Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Cerpen

Gaun Hijau Botol

Cerpen Jeli Manalu

Nirara berdiri tepat di depan sebuah toko, ketika notifikasi WhatsApp membuat getaran dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan itu sesaat setelah mengalihkan pandangan dari gaun hijau botol yang dipakai patung berambut ikal, seperti rambutnya. Isi pesan dalam ponselnya, menjelaskan pada hari raya Natal akan datang seorang pastor tamu. Si pembuat pesan, yakni ketua paduan suara, mengatakan tahun ini harus lebih semarak dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok paduan suara akan mengenakan baju seragam.

Membaca pesan itu, di mana seruan ketua merupakan keharusan terlebih telah didukung anggota lainnya, harapan Nirara tentang Natal dengan gaun hijau botol yang menggembirakan hati pupus seketika. Mengenakan seragam, membeli baju jadi ataupun menjahitkannya, itu artinya ada pengeluaran tambahan di bulan yang sama. Sementara, sejak gaun hijau botol dipajang pemilik toko, di mana Nirara dapat melihatnya setiap pergi dan pulang bekerja hampir seminggu lamanya, karena telanjur naksir namun belum tiba tanggal gajian, ia membujuk majikannya supaya diberi pinjaman demi menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko sebagai tanda jadi, sehingga gaun itu tidak dijualkan kepada orang yang barangkali berminat membelinya. Dan sekarang, setelah mendapatkan maklumat penting di hari yang genting, selain tak dapat memiliki gaun hijau botol, kemungkinan kehilangan uang tanda jadi sebagai kompensasi karena membatalkan pesanan turut mengganggu pikirannya. Jika harus mengambil gaun bersamaan dengan baju seragam, itu mustahil lagi. Ia tidak punya cadangan uang. Rekeningnya sudah lama tak ada isi. Bila dulu belanja-belanja perkara gampang, pada kehidupannya sekarang, segala sesuatu terasa sulit.

Belakangan, sebelum tiba masa gajian, ia membuat catatan esktra ketat terhadap nominal yang hendak diterimanya. Sesudah uang di tangan, ia langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sebulan penuh, hanya menyisakan kebutuhan lauk-pauk yang dibeli per dua hari. Token listrik, beras, minyak sayur, serta isi ulang gas 3 kilo berlabel “hanya untuk masyarakat miskin.”

Ia bimbang, juga mulai bersedih. Ingatan akan gaun berwarna hijau, yang pernah dibelikan Tona, suaminya pada Natal pertama saat mereka baru berumah tangga, hadir dalam lamunannya.

“Buka dan lihatlah. Nama warnanya, hijau botol,” kata Tona, waktu itu.

Hijau botol. Seperti warna botol kaca muatan 620 ml, tempat bir bergambar bintang. Hijau yang gelap. Atau seperti warna kasula pada masa minggu biasa dalam liturgi—Tona mengatakan itu merupakan warna kesukaannya, juga Nirara.

Lelaki itu mengaku senang ketika Nirara mulai memasukkan kepalanya ke lorong gaun. Saat Nirara merentangkan kedua tangan dan menggerak-gerakkan badan, Nirara merasakan tangan Tona membantu Nirara membetulkan di bagian dada sampai pinggul. Gaun itu kemudian Nirara tahu berbahan katun lembut, namun sedikit tebal. Dalam cermin ia melihat dirinya yang sedang mengenakan gaun berkerah lebar, di mana pada sepertiga bagian ujungnya terdapat lubang-lubang mungil menyerupai gambar hati. Panjang gaun setengah betisnya. Risleting di bagian belakang. Ketika hendak mengenakannya untuk merayakan malam Natal di gereja, Nirara meminta tolong pada Tona supaya mengancingkannya. Tona memegang kepala risleting, tapi ia berkata agak kesulitan melakukannya. Ia menarik ke atas, lalu menurunkannya lagi sebelum benar-benar mencapai puncak, ia bilang resletingnya mungkin perlu diberi lilin sedikit supaya lincah gigitannya.

“Jangan bercanda, nanti kita terlambat,” protes Nirara.

Lama-lama, mereka malah saling mencumbu, sampai-sampai tiba di gereja tepat ketika pastor berkotbah di altar cintanya Tuhan tentang kelahiran bayi Yesus. Dan sebulan setelahnya, Nirara mengandung anak pertama, meski pada usia kehamilan tujuh minggu ia mengalami keguguran.

Di depan toko yang ramai oleh lalu lalang pengunjung, tiba-tiba, penyesalan kecil timbul di dada Nirara. Barangkali, bila tidak terlalu memikirkan prinsip hidup tentang masa depan kesendiriannya apabila sudah ditinggal mati Tona, sejak lama, yakni tidak mau seperti tetangganya yang memilih hidup sepi saja sejak ditinggal mati kekasih hatinya, bisa jadi, Nirara tidak sedilema sekarang ini. Ia tidak perlu menghapus keinginan pribadi atas nama kebersamaan. Sepanjang lima tahun, ia sudah mengikuti segenap aturan tak tertulis di kelompok paduan suara—wujud nyata dari sebuah kekompakan, begitu para anggota menamainya. Menjahitkan kebaya lengkap dengan roknya saat uskup berkunjung. Membeli sepatu pantofel merah ketika ada pertandingan kor antar stasi. Membayar kaos bersablon nama paduan suara saat berwisata rohani ke luar pulau, topi lebar ala perempuan bangsawan Inggris, membayar tiket, membeli syal ungu, membeli celana berwarna sama, bergantian mentraktir bila tiba hari ulang tahun, dan lain-lain dan lain-lain.

Saat itu, tiga minggu setelah Tona tiada, Nirara segera membuat keputusan. Pengurus gereja ditemui, dan berkata jika dirinya berniat menjadi anggota paduan suara. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Pertemuan selanjutnya setelah dirinya resmi bergabung, ia mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bulan-bulan setelahnya ia lalui dalam kebersamaan. Empat kali Natal tak satu pun ia lewati dengan perasaan seorang diri, meski sejak kepergian Tona, hari-hari ia lalui dalam kemerosotan ekonomi.

Ia memang tidak terlalu peduli ketika tak pernah lagi membeli kepiting gendut-gendut untuk dijadikan sup kincung pedas, walau itu sekadar mengenang ulang tahun pernikahannya dengan Tona di masa lalu. Ia mengisi waktu dengan latihan vokal. Tampil di hari Minggu sebagai pemazmur atau pemimpin lagu, juga peserta kor. Menyanyi di pesta pernikahan, hingga upacara kematian. Dan ini mestinya Natal kelima dirinya merupakan bagian dari komunitas itu.

Natal memang belum waktunya walau Desember sudah merayap. Natal masih seminggu lagi, meski orang sudah ramai keluar-masuk toko pakaian, memilih model dan warna yang disuka, mencoba apakah kekecilan atau kebesaran hingga membawanya ke rumah dengan hati senang. Natal memang belum tiba, meski beberapa perempuan paruh baya yang datang tanpa ditemani seseorang, tampak menghadiahi diri mereka dengan satu atau dua pasang baju untuk menghindarkan hati dari nelangsa.

Nirara sebentar berpikir, jangan-jangan si tetangga, yang hidupnya terkesan menyedihkan karena menutup diri dari semua kemungkinan membahagiakan, saat ini justru lebih bersuka cita ketimbang dirinya. Bisa jadi perempuan itu, ada datang membeli gaun kesukaan di toko sama dengan Nirara tanpa diketahui. Perempuan yang selalu menutup pintu, dan tiap sore masih menyeduh dua gelas teh lalu duduk di balkon menatap matahari hingga tenggelam mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pikiran serta keinginannya sendiri. Tak perlu merasa terganggu harus mengenakan baju ini atau sepatu itu. Model rambut ini, atau apakah gunanya sebuah topi dan syal, atas nama sebuah kekompakan tanpa peduli apakah perempuan paruh baya seharusnya tak perlu bekerja terlampau keras setelah ditinggal mati pasangan hidupnya demi itu semua.

“Apa gaunnya akan diambil sekarang?” tanya pemilik toko, sewaktu Nirara melangkah ragu-ragu di antara kerumunan di mulut pintu, dan matanya terpaku pada gaun hijau botol dikenakan patung berambut ikal, seperti rambut miliknya yang tak ingin ia ubah, meski teman-teman di paduan suara beberapa sudah meluruskan serta mewarnai rambut mereka untuk persiapan Natal meriah bersama pastor tamu.

“Banyak orang menanyai gaun ini. Tapi sepertinya, hanya kaulah yang beruntung mendapatkannya,” kata pemilik toko lagi.

Nirara berusaha tersenyum, belum tahu harus menjawab apa. Ia tentu mengerti perasaan pemilik toko, mengharapkan supaya barang dagangannya cepat habis, sehingga dapat menuntaskan keinginan pribadi menjelang Natal. Sejak dirinya hanya berdiri sesudah membaca maklumat penting dari ketua paduan suara, ia sesekali memperhatikan bila si pemilik toko menawarkan pakaian dengan warna atau corak berbeda ketika pengunjung ingin mencoba gaun pilihannya.

“Aku akan membungkusnya sekarang,” ujar pemilik toko, ia memiringkan tubuh patung supaya lebih mudah melepas gaun.

“Tapi aku belum punya uang. Maksudku, aku gajian tiga hari lagi.” Nirara mencoba berkelit.  

Pemilik toko melongo. Wajahnya tidak menunjukkan kesan marah, pun tak tampak bersedih. Dan Nirara, hanya berdiri saja menyaksikan pintu toko mulai ditutup, hari sudah sangat malam. Keesokan hari saat akan berangkat dan pulang bekerja, Nirara tak pernah lagi melihat toko itu buka. Begitu pula hari kedua dan ketiga seperti dijanjikannya, pun hari-hari berikutnya.

Nirara mengaktifkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor yang tertera di pelat nama toko. Menunggu teleponnya diangkat pemilik nomor, Nirara menggeser-geser layar ponselnya. Ia buka galeri, mencari foto dirinya mengenakan gaun hijau botol, ketika sempat mencobanya di ruang ganti saat pertama kali datang ke toko.

Si pemilik nomor belum juga mengangkat telepon dari Nirara. Nirara mencoba menghubungi sekali lagi, sambil jarinya terus mencari foto gaun hijau botol di galeri ponsel. Saat bersamaan, lonceng gereja terdengar liris di tempat jauh. Malam pukul 19.00. Natal bersama pastor tamu, barangkali sudah dimulai.***

Riau, Desember 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Tragedi Pencurian Ikan

Cerpen Aliurridha

Ini adalah kali ketiga hasil panennya jatuh. Jamal tahu ada yang mencuri ikan-ikan di empangnya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya. Ia kenal orang itu seperti ia mengenal anak dan istrinya sendiri. Orang itu begitu dekat dengannya, sedekat urat-urat di lehernya. Ia tidak habis pikir mengapa Naldi, orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, bisa setega itu mencuri darinya. Padahal jika ia minta baik-baik, mungkin Jamal akan memberinya. Meski tidak sebanyak yang dicurinya, Jamal akan ikhlas memberinya. Jamal tahu betul betapa susah hidup Naldi saat ini. Bagaimanapun juga, Naldi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika tidak seorang pun peduli pada pendatang seperti dirinya.

“Kakak harus mendatanginya. Kalau terus seperti ini kita terpaksa pulang. Setiap panen kita selalu rugi,” kata istrinya.

Jamal hanya menjawab dengan anggukan sekenanya. Bukannya ia belum pernah mendatangi Naldi, ia sudah pernah mendatanginya ketika pertama kali ia rasakan ada yang aneh dengan hasil panennya. Naldi adalah orang pertama yang ia ceritakan sekaligus mintai bantuan untuk menjaga empangnya. Jamal sangat percaya kepada Naldi seperti halnya ia percaya kaki dan tangannya sendiri. Lagi pula Naldi adalah seorang yang disegani di kampungnya. Ia adalah orang yang suaranya selalu didengar para begundal desa—Naldi adalah ketua mereka. Selain itu, Naldi juga terkenal karena ia adalah anak dari mantan kepala desa dua periode yang memiliki tanah yang seolah tidak ada habisnya. Tetapi itu dulu, sebelum ayah Naldi salah perhitungan mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mau tidak mau membuatnya terpaksa menjual tanahnya. Kemudian hanya sedikit tanah yang bisa ia wariskan kepada Naldi.

“Saya tidak tahu siapa yang curi, tapi saya janji akan cari tahu dan bantu jaga. Sudah mi kita tenang saja, tidur nyenyak di rumah,” kata Naldi pada Jamal.

Jamal mengangguk setuju. Tetapi entah mengapa ketika tiba di rumah, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sebuah firasat mengatakan kepadanya untuk tidak begitu saja percaya.

Malamnya Jamal gelisah. Ia yang tidak bisa tidur dan memutuskan keluar rumah, memandangi langit yang begitu cerah. Saat itu sedang bulan purnama. Bulan terlihat bulat sempurna dan berwarna putih kekuking-kuningan. Bintang gemintang bekerlap-kerlip di kejauhan. Dihirupnya dalam-dalam udara malam yang lembap bercampur garam. Kemudian ia berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya seperti biasa terjadi ketika ia bertengkar dengan istrinya. Ketika langkah kakinya membawanya tiba di empang miliknya yang akan panen beberapa hari lagi, dari kejauhan dilihatnya bayangan dua orang. Tangannya segera meraba pinggang, namun ia lupa membawa parang. Sial, makinya pelan. Ia tidak ingin para pencuri itu menyadari keberadaannya.

Jamal memutuskan untuk tidak pulang mengambil parang dan memilih mengintip para begundal yang mencuri ikannya. Ia berharap terang bulan akan menyingkap wajah para pencuri itu. Namun, agak susah mengenali kedua sosok itu dari kejauhan, tanpa penerangan selain cahaya bulan. Ketika ia berpikir keberuntungan tidak berpihak padanya, sorot senter yang dibawa salah satu dari mereka, mengenai wajah seseorang, wajah yang sangat dikenalnya. Naldi! Ia mengumpat begitu tahu kalau salah satu dari begundal itu adalah orang yang ia percayai seperti kaki dan tangannya sendiri. Orang yang ia janjikan jika panen baik akan ia berikan persenan. Ia sudah hampir mendatangi pencuri itu untuk bikin perhitungan. Namun, akal sehatnya datang, dan dengan rasa panas di dada, ia menyeret kakinya kembali ke rumah. Di rumah ia merokok untuk menenangkan diri sembari berharap pagi akan mematikan bara di dada. Besok ia berencana mendatangi Naldi untuk bicara baik-baik.

“Saya tidak pernah. Sumpah dah. Semalam saya minum sama brengsek ini,” kata Naldi menunjuk Feri.

“Tapi saya lihat kamu sama seorang lagi,” kata Jamal yang kemudian menoleh ke arah Feri.

“Kita[1] salah lihat mungkin,” balas Feri. “Kami semalam minum-minum di rumah Joni. Naldi sampai tidak bisa bangun karena kebanyakan pongasi[2].”

