Cerpen

Kegelapan adalah Sebaik-baik Pemandangan

Cerpen Erwin Setia

Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.

Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.

Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.

Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.

Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.

Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”

Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”

Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.

Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.

Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.

Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.

Usaha Bono sia-sia belaka.

Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.

Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.

Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”

Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.

“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.

“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.

Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”

Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.

Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.

Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.

Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.

Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.

Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Todo dan Lak Wahar

Cerpen Erwin Setia

Todo adalah lelaki bernasib mujur sampai ia bertemu lelaki bercodet sepanjang telunjuk di dahi kiri pada suatu siang yang sangat terik. Saking panasnya, ia merasa jarak pemisah antara kepalanya dan matahari hanyalah selembar plastik. Todo sedang berjalan di emperan terminal dengan ransel padat di punggung. Ia berjalan setenang orang saleh sampai Lak Wahar, lelaki bercodet itu menjambret ponselnya dan berlari secepat rusa.

Lelaki sialan itu sudah berbelok ke suatu gang ketika Todo baru sadar akan situasi yang terjadi. Ia berteriak, terengah-engah menyebut kata ‘maling’. Puluhan kali ia meneriakkan kosakata itu, namun tak seorang pun beranjak dan sekadar bertanya, “Pergi ke mana malingnya?” Tidak ada. Orang-orang yang tengah makan siang dan minum kopi di warung bergeming. Begitu pula para pengguna jalan, sopir angkot, tukang ojek, pedagang asongan, pemarkir liar, seorang petugas lalu lintas di kejauhan—mereka tetap terpaku pada pekerjaan masing-masing.

Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.

“Dasar pecundang kalian semua! Goblok! Ada orang kesusahan cuma planga-plongo. Pecundang!”

Di satu deretan kursi, sekelompok tukang ojek memelototi Todo seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Orang sinting!” umpat seorang tukang ojek berjaket hitam yang mengenakan kaos Juventus.

“Dia pikir dia saja yang pernah kemalingan. Kayak baru kenal dunia saja,” ujar seorang yang lain setengah mencibir.

Sebetulnya Todo tinggal menumpangi satu angkutan lagi ditambah berjalan kaki kira-kira lima menit sebelum tiba di rumahnya. Istri dan anaknya yang genap berumur setahun sebelas hari lalu sudah menunggunya. “Yah, kabari ya kalau sudah naik angkot.” Demikian pesan istrinya.

Angkot yang menuju ke arah rumahnya tak terhitung melintas di hadapannya. Ia bisa segera menaikinya kalau mau. Namun, bara dalam dada Todo belum padam. Ia masih belum rela ponsel kesayangannya lenyap begitu saja. Ia ingin mengejar penjambret kurang ajar itu sampai dapat dan membayangkan akan menghajar mukanya sampai sebonyok bangkai tikus terlindas ban truk.

Todo sekilas melihat wajah Lak Wahar. Sekilas artinya sebentar saja dan tidak banyak yang dapat ia ingat. Yang paling diingatnya adalah codet seukuran telunjuk di jidat orang itu. Ingatan tentang codet membuat Todo terkesiap. Ia berusaha menggali ingatan lain perihal penjambret tadi, tapi tak kunjung mendapat detil yang lebih lengkap. Setelah mengeratkan ransel di punggungnya, Todo berlari, menuju gang tempat si penjambret berbelok. Dadanya berdebar-debar.

***

Sepuluh tahun lalu Todo adalah seorang anak SMA yang lurus belaka. Ia tak punya catatan buruk selama di sekolah dan nilai rapornya juga melulu menerbitkan senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Namun, sebagaimana lazimnya remaja puber, hatinya pernah disusupi gairah cinta. Gairah itulah yang kemudian membuatnya berani menerima tantangan Harwo, murid kelas lain yang sesumbar mengaku sebagai satu-satunya orang yang berhak menjadi kekasih Melati. “Hadapi gua kalau ada yang coba-coba berani mendekati Melati.”

Harwo memang seorang murid yang berada di kutub berseberangan dengan Todo. Kalau Todo tergolong dalam murid baik-baik, tidak demikian Harwo. Harwo adalah kepala geng kelompok murid nakal yang hobi tawuran dan mengganggu anak-anak lemah. Sementara peringkat Todo di kelas selalu berada di puncak, Harwo adalah antitesanya, kemampuan akademiknya terbenam sedalam lumpur tempat anak-anak pada masa itu bermain kala musim hujan.

Maka tibalah hari itu, hanya beberapa pekan sebelum ujian akhir sekolah diselenggarakan. Disaksikan beberapa murid lain, Todo dan Harwo berdiri berhadap-hadapan di lapangan belakang sekolah. Lima puluh menit sebelumnya bel pulang berbunyi. Lingkungan sekolah sudah melompong. Tinggal ada petugas kebersihan dan satpam yang tak begitu memedulikan apa-apa yang terjadi di luar jam sekolah.

Keduanya saling menatap dengan pandangan beringas seolah sepasang macan yang hendak mencabik diri masing-masing. Postur tubuh mereka terbilang setara. Tidak ada yang kelewat lebih tinggi atau lebih gemuk. Menit-menit awal mereka berdiam-diaman. Tidak ada yang terburu-buru menyerang. Sorak-sorai kian menggeru di sekeliling mereka. Dada yang panas pun kian berapi-api. Akhirnya, setelah sekira tujuh menit kesunyian, Todo dan Harwo sama-sama bergerak maju, melayangkan pukulan, dan… Bam! Mereka terkena pukulan masing-masing. Namun, lantaran kekuatan pukulan yang lebih baik dan jam terbang perkelahian lebih banyak, pukulan Harwolah yang mampu menjatuhkan lawan tanding, bahkan Todo sampai tersungkur tak bangun-bangun beberapa lama di atas tanah. Sedangkan pukulan Todo yang tipis saja mengenai pipi Harwo, hanya membikin pipi Harwo agak perih. Tapi, bagi Harwo, itu bukanlah apa-apa.

Berhasil menjatuhkan Todo, Harwo menepuk dada bangga. Sebelum pertarungan, keduanya bersepakat, siapa yang jatuh duluan maka ialah yang kalah dan harus menjauh dari Melati.

Todo yang masih terbujur kesakitan, memandangi lekat-lekat sebuah benda keras dan panjang yang tergeletak sejangkauan tangan darinya. Pelan-pelan, ia mengangsurkan tangannya menuju benda itu. Saat Harwo masih berlari-lari kecil penuh jemawa mengelilingi lapangan, Todo sudah menggenggam benda itu. Ia bangkit cepat, menyabitkan kawat besi tersebut kepada Harwo yang tak pernah menduga bakal mendapat serangan dadakan. Kawat itu menggores dahi kiri Harwo. Menyisakan rasa perih yang sangat. Sebagai balasan, Harwo mendorong tubuh Todo, memukul dan menendanginya berkali-kali.

Todo pingsan. Satpam sekolah melerai keributan itu. Beberapa minggu setelahnya, ujian akhir sekolah diadakan. Todo lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sedangkan Harwo sudah lebih dulu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membikin pingsan Todo. Sejak itu, ia tak lagi bersekolah, dan sejak itu pula orang-orang menjauhinya—termasuk Melati, perempuan yang begitu dicintainya.

***

Todo akhirnya menemukan penjambret itu. Lelaki bercodet itu tengah menyuapi seorang anak kecil yang tampak lungkrah ketika Todo memapasinya di suatu rumah papan yang berada di pojok gang.

“Hei, kau!” seru Todo.

Lelaki bercodet menoleh. Seorang perempuan muda—istri lelaki itu sekaligus ibu dari bocah yang disuapinya—mengambil sang bocah dari si lelaki.

“Hapemu sudah kujual,” kata lelaki bercodet. “Aku terpaksa harus menjambret barangmu itu untuk membeli makanan dan obat buat anakku.”

Suara lelaki itu lemah. Tak terlihat seperti orang yang belum lama dengan gagah dan nekat melakonkan penjambretan. Istrinya mendekap anaknya yang bermuka pucat lebih erat.

“Namaku Lak Wahar. Kau Todo, kan?”

Kini, Todo yakin sudah dengan apa-apa yang diduganya. Lelaki itu betul-betul Harwo, yang sudah bermalih nama menjadi Lak Wahar. Meski namanya sudah berubah, namun Todo masih bisa mengenalinya. Terutama karena codet di dahi kirinya itu. Codet yang dibuatnya sebagai sejarah luka di tubuh Harwo bertahun-tahun lalu.

Sejak lama Todo ingin menebus dosanya atas Harwo. Bagaimanapun, dirinyalah yang menyebabkan Harwo mesti dikeluarkan dari sekolah sehingga mengalami rentetan kemalangan sampai sekarang. Paling tidak itulah yang dilihatnya. Harwo menempati rumah yang jauh dari kata layak. Rupa istrinya polos tak disepuh riasan, juga anaknya yang tampak penyakitan.

Todo pikir, merelakan ponsel miliknya bisa menjadi tebusan yang sepadan atas dosa masa silamnya.

“Tak apa. hapeku itu untukmu saja. Anggap saja itu permintaan maafku karena kesalahan yang dulu pernah kuperbuat kepadamu.”

Pandangan Lak Wahar menyelidik. Lalu, ia menunduk dan berubah mengiba. Lelaki bertubuh liat dengan bentuk rahang yang keras itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Refleks, Todo mendekatinya dan berusaha menenangkannya. “Tak apa. Tak masalah. Kau lebih membutuhkan itu daripada aku.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri. Aku sama sekali tidak mau melakukan perbuatan biadab itu kalau saja bukan karena terpaksa. Lihat, anakku ini, ia tidak makan berhari-hari.”

Lak Wahar semakin mengiba. Todo mengusap-usap punggung lelaki yang tengah menunduk itu. Mata Lak Wahar menerka bagian belakang tubuh Todo. Sesaat saja.

“Ya sudah. Gunakanlah uang hasil penjualan hapeku itu untuk keperluanmu dan anak-istrimu. Aku ikhlas.”

“Terima kasih,” ujar Lak Wahar.

Tak berapa lama, Todo pamit undur diri. Ia mesti segera menuju rumah. Melati dan Mawar—istri dan putri semata wayangnya—pasti sudah tak sabaran menantikan kedatangannya. Ia sengaja tak mau lama bercakap-cakap dengan Lak Wahar. Ia merasa tidak nyaman sejak menginjakan kaki di depan rumah papan itu. Ia ingin lekas pulang, menciumi istri dan anaknya, dan memberikan mereka oleh-oleh yang telah dibelinya di kota seberang, tempat ia menghabiskan beberapa waktu belakangan untuk bekerja.

Todo menghentikan sebuah angkot. Angkot yang sepi. Hanya ada ia seorang diri. Dua menit setelah angkot berjalan, Todo memeriksa saku celananya. Kosong. Dompetnya hilang! Dompet berisi uang yang telah dikumpulkannya selama bekerja di luar kota. Dari jendela angkot, ia memandang panik ke arah luar. Di sana, di suatu trotoar, dua orang sedang berkejar-kejaran. Ia tak mengenal siapa lelaki yang berada di posisi belakang. Tapi ia tahu betul, orang yang berada di depan sambil menggondol sepucuk tas dan sedang dikejar-kejar itu tak lain adalah Harwo—yang sudah berganti nama jadi Lak Wahar!***

Tambun Selatan, 11 Juli-30 November 2019


Erwin Setia lahir tahun  1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Rumah Besar Pak Simon

Cerpen Erwin Setia

Seorang lelaki muda turun dari sebuah kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi. Ia menggendong sebuah tas dan menyeret koper abu-abu berukuran sedang. Ia melepas kacamata dan menyampirkan sweternya di bahu. Tubuh lelaki itu cenderung kurus, tapi caranya berjalan begitu bertenaga dan optimistik seolah-olah tidak akan ada sesuatu pun yang bisa mencelakakannya.

Di atas sebuah kursi tunggu, ia duduk sebentar. Dipandanginya sekeliling stasiun di mana orang-orang yang baru turun dari kereta berlalu lalang, orang-orang menunggu di kursi plastk yang dingin, dua orang petugas mempercakapkan sesuatu, dan batangan rel tampak berkilau disepuh cahaya siang. Ia beranjak dari kursi setelah beberapa menit mengambil jeda. Ia buru-buru keluar dari area stasiun. Ia memanggil tukang ojek, menyebut alamat, dan bergegaslah motor bebek yang bunyi knalpotnya berisik itu ke alamat yang dituju. Tak jauh, kurang dari lima belas menit, ia tiba di tempat tujuan.

Sebuah rumah besar dengan pohon beringin di seberang pagar yang daun-daunnya bertebaran di tanah tampak di hadapannya. Ia memandangi rumah itu saksama seakan hendak memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Tempat itu memang agak jauh dari jalan besar. Sopir ojek mesti melalui beberapa gang kecil dan sepi sebelum tiba di rumah besar itu. Setiba di sana, suasana jalan makin sepi saja. Sejauh mata memandang, lelaki itu tak mendapati satu pun orang—entah tetangga ataupun orang yang sekadar lewat—tampak. Area itu begitu sepi seperti sebuah jalan yang sedang diisolasi. Hanya ada beberapa pohon besar dengan burung-burung yang sesekali bertengger di dahannya untuk kemudian terbang kembali ke langit. Pohon-pohon itu menghadirkan keteduhan yang membuat Bekasi menjadi tak begitu panas. Lelaki itu merasa nyaman dengan yang kini dirasakannya. Ia merogoh saku celana, mengambil kunci, dan membuka pagar rumah besar dengan kunci tersebut.

