Cerpen

Datanglah ke Talang Siring, Begitu Katanya Selalu

Cerpen Mahrus Prihany

Setiap bertemu dengan Sabri, ia selalu berkata padaku satu kalimat singkat yang sama. Mulanya aku tidak mengindahkannya. Namun pada setiap perjumpaan dia akan mengatakannya, hingga aku menjadi yakin jika dia memang sengaja dan pastilah memiliki maksud tertentu.

“Datanglah ke Talang Siring,” kata Sabri. Aku mendengar ucapan itu pertama kali tujuh tahun lalu. Aku tak memedulikan kala itu. Tak ada juga pikiran macam-macam ketika mendengarnya. Sabri, teman sekampungku itu mengatakannya dengan serius. Bahkan pernah tiga kali diucapkan pada kesempatan yang sama, saat kami bertemu di warung bakso yang terletak di pasar.

Pada lebaran berikutnya, saat aku pulang kampung, bertemu Sabri lagi di warung bakso tersebut. Warung Mbok Lamin itu memang tempat biasa kami mangkal saat aku mudik. Di warung itu, kami tak hanya makan bakso, tetapi juga minum kopi sambil berbincang dengan beberapa anak muda yang menjadikan warung itu sebagai base camp. Di warung itu, aku bisa bertemu dengan banyak teman yang rumahnya jauh-jauh, seperti Sabri. Meski begitu aku jarang mudik karena harus menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang.

Sabri mengucapkan kalimat itu lagi yang kali ini terdengar lebih serius. Roman mukanya menunjukkan tidak sedang bergurau. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil, setelah itu aku bercanda dengan teman-teman yang lain. Sabri tak beranjak dari tempatnya, tapi tidak lantas bergabung dengan kami yang asyik bercanda. Beberapa waktu kemudian, Sabri pamit, setelah mengucapkan kalimat itu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. 

Dua lebaran berikutnya, saat aku tinggal menunggu wisuda, aku bertemu Sabri lagi. Dia mengucap kalimat yang sama. Ini berarti tahun keempat Sabri sengaja mencari dan menemuiku di warung Mbok Lamin. Perempuan itu menceritakan padaku jika Sabri sering bertanya tentangku. Jika Sabri mendengar aku mudik, ia akan menungguku di warung itu.

“Aku sungguh-sungguh, Fer. Datanglah ke Talang Siring.” Sabri kali ini mengajakku bicara serius dengan meminta waktu khusus. Aku tinggalkan beberapa teman yang sedang asyik mengobrol denganku.

“Kenapa kau menyuruhku datang ke sana, Sab?”

“Ferdi, apa kau benar-benar telah lupa?” Sabri balik bertanya dengan nada terperanjat.

“Ya. Aku memang tak tahu apa maksudmu.” Sabri melenguh panjang mendengar jawabanku.

“Seseorang menunggumu di Talang Siring. Ia benar-benar menunggumu”

“Siapa, Sab?” Kulihat Sabri terdiam. Aku kemudian mengingat-ingat, memang ada satu nama yang samar membayang di pikiranku. Jika tak salah, ia berasal dari Talang Siring. Aku tak mau menebak-nebak, memastikan dahulu jawaban dari bibir Sabri.

“Sita. Nama lengkapnya Sita Masita. Apa kau lupa nama itu? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana,” terang Sabri.

“Aku tak punya waktu lagi, Sab. Besok aku akan kembali ke seberang, setelah itu aku akan mulai bekerja di perusahaan di sana juga.”

“Kita bisa ke sana sekarang. Aku bisa mengantarmu. Sebentar saja.” Nada Sabri terlihat lebih seperti memohon, bukan paksaan.

“Aku tak bisa, Sab. Banyak yang harus kupersiapkan sekarang ini.”

“Kalau begitu, lebaran tahun depan. Aku akan sampaikan pada Sita Masita.”  Aku terdiam, tapi pikiranku melayang-layang.

“Aku tak janji, Sab.” Aku mulai disesapi rasa bersalah tapi coba kusembunyikan.

“Boleh aku minta nomor ponselmu? Biar Sita bisa menghubungimu.”

“Ah maaf, aku tak sedang membawa ponsel, sedang kuisi daya baterainya di rumah.” Aku katakan pula jika aku tak hafal nomor ponselku. Sabri tampak tak percaya, tapi ia seperti berpikir. Aku sendiri sengaja mencari cara untuk menghindar darinya. Aku bilang padanya, aku mau pergi untuk mencari oleh-oleh yang akan kubawa ke kota esok. Sungguh pikiranku memang mulai terusik dengan nama Sita dan Talang Siring.

“Tunggu bentar,” kata Sabri, lantas berlalu meminta lembaran kertas dan meminjam pulpen pada Mbok Lamin. Ia menulis sesuatu di kertas itu. “Ini nomor Sita. Segeralah hubungi dia,” Aku menerima lembaran itu lalu berpamitan padanya.

***

Samar, pikiranku mulai mengingat Talang Siring dan Sita Masita. Sita berusia dua tahun di bawahku. adik kelasku dua tingkat namun kami beda sekolah. Saat SMA, aku sekolah di kota kabupaten yang jaraknya dua jam perjalanan dari kampungku. Aku biasanya pulang kampung satu atau dua sekali, begitu juga Sita. Kampung kami terletak di pedalaman dan memang belum ada SMA.  

Aku duduk di kelas tiga pada semester kedua dan Sita duduk di kelas satu saat aku iseng memacari perempuan itu. Bagiku memacari Sita hanyalah sekadar selingan atau hiburan. Aku sudah punya pacar di kampungku. Tapi sifat play boy-ku kadang kumat. Sita anak yang ramah dan baik Ia tinggal indekos tak jauh dari tempatku indekos. Jadi cocoklah jika Sita menjadi teman dekat yang bisa kuajak ngobrol atau jalan. Masa SMA memang paling indah untuk dinikmati.

Aku tak tahu di mana kampung Sita, tapi dia dulu sempat cerita bahwa ia berasal dari Talang Siring. Aku sendiri belum pernah datang ke kampung itu. Ketika aku pulang kampung, sebenarnya melewati tugu kecil Talang Siring di pinggir jalan. Namun kampungnya masih masuk ke dalam lagi beberapa kilometer. Kampungku sendiri masih jauh dari tugu kampung itu.

Pada saat kelulusan sekolah, Sita sempat menemuiku di indekos, dan ingin main ke kampungku, tentu saja aku tak mengizinkannya. Aku tak ingin Linda, pacarku di kampungku tahu keberadaan Sita. Bisa berbahaya. Setelah itu aku melanjutkan di perguruan tinggi pulau seberang. Aku sengaja tak mengabari Sita Masita. Aku mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya. Aku benar-benar melupakannya, sibuk dan asyik dengan petualanganku sendiri.

***

“Kenapa kau belum juga menghubungi Sita, Fer? Sudah tiga tahun sejak aku memberimu nomornya. Sita selalu bertanya tentangmu.”

“Kertas yang kau berikan padaku terselip entah di mana sebelum aku sempat memindahkan ke ponselku.” Aku jawab sebisa mungkin pertanyaan lelaki itu. Ini adalah lebaran tahun ketujuh Sabri menemuiku.

Aku telah bekerja di perusahaan ibu kota. Belum lama aku bekerja, pandemi menghantam bumi. Dua kali lebaran aku tak bisa mudik karena ada larangan dari pemerintah. Lantas aku bekerja dari rumah. Bersyukur aku masih bisa bekerja sementara banyak rekan lain terpaksa dirumahkan.

“Bagaimana jika sekarang kau datang ke Talang Siring? Aku siap menemanimu.” Entahlah kalimat sama yang sering Sabri katakan ini menjadi sesuatu yang sangat mengusikku. Aku sebenarnya sangat tak ingin mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Sita  menghantuiku. Aku merasa bersalah, tapi aku benar-benar ingin melupakannya.

Aku tak mau bertanya pada Sabri tentang Sita dan Talang Siring. Nama kampung itu belakangan mulai terngiang-ngiang di telingaku. Meski aku bisa menduga-duga, namun kisahku dengan Sita sudah cukup lama. Itu juga serupa peristiwa yang sekadar lewat saja. Selain itu hubunganku dengan Linda akhirnya putus, dan aku semakin asyik dengan diriku sendiri.

“Datanglah ke Talang Siring. Setidaknya sekali untuk terakhir. Temui Sita. Aku siap menemanimu.” Sabri memberi penekanan pada kalimatnya. Kalimat Sabri cukup menusuk jantungku. Tapi aku merasa tak ada gunanya lagi ke sana.

“Maaf Sab. Aku tak bisa. Aku telah memiliki kekasih di kota. Aku akan menikah dengannya tahun depan,” jawabku tegas. Aku memang tak ingin bertanya mengapa Sabri segigih itu memintaku datang ke Talang Siring. Aku ingin benar-benar mengakhiri semuanya dengan mengatakan begitu pada Sabri karena bagiku kisah dengan Sita telah berakhir lama.

***

“Hampir setiap hari Minggu, dua pekan sekali aku datang ke Talang Siring,” Sabri akhirnya bercerita tanpa kuminta. Sebelumnya ia memohon agar aku tak pergi dan mau mendengarnya.

Sabri memiliki kekasih di Talang Siring, namanya Ratih, yang rumahnya persis di sebelah rumah Sita Masita. Karenanya Sabri akhirnya kenal dengan Sita. Mengetahui Sabri berasal dari kampung yang sama denganku, Sita akhirnya banyak bertanya tentangku. Sabri tentu saja tak tahu banyak karena memang aku jarang berada di kampung.

Hubungan Sabri dengan Ratih berjalan baik dan awet. Sabri memang bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Sita pun berani bercerita pada Sabri dan Ratih bahwa ia dulu pacarku.

“Sampaikan pada Kak Ferdi untuk datang ke Talang Siring. Begitu selalu kata Sita padaku,” tutur Sabri.

Sabri akhirnya menikah dengan Ratih. Sementara Sita masih tenggelam dengan perasaannya padaku, masih selalu mengucapkan hal sama seperti yang Sabri ucapkan padaku. Sabri pun merasa berempati dan memberi saran padanya agar tak menantiku datang ke Talang Siring. Itu karena Sabri merasa bahwa aku tak mengindahkan pesan Sita yang ia sampaikan padaku.

“Aku akan menyampaikan berita ini pada Sita bahwa kau akan menikah tahun depan. Semoga setelah ini ia tak lagi meminta dan menantimu lagi.” Sabri berkata dengan tarikan napas panjang. Seperti ia juga menahan beban batin yang dalam. Sorot matanya tampak kosong, seolah menyembunyikan kesedihan. Ia terdiam lama, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kemudian hanya desahan panjang lagi.  

“Terima kasih, Sab. Ya, semoga Sita juga segera menemukan jodoh dan menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawabku lirih.***  


Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), ketua komite sastra DKTS, dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).

Cerpen

Rumah Besar Pak Simon

Cerpen Erwin Setia

Seorang lelaki muda turun dari sebuah kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi. Ia menggendong sebuah tas dan menyeret koper abu-abu berukuran sedang. Ia melepas kacamata dan menyampirkan sweternya di bahu. Tubuh lelaki itu cenderung kurus, tapi caranya berjalan begitu bertenaga dan optimistik seolah-olah tidak akan ada sesuatu pun yang bisa mencelakakannya.

Di atas sebuah kursi tunggu, ia duduk sebentar. Dipandanginya sekeliling stasiun di mana orang-orang yang baru turun dari kereta berlalu lalang, orang-orang menunggu di kursi plastk yang dingin, dua orang petugas mempercakapkan sesuatu, dan batangan rel tampak berkilau disepuh cahaya siang. Ia beranjak dari kursi setelah beberapa menit mengambil jeda. Ia buru-buru keluar dari area stasiun. Ia memanggil tukang ojek, menyebut alamat, dan bergegaslah motor bebek yang bunyi knalpotnya berisik itu ke alamat yang dituju. Tak jauh, kurang dari lima belas menit, ia tiba di tempat tujuan.

Sebuah rumah besar dengan pohon beringin di seberang pagar yang daun-daunnya bertebaran di tanah tampak di hadapannya. Ia memandangi rumah itu saksama seakan hendak memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Tempat itu memang agak jauh dari jalan besar. Sopir ojek mesti melalui beberapa gang kecil dan sepi sebelum tiba di rumah besar itu. Setiba di sana, suasana jalan makin sepi saja. Sejauh mata memandang, lelaki itu tak mendapati satu pun orang—entah tetangga ataupun orang yang sekadar lewat—tampak. Area itu begitu sepi seperti sebuah jalan yang sedang diisolasi. Hanya ada beberapa pohon besar dengan burung-burung yang sesekali bertengger di dahannya untuk kemudian terbang kembali ke langit. Pohon-pohon itu menghadirkan keteduhan yang membuat Bekasi menjadi tak begitu panas. Lelaki itu merasa nyaman dengan yang kini dirasakannya. Ia merogoh saku celana, mengambil kunci, dan membuka pagar rumah besar dengan kunci tersebut.

Rumah itu terdiri atas dua lantai. Lelaki itu menyisiri satu demi satu ruangan rumah. Dengan langkah-langkah pelan dan waspada, ia memeriksa keadaan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya selama tiga tahun itu. Si penghuni terakhir—Pak Simon dan keluarga—sebelumnya menitipkan rumah itu kepada tetangganya yang tinggal persis di sebelah rumah. Pak Simon membayar tetangga itu untuk rutin membersihkan rumah agar tidak kusam dan kotor seperti barang tak berguna.

Dua tahun lebih lamanya si tetangga menjalani rutinitas membersihkan rumah besar itu, sampai sebulan lalu Pak Simon mendapat kabar tetangga itu mati karena terpeleset saat membersihkan kamar mandi rumah besar. Itulah penyebab Pak Simon meminta tokoh kita—si lelaki muda—untuk menyambangi rumah besarnya. Pak Simon meminta pada lelaki itu untuk menjaga dan merawat rumah besar sekitar satu pekan sebelum penghuni baru datang ke sana. Ya, rumah besar Pak Simon itu sudah dipinang oleh sepasang pengantin baru asal Bali. Mereka sudah membayar uang muka dan mengatakan minggu depan akan mulai menghuni rumah besar.

Pada hari pertama kedatangannya, setelah bersih-bersih sekadarnya lelaki muda bersantai dan tiduran di atas sofa yang sangat empuk. Ia tidak pernah merasakan sofa seempuk dan selembut itu. Ia membayangkan betapa nikmatnya kalau bisa menghuni rumah itu selamanya. Ia mendesah dan membuang impian muluk itu. Dengan televisi menyala, lelaki itu ketiduran di atas sofa.

Hari sudah berangsur gelap ketika lelaki itu terbangun. Televisi, lampu, dan pendingin ruangan mati. Ia mengecek meteran listrik dan mendapatinya baik-baik saja. Listrik tidak turun atau korslet. Mati listrik datang begitu tiba-tiba. Ia keluar dari rumah. Jalanan di depan rumah sangat lengang dan sepi. Matahari sudah lama pergi, berganti cahaya bulan yang tipis dan hanya menghasilkan keremangan. Dedaunan bertiup terbawa angin. Petang itu udara sejuk sekali. Lelaki muda mengenakan sweter dan mulai berkeliling. Ia hendak mencari seseorang yang bisa diajaknya berbicara atau sekadar menjadi tempatnya bertanya mengapa listrik mati tiba-tiba.

Ia berjalan menyusuri jalan. Rumah-rumah di kanan-kirinya tampak gelap dan sepi. Semuanya tak berpenghuni. Rumah-rumah yang berukuran cukup besar itu meruakkan sensasi ganjil. Lelaki itu merinding dan mempercepat langkah. Ia menembus gang lain. Di gang itu beberapa lampu menyala dan tampak beberapa orang sedang berkumpul. Saat ia melambaikan tangan dan hendak menghampiri orang-orang itu, mereka terperanjat dan membubarkan diri. Ia merasa heran dan meneruskan perjalanan. Azan magrib berkumandang. Jalanan begitu sunyi dan dingin. Saat berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah kursi beton, ia tiba-tiba teringat pintu utama rumah tidak dikunci. Ia hanya mengunci pintu pagar karena memang tadi ia agak terburu-buru. Mengingat itu, lelaki itu bergegas kembali ke rumah besar. Sementara ia berjalan cepat, sayup-sayup azan dan suara orang mengaji masih terdengar.

Setiba di area rumah besar, ia terkejut senang mendapati lampu-lampu sudah menyala. Ia membuka pagar dengan cekatan, lantas mendorong pintu utama. Benar saja, pintu itu tidak terkunci. Ia buru-buru memeriksa keberadaan televisi, guci, perhiasan porselen, dan sebuah lukisan mooi indie yang tergantung dinding. Syukurlah, semua barang-barang berharga itu tak bergeser seinci pun dari tempatnya. Tidak ada barang-barang yang hilang. Tidak ada barang-barang yang dicuri. Ia bisa tidur dengan tenang malam ini.

Lantaran lelah, lelaki itu memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Tak lama ia pun tertidur. Beberapa jam setelah tidur, kandung kemihnya terasa penuh. Ia kebelet buang air kecil. Cepat-cepat ia menuju kamar mandi lantai satu. Ia pun menunaikan hajatnya dan merasakan kelegaan selepasnya. Tanpa kecurigaan ia membuka pintu. Di depan pintu, seorang perempuan berpakaian serbahitam dengan muka hitam melompat ke hadapannya dan memandanginya dengan mata melotot. Lelaki itu terlonjak ke belakang. Kepalanya membentur pinggiran kloset. Darah mengucur dari kepala lelaki malang itu. Tiga hari setelahnya, seorang pemulung merasa heran burung-burung berbulu hitam berkerumun di halaman rumah besar. Si pemulung coba-coba memasuki pagar rumah yang lupa dikunci, membuka pintu utama yang juga tak dikunci, dan samar-samar mencium bau busuk. Ia menemukan mayat seorang lelaki muda dan segera melaporkannya ke warga terdekat.

***

Sepasang pengantin baru asal Bali yang hendak membeli rumah besar mengurungkan niat mereka usai mengetahui fakta-fakta seram soal rumah besar. Selain kematian tiba-tiba si tetangga dan si lelaki muda, rupanya ada satu kematian juga yang baru terungkap saat polisi menggeledah rumah besar selepas kematian lelaki muda. Di sebuah ruangan yang selalu dikunci di dekat kamar mandi, polisi menemukan seonggok mayat beku yang sudah diawetkan. Mayat itu berpakaian serbahitam dan wajahnya hitam seluruh seolah diolesi arang. Setelah polisi melakukan penyelidikan, didapatilah bahwa mayat serbahitam itu tak lain istri pertama Pak Simon. Istri pertama Pak Simon lama bekerja di Arab Saudi dan rutin mengirimi uang setiap bulan kepada Pak Simon dan anak mereka yang masih berusia lima tahun. Bertahun-tahun istri Pak Simon tak kunjung pulang. Sang istri bilang ia selalu ditahan-tahan oleh majikan sehingga tak bisa pulang. Kendati tak pulang-pulang, sang istri tak pernah lupa mengirimkan uang yang jumlahnya lumayan banyak. Bosan menunggu, suatu hari Pak Simon berjumpa seorang janda kaya raya yang tak lain adalah temannya sewaktu sekolah menengah. Pertemuan mereka berakhir dengan perkawinan. Pak Simon mengatakan kepada anak mereka dan petugas KUA bahwa istri pertamanya sudah meninggal di Arab Saudi. Ia tidak mengabarkan keluarga istrinya ketika menikahi janda kaya raya itu. Suatu malam, beberapa bulan setelah pernikahan itu, istrinya datang. Waktu itu istri kedua dan anaknya sedang pergi ke rumah mertuanya. Kedatangan istri pertama itu tak ia sambut dengan ramah. Alih-alih ia langsung menjambak sang istri, membawanya ke sebuah ruangan dekat kamar mandi, dan menyiksanya sampai mati. Ia mengawetkan mayatnya dan membiarkannya tergeletak dengan hanya ditutupi lapisan kain hitam. Semenjak itu, ia melarang siapa pun mendekati apalagi berusaha membuka pintu ruangan yang selalu terkunci itu.

***

Pada malam pertama di penjara, Pak Simon izin ke kamar mandi. Sipir yang berjaga merasa heran Pak Simon tak muncul juga dari kamar mandi selama berjam-jam. Ketika sang sipir mendobrak pintu, ia mendapati tubuh Pak Simon sudah tak bernyawa dengan sekujur tubuh berwarna hitam seolah baru saja dibakar massa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 14 April 2020


Erwin Setia, lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Cinta yang Sibuk

Cerpen Karisma Fahmi Y

“Apa yang terjadi padamu saat itu?”

“Tak ada. Barangkali hanya kesalahpamahaman.”

“Ia sudah menikah?”

“Belum.”

“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”

“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.

Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.

“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.

“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.

Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.

Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.

Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?

***

Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!

Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.

Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang.  Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.

Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”

“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”

Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.

***

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.

Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.

Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.

Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.

Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.

Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.

Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.

Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***

Maret 2018-Oktober 2019


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Tafsir Peziarah Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Langitmendung dan angin berpusar ketika Dewi Uma meniti  jalan ke makam ayah. Ini hari kedua ayah dimakamkan. Gadis 17 tahun itu merasakan angin menggetarkan dahan-dahan kemboja. Tanah makam masih cokelat basah. Bunga di atas makam dihamburkan angin. Sore ini ia seperti ingin menyingkap rahasia dirinya. Ia kehilangan separuh jiwanya sejak pemakaman jasad ayah. Tapi kali ini ia terperanjat. Ia termangu beberapa langkah sebelum makam ayah. Ia melihat seorang perempuan setengah baya yang tak dikenalnya berjongkok, menahan tangis di sisi makam ayah. Yang membuatnya takjub dan bergetar, ia melihat seorang gadis yang serupa dengannya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri pada gadis itu.

Gerimis tajam menerpa wajah ketika Dewi Uma masih termangu. Menahan diri, ia tak sanggup melangkah. Berganti-ganti ia memandangi perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya. Ia merasakan kedekatan hati yang terselubung tabir rahasia. Ia merasa perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya itu merupakan kerabat. Ia mendekat ke arah makam ayah.

Hujan deras dengan angin berpusar tercurah dari langit. Dewi Uma berlari mencari perlindungan di bawah pohon beringin tua. Mengeringkan wajah dan rambutnya dengan sapu tangan. Ia menatap ke arah makam ayah. Senyap. Tak seorang pun berada di makam itu. Perempuan setengah baya itu dan anak gadisnya tak terlihat lagi. Mereka berlari menghindari hujan yang tercurah dari langit bersama pusaran angin. Dewi Uma kehilangan lacak, tak dapat menemukan sosok mereka.

Mendekati makam ayah saat hujan reda, Dewi Uma masih merasakan getar tubuhnya. Bukan getar tubuh karena hujan yang mendadak tercurah dari langit. Getar tubuh bertemu dengan dua orang–yang dalam pikiran Dewi Uma, sangat berkaitan dengan rahasia hidupnya. Meninggalkan makam ayah pada saat senja, hati gadis itu diliputi tanda tanya.

 ***

Langit cerah ketika Dewi Uma kembali ziarah ke makam ayah. Ini hari ketiga ayah dimakamkan. Menjelang sore, tak seorang pun datang ke makam, kecuali Dewi Uma dan Fajar, teman sepermainannya. Mereka begitu akrab semenjak kanak-kanak. Fajar terbiasa mengajak Dewi Uma ke mana pun, termasuk saat mendaki gunung. Fajar yang memiliki tubuh kekar dan tangguh, selalu membuat Dewi Uma terlindungi.  

“Aku melihat seorang perempuan setengah baya dan anak gadisnya, yang sangat mirip denganku kemarin di makam ini,” kata Dewi Uma, saat mencapai makam ayah. “Hujan turun, dan mereka menghilang ketika aku berteduh di bawah pohon beringin.”

“Kesedihan telah membawamu untuk melihat gadis yang serupa denganmu. Kau sedang melihat wujud kesedihanmu. Gadis itu pasti kau sendiri.”

“Lalu, perempuan setengah baya itu?”

Sejenak Fajar berpikir, sebelum menjawab sekenanya, “Ia wujud dirimu di masa yang akan datang.”

“Aku tak akan menjadi seorang ibu yang memendam kesedihan serupa itu. Aku mau jadi seorang ibu yang bahagia dengan segala pilihanku.”

“Nah, itu gambaran dirimu di saat sedih, di antara kehidupan yang bahagia,” goda Fajar, tak mau menyerah. Dewi Uma merasa diledek Fajar. Ia  masih memikirkan seorang ibu yang wajahnya memendam duka dan anak gadisnya itu. Ia yakin bila benar-benar bertemu dengan seorang ibu yang berparas sedih dan anak gadisnya yang mirip dengannya: serupa saudara kembar. Ia sangat ingin bisa bertemu mereka.

***

Masih berkabung, di hari keempat ayah dikubur, Dewi Uma berziarah ke makam, menjelang sore. Ia ditemani Joko Bandung, kekasihnya, seorang militer. Lelaki muda kekar itu baru bisa datang dan mengajaknya ziarah ke makam. Mendaki jalan setapak ke bukit makam, di bawah dahan-dahan kemboja, Joko Bandung menggenggam tangan Dewi Uma, memberinya rasa tenteram.

Dewi Uma kembali teringat seorang ibu setengah baya yang berziarah pada hari kedua ayah dimakamkan. Terutama gadis yang mirip dengan dirinya, menggelisahkan perasaannya. Ia penasaran ingin bertemu gadis itu: barangkali dia memiliki hubungan darah dengan ayah. Kalau memang benar Dewi Uma terlahir kembar dengan gadis itu, kenapa ayah dan ibu tak pernah bercerita?

“Aku bertemu gadis yang serupa denganku di makam ini,” kata Dewi Uma. “Ia bersama ibunya, perempuan setengah baya, yang ziarah di makam ayah.”

Serius Joko Bandung memandangi Dewi Uma. “Kita mesti mencari mereka. Coba tanyakan pada ibu, siapa perempuan setengah baya itu. Begitu juga gadis yang serupa denganmu, siapa tahu kalian memang dilahirkan kembar. Kalian dipisahkan, sehingga kalian tidak saling kenal.”

“Kenapa hidupku jadi sebuah misteri begini?”

“Kau mesti bertanya pada ibu. Tentu ibu bisa menjawab misteri ini.”

Tak ada badai, tak ada pusaran angin, tetapi tubuh Dewi Uma tergetar. Di depan makam ayah, ia menjadi gadis yang semakin tak memahami hidupnya. Ia lebih banyak berdiam diri. Ia tak bisa menyangkal pendapat kekasihnya. Mesti  bertanya pada ibu: apakah ia memiliki saudara kembar.

Turun dari makam, saat menjelang senja, Dewi Uma ingin mendengar percakapan ibu dan anak gadisnya saat berziarah. Kalau saja ia mendengar percakapan itu, tentu bisa menduga-duga siapa sesungguhnya mereka.

***

Saathari kelima Dewi Uma ziarah ke makam ayah, ia sendirian. Begitu  mencapai pintu gerbang ke makam, ia bertemu Sadewa, seorang santri Kiai Maksum, yang hendak ziarah ke makam Syekh Ali. Dewi Uma mengenali lelaki itu sebagai santri kesayangan Kiai Maksum. Ketika Kiai Maksum salat jenazah ayah dan mengiringi pemakaman, santri itu selalu berada di sampingnya.

Sadewa sempat berhenti di sisi gundukan makam ayah Dewi Uma. “Kau seperti sedang mencari jawab atas peristiwa yang pernah menimpa dirimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sepasang matamu mengisahkan semua kegelisahan,” kata Sadewa,  merasa pasti.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang mirip denganku di sini,” kata Dewi Uma. “Aku merasa sebagai gadis kembar dengannya. Tapi sebelum kami sempat bertegur sapa, hujan turun dan gadis itu meninggalkan makam ayah.”

Terdiam, memendam senyum, sebelum meninggalkan Dewi Uma, santri itu sempat berkata, “Kau mesti yakin dengan suara hatimu yang terdalam.”

Dewi Uma terdiam. Termenung. Ia tak pernah berani mengajukan pertanyaan pada ibunya: apakah ia memiliki saudara kembar? Dalam temaram senja di makam, ia seperti kehilangan kesadarannya, dan kini menjadi manusia yang tak memahami dirinya.

***

LangkahDewi Uma mengikuti Kiai Maksum mendaki bukit makam. Kiai Maksum berziarah ke makam Syekh Ali, leluhurnya. Ini hari keenam ayah Dewi Uma meninggal dunia. Dewi Uma masih terus merenungkan gadis yang berziarah pada hari kedua kematian ayah. Ia tak bisa mengatakan gadis itu orang lain. Ia juga tak bisa menyebutnya sebagai ilusi dirinya yang sedang berduka.  

Menjelang senja Dewi Uma menuruni makam. Berada di kaki bukit makam, ia berhenti melangkah, dan Kiai Maksum berhenti tepat di sisinya. Memperhatikannya. Dewi Uma seperti tak ingin bergerak dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, tentu telah terjadi percakapan dalam hujan antara ibu setengah baya dengan anak gadisnya sebelum mereka naik taksi dan meninggalkan makam.

“Apa yang ingin kauketahui di tempat ini?” tanya Kiai Maksum.

Menunduk, malu, Dewi Uma menukas, “Kalau saja saya bisa mendengar  percakapan antara seorang ibu dan anak gadis yang ziarah ke makam ayah, tentu akan terbuka asal-usul saya.”

“Kau bisa mendengar percakapan mereka,” kata Kiai Maksum. “Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Ingat kembali peristiwa yang ingin kauketahui. Semoga kau  mendengar suara percakapan mereka.”

Dewi Uma memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Ia memusatkan perhatiannya hanya pada percakapan antara ibu setengah baya dan anak gadisnya. Ia dengar percakapan mereka dalam suara bening.

“Kenapa ibu tak mau menemui Dewi Uma?” tanya gadis itu.

“Dia sudah dibawa ayahmu dengan istri pertamanya. Aku cuma istri kedua, dan terpaksa merelakan Dewi Uma dibawanya meninggalkan kita. Hari ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat dia tumbuh dewasa dan cantik. Suatu saat semoga kita bisa berkumpul kembali.”

Membuka kelopak mata, Dewi Uma menahan diri dari guncangan perasaan. Ia tak pernah menduga, bila perempuan setengah baya itu adalah ibu kandungnya, dan gadis yang mirip dengannya itu saudara kembarnya.  

“Mari kita pulang,” ajak Kiai Maksum. “Semoga hatimu menjadi tenteram sekarang.”

Langit senja meredup ketika Dewi Uma meninggalkan makam. Ia  merasakan angin menggetarkan perasaannya serupa dahan-dahan kemboja. Tampak samar dan menghitam makam yang ditinggalkannya. Tapi wajah ibu kandung dan saudara kembarnya kian jelas dalam benaknya.****

Pandana Merdeka, Juli 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Pemburu Celeng dan Celeng yang Memburunya

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Peluru kaliber 30,06 mm itu melesat dari moncong Mouser dan tepat mengenai bagian belakang telinga. Celeng itu pun menguik-nguik, menggelepar-gelepar bagai ayam yang disembelih lehernya, lalu tak bergerak-gerak lagi.

Gegas, Marbun menuju buruannya. Tamim, si tukang lampu blor, terseok-seok di belakangnya. Aki truk pada tas ransel itu menggelantung di punggungnya seperti buah nangka yang menjuntai pada batangnya. Tak sampai dua menit mereka tiba di semak-semak yang telah tersibak-sibak itu.

Seketika Marbun menampakkan wajah bingungnya. Celeng itu tidak ada. Hanya tersisa ceceran darahnya.

Seketika Tamim merapat ke Marbun. Wajahnya pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba udara di bawah pohon beringin hutan itu dipenuhi bau bangkai.

“Siluman Dewi Celeng,” desisnya.

“Siapa?” tanya Marbun.

“Dewi Celeng,” kata Tamim, “pelindung para celeng.”

Marbun pernah mendengar nama itu, tapi cenderung tak percaya. Di hutan mana pun yang pernah diterabasnya, selalu ada tahayul-tahayul seperti itu. Namun, dia pilih tak berkata apa-apa. Tak ingin berdebat dengan warga asli Cikidang itu. Mereka lalu meneruskan perburuan, tapi sampai pagi menjelang tak ada celeng lagi yang mereka jumpai.

***

Marbun baru saja turun dari mobil dinasnya ketika Didit, anaknya yang baru kelas IV SD itu menghampirinya.

“Pa, tadi Didit ketemu celeng. Seperti foto di ruang tamu itu, lho.”

Ketemu di mana?” tanya Marbun sambil merangkul pundak buah hatinya itu dan berpikir: sudah saatnya Didit diberi adik agar tak terlalu banyak berfantasi.

“Di gerbang sekolah.”

“Boneka?” tanya Marbun lagi, mengelus rambut anaknya.

“Bukan.”

Cosplay?”

“Bukan! Celeng beneran!” serunya dan bocah sepuluh tahun itu tampak merengut.

Marbun menatap Didit dan mukanya tampak terkesiap.

“Celengnya sedang apa?”

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya mengawasi Didit.”

“Terus?”

“Celengnya dua. Yang hitam banget ketemu waktu Didit baru datang di sekolah. Celeng satunya, yang tidak hitam banget, waktu Didit pulang.”

“Celengnya ngomong apa?” tanya Marbun lagi. Dalam hatinya mulai timbul tanda tanya.

“Tidak ngomong apa-apa.”

“Yang ngeliat kedua celeng itu siapa aja?”

“Didik tidak tahu. Tadi tidak nanya ke teman-teman.”

***

Marbun sudah hampir lupa cerita Didit tentang celeng di gerbang sekolahnya itu ketika dua hari kemudian istrinya mengatakan hal yang sama.

“Celeng beneran?” tanya Marbun. Keningnya berkerut.

“He eh. Masak Mama bohong,” jawab istrinya.

“Mama salah liat kali?”

Suer! Mama lihat dari jendela kaca ruang tamu. Celeng itu berdiri di trotoar, mengawasi rumah kita. Saat Mama keluar, celeng itu cepat-cepat kabur. Lewatnya di dekat bak sampah. Hilang di belokan menuju rumah Pak Tanu. Jangan-jangan babi ngepet, ya Pa?”

Marbun tak menjawab. Tiba-tiba ingatannya melayang pada cerita Tamim tentang Dewi Celeng. Juga celeng yang pernah ditembaknya, tapi bangkainya tak ada itu. Meskipun demikian, Marbun pilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Tak ingin membuat Maya, teman kuliah di fakultas hukum yang kini jadi istrinya itu menjadi resah.

Dia tak terlalu yakin celeng-celeng yang dilihat anak-istrinya itu ada hubungan dengan hobinya. Mungkin hanya halusinasi mereka. Apalagi ada hubungan dengan kasus korupsi pupuk yang sedang ditanganinya. Tidak mungkin para koruptor itu menyuruh celeng-celeng itu untuk meneror keluarganya.

***

Sabtu pun datang. Marbun kembali berburu ke Cikidang. Kali ini mengajak Marno, sopir kantor yang sering mengantarnya ke mana-mana. Marbun tak percaya hantu, siluman, atau yang sebangsanya. Celeng ya celeng! Perihal celeng yang seminggu lalu ditembaknya, tapi tak ditemukan bangkainya itu, kemungkinan besar karena hanya kena serempet kupingnya.  

Seperti sebelumnya, Marbun berniat menyewa jasa Tamim sebagai penunjuk jalan, penggendong aki, sekaligus tukang sorot lampu blor. Selain tahu seluk-beluk Hutan Cikidang, Tamim juga pembenci celeng. Mereka tiba di Cikidang menjelang Isya. Marbun berhenti di warung kopi di ujung desa. Tamim sering nongkrong di situ. Namun, malam itu Tamim tidak ada.

***

“Kapan?” tanya Marbun, kaget.

“Hari Minggu, Om,” jawab remaja berjaket merah itu.

“Minggu?” Marbun tersentak. Dahinya berkerut sedalam selokan. Berarti tak sampai sehari setelah berburu dengannya, pikirnya. “Kenapa? Sakit apa?” tanyanya lagi.

Nggak jelas penyakitnya, Om. Tahu-tahu badannya panas. Mengigau, menyebut-nyebut Dewi Celeng. Sorenya mati.”

***

Marbun tetap meneruskan berburu, dan tak terlalu menghiraukan proses mati yang aneh itu. Orang bisa mati kapan saja dan di mana saja dan dalam berbagai cara. Igauan orang yang sekarat bisa macam-macam. Kebetulan saja Tamim menyebut-nyebut nama Dewi Celeng. Bukan Dewi lainnya.

Rencana Marbun, mereka tidak usah jalan kaki menerobos semak dan menyusuri jalan setapak seperti biasanya. Cukup dari atap mobil saja. Marno yang menyopiri sementara Marbun yang mengoperasikan lampu sorot sekaligus bertindak sebagai sniper. Kalau harus menggendong aki seberat lima belas kilo sambil membawa lampu blor sejauh lima kilo meter, bisa-bisa Marno yang kurus kering itu ikut-ikutan menyusul Tamim, tamasya ke akhirat. Begitu pikir Marbun.

Mobil Jeep yang sudah dimodifikasi itu pun kembali melaju, menyusuri jalanan yang sedikit mendaki. Pepohonan pinus bertambah rapat. Sampai di sebuah pertigaan, Marbun menyuruh Marno membelokkan mobil ke arah kiri, keluar dari jalan beraspal. Mereka bertemu jalan tanah yang becek akibat hujan dua jam sebelumnya. Kabut cukup tebal menyelimuti udara, tapi lampu halogen itu masih bisa menembusnya.

Ketika tiba di kawasan hutan yang dipenuhi ilalang, Marbun menyuruh Marno menghentikan mobil. Nalurinya, di tempat itu banyak celengnya. Saat Marbun sedang bersiap pindah ke atap mobil, seekor celeng tiba-tiba keluar dari semak-semak, lalu menghadang di tengah jalan. Hanya berjarak lima meter dari mobil.  Besar sekali. Sebesar anak kerbau.

“Pak, Pak! Celeng! Celeng!” teriak Marno panik.

“Sudah tahu. Jangan berisik!”

Marbun mengambil senapannya. Merayap lewat jendela, naik ke atap mobil. Terlalu berisiko menembak celeng sedekat itu dari atas tanah. Kalau tembakannya meleset, bisa-bisa dia mampus diseruduknya.

Di bawah sorotan lampu kabut, celeng itu bergeming. Moncong hitamnya berlendir. Matanya yang merah itu menyorot tajam seakan-akan menantang Marbun. Tangan Marbun tampak gemetar saat memasukkan peluru. Selama menjadi pemburu, belum pernah dia menjumpai situasi seperti itu. Bertemu celeng yang tak takut pada pemburunya.

Marbun mengambil napas, menempelkan popor senjatanya ke pipi kanan. Setelah sejenak mengatur napas, ditariknya pelatuk senjatanya. Klik! Senapan itu macet. Pun, mesin mobilnya mati. Disusul lampunya. Seketika suasana menjadi gelap gulita. Marbun gemetar. Apalagi ketika bau bangkai yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba menyerbu udara lalu menyeruduk lubang hidungnya.

***

Ketika SUV yang dikendarai Marbun itu berbelok ke Perumahan Griya Tawang, belum juga melewati portal yang tanpa penjaga itu, tiba-tiba seekor celeng seukuran anak kerbau melintasi jalan dengan santainya. Marbun kaget dan segera mengerem mobilnya. Di saat itulah sebuah sepeda motor memepet mobilnya. Terdengar letusan dua kali. Lima detik kemudian motor tanpa plat nomor yang dikendarai dua orang  berhelm balap itu melesat, lalu menghilang. Pula, celeng segede anak kerbau itu.**

Kajen, 8 Januari 2022


Dewanto Amin Sadono, tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel terbarunya Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit.

Cerpen

Melankolia Jibril

Cerpen Nafi Abdillah

Selepas menyanggupi perintah Tuhan Semesta Alam, aku dan Izroil berbalik badan, mengepak sayap, menjauh dari pintu surga. Alih-alih meninggalkan langit ke tujuh dengan cepat, namun luapan gelisah mendadak meletus dari dalam dada. Mula-mula hanya bergetar dari satu titik, namun imbas dari getaran itu merembet ke seluruh tubuh. Hingga niat yang dari awal telah terbangun, luntur. Tubuhku mendadak kelu. Pergerakanku melambat. Izroil rupanya cukup pandai untuk tak hirau atas perubahan sikapku itu.

“Kenapa, wahai Jibril?” tanyanya kepadaku.

“Tak apa, ayo kita teruskan!”

Aku tak ingin jujur. Sungguh tak perlu ada penjelasan kepadanya. Aku tak mau memengaruhi keputusannya. Meski sedikit berandai-andai, mungkin jugalah ia merasakan hal yang sama.

Kami memang dicipta sebagai makhluk yang memiliki tingkat ketaatan tinggi. Bukan ingin berlaku sombong, tapi kodrat Lauh Mahfud tertulis semacam itu. Segala perintah selalu kami kerjakan semulus-mulusnya. Tak ada keberanian, bahkan kemampuan untuk menolak perintah-Nya. Namun, perintah Allah kali ini memiliki kadar yang jika boleh kukategorikan berada pada interval yang sangat tinggi. Ada lubang-lubang dilema yang tumbuh meraksasa. Menjalankan perintah-Nya adalah keniscayaan, mangkir dari perintah-Nya adalah sikap yang lebih membangkang dari sikap sombong itu sendiri.

Tapi perintah-Nya kali ini sangatlah berbeda. Sebagian perasaanku yang dekat, mengangguk cepat sekali. Pada bagian yang lain muncul keragu-raguan untuk tunduk dan mematuhi perintah-Nya. Ingin sekali kutegaskan perihal perasaan yang mengganjal ini kepada Izroil. Ingin kubagi seluruh keluh kesah. Namun selalu kuurungkan tiap kali kubaca mimik wajah Izroil yang tampak sangat serius itu. Bisa-bisa timbul perdebatan dengannya jika perasaanku ini tak selaras dengan yang dipikirkannya. Maka kuputuskan untuk tak membicarakan dengannya. Biarlah kusimpan gelisah ini sendiri.

Toh, untuk urusan menahan gelisah, aku cukup terlatih. Seluruh peristiwa yang telah kulalui bersama Kanjeng Rasul, tak sedikit memunculkan perasaan-perasaan semacam itu. Namun, Rasul selalu meredamnya dengan cara-cara berbeda yang tentunya membuatku takjub.

Terkadang, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kusangka akan mengarah ke suatu sisi, namun ternyata keputusannya jauh mengarah ke sisi yang lain. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi manusiawi di hadapannya, namun kenyataannya pikirannya jauh melampaui itu semua.

Seperti ketika Kanjeng Rasul berada dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Kota Thaif untuk menyampaikan ajaran Allah. Kanjeng Rasul menerima penolakan besar dari tiga pemimpin suku Tsaqif: Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr.

“Apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang bisa diutus selain kamu? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu selama-lamanya. Jika betul kamu adalah rasul, maka sungguh merupakan bahaya paling besar. Kebohonganmu sepatutnya memberiku alasan untuk tidak berbicara denganmu.”

Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil untuk mengusir Rasul di tengah terik matahari, melemparinya dengan batu sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasul berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasul, dengan hati yang terluka kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana.

Aku tahu, sangat terpukul hati Rasul. Dan aku, yang diam-diam mengikuti kanjeng Rasul sudah mulai geram dengan perlakuan yang diterimanya. Lantas aku mendekat ke arahnya, dan meminta izin membalas perlakuan mereka.

“Wahai Rasul, batu-batu gunung itu sudah siap meruntuhkan dirinya hingga menimbun seluruh kota Thaif. Aku hanya tinggal menunggu persetujuanmu.”

Namun, yang kuterima dari Rasul sangat jauh dari yang kupikirkan. Ia menolak dan malah mencoba meredam kemarahanku.

“Tidak wahai Jibril. Tak apa jika pemimpin mereka menolakku. Siapa tahu anak-anak keturunannya nanti yang bakal menerima ajaran yang kubawa.”

Sungguh takjub aku atas sikapnya. Kusangka Rasul akan patah, namun sedikit pun ia tak pernah goyah. Meski segala pertolongan pastilah datang padanya, tapi ia tak pernah gegabah. Ada saja perasaannya yang berpijak pada keselamatan orang banyak. Dialah sebenar-benarnya pemimpin.

Namun dalam kejadian lain, suatu kali aku pernah melihat Rasul menangis ketika sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Aku sungguh heran. Rasul menangis sebab tak mendengar kabar bahwa seorang perempuan berkulit hitam, Kharqaa’, yang setiap hari menyapu masjid, meninggal dunia.

“Sudah lama aku tak melihat Kharqaa’, ke mana gerangan perempuan itu?” tanya Rasul kepada sahabat-sahabatnya kala itu.

Para sahabat boleh jadi menganggap itu bukan soal penting hingga harus memberitahukannya kepada Rasul. Aku yang juga melihat hal itu, awalnya juga menganggap itu bukan soal penting. Padahal sebagai seorang pemimpin, ia pastinya memiliki urusan lain yang sangat banyak dan lebih penting. Namun, entah kenapa Rasul merasa menyesal dan bersedih ketika tidak mendengar kabar itu lebih awal.

Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub oleh sikapnya. Sebagai wasilah penghormatanku kepadanya haruslah ada laku untuk mengantarkan ke arah sana. Untuk itu, aku merasa harus selalu menyebut-nyebut namanya: Shollallah ‘alaa Muhammad.

Dengan mengingatinya, mungkin akan sedikit meredakan perasaan gelisah ini sebelum benar-benar menjalani harmonisasi lain yang tidak akan sama seperti saat ini atau yang telah lalu. Maka kuberanikan meminta Izroil mengurangi lesatannya yang cepatnya tak keruan itu. Kuyakinkan dia untuk tak terburu-buru. Toh, tak ada beda antara cepat dan lambat. Kalau cepat mau mengejar apa, kalau lambat mau menunggu apa.

“Wahai Izroil, tidakkah lebih baik kita tak terlalu terburu-buru untuk lekas bertemu Kanjeng Rasul?” dalihku padanya.

Izroil tergeragap mendengar ucapanku yang mendadak itu. Lalu, dengan menoleh ke arah belakang, ke arahku tentunya, ia berujar, “untuk alasan apa engkau mengatakan tak terburu-buru?”

“Bukankah Tuhan telah mengatakan kepadamu jika Sang Rasul kita tidak setuju, maka kita pun tak berhak dengan keras kepala melanjutkan tugas kita? Apakah kau tak merasakannya bahwa Tuhan sedang berpolitis kepada kita? Maksudku, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan waktu yang sangat longgar untuk kita, ya sekadar untuk melapangkan dada kita.”

Ucapanku itu tampaknya sedikit memengaruhinya. Buktinya, ia tak lagi melesat dengan lesatan yang keterlaluan kencangnya.

Sambil nyengir, ia berkata, “baiklah, wahai Jibril. Sekalian aku akan mengatur siasat yang paling halus bagaimana meminta izin kepada Beliau.”

“Benar Izroil, benar, kau harus pula memikirkan itu.”

***

Kanjeng Rasul ialah makhluk terbaik. Dialah muasal segalanya tercipta. Dialah alasan kenapa makhluk seperti aku ini tercipta. Dialah perantara. Dialah yang menjaga biji, mengalirkan air sehingga bertunas dan menjulang dengan daun-daun yang lebat-lebat. Dialah yang menumbuhkan rerumputan, merakit cabang-cabang sehingga tanah-tanah tampak tak lagi gersang. Dialah yang mengucurkan mata air, membuat celah-celah di dalam tanah sehingga menyemburlah oase di tengah padang pasir. Dialah yang meniupkan bulir-bulir pencerahan di dalam kepala yang dipenuhi lumbung kegelisahan. Dialah yang membasuh dan membersihkan noktah-noktah kebencian lalu menggantinya dengan akar-akar kepercayaan dan persatuan. Dialah asal muasal. Dialah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang. Dialah yang mengangkat. Dialah yang menuntun. Dialah yang menyelamatkan.

Di tengah pengembaraanku ke masa lalu bersama Rasul, aku pun tak sadar telah sampai di langit lapis pertama. Namun kegelisahan ini tetap saja memenjarakanku. Meski Sulthonul Malaikat ialah tugas yang melekat dalam diri, namun hak untuk merasa gelisah kurasa tak pernah tebang pilih atas tugas yang melekat pada diri tiap makhluk. Gelisah memang gelombang-gelombang daripada episentrum cinta. Wajar bila makhluk yang menahbiskan diri sebagai pecinta, suatu kali bakal merasakan gempa yang menggoyang- goyangkan jiwa.

Untuk hal semacam itu, suatu kali aku pun pernah merasa cemburu terhadapnya. Setelah mengantarnya berisra’, melakukan perjalanan panjang ke seluruh semesta, menembus ruang dan waktu hingga akhirnya menghadap Allah. Namun ketika telah sampai pada pintu menuju arasy Allah, aku tak diperkenankan masuk oleh-Nya. Dan saat itu aku merasa sangat cemburu. Bukan karena pertemuan intim Rasul bersama Allah yang menyebabkan aku cemburu. Melainkan kecemburuanku mengarah pada bakiak yang dikenakan Rasul. Bakiak bisa mengantarkannya masuk dan bersama-sama menemui Allah. Sementara aku, Jibril, hanya boleh menunggu di luar. Coba, siapa yang tak gembira jika menghadap Allah bersama- sama dengan makhluk terkasih seperti Kanjeng Rasul?

Namun semakin kumengingati peristiwa bersama Rasul, jurang-jurang kebimbangan semakin menegaskan ke dalamannya yang memiliki lapisan berlipat. Perlu usaha yang tidak

hanya tepat, namun juga keras untuk melaluinya. Di satu sisi akulah makhluk yang taat, di sisi yang lain aku tak memiliki keberanian melihat seorang yang paling kukasihi menderita. Maka, kukuatkan dan memberanikan diri menolak menemani Izroil untuk turun ke bumi, ke tempat tidur Kanjeng Rasul.

Aku, Jibril, Sang Penyampai Ilmu, kunyatakan bertahan di langit ke satu, walau remuk dadaku menahan gelisah yang tidak menentu. Biarlah Izroil sendiri yang melihatmu menderita wahai Kekasih.

Pada detik ini, aku diminta untuk menemani Izroil untuk… ah, sungguh sulit dan bagiku sangat tidak sopan hanya untuk sekadar mengatakan akan mencabut nyawanya.


Nafi Abdillah, lahir dan tumbuh di Kabupaten Karanganyar. Seorang pembelajar pula di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi tersiar di beberapa media. Beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa disapa melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Cerpen

Perempuan Itu Bilang Aku Mayat

Cerpen Pasini

Perempuan itu bilang aku mayat. Karena wajahku pucat. Maka ia menyuruhku memakai bedak dan gincu. Tapi aku menolaknya. Bukan lewat patah-patah kata yang meluncur dari setangkup bibir. Melainkan merebut peralatan rias dari tangannya. Lalu membanting ke lantai semen.

“Kau sudah gila, ya?”

Begitulah ia. Mayat dan gila hanyalah contoh kecilnya. Perempuan itu bahkan pernah menyebut aku nenek gayung, hanya karena bau minyak angin di tubuhku. Lalu ia mengangsurkan botol parfum. Tubuhku harus wangi ketika bertemu seorang lelaki. Sebelumnya aku sudah bilang pada perempuan itu tidak bersedia. Tapi ia memaksaku. Padahal dengan jelas ia melihat aku memegangi kepala dengan tubuh bersandar pada bangku. Ingin diberi libur. Untuk beristirahat sejenak setelah minum obat dan memborehkan balsem. Siapa tahu setelah itu tubuhku hangat dan bugar kembali. Tidak berkeringat dingin dan gemetar lagi. Tapi nyatanya malah membuatnya memberiku satu julukan baru. Koala gimbal.

Belakangan ini praktis aku kenyang dikatai. Dari aneh kepada mayat. Dari mayat kepada patung. Dari patung singgah ke alien. Hanya karena perempuan itu merasa tak bisa memahamiku. Menurutnya, lebih baik aku belajar menyapukan kuas ke wajah daripada menyambar sajadah dan berangkat ke surau. Terlebih bila aku pulang dan mengulangi beberapa kutipan ceramah dari mulut kiai.

 “Tidak pernah tercatat dalam sejarah, perut orang miskin dapat menjadi kenyang hanya dengan mendengar ceramah orang suci.” Beberapa kali bahkan ia mengembalikan dalam bentuk ceramah-ceramah yang lebih panjang. Meskipun sumbernya bukan dari kitab agama apa pun.

Ingin sekali aku berbalik mengatai perempuan itu kuntilanak atau tukang sihir. Karena ia memang punya tawa yang menyeramkan. Jika saja ada seorang empu bersedia membuatkannya sebuah tongkat sakti berayun, mungkin aku sudah dimantrainya menjadi seekor kodok atau kelinci. Agar ia bisa memakanku mentah-mentah seperti yang dilakukan zombie. Atau bisa juga, memantraiku menjadi seorang kurcaci. Agar ia mudah menendang tubuh kerdilku saat marah-marah dan butuh melampiaskan.

Hanya saja keinginan itu urung kulakukan. Bukan karena aku gentar melakukannya, karena ia lebih tua dariku. Bukan itu. Bukan juga karena aku memegang teguh isi kutipan ceramah dari mulut kiai. Tapi karena perempuan itu pasti akan memperbanyak julukanku setelah itu, dan aku membencinya. Tidak ada satu pun dari panggilan-panggilan baru yang disematkannya memiliki makna yang bagus. Sekali waktu aku pernah merasa heran, kenapa ia mesti memberiku nama ‘Fitri Ayuningtyas’ dua puluh satu tahun silam jika pada kenyataannya pemberian itu berakhir mubazir.

Untungnya perempuan itu banyak pergi. Kami jadi tidak punya waktu berdebat panjang-panjang. Sering sudah ada seseorang yang menunggunya dengan tidak sabar. Memanggil dengan berteriak jika kebetulan ada di ruang tamu. Atau membunyikan klakson jika tengah memarkir kendaraannya di pertengahan halaman. Perempuan itu dibawanya dan baru pulang selang beberapa jam. Bahkan sampai hitungan hari.

Dari dulu pun aku dan perempuan itu memang tak banyak saling bicara. Hubungan yang datar. Dan aku menyukai itu. Bayangkan jika aku tumbuh banyak bicara sepertinya. Tentu sudah banyak orang yang kukatai. Anjing, babi, atau mungkin tahi.

Selama ini yang terjadi, aku hanya bergeming saja ketika perempuan itu mulai memuntahkan peluru kata. Apa saja tertampung di telingaku bagai tiada beda. Hal buruk atau sebaliknya.

 “Kau kerja bagus kemarin. Memuaskan,” katanya suatu kali, sambil mengibarkan lembar-lembar uang berwarna merah. Aku membuang muka. Benda itu tidak lagi memantik nyala di hidupku. Mungkin benar adanya aku memang telah meniti jalan menuju mayat. Beku, bisu, acuh.

Aku pernah berandai jika saja lelaki penyabar itu tidak dini pergi dari hidup kami. Seandainya maut tidak mengambilnya terlalu cepat. Tentu perempuan itu masih menjadi perempuan penyedia kopi di pagi hari. Masih memakai daster kembang-kembang dengan warna beranjak pudar dan berlubang di beberapa bagian. Wajahnya polos tanpa riasan. Ia masih akan bergelut dengan baju kotor dan debu-debu di lantai. Keringatnya berleleran. Tapi entah mengapa lelaki penyabar yang sekaligus suami setia itu tidak rikuh merangkulnya. Perempuan itu kemudian bermanja-manja. Aku mengembangkan senyum dari balik pintu.

Lelaki itu telah pula menjadi ayah terbaik di planet bumi, bahkan mungkin sampai ke galaksi andai luar angkasa juga dihuni kehidupan dengan konsep pernikahan. Ia suka mengangkat badanku tinggi-tinggi jika sedang bahagia. Aku kegelian. Ia semakin lebar tertawa. Mungkin hendak didekatkannya aku dengan langit, tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan.

Tapi sayang jasad lelaki itu telah terbekap bumi. Mereinkarnasi perempuan itu sebagai seseorang yang berbeda. Gemar berkaca. Pintar merayu. Mulai merokok. Tidak lagi suka mencuci dan menyapu. Badannya benar-benar bak mandi bunga. Satu lagi. Ia terlahir kembali sebagai seseorang yang suka mengatai.

 “Kau batu, ya?” teriaknya. Itu adalah hari ke sekian dan aku belum memberikan jawaban. Perempuan itu bilang kulitnya tak lagi kencang. Kerut-kerut dipahatkan waktu ke wajahnya yang semula tanpa cacat dan cela. Ia juga bilang, mulai susah mendapatkan tamu kini. Ada dua saja dalam sehari, ia sudah cukup lega. Kupu-kupu muda mulai bermunculan dari sebab rupa-rupa. Ekonomi sampai tuntutan gaya hidup penuh gengsi. Ia tidak menggairahkan lagi. Ia tidak bisa bermetamorfosa menjadi sesuatu yang menarik lagi.

Seorang lelaki paruh baya dibawanya ke rumah pada suatu hari. Perempuan itu memintaku menghidangkan kopi. Aneh sekali. Padahal biasanya ia buru-buru memintaku pergi setiap kali ada lelaki bertamu ke rumah kami.

 “Seperti kuncup bunga, kan?” tanya perempuan itu kepada lelaki tamu. Tangannya melingkar manja di bahu si lelaki. Aku betul-betul jijik, menyamai jijikku pada seekor lalat hijau yang mengencingi sarapanku tempo hari.

 “Aku berani membayarnya mahal,” kata lelaki lalat hijau pada perempuan itu. Tidak cukup berbisik. Buktinya aku masih bisa mendengarnya. Aku terpana. Aku tak percaya. Aku berlari ke kamar dan perempuan itu tidak mengejarku. Tidak membujukku serupa mendiang ayah dulu ketika aku sedang marah atau kesal atas sesuatu.

Dan lelaki paruh baya itu akhirnya menjadi lelaki pertama yang menyentuhku. Setelah perempuan itu berkali-kali menyebutku batu. Ia bilang sudah waktunya pensiun dan ada yang menggantikannya.

Dulu perempuan itu pernah menjadi buruh upah sesaat setelah keberpulangan ayah. Aku baru di tingkat kedua sekolah menengahku. Seorang perempuan datang ke rumah kami dengan marah-marah. Menunjukkan daftar angka dan meminta perempuan itu segera melunasinya. Ia menghiba. Tapi perempuan tamu justru semakin leluasa menghina.

 “Kau belum terlalu tua. Tubuhmu itu masih laku,” ucapnya dengan sinis. Meludahi wajah perempuan itu sebelum pergi dan berjanji akan datang seminggu lagi.

Perempuan rentenir tadi bagai cenayang saja. Tak lama setelah itu, rumah kami memang benar-benar sering didatangi lelaki. Lalu perempuan itu diajaknya pergi. Pulangnya membawa uang yang banyak dan baju-baju bagus. Aku tak berkata apa-apa. Tak bertanya apa-apa. Sebuah rasa tidak selalu menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili. Aku kecewa, aku malu, aku sedih, juga sakit. Tapi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

Tuli, buta, dungu, silih berganti melompat keluar dari mulut kotor perempuan itu. Ketika aku tidak segera datang saat dipanggilnya. Juga ketika aku tidak segera menyiapkan air hangat sesaat setelah ia pulang ke rumah dengan mulut bau alkohol dan badan penuh keringat.

Tapi perempuan itu juga pernah memuji. Saat seorang lelaki membayarku dengan harga lebih tinggi. Ia istirahat mengumpat. Meski sebentar saja. Sebelum kemudian mulai mengatai lagi. Terlebih akhir-akhir ini, setelah aku menolak melayani lelaki. Kardus, otak udang, lalu mayat lagi.

***

Aku masih bergelut dengan kemelut. Beberapa menit berlalu dan pelukan selimut tidak menyembuhkanku. Aku tetap merasa kedinginan. Sepi dan sendirian. Perempuan itu belum pulang diantar lelaki tamu.

Cermin membiaskan wajahku yang pucat. Pantas perempuan itu sering mengataiku mayat. Bedak dan gincu yang tadi berserakan di lantai telah kuberesi. Kusandingkan dengan botol parfum. Tapi tak sedikit pun niatku merapikan diri jelang kedatangan seorang lelaki. Sebelum pergi tadi, perempuan itu sempat bilang akan ada yang menjemputku satu jam lagi. Ia sudah menerima pembayaran di muka dan tidak bisa dibatalkannya. Aku dipintanya untuk segera menyiapkan diri.

Lalu aku membatu di tepian jendela. Pandanganku singgah kepada apa saja. Bujur-bujur pohon di jalan. Kubayangkan, ia pasti mengaduh kesakitan saat harus merelakan helai daun dan ranting berguguran. Juga burung berkicau yang bertengger pada salah satu dahannya. Ia pasti kecewa ketika pepohonan yang menaunginya ternyata lupa menyediakan buah dan biji bakalnya disantap. Sementara temboloknya begitu berharap.

Kembali ke kamar, mataku singgah pada senyum ayah di dalam pigura. Ia tampak bahagia. Mungkinkah ia memang begitu senang setelah menjadi mayat sekarang?

Mayat. Tiba-tiba pikiranku seperti dipaku pada kata yang akhir-akhir ini sering diucapkan perempuan itu. Aku mulai tidak membenci panggilan tadi. Kini justru melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda, sebagai sesuatu yang bisa membebaskan luka. Karena sejatinya, sedih dan sakit hanya milik yang hidup saja. Seperti pohon dan burung tadi. Juga diriku kini. Berbeda dengan mayat yang tidak mampu lagi disentuh rasa.

Jarum waktu terus berlalu, tapi kata yang sama masih tertinggal di pikiranku. Terngiang-ngiang serupa perintah agar menggerakkan tangan mengambil benda pipih dan tajam dari atas meja, persis bersebelahan alat uji kehamilan dengan garis berwarna merah muda sejumlah dua. Kunikmati dengan mata terpejam saat pipih tajam itu merajah nadiku. Sambil kubayangkan bagaimana wajah perempuan itu nanti saat melihat tubuhku terbujur kaku. Mungkin ia senang karena kata-katanya menemui pembuktian. Siapa tahu setelah ia benar-benar tak laku sama sekali, bisa mempertimbangkan profesi cenayang sebagaimana perempuan rentenir dulu.

Atau sedih, mungkin? Karena kehilangan mesin uang.

Lorong labirin semakin berliku. Serupa jalan yang entah kapan bisa mengantarkan pada tujuan. Tidak lagi wajah perempuan itu yang tampak karena ia telah kutinggalkan di belakang. Melainkan ayah sekarang. Berdiri menungguku di kejauhan sambil melambaikan tangan. Senyumnya sama seperti yang kulihat di dalam pigura.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Simbok

Cerpen Kesit Himawan

Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.

***

Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini

“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.

Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku  terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.

Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.

… Kembali sayup kudengar

di doa ibuku, namaku disebut

di doa ibuku dengar, ada namaku disebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang

Namun kasihnya padaku selalu kukenang…

Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.

“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****


Kesit Himawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Cerpen

Pulang

Cerpen A. Muhaimin DS

Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.

Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi  perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.

“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”

Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.

“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”

“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”

“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”

“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”

“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”

“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”

“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”

“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”

“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”

“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”

“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”

***

Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.

Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.

“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”

Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.

Bagaimana caranya?

Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.

“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.

Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.

Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.

“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.

“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”

“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”

“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”

Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.

***

“Sudah siap melamun lagi Tar?”

Ngrokok dululah.”

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”

“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”

“Khawatir tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”

“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”

Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.

Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.

***

Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.

Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).

Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.

Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.

“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”

“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”

“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”

“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”

“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”

Nganjuk, 4 Mei 2022


A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook  Abdul Muhaimin

Cerpen

Multatuli

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon

Jakues menatap mikrofon yang berdiri di hadapannya. Kepala mikrofon yang bulat dan perak, mengingatkan Jakues pada bola besi yang memborgol kaki seorang budak bernama Addictus dalam sebuah kisah dari Romawi Kuno.

Nada-nada hip-hop berputar secara otomatis. Bunyi-bunyi yang mengusungnya, terekam secara digital menjadi sebuah komposisi musik. Kesan perlawanan mengambang seperti udara kental. Badan Jakues berayun-ayun ke depan dan ke belakang, seolah tulang punggungnya terbuat dari batang gandum.

“Sejarah proletar / ditulis dengan darah dan anggur…”

Penonton pecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan tarian pogo, dan kelompok kedua melakukan breakdance. Di antara mereka, ada lagi kelompok ketiga yang berperan sekadar menjadi tim hore dengan menyalakan cerawat dan mengaktifkan bom asap yang memagari tempat pertunjukan berlangsung. Asap-asap membubung, ditepis para pejalan kaki yang melintas di atas jembatan.

Suara mesin kendaraan dan klakson menjadi instrumen musik insidental, yang berfungsi sama seperti hentakan kaki para penonton.

“Modernitas mengeras di kepalaku / bagai batu vulkanik yang tersesat / di sebuah piknik masa depan / sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

***

Beberapa penonton duduk di tepi jalan sempit bawah jembatan itu, yang di dekatnya, sungai mengalir seperti garis-garis partitur. Pasukan mural memberikan olesan warna terakhir pada gambar di dinding yang tersambung dengan badan jembatan; tergambar sosok makhluk berkepala babi mengenakan seragam polisi. Bagian matanya ditutupi semacam kain, persis seperti yang dikenakan oleh patung Themis dari mitologi Yunani.

“Wartawan dari majalah kiri mau minta wawancara,” kata Helena, seraya membuka tutup botol minuman. Lantas menuangkan isinya ke mulut Jakues, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Kamu mengundang mereka?” tanya Jakues, selesai menenggak.

Helena mengangguk. Anggukannya kecil, nyaris tak terdeteksi sebagai jawaban yang berarti ‘ya’.

Wartawan itu datang sendiri. Dia sedang mengamati barang-barang di lapak merchandise milik Jakues. Dari caranya memerhatian setiap barang yang dilalui matanya, wartawan dengan lingkaran mata cekung itu sepertinya sedang mencari pertanyaan tambahan untuk Jakues di luar dari yang sudah dibawanya.

Saat dipanggil, wartawan itu berjalan di belakang Helena, dengan gelagat antusias yang ganjil.

“Jakues, perkenalkan, dia wartawan paling diandalkan di majalah kiri.” Ferdinan membungkuk, memberi hormat, seraya diperkenalkan oleh Helena, sebelum mengambil posisi duduk bersila di depan Jakues yang bersandar ke dinding. “Dan Ferdinan, mungkin ini pertama kalinya kamu melihat Jakues secara langsung. Tapi seharusnya, bagi wartawan dari majalah kiri sepertimu, nama Jakues tidaklah terlalu asing.”

Jakues mengamati gerakan bola mata Ferdinan yang sekonyong-konyong liar. Pertama-tama, wartawan itu seperti tertarik pada topi beanie kuning yang dikenakan Jakues. Ada tulisan “penjara” menempel pada bagian depan topi itu. Saat membacanya secara sekilas, Ferdinan menyeringai. Bola matanya kemudian mengarah ke kaus kutang yang membungkus badan Jakues. Di dada kiri, tercetak tulisan: “ada konser musik di dalam sini”.

Ferdinan menghentikan pengamatan. Dia buru-buru mengingat tujuannya datang saat menyadari kemungkinan Jakues merasa sedang diteliti. Ferdinan pun membuka percakapan dengan sedikit gelapan:

“Saya suka semua merchandise yang anda jual.”

“Belilah kalau begitu,” kata Jakues.

“Belum gajian.” Ferdinan tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang kecil dan rapat. Juga kuning, khas gigi seorang perokok.

“Tidak sambil merokok?”

Ferdinan mengulang jawaban yang sama. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia membuka buku catatan dan meraih pulpen dari dalam tote bag. “Boleh saya mulai?” tanyanya.

“Tentu, usahakan pertanyaannya yang sederhana saja.”

Jakues melempar sebuah isyarat pada Helena yang duduk di sampingnya. Helena menangkap isyarat itu, lalu mengambil botol minuman, dan pelan-pelan menuangkan isinya ke mulut Jakues, sekali lagi, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Apakah ini akan menjadi tour terakhir anda?”

“Sebenarnya saya tak terlalu suka menyebutnya sebagai tour, tapi bagaimanapun, apa yang saya lakukan memang tampak seperti itu. Dan benar, ini yang terakhir. Selanjutnya saya mau istirahat untuk waktu yang lama.”

Ferdinan mencatat penjelasan Jakues secara garis besar. Dia menunggu kelanjutan penjelasan.

“Alih-alih menyebutnya sebagai tour, saya lebih senang kalau orang-orang mengenalnya sebagai perjuangan Multatuli.”

“Multatuli?”

“Betul, Multatuli. Berasal dari bahasa latin yang berarti; aku sudah banyak menderita.”

Ferdinan menarik udara melalui mulutnya. Tarikan itu membuat tubuhnya bergerak mundur, seperti ditarik oleh tangan yang lembut. Dia berusaha keras untuk mengendalikan pandangan. Tetapi bola matanya tetap bergerak melihat bagian kiri dan kanan tubuh Jakues yang seharusnya ditumbuhi lengan.

“Anda sudah mengerti yang saya maksud?” tanya Jakues.

Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan mereka berdua, seakan menghindar dari kobaran api yang muncul dari retakan bumi.

Suasana di bawah jembatan semakin ramai. Tidak semua orang datang untuk menonton seorang rapper buntung menyanyi. Kehidupan di bawah jembatan itu sudah seperti kebudayaan dari planet lain. Berbagai kegiatan yang tak pernah tampak di kota di atasnya terjadi di sana. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, bertukar pasangan untuk melakukan seks, hingga diskusi-diskusi yang mengarah pada rencana kudeta dan mengganti sistem kenegaraan dengan situasi baru yang cenderung anarki, adalah pemandangan yang biasa ditemukan di bawah jembatan. Walau rombongan polisi sering pula membubarkan pemandangan itu, mereka tetap saja muncul kembali. Seperti siklus terbit-tenggelam matahari.

Seakan membaca ekspresi Ferdinan yang menyerupai puzzle belum lengkap, Jakues menambahkan: “Kondisi saya ini bisa disebut malformasi lengan. Sebabnya bisa diduga-duga. Dulu ayah saya bekerja sebagai penjaga tempat pembuangan mobil bekas, sedangkan ibu saya bekerja di pabrik lem kaleng. Menurut cerita ibu, yang meneruskan analisis dokter, malformasi lengan yang saya alami disebabkan oleh faktor dari apa yang dimakan, diminum, dan dihirup ibu saya. Dari latar belakang pekerjaan kedua orangtua saya saja, kita bisa mengira-ngira bahwa potensi malformasi lengan bukan tidak mungkin dapat terjadi pada saya. Singkat cerita, saya lahir seperti ini dan mereka tetap membesarkan saya sebagaimana orangtua pada umumnya. Tetapi entah kenapa, saya malah tak ingin terus-menerus hidup bersama mereka. Di usia lima belas, saya pergi meninggalkan rumah kami yang berada di dalam area tempat pembuangan mobil bekas, lalu mencoba ini-itu untuk bertahan hidup sendiri. Atau lebih tepatnya, mencari esensi hidup dengan menjadi gelandangan.”

 “Apakah karena itu juga, anda hanya menjual kaus kutang?” tanya Ferdinan. Pandangannya sempat berpaling ke lapak merchandise, kemudian kembali berhadapan dengan buku catatannya.

Jakues sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ferdinan. Bukan karena Ferdinan sudah mencela kondisi fisiknya secara tidak langsung, melainkan karena wartawan itu seperti tak memedulikan penjelasan panjang yang sudah diuraikan Jakues. Namun karena malas mencari perkara, Jakues cuma menjawab: “Begitulah.”

“Lalu bagaimana anda bisa mengenal musik?”

“Anda tahu, beberapa mobil yang dibuang ke tempat pembuangan sebenarnya masih bisa digunakan. Setidaknya radio di dalam mobil-mobil itu masih aktif. Ayah sering mengajak saya mendengar acara-acara musik yang berlangsung di radio. Meski kelakar para pembawa acaranya kadang tak saya mengerti, selera musik mereka tetap tak bisa dianggap remeh. Selalu bagus, menurut saya. Kadang kalau ayah sedang kebetulan sibuk melakukan pekerjaan lain sampai tak punya waktu bersantai, saya akan melakukannya sendiri…”

Ferdinan mengerenyit, tidak percaya.

“Saya bisa menggunakan kaki untuk membuka pintu mobil dan menyalakan radio,” kata Jakues, berhasil membaca isi pikiran Ferdinan.

“Anda tidak takut ditangkap polisi karena punya musik terkesan terlalu subversif?”

Sesaat sebelum menjawab, seseorang mendatangi Jakues, meminta paraf di kaus kutang putih yang dibelinya dari lapak merchandise. Sambil membubuhkan paraf dengan menjepit spidol menggunakan jari kakinya, Jakues menjawab:

“Sedikit. Tapi apa boleh buat, saya Multatuli. Penderitaan atau yang semacam itu adalah esensi hidup saya.”

Orang yang meminta paraf itu pergi.

“Apa judul lagu yang anda bawakan terakhir tadi?”

“Kejahatan modernitas.”

“Apakah kebanyakan lagu anda bersikap anti-modernitas?”

“Di dalam cangkang modernitas, bahasa bergerak menindas kaum-kaum lemah. Makna yang diproduksi pabrik bahasa modernitas, hanya berpihak pada borjuis dan senantiasa hadir untuk kepentingan mereka. Saya, bersama musik yang saya bawa, ingin membuat bahasa sebagai sesuatu yang independen. Kalaupun perlu tidak independen, bahasa harus berpihak pada kaum-kaum lemah…” Seolah teringat sesuatu, Jakues mengerem penjelasannya: “Pokoknya begitulah.”

Saat mendengar penjelasan Jakues, Ferdinan beberapa kali tertangkap memperhatikan Helena. Mulanya Helena sedang berdiri membelakangi mereka. Tapi mungkin karena ia merasakan tatapan Ferdinan menusuknya dari belakang, Helena berbalik badan, dan mengangkat salah satu alisnya. Tidak spesifik untuk siapa tanda sapaan itu dikirim. Namun Jakues merasa sapaan itu melambung ke arah Ferdinan.

Seakan tak menyembunyikan apa-apa, Ferdinan berbicara:

“Berhubung saya bekerja di majalah kiri, saya sependapat dengan anda. Bahwa bahasa mestinya berpihak pada kaum lemah. Sebenarnya apa pun di dunia ini memang harus berpihak pada mereka. Namun saya kira bahasa tidak pernah tidak independen. Bahasa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Ada pun makna yang lahir di balik tabir bahasa cenderung mengarah pada kelompok yang bukan kelompok lemah, saya yakin, itu pasti cuma bersifat sementara. Karena demikian, bahasa itu dikatakan independen. Mungkin, bahasa bisa menjadi milik semua orang, tapi sekaligus bukan milik semua orang. Bagaimana ya menyebutnya – umpama anak gelandangan yang mencoba berbagai hal untuk bertahan hidup dengan semangat oportunis dan, menerima semua belas-kasih orang-orang yang ingin menolongnya. Tapi tak berarti dia ingin dimiliki, kan?” Setelah selesai menjelaskan, Ferdinan mengetuk-ngetuk giginya dengan pulpen. Seolah-olah penjelasannya adalah keluarga kata yang tinggal di dalam mulutnya, dan hanya akan keluar bila pintu rumah mereka diketuk. Tetapi tak ada lagi penjelasan yang keluar. “Maaf, saya sepertinya terlalu banyak bicara.”

Jakues tidak berkata apa-apa. Kini ia mendeteksi bahwa wartawan yang memiliki bola mata cekung dan susunan kumis berantakan di hadapannya tidak benar-benar ingin melakukan wawancara. Ada maksud lain kenapa wartawan itu datang. Maksud lain itu sepertinya berhubungan dengan sikap dan perilakunya yang seakan lebih tertarik dengan keberadaan Helena. Perempuan yang menjadi pacar Jakues sejak dua tahun lalu. Helena adalah seorang breakdancer, sekaligus penggemar Jakues yang mengikuti perjalanan karirnya sebagai “Multatuli”. Singkatnya, mereka akhirnya saling mengenal dan saling memahami, hingga memutuskan berpacaran. Helena juga berperan sebagai semacam manajer yang mengatur jadwal perjalanan Jakues, dan mengurus keuangan dari hasil penjualan merchandise. Di samping itu, nama Helena semakin terkenal setelah diketahui berpacaran dengan Jakues yang dapat dikategorikan sebagai artis “bawah tanah”. Bahkan lama-kelamaan pamor Jakues justru bergantung pada sosok pacar cantiknya itu.

“Anda mengenal pacar saya?”

Jakues menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. Ia menyeringai menyaksikan reaksi Ferdinan yang seakan berkata bahwa dugaan Jakues lebih dari sekadar betul.

Ferdinan diam sebentar, menimbang-nimbang kata yang akan digunakan untuk menjawab.

“Sejujurnya, kami dulu pernah berpacaran. Kisah lama sepasang mahasiswa, rasanya tak terlalu sopan untuk dikenang lagi. Setidaknya untuk sekarang. Maafkan saya sulit berusaha jujur sejak awal.”

“Tidak masalah, kawan.” Ingin rasanya Jakues menahan reaksi tubuh Ferdinan yang tak mengenakkan itu dengan tangan. Seandainya bisa.

Di saat-saat seperti ini, terkadang, Jakues kasihan kepada dirinya sendiri karena kondisi tubuhnya yang tidak lengkap. Kondisi yang membuatnya tak pernah bisa mengarahkan ritme tarian penonton dengan gerakan melambai-lambaikan sebelah tangan sembari tangan satunya memegang mikrofon. “Apakah Helena sudah jago ngeseks sejak dulu?” tanya Jakues. Bermaksud mencairkan kecanggungan yang membeku di wajah Ferdinan.

“Saya rasa tidak.”

Mereka tertawa bersamaan. Helena mengerenyit dari jauh, menerka-nerka arah pembicaraan Jakues dan Ferdinan.

“Dia paling suka gaya apa?” tanya Jakues. Spontan tanpa berpikir.

“Doggy style,” jawab Ferdinan. Cepat. Bahkan sebelum pertanyaan Jakues dilengkapi dengan kata ‘apa’.

Jakues sontak mengingat saat dirinya melakukan “doggy style” dengan Helena. Mereka memang jarang menggunakan gaya itu, karena Jakues tak mungkin bisa melakukannya secara sempurna. Gerakan itu akan lebih lengkap kalau bagian pinggul perempuan ditarik maju-mundur saat melakukan penetrasi. Mengingat bahwa ia tak mampu melakukannyasecara sempurna pada Helena, gambaran sosoknya yang tercetak di ingatan itu menghilang. Digantikan dengan sosok Ferdinan. Bagaikan sobekan foto yang menemukan sambungan baru.

“Saya rasa anda tak dapat melakukan yang seperti itu, kawan,” kata Ferdinan, seraya menyeringai, yakin telah berhasil membaca isi pikiran Jakues.

“Sepertinya anda terlalu jujur, kawan,” kata Jakues. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi ketersinggungan.

Helena tiba-tiba berjalan ke arah mereka dengan langkah yang agak cepat. Ia memberitahukan bahwa polisi dikabarkan akan segera datang. Tak ada kesan kepanikan pada wajah kerumunan orang-orang di bawah jembatan itu. Dengan santai mereka menyembunyikan barang-barang yang sekiranya akan dipermasalahkan oleh polisi, bagai tupai yang menyembunyikan kacang untuk persiapan musim dingin.

“Mereka mengincarku,” kata Jakues.

Setelah menyampaikan kabar tersebut, Helena lantas pergi mengemasi lapak merchandise. Cuma sedikit barang yang mereka bawa selama “tour”, selain merchandise, perlengkapan mandi, dan pakaian ganti sekadarnya. Rekaman musik yang mengiringi Jakues beryanyi tersimpan dalam flashdisk. Sementara alat-alat lain yang diperlukan untuk sebuah konser kecil – seperti sound system, mikrofon, laptop, dan sebagainya – selalu disediakan oleh kelompok-kelompok bawah tanah yang mereka kunjungi.

“Sepertinya mereka juga akan menangkap anda, mengingat kita berada di sayap yang sama,” ujar Jakues, sambil membaca tulisan “majalah kiri” di tote bag Ferdinan.

Ferdinan mengangkat bahunya. Seolah peringatan yang barusan dikatakan Jakues adalah sesuatu yang biasa dia dengar.

Tak lama setelah Helena selesai mengemasi barang-barang, polisi sudah tiba di dekat tebing yang mengarah ke bawah jembatan. Sebelum membantu Jakues berdiri seperti membangunkan sebuah boneka peraga di toko baju, Helena sempat bersitatap dengan Ferdinan. Tatapan yang bermakna dalam sampai-sampai tak bisa dikatakan sebagai sekadar salam perpisahan.

Helena dan Jakues berlari ke arah yang berlawanan dengan arus sungai yang memantulkan cahaya kekuningan matahari sore. Agak jauh di belakang, Ferdinan terpaku sambil memandang ke arah mereka.

Helena terus memandang ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia berlari sambil memikul tas carrier berisi merchandise dan perlengkapan perjalanan. Kendati mungkin, ia merasakan punggungnya dihujam tatapan Ferdinan dari jauh. Jakues menyadari suasana itu, dan seketika beryanyi dalam hati: “Sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

Seraya berusaha mengimbangi kecepatan langkah Helena yang berlari di depannya, sesekali Jakues menengok ke belakang. Menengok kekacauan yang sengaja dibuat pasukan “bawah tanah” agar polisi mengabaikan keberadaan Jakues dan Helena. Tetapi bukan pemandangan itu yang bersarang di kepala Jakues. Sekarang, sembari berlari, dia justru membayangkan bahwa, dirinyalah yang semestinya diborgol polisi, bukan Ferdinan. Sedangkan Ferdinan, mungkin akan lebih cocok berlari bersama Helena sambil bergandengan tangan menuju arah yang berlawanan dengan arus sungai. Namun tentu saja Jakues segera tersadar, kalau semua itu tak mungkin terjadi. Dia tak punya tangan untuk diborgol, dan juga tak punya tangan untuk digandeng saat berlari.

Jakues tetap berlari bersama Helena. Sekencang-kencangnya. Seolah kakinya baru saja terbebas dari bola besi.****


Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai wartawan. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.