Cerpen

Melankolia Jibril

Cerpen Nafi Abdillah

Selepas menyanggupi perintah Tuhan Semesta Alam, aku dan Izroil berbalik badan, mengepak sayap, menjauh dari pintu surga. Alih-alih meninggalkan langit ke tujuh dengan cepat, namun luapan gelisah mendadak meletus dari dalam dada. Mula-mula hanya bergetar dari satu titik, namun imbas dari getaran itu merembet ke seluruh tubuh. Hingga niat yang dari awal telah terbangun, luntur. Tubuhku mendadak kelu. Pergerakanku melambat. Izroil rupanya cukup pandai untuk tak hirau atas perubahan sikapku itu.

“Kenapa, wahai Jibril?” tanyanya kepadaku.

“Tak apa, ayo kita teruskan!”

Aku tak ingin jujur. Sungguh tak perlu ada penjelasan kepadanya. Aku tak mau memengaruhi keputusannya. Meski sedikit berandai-andai, mungkin jugalah ia merasakan hal yang sama.

Kami memang dicipta sebagai makhluk yang memiliki tingkat ketaatan tinggi. Bukan ingin berlaku sombong, tapi kodrat Lauh Mahfud tertulis semacam itu. Segala perintah selalu kami kerjakan semulus-mulusnya. Tak ada keberanian, bahkan kemampuan untuk menolak perintah-Nya. Namun, perintah Allah kali ini memiliki kadar yang jika boleh kukategorikan berada pada interval yang sangat tinggi. Ada lubang-lubang dilema yang tumbuh meraksasa. Menjalankan perintah-Nya adalah keniscayaan, mangkir dari perintah-Nya adalah sikap yang lebih membangkang dari sikap sombong itu sendiri.

Tapi perintah-Nya kali ini sangatlah berbeda. Sebagian perasaanku yang dekat, mengangguk cepat sekali. Pada bagian yang lain muncul keragu-raguan untuk tunduk dan mematuhi perintah-Nya. Ingin sekali kutegaskan perihal perasaan yang mengganjal ini kepada Izroil. Ingin kubagi seluruh keluh kesah. Namun selalu kuurungkan tiap kali kubaca mimik wajah Izroil yang tampak sangat serius itu. Bisa-bisa timbul perdebatan dengannya jika perasaanku ini tak selaras dengan yang dipikirkannya. Maka kuputuskan untuk tak membicarakan dengannya. Biarlah kusimpan gelisah ini sendiri.

Toh, untuk urusan menahan gelisah, aku cukup terlatih. Seluruh peristiwa yang telah kulalui bersama Kanjeng Rasul, tak sedikit memunculkan perasaan-perasaan semacam itu. Namun, Rasul selalu meredamnya dengan cara-cara berbeda yang tentunya membuatku takjub.

Terkadang, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kusangka akan mengarah ke suatu sisi, namun ternyata keputusannya jauh mengarah ke sisi yang lain. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi manusiawi di hadapannya, namun kenyataannya pikirannya jauh melampaui itu semua.

Seperti ketika Kanjeng Rasul berada dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Kota Thaif untuk menyampaikan ajaran Allah. Kanjeng Rasul menerima penolakan besar dari tiga pemimpin suku Tsaqif: Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr.

“Apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang bisa diutus selain kamu? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu selama-lamanya. Jika betul kamu adalah rasul, maka sungguh merupakan bahaya paling besar. Kebohonganmu sepatutnya memberiku alasan untuk tidak berbicara denganmu.”

Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil untuk mengusir Rasul di tengah terik matahari, melemparinya dengan batu sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasul berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasul, dengan hati yang terluka kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana.

Aku tahu, sangat terpukul hati Rasul. Dan aku, yang diam-diam mengikuti kanjeng Rasul sudah mulai geram dengan perlakuan yang diterimanya. Lantas aku mendekat ke arahnya, dan meminta izin membalas perlakuan mereka.

“Wahai Rasul, batu-batu gunung itu sudah siap meruntuhkan dirinya hingga menimbun seluruh kota Thaif. Aku hanya tinggal menunggu persetujuanmu.”

Namun, yang kuterima dari Rasul sangat jauh dari yang kupikirkan. Ia menolak dan malah mencoba meredam kemarahanku.

“Tidak wahai Jibril. Tak apa jika pemimpin mereka menolakku. Siapa tahu anak-anak keturunannya nanti yang bakal menerima ajaran yang kubawa.”

Sungguh takjub aku atas sikapnya. Kusangka Rasul akan patah, namun sedikit pun ia tak pernah goyah. Meski segala pertolongan pastilah datang padanya, tapi ia tak pernah gegabah. Ada saja perasaannya yang berpijak pada keselamatan orang banyak. Dialah sebenar-benarnya pemimpin.

Namun dalam kejadian lain, suatu kali aku pernah melihat Rasul menangis ketika sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Aku sungguh heran. Rasul menangis sebab tak mendengar kabar bahwa seorang perempuan berkulit hitam, Kharqaa’, yang setiap hari menyapu masjid, meninggal dunia.

“Sudah lama aku tak melihat Kharqaa’, ke mana gerangan perempuan itu?” tanya Rasul kepada sahabat-sahabatnya kala itu.

Para sahabat boleh jadi menganggap itu bukan soal penting hingga harus memberitahukannya kepada Rasul. Aku yang juga melihat hal itu, awalnya juga menganggap itu bukan soal penting. Padahal sebagai seorang pemimpin, ia pastinya memiliki urusan lain yang sangat banyak dan lebih penting. Namun, entah kenapa Rasul merasa menyesal dan bersedih ketika tidak mendengar kabar itu lebih awal.

Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub oleh sikapnya. Sebagai wasilah penghormatanku kepadanya haruslah ada laku untuk mengantarkan ke arah sana. Untuk itu, aku merasa harus selalu menyebut-nyebut namanya: Shollallah ‘alaa Muhammad.

Dengan mengingatinya, mungkin akan sedikit meredakan perasaan gelisah ini sebelum benar-benar menjalani harmonisasi lain yang tidak akan sama seperti saat ini atau yang telah lalu. Maka kuberanikan meminta Izroil mengurangi lesatannya yang cepatnya tak keruan itu. Kuyakinkan dia untuk tak terburu-buru. Toh, tak ada beda antara cepat dan lambat. Kalau cepat mau mengejar apa, kalau lambat mau menunggu apa.

“Wahai Izroil, tidakkah lebih baik kita tak terlalu terburu-buru untuk lekas bertemu Kanjeng Rasul?” dalihku padanya.

Izroil tergeragap mendengar ucapanku yang mendadak itu. Lalu, dengan menoleh ke arah belakang, ke arahku tentunya, ia berujar, “untuk alasan apa engkau mengatakan tak terburu-buru?”

“Bukankah Tuhan telah mengatakan kepadamu jika Sang Rasul kita tidak setuju, maka kita pun tak berhak dengan keras kepala melanjutkan tugas kita? Apakah kau tak merasakannya bahwa Tuhan sedang berpolitis kepada kita? Maksudku, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan waktu yang sangat longgar untuk kita, ya sekadar untuk melapangkan dada kita.”

Ucapanku itu tampaknya sedikit memengaruhinya. Buktinya, ia tak lagi melesat dengan lesatan yang keterlaluan kencangnya.

Sambil nyengir, ia berkata, “baiklah, wahai Jibril. Sekalian aku akan mengatur siasat yang paling halus bagaimana meminta izin kepada Beliau.”

“Benar Izroil, benar, kau harus pula memikirkan itu.”

***

Kanjeng Rasul ialah makhluk terbaik. Dialah muasal segalanya tercipta. Dialah alasan kenapa makhluk seperti aku ini tercipta. Dialah perantara. Dialah yang menjaga biji, mengalirkan air sehingga bertunas dan menjulang dengan daun-daun yang lebat-lebat. Dialah yang menumbuhkan rerumputan, merakit cabang-cabang sehingga tanah-tanah tampak tak lagi gersang. Dialah yang mengucurkan mata air, membuat celah-celah di dalam tanah sehingga menyemburlah oase di tengah padang pasir. Dialah yang meniupkan bulir-bulir pencerahan di dalam kepala yang dipenuhi lumbung kegelisahan. Dialah yang membasuh dan membersihkan noktah-noktah kebencian lalu menggantinya dengan akar-akar kepercayaan dan persatuan. Dialah asal muasal. Dialah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang. Dialah yang mengangkat. Dialah yang menuntun. Dialah yang menyelamatkan.

Di tengah pengembaraanku ke masa lalu bersama Rasul, aku pun tak sadar telah sampai di langit lapis pertama. Namun kegelisahan ini tetap saja memenjarakanku. Meski Sulthonul Malaikat ialah tugas yang melekat dalam diri, namun hak untuk merasa gelisah kurasa tak pernah tebang pilih atas tugas yang melekat pada diri tiap makhluk. Gelisah memang gelombang-gelombang daripada episentrum cinta. Wajar bila makhluk yang menahbiskan diri sebagai pecinta, suatu kali bakal merasakan gempa yang menggoyang- goyangkan jiwa.

Untuk hal semacam itu, suatu kali aku pun pernah merasa cemburu terhadapnya. Setelah mengantarnya berisra’, melakukan perjalanan panjang ke seluruh semesta, menembus ruang dan waktu hingga akhirnya menghadap Allah. Namun ketika telah sampai pada pintu menuju arasy Allah, aku tak diperkenankan masuk oleh-Nya. Dan saat itu aku merasa sangat cemburu. Bukan karena pertemuan intim Rasul bersama Allah yang menyebabkan aku cemburu. Melainkan kecemburuanku mengarah pada bakiak yang dikenakan Rasul. Bakiak bisa mengantarkannya masuk dan bersama-sama menemui Allah. Sementara aku, Jibril, hanya boleh menunggu di luar. Coba, siapa yang tak gembira jika menghadap Allah bersama- sama dengan makhluk terkasih seperti Kanjeng Rasul?

Namun semakin kumengingati peristiwa bersama Rasul, jurang-jurang kebimbangan semakin menegaskan ke dalamannya yang memiliki lapisan berlipat. Perlu usaha yang tidak

hanya tepat, namun juga keras untuk melaluinya. Di satu sisi akulah makhluk yang taat, di sisi yang lain aku tak memiliki keberanian melihat seorang yang paling kukasihi menderita. Maka, kukuatkan dan memberanikan diri menolak menemani Izroil untuk turun ke bumi, ke tempat tidur Kanjeng Rasul.

Aku, Jibril, Sang Penyampai Ilmu, kunyatakan bertahan di langit ke satu, walau remuk dadaku menahan gelisah yang tidak menentu. Biarlah Izroil sendiri yang melihatmu menderita wahai Kekasih.

Pada detik ini, aku diminta untuk menemani Izroil untuk… ah, sungguh sulit dan bagiku sangat tidak sopan hanya untuk sekadar mengatakan akan mencabut nyawanya.


Nafi Abdillah, lahir dan tumbuh di Kabupaten Karanganyar. Seorang pembelajar pula di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi tersiar di beberapa media. Beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa disapa melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.