Buku, Resensi

Dosa, Takdir, dan Belas Kasih dalam Satu Meja

Oleh: Yuditeha

Judul Buku : Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit

Penulis : Y. Agusta Akhir

Penerbit : Penerbit Lakeisha

Cetakan : Agustus 2022

Ukuran/Halaman : 14,8 cm x 21 cm, 232 Hal

ISBN : 978-623-420-295-3

Novel Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit karya Y. Agusta Akhir bukan novel berkisah secara lurus, tidak pula sibuk menjelaskan mana benar dan mana salah. Novel ini bergerak pelan di wilayah rumit, tentang bagaimana manusia menghadapi masa lalunya, bagaimana kesalahan membentuk kehidupan, dan bagaimana pengampunan sering kali jauh lebih sulit daripada hukuman.

Novel ini dibangun melalui delapan belas bab di mana judul-judulnya memakai kutipan kalimat dari bab terkait. Pilihan tersebut membuat setiap bab terasa seperti penegasan gagasan. Judul-judul itu tidak sekadar penanda peristiwa, melainkan pintu masuk menuju persoalan batin tokohnya.

Dua tokoh utama, Syalala dan Khadafi, bergerak dalam jalur cerita terpisah. Namun seiring perkembangan novel, pembaca akan melihat bahwa keduanya sedang menempuh perjalanan serupa, perjalanan menuju pengenalan diri. Mereka sama-sama dikejar sesuatu dari masa lalu. Bedanya, Syalala berlari secara harfiah, sedangkan Khadafi berlari melalui perubahan hidup yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Salah satu kekuatan novel ini, keberanian penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak mudah disukai, tetapi juga tidak mudah dibenci. Syalala adalah perempuan yang hidup dalam lingkungan keras. Ia menyandang identitas yang bisa membuat banyak orang mudah menghakiminya. Namun novel ini tidak pernah meminta pembaca merasa kasihan kepadanya. Pembaca diajak melihat bagaimana seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat tetap memiliki kemampuan memilih, menolak, menyesal, marah, dan mencintai.

Khadafi pun demikian. Ia bukan sosok suci yang membawa solusi. Masa lalunya penuh tindakan buruk. Namun novel ini memperlihatkan bahwa perubahan manusia tidak pernah berlangsung mulus. Seseorang dapat berubah tanpa sepenuhnya memahami mengapa dirinya berubah. Dalam kehidupan nyata, keadaan seperti ini sering terjadi. Tidak semua pertobatan lahir dari kesadaran utuh. Ada yang datang melalui kebingungan, kehilangan arah, bahkan melalui serangkaian peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis.

Di tengah kisah tersebut hadir sosok yang mungkin paling menarik, yaitu kehadiran Kitmir. Anjing yang dapat bicara. Ia bukan sekadar fantasi. Kehadirannya justru menjadi pusat pemikiran novel. Kitmir tidak tampil sebagai makhluk penyelesai masalah. Ia lebih menyerupai suara kebijaksanaan dari tempat tidak terduga.

Pilihan menjadikan seekor anjing sebagai pembawa banyak gagasan moral terasa penting. Dalam banyak pandangan sosial dan keagamaan, anjing sering ditempatkan pada posisi problematis. Namun novel ini membalikkan keadaan. Melalui Kitmir, dipertanyakan kembali mengenai ukuran kemuliaan. Apakah kemuliaan ditentukan oleh status, masa lalu, profesi, atau kemampuan seseorang memperlakukan sesama makhluk dengan baik?

Pertanyaan semacam itu muncul berulang kali sepanjang novel. Bahkan salah satu gagasan paling kuat adalah bahwa manusia sering kali mudah menilai dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Padahal, dalam kenyataan, banyak tindakan manusia justru lebih buruk daripada yang dilakukan binatang.

Novel ini juga menggabungkan unsur-unsur dari berbagai sumber cerita dan tradisi. Kisah tujuh pemuda penghuni gua, tokoh-tokoh religius, mimpi, surat, orang hilang, hingga percakapan tentang Tuhan hadir dalam satu ruang. Namun semuanya tidak digunakan sebagai hiasan. Unsur-unsur tersebut dipakai untuk membangun perenungan mengenai hubungan manusia dengan takdir.

Di sini takdir tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengikat. Tokoh-tokohnya tetap memiliki pilihan. Mereka tetap dapat memutuskan untuk membenci atau memaafkan, membunuh atau mengurungkan niat, lari atau menghadapi kenyataan. Karena itu, novel ini sesungguhnya lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab daripada nasib.

Hal lain yang cukup menonjol adalah cara novel memandang kejahatan. Banyak karya fiksi membagi dunia menjadi dua kubu yang jelas. Orang baik berada di satu sisi, orang jahat berada di sisi lain. Novel ini menolak pembagian semudah itu. Tokoh-tokohnya menyimpan luka, dendam, kesalahan, dan penyesalan dalam kadar berbeda-beda.

Dari situ lahir gagasan cukup tajam, bahwa kejahatan sering kali tidak hadir dalam bentuk monster. Ia bisa muncul dari manusia biasa. Seseorang dapat melakukan tindakan buruk sambil tetap meyakini dirinya benar. Sebaliknya, seseorang yang dianggap buruk oleh masyarakat belum tentu kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.

Karena itu tema pengampunan menjadi sangat penting dalam novel ini. Namun pengampunan itu bukan pengampunan sentimental. Novel ini tidak menganggap semua kesalahan dapat dihapus begitu saja. Yang ditawarkan adalah kesadaran bahwa dendam tidak selalu mampu menyelesaikan derita.

Menarik pula melihat bagaimana api digunakan sebagai simbol dalam judul novel. Api biasanya identik dengan hukuman, kemarahan, atau penghancuran. Namun dalam novel ini, api menjadi lambang pergulatan batin. Api tidak hanya membakar sesuatu di luar diri manusia, tetapi juga membakar pikiran, kenangan, rasa bersalah, dan keinginan untuk membalas.

Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit bukan novel tentang pelarian, pembunuhan, atau misteri identitas. Semua itu hanya permukaan. Di bawahnya terdapat pertanyaan besar, apakah manusia dapat benar-benar berubah, dan jika bisa, apa yang harus dilakukan terhadap dosa-dosa yang telah terlanjur terjadi?

Novel ini tidak memberikan jawaban tunggal. Ia memilih membiarkan pertanyaan itu tetap hidup sampai halaman terakhir, dan itu menjadi kekuatannya. Pembaca tidak selesai hanya dengan mengetahui apa yang terjadi kepada para tokohnya. Pembaca didorong untuk memikirkan kembali bagaimana dirinya sendiri memandang kesalahan, hukuman, belas kasih, dan kesempatan kedua. Dalam dunia yang semakin gemar menghakimi dengan cepat, barangkali itulah nyala api yang paling lama bertahan dari novel ini.***

____________________

Yuditeha. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Dunia Menulis

Mengasah Pikir, Menyapa Dunia

Oleh Yuditeha

Pelatihan menulis, seringkali hanya dipandang sebatas jalan pintas untuk menjadi penulis profesional. Namun, jika kita menggali lebih dalam, belajar menulis bukan sekadar memburu profesi. Keterampilan menulis memiliki nilai yang jauh melampaui cita-cita untuk menjadi penulis. Ia alat berpikir, medium komunikasi, dan jembatan untuk mengubah gagasan menjadi aksi.

Banyak orang berpikir pelatihan menulis ditujukan untuk mencetak pernyair, cerpenis, novelis, jurnalis, atau esais. Padahal, menulis adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan hampir di semua bidang kehidupan. Ambil contoh seorang insinyur yang brilian tetapi kesulitan menulis laporan teknis yang jelas, atau seorang akademisi yang gagal menuangkan gagasan ilmiahnya dalam bentuk artikel jurnal. Ketidakmampuan menulis dapat menjadi penghambat yang signifikan, terlepas dari seberapa dalam keahlian seseorang di bidang tertentu.

Dalam pelatihan menulis, peserta diajarkan tidak hanya untuk menghasilkan karya tulisan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan berpikir sistematis. Menulis memaksa kita untuk menyusun gagasan secara logis, membedakan mana yang relevan dan mana yang tidak, serta menyampaikan pesan dengan cara yang efektif. Bahkan jika peserta tidak pernah menerbitkan satu buku pun, kemampuan ini tetap akan bermanfaat.

Penulis dan filsuf Prancis, Michel de Montaigne, pernah berkata, “Saya menulis untuk mengetahui apa yang saya pikirkan.” Menulis tidak hanya mencerminkan pemikiran kita, tetapi juga membantu kita memproses dan memperjelasnya. Dalam proses menulis, sering kali kita menemukan wawasan baru yang sebelumnya tersembunyi dalam pikiran kita.

Pelatihan menulis dapat menjadi ruang bagi peserta untuk menjelajahi ide yang kompleks, baik itu tentang diri sendiri maupun dunia di sekitarnya. Latihan menulis cerita, misalnya, dapat membantu seseorang memahami emosi, sementara menulis esai dapat memperdalam pemahaman tentang topik tertentu. Proses ini tidak hanya mendukung pengembangan intelektual, tetapi juga kesehatan mental.

Keterampilan menulis dapat membuka peluang di berbagai bidang. Seorang dokter yang mampu menulis artikel populer tentang kesehatan akan lebih mudah menjangkau masyarakat luas. Seorang pengusaha yang piawai menulis proposal akan lebih mungkin mendapatkan dukungan investor. Bahkan di era media sosial, kemampuan menulis konten yang menarik dan informatif menjadi salah satu kunci kesuksesan.

Di sinilah pentingnya pelatihan menulis yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pada tujuan dan audiens. Peserta diajarkan untuk menyesuaikan gaya menulis mereka dengan kebutuhan spesifik, seperti menulis untuk publikasi ilmiah, konten pemasaran, atau narasi kreatif.

Menulis adalah bentuk komunikasi yang paling inklusif. Tidak peduli latar belakang sosial, usia, atau pendidikan seseorang, menulis memberikan ruang untuk menyuarakan pendapat. Dalam pelatihan menulis, peserta dari berbagai latar belakang dapat saling berbagi perspektif, menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman gagasan.

Selain itu, pelatihan menulis juga bisa menjadi alat pemberdayaan. Banyak komunitas yang menggunakan menulis sebagai cara untuk memperjuangkan hak mereka, mulai dari kampanye lingkungan hingga advokasi sosial. Dengan keterampilan menulis, mereka dapat menyampaikan pesan dengan lebih meyakinkan dan berdampak.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pelatihan menulis akan langsung menghasilkan karya besar. Padahal, menulis adalah proses panjang yang membutuhkan latihan berulang dan umpan balik konstruktif. Pelatihan menulis bukanlah janji instan, tetapi investasi jangka panjang dalam keterampilan yang terus berkembang.

Di sisi lain, beberapa orang merasa bahwa menulis adalah bakat bawaan, sehingga pelatihan tidak akan banyak membantu. Pandangan ini keliru. Seperti keterampilan lainnya, menulis dapat dipelajari dan ditingkatkan. Bahkan penulis besar seperti Ernest Hemingway dan Virginia Woolf mengakui bahwa mereka terus belajar sepanjang hidup mereka.

Salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan pelatihan menulis adalah dengan mengintegrasikan menulis ke dalam rutinitas sehari-hari. Tidak perlu menunggu inspirasi besar; cukup mulai dengan menulis catatan singkat, jurnal harian, atau refleksi sederhana. Semakin sering seseorang menulis, semakin mudah baginya untuk menyusun gagasan dan menemukan suaranya sendiri.

Pelatihan menulis juga dapat membantu seseorang mengenali keunikan gaya mereka. Dalam dunia yang dipenuhi standar dan format, menemukan suara otentik adalah salah satu pencapaian terbesar seorang penulis, baik ia seorang novelis, ilmuwan, atau aktivis.

Di era digital, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Komunikasi melalui teks, baik itu dalam email, laporan, atau media sosial, mendominasi kehidupan kita. Dalam konteks ini, pelatihan menulis tidak hanya relevan tetapi juga mendesak. Ia membantu kita berkomunikasi dengan lebih jelas, meyakinkan, dan manusiawi.

Menulis juga dapat menjadi warisan yang kita tinggalkan. Entah itu dalam bentuk buku, artikel, atau sekadar catatan pribadi, tulisan adalah jejak pemikiran kita yang bisa diakses oleh generasi mendatang. Dengan menulis, kita tidak hanya berbicara kepada orang-orang di sekitar kita, tetapi juga kepada masa depan.

Pelatihan menulis bukanlah tentang mencetak penulis profesional semata. Ia adalah upaya untuk mengasah kemampuan berpikir, menyampaikan ide, dan berkomunikasi dengan dunia. Menulis adalah keterampilan yang relevan untuk siapa saja, di bidang apa saja. Jadi, jika Anda ragu untuk mengikuti pelatihan menulis karena merasa tidak ingin menjadi penulis, pikirkan lagi. Menulis adalah tentang menjadi versi terbaik dari diri Anda, dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan.***

Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Samping

JEJAK JALAN PULANG

Ada orang yang tampak seperti benteng. Tegak, tenang, dan selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan hidup orang lain. Mereka bisa menafsirkan rumus rumit, membaca arah bintang, atau menulis teori yang membuat dunia bertepuk tangan. Tapi ketika malam datang dan cermin memantulkan wajah sendiri, tiba-tiba semua pengetahuan itu hilang daya. Segala hal yang dikuasainya ternyata tidak cukup untuk menenangkan badai kecil dalam dada.

Kita sering melihat mereka tersenyum di ruang kerja, tampil percaya diri di panggung, atau bercanda dengan lincah di tengah keramaian. Tapi senyum itu sering kali seperti cat tipis yang menutupi tembok retak. Mereka pandai menghibur orang lain, padahal setiap tawa adalah bentuk paling lembut dari perlawanan terhadap sepi yang terus menguntit. Ironinya, yang paling tampak kuat justru sering paling takut jatuh, sebab mereka tahu: kalau mereka roboh, tak ada siapa pun sanggup menampung reruntuhannya.

Ada yang menyembunyikan luka dengan bekerja tanpa henti, seperti ingin menenggelamkan diri dalam jadwal padat agar tak sempat memikirkan rasa sakit. Ada yang menertawakan segalanya, bukan karena bahagia, tapi karena tawa adalah senjata terakhir sebelum air mata. Ada pula yang tampak dingin dan logis, padahal itu hanya cara bertahan supaya tak perlu merasakan apa pun. Orang menyebut kekuatan mental. Padahal kadang itu cuma nama lain dari lelah yang dipoles rapi.

Kita hidup di zaman yang memuja ketangguhan. Semua orang ingin terlihat kuat, produktif, dan rasional. Kita memotret diri dengan caption bijak, menulis status seolah sudah menaklukkan hidup, padahal yang kita taklukkan baru topeng kita sendiri. Kita melatih otak untuk berpikir cepat, tapi lupa melatih hati untuk merasa pelan. Kita bisa memecahkan algoritma rumit, tapi tak bisa menjelaskan kenapa dada terasa sesak saat melihat orang yang pernah menyakiti kita tampak baik-baik saja.

Mungkin itulah bentuk ironi paling halus dari manusia modern: terlalu cerdas untuk dunia, tapi terlalu kikuk untuk diri sendiri. Kita bisa menjelaskan teori gravitasi, tapi tak tahu bagaimana caranya melepaskan seseorang. Kita hafal cara kerja semesta, tapi tak paham kenapa kehilangan bisa membuat napas terasa terhenti.

Beberapa luka memang tak perlu dramatis. Kadang hanya berupa kalimat tak pernah diucapkan, pelukan yang ditahan terlalu lama, atau kehadiran yang tiba-tiba hilang tanpa pamit. Dan orang-orang pandai itu tahu: tak ada rumus yang bisa menyembuhkan kehilangan, karena rasa sakit tidak tunduk pada logika. Ia hanya bisa ditanggung, dipeluk, atau jika sudah terlalu berat ditertawakan seadanya.

Ada yang mencoba menulis, berpikir dengan pena dan tinta, mengubah duka menjadi diksi. Mereka tak tahu apakah itu penyembuhan atau pelarian. Tapi setidaknya, dengan menulis, mereka masih bisa berdialog dengan diri sendiri tanpa harus terlihat lemah di mata dunia. Sebab di dunia nyata, terlihat rapuh sering dianggap cacat karakter, padahal justru di situlah letak kemanusiaan paling murni.

Lucunya, kita semua tahu kebenaran itu, tapi tetap berpura-pura tidak tahu. Kita saling memberi nasihat untuk ikhlas, move on, positive thinking, seolah hati adalah mesin yang bisa diatur dengan tombol. Padahal di balik semua motivasi itu, banyak di antara kita sedang menahan napas agar tidak pecah di tempat umum. Kita sibuk menolong orang lain yang menangis, sambil diam-diam menunggu ada seseorang yang mau menolong kita juga.

Kita bisa mengurai benang kusut, tapi benang kusut di dalam hati sendiri dibiarkan saja hingga nyesek. Kisah seperti ini ada di mana-mana. Kisah tentang trauma yang memilih untuk diam, bersembunyi di balik tawa renyah, di balik kecerdasan, atau bahkan di balik sikap arogan yang seolah tak tersentuh.

Tentu saja masalah ini juga banyak dikisahkah (di film), salah satunya Good Will Hunting (1997). Sebuah perjalanan ke dalam labirin pikiran seorang jenius yang tersesat, Will yang diperankan oleh Matt Damon. Bukan tersesat di hutan belantara, melainkan di dalam dirinya sendiri. Film ini dengan lugas menunjukkan bahwa seorang individu bisa memiliki IQ setinggi langit, mampu memecahkan persamaan paling rumit, namun pada saat itu, ia tak berdaya di hadapan luka batin yang mengakar dari masa lalu. Ia membangun tembok arogansi, kecurigaan, dan sikap defensif untuk melindungi dirinya dari kemungkinan luka baru. Dia menolak kebaikan, meremehkan orang lain, dan menyabotase hubungannya sendiri. Hal ini bukan karena ia jahat, melainkan karena ia takut.

Seorang tukang bersih-bersih di universitas paling bergengsi di dunia, bisa memecahkan soal matematika terumit, soal yang membuat para profesornya nyaris frustrasi, tapi tak punya keberanian untuk memecahkan persoalan paling sederhana: hidupnya sendiri. Hal seperti ini sesungguhnya bukan cuma kisah Will Hunting, tapi juga kisah kita semua. Trauma masa lalu membuatnya secara otomatis melihat setiap niat baik sebagai ancaman. Ini adalah mekanisme umum terkait pertahanan diri, di mana otak, sebagai upaya untuk melindungi kita dari rasa sakit, membuat kita menjauh dari apa pun.

​Di sinilah peran penting Dr. Sean Maguire muncul. Ia bukan hanya seorang terapis, melainkan representasi dari pendekatan holistik dalam penyembuhan. Sean tidak mencoba memecahkan Will seperti soal matematika. Ia tidak menggunakan teori buku teks untuk menyembuhkan Will. Sebaliknya, ia menggunakan empati, kejujuran, dan paling krusial, rasa kemanusiaan yang setara. Ia tahu betul bahwa hidup tidak bisa dipelajari dari buku-buku tebal, melainkan harus dirasakan. Momen krusial di film, saat Sean mengatakan, It’s not your fault, adalah manifestasi dari pemahaman bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari analisis, tetapi dari pengakuan dan penerimaan. Kalimat sederhana itu memutus lingkaran rasa bersalah yang telah mengikat Will selama ini.

​Ada sebuah sindiran tajam dari Dr. Sean kepada Will, yang selama ini hanya membaca buku dan tak pernah benar-benar hidup. Will, yang tahu banyak tentang teori seni, politik, bahkan perang, disamakan dengan seorang turis yang hanya melihat pemandangan dari balik jendela mobil. Ia bisa menjelaskan lukisan karya Michelangelo, tapi ia tak tahu rasanya jatuh cinta, rasanya mencium aroma rambut kekasih, atau rasa sakit saat hati hancur berantakan. Ini adalah sebuah satir menohok tentang betapa kita sering kali hanya menjadi penonton dalam hidup kita sendiri. Kita terlampau sibuk mengumpulkan pengetahuan yang tercerai-berai, hingga lupa bahwa pengalaman, perasaan, dan keberanian untuk hidup apa adanya adalah ilmu paling berharga.

​Film ini juga dengan indah menggarisbawahi makna persahabatan yang tulus. Persahabatan antara Will dan Chuckie, yang diperankan apik oleh Ben Affleck, adalah potret persahabatan yang tulus tanpa pamrih. Ketika Chuckie mengucapkan harapannya agar Will pergi dan tidak lagi menunggunya setiap pagi, itu adalah sebuah pernyataan cinta yang paling tulus. Cinta yang tidak egois. Ia rela kehilangan sahabatnya demi melihat Will terbang tinggi, mewujudkan potensi yang selama ini ia sembunyikan. Itu adalah sebuah satir menohok, bahwa sering kali, orang-orang yang paling mencintai kita justru adalah mereka yang rela melepaskan kita pergi.

​Good Will Hunting mengajarkan satu hal paling penting: kebahagiaan sejati tidak datang dari penguasaan teori-teori rumit, tapi dari keberanian untuk menguasai diri sendiri. Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayangan masa lalu yang menyakitkan. Ada saatnya kita harus berani menghadapi trauma, membuka diri, dan menyadari bahwa di balik semua luka, kita tetap berharga dan layak untuk dicintai. Kita boleh saja jatuh, kita boleh saja merasa bersalah, tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita terus-menerus terkurung oleh kesalahan yang bahkan mungkin bukan kesalahan kita. Film ini adalah pengingat yang begitu indah dan jenaka, bahwa hidup bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dipecahkan, tapi sebuah perjalanan untuk menemukan diri, yang sering kali, dimulai dengan satu langkah sederhana: menerima kenyataan bahwa kita manusia, dan tak apa-apa jika terluka.

Barangkali hidup memang selalu menawarkan ruang-ruang ganjil seperti itu. Tempat di mana yang tampak tangguh sedang berjuang mati-matian agar tidak remuk. Tempat di mana orang paling cerdas justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Tempat di mana kita semua sedang berusaha pulang, meski lupa di mana alamatnya.

Pulang, bukan ke rumah, bukan ke seseorang, tapi ke dalam diri sendiri yang dulu pernah sederhana: yang bisa tertawa tanpa alasan, menangis tanpa malu, mencintai tanpa takut kehilangan. Pulang ke masa ketika kita belum perlu pura-pura kuat hanya supaya dunia tidak khawatir.

Mungkin itu sebabnya luka-luka yang disembunyikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: menjadi kerja keras, menjadi prestasi, menjadi tawa yang terlalu keras, menjadi kepandaian yang mengagumkan. Semua itu hanyalah cara kita mencari ketenangan.

Dan barangkali, sesekali kita perlu melihat dari samping, menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah rapuh, tapi berani mengakui bahwa kita memang sedang retak, dan tetap melangkah dengan retakan itu. Karena dari sana cahaya biasanya masuk, pelan-pelan, tak terduga. Sebuah cahaya kecil yang menuntun kita, diam-diam, menuju jejak jalan pulang.

____________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Samping

JEJAK ALIH FUNGSI

Tengoklah ke sekeliling, di kamar atau ruang kerjamu. Ada berapa banyak benda yang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak buku hanya jadi hiasan, berapa banyak pulpen sekadar untuk mengganjal pintu, atau berapa banyak kursi difungsikan sebagai gantungan baju? Ini bukan soal kemalasan, tapi soal cara kita, mendefinisikan ulang makna sebuah benda.

​Kita hidup di antara ironi. Sesuatu diciptakan dengan fungsi spesifik, dengan desain yang matang dan tujuan jelas, namun tak jarang kita alih fungsikan sesuai kehendak dan kebutuhan paling remeh. Ambil contoh, sepasang sepatu mahal yang dibeli dengan penuh harap, tapi berakhir sebagai alas kaki untuk menyiram tanaman di pekarangan. Nilai estetika dan fungsinya menjadi luntur, tergantikan oleh kebutuhan pragmatis, jauh dari tujuan aslinya. Sepatu itu tak lagi tentang berjalan jauh atau bergaya, melainkan tentang menghindari tanah becek. Bukankah ini sedikit menyedihkan sekaligus menggelitik? Ada semacam satir di sana: kita memuliakan benda, namun di waktu bersamaan kita merendahkannya.

​Perilaku ini, jika diurai lebih dalam, bukan sekadar soal malas atau tidak rapi. Ada semacam refleksi filosofis di dalamnya. Manusia, dalam perjalanannya, sering kali menciptakan sistem dan aturan sendiri, namun juga tak henti-hentinya mencari celah untuk membengkokkan aturan itu. Menggunakan benda di luar fungsinya adalah pernyataan perasaan dari pemberontakan tersebut. Ini penekanan halus bahwa kita, punya kuasa lebih besar dari sang pembuat. Kita tidak hanya mengonsumsi, tapi juga mendefinisikan ulang. Di situlah letak jenakanya. Senyum kecil muncul saat kita melihat sebuah sendok dipakai untuk membuka tutup botol, atau sebuah remot TV dijadikan alat pemijat jari. Ini bukti bahwa kreativitas, dalam bentuk paling sederhana, selalu menemukan jalannya.

​Di dunia fiksi pun banyak terjadi hal seperti itu. Dalam konteks novela Rumah Kertas, karya Carlos Maria Dominguez,alih fungsi buku melampaui sekadar ironi. Ini pernyataan politis tentang cara pengetahuan dapat ditundukkan dan dimanipulasi. Buku, seharusnya menjadi alat pembebasan pikiran, malah diubah menjadi alat penindasan fisik. Pengetahuan, seharusnya terbuka, kini menjadi penghalang hingga mengisolasi karakter dari dunia luar. Contoh ini menunjukkan bagaimana hal-hal paling fundamental dalam hidup—pengetahuan—bisa jadi tidak diakses sebagaimana mestinya, justru oleh wujud fisiknya sendiri. Ironi di sini bukan lagi sekadar menggelitik, melainkan tajam dan menyakitkan, menggambarkan bagaimana sumber kebenaran bisa menjadi penjara bagi pemiliknya.

​Menggunakan benda di luar fungsinya adalah seni adaptasi tak disengaja. Wujud nyata dari kreativitas naluriah untuk menolak batasan, menunjukkan bahwa manusia makhluk sangat fleksibel. Tindakan-tindakan ini tidak lahir dari perencanaan matang, melainkan dari kebutuhan mendesak, mendorong otak kita untuk berpikir di luar kotak. Fenomena ini juga menyiratkan tentang ekonomi emosional dari sebuah benda. Saat kita mengalihfungsikan benda sering kali memiliki nilai sentimental atau sudah usang. Kita memberi mereka kehidupan kedua, sebuah kesempatan untuk tetap berguna, meskipun dalam bentuk berbeda. Ini bukti bahwa hubungan kita dengan benda tidak hanya fungsional, tetapi juga emosional dan historis.

​Perilaku ini semacam refleksi dari sifat pragmatis manusia tak pernah padam. Kita tidak selalu butuh alat sempurna; kita hanya butuh solusi yang berhasil. Sebuah botol minuman dipakai untuk penumbuk bumbu, atau sebuah peniti menjadi alat pembuka kemasan, adalah manifestasi dari prinsip apa pun yang ada di tangan. Ini pelajaran sederhana namun mendalam: bahwa kebahagiaan dan efisiensi seringkali tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan kita untuk memanfaatkan apa yang kita miliki. Dalam ketidaksesuaian itu, kita menemukan kebebasan, humor, dan yang paling penting solusi.

​Kembali ke hidup sehari-hari, hal remeh berbicara banyak tentang cara kita menjalani hidup di era digital. Kita punya smartphone canggih, tapi hanya kita gunakan untuk bermain gim atau sekadar menggulir media sosial. Kita punya aplikasi catatan, tapi lebih sering kita pakai untuk membuat daftar belanjaan yang tak pernah kita beli. Kemajuan teknologi seringkali tidak kita gunakan untuk memberdayakan diri, melainkan untuk melarikan diri dari realitas.

​Namun, di balik semua ironi, ada juga keindahan. Hal itu bukti adaptasi, bukti kreativitas, dan bukti bahwa hidup tidak selalu harus kaku dan sesuai aturan. Esensi dari menulis, yang relevan dengan zaman, adalah menangkap momen-momen remeh itu dan mengungkapkannya dengan kejernihan.

​Menulis bukan lagi soal menggurui, melainkan soal menyajikan sebuah cermin. Cermin yang memantulkan perilaku kita, kebiasaan kita, dan ironi-ironi kecil yang kita ciptakan sendiri. Tulisan bagus adalah yang bisa membuka mata tanpa terasa menghakimi. Mengungkap hal-hal menggelitik, seperti sepasang sepatu menjadi alas menyiram tanaman, atau sebuah pulpen untuk mengganjal pintu, agar kita tersadar: bahwa dalam hal remeh, kita sering menemukan esensi paling hakiki dari kehidupan itu sendiri.

​Maka, inilah perlunya sesekali melihat sesuatu dari samping. Mungkin makna sebuah benda bukan apa yang diciptakan untuknya, melainkan apa yang kita lakukan dengannya. Dan terkadang, ironi adalah semacam cara untuk memahami kebenaran. Jadi, saat melihat pulpenmu dijadikan untuk mengganjal pintu, tersenyumlah. Ada kisah lebih dalam dari sekadar fungsi. Ada sebuah ironi kecil yang menawan.

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Samping

JEJAK SENYUM

​Di antara sekian banyak ekspresi yang dimiliki manusia, senyum adalah yang paling paradoksal. Ia begitu remeh, sekadar tarikan otot di sudut bibir, namun ia mampu membawa makna lebih berat dari kata-kata. Kita memberikannya pada orang asing di jalan, pada pelayan di kafe, atau pada teman lama yang tak sengaja kita jumpai. Senyum bisa menjadi salam, permohonan maaf, atau bahkan senjata paling mematikan. Ia mata uang universal yang berlaku di setiap budaya, tak peduli bahasa atau keyakinan. Namun, di balik keremehannya, senyum menyimpan sejarah dan ironi yang tak pernah kita sadari.

​Secara filosofis, senyum adalah cerminan dari kompleksitas manusia. Ia bisa menjadi topeng sempurna, menyembunyikan badai dalam hati saat kita berhadapan dengan dunia. Kita tersenyum saat menerima kabar buruk, saat hati kita hancur, atau saat kita merasa sangat lelah. Senyum semacam ini bukan tentang kebahagiaan, melainkan tentang ketahanan. Ia pernyataan bisu bahwa “Saya baik-baik saja,” meskipun alam semesta terasa runtuh. Betapa ironisnya, sebuah ekspresi yang seharusnya melambangkan sukacita justru sering kita gunakan untuk membohongi orang lain—dan yang paling parah, membohongi diri sendiri. Senyum palsu adalah salah satu pilar utama peradaban modern, sebuah keharusan sosial yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, apa pun yang terjadi di balik layar.

​Ada juga senyum jenaka dan menyindir, yang tak pernah kita temukan di buku-buku psikologi. Senyum ini seringkali muncul di wajah para pengamat yang bijaksana, yang melihat kekacauan di sekitarnya dan hanya bisa tersenyum. Senyum itu campuran sarkasme dan kepasrahan. “Lihatlah,” katanya, “betapa lucunya manusia dengan semua keseriusan dan ambisi kosong.” Senyum ini bentuk perlawanan pasif, sebuah cara untuk tidak terlalu peduli pada kekonyolan dunia tanpa harus berteriak atau melawan. Ia adalah kebijaksanaan yang tersembunyi, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang juga pernah merasakannya.

​Namun, di antara semua senyum itu, ada satu yang paling murni dan paling langka: senyum yang muncul dari hal-hal kecil. Senyum yang muncul saat kita menemukan uang di saku jaket lama, saat kita mencium bau hujan pertama, atau saat kita melihat kucing tidur dengan posisi lucu. Senyum ini tidak direkayasa, tidak memiliki agenda tersembunyi. Ia adalah senyum kejutan yang muncul begitu saja, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati seringkali berada di luar rencana besar kita, tersembunyi dalam momen-momen yang paling remeh. Senyum inilah yang membuat kita terharu, karena ia adalah bukti bahwa di tengah segala kesulitan, masih ada hal-hal kecil yang bisa membuat hati kita hangat.

​Di dunia fiksi, senyum sering kali digunakan penulis untuk menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat. Ia bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan simbol yang punya bobot naratif. Di sini, kita akan melihat bagaimana senyum dapat menjadi pilar utama sebuah cerita, tanpa harus menjadi obyek fisik yang bisa disentuh.

​Ambil contoh cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Cerita ini sangat sederhana, namun ironi yang disajikannya begitu tajam. Tokoh utamanya, Karyamin, seorang kuli miskin yang hidupnya dipenuhi penderitaan. Namun, ketika ia jatuh dan mengalami kesialan, ia tidak menangis atau mengeluh—ia justru tersenyum. Senyum itu tidak datang dari kebahagiaan, melainkan dari sebuah bentuk penerimaan. Puncaknya, senyum itu ia berikan kepada Pak Pamong yang meminta sumbangan untuk orang-orang kelaparan di Afrika, sebuah ironi yang begitu menusuk hati, karena Karyamin sendiri berada di ambang kelaparan. Di sinilah senyum menjadi metafora yang kuat: ia adalah perlawanan yang sunyi, sindiran yang tak terucapkan, dan cerminan dari kepasrahan yang mendalam. Karyamin tersenyum karena ia telah melewati batas penderitaan, dan yang tersisa hanyalah sebuah ironi pahit yang hanya bisa ia sambut dengan senyuman.

​Lalu, bila hal ini dikaitan dengan menulis di era sekarang, apa esensinya? Menulis yang relevan adalah menulis yang mampu membongkar makna tersembunyi dari hal-hal yang paling remeh. Di tengah gempuran narasi besar dan sensasional, seorang penulis yang baik harus mampu melihat dan mengartikan keajaiban dalam detail-detail kecil. Sama seperti seorang seniman yang bisa menciptakan karya besar dari sebuah titik kecil, penulis juga harus bisa menemukan cerita yang beresonansi dari sebuah senyum, dari sebuah tatapan, atau dari sebuah keheningan.

​Menulis adalah seni untuk mengungkap apa yang tersembunyi. Mengajak pembaca untuk melihat sesuatu yang bisa jadi dari samping. Mengapa Karyamin tersenyum? Pertanyaan itu lebih penting daripada mengapa ia lapar. Karena di dalam pertanyaan itu, ada kemanusiaan, ada tragedi, dan ada perlawanan. Penulis yang mampu membuat pembaca tergelitik untuk bertanya tentang hal remeh seperti itu, berarti ia telah berhasil. Ia telah membuka mata pembaca untuk melihat bahwa di balik setiap gerak bibir, di balik setiap kata yang tidak terucap, ada seluruh alam semesta yang menunggu untuk dijelajahi.

​Mungkin, saat kita membaca ini, kita akan tersenyum. Mungkin senyum itu adalah senyum Karyamin, senyum yang muncul dari sebuah pemahaman. Atau mungkin, itu adalah senyum yang muncul karena kita sadar, bahwa selama ini, kita juga telah menjalani hidup dengan senyum-senyum yang remeh namun penuh makna. Entah itu senyum kesabaran, senyum kepasrahan, atau senyum karena menemukan uang di saku jaket. Dan itulah keindahan dari hal-hal remeh: mereka tidak pernah benar-benar remeh. Mereka adalah bagian dari siapa kita, dan siapa kita di mata dunia.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Samping

JEJAK LUKA TANPA KELUH

​Di sebuah sudut jalan, kita sering berpapasan dengan orang yang tampaknya biasa saja. Pakaiannya tak mencolok, langkahnya teratur, dan sorot matanya seperti kosong, serupa lukisan yang belum selesai diwarna. Mereka mungkin bekerja sebagai pedagang asongan yang menjajakan rokok, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan di bawah terik matahari. Mereka bukan pahlawan super, juga bukan tokoh utama dalam drama yang kita tonton. Mereka hanya orang-orang yang, entah bagaimana, berhasil menelan penderitaan dengan senyum tipis.

​Hidup mereka lekat dengan serangkaian badai yang tak berkesudahan. Suatu hari, mereka bangun dengan kabar rumah kontrakan harus dikosongkan. Esok harinya, anak mereka jatuh sakit, biaya rumah sakit melambung, sementara tabungan sudah lama kering. Saat mereka berusaha bangkit, motor satu-satunya mogok. Setiap kali mereka mengira sudah mencapai dasar, ada saja yang menendang lebih dalam. Namun, keajaibannya, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak menumpahkan amarah di media sosial, tidak mengadu pada siapa pun, bahkan pada diri sendiri. Mereka hanya menjalani, seolah semua itu bagian dari kurikulum wajib yang harus diselesaikan.

​Ironi yang paling menyakitkan adalah bagaimana masyarakat memandang mereka. Kita sering melihat keuletan itu sebagai inspirasi. “Lihat, dia begitu kuat! Masalahnya bertubi-tubi, tapi tetap tegar!” Kita mengagumi mereka, memotret mereka, lalu mengunggahnya dengan tagar #motivasi atau #inspirasipagi. Kita seakan lupa bahwa apa yang kita anggap ketegaran mungkin bentuk mati rasa, sebuah mekanisme pertahanan yang tercipta dari luka yang sudah terlalu banyak. Bukan mereka kuat, hanya sudah terlalu lelah untuk berteriak. Mungkin mereka tidak lagi menangis, karena air mata sudah habis terkuras.

​Di balik senyumnya yang tidak menuntut, ada lelucon tragis. “Kenapa kamu tidak mengeluh?” tanya kita, dengan nada kagum yang tulus. “Untuk apa?” jawab mereka, sambil tertawa kecil. “Mengeluh tidak akan membuat harga sembako turun, juga tidak akan membuat anak saya sembuh.” Jawaban itu, sederhana namun menohok, bentuk sindiran paling jenaka sekaligus pedih. Kita, yang sering mengeluhkan hal sepele, seperti lambatnya koneksi internet atau kopi kurang panas, tiba-tiba merasa malu. Mereka mengajari kita, tanpa disadari, tentang proporsi penderitaan yang sesungguhnya.

​Fenomena ini cermin tajam bagi kehidupan modern. Kita hidup di era di mana setiap orang punya panggung untuk mengeluh. Media sosial adalah etalase kesedihan, tempat di mana kita memamerkan luka-luka, berharap mendapat empati dan validasi. Kita menganggap penderitaan kita begitu unik, begitu spesial, sehingga harus diabadikan dalam bentuk utas atau status. Sementara, di dunia nyata, banyak orang menggendong beban jauh lebih berat tanpa pernah mengunggahnya. Mereka adalah bayangan bergerak di antara kita, membisikkan kebenaran yang tidak kita inginkan: bahwa kadang, yang paling menderita adalah mereka yang paling diam.

​ Kisah tentang orang-orang yang terlunta-lunta tanpa keluh juga banyak dalam karya sastra, salah satunya dapat kita temukan di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana ada tokoh Srintil. Penderitaan hidupnya datang bertubi-tubi. Dari kecil ia sudah kehilangan orangtua. Lalu harus menerima nasib sebagai ronggeng, yang dianggap rendah dan menjadi objek eksploitasi. Masalah belum berhenti sudah terseret dalam huru-hara politik yang membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan segalanya.

​Namun, Srintil tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang meratapi nasib dengan tangisan atau keluhan panjang. Ia tidak mencari simpati. Penderitaannya seolah sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Ia terus berjuang, mencoba mencari jati dirinya yang hilang di tengah kehancuran. Tohari tidak membuat cerita ini jadi melodrama yang menguras air mata. Ia justru menyajikan kisah Srintil dengan gaya dingin dan realistis, seakan ingin menunjukkan bahwa penderitaan sebesar apa pun bisa menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Ini sindiran tajam tentang bagaimana penderitaan bisa membuat orang menjadi mati rasa atau, lebih tepatnya, menjadikan ketabahan sebagai satu-satunya pilihan.

​Maka, apa esensi menulis di zaman yang serba digital ini? Mungkin, bukan lagi tentang mencipta cerita yang sensasional, melainkan tentang merekam cerita nyata, yang sering terlewatkan. Menulis bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi tentang keberanian untuk melihat, mendengar, dan menghormati keheningan di balik penderitaan. Kita harus menulis tentang mereka yang tidak bisa menulis kisah mereka sendiri, tentang para penderita yang tidak ingin menjadi pahlawan.

​Ada senyum kecil berselimut haru, ketika kita menyadari bahwa orang-orang yang paling kita kagumi mungkin orang yang paling hancur, kita akan tersentak. Kita mengira mereka kuat, padahal hanya pandai menyembunyikan kerapuhan. Kita mengira mereka bahagia, padahal hanya sudah terbiasa sedih. Senyum mereka bukan tanda kebahagiaan, melainkan tanda bahwa mereka telah menerima nasib buruk sebagai teman seperjalanan.

​Mungkin sesekali kita perlu menyimak dari samping, bukan untuk melihat siapa paling sering mengeluh, melainkan untuk melihat siapa paling sering tersenyum di tengah badai. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik wajah yang datar, ada ribuan cerita yang tidak pernah terucap, air mata yang tidak pernah tertumpah. Dan mungkin, keindahan sejati dari hidup terletak pada kemampuan kita untuk menanggung beban tanpa harus membebani orang lain.

​Penderitaan, pada akhirnya tidak selalu butuh suara, kadang hanya butuh keheningan. Dan mereka yang memilih diam, yang terus berjalan meski lututnya sudah lemas, adalah monumen hidup yang harus kita hargai. Mereka mengajarkan kita bahwa satu-satunya cara bertahan dengan menjadikan jejak luka tanpa keluh. Dan kita, sebagai manusia yang masih bisa memilih, harus belajar untuk membaca jejak-jejak itu.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Samping

MENYENTUH JEJAK DEBU

Di tengah hiruk pikuk hidup, ada kalanya kita menemukan diri sendiri terdiam di depan kandang ayam, merenungi butiran pakan jatuh ke tanah. Atau, mungkin, kita terpaku pada pantulan diri di jendela, jari-jari kita tanpa sadar menyentuh jejak debu, seolah ada rahasia tak terucap. Ini bukan sekadar momen kosong, melainkan jeda yang sengaja kita ciptakan, pelarian yang sering kali kita sadari. Kita melakukannya bukan karena membenci manusia, melainkan kita butuh ruang untuk bernapas, ruang yang tidak menuntut, tidak menghakimi, dan tidak pernah berkhianat.

​Fenomena ini sebuah paradoks. Di satu sisi, ada pembelaan halus, sebuah narasi yang kita ciptakan sendiri: “Aku lebih baik menghabiskan waktu dengan merawat tanaman daripada melampiaskan amarah pada anakku.” Ini tindakan protektif, cara untuk menjaga diri dan orang-orang terdekat dari sisi gelap kita. Memilih untuk menyalurkan energi pada benda mati atau makhluk yang lebih sederhana, karena interaksi dengan mereka terasa aman, tanpa risiko, dan minim drama. Mereka tidak akan mengkhianati, tidak akan ada perberdebatan. Gawai tidak akan pernah memarahi kita, dan tanaman tidak akan mempertanyakan keputusan hidup kita.

​Namun, di sisi lain, ada kenyataan yang lebih getir: terkadang, apa yang kita pikir pelarian, sebenarnya pengalihan. Kita menjadi begitu mahir mencintai hal yang tidak bisa membalas, hingga kita lupa bagaimana mencintai sesama manusia. Cinta kita kepada gawai, kendaraan, atau hewan peliharaan menjadi begitu besar, hingga tak sadar hati kita justru mengeras terhadap orang-orang paling dekat.

​Ironi ini juga sering digambarkan dalam karya fiksi, dan salah satunya dapat kita temukan dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Kita melihat sebuah pergeseran nilai yang begitu menyakitkan. Ayah Margio, Komar, sosok yang kejam terhadap istri dan anaknya. Ia seringkali memukuli mereka, melampiaskan amarah dan frustrasi. Namun, ironisnya, ia begitu peduli pada ayam-ayamnya. Merawat, memberi makan, bahkan mungkin bercerita pada mereka. Kita bisa saja berargumen Komar memelihara ayam sebagai pelarian, sebagai cara menyalurkan sisi baik yang tidak mampu ia tunjukkan kepada keluarganya. Itu pembelaan yang kita inginkan untuknya, senyum kecut yang menyadari betapa rumitnya hati manusia.

​Namun sebenarnya keadaan itu gambaran satir tajam, mengungkap kebenaran yang jauh lebih menyakitkan: perbuatan Komar bukan pelarian, melainkan manifestasi dari nilai yang bergeser. Baginya, ayam adalah aset yang lebih berharga daripada istri dan anak. Ayam bisa menghasilkan telur, daging, dan uang. Istri dan anak, di mata Komar, hanya beban. Ini sindiran jenaka sekaligus tragis: Seorang manusia rela merawat ayam dengan penuh kasih, sementara ia tega merusak jiwa dan raga keluarganya sendiri. Ini bukan perlindungan diri, tetapi tentang kehilangan esensi kemanusiaan.

​Mencintai benda mati, lalu melupakan manusia. Fenomena ini, sayangnya, bukan sekadar fiksi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan betapa mudahnya kita jatuh cinta pada hal yang tidak bisa membalas. Kita melihat orang-orang lebih peduli pada kondisi mobil atau sepeda motor mereka daripada kepada orangtua yang sedang sakit. Kita menghabiskan ribuan jam bersama gawai, tapi tak punya lima menit pun untuk mendengarkan cerita anak usai pulang sekolah. Ini ironi memilukan, kenyataan yang seharusnya menggelitik nurani.

​Mengapa kita memilih jalur yang lebih mudah ini? Mungkin, benda dan hewan tidak akan pernah berkhianat. Mereka tidak akan mengecewakan kita dengan kata-kata kasar atau sikap acuh. Gawai akan selalu merespons sentuhan jari, dan hewan peliharaan akan selalu menyambut pulang tanpa pertanyaan. Keterhubungan dengan mereka terasa aman, minim risiko, dan memberikan ilusi kontrol yang tidak pernah bisa kita dapatkan dari manusia lain. Kita rela terperangkap dalam kepalsuan koneksi, memilih kepastian dari benda mati daripada kerumitan dan ketidakpastian dari hubungan antar manusia.

​Mungkin ada yang perlu kita lihat dari samping, bahwa di balik kasih yang kita curahkan pada benda mati, ada kesepian mendalam. Kita mengisi kekosongan hati dengan hal-hal yang tidak bisa membalas cinta, karena kita takut untuk mencintai dan dicintai manusia yang bisa melukai. Kita membiarkan hati kita mengeras, seolah itu tameng pelindung dari kekecewaan. Tanpa kita sadari, hal itu justru mengunci diri dalam sebuah penjara emosional, di mana kita menjadi satu-satunya tahanan.

​Ini pertanyaan yang harus kita jawab: kepada siapa kita mencurahkan cinta? Apakah mencintai benda dan hewan sebagai pelarian sehat, atau sebagai pengalihan yang menyakitkan? Kebaikan yang kita berikan pada benda dan hewan adalah refleksi dari sisi terbaik kita. Namun, kebaikan itu sia-sia jika tidak mampu kita berikan pada sesama manusia. Lalu bagaimana? Kita sering berkata: “Aku lebih suka ditemani kucingku daripada teman-temanku.” Kalimat itu bisa saja pelarian sehat, tapi bisa juga menjadi pengakuan menyakitkan: kita sudah terlalu lelah dengan drama manusia, hingga kita memilih untuk bersembunyi di balik hal-hal yang tidak bisa menuntut.

​Ini bukan tentang menghakimi, tetapi tentang refleksi. Mungkin, kita bisa mulai menyayangi manusia dengan cara yang sama seperti kita menyayangi barang-barang kita. Kita tidak membiarkan mobil kita berkarat, lalu mengapa kita membiarkan hubungan kita memburuk? Kita tidak membiarkan tanaman layu, lalu mengapa kita membiarkan persahabatan kita mati?

​Ada haru dalam kesadaran ini. Ketika kita menyadari terkadang kita berlaku adil pada hal-hal remeh dan berlaku sewenang-wenang pada manusia, kita akan tertegun. Kita mungkin tersenyum kecil, senyum yang diselimuti penyesalan, saat menyadari betapa lucunya cara kita mencintai. Kita memeluk erat gawai, seolah itu nyawa kita. Tapi, di balik layar, kita bisa saja melupakan ada manusia yang butuh pelukan jauh lebih hangat.

​Pada akhirnya, esensi kemanusiaan tidak terletak pada seberapa besar kita bisa mencintai, melainkan kepada siapa kita mencurahkan cinta. Kita hanya perlu menyingkirkan debu di hati, agar bisa menyentuh jejak debu dari kemanusiaan yang nyaris terlupa. Dan kita tidak ingin orang-orang terdekat ada yang menjelma seperti Margio, yang tega membunuh bukan karena jahat. Ia membunuh karena tidak pernah diajari cara mencintai. Ia tidak tahu bagaimana menjadi manusia, karena tidak pernah melihat bagaimana seorang manusia yang sedang bertindak dengan layak. Ia hanya tahu bagaimana meniru amarah, dan itu satu-satunya pelajaran yang ia dapat dari ayahnya. Harimau itu ada karena tak ada kasih yang mengisi dirinya.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.