Cerpen

Kotak Pandora

Cerpen Kristophorus Divinanto

Tubuh sutradara dibiarkan menggantung dengan tambang yang melingkar di lehernya. Lampu sorot utama gedung pertunjukan menyoroti tubuhnya yang tergantung, seolah-olah sutradara itu tengah bermonolog tentang kematiannya sendiri. Belum ada yang berani menurunkan jenazah itu dari atas sana. Orang-orang masih menunggu produser datang. Seorang penata artistik duduk meringkuk di bibir panggung sebelah kanan. Seorang aktris terisak-isak di sebelah asisten sutradara yang sedari tadi tidak melepaskan rangkulannya dari bahu si aktris. Seorang pemain musik berjalan dari samping panggung mendekati jenazah sutradara yang tergantung tepat di tengah panggung sambil memainkan Wiegenlied Op. 49 No. 4 karya Johannes Brahms.

“Hei! Jangan sembarangan!” hardik asisten sutradara dari bangku penonton.

Pemain musik itu langsung menghentikan permainan biolanya.

“Maaf. Hanya berusaha mencairkan suasana. Lalu sekarang bagaimana?”

Asisten sutradara kini yang menundukkan kepalanya.

“Semuanya akan jelas ketika produser datang,” kata penata artistik.

Produser masuk ke gedung pertunjukan melalui pintu utama. Lima detik lamanya ia tidak bergerak memandang tubuh sutradara pementasannya tergantung di tengah panggung. Dua orang petugas dari rumah sakit ikut bersama produser dengan membawa tandu dan peralatan lainnya. Mereka berdua segera mendekat ke arah panggung untuk menurunkan jenazah. Produser menghampiri asisten sutradara dan memeluknya. Tangis asisten sutradara tidak terbendung. Penata artistik melompat dari bibir panggung dan mendekati produser. Aktris yang sedari tadi menangis masih tersedu di tempat duduknya. Pemain musik ikut mendekat ke produser sambil menenteng biolanya.

“Siapa yang menemukan jenazahnya pertama kali?” tanya produser.

“Dia,” jawab pemain musik menunjuk aktris yang masih menangis.

Produser menghampiri aktris dan duduk di sebelahnya.

“Kita semua berduka. Aku turut berduka atas kematian tunanganmu. Tapi bisakah kamu menceritakan kepada kami, bagaimana kamu menemukannya?” tanya produser.

Sutradara dan aktris memang menjalin hubungan asmara sejak lima tahun yang lalu. Keduanya bertemu dalam satu sanggar kesenian di Yogyakarta. Di tahun keempat mereka memutuskan bertunangan dan sejak saat itu sutradara memutuskan untuk membentuk kelompok teaternya sendiri.

Tiada yang menyangka kelompok teater besutan pasangan sutradara dan aktris ini berkembang pesat. Seluruh kursi gedung pertunjukan terjual habis pada pementasan pertama. Pujian demi pujian datang dari seniman, dosen seni, mahasiswa seni, hingga orang-orang awam yang tidak terlalu menikmati bahkan peduli tentang seni.

Kelompok teater mereka menancapkan bendera kesenian pertamanya dengan mementaskan naskah Mahkamah karya Asrul Sani. Pementasan perdana memperkuat pondasi keyakinan mereka untuk terus menekuni jalan kesenian. Orang-orang mulai berbondong-bondong bergabung ke kelompok teater tersebut. Anggota kelompok bertambah seiring bertambahnya donatur dan sponsor.

Pujian demi pujian datang di setiap pementasan selanjutnya, hingga tiba hari dinas kesenian mendatangi sutradara untuk menawarkan kerja sama. Dinas meminta almarhum sutradara untuk mementaskan sebuah lakon kisah cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah yang populer di pulau Kemaro. Almarhum sutradara langsung menerima tawaran tersebut.

Namun proyek tersebut ternyata memekarkan konflik antara almarhum dengan kekasihnya. Aktris merasa keberatan ketika diminta memerankan tokoh Siti Fatimah. Almarhum sutradara berang ketika kekasihnya menolak menjadi pemeran utama dalam pementasan penting ini.

Keduanya cukup sering adu mulut selama proses latihan. Beberapa kru dan anggota teater lain selalu tidak enak hati ketika mendengar pertengkaran para pendiri kelompok teater ini di atas maupun belakang panggung. Tidak ada yang pernah berani mencoba melerai pertengkaran mereka berdua. Semua orang memang mengetahui bahwa semangat kesenian aktris sudah melemah, sedangkan kekasihnya masih berapi-api untuk terus tekun di kesenian. Setiap orang yang melihat si aktris dapat menilai bahwa segala tindakannya dilakukan untuk memenuhi keinginan kekasihnya sebagai sutradara, bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri.

“Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup di tempat yang lebih luas dari panggung pertunjukan yang hanya sejengkal,” begitu ucap si aktris ketika tengah mengobrol di sesi istirahat latihan pementasan Tan Bun An dan Siti Fatimah. Semua orang menaruh rasa iba, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Segala hal di kelompok teater, ditentukan oleh sutradara–tunangan si aktris itu sendiri. Pendengar keluh kesah aktris hanya anggota biasa bahkan anak magang yang tidak bisa berbuat banyak.

“Saya dan aktris yang menemukannya,” kata penata artistik.

“Kami berdua datang lebih awal. Almarhum meminta aktris datang lebih awal untuk olah rasa. Kebetulan saya harus datang lebih awal untuk menyelesaikan properti yang belum selesai dikerjakan. Kami berdua datang bersama dan ketika memasuki gedung, almarhum sudah tergantung seperti ini,” perkataan penata artistik kian melambat seiring tangis aktris yang terdengar kian menyayat.

Produser menghela napasnya yang berat. Ia menatap jenazah sutradara yang telah ditutup dan diangkut oleh dua orang petugas rumah sakit dengan tandu.

“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata produser.

Asisten sutradara dan penata artistik memapah si aktris yang berjalan sempoyongan, mengikuti dua petugas yang membawa jenazah sutradara. Produser dan pemain musik yang berjalan paling belakang.

Setelah merasa berjarak agak jauh dengan rombongan yang ada di depan, pemain musik menahan lengan produser hingga keduanya berhenti melangkah.

“Sebentar, Pak!” ucap pemain musik.

Produser menghentikan langkahnya karena terkejut dengan sikap pemain musik.

“Ada apa?” tanya produser.

“Saya menduga sutradara dibunuh oleh salah satu dari mereka. Entah mbak aktris, mbak penata artistik, atau mbak asisten sutradara itu,” bisik penata musik.

“Ngawur kamu, Bung! Jangan sembarangan menuduh!” bentak produser dengan nada lirih, berharap agar percakapan mereka barusan tidak terdengar oleh rombongan yang ada di depan.

Weh, bapak itu, lho! Saya bilang men-du-ga. Bukan me-nu-duh. Saya menduga seperti itu karena skandal mereka di masa lalu.”

“Skandal? Skandal apa?”

“Bapak ini terlalu lama di kantor jadi tidak pernah tahu apa-apa. Almarhum sutradara itu suaminya penata artistik dulunya. Tapi mereka saling tutup mulut.”

Produser membalikkan posisi badannya, menatap pemain musik yang ada di belakangnya. Mata pemain musik tampak berbinar karena perkataannya berhasil menarik perhatian produser.

“Begini ceritanya, Pak. Penata artistik itu dan almarhum sutradara sudah menikah dua tahun sebelumnya. Tapi entah apa alasannya mereka cerai. Nah, lalu sutradara kasmaran sama aktris hingga mereka tunangan. Eh, usut punya usut, di acara tunangan sutradara dan asisten sutradara tepergok salah satu tamu undangan sedang berciuman di kamar mandi. Saya dulu diajak almarhum sutradara untuk mengurus uang tutup mulut, Pak.”

“Sembrono! Kebiasaan bercandamu ini sudah keterlaluan. Ceritamu terlalu ngawur!” hardik produser.

“Silakan bapak mau percaya atau tidak. Saya itu sudah kenal almarhum sutradara sejak SMA. Saya sangat paham dengan almarhum, apalagi urusan perempuan yang ditidurinya. Tidak ada yang lebih mengenal almarhum dibanding saya, Pak.”

Produser hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Omonganmu terlalu ngawur. Jangan sok tahu! Ada yang lebih penting dari memfitnah pembunuh atau mencari aib-aib yang almarhum punya semasa hidupnya. Kita harus berpikir cara agar pertunjukan ini tetap berjalan. Pemerintah sudah memberi uang banyak kepada kita. Pertunjukan ini harus tetap berjalan.”

Produser langsung bergegas menyusul rombongan di depan yang telah berada di luar gedung pertunjukan.

 “Ya sudah kalau nggak percaya,” gerutu pemain musik.

***

Malam hari sebelum sutradara tergantung di tengah panggung, desah dari sebuah kamar hotel tersamarkan suara televisi yang dinyalakan dengan volume lantang. Kamar hotel mewah di lantai 30 selalu memberikan ruang untuk cinta yang liar, namun sepadan dengan rahasia yang disembunyikan dengan rapat.

Sutradara terjatuh di pelukan produser. Mereka berdua saling menatap sebelum bibir keduanya saling melumat. Peluh dari kedua tubuh menyatu. Produser mengelus-elus rambut sutradara.

“Kapan kamu akan menceritakan semuanya?” tanya produser.

Mendengar pertanyaan itu, sutradara segera beranjak dari kasur. Selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya tersingkap. Sutradara mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mulai mengenakannya satu per satu.

“Ini yang terakhir. Aku telah mencintai aktris itu. Seutuhnya,” kata sutradara.

Produser melotot ke arah sutradara.

“Kamu mau meninggalkanku? Katamu cinta tiada berbatas?”

“Maaf, kita harus berpisah. Cinta kita adalah sebuah kesalahan.”

Sambil berpakaian, sutradara menambah volume pada sebuah liputan tentang pernikahan sesama jenis yang ditayangkan salah satu stasiun TV.

Karena asyik menyimak ulasan tentang pro dan kontra pernikahan sesama jenis, sutradara tidak menyadari bahwa produser mendekatinya dari belakang dengan sabuk di tangan. Produser tidak memberikan sedikit saja kesempatan kepada sutradara untuk berteriak. Jerat sabuk di leher sutradara kian erat dan tubuhnya kian melemas hingga sama sekali tidak bergerak.

Sutradara sudah tidak mengetahui lagi alur cerita selanjutnya. Ia tidak mengetahui saat dirinya dimasukkan ke bagasi mobil, dibawa ke gedung tempat latihan. Digantung di tengah panggung dengan lampu utama yang menyoroti tubuhnya. Sutradara itu sama sekali tidak tahu.

Nyawanya sudah tidak mendiami tubuh itu.***

Madiun, 19 Februari 2021


Kristophorus Divinanto, lahir di Cilacap sebelum pindah ke Kutoarjo. Bekerja sebagai guru sekolah dasar. Memiliki kegemaran membaca manga dan masih setia menanti tamatnya manga One Piece. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto.

Cerpen

Surealisme Indonesia dalam Cerpen Mata Terkutuk Karya Caligula Zaragyl

Cerpen Caligula Zaragyl

Bulan purnama menjadi tanda bahwa pesta para arwah dimulai. Satu demi satu arwah dari nuwa muri koo fai[1], ata mbupu[2], dan ata polo[3] keluar. Mereka berputar-putar di atas langit Danau Kelimutu. Seketika langit mulai berubah warna menjadi merah dan para arwah mulai bersatu membentuk kereta kematian. Kereta kematian yang terbuat dari susunan bola mata, bola mata yang berwarna merah, dan penuh dengan nanah. Yohanes Wato sebagai ketua adat mulai melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata[4]. Ia berdiri di tengah-tengah penari. Mereka mulai melakukan gerakan tari dengan entakan kaki, tongkat bambu dibunyikan mengikuti ritme entakan kaki, kaki kanan maju dua langkah, kemudian kaki kiri mundur dua langkah, dalam langkah kaki kedua diikuti lambaian tangan, dan giring yang terletak di pinggang terdengar nyaring mengikuti gerakan tubuh.       

Yohanes wato menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu: Ama lera, ina nini taka ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae mern lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak weaken belaon. Seiring dengan lantunan syair yang disenandungkan Yohanes Wato, kereta kematian perlahan turun, dari dalam kereta kematian keluar perempuan yang sedang menggendong bola mata seukuran bayi. Ia menatap semua warga yang sedang melangsungkan ritual pati ka dua bapu ata mata dan berjalan ke arah hutan. Yohanes Wato tak asing dengan perempuan itu, berlari sekencang mungkin untuk mengejarnya. Tak jauh darinya perempuan itu menimang-nimang bola mata, menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu. Tubuh Yohanes Wato bergetar,  masih ingat betul dengan logat suaranya, tubuh perempuan itu, dan semua tentang perempuan yang ada di hadapannya. Yohanes Wato menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. Perempuan itu mendekati Yohanes Wato, membisikan sesuatu yang membuat tubuh Yohanes Wato bergetar.

Malam hari, semua orang berkumpul membicarakan apa yang telah terjadi. Ada yang ketakutan setengah mati, ada yang menganggap hal itu biasa, dan kebanyakan orang menganggap bahwa leluhur Danau Kelimutu marah. Alhasil para arwah mulai bergentayangan. Namun, yang pasti tak ada yang tahu siapa identitas perempuan yang menggendong bola mata. Yohanes Wato yang ditanya warga pun hanya membisu, seakan ada rahasia yang harus ditutup rapat-rapat. Mereka mulai bergegas pulang ke rumah masing-masing. Berdoa supaya tak hal buruk yang akan datang.

***

Perempuan misterius itu menimang-nimang bola mata. Seakan bola mata itu adalah bayinya. Ia menyenandungkan syair yang sangat merdu. Namun, ketika melihat desa di sekitar Danau Kelimutu mulai bersikap aneh, tatapannya penuh amarah, dan dari mulutnya keluar caci maki yang entah ditunjukkan kepada siapa. Ia membanting bola mata itu dan pecah menjadi ratusan bola mata yang berukuran seperti bola mata pada umumnya. Semua bola mata itu berputar-putar dan keluar dua kaki. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah desa. Seketika ratusan bola itu berlari ke arah desa untuk menyebarkan kutukan.

Suasana gaib masih menyelimuti Danau Kelimutu. Semua orang tertidur pulas. Tak tahu akan ada bahaya yang sebentar lagi mengusik mereka. Ratusan bola mata itu menyusup ke dalam rumah warga dan mulai masuk ke dalam mulut orang yang sedang tertidur. Bola matanya mulai menyatu ke setiap orang. Bola mata itu serentak muncul di pipi kanan dan kiri.

Keesokan harinya, semua orang kalang kabut dengan mata yang ada di pipi kanan dan kiri. Mereka bercermin, melihat bola mata itu, bola mata itu seperti bola mata pada umumnya, tetapi terus mengeluarkan nanah yang menjijikkan. Beberapa kali dibersihkan tetap saja akan keluar lagi. Yosep yang tempramen berniat mencungkil bola mata itu. Tangan kanannya sudah memegang belati dan langsung menusuk bola mata itu, menariknya secara perlahan, dan bola mata itu keluar. Kemudian melakukan hal sama kepada bola mata terkutuk di pipi kanannya. Yosep merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya keluar darah. Jempao—istrinya menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam mulutnya ada bola mata yang bergerak-gerak, mempunyai dua tangan. Kedua tangan itu menjulur keluar dan mencekik leher Yosep.

Jempao berteriak meminta tolong dan semua warga berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh Yosep bergetar dengan hebat dan tangan itu masih saja mencekik lehernya, meskipun beberapa orang berusaha menolongnya. Namun, nyawa Yosep tak tertolong. Seketika dua tangan yang mencekiknya mulai lemas, mengering, dan perlahan menjadi abu.

***

Semua orang semakin ketakutan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka telah diteror mata terkutuk. Jempao menyarankan untuk pergi ke rumah Yohanes Wato. Mereka akhirnya berbondong-bondong ke sana. Yohanes Wato dalam posisi semadi dan mulutnya menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu.

Jempao yang melihat suaminya meninggal dengan cara yang tak wajar ketakutan, bersujud di kaki Yohanes Wato. “Tolonglah kami, Yohanes Wato.”

“Kutukan mata ini tak dapat dibiarkan. Tolonglah berbuat sesuatu,” ujar seseorang bertubuh gempal.

“Apa yang bisa aku lakukan? Aku juga terkena kutukan itu.” Yohanes Wato tak bersemangat hidup. Menganggap bahwa kutukan itu akan membuat semua orang mati bahkan dirinya.

Semua warga mulai bersujud di kaki Yohanes Wato. Mereka berharap Yohanes Wato melakukan sesuatu untuk menghilangkan mata terkutuk. “Kita perlu melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata untuk kedua kalinya.” Yohanes Wato memberikan saran dan semua orang setuju dengan saran itu.

Semua warga melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata. Sesaji sudah dipersiapkan mulai dari kaki babi hutan, kaki rusa, daun sirih, ubi-ubian, kelapa, labu, padi dan jagung. Satu demi satu meletakkan sesaji, memanjatkan doa untuk saudara, leluhur, kerabat, dan orang terdekat yang sudah meninggal. Yohanes menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu. Ia mengambil abu dari cendana. Melemparkan abu itu ke udara. Semua orang seketika langsung merasakan gatal, panas disekujur tubuhnya, dan menggaruk mata terkutuk itu. Mata yang ada di tubuh mereka keluar tangan dan mencekik leher mereka. Mereka secara perlahan mati secara mengenaskan.

Perempuan misterius itu seketika datang dengan menggendong bola mata. Yohanes Wato mendekat ke perempuan itu. Mengambil bola mata itu, menimang-nimangnya, dan menciumnya. Ia mulai teringat dengan janjinya dengan perempuan misterius itu. Ingatanya menerawang jauh pada peristiwa ketika Yohanes Wato pergi ke acara ritual pati ka dua bapu ata mata bersama istrinya yang sedang hamil. Istrinya jatuh ke tiwu ata polo. Semua orang yang melihatnya hanya menertawakannya karena menganggapnya tak berhati-hati. Dan yang lebih menjengkelkan ialah olokan yang menganggap bahwa orang yang jatuh di tiwu ata polo adalah orang jahat. Yohanes Wato pun jijik melihat mata semua orang yang memandang istrinya sebagai orang jahat. Alhasil, Yohanes Wato membuat perjanjian dengan leluhur Danau Kelimutu untuk membalaskan dendamnya.**

                                                               Ruang Sang Hyang Wenang, 12 Febuari 2022.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook dan Instagram: Nur Khafidhin Rezpector dan @Khafidhinur.


[1] tempat berkumpul arwah pemuda pemudi.

[2] tempat berkumpul arwah orang tua.

[3] Tempat berkumpul arwah orang jahat.

[4] Ritual memberikan sesaji kepada leluhur.

Cerpen

Cara Pulang Paling Mematikan

Cerpen Yesi M.H.

Ada dua ambulance di parkiran. Aku disuruh masuk ke salah satunya. Masalahnya, aku tidak tahu mana yang akan membawaku pulang. Kupencet ponsel untuk menginterogasi orang yang memberi ide gila ini. Sumpah serapah dan umpatanku meluber, bahkan sebelum dia mengucap ‘halo’. 

“Sinting … tidak adakah cara lain?”

“Mau cara seperti apa yang kamu minta?”

“Ya bukan ambulance jenazah juga.”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Surat-surat sudah beres. Tapi ya kamu tidak bisa duduk di sebelah sopir, karena pasti akan ketahuan.”

“Lalu?”

“Ya di dalam peti.”

“Haaa?” 

“Itu cara paling mudah untuk lolos.”

Aku diam mengurung amarah agar logikaku bisa menyulut keberanian, mungkin itu satu-satunya pengalihan dan mengusir rasa takut.

“Oke, jadi yang mana? Ini ada dua ambulance,” tanyaku kini lebih sabar sambil mengusap dada yang sedari tadi naik turun.

“Yang plat AG belakangnya T.”

Mataku mengincar salah satu yang berwarna putih dengan garis cat kuning berikut tulisan partai dan gambar entah siapa.

“Jadi aku masuk saja ke peti? Ada jenazahnya, Mat?”

“Kalau nggak ada jenazah, mana bisa ada surat jalannya, Ko. Malah makin mencurigakan.”

“Jadi aku disuruh tidur bareng sama mayat?”

“Tenang, mayatnya masih baru, fresh, bukan penyakit kudisan, bukan korban kecelakaan yang berdarah-darah, cuma orang tua kurus yang sakit jantung.”

Keringatku deras membasahi kaos oblong yang sudah tiga hari ini melekat. Apakah ini harga yang harus kubayar agar sampai di depan rumah Dik Marli. Memang kuakui belum ada ide lain yang cemerlang nan gila untuk bisa melewati perbatasan dan menjadi orang bebas. 

“Ingat, Ko. Kita akan pulang. Apapun akan kita lakukan. Persetan dengan halangan, kita pasti lawan.”

“Kita buang saja mayatnya.”

“Nambahin perkara, bodoh! Sudahlah tenang, nanti setelah perbatasan kamu akan aman. Kamu boleh keluar. Sebelum sampai di situ, tahan dulu. Percayalah padaku.”

Mau tidak mau aku harus percaya pada Samat. Bahkan saat aku jadi buron seperti ini, dia rela menjadi beking untuk diriku ini. Dia juga pastinya paham, kulakukan semua ini karena terpaksa. Dunia sudah menjadi kejam, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjadi kejam pula. Dia mau menolongku tanpa bertanya apa pun. Tanpa syarat apa pun. Dia ini bodoh atau memang sahabatku paling setia?

Kudekap tas yang isinya sangat berharga ini. Beberapa gepok uang jadi alasan aku melalui fase menjadi manusia tidak aman. Aku mulai menyelinap ketika suasana lengang. Derap langkah kubuat sesantai mungkin agar meminimalkan kecurigaan. Lalu dengan mudah aku masuk pintu belakang ambulance. Sebuah peti tertutup kain hijau dengan tulisan arab membuatku bergidik. 

“Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, jangan hidupkan dia,” bisikku melirik pada peti. Tidak lama ponsel bergetar di saku celana, hingga membuatku berjingkat karena selangkanganku terasa disengat listrik. Sebuah pesan dari Samat menyebutkan bahwa dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia menambahkan lagi, sudah menyiapkan kain putih untukku.

Pakai kafannya, kalau bisa yang bener-bener mirip pocong. Jangan asal pakai. Petinya sudah kuberi triplek di atas mayatnya. Jadi kamu bisa tidur di atas orang itu. 

Aku sudah tidak berdaya, mengumpat pun sudah tidak sanggup. Di saat seperti ini aku berusaha untuk tidak membuat dosa lagi dengan berkata kotor. Aku pasrah, mungkin dengan begitu Tuhan bisa memuluskan perjalananku. Agak ribet ternyata memakai kain kafan, maklum saja aku belum pernah memakai sendiri, apalagi praktek mengurus jenazah. 

“Maaf ya, Pak,” lirihku pada jenazah itu. Aku mulai membungkus diriku dengan kain putih, sebisa dan semirip mungkin jadi jenazah. Perlahan dengan pasti aku masuk sembari menutup peti itu. Astaga semoga aku tidak mati kehabisan napas. Aku hanya bergantung pada celah kecil diantara penutup petinya. Kupeluk tas ranselku yang sewaktu-waktu harus kusembunyikan di bawah, jaga-jaga kalau polisi memaksa untuk memeriksa peti. Lagipula aku takut polisi menemukan barang bukti ini. 

Sesuai perkiraan, aku mendengar pintu terbuka dan mesin dinyalakan. Samat sepertinya membuka pintu belakang dan mengetuk petinya.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

“Agak engap, tapi nggak apa-apa.” Jangan sampai orang tahu Samat berbicara dengan peti jenazah. 

“Kamu lupa pasang kain hijaunya.”

“BODOH, bagaimana aku bisa memasangnya! Aku sudah di dalam peti!” Kudengar Samat tertawa mendesis. Di saat seperti ini dia sempat tertawa. Tega.

Lalu kurasakan mobil itu mulai bergerak. Badanku bergoyang-goyang mengikuti belokan, kadang tidak terkendali. Sialan, Samat! Tidak bisakah dia menyetir dengan sopan sedikit, ada orang tua mati di dalam peti. Kepalaku terantuk dinding peti, sesekali menggeliat memperbaiki posisi, ah aku frustrasi! Beginikah rasanya mati dikurung dalam peti jenazah? Tahan Darko, sebentar lagi Dik Marli di depan mata. 

Ambulance sempat berhenti dan terdengar Samat berbicara dengan seseorang. Astaga, tega nian aparat masih berani dan tidak percaya pada isi ambulance jenazah. Aku gemetar saat suara pintu belakang dibuka, cahaya kecil tampak menerpa bagian kakiku. Mungkin si petugas tidak berani membuka peti terlalu lebar. Jika sedikit saja sudah memastikan ada tubuh berbalut kafan, aman sudah. Aku berusaha tidak memikirkan apa-apa. Sampai rasanya mataku pedas dan mengantuk. Aku hanya ingat pipiku ditepuk dengan kencang setelahnya.

“Kukira kamu mati.”

“Hah, sampai mana?” tanyaku gelagapan mengusap sisa lelehan air liur di pipi. 

Rest area. Sudah cukup aman. Kamu bisa duduk di depan.”

Aku meloncat bangun dengan cepat seperti merasa bebas dari segala hukuman. Ribuan kata maaf terlontar pada jenazah yang sudah kujadikan alas tidur. Semoga dimudahkan di dunia kuburnya, batinku merapal doa. 

Samat memberiku makan dan minum, menjamuku di warung kecil tepat di depan ambulance. Kami saling melepas rasa lega. Dia bercerita tentang orang di dalam peti itu, ternyata masih sanak saudaranya yang sebatang kara. Sebuah kebetulan yang sepertinya disusun dengan sangat rapi layaknya konspirasi. Aku sendiri bercerita tentang kejahatanku. Tentang apa isi tas yang selalu kudekap ini. Lalu kami melepas tawa mengingat kejadian-kejadian selama kami menjadi sahabat.

Aku tidak tahan cerita tentang Dik Marli, orang yang kugadang-gadang untuk jadi istriku. Kusampaikan kegalauanku seusai merampok, aku jadi berpikir, apa Dik Marli masih mau bersamaku, seorang kriminal. Curahan hati itu meluncur deras dari mulutku. Kini Samat tahu luar dalam dari seorang Darko. Bahkan aku juga percaya dia bisa membawa pesan untuk Dik Marli, seumpama, sekonyong-konyong, tiba-tiba aku akhirnya mati sebelum sempat bertemu, dia bisa menyampaikan pesanku. Aku paham risiko yang kujalani. Aku bisa saja ditembak mati jika melawan. 

Kening Samat berkerut ketika dia memeriksa ponselnya. Ada berita terbaru, polisi tahu identitas seorang perampok, dan sekarang sedang menyisir berbagai wilayah, termasuk tanah kelahiranku. Kami saling pandang.

“Berarti aku harus masuk peti lagi?”

“Baiknya begitu.”

Aku pasrah, kuteguk air kemasan yang disiapkan Samat sampai habis saking gugupnya. Aku mengecap berulang-ulang karena air itu rasanya aneh. Sedikit pahit dan getir. Atau hanya efek ketakutanku. Ah ya sudahlah, aku perlu mental baja untuk kembali tidur di atas orang mati. 

Ambulance kembali melaju lembut, Samat kini lebih beradab dalam menyetir. Tak lama aku merasa tenggorokanku seperti dicekik, dadaku sakit, aku tidak bisa bernapas. Penglihatan kabur kemudian gelap. Peti itu menggencetku sampai sakit, saking sakitnya sampai lama-kelamaan mati rasa. Dan aku mengantuk lagi.

Lalu aku terbangun, rasanya seperti baru saja melalui malam yang sangat panjang. Kurasakan sunyi dan masih gelap. Aneh, jika sudah sampai rumah, kenapa Samat tidak membukakan peti. Sebuah cahaya tepat di sebelahku segera membuatku tersadar. Aku memang sudah pulang. 

Sudah ketahuan siapa yang dicintai Samat. Salahku sendiri bercerita tentang Dik Marli. Aku sendiri bodoh, mengira dia baik-baik saja ketika mendengar aku akan menikah dengan Dik Marli. Sampai akhirnya api itu menyala-nyala membuat ledakan yang cukup besar, Sampai melemparkanku pada posisi sekarang. Kilauan cahaya dengan sayap itu mendekat dan mulai bertanya.

Man Rabbuka?” ****

Bogor, 12 Februari 2022


Yesi M.H. Penulis kelahiran Nganjuk yang sekarang berdomisili di Bogor. Buku solo terbit di tahun 2021 berjudul “Sekantong Impian” adalah kumpulan cerita pertama sejak terjun menulis di tahun 2019. Sapa penulis di Instagram @ecy_mh atau surel [email protected]

Cerpen

Dua Puluh Tujuh Kereta Uap

Cerpen Galuh Ayara.

Yang kunaiki hari ini adalah kereta uap yang ke-lima. Masih tersisa dua puluh dua. Artinya aku masih harus mempersiapkan diriku pergi ke dua puluh dua kota berbeda. Dan… tentu saja, tabunganku mulai menipis. Aku akan jatuh miskin setelah perjalanan selesai. Tapi aku tidak peduli, bahkan jika seluruh yang kumiliki di dunia ini akan habis terkuras.

Di balik jendela kaca yang gemetar, deretan pemandangan hijau dengan bukit-bukit kecil, dan puluhan domba di atas padang rumput, angin sepoi, anak-anak desa berlari membentangkan tangan, saling mengejar. Sejenak aku terbuai. Hatiku seperti kereta yang melaju. Aku merasa bergerak-gerak meninggalkan sesuatu; bayangan lelaki itu dan puluhan pil tidur, tubuh yang beku, mulut yang berbusa. Aku ingin bergerak dan lupa pada hal-hal menyakitkan itu. Aku ingin menjauh seperti kereta. Aku ingin lupa. Ingin lupa.

Saat itu—terutama setiap kali akhir pekan, sementara pasangan lain sibuk berkencan di luar, aku harus siap hanya menemaninya di kamar kos, mendengar keluh kesahnya tentang negara dan sistemnya, tentang kemanusiaan, tentang alam yang mulai rusak, tentang semesta yang berdesakan di dalam batok kepalanya. Kadang-kadang juga aku bingung sendiri memikirkan; kenapa Dafi lelah? Kenapa ia ingin mati muda? Bagaimana seseorang yang memikirkan banyak hal, tapi tidak mempunyai mimpi untuk dirinya sendiri?

“Apa alasan kita tetap hidup?” katanya. “Untuk tua dan menyebalkan? Untuk kesepian lalu menghabiskan sisa hidup dengan merutuk? Jika tidak bermanfaat, untuk apa hanya terlibat dalam permasalahan over populasi di bumi ini?”

Ia lantas menjentikkan tangannya seakan ia sedang menangkap sesuatu.

“Apa yang kamu tangkap?”

“Kekosongan.”

Aku mendengus seperti babi hutan.

“Aku serius. Kekosongan itu kan tetap isi.”

“Dan isi itu tetap kosong?”

“Apa yang paling kamu inginkan dalam hidupmu?”

“Kabur sama kamu.”

Ia tersenyum sembari mengacak rambutku.

“Aku serius.”

“Aku cinta kamu,” katanya, pelan sekali. Hampir seirama bahkan kalah dengan suara kipas angin butut yang berputar-putar di depan kami, “tapi aku tidak punya masa depan. Aku mulai lelah dengan semuanya.”

“Kenapa kamu lelah?”

“Karena aku tidak istirahat.”

“Apakah obat tidur tidak membantu?”

“Aku bukan butuh tidur, aku butuh istirahat. Istirahat itu berhenti dari hal-hal yang menguras energi. Entah itu pekerjaan atau pikiran.”

“Lambat laun kamu harus membuang semua yang ada di kepala kamu itu.”

“Baiklah, Nona.”

Matahari mulai oranye di luar jendela. Aku berusaha menyentuh cahayanya yang masuk ke ruangan itu. Cahaya yang seolah terbelah-belah oleh bayangan teralis yang menguarkan aroma besi tua berkarat. Dan cahaya itu memeluk wajah laki-laki di depanku. Lelaki muda yang terlihat lebih tua bahkan dari teralis itu yang berkarat-karat. Lebih lelah, lebih rapuh, dan seolah hampir sekarat.

“Emm, sudah sore,” ucapku sambil terus memandangi cahaya sore yang jatuh di wajahnya. Cahaya yang terbelah-belah, seakan ingin membelah dirinya menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan.

“Kamu pernah dengar, kunang-kunang dititipi cahaya kecil di tubuhnya, bukan untuk menerangi semesta.”

Ia diam. Tentu ia paham ke mana arah ucapanku. Tapi ia diam seolah tidak mendengar apa-apa yang kukatakan.

“Pulanglah. Aku antar, ya?”

“Nggak usah. Kamu kan harus ngerjain banyak hal sore ini.”

“Iya. Mengerjakan hal yang tidak berguna.”

Ia terkekeh.

“Jangan begitu. Kamu harus berpikir positif.”

“Hmm, apa cinta itu sebuah pekerjaan, Olivia?”

“Tapi kamu pengangguran!”

“Hey, aku menulis.”

“Ya. Kamu penulis dan gak punya uang.”

Sontak aku terbahak-bahak. Aku tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.

“Tega sekali kamu.”

Kadang bingung juga, kenapa aku menginginkan laki-laki ini? Laki-laki aneh yang memimpikan mati di usia dua puluh tujuh. Lelaki yang gemar membuka tenda di hutan sendirian dengan sebungkus mie instan yang biasa ia seduh dalam gelas besar. Seorang pemikir keras yang di balik sikap cueknya, di saat-saat tertentu bisa sangat manja melebihi keponakanku yang masih balita.

“Kalau nanti kita punya rumah di hutan, aku akan buatkan kamu terrarium,” katanya suatu hari, setelah aku bercerita tentang keinginanku; naik dua puluh tujuh kereta uap.

“Jangan mati di usia dua tujuh. Karena di usia itu aku ingin kita berkeliling naik kereta uap di dua tujuh kota.”

“Aku ingin membangun rumah kecil di hutan kalau aku masih hidup di usia itu dan aku menjadi orang yang gagal untuk banyak orang. Aku ingin hidup sederhana dengan alam, bersama kamu; satu-satunya orang yang nggak pernah menganggapku gagal.”

“Jangan hutan, please. Aku lebih baik hidup di permukiman kumuh asal padat dengan manusia. Kamu tahu, aku selalu menikmati kesepian dan keterasingan yang kudus di tempat-tempat riuh dan bising. Bau apek, bau selokan, anak-anak kecil yang berlari di lampu merah, suara ukulele, sirine polisi, mobil-mobil yang membawa mayat. Haha, bayangkan, kamu bisa melihat kehidupan dan kematian yang berdampingan. Tangis dan tawa, luka dan kesembuhan. Yang terus bergerak, yang terus diam. Kita itu begitu padat ternyata, begitu saling terhubung, tapi juga jauh. Kita semua kesepian.”

“Aku suka api unggun.”

“Aku suka kembang api.”

“Terrarium.”

“Aquarium.”

“Menurutmu, kita bisa bersatu?”

“Tentu saja. Aku cinta kamu dan kamu juga cinta aku.”

“Apa cinta itu keinginan? Seperti aku menginginkanmu dan kamu menginginkanku?”

“Mungkin lebih lebih dari itu. Cinta itu penerimaan. Seperti aku menerima kamu.”

“Cinta itu menjaga.”

“Kamu begitu rumit. Mencintaimu seperti masuk ke labirin luas, Gaddafi.”

“Kamu sudah menerimaku bukan?”

“Entahlah. Hanya saja kalau kamu nggak ada, hidupku seperti kosong.”

“Kosong yang kataku berisi?”

“Kamu lebih seperti kepingan puzzle. Kalau hilang, hidupku gak lengkap.”

Aku mengambil piring yang berisi kebab yang mulai dingin. Tadi aku bawakan makanan ini untuk memperlihatkan kepada Dafi soal keseriusanku mempelajari makanan timur tengah.

“Aku sudah belajar membuat kebab. Meski dengan resep paling sederhana. Aku mengganti isian dagingnya dengan irisan sosis. Paling tidak aku sudah belajar membuat satu makanan timur tengah, kan? Aku siap menjadi menantu ayahmu yang dari Arab itu.”

“Belajar dari mana?”

“Dari Tatjana. Tiga hari yang lalu dia baru datang.”

“Tatjana sahabatmu yang cantik itu?”

“Cantik?”

“Hmm, aku tidak suka yang cantik-cantik.”

“Jadi aku tidak cantik?”

“Boleh aku coba kebab buatanmu?”

Aku meliriknya cukup lama, tentu dengan perasaan seperti ingin memakannya bulat-bulat.

“Sudahlah. Kamu akan lebih suka mie instan.”

Aku menaruh kembali kebab itu di atas meja, lalu berpikir kembali tentang tiga hal; keinginan, penerimaan, menjaga. Akan tetapi, cinta lebih rumit dari yang kukira, dan cara kerja perasaan lebih acak dari segala sesuatu yang bahkan paling acak di bumi ini. Tetapi aku yakin; aku mencintai Dafi.

***

“Hey, Nona.”

Aku terbangun seketika. Di hadapanku seorang petugas kereta tersenyum. Ah, aku bahkan sudah tertidur selama itu.

“Kereta sudah berhenti, Nona.”

“Oh … aku minta maaf.”

Di tanganku, sebuah buku jurnal masih terbuka. Sudah kuhitung satu per satu. Ini lembar ke-dua puluh tujuh. Hanya sebuah tulisan “capek”. Di buku ini Dafi seolah sudah mencatat semua. Termasuk pertama kali kami berciuman, pertama kali kami bercinta lalu ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Pertama kali dia membelikanku roti dengan uang honor menulisnya. Satu hal yang belum ia catat; berapa ratus butir pil tidur yang ada di genggaman tangannya malam itu.

Tiba-tiba air mataku deras keluar. Seperti air terjun di tengah hutan. Meluncur begitu saja.

Petugas itu menghela napas.

“Jangan bersedih, Nona. Kita sudah sampai.”

“Aku belum sampai.”

“Kamu hendak ke mana?”

“Ke makam pacarku.” ****

2022


Galuh Ayara. Suka menulis puisi dan cerpen. Sudah menerbitkan buku yang berjudul Nyanyian Origami. Tulisannya juga ada di beberapa buku antologi dan di beberapa media.

Cerpen

Di Hadapan Anggrek

Cerpen Era Ari Astanto

Cukup sering orang-orang itu mengatai aku gila. Atau memandangku kasihan, tapi tetap dengan menambah kata ‘gila’ di ujung kalimat: “Kasihan dia, sejak ditinggal istrinya dia menjadi gila,” —atau senada dengan itu.

Sungguhkah aku telah gila? Ataukah mereka yang tidak mampu berpikir waras?

Aku hanya ingin sendiri, berbicara dengan dinding kamar, berbicara dengan anggrek atau lukisan wajah kekasihku tanpa ada yang mengganggu. Ya. Istriku sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi bertahun lalu. Aku sadar itu, aku ingat hal itu. Tapi bagi mereka, aku telah gila. Mereka hanya tidak tahu, berbicara dengan benda-benda itu lebih menyenangkan, lebih menenangkan. Saat berbicara dengan dinding kamar, saat bicara dengan bunga anggrek itu, saat bicara dengan lukisan itulah aku merasakan kenyamanan — seolah istriku menemaniku berbincang. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak akan menyanggah atau sok bijak menasihati seperti orang-orang itu.

Istriku meninggal ketika usia pernikahan kami belum genap dua bulan. Tidak pernah terlintas dalam benakku jika dia akan secepat itu meninggal. Dia memang keberatan saat aku pamit untuk menghadiri undangan bincang literasi dan bedah buku di luar kota dan harus menginap beberapa hari. Dia bukan melarang aku pergi, tapi dia mengeluh merasa sedikit pusing dan tidak enak badan. Aku pikir itu sekadar sakit yang sangat ringan dan akan sembuh dengan minum obat warung. Dan aku tetap pergi karena di sana aku akan bertemu dengan penulis-penulis besar dan hebat yang bisa kumintai tips-tips penting dalam menulis, dan pikirku itu adalah acara penting bagiku.

Setelah satu hari satu malam mengikuti acara itu, aku mendapat telepon dari tetanggaku bahwa istriku sakit keras dan aku harus pulang. Aku hampir tidak percaya dengan kabar itu. Pikirku, tidak mungkin hanya sedikit pusing dan tidak enak badan berubah menjadi sakit keras dalam sehari semalam. Aku sempat bersilat lidah dengan tetanggaku itu, tapi akhirnya aku memutuskan pulang setelah dia berkata: terserah kamu, Mas, jika kamu ingin menyesal seumur hidupmu.

Aku tiba di rumah dan mendapati banyak orang sedang mengurus istriku yang tinggal jasad.

Aku tak pernah mengira jika pamitku itu akan menjadi kali terakhir aku bicara dengannya. Kematian memang keniscayaan, tapi penyesalan dalam hatiku tak bisa kupungkiri. Seandainya aku mendengar keberatannya mungkin akan lain perkara. Mungkin aku tak akan semenyesal ini.

Hari-hari selanjutnya kurasakan menjadi begitu berat, begitu gelap, begitu sesak dengan sesal. Seandainya … seandainya … dan hanya ‘seandainya …’ yang terasa menyesaki dada. Sampai akhirnya kurasakan ketenangan saat bicara dengan lukisan wajah istriku. Lalu dengan dinding-dinding kamar. Lalu dengan anggrek, lalu dengan tas istriku, lalu dengan meja rias istriku. Aku memang merasakan ketenangan saat bicara dengan benda-benda itu, tapi belum kurasakan istriku mengampuniku walau aku merasa seolah dia ada di sampingku saat aku melakukannya.

Dan entah bagaimana mulanya orang-orang mengatakan aku telah gila. Mungkin salah seorang memergokiku saat aku bicara dan tertawa di hadapan anggrek. Atau ketika aku bicara dengan lukisan wajah istriku yang kubawa ke serambi. Satu atau dua dari mereka pernah mendatangiku dan menasihatiku agar bersabar bahwa kematian adalah keniscayaan. Aku tahu itu dan aku menerimanya, jawabku. Aku hanya ingin bicara dengan istriku, memohon maaf atas segala salahku, lanjutku.

“Tapi, Mas. Jika begitu terus, sampean akan dianggap gila,” kata orang itu.

“Apa peduliku. Sebaiknya Anda tidak mengganggu ketenangan saya,” kataku dengan ketus.

“Tapi, Mas …,” sahutnya.

Kulebarkan mataku sebagai jawaban sampai akhirnya dia pergi dan tak pernah kembali. Hanya kasak-kusuk yang sesekali kudengar ketika aku berada di hadapan anggrek di halaman.

Memang ada satu orang yang datang ke rumah dan memberiku makanan lantas pergi setelah aku tak bicara sepatah kata pun, kecuali terima kasih. Begitu seterusnya hingga hampir tujuh tahun berlalu. Sebenarnya aku masih bisa mengurus kebutuhan sehari-hariku, walaupun sebatas seadanya dari fee menulis. Jika sedang tidak ingin bicara dengan benda-benda itu, selain lukisan, aku menulis. Cerita fiksi yang aku pilih karena aku bermaksud untuk bercerita kepada istriku ditemani lukisan wajahnya.

Beberapa kali aku mencoba meninggalkan cara anehku itu, tapi tidak bisa. Aku akan kembali gelisah dan rasa bersalah kembali menyergap. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menjalani cara aneh itu terus, tak peduli dianggap gila atau apa pun, hingga di sebuah pagi satu orang yang selalu datang ke rumah dan memberiku makanan itu mengajakku bicara yang mau tak mau harus kujawab.

“Apakah itu anggrek kesayangan istrimu?”

Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku punya tiga anggrek di rumah. Aku dengan senang hati akan membawanya ke sini jika sampean mau.”

Aku tak menoleh ataupun menjawab perkataannya. Tapi aku memikirkan kata-katanya. Mungkin anggrek istriku tidak akan kesepian dengan adanya anggrek lain di sebelahnya. Apalagi jika dia kutinggal untuk tidur di malam hari atau ketika aku harus meninggalkannya sendiri. Namun, aku merasa perlu meminta pendapatnya. “Apakah itu perlu? Terutama bisa membuat istriku senang?”

“Setidaknya begitulah yang kurasa saat melihat anggrek istrimu sendirian.”

“Tapi, aku tak punya apa pun sebagai gantinya.”

“Meskipun sekadar berbincang seperti ini setiap aku datang?”

Aku tak segera menjawab. Kutimbang perasaanku. Bukan hal mudah bagiku saat ini untuk menemani berbincang orang lain.

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha,” kataku kemudian.

“Mendengar sampean akan mengusahakannya pun aku sudah senang. Baiklah, besok akan aku bawa anggrek itu.”

Pagi berikutnya dia datang membawa sarapan untukku dan anggrek yang dia janjikan. Dia meminta ingin mengurusnya, meletakkannya dengan sangat tepat di sebelah anggrek istriku. Aku perhatikan dengan saksama dan merasa apa yang dia katakan kemarin benar. Anggrek istriku tampak lebih indah dan berseri. Barangkali hanya perasaanku, tapi begitulah bagi mataku.

Hari-hari berikutnya, aku merasa lebih senang berada di depan anggrek sambil berbincang dengan orang itu. Sebenarnya, dia hanyalah lelaki setengah baya yang juga ditinggal mati istrinya sejak belasan tahun lalu. Dia bercerita bahwa dia juga pernah merasakan jiwanya terguncang hingga hampir bunuh diri. Tapi, kemudian dia sadar bahwa hidupnya harus dilanjutkan dan mengisinya dengan menemani orang-orang yang jiwanya kesepian.

“Tapi, aku tidak begitu merasa kesepian. Aku hanya merasa menyesal tidak menemani istriku di saat-saat terakhirnya. Aku juga merasa istriku belum memaafkanku karena nekat meninggalkannya walau dia telah mengatakan kondisinya waktu itu.”

“Aku yakin istri sampean akan bahagia jika melihat sampean mau menemani orang-orang yang jiwanya gelisah karena kesendirian.”

“Tapi, aku telah dianggap gila. Hanya sampean sajalah yang tidak menganggapku begitu.”

“Mereka yang menganggap begitu karena mereka tidak mau merasa bagaimana kondisi jiwa orang-orang seperti kita. Bukankah sampean sudah merasakan betapa bukan nasihat yang kita butuhkan, tapi teman; teman yang mampu menemani dan memahami meski dalam diam.”

Aku diam memikirkan kata-katanya. Menghidupkan istriku dalam diriku rasanya lebih baik daripada terus-menerus merasa istriku tak mengampuniku. Aku rasa kehadiranku untuk orang-orang yang membutuhkan bisa menjadi penebus segala sesalku karena telah meninggalkan istriku. Kurasa begitulah seharusnya aku, seperti anggrek yang meskipun dalam diam keindahannya mampu menentramkan siapa pun yang melihatnya.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Mencari Lorong Reinkarnasi

Cerpen Ilham Nuryadi Akbar

Sebelum embun di ujung rerumputan kering dijilat terik matahari, bapak dan para tetangga sudah rapi mengenakan topi rotan, serta baju lengan panjang bermotif getah dan lumpur. Kemudian mengayuh sepeda dengan beriringan. Setiap keranjang sepeda terdapat karung goni yang berisikan identitas diri, benda tajam, serta lauk pauk, bapak dan warga akan menempuh perjalanan yang sudah mereka hafal sejak masih kecil, dengan tujuan tiba di kebun masing-masing sebelum matahari menjadi sangat pirang. Semua itu telah menjadi rutinitas bapak dan warga di kampungku, pergi memetik buah kakau pada minggu pertama di setiap bulan berjalan. Namun, itu hanya cerita dulu.

Sedang para ibu-ibu di kampungku selalu pergi saat siang jelang sore, dan sebelum muazin bersiap mengumandangkan azan magrib, mereka sudah pasti tiba di rumah dengan setumpuk rumput gajah yang dipikul pada bahu, rumput gajah itu nantinya akan diberi pada lembu, kambing, serta kerbau yang mereka pelihara, sudah menjadi hal biasa bagi para perempuan di kampungku untuk pergi mencari pakan bagi hewan ternak, sebab apalagi yang mereka harap, menjual hewan ternak yang telah mereka pelihara dapat membantu dalam menghidupi serta menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk juga diriku. Ah, lagi-lagi itu cerita dulu.

***

Sabit bergalah dan arit di dapur sudah berkarat, bentuknya seperti besi yang sudah lama tenggelam di dasar laut, bahkan kawat yang mengikat pada gagang kayunya mulai rontok. Padahal, salah satu dari kedua benda itu sangat aku butuhkan untuk kegiatan gotong royong besok hari, sebab wali kelas sudah memberitahukan, kalau pada kegiatan gotong royong kedapatan murid yang tidak membawa peralatan, akan diberi denda dengan membawa lima kilo pupuk tanaman, jika saja hal itu terjadi, tentu ibu akan marah. Sehingga aku lebih memilih untuk mengasah arit agar kembali tajam, sebab malam hari begini, tidak mungkin toko yang menjual peralatan semacam itu masih buka.

Selagi aku masih mengasah, terdengar derit pintu seperti seseorang yang sedang masuk ke dalam rumah, meski aku tidak beranjak untuk melihat, tapi dapat kupastikan bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang bekerja, sebab hampir setiap harinya bapak pulang larut malam seperti ini. Melihat aku yang masih sibuk mengasah arit, bapak pun menegurku.

“Aritnya mau dipakai buat apa?” tanya bapak.

“Besok mau dipakai untuk kegiatan gotong royong di sekolah.” Pertanyaan bapak kujawab jujur sembari terus mengasah.

Aku pikir bapak akan memarahiku karena sudah larut malam begini aku baru mulai menyiapkan keperluan untuk kegiatan besok hari, namun bapak hanya berdiri saja dengan terus melihat kesibukanku, tapi diam-diam kuperhatikan, sesekali mata bapak melirik topi rotan dan beberapa alat yang dulunya sering digunakan untuk pergi ke kebun. Mungkin bapak rindu dengan suasana bekerja di kebun, atau mungkin saja bapak tidak suka menjadi buruh seperti saat ini, pikirku begitu. Lantas aku kembali mengajak bapak berbicara, agar bapak tidak terus termangu.

“Lagian arit ini sudah lama enggak digunain, sisi tajamnya saja sampai tumpul, belum lagi karatannya, tebal,” tuturku.

“Mau gimana lagi, kamu kan tahu sendiri bapakmu ini sudah satu tahun tidak pernah ke kebun, dan ibumu juga sudah hampir delapan bulan berhenti untuk cari rumput,” jawab bapak dengan tegas.

Bapak seperti memarahiku, seakan-akan penyebab sabit bergalah dan arit jadi berkarat karena ulahku.

“Kebun punya warga termasuk juga kebun kita, sudah tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam, kalau tidak, itu arit enggak bakalan ketemu dengan yang namanya nganggur,” tambah bapak dengan nada lemah.

Belum sempat aku menyanggah, bapak langsung masuk kamar dengan wajah yang murung, seperti anak TK yang dipaksa untuk tidur siang saja. Timbul rasa penyesalanku karena telah menyinggung, namun mau bagaimana lagi, semua yang aku sampaikan itu semata-mata untuk mencari jawaban atas kegelisahanku, sebab, sudah satu bulan ini bapak berangkat kerja dengan terburu-buru, bukan karena bapak bangun kesiangan, tapi bapak selalu bermalas-malasan. Padahal sudah tiga bulan bapak bekerja sebagai buruh pabrik, dan sikap bapak itu seperti menunjukkan, kalau bapak sudah bosan dengan pekerjaan barunya ini.

Atau mungkin saja bapak merasa kesal, karena bapak beserta para warga di kampungku tidak bisa lagi memetik buah kakau yang mereka tanam, bisa dibilang 80% warga di kampungku dulunya bekerja sebagai petani, dan biji dari buah kakau yang mereka jual adalah mata pencaharian utama. Namun tanah di kebun kami telah tercemar oleh limbah dari pabrik kelapa sawit yang berdiri tegak menjulang tinggi di bagian utara, dan limbah dari batu bara yang begitu kokoh di bagian selatan, kedua pabrik yang jaraknya hanya 100 meter dari kampung telah mencemari tanah kebun yang kami miliki, sehingga para warga tidak dapat memetik hasil yang mereka tanam, bahkan warna tanahnya saja telah menghitam, dan pohon kakau tidak dapat menghasilkan buah.

Termasuk juga rumput gajah, biasanya pakan untuk hewan ternak itu selalu tumbuh subur dan berbatang besar di pinggiran kebun, namun kini jadi mengering, persis seperti tanaman yang terkena racun, akibatnya hewan ternak yang kami pelihara terpaksa kami jual, itu adalah salah satu cara terbaik daripada membiarkan hewan-hewan ternak mati tanpa menghasilkan pundi-pundi uang.

Entah bagaimana kedua pabrik itu bisa diresmikan, mungkin investor asing telah memberi dana yang sangat besar, yang pasti, keberadaan kedua pabrik itu sangat berdampak buruk bagi warga kampungku, sekitar 40 hektare kebun kakau warga tidak dapat menghasilkan buah, belum lagi dengan debu yang setiap harinya kami hirup. Lebih parahnya lagi, tidak ada ganti rugi yang diberikan pada kami, hanya penawaran untuk bekerja di pabrik, umumnya sebagai buruh atau kuli, namun yang kudengar, gajinya tidak sepadan jika dibandingkan dengan hasil biji kakau yang dulunya kami jual.

Seharusnya orang-orang yang terlibat atas berdirinya kedua pabrik itu paham, bahwa di antara penjualan kelapa sawit, getah karet, dan buah pinang, biji buah kakau memiliki nilai jual paling tinggi, setiap panen para petani bisa mendapatkan Rp2,6 juta, dan dalam satu bulan dapat 2 kali panen. Tapi gaji yang bapak dan warga terima saat bekerja di pabrik masih di bawah pendapatan penjualan biji dari buah kakau. Ditambah lagi dengan masalah waktu kerja, lebih dari 9 jam bapak dan para warga bekerja di pabrik, waktu istirahat yang diberikan juga sedikit, berbeda saat masih menjadi petani yang bekerja setengah hari saja.

Besoknya setelah aku bangun dari tidur, aku menyempatkan untuk bertanya langsung pada ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, aku hanya tidak mau bapak terus-terusan murung dan tidak bersemangat.

“Bapak lagi kurang sehat ya, Bu?” tanyaku sembari mencicipi kerupuk yang baru ibu goreng.

“Mandi dulu, nanti kamu terlambat sekolah,” tutur ibu.

Saat itu ibu sama sekali tidak melihat mataku, rasanya seperti ada sesuatu yang ditutupi, aku pun melewati obrolan singkat itu dan gegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menghampiri ibu di meja makan, mumpung bapak masih belum bangun.

“Bapak sakit apa, Bu?” tanyaku.

Lagi-lagi ibu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk dengan tangan yang masih memegang centong nasi, dan tiba-tiba saja wajah ibu memerah.

“Kamu sekolah yang rajin, supaya nanti jadi orang hebat,” jawab ibu dengan desah sesenggukan.

Ternyata ibu menangis, sontak aku langsung memeluk ibu untuk menghentikan air matanya yang terus menetes. Setelah ibu tenang, aku kembali menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, dan pagi itu ibu menceritakan banyak hal, namun salah satu yang membuat ibu sangat sedih, bahwa bulan depan bapak dan beberapa warga akan diberhentikan untuk bekerja di pabrik, dengan alasan digantikan oleh tenaga kerja asing yang lebih kompeten, tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi ibu dan bapak, sebab di mana lagi mereka akan mencari uang untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Dalam keadaan sedih dan berkecamuk itu, bapak tiba-tiba saja membuka pintu kamar.

“Seandainya dari awal, kita dan para warga membuat posko untuk tidak menyetujui pembangunan kedua pabrik itu, tentu kita tidak perlu bersusah payah memikirkan hal seperti ini,” ucap bapak sembari berjalan menuju ke meja makan.

Ternyata dari tadi bapak menguping apa yang aku dan ibu bicarakan, namun terlepas dari hal itu, aku lebih tertarik dengan apa yang bapak katakan tadi, tapi seharusnya ide untuk menolak pembangunan kedua pabrik itu harus bapak sampaikan ke seluruh warga sejak awal sebelum kedua pabrik itu diresmikan, sehingga aku juga dapat membantu untuk menggerakkan massa, setidaknya warga kampungku dapat memberikan perlawanan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Kalau saja bapak memiliki saudara yang punya kekuasaan, sujud di kakinya pun bapak rela, asal pabrik itu bisa ditutup,” ucap bapak dengan nada sedih.

Apa yang bapak sampaikan itu laiknya perkataan seseorang dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak tahu mau mengadu pada siapa, aku benar-benar miris mendengar apa yang bapak katakan tadi. Belum pernah aku mendengar kalimat yang menjatuhkan harga diri seperti itu.

Menurutku, seharusnya orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kedua pabrik itu harus sadar, bahwa pembangunan pabrik akan menjadi hal yang sia-sia, jika warga yang hidup berdampingan dan terkena dampak dari pembangunan pabrik itu belum disejahterakan. Tak peduli dengan alasan untuk kemajuan suatu negara, sebab, banyak kerugian yang nantinya akan kami terima, seperti banjir, tanah longsor, gangguan pernapasan akibat asap dan debu yang terus beterbangan, bahkan air bersih yang biasanya kami gunakan juga akan ikut tercemar.

“Lebih baik kamu berangkat sekolah saja, belajar yang rajin, supaya bisa jadi orang hebat dan mudah mencari kerja, masalah ini biar ibu dan bapak yang memikirkan,” tutur ibu padaku.

Meski sebenarnya niatku untuk pergi ke sekolah sudah hilang, tapi dengan berat hati aku menuruti apa yang ibu suruh, aku hanya ingin nantinya ibu bangga denganku, aku pun pamit sambil mencium tangan bapak dan ibu, namun di sepanjang perjalanan, rasanya aku berharap jika di dunia ini ada lorong reinkarnasi, sehingga kejadian seperti ini bisa aku atasi tanpa sepengetahuan bapak dan ibu, aku ingin kembali pada waktu di mana bapak dan para warga rutin pergi ke kebun, serta kegiatan ibu yang pergi mencari rumput untuk pakan hewan. Sederhana memang, tapi kebahagiaan justru dapat kami rasakan, tidak seperti saat ini. Namun di mana aku dapat mencari lorong reinkarnasi, apa hal semacam itu benar ada.

Bahkan aku juga sempat berpikir, bagaimana jika arit yang telah aku asah menjadi tajam ini, aku pakai saja untuk memenggal kepala orang-orang yang telah membangun kedua pabrik itu, sebab aku tak pernah kuat melihat orang yang paling aku cintai bersedih dan menangis, tapi jika saja diriku kesetanan lalu memenggal kepala orang-orang yang mendirikan serta meresmikan kedua pabrik itu, justru bapak dan ibu akan lebih sedih, bahkan bisa saja tidak henti menangis, sungguh, kebencian benar-benar telah singgah padaku.


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media.

Cerpen

Megh dan Cerita-Cerita yang Memicu Luka

Cerpen Pasini

Megh tiba lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi mocca favoritnya tentu saja.

“Aku yakin sebentar lagi akan menjadi ulat dalam kepompong. Rumah ini begitu nyaman dan tidak membiarkan penghuninya pergi ke mana-mana,” buka Megh, menyertai gerakanku menuang kental kopi ke dalam dua cangkir keramik. Menanggapinya, aku tersenyum tentu saja. Bukankah senyum adalah cangkang paling aman untuk menyembunyikan apa saja. Termasuk luka. Dalam hal ini, aku berguru dari ibuku.

“Tapi bagi seekor kupu-kupu, ulat yang bertapa di dalam kepompong adalah fase paling menyiksa.” Dua cangkir kopi kubawa menuju Megh yang memilih bangku dekat jendela terbuka menghadap taman samping rumah. Bougenvil, mawar, anggrek, aglonema. Ah, lagi-lagi mengingatkanku pada ibu. Pada luka.

“Oh, tidak. Aku ulat yang bahagia.” Megh berkata sambil menarik bibirnya menjadi dua sudut yang sangat runcing. Seperti menegaskan bahwa ia bukan ulat mengenaskan seperti yang kusangkakan. “Untung aku jauh berjarak dari masa-masa itu, Ros. Mendengarkan cerita dari mulut Ibu saja sudah membuat tulang-tulangku linu.”

Dalam beberapa detik aku langsung menyadari betapa konyolnya aku dengan prasangkaku. Tentu saja Megh dan ibunya dan neneknya yang miskin itu bahagia. Ibunya tidak perlu lagi jadi buruh pabrik yang berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tiba kembali di rumah kontrakan sempit menjelang malam. Neneknya tidak lagi serupa laba-laba yang seharian di dalam kamar memintal sarang disertai erangan.

Di mana sebelum ibu Megh berangkat kerja, sudah ia siapkan makanan di meja dekat ranjang tempat perempuan tua itu berbaring. Juga obat-obatan murah dari warung. Beberapa pijak sebelum langkahnya meninggalkan ambang kamar, ia meminta perempuan tua itu untuk sedikit menahan sakitnya. Di tanggal gajian ia berjanji akan membawa ke dokter dan membelikan obat dari apotik.

***

“Tidak enak menjadi simpanan. Selalu dianggap sebagai perebut hak bahagia orang lain.”

Megh, ibunya, dan nenek laba-labanya, tinggal di kota kecil. Berita seperti apa pun dengan cepat menyebar bagai bau busuk ditebar lalat. Yang menjadi lalat di sini tentu saja perempuan-perempuan tetangga. Mengatai ibu Megh perempuan tak punya hati. Nenek Megh menjual anak sendiri. Ketika Megh lahir, ia menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya.

“Lalu Ibu merayu Ayah agar kami sekeluarga bisa pindah ke rumah yang lebih besar.”

“Ayahmu menyanggupi?” tanyaku ringan, selayaknya helai daun rapuh yang sudah tiba waktu jatuh dan diterbangkan angin. Penting untuk tetap menjaga luka di dalam cangkangnya. Aman di sana.

“Itu adalah harga yang harus dibayar setelah orangtuanya memakai kemiskinan Ibu dan Nenek agar mau dinikahi anak satu-satunya.”

“Sepertinya kau tidak suka dengan ayahmu, Megh?” telisikku.

“Aku benci saat ia mengatakan harus buru-buru pergi sementara aku masih ingin dipeluknya. Masih ingin dibacakannya sebuah dongeng, masih ingin bermanja-manja di pangkuannya. Anak-anak orang lain bebas melakukannya setiap waktu, Ros.”

Cerita Megh serupa anak sungai yang menghanyutkanku ke masa lalu. Saat terbangun di tengah malam dan mendapati hanya ada ibu menenangkanku. Padahal dalam mimpi buruk yang baru saja membuatku terjaga, aku dikejar-kejar sosok buruk rupa dan diselamatkan ayah dengan menunggang kuda.

Ibu kemudian tertawa. Mengatakan bahwa ayah tidak mungkin sedang bersama kuda. Ia tengah berada di jauh sana, berjibaku dengan kertas-kertas kerja atau laptop menyala. Aku meminta ibu menghubunginya. Hanya terdengar nada dering yang begitu lama. Esok harinya ayah baru membalas dengan beberapa alasan. Jika aku di usia ibu dan aku istrinya, tidak akan kupercaya.

Aku bahkan membenci kenyataan pernah mengirim doa-doa baik di setiap kepergian ayah. Agar  mobilnya tidak bertemu pengendara ugal-ugalan di jalan. Agar ia kembali dengan sekeranjang hadiah. Agar ia membawa uang yang banyak sehingga aku bisa membeli sekarung permen atau arum manis.

Aku juga pernah berdoa agar ayah tidak sering pergi, tetapi ibu melarangnya. Katanya, ayah bisa dikeluarkan dari tempatnya bekerja jika menolak perintah atasan. Dan itu sama artinya tidak ada lagi sekeranjang hadiah, sekarung permen, dan arum manis. Meski menurut ibu, pergi ke luar kota adalah kebiasaan baru. Ayah tidak melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Rasa percaya ibu yang begitu dalam pada ayah, membawanya ke dalam luka paling palung saat terjatuh. Dan harus ada yang membayarnya agar luka itu tidak berlalu sia-sia.

“Tak ada yang bersimpati ketika Nenek meninggal. Ketika Ibu menyusulnya karena leukemia. Orang-orang dengan pintasnya mengatakan itu sebagai tuai.”

Aku mengangsurkan cangkir kopi agar lebih dekat dengan Megh. Sambil memberinya saran, ia sebaiknya menjeda ceritanya dengan minum. Cita rasa kopi akan memudar seiring perubahan suhunya.

***

Sampai ibu ditemukan dengan jerat tali di lehernya pada sebuah pagi berkabut, aku masih belum memahami perihal sakit yang dimaksud nenek. Yang kutahu, ibu menjadi seorang yang berbeda sejak ayah meninggal. Dari seorang ceria yang suka menghabiskan hari-hari dengan menanam bunga, menjadi seorang pendiam yang mencari-cari alasan agar selalu menyendiri.

Ibu juga membakar semua barang milik ayah dan tidak ingin menyimpannya demi mengawetkan kenangan. Bagiku itu ironi mengingat ayah adalah satu-satunya lelaki di hidup ibu. Mereka sudah bersama begitu lama, tepatnya sebelum aku terlambat hadir di tahun ke sepuluh pernikahan.

Setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, ibu belum pernah sekali pun menziarahi pusaranya. Beberapa tanyaku tentang ayah kembali sebagai jawaban-jawaban pendek. Bahkan lebih sering menguap bagai nasib awan tersapu angin.

Yang kutahu, perubahan sikap ibu dimulai ketika napas ayah tinggal satu-satu dan memaksa untuk bicara empat mata. Ibu keluar dari ruang rawat dengan tangis tak terbendung dan jatuh di pelukan nenek. Tak lama kemudian ayah meninggal dan ibu mematung.

Sebelumnya ibu adalah seorang istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan waktu. Bahkan ibu menjadi payung peneduh atas gundahku saat tepat berusia tujuh dan dirayakan dengan sebuah pesta tanpa kehadiran ayah.

Ayah meneleponku. Mengungkapkan rasa bersalah karena kesibukannya. Menggantinya dengan sebuah janji boneka beruang dan pergi jalan-jalan sepulangnya nanti. Jadi ketika ibu mulai menghindari tanyaku tentang ayah, aku berpikir ibulah yang jahat dan ayah sebaliknya.

“Ibumu sakit,” reda nenek sambil membelai rambut sepunggungku.

Aku menggeleng. “Ibu baik-baik saja.”

“Sakitnya di sini.” Nenek menunjuk dadanya.

Tersisa nenek di sisiku. Meski yang tampak di mataku adalah sebuah jasad dengan hanya sepertiga ruh di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya anak perempuan nenek dan menjadi kesayangan di antara dua anaknya yang lain. Kepergian ibu dengan cara mengenaskan di usia masih cukup muda pasti begitu memukul nenek. Menjadikannya semakin letih dan mendekatkannya dua kali kepada kematian. Dengan suara lirih sebelum benar-benar menutup mata nenek berujar, “Seandainya orang tua ayahmu mau lebih bersabar. Karena setahun kemudian ibumu berbadan dua. Peristiwa yang membawa luka itu tak perlu terjadi.”

Sebuah alamat kemudian diangsurkan kepadaku dan aku tidak tahu harus melakukan apa sampai begitu lama.

***

“Tapi aku pernah begitu bahagia dan merasa menang, Ros,” kata Megh. Itu adalah hari ke sembilan aku mampir ke tempat makan miliknya. Lebih dulu aku mencari tahu sebuah alamat dan menemukan Megh sebagai pemilik dari sebuah resto kecil. Aku menghabiskan banyak uang dengan pesanan dan Megh terkesan.

“Benarkah?”

“Meskipun hanya kemenangan kanak-kanak, aku memaknainya dalam. Aku berpura-pura sakit. Ibu dan Nenek memberi pilihan agar Ayah pergi. Merekalah yang akan menjagaku. Ada gadis kecil lain menunggunya untuk menerima suapan pertama dari potongan kue. Tapi Ayah memilihku.”

Megh meraih gelas. Kami bersulang. Goncangan air kuning bening di dalam gelas tulip menandai cangkangku yang retak dan tidak mampu lagi menampung bengkakan luka di dalamnya.

“Kau dan kotamu sudah menerimaku begitu baik. Aku mengundangmu untuk berganti pergi ke kotaku. Ke tempatku. Aku akan menjamumu dengan sebuah petualangan yang tidak mungkin akan kau lupakan,” kataku dengan tatap penuh permohonan.

Dan Megh mengabulkannya. Siang ini ia tiba di rumahku, lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi tentu saja.

“Kau juga tinggal sendiri di rumah sebesar ini, Ros?” Megh menyeruput minumannya. Mengedarkan pandang pada seisi ruang tamu yang hanya berisi pigura dengan fotoku seorang diri.

Aku melihat Megh seperti ingin berdiri. Pandangannya lekat kepada seekor kupu-kupu yang hinggap di pigura tadi dan kupikir ia hendak pergi ke sana untuk menangkapnya atau sekadar menatap dari jarak yang lebih dekat. Tapi tubuhnya kembali roboh dengan lemparan pantat yang begitu keras pada bangku. Seolah ia kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Benar. Ayahku sudah di neraka. Bisakah kau menyampaikan salamku saat bertemu dengannya?”

Megh menatapku tak mengerti. Tapi sama sekali tidak tersisa waktu untuk bertanya. Ia memegangi lehernya serupa orang tercekik. Serbuk-serbuk putih yang ikut kularutkan di dalam teko sepertinya sedang bekerja.

Aku menyalakan lilin. Setidaknya kali ini Megh tidak perlu berpura-pura sakit di saat ulang tahunku. Sesaat setelah memejam mata untuk merapal pinta selayaknya prosesi pertambahan usia, aku menyeret tubuhnya ke lubang galian di belakang rumah.****


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.