Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa

Cerpen

Kidung Bakti

Cerpen Prima Yuanita

Katamu sebuah lagu mampu mengungkapkan perasaan seseorang, seperti bumbu dapur menerjemahkan rasa masakan. Dan aku pun percaya hal itu. Jadi, ketika perasaanku padamu mendesak-desak ingin disampaikan, lagu Kidung Bakti yang akhirnya berbicara pada semua insan.

Kamu tahu kan, sejak kecil aku suka sekali merangkai syair dan nada-nada? Mereka seringkali membesuk kepala. Lalu menyusup ke tangis, tawa, marah, kecewa, bahagia, bahkan dalam diam.

Dulu kita selalu menandaskan gigil fajar di perapian dengan memutar tembang kenangan, seperti langgam jawa, yang kental dengan iringan gamelannya, atau pop klasik berbirama empat perempat yang menggelitik halus di pendengaran. Saat itu sesekali bibirmu turut menggumamkan lirik lagu tersebut sambil tanganmu terus bergerak-gerak  lincah di atas talenan, sementara kamu memintaku menggisar-gisar kayu bakar agar api di tungku tidak lekas padam.

Aku tahu kamu suka menyanyi, dan karena itulah kamu rajin mengajariku menyanyi ketika usiaku menginjak lima tahun. Bukan lagu anak-anak khas taman kanak-kanak, akan tetapi lagu kebangsaan dengan suara yang dibesar-besarkan. Kamu tahu suara sopranku sedikit sumbang, maka kamu akan membenarkan nada tinggiku yang masih terdengar payah. Aku juga ingat ketika kamu menyuruhku mengucapkan nama negaraku dengan benar. Katamu, aku mengucap kata ‘Indonesia’ menjadi ‘Endonesia’. Seketika aku tertawa dan kamu ikut tertawa, lalu kita tertawa bersama-sama.

Semakin hari aku tumbuh bersama lagu-lagu di sekitarku, bukan hanya lagu kesukaanmu yang kerap kita dengar bersama itu, tetapi dari stasiun-stasiun radio yang kuputar, aku jadi mengenal beragam lagu yang bagus-bagus. Orang-orang berkirim salam kepada orang yang dikasihinya dan meminta senandung favorit mereka untuk diputar. Aku pun pernah melakukan hal yang sama untukmu. Ketika itu aku sudah punya ponsel berwarna hitam nan tebal hasil dari uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Aku begitu takjub menyadari betapa ponselku sangat pintar mengirim pesan. Akan tetapi pesanku tidak pernah dibacakan dan lagu yang kuminta tidak diputar. Menyebalkan sekali bukan? Dari situ aku bertekad dalam hati bahwa kelak aku akan membuat lagu sendiri dan stasiun radio itu tidak akan bisa menolak untuk tidak memutarkan laguku.

Benar saja yang kupikirkan. Saat dewasa aku menikah dengan seorang penyanyi. Singkat cerita ia tidak keberatan membawakan lagu yang kuciptakan. Berhari-hari ia menghafal lirik lagu tersebut. Konon ia tak pernah selama itu menghafal lagu, akan tetapi di lagu ciptaanku, yang sengaja kubuatkan untukmu itu, ia mengaku kesulitan menyanyikannya, apalagi di bagian lirik yang menggunakan Bahasa Jawa.  

Dhuk semono rung biso sembodo

mlaku tansah dituntun ditoto

ojo nganti adigang adigung adiguno

eling Gusti …eling Gusti soko jiwo

Dulu sebelum menikah, suamiku itu tak pernah menjanjikan materi yang lebih padaku. Aku hanya tahu dia orang baik, memiliki keluarga yang baik dan kawan-kawan yang baik. Maka kupikir hidupku pasti akan dikelilingi oleh orang baik. Dengan demikian aku juga bisa menjadi orang baik seperti apa yang kamu harapkan selama ini padaku. Bukankah memiliki kawan-kawan yang baik termasuk salah satu rezeki yang patut kita syukuri?

Hal itu terbukti saat suamiku meminta tolong mereka untuk mengiringi lagu ciptaanku. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengeluarkan alat musiknya. Mereka membawa piano, gitar, seruling, kendang, saron, sapek, juga karinding. Dengan semangat yang meletup-letup di dada, mereka berbondong-bondong ke studio rekaman dan memainkan alat musik itu sebagai instrumen dari lagu yang kuciptakan. Sekitar sepekan lagu itu pun rampung digarap. Kami semua gembira dan lagu itu disebar ke mana-mana, termasuk ke stasiun radio yang tak pernah memutar lagu permintaanku dulu, kini lagu ciptaanku malah jadi playlist permintaan dari orang-orang.

“Bukan hanya Lathi, lagu Kidung Bakti juga bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda,” kataku padamu.

“Iya, aku suka sekali lagu ini,” komentarmu di satu pagi yang cerah, secerah foto profilmu dengan kebaya putih dan gincu merah merekah.

Saat itu kita berbincang lewat sambungan telepon. Semenjak menikah, seseorang biasanya akan semakin sibuk dengan keluarga barunya. Bukan hanya aku dengan keluarga baruku, tetapi kamu dengan keluarga barumu, seperti dalam potret yang kamu jadikan foto profil itu. Aku ingat gambar itu diambil beberapa saat setelah kamu resmi dinikahi seorang duda kaya yang baik hatinya. Lalu di pagi yang berseri-seri, dengan wajah yang berseri-seri pula kamu bertanya padaku, “Bagaimana kamu bisa membuat lagu ini?”

Mendengar pertanyaaanmu itu hatiku serasa dilumuri berpuluh-puluh es krim. Lantas kujelaskan padamu bahwa di satu bunga tidur malam, kupingku mendengar nyanyian alam. Bersayapkan angin segar yang menyeberangi Laut Jawa, ia hinggap di pulau terbesar di Indonesia, ia menjumpai wajah-wajah yang dulu kerap menyapa: seperti gemuruh ombak di Sungai Mahakam, perahu-perahu kayu bercat cokelat kelam; arakan awan langit khatulistiwa, hutan ulin yang suram nan gersang; paras bertaburkan bedak beras, dan air mata seorang wanita di telepon genggam; cairan serupa yang kusaksikan menggenang saat kamu melepas genggamanku di bandara.

Kamu ingat aku pernah pergi jauh. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukannya? Waktu itu hidupku tak ubahnya bola yang digiring ke kiri-kanan, lantaran menyaksikan dua kepala yang sama-sama ingin menang. Hatiku lelah, jiwaku berontak, kakiku melangkah sejauh bola yang menggelinding keluar area permainan. Kamu berulang kali memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus menjauh dari jangkauanmu. Kian lenyap dari pandanganmu, hingga akhirnya pria yang kini kamu sebut menantu itu datang ke kehidupanku, lalu ia menegur kala kakiku jatuh tersungkur.

 “Jangan lagi buat orang tuamu menangis! Seburuk-buruknya mereka, kamu tak boleh jadi anak durhaka! Pulanglah!”

Alam pun menutur makna

tentang rasa yang dijaga

ke mana langkah kususuri

tak temukan kasih yang lebih sejati

Ayah dan Ibu ….

Begitulah lagu Kidung Bakti itu menceritakan perasaanku padamu, juga pada ayah; sesosok lelaki yang bertahun-tahun lalu telah meninggalkanmu. Lelaki itu kutemui bersama menantumu ke suatu tempat yang ia sebut rumah, tapi bagiku itu bukanlah sebuah rumah, itu hanya tempat orang-orang singgah untuk mengenyangkan perut yang lapar. Tidak ada kasur di sana, apalagi kamar tidur, yang ada hanya tikar lusuh yang digelar untuk orang-orang menyantap semangkuk soto ayam.

Di mata lelaki yang kulitnya legam dan penuh kerutan itu, kutemukan segudang penyesalan. Sudah kukira hal itu pasti terjadi, tapi walau bagaimanapun, wanita yang berada di sampingnya saat itu adalah istri sahnya. Bukan lagi namamu di Kartu Keluarga-nya. Jadi ia akan selalu pulang ke tempat istrinya itu, dan kupikir kamu pasti juga sudah bahagia bersama lelaki berusia enam puluhan yang menikahimu setahun lalu.

Tapi rupanya aku keliru. Sepekan lalu, di satu malam tak berbintang, ketika lagu Kidung Bakti itu telah didengar ribuan orang, suara serakmu mengabarkan bahwa suamimu itu telah berpulang karena sakit yang kamu anggap hanya masuk angin. Seketika tubuhku gemetaran. Degup jantungku berloncatan. Kepalaku berdenyut-denyut dan di sana berkelebat sebuah pertanyaan: kenapa rasa sayang selalu membuat kita kembali pulang?***


Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.

Cerpen

Akan Kepulangan

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.

Cerpen

Lelaki yang Melambaikan Tangan Pada Kereta Api

Cerpen Dedy Tri Riyadi

Sebuah pertanyaan tertulis pada kertas berukuran folio; Apakah manfaat dari memelihara sapi? Faiyaz mengamatinya dengan tak sengaja karena kertas itu tiba-tiba berada di dekat kakinya, tergeletak di lantai peron. Ia hendak melakukan perjalanan ke Vijayawada, mengikuti anjuran dari Vaibhav agar sekali-kali meliburkan diri daripada bekerja terus-menerus 24 jam sehari selama 5 hari kerja tapi tak pernah bisa menjadi orang kaya raya.

“Berlibur itu seperti mengisi daya baterai bagi hati dan pikiran,” begitu bujuk Vaibhav  padanya. Namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengambil cuti dan berlibur. “Paling-paling berjalan dari satu ke lain tempat di daerah tujuan pariwisata, nongkrong sana-sini, makan-minum, menghamburkan uang saja,” keluhnya. Kali ini, Vaibhav, pemusik dan petualang yang kerap dijumpainya di kedai minum Crab Legs, memberi jalan keluar untuk berlibur murah dan benar-benar berbeda dari kebiasaan.

“Apa dan bagaimana itu?” selidiknya, penasaran.

Vaibhav mengatakan padanya, pada bulan September, di Vijayawada, ada festival keagamaan di sebuah ashram. “Kau tinggal datang ke ashram, berbaur dalam acara dan kegiatan yang ada, tidur berbagi dengan para peserta lain di tenda-tenda yang disediakan, makan bersama. Semuanya gratis!”

“Tapi, itu kan festival keagamaan? Dan aku bukan pemeluk teguh dari satu agama atau kepercayaan tertentu. Aku ragu.” Faiyaz mendadak seperti kehilangan minat pada pembicaraan terlebih anjuran Vaibhav. Dan bukanlah Vaibhav jika ia tidak bisa memberi jawaban atau alasan yang menyenangkan. Pergaulannya yang luas membuatnya selalu punya cara untuk membujuk orang bergembira. Lagi pula ia seorang penghibur yang siap mengajak orang menikmati musik yang ia persembahkan.

“Kau tahu apa manfaat dari orang memelihara ternak? Orang yang bersikap fragmatis tentu akan menjawab untuk diambil daging, susu, telur, atau lainnya yang bermanfaat. Namun, kau tahu hal spiritual apakah yang bisa didapat dari memelihara ternak? Ia menjalankan perintah Tuhannya selain mengambil manfaat dari beternak, juga menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Jadi, berdoa itu bisa dengan beragam bahasa, dan menyebut Tuhan bisa dengan beragam namaNya. Kau paham?”

Perkataan Vaibhav itu seperti dikuatkan kembali kepadanya saat Faiyaz melihat kertas dengan pertanyaan di dekat kakinya. Yang terutama saat ini adalah ia bisa berlibur dan melupakan pekerjaan sehari-harinya sebagai akuntan swasta yang selalu dirumitkan dengan angka-angka dalam tabel rugi-laba. Lamunan Faiyaz terhenti karena ia mendengar pengumuman dari pelantang yang menyebutkan kereta api dengan tujuan Vijayawada segera tiba. Sofma menggenggam erat tali-tali tas ranselnya, sebelum akhirnya melangkah ke anjungan peron sesaat kereta yang hendak dinaikinya benar-benar sudah berhenti di hadapannya.

Melangkah sambil memerhatikan nomor kursi untuk mencari tempat di mana ia harus duduk sesuai dengan yang tertera di karcis, membuat Faiyaz berjalan seperti tergesa dan terhenti. Para penumpang lain yang berusaha mencari tempat duduk atau meletakkan barang bawaan mereka ke rak di atasnya membuat semacam kemacetan kecil berkali-kali bagi langkahnya. Faiyaz baru merasa sedikit lega setelah ia melihat nomor yang diperhatikan dengan saksama sedari tadi pada karcisnya.

20 B! Kursi dekat lorong. Tempat duduk yang sebenarnya ingin ia hindari. Maklum, duduk dekat lorong akan selalu mendapatkan gangguan dari para penumpang yang lewat. Demikian juga dari penumpang yang duduk di dekat jendela kalau mereka ingin buang air ke toilet di ujung gerbong. Namun kali ini ia tidak merasa begitu menyesal, yang penting sudah dari jauh hari ia bisa mendapatkan konfirmasi tempat duduk dan keberangkatan, mengingat festival keagamaan di Luca Turka itu membuat kereta api ke sana di awal bulan September ini melonjak jumlah calon penumpangnya.

Selesai meletakkan tas ransel di rak di atas kursi, Faiyaz mendengar ada yang mengucapkan “Permisi” dengan nada lembut namun jelas. Seorang perempuan berambut panjang hitam legam dengan wangi seperti dupa sudah berdiri begitu dekat dengan dirinya.

“Nomor kursi saya 20 A.” Perempuan itu kembali bersuara.

“Oh, maaf saya menghalangi Anda masuk. Sebentar. Sebentar.” Faiyaz bergegas duduk agar perempuan itu bisa masuk ke dalam ruang yang dibatasi oleh dua deret kursi itu. Perempuan itu menyeret tas besar yang kemudian dia letakkan begitu saja di hadapannya segera setelah ia duduk pada kursinya di dekat jendela. Tas berukuran besar itu memadati ruang dan membuat Faiyaz harus menyesuaikan duduknya. Faiyaz adalah pria bertubuh lumayan tinggi dengan tungkai kaki yang panjang.

Demi keleluasaan duduknya, Faiyaz memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan itu apakah boleh tas besarnya ia letakkan di rak saja. Perempuan itu merasa keberatan, katanya, “Aku hanya sampai dua stasiun dari sini. Paling lama satu setengah jam perjalanan. Semoga kau tidak keberatan.” Sofma mengangguk dengan kikuk, dengan senyum yang dipaksakan.

Perempuan itu berkata lagi, “Aku hanya sampai Simhachalam! Bukan sampai Vijayawada, tujuan terakhir kereta ini. Kau bisa mengerti?” Ucapannya kali ini terdengar seperti orang yang kecewa. Ini membuat Faiyaz tak ingin memperpanjang persoalan sepele ini. Biarlah, pikirnya, ia tahan-tahan duduk demikian. Toh, hanya selama satu setengah jam jika benar ucapan perempuan itu. Faiyaz mengangguk kembali. Kali ini sedikit lebih santai.

“Syukurlah kalau kau bisa mengerti. Aku ingin kereta ini segera berangkat.” Lagi, perempuan itu bicara padanya. Entah dengan maksud apa. Sofma sebenarnya ingin menahan diri agar tidak membuat perempuan di sampingnya makin bertambah emosi. Meski ia tahu bukan ia penyebabnya. Namun perkataan perempuan itu menggelitik rasa penasarannya.

“Saya kira kau ingin ke Vijayawada untuk mengikuti festival keagamaan seperti saya,” pancing Faiyaz .

“Kenapa kau mengira demikian?” Kali ini Faiyaz bisa melihat jelas mata perempuan berambut legam itu. Mata yang bulat besar dengan riasan maskara yang membuat mata itu terlihat semakin bulat dan besar. Mata yang bisa membuat degup jantung semakin kencang jika menatapnya lama-lama.

“Maaf, ada bau dupa yang begitu kuat ketika kau datang dan lewat di depanku.”

“Oh.” Hanya itu yang terucap sebagai responnya.

Perempuan itu membelalakkan kelopak matanya dan dengan tisu di tangannya ia menyeka sudut matanya sebelum melanjutkan bicara, “Tidak. Aku tidak pergi ke festival itu. Aku akan turun di Simhachalam. Urusan keluarga.”

“Oh.” Kali ini Faiyaz yang mengatakannya.

“Mau berdoa pada dewa apa kau di sana?”

“Maaf? Dewa? Saya belum tahu. Ini kali pertama saya pergi ke festival itu. Kau pernah ya?”

Perempuan itu kemudian menyebutkan beberapa nama dewa yang kepada mereka setiap acara dalam festival itu dihelat. Masing-masing akan punya waktu dan tempat sendiri dalam festival itu. Dan setelah ia menjelaskan cukup rinci, perempuan itu bertanya pada Faiyaz , “Apa pekerjaanmu? Kalau kau ingin rejekimu lancar dan karirmu baik, kau bisa berdoa sesuai dewa yang menaungi pekerjaanmu.”

“Saya seorang akuntan swasta. Kira-kira saya harus berdoa pada dewa atau dewi apa?”

“Akuntan itu berhubungan dengan keuangan dan ketelitian. Kau bisa berdoa pada Dewa Ganesha juga pada Lakshmi Dewi. Pada Dewa Ganesha, kau bisa berdoa dengan mantra – Om Gam Ganpataye Namaha selama 108 kali setiap hari, dan kepada Lakshmi Dewi kau bisa membaca mantra Maha Lakshmi supaya kau diberkati.”

Faiyaz merasa takjub pada perempuan itu. Betapa ia hafal ritual agama dan dewa-dewi yang disembah. Namun ia masih heran dengan sikap perempuan itu yang sedikit ketus dari tadi. Kurang mencerminkan seorang yang saleh.

Sebelum Faiyaz menanggapi perkataan perempuan itu, sayup terdengar peluit tanda kereta api siap diberangkatkan. Dan benar saja, perlahan-lahan kereta itu bergerak menarik gerbong-gerbongnya menjauhi stasiun.

Pemandangan di luar kereta yang memerlihatkan sebagian dari kota dan selebihnya areal persawahan entah mengapa membuat Faiyaz merasa ada beban dalam dadanya yang pelan-pelan menyusut beratnya. Ia mulai percaya ucapan Vaibhav bahwa dengan berlibur ada hati dan pikiran yang diisi daya kembali.

Tiba-tiba ia melihat ada serombongan orang berdiri di tengah areal persawahan seperti sengaja menunggu kereta api itu lewat. Dari rombongan tersebut ada seorang lelaki berdiri paling depan dan paling dekat dengan sisi rel kereta api dan melambaikan tangannya, entah kepada siapa, tapi pastinya yang dituju adalah salah seorang dari penumpang kereta api ini.

Faiyaz tidak menyadari perempuan di sebelahnya menarik semacam kerudung untuk menutupi wajahnya. Ia baru menyadari setelah perempuan itu bertanya kepadanya, “Sudah tidak terlihat?”

“Apa yang sudah tidak terlihat?”

“Lelaki yang melambai pada kereta api ini di sawah tadi.”

“Oh. sudah jauh. Memangnya siapa dia? Kau kenal?”

“Bukan kenal lagi. Dia bernama Hridaan, suamiku tadi siang. Aku memutuskan untuk tidak meneruskan upacara pernikahan karena ia seorang pecandu gutka[1]. Tak ada yang memberitahukan tentang hal ini sebelumnya kepada keluarga kami.”

“Dia masih berharap pernikahan kalian berlanjut?”

“Sepertinya begitu tapi aku tidak bisa. Pecandu gutka itu menjijikan bau mulutnya. Belum lagi ludah merahnya selalu sembarangan dibuang ke lantai. Aku tak akan tahan hidup begitu! Dia sempat bersikeras untuk mengantarku ke stasiun tapi aku lebih dulu pergi.”

“Kau tidak mengenal dia sebelumnya?”

“Bukankah tradisi kita untuk menikah tidak perlu saling mengenal pasangan masing-masing? Yang penting keluarga kita sudah sama-sama tahu siapa akan dinikahkan dengan siapa. Bukankah begitu? Apa kau lupa?”

Faiyaz terpekur. Ia sudah lama melupakan tradisi pernikahan semacam itu. Faiyaz melarikan diri dari rumah dan keluarganya karena dipaksa menikahi Adweta, anak perempuan kolega ayahnya. Keputusan bulat itu diambil karena ia lebih mencintai Binita, teman kuliahnya. Namun cinta itu juga kandas karena Binita harus menerima pinangan keluarga Saksham.

“Hei, mengapa kau melamun?”

Faiyaz mendengar ucapan perempuan berambut legam beraroma dupa di sampingnya dengan jelas tapi ia malas untuk menanggapinya. Faiyaz lebih tertarik untuk menikmati luka dalam dadanya seperti lelaki yang melambaikan tangan pada kereta api tadi. Ia yang tahu sebenarnya ada yang bisa ditentang dan diperjuangkan dalam hidup ini, tapi memang ada kalanya, pada akhirnya,  kita hanya bisa berkata, “Selamat jalan. Semoga bisa bertemu kembali.”****

Jakarta, September 2021


Dedy Tri Riyadi, pekerja iklan dan redaktur majalah sastra digital Mata Puisi. Buku Puisi Berlatih Solmisasi sempat masuk long-list Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.


[1] kombinasi pinang, jeruk nipis, parafin dan gambir bersama dengan tembakau, yang sebenarnya beracun, tapi kerap digunakan sebagai penyegar bau mulut dengan cara dikunyah dan disesap-sesap, dan diletakkan pada bagian dalam pipi.

Cerpen

Wak Banun

Cerpen Widjaya Harahap

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di atas peti

Hutang emas dapat dibayar

Hutang budi dibawa mati[1]

Aku berhutang keduanya: uang dan budi kepada seseorang yang selama puluhan tahun bahkan sebersit pun tidak pernah terpikirkan olehku. Keinginanku saat ini adalah segera bertemu dengannya senyampang waktu masih ada.

Aku tak tahu persis sejak kapan mulainya. Dan dari mana asal muasalnya. Kesadaran itu terbit begitu saja. Sekonyong-konyong aku merasa berutang kepada banyak orang. Sebagiannya orang-orang yang kukenal, sisanya tidak. Sebagian dalam bentuk utang uang, sebagian lagi berupa utang kebaikan. Aku tidak tahu cara membayar utang kebaikan. Yang sudah pasti, utang uang harus segera kubayar.

Yang tidak henti-hentinya menguntitku adalah ingatan kepada Wak Banun. Letak rumahnya bersebelahan dengan rumah orangtuaku, walaupun dipisahkan hamparan tanah yang cukup luas, ditumbuhi pohon-pohon rambutan dan sawo, tidak menghalanginya mengetahui keadaan kami. Pada saat umak tidak memasak karena tidak ada beras yang bisa ditanak, dia datang dengan rantang berisi nasi, sayur daun singkong tumbuk, sambal dan ikan limbat goreng. Melihat mata umakku yang berkaca-kaca dia mengelus pundak umak. “Besok pagi ke ladang kita ya,” ajaknya. “Padi sudah masak, waktunya diketam. Burung pipit pun sudah makan duluan. Ikutlah kau mengetam ya, biar kelen kebagian merasakan beras baru. Enak nasinya, padi Arias itu.”

Dari tiga hari membantu panen di huma Wak Banun, umak mendapat lima goni padi. Aku mengiriknya malam-malam. Miangnya membuat gatal sekujur kaki, tapi bayangan kami akan punya beras setidaknya sepekan ke depan membuatku tak memedulikannya. Setelah kering dijemur, aku membantu umak menumbuk padi itu di lesung. Melepuh telapak tanganku yang kerempeng karena jarang-jarang memegang alu, juga tak kuhiraukan. Bukan cuma enak rasa nasinya beras Arias itu, selagi ditanak pun aroma wanginya sudah menggelimangi sepenuh rumah.

Di musim berladang dan musim buah-buahan (Wak Banun punya berhektar-hektar kebun durian, manggis, langsat dan rambutan) umak selalu dikasih pekerjaan. Aku ikut membantu jika libur sekolah. Upahnya lumayanlah untuk kami menyambung hidup.

Waktu itu aku dan umak dipanggil Wak Banun membantunya memetik buah rambutan dari kebun di halaman belakang rumahnya. Aku yang memanjat, umak yang mengumpulkannya ke dalam keranjang dan karung goni. Ada juga Bang Ril, anak sulung Wak Banun, yang memanjat batang rambutan yang lain. Umur Bang Ril terpaut enam tahun denganku. Aku baru tamat SD ketika dia lulus SMA. Dari atas pohon, secara tidak sengaja, kudengar Wak Banun berujar kepada umak, “Untuk apa kau bela laki-laki malas begitu. Kalian kelaparan pun dia tenang-tenang saja. Kau yang pontang-panting cari makan, dia malah enak-enak saja tidur siang.” Dia tengah menggunjingkan ayah dan menghasut umak. “Bawa anakmu. Tinggalkan saja lakimu. Tak usah sama dia pun, kelen bisa hidup.” Pastilah Bang Ril juga mendengar perkataan emaknya. Dari atas pohon kudengar suaranya setengah berteriak, “Mak!” Wak Banun langsung terdiam. Menggelegak perasaanku. Dipikirnya dia siapa, seenaknya meracuni pikiran umak agar bercerai dari ayah? Jangan mentang-mentang dia membantu waktu kami susah terus dia merasa boleh tidak semena-mena mencemooh ayahku. Bukan menghilangkan kebaikannya, tapi memang tidak semuanya pemberian. Kebanyakan adalah upah untuk tenaga kami. Tidak dari dia pun kami bisa jual tenaga kepada orang lain. Walaupun boleh dibilang banyak jasanya, tapi aku tak senang pada kelakuannya.

Di rumah, waktu ayah tak ada, kutumpahkan unek-unekku, “Tak usah lagi kita mau kalau Wak Banun menyuruh kita, ya Mak.”

“Kenapa?” tanya umak heran.

Nggak betul Uwak ‘tu, masa tadi dia ngomong begitu soal ayah.”

“Yang dicakapkannya tadi itu ada pula betulnya.”

Betul kan? Umak sudah termakan racun Uwak ‘tu.

“Tak bakal mau lagi aku disuruh-suruhnya, Lebih baik sama orang lain saja,” sambungku, sambil kuselidiki air muka umak. Tenang seperti biasa. Tak nampak ada yang merisaukannya.

“Allah yang menentukan dari mana jalan rezeki kita, Amang[2]. Tidak selalu melalui tangan orang yang menurut kita baik. Soal kebaikan itu pun hanya Allah yang tahu isi hati manusia.” Aku kehabisan kata-kata. Tapi perasaan mendongkol masih tersisa.

Setelah itu kalau ditanya macam mana suasana perasaanku terhadap Wak Banun, kubilang macam kena malaria: kadang panas, kadang dingin, kadang menggigil. Aku tetap mengerjakan suruhannya. Biarpun aku berkeras hati tak mau lagi disuruhnya, toh nyatanya tidak ada pekerjaan di tempat lain. Lagipula ini kan hanya senyampang liburan sekolah. Kalau libur sudah berakhir aku tidak akan bekerja lagi, kecuali di sore hari.

Sejauh aku bisa mengingat masa kecilku, aku anak kurus yang selalu lapar. Di rumah aku hanya bisa makan sebanyak yang dibagikan umak di pingganku. Tidak ada nasi tambuh. Kalau aku punya uang, aku jajan di sekolah. Uangku hanya cukup untuk dua buah kue, tapi itu tak bisa meredakan laparku. Makanya aku makan lima tapi mengaku makan dua.

Lantas dari mana aku mendapatkan uang untuk jajan? Sepulang dari sekolah, atau sejak pagi di hari Ahad, aku mencari kayu api. Sebagian untuk umak memasak, sebagian lagi kusimpan untuk kujual ke kedai-kedai nasi. Uang hasil jualan kayu separuh kukasihkan kepada umak yang separuh lagi untukku jajan dan beli perangko. Selain kesempatan mengambil kayu rambung waktu onderneming menumbang pohon rambung tua untuk peremajaan tanaman, aku mencari kayu api ke hutan. Di musim penumbangan, onderneming membolehkan orang kampung mengambil kayu yang mereka sisakan di lapangan. Bagian batang pohon yang berukuran besar mereka ambil untuk bahan bakar rumah asap tempat mengeringkan getah sheet[3], dan dijual kepada DSM[4] untuk memanaskan turbin mesin uap lokomotif kereta api.

Pada hari-hari sekolah, Wak Banun adalah satu-satunya yang berjualan makanan di SMP-ku. Aku selalu menunggu waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, kontan si Uwak dirubungi anak-anak yang mau jajan. Kerumunan yang demikian ribut dan makan sambil berebut sehingga si Uwak sering luput mengawasi. Membuka peluang untuk curang membayar. Setiap kali aku mengaku hanya makan dua dan membayar dua. Padahal lima kue yang sudah kumasukkan ke dalam kantong nasiku. Kecuali opak singkong yang kasat mata karena besar ukurannya, kue yang kecil-kecil itu mudah disembunyikan dalam genggaman tangan. Dan menyusupkannya ke dalam mulut tanpa ketahuan. Bertahun-tahun urusan ini tersimpan rapi sebagai sebuah rahasia yang memalukan.

Hari-hari belakangan ini, tiga puluh lima tahun setelah tamat SMP dan pergi merantau—dan tidak pernah bertemu Wak Banun lagi—aku pulang ke negeri kelahiranku, sebuah kampung kecil di pesisir Timur Sumatra Utara. Life begins at forty[5], begitu kata peribahasa. Sepuluh tahun yang lalu tatkala umurku mencecah empat puluh tahun, aku jadi lebih mengerti memaknai kebaikan dan kejelekan. Perasaan tidak suka terhadap Wak Banun berangsur berubah. Aku hanya tahu sebagian saja dari apa yang kudengar, selebihnya hanya Allah yang mengetahui. Bagaimana aku bisa membuat penghakiman tentang laku baik dan buruk? Seperti kata umak, hanya Allah yang tahu isi hati manusia. Yang kuketahui, dulu dia sering menolong keluarga kami pada saat kami susah. Tidak jarang dia memedulikanku seperti dia memperhatikan anaknya sendiri. Biarlah di hatiku hanya ada kebaikannya. Selebihnya, biarlah itu jadi urusan Allah saja. Sejak berada di Medan, ingatan tentang Wak Banun terus-menerus mengusik. Aku harus pulang ke kampung. Menjumpainya. Membuka rahasia masa kecil dan membayar utang-utangku. Selagi dia masih ada.

Di beranda rumahnya, kucium khidmat tangannya yang kurus dan renta. Tangan yang dulu menumbuk beras pulut menjadi tepung, memarut kelapa, menyiapkan adonan dan entah apa lagi. Bersabung dengan sengat panas api agar kue-kue dan jajanan untuk kami tersedia sebelum jam istirahat. Menyiapkan makanan yang telah jadi darah dan daging kami, diriku dan kawan-kawanku. Dia mengatakannya dalam bahasa yang bersahaja: supaya kami tidak lapar waktu belajar. Sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan untuk kusyukuri. Sesuatu yang aku tidak pernah berterima kasih. Kupegangi terus tangannya. Perlahan-lahan kurasakan hatiku mulai meleleh.

Kuulurkan bingkisan berisi kain songket Talawi ke pangkuannya.

“Semoga jadi sigolom tondi[6] untuk Uwak,” kataku. Dibukanya bungkusan dengan tangan gemetar. Bibirnya yang terkatup bergerak-gerak, seperti menggelatuk. Memerah matanya menahan genangan yang menunggu tumpah.

“Aku mau minta Uwak mengikhlaskan. Jangan sampai tidak.” ujarku terbata-bata.

“Apalah rupanya yang mesti uwak ikhlaskan?”

“Dulu Uwak tak tahu, banyak jajanan yang tidak kubayar. Kumakan lima, yang kubayar dua. Sekarang aku mau membayarnya tapi tak lagi ingat berapa jumlah pastinya. Lebih kurangnya tolong Uwak mengikhlaskan. Sudah jadi daging, sudah jadi darahku. Kalau Uwak tak ikhlas, macam mana nanti aku ditanya di Yaumil Hisab. Tak bakal bisa aku menjawabnya,” kudengar suaraku serak bercampur getar.

“Dari dulu nya sudah Uwak ikhlaskan. Tau nya Uwak kau makan lebih, tapi biarlah. Tak ada nya pulak duitmu. Lagi pula bukan kau saja. Yang lain juga begitu.”

Lamunanku mengembara ke masa-masa itu. Saat-saat aku tak punya duit dan cuma menengok saja tak berani mendekat, Uwak Banun memanggilku. Mengetahui aku tak punya uang, disuruhnya mengambil jajanan yang kumaui. Berapa pun yang kuinginkan.

“Uwak doakan besarlah hendaknya tuahmu yo Amang.” Diciuminya kain songket yang kuberikan.

Kupeluk dia. Tubuhnya terguncang-guncang. Seketika berderailah tangisnya. Aku tak kuasa menahan diri. Kami pun bertangis-tangisan. Lembut dia mengusap-usap rambutku.

Iléé bayaaa ééé …. Tak sempatlah pulak nampak umakmu, anaknya kini sudah jadi orang.” Mendengar Uwak menyebut nama almarhumah umakku, menjadi-jadilah tangisanku.

Pagi ini—hari kedua semenjak aku tiba di kampung halaman—di beranda rumah Wak Banun aku duduk berhadapan dengan Bang Ril. Lembut dielusnya bungkusan songket Talawi yang kugenggamkan kepadanya. Dari penuturannya aku baru mendapat kabar Wak Banun sudah berpulang menghadap Allah. Hari ini persis empat puluh hari kepulangannya. Aku merasakan sebuah palu besar menghantam dadaku bertalu-talu menyisakan sesak yang tiada terhingga.

Mimpiku tadi malam itu begitu nyata.***


Widjaya Harahap, penulis tinggal di Ciamis. Bergiat menulis cerpen dan puisi. Cerpennya diterbitkan pada beberapa antologi bersama.


[1] Sebait pantun klasik Melayu. Penulisnya awanama (anonim).

[2] Amang = Ayah (Bahasa Batak, Mandailing), lazim dipakai sebagai panggilan sayang kepada anak laki-laki.

[3] sheet = Jenis hasil produksi lateks yang dicetak berupa lembaran pipih lalu dikeringkan dengan cara mengasapi di dalam rumah pengasapan (gudang asap, istilah lokal).

[4] DSM = Deli Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api Deli diwarisi dari Belanda. Nama DSM masih dipakai meskipun setelah diambil alih sudah mempunyai nama baru: Djawatan Kereta Api (DKA), yang kemudian berganti nama lagi jadi PJKA.

[5] Life begins at forty = Hidup dimulai ketika berusia empat puluh (peribahasa).

[6] sigolom tondi = Idiom Batak, penggenggam semangat.

Cerpen

Selubung Sihir Mantra

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Jabik dan Hewan Kesayangannya

Cerpen karya Erwin Setia

Kau tidak bisa mencegah seseorang menyukai hewan tertentu, sekalipun hewan itu dianggap najis dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Demikianlah tidak ada yang kuasa mencegah Jabik untuk tidak menyukai tikus got melebihi kucing atau kelinci atau hewan apa pun yang lebih layak dicintai. “Apa hakmu melarangku mencintai sesama makhluk?” Lelaki ceking itu selalu berkilah seperti itu tiap kali teman atau keluarganya mencecar soal preferensinya yang ganjil. “Tapi hewan busuk itu bisa membawa penyakit, Bik.” Jabik membantah, “Siapa bilang, buktinya aku yang setiap saat bersamanya tidak terkena penyakit apa-apa.”

Perdebatan tidak pernah berakhir. Kini Jabik sudah genap dua bulan memelihara Andre—tikus got hitam pekat—dan tikus itu terus bertambah gemuk. Keresahan juga menyubur di benak orang-orang terdekat Jabik. Bagaimanapun mereka masih terus khawatir. Mereka khawatir suatu saat tikus itu bakal menyebarkan wabah penyakit dan mereka khawatir Jabik sudah tidak waras.

Jabik selalu menyangkal itu. Ia menekankan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak suka mengamuk, tidak melakukan hal-hal aneh. Singkatnya ia sewaras lelaki berumur dua puluh empat tahun pada umumnya. Perihal kesukaannya terhadap tikus, ia bisa membawakan sejumlah argumen. Ada orang yang suka mengoleksi benda tajam, menonjok wajah orang lain atas nama olahraga, membeli hewan-hewan buas dan langka, mempunyai lebih dari satu istri, dan kelakuan tak lazim lain, lalu kenapa kalian mempertanyakan kewarasanku hanya karena aku memelihara seekor tikus, begitu Jabik kerap memberi jawaban kepada orang-orang yang melulu mempertanyakannya.

Dua bulan lalu ketika Jabik memungut Andre kecil yang baru saja keluar dari gorong-gorong, hatinya sedang kacau. Ia ingin menendang dan memukul benda-benda yang dilihatnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai penduduk langit dan bumi mendengar suaranya. Ia ingin melakukan semua hal yang dapat membuat dadanya lega. Sore itu ia berjalan sendirian di jalan yang lengang dan sepi. Ia berjalan tergesa. Ia baru pulang dari suatu rumah yang tak akan lagi ia kunjungi. Hujan belum lama berhenti ketika Jabik mencapai jalan itu, suatu jalan di mana sekitar dua meter dari tempatnya berdiri ia melihat seekor tikus merambat pelan dengan bulu-bulu kaku. Memandangi makhluk itu, suatu perasaan sentimentil mengguncang Jabik. Ia menghampirinya, memungut si tikus, membawanya pulang ke rumah seperti seorang perempuan yang tak bisa hamil memungut seorang bayi yang dibuang, dan menamainya malam itu juga dengan nama yang belakangan melulu terlintas di kepalanya, Andre.

Ia merawat Andre dengan telaten. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan rutin membersihkan tubuhnya. Jabik tak peduli kendati ayah, ibu, serta para tetangga mencibirnya. Ia bilang ia bukan memelihara tuyul atau boneka santet, jadi tak seharusnya mereka mencurigainya terus-menerus seolah-olah tikus piaraannya dapat membobol berangkas atau mengirimkan jarum api ke rumah mereka.

Makin hari hubungannya dengan Andre kian karib. Jabik senang melihat polah lucu Andre. Ia suka mendengar cericit Andre yang terdengar semerdu kicau burung piaraan ayahnya. Seiring dengan itu, perasaan Jabik yang sebelumnya semrawut perlahan kembali tertata. Ia merasa udara yang dihirupnya lebih segar dan batu-batu yang menyesaki dadanya lenyap. Ia sudah bisa tertawa lebar dan tak lagi berhasrat untuk menghancurkan benda-benda atau menusukkan sebilah pisau ke leher seseorang.

Ayah dan ibu Jabik sesungguhnya tahu apa yang melatari keanehan anak mereka itu. Pagi sebelum Jabik memungut Andre, Jabik izin pergi ke suatu tempat. Tempat itu cukup jauh dari rumahnya. Jabik memohon doa kepada ayah-ibunya. Ia pergi ke tempat itu dengan niat baik dan setumpuk harapan indah tentang hari depan. Ia menumpangi bus antarkota dengan berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan, pandangannya mengarah ke luar jendela dan ia kerap tersenyum-senyum. Ia membayangkan wajah seorang perempuan. Seorang perempuan jelita yang sangat dicintainya. Ia membayangkan hari pernikahan, suatu hari ketika dirinya menjadi seorang ayah, suatu masa ketika dirinya menjadi kakek, dan sebingkai foto berisi potret keluarga besarnya di masa depan.

“Apa ini tidak kelihatan terburu-buru, Bik?” tanya ayahnya sebelum Jabik berangkat.

“Tidak, Yah. Jabik sudah yakin dengan Maya.”

“Tapi kamu baru mengenalnya beberapa minggu, loh,” timpal ibunya.

“Jabik bahkan pernah mendengar ada sepasang suami-istri yang menikah padahal mereka baru saling kenal tiga hari. Dan pernikahan mereka masih langgeng. Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.”

“Tapi kan itu beda, Bik.”

“Jabik dengan Maya juga beda, Yah.”

“Bik.”

“Tenang saja, Bu, Yah. Jabik tahu apa yang harus Jabik lakukan. Ayah dan ibu tunggu saja di rumah. Jabik pasti akan pulang dengan membawa kabar gembira.”

Sorenya Jabik pulang dan ia tidak membawa apa-apa, selain seekor tikus got yang muram dan sangat kotor. Selama berhari-hari ayah dan ibu Jabik tidak bertanya apa-apa kepadanya dan Jabik juga tidak menceritakan soal apa pun kepada kedua orang tuanya. Hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu perlahan memahami apa yang sebetulnya terjadi. Mereka hidup bersama Jabik sejak pemuda itu masih bayi merah. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka bisa mengetahui nasib buruk yang menimpa Jabik meskipun Jabik tidak pernah membicarakannya sekata pun.

Awalnya mereka risih dengan mainan baru sang anak. Bukan hanya karena tikus dikenal sebagai hewan menjijikkan, tapi juga omongan tetangga yang terasa pedas dan tiada habisnya. Namun, manakala mereka melihat keberadaan tikus itu menimbulkan perkembangan positif pada diri Jabik, pelan-pelan mereka dapat menerima kenyataan itu. Pada hari-hari awal keberadaan si tikus, Jabik menjelma pendiam yang murung dan suka mengurung diri. Ia hanya menengok si tikus yang diletakkannya di suatu kandang kayu kecil saat pagi dan sore. Ketika Jabik mulai aktif bercengkerama dan beraktivitas bersama tikusnya, barulah kemurungan dan kebisuan Jabik menghilang. Ia kembali menjadi Jabik seperti yang dikenal ayah-ibunya. Bahkan kali ini Jabik terlihat lebih ceria. Ia tetap ceria walaupun para tetangga tak pernah berhenti menegur dan menggunjingkannya. Ia seperti tak peduli lagi dengan tanggapan orang-orang. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana ia bisa merawat Andre dengan sebaik-baiknya. Saban melihat Jabik dan Andre bergaul akrab, ayah dan ibu Jabik selalu terharu. Jabik adalah anak mereka satu-satunya, yang baru lahir selepas ulang tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mereka ingin Jabik bahagia. Mereka ingin Jabik mendapatkan yang terbaik. Apabila seekor tikus got dapat membuat Jabik bahagia dan merasa mendapatkan yang terbaik, mereka tidak bisa melarangnya. Mereka tidak mau merusak kebahagiaan Jabik.

Suatu hari ketika Jabik sedang menonton televisi di ruang tamu dengan Andre di pangkuannya, seseorang mengetuk pintu. Jabik tidak menghiraukan suara ketukan itu. Ia terlalu fokus menonton sinetron yang tersaji di layar televisi bersama Andre. Ia mengajak bicara Andre seolah-olah tikus itu dapat mengerti perkataannya. Ia menertawakan kekonyolan aktor di depan Andre seolah-olah tikus itu memedulikannya. Pintu itu terketuk untuk ketiga kalinya ketika layar televisi menayangkan iklan dan Andre mencericit. Ibu Jabik muncul dari dalam kamar sambil menggeleng-geleng. Ia membuka pintu, sementara Jabik mengelus-elus tubuh Andre penuh kelembutan. Seseorang di ambang pintu menyerahkan sesuatu kepada ibu Jabik, lalu beranjak pergi.

“Bik.”

“Iya, Bu,” sahut Jabik.

“Ini,” kata Ibu Jabik seraya mengangsurkan selembar kertas undangan berplastik kepada Jabik.

Jabik meraihnya.

“Jadi, Maya menikah dengan sepupumu, Andre anaknya Pak Dirman?”

Jabik tak menanggapi ucapan ibunya. Ia sedang memandangi undangan di tangannya dengan geram. Dadanya berdentam-dentam. Ia memelototi undangan itu. Di sampingnya, Andre si tikus bergelung tenang menyandarkan tubuhnya yang tambun ke paha Jabik.

Beberapa detik kemudian, ketika televisi kembali menayangkan sinetron dan ayah Jabik keluar dari dalam kamar, Jabik merobek-robek undangan tersebut. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu menggenggam sebilah pisau. Ia menghampiri Andre si tikus. Ia mencengkeram tikus gempal itu. Dengan mata berkilat-kilat Jabik mengiris leher Andre si tikus. Ibunya pingsan. Ayah Jabik menahan tubuh ibunya. Saat tangan ayah Jabik mendekap punggung ibunya, Jabik menyunggingkan senyum tipis sambil mendengarkan cericit terakhir Andre si tikus yang terdengar sangat memilukan. **

Tambun Selatan-Bekasi, 28 November 2019


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Pesan Rahasia dari Virus AUX-20-Blue

Cerpen Fina Lanahdiana

“Sekali kita masuk ke dalam sesuatu, maka mustahil untuk bisa benar-benar keluar darinya.” Itu merupakan pesan pembuka dari sebuah suara yang diputar berulang-ulang oleh Qeff di waktu luangnya menikmati kesendirian, di ruang pribadi yang didesain minimalis dengan suasana senyaman mungkin. Perpaduan ruang kerja sekaligus tempat bersantai.

Ada sebuah kotak aquarium berisi ikan-ikan yang bisa dikeluarkan dan disembunyikan secara otomatis, seolah-olah menerobos ke dalam dinding. Ada pohon-pohon kecil berjajar di pot yang berada di dekat tumpukan buku-buku yang juga bisa ditata sedemikian rapi menggunakan sebuah tombol sentuh, bisa dibayangkan seperti sebuah mesin dispenser berisi buku-buku yang bisa diatur ulang apakah akan menatanya sesuai abjad judul, nama penulis, warna kover, atau suka-suka pemiliknya. Di sebelahnya, ada sebuah monitor berukuran 21 inci. Ruangan itu sepenuhnya kaca, agar bisa memenuhi kesan berada di tempat yang terbuka. Sementara di hadapannya, sebuah jendela secara suka rela menjadi tempat pertukaran cahaya dan warna.

Sekilas tampak biasa saja, tapi sebenarnya ruangan itu bisa ditenggelamkan ke dalam tanah yang di permukaannya ditumbuhi rumput hijau segar, menyenangkan mata siapa saja yang melihatnya. Itu dilakukannya untuk memberi kesan bahwa dirinya sedang pergi bekerja dengan suasana yang nyaman.

Dunia memang banyak berubah setelah virus AUX-20-Blue menyerang di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tercatat sebagai pandemi. Gejalanya tidak jauh berbeda dari gejala flu, hanya saja lebih menular dan lebih mematikan. Memang ada sebagian penyintas yang bisa melewatinya hanya dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Tetapi seringkali bisa sangat berbayaha bagi pihak-pihak yang memiliki kondisi kesehatan rentan. Bagi yang memiliki gejala cukup parah, paru-paru menjadi target serangan virus AUX-20-Blue ini, sehingga penderita bisa mengalami sesak napas yang bisa berakibat fatal.

Qeff termasuk penyintas yang bertahan, tapi dunianya seolah menjadi hampa. Ia kehilangan ayah dan ibunya akibat virus AUX-20-Blue yang tidak disadarinya sudah menyerang tubuhnya tetapi tidak menunjukkan gejala yang berarti. Segalanya mungkin memang sudah berlalu, tetapi sejarah buruk di dalam hidupnya itu tidak pernah bisa ia lupakan.

“Aku sungguh menyesal karena tidak bersedia mengikuti aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Aku pergi keluar rumah sesukaku, dan segalanya terjadi begitu saja,” ujar Qeff kepada Noe, seorang terapis yang menangani dirinya.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” balas Noe.

“Ya, aku tahu. Tapi seharusnya ini semua tidak akan terjadi jika aku …”

“Tidak apa, menangislah. Sebentar, biar kuambilkan minum.”

“Terima kasih.”

Air mata lelaki itu memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tak peduli bahwa sejak kecil ia selalu diajari bahwa tidak seharusnya lelaki menangis. Ruangan konsultasi itu seketika menjadi begitu riuh oleh suara tangisan.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku akan seperti ini?”

“Ini, minumlah.”

Noe menepuk-nepuk punggung Qeff untuk menenangkannya, sementara Qeff menerima uluran gelas berisi air putih yang diberikan Noe.

“Sudah cukup tenang sekarang?”

Qeff mengangguk beberapa kali.

Begitulah, Qeff seolah tidak bisa melepaskan diri dari badai pandemi yang meskipun telah berlalu, tetapi tidak mengubah cita rasa gelapnya sedikit pun. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu, emosinya bisa naik-turun seperti roller coaster yang naik dengan perlahan, lalu turun dengan sangat cepat yang tak jarang membuatnya terengah-engah.

Ia juga sering dibayangi mimpi buruk didatangi ayah dan ibunya yang muncul dengan raut wajah sedih dan tak henti-hentinya menyalahkannya.

“Kukira segalanya akan berlalu begitu saja jika semuanya sudah terlewati. Ya, kukira. Tapi mimpi buruk selalu datang, menyusup ke dalam tidurku seolah ingin mencuri setiap kebahagian yang tersisa, yang kumiliki.”

“Tidak seharusnya kau menyalahkan dirimu terus seperti itu. Setiap hal yang berlalu memang tidak bisa diubah, tapi selalu ada sesuatu yang bisa diambil darinya, kan?”

“Ya, mungkin kau benar.”

***

Qeff memang mengubah pandangannya mengenai pekerjaan setelah pandemi berlangsung. Ia telanjur nyaman dengan konsep ‘bekerja dari rumah’ yang mau-tidak mau dilakukan ketika pandemi berlangsung. Bidang teknologi juga mengalami percepatan yang tidak terduga, karena saat segala hal tidak bisa lagi dilakukan dengan pertemuan, maka yang berperan paling besar di dalamnya adalah teknologi. Kadang-kadang Qeff berpikir dengan disertai kecemasan, apakah kelak manusia benar-benar akan digantikan oleh mesin? Terlebih teknologi AI saat ini sudah sangat melampaui yang tidak pernah dipikirkan di masa lalu.

“Itu hanya ketakutanmu saja. Bagaimanapun, manusia menciptakan teknologi. Artinya, manusia masih lebih berdaya ketimbang mesin.” ujar Joe, temannya.

“Tapi kadang-kadang manusia kalah cepat dengan mesin.”

“Memang. Itu karena manusia punya rasa lelah, sedangkan mesin tidak. Maksudku, mesin tidak benar-benar merasa lelah, jika sudah saatnya rusak, ia hanya akan rusak. Seluruh hidupnya dikendalikan program. Sedangkan kau tahu, manusia punya kehendak bebas.”

Hal itu membuat segala hal menjadi mungkin dilakukan dengan cara yang lebih simpel dan lebih efisien. Kantor menjadi tidak harus sebuah ruangan luas yang berisi banyak orang. Teknologi juga mampu melipat jarak yang semula sulit untuk ditempuh menjadi mungkin  melalui udara. Setiap hal dapat diringkas sedemikian rupa sehingga akan bisa memotong perencanaan anggaran yang tentu saja tidak sedikit, sehingga pada akhirnya anggaran yang tersisa itu bisa dialihkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain yang lebih mendesak.

Berbelanja pun begitu. Setiap toko yang diinginkan seolah-olah telah menawarkan diri dalam genggaman tangan. Tidak perlu keluar rumah untuk membeli kebutuhan yang dikehendaki. Hanya perlu duduk dan menyentuh layar ponsel, memilih barang yang diinginkan, membayarnya, lantas barang itu akan datang mengetuk pintu rumah tanpa perlu repot-repot untuk menghabiskan tenaga.

“Benar-benar hidup seperti mesin yang serba otomatis …”

“Dan memudahkan segala kerepotanmu, kan?”

“Ya, dan kurang cahaya matahari.”

“Ayolah, kita bisa pergi keluar rumah sebentar, berlari kecil setiap pagi. Menyapa kucing dan anjing-anjing …”

“Kau benar …”

Bagi Qeff, berhasil melewati pandemi sudah lebih dari segalanya. Rasanya tak ada hal yang lebih berharga daripada itu, karena ia ingat pandemi mumbuat hidup menjadi seolah begitu sulit untuk diperjuangkan. Negara-negara di hampir seluruh dunia seperti kehilangan kendali; rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang terlantar, alat-alat kesehatan yang dijual dengan harga tak masuk akal, anak-anak kos yang diusir ketika terinfeksi virus AUX-20-Blue, jenazah yang kesepian karena tidak boleh dijenguk oleh siapa pun dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang kolaps dan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawan.

***

Suatu malam Qeff bermimpi, ia terlibat pada sebuah survival game. Peserta dipilih oleh sistem, dan ia salah satunya, dan tak bisa lari dari itu. Maka selanjutnya ia mengikuti permainan yang sudah disiapkan. Ia dan pemain lain dimasukkan ke dalam sebuah mesin raksasa yang mengingatkannya pada film Charlie and The Chocolate Factory. Sebenarnya permainannya cukup aneh, karena tiba-tiba ia dan pemain lain telah berada di arena bermain roller coaster. Posisi duduknya juga berbeda dengan pemain lain, tetapi sungguh tidak terduga, itu bisa menguntungkannya. Seharusnya ia lolos ke stage selanjutnya, tapi ternyata yang terjadi tidak semudah kelihatannya. Berkali-kali ketika ia memasuki lift untuk naik level, ia ditolak dengan suara peringatan, ‘nomor ini belum diizinkan untuk masuk, silakan kembali ke tempat!’

Tetapi Qeff memang sungguh beruntung, karena ketika itu ada seseorang yang menyelamatkannya, membawanya masuk ke dalam lift melewati ‘pintu’ lain. Setelahnya ia terbangun dengan badan yang seluruhnya terasa remuk, seolah apa yang baru saja dialaminya bukanlah mimpi. Mimpi itu memang tidak benar-benar di luar kesadarannya, karena ia masih mendengar suara televisi ketika tidur, dan di waktu yang sama suara itu seolah masuk ke dalam mimpi sebagai backsound.

Qeff tidak terlalu tahu apa arti mimpi itu, tetapi setidaknya ada 3 hal yang ia garis bawahi: 1. Setiap hal memerlukan proses, sebaiknya tidak melewatkan proses apapun yang terjadi untuk bisa mencapai tujuan, 2. Bantuan orang lain bukanlah sebuah kesalahan, 3. Daripada menolak masalah, lebih penting untuk belajar menerimanya.

Bagaimana ia bisa menangkap pesan-pesan itu? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan bahwa ia seolah-olah membaca di dalam pikirannya, yang seolah buku yang sedang terbuka.

Noe bilang, apa yang dibacanya dari mimpi itu bisa jadi merupakan sesuatu yang benar, yang berasal dari kesadaran Qeff yang lain.

“Menurut Freud, mimpi adalah pikiran bawah sadar yang bocor dan gagal mengendalikan diri …”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Bagus, karena kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Apakah ayah dan ibumu masih sering mengunjungimu di dalam mimpi?”

“Kurasa tidak sesering dulu. Tapi masih. Dan agaknya … kalau aku tak salah ingat, mereka mulai tersenyum kepadaku.”

Kali ini Noe tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berkali-kali menepuk punggung Qeff.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Beberapa tulisannya bermukim di www.filadina.my.id

Cerpen

Disforia

Cerpen Tiqom Tarra

Dari semua musisi di dunia, pria di sebelahmu memilih Yiruma. Dia menyukai melodi-melodi yang membuat hati sedih. Kenapa, tanyamu. Karena sama seperti hidupku yang penuh kesedihan.

“Kalau begitu bagilah kesedihan itu padaku. Akan kutukar kesedihan itu dengan cinta dan kebersamaan.”

Pria itu hanya akan tersenyum mendengar ucapanmu. Kau tahu itu bukan senyum persetujuan karena setelahnya dia akan mengubah posisi tubuhnya untuk membelakangimu. Dia tak ingin menatapmu, terlebih dia tak ingin menganggapmu ada di sampingnya; dalam kamar yang sunyi sesudah percintaan kalian, pria itu membuat jarak denganmu. Selalu.

***

Kau masih melewati jalan yang sama setiap hari. Deretan toko, lalu lalang kendaraan, dan pedagang kaki lima menemanimu hingga sampai di sebuah halte. Untuk beberapa lama kau akan berdiri di sana menunggu bus yang akan membawamu pulang. Halte ini telah banyak berubah; warna catnya, kondisi bangku, bahkan atap yang mulai berlubang. Deretan toko yang kau lewati pun telah banyak berubah. Hanya kau di sini yang tidak berubah; berangkat dan pulang melewati jalan yang sama, melakukan hal yang sama setiap hari. Benar-benar monoton. Tak ada yang menarik dari hidupmu.

Dalam tiap langkah menuju halte, sering kau berpikir, apakah kau akan menjalani hidupmu seperti ini terus? Melewati jalan yang sama, berdiri di tempat yang sama, memikirkan hal yang sama setiap hari sampai kau tua dan mati?

Dari kaca etalase toko, kau menatap pantulan dirimu yang kurus, lusuh dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahmu tampak memprihatinkan alih-alih tampak seperti gadis yang menginjak usia dua puluhan. Ternyata hanya satu hal yang berubah dari dirimu, yaitu usia yang bertambah tua.

Pikiranmu melayang pada ibumu di rumah yang lumpuh entah sejak kapan. Daya ingatmu tak cukup baik untuk mengingat sejak kapan ibumu lumpuh, tapi yang kau ingat kau tidak memiliki ayah sejak lahir. Dan itu tak masalah bagimu. Setidaknya kau masih punya alasan untuk tidak mengakhiri hidup.

Sampai di halte, hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran merayu satu sama lain. Kau tak tertarik dengan mereka. Perhatianmu justru tertuju pada sebuah mobil sedan yang berhenti di seberang jalan sana. Seorang perempuan berambut kemerahan ditarik paksa untuk keluar dari mobil oleh seorang pria. Mereka terlibat adu mulut hingga si perempuan menangis. Si pria berbicara lagi, memaki dan menendang ke udara. Kau tak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak kalian cukup jauh, belum lagi terhalang oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. Perempuan berambut kemerahan itu hanya bisa menangis hingga si pria masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga busmu datang dan mulai melaju, kaulihat perempuan berambut kemerahan itu masih menangis tanpa memedulikan sekelilingnya. Ah, itu bukan urusanku, ucapmu sembari menyandarkan punggungmu yang lelah pada sandaran kursi.

