukan. Aku berlari dan mencari tempat berteduh. Tak sempat memastikan ke arah mana lelaki tua berbaju lusuh itu mendorong gerobak sampahnya.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring. Salah satu cerpennya masuk sebagai nominasi cerpen terbaik dalam Anugerah Sastramedia 2022.

Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.