Cerpen

Todo dan Lak Wahar

Cerpen Erwin Setia

Todo adalah lelaki bernasib mujur sampai ia bertemu lelaki bercodet sepanjang telunjuk di dahi kiri pada suatu siang yang sangat terik. Saking panasnya, ia merasa jarak pemisah antara kepalanya dan matahari hanyalah selembar plastik. Todo sedang berjalan di emperan terminal dengan ransel padat di punggung. Ia berjalan setenang orang saleh sampai Lak Wahar, lelaki bercodet itu menjambret ponselnya dan berlari secepat rusa.

Lelaki sialan itu sudah berbelok ke suatu gang ketika Todo baru sadar akan situasi yang terjadi. Ia berteriak, terengah-engah menyebut kata ‘maling’. Puluhan kali ia meneriakkan kosakata itu, namun tak seorang pun beranjak dan sekadar bertanya, “Pergi ke mana malingnya?” Tidak ada. Orang-orang yang tengah makan siang dan minum kopi di warung bergeming. Begitu pula para pengguna jalan, sopir angkot, tukang ojek, pedagang asongan, pemarkir liar, seorang petugas lalu lintas di kejauhan—mereka tetap terpaku pada pekerjaan masing-masing.

Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.

“Dasar pecundang kalian semua! Goblok! Ada orang kesusahan cuma planga-plongo. Pecundang!”

Di satu deretan kursi, sekelompok tukang ojek memelototi Todo seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Orang sinting!” umpat seorang tukang ojek berjaket hitam yang mengenakan kaos Juventus.

“Dia pikir dia saja yang pernah kemalingan. Kayak baru kenal dunia saja,” ujar seorang yang lain setengah mencibir.

Sebetulnya Todo tinggal menumpangi satu angkutan lagi ditambah berjalan kaki kira-kira lima menit sebelum tiba di rumahnya. Istri dan anaknya yang genap berumur setahun sebelas hari lalu sudah menunggunya. “Yah, kabari ya kalau sudah naik angkot.” Demikian pesan istrinya.

Angkot yang menuju ke arah rumahnya tak terhitung melintas di hadapannya. Ia bisa segera menaikinya kalau mau. Namun, bara dalam dada Todo belum padam. Ia masih belum rela ponsel kesayangannya lenyap begitu saja. Ia ingin mengejar penjambret kurang ajar itu sampai dapat dan membayangkan akan menghajar mukanya sampai sebonyok bangkai tikus terlindas ban truk.

Todo sekilas melihat wajah Lak Wahar. Sekilas artinya sebentar saja dan tidak banyak yang dapat ia ingat. Yang paling diingatnya adalah codet seukuran telunjuk di jidat orang itu. Ingatan tentang codet membuat Todo terkesiap. Ia berusaha menggali ingatan lain perihal penjambret tadi, tapi tak kunjung mendapat detil yang lebih lengkap. Setelah mengeratkan ransel di punggungnya, Todo berlari, menuju gang tempat si penjambret berbelok. Dadanya berdebar-debar.

***

Sepuluh tahun lalu Todo adalah seorang anak SMA yang lurus belaka. Ia tak punya catatan buruk selama di sekolah dan nilai rapornya juga melulu menerbitkan senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Namun, sebagaimana lazimnya remaja puber, hatinya pernah disusupi gairah cinta. Gairah itulah yang kemudian membuatnya berani menerima tantangan Harwo, murid kelas lain yang sesumbar mengaku sebagai satu-satunya orang yang berhak menjadi kekasih Melati. “Hadapi gua kalau ada yang coba-coba berani mendekati Melati.”

Harwo memang seorang murid yang berada di kutub berseberangan dengan Todo. Kalau Todo tergolong dalam murid baik-baik, tidak demikian Harwo. Harwo adalah kepala geng kelompok murid nakal yang hobi tawuran dan mengganggu anak-anak lemah. Sementara peringkat Todo di kelas selalu berada di puncak, Harwo adalah antitesanya, kemampuan akademiknya terbenam sedalam lumpur tempat anak-anak pada masa itu bermain kala musim hujan.

Maka tibalah hari itu, hanya beberapa pekan sebelum ujian akhir sekolah diselenggarakan. Disaksikan beberapa murid lain, Todo dan Harwo berdiri berhadap-hadapan di lapangan belakang sekolah. Lima puluh menit sebelumnya bel pulang berbunyi. Lingkungan sekolah sudah melompong. Tinggal ada petugas kebersihan dan satpam yang tak begitu memedulikan apa-apa yang terjadi di luar jam sekolah.

Keduanya saling menatap dengan pandangan beringas seolah sepasang macan yang hendak mencabik diri masing-masing. Postur tubuh mereka terbilang setara. Tidak ada yang kelewat lebih tinggi atau lebih gemuk. Menit-menit awal mereka berdiam-diaman. Tidak ada yang terburu-buru menyerang. Sorak-sorai kian menggeru di sekeliling mereka. Dada yang panas pun kian berapi-api. Akhirnya, setelah sekira tujuh menit kesunyian, Todo dan Harwo sama-sama bergerak maju, melayangkan pukulan, dan… Bam! Mereka terkena pukulan masing-masing. Namun, lantaran kekuatan pukulan yang lebih baik dan jam terbang perkelahian lebih banyak, pukulan Harwolah yang mampu menjatuhkan lawan tanding, bahkan Todo sampai tersungkur tak bangun-bangun beberapa lama di atas tanah. Sedangkan pukulan Todo yang tipis saja mengenai pipi Harwo, hanya membikin pipi Harwo agak perih. Tapi, bagi Harwo, itu bukanlah apa-apa.

Berhasil menjatuhkan Todo, Harwo menepuk dada bangga. Sebelum pertarungan, keduanya bersepakat, siapa yang jatuh duluan maka ialah yang kalah dan harus menjauh dari Melati.

Todo yang masih terbujur kesakitan, memandangi lekat-lekat sebuah benda keras dan panjang yang tergeletak sejangkauan tangan darinya. Pelan-pelan, ia mengangsurkan tangannya menuju benda itu. Saat Harwo masih berlari-lari kecil penuh jemawa mengelilingi lapangan, Todo sudah menggenggam benda itu. Ia bangkit cepat, menyabitkan kawat besi tersebut kepada Harwo yang tak pernah menduga bakal mendapat serangan dadakan. Kawat itu menggores dahi kiri Harwo. Menyisakan rasa perih yang sangat. Sebagai balasan, Harwo mendorong tubuh Todo, memukul dan menendanginya berkali-kali.

Todo pingsan. Satpam sekolah melerai keributan itu. Beberapa minggu setelahnya, ujian akhir sekolah diadakan. Todo lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sedangkan Harwo sudah lebih dulu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membikin pingsan Todo. Sejak itu, ia tak lagi bersekolah, dan sejak itu pula orang-orang menjauhinya—termasuk Melati, perempuan yang begitu dicintainya.

***

Todo akhirnya menemukan penjambret itu. Lelaki bercodet itu tengah menyuapi seorang anak kecil yang tampak lungkrah ketika Todo memapasinya di suatu rumah papan yang berada di pojok gang.

“Hei, kau!” seru Todo.

Lelaki bercodet menoleh. Seorang perempuan muda—istri lelaki itu sekaligus ibu dari bocah yang disuapinya—mengambil sang bocah dari si lelaki.

“Hapemu sudah kujual,” kata lelaki bercodet. “Aku terpaksa harus menjambret barangmu itu untuk membeli makanan dan obat buat anakku.”

Suara lelaki itu lemah. Tak terlihat seperti orang yang belum lama dengan gagah dan nekat melakonkan penjambretan. Istrinya mendekap anaknya yang bermuka pucat lebih erat.

“Namaku Lak Wahar. Kau Todo, kan?”

Kini, Todo yakin sudah dengan apa-apa yang diduganya. Lelaki itu betul-betul Harwo, yang sudah bermalih nama menjadi Lak Wahar. Meski namanya sudah berubah, namun Todo masih bisa mengenalinya. Terutama karena codet di dahi kirinya itu. Codet yang dibuatnya sebagai sejarah luka di tubuh Harwo bertahun-tahun lalu.

Sejak lama Todo ingin menebus dosanya atas Harwo. Bagaimanapun, dirinyalah yang menyebabkan Harwo mesti dikeluarkan dari sekolah sehingga mengalami rentetan kemalangan sampai sekarang. Paling tidak itulah yang dilihatnya. Harwo menempati rumah yang jauh dari kata layak. Rupa istrinya polos tak disepuh riasan, juga anaknya yang tampak penyakitan.

Todo pikir, merelakan ponsel miliknya bisa menjadi tebusan yang sepadan atas dosa masa silamnya.

“Tak apa. hapeku itu untukmu saja. Anggap saja itu permintaan maafku karena kesalahan yang dulu pernah kuperbuat kepadamu.”

Pandangan Lak Wahar menyelidik. Lalu, ia menunduk dan berubah mengiba. Lelaki bertubuh liat dengan bentuk rahang yang keras itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Refleks, Todo mendekatinya dan berusaha menenangkannya. “Tak apa. Tak masalah. Kau lebih membutuhkan itu daripada aku.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri. Aku sama sekali tidak mau melakukan perbuatan biadab itu kalau saja bukan karena terpaksa. Lihat, anakku ini, ia tidak makan berhari-hari.”

Lak Wahar semakin mengiba. Todo mengusap-usap punggung lelaki yang tengah menunduk itu. Mata Lak Wahar menerka bagian belakang tubuh Todo. Sesaat saja.

“Ya sudah. Gunakanlah uang hasil penjualan hapeku itu untuk keperluanmu dan anak-istrimu. Aku ikhlas.”

“Terima kasih,” ujar Lak Wahar.

Tak berapa lama, Todo pamit undur diri. Ia mesti segera menuju rumah. Melati dan Mawar—istri dan putri semata wayangnya—pasti sudah tak sabaran menantikan kedatangannya. Ia sengaja tak mau lama bercakap-cakap dengan Lak Wahar. Ia merasa tidak nyaman sejak menginjakan kaki di depan rumah papan itu. Ia ingin lekas pulang, menciumi istri dan anaknya, dan memberikan mereka oleh-oleh yang telah dibelinya di kota seberang, tempat ia menghabiskan beberapa waktu belakangan untuk bekerja.

Todo menghentikan sebuah angkot. Angkot yang sepi. Hanya ada ia seorang diri. Dua menit setelah angkot berjalan, Todo memeriksa saku celananya. Kosong. Dompetnya hilang! Dompet berisi uang yang telah dikumpulkannya selama bekerja di luar kota. Dari jendela angkot, ia memandang panik ke arah luar. Di sana, di suatu trotoar, dua orang sedang berkejar-kejaran. Ia tak mengenal siapa lelaki yang berada di posisi belakang. Tapi ia tahu betul, orang yang berada di depan sambil menggondol sepucuk tas dan sedang dikejar-kejar itu tak lain adalah Harwo—yang sudah berganti nama jadi Lak Wahar!***

Tambun Selatan, 11 Juli-30 November 2019


Erwin Setia lahir tahun  1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Yang Membusuk di Dada Badri

Cerpen Indarka P.P.

Moncong perak perahu sandek telah memagut bibir pantai pulau Kapuang, tempat di mana Badri menjalani nasib hidupnya. Sore ini arah angin memang sedang tidak bersahabat. Badri tahu gelagat alam demikian pertanda badai kemungkinan datang. Belumlah kepisnya terisi penuh, Badri terpaksa puas dengan enam ekor ikan sunu. Hasil yang tak sebanding daripada biaya perahu sandek yang ia sewa.

“Lupa mi jadi nelayan?” ketus Haji Jalili, memamer gigi taring emas sambil menulis nama Badri di buku catatan utang.

“Biasa tidak cepat ji cuaca berubah, Pak Haji. Saya pikir bisa maki melaut sampai malam.”

“Banyak sekali alasan ta’,” tanggap Haji Jalili, “Tunggakan ta’ tujuh ratus lima puluh ribu, nah. Aih, coba ada anak, Badri, bisa nanti kita wariskan ini,” tandasnya seraya menguar tawa.

Badri cuma tertunduk dan mengangguk. Lepas itu ia bertolak dari pangkalan perahu untuk pulang ke rumahnya di kampung Ujung Bulo. Petang menemani perjalanan yang bimbang. Dalam ceruk dada paling sunyi, gelombang gahar tiba-tiba muncul dan berdeburan dari ujung kaki hingga pusar kepala. Setengah lusin ikan sunu jelas tidak membuat Badri yakin bisa menebus riwayat utang di warung-warung tetangga. Artinya, lagi-lagi ia juga harus bersiap menahan bising amuk dari Muna.

Sejak pagi memang istrinya itu sudah berang setengah mati. Persediaan beras tinggal dua cangkir, sementara utang sudah bejibun. Suasana pagi itu tampak bancuh, seperti api obor yang melahapi dinding kayu rumah panggung mereka. Badri yang disergap gagu enggan menanggapi. Lantaran tak mau sia-sia menjadi abu, ia gegas keluar menuju beranda. Mula-mula ia mengambil potongan galah di sudut beranda sisi barat. Kemudian mengambil kepis dan badik yang menggantung di sisi timur. Kepis dikaitkannya pada ujung galah. Badik dililitkan memakai tali melingkari pinggang. Badri pun berjalan menuruni empat baris anak tangga. Sementara dari dalam dapur, mulut Muna terus-menerus memuntah kecam pada Badri, lelaki yang membuat dirinya pandai berpura-pura hidup tabah selama ini.

Persoalan-persoalan yang datang barang tentu tiada jauh dari urusan perut belaka. Hari-hari mereka bagai api dalam sekam. Prahara bisa mengemuka kapan saja. Oleh sebab itu, satu-satunya pengharapan Muna akan seorang anak sungguh menjadi pelita dalam kelam, yang tiap kali mampu mengendurkan amarahnya. Ia berpikir, kehadiran buah hati setidaknya mampu menepis letih yang tiada juga berpaling selama delapan tahun belakangan.

Sayang, harapan itu kini tinggallah omong kosong. Rupanya ada masalah pada kejantanan Badri. Itulah sebabnya sampai sekarang Muna tak kunjung mengandung, sebagaimana Badri yang tak juga kunjung berhasil menimang darah dagingnya. Begitu kira-kira kata seorang tabib yang pernah didatangi Badri dan Muna, beberapa waktu silam.

Gejolak-gejolak keji senantiasa berputar di kepala Badri sejauh kaki melewati satu-satunya jalur kampung Ujung Bulo. Menerobos remang malam, menyusuri jalan setapak pejal, menyapu kesiur angin yang membikin beku ikan-ikan di kepisnya. Di tengah langkah yang mulai gontai, tetiba mata Badri nyalang melihat sesuatu tergeletak sekitar delapan langkah dari tempat ia berdiri. Dalam denyut nadi terhitung, kepala Badri bergoyang-goyang menajamkan pandang. Seperti kerikil lolos dari gagang ketapel, Badri berlari ke arah di mana matanya tertuju. Begitu tahu benda apa yang ditemukannya, Badri lekas-lekas meraihnya sambil bersorai, “Sekomandi! Sekomandi!”

Ya, sekomandi, sebuah kain rajut yang konon bernilai tinggi. Dalam cerita-cerita tetua pulau Kapuang, sekomandi disebut-sebut cuma bisa dimiliki orang yang berderajat tingkat wahid. Itulah mengapa air muka Badri tampak takjub begitu jemarinya menyentuh selembar kain rajut itu. Lebih-lebih saat membayangkan betapa banyak duit yang bakal didapat apabila ia berhasil menjualnya. Selain itu, sekomandi diyakini pula sebagai simbol kesejahteraan. Barang siapa menyimpan baik-baik kain sekomandi, maka hidupnya akan bertabur berkah dan kecukupan. Namun, bagi Badri, pengertian yang kedua tak perlu diambil peduli. Ia lebih percaya kalau kesejahteraan justru akan datang dengan cara menjual sekomandi itu. Bukan sebaliknya.

Pusaran di kepala Badri pun lekas berganti. Ia merasa angan-angan untuk hidup sejahtera berhilir terbayang kian nyata. Karena enggan mematung lebih lama, Badri giat menggulung selembar sekomandi itu, lalu memasukkannya ke dalam kepis; menyelimuti ikan-ikan kedinginan. Lagipula waktu juga semakin merengkuh gelap. Angin menerjang pepohonan dengan tidak beraturan. Sekali dua kali air langit bahkan sudah melandai di kening Badri, bercampur dengan bulir-bulir keringatnya.

***

Muna mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang terlelap di atas dipan. Badri yang terkesiap mengacungkan badik di tangan kanannnya. Mata Badri merah mendelik penuh tanya ada apa?

“Di mana ki dapat ini?” suara Muna gemetar, iasorong sekomandi ke hadapan Badri.

“Kenapa kita ini? Bikin jantungan saja!” sergah Badri, berupaya memulangkan kesadaran, seraya meletakkan badiknya kembali.

“Dapat di mana ki ini sekomandi, heh!?” suara Muna terdengar lebih lugas.

“Di jalan.” Begitu kesadaran Badri kembali, ia mulai bercerita. Muna masih tugur berdiri, tiada berpaling sekata pun. Tapi begitu tiba pada bagian di mana Badri berniat menjual sekomandi itu, Muna buru-buru memotong.

“Gengge! Orang miskin punya sekomandi satu ji kemungkinannya!” Mata Muna melotot. Urat keningnya menjalar-jalar.

“Maksudnya mencuri? Jangan ki sembarang tuduh, Muna!”

“Cukup mi hidup sulit. Jangan mi ki bikin saya malu karena dibilang istri pencuri!”

Maka Badri bersumpah kalau sekomandi itu bukanlah hasil mencuri. Lantas Badri meyakinkan Muna kalau apa-apa yang dikhawatirkannya tidak akan terjadi. Kemudian tangan Badri merambati pundak Muna, merendahkan tubuh tegang itu untuk duduk di sebelahnya.

“Sekomandi ini, Muna,” kata Badri seraya mengambil alih kain dari tangan istrinya, “Akan na rubah hidup ta’.”

“Tidak i,” Muna menggeleng. Matanya berbalik menyoroti Badri dalam-dalam. “Anak ji ini yang bisa membuat semuanya lebih baik.”

Setitik air mata jatuh ke lengan legam Badri yang bersilang di pangkuan Muna. Mendadak beku mulut lelaki itu mendengar ucapan istrinya. Seingatnya, baru kali ini dadanya—yang ia tahbiskan sendiri setegar karang—runtuh oleh ungkapan yang dirapal serupa doa dari suara magis Muna, kawan hidupnya dalam penantian-penantian panjang. Satu windu bukan waktu sebentar bagi sepasang suami-istri itu menantikan anak. Juga bukan waktu yang singkat dalam menanggung penghakiman orang-orang yang kerap mengatai mereka.

Usai sekian menit bergeming, agaknya suasana berangsur berubah. Tampak Badri dan Muna sama-sama mulai beralih pikiran. Mereka merebahkan diri di atas dipan. Sekomandi pun lolos dari tangan Badri. Jari-jarinya yang terampil itu mengawalinya dengan mengurai kancing-kancing di pakaian Muna. Satu… tiga… lima… dan… belum tiba di kancing terakhir, Muna malah mengambil tindakan lain. Didorongnya dada Badri bangkit dari atas tubuhnya. Sambil menyelami alam pikir Badri lewat tatapan mata yang muskil dijelaskan dalam cerita ini, Muna menggulingkan tubuh satu kali, membalikkan ketakberdayaan. Bibir tipis perempuan itu tertarik ke dalam. Seulas senyum tertangkap mata Badri yang berada persis di bawah wajahnya. Perlahan Muna mendekatkan bibir ke daun telinga suaminya. Lembut sutera ia berbisik, “Pejamkan mata ta’.”

Mudah bagi Badri menuruti perintah banal Muna. Ia memejam dengan sungguh-sungguh, menanti kejutan di pagi yang ranum itu. Tangan kiri Muna sedikit demi sedikit merambat ke sekujur kening, kuping, bibir, leher, hingga dada Badri. Di waktu yang sama, tangan kanan Muna meraih badik yang tersungkur di sudut dipan. Sementara pejaman mata Badri masih rapat dan khusyuk menikmati penantian. Senyum Badri merekah tiap kali degup jantungnya dibuat laju lantaran sentuhan lembut tangan Muna.

Di atas tubuh Badri, Muna menatap masa depan pada selembar sekomandi yang sudah terjuntai ke tanah. Dan dalam posisi serupa, Muna juga melihat kejujuran pada badik yang tergenggam di tangan kanannya. Tak lama usai mengelus bibir sang suami, Muna mulai mengakhiri penantian-penantiannya yang panjang.

Dan waktu berpelesat sudah. Kini, satu nyawa telanjur tercerai dari raga salah seorang dari mereka. Karenanya, sejak pagi didewasakan siang dan menjadi celaka, siang dimatangkan malam dan berubah petaka, yang membusuk hanyalah burai-burai sekomandi, juga sesal di dada Badri. ***

Keterangan:

  • Kita: anda, kamu
  • Ta’: kepunyaanmu (uang ta’ = uangmu)
  • Ji, mi, ki, pi, di, na, nah, maki, dst: klitika dalam bahasa orang-orang Sulawesi
  • Gengge: umpatan

Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini bermukim di Mamuju (Sulbar). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Cerpen

Suro Gentho

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, bocah itu pun terkapar di halaman rumah seorang warga. Mulutnya megap-megap seolah-olah sedang dicekik lehernya. Pemilik rumah lalu buru-buru memberinya segelas air putih. Tak seberapa lama berbagai macam racauan seperti orang gila berhamburan dari mulut si bocah. Meskipun ocehannya membingungkan, orang-orang yang sedang berkerumun di tempat itu bisa memahaminya: Suro Gentho hidup lagi.

Warga Awon-Awon pun geger. Para pengecut buru-buru masuk rumah. Menutup pintu rapat-rapat. Menyembunyikan harta bendanya di dasar sumur. Mengungsikan istri dan anak perempuannya ke desa tetangga. Pada saat matinya, Suro Gentho adalah perampok. Sudah pasti saat ini masih suka merampok juga. Begitu barangkali yang ada dalam benak mereka.

Lima orang yang merasa punya nyali segede gajah bengkak segera ke kuburan untuk membuktikan kabar tersebut. Dari balik pagar kompleks pemakaman yang hampir rubuh itu, mereka memusatkan pandangan ke dalam makam. Dan di pojokan sana, seperti iblis baru saja bangkit dari kematiannya, Suro Gentho tampakberdiri termangu-mangu di pinggir lubang kuburannya.

Tubuh Suro Gentho terlihat kurus kering mirip jerangkong. Sepasang matanya sangat cekung bagaikan cerukan mangkuk bakso sehingga sebutir telor bisa diletakkan di dalamnya. Pakaian yang biasa dikenakan para pejuang kemerdekaan itu masih melekat pada tubuhnya. Bolong-bolong bekas tembakan peluru.

Terdengar Suro Gentho menggerundel: tentara telah bertindak biadab. Memperlakukannya seperti binatang. Menggantung mayatnya seperti jemuran basah.

Dari jarak dua puluh meter, lima orang sok pemberani tersebut terus gemetaran. Terduduk di tanah tanpa sadarnya. Pemandangan mengerikan itu ternyata lebih mengerikan daripada bayangan mereka.

Sementara itu, Suro Gentho masih tetap belum bisa memahami perjalanan hidupnya. Ilmu kesaktian yang dibangga-banggakannya itu ternyata justru membuat hidup dan matinya selalu dalam keadaan koma. Sambil menepis sisa tanah kuburan pada pakaiannya, Suro Gentho berjalan gontai menuju luar makam, lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ditolehnya  lima orang berwajah seputih kapas yang sedang jongkok berhimpit-himpitan di samping pohon teh-tehan itu.

“Di mana ini? Daerah mana?” tanya Suro.

Suara tersebut pelan saja, tapi tetap saja telah mengguncang dada mereka yang mendengarnya. Salah satu dari mereka yang merasakan kakinya lumpuh tiba-tiba, tapi belum sampai terkencing-kencing, buru-buru menunjuk papan nama di atas pintu gerbang, tanpa berani mengangkat muka. Melirik ke arah si penanya pun tidak.

Suro Gentho menoleh ke arah yang ditunjuk. Sesaat kemudian dia terlihat menyeringai. Memperlihatkan giginya yang masih utuh dan cokelat kehitam-hitaman. Papan kayu itu bertuliskan Sasono Layu, Desa Awon-Awon, Kecamatan Colomadu. Ada kenangan indah di tempat ini dan semoga anak laki-lakinya itu belum mati.

“Tahun berapa sekarang?” tanyanya lagi.

Mula-mula lima orang yang sok berani tersebut tak segera menjawab. Namun, setelah menyadari si penanya adalah orang yang sudah lama mati dan sangat pantas menanyakannya, seseorang segera menyebutkan angka tahun ini.

Sesaat kemudian bibir Suro Gentho berkomat-kamit, mengikuti gerakan jemarinya, menghitung jumlah tahun yang telah dia habiskan di dalam kuburnya. Segera saja mukanya yang keriput itu berkerut. Umurnya sudah 108 tahun. Semua perawan pasti menolak dikawininya.

“Tahu rumahnya Warto? Warto Digdo? Masih hidupkah dia?” tanya Suro Gentho lagi.

Kelima orang tersebut serentak mengangguk.

“Tahu!”

Lalu menggeleng. Juga berbarengan.

“Sudah meninggal.”

***

Hampir semua warga Desa Awon-Awon yang berusia di atas lima puluh tahun kenal nama Suro Gentho. Bahkan pada era 60-an, kekejaman Suro Gentho dan gerombolannya disebut-sebut melampaui kebengisan tentara Jepang.

Ketika belum ada embel-embel genthonya, Suro adalah pejuang. Selain rajin mengganggu pasukan Belanda yang lagi berpatroli di pinggiran Boyolali dengan lemparan bom kotoran kuda dan sambitan ketapel,  Suro dan lima temannya juga pernah hendak menyerbu tangsi Belanda di Desa Bangak, Banyudono. Namun, mereka dipergoki tentara Belanda yang lagi patroli naik jip bersenjatakan stengun dan siap ditarik pelatuknya. Satu pejuang dihabisi penembak jitu. Peluru dari jarak dua ratus meter itu menembus belakang kepalanya. Sementara tiga lainnya kena berondongan timah panas sebelum sempat bersembunyi di balik batu. Peristiwa penyerbuan yang gagal itu menyisakan Suro seorang.

Suro juga pernah bahu-membahu dengan Tentara Pelajar dan pasukan Slamet Riyadi saat menggempur Belanda yang sedang berlindung di Benteng Vastenburg, Gladak, Solo. Pertempuran yang berlangsung empat hari penuh itu memakan korban banyak sekali. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan yang kini dinamai Jalan Slamet Riyadi itu. Namun, Slamet Riyadi yang hilir-mudik sambil memberikan komando justru tidak terluka sedikit pun. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang kena serempet peluru tentara Belanda. Konon, Slamet Riyadi punya ilmu lembu sekilan. Semua peluru yang mengarah kepadanya tiba-tiba berbelok arahnya sejengkal sebelum mengenai tubuh.

Setelah Belanda benar-benar minggatdari Indonesia, Suro yang sangat ingin menjadi tentara resmi dan digaji negara itu ikut mendaftar sebagai anggota TNI, tapi ditolak. Selain umurnya dianggap terlalu tua, tentara tidak butuh orang yang bertabiat garong seperti dirinya. Tentara yang berisikan orang-orang yang maunya bertindak seenak perutnya dan tak patuh pada pimpinan seperti itu hanya akan mengacaukan seluruh rencana.

Suro mengajukan protes kepada panitia seleksi, tapi tak ada yang menggubris. Bahkan, Suro diusir dan diancam akan ditangkap. Dengan menahan perasaan dongkol yang luar biasa, Suro dan orang-orang yang bernasib sama dengannya kembali ke hutan. Meneruskan perjuangan.

Pasukan liar pimpinan Suro yang selanjutnya disebut gerombolan oleh polisi dan tentara itu tak lagi menyerang para bule atau prajurit kate, melainkan merampok orang-orang kaya, terutama para saudagar, dan tak peduli warna kulit atau tinggi badannya. Menurut Suro, tabiat para pedagang itu tak ubahnya penjajah. Tega berlaku aniaya dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya demi kepentingan sendiri. Tak peduli orang lain makan bonggol pepaya agar tidak mati kelaparan.

Setelah beberapa kali hampir kehilangan nyawa dalam duel melawan  para jawara pengawal orang-orang kaya, juga polisi dan tentara yang terus mengubernya, suatu hari Suro teringat akan Slamet Riyadi. Walau tak berminat namanya kelak akan diprasastikan sebagai nama jalan raya di seantero Nusantara, Suro ingin mempunyai kesaktian yang sama. Syukur-syukur melampaui. Suro pun pamit kepada gerombolannya. Mengajukan cuti dari merampok demi mencari guru sakti.

Entah siapa pemberi informasinya, Suro pergi Gunung Lawu dan bertapa di puncaknya sebulan lamanya. Merasa belum mendapat kesaktian seperti keinginannya, Suro melanjutkan bersemedi di Gunung Merapi selama tujuh malam tujuh hari. Tirakat kelas berat itu dia jalani tanpa busana, makan, dan minum kecuali meneguk air liurnya sendiri. Belum juga puas akan ilmu yang sudah dia dapatkan, Suro pergi ke Parang Kusuma untuk  mengabdi kepada Nyi Roro Kidul selama tiga bulan lamanya.

Walau tubuhnya yang dulu gemuk itu telah menjadi kurus kering seperti sebatang ranting, Suro pulang ke gerombolannya sambil menepuk dada: mengklaim dirinya tak bisa mati. Sejak itu pula Gerakan Rakyat Kelaparan (Grayak) yang biasa beroperasi di wilayah MMC, Merapi-Merbabu Complex, itu bagai mendapat tambahan segudang amunisi.

Gerombolan Suro lalu merampok di mana-mana dan siapa saja. Tak peduli  cuaca, tempat, dan waktu. Bahkan, keberadaan polisi atau tentara sekali pun. Suro yang kemudian mendapat gelar gentho itu kadang-kadang justru sengaja ingin mempermalukan para petugas negara itu dengan cara mendatangi rumahnya, merampok harta bendanya, dan tidak lari ketika mereka menembakkan senjata.

Begitulah, walaupun kepala Suro Gentho pecah, dadanya ditembus peluru, dadanya berlubang segede gelindingan bakso, darahnya tumpah melimpah-limpah, begitu tubuhnya menyentuh tanah, Suro Gentho hidup lagi. Tanpa menyisakan bekas luka sama sekali. Begitu yang terjadi setiap kali.

Makin hari kelakuan Suro Gentho makin gila. Dia menentang dan menantang siapa saja untuk melawannya. Lupa di atas langit masih ada langit. Begitu juga di atasnya lagi.  Orang sakti dan berilmu tinggi–sebut saja namanya Kumbang–yang oleh para tetangganya hanya dikenal sebagai marbut musala merasa terusik hatinya. Kumbang pun mendatangi markas tentara, membocorkan rahasia kelemahan ilmu pancasona milik Suro Gentho.

Pagi harinya lima belas tentara menguber Suro Gentho ke lereng Gunung Merbabu. Selain senjata, mereka juga membawa jaring yang biasa dipakai untuk memerangkap celeng. Kalau biasanya nyali mereka menciut seperti kelaminnya saat  kedinginan, kali itu mereka berangkat dengan langkah gagah. Apalagi sang komandan sudah mewanti-wanti: kalau sampai gagal lagi menangkap Suro Gentho, bakal dikurung di ruang isolasi ditemani ular berbisa sebanyak lima belas biji.

Mendapat laporan dari mata-mata yang bertugas di pinggir Hutan Gondho Mayit bahwa tentara bersenjata lengkap sedang menuju markas Grayak, alih-alih kabur, Suro  Gentho justru menyongsongnya seorang diri. Disuruhnya anak buahnya sembunyi. Boleh juga lari dan tidak akan dianggap sebagai pelaku disersi. Namun, anak buah Suro Gentho yang pernah berkali-kali menyaksikan kesaktian pimpinan mereka itu tak mau memilih keduanya. Mereka justru ingin menonton. Apalagi sudah lama sekali mereka tidak mendapatkan hiburan. Wayang kulit terakhir yang mereka tonton sudah dua tahun lalu. 

Sesuai petunjuk dari Kumbang, kali ini para tentara tidak langsung menembak Suro Gentho yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Namun, mengeroyoknya. Memukuli Suro Gentho hingga pingsan. Lalu meletakkan tubuhnya di atas jaring yang direntangkan. Membungkusnya seakan-akan laba-laba sedang menggulung serangga yang masuk ke dalam perangkapnya.

Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat.  Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.

Setelah menunggu lima belas menit dan ternyata Suro Gentho tetap juga mati, seratus dua anggota gerombolan yang sedang bersembunyi di balik gerumbul ilalang dan batang pohon jati itu pun segera berhamburan. Pontang-panting seperti sedang dikejar setan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pejuang yang telah beralih kiblat menjadi bajingan itu, komandan tentara memerintahkan anak buahnya agar memakamkan Suro Gentho di tempat kelahirannya. Atau di tempat lain yang barangkali disukainya. Karena tak ada yang asal usul Suro gentho, dipilihlah opsi kedua. Setelah seharian dipajang di lapangan sepak bola seperti babi panggang, mayat Suro Gentho dibawa ke kompleks pemakaman berjarak lima belas kilometer dari markas tentara. Di Desa Ngawon-Awon itu ada perempuan yang diakui Suro Gentho sebagai istrinya.

Setelah diadakan upacara militer sederhana, diiringi tembakan salvo tiga kali, Suro Gentho dikubur dengan cara khusus. Mayatnya diikat kawat pada potongan besi yang tergantung setengah meter dari dasar lubang. Sebelum jasadnya mulai ditimbun tanah, di atas potongan besi yang silang menyilang seumpama kerangka cor-coran jembatan itu ditutupi lembaran seng.

Selain tentara, tak ada pelayat lain di kompleks pemakaman  berumur sangat tua itu kecuali perempuan yang sedang menggendong bayi laki-lakinya. Keduanya terus menangis. Si perempuan karena sedih; si bayi sebab lapar. Ingin menyusu, tapi ibunya tak mau lagi membuka bajunya di depan tentara.

Bayi yang terus menangis itu Warto Digdo alias Mbah Mantan, kepala desa lama. Namun, sudah meninggal.  Saat ini kepala desanya Wagino Digdo, anak laki-laki Warto Digdo, yang berarti cucu Suro Digdo alias Suro Gentho.

***

Suro Gentho tiba di rumah Wagino Digdo menjelang Magrib. Sang cucu menyambutnya di depan pintu gerbang. Lima menit sebelumnya salah satu orang yang tadi menyaksikan kebangkitan kakeknya itu telah memberitahu.  Wagino Digdo memeluk Suro Gentho penuh keakraban, memperkenalkan istri dan anak laki-lakinya, lalu membawanya ke ruang keluarga. Semua lampu dinyalakan seolah-olah ada pesta. Semua hidangan disajikan seakan-akan sedang kedatangan raja.

Seperti wabah kolera, berita tentang Suro Gentho yang bangkit dari kuburnya itu pun menyebar ke mana-mana. Tanpa menunggu datangnya pagi, orang-orang berdatangan ke rumah Wagino Digdo yang besar dan mewah itu. Demi bisa menonton Suro Gentho, mereka bahkan rela berdesakan-desakan di halaman dan jalanan dan berebut memanjat pohon. Ada juga yang tak memasang tenda di samping comberan di dekat sumur.

Paginya Wagino Digdo menjumpai para penonton yang menyemut di sekitar rumahnya. Sang kepala desa yang sedang digadang-gadang oleh partai politik berlambang kepala celeng untuk dimajukan sebagai calon bupati pilkada tahun depan itu mengatakan, Suro Gentho telah pergi. Itu saja. Lalu masuk rumah lagi. Ditutupnya pintu rumahnya rapat-rapat. Dibiarkannya orang-orang bergelut dengan tanda tanya.

***

Konon kabarnya, sebenarnya, Suro Gentho tidak ke mana-mana. Masih di rumah itu juga. Menyiapkan cucunya menjadi penerusnya.***

Kajen, 8 November 2021


Dewanto Amin Sadono, guru SMP dan penulis, tinggal di Kajen, Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara 1 lomba Novel yang diadakan Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022.

Cerpen

Lucy di Bulan

Cerpen Febriana Widyat Sari

Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.

Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan.  Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.

“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.

“Iya, Bu”, jawab Lucy.

Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.

“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.

Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.

“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***


Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita. 

Cerpen

Seseorang yang Ingin Mati di Aokigahara

Cerpen Galuh Ayara

Seorang teman tiba-tiba menelepon dan memberitahuku bahwa ia hendak bunuh diri dan pergi ke hutan Aokigahara? Ia memintaku membantunya melewati masa krisis sampai ia bisa membebaskan pikiran negatifnya. Bukankah setiap orang yang ingin bunuh diri berpikir dan berharap di detik-detik terakhir, ia masih bisa selamat di dunia yang serba menjeratnya?

Namanya Fujio. Dia adalah sahabatku ketika aku kuliah di Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. Fujio adalah seorang penulis sastra. Karyanya dimuat di koran, majalah, dan media daring. Ia yang mengenalkanku kepada buku-buku sastra Jepang seperti buku Kazuo Ishiguro, Haruki Murakami, dan para terdahulunya seperti Junichiro Tanizaki dan Yasunari Kawabata. Dia juga yang akhirnya membuatku sangat menyukai ‘Midaregami’, buku kumpulan tanka, puisi berpola khas jepang, yang dianggap kontroversial karya Akiko Yosano.

Fujio adalah sosok lelaki sederhana yang selain menulis, kadang ia suka memasak dan bergaya bak koki restoran. Ia akan mengenakan baju dan topi koki berwarna putih terang saat ingin menunjukkan keahliannya meracik ramen pedas kepadaku. Aku selalu antusias dengan pertunjukan memasak kecil-kecilan di dapur apartemennya yang agak sempit itu. Gaya Fujio yang kocak dan sebenarnya tidak alami ketika meracik ramen itu selalu sukses mengocok perutku. Aku terpingkal-pingkal sampai keluar air mata, sementara Fujio dengan senyum cengengesannya fokus melanjutkan kegiatannya. Ketika mengaduk bumbu di panci ia sengaja membenturkan sendok yang agak besar itu ke pinggiran kuali hingga mengeluarkan suara yang berisik. Aku menutup telinga sambil terbahak-bahak.

Di balik kesederhanaannya, sesungguhnya Fujio lahir dari keluarga kaya di Tokyo. Kekayaan keluarganya mencakup beberapa restoran, bar, hotel, juga dorm berikut salah satu sekolah bahasa di Shinjuku. Rumah tinggal keluarga Fujio berada di Denenchofu, sebuah kawasan pemukiman elit yang dikembangkan oleh seorang industrialis yang dianggap sebagai bapak kapitalisme Jepang. Karena kekayaan keluarga tersebutlah, Fujio dipaksa kuliah bisnis oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis keluarganya. Akan tetapi, Fujio lebih tertarik dengan bidang sastra. Takdir itu kemudian mempertemukanku dengan Fujio di Universitas Waseda.

Pada saat itu–bulan Mei, Jepang mengalami periode ‘tsuyu’ atau musim hujan. Saat itulah aku seringkali bermalam di apartemen Fujio yang terletak tidak begitu jauh dari taman Shinjuku Gyoen. Aku tidak tahu apakah Fujio menyukaiku atau tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun soal perasaannya kepadaku. Aku tidak tahu, tapi sejujurnya kami sering melakukan hubungan seks setiap kali aku menginap di apartemennya, atau pun sebaliknya, ia yang datang ke apartemenku.

“Hidupku sangat berat, Hanin,” katanya suatu ketika. Saat itu aku baru saja menghabiskan satu mangkuk besar ramen pedas buatannya yang berhasil membuat tubuhku panas dan berkeringat. Kami makan ramen sambil menonton film anime Kotonoha No Niwa-Makoto Shinkai yang banyak memakai latar keindahan taman Gyoen. Film itu adalah salah satu film anime Jepang yang aku suka. Selain karena berlatar taman Gyoen yang terasa amat dekat dan digambarkan sangat indah dan mendetail itu, juga karena cerita cintanya yang melankolik dengan dihiasi kutipan tanka lama yang penuh teka-teki.

Aku bergeser untuk membelai punggung Fujio lalu memeluknya dari belakang.

“Kenapa? Apa yang membuat hidupmu berat?”

Aku bertanya sembari membenahi posisi dudukku di atas tatami.

“Entahlah. Kadang aku merasa dikejar-kejar sesuatu di kota ini hingga aku sangat takut dan tertekan.”

“Soal ayahmu?”

“Mungkin lebih dari itu? Aku merasa kota ini penuh tuntutan. Dan aku hanya seorang yang keras kepala. Hmm, terlalu keras kepala untuk mempertahankan ketertarikanku pada dunia sastra.”

Aku menyandarkan kepala di pundaknya.

“Kamu satu-satunya orang paling baik yang pernah aku kenal, Fujio. Aku senang bisa mengenalmu, dan akan sedih jika suatu saat aku harus pulang ke Indonesia dan kita akan berpisah dalam waktu yang lama, mungkin selamanya.”

Aku mengucapkan kata-kata itu untuk membesarkan hatinya sekaligus mempertanyakan secara terselubung, kenapa dia belum juga mau berkomitmen denganku?

“Maafkan aku, Hanin. Aku tidak ingin kamu ikut masuk ke dalam kehidupanku yang sangat rumit. Maaf.”

Ia berkata seolah mengerti kegelisahanku. Aku menelan ludah mendengar kenyataan yang agak pahit itu. Akan tetapi di luar itu, aku begitu nyaman setiap kali dekat dengan Fujio, sehingga aku tidak dapat menuntut apapun darinya, asalkan dia ada.

Aku berdiri dan berjalan ke muka jendela. Hujan rintik-rintik di luar membuat Jepang seperti sebuah lukisan dengan orang-orang berpayung yang berjalan di antara gedung-gedung menyala. Aku ingat, aku pernah melihat lukisan seperti itu di rumah kakekku di Bandung. Jepang benar-benar seperti lukisan yang sangat besar ketika memasuki periode tsuyu.

“Di kaki gunung Fuji ada hutan yang bernama Aokigahara. Orang-orang pergi ke sana untuk bunuh diri. Kau pernah dengar?”

Fujio mengambil satu batang rokok dari atas meja. Aku berjalan kembali ke dekatnya. Aku berjongkok untuk mengambilkan korek lalu menyalakan api ke rokok yang sudah ada di mulutnya.

“Ya. Hmm, aku kurang suka mendengarnya.”

Aku mengambil rokok itu lalu mencium bibirnya yang basah dan berasap. Perlahan tubuhku bergerak dan menjadi sangat melekat dengan Fujio. Aku memeluk dan membuka pahaku lebar-lebar di atas pangkuannya.

“Tolong jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, di mana pun. Sebab aku akan sedih dan merasa bersalah.”

 Aku mengembalikan batang rokok itu ke mulutnya.

“Aku tidak tahu apakah hidupku berharga?”

Fujio mematikan rokok dengan menekan ujungnya di permukaan meja kecil di samping kami.

“Dengar, tidak ada hidup yang sia-sia. Kuatkan dirimu, ya. Sabar.”

“Suatu hari aku akan meneruskan bisnis ayahku. Dan saat itu mungkin aku hanyalah mayat hidup.”

“Kamu masih bisa menulis nanti.”

“Entahlah. Aku muak dengan segala tuntutan di hidupku.”

“Jangan pernah putus asa.”

“Iya.”

Ia lantas memeluk tubuhku sangat erat. Aku merasakan tangannya yang dingin masuk ke dalam blus dan bra-ku. Tangan itu meremas-remas payudaraku hingga aku berdebar bukan main. Aku menurunkan resleting blusku lalu melepas bra dengan napas naik turun dan tergesa. Aku meraih tangannya yang agak kasar itu lalu menciuminya dengan mata terpejam. Aku merasakan seluruh kecemasannya masuk ke pori-pori kulitku, sehingga aku sangat sulit lepas darinya. Aku tidak pernah bisa lepas seakan tubuhku diikat. Aku hanya bisa menerima tubuh itu menyatu dengan tubuhku semakin dalam, semakin dalam. Lalu di kedalaman itu, aku berharap seluruh kegelisahannya reda.

***

Aku menutup panggilan telepon itu dengan tangan yang gemetar, dan hatiku begitu hancur lebur.

“Siapa yang meneleponmu? Kenapa kamu menangis? Apakah dia temanmu sewaktu kuliah di Universitas Waseda?”

Aku tidak segera menjawab. Hatiku terlalu berkecamuk. Fujio baru saja meneleponku setelah kami hilang kontak selama dua tahun selepas aku pulang ke Indonesia. Ia menutup semua akun media sosialnya, juga mengganti nomor ponselnya atau bagaimana aku tidak tahu. Lalu sekarang ia tiba-tiba muncul dan berkata ingin bunuh diri. Aku bisa mendengar suara tangisnya yang berat seolah ia tak sanggup lagi menanggung pikiran-pikiran negatifnya? Bagaimana jika ia benar-benar pergi ke Aokigahara sendirian lalu tidak pernah kembali ke apartemennya, ke rumah keluarganya atau ke mana pun? Ah, aku tidak sanggup membayangkannya.

“Hanin? Kamu baik-baik aja?”

“Hmm, bisa kita pulang sekarang?”

“Yakin? Makan malam kita baru saja datang?”

“Kalau kamu enggak ingin mengantarku pulang, biar aku pulang naik taksi.”

“Wait, wait, Hanin. Oke, kita pulang ya.”

“Thank’s, Adit.”

“Bukan masalah. Kamu kekasihku. Akan kuturuti apapun kehendakmu.”

Setelah Aditya membayar makanan yang tidak kami makan, kami segera meninggalkan restoran itu.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menangis tersedu-sedu. Aku berguling di atas kasur dan kesulitan mengatasi kegelisahanku yang menjadi-jadi. Di tengah perasaan sedih dan khawatir itu, tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Aditya. Perasaan bersalah itu merasuk begitu saja seperti roh yang mendesak dan menguasai diriku. Aku menangis semakin menjadi. Aku kebingungan mengatasi seluruh kegelisahan itu yang saling tindih menindih dan bertumpuk tebal di atas tubuhku.

Aditya adalah temanku sejak taman kanak-kanak. Sewaktu SD, kami pernah mencuri dewandaru sebesar gundu dari halaman sekolah SMA Strada di belakang sekolah kami. Adit yang memetik dewandaru itu karena aku begitu menginginkannya, karena aku tergoda dengan warna merahnya. Buah itu seperti lampion kecil yang menyala. Aku benar-benar tergoda dan amat menginginkannya. Setelah berhasil mendapatkannya, kami tunggang langgang dikejar satpam. Aditya memberikanku dewandaru sebesar gundu, tapi aku merasa ia baru saja memberikan bumi dan seisinya.

Sedari kecil, Aditya selalu memberikan apapun yang kumau, tapi aku tak pernah memberikannya apapun milikku. Sepulang aku dari Jepang, Adit menyatakan perasaannya sekaligus melamarku. Bahkan saat itu aku tidak memberikan hatiku, meski aku mengatakan “ya”. Aku bahkan selalu menolak ketika ia ingin menciumku, padahal sewaktu di Jepang hampir setiap malam aku tidur dengan Fujio. Fujio? Mengapa harus Fujio yang ingin aku berikan segalanya milikku? Padahal jelas-jelas lelaki itu selalu menolak membuat komitmen hubungan denganku.

Aku meraih novel Naomi. Naomi adalah sebuah novel karya Junichiro Tanizaki. Buku itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan Fujio. Naomi berkisah tentang percintaan yang muskil, mendebarkan, provokatif dan penuh tragedi. Aku selalu suka kisah cinta yang melankolik, penuh teka-teki dan tragedi. Mengapa di Jepang penuh tragedi? Mengapa Fujio ingin bunuh diri? Ah, tiba-tiba kepalaku sangat pusing.

Buku itu selalu kubawa ke mana pun bersama dengan buku Midaregami. Aku membuka buku tersebut lalu foto Fujio yang kusimpan di dalam buku itu terjatuh. Aku menangis sambil memeluk foto itu. Segera saja aku meraih ponselku dari atas meja. Aku berusaha menelepon nomor ponsel yang dipakai Fujio tadi, tetapi tidak ada jawaban.

***

Pagi sekali, Aditya datang ke rumahku. Dia membuatkanku sarapan dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Dari meja makan aku bisa mencium aroma cabai merah dan bawang putih yang ditumis dan dicampurkan dengan udang segar dan nasi putih. Tidak lama, Adit datang dengan baki berisi sepiring nasi goreng dan teh jeruk lemon.

“Nasi goreng udang untuk Nona Hanin yang paling cantik.”

Adit menaruh nasi goreng udang dan teh jeruk lemon itu di depanku. Aku tersenyum alakadarnya sambil mulai memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulut.

“Apa perasaanmu sudah lebih baik?”

Aku mengangguk.

“Kalau boleh tahu, siapa orang itu, Sayang? Hmm?”

“Namanya Fujio. Ia teman kuliahku.”

“Dia pasti teman baikmu.”

“Ya, kami hanya berteman, tidak lebih.”

“Lalu apa yang membuatmu menangis semalam?”

“Dia dalam masa-masa krisis. Semalam dia bilang akan mengakhiri hidupnya dan sepertinya dalam perjalanan ke Aokigahara. Entahlah. Dia orang yang sangat rentan dan sulit berteman.”

“Aokigahara? Aku pernah menonton film dokumenter tentang hutan itu. Hutan di kaki gunung Fuji yang dijuluki hutan bunuh diri, kan?”

Tiba-tiba tak terasa air mataku banjir lagi. Aku menangis sesenggukan seperti bocah yang baru saja kehilangan mainan. Adit seketika mendekat dan merangkul tubuhku.

“Teleponku enggak diangkat. Gimana kalau dia sungguh-sungguh. Aku merasa bersalah. Dia menelponku karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Dia memintaku membantu melewati masa krisisnya. Tapi waktu aku telepon balik, dia enggak angkat teleponku.”

Tangisku lantas semakin keras.

“It’s ok, Sayang. Cup cup cup, semua akan baik-baik aja. Kalau kamu mau, nanti aku beli tiket pesawat ke Jepang. Kita sama-sama ke sana biar kamu tenang, sekalian aku juga lagi butuh libur.”

“Kita?”

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa. Terima kasih selalu memberi apa yang aku mau.”

“Aku cinta kamu, Hanin. Tidak ada yang lebih penting dari itu.”

Setelah itu, setelah memastikan aku sudah lebih tenang, Adit berangkat ke kantornya, sementara aku memutuskan tidak bekerja hari ini. Aku terlalu sedih dan sulit menguasai diri.

Aku membuka laptop, mencari tahu kanal berita online di Jepang yang memuat kabar tentang orang bunuh diri di hutan Aokigahara. Berjam-jam aku tidak menemukan nama Fujio Shinkai dari Shinjuku. Lalu aku mengetik nama pena Fujio yaitu Kawamura. Hasil pencarian nama itu hanya karya-karya Fujio yang dimuat di media-media jepang. Aku baru tahu, ternyata sudah banyak sekali karya yang ditulis Fujio. Karena penasaran akhirnya aku ketik nama ayah Fujio, yaitu Yukio Shinkai. Nama itu cukup populer sebagai pebisnis di Tokyo. Dan apa ini? Ada sebuah artikel memuat tentang Yukio Shinkai yang menggelar pernikahan putra tunggalnya dengan seorang anak pengusaha asal Hongkong.

Mendadak udara sangat dingin, tubuhku keram dan sulit bergerak.

Ponselku tiba-tiba berdering. Kulihat panggilan itu dari nomor yang dipakai Fujio semalam.

“Ha-Hanin.”

Mendengar suara yang terbata itu, tiba-tiba aku sangat ingin bunuh diri detik itu juga.***

2022


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media. Buku kumcernya yang berjudul ‘Nyanyian Origami’ terbit pada tahun 2020.

Cerpen

Bancakan

Cerpen Puput Sekar

“Ndri, nanti sore kita ke rumah ibu, ya,” ucap Mas Is seraya duduk di sebelahku.

Aku menutup halaman buku yang tengah kubaca, lalu menghela napas panjang. Sebelumnya kami sebenarnya sudah berencana makan malam di luar, tapi kalau Ibu sudah meminta, kami tak kuasa menolaknya.

“Dua hari lalu kita baru dari sana, Mas. Terus acara kita malam nanti?”

Sorry, kemarin aku lupa bilang, acara sore nanti memang sudah direncanakan ibu. Katanya nanti ada bancakan Dito,” ujar Mas Is lirih.

“Bancakan lagi, bancakan lagi! Mau sampai berapa kali, Mas?” sahutku dengan emosi tertahan.

Aku memang tidak suka dengan kebiasaan ibu mertuaku itu, bancakan! Meski katanya bancakan adalah tradisi leluhur untuk melindungi diri dari malapetaka, wabah, atau apalah namanya. Terlebih bancakan untuk Dito, anakku yang sudah meninggal. Jujur, bukannya aku senang, tapi malah sedih.

Bancakan yang dilakukan ibu seolah menampar diriku dan Mas Ismanto berulang-kali. Karena bukan sekali atau dua kali ibu menyebut-nyebut bahwa meninggalnya Dito disebabkan kesalahan kami berdua. Katanya, karena kami kurang sedekah, kurang bancakan, sehingga Dito menjadi “bancakan” roh-roh jahat. Padahal kepergian Dito sudah jelas penyebabnya. Di usia setahun, ia telah divonis menderita leukimia. Lantas di usia dua tahun, Dito pergi meninggalkan kami semua. Berat, tentu saja, tetapi semua sudah kehendak-Nya.

Menurutku, kepergian Dito sama sekali tidak ada hubungannya dengan roh jahat atau hal mistis apa pun. Obatnya bukan bancakan, melainkan serangkaian pengobatan medis oleh dokter spesialis penyakit dalam.

“Tapi nyatanya tidak bisa menyelematkan nyawa anak kita?” kata Mas Is.

Aku menelan ludah, tidak berani menjawab. Sebab percuma, mendebatnya, yang hal itu hanya akan menjadi abu. Jika mungkin menang pun hanya jadi arang. Tapi bagiku, berobat ke dokter adalah bentuk usaha. Bersedekah tidak harus dengan bancakan seperti yang kerap dilakukan ibu. Sesungguhnya sudah dua tahun sejak kepergian Dito, aku mulai ikhlas. Entah ikhlas yang seperti apa, tetapi aku aku yakin Dito telah bahagia di sana.

Namun tidak dengan pendapat ibu, yang hal itu kutahu dari Mas Is. Dia pernah menyampaikannya kepadaku. Katanya aku belum ikhlas melepas Dito. Katanya ibu juga pernah menyinggung, bahwa mungkin saja tidak segeranya aku mengandung lagi, juga karena hal itu.

“Bahkan ibu pernah mengatakan, terkadang kamu diselubungi oleh energi negatif,” kata Mas Is menyampaikan apa yang disampaikan ibu. Saat itu aku berpikir, sebegitu kejamnya ibu menuduhku seperti itu. Jika mengingatnya, perasaanku jadi berantakan, seketika mataku memanas. Namun, seperti biasanya, Mas Is mendekat, lalu memelukku erat.

“Aku tahu perasaanmu, Ndri,” ujar Mas Is yang sepertinya mengerti perasaanku. “Tapi sebaiknya kita memang tidak perlu membuat konflik dengan ibu. Meski berat, tapi berusahalah untuk bertahan. Yang pasti aku akan selalu berada di sampingmu,” bisik Mas Is menenangkanku.

Dadaku terasa sesak, isak ini pun tak tertahan lagi. Mas Is benar, jika kami tidak menuruti permintaan ibu, hal itu sama saja menabuh genderang perang.

***

Di ruang keluarga ibu duduk bersila.  Di depannya terdapat sebuah tampah besar beralas daun pisang, berisi aneka urapan sayur,  nasi tumpeng, dan lauk pauknya. Hal yang paling membuatku takjub, ibu mampu membuat sendiri semua hidangan istimewa itu. Meski usianya telah senja, berlama-lama di dapur tidak membuat staminanya menurun.

Sementara di sekeliling ibu, duduk rapi anak-anak kecil yang menjadi tamunya. Sebelum makan, ibu memulai berdoa. Dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti ibu mengutarakan permohonan. Permohonan agar Dito tenang di alamnya, permohonan untuk kesehatan kami berdua, juga kesehatannya sendiri. Terlebih permohonan agar aku diberikan momongan lagi. Sebuah permohonan yang terkesan formalitas. Doa yang itu-itu saja yang diucapkan ibu setiap melakukan bancakan, bahkan hal itu sampai kuhafal.

Aku tidak antusias dengan acara rutinitas itu, lagi pula kami baru datang. Tapi ucapan ibu kerap mampu memperburuk kondisi hatiku. Meski sebenarnya aku tahu perkataan itu disampaikan untuk anak-anak yang ikut bancaan, tapi aku tetap merasa tersindir.

“Bancakan ini wujud sedekah. Kebiasaan baik dari leluhur kita. Semoga kebiasaan baik seperti ini tidak dipandang buruk oleh siapa pun. Namanya saja kebiasaan baik, jika kita sedang melakukannya, harus dengan perasaan ikhlas.”

Aku mengigit bibir, meski aku tidak tahu apakah pernyataan ibu itu sengaja untuk menyindirku atau tidak tapi, kata-kata ibu tadi sukses melukai perasaanku. Setelah itu benakku mengembara ke mana-mana. Lantas aku memikirkan apa saja yang ibu katakan dan lakukan. Dari situ aku merasa sejak awal pernikahan kami, ibu sepertinya memang tidak pernah bersikap lunak kepadaku. Menurutku bukan hanya sikap, bahkan jika bicara pun tidak pernah enak didengar. Jika sudah begitu biasanya aku hanya bisa mengelus dada, lalu masuk kamar, seperti yang kulakukan saat ini, menjauh dari mereka, sekadar untuk meluruhkan air mata.

Hari ini, sebenarnya banyak aneka kudapan yang menguarkan aroma sedap hingga terasa menggiurkan, tapi hal itu sama sekali tidak menerbitkan nafsu makanku. Bahkan setiap kakiku menginjak rumah ibu, rasanya semua lantainya penuh dengan duri tajam. Aku ingin acara itu cepat berakhir dan kami bisa pamit pulang. 