Rumah itu terdiri atas dua lantai. Lelaki itu menyisiri satu demi satu ruangan rumah. Dengan langkah-langkah pelan dan waspada, ia memeriksa keadaan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya selama tiga tahun itu. Si penghuni terakhir—Pak Simon dan keluarga—sebelumnya menitipkan rumah itu kepada tetangganya yang tinggal persis di sebelah rumah. Pak Simon membayar tetangga itu untuk rutin membersihkan rumah agar tidak kusam dan kotor seperti barang tak berguna.

Dua tahun lebih lamanya si tetangga menjalani rutinitas membersihkan rumah besar itu, sampai sebulan lalu Pak Simon mendapat kabar tetangga itu mati karena terpeleset saat membersihkan kamar mandi rumah besar. Itulah penyebab Pak Simon meminta tokoh kita—si lelaki muda—untuk menyambangi rumah besarnya. Pak Simon meminta pada lelaki itu untuk menjaga dan merawat rumah besar sekitar satu pekan sebelum penghuni baru datang ke sana. Ya, rumah besar Pak Simon itu sudah dipinang oleh sepasang pengantin baru asal Bali. Mereka sudah membayar uang muka dan mengatakan minggu depan akan mulai menghuni rumah besar.

Pada hari pertama kedatangannya, setelah bersih-bersih sekadarnya lelaki muda bersantai dan tiduran di atas sofa yang sangat empuk. Ia tidak pernah merasakan sofa seempuk dan selembut itu. Ia membayangkan betapa nikmatnya kalau bisa menghuni rumah itu selamanya. Ia mendesah dan membuang impian muluk itu. Dengan televisi menyala, lelaki itu ketiduran di atas sofa.

Hari sudah berangsur gelap ketika lelaki itu terbangun. Televisi, lampu, dan pendingin ruangan mati. Ia mengecek meteran listrik dan mendapatinya baik-baik saja. Listrik tidak turun atau korslet. Mati listrik datang begitu tiba-tiba. Ia keluar dari rumah. Jalanan di depan rumah sangat lengang dan sepi. Matahari sudah lama pergi, berganti cahaya bulan yang tipis dan hanya menghasilkan keremangan. Dedaunan bertiup terbawa angin. Petang itu udara sejuk sekali. Lelaki muda mengenakan sweter dan mulai berkeliling. Ia hendak mencari seseorang yang bisa diajaknya berbicara atau sekadar menjadi tempatnya bertanya mengapa listrik mati tiba-tiba.

Ia berjalan menyusuri jalan. Rumah-rumah di kanan-kirinya tampak gelap dan sepi. Semuanya tak berpenghuni. Rumah-rumah yang berukuran cukup besar itu meruakkan sensasi ganjil. Lelaki itu merinding dan mempercepat langkah. Ia menembus gang lain. Di gang itu beberapa lampu menyala dan tampak beberapa orang sedang berkumpul. Saat ia melambaikan tangan dan hendak menghampiri orang-orang itu, mereka terperanjat dan membubarkan diri. Ia merasa heran dan meneruskan perjalanan. Azan magrib berkumandang. Jalanan begitu sunyi dan dingin. Saat berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah kursi beton, ia tiba-tiba teringat pintu utama rumah tidak dikunci. Ia hanya mengunci pintu pagar karena memang tadi ia agak terburu-buru. Mengingat itu, lelaki itu bergegas kembali ke rumah besar. Sementara ia berjalan cepat, sayup-sayup azan dan suara orang mengaji masih terdengar.

Setiba di area rumah besar, ia terkejut senang mendapati lampu-lampu sudah menyala. Ia membuka pagar dengan cekatan, lantas mendorong pintu utama. Benar saja, pintu itu tidak terkunci. Ia buru-buru memeriksa keberadaan televisi, guci, perhiasan porselen, dan sebuah lukisan mooi indie yang tergantung dinding. Syukurlah, semua barang-barang berharga itu tak bergeser seinci pun dari tempatnya. Tidak ada barang-barang yang hilang. Tidak ada barang-barang yang dicuri. Ia bisa tidur dengan tenang malam ini.

Lantaran lelah, lelaki itu memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Tak lama ia pun tertidur. Beberapa jam setelah tidur, kandung kemihnya terasa penuh. Ia kebelet buang air kecil. Cepat-cepat ia menuju kamar mandi lantai satu. Ia pun menunaikan hajatnya dan merasakan kelegaan selepasnya. Tanpa kecurigaan ia membuka pintu. Di depan pintu, seorang perempuan berpakaian serbahitam dengan muka hitam melompat ke hadapannya dan memandanginya dengan mata melotot. Lelaki itu terlonjak ke belakang. Kepalanya membentur pinggiran kloset. Darah mengucur dari kepala lelaki malang itu. Tiga hari setelahnya, seorang pemulung merasa heran burung-burung berbulu hitam berkerumun di halaman rumah besar. Si pemulung coba-coba memasuki pagar rumah yang lupa dikunci, membuka pintu utama yang juga tak dikunci, dan samar-samar mencium bau busuk. Ia menemukan mayat seorang lelaki muda dan segera melaporkannya ke warga terdekat.

***

Sepasang pengantin baru asal Bali yang hendak membeli rumah besar mengurungkan niat mereka usai mengetahui fakta-fakta seram soal rumah besar. Selain kematian tiba-tiba si tetangga dan si lelaki muda, rupanya ada satu kematian juga yang baru terungkap saat polisi menggeledah rumah besar selepas kematian lelaki muda. Di sebuah ruangan yang selalu dikunci di dekat kamar mandi, polisi menemukan seonggok mayat beku yang sudah diawetkan. Mayat itu berpakaian serbahitam dan wajahnya hitam seluruh seolah diolesi arang. Setelah polisi melakukan penyelidikan, didapatilah bahwa mayat serbahitam itu tak lain istri pertama Pak Simon. Istri pertama Pak Simon lama bekerja di Arab Saudi dan rutin mengirimi uang setiap bulan kepada Pak Simon dan anak mereka yang masih berusia lima tahun. Bertahun-tahun istri Pak Simon tak kunjung pulang. Sang istri bilang ia selalu ditahan-tahan oleh majikan sehingga tak bisa pulang. Kendati tak pulang-pulang, sang istri tak pernah lupa mengirimkan uang yang jumlahnya lumayan banyak. Bosan menunggu, suatu hari Pak Simon berjumpa seorang janda kaya raya yang tak lain adalah temannya sewaktu sekolah menengah. Pertemuan mereka berakhir dengan perkawinan. Pak Simon mengatakan kepada anak mereka dan petugas KUA bahwa istri pertamanya sudah meninggal di Arab Saudi. Ia tidak mengabarkan keluarga istrinya ketika menikahi janda kaya raya itu. Suatu malam, beberapa bulan setelah pernikahan itu, istrinya datang. Waktu itu istri kedua dan anaknya sedang pergi ke rumah mertuanya. Kedatangan istri pertama itu tak ia sambut dengan ramah. Alih-alih ia langsung menjambak sang istri, membawanya ke sebuah ruangan dekat kamar mandi, dan menyiksanya sampai mati. Ia mengawetkan mayatnya dan membiarkannya tergeletak dengan hanya ditutupi lapisan kain hitam. Semenjak itu, ia melarang siapa pun mendekati apalagi berusaha membuka pintu ruangan yang selalu terkunci itu.

