Cerpen

Melankolia Jibril

Cerpen Nafi Abdillah

Selepas menyanggupi perintah Tuhan Semesta Alam, aku dan Izroil berbalik badan, mengepak sayap, menjauh dari pintu surga. Alih-alih meninggalkan langit ke tujuh dengan cepat, namun luapan gelisah mendadak meletus dari dalam dada. Mula-mula hanya bergetar dari satu titik, namun imbas dari getaran itu merembet ke seluruh tubuh. Hingga niat yang dari awal telah terbangun, luntur. Tubuhku mendadak kelu. Pergerakanku melambat. Izroil rupanya cukup pandai untuk tak hirau atas perubahan sikapku itu.

“Kenapa, wahai Jibril?” tanyanya kepadaku.

“Tak apa, ayo kita teruskan!”

Aku tak ingin jujur. Sungguh tak perlu ada penjelasan kepadanya. Aku tak mau memengaruhi keputusannya. Meski sedikit berandai-andai, mungkin jugalah ia merasakan hal yang sama.

Kami memang dicipta sebagai makhluk yang memiliki tingkat ketaatan tinggi. Bukan ingin berlaku sombong, tapi kodrat Lauh Mahfud tertulis semacam itu. Segala perintah selalu kami kerjakan semulus-mulusnya. Tak ada keberanian, bahkan kemampuan untuk menolak perintah-Nya. Namun, perintah Allah kali ini memiliki kadar yang jika boleh kukategorikan berada pada interval yang sangat tinggi. Ada lubang-lubang dilema yang tumbuh meraksasa. Menjalankan perintah-Nya adalah keniscayaan, mangkir dari perintah-Nya adalah sikap yang lebih membangkang dari sikap sombong itu sendiri.

Tapi perintah-Nya kali ini sangatlah berbeda. Sebagian perasaanku yang dekat, mengangguk cepat sekali. Pada bagian yang lain muncul keragu-raguan untuk tunduk dan mematuhi perintah-Nya. Ingin sekali kutegaskan perihal perasaan yang mengganjal ini kepada Izroil. Ingin kubagi seluruh keluh kesah. Namun selalu kuurungkan tiap kali kubaca mimik wajah Izroil yang tampak sangat serius itu. Bisa-bisa timbul perdebatan dengannya jika perasaanku ini tak selaras dengan yang dipikirkannya. Maka kuputuskan untuk tak membicarakan dengannya. Biarlah kusimpan gelisah ini sendiri.

Toh, untuk urusan menahan gelisah, aku cukup terlatih. Seluruh peristiwa yang telah kulalui bersama Kanjeng Rasul, tak sedikit memunculkan perasaan-perasaan semacam itu. Namun, Rasul selalu meredamnya dengan cara-cara berbeda yang tentunya membuatku takjub.

Terkadang, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kusangka akan mengarah ke suatu sisi, namun ternyata keputusannya jauh mengarah ke sisi yang lain. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi manusiawi di hadapannya, namun kenyataannya pikirannya jauh melampaui itu semua.

Seperti ketika Kanjeng Rasul berada dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Kota Thaif untuk menyampaikan ajaran Allah. Kanjeng Rasul menerima penolakan besar dari tiga pemimpin suku Tsaqif: Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr.

“Apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang bisa diutus selain kamu? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu selama-lamanya. Jika betul kamu adalah rasul, maka sungguh merupakan bahaya paling besar. Kebohonganmu sepatutnya memberiku alasan untuk tidak berbicara denganmu.”

Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil untuk mengusir Rasul di tengah terik matahari, melemparinya dengan batu sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasul berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasul, dengan hati yang terluka kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana.

Aku tahu, sangat terpukul hati Rasul. Dan aku, yang diam-diam mengikuti kanjeng Rasul sudah mulai geram dengan perlakuan yang diterimanya. Lantas aku mendekat ke arahnya, dan meminta izin membalas perlakuan mereka.

“Wahai Rasul, batu-batu gunung itu sudah siap meruntuhkan dirinya hingga menimbun seluruh kota Thaif. Aku hanya tinggal menunggu persetujuanmu.”

Namun, yang kuterima dari Rasul sangat jauh dari yang kupikirkan. Ia menolak dan malah mencoba meredam kemarahanku.

“Tidak wahai Jibril. Tak apa jika pemimpin mereka menolakku. Siapa tahu anak-anak keturunannya nanti yang bakal menerima ajaran yang kubawa.”

Sungguh takjub aku atas sikapnya. Kusangka Rasul akan patah, namun sedikit pun ia tak pernah goyah. Meski segala pertolongan pastilah datang padanya, tapi ia tak pernah gegabah. Ada saja perasaannya yang berpijak pada keselamatan orang banyak. Dialah sebenar-benarnya pemimpin.

Namun dalam kejadian lain, suatu kali aku pernah melihat Rasul menangis ketika sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Aku sungguh heran. Rasul menangis sebab tak mendengar kabar bahwa seorang perempuan berkulit hitam, Kharqaa’, yang setiap hari menyapu masjid, meninggal dunia.

“Sudah lama aku tak melihat Kharqaa’, ke mana gerangan perempuan itu?” tanya Rasul kepada sahabat-sahabatnya kala itu.

Para sahabat boleh jadi menganggap itu bukan soal penting hingga harus memberitahukannya kepada Rasul. Aku yang juga melihat hal itu, awalnya juga menganggap itu bukan soal penting. Padahal sebagai seorang pemimpin, ia pastinya memiliki urusan lain yang sangat banyak dan lebih penting. Namun, entah kenapa Rasul merasa menyesal dan bersedih ketika tidak mendengar kabar itu lebih awal.

Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub oleh sikapnya. Sebagai wasilah penghormatanku kepadanya haruslah ada laku untuk mengantarkan ke arah sana. Untuk itu, aku merasa harus selalu menyebut-nyebut namanya: Shollallah ‘alaa Muhammad.

Dengan mengingatinya, mungkin akan sedikit meredakan perasaan gelisah ini sebelum benar-benar menjalani harmonisasi lain yang tidak akan sama seperti saat ini atau yang telah lalu. Maka kuberanikan meminta Izroil mengurangi lesatannya yang cepatnya tak keruan itu. Kuyakinkan dia untuk tak terburu-buru. Toh, tak ada beda antara cepat dan lambat. Kalau cepat mau mengejar apa, kalau lambat mau menunggu apa.

“Wahai Izroil, tidakkah lebih baik kita tak terlalu terburu-buru untuk lekas bertemu Kanjeng Rasul?” dalihku padanya.

Izroil tergeragap mendengar ucapanku yang mendadak itu. Lalu, dengan menoleh ke arah belakang, ke arahku tentunya, ia berujar, “untuk alasan apa engkau mengatakan tak terburu-buru?”

“Bukankah Tuhan telah mengatakan kepadamu jika Sang Rasul kita tidak setuju, maka kita pun tak berhak dengan keras kepala melanjutkan tugas kita? Apakah kau tak merasakannya bahwa Tuhan sedang berpolitis kepada kita? Maksudku, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan waktu yang sangat longgar untuk kita, ya sekadar untuk melapangkan dada kita.”

Ucapanku itu tampaknya sedikit memengaruhinya. Buktinya, ia tak lagi melesat dengan lesatan yang keterlaluan kencangnya.

Sambil nyengir, ia berkata, “baiklah, wahai Jibril. Sekalian aku akan mengatur siasat yang paling halus bagaimana meminta izin kepada Beliau.”

“Benar Izroil, benar, kau harus pula memikirkan itu.”

***

Kanjeng Rasul ialah makhluk terbaik. Dialah muasal segalanya tercipta. Dialah alasan kenapa makhluk seperti aku ini tercipta. Dialah perantara. Dialah yang menjaga biji, mengalirkan air sehingga bertunas dan menjulang dengan daun-daun yang lebat-lebat. Dialah yang menumbuhkan rerumputan, merakit cabang-cabang sehingga tanah-tanah tampak tak lagi gersang. Dialah yang mengucurkan mata air, membuat celah-celah di dalam tanah sehingga menyemburlah oase di tengah padang pasir. Dialah yang meniupkan bulir-bulir pencerahan di dalam kepala yang dipenuhi lumbung kegelisahan. Dialah yang membasuh dan membersihkan noktah-noktah kebencian lalu menggantinya dengan akar-akar kepercayaan dan persatuan. Dialah asal muasal. Dialah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang. Dialah yang mengangkat. Dialah yang menuntun. Dialah yang menyelamatkan.

Di tengah pengembaraanku ke masa lalu bersama Rasul, aku pun tak sadar telah sampai di langit lapis pertama. Namun kegelisahan ini tetap saja memenjarakanku. Meski Sulthonul Malaikat ialah tugas yang melekat dalam diri, namun hak untuk merasa gelisah kurasa tak pernah tebang pilih atas tugas yang melekat pada diri tiap makhluk. Gelisah memang gelombang-gelombang daripada episentrum cinta. Wajar bila makhluk yang menahbiskan diri sebagai pecinta, suatu kali bakal merasakan gempa yang menggoyang- goyangkan jiwa.

Untuk hal semacam itu, suatu kali aku pun pernah merasa cemburu terhadapnya. Setelah mengantarnya berisra’, melakukan perjalanan panjang ke seluruh semesta, menembus ruang dan waktu hingga akhirnya menghadap Allah. Namun ketika telah sampai pada pintu menuju arasy Allah, aku tak diperkenankan masuk oleh-Nya. Dan saat itu aku merasa sangat cemburu. Bukan karena pertemuan intim Rasul bersama Allah yang menyebabkan aku cemburu. Melainkan kecemburuanku mengarah pada bakiak yang dikenakan Rasul. Bakiak bisa mengantarkannya masuk dan bersama-sama menemui Allah. Sementara aku, Jibril, hanya boleh menunggu di luar. Coba, siapa yang tak gembira jika menghadap Allah bersama- sama dengan makhluk terkasih seperti Kanjeng Rasul?

Namun semakin kumengingati peristiwa bersama Rasul, jurang-jurang kebimbangan semakin menegaskan ke dalamannya yang memiliki lapisan berlipat. Perlu usaha yang tidak

hanya tepat, namun juga keras untuk melaluinya. Di satu sisi akulah makhluk yang taat, di sisi yang lain aku tak memiliki keberanian melihat seorang yang paling kukasihi menderita. Maka, kukuatkan dan memberanikan diri menolak menemani Izroil untuk turun ke bumi, ke tempat tidur Kanjeng Rasul.

Aku, Jibril, Sang Penyampai Ilmu, kunyatakan bertahan di langit ke satu, walau remuk dadaku menahan gelisah yang tidak menentu. Biarlah Izroil sendiri yang melihatmu menderita wahai Kekasih.

Pada detik ini, aku diminta untuk menemani Izroil untuk… ah, sungguh sulit dan bagiku sangat tidak sopan hanya untuk sekadar mengatakan akan mencabut nyawanya.


Nafi Abdillah, lahir dan tumbuh di Kabupaten Karanganyar. Seorang pembelajar pula di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi tersiar di beberapa media. Beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa disapa melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.