Perlahan aku keluar kamar, menuju teras, tetap memisahkan diri dari ibu dan Mas Ismanto. Namun sesekali pandanganku mengarah pada wajah-wajah polos yang tengah menyantap bancakan itu. Jika Dito masih hidup, barangkali dia pun tengah menyantap bancakan dengan lahap, dan tentu saja diiringi dengan canda tawa bersama mereka. Seketika air mataku jatuh lagi.

“Lo, Bulik kenapa nangis? Enggak dapat bancakan, ya?” Suara polos seorang anak mengagetkanku.

Ternyata anak itu Wibi, lengkapnya Wibisono. Usianya tujuh tahun, tetangga sebelah rumah. Ia memang sering main ke rumah ibu. Sepertinya ibu memang menyukai anak kecil, bukan hanya Wibi, tapi juga yang lain. Barangkali karena ibu merindukan seorang cucu, sebab cucu semata wayang, yaitu anak kami, meninggal dengan cepat. Di rumah ini ibu hanya tinggal bersama Bulik Pur, adik sepupunya yang telah lama menjanda.

Sebenarnya ibu telah meminta Mas Is untuk tetap di sini, tetapi Mas Is memilih tinggal jauh dari ibu. Waktu itu alasan Mas Is, agar dekat dengan kantornya. Padahal Mas Is sedang menyelamatkan aku dari konflik dengan ibu. Paling tidak hal itu yang pernah Mas Is ungkapkan kepadaku.

Wibi mengulangi perkataannya.

Aku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum lalu menggeleng. “Belum lapar, Wibi,” sahutku kemudian.

 “Oalah, padahal mau kukasih iwak,” ujarnya sambil menyorongkan paha ayam untukku.

“Eh, enggak usah, untuk kamu saja. Ayam itu protein, bagus buat kesehatan kamu.”

“Kok, Bulik ngomongnya sama sih, kayak Simbah Surti. Kalau kami lagi makan, lalu Simbah memberi kami iwak. Katanya bagus untuk kesehatan.”

Aku tersenyum kaku. Ada sebersit rasa iri di hati ini. Ibu bisa bersikap lunak kepada orang lain, tetapi kepadaku—menantunya sendiri—tidak pernah bersikap begitu. Setidaknya begitu yang kurasakan selama ini. Beruntunglah Wibi yang selalu disayangi ibu mertuaku.

“Oh iya,Bulik, semalam aku nginep di sini, lo.”

“Kamu enggak dicariin ibumu?”

“Ibuku tidak di rumah, kok. Dia pergi jauh. Kerja. Jadi aku sama bapak dan Mbak Nita. Kalau aku sedang kesepian, aku pergi ke sini. Aku suka dibacain buku cerita sama simbah,” terangnya antusias.

Wibi anak pintar dan cerdas, ia senang berceloteh. Barangkali inilah salah satu penyebab ibu menyukainya. Pastinya ibu juga menaruh iba kepada anak yang ditinggal ibunya. Tapi apa pun itu aku sedang tidak ingin menilai kondisi orang lain.

“Setelah aku dibacakan cerita, sebelum tidur aku disuruh berdoa.”

“Oh, ya, pintar,” jawabku pendek sembari tersenyum dan mengusap kepalanya.

“Doanya itu panjang. Selain doa mau tidur, juga doa agar aku dan Mbah Surti sehat. Doa untuk Paklik dan Bulik juga ada. Katanya biar sehat dan banyak uang, dan segera dikasih adek lagi.” Usai mengatakan begitu, Wibi izin kembali berkumpul dengan mereka.

Sementara, aku yang mendengar kalimat itu, mataku kembali memanas. Diam-diam kuperhatikan ibu yang tengah makan sambil bersenda gurau dengan tamu-tamu kecilnya. Beberapa detik kemudian, meski pandanganku masih tertuju pada mereka, tapi ingatanku terpaku oleh pesan Mas Is, yang katanya hal itu adalah kata-kata ibu. Isi pesan itu menyatakan bahwa bisa jadi selama ini aku tengah dikelilingi energi-energi buruk.**


Puput Sekar, lulusan Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari terbitan Republika, tahun 2012. Splash Love in Seoul, Beo Zelga, tahun 2020, terbitan Prudencia. Aktif menulis di komunitas literasi Nulis Aja Dulu dan Opinia. Pecinta mi ayam dan kebudayaan.

Cerpen

Kemboja Putih

Cerpen Ruly R

Telah direnggut segala yang ada di diriku. Habis sudah segala yang kupunya kecuali nyawa yang melekat, mungkin ini juga tidak berguna lagi. Aku terbuang, jauh dari segala yang kuidamkan dan kucintai. Di tubuhku ini darah hanya mengalir, sebatas itu, karena memang tidak ada hal yang bisa menggantikan harga diri. Aku sudah selesai, semuanya sudah dirampas….

Jo terbatuk. Mata lelaki berambut perak itu menerawang ke luar jendela. Tampak bunga azalea di seberang jalan. Dalam pandangannya, bunga itu seperti bunga kemboja yang seakan anomali di tengah padatnya pemukiman. Bunga yang dilihat Jo membawa pada ingatan masa lalu. Tentang dia yang sebelum menahan beban dan keterasingan.

Jo masih ingat persis. Segalanya mencekam, malam itu seorang teman yang masih indekos di asrama yang sama dengan Jo ditangkap. Sedikit beruntung karena Jo saat itu sedang keluar bersama beberapa kawan lain. Dia tidak sampai dibawa oleh yang konon katanya petugas, meski segala tentang berkas-berkas dan perihal administrasinya raib—disita.

Keesokan hari di sebuah surat kabar memasang headline tentang penangkapan beberapa mahasiswa yang dicap komunis. Jo tahu dan sadar tapi semuanya seakan terlambat. Kuliahnya terkatung, hidupnya juga. Menjadi pelarian—dari Belanda ke Rumania, singgah sebentar di Belgia lalu kembali lagi ke negeri kincir angin itu. Terasing di sana, dan pasrah yang akhirnya itu juga dia gadaikan untuk bekerja di sebuah bengkel, meski kemampuannya tak seberapa, hanya bisa utak-atik sepeda ala kadarnya seperti yang dia lakukan di kampung dulu.  

Jalanan lengang, hanya beberapa pejalan kaki yang tampak di pelupuk mata lelaki tua itu. Di kamar, Jo melambungkan pandangan ke arah birunya langit. Biasanya jalanan padat dan ramai meski bisa dikata tempat tinggal Jo ada di daerah Amsterdam pinggiran. Salah satu sebab jalanan kota ramai selain saat hari kerja adalah karena ada pertandingan sepak bola. Mengingat permainan bola kaki itu dada Jo sesak. Ingatan terus berkelindan, tak bisa dicegah terus saja berdesakan hingga akhirnya meruncing pada kaki-kaki dekil, bola lusuh, tanah becek, serta berbagai kegembiraan yang sekarang semua itu hanya sisa, abadi dalam sebatas bulir-bulir kenangan. Segala tak pernah kembali, batin Jo. Semua pupus, lalu sirna bagai debu jalan yang dihempas angin Amsterdam tanpa terkecuali harapannya. Dia lelaki tua yang tidak lagi percaya akan hal itu. Ditaruhnya harapan di dalam lubuk hati, lalu pintu hati ditutup rapat dan dikunci bagai lemari kayu yang ada di kamarnya dulu. Kamar di mana dia dilahirkan dan dirawat lentik jemari ibunya.

Satu hal dan seakan hanya itu yang ingin dikatakannya, dan sebab itu dia mengguratkan penanya di atas secarik kertas meski untuk saat ini—saat matanya menerawang ke luar kamar, dia seakan mengambil jeda untuk menarikkan tinta-tinta pena. Dia kini melangkah kecil, asbak di meja dekat lampu duduk diambil, tangannya merogoh saku kanan celana. Satu kretek diloloskan. Jo terbatuk, riak kental dan menguning keluar, ditutup dengan telapak tangan. Tapi tetap saja rokok dihisap dalam, diembuskan, asap keluar deras bagai kereta uap Belanda menyemprotkan sisa pembakaran.

Kembali dan selalu pandangan Jo tertuju pada jalan yang ada di bawah kamarnya. Di balik kacamata, dua bola mata itu seakan berisyarat bahwa dia ingin bebas, sebebas terbangnya burung di desanya dulu. Dia ingin hidup yang benar-benar hidup, bukan hidup yang terus menerus berjalan dengan membawa beban masa lalu yang ia sendiri tidak pernah tahu dengan persis kesalahannya.

“Andai,” begitu gumam Jo. Tapi pengandaian menjadi kekeliruan yang besar. Sudah tidak ada baginya kejayaan. Masa lalu yang dia ingat hanya tentang keriangan yang sekarang sungguh kabur dan berjarak jauh. Masa lalu tak ubahnya suara yang keras di pikiran, namun lamat di telinga.

 ….. maaf. Jika memang kata itu pantas dan kiranya aku tidak punya kata yang lain lagi. Bukan aku menduga atau berpikir tentang segala yang buruk, tapi aku berpikir kalau ibu dan bapak sudah mati. Aku memang terlampau brengsek, dan untuk saat ini aku sudah benar-benar kalah. Kuakui, aku memang pecundang, tapi bukan di mata mereka. Aku pecundang karena tidak bisa menjagamu, membanggakan kedua orangtua kita, dan malah menjadi orang asing di negeri asing pula. Semua dalam hidupku mungkin telah keliru. Untuk itu aku minta maaf.

Umurku mungkin sudah tak lama lagi. Bukan aku hendak mendahului keputusan Tuhan, tapi begitu yang kupikirkan. Betapa kematian tidak lagi menakutkan karena beban yang berhimpit di dalam hati dan pikiran ini yang selalu dan terus saja membuatku menggigil setiap malam.

Kembali Jo berhenti menulis. Dalam duduknya dia memandang jendela, tak ubahnya jendela itu jeruji besi yang mengungkungnya selama ini. Rumah susun dengan cat warna cokelat tanah dipandanginya lama dari balik jendela. Matanya nanar menatap itu. Tanpa satu aba-aba, air matanya menetes. Bayangan masa lalu tentang harapannya meninggalkan Indonesia dengan penuh bangga kini seakan koyak. Hanya menjadi luka batin yang dalam.

Ingatan Jo seakan kembali ditarik. Sebuah desa bernama Kepuh gempita bukan main, seluruh warga tampak mengantar Jo yang bernama asli Sumarjo untuk melanjutkan kuliah di negeri yang berpuluh ribu kilometer jauhnya. Jo tak mungkin lupa, setidaknya orangtuanya yang hanya buruh tani bisa membanggakan dirinya, putra sulung mereka. Marwanto dan Hartini kedua adik Jo yang saat itu masing-masing masih terlalu dini untuk tahu tentang arti sebuah perpisahan tidak pernah mengira bahwa hari itu menjadi hari terakhir mereka bertemu kakaknya. Begitu juga dengan Jo yang tidak terbesit sedikit pun kecemasan saat harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang saat ini begitu dirindukannya.

Saat perpisahan itu ibunya juga membawakan sebuah kemboja putih yang memang menjadi kebiasaan ibunya dalam setiap pagi mengumpulkan kemboja. Dulu Jo menganggap ibunya sekadar iseng atau memang tidak ada pekerjaan lain, tapi karena ingatan tentang kemboja itu, Jo kini sangat rindu akan segala yang telah lampau berlalu. Luka pikiran dan batin, geram, mengutuk pada suratan nasibnya sendiri, Jo meneteskan air mata, terus saja menetes. Bulir lembut air mata bagai genangan masa lalu yang tak bisa dihindari.  

Sebuah klakson mobil yang terdengar keras membuyarkan lamunan Jo. Matanya melihat sedan kecil berwarna perak, seperti milik seorang sahabat bernama Theo. Ya karena seorang kawan itu juga Jo merindukan tanah air.

Di sebuah bar tempat biasa klub penggemar musik blues berkumpul, Jo dan Theo bertemu. Lelaki berdarah Belanda-Maluku yang bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia namun dengan aksen Belanda kental dan mahir memainkan harmonika itu mulanya mengawali pembicaraan dengan Jo lewat cerita bahwa dia baru saja pulang dari Indonesia, tanah nenek-kakeknya. Lelaki yang berumur tak beda jauh dengan Jo itu juga mengatakan kondisi Indonesia saat ini sudah aman dan kondusif. Pemimpin di sana sudah berganti.  

“Apa kamu tak rindu keluargamu?” tanya Theo usai bercerita panjang lebar tentang politik Indonesia. Cerita yang disampaikan dengan sangat antusias dan semangat.

Jo diam seribu bahasa. Matanya merah, antara kemarahan dan rasa penuh harapan ada di dua bola mata lelaki itu. Theo seakan paham dengan perasaan kawannya. Kebisuan dan keheningan milik mereka jelas kontras dengan suasana bar yang riuh. Jo mengambil gelas yang ada di meja dengan tangan yang bergetar.

“Apa barang sedikit kau tidak bisa berdamai dengan masa lalu, Jo?” tanya Theo setelah beberapa saat diam dan hening milik masing-masing menguasai meja mereka. Kembali Theo menyampaikan pandanganya, “Jika kau memang rindu pada keluargamu sebaiknya kau pulang. Jangan permasalahkan segala yang telah berlalu.”

Jo hanya mengangguk seakan mahfum dengan hal yang sedang diutarakan Theo. Tapi Theo menatap Jo dengan penuh heran, tidak tahu mesti memberi nasihat macam apa untuk kawannya itu, karena bukan sekali ini saja Theo memberi masukkan pada Jo.

“Jelas kau terlalu egois, Jo,” ucap Theo lirih.

Jo masih saja diam. Dia menandaskan minumannya dalam satu kali tegukan. Kemarahan tampak dari air muka lelaki tua yang menjadi pelarian itu.

Theo menatap Jo dengan saksama. Tapi yang ditatap itu justru mengarahkan pandang ke panggung kecil yang ada di bar. Sudah jelas tidak ada hal lain yang memang dipikirkan Jo kecuali perkataan Theo. Kembali Theo menyapa Jo dan kali ini ditambah gerakan kecil ke bahu. Beberapa pengunjung bar tampak memicingkan mata penuh heran ke arah mereka.

“Kau benar. Jelas benar. Aku memang rindu keluargaku tapi jika kau katakan tentang pulang. Lain. Jelas ini lain!” Jo meloloskan sebatang rokok seolah mencari ketenangan tapi dalam raut muka itu masih saja ketegangan yang tampak.

“Kupikir kau paham tentangku. Kau yang kuanggap sahabat ternyata tidak semua kau mengerti. Jelas aku rindu keluarga, rindu kampung halamanku. Tapi sudah habis segala yang kupunya. Aku orang gelap di sini. Pulang dengan apa? Aku harus bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Bukan aku mengungkit tentang harga diri tapi ini semua justru tentang aku yang menahan agar segala masa lalu tidak lagi muncul. Telah kukubur segalanya. Aku hanya berpikir, ada kalanya sebuah dendam tidak perlu lagi kutuntaskan dengan hal apapun. Dalam hal ini, aku memilih tidak melakukan apa-apa lebih berarti terutama bagiku sendiri, karena hal itu yang telah kupilih.” Panjang lebar Jo mengatakan itu usai dia mengembuskan kepulan asap yang tebal dari mulutnya. Sebentar setelah itu Jo pamit, hanya kata pendek yang diucapkannya pada Theo, lantas dia meninggalkan bar.

Saat itu jam belum terlalu larut meski angin yang berembus cukup membuat gigil tubuh Jo. Dalam perjalanan pulang menuju apartemen yang Jo sewa dengan harga cukup murah bayangan datang. Sekat antara masa lalu dan keinginan pulang beradu dalam pikiran Jo, terus berputar dan terus begitu. Hingga dia sampai rumah pikiran tentang kata-kata Theo terus mengejar Jo.

Air mata menetes, kertas surat menyerap air itu. Kembali Jo mengarah pandang ke luar jendela. Ada suara berisik, di kamar sebelah seorang ibu sedang membentak anaknya. Segala yang sentimental dan nostalgik menarik ingatan Jo tentang orangtuanya yang kerap marah. Terutama ibunya sendiri. Bukan Jo serba tahu tapi jika rambutnya saja sudah memutih, dia berpikir orangtuanya pasti sudah meninggal dunia, meski dia tidak tahu bagaimana persisnya. Prediksi dari kelogikaan, pikir Jo.

Kabar kematian memang tidak didapat Jo, dia sadar dan tahu sekalipun kabar itu ingin disampaikan, adiknya pasti tidak tahu persisnya harus bagaimana mengirimkan kabar duka pada Jo. Lagi, bayangan kematian bukan kedukaan karena bagi Jo duka sudah menempel lekat dalam sisa umur hingga sekarang, bahkan untuk ke depannya.

Jo melangkah kecil. Menuju dapur, mengambil sebotol air putih dan meneguknya. Setelah itu dia kembali ke kursinya, kembali mengambil pena dan bersiap menggoreskan tinta-tinta hitam pada kertas.

Kertas yang semula telah dibubuhi tulisan dirobeknya. Kata-kata seperti mati bagai jiwanya dalam segala keterasingan selama ini. Ditulis ulang surat itu dengan kalimat yang hampir sama dengan sebelumnya. Yang kali ini berbeda perihal permintaan maafnya yang ditulis di bagian awal surat.

Entah kenapa menulis surat untuk kali ini seperti siksaan yang secara tidak langsung terus bertalu dalam dada Jo. Gemuruh hatinya jelas tampak ketika mata tuanya kembali menerawang ke arah luar jendela. Terus saja mata Jo ke arah yang sama, seakan dia tidak kehabisan kata-kata tentang hal yang selama ini dia rindukan namun tidak bisa ditulisnya. Hanya pada kaca dia seperti meminta pengertian. Sendiri.

Kamar sunyi, amukan tetangga hilang setelah diakhiri dengan bantingan pintu yang sangat kuat. Sudah biasa bagi Jo, bahkan hampir saban hari dia mendengar pertengkaran ibu dan anak itu. Jo sudah tidak memedulikan karena segala yang terus dia pedulikan seperti sudah tidak membutuhkannya. Dalam duduknya kembali pengandaian itu keluar. Ya seandainya dia tidak mendapat beasiswa studinya ke luar negeri untuk meneruskan sebagai insinyur tentu sekarang dia bisa menikmati masa tuanya di tanah air. Terpandang syukur, jadi buruh tani tak masalah bagi Jo, asal masih tetap di tanah airnya sendiri. Bukan bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel meski bengkel itu ada di luar negeri. Tapi satu yang jelas dalam hidupnya, dan itulah yang dia inginkan, bukan hidup dalam keterasingan dan pengasingan yang sampai mati harus dia terima.

Seperti telah puas menatap jendela, Jo mengarah pandang pada kertas surat. Beberapa buku yang ada di meja juga tak luput dari pandangannya. Merah mata Jo dibakar marah begitu dia melihat buku itu. Tapi Jo seperti tersadar segala marah tiada menemui guna. Bertahun lalu begitu tentang konflik politik itu pecah sempat dia ingin membakar buku-bukunya, tapi hal itu dia urungkan. Tidak tega Jo membakar buku miliknya. Buku yang padahal bukan dengan uang Jo membelinya, melainkan dengan rasa persahabatan. Ya, seorang sahabat kerap membawakannya buku-buku itu. Yang tersisa dari persahabatan itu tak lain tinggal buku dan kenangan. Tidak ada lagi hal lain, karena setelah konflik itu pecah sahabat Jo tidak pernah lagi terlihat. Rumor berkembang tentang dia yang diculik oleh sekelompok orang.

Kalian mungkin menganggapku sudah mati karena aku tidak pernah pulang bahkan mengirim kabar pun tak pernah. Sampai saat ini bahkan hingga aku menulis surat ini, aku merasa malu atas hidupku. Memang aku tak pernah mendengar kabar dari kalian, tapi aku yakin kalian bernasib lebih baik daripada aku. Tentang Indonesia aku kerap mendengar dari kawan atau membaca di surat kabar. Kondisi di sana setidaknya tidak lebih buruk dari puluhan tahun yang berlalu. Aku tidak tahu persisnya, tapi pada intinya, aku harap semua baik-baik saja.

Sudah kutulis segala dalam hidupku berantakan. Jangan pernah pikirkan kakakmu ini. Memang begitu adanya waktu yang masih saja misteri. Aku tidak hendak membela diri tapi memang aku tidak mau secara terang untuk pulang. Cukup bagiku untuk mendengar kabar tentang Indonesia dari sini, meski kabar itu bukan disampaikan langsung oleh adikku sendiri.

Kubuat pengakuan kalau memang ini sudah menjadi bulat keputusan. Yang aku ingin kalian tahu setidaknya aku rindu kampung halaman meski tak sudi aku pulang. Bukan sekadar tak sudi karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa pulang. Semua sudah habis seperti yang sudah kutulis sebelumnya.

Beruntung. Bisa kukatakan demikian karena setidaknya aku masih bisa bernapas hingga sekarang, lain daripada beberapa temanku yang jejaknya sampai sekarang hilang. Ada dua hal yang ingin kukatakan yaitu tentang penyesalan dan harapan, meski aku sendiri tidak lagi sepenuhnya percaya dengan semua itu. Segalanya sudah sepantasnya kukubur, sekarang aku hanya lelaki tua yang kerap menggerutui nasibku di tengah segala yang makin hari makin asing saja bagiku.

Sumarjo kakakmu ini masih sama seperti dulu. Masih sesekali suka bercanda meski lebih banyak marah. Jika kelak kita bertemu karena kamu ke sini aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, bahkan aku bingung harus menaruh mukaku sendiri di mana.

 Ingin aku mengubur atau menyimpan wajahku, bahkan sudah jauh-jauh waktu ingin kulakukan layaknya aku telah melupakan penyesalan dan harapan, seperti aku mengubur dendam masa lalu. Tapi itu semua susah untuk kulakukan bahkan hingga sekarang.

Betapa aku bodoh, tersadar akan segalanya ketika seorang kawan bercerita dan terus memberi nasihat. Mungkin kalian, dua adikku tidak perlu susah payah menganggapku kakak karena aku sudah menabur garam pada luka kalian. Surat ini terasa perih bagiku. Aku memang benar-benar tidak berguna. Dalam segala sesal aku tulis semua ini. Jika harapan masih ada, kelak kalian akan terbang ke negeri kincir angin ini. Kutulis alamatku dalam surat, tanya tentang lelaki tua bernama Jo. Satu harapanku lagi tentang semua, entah aku masih hidup atau sudah mati, bawakan aku setangkai bunga kemboja putih. Hanya itu yang kuinginkan, tak lebih. Jika kelak aku sudah mati taruh itu di pusaraku.

Rindu kalian semua, rindu tanah airku, jelas itu tak bisa kubantahkan. Tapi kerinduan yang paling hakiki menurutku adalah kerinduan yang kali ini buntu, tanpa sebuah pertemuan. Sudah jelas segala kerinduan ini kutahan, biar begini adanya. Jauh dari sini di pengasingan dan aku memang benar-benar asing, kakakmu hanya ingin kemboja putih itu, kemboja yang selalu membawa kerinduanku pada tanah air. Memang selayaknya kerinduan adalah kesucian yang seperti terpancar dari bunga yang kuiingikan itu. Kemboja yang selalu saja membuatku terpanggil akan segala kehidupan keluarga kita dulu, sebelum aku pergi jauh dan tak pernah kembali lagi.   

Salamku,

Sumarjo, kakakmu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana Books Store & Club. Suratmenyurat:[email protected]

Cerpen

Kucing dan Gerhana Bulan

Cerpen Karisma Fahmi Y

Ia membunuh satu persatu kucing di kota itu dan menggantungnya di tempat-tempat umum, seolah memperlihatkan pada semua orang bahwa ia telah bangkit, dan ia bukan kucing sembarangan. Ketakutan berembus ke seluruh penjuru kota. Tak seorangpun berani menjawab tantangannya.

Dua hari sebelum hari itu, orang-orang menguburnya di antara kuburan dukun dan kuburan ibunya. Di hari ketiga, ia bangkit. Tubuhnya masih utuh, lengkap dengan rupa dan lentur tubuh kucingnya. Ia berjalan dengan langkah acuh. Matanya yang dulu bulat sayu kini menyala, memancarkan kebencian. Taringnya mengeras. Orang-orang berlari menghindar dan menutup pintu.

Sepuluh tahun hidup dengan hinaan dan pukulan, tujuh tahun hidup di penjara, kini ia terlahir kembali sebagai manusia bebas. Ia bangkit dari kematian dan penindasan orang-orang yang berniat membunuhnya. Kini ia yakin, ia memiliki tujuh nyawa di dalam tubuhnya. Ia telah bangkit dari kematian untuk mewujudkan apa saja yang ditanamkan pada dirinya. Sepenuhnya ia mengamini, tujuh lapis nyawa yang lekat pada dirinya adalah kebenaran yang tak bisa disangkal. Kebangkitan telah melahirkan nyawa baru baginya.

Langkah pertama yang dilakukannya adalah memburu dan membantai semua kucing. Ia menganggap kucing adalah binatang lemah. Mereka, dan juga pecinta kucing itu, telah menanamkan kemalasan dengan memberi kenyamanan dan kemuliaan pada para kucing. Semua itu membuat kucing menjadi tidak bermartabat. Mereka tak pernah paham fungsi cakar yang dimilikinya, dan kumisnya menjadi begitu lentur tak berwibawa. Mereka hanyalah pembual yang lebih bangga pada kehebatan bulu ketimbang cakar dan tajam taringnya.

***

Kelahirannya dimulai dari sebuah gerhana. Berkali-kali dukun beranak menahan nafas. Dukun mengelus kening perempuan di depannya yang berleleran keringat. Kali ini benar-benar tak biasa. Dukun ikut kehabisan nafas. Bibirnya tak lepas merapal mantra.

Malam itu adalah malam gerhana, malam penuh rahasia. Dukun menjaga agar persalinan tak diganggu roh jahat. Niat jahat dan segala kegaiban dipercaya berhembus saat gerhana benar-benar sempurna. Kiriman teluh, tenung, dan semua kejahatan datang saat gerhana hitam. Perjanjian dengan segala setan dibayar lunas saat malam meremang. Kelahiran di waktu-waktu ganjil dipercaya membawa petaka.

Di kejauhan bebunyian dipukul bergantian. Para lelaki berjaga tanpa jeda. Bulan meremang. Orang-orang semakin keras memukuli apa saja, pohon-pohon, kentongan, dan juga panci atau peralatan nyaring yang lain. Binatang-binatang malam pun hening. Tak ada keributan. Semua terdiam seolah mengetahui apa-apa yang tak tertangkap kasat mata.

Perempuan itu kehabisan tenaga. Bayi di dalam perutnya bergerak seolah mencakar, menendang dan merobek dinding perutnya. Tubuhnya semakin lemah. Lamat-lamat masih didengarnya rapalan mantra si dukun agar ia terus terjaga demi bayinya. Lalu sosok itu muncul dari kegelapan. Dua purnama bundar melintasi kegelapan, melintasi tubuhnya. Perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya begitu dua cahaya melompati tubuhnya. Tak sempat didengarnya tangis bayi yang seketika keluar dari jalan rahimnya.

Bulan kembali benderang. Burung-burung berkelepak di pepohonan. Bayangan kucing hitam berjalan keluar. Tangis bayi diikuti teriakan histeris beberapa perempuan di dalam ruangan. Dukun bayi ternganga tak percaya. Kucing hitam melintas tepat di depannya ketika gerhana. Bayangan samar-samar dan gesekan bulu ekornya yang lembut menyapu telapak tangannya. Kucing itu membawa pergi nyawa perempuan di depannya persis ketika gerhana benar-benar sempurna.

Kabar kelahiran bayi kucing saat gerhana itu menyebar. Orang-orang hendak membinasakan bayi itu, bayi yang dianggap sebagai siluman kucing yang menjadi kutukan.

“Bunuh bayi itu! Ia siluman!” teriak orang-orang.

“Tak semudah itu membunuh siluman kucing!” suara lantang si dukun memukul mundur nyali orang-orang.

Malam itu mereka bersikeras menghabisi nyawa siluman kecil itu. Mereka meletakkan bayi itu di atas rakit, lalu mengutus beberapa pelarung membawa bayi itu ke tengah danau, membiarkan bayi itu menjadi santapan ikan. Menjelang subuh, perahu para pelarung merapat ke pinggir. Betapa kaget dan terbelalak mata mereka demi mendapati rakit kecil itu menepi. Rakit kecil berisi bayi itu terapung dimainkan gelombang kecil air. Tangis bayi itu begitu bising. Tak ada yang membantah kata si dukun, siluman kecil itu tak bisa dibunuh begitu saja. Enam nyawa masih menempel di tubuhnya. Petaka membayang di kepala mereka. Gerhana telah membawa kelahiran bencana.

Malam itu ia merenungi nasib. Memikirkan jalan hidup yang mengantarnya ke bui. Tak pernah terbersit dalam pikirannya sekantong ikan itu akan menjadi muasal celaka dirinya. Selama ini ia hidup dalam kejaran demi kejaran orang-orang. Tatapan bengis, jahil, dan bahkan jijik setiap kali harus diterimanya. Pukulan dan guyuran air seringkali harus dirasakannya tanpa tahu kesalahannya.

Semua orang menyebutnya siluman kucing. Semua orang berlomba-lomba menyakiti, bahkan membunuhnya. Tak seorang pun iba padanya, kecuali si dukun yang tinggal di ujung kampung. Hanya si dukun yang membela dan membesarkannya selama ini. Dukun itu melindunginya dari kejaran dan pukulan orang-orang. Namun semua itu tak berlangsung lama. Dukun beranak itu meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. Tak ada lagi orang yang mengasihinya.

Banyak kucing berkeliaran di tempat itu. Kucing-kucing itu justru memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya. Orang-orang akan memberinya makan,  bocah-bocah kecil mengelus kepalanya, atau bergelung malas di dekat perapian. Kucing-kucing itu dimuliakan. Mereka hidup nyaman, berjemur dan bermalasan sepanjang hari. Berbeda dengan dirinya yang tak pernah jeda dari siksa dan kejaran sepanjang waktu. Sering ia berpikir apakah takdirnya tertukar dengan takdir kucing-kucing itu hingga ia selalu tertimpa sial dan penderitaan akibat rupa kucingnya. Begitulah, ke manapun ia pergi, setiap mata mengincarnya. Karenanya ia lebih senang keluar di malam hari.

Tak ada yang mengganggunya di malam hari. Tak ada yang menyentuhnya ketika gelap malam datang. Ia menyukai malam dengan segala ketenangan dan kegelapannya, karena begitu pagi tiba, semua akan kembali seperti semula. Kesialan dan kejahatan baginya tak akan berhenti sepanjang hari. Seperti pagi itu, saat ia melihat tukang sayur mendorong dagangannya. Bukan salahnya ketika ia tergiur melihat sekantong ikan yang tergantung di gerobaknya. Aroma amis ikan segar itu menyumpal hidung, mengoyak naluri kucingnya yang tiba-tiba lapar. Ia mengikuti si tukang sayur hingga ujung gang, tempat tukang sayur itu biasa mangkal. Tiba-tiba tukang sayur itu melihat ke arahnya.

“Pergi kau, bocah setan!”

Antara kaget dan lapar, demi mendengar hardikan itu, amarahnya tersengat. Diserangnya tukang sayur itu tanpa ampun. Dicakar dan digigitnya tukang sayur itu hingga tak berkutik. Meski tak punya taring tajam, namun giginya cukup kuat untuk mencacah leher berdaki si tukang sayur.

Polisi segera tiba. Ia lari meninggalkan tempat itu. Disambarnya sekantong ikan yang telah diincarnya. Namun sial, ia tertangkap. Pukulan dan gebukan bertubi-tubi menimpa tubuhnya. Ia meronta-ronta lalu limbung tak sadarkan diri. Sejak itu hidupnya berlanjut di penjara rehabilitasi anak-anak. Usianya baru sepuluh tahun. Sekantong ikan yang raib dan banyaknya kesaksian memberatkan semua tuduhan yang ditimpakan padanya.

Ia tak pernah tahu apakah benar ia adalah titisan kucing yang memiliki tujuh nyawa dalam tubuhnya sebagaimana yang diyakini orang-orang. Beberapa kali ia selamat dari maut yang ditimbulkan orang-orang padanya. Namun ia tak percaya memiliki tujuh nyawa yang menyelamatkan dirinya selama ini, nyawa cadangan yang selalu membuatnya hidup kembali.

Malam mulai gelap, lampu-lampu telah mati, penghuni sel pun telah lelap. Ia mengeluarkan pisau di bawah bantal. Ia mencuri pisau itu dari dapur seusai makan malam. Dihunjamkannya pisau itu ke dada. Sedetik ia sempat memekik, namun ia memilih kembali bungkam. Ia ingin tahu apakah benar ia memiliki enam nyawa lain yang akan menggantikan nyawa utamanya. Ia ingin tahu apakah nyawa lain akan membuatnya kembali hidup. Kalaupun harus mati di dalam bui, ia sudah tak peduli. Baginya penderitaan yang tak berkesudahan itu tak pernah terganti.

Darah menggenang di lantai bui yang kusam, mengalir hingga ke tempat opsir penjaga. Ruam amis menguar dan menggegerkan penghuni sel. Di kamar selnya, tubuhnya telah menjadi mayat. Pucat, beku, dan mati. Ia benar-benar mati. Orang-orang menguburnya di antara kuburan si dukun dan kuburan ibunya.

***

Dewan perlindungan binatang memburunya. Dengan dalih kemanusiaan dan perikehewanan, mereka membuat rencana pembunuhan terhadap dirinya. Hukum dan peradilan tak lagi mampu mengurungnya. Rencana itu diamini semua orang.

Mereka mengadakan pasar malam. Seseorang ditugaskan untuk membakar ikan. Aroma ikan segar yang dibakar itu begitu menggoda. Ia pun tak dapat menahan nafsu kucingnya. Dilahapnya sepotong besar ikan berlumur racun itu tanpa curiga. Sejak kebangkitan itu, ia tak pernah takut pada apapun, bahkan pada maut yang telah direncanakan untuknya. Maka tak perlu curiga pada segala upaya orang-orang untuk menangkap atau menyiksanya.

Ia terbatuk-batuk. Mulut dan matanya berair, lalu membusa. Tubuhnya menggigil hingga kuyub. Matanya membelalak mengejan. Bulu-bulu di tubuhnya kuyub lengket ke tubuh. Racun telah menyurutkan nyawanya. Orang-orang membawanya ke rumah sakit terdekat setelah ia benar-benar tak bergerak. Dokter memvonis racun itu telah bekerja, merenggut nyawanya. Semua bersorak gembira.

Dengan dalih peringatan, dewan perlindungan binatang pun mengusulkan untuk membuat patung dirinya dari tubuhnya yang telah memayat. Tak ada yang keberatan. Mereka bersiap mengawetkan tubuhnya di dalam sebuah peti kaca. Patung itu diletakkan di menara kota supaya semua orang dapat melihat dan mengingat perilaku genosida yang pernah dilakukannya terhadap kucing-kucing di kota itu. Ada pula yang menganggap patung itu sebagai batu peringatan bagi kucing-kucing yang mati.

Malam itu, gerhana kembali berlaga. Tak ada yang memedulikannya. Orang-orang tetap melaksanakan pekerjaan seperti biasanya. Di hening redup remang gerhana bulan yang samar, patung kucing di dalam peti kaca itu menggerakkan bola matanya, yang kini kembali bercahaya. Ia membarutkan cakarnya pada kotak kaca, mengibaskan kakinya, melepaskan tubuh lenturnya, melepaskan diri dari ruang kaca yang mengurungnya.

“Praaangg…!!” lemari kaca itu pecah berkeping. Tubuh besarnya telah bebas. Ia kembali terlahir untuk kesekian kalinya. Orang-orang pun panik, berlarian menutup pintu rumahnya. Ia berjalan membelah kota. Ia percaya, ia adalah kucing yang tak perlu takut pada apapun, termasuk pada kematiannya.

Rumah Ladam, Agustus 2022


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Jejak Sang Politikus

Cerpen A. Warits Rovi

Mat Juking melesakkan sebelah tangannya ke dalam saku baju bagian bawah. Lembut terasa remasan kertas itu, bersebelahan dengan sepotong setanggi yang pendeknya menyerupai telunjuk. Di saku itu juga ada korek api yang kemarin lusa ia comot dari meja sebuah depot saat dirinya membeli nasi. Ia tertarik karena korek itu bergambar wajah perempuan rupawan.

Lokasi pemakaman sangat sunyi dan mencekam. Ia berharap bulan tipis bersinar temaram yang mematung di ujung pucuk kemboja itu segera lenyap. Karena pekat, cekam dan segala bentuk kesunyian kuburan telah menjadi teman karib yang membuat dirinya yakin hajatnya akan terkabul.

Ia berharap musang, kucing, burung hantu, bahkan—jika ada—ia ingin kuntilanak di sekitar pemakaman itu segera berbunyi dengan nada yang paling seram. Karena suara seram adalah bumbu bagi ritualnya supaya keinginannya tercapai.

Setanggi telah ia nyalakan dengan sebatang korek bergambar wajah perempuan rupawan. Setelah mengembalikan korek itu ke dalam saku, giliran kertas penuh remasan yang ia ambil. Diratakan di datar pusara dengan bantuan telapak tangan yang digosokkan perlahan dan berkali-kali, hingga kertas itu samar-samar menampakkan foto seorang calon kepala desa bernama Risun.

Mat Juking tersenyum. Sebentar menatap langit seraya menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Semoga kau sukses jadi kepala desa,” gumam Mat Juking. Sepasang matanya menatap potret Risun yang berkumis dan berjas biru di remasan kertas itu.

Mat Juking sadar, calon itulah yang empat tahun lalu membunuh ayahnya, dan mestinya hari ini dirinya menjauhi orang itu. Tapi uang telah mengubah segalanya.

***

Politik selalu membuat Mat Juking jadi bunglon. Adaptasi warna bagi Mat Juking adalah cara mempertahankan hidup, agar pancuran uang mengarah pada hidupnya yang haus harta dan penghormatan, agar perutnya terus buncit dalam kemakmuran, dan agar Sulima, istrinya setia kepada dirinya serta tak berontak jika suatu saat dimadu dengan beberapa wanita lain di kampung Baliyan.

Baginya, ukuran kesetiaan memperjuangkan seseorang yang mencalonkan diri jadi kepala desa adalah tergantung pada seberapa banyak uang yang diberikan kepadanya. Tak hirau calon itu punya watak kancil atau buaya, yang penting memberi uang banyak, maka urusan akan lancar. Dan Mat Juking selalu beranggapan, dirinya pro-demokrasi, merasa jauh lebih bermakna ketimbang para tetangganya yang merantau untuk cari uang di luar pulau Madura dan mereka tidak pulang saat pemilihan.

Siang itu ia bergegas ke belakang gedung bekas sekolah dasar yang sudah dilabur kerak lumut kering yang menghitam. Tangan kanannya merogoh kertas remasan yang berhari-hari disimpan di saku bajunya dan setiap dini hari selalu ia bacakan mantra di kuburan. Sebentar mengamati potret Risun itu dengan teliti. Ia tersenyum seolah tengah mengungkapkan sesuatu pada potret itu. Kemudian tangan kirinya meraih kertas remasan itu dari tangan kanannya. Tangan kanannya merogoh saku baju dan mengeluarkan korek api. Setelah sejenak mengamati sekitar dan ketika dirinya yakin tak ada siapa-siapa, ia lalu membakar kertas remasan itu hingga berubah jadi arang. Angin menghempasnya hingga hancur luluh menjadi abu yang menyatu dengan pasir.

Semua itu ia lakukan setelah ada seorang calon lain berjas kuning memakai peci yang memberi uang lebih banyak kepadanya, dan ia berjanji akan menikahkan Mat Juking dengan perempuan rupawan seperti gambar di korek api itu.

Mat Juking tersenyum memandangi gambar korek yang sedang ia angkat dan dibiarkan menggantung oleh jimpitan jarinya.

***

Tak ada remasan kertas, tak ada setanggi, dan tak ada korek api di saku bajunya. Malam itu ia hanya membawa sebilah bambu yang panjangnya sejengkal bertulis nama calon kepala desa yang di sepanjang jalan kampung balihonya sudah berjajar ramai terpacak di pohon, tiang listrik, dan cagak bambu; memakai jas kuning dan berpeci hitam: SURAKNA namanya.

Semuanya berawal dari obrolan kecil di warung Mastoni. Mulanya Surakna membayar nasi yang Mat Juking makan beserta seluruh lauk dan camilannya. Mat Juking bilang “Tidak usah”, tapi Surakna memaksa bahkan ia menyelipkan amplop ke saku baju Mat Juking sambil berbisik “Itu masih tahap awal, jika kamu membantuku dalam Pilkades maka akan ada banyak tambahan uang, kamu akan diangkat jadi perangkat, dan kamu akan kunikahkan dengan seorang wanita cantik yang wajahnya sebanding dengan itu.” Surakna menunjuk gambar korek api di tangan Mat Juking. Mat Juking sekadar tersenyum dan tidak mengangguk, tetapi setiba di rumahnya, setelah tahu isi amplop itu tujuh juta, ia pun langsung menuju bekas gedung sekolah dasar itu dan membakar potret Risun.

“Beginilah politik. Uang Surakna lebih banyak. Dia masih menjanjikan jabatan dan wanita cantik. Dia juga tidak pernah terlibat konflik dengan keluargaku. Rasanya lebih waras jika aku lebih baik membela Surakna daripada membela Risun si pembunuh ayah itu,” timbang Mat Juking saat itu sambil bergegas pulang setelah selesai membakar potret Risun di belakang gedung bekas sekolah dasar.

Ia mengingat bagaimana empat tahun lalu ayahnya meninggal dalam keadaan babak belur dan mayatnya dibuang ke jurang kampung tanpa sehelai kain. Seminggu kemudian terungkaplah bahwa pembunuhnya adalah Risun. Alasan ia membunuh hanya masalah sepele; karena ayah Mat Juking mengambil selembar daun pisang untuk diberikan pada kambingnya. Tapi anehnya, ia terbebas dari hukum, hidupnya tetap tenang, seperti tak ada apa-apa, membunuh ayah Mat Juking seolah hanya membunuh seekor semut yang tak perlu terbebani oleh bayangan dosa, dan malah ia mendekati Mat Juking dua bulan menjelang Pilkades. Mat Juking pun merasa dirinya tak perlu memperhitungkan dia sebagai pembunuh ayahnya setelah sepuluh uang kertas seratus ribuan ia julurkan.

Tapi kini, setelah Surakna memberi uang yang lebih banyak, Mat Juking berubah haluan. Sekeras mungkin ia berusaha untuk memenangkan Surakna di Pilkades. Salah satunya, seperti yang biasa ia lakukan pada calon kades yang minta bantuan; datang ke sebuah kuburan, membawa benda-benda yang berhubungan dengan si calon, lalu ia membaca mantra, ya mantra, bukan doa.

Malam itu, nama Surakna di sebilah bambu ia taruh di atas kuburan, lalu tangannya kembali merogoh saku bajunya. Bukan korek api atau setanggi yang ia ambil, namun sehelai tali kutang warna biru. Tali itu ia ikat kuat pada bilah bambu yang bertuliskan nama Surakna. Itu bukan tali kutang sembarangan, Mat Juking mengambilnya dari kutang milik istri Risun di suatu malam yang senyap dengan langkah awas dan hati-hati.