***

Pada malam pertama di penjara, Pak Simon izin ke kamar mandi. Sipir yang berjaga merasa heran Pak Simon tak muncul juga dari kamar mandi selama berjam-jam. Ketika sang sipir mendobrak pintu, ia mendapati tubuh Pak Simon sudah tak bernyawa dengan sekujur tubuh berwarna hitam seolah baru saja dibakar massa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 14 April 2020


Erwin Setia, lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Jabik dan Hewan Kesayangannya

Cerpen karya Erwin Setia

Kau tidak bisa mencegah seseorang menyukai hewan tertentu, sekalipun hewan itu dianggap najis dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Demikianlah tidak ada yang kuasa mencegah Jabik untuk tidak menyukai tikus got melebihi kucing atau kelinci atau hewan apa pun yang lebih layak dicintai. “Apa hakmu melarangku mencintai sesama makhluk?” Lelaki ceking itu selalu berkilah seperti itu tiap kali teman atau keluarganya mencecar soal preferensinya yang ganjil. “Tapi hewan busuk itu bisa membawa penyakit, Bik.” Jabik membantah, “Siapa bilang, buktinya aku yang setiap saat bersamanya tidak terkena penyakit apa-apa.”

Perdebatan tidak pernah berakhir. Kini Jabik sudah genap dua bulan memelihara Andre—tikus got hitam pekat—dan tikus itu terus bertambah gemuk. Keresahan juga menyubur di benak orang-orang terdekat Jabik. Bagaimanapun mereka masih terus khawatir. Mereka khawatir suatu saat tikus itu bakal menyebarkan wabah penyakit dan mereka khawatir Jabik sudah tidak waras.

Jabik selalu menyangkal itu. Ia menekankan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak suka mengamuk, tidak melakukan hal-hal aneh. Singkatnya ia sewaras lelaki berumur dua puluh empat tahun pada umumnya. Perihal kesukaannya terhadap tikus, ia bisa membawakan sejumlah argumen. Ada orang yang suka mengoleksi benda tajam, menonjok wajah orang lain atas nama olahraga, membeli hewan-hewan buas dan langka, mempunyai lebih dari satu istri, dan kelakuan tak lazim lain, lalu kenapa kalian mempertanyakan kewarasanku hanya karena aku memelihara seekor tikus, begitu Jabik kerap memberi jawaban kepada orang-orang yang melulu mempertanyakannya.

Dua bulan lalu ketika Jabik memungut Andre kecil yang baru saja keluar dari gorong-gorong, hatinya sedang kacau. Ia ingin menendang dan memukul benda-benda yang dilihatnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai penduduk langit dan bumi mendengar suaranya. Ia ingin melakukan semua hal yang dapat membuat dadanya lega. Sore itu ia berjalan sendirian di jalan yang lengang dan sepi. Ia berjalan tergesa. Ia baru pulang dari suatu rumah yang tak akan lagi ia kunjungi. Hujan belum lama berhenti ketika Jabik mencapai jalan itu, suatu jalan di mana sekitar dua meter dari tempatnya berdiri ia melihat seekor tikus merambat pelan dengan bulu-bulu kaku. Memandangi makhluk itu, suatu perasaan sentimentil mengguncang Jabik. Ia menghampirinya, memungut si tikus, membawanya pulang ke rumah seperti seorang perempuan yang tak bisa hamil memungut seorang bayi yang dibuang, dan menamainya malam itu juga dengan nama yang belakangan melulu terlintas di kepalanya, Andre.

Ia merawat Andre dengan telaten. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan rutin membersihkan tubuhnya. Jabik tak peduli kendati ayah, ibu, serta para tetangga mencibirnya. Ia bilang ia bukan memelihara tuyul atau boneka santet, jadi tak seharusnya mereka mencurigainya terus-menerus seolah-olah tikus piaraannya dapat membobol berangkas atau mengirimkan jarum api ke rumah mereka.

Makin hari hubungannya dengan Andre kian karib. Jabik senang melihat polah lucu Andre. Ia suka mendengar cericit Andre yang terdengar semerdu kicau burung piaraan ayahnya. Seiring dengan itu, perasaan Jabik yang sebelumnya semrawut perlahan kembali tertata. Ia merasa udara yang dihirupnya lebih segar dan batu-batu yang menyesaki dadanya lenyap. Ia sudah bisa tertawa lebar dan tak lagi berhasrat untuk menghancurkan benda-benda atau menusukkan sebilah pisau ke leher seseorang.

Ayah dan ibu Jabik sesungguhnya tahu apa yang melatari keanehan anak mereka itu. Pagi sebelum Jabik memungut Andre, Jabik izin pergi ke suatu tempat. Tempat itu cukup jauh dari rumahnya. Jabik memohon doa kepada ayah-ibunya. Ia pergi ke tempat itu dengan niat baik dan setumpuk harapan indah tentang hari depan. Ia menumpangi bus antarkota dengan berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan, pandangannya mengarah ke luar jendela dan ia kerap tersenyum-senyum. Ia membayangkan wajah seorang perempuan. Seorang perempuan jelita yang sangat dicintainya. Ia membayangkan hari pernikahan, suatu hari ketika dirinya menjadi seorang ayah, suatu masa ketika dirinya menjadi kakek, dan sebingkai foto berisi potret keluarga besarnya di masa depan.

“Apa ini tidak kelihatan terburu-buru, Bik?” tanya ayahnya sebelum Jabik berangkat.

“Tidak, Yah. Jabik sudah yakin dengan Maya.”

“Tapi kamu baru mengenalnya beberapa minggu, loh,” timpal ibunya.

“Jabik bahkan pernah mendengar ada sepasang suami-istri yang menikah padahal mereka baru saling kenal tiga hari. Dan pernikahan mereka masih langgeng. Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.”

“Tapi kan itu beda, Bik.”

“Jabik dengan Maya juga beda, Yah.”

“Bik.”

“Tenang saja, Bu, Yah. Jabik tahu apa yang harus Jabik lakukan. Ayah dan ibu tunggu saja di rumah. Jabik pasti akan pulang dengan membawa kabar gembira.”

Sorenya Jabik pulang dan ia tidak membawa apa-apa, selain seekor tikus got yang muram dan sangat kotor. Selama berhari-hari ayah dan ibu Jabik tidak bertanya apa-apa kepadanya dan Jabik juga tidak menceritakan soal apa pun kepada kedua orang tuanya. Hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu perlahan memahami apa yang sebetulnya terjadi. Mereka hidup bersama Jabik sejak pemuda itu masih bayi merah. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka bisa mengetahui nasib buruk yang menimpa Jabik meskipun Jabik tidak pernah membicarakannya sekata pun.

Awalnya mereka risih dengan mainan baru sang anak. Bukan hanya karena tikus dikenal sebagai hewan menjijikkan, tapi juga omongan tetangga yang terasa pedas dan tiada habisnya. Namun, manakala mereka melihat keberadaan tikus itu menimbulkan perkembangan positif pada diri Jabik, pelan-pelan mereka dapat menerima kenyataan itu. Pada hari-hari awal keberadaan si tikus, Jabik menjelma pendiam yang murung dan suka mengurung diri. Ia hanya menengok si tikus yang diletakkannya di suatu kandang kayu kecil saat pagi dan sore. Ketika Jabik mulai aktif bercengkerama dan beraktivitas bersama tikusnya, barulah kemurungan dan kebisuan Jabik menghilang. Ia kembali menjadi Jabik seperti yang dikenal ayah-ibunya. Bahkan kali ini Jabik terlihat lebih ceria. Ia tetap ceria walaupun para tetangga tak pernah berhenti menegur dan menggunjingkannya. Ia seperti tak peduli lagi dengan tanggapan orang-orang. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana ia bisa merawat Andre dengan sebaik-baiknya. Saban melihat Jabik dan Andre bergaul akrab, ayah dan ibu Jabik selalu terharu. Jabik adalah anak mereka satu-satunya, yang baru lahir selepas ulang tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mereka ingin Jabik bahagia. Mereka ingin Jabik mendapatkan yang terbaik. Apabila seekor tikus got dapat membuat Jabik bahagia dan merasa mendapatkan yang terbaik, mereka tidak bisa melarangnya. Mereka tidak mau merusak kebahagiaan Jabik.

Suatu hari ketika Jabik sedang menonton televisi di ruang tamu dengan Andre di pangkuannya, seseorang mengetuk pintu. Jabik tidak menghiraukan suara ketukan itu. Ia terlalu fokus menonton sinetron yang tersaji di layar televisi bersama Andre. Ia mengajak bicara Andre seolah-olah tikus itu dapat mengerti perkataannya. Ia menertawakan kekonyolan aktor di depan Andre seolah-olah tikus itu memedulikannya. Pintu itu terketuk untuk ketiga kalinya ketika layar televisi menayangkan iklan dan Andre mencericit. Ibu Jabik muncul dari dalam kamar sambil menggeleng-geleng. Ia membuka pintu, sementara Jabik mengelus-elus tubuh Andre penuh kelembutan. Seseorang di ambang pintu menyerahkan sesuatu kepada ibu Jabik, lalu beranjak pergi.

“Bik.”

“Iya, Bu,” sahut Jabik.

“Ini,” kata Ibu Jabik seraya mengangsurkan selembar kertas undangan berplastik kepada Jabik.

Jabik meraihnya.

“Jadi, Maya menikah dengan sepupumu, Andre anaknya Pak Dirman?”

Jabik tak menanggapi ucapan ibunya. Ia sedang memandangi undangan di tangannya dengan geram. Dadanya berdentam-dentam. Ia memelototi undangan itu. Di sampingnya, Andre si tikus bergelung tenang menyandarkan tubuhnya yang tambun ke paha Jabik.

Beberapa detik kemudian, ketika televisi kembali menayangkan sinetron dan ayah Jabik keluar dari dalam kamar, Jabik merobek-robek undangan tersebut. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu menggenggam sebilah pisau. Ia menghampiri Andre si tikus. Ia mencengkeram tikus gempal itu. Dengan mata berkilat-kilat Jabik mengiris leher Andre si tikus. Ibunya pingsan. Ayah Jabik menahan tubuh ibunya. Saat tangan ayah Jabik mendekap punggung ibunya, Jabik menyunggingkan senyum tipis sambil mendengarkan cericit terakhir Andre si tikus yang terdengar sangat memilukan. **

Tambun Selatan-Bekasi, 28 November 2019


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Perubahan Sudut Pandang

Cerpen karya Erwin Setia

Kadang perlu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang sepenuhnya berbeda. Beberapa hari ini situasi lingkunganku memburuk dan aku merasa tidak lagi sekadar perlu—tapi sangat perlu—untuk sepenuhnya mengubah sudut pandang. Ketika kusaksikan mayat demi mayat lelaki-lelaki muda tak henti-hentinya digotong oleh warga setiap harinya, aku berpikir itulah yang terbaik buat mereka. Setidaknya, anak-anak muda itu tidak akan menemui lagi kesialan-kesialan hidup di hari depan dan tidak akan menjumpai suasana apokaliptik ketika pada akhirnya hari kiamat tiba—itu kalau mereka percaya soal hari kiamat. Selain soal mayat-mayat lelaki muda, aku juga melihat hal-hal lain sebangsanya dengan kacamata baru: korupsi, nepotisme, kuasa oligarki, hutan terbakar, penjeblosan seseorang ke dalam penjara secara semena-mena, perburuan hewan-hewan langka, pencemaran laut, konflik sektarian, pertengkaran rumah tangga, kemiskinan, dan seterusnya—terlalu banyak jika kusebutkan semuanya. Aku tidak lagi berpikir semua itu adalah serentetan masalah yang harus segera dicari solusinya. Kini aku menganggap semua itu sebagai kerikil atau daun-daun kotor di atas hamparan kehidupan yang hijau dan luas yang tak harus buru-buru disingkirkan. Biarlah angin membawa mereka, biarlah kaki-kaki bocah melempar mereka, biarlah mereka pergi dengan sendirinya.

Malam itu istriku marah-marah ketika aku mengatakan soal perubahan sudut pandang.

“Kau sudah menyerah, Kak? Selemah itukah dirimu?”

“Bukan seperti itu maksudku, Dik. Kau harus mengerti.”

“Mengerti apa? Mengerti bahwa setelah segala usaha yang kita lakukan, kita harus menyerah dengan mudah. Begitu maksudmu, Kak?”

“Aku hanya ingin hidup kita menjadi sedikit lebih baik.”

“Semua orang juga maunya begitu, Kak. Tapi bukan dengan menyerah.”

“Aku tidak menyerah.”

“Lalu apa namanya, Kak? Putus asa?”

“Ayolah, dengar dulu penjelasanku.”

Suara letusan terdengar di luar rumah. Berkali-kali.

“Aku tidak butuh penjelasan Kakak. Cukuplah Kakak dengar suara-suara di luar itu. Apa itu kurang jelas?”

Ia meninggalkanku sebelum aku mengatakan semuanya. Ia buru-buru menuju kamarnya. Kudengar secara samar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Cara bicaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan suatu hal genting. Dan memang begitulah yang sedang terjadi. Sebuah ledakan—oh, bukan hanya satu ledakan, tapi banyak ledakan—pada tengah malam. Apa lagi kalau bukan suatu pertanda hal genting sedang terjadi?

Aku mengenakan jaket dan keluar rumah. Di seberang rumahku, di suatu warung kopi yang temaram empat orang berkumpul. Mereka berdiri tegak dan memandangi satu arah yang sama, di mana langit malam tampak menyala dan berasap.

“Sudah keberapa kalinya ini?” tanya Agea.

“Aku bahkan tidak sempat menghitungnya,” ujar Fai.

“Sudah tidak penting lagi menghitung-hitung ledakan yang terjadi. Sama tidak pentingnya dengan menghitung berapa orang yang sudah mati,” timpal Andro dengan wajah geram.

Seorang lagi, Ikal, tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengurut-urut hidungnya seolah dengan begitu keadaan bisa membaik.

Saat aku bergabung, mereka bergeming. Mereka hanya melihatku sekilas lalu kembali mengarahkan pandangan ke arah langit yang bersinar terang. Ledakan terdengar sekali lagi ketika istriku keluar dari rumah dan berteriak memanggilku.

Aku kembali menuju rumah. Sama seperti saat aku datang, ketika aku pergi pun orang-orang di warung kopi tidak menghiraukanku.

“Bahim mati, Kak.”

Istriku menutup mukanya selepas mengatakan itu. Ia tidak bicara apa-apa lagi. Ia menelusupkan wajahnya ke bahuku. Dan menangis. Ketika itu kami masih berada di halaman. Orang-orang di warung kopi tampak memperhatikan kami. Barangkali jika tadi aku datang sambil menangis, mereka juga bakal memperhatikanku. Pada zaman ini, kau memang harus berlagak berbeda untuk dapat perhatian—menangis terisak-isak atau jungkir balik atau menjanjikan keselamatan, misalnya.

Kuusap-usap punggung dan leher istriku. Kubisikkan padanya semacam petuah. Kubilang bahwa kematian Bahim mungkin adalah yang terbaik untuknya. Seorang pahlawan atau orang baik biasanya memang tak berumur panjang. Kuberi ia perumpamaan perihal taman penuh bunga yang didatangi oleh seorang perempuan. Apabila perempuan itu diberi keleluasaan untuk memetik bunga mana saja, menurutmu bunga macam apa yang akan ia petik terlebih dahulu? Istriku tidak menjawab. “Tentu bunga-bunga yang paling indah,” kataku kemudian. Ia tetap tidak bereaksi, tampak larut dalam kesedihannya. Kupikir aku salah mengatakan itu pada saat begini, tapi bukan berarti apa yang kuucapkan salah. Kenyataannya memang begitu, bunga-bunga indah dan orang-orang baik kebanyakan berumur pendek.

Istriku tidak menginterupsi atau memprotes satu pun kata-kataku. Biasanya ia selalu punya amunisi untuk mempertanyakan atau menyerang balik apa-apa yang kuucapkan. Barangkali ia terlalu sedih untuk melakukan itu. Bahim, adik satu-satunya, seorang lelaki muda yang belum genap dua puluh tahun, baru saja meninggal dunia. Tentu saja itu kabar paling buruk yang menimpanya dan juga menimpaku beberapa hari ini. Sudah puluhan atau bahkan ratusan orang yang mati, tapi ketika yang mati itu adalah anggota keluargamu sendiri, tentu kau akan merasakan kesedihan sekaligus kemarahan yang berbeda. Yang lebih meluap-luap dan membuat gumpalan dendam di dadamu semakin membesar.

Aku menuntun istriku ke dalam rumah. Setibanya di kamar, ia berkata, “Besok kita harus ke pusat, Kak.” Pusat yang ia maksud adalah pusat kericuhan terjadi. Sebuah ruas jalan lebar dekat kantor pemerintahan yang belakangan tak lagi dilintasi para pengendara. Tempat di mana massa demonstran dan polisi bentrok selama berhari-hari. Massa demonstran tak mau mundur sebelum mereka bisa menemui presiden dan mengungkapkan aspirasi mereka secara terang-terangan. Mereka menuntut bermacam-macam, mulai dari penegakan hukum, revisi atas undang-undang bermasalah, hingga menuntut agar kawan-kawan mereka yang tak bersalah dibebaskan dan dikeluarkan dari tahanan. Namun, bukannya memenuhi tuntutan itu, suatu hari polisi malah melemparkan sebuah karung ke kerumunan massa. Sebuah karung berisi mayat seorang kawan mereka yang penuh luka lebam dan sudah berbau busuk. Sejak itulah bentrokan dan kericuhan semakin menjadi-jadi dan tiada habisnya.

“Kita tidak boleh tergesa-gesa, Dik,” kataku dengan cemas. Pergi ke tempat sekumpulan hewan buas tentu bukan keputusan yang bijak.

“Kakak punya pistol?”

“Kondisi belum kondusif, Dik. Kita tidak boleh ke mana-mana dulu.”

“Aku tanya, Kakak punya pistol atau tidak?”

Aku tidak menjawab. Istriku yang sebelumnya tampak lemah dan berduka, kini bergerak cepat dan mengacak-acak lemariku. Ia membuka laci-laci. Pada suatu laci, ia menemukan pistol yang belum kugunakan sejak aku membelinya seminggu lalu.

“Buat apa pistol ini kalau tidak digunakan, Kak?”

“Tapi, Dik.”

“Apa Kakak takut, hah? Apa Kakak sudah lupa dengan teman-teman Kakak yang tewas dibunuh para aparat biadab itu?”

Aku tak mampu berkata-kata. Ia berjalan cepat menuju pintu.

“Aku ingin membunuh semua polisi itu, Kak.”

Ia melangkah gesit. Diriku masih linglung dan dipenuhi rasa bersalah. Andro masuk rumahku. “Hei, Gustam, istrimu pergi menuju pusat, kenapa kau diam saja?”

Aku tersadar dari kebodohanku dan segera berlari ke luar rumah. Aku dan Andro mengejar-ngejar istriku. Tiga orang yang sebelumnya ada di warung kopi juga sudah berlari di depan, mengejar istriku. Istriku berlari sangat cepat. Pada saat itu aku baru ingat bahwa istriku pernah menjadi atlet taekwondo semasa mudanya dan ia biasa latihan lari jauh. Larinya sangat cepat. Letak pusat tidak begitu jauh dari permukiman. Hanya perlu waktu sepuluh menit jika berkendara dengan kecepatan rata-rata. Dan mungkin selama itu jugalah waktu yang diperlukan jika pergi ke sana dengan cara berlari.

Aku dan Andro masih terus berlari. Namun istriku memanjat tembok pembatas yang cukup tinggi dengan sigap, ia meloncat dari pembatas yang sekaligus berguna sebagai jalan pintas. Agea, Fai, dan Ikal tidak bisa memanjat tembok pembatas itu. Begitu juga Andro. Mereka menyerah dan menyalah-nyalahiku. Aku berusaha memanjat tembok itu. Dan setelah berusaha keras seolah sedang memanjat tebing paling terjal sedunia, aku akhirnya bisa melalui tembok itu. Istriku sudah tidak terjangkau mataku. Ketika akhirnya aku tiba di pusat, kudengar suara tembakan meletus tak habis-habis. Orang-orang baku tembak seperti sedang terjadi perang saja. Dan mungkin ini memang perang. Perang saudara yang sama sekali tak diperlukan. Dari suatu tempat yang kupikir cukup aman untuk berlindung, aku melihat seorang perempuan menembak-nembak dengan lihai. Perempuan itu berdiri di garda depan. Perempuan itu adalah istriku. Beberapa polisi ambruk terkena tembakannya.

Istriku terlihat seperti jagoan dalam film-film aksi. Perempuan tanpa rasa takut terhadap maut yang hanya memiliki keinginan untuk menuntaskan dendam. Ia terus menembak dan menjatuhkan satu demi satu polisi yang tak bertameng. Aku tak menyangka selama ini aku menikahi seorang perempuan jagoan. Namun kemulusan aksi istriku tak bertahan lama. Satu tembakan dari seorang polisi mengenai tubuhnya. Ia terjatuh dan pistol di genggamannya terlepas. Melihat itu, api di dadaku menyala. Aku langsung lari dari tempat persembunyian. Tanpa sedikitpun gentar, aku menuju tempat jasad istriku berada. Kupeluk dia sesaat. Kuperiksa detak jantungnya. Sudah berhenti. Lalu kuambil pistol yang tergeletak dan kutembak orang-orang berseragam di hadapanku. Aku tidak tahu pada tembakan keberapa ketika kusadari peluru pistolku sudah tandas. Aku tetap mengacung-acungkan dan menarik pemacu pistol kendati tak ada yang keluar dari moncong pistol selain udara hampa dan lenguh sepucuk pistol yang tak berdaya.

Ketika akhirnya kulemparkan pistol itu jauh-jauh dan berlari menerabas ke kerumunan polisi, aku sama sekali tak lagi memikirkan soal perubahan sudut pandang. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah keinginan untuk mengirim semua aparat bersenjata ke neraka. Aku tidak lagi memikirkan dunia ideal atau hikmah suatu kejadian atau omong-kosong semacamnya. Bahkan, saat sebuah peluru mencelos melewati dada kiriku, merambatkan panas yang aneh dan mengilukan, aku membayangkan berada di suatu tempat di mana aku menjadi seorang raja yang tengah menghukum para pembunuh berseragam resmi dengan tusukan pedang, sula, jerat, berondongan tembakan, dan segala macam alat yang pernah ditemukan manusia untuk membunuh manusia lainnya.**

Tambun Selatan, 21 Oktober 2019


Erwin Setia, lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Estradus Membenci Hujan

Cerpen Erwin Setia

Dua belas hari menjelang ulang tahun ketujuh Estradus, Ayah pergi meninggalkan Estradus dan Ibu. Hari itu hujan turun teramat lebat. Tangis Ibu mengucur deras serupa bendungan jebol, sementara Ayah tak mengacuhkan seruan Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ayah membawa sebuah payung kecil berwarna biru tua ke luar rumah. Di sana, di depan pagar seorang perempuan seumuran Ibu menunggu Ayah. Perempuan itu tampak cemas dan terburu-buru. Begitu Ayah tiba di luar pagar, Ayah memayungi perempuan itu agar tak kehujanan. Keduanya melangkah cepat, menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan. Seperti tetes pertama hujan hari itu, Ayah dan perempuan itu menghilang dengan cepat. Mereka pergi tanpa meninggalkan jejak kaki atau salam perpisahan.

Sejak hari kelam itu, Estradus membenci hujan. Saban hujan turun, ia akan menghindarinya jauh-jauh seperti orang yang takut tertular virus mematikan. Ia mengatupkan jendela, menutup pintu rapat-rapat, dan menyumpal telinga dengan kedua tangan. Ia tak mau melihat hujan, mendengar suaranya, terciprat percikannya, atau mencium bau tanah selepas hujan. Di lain sisi, mata Ibu semakin berkabut dan ia jarang mengeluarkan kata-kata. Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Ibu berhenti berjualan pakaian dan mengantarkan Estradus ke sekolah. Ibu telah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Selepas kepergian Ayah, Ibu seperti sosok yang datang dari masa depan yang selalu mengenang hari-hari silam. Ia tidak lagi memasak, mencuci, dan melakukan aktivitas semacamnya. Ibu cuma diam di atas satu di antara empat kursi yang mengelilingi meja makan. Di seberang kursi tersebut adalah kursi Ayah biasa duduk. Ibu sering berbicara dan mengatakan hal-hal yang indah sendirian. Tak sekali dua kali Estradus mendengar Ibu tertawa-tawa dan menceritakan dengan suara tinggi masa-masa manis saat ia dan Ayah masih berpacaran. Tiap kali tawa panjangnya berhenti, Ibu langsung tercekat, kemudian menangis tiba-tiba. Ibu memukul-mukul meja sambil meneriakkan nama Ayah. Memandangi itu, Estradus hanya bisa menahan tangisnya. Berkali-kali ia meminta Ibu berhenti bertindak seperti itu, alih-alih berhenti, Ibu malah semakin meninggikan suaranya dan semakin keras memukul meja.

Pada ulang tahun kesepuluh, Estradus mendapat hadiah yang tak pernah ia harapkan. Hadiah ulang tahun paling menyedihkan yang ia terima. Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari akibat pendarahan parah di kepalanya, Ibu meninggal dunia. Estraduslah yang memergoki ketika Ibu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Kepala Ibu sudah bocor dan lantai memerah saat Estradus memergokinya. Meski kepalanya berdarah-darah, Ibu tetap membentur-benturkan kepalanya dengan keras seakan kepalanya terbuat dari baja. Ia melakukan itu sambil meneriakkan nama Ayah. Estradus meminta bantuan tetangga untuk menolong Ibu. Ibu lekas dibawa ke rumah sakit. Saudara-saudara menjenguk Ibu. Tapi nyawa Ibu tak bisa diselamatkan. Pada hari kematian Ibu, hujan turun begitu lebat. Kebencian Estradus terhadap hujan pun semakin kuat.

Selepas kematian Ibu, Estradus tinggal di rumah Kakek Junus bersama Paman Darius. Paman Darius adalah satu-satunya anak Kakek Junus sekaligus adik Ibu yang belum menikah. Sebelum kehadiran Estradus, Paman Darius hanya tinggal bersama Kakek Junus yang pikun dan gampang menangis. Kakek Junus selalu menangis setiap kali ia sadar bahwa dirinya sudah lupa akan banyak hal. Kakek Junus menangis ketika lupa bahwa Paman Darius adalah anaknya, Estradus adalah cucunya, dan istrinya—Nenek Jasiah—telah meninggal dunia. Paman Darius yang mengaku tak ingin menikah merasa senang dengan keberadaan Estradus. Sebab ia tidak lagi hanya tinggal berdua bersama orang yang gampang menangis dan sulit diajak bicara. Paman Darius jelas mencintai ayahnya—Kakek Junus—tapi ia juga butuh teman serumah yang bisa diajak berinteraksi secara normal.

Estradus juga senang dengan Paman Darius. Paman Darius adalah seorang sarjana—entah jurusan apa, Estradus pernah menanyainya, tapi Paman Darius tak pernah mau menjawabnya. Ia pintar. Ia banyak baca buku dan mengenakan kacamata. Begitulah alasan Estradus menganggap Paman Darius pintar.

Estradus menjalani masa remaja di rumah itu. Beberapa hal berubah—Kakek Junus wafat, Paman Darius melanjutkan sekolah, Estradus mulai jatuh cinta—tapi kebencian Estradus terhadap hujan masih sama. Tiap kali hujan turun, ia berlari ke dalam kamar untuk mengurung diri. Ia tidak akan ke luar kamar sampai hujan benar-benar berhenti. Sampai petrichor tak tercium lagi. Kali pertama mengetahui keanehan Estradus, Paman Darius terheran-heran.

“Paman rasa kau mengidap ombrophobia, Estra. Sejenis ketakutan yang berlebihan kepada hujan.”

“Tidak, Paman. Aku tidak takut kepada hujan atau apa pun. Aku hanya membencinya.”

“Tapi kau tidak bisa terus-menerus menghindar dari hujan, Estra. Di negeri ini, hujan datang begitu sering dan tak bisa dicegah.”

“Biarlah, Paman. Aku tetap tidak mau menemui hujan.”

Pada akhirnya Paman Darius memaklumi keengganan Estradus terhadap hujan. Soal keanehan Estradus membuat Paman Darius teringat teman-temannya dan dirinya sendiri. Ia memiliki teman perempuan yang tidak pernah mau bertatap muka dengan lelaki, teman yang ketakutan setiap melihat jalan raya, cemas setengah mati kalau melihat warna merah, tidak mau berbicara lewat telepon, dan sebagainya. Paman Darius sendiri bertekat tidak pernah mau menikah. Suatu hal yang mulanya dianggap tak lazim oleh orang-orang sekelilingnya. Saat Kakek Junus masih hidup dan belum pikun, ia juga sering mengingatkan Paman Darius untuk cepat menikah. Paman Darius hanya menjawab “iya” sekadar untuk menyenangkan Kakek Junus. Kenyataannya, Paman Darius tak pernah menikah sampai Kakek Junus pikun dan meninggal dunia.

Paman Darius sedang mengetik rancangan tesisnya ketika suatu pagi Estradus yang telah menjadi mahasiswa membawa seorang perempuan ke rumah. Perempuan itu berambut lurus panjang, bermata kecil, dan bertinggi sedagu Estradus. Perempuan itu ceria sekali. Estradus memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Paman Darius terlonjak dari tempat duduknya.

“Kau serius, Estra? Rasanya baru kemarin kau lulus SD, sekarang sudah punya kekasih saja.”

“Aku mencintai Helena, Paman. Suatu saat aku pasti akan menikahinya,” kata Estradus. “Kau mau kan nanti menikah denganku, Helena?”

Helena tersipu. Paman Darius menggeleng-geleng dan mencandai Estradus agar menempuh cara hidup seperti dirinya—tidak menikah.

“Helena terlalu cantik dan baik untuk tidak kunikahi, Paman.”

Setelah hari itu, Estradus makin sering membawa Helena ke rumah. Paman Darius yang tengah sibuk dengan tesisnya tidak keberatan dengan kedatangan Helena. Sama seperti Estradus, Helena tipe orang yang enak diajak bicara. Ketiganya bisa membahas apa pun kalau sudah duduk semeja. Meskipun usia Paman Darius berselisih jauh dari sepasang sejoli itu, ia merasa tidak berjarak dengan topik yang keduanya percakapkan. Barangkali karena Paman Darius rajin membaca dan bergaul sehingga ia tak pernah ketinggalan gerbong kereta zaman yang melaju kencang.

 Seiring waktu hubungan Estradus dengan Helena kian dekat. Helena berkali-kali mengajak Estradus main ke rumah, tapi Estradus belum memiliki keberanian untuk itu. Ia mesti mengumpulkan nyali dulu untuk bisa bertemu langsung dengan orang tua Helena. Selain kurang percaya diri, kenangan hitam akan Ayah dan Ibu membuat Estradus tidak sanggup tiap harus berjumpa dengan orang-orang seusia Ayah dan Ibunya. Meskipun Ayah dan Ibu meninggalkannya dengan cara yang berbeda, tapi keduanya menyisakan kesedihan yang sama di hati Estradus.

Sampai suatu hari Estradus memberanikan diri menerima ajakan Helena ke rumahnya. Keduanya telah menetapkan hari itu. Celakanya, tepat hari itu hujan lebat turun. Estradus sudah bersiap-siap ketika hujan turun tiba-tiba. Ia sangat membenci hujan. Ia ingin cepat-cepat mengurung diri di dalam kamar. Namun ia tidak dapat melakukan itu. Helena dan orang tuanya sudah menunggunya. Akhirnya Estradus memilih untuk melawan kebenciannya itu. Setelah sekian lama, ia mau menjumpai hujan.

“Akhirnya waktu ini tiba. Kau memang harus melawan kebencianmu, Estra,” ujar Paman Darius sebelum Estradus berangkat ke rumah Helena dengan mengendarai sepeda motor.

Estadus menerobos hujan. Tiap kali suara hujan tiba di telinganya atau tetes hujan menimpa tubuhnya, Estradus teringat hari saat Ayah pergi dan Ibu mati. Ingatan itu berganti-gantian menyiksanya seperti dua penjahat yang mengeroyoknya di suatu jalan yang sepi.

Estradus tiba di rumah Helena. Di teras, Helena menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia lekas mengajak Estradus ke dalam. Sepasang orang tua Helena sudah ada di ruang tamu. Keduanya telah duduk menanti kekasih anak mereka. Begitu Estradus memasuki ruang tamu, Helena memperkenalkan, “Ayah, Mama, ini lelaki yang dari tadi kubicarakan. Ini kekasihku. Namanya Estradus.”

Begitu mendengar ucapan Helena, sepasang orang tua itu terperanjat. Terutama ayah Helena. Matanya mennyipit dan tubuhnya membeku. Sementara itu, leher Estradus menegang. Ia mengenali dua orang di hadapannya. Mereka adalah Ayah yang meninggalkan Etradus bertahun-tahun lampau dan seorang perempuan yang dulu dipayungi Ayah.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada Helena, Estradus buru-buru pergi ke luar. Ia memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sangat kencang. Hujan masih turun begitu deras. Di tengah jalan, Estradus tak henti-henti mengumpat dalam hati. Sejak hari itu, ia semakin membenci hujan dan Ayah. **

Tambun Selatan, 16 Februari 2020


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].