Katalog

Ragam

BUKU RAHASIA

Oleh: Ramdhan S.

Konon, pahlawan itu bertubuh tegap, tak ada rasa takut, otot kawat tulang baja, dan mustahil masuk angin.  Kira-kira demikian gambaran sejarah yang diajarkan di sekolah dasar.  Penulis beruntung mengenal sejarah bukan hanya dari ruang kelas. Sejarah pertama yang ditemui datang diam-diam, lewat sebuah buku tebal berkertas minyak. Buku itu tersimpan di rumah, di kamar tengah di bawah poster F. Totti, Montella, Batisuta dan beberapa pemain bola top liga Italia lainnya.

Bapak tak pernah bercerita dari mana datangnya buku itu, dan ibu hanya memberi pesan sederhana, “Kalau mau baca, jangan bawa keluar rumah.”  Masih teringat jelas peringatan itu. Sebab, ibu menambahkan alasan yang tak bisa dianggap main-main: tetangga kita pernah ditangkap aparat gara-gara buku serupa. Meski tak mengerti, tidak juga banyak tanya. Reformasi telah digaungkan beberapa tahun silam, mungkin ibu masih terbayang Orde Baru. Razia buku sebagai alat bukti kejahatan dan tindak pidana.

Pada masa itu, diperkirakan penulis masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.  Membaca dengan terbata-bata tapi ingatannya meresap. Membaca bukan hanya kegiatan mencari informasi tapi semodel uji nyali.

Di dalam buku rahasia, ada foto-foto peristiwa sejarah yang kelak diketahui sebagai catatan hitam negeri ini.  Dari naskah Ploklamasi, Supersemar, Ade Irma Suryani, Aidit sampai Lapangan Monas dan tukang becak istana.  Ada juga barisan demonstran dengan karangan bunga dan foto lelaki muda bertulisan Arif Rachman Hakim.  Gambar itu menempel di kepala lebih kuat daripada semua pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.  Arif, seorang mahasiswa kedokteran tewas saat demonstrasi Tritura 1966. Ditembak atau tertembak aparat tergantung sumber sejarah yang mana.  Konon, tubuhnya tergeletak bersimpah darah di antara antara lautan manusia.

Mereka yang sering menghapal nama jalan pasti tidak asing.  Ia sudah terpampang menjadi nama jalan. Tentu saja, kemudian hari kita tahu Arif Rachman Hakim diabadikan menjadi pahlawan Ampera,  namanya menjadi masjid di Kampus UI Salemba, dan perpustakaan di Sumatera. Seakan dengan memberi nama, negara telah membayar utangnya.

Bertahun-tahun kemudian, kita kembali membaca berita yang mirip. Meski sama berwarna hitam putih, kali ini menggunakan filtel Instagram dan Tik-Tok.

Nama dan situasi berbeda, tapi akhir cerita serupa. Seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan tewas, bukan oleh peluru karet atau timah panas, melainkan roda mobil Brimob dalam  demonstrasi yeng berakhir kacau itu. Ditabrak atau tertabrak, terlindas atau dilindas tergantung siapa yang bicara.

 Usianya muda, penuh semangat, barangkali masih sering bercanda tentang perempuan cantik dan masa depan negeri. Kabar itu menohok, seakan membuka kembali halaman buku minyak yang dulu sudah hilang.

Bedanya, kali ini berita muncul lewat gawai, bukan buku rahasia. Bedanya pula, tidak ada yang memperingatkan saya untuk jangan membawanya keluar rumah. Namun, ironisnya, justru di zaman bebas informasi, nama Affan terasa cepat menguap.  Ia tinggal di batu nisan, di duka keluarga, di linimasa media sosial yang tak butuh waktu sehari untuk pindah topik.

Di era Reformasi jalanan adalah ruang kuliah terbesar. Di media sosial hari ini, kerumunan bergeser ke trending topic, tapi pola dasarnya sama: ramai-ramai membuat kita merasa kuat, sekaligus rawan kehilangan kendali.

Kita tidak sedang berbicara para demonstran saja, aparat yang pun demikian.

Tak heran bila demonstrasi kerap berubah arah. Maksudnya menuntut keadilan, ujung-ujungnya terbakar amarah. Niatnya bertugas dan menertibkan akhirnya rakyat dianggap musuh.  Tentu, selalu ada cerita tentang penyusup atau provokator. Tapi bahkan tanpa mereka, kerumunan itu sendiri punya daya yang bisa mengguncang logika. Ada yang bersorak sambil memecahkan kaca, ada yang menyalakan api, ada pula yang tiba-tiba menjadi korban hanya karena kebetulan berada di jalur salah. 

Durkheim, yang namanya selalu muncul di buku kuliah boleh saja bicara tentang kerumunan dan hilangnya individualitas, tapi kita lebih senang menyebutnya peristiwa kesetanan. 

Beberapa setelah peristiwa itu, selain Affan, ada pula sembilan nama lain yang hilang tanpa memorial. Mereka bukan orator, bukan pemimpin massa, hanya orang-orang biasa yang sial terjebak ketika kerusuhan membakar fasilitas umum. Ada yang terperangkap asap, ada yang pulang tak pernah sampai rumah. Namun berita tentang mereka lebih cepat padam daripada api yang menghanguskan gedung dan halte.

Mungkin inilah yang paling menyakitkan: mati tanpa nama.

Arif Rachman Hakim pantas, katanya, karena ia simbol perlawanan terhadap rezim. Namun, bagaimana dengan Affan Kurniawan? Tidak usah terburu-buru berprasangka buruk.  Kita tunggu saja. Sebab, pemerintah sedang sibuk dengan pergantian menteri dan perbaikan gizi anak.

Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, kalau mau jujur, adalah catatan kerumunan. Dari kampanye raksasa menjelang pemilu, parade militer, demonstrasi mahasiswa, kupon daging kurban sampai antrean gas elpiji miskin. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa bersama-sama kita bisa mengguncang. Tapi bersama-sama pula kita sering lupa, bahwa di tengah lautan manusia itu ada individu yang bisa lenyap begitu saja.

Mungkin benar, bangsa ini pandai mencatat nama pahlawan, tapi lalai menulis nama korban. Kita punya jalan protokol, gedung megah, bandara internasional dengan nama besar. Tapi coba hitung berapa banyak Affan yang tak diingat, mati dalam kerusuhan dan tak pernah masuk buku pelajaran?

Kita tidak sedang menuntut semua nama dijadikan monumen. mustahil. Namun, setidaknya, kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak menganggap kematian sebagai angka statistik. Kita bisa mengingat, meski hanya lewat cerita bahwa pernah ada anak muda bernama Affan yang bermimpi hidup lebih panjang.

Sekarang, buku minyak itu sudah hilang entah ke mana. Barangkali dimakan rayap, barangkali dijual kiloan bersama kertas-kertas tua. Namun, anehnya, justru kehilangan itulah yang membuat hadirnya tulisan ini. Buku bisa lenyap, tapi ingatan tidak.

Kita membayangkan, suatu hari, kalau ada anak kecil membuka buku sejarah di rumahnya, ia tidak hanya menemukan nama Arif Rachman Hakim. Kita menginginkan ingin ia juga membaca nama-nama lain, yang selama ini terkubur tanpa memorial. Affan Kurniawan, dan semua korban anonim yang tak sempat ditulis di prasasti.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: melahirkan pahlawan dengan satu nama, lalu membiarkan ratusan nama lain larut seperti debu.

Arif Rachman Hakim memang sudah diabadikan. Ia hidup dalam monumen, dalam narasi resmi, dalam halaman buku pelajaran. Tapi saya berharap, Affan Kurniawan tidak berhenti di batu nisan. Semoga ada yang terus menyebut namanya, meski hanya dalam percakapan kecil, dalam tulisan sederhana, atau dalam doa yang lirih.

Melawan gas air mata, tembakan aparat, apalagi mobil baja kita tidak mampu, tapi menolak lupa bisa diupayakan.

___________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Cerpen

Derita dan Sikap

Cerpen M. Ghaniey Al Rasyid

Masih di ruang yang sama, jeruji besi sempit, pengap, dan lembab. Kecoak, tikus, serta serangga merambat di tembok dan lantai, kadang melintas begitu dekat hingga menyentuh kulit Acing yang pucat. Ia duduk bersandar di bangku semen, tatapannya kosong, tangan menggaruk tengkuk. Sebotol air mineral yang bungkusnya koyak ia renggut, lalu diteguk dengan sisa tenaga.

“Kalau saja aku tak melakukannya…” desahnya lirih, memegangi kepala gundul. Tumitnya yang memar terasa berdenyut, seakan menertawakan penyesalannya. Penyesalan yang tidak bisa membatalkan apa pun, hanya menggumpal jadi sesal yang kental dan pahit.

Derap sepatu terdengar dari lorong. Gemertak logam dan kunci beradu, mengingatkan Acing pada kuda yang dipacu lambat-lambat. Namun yang datang bukan kuda, melainkan seorang penjaga. Agus namanya. Tubuhnya jangkung, dada bidang, wajahnya lebih tua dari usia. Kaos loreng melekat di tubuh, belati tergantung di pinggang. Bibirnya hitam, berlapis nikotin dan kopi basi.

“Rokok? Koran?” suaranya berat, seperti orang yang malas bicara.

Acing menatapnya dengan mata sayu. Agus mengeluarkan koran hari itu, lembaran kusut dengan aroma tinta murahan. Foto seorang pejuang yang meregang nyawa menghiasi halaman depan. Tubuh sang pejuang berlumur darah, wajahnya setengah hancur.

“Kau mau bernasib begitu?” cibir Agus, terkekeh tipis.

Acing tidak menjawab. Dalam benaknya ia membayangkan: bila kunci di tangan Agus jatuh, bila ia sempat merampasnya… barangkali jeruji akan terbuka, dan tubuh Agus-lah yang terkapar berganti posisi di lantai lembab itu.

Agus menyodorkan rokok buatan Tiongkok. Aromanya manis, menipu. “Besok, pukul lima sore, para perusuh ditembak mati.”

“Kau bilang… perusuh?” suara Acing parau.

“Kalian semua,” jawab Agus singkat, seperti menjatuhkan vonis.

Acing menerima koran itu. Ia membacanya pelan, halaman demi halaman. Ada berita tentang perempuan yang diperkosa, anak kecil mati kelaparan, pesta pejabat di atas darah rakyat. Semua ia baca dengan tatapan kosong namun penuh bara.

“Pemberontakan memang melahirkan darah,” gumamnya.

“Kau harus melangkahi mayat kami dulu,” balas Agus, dingin.

Acing mendengus. “Orang mencari makan saja sulit, pejabat berpesta, anak-anak jadi bangkai… apa yang harus dipertahankan dari kebiadaban ini?”

Agus terdiam. Sepatu hitamnya menendang jeruji. “Kau bodoh. Tanpa kami, hidupmu lebih celaka.”

“Aku bicara dengan babi,” sahut Acing datar. Ia menurunkan celana, kencing di lubang tahanan. Puntung rokok ia lemparkan ke sepatu Agus yang berkilat.

Wajah Agus memerah. “Sekali lagi kau buka mulut, kutembak kepalamu!”

Acing tersenyum sinis. Rasa takut sudah lama ia kubur.

Tak lama, tiga pria berbadan besar masuk. Napas mereka menderu seperti banteng. Pintu jeruji dibuka, dan hujan pukulan menghantam Acing. Tubuh kurusnya rontok dibantai sepatu dan kepalan. Kepalanya dibentur tembok, perutnya dihantam berulang. Ia meringkuk, berusaha melawan, sia-sia.

Ketika darah menetes dari pelipisnya, teriakan dari luar mendadak membelah udara. Ribuan suara, gaduh, mengguncang bangunan itu. Para pemukul buru-buru keluar. Suara tembakan bersahutan, kaca pecah, jerit memekik.

Seseorang berwajah tertutup kain hitam menggoyang jeruji. “Ambil kunci! Cepat!” Beberapa tahanan berhasil kabur, berlari seperti bayangan. Darah membanjiri lantai, bercampur bau besi dan amis.

Agus tergeletak di lorong, mata melotot kosong. Seorang pria yang mencoba membuka jeruji roboh diterjang peluru.

Acing masih di dalam, tubuhnya lebam. Sebuah peluru tumpul menembus tulang keringnya. Ia jatuh, menggeliat, giginya bergetar menahan linu.

“Orang ini coba kabur. Itu balasannya,” dengus seorang penjaga, lalu berlari pergi.

Acing terkapar, darahnya merembes. Ia menutup luka dengan kain lusuh, tapi otot-ototnya kaku, tubuhnya seperti disayat gunting tajam.

Keesokan harinya, ia digiring ke lapangan bersama puluhan tahanan lain. Rumput basah menempel di wajah dan kepala mereka yang dipaksa menunduk. Mereka dipaksa bersumpah, menelan kata-kata yang tak mereka percayai.

Acing berdiri goyah, tubuhnya berlumur darah kering. Pandangannya berkunang, tapi suaranya tetap tegas. “Kita tak pernah tahu, kenapa bisa sekacau ini.”

Seseorang di sampingnya berbisik, “Semua butuh strategi. Tapi kadang… darah memang satu-satunya bahasa.”

Di hadapan mereka, tali gantungan bergoyang tertiup angin. Seperti cemeti, sekaligus janji. Para sipir berdiri berjajar, wajah mereka datar seperti batu.

Nama-nama dipanggil. Satu per satu maju, leher mereka dipasangi jerat. Tubuh bergelantung, mata terbuka kosong, kaki meronta sebentar lalu diam. Udara penuh dengan aroma kencing dan ketakutan.

Ketika nama Acing dipanggil, langkahnya tertatih. Luka di kakinya membuat setiap gerakan seperti ditusuk pisau. Namun wajahnya tetap tenang. Ia menatap tali yang menunggu, seolah menatap sahabat lama.

“Kesalahanmu adalah melawan,” kata seorang sipir muda di podium.

Acing tersenyum tipis. “Kesalahanku hanya satu: percaya pada hidup yang adil.”

Jeratan dililitkan di lehernya. Dunia terasa menyempit, suara gemuruh massa lenyap jadi desisan tipis. Ia sempat menatap langit, biru kusam dengan awan berarak. Sesaat, ia merasa bebas.

Lalu papan diinjak, tubuhnya terayun. Lehernya patah dengan bunyi lirih.

Mata Acing terbuka, menatap kosong ke langit. Senyuman masih membekas samar di bibirnya. Tubuhnya berayun pelan, bagai bandul waktu yang berhenti di titik terakhir.

Di lapangan itu, derita akhirnya menemukan ujung. Dan sikapnya, betapa pun kecil, meninggalkan bayangan panjang yang tak bisa dipenjara.

___________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Ragam

BERTEDUH DI BUKU

Hujan di Sriwedari, Solo, 24 September 2025. Hujan setelah adzan ashar. Hujan setelah aku berbagi cerita bareng murid-murid SD di Jamsaren. Siang yang ganas berganti hujan yang cukup deras. Hujan itu tiba bukan gara-gara aku bersin tiga kali di kelas. Tubuhku memang bermasalah. Bersin itu tanda yang bikin bimbang.

Semua bermula dari sapu. Siang itu anak-anak menyapu sembarangan dan melempar sapu-sapu di pojok. Aku sengaja mengambilnya untuk mengajar iseng-iseng. Sapu itu aku tampilkan sebagai bedil, gitar, tiang mikrofon, dan lain-lain. Anak-anak suka dan bergantian memberi imajinasi bersumber sapu. Akhirnya, mereka membuat tulisan-tulisan pendek. Ada yang diberi gambar.

Yang mengejutkan, ada sehalaman tulisan mengenai sapu yang berhubungan dengan DPR. Anak itu membuat kalimat yang terlalu berani, yang aku artikan “menyapu” DPR. Anak itu sebenarnya menggunakan kata “membunuh” DPR tapi aku menggantinya agar tidak ada gejala revolusioner. Anak kelas 3 SD yang tampak cengengesan tapi mengerti keburukan-keburukan DPR.

Pulang saat gerimis sudah membasahi sekolah dan jalan. Sepeda motorku tidak bisa melaju kencang. Bagian lampu sudah diikat dengan tali plastik. Plat nomor di belakang pun harus mendapat ikatan agar tidak jatuh. Tetes-tetes hujan makin banyak dan kuat, aku memilih berhenti di kios-kios buku yang terletak di belakang Stadion Sriwedari. Berteduh di buku.

Apakah bisa berteduh di buku? Lihatlah, buku itu bukan payung atau atap! Yang tampak adalah atap kios-kios itu banyak yang bocor. Para penunggu buku murung. Puluhan kios tutup, tanda memilih mati. Di kios-kios, aku memandangi beragam buku bajakan. Yang paling berkuasa adalah buku-buku pelajaran.

Aku tidak ingin kehujanan. Berteduh di buku itu pilihan untuk selamat dari basah. Aku tidak ingin bertambah bersin-bersin lagi. Jangan sampai aku masuk angin!

Sore itu aku memiliki 65 ribu rupiah. Uang itu datang saat siang sedang garang. Pukul 1 siang, ada lelaki yang datang ke GOR Badminton Blulukan. Ia membeli buku mengenai otoritarianisme: 65 ribu. Rabu, hari aku berduit. Di kios-kios Sriwedari aku bakal jadi pembeli?

Ada kios ditunggu dua bocah. Aku menikmati setumpuk novel. Pilihan sudah ditentukan: A Thousand Splendid Suns (2010) gubahan Khaled Hosseini. Buku terbitan Qanita, diberi keterangan “edisi gold”. Buku masih plastikan tapi kondisi kotor. Bocah itu bilang harganya 30 ribu rupiah. “20 ribu saja,” kataku. Oh, aku tega! Akhirnya harga yang disepakati: 25 ribu rupiah. Dua bocah itu tersenyum, aku berpindah ke kios lain. Duitku masih 40 ribu rupiah! Apakah masih bisa untuk membeli buku?

