Samping

JEJAK ALIH FUNGSI

Tengoklah ke sekeliling, di kamar atau ruang kerjamu. Ada berapa banyak benda yang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak buku hanya jadi hiasan, berapa banyak pulpen sekadar untuk mengganjal pintu, atau berapa banyak kursi difungsikan sebagai gantungan baju? Ini bukan soal kemalasan, tapi soal cara kita, mendefinisikan ulang makna sebuah benda.

​Kita hidup di antara ironi. Sesuatu diciptakan dengan fungsi spesifik, dengan desain yang matang dan tujuan jelas, namun tak jarang kita alih fungsikan sesuai kehendak dan kebutuhan paling remeh. Ambil contoh, sepasang sepatu mahal yang dibeli dengan penuh harap, tapi berakhir sebagai alas kaki untuk menyiram tanaman di pekarangan. Nilai estetika dan fungsinya menjadi luntur, tergantikan oleh kebutuhan pragmatis, jauh dari tujuan aslinya. Sepatu itu tak lagi tentang berjalan jauh atau bergaya, melainkan tentang menghindari tanah becek. Bukankah ini sedikit menyedihkan sekaligus menggelitik? Ada semacam satir di sana: kita memuliakan benda, namun di waktu bersamaan kita merendahkannya.

​Perilaku ini, jika diurai lebih dalam, bukan sekadar soal malas atau tidak rapi. Ada semacam refleksi filosofis di dalamnya. Manusia, dalam perjalanannya, sering kali menciptakan sistem dan aturan sendiri, namun juga tak henti-hentinya mencari celah untuk membengkokkan aturan itu. Menggunakan benda di luar fungsinya adalah pernyataan perasaan dari pemberontakan tersebut. Ini penekanan halus bahwa kita, punya kuasa lebih besar dari sang pembuat. Kita tidak hanya mengonsumsi, tapi juga mendefinisikan ulang. Di situlah letak jenakanya. Senyum kecil muncul saat kita melihat sebuah sendok dipakai untuk membuka tutup botol, atau sebuah remot TV dijadikan alat pemijat jari. Ini bukti bahwa kreativitas, dalam bentuk paling sederhana, selalu menemukan jalannya.

​Di dunia fiksi pun banyak terjadi hal seperti itu. Dalam konteks novela Rumah Kertas, karya Carlos Maria Dominguez,alih fungsi buku melampaui sekadar ironi. Ini pernyataan politis tentang cara pengetahuan dapat ditundukkan dan dimanipulasi. Buku, seharusnya menjadi alat pembebasan pikiran, malah diubah menjadi alat penindasan fisik. Pengetahuan, seharusnya terbuka, kini menjadi penghalang hingga mengisolasi karakter dari dunia luar. Contoh ini menunjukkan bagaimana hal-hal paling fundamental dalam hidup—pengetahuan—bisa jadi tidak diakses sebagaimana mestinya, justru oleh wujud fisiknya sendiri. Ironi di sini bukan lagi sekadar menggelitik, melainkan tajam dan menyakitkan, menggambarkan bagaimana sumber kebenaran bisa menjadi penjara bagi pemiliknya.

​Menggunakan benda di luar fungsinya adalah seni adaptasi tak disengaja. Wujud nyata dari kreativitas naluriah untuk menolak batasan, menunjukkan bahwa manusia makhluk sangat fleksibel. Tindakan-tindakan ini tidak lahir dari perencanaan matang, melainkan dari kebutuhan mendesak, mendorong otak kita untuk berpikir di luar kotak. Fenomena ini juga menyiratkan tentang ekonomi emosional dari sebuah benda. Saat kita mengalihfungsikan benda sering kali memiliki nilai sentimental atau sudah usang. Kita memberi mereka kehidupan kedua, sebuah kesempatan untuk tetap berguna, meskipun dalam bentuk berbeda. Ini bukti bahwa hubungan kita dengan benda tidak hanya fungsional, tetapi juga emosional dan historis.

​Perilaku ini semacam refleksi dari sifat pragmatis manusia tak pernah padam. Kita tidak selalu butuh alat sempurna; kita hanya butuh solusi yang berhasil. Sebuah botol minuman dipakai untuk penumbuk bumbu, atau sebuah peniti menjadi alat pembuka kemasan, adalah manifestasi dari prinsip apa pun yang ada di tangan. Ini pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kebahagiaan dan efisiensi seringkali tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki. Dalam ketidaksesuaian itu, kita menemukan kebebasan, humor, dan yang paling penting solusi.

​Kembali ke hidup sehari-hari, hal remeh berbicara banyak tentang cara kita menjalani hidup di era digital. Kita punya smartphone canggih, tapi hanya kita gunakan untuk bermain gim atau sekadar menggulir media sosial. Kita punya aplikasi catatan, tapi lebih sering kita pakai untuk membuat daftar belanjaan yang tak pernah kita beli. Kemajuan teknologi seringkali tidak kita gunakan untuk memberdayakan diri, melainkan untuk melarikan diri dari realitas.

​Namun, di balik semua ironi, ada juga keindahan. Hal itu bukti adaptasi, bukti kreativitas, dan bukti bahwa hidup tidak selalu harus kaku dan sesuai aturan. Esensi dari menulis, yang relevan dengan zaman, adalah menangkap momen-momen remeh itu dan mengungkapkannya dengan kejernihan.

​Menulis bukan lagi soal menggurui, melainkan soal menyajikan sebuah cermin. Cermin yang memantulkan perilaku kita, kebiasaan kita, dan ironi-ironi kecil yang kita ciptakan sendiri. Tulisan bagus adalah yang bisa membuka mata tanpa terasa menghakimi. Mengungkap hal-hal menggelitik, seperti sepasang sepatu menjadi alas menyiram tanaman, atau sebuah pulpen untuk mengganjal pintu, agar kita tersadar: bahwa dalam hal remeh, kita sering menemukan esensi paling hakiki dari kehidupan itu sendiri.

​Maka, inilah perlunya sesekali melihat sesuatu dari samping. Mungkin makna sebuah benda bukan apa yang diciptakan untuknya, melainkan apa yang kita lakukan dengannya. Dan terkadang, ironi adalah semacam cara untuk memahami kebenaran. Jadi, saat melihat pulpenmu dijadikan untuk mengganjal pintu, tersenyumlah. Ada kisah lebih dalam dari sekadar fungsi. Ada sebuah ironi kecil yang menawan.

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *