Cerpen

Datanglah ke Talang Siring, Begitu Katanya Selalu

Cerpen Mahrus Prihany

Setiap bertemu dengan Sabri, ia selalu berkata padaku satu kalimat singkat yang sama. Mulanya aku tidak mengindahkannya. Namun pada setiap perjumpaan dia akan mengatakannya, hingga aku menjadi yakin jika dia memang sengaja dan pastilah memiliki maksud tertentu.

“Datanglah ke Talang Siring,” kata Sabri. Aku mendengar ucapan itu pertama kali tujuh tahun lalu. Aku tak memedulikan kala itu. Tak ada juga pikiran macam-macam ketika mendengarnya. Sabri, teman sekampungku itu mengatakannya dengan serius. Bahkan pernah tiga kali diucapkan pada kesempatan yang sama, saat kami bertemu di warung bakso yang terletak di pasar.

Pada lebaran berikutnya, saat aku pulang kampung, bertemu Sabri lagi di warung bakso tersebut. Warung Mbok Lamin itu memang tempat biasa kami mangkal saat aku mudik. Di warung itu, kami tak hanya makan bakso, tetapi juga minum kopi sambil berbincang dengan beberapa anak muda yang menjadikan warung itu sebagai base camp. Di warung itu, aku bisa bertemu dengan banyak teman yang rumahnya jauh-jauh, seperti Sabri. Meski begitu aku jarang mudik karena harus menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang.

Sabri mengucapkan kalimat itu lagi yang kali ini terdengar lebih serius. Roman mukanya menunjukkan tidak sedang bergurau. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil, setelah itu aku bercanda dengan teman-teman yang lain. Sabri tak beranjak dari tempatnya, tapi tidak lantas bergabung dengan kami yang asyik bercanda. Beberapa waktu kemudian, Sabri pamit, setelah mengucapkan kalimat itu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. 

Dua lebaran berikutnya, saat aku tinggal menunggu wisuda, aku bertemu Sabri lagi. Dia mengucap kalimat yang sama. Ini berarti tahun keempat Sabri sengaja mencari dan menemuiku di warung Mbok Lamin. Perempuan itu menceritakan padaku jika Sabri sering bertanya tentangku. Jika Sabri mendengar aku mudik, ia akan menungguku di warung itu.

“Aku sungguh-sungguh, Fer. Datanglah ke Talang Siring.” Sabri kali ini mengajakku bicara serius dengan meminta waktu khusus. Aku tinggalkan beberapa teman yang sedang asyik mengobrol denganku.

“Kenapa kau menyuruhku datang ke sana, Sab?”

“Ferdi, apa kau benar-benar telah lupa?” Sabri balik bertanya dengan nada terperanjat.

“Ya. Aku memang tak tahu apa maksudmu.” Sabri melenguh panjang mendengar jawabanku.

“Seseorang menunggumu di Talang Siring. Ia benar-benar menunggumu”

“Siapa, Sab?” Kulihat Sabri terdiam. Aku kemudian mengingat-ingat, memang ada satu nama yang samar membayang di pikiranku. Jika tak salah, ia berasal dari Talang Siring. Aku tak mau menebak-nebak, memastikan dahulu jawaban dari bibir Sabri.

“Sita. Nama lengkapnya Sita Masita. Apa kau lupa nama itu? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana,” terang Sabri.

“Aku tak punya waktu lagi, Sab. Besok aku akan kembali ke seberang, setelah itu aku akan mulai bekerja di perusahaan di sana juga.”

“Kita bisa ke sana sekarang. Aku bisa mengantarmu. Sebentar saja.” Nada Sabri terlihat lebih seperti memohon, bukan paksaan.

“Aku tak bisa, Sab. Banyak yang harus kupersiapkan sekarang ini.”

“Kalau begitu, lebaran tahun depan. Aku akan sampaikan pada Sita Masita.”  Aku terdiam, tapi pikiranku melayang-layang.

“Aku tak janji, Sab.” Aku mulai disesapi rasa bersalah tapi coba kusembunyikan.

“Boleh aku minta nomor ponselmu? Biar Sita bisa menghubungimu.”

“Ah maaf, aku tak sedang membawa ponsel, sedang kuisi daya baterainya di rumah.” Aku katakan pula jika aku tak hafal nomor ponselku. Sabri tampak tak percaya, tapi ia seperti berpikir. Aku sendiri sengaja mencari cara untuk menghindar darinya. Aku bilang padanya, aku mau pergi untuk mencari oleh-oleh yang akan kubawa ke kota esok. Sungguh pikiranku memang mulai terusik dengan nama Sita dan Talang Siring.

“Tunggu bentar,” kata Sabri, lantas berlalu meminta lembaran kertas dan meminjam pulpen pada Mbok Lamin. Ia menulis sesuatu di kertas itu. “Ini nomor Sita. Segeralah hubungi dia,” Aku menerima lembaran itu lalu berpamitan padanya.

***

Samar, pikiranku mulai mengingat Talang Siring dan Sita Masita. Sita berusia dua tahun di bawahku. adik kelasku dua tingkat namun kami beda sekolah. Saat SMA, aku sekolah di kota kabupaten yang jaraknya dua jam perjalanan dari kampungku. Aku biasanya pulang kampung satu atau dua sekali, begitu juga Sita. Kampung kami terletak di pedalaman dan memang belum ada SMA.  

Aku duduk di kelas tiga pada semester kedua dan Sita duduk di kelas satu saat aku iseng memacari perempuan itu. Bagiku memacari Sita hanyalah sekadar selingan atau hiburan. Aku sudah punya pacar di kampungku. Tapi sifat play boy-ku kadang kumat. Sita anak yang ramah dan baik Ia tinggal indekos tak jauh dari tempatku indekos. Jadi cocoklah jika Sita menjadi teman dekat yang bisa kuajak ngobrol atau jalan. Masa SMA memang paling indah untuk dinikmati.

Aku tak tahu di mana kampung Sita, tapi dia dulu sempat cerita bahwa ia berasal dari Talang Siring. Aku sendiri belum pernah datang ke kampung itu. Ketika aku pulang kampung, sebenarnya melewati tugu kecil Talang Siring di pinggir jalan. Namun kampungnya masih masuk ke dalam lagi beberapa kilometer. Kampungku sendiri masih jauh dari tugu kampung itu.

Pada saat kelulusan sekolah, Sita sempat menemuiku di indekos, dan ingin main ke kampungku, tentu saja aku tak mengizinkannya. Aku tak ingin Linda, pacarku di kampungku tahu keberadaan Sita. Bisa berbahaya. Setelah itu aku melanjutkan di perguruan tinggi pulau seberang. Aku sengaja tak mengabari Sita Masita. Aku mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya. Aku benar-benar melupakannya, sibuk dan asyik dengan petualanganku sendiri.

***

“Kenapa kau belum juga menghubungi Sita, Fer? Sudah tiga tahun sejak aku memberimu nomornya. Sita selalu bertanya tentangmu.”

“Kertas yang kau berikan padaku terselip entah di mana sebelum aku sempat memindahkan ke ponselku.” Aku jawab sebisa mungkin pertanyaan lelaki itu. Ini adalah lebaran tahun ketujuh Sabri menemuiku.

Aku telah bekerja di perusahaan ibu kota. Belum lama aku bekerja, pandemi menghantam bumi. Dua kali lebaran aku tak bisa mudik karena ada larangan dari pemerintah. Lantas aku bekerja dari rumah. Bersyukur aku masih bisa bekerja sementara banyak rekan lain terpaksa dirumahkan.

“Bagaimana jika sekarang kau datang ke Talang Siring? Aku siap menemanimu.” Entahlah kalimat sama yang sering Sabri katakan ini menjadi sesuatu yang sangat mengusikku. Aku sebenarnya sangat tak ingin mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Sita  menghantuiku. Aku merasa bersalah, tapi aku benar-benar ingin melupakannya.

Aku tak mau bertanya pada Sabri tentang Sita dan Talang Siring. Nama kampung itu belakangan mulai terngiang-ngiang di telingaku. Meski aku bisa menduga-duga, namun kisahku dengan Sita sudah cukup lama. Itu juga serupa peristiwa yang sekadar lewat saja. Selain itu hubunganku dengan Linda akhirnya putus, dan aku semakin asyik dengan diriku sendiri.

“Datanglah ke Talang Siring. Setidaknya sekali untuk terakhir. Temui Sita. Aku siap menemanimu.” Sabri memberi penekanan pada kalimatnya. Kalimat Sabri cukup menusuk jantungku. Tapi aku merasa tak ada gunanya lagi ke sana.

“Maaf Sab. Aku tak bisa. Aku telah memiliki kekasih di kota. Aku akan menikah dengannya tahun depan,” jawabku tegas. Aku memang tak ingin bertanya mengapa Sabri segigih itu memintaku datang ke Talang Siring. Aku ingin benar-benar mengakhiri semuanya dengan mengatakan begitu pada Sabri karena bagiku kisah dengan Sita telah berakhir lama.

***

“Hampir setiap hari Minggu, dua pekan sekali aku datang ke Talang Siring,” Sabri akhirnya bercerita tanpa kuminta. Sebelumnya ia memohon agar aku tak pergi dan mau mendengarnya.

Sabri memiliki kekasih di Talang Siring, namanya Ratih, yang rumahnya persis di sebelah rumah Sita Masita. Karenanya Sabri akhirnya kenal dengan Sita. Mengetahui Sabri berasal dari kampung yang sama denganku, Sita akhirnya banyak bertanya tentangku. Sabri tentu saja tak tahu banyak karena memang aku jarang berada di kampung.

Hubungan Sabri dengan Ratih berjalan baik dan awet. Sabri memang bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Sita pun berani bercerita pada Sabri dan Ratih bahwa ia dulu pacarku.

“Sampaikan pada Kak Ferdi untuk datang ke Talang Siring. Begitu selalu kata Sita padaku,” tutur Sabri.

Sabri akhirnya menikah dengan Ratih. Sementara Sita masih tenggelam dengan perasaannya padaku, masih selalu mengucapkan hal sama seperti yang Sabri ucapkan padaku. Sabri pun merasa berempati dan memberi saran padanya agar tak menantiku datang ke Talang Siring. Itu karena Sabri merasa bahwa aku tak mengindahkan pesan Sita yang ia sampaikan padaku.

“Aku akan menyampaikan berita ini pada Sita bahwa kau akan menikah tahun depan. Semoga setelah ini ia tak lagi meminta dan menantimu lagi.” Sabri berkata dengan tarikan napas panjang. Seperti ia juga menahan beban batin yang dalam. Sorot matanya tampak kosong, seolah menyembunyikan kesedihan. Ia terdiam lama, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kemudian hanya desahan panjang lagi.  

“Terima kasih, Sab. Ya, semoga Sita juga segera menemukan jodoh dan menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawabku lirih.***  


Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), ketua komite sastra DKTS, dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).