“Kejayaan akan jadi milikmu, Bos Surakna,” suara Mat Juking dihalau angin. Di langit tak ada bulan. Beberapa ekor kelelawar bercericit di rimbun kemboja. Mat Juking kemudian menatap langit kelam sembari tersenyum.

“Logika dalam berpolitik bagiku tak lebih dari sekadar menyimpulkan ikan berenang dalam akurium sebagai sosok bidadari, dan itu akan kulakukan tergantung uang yang diberikan oleh si calon,” ucapnya pelan. Sebelum akhirnya duduk bersila, terpejam, dan membaca mantra. Tangannya memutar bilah bambu itu hingga tali kutang menggesek debu di permukaan kuburan.

Hari setelah itu, istri Risun ribut saat mendapati tali kutangnya hilang. Surakna terbahak-bahak mendapat bilah bambu bertulis nama dirinya terikat tali kutang. Mat Juking semakin yakin dirinya akan mendapat uang yang banyak, jabatan mentereng, juga istri yang cantik.

***

Tanpa terasa, hari pemilihan kepala desa sudah tiba. Surakna melompat girang sambil bernyanyi-nyanyi, lalu bersujud syukur setelah penghitungan suara selesai dan dirinya dinyatakan jadi pemenang. Sedang Risun termangu mengelus dadanya yang renyuh seperti dipatuk puluhan kapak. Tak terasa air matanya menetes. Orang-orang yang kemarin jadi tim pemenangan satu per satu menjauh lalu menghilang. Ia kini hanya berdua bersama istrinya mengenyam luka setiap waktu. Istrinya kadang menghubung-hubungkan tali kutangnya yang hilang dengan kekalahan Risun.

Bulan berikutnya Mat Juking tak pernah menduga Surakna akan jadi kacang yang lupa kulitnya. Saat ia menagih janji kepada Surakna, ia malah dibentak dan dipukul. Surakna membantah jika hasil kemenangannya karena hasil mantra Mat Juking. Sudah tidak menepati janji. Beberapa bulan kemudian, ia malah mengambil Sulima dari Mat Juking, dan menikahinya.

Cerita politik memang kelabu dan cepat berlalu, Mat Juking kembali berpihak kepada Risun. Suatu pagi, ia mendatangi rumah Risun dengan tergopoh dan dada penuh dendam. Lantas ia bercerita, bahwa Surakna telah mencuri tali kutang istri Risun untuk dijadikan bahan guna-guna demi memenangkan Pilkades. Risun naik darah. Megepal tangan dan meninjukannya ke meja.

***

Malam itu lokasi kuburan sangat senyap. Mat Juking mengeluarkan remasan kertas bergambar wajah Surakna. Risun duduk di sebelahnya, fokus mengamati apa yang dilakukan Mat Juking dengan tatap redup dengan bantuan cahaya bulan yang hampir tenggelam. Kembali tangan Mat Juking terbenam ke dalam saku bajunya, mengambil korek api, yang ketika gambarnya dilihat, ia jadi teringat perempuan rupawan yang dijanjikan Surakna. Diam-diam hatinya teriris, karena janji Surakna ternyata bualan belaka, sudah begitu, ia malah menikahi Sulima.

“Ini kuburan ayahku yang kaubunuh empat tahun lalu. Kau memang pembunuh yang lembut. Aku dan almarhum ayah akan memaafkanmu asal kamu mau membunuh Surakna malam ini juga dengan korek api ini. Kamu pasti punya cara yang lembut. Buatlah Surakna seperti ini,” Mat Juking membakar potret Surakna penuh dendam.

Lalu sebatang korek api ia selipkan di saku baju Risun. Keduanya tersenyum. Tak menunggu waktu lama, Risun langsung bergegas untuk melaksanakan perintah Mat Juking. Mat Juking yakin, Risun akan membakar rumah Surakna hingga Surakna mati atau minimal mengalami kerugian. Ia juga yakin, Risun pasti akan ditangkap dan juga dibunuh oleh warga, tapi Mat Juking lupa bahwa Risun pasti akan menyebut Mat Juking sebagai pesuruhnya.***


A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019.  Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Surat menyurat surel: [email protected]

Cerpen

Lubang Besar di Kepala Poni

Cerpen Dia Gaara Andromeda

Sudah lama Lendra tak melihat istrinya—Lian—berjalan-jalan keluar rumah. Yang dikerjakan sehari-hari hanya merenung, makan biskuit, kemudian membaca buku di sudut ruangan. Lama juga Lendra tak melihat Lian sibuk mengurusi Poni, kucing persia kesayangan mereka. Lian seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga, namun tidak punya gairah untuk mencarinya.

“Menurutmu … hari apa Tuhan pasti tertidur lelap?” Lian bertanya pada Lendra, wajahnya serius. Dahi Lendra berkerut untuk kesekian kali, gamang. Lendra melirik wajah Lian beberapa detik, mencoba menebak apa yang dipikirkan Lian. Pertanyaan yang sama, sejak seminggu lalu, yang saban malam selalu terulang dari bibir Lian membuatnya semakin was-was. Satu alis lelaki itu bertaut, ia pijit-pijit kemudian. Tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin senin,” jawab Lendra asal. Ia kembali pada aktivitasnya, membaca komik, sementara istrinya menganguk-anguk, mengangkat buku, membaca. Sesekali wajah Lendra mencuri pandang wajah istrinya yang seperti tegang.

“Bukankah,” istrinya menyela ucapan Lendra, “Senin itu hari sibuk. Mana mungkin Tuhan tidur di hari sibuk,” Lian nampak merenung, ia berdiri, mondar-mandir, mendekati meja makan, tempat suaminya menyeruput kopi.

“Kau sepertinya terlalu lelah, kau perlu tidur, Sayang. Tidak usah baca buku lagi,” Lendra merangkul istrinya, mencium lehernya dengan lembut.

“Tapi,”

***

Lian memerhatikan bagian belakang kepala suaminya ketika tidur. Bayinya—Audrey—sudah ia susui, dan ikut tertidur pulas. Pandangannya semakin khidmat, ia usap rambut Lendra beberapa kali, mencari-cari sesuatu yang seperti kasat, sesaat ia melenguh, karena tidak menemukan apa-apa. Seharusnya Lian percaya, tidak akan ada apa-apa—selain dirinya—yang bersarang di otak suaminya. Ia tahu cinta Lendra hanya untuk Lian. Tidak ada yang lain.

***

Esoknya, Lian bangun pagi sekali. Sengaja memasak nasi goreng untuk sarapan suaminya yang akan berangkat kerja. Bayi Audrey masih terlelap. Perasaan Lian begitu gempita, si bayi yang saban malam tidak rewel, membuatnya bisa bangun lebih pagi. Ketika Lendra selesai mandi, Lian menengok ke arah suaminya sejenak, memerhatikannya dengan saksama, Lendra hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, otot-otot tangan Lendra mencuat di sana-sini, tampak kekar dan gagah, pun bagian perutnya yang berlekuk-lekuk serupa binaragawan membuat Lian sejenak teringat perkataan sahabat-sahabatnya dulu.

“Suamimu itu putih, ganteng, badannya berotot, siapa cewek yang tidak suka melihat cowok kayak gitu, Li!” Sandra, kawan SMA-nya nyeletuk. Sandra berbicara sambil mengeryit genit, mungkin membayangkan badan Lendra yang seksi.

“Iya Lian, rawan punya suami kayak suamimu tahu, bikin jantung perempuan kreces-kreces gimana gitu. Kamu harus benar-benar jaga deh pokoknya, jangankan cewek, cowok aja kalau lihat suamimu jantungnya bisa kebat-kebit, huuu!” Alona–sahabat Lian yang lain, yang kini menyahut, diiringi tawa tipis di ujung pipi kirinya yang lesung.

Lian hanya meringis, tidak menjawab apapun perkataan kedua sahabatnya, ia hanya memainkan makanan di depannya tanpa punya keinginan untuk menghabiskan, pertemuan dengan sahabat-sahabatnya hari itu, membuat selera makan Lian rontok. Pun hatinya dikecam perasaan gelisah, takut apa yang dikhawatirkan kedua sahabatnya menjadi kenyataan. Seharusnya Lian tidak memikirkan hal ini sampai berlarut-larut, tapi nyatanya omongan teman-temannya itu sudah merasuki pikirannya sedemikian pelik. Lian cemburu pada sesuatu yang belum tahu apa. Itu sungguh di luar nalar.

“Kok malah bengong?” Lendra kini sudah ada di belakang punggung Lian, memberikan kecup kecil di bibirnya yang ranum,  pipi Lian merona. Lendra memang suami yang romantis. Senyum tipisnya terpeta. “Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum gitu!”.

“Kamu,” Lian tersipu. Lantas tangannya dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke atas piring Lendra, menaruh mentimun, bawang goreng, serta kerupuk di atasnya. Lian kemudian memberikan piring itu ke Lendra.

Setelah Lendra berangkat kerja. Lian kembali memikirkan hari itu: hari di mana Tuhan pasti tertidur lelap. Tidak tahu mengapa, otaknya bisa mengelana sejauh itu. Namun ia penasaran tentang lubang bersuara itu. Pun setelah seruan-seruan ejek tentang “Bunuh aku kalau kau bisa!” yang menghantui kehidupannya setiap kali ia melihat lubang besar di kepala Poni, mendulang beragam stigma-stigma negatif dalam kesehariannya. Lontaran-lontaran Lendra yang tak acuh jika Lian menanyakan hal yang sama. Hatinya benar-benar dilanda gemuruh. Masygul, karena Lendra kerap tak sependapat. Jam delapan pagi, Lian melirik jendela. Ia menatap Poni yang sedang membersihkan diri dengan menjilati seluruh tubuh. Poni yang dulu berbulu lebat dan cantik, teman segala duka dan suka sejak ia menikah dengan suaminya beberapa bulan lalu, namun kini fisik Poni telah berubah. Penyakit scabies menyerang beberapa bagian tubuh kucing itu dengan ganas sejak satu minggu yang lalu. Melihat Lian tengah memerhatikannya, kucing itu balas melirik ke jendela, lekas Poni segera berhenti menjilati seluruh tubuhnya dan mendekat ke arah pintu. Mengeong keras–sembari menatap mata Lian penuh manja. Lian salah tingkah, melengos, menutup gorden cepat-cepat, berbalik arah, kemudian duduk di kursi tamu. Ingatan akan ucapan suaminya kembali mengudara.

“Kenapa sekarang kau membenci Poni, padahal dulu kau sangat menyayanginya. Apa kau jijik dengan scabies yang dideritanya, kau sudah putus asa lantas kau ingin membunuhnya!” Lendra bertutur dengan rentetan kalimat menyudutkan. Lian melotot ke arah Lendra, tatapannya sinis, bibirnya belum bersua apa pun, bergetar. Seperti ada taring yang mencabik-cabik tubuhnya, posisi Poni di matanya sama seperti Lendra, tapi kejadian beberapa hari silam membuat hati Lian begitu patah, ada sebak yang meluber seperti api menyembur-nyembur.

“Aku jijik sama Poni bukan karena scabiesnya, tapi karena hal lain!” Lian berteriak lantang, membela diri.

“Lalu apa? Apa yang membuatmu membenci Poni?” Lendra bertanya, menyudutkan. Lian masih terpaku di kasur, tidak menyahut, tak lama Lian masuk ke dalam kamar, mengambil guling dan memelintir-melintir ujung sarungnya. Sesekali Lian menahan nafas, mendengus-dengus, kemudian melepaskan, emosi telah merajam kepalanya bak air panas yang meletup-letup. Aku benci Poni, aku tidak suka dibohongi, gusarnya, sambil terisak.

***

Beberapa menit Lian berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Lubang yang menganga di kepala Poni membuatnya teringat tentang kejadian menjijikkan itu. Poni seperti halnya Lendra adalah miliknya–utuh, namun ketika Poni tidak lagi setia kepada Lian, dan memilih wanita lain sebagai mahkota hati. Itu membuat Lian jijik. Satu minggu yang lalu, Poni seringkali kelayapan, pergi dari rumah diam-diam,  dan pulang ke rumah saat mau makan atau mandi saja, esoknya Lian mengikuti Poni ke mana kucing itu berkeliaran. Poni menyambangi sebuah rumah tak jauh dari tempatnya tinggal. Seorang wanita muda mengenakan scarf hijau dan blus dengan warna senada keluar dari rumah bergaya klasik eropa itu dan memberikan Poni makanan kaleng, jari-jari lentiknya mengelus-elus bulu-bulu Poni dengan penuh kasih sayang. Sore hari, Lian melihat kepala Poni memiliki lubang sebesar lingkaran bola tenis, sosok wanita muda itu tergambar di kepala kucing itu. Hal inilah yang membuat Lian merasa tersisih dan jijik kepada Poni. Lian tidak suka diduakan.

“Hari ini hari senin, aku akan melakukannya!” Lian menyambar kunci sepeda motor, menggendong Audrey, dan memasukkan Poni ke dalam kandang. Lian menstarer motornya– terburu-buru.

***

Setengah jam kemudian. Lian sudah sampai ke gym DeQuote, tempat Lendra bekerja. Dari kejauhan Lian melihat sosok yang tak asing. Suaminya tengah berbincang akrab dengan seorang wanita muda berpakaian ketat dekat peralatan kettlebells. Wanita muda yang sangat ia kenal. Sambil menenteng Poni di tangan kiri dan menggendong bayi Audrey, mata Lian melotot, murka, angkaranya ruah, otaknya memutar memori tentang ucapan Lendra beberapa waktu silam, mata Lian mengerucut, kian liar menelusur gerak-gerik keduanya dari kejauhan, Lian berjalan pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lendra masih membelakanginya.

Lian semakin maju, dan maju, matanya terus menerus memerhatikan kepala Lendra yang kini tampak berlubang besar, ada sosok wanita lain tergambar di sana. Lian jijik. Lubang itu sama seperti yang dipunyai Poni. Kecamuk prasangka mengaliri darah di kepalanya, perasaan marah mendentum-dentum tanpa henti.

Barrbell yang ada di sebelahnya ia angkat. Keduanya menoleh bersamaan, dalam hitungan detik Lian mengayunkan barrbell itu ke kepala Lendra disusul si wanita.

“Aku sudah mengakhirinya, aku sudah mengakhirnya. Aku yakin Tuhan tidak akan melihat perbuatanku!” oceh Lian berulang-ulang.

Lendra dan wanita itu terkapar. Tawa Lian pecah berderai-derai. Darah tumpah bak air bah, hal itu membuat Lian bertambah jijik.***


Dia Gaara Andromeda. Pencinta kuliner dan penyuka warna hijau. Hobinya membaca buku, menulis, dan memasak. Ibu dua anak. Kumcernya Percakapan Sepasang Takdir (Penerbit Mediakita, 2014). Bisa dihubungi di IG: @diagaara atau FB: Dia Gaara Andromeda atau email: [email protected].