Entah mengapa melihat mereka kau risih. Mereka bertengkar di pinggir jalan, menangis, seolah mereka sedang main drama. Kau tak suka drama kehidupan karena kau hanya bisa menjadi penonton. Hidupmu terlalu biasa saja untuk ikut ambil bagian dari sebuah drama besar di dunia. Bahkan, jika tiba-tiba kau meninggal tak akan ada yang berubah dari dunia ini kecuali ibumu yang mungkin akan segera menyusulmu.

Esoknya, seperti biasa kau berada di halte yang sama, di waktu yang sama pula. Membawa dua kilo beras untuk persediaan di rumah, juga beberapa butir telur, kau menunggu bus. Namun, tatapanmu kemudian tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di seberang jalan. Perempuan yang kemarin bertengkar dengan kekasihnya. Apa dia tidak pulang dan 24 jam berdiri di sana seperti orang bodoh? Namun, melihat pakaiannya kau yakin dia telah pulang ke rumah karena seingatmu kemarin dia memakai kemeja biru dan sekarang memakai sweter merah.

Cukup lama kau memperhatikannya yang masih menunduk entah memikirkan apa. Hingga kemudian dia mengangkat wajahnya dan tatapan kalian bertemu. Kau yakin dia menatapmu dari seberang sana.

Kau tak suka caranya menatapmu, terlebih dengan rambut kemerahannya yang berkibar. Ada rasa benci dan iri yang sangat dalam dari tatapan perempuan itu padamu. Apa yang membuatnya menatap begitu benci? Apa karena kau melihatnya kemarin saat dia bertengkar dengan kekasihnya? Salah mereka bertengkar di tempat umum. Perempuan itu tak seharusnya membencimu.

Lalu apa yang membuatnya iri? Karena kau membawa dua kilo beras dan beberapa butir telur? Melihat apa yang dia kenakan juga tas yang dia bawa, pasti perempuan itu orang kaya. Kau yakin upahmu bekerja seumur hidup di sebuah toko kelontong pun tak akan bisa membeli tas yang perempuan itu pakai. Lalu kenapa dia harus iri padamu?

Kau menatapnya tanpa memedulikan lalu-lalang kendaraan; menantangnya bahwa hidupmu yang lebih memprihatinkan. Namun, semakin kau menatap ke dalam matanya kau merasakan suatu perasaan yang belum pernah kau rasakan. Apa ini? Kau mengusap dadamu. Rasanya benar-benar lara, seperti ada yang menyayat-nyayat hatimu begitu dalam dan pelan.

Kau menatap perempuan itu lagi, dia mengangguk perlahan. Patah hati, itu yang kini tengah dia rasakan. Kau tidak pernah merasakan patah hati karena hidupmu terlalu monoton untuk merasakan cinta. Namun, dari tatap perempuan itu, kau tahu bahwa patah hati sangat menyakitkan.

Napasmu mulai sesak entah karena apa, seolah ada bongkahan batu yang mengganjal di dadamu. Sekeras apa pun kau memukul-mukul dadamu, rasa sesak itu tetap ada dan kian parah. Kembali kau menatap perempuan berambut kemerahan itu; matanya memerah seperti rambut kemerahannya yang berkibar. Perempuan itu tengah mengadu padamu.

“Kenapa aku?” Kau tidak mengerti. Kenapa perempuan itu harus mengadu padamu. Dan kenapa dia harus membagi rasa patah hatinya padamu.

Kau nyaris muntah andai busmu tak datang dan kau segera menghambur masuk. Kau tak bisa membendung air matamu. Kenapa rasanya sesakit ini? Tanganmu gemetar hebat dan kau hanya bisa menumpahkan tangismu hingga membuat orang yang duduk di sebelahmu menatap heran.

Sesampainya di rumah kau segera menghambur ke tempat tidur, menangis sepuasnya. Ini perasaan yang asing, tapi juga familier bagimu. Apa kau pernah merasakan patah hati? Tiba-tiba kau termenung.

“Pernahkah?” Kau bertanya pada dirimu sendiri.

Ingatanmu sangat buruk; banyak hal di masa lalu yang tidak bisa kau ingat dan itu membuatmu frustrasi. Untuk sejenak kau menatap langit sore dengan semburat merah persis seperti rambut perempuan di seberang jalan tadi. Kau masih termenung menghayati perasaan di hatimu hingga ibumu memanggil dari biliknya.

Tubuh kurusnya makin menyatu dengan kasur yang sudah kumal. Ah, kau belum bisa membelikan kasur yang lebih bagus untuknya dan itu membuatmu merasa bersalah.

“Kemarilah,” ucap ibumu dengan lambaian tangan. Tangan itu sama sekali tak berdaging; hanya tulang yang dibungkus kulit kering.

Kau mendekat. Duduk di lantai agar wajahmu dekat dengan wajah ibumu.

“Kau telah berjuang dengan keras.”

Kau tak mengerti apa yang ibumu maksud. Kau tak merasa telah berjuang dengan keras selama hidupmu. Kau hanya menjalaninya dari waktu ke waktu, tua, hingga waktunya bagimu untuk mati. Atau mungkin kau akan mengakhiri hidupmu jika memang kau tak lagi punya alasan untuk hidup.

“Hiduplah dengan baik.”

Kau masih tidak mengerti. Namun, kau sedang tak ingin berpikir, rasa sakit di dada membuatmu hanya ingin kembali ke kamarmu dan berbaring; melupakan hari ini, melupakan perempuan berambut kemerahan itu.

Kau terbangun ketika suara ribut-ribut tetangga yang memulai pagi. Kau tidak berniat untuk berangkat kerja hari ini; membiarkan gajimu yang tidak seberapa dipotong bosmu yang pelit meski kau telah bekerja untuknya selama bertahun-tahun. Hingga siang kau hanya mengurung diri di kamar. Sekali waktu keluar, membuat makanan untuk ibumu, mengurusnya yang sudah tidak mampu melakukan apa pun. Kau kembali menekuni rasa sakit di hatimu. Siapa perempuan itu? Kenapa dia patah hati? Apa yang terjadi padanya?

Kau merasa pernah bertemu dengannya. Entah kapan dan di mana. Rasanya itu sudah lama sekali. Kau berdecak. Ingatanmu yang bebal sangat menyusahkan! Tak ada yang bisa memberimu penjelasan kecuali perempuan itu. Dan tak ada salahnya bertanya. Perempuan itu yang telah membuatmu merasakan sakit. Maka, kau mulai melangkah menuju halte, berharap perempuan itu berada di sana seperti kemarin.

Namun nihil. Perempuan berambut kemerahan itu tidak ada di seberang jalan sana. Apa dia belum datang? Kau tak tahu. Langit masih benderang, dan ini bukan waktu di mana kau pulang kerja. Kau hanya bisa berdiri di halte. Menunggu. Hidupmu yang monoton membuatmu terlatih untuk menunggu.

Sepasang muda-mudi yang kasmaran duduk di bangku halte seperti kemarin. Kau tidak ingat apakah sebelum hari kemarin mereka juga selalu berada di halte ini bersamamu. Kau tahu, kau tidak bisa mempercayai ingatanmu yang bebal, maka kau hanya akan menunggu, menunggu, hingga sebuah mobil sedan yang samar-samar kau ingat berhenti di seberang sana.

Ah, itu dia! serumu.

Perempuan itu turun dari mobil. Seorang pria juga turun, memeluk perempuan itu untuk beberapa lama sebelum kembali masuk mobil dan melaju. Pergi. Dan tinggallah perempuan itu sendirian.

Dia hanya berdiri di trotoar seperti patung di antara lalu lalang kendaraan yang pengendaranya ingin segera sampai rumah. Pias wajahnya, sayu matanya seolah menjadi magnet bagi kakimu untuk melangkah. Kau harus ke sana dan bertanya.

“Wanita jalang,” ucap sepasang muda-mudi di belakangmu. Mereka tertawa pelan seolah tengah mengejekmu meski kau tahu kata-kata mereka barusan ditujukan untuk perempuan di seberang jalan sana.

Kau hendak melangkah ketika melihat perempuan itu menghamburkan dirinya tepat di depan sebuah truk yang melaju. Waktu seolah berhenti. Kau melihat perempuan itu terhamtan dengan keras sebelum warna merah berhamburan dari tubuhnya seperti setangkai mawar merah yang dihentakkan dengan cepat membuat kelopaknya berhamburan.

Kau seperti terseret ke dimensi lain. Satu per satu ingatan yang sebelumnya begitu sulit kau ingat muncul di kepalamu, termasuk perasaan asing namun familier di hatimu.

Kau bukan tak pernah mengenal perasaan itu. Namun, kau sendiri yang berusaha menghilangkannya dari otakmu. Kau menghapus semua emosi dalam dirimu seperti kau menghapus kenangan tentang Ayah dari hidupmu.

Kau bukan tak pernah memiliki Ayah, tapi kau sendiri yang menghapusnya dari benakmu, ketika dia menyentuhmu dan memenuhi dirimu dengan tubuhnya. Ketika kau dendam dan mengubur nama ayahmu selama-lamanya dari hidupmu seperti kau mengubur tubuh menjijikannya tepat di belakang rumah, kemudian kau melanjutkan hidup seolah kau tak pernah memiliki Ayah sejak lahir. Pun ketika kau mencintai seorang pria dan dia tidak punya pilihan lain selain meninggalkanmu karena baginya kau hanya penjual dan dia pembeli.

Itu yang terjadi, dan perempuan berambut kemerahan itu mengingatkanmu bahwa kau sendiri yang memilih hidupku yang membosankan. Berlindung di bawah halte tua, melewati jalan yang sama setiap hari hanya untuk mengubur semua kenangan pahit.

Malam telah gelap. Pelan, kau mendengar alunan instrumen Yiruma. Pada siapa kau bisa membagi kesedihanmu dan menukarnya dengan cinta serta kebersamaan?****


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

“…. Tapi, Bagaimana Kalau Kita Tidak Benar-Benar Ada?”

Cerpen Daruz Armedian

“…. tapi bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada?”

Sayup-sayup kudengar dua orang, laki-laki dan perempuan, membicarakan sesuatu yang menarik bagiku. Mereka berhadap-hadapan. Apakah mereka sepasang kekasih, tentu saja aku tak tahu, dan ya, itu kurasa juga kurang perlu kutahu.

Aku duduk di sini dan mereka menempati tempat duduk yang lain, yang ada di depanku. Si laki-laki, kalau tidak ada perempuan di depannya, bisa dikatakan ia sedang berhadapan denganku. Sementara si perempuan memunggungiku. Awalnya aku tak peduli dengan pembicaraan mereka, tapi ketika sampai pada kalimat itu, yang sudah kutulis di awal paragraf cerita ini, aku mulai ikut menyimak.

“Benar juga, ya. Bagaimana kalau kita di sini malah cuma dalam bentuk bayang-bayang?”

“Astaga, jangan-jangan pula, kita adalah ilusi, atau bahkan hasil dari imajinasi seseorang, atau katakanlah sesuatu yang jauh, yang tak terjangkau.”

Ini menarik, kataku dalam hati. Di depanku ada laptop terbuka dan aku tidak peduli dengannya. Kubiarkan ia menyodorkan Microsoft Word yang cuma berisi satu paragraf tentang cerita yang absurd, yang aku sendiri enggan untuk meneruskannya.

“Kurasa pembicaraan kita terlalu jauh. Hahaha.” Si perempuan menertawakan pembahasannya sendiri. Tidak, tidak, kataku, itu tidak terlalu jauh, aku suka ada orang nongkrong di kafe dan membahas soal beginian. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Apalagi jika itu sepasang kekasih. Tahu sendirilah apa yang dibicarakan orang-orang yang tengah berpacaran? Atau jangan-jangan mereka sedang dalam masa pendekatan? Sehingga bahasannya rumit. Bukan lagi soal kangen atau tidak kangen, soal pertanyaan lagi apa, sudah makan belum, dan sebagainya.

“Iya, ya, ngapain kita bahas begituan. Yang berguna dan yang paling dekat dengan kita sekarang kan masalah keuangan. Percuma rasanya kita bahas begituan kalo kita masih kere, ke warkop cuma pesan agm (maksudnya adalah kopi hitam agak manis yang harganya 5.000), dan saldo rekening tidak lebih dari 50.000.”

Tapi kalau kulihat-lihat, mereka tidak pesan agm. Mereka memesan jus alpukat dan cokelat panas dan dua mangkok mie goreng. Tampilan yang perempuan juga modis, sebagaimana yang laki-laki juga modis. Si perempuan memakai hoodie warna abu-abu, celana levis pendek, dan sandal yang agaknya harganya kisaran jutaan. Si laki-laki pun begitu, pakai kemeja putih keren dan jam tangan. Ia bukan tampang orang miskin.

“Hahaha. Iya bener.” Si perempuan menanggapi pendek.

Mereka tertawa lagi. Memang betul, keuangan sangat perlu kupikirkan. Terlebih ketika usiaku sudah 25 tahunan. Aku juga harus memikirkan tabungan untuk biaya pernikahan kelak, biaya berumah tangga. Aku ke sini, ke kafe ini jalan kaki, dan sampai sini hanya pesan kopi. Padahal, ada lebih dari 40 menu yang lain. Dan…

“Aku pernah benar-benar miskin. Dulu, untuk ngopi saja aku butuh mikir dua kali. Sebelum ngopi, pasti aku mikir, baiknya uangku untuk makan saja.” Si laki-laki menarik napas dalam, dan meneruskan pembicaraannya, “Tapi ini bahasan yang nggak menarik. Hahaha.”

“Kamu sudah sering cerita soal itu.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Masing-masing sibuk dengan hapenya. Aku juga kembali memandangi laptopku. Iya, ya, untuk apa juga aku menulis yang rumit-rumit begini, yang membingungkan kepalaku sendiri, yang kalau dibaca orang lain pun pasti tidak ada faedahnya. Asu memang kehidupan begini. Harusnya aku kerja baik-baik, jadi PNS kalau perlu, biar nanti kalau tua dapat uang pensiunan. Tidak perlu membaca banyak buku, tidak perlu menulis inilah, itulah, hashhhh, taiklah. Kebutuhan dasar manusia kan makan, atau katakanlah pegang uang.

Jadi untuk apa ya Darwin mikirin manusia itu berasal dari kera, untuk apa Socrates bela-belain mati karena mempertahankan pemikirannya, untuk apa para filsuf memikirkan awal mula semesta, untuk apa sih, kalau pada dasarnya yang mereka butuhkan sebenarnya cuma melanjutkan hidup dengan makan, kerja, kalau capek ya istirahat, tidur, merenggangkan ototnya?

Tidak lama, si laki-laki teriak (ya sebenarnya tidak teriak-teriak amat sih).

“Woooooh, orang Amerika menemukan gambaran black hole.”

“Iyakah, siapa?”

“Bouman, eh, sebentar.”

“Hmmm.”

“Iya bener. Bouman. Katie Bouman. Katherine Louise Bouman. Anjiiiirrr keren.”

“Nah, kan. Apa kubilang. Orang-orang luar negeri sudah jauh pemikirannya. Mereka sudah sampai ke luar angkasa. Lah, kita? Masih sibuk ngurusin hoaks terus. Bahkan ngurus got saja masih keteteran. Masalahnya pelik memang. Kalau kamu mau jadi ilmuwan di sini, atau katakanlah kamu mau meneliti sesuatu di sini, ya kamu akan tetap kelaparan. Tidak ada dukungan apa pun dari pemerintah soal penelitianmu. Ya, mungkin kamu bisa membuat proposal, minta bantuan ini-itu, tapi itu susahnya minta ampun, yang kurasa itu tanda kalau pemerintah nggak serius ngurusin beginian.”

Aku kembali mengabaikan laptop, atau sebenarnya mengabaikan pikiranku? Aku mendengarkan perbincangan mereka lagi. Sekarang temanya beda dari yang tadi.

“Ya, begitulah yang terjadi di sini. Mau gimana lagi.” Si laki-laki sudah tidak antusias lagi.

“Hmmm.”

Tiba-tiba aku yang merasa geram. Memang betul, banyak orang-orang yang berkompeten di negara ini, tapi selalu saja mereka disia-siakan. Mereka yang muncul di permukaan, yang mendapatkan penghargaan-penghargaan di luar negeri, adalah orang-orang yang disepelekan di sini. Aku tidak tahu akar masalah ini dari mana. Yang jelas, apasih yang jelas, ini saja tidak jelas. Aku sedang mikirin apa? Arrghhhh. Pusing sendiri aku memikirkan negara ini.

Mereka akhirnya diam lagi. Masing-masing sibuk dengan hapenya lagi.

“Pulang, yuk?” Si laki-laki memasukkan hape ke sakunya.

“Ayo. Tapi mampir beli pizza, ya.” Si perempuan berkata manja.

“Lho, ini tadi sudah makan mie goreng.”

“Aaaa. Pengen. Dari kemarin pengen.”

“Iya, iya, ayo.”

Mereka berdiri dan aku gelagapan, buru-buru fokus ke laptop lagi. Aneh rasanya kalau aku ketahuan menguping sejak tadi. Aku pura-pura mengetikkan sesuatu. Aku tulis kalimat bodoh, tidak teratur, yang penting jari-jariku bergerak di atas keyboard. Untuk keluar dari warung kopi ini, mereka harus melewati samping tempat dudukku.

“Lho, Saka, kamu di sini?”

Aku tersentak. Apa benar perempuan ini mengenaliku? Siapa dia? Aku pandangi agak lama, dan …

“Karin?” tanyaku agak ragu. Dalam pikiranku, Karin adalah mahasiswa filsafat yang pintar dan kritis. Dulu dia tampilannya tidak seperti ini. Hodie dan kacamata dan celana pendek telah mengubahnya menjadi sebegitu anggun.

“Iya.” Dia tersenyum. “Aku duluan, ya,” katanya buru-buru.

“Oke, siap, Rin.” Hati-hati, ya. Hampir saja hati-hati, ya, kuucapkan.

Si laki-laki hanya diam. Ya, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai aku.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada, Saka?” Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lucu. Mimik mukanya tetap sama seperti dulu. Seperti mengejek. Seperti tingkah orang centil. Tapi aku tetap suka. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kencang.

Karin berlalu sambil menggandeng tangan laki-laki itu. Mungkin itu pacarnya, mungkin itu tunangannya, mungkin itu malah suaminya. Mereka menuju ke mobil warna merah, yang sejak tadi terparkir di depan warung kopi ini. Dari jauh, masih kudengar sebuah rengekan; aaa, aku sudah pengen pizza dari kemarin, lho. Iya, kan, ini nanti mampir ke sana kan? Dan suara itu dibalas lembut; iya, iya, sayang. Buruan masuk. Gerimis.

Setelah mobil itu berlalu, aku baru sadar telah begitu khusuk melihat mereka. Posisi dudukku jadi membelakangi laptop. Aku keterlaluan melengos. Aku buru-buru kembali ke posisi semula. Microsoft Word kembali kubuka. Kupencet ctrl+N, dan jari-jariku dengan cepat mengetik; mungkin aku saja yang tak perlu benar-benar ada ….

Belum banyak aku mengetik, rasanya aku ingin segera menandaskan kopiku. Ada yang mengganjal di tenggorokanku. Belum banyak aku mengetik, rasanya mataku sudah terlalu lama memandangi layar laptop. Perih. **

Jogja, 2020-2021


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tayang di pelbagai media.