Cerpen

Perempuan Itu Bilang Aku Mayat

Cerpen Pasini

Perempuan itu bilang aku mayat. Karena wajahku pucat. Maka ia menyuruhku memakai bedak dan gincu. Tapi aku menolaknya. Bukan lewat patah-patah kata yang meluncur dari setangkup bibir. Melainkan merebut peralatan rias dari tangannya. Lalu membanting ke lantai semen.

“Kau sudah gila, ya?”

Begitulah ia. Mayat dan gila hanyalah contoh kecilnya. Perempuan itu bahkan pernah menyebut aku nenek gayung, hanya karena bau minyak angin di tubuhku. Lalu ia mengangsurkan botol parfum. Tubuhku harus wangi ketika bertemu seorang lelaki. Sebelumnya aku sudah bilang pada perempuan itu tidak bersedia. Tapi ia memaksaku. Padahal dengan jelas ia melihat aku memegangi kepala dengan tubuh bersandar pada bangku. Ingin diberi libur. Untuk beristirahat sejenak setelah minum obat dan memborehkan balsem. Siapa tahu setelah itu tubuhku hangat dan bugar kembali. Tidak berkeringat dingin dan gemetar lagi. Tapi nyatanya malah membuatnya memberiku satu julukan baru. Koala gimbal.

Belakangan ini praktis aku kenyang dikatai. Dari aneh kepada mayat. Dari mayat kepada patung. Dari patung singgah ke alien. Hanya karena perempuan itu merasa tak bisa memahamiku. Menurutnya, lebih baik aku belajar menyapukan kuas ke wajah daripada menyambar sajadah dan berangkat ke surau. Terlebih bila aku pulang dan mengulangi beberapa kutipan ceramah dari mulut kiai.

 “Tidak pernah tercatat dalam sejarah, perut orang miskin dapat menjadi kenyang hanya dengan mendengar ceramah orang suci.” Beberapa kali bahkan ia mengembalikan dalam bentuk ceramah-ceramah yang lebih panjang. Meskipun sumbernya bukan dari kitab agama apa pun.

Ingin sekali aku berbalik mengatai perempuan itu kuntilanak atau tukang sihir. Karena ia memang punya tawa yang menyeramkan. Jika saja ada seorang empu bersedia membuatkannya sebuah tongkat sakti berayun, mungkin aku sudah dimantrainya menjadi seekor kodok atau kelinci. Agar ia bisa memakanku mentah-mentah seperti yang dilakukan zombie. Atau bisa juga, memantraiku menjadi seorang kurcaci. Agar ia mudah menendang tubuh kerdilku saat marah-marah dan butuh melampiaskan.

Hanya saja keinginan itu urung kulakukan. Bukan karena aku gentar melakukannya, karena ia lebih tua dariku. Bukan itu. Bukan juga karena aku memegang teguh isi kutipan ceramah dari mulut kiai. Tapi karena perempuan itu pasti akan memperbanyak julukanku setelah itu, dan aku membencinya. Tidak ada satu pun dari panggilan-panggilan baru yang disematkannya memiliki makna yang bagus. Sekali waktu aku pernah merasa heran, kenapa ia mesti memberiku nama ‘Fitri Ayuningtyas’ dua puluh satu tahun silam jika pada kenyataannya pemberian itu berakhir mubazir.

Untungnya perempuan itu banyak pergi. Kami jadi tidak punya waktu berdebat panjang-panjang. Sering sudah ada seseorang yang menunggunya dengan tidak sabar. Memanggil dengan berteriak jika kebetulan ada di ruang tamu. Atau membunyikan klakson jika tengah memarkir kendaraannya di pertengahan halaman. Perempuan itu dibawanya dan baru pulang selang beberapa jam. Bahkan sampai hitungan hari.

Dari dulu pun aku dan perempuan itu memang tak banyak saling bicara. Hubungan yang datar. Dan aku menyukai itu. Bayangkan jika aku tumbuh banyak bicara sepertinya. Tentu sudah banyak orang yang kukatai. Anjing, babi, atau mungkin tahi.

Selama ini yang terjadi, aku hanya bergeming saja ketika perempuan itu mulai memuntahkan peluru kata. Apa saja tertampung di telingaku bagai tiada beda. Hal buruk atau sebaliknya.

 “Kau kerja bagus kemarin. Memuaskan,” katanya suatu kali, sambil mengibarkan lembar-lembar uang berwarna merah. Aku membuang muka. Benda itu tidak lagi memantik nyala di hidupku. Mungkin benar adanya aku memang telah meniti jalan menuju mayat. Beku, bisu, acuh.

Aku pernah berandai jika saja lelaki penyabar itu tidak dini pergi dari hidup kami. Seandainya maut tidak mengambilnya terlalu cepat. Tentu perempuan itu masih menjadi perempuan penyedia kopi di pagi hari. Masih memakai daster kembang-kembang dengan warna beranjak pudar dan berlubang di beberapa bagian. Wajahnya polos tanpa riasan. Ia masih akan bergelut dengan baju kotor dan debu-debu di lantai. Keringatnya berleleran. Tapi entah mengapa lelaki penyabar yang sekaligus suami setia itu tidak rikuh merangkulnya. Perempuan itu kemudian bermanja-manja. Aku mengembangkan senyum dari balik pintu.

Lelaki itu telah pula menjadi ayah terbaik di planet bumi, bahkan mungkin sampai ke galaksi andai luar angkasa juga dihuni kehidupan dengan konsep pernikahan. Ia suka mengangkat badanku tinggi-tinggi jika sedang bahagia. Aku kegelian. Ia semakin lebar tertawa. Mungkin hendak didekatkannya aku dengan langit, tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan.

Tapi sayang jasad lelaki itu telah terbekap bumi. Mereinkarnasi perempuan itu sebagai seseorang yang berbeda. Gemar berkaca. Pintar merayu. Mulai merokok. Tidak lagi suka mencuci dan menyapu. Badannya benar-benar bak mandi bunga. Satu lagi. Ia terlahir kembali sebagai seseorang yang suka mengatai.

 “Kau batu, ya?” teriaknya. Itu adalah hari ke sekian dan aku belum memberikan jawaban. Perempuan itu bilang kulitnya tak lagi kencang. Kerut-kerut dipahatkan waktu ke wajahnya yang semula tanpa cacat dan cela. Ia juga bilang, mulai susah mendapatkan tamu kini. Ada dua saja dalam sehari, ia sudah cukup lega. Kupu-kupu muda mulai bermunculan dari sebab rupa-rupa. Ekonomi sampai tuntutan gaya hidup penuh gengsi. Ia tidak menggairahkan lagi. Ia tidak bisa bermetamorfosa menjadi sesuatu yang menarik lagi.

Seorang lelaki paruh baya dibawanya ke rumah pada suatu hari. Perempuan itu memintaku menghidangkan kopi. Aneh sekali. Padahal biasanya ia buru-buru memintaku pergi setiap kali ada lelaki bertamu ke rumah kami.

 “Seperti kuncup bunga, kan?” tanya perempuan itu kepada lelaki tamu. Tangannya melingkar manja di bahu si lelaki. Aku betul-betul jijik, menyamai jijikku pada seekor lalat hijau yang mengencingi sarapanku tempo hari.

 “Aku berani membayarnya mahal,” kata lelaki lalat hijau pada perempuan itu. Tidak cukup berbisik. Buktinya aku masih bisa mendengarnya. Aku terpana. Aku tak percaya. Aku berlari ke kamar dan perempuan itu tidak mengejarku. Tidak membujukku serupa mendiang ayah dulu ketika aku sedang marah atau kesal atas sesuatu.

Dan lelaki paruh baya itu akhirnya menjadi lelaki pertama yang menyentuhku. Setelah perempuan itu berkali-kali menyebutku batu. Ia bilang sudah waktunya pensiun dan ada yang menggantikannya.

Dulu perempuan itu pernah menjadi buruh upah sesaat setelah keberpulangan ayah. Aku baru di tingkat kedua sekolah menengahku. Seorang perempuan datang ke rumah kami dengan marah-marah. Menunjukkan daftar angka dan meminta perempuan itu segera melunasinya. Ia menghiba. Tapi perempuan tamu justru semakin leluasa menghina.

 “Kau belum terlalu tua. Tubuhmu itu masih laku,” ucapnya dengan sinis. Meludahi wajah perempuan itu sebelum pergi dan berjanji akan datang seminggu lagi.

Perempuan rentenir tadi bagai cenayang saja. Tak lama setelah itu, rumah kami memang benar-benar sering didatangi lelaki. Lalu perempuan itu diajaknya pergi. Pulangnya membawa uang yang banyak dan baju-baju bagus. Aku tak berkata apa-apa. Tak bertanya apa-apa. Sebuah rasa tidak selalu menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili. Aku kecewa, aku malu, aku sedih, juga sakit. Tapi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

Tuli, buta, dungu, silih berganti melompat keluar dari mulut kotor perempuan itu. Ketika aku tidak segera datang saat dipanggilnya. Juga ketika aku tidak segera menyiapkan air hangat sesaat setelah ia pulang ke rumah dengan mulut bau alkohol dan badan penuh keringat.

Tapi perempuan itu juga pernah memuji. Saat seorang lelaki membayarku dengan harga lebih tinggi. Ia istirahat mengumpat. Meski sebentar saja. Sebelum kemudian mulai mengatai lagi. Terlebih akhir-akhir ini, setelah aku menolak melayani lelaki. Kardus, otak udang, lalu mayat lagi.

***

Aku masih bergelut dengan kemelut. Beberapa menit berlalu dan pelukan selimut tidak menyembuhkanku. Aku tetap merasa kedinginan. Sepi dan sendirian. Perempuan itu belum pulang diantar lelaki tamu.

Cermin membiaskan wajahku yang pucat. Pantas perempuan itu sering mengataiku mayat. Bedak dan gincu yang tadi berserakan di lantai telah kuberesi. Kusandingkan dengan botol parfum. Tapi tak sedikit pun niatku merapikan diri jelang kedatangan seorang lelaki. Sebelum pergi tadi, perempuan itu sempat bilang akan ada yang menjemputku satu jam lagi. Ia sudah menerima pembayaran di muka dan tidak bisa dibatalkannya. Aku dipintanya untuk segera menyiapkan diri.

Lalu aku membatu di tepian jendela. Pandanganku singgah kepada apa saja. Bujur-bujur pohon di jalan. Kubayangkan, ia pasti mengaduh kesakitan saat harus merelakan helai daun dan ranting berguguran. Juga burung berkicau yang bertengger pada salah satu dahannya. Ia pasti kecewa ketika pepohonan yang menaunginya ternyata lupa menyediakan buah dan biji bakalnya disantap. Sementara temboloknya begitu berharap.

Kembali ke kamar, mataku singgah pada senyum ayah di dalam pigura. Ia tampak bahagia. Mungkinkah ia memang begitu senang setelah menjadi mayat sekarang?

Mayat. Tiba-tiba pikiranku seperti dipaku pada kata yang akhir-akhir ini sering diucapkan perempuan itu. Aku mulai tidak membenci panggilan tadi. Kini justru melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda, sebagai sesuatu yang bisa membebaskan luka. Karena sejatinya, sedih dan sakit hanya milik yang hidup saja. Seperti pohon dan burung tadi. Juga diriku kini. Berbeda dengan mayat yang tidak mampu lagi disentuh rasa.

Jarum waktu terus berlalu, tapi kata yang sama masih tertinggal di pikiranku. Terngiang-ngiang serupa perintah agar menggerakkan tangan mengambil benda pipih dan tajam dari atas meja, persis bersebelahan alat uji kehamilan dengan garis berwarna merah muda sejumlah dua. Kunikmati dengan mata terpejam saat pipih tajam itu merajah nadiku. Sambil kubayangkan bagaimana wajah perempuan itu nanti saat melihat tubuhku terbujur kaku. Mungkin ia senang karena kata-katanya menemui pembuktian. Siapa tahu setelah ia benar-benar tak laku sama sekali, bisa mempertimbangkan profesi cenayang sebagaimana perempuan rentenir dulu.

Atau sedih, mungkin? Karena kehilangan mesin uang.

Lorong labirin semakin berliku. Serupa jalan yang entah kapan bisa mengantarkan pada tujuan. Tidak lagi wajah perempuan itu yang tampak karena ia telah kutinggalkan di belakang. Melainkan ayah sekarang. Berdiri menungguku di kejauhan sambil melambaikan tangan. Senyumnya sama seperti yang kulihat di dalam pigura.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *