
Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.
Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.
Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).

Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.
Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.
Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.

Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”
Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.
Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.

Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.
Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”
Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.
Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.
_____________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.







































