Ragam

PERUT DAN OTAK

Oleh Ramdhan

Aristoteles memang kurang ajar. Namanya hampir tidak pernah absen dari segala bidang keilmuan, dari dulu sampai sekarang. Ilmu bumi-langit, jiwa-raga, tumbuhan-hewan, selalu memunculkan namanya.

Ada lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana Aristoteles hidup? Katanya: ia lahir, berpikir, kemudian mati. Di kalangan yang lebih tergila-gila olehnya, lelucon itu bertambah hebat pula: “Setelah Aristoteles, semua filsafat hanyalah catatan kaki.” Kalau benar begitu, berarti ribuan tahun filsuf hanya jadi tukang catat rapi-rapi di pinggiran kertas. Padahal, tidak demikian. Kita menonton perdebatan filsafat malah semakin ramai bak sinetron yang tak kenal episode akhir.

Nusantara merindukan sosok demikian, manusia dengan isi kepala paket lengkap. Tak terbayang, bagaimana kesehariannya. Apakah dia tidur dengan tumpukan buku? Dia mungkin berjalan sambil berkomat-kamit menghafal semua pelajaran. Alih-alih mengira-ngira dia dengan mantra atau ramuan apa yang dikonsumsi untuk mengencerkan peredaran darah naik ke otak. Lebih mudah kita menebak derajat isi perutnya. Sebab, mustahil perut keroncongan bermain logika. Biasanya, lambung yang berbunyi menghasilkan pikiran yang serampangan.

Kita masih beruntung bisa mengenal nama yang hidup ribuan tahun silam lengkap dengan keadaan situasi saat itu. Mungkin tidak terlalu akurat. Setidaknya, ada bukti tertulis: tahun dan lokasi jelas. Kita tidak merasa itu sebagai dongeng yang dimulai dengan kata: “Dahulu kala…”

Aristoteles, lahir di Macedonia, sangat jauh dari Nusantara. Tanahnya ditumbuhi pohon zaitun, langitnya sesak oleh cerita dan para dewa. Ia benar-benar manusia dan pernah hidup, tidak dilahirkan oleh dewi kepintaran atau terlahir langsung bisa membaca. Ayahnya adalah pegawai istana, seorang tabib kerajaan. Jika kita coba iseng mencocokkan jabatatannya, kira-kira sepangkat dokter kepresidenan saat ini. Kita juga berasumsi ia tidak termasuk anak yang tumbuh dengan menyandang status malnutrisi. Bayangkan saja: anak seorang dokter, bertugas di dalam istana kerajaan.

Ia tidak berdiri sendirian. Tentu saja, setiap orang kesohor selalu ada sosok yang menakjubkan sebagai pijakannya. Selain seorang ayah yang menjamin perutnya tidak berbunyi kodok, di belakangnya, ada bayang-bayang besar Plato, “sang guru”. Sebuah perpaduan yang serasi antara nafsu perut dan akal budi.

Kita, yang biasa terserang kantuk setelah makan merasa sedikit kebingungan menyambungkan dua frasa di atas. Mungkin rahasianya yang masuk ke mulut bukan sembarang makanan asal kenyang tapi yang berprotein tinggi dan mengandung bermacam-macan vitamin. Perut yang kenyang hanya sebuah perahu dayung, kita perlu mengayuh untuk berlabuh.  Cukup banyak anak yang perutnya terisi penuh tapi nalarnya kosong. Peran Plato memang bukan main-main!

Ia bukan sekadar guru yang memindahkan ilmu, tapi perangsang untuk berpikir lebih. Aristoteles tidak diajar untuk patuh, tetapi untuk meragukan, mempertanyakan kembali, membantah, bahkan mengkritik gurunya sendiri.

Indonesia sedang bermimpi mencetak anak-anak menjadi generasi emas pada 2045. Meski kita belum paham sepenuhnya emas semacam apa yang diinginkan. Pelbagai program dimunculkan., dari yang membingungkan sampai menggelikan. Pada halaman awal pemerintahan Prabowo-Gibran, cita-cita itu naik tangga dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sekolah, anak-anak mendapat jatah makan. Entah, mengapa dari sekian banyak pilihan menuju emas, urusan perut jadi agenda pertama yang dipilih. Kita belum tahu apakah Prabowo dan Gibran pernah membaca Aristoteles. Jika pernah, kita tinggal menunggu gebrakan selanjutnya, yakni urusan isi kepala.

