Belakang

GUNUNG, BAHASA, PADI

Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.

Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.

Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).

Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.

Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.

Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.

 

Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”

Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.

Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.

Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.

Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”

Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.

Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

YANG MEMBACA (JAWA)

Yang membahagiakan bapak dan ibu adalah mengetahui anaknya yang masih di TK atau kelas 1 SD sudah bisa membaca. Kebahagiaan yang biasanya diwujudkan dengan ucapan: “Oh, anak yang pintar!” Anak itu mendapat pujian-pujian. Bapak dan ibu pun menantangnya untuk membaca tulisan di buku, koran, poster, bungkus makanan, dan lain-lain.

Anak yang sudah bisa membaca diharapkan kelak pintar. Bapak dan ibu pun mengumumkannya kepada keluarga besar, tetangga, dan teman-teman. Nasib yang berbeda dialami anak-anak yang sudah kelas 3, 4, 5, atau 6 SD tapi belum bisa atau belum lancAr membaca. Anak akan mudah mendapat ejekan dan kutukan. Yang tidak bisa membaca seperti mendapat cicilan siksa neraka.

Di Indonesia, masalah anak bisa membaca pernah menyulut polemik. Sumbernya adalah kementerian yang mengurus pendidikan. Konon, beberapa tahun yang lalu, anak-anak di TK dan kelas-kelas awal SD belum ada kewajiban bisa membaca. Guru tidak harus memaksa untuk mengajar membaca kepada anak-anak yang masih suka bermain dan bernyanyi. Namun, masa lalu pun menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak untuk membaca di kelas 1, 2, 3 SD sangat menentukan mutu pendidikan di Indonesia.

Yang sedang kita masalahkan adalah anak-anak yang membaca dalam bahasa Indonesia. Mereka yang belajar di sekolah memang dianjurkan untuk lekas mengerti bahasa Indonesia. Yang belajar bahasa Indonesia, yang cinta tanah air dan memiliki patriotisme. Mereka belajar membaca dalam Bahasa Indonesia tapi kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah.

Pada masa kolonial, anak-anak yang berhasil belajar di sekolah sangat diharapkan dapat membaca dalam bahasa Belanda dan Melayu. Dua bahasa yang akan membuatnya pintar dan mengubah nasib. Orang yang bisa membaca mudah mendapat pekerjaan. Pada awal abad XX, kemampuan dan kekuatan membaca ikut menentukan status sosial dan gaya hidup. Jumlahnya sedikit tapi menandakan bumiputra mendapat berkah modernitas.

Maka, para penggerak Indonesia yang berpengaruh adalah kaum yang membaca sekaligus menulis. Mereka mula-mula belajar membaca dalam kepentingan pendidikan. Ada yang kebablasan menggunakan kekuatan membaca dan menulis untuk melawan kolonialisme, berdakwah agama, atau merayakan imajinasi dengan novel. Dulu, ada sejenis konklusi: yang membaca, yang membentuk Indonesia. Padahal, ada kaum-kaum lain yang turut menentukan Indonesia meski tidak melek aksara.

Yang dipelajari pada masa lalu tidak hanya bahasa Belanda dan Melayu. Di Jawa, murid-murid diajar agar bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa. Artinya, mereka diajar dengan dua aksara: Latin dan Jawa. Jadi, yang berusaha bisa membaca dalam bahasa Jawa mengharuskan keseriusan dan kekuatan ganda. Pada awal abad XX, bahasa Jawa itu penting bagi pemerintah kolonial dan dakwah.

Di Solo, pertengahan abad XIX, berdiri lembaga yang melakukan studi Jawa. Misi besar yang dilakukan adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jawa. Kerja besar yang menguat sampai awal abad XX. Di kalangan sastra, bahasa Jawa menunjukkan estetika dan pesona Jawa. Para pujanga menghasilkan kitab-kitab yang dijadikan sumber ajaran hidup. Pokoknya, bahasa Jawa itu penting dan berkhasiat, disokong pula oleh penerbitan surat kabar yang berbahasa Jawa.

Pada masa revolusi, bahasa Jawa tetap penting, sebelum mengalami pengabaian dan kebangkrutan akibat politik-bahasa nasional dan perubahan zaman. Bahasa Jawa terbukti menggerakkan dan membesarkan revolusi. Namun, perannya makin mengecil saat bahasa Indonesia adalah keutamaan dalam memajukan Indonesia.

Kita ingin mengenang anak-anak masa lalu belajar bahasa Jawa. Yang kita buka adalah buku berjudul Gelis Pinter Matja jiid II, yang disusun A Van Diijck dan R Wignjadisastra. Buku diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Batavia, 1948. Yang paling menarik adalah gambar di sampul. Lihatlah, tiga bocah dalam penampilan yang berbeda! Ada yang mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memilih pakaian dan peci mengesankan Islam. Ada pula anak yang mengenakan pakaian sederhana tanpa tutup kepala. Kita membayangkan tiga anak itu mewakili kaum-kaum yang berbeda tapi memiliki gairah dapat membaca dalam bahasa Jawa.

Yang dipelajari mereka adalah bahasa Jawa dalam aksara Latin. Buku untuk kelas-kelas awal di sekolah dasar. Belajar membaca tidak hanya dengan kata-kata. Penyusun buku memerlukan gambar-gambar yang menggenapi kata. Maksudnya, anak-anak agar senang dan terbantu oleh gambar, yang berpengaruh dalam kelancaran membaca kata.

Di halaman 19, ada gambar tiga anak yang bermain. Kata-kata yang dicetak untuk dieja oleh murid-murid: soer-ti ma-oe pa-sar-an/ do-dol-an-e o-ra te-me-nan/ do-dol-a-ne war-na war-na. Bermain pasaran biasa dilakukan anak-anak perempuan. Maka, yang belajar membaca bakal mudah jika sudah punya kebiasaan bermain pasaran bareng teman-teman.

Pelajaran membaca itu menyegarkan saat sampai halaman 23. Gambar orang yang berjualan es pakai pikulan. Kata-kata yang dicetak untuk dibaca: soe-ra ma-oe i-der re-ne/ do-dol-a-ne es/ a-koe ma-oe toe-koe sa-ge-las/ i-se-ne ta-pe ke-tan/ ra-sa-ne wis ta se-ger toer le-gi. Yang membaca itu membayangkan jam istirahat atau pulang untuk segera jajan es. Di situ, kita tidak menemukan kata-kata yang menyatakan minum es mengakibatkan anak akan batuk dan pilek.

Yang terakhir, kita menyimak bacaan di halaman 38. Gambar seorang bocah yang menggendong boneka. Ia sedang bermain dengan peran menjadi ibu. Kata-kata yang dibaca oleh murid: soer-ti di-toe-kok-a-ke go-lek-an/ go-lek-an-e a-pik/ ma-oe go-lek-an-e di-em-ban/ go-lek-an-e di-oe-rak-oe-rak-a-ke/ la-goe-ne a-na i-ni. Bermain yang menyenangkan: menggendong boneka sambil bersenandung.

Buku kita tutup meski masa lalu masih teringat. Kita justru susah berpikir mengenai nasib bahasa Jawa abad XXI. Kita tidak boleh mudah menyalahkan anak-anak yang tidak mahir membaca dalam bahasa Jawa saat dunia makin dikuasai bahasa Inggris. Anak-anak tampaknya dianjurkan rajin belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab ketimbang bahasa Jawa dengan pertimbangan identitas, iman, nasib, dan lain-lain.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

MERAH DAN SUMPAH

Malam-malam yang sering hujan. Oktober yang basah. Oktober yang membuat tubuh kedinginan dan malas. Padahal ada mata yang merindukan bulan mesem di langit. Bulan yang tidak akan selalu purnama. Mata kadang melihat sabit, yang mengingatkan hidup dalam sisa atau cuilan. Purnama yang indah malah kadang disumpah oleh orang-orang yang kasmaran dan meratap atas hidup yang dihinakan.

Dingin yang dirasakan dan malam yang nelangsa akan sempurna dengan dangdut. Duduk atau berbaring, telinga diberikan kepada lagu yang berjudul “Tujuh Purnama”. Bergantian yang didengar adalah lagu yang dibawakan Nur Halimah dan Rita Sugiarto. Dangdut yang menyiksa ketimbang seribu puisi.

Yang mendengar dengan mata terpejam: Genaplah tujuh purnama/ diriku engkau tinggalkan/ sendiri sekeping hati/ di dalam kehampaan// Mana janji dan sumpahmu/ yang kau tulis di kalbumu/ di saat benih yang engkau taburkan/ di tanah yang rawan/ yang masih rawan. Lagu yang tidak memberi keselamatan atau kebahagiaan saat malam bertambah malam. Malam pun jahanam.

Beberapa purnama setelah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang terbit adalah merah. Yang melewati purnama-purnama pada masa lalu tidak disiksa asmara tapi nasionalisme. Mereka ingin purnam-purnama menjadi saksi adanya Indonesia. Pada saat menatap purnama, yang terbayang adalah Indonesia yang mulia dan terang.

Setelah beberapa purnama, mereka yang ikut Kongres Pemuda II memang memutuskan hidup bersama. Dulu, mereka pernah membuat siasat untuk menjadi Indonesia. Siasat itu perkawinan yang mempertemukan suku-suku berbeda. Konon, siasat perkawinan itu mengesahkan persatuan atau bhinneka tunggal ika. Perkawinan yang tidak masuk dalam laril-larik Sumpah Pemuda atau diberitakan di surat kabar.

Namun, ada yang menemukan merah setelah beberapa purnama dari peristiwa yang bersejarah. Merah itu buku. Merah bukan warna bulan purnama. Pada 1929, terbit Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap. Buku berwarna merah diterbitkan oleh Boekhandel Visser & Co, Weltevreden-Bandoeng. Buku itu mungkin terbaca oleh kaum muda yang telanjur bersumpah demi Indonesia.

Mengapa kaum muda memilih sumpah? Yang dicantumkan dalam buku merah halaman 289 adalah “soempah”. Kita membaca arti yang berdekatan dengan peristiwa 28 Oktober 1928. Apakah sebelum mengumumkan, kaum muda sibuk buka kamus-kamus untuk akhirnya keputusan atau resolusi itu dinamakan Sumpah Pemuda?

D Ikeh dan E haraha mengartikan “soempah” adalah “koetoek, teloeh, bila melangkah djanji, kena koetoek oleh salah pengakoean.” Arti-arti yang bikin gemetar. Apakah kaum muda tidak salah pilih kata dalam sejarah? “Bersoempah” adalah “mengangkat perdjandjian dan pengakoean akan benar dan setia, akan membenarkan diri, demi Allah.” Dulu, sumpah ada dalam sejarah. Selanjutnya, sumpah diumbar dalam lagu-lagu asmara picisan. Sumpah dala lagu-lagu dangdut dan pop itu membuat kita tidak terbebani sejarah tapi dihabisi perasan-perasaan.

Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) menghasilkan keputusan yang mengandung kata-kata butuh ditilik pengertiannya setelah beberapa purnama. Di buku merah, kita membaca lema “bangsa” yang berarti “soekoe, djenis berasal moelia, sedjati, jang sebahasa seadat dan seagama.” Kita diingatkan tentang seruan bangsa Indonesia, yang membesar, dari masa ke masa.

Yang bikin pensaran adalah penyebutan “kami”. Di teks Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi (1945), “kami” dicantumkan dalam deru sejarah yang penuh gairah. Siapa yang mengusulkan agar dicantumkan “kami” pada 1928? Apakah itu usulan M Yamin, yang gandrung sastra dan berhasrat memajukan bahasa? Apakah yang mengusulkan malah WR Soepratman? Namun, kita yang akrab dengan lagu berjudul “Indonesia Raya” cuma menemukan “aku” dan “kita”. Yang teringat: “Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Penggubah dan pengarang novel itu tidak memberi lirik: “Marilah kami berseru Indonesia bersatu.”

Di buku susunan D Iken dan E Harahap, “kami” diartikan “diri kesa lebih seorang; jang berkata dengan temannja ketjoeali pendengar, lagi dipakai ganti akoe.” Jadi, kita mengingat 1928 dengan “kami” dan “kita”. Lagu gubahan WR Soepratman itu berkaitan Sumpah Pemuda.

Yang cukup membingungkan lagi adalah sebutan pemuda, dan putra, putri. Kita yang membaca buku merah terbitan 1929 berimajinasi kata-kata digunakan dalam peristiwa 1928. Kita pilih melacak “pemuda”. Yang ditemuukan adalah “moeda” di halaman 206. Artinya: “ketjil oesia, sedikit oemoer, mentah, belia, lawan toea.” Buku lawas itu bikin kita tambah pikiran saat mengingat sejarah menyebut adanya kaum muda dan kaum tua.

Buku merah usianya akan selalu mengikuti peringatan Sumpah Pemuda. Ia bisa saja berusia melewati seratus tahun jika pemiliknya merawat secara tulus dan penuh kasih. Buku dalam kondisi agak rusak, Punggung buku hilang. Jahitan masih agak kuat. Tampilan sampul tebal pun tampak tidak mulus. Sampul itu pernah menderita oleh binatang. Bekas-bekas kerusakan terlihat.

Yang membaca pengantar sehalaman bakal mengetahui buku merah itu cetakan yang kelima. Jadi, buku itu mula-mula terbit? Yang terbaca di pengantar: 26 November 1914. Berarti buku cetakan pertama mendahului Sumpah Pemuda. Kita mulai menebak ada beberapa orang yang membaca dan menggunakannya sebelum turut Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Pada masa lalu, Kitab Arti Logat Melajoe mungkin buku yang penting bagi orang-orang yang belajar di sekolah, bekerja di birokrasi, sibuk di pergerakan politik kebangsaan, dan pengabdian sastra di tanah jajahan. Buku yang ikut berpengaruh dalam perkembangan bahasa “Melajoe”. Pada masa yang berbeda, kita belum mendapat kabar adanya cetak ulang yang berjudul “Kitab Arti Logat Indonesia”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

BAHASA: 1926, 1928, 1930

Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.

Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.

Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam? 

Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.

Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?

Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari  buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.

Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.

Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

SEBELUM 1945: PISANG, BAMBU, KELAPA

1942: nasib Indonesia sangat berubah. Kita percaya saja omongan dan bacaan sejarah, yang menyatakan 1942 adalah tahun getir. Indonesia tak lagi dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kejutan terjadi dalam hitungan hari. Indonesia berada di arus yang berbeda setelah kedatangan balatentara Nippon. Di buku pelajaran, kita mengetahui masa pendudukan Jepang, dimulai 1942 dan berakhir 1945.

Apa yang kita warisi dari masa kekuasaan Jepang yang pendek? Kita jawab saja: buku. Para pengamat sejarah biasanya menyebut Soeharto itu masuk dalam daftar warisan masa pendudukan Jepang. Ada lagi yang mencatat: upacara, rukun tetangga, berbaris, dan lain-lain. Kita menjawab warisan penting dari masa lalu itu buku. Jawaban yang sombong! Masa kekuasaan yang pendek memang menghasilkan buku-buku, yang tersisa sedikit untuk kita pegang dan pelajari.

Di kalangan peneliti sejarah dan kolektor, buku-buku terbitan masa pendudukan Jepang biasa berharga mahal. Anggapan langka digunakan gara-gara jumlah buku yang masih ada cuma sedikit. Mengapa terjadi penerbitan buku-buku? Konon, Jepang mengharuskan propaganda, yang bisa bergerak dan bertumbuh di kalangan sekolahan.

Buku yang masih bisa berada di tangan kita berjudul Ilmoe Toemboeh-Toemboehan. Buku yang diadakan oleh Kantor Pengadjaran, 1943. Buku digunakan oleh murid-murid di sekolah menengah pertama. Yang belajar di sekolah perlu mengetahui ilmu tumbuh-tumbunan, yang bagi Jepang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan pangan atau membuat ilusi kemakmuran di Indonesia.

Siapa yang menyusun buku? Kita tidak menemukan nama-nama yang tercantum di lembaran-lembaran buku. Yang pokok adalah murid-murid masih berkutat dalam sains. Ilmu yang dipelajarinya sangat berguna dalam kepentingan akademik dan kejadian sehari-hari. Buku pelajaran yang tidak asal terbit tapi mendapat pemeriksaan dulu oleh pihak Jepang. Kita menduga buku pelajaran kadang berbahaya, yang menimbulkan perlawanan atau pemberontakan.

Kita membayangkan muri-murid yang belajar ilmu tumbuh-tumbuhan sering kelaparan. Pada masa pendudukan Jepang, pangan itu langka dan sulit. Beras disetorkan kepada tentara Jepang. Rakyat bingung mencari makanan. Imajinasi tentang Indonesia yang subur mendapatkan kebalikan-kebalikan. Murid-murid yang belajar pun menyadari penderitaan yang ditanggung banyak orang akibat perintah-perintah Jepang.

Buku dari masa kelam kita baca berbarengan Indonesia sedang berlagak sadar pangan. Kebijakan pemerintahan mengenai tumbuhan diberlakukan dengan janji-janji besar meski kita mengetahui kegagalan dan kelemahan. Tumbuhan itu tema besar abad XXI, yang menjadikan Indonesia wajib bermartabat bila mengingat warisan dan nasihat nenek moyang.

Kita berusaha menjadi murid masa 1940-an agar merasa takjub melihat isi buku pelajaran. Yang mula-mula dipelajari adalah pisang. Di buku, tercantum keterangan: “Pisang, toemboehan negeri panas ini, masoek bilangan sesoeatoe keloearga jang ketjil tapi penting. Djenisnja banjak dan sifat-sifatnjapoen sangat berlain-lainan. Pisang itoe ditanam orang baik ditanah rendah, ditanah pegoenoengan dan hampir terdapat disegenap pekarangan.”

Pisang memang mudah ditemukan di seantero Indonesia. Pisang mengisahkan rakyat yang membuat beragam olahan. Kita suka makan pisang goreng. Ada yang menggunakan untuk kolak. Orang lawas yang sakit, menggunakan pisang untuk bisa menelan obat. Segala tentang pisang menjadi sumber kebijaksanaan, bukan sekadar pangan.

Pisang mengiringi kebutuhan pangan jutaan orang di Indonesia. Pisang bukan makanan pokok tapi kita biasa menemukan adanya pisang di warung. Di hajatan pernikahan atau ritual, pisang pun dihadirkan. Pisang tidak bisa sirna dalam arus sejarah Indonesia. Namun, kita belum menemukan buku membahas sejarah (politik dan pangan) di Indonesia, yang mengandung bab-bab pisang. Yang mengalami masa Orde Baru mungkin ingat pernah diadakan lomba nasional: memasak beragam makanan berbahan pisang, yang memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Kita melanjutkan pelajaran tentang bambu. Yang hidup di desa terkenang pelbagai benda yang dibuat dari bambu. Keluarga yang hidup miskin atau sederhana menghuni rumah yang dibuat dari bambu. Para penikmat suara seruling lekas mengingat bambu. Di babak sejarah, kita dibuat kagum adanya pasukan yang berbambu runcing. Pokoknya, bambu bergelimang cerita di Indonesia.

Di buku yang diterbitkan Kantor Pengadjaran, kita membaca keterangan: “Bamboe itoe amat bergoena kepada anak negeri, didjadikan pagar desa. Lain daripada itoe dipergoenakan oentoek pemboeat roemah, tetapi dapat poela diperboeat djadi pelbagai matjam perhiasan roemah, pakaian, perkakas, sendjata, bahkan perkakas boenji-boenjian. Daripada bamboe jang dibelah-belah diperboeat tikar, topi, kotak, kipas…” Indonesia itu negeri subur untuk pelbagai jenis bambu. Namun, julukan untuk Indonesia bukan “negeri bambu”.

Yang terkenal dari masa lalu adalah “negeri njioer melambai”. Kita biasa menemukannya dalam bacaan lawas atau lagu-lagu “tempo doeloe”. Orang-orang sekarang mungkin tidak mengetahui “njioer”. Padahal, ia biasa melihat atau mengonsumsi “njioer”. Kita membuka halaman-halaman lain dalam buku Ilmoe Toemboeh-Toemboehan.

Di halaman 97, kita membaca penjelasan: “Pohon njioer itoe sebaik-baiknja toemboeh dekat tepi pantai. Di Indonesia kelapa itoe adalah 20 matjam. Ada jang hidjau, ada jang koening atau jang kemerah-merahan boeahnja.” Nama lain dari “njioer” adalah kelapa. Kita sudah belajar banyak mengenai kelapa, yang disampaikan keluarga, guru, pengarang, dan ulama. Indonesia memang pantas belajar ribuan hikmah bersumber kelapa.

Yang kita ketahui, kelapa tidak selesai hanya berurusan kuliner. Hiasan dalam pesta pernikahan di Jawa mengingatkan pohon kelapa (janur). Alat-alat di dapur itu dibuat dari pohon kelapa. Gerakan kepanduan pun memilih simbol kelapa. Yang rajin menyapu pekarangan rumah pasti mengerti faedah pohon kelapa: sapu lidi.

Buku yang mengandung ilmu. Buku yang diipelajari saat Indonesia dijanjikan merdeka. Murid-murid belajar tapi kesusahan mendapatkan makanan. Buku yang mengumpulkan banyak keterangan tumbuhan-tumbuhan di seantero Indonesia. Yang belajar mendapatkan gambar dan foto, menguatkan keinginan paham tumbuhan, bukan kekuasaan.

Warisan dari masa pendudukan Jepang adalah buku. Pada 2025, kita membaca buku yang umurnya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh membayangkan murid-murid yang belajar Ilmoe Toemboeh-Toemboehan menjadi pelaku dan saksi sejarah di titik terpenting: 1945. Indonesia yang merdeka membutuhkan pangan.

Buku yang dipelajari di sekolah itu akhirnya berguna untuk Indonesia yang menghijau. Indonesia adalah album tumbuhan. Anehnya, buku yang apik itu tidak mendapat susulan atau bandingan pada masa sekarang. Murid-murid di SD, SMP, dan SMA makin enggan belajar ilmu tumbuhan. Mereka pun jarang menemukan tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau sekolah.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

LAGU (TIDAK) ROMANTIS

Pada masa 1990-an, kaum remaja merasa dilanda kasmaran yang merdu. Mereka ikut gemremeng ssaat mendengar radio, yang membuat daftar tangga lagu mingguan. Di situ, ada lagu “Kangen” dari Dewa 19. Mereka larut dalam perasaan-perasaan yang tidak biasa. Bayangkan mereka kangen tapi diharuskan menulis dan membaca surat.

Di keseharian, mereka memegang bolpoin dan menghadapi buku tulis. Pada situasi berbeda, mereka memilih kertas yang istimewa. Tangan itu menulis kalimat-kalimat yang penuh perasaan, bukan catatan pelajaran atau jawaban untuk tugas-tugas yang diberikan guru.

Yang menulis surat adalah yang kasmaran. Kangen ditanggapi dengan menulis di kertas. Ditulis penuh penghayatan. Yang menulis kadang meneteskan air mata bersampur gemas. Penulis surat bisa terbawa lamunan yang panjang setelah berhasil membuat satu kalimat. Di kertas, penulis surat yang sangat kangen tidak mau ada coretan. Yang tampak di kertas seharusnya menguak perasaan-perasaan, bukan asal membuat tulisan seperti saat berada di kelas.

Dulu, kangen itu menulis dan membaca surat. Orang harus sabar. Kangen malah disuruh menulis surat, yang bisa belasan halaman. Kangen yang mendebarkan adalah membaca kalimat-kalimat yang samar dari kekasih. Tangan gemetar saat terjadi mufakat sama-sama kangen yang ada di sini dan yang ada di sana. Surat itu keramat! Surat disimpan di bawah bantal, terbawa dalam tidur menjadi mimpi yang indah.

Bagaimana kangen menghasilkan ratusan dan ribuan kalimat? Yang kangen berarti sadar kata selain menitip foto dalam surat atau menaruh cap bibir di kertas? Kangen yang bermutu. Kaum remaja masa 1990-an yang tidak mau membiarkan kangen berlalu oleh angin, kentut, atau terjangan tikus. Kangen yang sebenar-benarnya adalah kertas berisi kalimat-kalimat. Kangen itu pilihan warna amplop dan gambar di perangko. Semua gara-gara lagu dari Dewa 19.

Namun, para remaja pun mendengar lagu Slank, Kahitna, Java Jive, dan lain-lain. Mereka memiliki pilihan lagu yang romantis. Ada yang tersedot lagu-lagu tragis. Ada yang berputus asa setelah kecanduan lagu-lagu sadis. Pokoknya, masa remaja adalah masa-masa mengoleksi banyak lagu, yang dianggapnya sesuai perasaaan. Maka, yang ;punya koleksi lagu pilihan masa remaja bakal dibawanya sampai tua. Pada suatu hari kelak, mereka mendengarkan lagi sebagai lagu kenangan atau nostalgia.

Masa 1990-an itu menghasilkan keuntungan besar saat penyelenggaraan konser-konser atas nama nostalgia. Yang panen duit miliran rupiah biasanya Dewa 19. Kita menuju masa 1950-an saja. Masa yang masih diramaikan lagu-lagu nasional atau kebangsaan agar revolusi tidak redup. Apakah masa itu sudah ada lagu asmara yang (paling) romantis?

Pada masa kekuasaan Soekarno, lagu atau musik bisa menjadi masalah bila tidak berpikiran sesuai revolusi atau menunjang kemuliaan Indonesia. Lagu-lagu yang memuja asmara rendahan dan ecek-ecek mungkin masuk daftar perusak kepribadian nasional. Yang diperlukan Indonesia adalah semangat bukan kangen, cinta buta, atau sumpah sehidup-semati berdua. Semua itu rendahan!

Kita mendapatkan petunjuk kecil untuk mengingat suasana berlagu masa lalu. Yang kita buka adalah buku berjudul Puspa Irama jilid II, yang disusun oleh Kasim St M Sjah, 1953. Yang menerbitkan adalah Pustaka Rakjat, yang didirikan dan dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penerbit yang memberi perhatian pada sastra dan bahasa tapi tidak melupakan lagu.

Apakah di buku ada leluhur lagu asmara yang nantinya bercucu “Kangen” yang dibawakan Dewa 19? Sejak halaman awal sampai akhir, kita mustahil menemukan lagu bertema asmara. Buku digunakan di sekolah-sekolah (menengah), yang diajarkan bukan untuk menjadi makhluk ketagihan asmara dan merayakan cinta sampai langit ketujuh.

“Moga-moga buku ini djuga akan djadi pendorong untuk mentjapai pengetahuan musik umum sekedarnja,” pesan penyusun buku. Ia tidak mengajak murid-murid mengerti musik yang nantinya digunakan untuk merayu dan menjadikan kekasih terjerat dalam kangen seribu tahun.

Lagu yang dipelajari berjudul “Ilmu Pengetahuan”. Judul yang jauh dari perasaan-perasaan terdalam seperti remaja yang mendengar lagu Naif, Nidji, ST 12, Armada, atau Wali. Judul yang sudah menyiksa murid agar makin rajin belajar dan meraih pengetahuan sebanyak satu ton.

Beruntungnya kita tidak menjadi murid masa 1950-an. Lirik lagu yang melawan romantis: Ilmu pengetahuan itulah pakaian jang tidak pernah luntur/ Walaupun disesah dibentur/ Ilmu pengetahuan itulah harta jang guna jang tidak kundjung habis. Mengapa kata-kata itu dibuat untuk dinyanyikan oleh para remaja yang mudah kasmaran. Revolusi tidak boleh mengharamkan asmara. Di sekolah, para remaja malah terlalu diminta serius dengan ilmu pengetahuan. Perasaan-perasaan dilupakan dulu dalam siksa puluhan mata pelajaran.

Kita lanjutkan ke halaman-halaman yang memuat lagu berjudul “Kampung Tertjinta”. Judul yang salah lagi. Kenapa bukan berjudul “Kekasih Tertjinta” atau diksi-diksi yang mendekati asmara? Pada masa 1950-an, pengajaran musik di sekolah dianggap penting. Misinya bukan menjadikan murid-murid adalah perayu tapi mengerti situasi revolusi dan keindahan di dunia yang fana.

Lirik yang dibuat: “Petiklah gitar dan gesek biola pukul gendang.” Bermain musik dilakukan bersama untuk mengingat kampung halaman. Sekian alat musik yang bakal menimbulkan ingatan-ingatan saat bermain di sawah, berlarian di kebun, bermain layangan, menelusuri sungai, menangkap ayam, dan lain-lain. Pokoknya, segala cerita mengenai kampung halaman diharapkan tercakup dalam lagu.

Di situ, ada pengisahan kampung halaman yang kecil dan terpencil. Dulu, orang-orang yang ingin berpendidikan dan berhasil dalam pekerjaan memang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka terpisah dari keluarga. Mereka tidak lagi bermain bareng teman-teman di kampung, yang belum beruntung untuk mendapat pendidikan tinggi. Di desa, mereka memilih menjadi petani, pedagang, peternak, atau buruh.

Namun, adakah yang ditinggal adalah kekasih? Artinya, kekasih yang dicintai saat masih kecil atau remaja. Pergi meninggalkan kampung halaman pasti berat tapi harus terjadi. Mereka akhirnya surat-suratan, yang memerlukan waktu lama untuk berhasil sampai di tangan dan dibaca.

Kita memilih dua lagu saja. Ingatlah bahwa kaum remaja masa lalu belajar lagu-lagu yang bermutu, bukan penikmat yang kebablasan untuk lagu-lagu asmara picisan. Masa 1950-an tidak melulu masalah demokrasi atau revolusi. Masa itu lagu-lagu yang banyak pelajaran, bukan perasaan.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

1862

Pelbagai pihak mengadakan peringatan 2 abad Perang Jawa (1825-1830). Seminar-seminar nasional atau internasional diselenggarakan yang mengundang para ahli. Maksudnya, para sejarawan dan tokoh-tokoh yang bisa omong Perang Jawa: mulai dari sastra sampai seni rupa. Apakah ada yang membahas masalah kamus berkaitan Perang Jawa?

Yakinlah perang bersejarah pasti memiliki daftar kata terpenting dalam mengobarkan hasrat menang dan menjaga kehormatan dalam kalah. Yang bertempur adalah pasukan-pasukan (Jawa) berhadapan dengan manusia-manusia Eropa bersenjata modern. Padahal ada pula Jawa berhadapan Jawa. Perhatian besar mendingan diberikan untuk senjata, busana, makanan, dan taktik. Apakah dalam Perang Jawa juga terjadi perang bahasa? Kita merasa itu mustahil bila terjadi perang bahasa Jawa melawan bahasa Belanda. Namun, pada tahun-tahun membara ada bahasa-bahasa yang lain.

Puluhan tahun berlalu dari Perang Jawa, tibalah buku tebal yang berjudul Grieksch Woordenboek. Kita percaya tidak ada hubungan antara Perang Jawa dan kamus-kamus. Adanya kamus bahasa Yunani semakin membuktikan tidak usah berpikiran kamus untuk mengenang sejarah, terutama Perang Jawa. Kamus itu ada di Nusantara tanpa ada urusan dengan Perang Jawa.

Namun, ada peristiwa besar di Banten. Di sana, ada pemberontakan petani. Dulu, Sartono Kartodirdjo meneliti dan menulis apik disertasi sejarah. Kita kepikiran lagi: peristiwa berlatar abad XIX itu memilki hubungan dengan kamus-kamus? Sekali lagi, kita terlalu memaksa adanya dan makna kamus-kamus dalam peristiwa besar masa lalu. Pemberontakan oleh petani mustahil menggunakan bahasa Yunani, yang mungkin datang di Nusantara oleh orang-orang Belanda atau para ilmuwan Eropa. Kaum petani belum butuh kamus dalam perbaikan nasib dan melawan pihak-pihak yang menghisap, menghina, dan menindas.

Di pergantian abad, kita mengetahui Politik Etis. Apakah kebijakan itu memiliki dampak bagi orang-orang yang membaca kamus-kamus. Kita tetap memaksa kamus-kamus berada dalam arus sejarah. Yang kita desakkan adalah kamus-kamus yang akhirnya mendatangkan banyak kata untuk digunakan orang-orang di tanah jajahan.

Sudahlah, usaha mencari kaitan-kaitan peristiwa bersejarah dan kamus hanya akan memberi kecewa dan sia-sia!

Pada  suatu siang, mata melihat tampilan foto buku-buku dari pelbagai pedagang di media sosial. Mata berhenti untuk foto yang tidak jelas, Buku bersampul tebal dan keras. Maka, mata beralih ke foto halaman awal. Yang meminta perhatian adalah pencantuman “woordenboek”. Pastilah itu kamus!

Di bagian keterangan harga, terlihat: 300 ribu. Pedagang tidak sedang guyonan. Ia serius menantang orang-orang agar berani menjadi pembeli. Tiga lembar merah untuk kamus yang sampul depannya hanya hitam. Mengapa kamus dihargai mahal?

Mata menghadapi kata-kata asing. Di bagian bawah, ada tahun terbit: 1862. Kamus yang sangat sulit dibaca dan memberi mimpi romantis boleh berharga mahal. Pemicunya adalah tahun terbit. Pedagang yang tidak bodoh. Pedagang yang menjual tahun. Kamus akhirnya dibeli tanpa berpikir 3 hari 3 malam. Harga yang disepakati: 275 ribu. Keputusan yang fatal untuk membeli “tahun” saat situasi hidup di Indonesia sulit banget.

Kamus berada di rumah. Tebal! Kamus yang tidak bisa dibaca. Kita cuma memandang dan menyentuh. Mata yang kembali ke abad XIX. Mata mencari masa lalu yang belum semua diceritakan. Tangan menyentuh sejarah. Tangan menemukan kertas yang belum dikalahkan waktu.

Yang menyebalkan dalam pikiran adalah pertanyaan: “Apakah kamus pernah dibaca oleh Sosrokartono, Willem Iskander, A Rivai, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Tan Malaka, Semaoen, Hatta, dan lain-lain? Jangan pernah berharap ada yang menjawab. Kita bertanya gara-gara mengetahui para tokoh itu berani ketagihan bacaan. Bagaimana mereka mementingkan kamus-kamus dalam membaca buku-buku yang serius, yang datang dari Eropa?

Grieksch Woordenboek masih ada! Kamus masih hidup! Pada 2025, kabarkanlah ke jutaan orang bahwa kamus itu tetap membawa sejarah dan ingatan-ingatan yang berceceran.

Kamus pernah dipegang banyak orang. Kamus pastinya berpindah-pindah tempat (kota). Tanda yang masih terbaca adalah tempelan kertas di sampul belakang: Bandung-Cimahi. “Kita berkhayal saja bahwa kamus itu selamat dari peluru, letusan gunung berapi, banjir, gempa, kebakaran, dan lain-lain.

Kamus yang masih bersama matahari yang sama. Kamus berada di Indonesia dalam waktu yang lama, mendapat berkat dari bulan dan bintang. Angin semilir membuatnya betah untuk tidak berpindah ke negara-negara asing. Tanah yang subur tidak membuatnya menjadi rabuk tanaman. Kamus tetap selamat dari seribu kemungkinan kehancuran.

Hitunglah berapa tangan yang pernah memegangnya! Yang tersulit adalah menentukan nama-nama yang menjadi pemiliknya, dari masa ke masa. Di halaman awal, kita melihat stempel. Dulu, kamus dimiliki seorang Tionghoa (totok atau peranakan). Apakah kamus tergunakan oleh pelajar di STOVIA, pedagang di kota, tokoh pergerakan politik, atau pendakwah di gereja? Jawaban-jawabannya tidak pasti. Kita saja belum menemukan nama-nama yang pernah memilikinya.

Kini, pemilik kamus itu tidak bisa membacanya. Pemilik hanya membenarkan “pembuangan” uang demi mengetahui kertas-kertas terjilid yang menolak sirna. Ia kagum dengan mesin cetak yang membuatnya kuat. Mesin cetak mewujudkan pertemuan dan saling pengaruh bahasa-bahasa di Nusantara. Yakinlah bahwa Tuhan pun berperan menjadikan kamus itu selamat sampai sekarang.

Pertanyaan masih berdatangan. Apakah kamus  pernah dibaca dan dipelajari WJS Poerwadarminta yang rajin membuat kamus-kamus? Kebiasaan para pembuat kamus adalah membaca dan mempelajari kamus-kamus terdahulu dari beragam bahasa. Anggaplah kamus itu digunakan Poerwadarminta saat menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Jadi, ada pengaruh kata-kata dari bahasa Yunani yang masuk dan beredar dalam bahasa Indonesia? Yang dapat menjawab serius campur kelakar adalah Remy Sylado. Padahal, ia sudah tidak bersama kita.

Kebenaran yang kita pegang adalah Grieksch Woordenboek terbitan 1862 masih bernyawa. Kamus yang selamat dari perang dan bencana. Kamus yang tetap mau bertemu matahari pada abad XXI.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

1922: DUNIA DAN BAHASA

Sejak masa kolonial, anak-anak perlahan mendapat cerita yang berdatangan dari pelbagai negeri. Mereka ada berkat kedahsyatan mesin cetak, yang menghasilkan buku-buku cerita. Yang paling menyenangkan bila mereka menikmati cerita-cerita asing, yang biasanya disebut sebagai cerita terkenal di dunia atau tarafnya internasional. Maka, terjadilah penerjemahan dan penyaduran beragam cerita dari Eropa dan Amerika Serikat.

Pihak penerbit dan percetakan sudah berhitung untung-rugi bila berani menyediakan buku-buku cerita yang bersumber dari sastra dunia. Yang bikin gemas, kita kesulitan menemukan buku-buku terjemahan atau saduran dari masa kolonial. Beberapa buku ada di pasar tapi harganya mahal, yang dipengaruhi nafsu para kolektor. Apakah kita bakal mendapat jatah untuk bertemu dan memiliki buku-buku lawas, yang mengungkap bacaan anak dan remaja berlatar masa kolonial?

Sulit mencari buku-buku berusia seratusan tahun. Kita pun hanya mendapat sedikit keterangan tentang penerbit, nama penerjemah atau penyadur, distribusi, dan lain-lain. Artinya, sejarah sastra masa kolonial menyisakan banyak misteri. Kapan tampil para peneliti dan kesaksian para kolektor agar kita tetap memiliki buku dan masa lalu?

Yang berhasil ditemukan dalam kondisi rusak adalah novel berjudul 2000 Mil Di Dalem Laoet gubahan Jules Verne. Sampulnya masih ada tapi gambar tidak jelas. Jilidan jelek meski tidak ada halaman yang hilang. Penampilan dari depan sebenarnya memikat. Gambar di sampul sudah beragam warna. Mata kita belum beruntung untuk melihatnya dengan kekaguman. Bayangkan sampul itu terlihat oleh para pembaca masa lalu. Mata mereka mungkin tidak berkedip selama tiga menit. Siapa yang membuat gambar di sampul? Pastinya orang asing.

Keterangan yang terperoleh di halaman-halaman awal: “Tertjaritakan di dalem bahasa Melajoe renda oleh WNJG Claasz. Nama yang sangat tidak mungkin disandang bumiputra. Kita pastikan lagi nama itu milik orang asal Eropa atau kelahiran di tanah jajahan dengan sebutan “Indo”.

Buku yang apik itu dicetak di GCT Van Dorp & Co (Semarang-Soerabaia-Bandoeng). Perhatikan tahun kemunculan buku Jules Verne di tanah jajahan! Tercantum tahun 1922. Jadi, kita jangan selalu mengingat masa 1920-an melulu novel-novel terbitan dan selera Balai Poestaka. Ada kubu pembaca yang lain, terlena oleh cerita yang digubah Jules Verne tapi terberikan kepada para pembaca di tanah kolonial melalui bahasa Melayu. Kita menduga itu percampuran penerjemahan dan penceritaan ulang. Apa mungkin sah disebut saduran saja?

Keberuntungan memegang kertas lawas dan mengetahui bau yang aneh ternyata menyisakan “kecewa”. Yang ada di tangan adalah bagian kedua. Di mana bagian pertama? Kita yang membaca wajib membayangkan cerita di bagian awal. Tangan membuka halaman-halaman sambil bersyukur bahwa air tidak menghancurkan buku. Yang tampak adalah kertas-kerta yang pernah terkena air. Kita malah berimajinasi jenis dan rupa air yang pernah mengenai kertas-kertas dari seratusan tahun yang lalu. Kertas itu bertahan. Air hanya menyentuhnya tanpa punya maksud menghancurkan menjadi bubur.

Berapa tangan yang pernah bersentuhan atau memegang buku yang dibuat Jules Verne? Apakah yang membacanya hanya bumiputra yang terdidik bisa berbahasa Melayu? Bagaimana bahasa Melayu dalam kerja penerjemahan atau penceritaan ulang untuk sastra yang datang berbahasa Belanda, Inggris, atau Prancis? Pertanyaan terus bertambah tapi jawaban belum tentu ada.

Kita mengutip beberapa contoh bahasa Melayu yang aneh: “Saknalika itoe kita mengomong sama Ned-Land dan Koenraad. Sabentaran Ned-Land menoedjoek dengen tangannja sarta bertanjak…” Yang sehari-hari berbahasa Jawa mengetahui “saknalika”. Apa kita semestinya menuliskan itu “seketika” agar bisa dimengerti para pembaca tak paham bahasa Jawa. Ingat, buku terbit dalam bahasa Melayu rendah.

Yang bingung menghadapi kalimat: “Na, soedahlah Toean mendinger kita poenja kahendakan, si Koen tiada bolih teranggep orang sebab tiada mempoenja timbangan akan dianja, mangka sekarang kita minta toean goeroe ampoenja timbanhan hal kahendakankoe akan tjari djalaran bisanja minggat dari Nautilus.” Kita menduga “djalaran” itu “sebab”. Yang berani membaca buku sudah berusia seratus tahan adalah orang yang tabah dan boleh menyediakan Bodrex saat tiba-tiba pusing atau marah-marah menghadapi bahasa dari masa 1920-an.

Bagi yang kelelahan membaca cerita dan linglung dalam bahasa Melayu rendah, nikmatilah ilustrasi-ilustrasi yang ada dalam buku. Ada belasan ilustrasi yang cakep. Siapa yang membuat? Nama ilustrator tidak tercantum di buku.

Gambar yang banyak mengartikan biaya cetak tidak murah. Yang ada di kertas bukan hanya huruf-huruf. Ilustrasi itu menjadikan buku tampak mewah. Artinya harga buku pasti mahal. Yang sanggup membeli buku tahu faedah cerita dan kebanggaan terhubung imajinasi global yang dirayakan banyak orang di pelbagai negeri.

Cerita yang dibaca mengantar pembaca menuju dunia yang lain. Ia menyadari sedang berada di tanah jajahan tapi cerita yang membuatnya bergerak sangat jauh. Imajinasi memberi sedikit pembebasan sekaligus ketagihan.

Pada masa berbeda, orang-orang membaca cerita-cerita gubahan Jules Verne melalui terjemahan Mahbub Djunaidi dan Nh Dini. Mengapa dua pengarang terkenal itu mau menerjemahkan buku-buku Jules Verne? Konon, Mahbub Djunaidi memiliki pamrih mendapatkan nafkah dari bekerja sebagai penerjemah. Kita belum mengetahui alasan pasti Nh Dini menerjemahkan Jules Verne. Dugaan saja ia membuktikan kemampuan sebagai penerjemah meski orang-orang mengetahui ia terpuji dalam penerjemahan Sampar gubahan Albert Camus dan cerita-cerita anak berbahasa Prancis.

Bahasa yang digunakan dua pengarang itu sudah bernama bahasa Indonesia. Mereka diyakini mahir dalam penerjemahan meski tetap memerlukan membuka kamus-kamus. Pada saat hasil terjemahan terbit, para pembaca dapat membuat kenikmatan tandingan atau pelengkap dengan menonton film-film yang dibuat dari novel-novel gubahan Jules Verne. Pengalaman baca yang sangat berbeda dari masa 1920-an.

Kita kembali melihat buku lawas yang pantas menjadi sumber obrolan mengenai sastra terjemahan awal abad XX. Bahasa masa lalu tetap memberi pesona selain kita berpikiran mutu terjemahan dan situasi perkembangan sastra “modern” di tanah jajahan. Kutipan yang penting dipikirkan sebelum tidur mendapat mimpi buruk: “Srenta ampir djam poekoel 10 semangkin geter kita poenja ati dan sabentar sabentar kita ingetan hendak tjari pada kapitein Nemo akan membilangken kahendakankoe tetapi sjoekoer tiada kedjadian, mangka sasoedahnja bertjakep kita boeka dingen pelan itoe pintoe jang teroesan ka kamar boekoe akan troos kaloewar di kamar soewaranja argone dan kapitien Nemo berada di sitoe tetapi dia tiada meliat pada kita mangka kita berdjalan plahan djangan sampe dia meliat.”

Pembaca yang sabar dapat mengerti deretan kata dari penerjemah atau penyadur. Sabar yang tidak menghasilkan pengertian utuh, tetap saja ada kata-kata yang bikin tertawa dan menimbulkan capek. Berapa jam diperlukan untuk khatam buku berisi 186 halaman? Yang mau membaca boleh mengaku sedang membuat peristiwa yang sia-sia. Pembaca yang kembali ke masa lalu tapi sebentar gara-gara tidak betah dan lelah.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

DIBUJUK BAHAGIA

Dulu, seorang remaja ketagihan membaca buku-buku gubahan Kahlis Gibran. Ia membaca berulang kali buku yang edisi terjemahan bahasa Indonesia: Cinta, Keindahan, Kesunyian yang diterbitkan Bentang. Pada mulanya, ia bosan dengan hidup. Halaman-halaman di buku itu perlahan membuatnya betah hidup. Yang diyakininya: “Hidup itu kalimat-kalimat yang puitis.” Saat lemah dan puyeng, ia lekas membaca lagi kutipan-kutipan puitis dari Kahlil Gibran. Pada hari yang berbeda, ia lelah dengan yang puitis-puitis. Maka, berpisahlah dirinya dengan buku-buku Kahlil Gibran.

Hidupnya masih amburadul. Ia mengalami gagal, kalah, dan sesat. Di tangannya, ada buku yang dipersembahkan Albert Camus. Remaja itu lekas khatam novel berjudul Sampar. Akhirnya, ia percaya bahwa hidup itu brengsek. Manusia menderita tidak habis-habisnya. Yang diperlukannya adalah kalimat-kalimat filosofis, yang membuatnya masih sadar bahwa hidup tidak terlalu sia-sia. Ia meragu manusia bisa bahagia. Albert Camus telah mengajarinya melalui buku-buku mengenai hidup yang tidak mudah dipatenkan dengan bahagia. Masa remaja berlalu, ia malah bernafsu buku-buku, yang makin membuatnya sulit bahagia.

Pada hari yang tidak dipesan, ia yang menua bertemu buku berjudul Hidup Bahagia susunan M Natsir dan Nasroen AS. Buku yang tidak bersampul, terbitan Van Hoeve, Bandung. Terduga buku terbit masa 1950-an. Pada saat Indonesia sedang ribut demokrasi dan gencar berteriak revolusi, ada dua orang yang mengingatkan agar terpenuhi hasrat bahagia. Buku itu bukan selera Soekarno, Sutan Sjahrir, Njoto, dan lain-lain. Para tokoh penting itu pastinya membaca buku-buku berat untuk “tanding ideologi” di arus sejarah Indonesia.

Natsir dan Nasroen memang menyusun buku bukan untuk bacaan dewasa. Yang dinyatakan: “… edisi ketjil ini dimaksudkan djadi batjaan murid-murid kelas tinggi sekolah rakjat dan madrasa ibtidaijah. Tetapi dapat djuga pada kelas permulaan sekolah-sekolah landjutan pertama.” Buku yang sepantasnya dinikmati remaja. Yang membaca memiliki imbuhan imajinasi saat melihat belasan foto (lama) yang hitam-putih saja. Dua intelektual besar mampu menulis buku yang disantap kaum remaja. Buku itu diharuskan sederhana dan mengesankan, berbeda dari adanya buku-buku pelajaran atau buku-buku merayakan khotbah. Kaum remaja diajak berpikir hidup yang bahagia, bukan hidup yang bopeng, rusak, kotor, dan ruwet.

Di situ, ada cerita mengenai tokoh yang kehilangan bapak, ibu, dan adik pada masa pendudukan balatentara Jepang. “Aku kehilangan akal, kemana hendak pergi,” pengakuannya. Nasib tidak dapat ditebak dan masa depannya samar. Yang terjadi adalah kebaikan: “Untunglah Njonja Go, tetangga kami, kasihan akan daku. Aku dipungutnja dan dibawanja kemana pergi. Suaminja meninggal pula dan ia tidak mempunjai anak. Setelah perang selesai, Njonja Go pulang ke Tiongkok. Aku dibawanja. Di Hongkong, aku dimasukkannja ke sekolah Inggeris. Geli hatiku karena disana namaku ditukar djadi Charles Chang Ie Ming. Enam tahun aku di Hongkong. Setahun sebelum peladjaranku tamat, Njonja Go meninggal pula. Sedih hatiku berulang kembali. Sjukur djugalah karena dapat aku menjelesaikan peladjaran sampai aku memperoleh idjazah di sekolah Inggeris itu. Kemudian atas pertolongan Perwakilan Republik Indonesia di Hongkong, dapatlah aku pulang ke Tanah Air kembali.” Kisah yang mengharukan. Pembaca sudah menemukan arti bahagia? Tokoh kembali ke Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Ia telah melewatkan tahun-tahun penentuan sejarah.

Akhirnya, ia harus mengenali lagi Tanah Air dalam tatapan remaja. Ia tinggal di desa, belum ada keinginan membentuk masa depan di kota. Pengamatannya mengenai peristiwa-peristiwa di hari Minggu: “Orang-orang pergi ke bioskop atau ke taman bunga untuk istirahat. Hari Minggu, pergi keluar kota, menikmati udara dan alam pegunungan. Kami orang desa tak perlu sengadja menikmati alam pegunungan pada hari Minggu. Begitu pula tak ada hasrat orang desa pergi ke taman bunga. Memang di desa tak ada taman bunga, jang sengadja dibuat untuk tempat berkepas lelah. Bioskop pun tak ada pula. Tapi engkau djangan salah kira. Pada orang desa ada pula kelebihan-kelebihan jang tak dirasai orang kota. Kami puas melihat padi menguning emas, anugerah dari Tuhan jang Mahakuasa atas djerih pajah kami. Kami puas melajani anak-anak berebutan nasi dan lauk pauk sambil bersila diatas rumput permadani hidjau jang lembut itu. Air kali beriak-riak ketjil seakan-akan ikut tersenjum bahagia bersama kami.”

Bahagia berada di desa. Pada masa 1950-an, banyak orang yang berpikiran jika ingin berhasil dan bahagia maka memilih hidup di kota. Mereka bekerja mendapat uang banyak. Bahagia diraih dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Mereka yang bahagia di kota berhak menyandang sebagai manusia modern. Tokoh dalam buku susunan Natsir dan Nasroen mengingatkan bahwa desa itu sumber bahagia. Namun, Indonesia sedang bergolak, yang mengakibatkan pendefinisian desa adalah tertinggal, tradisional, miskin, dan sengsara.

Yang turut disajikan berkaitan perubahan-perubahan besar di Indoensia adalah buku. Kita mengikuti cerita dan penjelasan: “Pernah dikatakan orang bahwa buku adalah sekolah tinggi pada abad XX ini. memang banjak orang jang mendjadi madju dan terkenal dalam masjarakat karena menambah ilmunja dengan buku-buku.” Di Indonesia, jumlah buku terus bertambah. Para pembaca pun bertambah setelah pemajuan pendidikan dan pemberantasan buta huruf oleh rezim Soekarno. Buku menentukan perkembangan ilmu sekaligus mengajak orang-orang bisa bahagia.

Kita malah meragukan buku adalah sumber bahagia. Pada masa 1990-an sampai sekarang, toko buku dan pasar buku bekas disesaki oleh ratusan judul buku yang bertema bahagia. Buku-buku terjemahan dari Eropa dan Amerika Serikat memberi tuntunan atau petunjuk agar orang-orang bisa meraih bahagia. Buku-buku itu dipelajari orang-orang Indonesia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang-orang di pelbagai negeri asing. Bermunculan juga buku-buku bertema bahagia yang berdasarkan ajaran-ajaran agama. Buku-buku itu laris. Yang membaca dan mempelajarinya beralasan demi iman dan perwujudan bahagia. Pada abad XXI, bahagia itu masih tema terbesar. Buktinya, ratusan judul buku di Indonesia terbit bercap Stoik. Buku-buku jenis itu laris dan dirayakan di media sosial oleh para pendamba bahagia.

Remaja yang dulunya membaca buku-buku Kahlil Gibran dan Albert Camus akhirnya membukan halaman-halaman buku yang berjudul Setiap Hari Stoik (2022) susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku itu dibaca sambil merem dan melek. Buku yang penuh petuah bijak. Buku bergelimang renungan. Yang ingin membaca masalah bahagia dipastikan menemukan di banyak halaman.

Namun, ia akhirnya bernostalgia saja dengan membaca buku berjudul Hidup Bahagia susunan Natsir dan Nasroen. Ia ingin mengetahui gagasan bahasa pernah disampaikan melalui buku-buku yang dianjurkan menjadi bacaan anak dan remaja. Pada masa lalu, anak dan remaja dibujuk bahagia ketimbang remuk dan brengsek saat Indonesia ingin mulia selama-lamanya.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

SEJARAH (SAMAR) DAN MELONGO

Pada suatu masa, anak-anak di depan televisi melihat gambar yang bergerak. Gambar itu huruf-huruf, yang anak-anak mengucapnya “te ve er i”. Mereka sedang menatap huruf-huruf yang menjelaskan misi pemerintah. Yang terdengar sedikit senandung merdu: “TVRI, menjalin persatuan dan kesatuan.”

Di jalan atau kelas, anak-anak itu mengulang yang terdengar saat menonton televisi. Mereka sebenarnya terpapar propaganda “murahan” yang diadakan TVRI sebagai kepanjangan tangan rezim Orde Baru. Dulu, menonton televisi inginnya mendapat hiburan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan pemerintah melalui beragam acara terlalu kuat dan “memaksa”. Jadinya, penonton yang masih anak-anak perlahan “jinak” sekaligus membenarkan apa-apa yang diinginkan oleh televisi.

Mereka ingin menjaga persatuan agar tetap boleh menonton TVRI. Mereka bingung dengan pengertian “kesatuan”. Apakah itu sama atau beda dengan persatuan? Yang belajar bahasa Indonesia di kelas agak mengerti: persatuan itu kata dasarnya satu dan kesatuan itu kata dasarnya satu. Mengapa pihak TVRI menggunakan persatuan dan kesatuan, tidak cukup satu saja? Pilih saja persatuan atau kesatuan.

Anak-anak malu menanyakan kepada bapak, ibu, kakek, nenek, bibi, tetangga, atau guru. Yang pernah mengalami masa 1960-an mudah menjelaskan kesatuan. Ia memulainya dengan penamaan organisasi-organisasi yang beranggotan pelajar atau mahasiswa. Dulu, ada organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Banyak yang memilih “kesatuan” meski ada yang pilihannya adalah “persatuan”. Kaum yang tua mencontohkan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pokoknya, anak-anak dibuat bingung oleh persatuan dan kesatuan meski tetap sregep menonton acara-acara di TVRI, sebelum ada saingan RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.

Anak-anak yang menonton TVRI pelan-pelan belajar bahasa Indonesia. Banyak acara dan film yang menggunakan bahasa Indonesia. Di desa, anak-anak terbiasa berbahasa Jawa mulai menirukan tokoh-tokoh yang tampak di televisi. Mereka mulai menambahkan kata-kata di kepalanya untuk terucap lewat mulut berupa bahasa Indonesia. Pengucapan yang masih malu-malu. Pengaruh terasakan saat belajar di kelas. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pemberian pelajaran bahasa Indonesia membuat anak-anak mulai ikhlas masuk dalam “kubangan” bahasa Indonesia. Yang fasih berbahasa Indonesia dianggap pintar. Selanjutnya, ia diakui menganut kebudayaan kota atau modern.

Lupakan masa anak-anak dan TVRI! Kita ingin memasuki buku yang berjudul Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-Persoalannja (1964) susunan Zuber Usman. Buku yang diterbitkan Gunung Agung berasal dari garapan ilmiah di universitas. Jadi, kita sedang membaca buku yang ilmiah, tidak ada bohong-bohongan atau setumpuk bualan. Siapa mau membuktikan?

Buku terbit sebelum Indonesia terganggu persatuannya dalam malapetaka 1965. Pada masa terdahulu, persatuan Indonesia sering mendapat gangguan yang menimbulkan darah, air mata, kematian, dan lain-lain. Pada masa yang sulit, para tokoh politik malah berdebat mengenai “persatuan” dan “persatean”. Perbincangan berdasarkan perbedaan ideologi dan persaingan meraih kekuasaan. Dulu, persatuan itu politis! Artinya, segala bentrok, perselisihan, pemberontakan, dan perlawanan itu bersumber dari pemaknaan revolusi?

Zuber Usman salah atau khilaf membuat judul? Ia mungkin pernah yakin banget Indonesia terus berkembang dan maju asal menjaga persatuan. Keyakinan berdasarkan fakta-fakta. Ia tidak sedang berkhayal bahwa persatuan itu abadi. Indonesia akan terus bersatu sampai kiamat!

Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Situasi tetap tak menentu. Zuber Usman memiliki rutinitas mengisi acara di RRI dinamakan “Rudjak Bahasa”. Kita lekas mengingatnya itu makanan. Yang diurus Zuber Usman adalah bahasa, bukan makanan yang segar dan pedas. Penjelasan: “Tudjuan siaran itu jang sebenarnja ialah untuk mengawasi dan memberi djalan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, disamping menjelidiki sedjarah, membukakan aliran dan memberi arah kepada kemungkinan-kemungkinan jang dapat ditjapai pada masa jang akan datang.” Tujuan yang mulai saat bahasa Indonesia sudah tercantum dalam UUD 1945 dan diajarkan di sekolah-sekolah. Yakinlah bahwa Zuber Usman sedang melaksanakan tugas yang mulia, bukan mengikuti jalan khayalan.

 Zuber Usman mengenang: “Tahun-tahun permulaan itu merupakan tahun-tahun peralihan. Chusus dalam lapangan bahasa, kita harus memerangi unsur-unsur Hollandisme, sungguh pun bangsa kita telah berhasil menumbangkan pendjadjahannja dan dibidang lain kita harus pula berhadapan dengan golongan kolot jang berpaham pitjik, jang hendak memegang teguh ukuran atau pola bahasa Melaju.” Bayangkanlah sejarah bahasa Indonesia sangat ditentukan politik dan ketangguhan para intelektual dalam bertengkar demi kemajuan bahasa yang dianggap masih muda.

Yang membaca buku mula-mula bersemangat ingin mengetahui sejarah bahasa Indonesia. Namun, yang terbaca adalah sejarah kerajaan-kerajaan. Zuber Usman “berbohong”. Judul bukunya tidak tepat. Ia bertele-tele menyuguhkan sejarah beragam kerajaan, sebelum beralasan bahwa sejarah itu menentukan perkembangan bahasa Melayu, yang nantinya “dijadikan” bahasa Indonesia.

Kecewa! Pembaca mengaku kecewa setelah merasa “dibohongi”. Yang diceritakan dalam buku adalah sejarah yang bukan bercap “persatuan”. Situasi berbeda saat masa kolonial. Gagasan persatuan bertumbuh di kalangan politik, intelektual, seniman, dan lain-lain. Apakah “persatuan” sudah tercantum dalam teks-teks dibuat dalam Kongres Pemuda I (1926), Kongres Pemuda II (1928), dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938) dengan maksud menentukan kedudukan bahasa Indonesia?

Di bab enam, kita membaca penjelasan tentang “pembentukan” bahasa Indonesia. Anehnya, Zuber Usman pintar mengutip pendapat-pendapat dari tiga sarjana Belanda. Pengutipan ada yang berasal dari bahasa Belanda. Zuber Usman menegaskan bahwa usaha menulis sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia tetap memerlukan hasil studi para sarjana Belanda dan pejabat Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Namun, kita tetap diingatkan setelah pengakuan kedaualatan (1949) harus terjadi pengurangan pengaruh Hollandisme.

Kita percaya saja Zuber Usman sudah mati-matian mencari kepustakaan dalam menyusun buku berjudul Bahasa Persatuan. Buktinya, ia memberi catatan kejadian dan pemaknaannya: “Bulan Mei 1918, Dewan Rakjat (Volksraad) dilantik. Waktu itu jang dipakai ialah bahasa Belanda. Maka timbullah pikiran diantara anggota bangsa Indonesia untuk mempunjai bahasa persatuan. Tjita-tjita kesatuan nasional mulai terasa. Segera, anggota-anggota bangsa Indonesia menjetudjui supaja bahasa Melaju, jang sesungguhnja telah dipakai pemerintah dalam perhubungan dengan rakjat dan radja-radja untuk negeri, didjadikan bahasa pengantar disamping bahasa Belanda.” Usaha menentukan titik-titik sejarah terpenting. Kita menerimanya itu kerja ilmiah, bukan kerja imajinasi. Titik sejarah yang jarang disampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA.

Yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah Balai Pustaka. Pengakuan yang inginnya tidak politis. Namun, kita sadar jika penerbit itu malah politis banget, bentukan pemerintah kolonial Belanda. Konklusi yang dibuat Zuber Usman: “Dengan demikian, Balai Pustaka dapatlah dikatakan dari sedjak berdirinja dengan giat dan sadar terus menjalurkan serta menentukan tjorak bahasa Indonesia, disamping usahanja menjebarkan bahasa itu keseluruh pendjuru Nusantara…” Penyebarannya menggunakan buku dan majalah. Pengakuan yang berlebihan bahwa Balai Pustaka (sangat) berjasa untuk perkembangan bahasa Indonesia. Kita boleh tidak percaya?

Kita akhiri membaca buku yang “mengecewakan” dengan mengutip paragraf di halaman 103, yang mengandung harapan muluk: “… berdasarkan bukti sedjarah dan mengingat sifat-sifat kesederhanaan serta unsur-unsur jang praktis dalam bahasa Indonesia, serta kedudukan Republik Indonesia jang berpolitik bebas dan aktif, bahasa kita akan mendjadi bahasa jang penting dan kuat diantara bahasa-bahasa jang ada di Asia-Afrika.” Pembaca boleh mengucap “amin” atau melongo selama lima menit.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.