“Kita tenangkan mi dulu hati kita,” kata Naldi menyentuh pundak Jamal. Naldi bisa merasakan Jamal tengah tegang ketika ia menyentuh pundak laki-laki itu. “Saya janji bantu. Saya tidak mabuk nanti malam,” katanya lembut berusaha menenangkan Jamal.

Malamnya memang tidak ada lagi pencurian. Jamal yang tidak percaya lagi pada Naldi, mengintip ke arah empang dan melihat Naldi bersama Feri sedang minum di pondok sederhana yang ia bangun untuk berjaga-jaga kalau saja air meluap dan tanggul jebol. Di sana, keduanya benar-benar tidak melakukan apa-apa selain minum pongasi. Ia pulang dengan hati tenang. Tebersit pikiran bahwa apa yang ia lihat kemarin hanyalah tipuan mata belaka.

***

“Kita tahukah kalau Naldi jual ikannya ke tempat Ruslan?” tanya Rohman kepada Jamal. Rohman adalah seorang pengepul yang selalu mendatangi Jamal setiap panen. Ruslan juga seorang pengepul, ia selalu berjuang untuk memperebutkan hasil panen ikan dengan Rohman.

Perkataan Rohman itu membuatnya teringat pada malam ketika ia melihat Naldi bersama seseorang, malam yang sebelumnya ia sangka hanya tipuan mata belaka. Ia tahu benar kalau Naldi sudah tidak punya empang dan empang terakhirnya ia jual sebagai pelicin agar ia bisa bekerja di perusahaan tambang. Sayangnya, sekarang perusahaan tambang tempat Naldi bekerja sedang bermasalah perizinannya. Naldi sebenarnya masih memiliki sedikit tanah yang bisa ia tanami untuk berkebun. Tetapi polusi dari aktivitas tambang dulu pernah merusak apa yang ditanamnya. Itu membuatnya malas mencoba lagi. Dan, ia memang bukan tipe yang cocok hidup bertani, ia lebih suka bekerja mendapatkan gaji pasti setiap bulan. Jamal juga tahu benar kalau Naldi tidak akan punya sedikit pun modal untuk membeli ikan yang kemudian akan ia jual ke pengepul. Ia tahu benar kondisi keuangan Naldi saat ini. Ia merasa tahu semua yang terjadi di sekitar desa tempatnya mukim. Jika ada satu yang tidak diketahuinya—yakni Rohman sebenarnya sudah tahu kalau ikan-ikan yang dijual Naldi adalah hasil curian dari empang Jamal; Rohman mengatakan itu lantaran ia kesal kepada Naldi yang tidak mau menjual hasil curian itu padanya, dan malah menjualnya kepada Ruslan.

Sebenarnya Jamal tidak mau mendatangi Naldi karena ia tahu segalanya akan sia-sia, Naldi pasti akan menyangkal apa yang diperbuatnya, dan ia juga tidak memiliki bukti untuk menuduhnya. Jamal benar-benar tidak mau cari ribut, tapi ia tidak tahan juga mendengar omelan istrinya. Ia juga tidak mau apa yang dikatakan istrinya terjadi; mereka terpaksa pulang ke kampung halaman setelah gagal di perantauan. Tidak ada yang lebih ditakutkannya selain pulang membawa kegagalan. Ia pasti akan dikucilkan keluarganya di kampung. Ia juga akan dihina mertua yang telah memberinya modal hidup di perantauan.

“Saya bilang saya tidak tahu. Kau masih paksa-paksa,” kata Naldi ketika Jamal terus mendesaknya untuk mengaku dan berhenti mencuri di empangnya. Jamal mengatakan ia bersedia memaafkannya asal Naldi berjanji tidak mengulangi lagi. “Saya sudah tidak permasalahkan kita tidak bagi hasil panen seperti yang kita janji. Saya ngerti kita sedang susah. Banyak bibit yang tidak berkembang.”

Jamal hampir saja meledak begitu mendengar Naldi menyebut bibitnya tidak berkembang. Ia tahu betul bahwa Naldi yang mencuri ikan-ikannya. Perkataan Naldi terasa seperti air garam yang disiram tepat di lukanya. Rasanya perih tiada terkira. Beruntung Jamal masih bisa menahan diri dan pulang. Ia pulang dan lanjut mendengarkan omelan istrinya yang lebih perih dari luka yang disiram air garam.

“Ini terakhir kali. Saya janji ini terakhir kali dia mencuri. Dia tidak akan lagi mencuri dari kita,” kata Jamal kepada istrinya. Nada biacaranya lebih tinggi dari biasanya, dan itu membuat sang istri berhenti memberondongi dengan omelan.

Apa yang dikatakan Jamal kepada istrinya hari itu terbukti. Pagi itu langit teramat cerah ketika orang-orang dikagetkan dengan sesosok tubuh yang terbaring di pematang. Kepalanya telungkup masuk ke dalam kolam dengan punggung menghadap langit. Di bagian leher dan bahu kirinya terlihat seberkas warna merah yang mulai mengering. Tubuh tak bernyawa itu adalah tubuh Naldi.

Semalam Naldi kedapatan sedang mencuri di empang Jamal. Naldi tertangkap basah. Ia benar-benar sedang basah ketika Jamal datang. Ia sedang berada di empang menjaring ikan-ikan siap panen ketika Jamal dengan tiba-tiba melompat ke empang, lalu menebaskan parang ke bahunya dari belakang. Mendengar erangan Naldi, Feri bukannya menolong, malah meloncat keluar empang dan berlari kocar-kacir. Jamal terus saja mengulangi tebasannya pada tubuh Naldi hingga si pemilik tubuh tidak lagi mampu untuk sekadar mengerang.

Begitu puas menebas, Jamal menyeret tubuh Naldi dan melemparnya di pematang dekat empangnya. Tubuh Naldi dibentangkan seperti portal yang hendak menghalangi siapa pun untuk masuk ke empang miliknya. Setelah itu ia pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan noda darah, dan merokok. Paginya ia pamit ke istrinya untuk pergi menyerahkan diri ke kantor polisi.**

 [1] kita adalah sapaan sopan untuk kamu bagi orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara

[2] minuman keras tradisional Sulawesi Tenggara yang dibuat dari fermentasi tape


Aliurridha, Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di banyak media, luring maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Perawan Rumah Suci

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

Cerpen Rania Alyaghina

BABAK I

Aku terbangun dengan napas memburu. Dahiku terantuk sesuatu. Mimpi aneh barusan mungkin turut andil dalam alasan dikembalikan lagi aku ke dunia nyata. Kutolehkan kepala ke sebelah kiri. Sebilah jendela kaca menjagaku agar tidak terjengkang ke rel kereta. Pandanganku disuguhi hamparan sawah yang terbentang luas, cahaya matahari pagi menyorot tanpa malu-malu, memperindah penampakannya. Namun, kedua pasang mataku tidak bisa diajak kompromi. Mau sebagus apa pun pemandangan yang disuguhi, aku kembali memejamkan mata, tidak menghiraukan guncangan kereta yang semakin ganas melarangku untuk kembali ke alam tidur.

Napasku lagi-lagi memburu. Awalnya kukira karena lanjutan mimpi barusan, tetapi kedutan yang berasal dari sudut mataku mau tidak mau membuatku membuka mata. Kulihat orang-orang di sekitarku mengerutkan alis ke arahku. Mulanya sempat membuatku geer dan mencoba mengingat-ingat kesalahanku, namun rupanya mereka tidak benar-benar melihat ke arahku. Aku berdiri, melihat semua orang menoleh ke kiri. Selayaknya orang latah, kutolehkan juga kepalaku ke arah jendela. Kantukku sontak sirna. 