Di tengah ceria anak-anak sambil menyantap daun salada yang jauh lebih banyak dari ayam gorengnya, sebagian orang merasa khawatir.  Khawatir akan mimpi generasi emas kerap terjebak dalam rumus proyek. Di balik nampan yang berjudul gratis, tampak pula sebuah siklus administratif yang berputar pada laporan, dokumentasi, dan serapan anggaran. Proyek ini sangat gampang untuk diakui sebagai sebuah pencapaian rezim. Orang-orang di barisan Istana sibuk menghitung dan berbangga akan kalori dan protein dalam nampan. Kita berharap mereka tidak lupa menimbang masa pikiran yang seharusnya tumbuh setelah perut terisi. Apakah emas yang kita ukur nanti itu adalah kualitas nalar, atau sekadar angka anak yang tidak lagi kelaparan?

Di berita-berita, riuh soal keracunan MBG, di meja diskusi ramai kerisauan-kerisauan.  Saat guru berkata tentang minimnya fasilitas, jawabannya MBG. Ketika orang tua berkeluh tentang biaya, dijawab dengan MBG. Yang dirisaukan: MBG berisiko menjadi tembok besar yang menutupi lubang-lubang masalah lain yang sulit diperbaiki.

Di manakah “Plato-Plato-nya” Indonesia bersembunyi? Apakah mereka masih sibuk memilih foto mana yang akan diunggah atau terjebak dalam birokrasi pendidikan yang kaku? Lebih mendahulukan nilai ujian daripada pikiran yang mendalam? Generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan menyuapi perut dan menyodori soal pilihan ganda. Mereka membutuhkan guru yang tidak takut dikritik, yang mengajak muridnya berjalan-jalan di taman pikiran, merangkai kata menjadi pertanyaan, dan membongkar pasang status qou.  Aristoteles, jika tanpa guru yang hebat, mungkin hanya Arjuna berkepala Dursasana. Bertubuh sehat dan angkuh. Lebih menyeramkan: jika yang tercapai hanyalah generasi jamur, tumbuh subur semalam lalu sirna seketika.

Setelah makanan itu dibagikan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: sudah siapkah kita menyambut kelaparan yang berikutnya, yakni kelaparan akan ilmu dan pengetahuan.

Namun, dilema lain selalu menyertai. Anggaran kita tidak cukup untuk belanja hamburger sekaligus mencetak “Plato-Plato” di Indonesia, mana yang lebih didahulukan? Keduanya sama indah sama menawan.

Di belakang halaman 365 hari kepeminpinan Prabowo-Gibran, riak suara tak pernah surut. Ada yang diam-diam kenyang oleh proyek sambil tetap berkeluh kesah, ada pula yang mendadak menjadi ahli gizi. Yang mengkritik banyak, tentu itu tanda cinta. Yang bersikap acuh pun sama banyak. Mereka apatis, yang tidak berharap pada sekotak nasi.

Bagi mereka yang percaya akan kebaikan negara boleh-boleh saja, asal tidak menggadaikan urusan perut dan otak seutuhnya. Sebab, negara tidak pernah berhenti mengidap dilema-dilema.

______________________

Ramdhan. Pembaca buku dan tukang roti di Jakarta

Ragam

RAGA DAN SUARA

Oleh: Randhan S.

Sejak kemarin, hari yang tak berubah namanya, rasa gamir merayap dalam kalbu. Ada sesuatu yang mengambang di udara. Tampaknya  bagai selubung kabut tipis membungkus kepala. Tak pekat, tetapi cukup membuat pijar masa depan tampak sayup. Aku tak sedang terganggu jasmani. Raga ini lelah, memang. Bukan lelah yang terobati oleh tidur. Ini lelah yang lain, lelah yang bersemayam di relung sukma.

Hari ini kuisi dengan kesibukan kerja. Setiap detik termakan rutinitas tanpa jeda untuk sekadar bernapas lega. Kuselesaikan semua tugas secara mekanis. Tubuhku adalah mesin yang telah diatur programnya. Sepulangnya, seluruh urat saraf terasa tertarik hingga ke ujung. Aneh! Kepayahan tak kunjung menjelma menjadi kantuk. Ada sesuatu yang lebih dahsyat menanti di balik pintu kamar. Sepi. 

Yang kudamba ringan saja, yakni mendengar suaranya. Suara milik perempuan yang belakangan menjadi tumpuan rasa. Tak perlu lama, satu menit saja cukup. Waktu sebentar yang meyakinkanku bahwa dunia tak sesepi ini. Sialnya, ia pun habis diterpa derasnya pekerjaan, siang tadi. Ia telah lebih dulu larut dalam lelap. Terlelap tanpa sempat menghadirkan kata-kata manis yang selama ini bagai candu.

Memandangi layar ponsel yang kelam bagai wajah bulan terhalang awan. “Sunyi lagi,” bisikku dalam hati. Kepala menunduk lesu. Sambil merebahkan badan, ingatan melayang tanpa kendali. Masa silam yang pernah kujejak berkelebatan menghampiri. Wajah-wajah lama muncul, peristiwa berdebu yang ternyata masih menyisakan parut samar.

Konon, beberapa saat sebelum mati menjelang, otak kembali memutar segala kenangan masa lalu.  Entah, siapa yang berbicara demikian.  Mustahil. Bukankah mati itu pengalaman sendiri saja. Artinya, tidak bisa dibagi.  Tampaknya orang yang gagal mati  saja yang bisa berkata demikian.  Di lain sisi, bayang masa depan turut mendesak, menghadirkan gambaran ketidakpastian yang mencemaskan. Kupertanyakan dalam hati: ke manakah langkah ini sesungguhnya tertuju? Adakah yang menanti di ujung jalan? Aku hanya berputar pada orbit yang sama?

Rasa gelisah dalam dada kian menjadi. Kucoba mengikuti mantra The Beatles: “Take a sad song and make it better”. Dicari-cari, lagu apa yang pas.  Joan Baez. Ya aku suka suara melengkingnya. Lagu berjudul “Oh Freedom”.  Di awal, liriknya sudah meninggi, meninju langit: Oh freedom // Over me // before I’ll be slave // I’ll be burried in my grave // and go home to my Lord // and be free.

Liriknya sarat protes dan perlawanan. Nada dan makna yang memenuhi sudut ruangan. Kusimak dengan khidmat, berharap ada kekuatan yang merasuk dari setiap alunan gitarnya. Aneh, alih-alih menguat, justru duka kian mengendap.

Baez membawaku kembali untuk menjadi manusia merdeka, melakukan pembangkangan terhadap belenggu keteraturan yang menindas. Aku ingin hidup bukan sebagai hamba upah, bukan sekadar roda kecil dalam mesin raksasa yang terus berputar. Tidak punya pilihan! Ada keadaan yang membelenggu. Sadar diri, kuikuti saja roda itu. Sementara, impian kusimpan di dalam laci yang kian berkarat.

Pada titik itu, aku tak sanggup lagi menahan. Butir air mata jatuh, entah karena apa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena rindu. Barangkali karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa aku sedang menjalani nasib yang “melulu”.

Kesadaran itu berat. Malam ini aku merasakannya. Aku hidup. Setiap detik juga tahu bahwa hidup ini bisa pupus kapan saja. Aku berada di dunia. Bukan aku yang memilih datang ke sini.

Ya, aku sungguh merasa terlempar, tanpa pegangan, tanpa arah.

Aku mendambakan kebebasan. Kebebasan itu hanya menggantung di langit-langit pikiran. Aku ingin melawan. Ada jerat kebutuhan yang menarikku kembali ke bumi.

Tangisku makin menjadi. Bukan tangis pilu semata. Tangis yang lahir dari kesadaran getir bahwa hidup ini anugerah, sekaligus penjara.

Di tengah rintih,  lintasan lain datang. Bukan dari filsafat Barat.tapi dari hikmah Timur. Aku teringat ucapan seorang sufi agung, Ibnu ‘Athaillah: “Ketika engkau tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab, itu artinya Tuhan sedang memanggilmu untuk mendekat.”  Aku terpaku. Kata-kata itu bagai mengetuk dada.

Apakah kesedihanku malam ini, yang datang tanpa bisa kupahami adalah panggilannya? Apakah air mataku bukan sekadar letih atau rindu pada perempuan, melainkan undangan rahasia untuk kembali?

Kududuk lama, menatap dinding yang bisu. Untaian kata itu terus bergema. Barangkali benar bahwa kesedihan tak selalu musibah. Kadang ia adalah isyarat. Kadang ia adalah sepucuk surat undangan dari langit, yang dikirimkan lewat remuknya perasaan.

Aku mulai melihat diriku dari sisi lain. Mungkin aku terlalu sibuk menuntut keinginan hingga lupa ada jalan lain. Jalan mendekat. Tidak hanya pada manusia. Tidak hanya pada perempuan pujaan. Pada Sang Maha, yang lebih luas,  abadi.

Perasaan ingin menghilang kembali muncul setelah beberapa tahun aku kubur. Lenyap dari ingatan, sirna dari dunia. Mungkin itu lebih baik, pikirku.

“Mati dalam usia muda adalah keberuntungan,” kiranya begitu kalimat yang sering dikutip Soe Hok Gie. Tak perlu memikul beban yang tak kuasa kubawa. Tak perlu menyaksikan ketidakadilan yang tak mampu dipulihkan. Tak perlu terus merasa menjadi bagian kecil yang tak berdaya.

Dan, suara Ibnu ‘Athaillah kembali datang, lebih lantang: “Kesedihan adalah undangan Tuhan untuk mendekat.” Aku terdiam. Kalau begitu, bukankah kesedihan ini adalah semacam panggilan? Panggilan bukan untuk menghilang. Melainkan untuk hadir lebih dalam. Bukan untuk lenyap.

Di luar jendela, dunia tetap sama, penuh luka, penuh nestapa. Di kamar ini, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Aku tak lagi memikirkan cara untuk menghilang. Aku mulai mencari cara untuk bertahan. Cara untuk tetap hidup tanpa menyerah. Cara untuk melawan, betapapun kecilnya.

Kupandang langit-langit kamar. “Oh Freedom” telah berhenti. Berpindah pada lagu berikutnya “We Shall Overcome”.  Cukup membuat hati berdansa kecil.

Suara perempuan yang kurindu belum juga terdengar.

Dan, ada suara lain yang kudengar: suara diriku sendiri yang berucap dengan tegas, “Aku akan melawan.” Sebentar. Aku berpikir, tertawa kacau. Melawan siapa?

____________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Ragam

BUKU RAHASIA

Oleh: Ramdhan S.

Konon, pahlawan itu bertubuh tegap, tak ada rasa takut, otot kawat tulang baja, dan mustahil masuk angin.  Kira-kira demikian gambaran sejarah yang diajarkan di sekolah dasar.  Penulis beruntung mengenal sejarah bukan hanya dari ruang kelas. Sejarah pertama yang ditemui datang diam-diam, lewat sebuah buku tebal berkertas minyak. Buku itu tersimpan di rumah, di kamar tengah di bawah poster F. Totti, Montella, Batisuta dan beberapa pemain bola top liga Italia lainnya.

Bapak tak pernah bercerita dari mana datangnya buku itu, dan ibu hanya memberi pesan sederhana, “Kalau mau baca, jangan bawa keluar rumah.”  Masih teringat jelas peringatan itu. Sebab, ibu menambahkan alasan yang tak bisa dianggap main-main: tetangga kita pernah ditangkap aparat gara-gara buku serupa. Meski tak mengerti, tidak juga banyak tanya. Reformasi telah digaungkan beberapa tahun silam, mungkin ibu masih terbayang Orde Baru. Razia buku sebagai alat bukti kejahatan dan tindak pidana.

Pada masa itu, diperkirakan penulis masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.  Membaca dengan terbata-bata tapi ingatannya meresap. Membaca bukan hanya kegiatan mencari informasi tapi semodel uji nyali.

Di dalam buku rahasia, ada foto-foto peristiwa sejarah yang kelak diketahui sebagai catatan hitam negeri ini.  Dari naskah Ploklamasi, Supersemar, Ade Irma Suryani, Aidit sampai Lapangan Monas dan tukang becak istana.  Ada juga barisan demonstran dengan karangan bunga dan foto lelaki muda bertulisan Arif Rachman Hakim.  Gambar itu menempel di kepala lebih kuat daripada semua pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.  Arif, seorang mahasiswa kedokteran tewas saat demonstrasi Tritura 1966. Ditembak atau tertembak aparat tergantung sumber sejarah yang mana.  Konon, tubuhnya tergeletak bersimpah darah di antara antara lautan manusia.

Mereka yang sering menghapal nama jalan pasti tidak asing.  Ia sudah terpampang menjadi nama jalan. Tentu saja, kemudian hari kita tahu Arif Rachman Hakim diabadikan menjadi pahlawan Ampera,  namanya menjadi masjid di Kampus UI Salemba, dan perpustakaan di Sumatera. Seakan dengan memberi nama, negara telah membayar utangnya.

Bertahun-tahun kemudian, kita kembali membaca berita yang mirip. Meski sama berwarna hitam putih, kali ini menggunakan filtel Instagram dan Tik-Tok.

Nama dan situasi berbeda, tapi akhir cerita serupa. Seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan tewas, bukan oleh peluru karet atau timah panas, melainkan roda mobil Brimob dalam  demonstrasi yeng berakhir kacau itu. Ditabrak atau tertabrak, terlindas atau dilindas tergantung siapa yang bicara.

 Usianya muda, penuh semangat, barangkali masih sering bercanda tentang perempuan cantik dan masa depan negeri. Kabar itu menohok, seakan membuka kembali halaman buku minyak yang dulu sudah hilang.

Bedanya, kali ini berita muncul lewat gawai, bukan buku rahasia. Bedanya pula, tidak ada yang memperingatkan saya untuk jangan membawanya keluar rumah. Namun, ironisnya, justru di zaman bebas informasi, nama Affan terasa cepat menguap.  Ia tinggal di batu nisan, di duka keluarga, di linimasa media sosial yang tak butuh waktu sehari untuk pindah topik.

Di era Reformasi jalanan adalah ruang kuliah terbesar. Di media sosial hari ini, kerumunan bergeser ke trending topic, tapi pola dasarnya sama: ramai-ramai membuat kita merasa kuat, sekaligus rawan kehilangan kendali.

Kita tidak sedang berbicara para demonstran saja, aparat yang pun demikian.

Tak heran bila demonstrasi kerap berubah arah. Maksudnya menuntut keadilan, ujung-ujungnya terbakar amarah. Niatnya bertugas dan menertibkan akhirnya rakyat dianggap musuh.  Tentu, selalu ada cerita tentang penyusup atau provokator. Tapi bahkan tanpa mereka, kerumunan itu sendiri punya daya yang bisa mengguncang logika. Ada yang bersorak sambil memecahkan kaca, ada yang menyalakan api, ada pula yang tiba-tiba menjadi korban hanya karena kebetulan berada di jalur salah. 

Durkheim, yang namanya selalu muncul di buku kuliah boleh saja bicara tentang kerumunan dan hilangnya individualitas, tapi kita lebih senang menyebutnya peristiwa kesetanan. 

Beberapa setelah peristiwa itu, selain Affan, ada pula sembilan nama lain yang hilang tanpa memorial. Mereka bukan orator, bukan pemimpin massa, hanya orang-orang biasa yang sial terjebak ketika kerusuhan membakar fasilitas umum. Ada yang terperangkap asap, ada yang pulang tak pernah sampai rumah. Namun berita tentang mereka lebih cepat padam daripada api yang menghanguskan gedung dan halte.

Mungkin inilah yang paling menyakitkan: mati tanpa nama.

Arif Rachman Hakim pantas, katanya, karena ia simbol perlawanan terhadap rezim. Namun, bagaimana dengan Affan Kurniawan? Tidak usah terburu-buru berprasangka buruk.  Kita tunggu saja. Sebab, pemerintah sedang sibuk dengan pergantian menteri dan perbaikan gizi anak.

Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, kalau mau jujur, adalah catatan kerumunan. Dari kampanye raksasa menjelang pemilu, parade militer, demonstrasi mahasiswa, kupon daging kurban sampai antrean gas elpiji miskin. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa bersama-sama kita bisa mengguncang. Tapi bersama-sama pula kita sering lupa, bahwa di tengah lautan manusia itu ada individu yang bisa lenyap begitu saja.

Mungkin benar, bangsa ini pandai mencatat nama pahlawan, tapi lalai menulis nama korban. Kita punya jalan protokol, gedung megah, bandara internasional dengan nama besar. Tapi coba hitung berapa banyak Affan yang tak diingat, mati dalam kerusuhan dan tak pernah masuk buku pelajaran?

Kita tidak sedang menuntut semua nama dijadikan monumen. mustahil. Namun, setidaknya, kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak menganggap kematian sebagai angka statistik. Kita bisa mengingat, meski hanya lewat cerita bahwa pernah ada anak muda bernama Affan yang bermimpi hidup lebih panjang.

Sekarang, buku minyak itu sudah hilang entah ke mana. Barangkali dimakan rayap, barangkali dijual kiloan bersama kertas-kertas tua. Namun, anehnya, justru kehilangan itulah yang membuat hadirnya tulisan ini. Buku bisa lenyap, tapi ingatan tidak.

Kita membayangkan, suatu hari, kalau ada anak kecil membuka buku sejarah di rumahnya, ia tidak hanya menemukan nama Arif Rachman Hakim. Kita menginginkan ingin ia juga membaca nama-nama lain, yang selama ini terkubur tanpa memorial. Affan Kurniawan, dan semua korban anonim yang tak sempat ditulis di prasasti.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: melahirkan pahlawan dengan satu nama, lalu membiarkan ratusan nama lain larut seperti debu.

Arif Rachman Hakim memang sudah diabadikan. Ia hidup dalam monumen, dalam narasi resmi, dalam halaman buku pelajaran. Tapi saya berharap, Affan Kurniawan tidak berhenti di batu nisan. Semoga ada yang terus menyebut namanya, meski hanya dalam percakapan kecil, dalam tulisan sederhana, atau dalam doa yang lirih.

Melawan gas air mata, tembakan aparat, apalagi mobil baja kita tidak mampu, tapi menolak lupa bisa diupayakan.

___________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta