Cerpen

Surogentho

Cerpen Era Ari Astanto

Angin malam menyusup lewat celah-celah jendela jati yang kecokelatan. Pelita kecil di sudut ruangan meliuk seperti gadis kampung yang mabuk asmara. Demang Surogentho terbaring di atas amben. Tangannya gemetar seperti mencuri sisa kekuatan dari batang tubuh yang beberapa purnama tidak bisa berdiri. Tubuh dan wajahnya bengkak-bengkak. Perutnya membuncit ganjil, seperti menyimpan rahasianya yang siapa pun tak boleh mengetahui kecuali keluarganya.

Di sebelahnya, istrinya duduk memegangi piring tembikar. Ada segenggam nasi dingin dan dua potong tempe goreng di dalamnya. Ia tidak segera menyodorkan makanan itu. Hanya menatapnya, lantas mendesah pelan. “Aku mimpi aneh tadi sore,” ia berkata nyaris seperti gumaman. “Ada ular menyusup ke ranjang ini. Kepalanya dua. Yang satu menangis. Yang satu tertawa.”

Surogentho tidak menjawab. Alisnya bertaut, seperti teringat sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya, lalu muntah darah ke mangkuk tembikar bekas bubur yang ia makan tadi.

“Kalau aku mati sekarang, Genthi bisa kululusi jadi dalang,” katanya dengan suara parau, seolah sedang menyampaikan amanat di mimbar yang sepi.

“Lho, kenapa dalang?” istrinya mengernyit.

“Karena hidupnya sudah kubentuk seperti wayang. Sekarang saatnya ia menjadi dalang. Aku tinggal rebah. Dan ia tinggal menggerakkan tangannya.”

Hening. Angin berembus. Pelita bergoyang liar.

Istrinya menoleh ke arah pintu. “Rasanya, suara ayam jantan barusan itu… mirip suara Kenthus yang mati seminggu lalu.”

Surogentho berdehem, tak hendak mengomentari tentang Kenthus, ayamnya yang telah mati, “Kalau ayam bisa reinkarnasi aku harap aku jadi tikus. Tikus got yang punya kerajaan sendiri di balik lubang comberan. Bisa mengerat apa pun yang ingin aku kerat. Tentu, seperti tikus, yang paling kusuka adalah pergi ke wilayah orang-orang miskin. Mereka sangat menguntungkan dan empuk.”

Istrinya terkekeh kecil, lalu berhenti. Ketawanya seperti tertahan di kerongkongan, seolah malu keluar karena sudah terlalu sering mendengar kebodohan manusia.

“Jangan bercanda, Kang,” ia diam sebentar, menimbang, “Tapi maaf, Kang, badanmu seperti ada bau bangkai.”

Surogentho justru tersenyum lebar. “Itu tanda-tanda alami. Sudah mirip kematian, kan?” Ia menatap langit-langit rumah yang di beberapa bagian terdapat sarang laba-laba. “Tapi kenapa belum mati juga, ya? Apa mati juga harus menunggu tanda tangan Wedana?”

***

Demang Surogentho melihat dirinya hanya memiliki dua pilihan: menang di pengadilan Kawedanan atau mati secara alami. Ia mengulang kalimat itu dalam hati. Menggumamkannya bagai mantra yang justru menggelisahkannya. Pilihan pertama lebih enak didengar, lebih mulia diucapkan, dan tentu lebih menjanjikan untuk keluarganya. Tapi, itu mengandung satu syarat kecil yang rasanya setara dengan menjaring angin: membuktikan bahwa ia telah menyetorkan pajak sesuai ketentuan.

Bukti. Sebuah kata yang terdengar gagah dalam sesorah para pamong praja. Sayangnya, tak satu pun bukti yang ia miliki berbentuk hitam di atas putih. Kawedanan, selama sepuluh tahun, hanya menerima sebagian dari setoran pajak. Ia tahu sebabnya, karena ia sendiri yang mengatur cara-caranya agar tampak wajar: warga kademangan sedang gagal panen, musim kering, longsor, tikus, serangan wereng, dan alasan musiman lainnya. Semua disusun rapi, bahkan dilampiri tanda tangan pamong desa yang siap pasang badan asal diberi sedikit beras atau amplop tipis.

Tapi suatu hari, langit berubah arah. Kawedanan datang tanpa aba-aba. Dipimpin langsung sang Wedana. Mereka memeriksa. Mereka bertanya langsung ke warga. Dan warga yang polos, atau mungkin telah muak dengan demang mereka, menjawab jujur: mereka selalu bayar pajak sesuai ketentuan. Tanpa potongan. Tanpa pengurangan. Bahkan, kadang mereka menambah dari kantong sendiri sebagai bentuk maaf dan terima kasih.

Dari situ, bola menggelinding. Kawedanan mengendus perkara lain: bantuan irigasi yang tak jadi aliran, perbaikan jalan yang cuma sepanjang 100 depa dan berhenti di depan rumah kepala jagabaya, bantuan benih yang dibagi hanya pada keluarga pamong. Warga diam. Dulu. Sekarang tidak.

Kuping dan mata Kawedanan memerah. Surat tuntutan resmi dikirim. Demang Surogentho harus membayar semua pajak yang tidak disetorkan selama sepuluh tahun. Ditambah denda sebesar sepuluh tahun pajak pula. Totalnya tak terbayangkan. Bila dibayar, rumahnya akan ludes, sawahnya pindah tangan, dan anak-anaknya akan diundang sebagai contoh dalam ceramah korupsi di balai desa.

Ia duduk diam di serambi malam itu, merenung sambil mengaduk teh tanpa gula. Jika hanya mati, urusan selesai. Tapi mati bunuh diri justru membuka pintu tuntutan bagi ahli warisnya. Kawedanan cukup pintar membuat peraturan: hanya kematian alami yang menghapus segala tuntutan.

“Tapi, mati secara alami, bagaimana caranya?” gumamnya. Tak ada jawaban.

Ia pernah membicarakan ini dengan istrinya. Perempuan itu hanya menatapnya seperti menatap benih yang gabug. Lalu berkata pelan, “Kalau harus memilih, Kang, aku ingin kau tetap hidup dan anak-anak tetap sejahtera.”

Ia mengangguk, meski tubuhnya menolak harapan itu. Kata-kata istrinya bukan keputusan, hanya pengingat tentang dunia yang memang ia inginkan selama ini.

Sang istri bercerita, suara pelan seolah menguji bisik angin, “Kau ingat Demang Blengsek, Kang? Ia sakit saat menghadapi tuntutan serupa. Tapi ia tetap hadir di sidang. Ia terjatuh, pingsan, lalu mati tiga hari kemudian. Kasus pun ditutup. Anak-anaknya hidup baik sampai sekarang.”

Demang Surogentho menatap istrinya. Ia tak bertanya, tak menyanggah. Hanya sunyi.

***

Warung wedangan Randa Sainem selalu ramai. Wedang jahe gepuknya memang bikin kangen, ditambah lagi karena rasa gosip di warung itu lebih gurih daripada sate keong.

Beberapa warga duduk di tikar pandan. Sambil menyesap jahe gepuk, mereka menyesap kabar burung dan kabar angin. Lalu mengulumnya seperti gulali.

“Aku dengar dari adikku tadi sore yang berkunjung ke rumahku, Demang Surogentho pergi ke Mbah Lugut Rawe di lereng Merapi. Adikku tidak tahu untuk apa demang ke sana.” kata salah seorang dari mereka dengan suara rendah yang justru menarik perhatian.

“Mbah Lugut Rawe, dukun santet itu?”

“Iya. Tapi tidak tahu untuk apa.”

“Mungkinkah untuk menyantet Wedana?”

“Atau menyantet kita semua karena tidak membelanya?”

“Menyantet siapa pun, tetap saja konyol. Tak bisa menghapus fakta.”

“Fakta bahwa kita membayar pajak penuh, tapi tak tahu uang itu ke mana?”

“Bagaimana kita bisa mengaku tidak membayar pajak penuh selama sepuluh tahun, itu sama saja membelanya. Percuma kita selama ini rajin membayar pajak penuh.”

“Benar. jika kita mengaku, maka pajak kita akan dinaikkan dua kali lipat selama sepuluh tahun ke depan. kau mau?”

“Tentu saja tidak. pajak yang ini saja tidak jelas untuk apa kok. Tapi, untuk apa dia ke Mbah Lugut?”

“Tentu tidak. Pajak yang sekarang saja seperti menyuap nasib. Tapi… kenapa dia ke Mbah Lugut?”

Tak ada jawaban. Tapi semua sepakat: Demang harus bertanggung jawab. Mati tak cukup. Lari lebih buruk.

***

Kabar perihal tubuh Demang Surogentho yang mulai berubah bentuk seperti gabus direndam air dengan cepat menyebar. Dan benar, semua yang datang menyaksikan tubuh demang mereka bengkak. Kulit di beberapa bagian tubuhnya mengelupas. Sesekali muntah darah.

Berbagai tangapan bermunculan. Ada warga menanggapi itu sebagai karma. Ada yang menduga itu hanya rekayasa agar bebas dari tuntutan kasusnya. Ada yang merasa kasihan tapi menyayangkan, “Demi anak tidak kehilangan harta yang telah ia tilep, ia rela membuat dirinya sakit dan perlahan mati agar tampak secara alami.”

Namun, ada juga yang berdoa. “Semoga ia sembuh.”

“Sembuh? Kau mulia atau gila? Jangan-jangan kau ikut mencicipi harta itu?”

“Pikirkan baik-baik. Jika dia mati saat sakit begitu, kekurangan pajak kita selama sepuluh tahun terakhir menjadi tanggungan kita. Bahkan, kita harus menanggung pajak dua kali lipat besarnya selama sepuluh tahun ke depan.”

Yang lain manggut-manggut. “Kau benar. Jika dia sehat dan membayar Kawedanan, kita aman.”

Senyum aneh menggantung di bibir mereka.

***

Setahun lewat. Sakitnya tak bertambah, tak juga sembuh. Seperti wayang rusak yang dibiarkan tergantung di sudut pendapa. Tak dibuang, tapi tak dipakai.

Kawedanan tak bisa bergerak. Hukum menganga, menunggu kematian atau kesembuhan.

Di dalam rumah, keheningan terasa seperti jaring laba-laba. Lengket dan mengurung.

Surogenthi, anak sulungnya, memasuki rumah dengan wajah lesu seperti tanah merah yang kerontang.

“Bagaimana, Genthi? Apa kata Mbah Lugut Rawe?” tanya ibunya.

Surogenthi menarik napas panjang, seperti menyimpan dua kabar sekaligus.

“Mbah Lugut sudah meninggal. Dua pekan lalu.”

Ibunya terdiam. Lama.

Dari atas amben, suara serak lirih meluncur.

“Artinya apa?

Genthi menatap lantai. Lalu menjawab pelan, “Kita harus mengobatkan Bapak.”

“Tidak,” sahut Demang, dengan napas yang seperti dicuri, tersengal, “Itu artinya keluar banyak biaya. Aku ingin segera mati… tapi yang seperti alami. Hanya dengan begitu harta kalian akan aman.”

Surogenthi dan ibunya saling pandang, terseret ke dalam hening yang mencekat.

____________________

Era Ari Astanto. Penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Belakang

DIBUJUK BAHAGIA

Dulu, seorang remaja ketagihan membaca buku-buku gubahan Kahlis Gibran. Ia membaca berulang kali buku yang edisi terjemahan bahasa Indonesia: Cinta, Keindahan, Kesunyian yang diterbitkan Bentang. Pada mulanya, ia bosan dengan hidup. Halaman-halaman di buku itu perlahan membuatnya betah hidup. Yang diyakininya: “Hidup itu kalimat-kalimat yang puitis.” Saat lemah dan puyeng, ia lekas membaca lagi kutipan-kutipan puitis dari Kahlil Gibran. Pada hari yang berbeda, ia lelah dengan yang puitis-puitis. Maka, berpisahlah dirinya dengan buku-buku Kahlil Gibran.

Hidupnya masih amburadul. Ia mengalami gagal, kalah, dan sesat. Di tangannya, ada buku yang dipersembahkan Albert Camus. Remaja itu lekas khatam novel berjudul Sampar. Akhirnya, ia percaya bahwa hidup itu brengsek. Manusia menderita tidak habis-habisnya. Yang diperlukannya adalah kalimat-kalimat filosofis, yang membuatnya masih sadar bahwa hidup tidak terlalu sia-sia. Ia meragu manusia bisa bahagia. Albert Camus telah mengajarinya melalui buku-buku mengenai hidup yang tidak mudah dipatenkan dengan bahagia. Masa remaja berlalu, ia malah bernafsu buku-buku, yang makin membuatnya sulit bahagia.

Pada hari yang tidak dipesan, ia yang menua bertemu buku berjudul Hidup Bahagia susunan M Natsir dan Nasroen AS. Buku yang tidak bersampul, terbitan Van Hoeve, Bandung. Terduga buku terbit masa 1950-an. Pada saat Indonesia sedang ribut demokrasi dan gencar berteriak revolusi, ada dua orang yang mengingatkan agar terpenuhi hasrat bahagia. Buku itu bukan selera Soekarno, Sutan Sjahrir, Njoto, dan lain-lain. Para tokoh penting itu pastinya membaca buku-buku berat untuk “tanding ideologi” di arus sejarah Indonesia.

Natsir dan Nasroen memang menyusun buku bukan untuk bacaan dewasa. Yang dinyatakan: “… edisi ketjil ini dimaksudkan djadi batjaan murid-murid kelas tinggi sekolah rakjat dan madrasa ibtidaijah. Tetapi dapat djuga pada kelas permulaan sekolah-sekolah landjutan pertama.” Buku yang sepantasnya dinikmati remaja. Yang membaca memiliki imbuhan imajinasi saat melihat belasan foto (lama) yang hitam-putih saja. Dua intelektual besar mampu menulis buku yang disantap kaum remaja. Buku itu diharuskan sederhana dan mengesankan, berbeda dari adanya buku-buku pelajaran atau buku-buku merayakan khotbah. Kaum remaja diajak berpikir hidup yang bahagia, bukan hidup yang bopeng, rusak, kotor, dan ruwet.

Di situ, ada cerita mengenai tokoh yang kehilangan bapak, ibu, dan adik pada masa pendudukan balatentara Jepang. “Aku kehilangan akal, kemana hendak pergi,” pengakuannya. Nasib tidak dapat ditebak dan masa depannya samar. Yang terjadi adalah kebaikan: “Untunglah Njonja Go, tetangga kami, kasihan akan daku. Aku dipungutnja dan dibawanja kemana pergi. Suaminja meninggal pula dan ia tidak mempunjai anak. Setelah perang selesai, Njonja Go pulang ke Tiongkok. Aku dibawanja. Di Hongkong, aku dimasukkannja ke sekolah Inggeris. Geli hatiku karena disana namaku ditukar djadi Charles Chang Ie Ming. Enam tahun aku di Hongkong. Setahun sebelum peladjaranku tamat, Njonja Go meninggal pula. Sedih hatiku berulang kembali. Sjukur djugalah karena dapat aku menjelesaikan peladjaran sampai aku memperoleh idjazah di sekolah Inggeris itu. Kemudian atas pertolongan Perwakilan Republik Indonesia di Hongkong, dapatlah aku pulang ke Tanah Air kembali.” Kisah yang mengharukan. Pembaca sudah menemukan arti bahagia? Tokoh kembali ke Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Ia telah melewatkan tahun-tahun penentuan sejarah.

Akhirnya, ia harus mengenali lagi Tanah Air dalam tatapan remaja. Ia tinggal di desa, belum ada keinginan membentuk masa depan di kota. Pengamatannya mengenai peristiwa-peristiwa di hari Minggu: “Orang-orang pergi ke bioskop atau ke taman bunga untuk istirahat. Hari Minggu, pergi keluar kota, menikmati udara dan alam pegunungan. Kami orang desa tak perlu sengadja menikmati alam pegunungan pada hari Minggu. Begitu pula tak ada hasrat orang desa pergi ke taman bunga. Memang di desa tak ada taman bunga, jang sengadja dibuat untuk tempat berkepas lelah. Bioskop pun tak ada pula. Tapi engkau djangan salah kira. Pada orang desa ada pula kelebihan-kelebihan jang tak dirasai orang kota. Kami puas melihat padi menguning emas, anugerah dari Tuhan jang Mahakuasa atas djerih pajah kami. Kami puas melajani anak-anak berebutan nasi dan lauk pauk sambil bersila diatas rumput permadani hidjau jang lembut itu. Air kali beriak-riak ketjil seakan-akan ikut tersenjum bahagia bersama kami.”

Bahagia berada di desa. Pada masa 1950-an, banyak orang yang berpikiran jika ingin berhasil dan bahagia maka memilih hidup di kota. Mereka bekerja mendapat uang banyak. Bahagia diraih dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Mereka yang bahagia di kota berhak menyandang sebagai manusia modern. Tokoh dalam buku susunan Natsir dan Nasroen mengingatkan bahwa desa itu sumber bahagia. Namun, Indonesia sedang bergolak, yang mengakibatkan pendefinisian desa adalah tertinggal, tradisional, miskin, dan sengsara.

Yang turut disajikan berkaitan perubahan-perubahan besar di Indoensia adalah buku. Kita mengikuti cerita dan penjelasan: “Pernah dikatakan orang bahwa buku adalah sekolah tinggi pada abad XX ini. memang banjak orang jang mendjadi madju dan terkenal dalam masjarakat karena menambah ilmunja dengan buku-buku.” Di Indonesia, jumlah buku terus bertambah. Para pembaca pun bertambah setelah pemajuan pendidikan dan pemberantasan buta huruf oleh rezim Soekarno. Buku menentukan perkembangan ilmu sekaligus mengajak orang-orang bisa bahagia.

Kita malah meragukan buku adalah sumber bahagia. Pada masa 1990-an sampai sekarang, toko buku dan pasar buku bekas disesaki oleh ratusan judul buku yang bertema bahagia. Buku-buku terjemahan dari Eropa dan Amerika Serikat memberi tuntunan atau petunjuk agar orang-orang bisa meraih bahagia. Buku-buku itu dipelajari orang-orang Indonesia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang-orang di pelbagai negeri asing. Bermunculan juga buku-buku bertema bahagia yang berdasarkan ajaran-ajaran agama. Buku-buku itu laris. Yang membaca dan mempelajarinya beralasan demi iman dan perwujudan bahagia. Pada abad XXI, bahagia itu masih tema terbesar. Buktinya, ratusan judul buku di Indonesia terbit bercap Stoik. Buku-buku jenis itu laris dan dirayakan di media sosial oleh para pendamba bahagia.

Remaja yang dulunya membaca buku-buku Kahlil Gibran dan Albert Camus akhirnya membukan halaman-halaman buku yang berjudul Setiap Hari Stoik (2022) susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku itu dibaca sambil merem dan melek. Buku yang penuh petuah bijak. Buku bergelimang renungan. Yang ingin membaca masalah bahagia dipastikan menemukan di banyak halaman.

Namun, ia akhirnya bernostalgia saja dengan membaca buku berjudul Hidup Bahagia susunan Natsir dan Nasroen. Ia ingin mengetahui gagasan bahasa pernah disampaikan melalui buku-buku yang dianjurkan menjadi bacaan anak dan remaja. Pada masa lalu, anak dan remaja dibujuk bahagia ketimbang remuk dan brengsek saat Indonesia ingin mulia selama-lamanya.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK ALIH FUNGSI

Tengoklah ke sekeliling, di kamar atau ruang kerjamu. Ada berapa banyak benda yang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak buku hanya jadi hiasan, berapa banyak pulpen sekadar untuk mengganjal pintu, atau berapa banyak kursi difungsikan sebagai gantungan baju? Ini bukan soal kemalasan, tapi soal cara kita, mendefinisikan ulang makna sebuah benda.

​Kita hidup di antara ironi. Sesuatu diciptakan dengan fungsi spesifik, dengan desain yang matang dan tujuan jelas, namun tak jarang kita alih fungsikan sesuai kehendak dan kebutuhan paling remeh. Ambil contoh, sepasang sepatu mahal yang dibeli dengan penuh harap, tapi berakhir sebagai alas kaki untuk menyiram tanaman di pekarangan. Nilai estetika dan fungsinya menjadi luntur, tergantikan oleh kebutuhan pragmatis, jauh dari tujuan aslinya. Sepatu itu tak lagi tentang berjalan jauh atau bergaya, melainkan tentang menghindari tanah becek. Bukankah ini sedikit menyedihkan sekaligus menggelitik? Ada semacam satir di sana: kita memuliakan benda, namun di waktu bersamaan kita merendahkannya.

​Perilaku ini, jika diurai lebih dalam, bukan sekadar soal malas atau tidak rapi. Ada semacam refleksi filosofis di dalamnya. Manusia, dalam perjalanannya, sering kali menciptakan sistem dan aturan sendiri, namun juga tak henti-hentinya mencari celah untuk membengkokkan aturan itu. Menggunakan benda di luar fungsinya adalah pernyataan perasaan dari pemberontakan tersebut. Ini penekanan halus bahwa kita, punya kuasa lebih besar dari sang pembuat. Kita tidak hanya mengonsumsi, tapi juga mendefinisikan ulang. Di situlah letak jenakanya. Senyum kecil muncul saat kita melihat sebuah sendok dipakai untuk membuka tutup botol, atau sebuah remot TV dijadikan alat pemijat jari. Ini bukti bahwa kreativitas, dalam bentuk paling sederhana, selalu menemukan jalannya.

​Di dunia fiksi pun banyak terjadi hal seperti itu. Dalam konteks novela Rumah Kertas, karya Carlos Maria Dominguez,alih fungsi buku melampaui sekadar ironi. Ini pernyataan politis tentang cara pengetahuan dapat ditundukkan dan dimanipulasi. Buku, seharusnya menjadi alat pembebasan pikiran, malah diubah menjadi alat penindasan fisik. Pengetahuan, seharusnya terbuka, kini menjadi penghalang hingga mengisolasi karakter dari dunia luar. Contoh ini menunjukkan bagaimana hal-hal paling fundamental dalam hidup—pengetahuan—bisa jadi tidak diakses sebagaimana mestinya, justru oleh wujud fisiknya sendiri. Ironi di sini bukan lagi sekadar menggelitik, melainkan tajam dan menyakitkan, menggambarkan bagaimana sumber kebenaran bisa menjadi penjara bagi pemiliknya.

​Menggunakan benda di luar fungsinya adalah seni adaptasi tak disengaja. Wujud nyata dari kreativitas naluriah untuk menolak batasan, menunjukkan bahwa manusia makhluk sangat fleksibel. Tindakan-tindakan ini tidak lahir dari perencanaan matang, melainkan dari kebutuhan mendesak, mendorong otak kita untuk berpikir di luar kotak. Fenomena ini juga menyiratkan tentang ekonomi emosional dari sebuah benda. Saat kita mengalihfungsikan benda sering kali memiliki nilai sentimental atau sudah usang. Kita memberi mereka kehidupan kedua, sebuah kesempatan untuk tetap berguna, meskipun dalam bentuk berbeda. Ini bukti bahwa hubungan kita dengan benda tidak hanya fungsional, tetapi juga emosional dan historis.

​Perilaku ini semacam refleksi dari sifat pragmatis manusia tak pernah padam. Kita tidak selalu butuh alat sempurna; kita hanya butuh solusi yang berhasil. Sebuah botol minuman dipakai untuk penumbuk bumbu, atau sebuah peniti menjadi alat pembuka kemasan, adalah manifestasi dari prinsip apa pun yang ada di tangan. Ini pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kebahagiaan dan efisiensi seringkali tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki. Dalam ketidaksesuaian itu, kita menemukan kebebasan, humor, dan yang paling penting solusi.

​Kembali ke hidup sehari-hari, hal remeh berbicara banyak tentang cara kita menjalani hidup di era digital. Kita punya smartphone canggih, tapi hanya kita gunakan untuk bermain gim atau sekadar menggulir media sosial. Kita punya aplikasi catatan, tapi lebih sering kita pakai untuk membuat daftar belanjaan yang tak pernah kita beli. Kemajuan teknologi seringkali tidak kita gunakan untuk memberdayakan diri, melainkan untuk melarikan diri dari realitas.

​Namun, di balik semua ironi, ada juga keindahan. Hal itu bukti adaptasi, bukti kreativitas, dan bukti bahwa hidup tidak selalu harus kaku dan sesuai aturan. Esensi dari menulis, yang relevan dengan zaman, adalah menangkap momen-momen remeh itu dan mengungkapkannya dengan kejernihan.

​Menulis bukan lagi soal menggurui, melainkan soal menyajikan sebuah cermin. Cermin yang memantulkan perilaku kita, kebiasaan kita, dan ironi-ironi kecil yang kita ciptakan sendiri. Tulisan bagus adalah yang bisa membuka mata tanpa terasa menghakimi. Mengungkap hal-hal menggelitik, seperti sepasang sepatu menjadi alas menyiram tanaman, atau sebuah pulpen untuk mengganjal pintu, agar kita tersadar: bahwa dalam hal remeh, kita sering menemukan esensi paling hakiki dari kehidupan itu sendiri.

​Maka, inilah perlunya sesekali melihat sesuatu dari samping. Mungkin makna sebuah benda bukan apa yang diciptakan untuknya, melainkan apa yang kita lakukan dengannya. Dan terkadang, ironi adalah semacam cara untuk memahami kebenaran. Jadi, saat melihat pulpenmu dijadikan untuk mengganjal pintu, tersenyumlah. Ada kisah lebih dalam dari sekadar fungsi. Ada sebuah ironi kecil yang menawan.

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Ragam

BUKU, DEBU, KERINGAT

Subuh yang tidak memberi dingin. Beberapa hari yang lalu, dingin berkuasa atas malam, dini hari, dan pagi. Aku pun ikhlas berkeringat akibat tak bercumbu dengan kipas angin dan mesin pendingin udara. Aku hanya percaya angin yang masuk lewat pintu dan jendela, Angin yang tidak membawa pesan-pesan gaib dari langit.

Jumat, 26 September 2025, aku makin berkeringat setelah subuhan. Yang dilakukan adalah menggerakkan tubuh untuk buku dan debu. Aku harus merapikan rumah. Ribuan buku yang berserakan ditumpuk sembarangan, ditaruh di pinggiran. Keinginan agar ada ruang luas untuk duduk banyak orang.

Siksa terbesar adalah debu dan kotoran yang bersama buku-buku. Pagi dimerdukan suara burung dan ayam. Aku merusaknya gara-gara bersin yang keras dan cempreng. Padahal, jam-jam sebelum aku pulang ke rumah menjelang 12 malam, aku pun sudah bersin-bersin di gedung olahraga, tempat aku menyapu dan mengepel demi mendapat rezeki.

Pagi itu bersin menyiksa bersumber buku dan debu. Aku sebenarnya marah dan menyesal telah lama menelantarkan ribuan buku di rumah. Kutukan diberikan padaku melalui buku-buku. Aku telah khianat atau ingkar. Buktinya, buku-buku itu morat-marit. Beberapa buku terkena air hujan. Ada buku-buku yang tampak bekas dikerikiti tikus-tikus. Pemandangan yang buruk. Semua terjadi seolah menjadi perbuatan dosa. Akulah yang mendosakan diri gara-gara buku. Kutukan belum habis.

Pada saat menumpuk dan mengangkat buku berpindah tempat, aku melihat lagi buku-buku yang selama ini aku ingin baca ulang atau semestinya menjadi dagangan di media sosial. Buku-buku yang telah bersamaku belasan tahun, lama tidak mendapat sentuhan dan tatapan mata. Aku tak lagi mendoakan mereka. Aku lupa bersenandung bersama buku-buku agar arwah para pengarang tidak dihajar sedih dan nestapa. Setengah tahun lebih, aku seperti pengkhianat besar atau sosok munafik terhadap buku-buku. Setelah subuhan, tubuhku dipaksa bersama lagi buku dan debu. Aku yakin bakal keok dan berduka.