Aku termasuk orang yang mudah terharu dan mewek membaca buku-buku Khaled Hosseini. Beruntung, aku belum pernah melihat film diangkat dari ceritanya. Kesan-kesan dari ceritanya masih mendekam di tubuhku. Aku biasa membujuk teman-teman untuk membaca buku-buku Khaled Hosseini meski mereka kadang tak percaya dengan ingatan dan tafsira yang aku suguhkan, penggalan-penggalan.

Pada saat hujan, aku tidak ingin mata berhujan. Aku mengelak dengan berimajinasi terjadi “hujan buku” atau “hujan huruf”. Kapan itu terjadi? Bayangkan bila hujan buku menjadi kota-kota di Indonesia “terkutuk” dengan novel-novel asmara dan horor. Yang menikmati hujan harus rela kepalanya kejatuhan buku-buku dalam edisi tipis atau tebal. Gagal dengan “hujan buku”, berharap terwujud “hujan huruf”. Aku ingin menjadi bocah yang tubuhku kuyup huruf. Tanganku menerima huruf-huruf dari langit. Sembarang huruf yang membuatku bisa menjadi pencerita atau pendoa.

Lamunan yang payah saat aku masih bersombong membelanjakan duit yang ada di saku celana. Berdiri di depan kios dengan penunggu lelaki tua yang bertampang putus asa akut. Ia pasti menderita sebagai penjual buku yang selalu sepi, dari hari ke hari. Mataku segera melihat buku kecil berwarna coklat-susu. Buku itu berjudul Judy Moody (2006)  gubahan Megan McDonald. Aku sudah membaca tiga bukunya. Aku wajib beli lagi agar memiliki kesombongan bila bercerita di hadapan seribu orang. Ceritanya lucu dan menakjubkan. Aku salah baca. Aku bukan anak atau remaja tapi lelaki brengsek yang mau 45 tahun. Duh, aku telanjur membacanya!

Ada satu buku lagi di tanganku yang berjudul jelek: Mari Jatuh Cinta Lagi (2011). Buku terbitan Zaman. Aku memastikan Zaman sering menerbitkan buku-buku agama. Buku yang di tanganku tentu bukan ajakan untuk kasmaran dan mengumbar berahi. Penglihatanku yang mulai kabur masih bisa membaca nama penulis buku: Ibnu Al Dabbagh. Oh, ulama klasik. Jadi, buku itu terjemahan dari kitab klasi yang berbahasa Arab. Penerjemahnya kurang ajar! Judul yang tidak bermutu. Keterangan di bawah judul: “Kitab Para Perindu Allah”. Aku lekas memilihnya untuk dibeli bareng buku Judy Moody. Lelaki tua yang putus asa itu mau menerima uang dariku 30 ribu rupiah untuk dua buku. Beruntunglah tetap mendapat rezeki saat hujan bikin Rabu yang sendu.

Setengah jam berlalu. Hujan menjadi rintik-rintik saja. Aku harus berani berada di jalan bersama sepeda motor yang kedinginan. Senja itu aku harus ada di GOR Badminton Blulukan untuk ibadah harian: berperan sebagai buruh menyapu dan mengepel.

Sampai di Purwosari, matahari malah nongol setelah hujan. Pemandangan yang membuatku memaafkan matahari setelah tadi siang memberi siksa yang tidak bisa ditebus dengan segelas es teh. Senja, aku menjadi pemilik tiga buku bekas. Aku pun menyadari diriku mulai bekas. Hidup sah telah bekas. Senja yang lekas bekas. Malam bakal datang sambil berharap nanti bisa mengintip bulan sabit. [] Durjana

Curhat

Penuntun dan Penyapu

Curhat Durjana

Malam bertambah malam. Kalimat itu selalu mengingatkan Putu Wijaya meski harus ditambahi “bila”. Aku sengaja menghilangkan “bila”. Di GOR Badminton Blulukan (Colomadu), malam itu keramain dan keringat. Orang-orang bermain bulutangkis di tiga lapangan. Aku cuma penonton sekaligus melayani mereka.

Jumat, 5 September 2025, mau berakhir. Yang bermain tinggal satu lapangan di tengah. Aku menyapu dan mengepel lapangan utara dan selatan diselingi melihat teman-teman yang sedang bermain di tengah. Mereka biasanya datang ke GOR Badminton Blulukan untuk obrolan bersamaku. Sebulan ini, mereka menambahi peristiwa kebersamaan dengan berkeringat dan berteriak. Di tangan mereka adalah raket. Aku yang melayani untuk para pemain yang menginginkan minuman: dari es teh sampai es Torabika. Imbuhan adalah masak mie instan.

Pada saat menyapu dan mengepel, aku sengaja memutar lagu-lagu pop Indonesia, yang bertema asmara dan merayu. Aku tidak malu menyapu sambil ikut bersenandung. Lelah bisa ditanggulangi dengan imajinasi asmara picisan.

Pukul 11 malam lebih, teman-teman pamitan. Aku menutup kebersamaan dengan omelan-omelan Homicide dalam suara yang keras. Akhirnya, kami berpisah. Aku pulang mengendarai sepeda motor yang mau rontok. Di tengah perjalanan, sepeda motor itu berhenti. Kehabisan bensin. Aku menuntun sambil menikmati payah setelah sejak siang sampai malam menjadi tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Keringat terus mengalir. Di dekat perbatasan desa, ada sepeda motor yang berhenti di dekatku. Lelaki itu bertanya mengenai sepeda motorku. Lelaki yang tidak dikenal bersikap baik. Ia menawarkan mendorong sepeda motorku sampai rumah.

Sabtu, 6 September 2025, jadwal pengguna GOR Badminton Blulukan adalah murid-murid SD (Solo). Mereka mau latihan drumband pukul 8 pagi. Aku berangkat sambil menuntun sepeda motor ke warung tetangga untuk beli bensin. Di sepeda motor, ada kresek berisi sarapan (nasi, pecek, tempe, bakwan, dan rambak). Dua kresek besar berisi buku-buku. Di atas, ada laptop. Aku jadikan GOR Badminton Blulukan sebagai tempat untuk membaca buku dan gawe tulisan-tulisan.

Aku berencana ke kios koran dulu. Perjalanan sekian menit. Sepeda motor berhenti lagi. Aku pastikan tidak kehabisan bensin, sudah beli sebotol dengan harga 12 ribu rupiah. Kakiku menggenjot berkali-kali. Gagal. Dugaanku ada masalah dengan busi. Pagi, aku menjadi penuntun lagi sepeda motor dengan bawaan tiga kresek, kepala berhelm, dan tubuhku yang berjaket membawa tas ransel. Adegan astronot yang tersesat di Bumi.

Bersyukur setelah hampir 1 km menemukan bengkel. Tukang bengkel sedang bermain layangan bareng cucu. Ia bilang kehabisan busi baru. Yang dilakukan adalah membersihkan busi dan mengusahakan agar hidup lagi. Menit-menit yang kurang menjanjikan sambil kepikiran telat sampai GOR Badminton Blulukan. Akhirnya, pembersihan berulang kali dan meniup busi membuat sepeda motor bisa hidup dan bergerak lagi. Aku menyerahkan 10 ribu rupiah. Uang untuk terima kasih, bukan penggantian busi.

Perjalanan agak ngebut melintasi sawah. Berhasil sampai kios koran. Kompas dan Jawa Pos dibeli dengan menyerahkan uang yang cukup untuk menikmati mie ayam, es jeruk, dan rambak. Pagi itu sengaja membeli koran agar hidup agak beradab. Percakapan sebentar bareng pedagang koran yang mengeluhkan situasi dan surutnya pendapatan dari penjualan koran, tabloid, dan majalah. Aku mengangguk dan berbagi cerita bahwa pagi itu aku pun bakal mencari rezeki.

Di GOR Badminton Blulukan, seratusan anak dan ibu sudah menguasai lapangan. Mereka latihan drumband. Aku sejenak duduk di kantin membuka Jawa Pos. Di situ, ada esaiku berjudul “Sejarah dan Rumah”, yang berada di bawah esai buatan Saras Dewi. Esai itu aku garap sekian hari lalu saat senja di kantin saat lelah dan keringat bikin tubuh kecut setelah seharian menyapu, mengepel, dan menjadi pelayan kantin. Beberapa hari yang lalu, aku pun mengabarkan ke teman tentang episode aku menikmati buku berisi puisi-puisi gubahan Saras Dewi. Puisi itu cukup mengesankan, sebelum Saras Dewi rajin mempersembahkan esai-esai di Kompas dan Jawa Pos.