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Aku tidak lagi berpikir panjang. Meski masih dihantam kebingungan, aku bangkit dari kursi, berjalan ke tempat masinis berada. Sembari melangkahkan kaki, mataku tak pernah lepas dari dua puluh — tunggu, rupanya deretan orang tersebut tidak hanya puluhan, kertas yang diangkat pun tidak hanya sebilah. Orang-orang yang berderet ini terdiri dari semua kalangan umur. Dari balita hingga lanjut usia, semuanya bersama-sama memegang kertas sehingga benda lemah itu dapat berdiri tegak, melawan usaha angin yang berusaha menerbangkan kertas tersebut. Sepanjang jalan berderet orang yang turut mengangkat kertas berisi tulisan hingga membentuk suatu pesan.

Aku sontak berlari. Kuberanikan diri membuka pintu yang membatasi penumpang dengan masinis. Beberapa petugas sempat mencoba menghentikanku, aku tetap mengelak dan menerobos masuk. Dengan terengah-engah, kuucapkan dua patah kalimat, mengulang pesan yang tertulis di rentetan kertas tadi, “Tolong hentikan kereta. Ada kaki yang tersangkut di rel.”

Para penumpang lain rupanya sudah berada di belakangku. Kurasa mereka tidak mendengar ucapanku, tetapi mereka sudah pasti melihat ke arah jendela dan seratus persen mendukungku, membuat para petugas lantas menoleh ke arah jendela. Sang masinis pun tak ambil pusing. Ia sontak mengusahakan agar permintaanku terkabulkan. Kali ini, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Mereka tidak lagi berdiri berderet. Kepanikan menyerang mereka, mereka berlarian seperti hendak menghalang kereta. Aku mencoba melihat jendela. Kubayangkan nasib orang yang kakinya dibui rel, tak bisa ke mana-mana. Hanya mukjizat yang mungkin dapat membantunya saat ini. 

Orang bernasib nahas itu mulai tampak batok kepalanya. Penumpang di dalam kereta sontak turut memekik, seolah-olah bentuk penyemangat untuk masinis. Tampaknya hal tersebut hanya membuat sang masinis semakin kewalahan, namun ia tak tampak ingin menyerah. Ia melipatgandakan usahanya, krunya turut melakukan hal yang sama. Para petugas meminta para penumpang kereta untuk kembali ke kursi masing-masing, demi meminimalisasi korban baru. 

Aku menuruti petugas, berusaha menjadi penumpang yang kooperatif, walaupun pantatku tidak kerasan dan kerap kali berdiri untuk memastikan kami benar-benar berhenti sebelum melindas habis kaki orang tersebut.

BABAK II

Sang masinis, ditemani sejumlah petugas lain, segera turun setelah kereta berhasil dihentikan. Orang yang kakinya tersangkut ini sendirian, tak tampak orang-orang yang mengangkat kertas tadi menemani. Sebegitu detailnya perhitungan mereka untuk memastikan jarak mereka jauh dari orang ini. Lagi pula, tiada kaki yang sanggup mendahului laju kereta. 

Para penumpang tidak mencoba mengganggu proses penyelamatan. Semua orang duduk di kursinya masing-masing, berharap-harap cemas. Tidak satu pun lontaran perkataan yang menuding korban karena keteledorannya. Semua orang pun tahu tidak ada orang yang bermimpi menaruh kakinya di bawah rel kereta api.

Lagi-lagi, pantatku tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ingin turun dan menemani, kali-kali ada yang dibutuhkan sang masinis. Kutahan keinginan itu dengan tetap mengamati dari jendela. Terlihat sang masinis tengah bercakap-cakap dengan korban. Anehnya, mereka tidak segera menolong orang itu. Semua petugas seolah habis melakukan kontak mata dengan Medusa yang sontak membekukan tubuh mereka.

Aku kembali menoleh ke arah masinis dan para rekannya. Cara mereka berdiri tak ada bedanya dengan pahatan seniman ulung; begitu kokoh dan tegap. Aku tak sabar, tak kuhiraukan lagi anjuran petugas, toh kereta sudah tidak lagi berjalan. Aku bangkit dan berlari keluar, kemudian langsung memaki tanpa berpikir lagi. Sesulit itukah membantu korban terbebas dari jeratan rel? Lantas bagaimana nasib perjalanan kami yang tertunda begini?

Kuulurkan tanganku pada sang korban, korban yang tengah dirundung nasib. Mataku menyipit, melihat dengan seksama. Di mana kakinya? Tidak tampak sedikit pun warna kulit yang dihimpit rel.

Oh. Oh?

Satu kakinya memang tidak ada. Ujung lututnya yang terbungkus kulit sempurna ia istirahatkan di bawah rel. 

Sebelum aku bereaksi, orang-orang yang berderet dan membopong kertas tadi keburu muncul—entah sejak kapan mereka tiba di sini—berebutan masuk ke dalam kereta. Rupanya sedari tadi mereka menyembunyikan senjata tajam di bawah baju mereka. Ditariknya langsung senjata mereka dari sana, kemudian ditebas habis kepala para penumpang tanpa pilih bulu. Sebagian yang tidak memegang senjata, tampaknya ditugaskan untuk meretas tas-tas, baik yang ditaruh di lantai dekat kursi, maupun di atas bagasi kursi. Tanpa perlu mengecek apa isi tas, mereka langsung buru-buru menggondol tas keluar. 

Aku melongo melihat banyak darah terbuang percuma. Aku mendesakkan tubuhku di sela-sela kursi penumpang, berharap aku tidak kasat mata. Tak lagi kupedulikan nasib tasku yang mungkin tengah menanti-nanti untuk diambil.

Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku, misalnya mempertanyakan maksud mereka melakukan ini pada kami, yang jelas-jelas tidak mengenal keberadaan mereka hingga detik ini. 

Apa salah kami? Apa yang mereka mau?

Apa yang kami miliki hingga meyakinkan mereka untuk menempuh ide sebengis ini?

BABAK III

Waktu rasanya telah menempuh beribu-ribu jam. Tapi semenjak teror menginjakkan kaki di kereta ini, durasinya hanya kurang lebih lima belas menit. Aku memang tak henti-henti mengecek arloji di pergelangan tangan kiri, membuat jarum jam malu untuk maju karena ditatap melulu. Entah untuk apa aku mengecek waktu. Entah mengapa waktu menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan di kala genting begini. Aku tetap tidak akan keburu sampai di stasiun. 

Pekikan para penumpang kembali memenuhi pendengaranku. Aku mencoba menepisnya dengan mengucap ‘pergi’ beberapa kali, mengulang-ulangnya di dalam hati layaknya mantra. Bedanya ini tidak mengandung arti apa pun selain menginginkan pergi suara-suara manusia yang dilanda kepanikan, mengharapkan kepergian diriku dari situasi semacam ini.

Kepalaku berpaling ke kanan, merasakan kedutan di ujung mataku — hal yang biasa kualami ketika ada yang memperhatikanku. Kudapati lelaki paruh baya yang menatapku dengan mata merahnya. Ia tengah menyembunyikan seorang anak, mungkin sekitar tujuh tahun, di antara lengan dan tubuhnya. Anak itu tampak patuh, tidak mencoba menyusahkan bapaknya dengan tidak bergerak sama sekali. Hingga sulit bagiku untuk melihat apakah ia telah ditenangkan bapaknya, atau telah mati di pelukannya—aku tidak mau tahu.

Kali ini kutolehkan kepalaku ke kiri, berharap pemandangan yang menenangkan menanti. Seorang perempuan dengan mulut dan leher menganga menyuguhkan penampakannya padaku, yang kusambut dengan ringisan spontan. Kepalaku kembali menoleh ke kanan, memastikan apakah bapak dengan anak itu melihat apa yang barusan kulihat. Ia masih menatapku, dengan anaknya yang sekarang juga menatapku. Matanya sama merahnya seperti bapaknya. 