Pukul 8 pagi, orang-orang berdatangan, memarkir sepeda motor di pinggir jalan dan pekarangan. Tubuhku sudah lelah dan pikiran tak keruan. Aku minta mereka menata sepeda motor secara rapi. mengajk mereka masuk rumah. Tikar dan karpet sudah aku gelar meski tampak sesak terhimpit rak dan tumpukan buku.

Aku biarkan belasan orang di rumah. Yang aku lakukan adalah mencuci pakaian sambil bersenandung pelan. Lelahku harus diselamatkan oleh air dan lagu-lagu picisan. Pagi itu matahari menyengat. Yang diam dan bergerak bakal berkeringat. Mencuci sedikit menghindarkan sumuk.

Di ruangan yang bau buku dan debu, aku bercerita di hadapan 30-an mahasiswa. Mereka tampak bingung dan ragu mendengar kata-kata yang terucap. Aku malah melihat ada mahasiswa yang memperbaiki matanya. Maksudku, ia menggunakan alat untuk merapikan bulu matanya. Ada pula yang mengeluarkan cermin untuk memastikan wajah masih cantik. Bedak di tangan. Mataku melihat kesibukan-kesibukan yang aneh saat mereka berada dalam kepungan buku.

Aku khawatir mereka bakal pingsan dan mampus. Maka, aku berseru agar tangan mereka jangan menyentuh buku. Bersin! Aku peringatkan agar mereka jangan mengotori tangan dan bersin. Di sela aku berbagi cerita mengenai tulisan dan manusia, aku menyempatkan memberi nasihat tidak bijak: “Jangan terlalu dekat buku-buku! Berdoalah agar besok wajahmu tidak jerawatan! Konon, debu mengakibatkan jerawat.” Mereka tampak tersenyum tidak ikhlas.

Beberapa mahasiswa tampak memiliki keinginan besar mengetahui apa-apa yang terucap mulutku. Menyimak! Mereka pun berani membaca kalimat-kalimat yang ditulis di kertas. Para mahasiswa yang tidak takut debu, tabah dalam bersin, dan yakin tidak jerawatan berhak mendapat hadiah. Beberapa novel aku berikan kepada yang membuat tulisan dan membacakan di ruangan terkutuk ribuan buku. Dua jam berlalu, mereka pun pergi. Aku tergeletak di atas tikar sambil menanti panggilan dari masjid untuk sholat dua rekaat. Siang pun melelahkan.

Malam aku dijanjikan menikmati lelah. Di gedung olah raga, menepati janji menjadi tukang sapu dan mengepel. Malam itu ada jadwal “Kubu Kleco” bermain badminton di lapangan utara, mulai pukul 8 malam. Aku mengenal mereka sejak lama. Beberapa kali mereka menikmati Jumat malam disahkan kerkeringat, berteriak, dan saling ejek dalam lakon bulutangkis.

Dua orang tampak “sombong”. Malam yang seharusnya sehat berkeringat malah dinodai batang-batang rokok yang menyala. Mereka memang perokok yang tidak mau cuti. Yang menimbulkan kepastian mereka sombong adalah buku. Satu orang menikmati kopi dan rokok. Di tangannya, aku melihat ia memegang mesra buku berjudul Istanbul garapan Orhan Pamuk. Aku sebenarnya ingin mengingatkannya bahwa Orhan Pamuk bukan pemain bulutangkis. Orhan Pamuk itu pengarang yang membuatku cemburu setinggi tujuh lagit. Aku yang membaca novel-novel dan esai-esainya merasa “dihinakan” di jurang kebodohan dan kepicikan.

Mengapa ia membaca Istanbul saat Jumat masih meminta keringat? Dugaanku saja, ia mungkin bakal mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki. Ia tidak ingin terpuruk di Solo tanpa jaminan mendapat kekasih dan bisa makan bebek goreng sebulan sekali. Minggat ke negeri asing bisa menjadi penyelamatan. Benarlah bila ia mau khatan Istanbul yang ditulis Orhan Pamuk secara puitis.

Satu lagi lelaki yang melepas kaos. Sosok yang pamer sedang menanggung kegemukan. Kaos dan bajunya cepat sesak. Ia mengerti sedang gendut. Malam itu ia memegang buku berjudul Mitologi garapan Roland Barthes. Pikirku, Roland Barthes menulis tentang gulat, bukan bulutangkis. Mengapa lelaki yang rajin merokok itu malah membuka halaman-halamam Mitologi setelah bermain bulutangkis? Aku ingin mengatakan bahwa buku di tanganya bisa menumbulkan sesat. Selama ini aku mengetahui dirinya sembrono menghabiskan uang untuk berbelanja buku. Ia pasti menjadi keparat jika terus membaca buku dan betah dalam obrolan keintelektualan.

Malam yang jahanam gara-gara dua lelaki membaca Istanbul dan Mitologi. Aku menyumpahi mereka agar menjadi batu di Kalipepe atau berubah menjadi semut di Siberia. Dua lelaki yang tidak pantas diidamkan oleh perempuan yang ingin bahagia dan mendapat hiburan. Dua lelaki itu sepertinya mengartikan hidup cukup kopi, rokok, dan buku. Padahal hari-harinya amburadul.

Jumat berlalu, datanglah Sabtu, 27 September 2025. Siang, aku mengajar murid-murid SMP. Sebuah novel aku jadikan sebagai hadiah. Siang itu kami berbagi cerita mengenai kebodohan-kebodohan dalam mengikuti pelbagai mata pelajaran di sekolah. Aku mengaku kepada mereka pernah bodoh dan tidak naik kelas. Pengakuan yang menjadi hiburan bagi mereka, yang akhirnya berani memamerkan lembaran hasil ujian. Nilai-nilai yang buruk tapi mereka tidak menyesal. Bodoh kadang menghibur dan menciptakan tawa absurd.

Sore, aku berkeringat lagi sebagai tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Di gedung olahraga, tubuhku harus bekerja bersama debu dan kotoran. Sore itu membahagiakan saat teman datang. Sebelumnya, kami sudah kencan untuk bertemu. Duduk sambil minum es teh, kami berbagi cerita mengenai nasib dan mengimajinasikan binatang-binatang. Yang terpenting adalah aku menyerahkan novel gubahan Amin Maalouf yang berjudul Nama Tuhan yang Keseratus. Aku mendapatkan rezeki dari penjualan buku. Yang berlebih adalah obrolan kami menjelang senja.

Aku menikmati senja bareng lagu-lagu asmara. Dua lapangan aku bersihkan, yang utara dan selatan. Para pemain masih berada di lapangan tengah, yang berakhir pada pukul 18.00 WIB. Aku menyempatkan melihat mereka yang tampak semringah dan tertawa. Kaum muda yang memilih main bulutangkis ketimbang menjadwalkan pacaran. Mataku kaget melihat di kubu mereka ada buku. Yang tampak adalah novel-novel Tere Liye. Beberapa orang adalah pembaca novel, yang menggemari Tere Liye. Aku pun mendekat minta izin bergabung bareng mereka untuk obrolan. Sejenak, aku tambah minta izin untuk memotret kehadiran novel-novel Tere Liye di pinggiran lapangan badminton.

Percakapan maghrib yang seru. Telingaku sudah mendengar azan maghrib. Obrolan yang memusat buku. Aku bawakan buku-buku yang menjadi bacaanku. Dua buku yang sempat mereka pegang dan baca adalah The Sun an Her Flowers, Matahari dan Bungaa-Bunganya (Rupi Kaur) dan 700+ Kata-Kata Inspiratif Para Wanita Hebat (Carolyn Warner). Dua buku bersama mereka saat aku tinggal untuk shalat dan meladeni para pembeli di kantin. Yang terdengar di kantin adalah lagu Nadin Amizah dan Iwan Fals yang berjudul “Untukmu”. Tanpa malu, aku iku bersenandung: Katakan padaku/ andaikan kau tahu/ tolonglah kau katakan itu/ lawanku, temanku, saudaraku, keluargaku/ pun aku// siang berganti malam/ terdengar panggilan-Nya/ suara anak-anak kecil yang pergi ke langgar/ menghampiri yang dewasa di sana/ tanpa tahu apa-apa/ melangkah dengan riang gembira. Sebelumnya, lagu itu aku nikmati di Mangkunegara, beberapa bulan yang lalu saat aku dan teman-teman menikmati konser yang megah.

Malam itu aku ingin bahagia. Hari-hariku bertemu para pembaca buku. Mereka masih membuatku bergairah dan mengurangi pengkhianatan terhadap buku-buku. Rombongan pemain di lapangan tengah pamitan sambil membuat permintaan agar Sabtu yang akan datang aku membawakan novel-novel. Mereka mau meminjam meski aku memiliki niat untuk memberikan saja agar senang. Ada yang malah meminta untuk diadakan obrolan buku. Aku balik memberi guyonan kepada mereka: “Jangan telantarkan kekasihmu! Bulutangkis dan buku akan membuatmu dibenci kekasih.” Mereka malah menjawab sambil tertawa: “Saya tidak punya kekasih!” Malam yang berbahaya. Mereka yang suka buku pasti lupa khasiat Sabtu malam. Mereka terbukti tidak mementingkan orang-orang yang harus dicintai tapi memilih berkeringat dan menikmati novel-novel bergelimang nasihat. [] Durjana

Puisi

Puisi Riska Widiana

KEPADA SELURUH SAJAK

Aku berterima kasih kepada seluruh sajak

Ia diciptakan seperti ibu 

Atau seseorang yang memiliki pelukan besar

Bersedia melapangkan dirinya

Menampung banyak cerita

Yang tak seharusnya di dengar

Oleh telinga-telinga kehidupan

Kepada seluruh sajak

Teruslah berumur panjang

Tempat orang-orang pulang

Saat tak ada wadah cerita berlabuh

Riau, 2025

___________________

SEMENANJUNG MALAM

Risik angin malam yang sendu

Menggerakkan laut di dadamu

Kau membuka jendela

Melepas resah jauh ke punggung ombak

Ombak yang beradu

Di bawah segala kerinduan

Keheningan membentang luas

Di bawah cahaya bintang

Kata-katamu berloncatan

Bagai anak-anak Ikan dilepas

Menyusuri setiap teluk

Berisikan ruang-ruang rindu

Cahaya bulan pecah

Malam itu, laut tersenyum padamu

Kau tersenyum kepada laut

Ia memeluk seratus kerinduan

Riau, 2025

___________________

MALAM YANG ENTAH JADI APA

Kepada apa lagi kau bersandar

Selain ruang-ruang sepi yang abstrak

Tiang-tiang tiada tapi ada

Kau melabuhkan seluruh perasaan

Sesekali, malam menjelma ibu

Kau jatuh dalam pelukan hangatnya

Menjadi tempat bercerita

Melabuhkan seluruh sedih

Sesekali malam menjelma hantu

Yang mengintaimu dari bilik kecemasan

Kau ingin mengakhiri malam panjang

Lewat mimpi yang tenang

Tapi, dunia di kepala

Tak bisa membuka pintu lain

Kau terus terjaga dengan segala kesedihan

Hingga satu malam kau tenggelam

Riau, 2025

___________________

BUNGA-BUNGA KAKTUS DI PADANG GURUN

Dunia terus berbisik di telinga

Hingga kau terlena

Dalam kisah-kisah panjangnya

Seperti dongeng

Menidurkan dan mimpi-mimpi kaktus

Tumbuh di dada yang tandus

Dunia terus berbisik

Dengan bermacam kenikmatan

Bunga-bunga berduri

Mekar dalam hati yang sukar

Jiwa menjadi ladang gulma

Dusta berbuah delima

Dunia memeras madu

Ke cawan-cawan semu

Kau mabuk

Terminum anggur dunia

Hingga hidup seperti dalam mimpi indah

Kau lupa bangun

Tersadar, pintu pulang terbuka lebar

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN

Hatimu bagaikan sepotong daging segar

Lalu disayat sedikit demi sedikit

Dalam keadaan bunga mekar

Di bibirmu yang pualam

Tak boleh ada sakit

Tersyairkan dengan jerit

Harus tabah dengan mata tersenyum

Meski dada bergemuruh hebat

Menolong, meraung, terisak

Tak ada tempat bersandar baik

Di dunia penuh intrik

Selain kepada Tuhan bajik

Dirimu pun akan lemah

Pada akhirnya

Kesendirian akan terus melahirkan

Banyak sunyi dan hening

Memeluk seratus kesedihan

Tak terpecahkan

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN 2

Sendirian dan sunyi adalah dua teman karib

Ia juga teman bisu yang mendengarkan

Seluruh kisah-kisah pilu mengharukan 

Kadang kau meleleh bagai es musim dingin

Menahan kesakitan sendiri

Duri-duri di hati terus menusuk

Kau menunggu sendirian

Barangkali ada seseorang atau keadaan

Datang membawa sebuah jalan besar

Di tangannya yang berbunga mawar

Tapi, lagi-lagi kau mencair kembali

Menjadi musim dingin tanpa ujung

Tak temukan sesuatu yang bisa

Membawamu pergi jauh

Batu-batu seakan tumbuh lalu jadi bukit

Memenuhi dada dan sesak

Kau ingin bernapas lapang

Tanpa ada yang ditahan

Seakan bernapas dalam air

Kau ingin membuka tirai yang selama ini samar

Menatap terang matahari

Sinar cemerlang bulan

Dunia tanpa mengutuk

Kau tak mencaci dirimu sendiri

Riau, 2025

___________________

Riska Widiana. Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Republika, Babel post, Merapi, Lombok post, Pontianak Post, Bangka post, Nusa Bali, Waspada Medan, Sarawak Malaysia, Harian SIB, Haluan Padang, Radar Kediri, Radar Madiun, magrib id. Ayo Bandung.com. Litera SIP, Langgam pustaka, Maca Web, Cendana News. Dunia santri, Barisan co. Metafor id. Bali politika, Marewai. Com. Majalah elipsis, Hadila, semesta seni Dll. Juga di antologi seperti (FISGB 2022) (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat jember 2022) (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2022) (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022) (100 Tahun Chairil Anwar, 2022) (Madukoro Baru 1, 2022) (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022) (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022) (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi)  (Peraih Anugerah sebagai juara satu, Negeri kertas 2022) kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021) Alamat Facebook; Ri-Ana, Instagram riskawidiana97 alamat email [email protected]

Belakang

MENGETIK DI TANAH JAJAHAN

Yang suka membaca buku biografi atau tulisan-tulisan mengenai tokoh kadang penasaran dengan benda-benda yang pernah tergunakan dan menentukan nasib. Benda itu sepeda, baju, piring, mesin tik, kursi, lemari, dan lain-lain. Sekian benda turut membentuk biografi meski benda tak selamanya bersama tokoh. Ada benda yang hilang, dijual, hancur, atau diberikan kepada orang lain.

Kita membayangkan kelak ada pendirian museum sastra. Yang diinginkan adalah hadirnya benda yang pernah bersama Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, AA Navis, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Remy Sylado, Jakob Sumardjo, Arswendo Atmowiloto, Sindhunata, dan lain-lain. Benda yang dimaksud adalah mesin tik. Para pengarang pernah tekun menggerakkan jari-jari di mesin tik.

Mereka menghasilkan beragam tulisan dengan mesin tik. Ada yang mula-mula menulis dulu di kertas dilanjutkan di mesin tik. Ada yang langsung mengetik, yang segera memunculkan puisi, cerita pendek, atau esai. Sapardi Djoko Damono mengenang pernah menggunakan mesin tik milik kelurahan dalam membuat puisi. AA Navis bercerita rajin mengetik cerita pendek tapi diawali dan dibarengi kenikmatan merokok. Pramoedya Ananta Toer pernah dijanjikan diberi mesin tik oleh Jean Paul Sartre. Arswendo Atmowiloto yang berhasil membeli mesin tik memilih menaruh benda itu di atas kasur: tanda kebahagiaan dan sumpah untuk keranjingan menulis. Jakob Sumardjo sampai usia tua setia bersama mesin tik, membuat ratusan artikel dan resensi.

Kita bakal memerlukan ratusan halaman untuk mencatat penggalan-penggalan kisah para pengarang dan mesin tik. Benda yang ikut menggerakkan sastra di Indonesia. Pada suatu masa, mesin itu nasib pengarang. Ada yang memiliki mesin tik. Ada yang suka meminjam. Ada yang suka mengoleksi mesin tik.

Yang teringat, Gus Dur tampak sedang serius mengetik di kantor Tempo. Konon, ia suka mampir untuk menanti mesin tik yang menganggur, ditinggal para wartawan atau redaktur. Maka, ia lekas duduk di depan mesin tik untuk menghasilkan kolom yang dimuat dalam majalah Tempo. Linus Suryadi, suatu hari dolan ke rumah Umar Kayam, segera duduk dan mengetik. Jadi, ada dugaan Pengakuan Pariyem itu mula-mula diketik di rumah Umar Kaya. Bukunya yang terbit mencantumkan keterangan bahwa Pengakuan Pariyem dipersembahkan kepada Umar Kayam.

Kini, kisah mesin tik measih bertumbuh di tangan Hamzah Muhammad, yang menggerakkan sastra dan perbukuan di Jakarta. Ia biasa menghasilkan puisi di tempat-tempat penyelenggaraan acara sastra atau obrolan buku. Pada abad XXI, mesin tik belum punah. Kita menanti saja Hamzah Muhammad menuliskan seribu cerita tentang mesin tik.

Kita pun memanggil masa lalu melalui buku kecil dan tipis. Buku yang tidak bersampul. Buku terbit pada 1931. Kita mengingat para pengarang, jurnalis, dan pegawai kantor menggunakan mesin tik. Kau pergerakan politik pun menggunakan mesin tik dalam membuat risalah atau seruan melawan kolonialisme. Buku lawas itu membantu kita mengingat masa lalu yang berisi oleh huruf-huruf yang dipukul jari-jari.

Beruntungnya kita masih bisa membaca buku berbahasa Jawa yang berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 susunan M Soewardjo. Buku mengenai teknologi menulis, benda yang mengubah lakon tanah jajahan saat terjadi serbuan tulisan berbarengan kapitalisme cetak, yang memiliki banyak suara menyebar ke segala arah. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta.

Pengakuan Soewardjo: “Moela kita senadjan lagi sawatara wae bab kawroeh ngetik maoe, woes age-age dibeberake, amarga woes wadjibe kita doewe pengerti senadjan moeng lagi setitik koedoe diratakake marang lijan kang soedi meloe nganggo.” Yang menyusun buku hanya memiliki pengetahuan sedikit tapi berani membagikannya kepada orang lain. Artinya, ilmu yang dimiliki agar segera menular yang membuat orang lain berani belajar untuk mahir mengetik.

Penjelasan yang diberikan dilengkapi gambar-gambar. Yang disampaikan Soewardjo: “Gambar iki tak petikake saka gambar nganggo merek iki awit moeng kanggo nggampangake panganggit mitoeroet saka panjinaoekoe bijen. Nanging kang mengkono maoe bareng akoe ndeleng marang mesin toelis lija, djandji kang model anjar wae kaja ora ana bedane toemrap panggonane aksara oetawa pengatoere perkakas-perkakas lijane.” Ia mencontohkan mesin yang pernah digunakan, tidak bermaksud pamer merek yang terkenal pada awal abad XX.

Buku kecil memberi petunjuk agar orang bisa mengetik menggunakan 10 jari, bukan dua jari. Pengertian dan latihan menentukan keberhasilan untuk menjadikan sepuluh jari bergerak. Pesan yang disampaikan Soewardjo: “Dene panjinaoemoe ora kena kesoesoe-sosoe, koedoe kang titi. Perkara ketjepetan ora soesah disinaoe, mengko jen wis koelina mesti bisa tjepet dewe.” Kecermatan diperlukan ketimbang tergesa-gesa dalam menggerakkan jari-jari di huruf-huruf yang ditentukan. Masalah kecepatan tidak perlu dipelajari mati-matian. Yang terbiasa mengetik nanti bakal mengetahui kecepatannya. Pembiasaan penting ketimbang bernafsu untuk cepat tapi sering membuat kesalahan.

Pada masa lalu, benda menghasilkan tulisan di kertas itu berkesan mahal. Benda yang cuma berurusan dengan kaum terpelajar. Benda yang berada di kantor-kantor dengan beragam kemodernan. Benda datang dari negeri-negeri jauh, terutama Eropa. Di tanah jajahan, orang yang mengetik tampak sebagai tokoh yang berani mengubah nasib, mengubah dunia, dan mengubah sejarah.

Siapa yang membuat buku? Apakah ia terbukti turut dalam mengubah arus sejarah (teknologi-menulis) di Indonesia? Pembaca wajib melihat fotonya yang gagah dan terdidik. Di halaman awal ada fotonya, yang menampilkan M Soewardjo dalam posisi berdiri mengenakan jas. Ia mungkin berfoto di studio. Pilihan pakaian warna putih mengartikan sosok modern yang sadar hikmah-hikmah Barat. Foto ikut menjadi penjelasan bahwa yang mengetik adalah manusia modern atau manusia yang mencipta masa depan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Puisi

Puisi M.Z. Billal

BELAJAR MEMASAK

 

ia melihatmu tersenyum lagi. usai perdebatan panjang dan kau

menangis. malam itu. rasanya seperti matahari terbit dari dadanya

sendiri dan ia ingin sedikit memperlambat gerak waktu. agar malam

tidak lekas datang seperti mata dan bisik orang-orang yang tidak

berhenti mengintai dan mencecar, bagaimana perasaanmu dan ia bekerja

ketika memutuskan untuk saling memasuki tubuh dan kehidupan,

sementara kau tahu betul bahwa kau, baru saja diminta untuk mencintai

orang lain yang bukan ia; kedua orang tuamu berkata demikian.

kau lantas mengatakan lagi padanya meski ia sudah tahu.

aku ikan yang lupa cara naik ke permukaan dan kau sulur cahaya

yang jatuh lurus di palung gelap dada

 

dan ia menemukanmu sedang sibuk belajar memasak pagi-pagi sekali.

meneliti bahan-bahan di buku resep berulang kali seolah

kau ingin menerjemahkan sendiri Yale Cullinary Tablets dari Mesopotamia.

jamuan lezat untuk orang terkasih, katamu. semur sepasang merpati

ditemani dua gelas anggur putih barangkali hidangan yang indah untuk mengisahkan

bagaimana sebenarnya cinta bisa saling melahap satu sama lain. setidaknya

menyantap kesedihan dan kekecewaan yang kerap ia dan kau terima belakangan ini.

 

ini menakjubkan! aku seperti dicumbu tapi tidak oleh bibir dan dengus napasmu.

ia tidak tahan untuk tidak memujimu. barangkali ia pun ingin segera memainkan

lakon; pengunjung rumah makan yang jatuh hati pada juru masak Babilonia kuno.

kemungkinan besar ia akan bercinta denganmu di dapur rahasia itu.

pasti kau akan sangat bahagia bukankah? tentu saja. bahagia yang tidak terucap oleh suara

dan tak mampu tertulis dalam kata. sebab kau tahu bahwa selepas makan malam ini

kisah kalian berdua akan menjadi cerita yang paling banyak

diperbincangkan dan ditulis berulang kali. terutama kedua

orang tuamu, yang terus memaksa kapan kau melamar orang pilihannya

tapi bukan ia. bukan orang yang kau ajak untuk mati bersama usai menyantap

hidangan penutup mata dari panduan

memasak menu khusus untuk memisahkan raga sepasang pecinta; tapi tidak jiwanya.

 

terakhir ia membisikimu;

aku baru tahu rasa rosary pea dicampur benzodiazepine seperti ini.

 

dan kalian tiada. atas nama cinta.

 

2023


RANTAI MAKANAN

#1

adalah rantai makanan di hutan hujan tropis. Cinta itu.

diburu dan memburu. sebagian berlari kencang, yang lain bersembunyi.

Hidup karena cinta. Mati pun karenanya pula. antara rela dan terpaksa mengikhlaskan.

seperti rusa sambar kehilangan tanah kelahiran. berkali-kali takut, berseru-seru.

bahkan menyamar jadi kerbau peliharaan lelaki tua patah hati. bertahun-tahun

lamanya tidak makan. selepas kekasihnya memilih lelaki lain yang wajahnya lebih tampan.

hanya karena tampan. bukan karena perangai rupawan.

 

#2

dan ia ular jantan yang memangsamu sebab cinta adalah garis takdir.

demikian alasannya. datang kepadamu pada hari rabu kelabu. mengasihimu

sebagai anak babi jantan tersesat; ia coba meredakan

ketakutanmu dari perburuan beruang cokelat. selepas hujan

dan memberimu apel merah hutan. kau bilang, ibu tak akan pernah datang,

sudah tertulis di lauhul jenggala. lalu kau mati. menyerahkan diri atas nama cinta

yang mati rasa. dan ketika ular jantan itu baru saja melahap bagian terakhir tubuhmu.

ia juga mati. ditembak. peluru panas pemburu yang tergila-gila pada daging

ular sawah jantan.

 

#3

di meja makan malam. pukul tujuh lebih sepuluh. di hadapan sup kentang

dan mujair goreng. sebagai manusia yang ingin bebas. kau mengakui

kepada ayah-ibumu yang penuh cinta. bahwa kau sangat menyukai menu

makan malam kali ini. tapi kau juga menyukai lelaki berambut ikal

yang pekan lalu kau ajak singgah di beranda. kau mencintai ia.

demikian katamu. ibumu nyaris menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

sementara ayahmu bersikap tenang. ia berkaca-kaca. barangkali dadanya yang lebur.

bagaimana mungkin putra kesayangannya mencintai pria lain? juga. sebab ia

sudah berusaha melepas masa lalu. ketika memutuskan perempuan di hadapanmu

menjadi ibu. menjadi pendamping hidupnya.

 

2023


SUSU

 

ia meletakkan segelas susu hangat di meja dan meraih gagang telepon untuk berbicara kepadamu. pemuda itu ingin bebas tanpa harus ketakutan memeluk dirinya sendiri. namun ia tidak pula ingin membenci susu hangat lezat buatan ibunya. kadang ia ingin menjelma jadi botol-botol wiski yang keparat tapi bebas di malam tahun baru.

 

kau menelepon dari mana? ia menjawab dengan suara rapuh. Minnesota, aku membacamu di koran dan kurasa aku ingin bunuh diri.

 

kau membakar penindasan itu. dari Eureka Valley. suaramu bergemuruh tapi syahdu. menyusup dengan berani hingga ke gang-gang sempit di luar San Francisco. aku tahu kalian marah, aku juga marah. dan kita tak akan lagi duduk bersembunyi di kloset.

 

dan Hillsborough dari Mission Disctrict yang ditikam lima belas kali itu adalah bukti seruan licik dan brutal penuh kebencian, kefanatikan, ketidaktahuan, intimidasi, dan prasangka yang sialan. jangan pernah dilupakan! demikian katamu berorasi.

 

lagi dan lagi dan lagi, kau melemparkan kembang api harapan ke udara. memasuki kantor pemerintahan sebagai pemenang dan berseru-seru tanpa lelah. menekankan kebenaran akan keberadaan dan persamaan hak yang sejak lama ditindas. orang berhak punya cinta, orang tak bisa dipaksa memilih, orang tak bisa terus bersembunyi!

 

tapi pada akhirnya inilah bagian yang paling ia tak suka. ia menghubungimu lagi dengan perasaan lebih baik. pemuda rapuh dari Minnesota itu. ia masih suka susu. dan mengagumimu seperti segelas susu. namun ia sangat berduka, betul-betul berduka. bahkan jelas bukan hanya ia yang berduka. tatkala mendapati kabar orang-orang akan mengantar tidurmu yang malang dalam keheningan nyala lilin di sepanjang jalan Castro menuju City Hall. orang-orang yang sebetulnya menggulung badai kemarahan di dada mereka yang berdarah. seperti tubuh dan rasa sakitmu.

 

“if a bullet should enter my brain, let that bullet destroy every closet door”

namaku Harvey Milk. aku di sini untuk merekrutmu!


RUMPUT YANG BERNYANYI

 

O beloved moon, fear not the dawn that separates us.

For we will meet again, when the world goes to sleep

_Ramchandra Siras_

 

 

puisi yang pedih adalah cinta yang dihakimi

seperti rumput yang memang layak mati ketika pikiranmu dipenuhi sugesti: itu harus mati.

 

dan rumput-rumput di Aligarh selalu bernyanyi:

cinta tak pernah keji. cinta adalah puisi yang jernih. cinta adalah aku;

kata-kata yang merangkul kaki Ramchandra ketika

Paya Khalci Hirawal*) menjejak seolah cinta benar-benar memiliki sepasang kaki.

berlari ke lembah, menyaksikan bunga-bunga mekar dan bersyukur pada hari-hari perayaan.

 

ia tak pernah mati, meski ia sudah tiada.

tapi pernahkah kau merasakan lubang kesepian ini semakin menganga?

mengisap seperti mesin penyedot debu yang besar sekali

bahkan juga bisa membunuhmu, memadamkan seluruh siaran kebencian

televisi dan koran lokal, dan meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan Uttar Pradesh.

 

In the light of day, I am unseen.

It is in your light, my hearts awakens

 

cinta melahap kesedihannya. cinta menyembuhkan luka

batinnya. cinta merobek lembar 377**) . cinta menjelma angin

yang memasuki jendela kamarnya. cinta menidurkannya

meski kematiannya tak pernah seadil cinta itu sendiri.

dan cinta membiarkan rumput-rumput di Aligarh terus bernyanyi:

Ramchandra sudah pergi, tapi aku masih tumbuh di sini. puisi-puisi selalu bersemi.

jangan pernah takut terpisahkan, karena kita akan bertemu lagi.

2023


HIDUP SEBAGAI PUISI

 

ketika kau memutuskan untuk jadi pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang

menghabiskan waktunya untuk bertikai dengan ragam dan kelas kata. kau sepenuhnya

 

akan hidup sebagai puisi. metafora adalah pakaianmu. dan kau akan benar-benar

ahli dalam berbohong tapi juga jujur untuk mengatakan kebohongan. bahkan hingga

 

berjilid-jilid manuskripmu, kau akan seperti cacing tanah, yang mengurai potongan-

potongan cerita di dalam tanah. hanya untuk menyuburkan pohon kenangan milik

 

orang lain. ya, menjadi pesyair juga umpama kau adalah pejabat pemerintah yang suka

sekali mengurai kata-kata indah agar orang-orang terbuai dan kembali masuk jerat

 

hasratmu sementara kau terus hidup sebagai puisi. puisi-puisi yang memabukkan.

puisi-puisi yang bertabur cinta. sebab menjadi pesyair sendiri juga merupakan

 

jebakan. kau akan terperangkap oleh perasaanmu sendiri. kesepianmu, kesedihanmu,

amarahmu, bahkan rasa rindumu adalah jenis-jenis makanan yang hanya bisa membuatmu

 

kuat untuk bertahan sebagai pesyair. maksudku, orang-orang terpilih yang merelakan

sendiri dirinya untuk terluka, melukai, mencintai, dicintai, membunuh, atau terbunuh.

 

2022


NE M’OUBLIE MIE

 

ia mulai gelisah dari tempat yang sembunyi lagi sangat rendah, tapi Dia tahu ia berada di sana. meskipun tak terlihat. semua sedang gembira, ia belum. mereka saling berkenalan dan memuji, ia masih menanti. kebun yang semula sunyi dan kelam kini sudah indah. berbagai warna memancar sampai ke langit. sementara ia masih setia menunggu-Nya memanggil. apakah Dia lupa? tentu tidak. tolong jangan lupakan aku, tolong jangan lupakan aku. ia berseru-seru di antara bising kebahagiaan yang lain.

tidak. tidak mungkin Aku melupakanmu. Aku mengatur dan mengingat segalanya. nama itu untukmu. “Jangan Lupakan Aku”. Dia tersenyum kepadanya. agar semua ingat kepadanya. meskipun Dia tahu ia berbeda, Dia juga tahu ia beriman.

 

2023


SELAMAT PAGI AKU

 

selamat pagi aku

bagaimana kabarmu hari ini?

 

di gerbang yang ke sekian ribu

pagi. kulihat diriku yang lalu

di mana-mana. menjadi ruh apa saja.

menjadi cinta yang ditunggu-tunggu

seolah aku selalu hidup sebagai

bulan kasih sayang. juga menjadi

akar pohon rasa lelah

yang membelit liar seluruh

dada yang dewasa

meski kerindanganku selalu tampak

baik-baik saja. aku menyaksikan

segala yang terpotret dan tersimpan

di kepala. sementara sisa yang lain

menjadi abu tanda

tanya sebelum aku

menggapai daun jendela

 

dan hari ini aku masih terlahir

lagi sebagai orang baru dengan tubuh

dan luka dan harapan yang sama.

aku melangkah memasuki hari ini.

waktu yang pendek untuk rasa ingin

yang panjang. sementara di tanganku

memegang jaring nelayan. entah apa

yang harus kulakukan

dengan ini. ikan tidak berenang

di permukiman warga, di ruang kerja

atau di jalan yang sibuk,

bukankah? ya. aku terus saja melangkah.

berusaha dan bertanya-tanya.

 

halo aku. ternyata sudah sore saja

bagaimana kabarmu hari ini?

pulanglah. kembali lagi esok.

akan kutulis lagi sepucuk

surat pendek seperti biasanya.

bacalah sebelum mengunjungi

gerbang ke sekian ribu pagi itu.

2023


KEPADA SESUATU DI SURAKARTA

 

kehampaan ini membentang sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

 

aku menghabiskan waktu

di balik layar komputer, menikam

huruf-huruf dan angka-angka seperti

perburuan bintang jatuh di langit selatan.

sementara kau masih menjadi kopi

dan dinding hijau alpukat yang selalu

kuiimpikan sebagai portal

memasuki duniamu.

 

kau adalah ganymede yang membuat

zeus tak ingin jauh-jauh darimu.

hingga aku pun menjadi ia yang betul-betul

tak  mampu lagi menahan diri untuk

tidak memasuki  tubuhmu

menanam pohon  jambu mawar  dan anggur

di sepanjang jalan setapak

dari indragiri ke surakarta.

yang hampa dan tidak ada

siapa-siapa kecuali

cintaku dan aku.

 

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Anomali

Cerpen Indarka P.P.

Suatu masa pasca-425 hari kelahiran, di sebuah kamar yang dindingnya tertempel poster dunia binatang—yang langit-langitnya terhias bola-bola berputaran; di atas pintunya terpasang seikat padi dan selembar daun dringu; lantainya terbalut karpet busa tipis; mejanya bergeletak empeng dan lipatan jarik; di stopkontaknya tertancap seutas kabel kipas angin; dan ranjangnya berseprai motif bunga tulip—terlentang seorang bayi berkupluk dan berkaus kaki yang dilindungi kelambu mangkuk raksasa.

Bayi tersebut tidaklah diam. Telapak tangannya bergerak mengepal-ngepal, lalu terbuka, lalu mengepal kembali, dan terus seperti itu sepanjang kipas angin memusing-musingkan kepala. Kedua bola mata bayi yang seukuran kelereng mini, berpendar tersorot cahaya lampu di atasnya. Ia anteng ditinggal Ibu yang dua belas menit lalu merasa sukses meninabobokannya, yang kemudian keluar kamar menuju toilet untuk menuntaskan bilas terakhir cucian terjeda.

Pembaca yang Budiman, sesungguhnya bukan karena kepiawaian Ibu tersebut si bayi bisa seanteng itu. Adapun yang membikin si bayi tidak rewel tiada lain tiada bukan adalah ragam hiburan yang berasal dari poster dinding kamar. Kalian lihat, bayi itu acap berseringai mungil lantaran ulah mahkluk-mahkluk poster dunia binatang. Dua biji gigi susunya pun kentara bagai biji mentimun tiap kali mengulum senyum.

***

Ayam mewanti-wanti Bebek supaya menahan diri menertawakan Macan Tutul. Ia khawatir kalau-kalau di waktu mendatang Bebek akan beroleh karma. Tapi Bebek tetap tak hirau dengan peringatan itu. Tawanya terus saja menguar ketika melihat air liur Macan Tutul menderas bercucuran meratapi bayang-bayang memangsa Rusa.

“Lihatlah,” kata Bebek, “menjilat duri-duri Landak di sebelahnya saja dia tak mampu. Wkwkwk!” Bebek tambah meledek.

“Kematian memang pasti, Bek. Tapi diterkam Macan Tutul tentu bukan kematian yang baik bagimu,” ucap Ayam sambil membentangkan kedua sayapnya.

Macan Tutul tidak sepenuhnya bergeming. Ejekan-ejekan Bebek kerap ia balas dengan beberapa ancaman tak main-main. Kali ini, sambil berputar-putar di tempat dan mengasah-asah cakarnya, ia mengucap sumpah: kelak jika ia terbebas, maka paha Bebek-lah yang akan pertama kali dijamah oleh taring-taringnya.

Lain Macan Tutul, nasib mujur justru baru-baru dialami Kucing. Binatang rumahan itu sekarang tengah khusyuk mendengkur usai menyantap Tikus yang kebetulan sekali bertempat persis di sebelahnya—entah pertimbangan apa posisi mereka didekatkan. Penantian yang tidak sia-sia, gumam Kucing dalam mimpi indahnya.

Sudah berbulan-bulan ia menanti Tikus bertambah usia, yang berarti bertambah pulalah ukuran tubuh Tikus itu. Pagi tadi, sesaat Tikus lengah terlelap, dengan gesit Kucing mengigit separuh dari total panjang ekor Tikus, lantas menarik-narik dan mencabiknya secara paksa, tentu saja. Sungguh beringas aksi Kucing dalam memenuhi rasa naluriahnya dengan melibas segala daya upaya perlawanan Tikus. Tenaga Kucing itu kelewat kuat karena ditopang lapar. Dalam kasus ini, jelas sekali bahwa Kucing lebih bernas daripada Macan Tutul.

***

Di seberang kota, mata Ayah merona merah saga. Jalannya gontai, langkahnya ditopang tangan; merambati tembok sepanjang lorong sempit. Tiada yang tahu apakah Ayah masih mengingat baik alamat rumah yang sudah ia tinggal sejak tujuh bulan lalu.

Dahulu, ketika pertama kali mengutarakan niatnya ingin pergi ke kota, ia yakin kalau bekerja di perantauan adalah satu-satunya jalan supaya terlepas dari runyam ekonomi yang selama ini melilit keluarganya. Namun kota tak selalu menepati janji seperti yang diyakini banyak orang. Jangankan bertabur rampai-rampai uang, keperluan biaya persalinan istrinya saja tak sanggup Ayah penuhi. Antara malu, kecewa, ataupun bebal, apa yang terjadi sekarang adalah seperti yang Pembaca Budiman lihat: Ayah telah kehilangan akal pikir yang sehat.

Entah Ayah sadari atau tidak, titimangsa pun berangsur melaju. Di suatu tempat di mana Ayah meninggalkan permata paling berharga, buah kandungnya sudah bertumbuh. Sudah berkembang. Hari demi hari.

***

“Ini bukan yang pertama lho Bu. Dua hari lalu mata Pak Doni nyaris ditusuk pensil saat mencoba mengajari anak itu menulis latin.”

“Kata Pak Umam dan Pak Ragil kok baik-baik saja, ya?”

“Maaf seribu maaf, Bu Kepala. Terus terang, menurut saya Pak Umam itu orangnya memang kurang peka. Makanya beliau mungkin menganggap Yusuf masih baik-baik saja. Nah, kalau Pak Ragil, ehm, ya, Bu Kepala tahu sendiri gimana dia…”

Kepala Sekolah menghela napas, lalu menanggalkan kaca matanya. “Ya sudah, buatkan undangan untuk orangtuanya. Besok biar saya yang bicara,” pintanya.

Esoknya, Ibu Yusuf datang memenuhi panggilan. Kepala Sekolah lantas membicarakan terkait keganjilan perilaku Yusuf yang meresahkan itu. Kepala Sekolah bertanya apa yang terjadi pada diri Yusuf. Ibu Yusuf pun lugas menjawab kalau ia tidak pernah melihat hal aneh pada diri anaknya selama ini.

“Pak Hamid hampir tidak mau lagi mengajar kelas satu gara-gara Nak Yusuf pernah beberapa kali menjilati tangannya,” terang Kepala Sekolah. “Pak Natsir juga kehabisan akal menghadapi Nak Yusuf. Ia satu-satunya murid yang menolak menghafal Pancasila. Dan baru-baru ini, anak Ibu hampir meruncingi mata Pak Doni menggunakan mata pensil miliknya.”

“Nak Yusuf sering bertingkah aneh setiap kali diajar para guru, Bu,” kata Kepala Sekolah lagi. “Sebagai pimpinan, sejujurnya saya sudah sangat pusing mendengar keluhan-keluhan mereka.”

“Mohon maaf, Bu, tapi…”

“Oh, saya ingat, kecuali dua guru,” Kepala Sekolah memotong. “Pak Umam dan Pak Ragil justru bilang kalau Nak Yusuf ini cukup santun dan tidak pernah sekalipun bikin masalah. Tapi apa boleh buat, Bu, yang merasa terganggu jumlahnya lebih banyak daripada mereka berdua.”

Obrolan berlangsung cukup lama. Entah bagaimana persisnya Ibu Yusuf sampai menceritakan keadaan keluarganya. Kepala Sekolah bertanya di mana Ayah Yusuf sekarang. Ibu Yusuf menjawab apa adanya. Suaminya tak pernah pulang sejak usia kandungannya menginjak bulan ke tujuh. Tentang bagaimana nasib ataupun keberadaannya saat ini, ia juga tidak tahu-menahu.

“Apa Nak Yusuf tidak pernah bertanya tentang ayahnya?” telisik Kepala Sekolah, terdengar klise tapi ia sangat penasaran.

“Pernah. Namun sayangnya pertanyaan itu dilontarkan bukan pada saya, Bu, melainkan pada neneknya. Dan neneknya enteng saja menjawab kalau ayahnya mati dimakan kucing kota.”

Kepala Sekolah manggut-manggut belaka. Ia bingung menangkap apa yang disayangkan Ibu Yusuf perihal pertanyaan anaknya kepada sang nenek. Bagi Kepala Sekolah, penjelasan tersebut tak menggambarkan secara terang benderang tentang perilaku Yusuf. Satu hal yang memang sejak kemarin terbayang di pikiran Kepala Sekolah itu adalah memindahkan Yusuf ke sekolah luar biasa.

Ehm… Begini, Bu,” Kepala Sekolah mengambil ancang-ancang, “kata Pak Umam, Nak Yusuf ini cerdas sekali berhitung. Kemampuan matematiknya di atas rata-rata murid lain. Oya, ngomong-ngomong soal kucing. Ternyata anak Ibu juga pandai menggambar, lho. Pak Ragil, guru seni budaya kami, sampai-sampai menunjukkan gambar seekor kucing hasil karya Nak Yusuf kepada saya. Bahkan beliau menyarankan supaya Nak Yusuf-lah yang maju mewakili sekolah apabila suatu saat ada lomba menggambar. Pokoknya, untuk ukuran anak seusianya, saya berani ngasih dua jempol untuk Nak Yusuf!”

Bagai gayung yang tiada bersambut, serangkaian cerita hiperbolis Kepala Sekolah tak berbanding lurus dengan tanggapan positif Ibu Yusuf. Malah sekarang pandangannya terlihat kosong, entah takjub, entah bingung.

Sadar tidak memperoleh respons apa pun, Kepala Sekolah lantas melanjutkan perkataannya. “Jadi, Bu…” tangan Kepala Sekolah perlahan memegangi tangan Ibu Yusuf di atas meja—barangkali semacam siasat untuk mengelabuhi emosional. “Keistimewaan anak Ibu yang saya ceritakan barusan adalah modal besar baginya untuk bisa belajar di tempat lain, tentu saja tempat yang lebih bersahabat bagi diri Nak Yusuf. Jadi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Di tempat lain? Maksud Ibu sekolah lain?” tanya Ibu Yusuf, ia mengernyit dalam sepersekian detik.

“Betul. Tenang. Tenang saja, Bu. Kami berjanji akan memfasilitasi dengan baik proses perpindahan Nak Yusuf.”

Dan bisu sama-sama merasuki kedua perempuan itu. Kepala Sekolah dibuat pongah saat menangkap pandangan lawan bicaranya. Di saat bersamaan, sesungguhnya Ibu Yusuf juga tak kalah pongah ketika mendengar keputusan Kepala Sekolah itu.

Detik-detik pada jam dinding ruangan itu mengambil peran utama untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergilas kembali oleh situasi yang lebih mengejutkan. Seorang guru tiba-tiba masuk ruangan dengan napas tersengal-sengal. Ibu Yusuf terperanjat, Kepala Sekolah terperangah, lalu ia lekas bertanya, “Ada apa?”.

“Pak Ragil, Bu!” seru guru itu.

Mereka buru-buru menuju pusat kegaduhan. Di ruang kelas satu, murid-murid bersorak-sorai melihat Pak Ragil menggendong Yusuf di balik punggungnya, dengan posisi mengunci kedua kaki Yusuf di kolong lengannya. Guru dan murid itu seakan jatuh tenggelam ke sebuah alunan semarai yang tercipta dari mulut murid-murid lain. Pak Ragil berlagak bagai pendaki gunung dengan beban di punggung, mencapai puncak fantasi yang kian tinggi. Sedang Yusuf, bocah yang digendong Pak Ragil itu, memamerkan selembar kertas bergambar binatang rupa-rupa. Seringai senyum dari guru dan murid itu maujud lengkung terbalik sebuah pelangi. Indah, barangkali.

Sementara di ambang pintu kelas, Kepala Sekolah dan Ibu Yusuf hanyalah patung yang tak berarti. Para guru yang geli saling mererak-rerak, berebut intip lewat kaca jendela. Besar kemungkinan dalam hitungan hari, sekolah tersebut akan mengalami penurunan jumlah guru, atau jumlah murid, atau malah jumlah keduanya.***


Indarka P.P., lahir di Wonogiri. Anggota Komunitas Kamar Kata.

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.