Curhat

Ayam Tidak Membaca Buku

Curhat Durjana

Setahun lebih, ratusan buku aku taruh dekat kandang ayam. Tindakan yang biadab dan konyol. Aku tidak bermaksud agar ayam-ayam itu membaca buku saat memiliki waktu senggang. Aku malah ikhlas bila ayam+ayam sangat lapar sehingga memakan huruf-huruf atau kertas -kertas. Konon, buku itu memuat ilmu. Aku pikir ayam yang terpaksa makan buku bakal menjadi ayam yang suka seminar ketimbang bikin ribut tiap pagi dan menciptakan onar gara-gara bertelur. Bayangkan ayam itu mengeluarkan telek berwujud huruf-huruf yang berserakan dengan bau menyengat. Aku yakin bahwa ayam tidak membaca buku. Manusia saja tidak membaca buku, memilih makan ayam goreng, telur dadar, atau menyantap brutu. Manusia yang hanya ketagihan makan daging dan telur ayam tapi tidak pernah membaca buku boleh kita lempari dengan telek ayam. Tindakan yang makin biadab.

Sebenarnya, yang biadab itu aku. Selama belasan tahun tidak mampu menata dan merapikan ribuan buku. Yang dilakukan hanya membaca dan bikin berantakan rumah. Usahanya sebagai pedagang buku cuma menghasilkan tumpukan buku yang sulit laku. Pada tahun-tahun yang sulit dan pelit, orang-orang bersalah jika menyerahkan uang untuk membeli buku: baru atau bekas. Aku paham bahwa buku tidak memberi janji agar orang selalu girang setiap hari. Sebaliknya, uang terjadi adalah tubuh yang gering setelah mati-matian memikirkan isi buku. Orang pun murung bila yang dibaca adalah buku-buku bermazhab picisan, cengeng, dan brengsek. Buku sangat sulit menyelamatkan hidup. Pengecualian adalah orang-orang yang mendapat mukjizat sebagai pembaca buku yang mulia, berpahala, dan berhikmah.

Aku adalah pembaca buku yang garang, tidak punya rem dan bergerak tanpa peta. Buku-buku yang sudah dibaca menjadi tumpukan yang memberatkan hidup. Jangan bertanya tentang pembaca yang diberkati. Aku adalah pembaca yang menjadi gembala dusta dan khianat atas pengetahuan dan imajinasi.

Maka, yang aku lakukan: mengantar ratusan buku kepada ayam-ayam. Pada akhirnya, buku bukan bacaan. Buku menjadi tempat bertelur dan bercengkrama ayam-ayam yang sedang kasmaran. Aku merasa tidak terlalu bersalah saat memikirkan nasib ayam dan buku. Keputusanku memang tidak menggunakan argumentasi yang bermutu. Artinya, pikiranku tentang buku lebih buruk dan rendah dibanding telek ayam.

Bulan-bulan berlalu, ada beberapa buku yang rusak, berjatuhan, dan berserakan. Pelakunya tidak ayam-ayam saja. Pada malam hari, jamaah tikus senang bermain dan istirahat di kerumunan buku. Yang menyedihkan, beberapa buku menjadi sasaran kebrutalan tikus.

Pada situasi berbeda, aku kadang melihat burung-burung menclok di tumpukan buku saat pagi atau jelang siang. Kandang ayam memang dekat dengan kebun-kebun tetangga yang memiliki banyak pohon besar. Apakah burung-burung itu membaca buku. Namun, aku mendapatkan keindahan atau secuil puisi saat melihat burung-burung di atas buku-buku.

Yang membuatku makin biadab adalah membiarkan ratusan buku dihajar sinar matahari yang panas. Risikonya sampul buku-buku tampak lusuh dan warnanya memudar. Kertas-kertas juga tersiksa panas matahari. Kertas-kertas itu terpaksa berubah wajah dan bentuk.

Aku tidak tahu bila buku-buku itu melihat bulan purnama atau sabit. Malam, kandang ayam dan buku-buku dalam gelap. Mereka mungkin mencicipi bahagia saat bulan memberi senyum atau bisikan yang romantis.

Senin, 13 Oktober 2025,  beberapa buku aku bersihkan untuk dibawa ke gedung yang memiliki tiga lapangan biasa digunakan jamaah badminton. Pikirku, menaruh buku di situ agak mengurangi kebiadaban. Aku tidak berharap buku-buku itu bakal dilihat, disentuh, atau dibaca. Pada suatu hari, aku menanti ada orang yang terpikat buku-buku di pojokan. Ia bakal bercakap denganku di sela menyapu dan mengepel lapangan. Kupingku ingin mendengar ia menyukai buku. Janjiku: buku yang ia pegang atau dilihat dengan melotot akan aku berikan sebagai hadiah. Inginku buku itu mendapat tempat terhormat di kamar atau rumahnya. Aku menunggu buku-buku itu habis saat bertemu para pembaca yang sanggup memberi kasih dan berdoa mendapat pengetahuan. Buku tetap berguna. Aku saja yang sia-sia.

Ragam

1946: INDONESIA DAN BAHASA JAWA

Yang terbaca sampai sekarang adalah teks Proklamasi berbahasa Indonesia. Dini hari, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tak perlu berdebat pilihan bahasa saat ingin memuliakan Indonesia.

Mereka memang fasih berbahasa Belanda. Oh, bahasa Indonesia masih sejenis bahasa baru bagi mereka yang mengerti babak (bersejarah) 1926, 1928, dan 1938. Aku kira mereka belum terlalu menyadari bahasa Indonesia, akhirnya, terbukti memiliki kekuatan politis. Benarkah?

Maka, yang mengucap dan menulis saat teks itu digarap secara wajar memilih bahasa Indonesia, bukan bahasa Belanda meski sangat dikuasai, sejak mereka bertumbuh di tanah jajahan sebagai kaum terdidik. Aku yakin mereka wajib berbahasa Belanda untuk meraup ilmu-ilmu di sekolah! Mereka semestinya mengagumi bahasa Belanda. Jangan lupa wajib berterimakasih telah membentuknya sebagai penyuara nasionalisme!

