Cerpen M. Ghaniey Al Rasyid

Masih di ruang yang sama, jeruji besi sempit, pengap, dan lembab. Kecoak, tikus, serta serangga merambat di tembok dan lantai, kadang melintas begitu dekat hingga menyentuh kulit Acing yang pucat. Ia duduk bersandar di bangku semen, tatapannya kosong, tangan menggaruk tengkuk. Sebotol air mineral yang bungkusnya koyak ia renggut, lalu diteguk dengan sisa tenaga.
“Kalau saja aku tak melakukannya…” desahnya lirih, memegangi kepala gundul. Tumitnya yang memar terasa berdenyut, seakan menertawakan penyesalannya. Penyesalan yang tidak bisa membatalkan apa pun, hanya menggumpal jadi sesal yang kental dan pahit.
Derap sepatu terdengar dari lorong. Gemertak logam dan kunci beradu, mengingatkan Acing pada kuda yang dipacu lambat-lambat. Namun yang datang bukan kuda, melainkan seorang penjaga. Agus namanya. Tubuhnya jangkung, dada bidang, wajahnya lebih tua dari usia. Kaos loreng melekat di tubuh, belati tergantung di pinggang. Bibirnya hitam, berlapis nikotin dan kopi basi.
“Rokok? Koran?” suaranya berat, seperti orang yang malas bicara.
Acing menatapnya dengan mata sayu. Agus mengeluarkan koran hari itu, lembaran kusut dengan aroma tinta murahan. Foto seorang pejuang yang meregang nyawa menghiasi halaman depan. Tubuh sang pejuang berlumur darah, wajahnya setengah hancur.
“Kau mau bernasib begitu?” cibir Agus, terkekeh tipis.
Acing tidak menjawab. Dalam benaknya ia membayangkan: bila kunci di tangan Agus jatuh, bila ia sempat merampasnya… barangkali jeruji akan terbuka, dan tubuh Agus-lah yang terkapar berganti posisi di lantai lembab itu.
Agus menyodorkan rokok buatan Tiongkok. Aromanya manis, menipu. “Besok, pukul lima sore, para perusuh ditembak mati.”
“Kau bilang… perusuh?” suara Acing parau.
“Kalian semua,” jawab Agus singkat, seperti menjatuhkan vonis.
Acing menerima koran itu. Ia membacanya pelan, halaman demi halaman. Ada berita tentang perempuan yang diperkosa, anak kecil mati kelaparan, pesta pejabat di atas darah rakyat. Semua ia baca dengan tatapan kosong namun penuh bara.
“Pemberontakan memang melahirkan darah,” gumamnya.
“Kau harus melangkahi mayat kami dulu,” balas Agus, dingin.
Acing mendengus. “Orang mencari makan saja sulit, pejabat berpesta, anak-anak jadi bangkai… apa yang harus dipertahankan dari kebiadaban ini?”
Agus terdiam. Sepatu hitamnya menendang jeruji. “Kau bodoh. Tanpa kami, hidupmu lebih celaka.”
“Aku bicara dengan babi,” sahut Acing datar. Ia menurunkan celana, kencing di lubang tahanan. Puntung rokok ia lemparkan ke sepatu Agus yang berkilat.
Wajah Agus memerah. “Sekali lagi kau buka mulut, kutembak kepalamu!”
Acing tersenyum sinis. Rasa takut sudah lama ia kubur.
Tak lama, tiga pria berbadan besar masuk. Napas mereka menderu seperti banteng. Pintu jeruji dibuka, dan hujan pukulan menghantam Acing. Tubuh kurusnya rontok dibantai sepatu dan kepalan. Kepalanya dibentur tembok, perutnya dihantam berulang. Ia meringkuk, berusaha melawan, sia-sia.
Ketika darah menetes dari pelipisnya, teriakan dari luar mendadak membelah udara. Ribuan suara, gaduh, mengguncang bangunan itu. Para pemukul buru-buru keluar. Suara tembakan bersahutan, kaca pecah, jerit memekik.
Seseorang berwajah tertutup kain hitam menggoyang jeruji. “Ambil kunci! Cepat!” Beberapa tahanan berhasil kabur, berlari seperti bayangan. Darah membanjiri lantai, bercampur bau besi dan amis.
Agus tergeletak di lorong, mata melotot kosong. Seorang pria yang mencoba membuka jeruji roboh diterjang peluru.
Acing masih di dalam, tubuhnya lebam. Sebuah peluru tumpul menembus tulang keringnya. Ia jatuh, menggeliat, giginya bergetar menahan linu.
“Orang ini coba kabur. Itu balasannya,” dengus seorang penjaga, lalu berlari pergi.
Acing terkapar, darahnya merembes. Ia menutup luka dengan kain lusuh, tapi otot-ototnya kaku, tubuhnya seperti disayat gunting tajam.
Keesokan harinya, ia digiring ke lapangan bersama puluhan tahanan lain. Rumput basah menempel di wajah dan kepala mereka yang dipaksa menunduk. Mereka dipaksa bersumpah, menelan kata-kata yang tak mereka percayai.
Acing berdiri goyah, tubuhnya berlumur darah kering. Pandangannya berkunang, tapi suaranya tetap tegas. “Kita tak pernah tahu, kenapa bisa sekacau ini.”
Seseorang di sampingnya berbisik, “Semua butuh strategi. Tapi kadang… darah memang satu-satunya bahasa.”
Di hadapan mereka, tali gantungan bergoyang tertiup angin. Seperti cemeti, sekaligus janji. Para sipir berdiri berjajar, wajah mereka datar seperti batu.
Nama-nama dipanggil. Satu per satu maju, leher mereka dipasangi jerat. Tubuh bergelantung, mata terbuka kosong, kaki meronta sebentar lalu diam. Udara penuh dengan aroma kencing dan ketakutan.
Ketika nama Acing dipanggil, langkahnya tertatih. Luka di kakinya membuat setiap gerakan seperti ditusuk pisau. Namun wajahnya tetap tenang. Ia menatap tali yang menunggu, seolah menatap sahabat lama.
“Kesalahanmu adalah melawan,” kata seorang sipir muda di podium.
Acing tersenyum tipis. “Kesalahanku hanya satu: percaya pada hidup yang adil.”
Jeratan dililitkan di lehernya. Dunia terasa menyempit, suara gemuruh massa lenyap jadi desisan tipis. Ia sempat menatap langit, biru kusam dengan awan berarak. Sesaat, ia merasa bebas.
Lalu papan diinjak, tubuhnya terayun. Lehernya patah dengan bunyi lirih.
Mata Acing terbuka, menatap kosong ke langit. Senyuman masih membekas samar di bibirnya. Tubuhnya berayun pelan, bagai bandul waktu yang berhenti di titik terakhir.
Di lapangan itu, derita akhirnya menemukan ujung. Dan sikapnya, betapa pun kecil, meninggalkan bayangan panjang yang tak bisa dipenjara.
___________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.