Kurasakan sudut mata kiriku kembali berkedut. Tetapi bukan di posisi perempuan tadi, tepatnya di arah jam sepuluh. Nenek-nenek dengan bergelimang emas menghiasi kulitnya —benda ini tak mampu kuabaikan dari penggambaranku karena begitu mencuri perhatian — sedang menahan guncangan dalam dirinya agar keberadaannya tidak begitu ketara. Kuarahkan kembali pandanganku kepada lelaki paruh baya tadi, memastikannya juga melihat apa yang kulihat. 

Ia menatap mataku, kemudian mengangguk pelan. Kulihat sang anak sudah kembali menyembunyikan wajah di ketiak bapaknya. Kupastikan nenek tadi juga melihat keberadaan kami, yang dikonfirmasinya pula dengan anggukan. 

Di masa-masa sulit seperti ini, bahasa tubuh hanya andalan kami. Tapi selalu ada kemungkinan salah interpretasi. Muncul gerakan dalam hatiku, yang mungkin juga tumbuh dalam diri mereka. Aku lantas membalas anggukan mereka dengan anggukan pula.

Dalam diam, kami bertiga telah mencapai suatu mufakat, bersepakat tanpa tersurat, dan percaya diri dengan rencana yang disetujui.

Kutengadahkan kepalaku, menyiapkan nyaliku.

BABAK IV

Tanpa pandang bulu, tanganku mengarah ke abdomen seseorang yang baru saja selesai menebas lengan seorang penumpang. Kuhantam perutnya tanpa ampun, hingga tajak terlepas dari tangannya, kemudian disambut baik tajak tersebut oleh lelaki paruh baya tadi. Sembari menggandeng anaknya, ia memenggal kepala-kepala yang tadinya mengincar kepala orang lain pula. Hawa dingin mulai menggerogotiku. Selain karena sebegitu gampangnya orang-orang ini menemui ajal, tetapi aku takut kalau-kalau bapak itu salah sasaran dan malah memisahkan kepala para penumpang dengan tubuh mereka. Namun, aku menaruh kepercayaan tinggi padanya. Bisa dibilang tidak sulit membedakan penampilan kami, penumpang kereta, dengan para perampok tidak tahu diri ini. 

Nenek-nenek tadi juga turut membantu dengan menanggalkan salah satu perhiasannya, kemudian ia gores kuat-kuat ke arah wajah seseorang. Hingga saat ini, aku baru memahami manfaat lain memiliki perhiasan.

Sesosok perempuan keluar dari persembunyiannya, menendang tepat di ulu hati salah satu perampok. Tampaknya aksi kami menggerakkan hatinya. Rupanya tindakan heroik kami berefek sebesar itu: mulai bermunculan sejumlah orang dari bawah kursi, dibalik kursi, dibalik pintu toilet. Semua, yang mulanya pasrah, seolah tumbuh harapan. Mereka memberanikan diri melawan perampok-perampok ini tanpa senjata. Setelah lawannya terkapar, baru direbutnya senjata itu, lalu mereka gunakan lagi kepada kawannya. Suatu siklus yang menggetarkan, membuatku tidak lagi melanjutkan aksiku selain terbujur kaku. 

Tak tersisa lagi tangan yang menyerang. Genangan darah dan aroma anyir membuat pening kepala. Namun, hal itu tak lagi jadi soal, karena rasa lelah yang tiada duanya. Bisa kupastikan tiga perempat penumpang sudah jadi mayat, tetapi hampir seluruh dari para perampok itu sudah tidak lagi bernyawa. Beberapa mungkin tengah meregang nyawa, tapi tak bakal bertahan lama.

Salah satu penumpang kloter depan tiba-tiba berlari ke arah kami. Belum sempat ia menghentikan lari, mulutnya telah membuka, “Sang masinis telah mati. Tubuhnya bahkan entah ada di mana.”

Aku spontan mengatupkan rahang bawah dan atas dengan keras. Pupus harapanku menjumpai sanak saudara di seberang sa — tunggu. Semoga harapanku masih mungkin terwujud.

Aku cepat-cepat berlari, melewati penumpang pemberi wahyu tadi, melewati korban yang kebanyakan awak kereta api. Aku segera mengecek kondisi radio lokomotif, yang kudapati dengan kondisi yang tidak bisa digunakan lagi. Tubuhku kuambrukkan ke pintu. Berapa lama mereka merencanakan aksi perampokan semacam ini hingga hal sekrusial ini tak mereka lewatkan?

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sang masinis telah berpulang. Kami tak bisa pulang. Satu per satu penumpang menuruni kereta. Kami berjalan ke arah pedesaan yang dekat dari lokasi tanpa ditinggali penghuni lagi. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian yang… berapa lama waktu telah berlalu sejak kejadian tadi?

Kembali kuperiksa arlojiku yang telah dilumuri bercak merah. Sudah jam empat sore, atau tepatnya hanya satu jam semenjak peristiwa tadi berlangsung. Kembali teringat olehku anak kecil yang beradu pandang denganku dari jendela kereta. Entah di mana ia sekarang. Mungkin salah satu lengannya masih tertinggal di dalam kereta.

Dengan tiadanya petugas kereta yang tersisa, kami tidak tahu mesti bagaimana. 

BABAK V

Di sini memang tidak ada kalender, tetapi kami mencoba menghitung seadanya dan menduga sudah dua tahun waktu berlalu semenjak kejadian itu. Tidak ada bantuan yang datang. Mungkin mereka datang, dan mengira kami semua sudah mati. Atau mungkin dinyatakan hilang ketika korban-korban diidentifikasi.

Sesekali kami memang pergi ke rel itu, mencoba meminta bantuan kepada kereta lain yang mungkin melintas. Kami sesekali kembali, melihat apabila ada kereta lain yang menghampiri. Mayat yang bergelimpangan masih terkapar di sana. Mungkin pertolongan tidak pernah benar-benar datang. Mungkin pula mereka tidak mau berurusan dengan orang yang bukan penumpang.

Tetapi kami tak bosan menjenguk rel setiap waktu. Kami selalu menaruh harapan dan kembali ke sana, menunggu sampai ada kereta yang melintas. Selebaran kertas telah kami siapkan, lengkap dengan tulisan di atasnya. Lengkap dengan sebilah parang di balik baju kami. Hingga tiba waktunya kami beraksi lagi. 


Rania Alyaghina, saat ini menetap di Tangerang. Kegiatan sehari-hari berkutat dengan rentetan kata, menciptakan pengalaman membaca semakin bahana. Email:[email protected]

Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

Cerpen Fatimah Ridwan

Kau pernah mengatakan, kelak kita berdua akan pergi ke ujung alam semesta, 46 miliar tahun cahaya jaraknya dari bumi, tempat di mana jarak akan lenyap. Saat ini, jarum jam di tanganmu berhenti di 07.41, tak kulihat ia bergeser lagi sejak kau rebah di sisiku.

“Sejak awal aku merisaukan itu,” gumamku, nyaris tak terdengar. Begitu pelan. Sangat pelan.

“Apa?” tanyamu tanpa menoleh padaku, tak ingin mengalihkan pandanganmu ke arah laut, serupa memandang kekasih untuk terakhir kali.

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

***

Kelas selalu gaduh dengan cekikikan murid-murid perempuan tiap kali mata pelajaran astronomi berlangsung, bukan karena pelajaran itu menyenangkan, tetapi entah, dada mereka kembang kempis menahan kekaguman yang terus meluap saat pesonamu memanah tepat ke hati mereka.

“Astronomi bukan sekadar mempelajari benda-benda langit di alam semesta, lebih dari itu, astronomi mengajarkan tentang hakikat diri kita, selalu ada yang lebih besar dari kita, kejadian-kejadian yang lebih besar. Jika satu kematian terjadi di bumi, mungkin saja di saat bersamaan, satu peradaban musnah dalam ledakan supernova di bagian lain semesta, di gugus bintang lain atau di galaksi lain. Adik-adik sekalian, kita, manusia yang sombong ini sejatinya tak lebih besar dari setitik debu di alam semesta, sangat mudah untuk musnah,” jelasmu panjang lebar.

Kau berdiri di tengah-tengah ruang kelas dengan kedua tangan menggenggam di balik punggung, serta senyuman seteduh oase yang sejuk, menyusup ke hati para gadis, seakan menyelamatkan mereka dari ganasnya kegersangan gurun. Dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas, membuatmu tidak terlihat seperti guru, namun lebih menyerupai musisi yang baru saja menyelesaikan sebuah konser.

“Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya, Pak.” Seorang murid perempuan yang berjarak dua bangku dari depan tempat dudukku mengangkat tangannya.

“Silakan.”

“Sebelumnya saya mohon maaf karena ini bukan pertanyaan, melainkan pengakuan saya,” ucap gadis itu, terjeda.

“Awalnya saya tidak percaya dengan Ibu saya yang mengatakan bahwa dengan bersekolah saya memiliki masa depan. Namun, setelah Bapak mengajar di sekolah ini, saya percaya bahwa masa depan saya ada di sekolah, dan bahkan saat ini ada di depan mata saya,” lanjutnya, lalu menundukkan wajah dalam-dalam menyembunyikan semu merah di pipinya.

Seketika kelas kembali riuh oleh sorak murid-murid lain yang muak mendengar rayuan klise itu. Sontak kau memandang ke arahku dengan tatapan sungkan, sedang aku membuang pandangan ke luar jendela, ada yang terbakar di ulu hatiku.

Siang itu, dalam perjalanan mengantarku pulang, kau melambatkan laju sepeda motor dan memanggil namaku dengan sedikit berteriak melawan angin dan bising kendaraan.

“Maretna?”

“Ya?”

“Maafkan aku soal kejadian di kelas tadi.”

“Itu bukan salahmu.”

“Tapi kau cemburu.”

“Tenang saja, itu yang terakhir kali aku cemburu karena aku takkan melihatmu mengajar lagi.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu putus sekolah begitu saja? Apa dengan kubiayai sekolahmu, itu membuatmu merasa direndahkan?”

“Sudah berulang kali kubilang, aku tak mau kau membiayaiku sebelum aku jadi istrimu. Atau jangan-jangan, kau yang merasa rendah jika menikahi bocah muridmu sendiri?”

Kali ini aku tidak mendengar kalimat Tidak semudah itu untuk kita dari mulutmu, hanya ada hening yang mengambang menabrak-nabrak angin, hingga kau membelokkan setir sepeda motormu memasuki pekarangan rumahku.

Ibu tengah mengambili sayuran sisa berjualan tadi pagi yang tak habis saat kita tiba. Kau menyapanya dengan akrab, larut dalam cengkerama serupa karib. Kalian membincangkan kawanan penyamun yang telah memasuki desa, sebelum Ibu masuk dan meninggalkan kita berdua yang memilih melanjutkan hening di beranda.

Lelaki itu adalah guru anakku, begitu yang Ibu pahami tentang kita berdua. Entah bagaimana jika Ibu tahu anaknya yang baru 17 tahun menjalin hubungan bersama seorang lelaki yang seusia dengan dirinya, membayangkannya pun aku tak berani. Kata-kata Ibu bahkan selalu terngiang tiap kali aku sadar paut usiaku denganmu terlampau jauh. 20 tahun! Persis seperti paut usia Ibu dengan Bapak.

“Nak, jika menikah nanti, carilah laki-laki yang paut usianya tak jauh denganmu, aku tak ingin nasibmu sepertiku. Harus menjadi tulang punggung, sementara bapakmu masih hidup. Lalu apa bedanya aku dengan janda sekarang?” tanya Ibu suatu kali. Pernah juga Ibu membahas masalah serupa, “Lihatlah bapakmu, sudah sepuh sementara anak-anaknya masih kecil, masih butuh biaya banyak.” Tetapi sungguh, tak ada yang bisa memilih ke mana hatinya berlabuh.

“Aku berangkat malam ini,” ucapku, memecah keheningan.

“Kau bilang seminggu lagi?”

“Tante Soraya baru bilang semalam, ternyata aku harus menjalani pelatihan selama seminggu sebelum mulai bekerja.”

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Datanglah ke dermaga jam tujuh, jika kau masih mau melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamaku.” Kau beranjak menuju sepeda motormu, lalu melaju ke luar dari pekarangan rumahku, aku tak berpaling dari punggungmu yang kian mengecil, hingga kau lenyap di kelokan jalan.

***

Kukira, kau akan menunjukkan ekor-ekor meteor yang melintasi langit, atau Batara Kala menelan rembulan, atau ledakan supernova yang gempita di gulitanya ruang angkasa. Tetapi bahkan bintang juga redup malam ini, langit murung, hanya kepak gagak dan kita yang berbincang tanpa bicara di bawah daun-daun gugur.

“Kita akan pergi ke ujung alam semesta, Maretna,” katamu.

“Sampai kapan?”

“Sampai ada yang menemukan dua jasad itu,” ucapmu lalu melempar pandangan pada dua tubuh yang tergelepar sia-sia, kau memejamkan mata dengan getar hingga titik-titik bening bermuara di pipimu.

“Maafkan aku, Maretna. Seharusnya aku bisa melawan mereka, setidaknya membuatmu tetap hidup,” lanjutmu.

“Kau gemar sekali meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kukira itu hanya kau lakukan saat masih hidup,” ucapku, tak kusangka kau masih kuasa tersenyum dengan oase yang menghampar lebih teduh.

Saat kulihat seorang pria menyandarkan perahunya ke dermaga, aku tahu waktu kita akan segera tiba. Tubuh kurus itu nyaris ambruk saat mendapati dua jasad dengan isi perut terburai, gema pekiknya mengacaukan rencana malam yang ingin selalu terlihat senyap.

Sementara pasir pesisir yang tak terpijak itu menguarkan aroma mawar, ombak pasang berhenti berdebur, gemintang berhenti berdenyar, hanya derap kaki serdadu yang gaduh di dada saat kita saling mendekap, detik masih enggan berdetak dan kita lesap ke tempat di mana jarak akan lenyap.***


Fatimah Ridwan, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam asal Luwu Utara. Sangat jatuh hati pada karya sastra fiksi, beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat di media online dan cetak. Jejaknya bisa ditemukan di Instagram @fatimah.ridwan

Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Cerpen Reka DRamadani

Saya menjulai di atas punggungnya yang damai. Tercium oleh saya peluhnya yang basah. Semerbak seperti aroma khas mama ketika memeluk saya. Bahunya saya kecup perlahan. Ia telah terpejam seolah bayi yang baru beberapa saat terlahir. Saya kira ia kelelahan setelah semenit lalu saya menghentaknya begitu keras dalam adu cinta di atas ranjang hotel bintang lima. Di pusat kota.

Saya bangun sebentar, melepaskan himpitan pada tubuhnya. Kini ia tengkurap dengan bagian belakang terbuka. Berkilau indah diterpa lampu kamar. Saya menarik selimut dan menutup tubuhnya. Puspalita. Begitu namanya. Sekuntum bunga liar yang saya temukan di riuhnya Jakarta.

“Kau sudah tidur, sayang?” Saya bertanya sembari membelai rambutnya yang panjang sepinggul.

Sambil menggeliat kecil dan tetap memejamkan mata, Puspalita menjawab dengan malas, “Belum. Tentu saja belum.”

Kemudian saya pandangi wajahnya yang putih dan bangir hidungnya. Seperti wajah kanak-kanak. Dan bibirnya tipis. Alisnya lengkung sabit. Ia punya mata bulat penuh. Mengiris-iris dada bila ia tikam saya melalui pandangnya, terutama sewaktu bercinta. Serta pipinya kemerahan, yang semakin merah setiap usai saya ciumi.

Dengan wajah seperti itu, ditambah bentuk tubuh yang sempurna, Puspalita tidak hanya milik saya seorang. Ia milik semua lelaki. Siapa saja lelaki yang mampu membayarnya. Mengenai itulah saya risau dan galau tak sudah-sudah. Hati saya gundah oleh rasa yang sebenarnya tak pernah saya sangka. Ketika saya hanya ingin bermain-main dengan perempuan nakal untuk menyalurkan kenakalan, malah terjebak cinta.

Telah lama saya pendam rasa kepadanya. Untuk itu dua bulan terakhir saya selalu menyewanya meski beberapa kali ditolak. Kali ini perasaan saya tumpah. Saya merasa begitu khidmat dalam mencintainya dan tak ingin kehilangan sejengkal pun. Sesuatu mendorong saya begitu kuat. Meluap dan meledak tak tertahan. Saya ingin mendekapnya dalam dada dan tak ingin mengakhirinya.

Puspalita yang masih tengkurap saya pandu untuk bangun. Tangannya yang seperti porselen saya tarik lembut. Ia duduk di hadapan saya dengan dada dililit selimut. Matanya sayu, menatap saya syahdu.

“Aku mencintaimu,” kata saya spontan.

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Saya melanjutkan, “Kamu bisa berhenti dari pekerjaanmu saat ini dan menjadi istri saya. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik.”

Sekali lagi, Puspalita hanya tersenyum tipis tak berserius dengan pembicaraan ini. Namun, saya mendesak. Saya ingin tahu jawaban darinya.

“Mari kita menikah.” Saya menatap matanya yang bulat bidadari itu dengan tajam. Puspalita membalas seperti biasa; tatapan yang selalu mengiris-iris dada saya.

Tiba-tiba ditepuknya pundak saya. “Masalahnya… masalahnya saya tidak mencintaimu,” jawabnya enteng bukan main.

Saya melongo keheranan untuk kedua kali. Benar-benar jawaban yang mengejutkan. Namun saya masih teguh.

“Saya tidak membutuhkan balasan cintamu. Asal kamu suka atau sekadar ada keinginanmu untuk menikah dengan saya, tak mengapa,” kata saya memastikan.

Perempuan di hadapan saya menggosok-gosok pelipisnya seperti sedang kebingungan.

“Itulah masalahnya!” Puspalita menatap saya dengan wajah paling meyakinkan yang pernah diperlihatkannya pada saya. “Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Sekadar suka atau ingin menikah. Tidak keduanya.”

Saya tercengang. Hal paling gila dalam hidup saya seolah baru terjadi. Tetapi Puspalita tetap santai, seperti itu bukan apa-apa baginya. Sedangkan saya dalam beberapa detik harus mengutuhkan kembali kesadaran saya.

“Benarkah?”

Saya melihat Puspalita turun dari ranjang dan mencari pakaiannya. Ia hendak pergi. Dipunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Lalu ia mulai mengenakannya satu-satu. Dari celana dalam, beha, kaus, dan seterusnya.

“Beginilah saya. Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Saya kira kamu sudah tahu. Tidak ada alasan lain. Saya tidak mencintaimu, ya, karena saya tidak cinta,” katanya seraya mengenakan potongan terakhir pakaiannya.

Puspalita kembali mendekati ranjang dan merogoh tas miliknya. Ia sudah siap untuk pergi. Saya masih menatapnya dengan tak percaya. Ia pun menjadi iba. Terlihat dari matanya. Mata yang mengiris-iris itu.

“Lagipula pelacur seperti saya tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepentingan. Mana uang saya?”

Sekarang lain lagi. Membicarakan uang pandangannya berubah. Berbinar-binar bak kristal. Karena itu, meski perasaan saya tercerabut berderai-derai, saya memaksakan diri menggapai dompet di atas nakas. Jasa sudah usai dan datang tagihan. Saya keluarkan beberapa juta dan saya berikan padanya. Kemudian Puspalita berlalu melewati pintu setelah mengecup pipi saya. Ia meninggalkan saya di antara keramaian Jakarta, dengan tubuh telanjang bulat, di sebuah kamar hotel yang sepi. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Sintang, 2021


Reka DRamadani, gadis kecil kesayangan bapak yang senang membaca buku dan sedang merantau di Kalimantan Barat.

Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Pohon srikaya itu tumbuh miring. Batang kecil ramping menjulang, dahan bercabang-cabang, ranting lentur bergelayut, daun-daunnya jarang, lembing membujur. Buah-buahnya tak pernah surut bergelantungan, dengan kulit benjol dan bersisik. Buah srikaya masak yang terlambat dipetik digerogoti codot, tinggal separuh. Berkali-kali, menjelang senja, Dewanti menerima kedatangan seorang nenek yang menghampirinya di pelataran, meminta buah srikaya yang ranum, kulit bermata banyak, hampir rekah. Nenek itu tak diketahui tempat tinggalnya, seperti datang dari tempat yang terselubung kabut, ramah, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang. Selalu kembali terulang, bila nenek memetik buah srikaya, menyempatkan bercerita: dulu keluarganya memiliki kebun srikaya, yang kemudian  dijual suami. Ia masgul, semua  pohon srikaya ditebang pembeli lahan.  

Bila nenek tak datang, Dewanti memetik buah-buah srikaya dan meletakkannya di piring buah besar, bersisian dengan pisang, jeruk, dan jambu air. Dua atau tiga hari buah srikaya itu masak, harum, manis, dan lembut di mulut. Dia memakan srikaya dengan menyisihkan biji-bijinya, menikmati daging-daging yang tipis, putih dan harum. Ia  teringat akan Ibu yang  menanam pohon srikaya di pelataran, berhimpit dengan  garasi mobil.   

Seminggu setelah menikah, Dewanti menempati rumah baru. Pada mulanya Dewanti tak suka pelataran rumahnya yang sempit ditanami pohon srikaya. Begitu pohon srikaya tumbuh dan berbuah, mengundang seorang nenek dan tetangga untuk memetiknya. Dewanti mulai paham, buah-buah srikaya yang bergelantungan sepanjang tahun ini disukai banyak orang.

***

KisahIbu  semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Sesekali Ibu mengisahkan lelaki muda tampan bernama Parto, dengan sepeda motor baru, menggodanya di jalan. Hampir tiap hari Parto mengganggu Ibu, yang berjalan kaki ke sekolah. Ibu tak pernah tertarik pada Parto, yang tidak hanya menggodanya, tetapi juga merayu gadis lain. “Jadilah kekasihku! Kau tak perlu jualan buah srikaya!”

Tak sekali pun Ibu memberi hati pada Parto. Sepertinya Ibu menyimpan kepedihan tentang kebun srikaya, yang kemudian dijual Kakek  pada orang tua Parto. Kebun srikaya itu ditebang  habis, dijadikan lahan pembuatan genting dan batu bata. Menahan rasa sedih, Ibu bercerita tentang penjualan kebun srikaya itu, karena Kakek kalah judi. Dewanti merasakan Ibu menyembunyikan kegetiran perasaannya, dan kehilangan mata pencahariannya. Ibu mencari daun-daun pisang klutuk di sepanjang lereng tanggul sungai, yang tumbuh liar, dan tak pernah dijamah siapa pun, untuk dijual ke pasar.

**

Duduk di teras rumah, semasa gadis, Dewanti memandangi pohon-pohon srikaya dengan buah-buah yang bergelantungan. Ia masih saja bimbang, apakah ia akan menerima lamaran Anto, putra Pak Parto. Bukan hanya karena orangtua Pak Parto membeli kebun srikaya keluarga Kakek, dan Ibu kehilangan mata pencariannya untuk biaya sekolah. Tapi Pak Parto pernah  menjadi atasan Bapak di kantor, dan Ibu mengeluh pada Dewanti, “Pak Parto itulah yang selalu menggeser posisi ayahmu. Kedudukan ayahmu selalu buruk. Lihat, kita tinggal di rumah yang sederhana, hidup dengan getir. Bagaimana mungkin kini kau menerima lamaran anak lelakinya?”

“Apa kejahatan itu menurun dari orangtua pada anaknya?”

Ibu terdiam. Lama. Memandangi Dewanti dengan merenung. “Aku tak ingin kau hidup menderita.”

“Doakan saya bahagia.”

“Kalau ayahmu masih hidup, mungkin akan berpendirian sama denganku,” kata Ibu. “Coba, kenalkan dia pada Ibu.”

***

Takada hal yang menyebabkan Ibu menolak Anto. Ibu merestui Dewanti menikah dengan Anto, seorang dokter muda. Dalam pandangan Dewanti, yang diam-diam selalu mengamati Ibu, tampak bahwa Ibu berkenan menerima Anto. Dewanti tinggal di rumah baru Anto, dan pertama kali yang dilakukan Ibu adalah membeli pohon srikaya, menanamnya di pelataran rumah.  

 “Pohon ini akan berbuah sepanjang tahun,” kata Ibu, ketika melepas Dewanti tinggal di rumah baru. “Sirami dia dengan sepenuh cinta. Biar dia berbuah. Syukur suamimu suka pada buah srikaya yang kutanam ini.”

Menempati  rumah baru yang cukup luas, Dewanti merasakan halamannya sempit. Ia mencoba memahami Anto, suaminya, seorang dokter muda, yang sibuk dan selalu pulang malam. Tiap sore ia selalu menyiram bunga-bunga di pelataran. Tak lupa menyiram pohon srikaya yang kini buahnya mulai bergelantungan.

Sesekali Dewanti melukis, mengisi waktu senggang. Selalu ada gagasan yang memikat. Sepulang memberi kuliah, ia tak mau kesepian seorang diri, memasuki ruang studio, dan melukis—sebuah kebiasaan yang dilakukannya semenjak kecil. Ia memiliki kanvas linen, easel aluminum, palette, pisau palette, kuas, cat minyak dan turpentine yang selalu memberinya kesuntukan melukis. Ingin sekali dia melukis pohon srikaya saat nenek memetik buah-buah yang bergelantungan rekah, masak, dan beberapa di antaranya ranum.

Ia lebih suka melukis bunga-bunga anggreknya: aneka warna, selalu bermekaran, berhari-hari masih mekar dan segar. Nenek yang memetik buah srikaya itu belum menggugah hasrat melukisnya.

***    

Sepulangdari kampus sore itu Dewanti tercengang. Pohon srikaya sudah ditebang empat orang tukang batu, yang bekerja memperluas garasi, agar bisa dimasuki dua mobil.  Anto pulang dengan mobil baru berkilau.

“Ini untukmu. Hadiah ulang tahun,” kata Anto penuh kebanggaan. Diserahkan kunci sedan sport merah seperti yang selalu diceritakannya.

Tubuh Dewanti bergetar. Ia tak bisa mengungkapkan rasa marahnya pada suami. Pohon srikaya yang ditanam Ibu, yang selalu bergelantungan buah-buahnya, ditebang begitu saja. Ia merasa bersalah pada Ibu, yang memiliki kenangan masa silam dengan pohon-pohon srikaya. Ia juga merasa berdosa pada seorang nenek yang senantiasa datang menjelang senja untuk meminta buah-buah srikaya matang dengan wajah berbinar-binar.  

Ketika tebangan pohon srikaya itu dibawa pick-up dengan batang pohon lain dan gundukan tanah yang harus dibuang, Dewanti ingin mengambilnya dan menanam kembali. Pohon srikaya itu layu, dengan buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya, sebagian sudah waktunya dipetik. Tentu nenek yang selalu datang menjelang senja, berjingkat memetik buah srikaya, akan sangat kecewa, bila tahu, pohon itu sudah ditebang.

Dewanti memasuki studio lukis. Ia mengembangkan ilusi tentang wajah nenek pemetik buah srikaya. Wajah yang keriput, menampakkan mata yang bening, berbinar-binar, dan menjelang pulang, mengucapkan terima kasih dengan santun. Nenek berjalan pulang dengan langkah tenang, melintasi gang dalam remang senja. Dewanti tak pernah mengerti tempat tinggal nenek pemetik buah srikaya.  

Dewanti mulai melukis. Sosok nenek dengan buah-buah srikaya bergelantungan begitu jelas pada benaknya. Dilukisnya pohon srikaya, dua belas buah di ujung-ujung ranting, kemudian nenek dengan wajah berkerut dan mata jernih, berjingkat, bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, memetik buah srikaya masak. Ia melukis nenek dan pohon srikaya justru ketika pohon itu ditebang dan sebagian pelatarannya  berkurang untuk memperluas garasi dengan mobil sedan sport merah di dalamnya.

***

Gerimistipis menjelang senja, nenek yang biasa datang memetik buah srikaya mengetuk pintu. Ia tak berpayung. Dewanti membukakan pintu ruang tamu dan tercengang melihat nenek itu datang membawa pohon srikaya kecil di tangannya.

“Tanamlah! Kusemaikan biji srikaya, dan kupilih yang tumbuh paling subur.”

“Di mana mesti kutanam?”

“Carilah celah kecil di pelataran. Pohon ini akan cepat tumbuh dan berbuah.”

Masih tercengang Dewanti ketika nenek meninggalkan teras rumahnya. Tanpa payung nenek itu menembus gerimis tipis menjelang senja. Dewanti mengamati lantai teras yang dipijak nenek. Mestinya lantai itu basah tergenang air gerimis yang menetes dari tubuhnya. Tapi lantai teras tempat berpijak nenek tampak kering. Tak setitik pun air menetes di lantai teras. Dewanti memandang ke arah tubuh nenek yang meninggalkan rumahnya. Tubuh nenek sudah tak kelihatan sosoknya.

***

Ibuberkunjung kerumah Dewanti. Melihat  garasi baru, mobil sedan sport merah berkilau, dan pohon srikaya kecil pemberian nenek yang ditanam Dewanti di pelataran yang sempit. Tak sepatah kata pun Ibu mempertanyakan pohon srikaya yang sudah ditebang. Ketika Ibu melihat Dewanti menyelesaikan lukisan nenek memetik buah srikaya, tercengang. Mendekat. Mengamat-amati lukisan itu tanpa berkedip, meraba pelan, dan bertanya lirih, “Bagaimana mungkin kau bisa melukis nenekmu memetik srikaya? Kau belum pernah bertemu dengannya.”

“Nenek selalu hadir dalam pikiranku,” balas Dewanti, menyembunyikan keterkejutan. Masih memainkan kuas dan cat minyak, ia menyempurnakan lukisan dengan menahan goncangan dada yang berdegup kencang.***

                                                              Pandana Merdeka, Agustus 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.