Eh, mengapa saat dini hari itu (17 Agustus 1945) mereka tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris saja agar terbaca dan terdengar keren di dunia? Aku bayangkan bahasa Inggris yang digunakan Soekarno dan Hatta dalam menyusun teks Proklamasi akan membuat para pemimpin dunia segera memberi pujian. Yakinlah bahwa bacaan-bacaan Soekarno dan Hatta banyak yang berbahasa Inggris, yang menghubungkan dengan gejolak-gejolak abad XX. Aku memang belum memiliki catatan judul buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris. Padahal, sejarah Indonesia dan kemunculan elite intelektual itu dipengaruhi bahasa Inggris. Maksudku, haru ada pengakuan bahwa bahasa Inggris punya saham besar dalam situasi sebelum dan setelah penulisan sekaligus pembacaan teks Proklamasi.

Pada saat menegangkan untuk membuat kalimat-kalimat yang dahsyat, mereka tidak memikirkan iriang lagu. Maksudku, adakah nuansa kemerduan dalam waktu-waktu yang beserjarah? Kini, aku bisa membaca lagi sejarah 1945 dengan iringan lagu. Padahal, lagunya tidak tepat. Apa salahnya mengenang sejarah (dini hari) saat para tokoh menggunakan bahasa Indonesia di teks sambil mendengar lagu berjudul “Menunggu Pagi”.

Terdengar suara Ariel: Apa yang terjadi dengan hatiku/ Aku masih di sini menunggu pagi/ Seakan letih tak menggangguku/ Aku masih terjaga menunggu pagi. Ingatlah, saat itu Soekarno dan Hatta melek memikirkan Indonesia tidak sedang “menunggu pagi” demi asmara pisican!

Aku sudah bertele-tele merawat masa lalu. Ah, diri yang tidak pernah memiliki kesanggupan memberi perhatian kepada sejarah, yang masih bolong-bolong dan menyimpan misteri.

Yang sedang aku lakukan adalah membaca majalah Djojobojo. Nama majalah dicetak berukuran besar di bagian atas. Penulisan yang memerlukan tanda petik. Setahuku, “djojobojo” biasanya mengarah ke gubahan sastra oleh Ranggawarsita.

Pada suatu hari, aku membeli majalah Djojobojo edisi 1 Februari 1946 dari pedagang di Jogjakarta. Seingatku, majalah itu diberi harga 35 ribu. Masa lalu yang murah! Aku membelinya agar bisa menjadi pembaca yang mengandaikan merasakan bulan-bulan mendebarkan setelah 17 Agustus 1945.

Di halaman depan, dicantumkan kutipan dari tulisan Soekarno. Aku membacanya dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Soekarno paham bahasa Jawa tapi ia menuliskan teks pidato dan artikel dalam bahasa Indonesia, yang inginnya terbaca oleh orang-orang di seantero Indonesia.

Pencantuman kutipan di majalah Djojobojo mengartikan bahasa Jawa ikut berperan membarakan Proklamasi. Aku tidak berniat mencari terjemahan “proklamasi” dalam bahasa Jawa. Yang jelas “proklamasi” itu berasal dari bahasa asing. Apakah terjadi salah pilih kata oleh Soekarno dan Hatta dalam “menjuduli” sejarah Indonesia?

Kutipan yang terpilih: “Ibarate kita kabeh iki lagi bisa liwat djembatan mas, doeroeng ing brang kanane, mangka wis pada apradondi tjakar-tjakaran agawe roweting bab-bab kang semestine koedoe diremboeg samangsa kita wis tekan brang kanane djembatan mas kita maoe. Saiki kita koedoe mlakoe disik, bebarengan manoenggal, goejoeb roekoen lan ngliwati djembatan mas ikoe, sarana wani mboewang kepentingan kita dewe lan kepentingan golongan-golongan, amrih kita kabeh bisa slamet ing brang kanane djembatan maoe.”

Petikan yang mengingatkan babak Indonesia sedang menuju atau melewati “jembatan mas”. Soekarno membahasakan perubahan dengan jembatan. Wah, yang dipilih emas, bukan perak atau perunggu. Pada hari yang berbeda, Gesang malah melantunkan “jembatan merah”. Aku tidak bisa mengganti warnanya dengan kuning, biru, atau hijau.

Pada abad XXI, Proklamasi yang menunjukkan jembatan sudah memastikan kita sampai atau belum menuju ke sana? Aku masih ingat pelajaran di sekolah, yang memuat masalah “pintu gerbang kemerdekaan.” Pokoknya, sejarah Indonesia itu aneh. Soalnya, ada jembatan dan pintu.

 Di halaman editorial Djojobojo, aku membaca pesan sangat penting: “Sanadjan kita kalah gegaman perang modern, kalah kapal-kapal, nanging menang akeh djiwane, menang papan ora ngloeroeg malah diloeroegi sakan papane kang adoh banget. Karo pangane moeng remeh-remehan bae woes marem. Sandjata pamoenahing satroe droehaka maoe ora ana maneh jaikoe manoenggaling tekad ngoekoeh kamardikan kang woes goemana.”

Indonesia sudah merdeka, tiak perlu takut dengan kapal dan senjata yang digunakan musuh. Indonesia punya jiwa yang kuat, yang akan memenangkan kemerdekaan. Ah, aku agak merinding membaca kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang berpengaruh bagi pembacanya masa itu menghadapi perang.

Aku lanjutkan membaca artikel sehalaman yang diberi tajuk “obor politik” oleh S Dibyo. Pada masa perang, orang-orang yang menulis sebenarnya punya peran besar agar orang-orang tidak menyerah dan putus asa. Namun, yang bisa membaca tulisan hanya sedikit orang. Apa yang membaca bertugas menyampaikan pada saudara, teman, dan tetangga yang belum mengenal aksara? Dugaanku, satu majalah berkhasiat untuk banyak orang asal ada satu atau dua orang yang bisa membaca.

Aku bayangkan mereka mendengar pembacaan pendapat S Dibyo: “Ing sarehne bangsa Indonesia ikoe wiwit bijen moela pantjen bangsa kang karem tetoeloeng ing lijan, mesti wae dapoekaning pamrentahan kang adedasar pri kamanoengsan lan keadilan ikoe gampang ditampa dening bangsa kita kabeh, apa maneh jen kita ngelingi anane roekoen desa, bersih desa, sambatan, lan lija-lijane kang kabeh maoe pantjen dadi dasar kekoewasaan sosialisme.” Adakah terjemahan yang apik untuk istilah “sosialisme” dalam bahasa Jawa?”

Anehnya, Djojobojo yang majalah berbahasa Jawa, belum mampu memuat iklan-iklan yang berbahasa Jawa. Di halaman belakang, semua iklan berbahasa Indonesaa. Yakin saja, dua bahasa itu “berteman”, tidak akan bertengkar dalam majalah.

Yang aku perhatikan adalah iklan penjahit dan membuat sepatu. Pembuat iklan adalah Djamhoeri, yang tinggal di Jalan Doho 97, Kediri. Yang dicantumkan: “Membikin pakaian dan sepatoe menoeroet oekoeran pemesan”. Iklan diakhiri pekik “merdeka”. Artinya, yang berpakain dan bersepatu termasuk kaum yang merdeka.

Djojobojo, majalah yang tipis, cukup 14 halaman. Aku belum kenyang bacaan tapi sudah merasakan getaran sebagai pembaca yang ada pada masa lalu, sekian bulan setelah penulisan dan pembacaan teks Proklamasi. Majalah berbahasa Jawa yang membuktikan peran memuliakan Indonesia dengan berani menanggapi peran dan berusaha memberi kesadaran perlawanan untuk rakyat melawan pihak-pihak asing yang mengganggu kemerdekaan dan kedaulatan. [] Durjana

Ragam

SELEMBAR MERAH DAN SETUMPUK BUKU

Yang teringat adalah The Lord of the Rings itu film? Kaum yang getol membaca meyakinkan itu buku. Di Indonesia, penonton filmnya bisa melebihi satu juta. Namun, jumlah pembaca tetap di hitungan ribuan. Bagi yang berduit membeli novel yang diterjemahkan dalam bahasa Indinesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu kepuasan. Buku yang berukuran besar dan tebal. Gambar di sampulnya sering berganti menyesuaikan selera yang dipengaruhi film atau perayaan kesilaman dan kekinian. Buku yang laris.

Apakah novel itu awalan JRR Tolkien mendapat penggemar (fanatik) di Indonesia? Nama pengarang yang kharismatik, berpengaruh besar dalam gubahan-gubahan sastra di dunia, dari masa ke masa.

Rabu, 1 Oktober 2025, anggapan berubah oleh mata dan tangan. Mataku melihat buku berukuran kecil. Gambar di sampul sangat memikat. Gambar yang representatif untuk pembaca masa lalu di Indonesia. Yang menggambar adalah Setyo S. Gambar yang dibuat disesuaikan untuk pembaca di Indonesia. Buku itu berjudul Petani Penakluk Naga (1980) gubahan JRR Tolkien. Bukti bahwa pengarang dunia sudah digemari di Indonesia sejak masa 1980-an.

Mataku melihat seperempat percaya. Benarkah itu novel gubahan JRR Tolkien yang awal diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Tanganku memegang agak tergesa, membuka halaman-halamannya demi mengetahui nama penerjemah dan tahun terbit. Yang terbaca memang penerjemah (Anton Adiwiyoto), bukan penyadur. Buku-buku dari masa lalu agak menjebak gara-gara penerjemahan utuh atau saduran.

Pada mulanya, buku itu dibeli dan dimiliki oleh Himi Nureni, Jakarta, 4 Mei 1981. Pengesahannya adalah tanda tangan bertinta hitam. Aku memegang buku yang usianya hampir sama denganku, yang mau 45 tahun. Buku terbit beberapa bulan sebelum aku lahir, yang belum ditakdirkan sebagai pembaca. Yang lahir memberi tangis, bukan mengucap kata-kata. Pada saat aku belum bisa berkata, banyak orang membaca Petani Penakluk Naga. Para pembaca yang mendapat cerita bermutu. Bukunya tipis, tidak mengharuskan membacanya selama 12 hari.

Aku bertemu buku JRR Tolkein terbitan Gramedia di pasar buku bekas yang beralamat di Gladag (Solo). Aku tidak segera menanyakan harga kepada pedagang. Yang menegangkan adalah mengeluarkan semua buku dari karung, cepat memilih sebelum menjadi rebutan para pembeli.

Siang yang gerah tapi aku cekatan menumpuk beberapa buku. Tanganku memegang novel berjudul Berkeliling Dunia di Bawah Laut (1977) gubahan Jules Verne. Yang menerbitkan edisi terjemahan bahasa Indonesia adalah Gramedia. Mengapa penerbit itu berhasil menyuguhkan novel-novel bermutu kepada para pembaca yang berusia anak dan remaja? Dulu, aku mengetahui buku terbitan Enigma yang berjudul 20.000 Mil di Bawah Lautan gubahan Jules Verne. Yang menerjemahkan adalah Nh Dini. Judul apa yang mula-mula muncul di Indonesia dalam terjemahan yang utuh, bukan saduran? Jules Verne, pengarang tenar di dunia, yang buku-buku sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa.

Yang menerjemahkan Berkeliling Dunia di Bawah Laut adalah Agus Setiadi. Penerjemah ulung yang terjamin mutunya. Agus Setiadi itu bapaknya Hilmar Farid. Aku sebenarnya sudah cukup mendapat dua novel terbitan Gramedia. Kedatanganku ke Gladag membawa selembar merah. Niatnya membeli sedikit buku saja agar aku masih merasa berduit. Apakah membeli dua buku saja?

Di depanku, buku-buku yang dikeluarkan dari karung masih ada beberapa yang menggiurkan. Siang semestinya memberi pesan agar aku menahan nafsu buku. Di hitungan detik setelah semua buku berserakan, aku putuskan bakal menghabiskan selembar merah. Aku harus menukar merah dengan buku-buku bermutu. Jangan ada keraguan dan penyesalan!

Dua buku mencantumkan nama Enid Blyton di tanganku. Sekali lagi, buku-buku itu diterbitkan oleh Gramedia. Maka, sastra (anak) dunia berdatangan ke Indonesia gara-gara Gramedia. Aku memastikan dua buku yang berjudul Tiga Anak Nakal (1996) dan Rag, Tag, dan Bobtail (1996) masuk dalam koleksi, terbaca sebagai penghormatan atas cerita-cerita yang menghampiri jutaan pembaca di dunia.

 Aku merasa Rabu terberkati. Buktinya mataku melihat buku-buku yang bagus. Adanya buku-buku itu membuat mata yang mengantuk segera terbuka dalam sukacita. Yang didapat adalah buku-buku Astrid Lindgren, yang semuanya diterbitkan Gramedia. Bayanganku penerbit itu berkuasa dalam penerbitan buku-buku anak dan remaja selama beberapa dekade, terutama buku-buku terjemahan.

Para penggemar di Indonesia dipuaskan oleh keseriusan Gramedia menerbitkan beberapa judul dari Astrid Lindgren. Yang berhasil dibeli: Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Musim Ceri di Bullerbyn, Detektif Ulung Blomkvist, Ronya Anak Penyamun, dan Kami Anak-Anak Bullerbyn. Sejak awal, niatku membeli untuk dijual kembali. Aku sudah mengoleksi judul-judul itu di rumah. Pilihannya: menjual dengan harga murah atau mahal.

Jika dihitung mungkin jumlah penggemar atau pembaca buku-buku Astrid Lindgren di Indonesia mencapai ribuan orang. Mereka yang terhibur sekaligus belajar kehidupan anak-anak di negeri jauh, yang sulit dicari persamaan-persamaannya dengan anak-anak di Indonesia. Jadi, katalog yang dibuat Gramedia memastikan Astrid Lindgren sebagai pengarang yang ikut menabur subur imajinasi di Indonesia. Pengarang pujaan yang mengalahkan pengarang-pengarang Indonesia, yang buku-bukunya juga diterbitkan oleh Gramedia.

Setiap melihat tampilan buku-buku Gramedia, mata menemukan keistimewaan dalam penentuan ukuran, penggunaan kertas, permainan warna, dan gambar di sampul. Gramedia berani menghadirkan buku-buku ciamik, yang (matang) diperhitungkan untuk betah berada di tangan anak, remaja, dan orangtua. Buku-buku yang menghuni kamar atau rumah dinyatakan sebagai koleksi.

Duitku yang selembar merah bertukar dengan buku-buku yang dulu disantap anak dan remaja di Indonesia masa lalu. Mereka ada yang mampu membeli dan berhak mencantumkan nama atau tanda tangan. Mereka bisa membaca di taman baca atau perpustakaan, yang memunculkan predikat sebagai penyewa atau peminjam. Rabu itu buku-buku dari masa lalu menjadi milikku dalam jangka waktu sebentar atau lama.

Apakah disengaja Gramedia memihak penerbitan buku-buku terjemahan? Aku bisa menjawab: pasti. Penerbit itu yang mengantarkan anak dan remaja terhubung bacaan selera dunia. Mereka membaca buku-buku yang dinikmati oleh anak dan remaja di Prancis, Inggris, Jerman, Denmark, Amerika Serikat, Swiss, dan lain-lain. Bedanya adalah penerbitan edisi terjemahan di Indonesia biasanya terlambat. Yang aku belum tahu adalah pengurusan hak cipta penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada masa 1970-an dan 1980-an, masalah itu belum terlalu diributkan oleh pihak-pihak dalam bisnis buku atau pengamat bacaan taraf dunia di Indonesia.

Perbedaan sangat tampak saat aku mengambil dua buku terbitan Pustaka Jaya. Aku agak ragu untuk membeli dua buku yang tampangnya tidak menarik. Yang terpegang tanganku: Petualangan Si Nekad (1978) gubahan Paul Jaques Bonzon. Buku yang awalnya terbit dalam bahasa Prancis. Datang ke Indonesia melalui penerjemahan oleh Ida Sundari Hoesen.

Setahuku, penerjemah itu teruji melalui belasan buku yang sudah terbit. Pekerjaan utamanya adalah pengajar di Universitas Indonesia. Namun, ketekunannya menerjemahkan buku-buku berbahasa Prancis agar terbaca di Indonesia mengukuhkannya sebagai penerjemah ulung. Peran terbesarnya adalah mengakrabkan kita dengan kesusastraan Prancis. Jadi, para pembaca buku yang sering jengkel dan sering mengejek mutu buku terjemahan bahasa Indonesia abad XXI bisa membaca semua hasil terjemahan yang dilakukan oleh Ida Sundari Hoesen. Ia tidak harus melakukan penerjemahan melalui edisi bahasa Inggris. Pilihan yang terhormat adalah menerjemahkan dari bahasa asal (Prancis).

Yang terakhir, buku yang berada dalam pegangan tanganku berjudul Dongeng-Dongeng Rusia. Nama yang dicantumkan di sampul buku adalah Adisubroto. Aku menduga buku itu bukan terjemahan. Buktinya, nama yang di sampul khas digunakan orang Indonesia, bukan nama yang lumrah untuk orang Rusia. Maka, aku lekas membukanya. Keterangan di halaman awal dalam buku terbitan Pustaka Jaya: “Diceritakan kembali.” Pustaka anak itu disajikan agar pengetahuan mengenai sastra brtumbuh di Rusia diketahui para pembaca di Indonesia. Padahal, sastra Rusia pernah ikut dalam gegeran sastra-politik masa 1950-an dan 1960-an di Indonesia. Terbitnya dongeng-dongeng dari Rusia mengartikan hubungan dua negara (Indonesia dan Rusia) akrab setelah malapetaka 1965.

Akhirnya, selembar merah bertukar setumpuk buku yang semestinya dibaca oleh anak dan remaja. Pada siang itu peranku adalah penemu dan pembeli, yang berhak memasalahkan lanjutan peran untuk menjadi pedagang buku bekas, pembaca, atau kolektor. [] Durjana

Ragam

BUKU, DEBU, KERINGAT

Subuh yang tidak memberi dingin. Beberapa hari yang lalu, dingin berkuasa atas malam, dini hari, dan pagi. Aku pun ikhlas berkeringat akibat tak bercumbu dengan kipas angin dan mesin pendingin udara. Aku hanya percaya angin yang masuk lewat pintu dan jendela, Angin yang tidak membawa pesan-pesan gaib dari langit.

Jumat, 26 September 2025, aku makin berkeringat setelah subuhan. Yang dilakukan adalah menggerakkan tubuh untuk buku dan debu. Aku harus merapikan rumah. Ribuan buku yang berserakan ditumpuk sembarangan, ditaruh di pinggiran. Keinginan agar ada ruang luas untuk duduk banyak orang.

Siksa terbesar adalah debu dan kotoran yang bersama buku-buku. Pagi dimerdukan suara burung dan ayam. Aku merusaknya gara-gara bersin yang keras dan cempreng. Padahal, jam-jam sebelum aku pulang ke rumah menjelang 12 malam, aku pun sudah bersin-bersin di gedung olahraga, tempat aku menyapu dan mengepel demi mendapat rezeki.

Pagi itu bersin menyiksa bersumber buku dan debu. Aku sebenarnya marah dan menyesal telah lama menelantarkan ribuan buku di rumah. Kutukan diberikan padaku melalui buku-buku. Aku telah khianat atau ingkar. Buktinya, buku-buku itu morat-marit. Beberapa buku terkena air hujan. Ada buku-buku yang tampak bekas dikerikiti tikus-tikus. Pemandangan yang buruk. Semua terjadi seolah menjadi perbuatan dosa. Akulah yang mendosakan diri gara-gara buku. Kutukan belum habis.

Pada saat menumpuk dan mengangkat buku berpindah tempat, aku melihat lagi buku-buku yang selama ini aku ingin baca ulang atau semestinya menjadi dagangan di media sosial. Buku-buku yang telah bersamaku belasan tahun, lama tidak mendapat sentuhan dan tatapan mata. Aku tak lagi mendoakan mereka. Aku lupa bersenandung bersama buku-buku agar arwah para pengarang tidak dihajar sedih dan nestapa. Setengah tahun lebih, aku seperti pengkhianat besar atau sosok munafik terhadap buku-buku. Setelah subuhan, tubuhku dipaksa bersama lagi buku dan debu. Aku yakin bakal keok dan berduka.

Pukul 8 pagi, orang-orang berdatangan, memarkir sepeda motor di pinggir jalan dan pekarangan. Tubuhku sudah lelah dan pikiran tak keruan. Aku minta mereka menata sepeda motor secara rapi. mengajk mereka masuk rumah. Tikar dan karpet sudah aku gelar meski tampak sesak terhimpit rak dan tumpukan buku.

Aku biarkan belasan orang di rumah. Yang aku lakukan adalah mencuci pakaian sambil bersenandung pelan. Lelahku harus diselamatkan oleh air dan lagu-lagu picisan. Pagi itu matahari menyengat. Yang diam dan bergerak bakal berkeringat. Mencuci sedikit menghindarkan sumuk.

Di ruangan yang bau buku dan debu, aku bercerita di hadapan 30-an mahasiswa. Mereka tampak bingung dan ragu mendengar kata-kata yang terucap. Aku malah melihat ada mahasiswa yang memperbaiki matanya. Maksudku, ia menggunakan alat untuk merapikan bulu matanya. Ada pula yang mengeluarkan cermin untuk memastikan wajah masih cantik. Bedak di tangan. Mataku melihat kesibukan-kesibukan yang aneh saat mereka berada dalam kepungan buku.

Aku khawatir mereka bakal pingsan dan mampus. Maka, aku berseru agar tangan mereka jangan menyentuh buku. Bersin! Aku peringatkan agar mereka jangan mengotori tangan dan bersin. Di sela aku berbagi cerita mengenai tulisan dan manusia, aku menyempatkan memberi nasihat tidak bijak: “Jangan terlalu dekat buku-buku! Berdoalah agar besok wajahmu tidak jerawatan! Konon, debu mengakibatkan jerawat.” Mereka tampak tersenyum tidak ikhlas.

Beberapa mahasiswa tampak memiliki keinginan besar mengetahui apa-apa yang terucap mulutku. Menyimak! Mereka pun berani membaca kalimat-kalimat yang ditulis di kertas. Para mahasiswa yang tidak takut debu, tabah dalam bersin, dan yakin tidak jerawatan berhak mendapat hadiah. Beberapa novel aku berikan kepada yang membuat tulisan dan membacakan di ruangan terkutuk ribuan buku. Dua jam berlalu, mereka pun pergi. Aku tergeletak di atas tikar sambil menanti panggilan dari masjid untuk sholat dua rekaat. Siang pun melelahkan.

Malam aku dijanjikan menikmati lelah. Di gedung olah raga, menepati janji menjadi tukang sapu dan mengepel. Malam itu ada jadwal “Kubu Kleco” bermain badminton di lapangan utara, mulai pukul 8 malam. Aku mengenal mereka sejak lama. Beberapa kali mereka menikmati Jumat malam disahkan kerkeringat, berteriak, dan saling ejek dalam lakon bulutangkis.

Dua orang tampak “sombong”. Malam yang seharusnya sehat berkeringat malah dinodai batang-batang rokok yang menyala. Mereka memang perokok yang tidak mau cuti. Yang menimbulkan kepastian mereka sombong adalah buku. Satu orang menikmati kopi dan rokok. Di tangannya, aku melihat ia memegang mesra buku berjudul Istanbul garapan Orhan Pamuk. Aku sebenarnya ingin mengingatkannya bahwa Orhan Pamuk bukan pemain bulutangkis. Orhan Pamuk itu pengarang yang membuatku cemburu setinggi tujuh lagit. Aku yang membaca novel-novel dan esai-esainya merasa “dihinakan” di jurang kebodohan dan kepicikan.

Mengapa ia membaca Istanbul saat Jumat masih meminta keringat? Dugaanku saja, ia mungkin bakal mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki. Ia tidak ingin terpuruk di Solo tanpa jaminan mendapat kekasih dan bisa makan bebek goreng sebulan sekali. Minggat ke negeri asing bisa menjadi penyelamatan. Benarlah bila ia mau khatan Istanbul yang ditulis Orhan Pamuk secara puitis.

Satu lagi lelaki yang melepas kaos. Sosok yang pamer sedang menanggung kegemukan. Kaos dan bajunya cepat sesak. Ia mengerti sedang gendut. Malam itu ia memegang buku berjudul Mitologi garapan Roland Barthes. Pikirku, Roland Barthes menulis tentang gulat, bukan bulutangkis. Mengapa lelaki yang rajin merokok itu malah membuka halaman-halamam Mitologi setelah bermain bulutangkis? Aku ingin mengatakan bahwa buku di tanganya bisa menumbulkan sesat. Selama ini aku mengetahui dirinya sembrono menghabiskan uang untuk berbelanja buku. Ia pasti menjadi keparat jika terus membaca buku dan betah dalam obrolan keintelektualan.

Malam yang jahanam gara-gara dua lelaki membaca Istanbul dan Mitologi. Aku menyumpahi mereka agar menjadi batu di Kalipepe atau berubah menjadi semut di Siberia. Dua lelaki yang tidak pantas diidamkan oleh perempuan yang ingin bahagia dan mendapat hiburan. Dua lelaki itu sepertinya mengartikan hidup cukup kopi, rokok, dan buku. Padahal hari-harinya amburadul.

Jumat berlalu, datanglah Sabtu, 27 September 2025. Siang, aku mengajar murid-murid SMP. Sebuah novel aku jadikan sebagai hadiah. Siang itu kami berbagi cerita mengenai kebodohan-kebodohan dalam mengikuti pelbagai mata pelajaran di sekolah. Aku mengaku kepada mereka pernah bodoh dan tidak naik kelas. Pengakuan yang menjadi hiburan bagi mereka, yang akhirnya berani memamerkan lembaran hasil ujian. Nilai-nilai yang buruk tapi mereka tidak menyesal. Bodoh kadang menghibur dan menciptakan tawa absurd.

Sore, aku berkeringat lagi sebagai tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Di gedung olahraga, tubuhku harus bekerja bersama debu dan kotoran. Sore itu membahagiakan saat teman datang. Sebelumnya, kami sudah kencan untuk bertemu. Duduk sambil minum es teh, kami berbagi cerita mengenai nasib dan mengimajinasikan binatang-binatang. Yang terpenting adalah aku menyerahkan novel gubahan Amin Maalouf yang berjudul Nama Tuhan yang Keseratus. Aku mendapatkan rezeki dari penjualan buku. Yang berlebih adalah obrolan kami menjelang senja.

Aku menikmati senja bareng lagu-lagu asmara. Dua lapangan aku bersihkan, yang utara dan selatan. Para pemain masih berada di lapangan tengah, yang berakhir pada pukul 18.00 WIB. Aku menyempatkan melihat mereka yang tampak semringah dan tertawa. Kaum muda yang memilih main bulutangkis ketimbang menjadwalkan pacaran. Mataku kaget melihat di kubu mereka ada buku. Yang tampak adalah novel-novel Tere Liye. Beberapa orang adalah pembaca novel, yang menggemari Tere Liye. Aku pun mendekat minta izin bergabung bareng mereka untuk obrolan. Sejenak, aku tambah minta izin untuk memotret kehadiran novel-novel Tere Liye di pinggiran lapangan badminton.

Percakapan maghrib yang seru. Telingaku sudah mendengar azan maghrib. Obrolan yang memusat buku. Aku bawakan buku-buku yang menjadi bacaanku. Dua buku yang sempat mereka pegang dan baca adalah The Sun an Her Flowers, Matahari dan Bungaa-Bunganya (Rupi Kaur) dan 700+ Kata-Kata Inspiratif Para Wanita Hebat (Carolyn Warner). Dua buku bersama mereka saat aku tinggal untuk shalat dan meladeni para pembeli di kantin. Yang terdengar di kantin adalah lagu Nadin Amizah dan Iwan Fals yang berjudul “Untukmu”. Tanpa malu, aku iku bersenandung: Katakan padaku/ andaikan kau tahu/ tolonglah kau katakan itu/ lawanku, temanku, saudaraku, keluargaku/ pun aku// siang berganti malam/ terdengar panggilan-Nya/ suara anak-anak kecil yang pergi ke langgar/ menghampiri yang dewasa di sana/ tanpa tahu apa-apa/ melangkah dengan riang gembira. Sebelumnya, lagu itu aku nikmati di Mangkunegara, beberapa bulan yang lalu saat aku dan teman-teman menikmati konser yang megah.

Malam itu aku ingin bahagia. Hari-hariku bertemu para pembaca buku. Mereka masih membuatku bergairah dan mengurangi pengkhianatan terhadap buku-buku. Rombongan pemain di lapangan tengah pamitan sambil membuat permintaan agar Sabtu yang akan datang aku membawakan novel-novel. Mereka mau meminjam meski aku memiliki niat untuk memberikan saja agar senang. Ada yang malah meminta untuk diadakan obrolan buku. Aku balik memberi guyonan kepada mereka: “Jangan telantarkan kekasihmu! Bulutangkis dan buku akan membuatmu dibenci kekasih.” Mereka malah menjawab sambil tertawa: “Saya tidak punya kekasih!” Malam yang berbahaya. Mereka yang suka buku pasti lupa khasiat Sabtu malam. Mereka terbukti tidak mementingkan orang-orang yang harus dicintai tapi memilih berkeringat dan menikmati novel-novel bergelimang nasihat. [] Durjana

Ragam

BERTEDUH DI BUKU

Hujan di Sriwedari, Solo, 24 September 2025. Hujan setelah adzan ashar. Hujan setelah aku berbagi cerita bareng murid-murid SD di Jamsaren. Siang yang ganas berganti hujan yang cukup deras. Hujan itu tiba bukan gara-gara aku bersin tiga kali di kelas. Tubuhku memang bermasalah. Bersin itu tanda yang bikin bimbang.

Semua bermula dari sapu. Siang itu anak-anak menyapu sembarangan dan melempar sapu-sapu di pojok. Aku sengaja mengambilnya untuk mengajar iseng-iseng. Sapu itu aku tampilkan sebagai bedil, gitar, tiang mikrofon, dan lain-lain. Anak-anak suka dan bergantian memberi imajinasi bersumber sapu. Akhirnya, mereka membuat tulisan-tulisan pendek. Ada yang diberi gambar.

Yang mengejutkan, ada sehalaman tulisan mengenai sapu yang berhubungan dengan DPR. Anak itu membuat kalimat yang terlalu berani, yang aku artikan “menyapu” DPR. Anak itu sebenarnya menggunakan kata “membunuh” DPR tapi aku menggantinya agar tidak ada gejala revolusioner. Anak kelas 3 SD yang tampak cengengesan tapi mengerti keburukan-keburukan DPR.

Pulang saat gerimis sudah membasahi sekolah dan jalan. Sepeda motorku tidak bisa melaju kencang. Bagian lampu sudah diikat dengan tali plastik. Plat nomor di belakang pun harus mendapat ikatan agar tidak jatuh. Tetes-tetes hujan makin banyak dan kuat, aku memilih berhenti di kios-kios buku yang terletak di belakang Stadion Sriwedari. Berteduh di buku.

Apakah bisa berteduh di buku? Lihatlah, buku itu bukan payung atau atap! Yang tampak adalah atap kios-kios itu banyak yang bocor. Para penunggu buku murung. Puluhan kios tutup, tanda memilih mati. Di kios-kios, aku memandangi beragam buku bajakan. Yang paling berkuasa adalah buku-buku pelajaran.

Aku tidak ingin kehujanan. Berteduh di buku itu pilihan untuk selamat dari basah. Aku tidak ingin bertambah bersin-bersin lagi. Jangan sampai aku masuk angin!

Sore itu aku memiliki 65 ribu rupiah. Uang itu datang saat siang sedang garang. Pukul 1 siang, ada lelaki yang datang ke GOR Badminton Blulukan. Ia membeli buku mengenai otoritarianisme: 65 ribu. Rabu, hari aku berduit. Di kios-kios Sriwedari aku bakal jadi pembeli?

Ada kios ditunggu dua bocah. Aku menikmati setumpuk novel. Pilihan sudah ditentukan: A Thousand Splendid Suns (2010) gubahan Khaled Hosseini. Buku terbitan Qanita, diberi keterangan “edisi gold”. Buku masih plastikan tapi kondisi kotor. Bocah itu bilang harganya 30 ribu rupiah. “20 ribu saja,” kataku. Oh, aku tega! Akhirnya harga yang disepakati: 25 ribu rupiah. Dua bocah itu tersenyum, aku berpindah ke kios lain. Duitku masih 40 ribu rupiah! Apakah masih bisa untuk membeli buku?

Aku termasuk orang yang mudah terharu dan mewek membaca buku-buku Khaled Hosseini. Beruntung, aku belum pernah melihat film diangkat dari ceritanya. Kesan-kesan dari ceritanya masih mendekam di tubuhku. Aku biasa membujuk teman-teman untuk membaca buku-buku Khaled Hosseini meski mereka kadang tak percaya dengan ingatan dan tafsira yang aku suguhkan, penggalan-penggalan.

Pada saat hujan, aku tidak ingin mata berhujan. Aku mengelak dengan berimajinasi terjadi “hujan buku” atau “hujan huruf”. Kapan itu terjadi? Bayangkan bila hujan buku menjadi kota-kota di Indonesia “terkutuk” dengan novel-novel asmara dan horor. Yang menikmati hujan harus rela kepalanya kejatuhan buku-buku dalam edisi tipis atau tebal. Gagal dengan “hujan buku”, berharap terwujud “hujan huruf”. Aku ingin menjadi bocah yang tubuhku kuyup huruf. Tanganku menerima huruf-huruf dari langit. Sembarang huruf yang membuatku bisa menjadi pencerita atau pendoa.

Lamunan yang payah saat aku masih bersombong membelanjakan duit yang ada di saku celana. Berdiri di depan kios dengan penunggu lelaki tua yang bertampang putus asa akut. Ia pasti menderita sebagai penjual buku yang selalu sepi, dari hari ke hari. Mataku segera melihat buku kecil berwarna coklat-susu. Buku itu berjudul Judy Moody (2006)  gubahan Megan McDonald. Aku sudah membaca tiga bukunya. Aku wajib beli lagi agar memiliki kesombongan bila bercerita di hadapan seribu orang. Ceritanya lucu dan menakjubkan. Aku salah baca. Aku bukan anak atau remaja tapi lelaki brengsek yang mau 45 tahun. Duh, aku telanjur membacanya!

Ada satu buku lagi di tanganku yang berjudul jelek: Mari Jatuh Cinta Lagi (2011). Buku terbitan Zaman. Aku memastikan Zaman sering menerbitkan buku-buku agama. Buku yang di tanganku tentu bukan ajakan untuk kasmaran dan mengumbar berahi. Penglihatanku yang mulai kabur masih bisa membaca nama penulis buku: Ibnu Al Dabbagh. Oh, ulama klasik. Jadi, buku itu terjemahan dari kitab klasi yang berbahasa Arab. Penerjemahnya kurang ajar! Judul yang tidak bermutu. Keterangan di bawah judul: “Kitab Para Perindu Allah”. Aku lekas memilihnya untuk dibeli bareng buku Judy Moody. Lelaki tua yang putus asa itu mau menerima uang dariku 30 ribu rupiah untuk dua buku. Beruntunglah tetap mendapat rezeki saat hujan bikin Rabu yang sendu.

Setengah jam berlalu. Hujan menjadi rintik-rintik saja. Aku harus berani berada di jalan bersama sepeda motor yang kedinginan. Senja itu aku harus ada di GOR Badminton Blulukan untuk ibadah harian: berperan sebagai buruh menyapu dan mengepel.

Sampai di Purwosari, matahari malah nongol setelah hujan. Pemandangan yang membuatku memaafkan matahari setelah tadi siang memberi siksa yang tidak bisa ditebus dengan segelas es teh. Senja, aku menjadi pemilik tiga buku bekas. Aku pun menyadari diriku mulai bekas. Hidup sah telah bekas. Senja yang lekas bekas. Malam bakal datang sambil berharap nanti bisa mengintip bulan sabit. [] Durjana

Curhat

Penuntun dan Penyapu

Curhat Durjana

Malam bertambah malam. Kalimat itu selalu mengingatkan Putu Wijaya meski harus ditambahi “bila”. Aku sengaja menghilangkan “bila”. Di GOR Badminton Blulukan (Colomadu), malam itu keramain dan keringat. Orang-orang bermain bulutangkis di tiga lapangan. Aku cuma penonton sekaligus melayani mereka.

Jumat, 5 September 2025, mau berakhir. Yang bermain tinggal satu lapangan di tengah. Aku menyapu dan mengepel lapangan utara dan selatan diselingi melihat teman-teman yang sedang bermain di tengah. Mereka biasanya datang ke GOR Badminton Blulukan untuk obrolan bersamaku. Sebulan ini, mereka menambahi peristiwa kebersamaan dengan berkeringat dan berteriak. Di tangan mereka adalah raket. Aku yang melayani untuk para pemain yang menginginkan minuman: dari es teh sampai es Torabika. Imbuhan adalah masak mie instan.

Pada saat menyapu dan mengepel, aku sengaja memutar lagu-lagu pop Indonesia, yang bertema asmara dan merayu. Aku tidak malu menyapu sambil ikut bersenandung. Lelah bisa ditanggulangi dengan imajinasi asmara picisan.

Pukul 11 malam lebih, teman-teman pamitan. Aku menutup kebersamaan dengan omelan-omelan Homicide dalam suara yang keras. Akhirnya, kami berpisah. Aku pulang mengendarai sepeda motor yang mau rontok. Di tengah perjalanan, sepeda motor itu berhenti. Kehabisan bensin. Aku menuntun sambil menikmati payah setelah sejak siang sampai malam menjadi tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Keringat terus mengalir. Di dekat perbatasan desa, ada sepeda motor yang berhenti di dekatku. Lelaki itu bertanya mengenai sepeda motorku. Lelaki yang tidak dikenal bersikap baik. Ia menawarkan mendorong sepeda motorku sampai rumah.

Sabtu, 6 September 2025, jadwal pengguna GOR Badminton Blulukan adalah murid-murid SD (Solo). Mereka mau latihan drumband pukul 8 pagi. Aku berangkat sambil menuntun sepeda motor ke warung tetangga untuk beli bensin. Di sepeda motor, ada kresek berisi sarapan (nasi, pecek, tempe, bakwan, dan rambak). Dua kresek besar berisi buku-buku. Di atas, ada laptop. Aku jadikan GOR Badminton Blulukan sebagai tempat untuk membaca buku dan gawe tulisan-tulisan.

Aku berencana ke kios koran dulu. Perjalanan sekian menit. Sepeda motor berhenti lagi. Aku pastikan tidak kehabisan bensin, sudah beli sebotol dengan harga 12 ribu rupiah. Kakiku menggenjot berkali-kali. Gagal. Dugaanku ada masalah dengan busi. Pagi, aku menjadi penuntun lagi sepeda motor dengan bawaan tiga kresek, kepala berhelm, dan tubuhku yang berjaket membawa tas ransel. Adegan astronot yang tersesat di Bumi.

Bersyukur setelah hampir 1 km menemukan bengkel. Tukang bengkel sedang bermain layangan bareng cucu. Ia bilang kehabisan busi baru. Yang dilakukan adalah membersihkan busi dan mengusahakan agar hidup lagi. Menit-menit yang kurang menjanjikan sambil kepikiran telat sampai GOR Badminton Blulukan. Akhirnya, pembersihan berulang kali dan meniup busi membuat sepeda motor bisa hidup dan bergerak lagi. Aku menyerahkan 10 ribu rupiah. Uang untuk terima kasih, bukan penggantian busi.

Perjalanan agak ngebut melintasi sawah. Berhasil sampai kios koran. Kompas dan Jawa Pos dibeli dengan menyerahkan uang yang cukup untuk menikmati mie ayam, es jeruk, dan rambak. Pagi itu sengaja membeli koran agar hidup agak beradab. Percakapan sebentar bareng pedagang koran yang mengeluhkan situasi dan surutnya pendapatan dari penjualan koran, tabloid, dan majalah. Aku mengangguk dan berbagi cerita bahwa pagi itu aku pun bakal mencari rezeki.

Di GOR Badminton Blulukan, seratusan anak dan ibu sudah menguasai lapangan. Mereka latihan drumband. Aku sejenak duduk di kantin membuka Jawa Pos. Di situ, ada esaiku berjudul “Sejarah dan Rumah”, yang berada di bawah esai buatan Saras Dewi. Esai itu aku garap sekian hari lalu saat senja di kantin saat lelah dan keringat bikin tubuh kecut setelah seharian menyapu, mengepel, dan menjadi pelayan kantin. Beberapa hari yang lalu, aku pun mengabarkan ke teman tentang episode aku menikmati buku berisi puisi-puisi gubahan Saras Dewi. Puisi itu cukup mengesankan, sebelum Saras Dewi rajin mempersembahkan esai-esai di Kompas dan Jawa Pos.

Di lembaran berbeda, ada cerpen gubahan Agus Dermawan T. Pagi itu aku mengabarinya. Aku berteman dengannya sejak lama. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kiriman buku barunya yang diterbitkan KPG. Yang membuat kami dekat adalah urusan seni rupa dan dokumentasi kebudayaan.

Sabtu yang seru. Aku masih percaya dapat membuat tulisan-tulisan bermutu meski sadar mengalami kutukan-kutukan kebodohan. Sehari-hari, aku tetap menjadi pekerja berkeringat bersenjata sapu. Sekian menit berlalu, aku sudah harus berdiri di kantin meladeni 50-an anak yang menyerbu. Mereka mendapat istirahat 10 menit. Maka, mereka bersaing minta dibuatkan es teh, es jeruk, es susu, es macam-macam. Bagiku itu peristiwa fantastis dengan segala ketegangan dan tawa saat meladeni omongan bocah-bocah yang berdesak-desakan.

Hari menjelang siang, tiba saatnya makan nasi, pecel, tempe, bakwan, rambak disempurnakan segelas es teh. Hari yang bakal panjang, dimulai dengan anak-anak SD. Nanti berakhir pukul 23.00, edisi para mahasiswa ATMI (Solo) yang mengadakan turname. Para penyewa lapangan badminton tampak penuh di jadwal: pagi, siang, sore, dan malam.