
Cerpen Karisma Fahmi Y
“Apa yang terjadi padamu saat itu?”
“Tak ada. Barangkali hanya kesalahpamahaman.”
“Ia sudah menikah?”
“Belum.”
“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”
“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.
Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.
“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.
“Aku sedang jatuh cinta.”
“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.
“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.
“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.
“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.
“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.
“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.
Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.
Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.
Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?
***
Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!
Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.
Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang. Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.
Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.
“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”
“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.
“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.
“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.
“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”
Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.
***
“Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.
Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.
Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.
Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.
Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.
Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.
Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.
Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.
Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.
Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***
Maret 2018-Oktober 2019

Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.