Di lembaran berbeda, ada cerpen gubahan Agus Dermawan T. Pagi itu aku mengabarinya. Aku berteman dengannya sejak lama. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kiriman buku barunya yang diterbitkan KPG. Yang membuat kami dekat adalah urusan seni rupa dan dokumentasi kebudayaan.

Sabtu yang seru. Aku masih percaya dapat membuat tulisan-tulisan bermutu meski sadar mengalami kutukan-kutukan kebodohan. Sehari-hari, aku tetap menjadi pekerja berkeringat bersenjata sapu. Sekian menit berlalu, aku sudah harus berdiri di kantin meladeni 50-an anak yang menyerbu. Mereka mendapat istirahat 10 menit. Maka, mereka bersaing minta dibuatkan es teh, es jeruk, es susu, es macam-macam. Bagiku itu peristiwa fantastis dengan segala ketegangan dan tawa saat meladeni omongan bocah-bocah yang berdesak-desakan.

Hari menjelang siang, tiba saatnya makan nasi, pecel, tempe, bakwan, rambak disempurnakan segelas es teh. Hari yang bakal panjang, dimulai dengan anak-anak SD. Nanti berakhir pukul 23.00, edisi para mahasiswa ATMI (Solo) yang mengadakan turname. Para penyewa lapangan badminton tampak penuh di jadwal: pagi, siang, sore, dan malam.

Puisi

Puisi M.Z. Billal

SEBUAH RAHASIA YANG KUTULIS DALAM SATU KALIMAT SINGKAT

aku ingin membunuhmu.

saat kita saling memasuki diri.

aku ingin di sana selamanya.

meski kau perlahan memudar,

kau harus mati dalam pelukanku.

2025

___________________

MELEPAS KEPERGIAN HUJAN

betapa kerasnya aku terhadap diri sendiri

sudah tahu tak lagi dicintai tapi masih

berpura-pura bahwa keadaan akan pulih

seperti dulu, saat kita saling berkirim

kata-kata manis menjelang tidur.

padahal nyatanya semua itu sudah tak ada

sudah jadi debu yang larut dalam hujan.

semakin aku mengatakan tidak mungkin

semakin sesuatu yang tak terlihat

tapi hangat memeluk jiwaku erat.

    “kau harusnya pulang. lekaslah pulang.

     sebentar lagi gelap. dan selamanya gelap.

     pergilah ke sana, yang jauh. tempat di mana

     sinar dengan layak mengecup harapanmu

     yang mulai pupus itu. jangan menunggu lagi.

sebab hujan tak boleh turun lagi di sini.” bisiknya.

aku tak bisa berkata-kata.

hanya diam dan membiarkan

keikhlasan terus menepuk punggungku

ke dalam pelukannya.

       ya, memang sudah tidak ada apa-apa lagi

       waktunya tidur dan melanjutkan semua impian

       dan kata-kata baik yang kemarin tertunda.

2025

___________________

NEGOISASI HARI SENIN

setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari. karena perasaan ini sepenuhnya

masih tertinggal di kasur tidur beserta seluruh rindu

yang makin ganjil tiap kali aku makan sambil berpikir,

kenapa sulit sekali melepas pergi hal-hal atau

seseorang yang memang tak bisa kita miliki.

sepertinya dari minggu sampai senin aku selalu

ceroboh. terperangkap di mesin cetak bagai kertas lusuh

yang nekat menjadi pelampiasan hasrat pikiran para pekerja

padahal aku tahu akan berakhir di tempat sampah.

mau menyesal pun hanya akan tetap menjadi

barang buangan. diabaikan dan dilupakan.

atau kau bisa bilang perasaan ini mirip jas hujan

yang terjebak dalam bagasi karena aku seringkali

tidak peduli sementara cuaca di luar rintiknya saja

telah melolong sekuyup itu pada pukul delapan pagi.

menjadikan semua basah, semua gelisah. semua memandangi jendela.

tapi, ya, setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari ini. agar aku punya alasan untuk

lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku dan buru-buru

pulang menemuimu, mengecup keningmu sambil berkata,

terima kasih, kau telah menjadi hari senin terbaikku.

meski aku tahu betul, di sana cuma ada dinding hijau alpukat

yang kuberi nama puisi-puisi dengan darah yang mengalir

dari tubuh rinduku, dari tawar menawar kata-kata yang tak

bisa kuucapkan ketika dalam sepekan kenangan bergentayangan

seperti hantu risau yang bepergian pada akhir desember.

2025

___________________

SEBUAH RUANGAN

aku selalu menyediakan sebuah ruangan

untukmu kembali dari pengembaraan, setelah kau

menyadari tak ada rindu yang mampu menarikmu

pulang selain rindu yang kuselipkan di pusaran angin

dan dalam puisi-puisi yang menjelma ikan sailfish,

yang mahir berenang cepat ke arahmu.

meski aku tahu ini bodoh. tapi entah mengapa

aku mencintai kebodohan yang paling ahli

menghabiskan usiaku ini. sebab aku pun sebenarnya

tak pernah tahu kapan dia akan kembali.

meski aku tidak terlampau duka, namun tak pula

aku senantiasa baik-baik saja dalam penantian ini.

      tapi, omong-omong, apakah kalian

pernah sebodoh ini

     saat berjuang dalam sebuah

usaha mencintai?

2025

___________________

PERCAKAPAN SEPASANG DADA

apa kau merindukannya?

                 tentu saja. bagaimana mungkin

                 aku tidak merindukannya. dia rumah

                  bagi kenanganku.

apa dia juga merindukanmu?

                  aku tidak tahu. dan aku tidak akan pernah

                   menanyakan itu.

apa tidak masalah merindukan dengan cara seperti itu?

                   akan selalu begitu. jika dia tidak rindu kepadaku,

                   itu bukan masalah utamanya. sebab akulah yang

                   memutuskan. aku tidak bisa mencegah kepada siapa

                   dia akan rindu dan tubuh mana yang ingin dia peluk.

apa itu tidak menyakitimu?

kupikir itu akan sakit.

                aku akan berpura-pura. berpura-pura tidak sakit.

                berpura-pura tidak rindu. aku akan terlatih

                untuk itu. kau tahu aku seorang penyintas.

lalu bagaimana jika aku nanti aku juga merindukanmu?

                                                …………………………

            dia hanya menatapmu. dia tidak pernah tahu.

            kaulah orang yang merindukannya

setengah mati. setiap hari.

2025

___________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Belakang

SEJARAH (SAMAR) DAN MELONGO

Pada suatu masa, anak-anak di depan televisi melihat gambar yang bergerak. Gambar itu huruf-huruf, yang anak-anak mengucapnya “te ve er i”. Mereka sedang menatap huruf-huruf yang menjelaskan misi pemerintah. Yang terdengar sedikit senandung merdu: “TVRI, menjalin persatuan dan kesatuan.”

Di jalan atau kelas, anak-anak itu mengulang yang terdengar saat menonton televisi. Mereka sebenarnya terpapar propaganda “murahan” yang diadakan TVRI sebagai kepanjangan tangan rezim Orde Baru. Dulu, menonton televisi inginnya mendapat hiburan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan pemerintah melalui beragam acara terlalu kuat dan “memaksa”. Jadinya, penonton yang masih anak-anak perlahan “jinak” sekaligus membenarkan apa-apa yang diinginkan oleh televisi.

Mereka ingin menjaga persatuan agar tetap boleh menonton TVRI. Mereka bingung dengan pengertian “kesatuan”. Apakah itu sama atau beda dengan persatuan? Yang belajar bahasa Indonesia di kelas agak mengerti: persatuan itu kata dasarnya satu dan kesatuan itu kata dasarnya satu. Mengapa pihak TVRI menggunakan persatuan dan kesatuan, tidak cukup satu saja? Pilih saja persatuan atau kesatuan.

Anak-anak malu menanyakan kepada bapak, ibu, kakek, nenek, bibi, tetangga, atau guru. Yang pernah mengalami masa 1960-an mudah menjelaskan kesatuan. Ia memulainya dengan penamaan organisasi-organisasi yang beranggotan pelajar atau mahasiswa. Dulu, ada organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Banyak yang memilih “kesatuan” meski ada yang pilihannya adalah “persatuan”. Kaum yang tua mencontohkan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pokoknya, anak-anak dibuat bingung oleh persatuan dan kesatuan meski tetap sregep menonton acara-acara di TVRI, sebelum ada saingan RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.

Anak-anak yang menonton TVRI pelan-pelan belajar bahasa Indonesia. Banyak acara dan film yang menggunakan bahasa Indonesia. Di desa, anak-anak terbiasa berbahasa Jawa mulai menirukan tokoh-tokoh yang tampak di televisi. Mereka mulai menambahkan kata-kata di kepalanya untuk terucap lewat mulut berupa bahasa Indonesia. Pengucapan yang masih malu-malu. Pengaruh terasakan saat belajar di kelas. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pemberian pelajaran bahasa Indonesia membuat anak-anak mulai ikhlas masuk dalam “kubangan” bahasa Indonesia. Yang fasih berbahasa Indonesia dianggap pintar. Selanjutnya, ia diakui menganut kebudayaan kota atau modern.

Lupakan masa anak-anak dan TVRI! Kita ingin memasuki buku yang berjudul Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-Persoalannja (1964) susunan Zuber Usman. Buku yang diterbitkan Gunung Agung berasal dari garapan ilmiah di universitas. Jadi, kita sedang membaca buku yang ilmiah, tidak ada bohong-bohongan atau setumpuk bualan. Siapa mau membuktikan?

Buku terbit sebelum Indonesia terganggu persatuannya dalam malapetaka 1965. Pada masa terdahulu, persatuan Indonesia sering mendapat gangguan yang menimbulkan darah, air mata, kematian, dan lain-lain. Pada masa yang sulit, para tokoh politik malah berdebat mengenai “persatuan” dan “persatean”. Perbincangan berdasarkan perbedaan ideologi dan persaingan meraih kekuasaan. Dulu, persatuan itu politis! Artinya, segala bentrok, perselisihan, pemberontakan, dan perlawanan itu bersumber dari pemaknaan revolusi?

Zuber Usman salah atau khilaf membuat judul? Ia mungkin pernah yakin banget Indonesia terus berkembang dan maju asal menjaga persatuan. Keyakinan berdasarkan fakta-fakta. Ia tidak sedang berkhayal bahwa persatuan itu abadi. Indonesia akan terus bersatu sampai kiamat!

Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Situasi tetap tak menentu. Zuber Usman memiliki rutinitas mengisi acara di RRI dinamakan “Rudjak Bahasa”. Kita lekas mengingatnya itu makanan. Yang diurus Zuber Usman adalah bahasa, bukan makanan yang segar dan pedas. Penjelasan: “Tudjuan siaran itu jang sebenarnja ialah untuk mengawasi dan memberi djalan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, disamping menjelidiki sedjarah, membukakan aliran dan memberi arah kepada kemungkinan-kemungkinan jang dapat ditjapai pada masa jang akan datang.” Tujuan yang mulai saat bahasa Indonesia sudah tercantum dalam UUD 1945 dan diajarkan di sekolah-sekolah. Yakinlah bahwa Zuber Usman sedang melaksanakan tugas yang mulia, bukan mengikuti jalan khayalan.

 Zuber Usman mengenang: “Tahun-tahun permulaan itu merupakan tahun-tahun peralihan. Chusus dalam lapangan bahasa, kita harus memerangi unsur-unsur Hollandisme, sungguh pun bangsa kita telah berhasil menumbangkan pendjadjahannja dan dibidang lain kita harus pula berhadapan dengan golongan kolot jang berpaham pitjik, jang hendak memegang teguh ukuran atau pola bahasa Melaju.” Bayangkanlah sejarah bahasa Indonesia sangat ditentukan politik dan ketangguhan para intelektual dalam bertengkar demi kemajuan bahasa yang dianggap masih muda.

Yang membaca buku mula-mula bersemangat ingin mengetahui sejarah bahasa Indonesia. Namun, yang terbaca adalah sejarah kerajaan-kerajaan. Zuber Usman “berbohong”. Judul bukunya tidak tepat. Ia bertele-tele menyuguhkan sejarah beragam kerajaan, sebelum beralasan bahwa sejarah itu menentukan perkembangan bahasa Melayu, yang nantinya “dijadikan” bahasa Indonesia.

Kecewa! Pembaca mengaku kecewa setelah merasa “dibohongi”. Yang diceritakan dalam buku adalah sejarah yang bukan bercap “persatuan”. Situasi berbeda saat masa kolonial. Gagasan persatuan bertumbuh di kalangan politik, intelektual, seniman, dan lain-lain. Apakah “persatuan” sudah tercantum dalam teks-teks dibuat dalam Kongres Pemuda I (1926), Kongres Pemuda II (1928), dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938) dengan maksud menentukan kedudukan bahasa Indonesia?

Di bab enam, kita membaca penjelasan tentang “pembentukan” bahasa Indonesia. Anehnya, Zuber Usman pintar mengutip pendapat-pendapat dari tiga sarjana Belanda. Pengutipan ada yang berasal dari bahasa Belanda. Zuber Usman menegaskan bahwa usaha menulis sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia tetap memerlukan hasil studi para sarjana Belanda dan pejabat Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Namun, kita tetap diingatkan setelah pengakuan kedaualatan (1949) harus terjadi pengurangan pengaruh Hollandisme.

Kita percaya saja Zuber Usman sudah mati-matian mencari kepustakaan dalam menyusun buku berjudul Bahasa Persatuan. Buktinya, ia memberi catatan kejadian dan pemaknaannya: “Bulan Mei 1918, Dewan Rakjat (Volksraad) dilantik. Waktu itu jang dipakai ialah bahasa Belanda. Maka timbullah pikiran diantara anggota bangsa Indonesia untuk mempunjai bahasa persatuan. Tjita-tjita kesatuan nasional mulai terasa. Segera, anggota-anggota bangsa Indonesia menjetudjui supaja bahasa Melaju, jang sesungguhnja telah dipakai pemerintah dalam perhubungan dengan rakjat dan radja-radja untuk negeri, didjadikan bahasa pengantar disamping bahasa Belanda.” Usaha menentukan titik-titik sejarah terpenting. Kita menerimanya itu kerja ilmiah, bukan kerja imajinasi. Titik sejarah yang jarang disampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA.

Yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah Balai Pustaka. Pengakuan yang inginnya tidak politis. Namun, kita sadar jika penerbit itu malah politis banget, bentukan pemerintah kolonial Belanda. Konklusi yang dibuat Zuber Usman: “Dengan demikian, Balai Pustaka dapatlah dikatakan dari sedjak berdirinja dengan giat dan sadar terus menjalurkan serta menentukan tjorak bahasa Indonesia, disamping usahanja menjebarkan bahasa itu keseluruh pendjuru Nusantara…” Penyebarannya menggunakan buku dan majalah. Pengakuan yang berlebihan bahwa Balai Pustaka (sangat) berjasa untuk perkembangan bahasa Indonesia. Kita boleh tidak percaya?

Kita akhiri membaca buku yang “mengecewakan” dengan mengutip paragraf di halaman 103, yang mengandung harapan muluk: “… berdasarkan bukti sedjarah dan mengingat sifat-sifat kesederhanaan serta unsur-unsur jang praktis dalam bahasa Indonesia, serta kedudukan Republik Indonesia jang berpolitik bebas dan aktif, bahasa kita akan mendjadi bahasa jang penting dan kuat diantara bahasa-bahasa jang ada di Asia-Afrika.” Pembaca boleh mengucap “amin” atau melongo selama lima menit.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK SENYUM

​Di antara sekian banyak ekspresi yang dimiliki manusia, senyum adalah yang paling paradoksal. Ia begitu remeh, sekadar tarikan otot di sudut bibir, namun ia mampu membawa makna lebih berat dari kata-kata. Kita memberikannya pada orang asing di jalan, pada pelayan di kafe, atau pada teman lama yang tak sengaja kita jumpai. Senyum bisa menjadi salam, permohonan maaf, atau bahkan senjata paling mematikan. Ia mata uang universal yang berlaku di setiap budaya, tak peduli bahasa atau keyakinan. Namun, di balik keremehannya, senyum menyimpan sejarah dan ironi yang tak pernah kita sadari.

​Secara filosofis, senyum adalah cerminan dari kompleksitas manusia. Ia bisa menjadi topeng sempurna, menyembunyikan badai dalam hati saat kita berhadapan dengan dunia. Kita tersenyum saat menerima kabar buruk, saat hati kita hancur, atau saat kita merasa sangat lelah. Senyum semacam ini bukan tentang kebahagiaan, melainkan tentang ketahanan. Ia pernyataan bisu bahwa “Saya baik-baik saja,” meskipun alam semesta terasa runtuh. Betapa ironisnya, sebuah ekspresi yang seharusnya melambangkan sukacita justru sering kita gunakan untuk membohongi orang lain—dan yang paling parah, membohongi diri sendiri. Senyum palsu adalah salah satu pilar utama peradaban modern, sebuah keharusan sosial yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, apa pun yang terjadi di balik layar.

​Ada juga senyum jenaka dan menyindir, yang tak pernah kita temukan di buku-buku psikologi. Senyum ini seringkali muncul di wajah para pengamat yang bijaksana, yang melihat kekacauan di sekitarnya dan hanya bisa tersenyum. Senyum itu campuran sarkasme dan kepasrahan. “Lihatlah,” katanya, “betapa lucunya manusia dengan semua keseriusan dan ambisi kosong.” Senyum ini bentuk perlawanan pasif, sebuah cara untuk tidak terlalu peduli pada kekonyolan dunia tanpa harus berteriak atau melawan. Ia adalah kebijaksanaan yang tersembunyi, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang juga pernah merasakannya.

​Namun, di antara semua senyum itu, ada satu yang paling murni dan paling langka: senyum yang muncul dari hal-hal kecil. Senyum yang muncul saat kita menemukan uang di saku jaket lama, saat kita mencium bau hujan pertama, atau saat kita melihat kucing tidur dengan posisi lucu. Senyum ini tidak direkayasa, tidak memiliki agenda tersembunyi. Ia adalah senyum kejutan yang muncul begitu saja, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati seringkali berada di luar rencana besar kita, tersembunyi dalam momen-momen yang paling remeh. Senyum inilah yang membuat kita terharu, karena ia adalah bukti bahwa di tengah segala kesulitan, masih ada hal-hal kecil yang bisa membuat hati kita hangat.

​Di dunia fiksi, senyum sering kali digunakan penulis untuk menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat. Ia bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan simbol yang punya bobot naratif. Di sini, kita akan melihat bagaimana senyum dapat menjadi pilar utama sebuah cerita, tanpa harus menjadi obyek fisik yang bisa disentuh.

​Ambil contoh cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Cerita ini sangat sederhana, namun ironi yang disajikannya begitu tajam. Tokoh utamanya, Karyamin, seorang kuli miskin yang hidupnya dipenuhi penderitaan. Namun, ketika ia jatuh dan mengalami kesialan, ia tidak menangis atau mengeluh—ia justru tersenyum. Senyum itu tidak datang dari kebahagiaan, melainkan dari sebuah bentuk penerimaan. Puncaknya, senyum itu ia berikan kepada Pak Pamong yang meminta sumbangan untuk orang-orang kelaparan di Afrika, sebuah ironi yang begitu menusuk hati, karena Karyamin sendiri berada di ambang kelaparan. Di sinilah senyum menjadi metafora yang kuat: ia adalah perlawanan yang sunyi, sindiran yang tak terucapkan, dan cerminan dari kepasrahan yang mendalam. Karyamin tersenyum karena ia telah melewati batas penderitaan, dan yang tersisa hanyalah sebuah ironi pahit yang hanya bisa ia sambut dengan senyuman.

​Lalu, bila hal ini dikaitan dengan menulis di era sekarang, apa esensinya? Menulis yang relevan adalah menulis yang mampu membongkar makna tersembunyi dari hal-hal yang paling remeh. Di tengah gempuran narasi besar dan sensasional, seorang penulis yang baik harus mampu melihat dan mengartikan keajaiban dalam detail-detail kecil. Sama seperti seorang seniman yang bisa menciptakan karya besar dari sebuah titik kecil, penulis juga harus bisa menemukan cerita yang beresonansi dari sebuah senyum, dari sebuah tatapan, atau dari sebuah keheningan.

​Menulis adalah seni untuk mengungkap apa yang tersembunyi. Mengajak pembaca untuk melihat sesuatu yang bisa jadi dari samping. Mengapa Karyamin tersenyum? Pertanyaan itu lebih penting daripada mengapa ia lapar. Karena di dalam pertanyaan itu, ada kemanusiaan, ada tragedi, dan ada perlawanan. Penulis yang mampu membuat pembaca tergelitik untuk bertanya tentang hal remeh seperti itu, berarti ia telah berhasil. Ia telah membuka mata pembaca untuk melihat bahwa di balik setiap gerak bibir, di balik setiap kata yang tidak terucap, ada seluruh alam semesta yang menunggu untuk dijelajahi.

​Mungkin, saat kita membaca ini, kita akan tersenyum. Mungkin senyum itu adalah senyum Karyamin, senyum yang muncul dari sebuah pemahaman. Atau mungkin, itu adalah senyum yang muncul karena kita sadar, bahwa selama ini, kita juga telah menjalani hidup dengan senyum-senyum yang remeh namun penuh makna. Entah itu senyum kesabaran, senyum kepasrahan, atau senyum karena menemukan uang di saku jaket. Dan itulah keindahan dari hal-hal remeh: mereka tidak pernah benar-benar remeh. Mereka adalah bagian dari siapa kita, dan siapa kita di mata dunia.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi

Belakang

HILANG DAN PEMBACA

Satu atau dua lembar hilang, pembaca merasa di jalan yang sesat. Lembaran terlalu penting bagi pembaca yang ingin mendapat judul, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. Yang terjadi adalah lembaran-lembaran yang memuat keterangan penting justru hilang.

Pembaca hanya menduga buku itu tua. Ia masih berusaha menemukan tanda-tanda dalam buku berupa stempel atau coretan. Ada coretan menggunakan pensil tapi kata-kata tidak terbaca. Rupa tulisan sudah kabur. Buku kecil yang tanpa judul. Buku kehilangan nama pengarang. Buku yang tidak bisa menerangkan penerbitnya. Apakah pembaca menyerah dan memilih buku itu tertutup selamanya?

Kehilangan yang menyedihkan adalah sampul. Yang tampak, sampul buku gantian masih ada. Sampul yang asli hilang. Sialnya, sampul gantian tanpa keterangan. Sampul dan lembaran-lembaran yang hilang tidak untuk ditangisi semalaman. Buku itu mengabarkan kehilangan-kehilangan.

Buku masih bisa dibaca di bawah lampu dengan sinar berwarna kuning atau memilih terkena sinar matahari saat pagi. Buku itu hasil dari kesaktian mesin cetak. Pada awal abad XX, mesin cetak berhasil mengubah lakon tanah jajahan. Mesin menghasilkan beragam bacaan, yang mendatangi orang-orang untuk mengetahui cerita, sejarah, teologi, politik, perdagangan, pendidikan, asmara, dan lain-lain. Di tanah jajahan, mesin cetak yang berisik mencipta “suara-suara” yang menimbulkan “badai” atau “guncangan”. Orang masih meragu boleh membuka matanya selama tiga jam untuk membaca tulisan-tulisan Ben Anderson.

Dulu, mesin cetak itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Mereka berani menggerakkan modal dalam menghasilkan bacaan-bacaan. Mesin yang menjadikan huruf-huruf di kertas menimbulkan seberan iman, sengketa ideologi, keinsafan sejarah, dan hiburan mendunia.

Pembaca perlahan yakin bahwa buku yang kehilangan sampul dan beberapa lembar itu hasil dari mesin cetak yang diurus peranakan Tionghoa. Penulis buku pastinya peranakan Tionghoa. Penerbit pun menjelaskan kekuatan bisnis bacaan awal abad XX.

Apa yang masih bisa digunakan sebagai bukti bila buku itu masuk dalam derasnya arus bacaan dari kaum peranakan Tionghoa di tanah jajahan? Pembaca malu-malu menunjuk tema dan bahasa “Melajoe” yang digunakan dalam buku. Isi buku mengenai “ilmoe petangan”, yang disajikan melalui “sjair”. Buku bercitarasa sastra. Pembaca mulai ikhlas tidak mengetahui judul, nama pengarang, dan penerbit. Yang terpenting ia bakal klenger membaca “sjair” di seratusan halaman.

Pembaca pilih-pilih kutipan, yang mudah dimengerti dan membenarkan bahwa buku ditulis oleh “orang jang berilmoe”. Kutipan yang memasalahkan nasib atau peruntungan: Beli pisang dari Blitoeng/ Belon beboewa soeda berdjantoeng/ Di dalem kitab soeda diitoeng/ Angkauw berdagang misti beroentoeng. Buku menjadi bacaan orang-orang yang berdagang tapi membutuhkan pengetahuan dan pijakan. Percayalah buku itu laris dan diakui berfaedah bagi para pembacanya yang berdagang atau menunaikan beragam pekerjaan. Yang terpenting adalah “beroentoeng”. Pikirkanlah kerja yang beruntung, bukan pisang yang bisa digoreng atau direbus!

Berlimpahnya “sjair” dalam buku menimbulkan kebingungan untuk memilih. Yang terbaca adalah “sjair” dalam bahasa “Melajoe” yang dicap pasar atau bahasa “Melajoe” yang biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa. Kutipan yang terpilih lagi: Kauw maoe taoe artinja kakedoetan/ Boekannja iblis atawa setan/ Dalem dua atau tiga hari poenja boewatan/ Kau misti trima oewang soeda kliatan. Masalah peruntungan memiliki tanda-tanda. Jadi, “sjair” itu mengingatkan gairah atas peruntungan menentukan lakon perekonomian di tanah jajahan. Bisnis tidak selalu berlogika tapi peruntungan sangat penting.

Orang yang sulit tidur mendingan membaca “sjair” berjumlah ratusan. Dibaca pelan-pelan sambil menikmati nada dan rasa bahasa masa lalu. Kata-kata yang digunakan dalam “sjair” berulang-ulang dan polanya sering sama. Yang membaca mungkin “dibunuh” jenuh tapi keinginan mengerti yang silam dapat membuatnya bertahan sampai bulan sabit mengalamai kesepian di dini hari.

“Sjair” yang dibaca: Pengliatan ini terlaloe heran/ Djangan angkauw boeat koeatiran/ Angkau oentoeng dengen atoeran/ Dari sebab mengimpi poenja lantaran. Di situ, ada mimpi. Konon, ilmu tua dinamakan tafsir mimpi. Dulu, kita mudah menemukan buku-buku mengenai tafsir mimpi yang dijual di pasar malam, terminal, makam, dan kios koran. Buku itu biasanya kecil, kertas buram, sampul yang norak, dan harganya murah. Sejak dulu sampai sekarang, tafsir mimpi masih diminati banyak orang. Di mimpi, orang bisa membayangkan dirinya kaya atau dijerat kemiskinan. Mimpi yang memberi tanda-tanda agar diwujudkan atau berlalu dan terlupa saja.

 Siapa pembaca buku itu pada masa lalu? Pembaca yang memiliki pengetahuan sastra, bisnis, sosial-kultural, dan teologi? Pembaca yang menikmati “sjair” sebenarnya sedang belajar beberapa hal, yang mudah atau sulit terpahami. Maka, yang membaca bisa membicarakan dengan keluarga atau teman. Mereka bisa sedikit berdebat sesuai pilihan “sjair” dan kepentingan-kepentingannya. Buku dapat pula sebagai pedoman pengajaran bagi orang-orang yang ikut kursus mengubah nasib. Mereka diajak memikirkan “sjair” yang sakti dan meyakini bakal ada yang terwujud.

Buku itu mungkin tidak pernah terbaca oleh Roestam Effendi, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Sanoesi Pane. Buku memang mengambil bentuk “sjair” belum tentu diinginkan oleh kalangan terpelajar dan pengarang. Buku itu bukan selera kaum pergerakan politik kebangsaan. Jangan percaya bila buku dibaca oleh Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, atau Soetan Sjahrir. Namun, buku tetap memiliki banyak pembaca tanpa harus “diejek” atau “dituduh” seleranya rendah. Penerbitan buku yang sejak halaman awal sampai akhir adalah “sjair” sudah keberanian dalam mengandaikan penerimaan dan pemahaman pembaca.

Kini, kondisi buku tidak lagi utuh. Dulu, buku itu dipegang oleh beberapa orang di tenpat-tempat yang berbeda. Buku kecil yang melewati waktu dan tempat. Di tangan pembaca yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda, lembaran-lembaran buku dibuka untuk dibaca. Akibatnya, ada lembaran yang terlipat rusak, ada lembaran mendapat coretan-coretan menggunakan pensil, ada lembaran yang robek.  

Yang membaca pada masa sekarang berhadapan dengan bahasa yang tidak hidup lagi. Bahasa lama yang “menyulitkan” sekaligus memberi ikatan agar pembaca memiliki masa lalu. Gubahan “sjair” yang disajikan pengarang pun susah ditaruh dalam arus kesusastraan yang mendapat perhatian dalam pertimbangan estetika atau politis. Buku tidak diniatkan sebagai persembahan sastra tapi kesengajaan menggunakan “sjair” agar unik dan menghasilkan renungan-renungan tak berkesudahan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Cerpen

Apa yang Kalian Tahu Tentang Nona Goodhouse?

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

“Hidup tidak akan pernah sempurna, dan adil.” Seorang pria yang mengenakan jas rapi dan kacamata gelap menggumam. Dia membaca catatan yang ditulis tangan di secarik kertas. Catatan itu ditemukan tak jauh dari mayat perempuan yang mati terjatuh dari balkon apartemennya tadi pagi.

“Kalian ingin menahanku?” Pria yang katanya mantan kekasih korban sudah berada di ruang interogasi. Tubuhnya maju mundur gelisah.

“Anda satu-satunya orang yang ada di sana saat kami tiba. Tidak lupa, Anda juga mengirim makian kepada korban. Menyebutnya ‘perempuan gila’ beberapa jam sebelum ditemukan tak bernyawa.”

“Makian.” Pria itu mendengkus. Salah satu ujung bibirnya terangkat. “Memangnya, apa yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

*

“Baiklah, sekali lagi saya ulang, apa yang kalian ketahui tentang Nona Goodhouse?” tanya seorang pria bersetelan gelap kepada sekelompok wanita anggota klub berkuda elit.

Wanita-wanita yang bahkan masih wangi setelah menunggangi kuda itu melepas helm dan sarung tangan mereka sambil saling melempar tatapan.

“Maaf, Tuan, siapa Anda dan apa hubungan Anda dengan Noella Goodhouse?” tanya salah satu wanita dengan mata menyipit tidak bisa menyembunyikan kecurigaan. Wanita yang lain mulai memandangi pria itu. Ada mata-mata penuh selidik, ada pula yang sedikit tertarik.

Setelah merasa cukup dengan penyelidikan mata, para wanita itu saling bertatapan lagi kemudian mengangguk-angguk. Seolah-olah ada kesepakatan ‘Dia tampan, tetapi mencurigakan’ yang tidak terucap di antara mereka.

Pria itu kemudian berdeham. “Marquez. Detektif Phillip Marquez.”

Para nyonya yang senang berkuda tampak terkejut.

“Detektif? Anda terlihat seperti aktor-aktor di drama televisi Hallmark.”

Mendengar itu, sebagian tertawa geli lalu salah satunya bertanya dengan serius. “Apa yang telah Nona Goodhouse lakukan sampai seorang penyelidik seperti Anda harus datang ke sini?”

Kali ini, Detektif Marquez jauh lebih terkejut. “Kalian belum mendengar kabar dari Nona Goodhouse?” Kening pria itu berkerut.

Well, sebenarnya dia tidak begitu sering datang akhir-akhir ini. Dia bersemangat saat pertama bergabung, setelah itu … entahlah.” Seorang wanita mengangkat bahu, tidak meneruskan keterangannya.

“Baiklah, apa kalian mengenal kekasihnya? Atau mantan kekasih? Atau siapa saja yang mungkin dekat dengannya?”

Pertanyaan itu kemudian mendapat tanggapan yang berisik. Mereka saling tanya jawab tanpa peduli keberadaan Detektif Marquez.

“Apa dia pernah datang bersama seseorang? Aku tidak memperhatikan.”

“Apa kau ingat kapan dia terakhir kali ada di sini?”

“Mungkin saja dia bosan, dia masih muda untuk menghabiskan banyak waktu dengan kuda.”

“Muda? Akhir tiga puluh?”

“Entahlah, aku bahkan tidak menyimpan nomor teleponnya.”

Detektif Marquez harus berdeham tiga kali agar keriuhan para nyonya berhenti.

“Nyonya-nyonya, menurut tetangga terdekat Nona Goodhouse, kalian adalah teman-teman yang paling sering dia bahas dalam pertemuan sesekali dengan para tetangga. Foto kalian ada di ruang tamunya. Dan, kemarin, kami menemukan dia tewas di apartemennya.”

Wanita-wanita itu terbelalak. Hening seketika.

“Oh, Tuan Detektif, maaf tapi Anda bisa saja salah. Kami tidak sedekat itu dengannya. Kalau boleh memberi saran, Anda bisa mencoba mengunjungi sebuah klub tango di Durant Ave. Mereka membuka kelas dan Nona Goodhouse pernah mengatakan akan bergabung di sana,” ujar salah satu wanita tiba-tiba.

“Kapan Nona Goodhouse mengatakan itu kepada Anda?” Detektif Marquez menatap wanita pemberi informasi sambil menyiapkan catatannya.

Wanita yang ditatap terlihat grogi. “Ah, tidak, bukan mendengar langsung. Aku melihatnya di snapchat eh entahlah, aku rasa di instagram.”

Begitulah perasaan yang ditimbulkan oleh pertanyaan petugas kepolisian. Mereka mampu membuat seseorang merasa ragu bahkan pada diri sendiri. Lalu, seseorang itu akan tiba-tiba merasa takut meski tidak melakukan apa-apa.

Wanita itu bergegas bangkit dan mengenakan kembali helm dan sarung tangannya.

Detektif Marquez menghela napas, menutup buku catatannya. “Anda buru-buru, Nyonya?”

“Kami akan memulai kegiatan jika Anda tidak keberatan. Lagipula tidak banyak informasi yang bisa Anda dapatkan di sini, Detektif.” Wanita itu melangkah pergi disusul wanita lain satu per satu.

Detektif Marquez bangkit dengan sedikit payah. Dia merasa bobot tubuhnya bertambah padahal dia hanya minum kopi seharian. “Klub Tango, Durant Ave,” gumamnya sebelum meninggalkan para nyonya klub berkuda.

*

Detektif Marquez mendorong pintu kayu sebuah gedung tiga tingkat yang tidak begitu lebar. Tidak ada penanda apakah mereka sudah buka atau belum. Hanya ada sebuah papan nama dengan warna biru dan kuning menyala di tepi jalan, DIVINO DIA! Ini adalah kali ketiga Detektif Marquez mendatangi klub tango itu setelah gagal menemui siapa pun sebelumnya karena klub sedang tutup, bahkan di akhir pekan.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Seorang pria botak mengenakan kaos oblong bertuliskan nama klub menyapa Detektif Marquez.

“Ah, tentu.” Detektif Marquez melepas kacamata hitamnya kemudian mengulurkan tangan.”Philip Marquez.”

“Esteban Orreiro.” Pria botak membalas dengan ramah kemudian mengajak Detektif Marquez menuju sofa di sudut ruangan. Klub itu punya banyak jendela dengan tirai-tirai abu-abu keperakan yang mewah tetapi tidak banyak kursi untuk duduk berbincang.

“Ah, Argentina?” Detektif Marquez mencoba berbasa-basi.

“Tidak, tidak. Banyak yang berpikir seperti itu tapi sebenarnya orang-orang Uruguay juga menarikan tango sejak lama. Aku berasal dari Montevideo. ”

“Aku sudah tiga kali ke sini, tapi sepertinya kalian sedang tutup.” Detektif Marquez tidak melanjutkan basa-basi pengetahuan umumnya yang gagal.

“Maaf, Tuan Marquez, kami hanya buka pada hari Rabu untuk kelas tango,” terang pria botak yang duduk merapatkan kaki.

Detektif Marquez mengelus dagunya. “Hanya sekali seminggu?” Dia mulai ragu. Detektif itu sudah mengunjungi klub berkuda dengan wanita-wanita yang senang bergosip dan berkumpul tiga kali seminggu tetapi hasilnya nihil. Dia menatap pria botak sambil berpikir.

“Apakah Anda berminat?” tanya pria botak membuyarkan lamunan Detektif Marquez.

Detektif Marquez tersenyum. “Apakah aku terlihat seperti seseorang yang ingin menari?”

Pria botak mengernyitkan dahi. “Maaf, tetapi aku melihat banyak pria gagah sepertimu di klub kami, Tuan. Mereka membawa pasangan untuk berlatih ballroom tango. Tentu banyak yang sedang mengikuti tren ini sekarang.”

Detektif Marquez lupa kapan dia benar-benar mengikuti tren selain menikmati bola basket wanita alih-alih menonton sepakbola.

“Maaf, Tuan, sebaiknya aku langsung ke pokok persoalan.” Wajah serius Detektif Marquez membuat pria botak di hadapannya cukup waspada.

“Persoalan?”

“Ya, apa yang Anda ketahui tentang Nona Goodhouse? Noella Goodhouse.”

Pria botak berkaos DIVINO DIA tampak melongo beberapa saat sebelum berdiri menuju sebuah ruangan kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Maaf, Tuan, apa pun persoalannya aku tidak tahu apa-apa dan aku perlu mengecek buku keanggotaan.” Tangannya yang gemulai tampak membuka lembar demi lembar sebuah buku agenda selebar surat kabar.

Detektif Marquez mengamati dengan saksama hingga kemudian mereka berdua menemukan nama dan foto Noella Goodhouse di lembaran hampir terakhir.

“Ah, Nona Cantik yang senang membawa buku. Dia baru belajar di sini beberapa pekan saja.”

Detektif Marquez memutar buku itu hingga tepat searah pandangannya sebelum mengeluarkan buku catatan.

“Buku? Buku seperti apa?”

“Beberapa buku yang yang cukup tebal, aku tidak begitu memperhatikan. Hanya saja menurutku sedikit membingungkan melihatnya membawa buku ke kelas tango. Tentu kau tidak punya banyak waktu untuk membaca di sini.” Pria botak itu terkekeh. “Seharusnya dia membawa pasangan, bukan buku. Tapi, ya tentu saja mungkin begitulah nona cerdas dari universitas.”

“Jadi, Anda tidak pernah melihat dia datang dengan seorang pria?”

“Seingatku hanya sekali dan mereka bertengkar hebat. Pria itu tidak lentur dan jelas tidak berminat sama sekali dengan kelas kami.”

Detektif Marquez mengangguk-angguk lalu menulis dengan cepat. Semua yang diucapkan pria botak dipindahkannya ke dalam catatan.

Tiba-tiba pria botak berdeham. “Tapi, Tuan, apakah Anda seorang kawan? Kekasih yang baru?”

Detektif Marquez menggeleng sambil memasukkan kembali bukunya ke dalam saku.

“Siapa pun Anda, tolong jangan beritahu Nona Goodhouse tentang apa yang kukatakan. Itu hanya pemikiranku saja setelah mengamati. Tapi aku tetap senang dia datang ke mari. Dia beberapa kali meminta kami berfoto dan dia mengunggahnya ke Instagram. Aku menghargai semangatnya.”

Detektif Marquez bangkit dan undur diri.

Pria botak mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Sekali lagi kumohon tidak perlu membahas semuanya dengan Nona Goodhouse. Seharusnya penting bagiku menjaga kerahasiaan anggota. Maafkan aku sedikit cerewet hari ini.”

“Tuan Orreiro, terima kasih atas semuanya. Aku menjamin tidak akan mengatakan apa pun kepada Nona Goodhouse karena dia tewas di apartemennya minggu lalu.”

*

“Jadi, sudah seberapa banyak yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

Detektif Marquez melipat tangan di depan dada, menatap lurus mantan kekasih Nona Goodhouse. “Akan lebih banyak jika kau bermurah hati menceritakannya pada kami.”

Tidak ada yang lucu, tetapi pria itu tertawa.

Kening Detektif Marquez berkerut tetapi dia memilih menunggu mantan kekasih korban itu berbicara.

“Noella benar-benar gila. Atau … kau punya istilah lain untuk perempuan yang hanya hidup dalam halusinasi.”

“Langsung pada poinnya saja, Tuan.”

”Tuan Detektif, orang-orang hanya tahu apa yang Noella ingin orang tahu. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri, dan tentu Tuhan kalau kau percaya itu,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuk ke langit-langit ruang interogasi.

Detektif Marquez mulai kesal. Rahangnya mengeras mengirim pertanda bahwa dia tidak sedang main-main.

“Baiklah, Detektif. Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Mungkin kau bisa membuka snapchat atau Instagram saja.”

Ucapan mantan kekasih korban itu membuat Detektif Marquez makin kesal. Sayangnya, dia tak menemukan sedikit pun tanda kebohongan.

“Kalau begitu, perlihatkan padaku. Sesuatu yang kau maksud tadi.” Detektif Marquez menyandarkan punggungnya di kursi, mencoba menunjukkan sikap rileks.

“Ah maaf aku tidak tahu, aku juga tidak melakukan instagram dan semacamnya. Itulah mengapa dia tidak tahan denganku.”

“Siapa? Nona Noella Goodhouse? Tapi kau mencintainya, ‘kan?”

Pria itu tertawa kecil. “Tapi aku tidak suka media sosial.”

Detektif Marquez menghela napas panjang, mematikan alat perekam suara di hadapannya, dan menutup buku catatan. Untuk pertama kali dalam kariernya, dia berpikir mungkin perlu memasang media sosial di ponsel.

“Oh, ya, Detektif Marquez, tentang catatan yang kau bacakan. Selamanya, hidup tidak akan pernah sempurna bagi Noella. Tidak cukup dengan terlihat sebagai anggota klub berkuda elit, menjadi anggota klub tango VIP di tengah kota, atau bagian dari klub baca akhir pekan bersama orang-orang cerdas universitas. Apa saja yang terdengar hebat itu tidak pernah cukup.”

Detektif Marquez bergeming. Pikirannya berputar-putar di terowongan sempit penyelidikan itu. Dan pada akhirnya dia hanya punya sebuah catatan terakhir dan mantan kekasih yang meracau tentang instagram.

“Sesungguhnya kau akan sulit mendapat informasi dari mereka yang kau pikir teman Noella. Dia tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu dengan siapa pun selain dunia yang diciptakannya, Detektif.” Pria itu melanjutkan ocehannya yang mungkin sudah terpendam lama. “Jika akhirnya dia lelah mengejar kesemuan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Detektif Marquez masih terdiam. Dia mulai merasakan nyeri di perutnya. Mungkin karena kopi, mungkin juga karena kasus yang sudah membuang waktunya.

Dalam ruang interogasi yang makin hening, mantan kekasih Noella Goodhouse memandang lurus Marquez dan berkata dengan suara serak, “Kau terus bertanya tentang dia, Detektif, tapi kau sendiri, apa yang sebenarnya kau tahu tentangnya?”  Lantas, mantan kekasih Noella itu meletakkan kedua tangannya di meja interogasi, perlahan memajukan tubuhnya. “Aku penasaran. Apakah sekarang masih ada yang ingin kau tahu tentang Nona Goodhouse?” Pertanyaan itu yang menggantung di udara, lebih menusuk daripada jawaban apa pun.

Sinjai, 19 September 2025

____________________________________________

Aprilia Nurmala Dewi, tinggal di Sinjai, Sulawesi Selatan. Abdi negara yang senang menulis. Dapat ditemui di Facebook: Aprilia Nurmala Dewi dan Instagram: aprilianurmaladewi