
Hujan di Sriwedari, Solo, 24 September 2025. Hujan setelah adzan ashar. Hujan setelah aku berbagi cerita bareng murid-murid SD di Jamsaren. Siang yang ganas berganti hujan yang cukup deras. Hujan itu tiba bukan gara-gara aku bersin tiga kali di kelas. Tubuhku memang bermasalah. Bersin itu tanda yang bikin bimbang.
Semua bermula dari sapu. Siang itu anak-anak menyapu sembarangan dan melempar sapu-sapu di pojok. Aku sengaja mengambilnya untuk mengajar iseng-iseng. Sapu itu aku tampilkan sebagai bedil, gitar, tiang mikrofon, dan lain-lain. Anak-anak suka dan bergantian memberi imajinasi bersumber sapu. Akhirnya, mereka membuat tulisan-tulisan pendek. Ada yang diberi gambar.
Yang mengejutkan, ada sehalaman tulisan mengenai sapu yang berhubungan dengan DPR. Anak itu membuat kalimat yang terlalu berani, yang aku artikan “menyapu” DPR. Anak itu sebenarnya menggunakan kata “membunuh” DPR tapi aku menggantinya agar tidak ada gejala revolusioner. Anak kelas 3 SD yang tampak cengengesan tapi mengerti keburukan-keburukan DPR.

Pulang saat gerimis sudah membasahi sekolah dan jalan. Sepeda motorku tidak bisa melaju kencang. Bagian lampu sudah diikat dengan tali plastik. Plat nomor di belakang pun harus mendapat ikatan agar tidak jatuh. Tetes-tetes hujan makin banyak dan kuat, aku memilih berhenti di kios-kios buku yang terletak di belakang Stadion Sriwedari. Berteduh di buku.
Apakah bisa berteduh di buku? Lihatlah, buku itu bukan payung atau atap! Yang tampak adalah atap kios-kios itu banyak yang bocor. Para penunggu buku murung. Puluhan kios tutup, tanda memilih mati. Di kios-kios, aku memandangi beragam buku bajakan. Yang paling berkuasa adalah buku-buku pelajaran.
Aku tidak ingin kehujanan. Berteduh di buku itu pilihan untuk selamat dari basah. Aku tidak ingin bertambah bersin-bersin lagi. Jangan sampai aku masuk angin!
Sore itu aku memiliki 65 ribu rupiah. Uang itu datang saat siang sedang garang. Pukul 1 siang, ada lelaki yang datang ke GOR Badminton Blulukan. Ia membeli buku mengenai otoritarianisme: 65 ribu. Rabu, hari aku berduit. Di kios-kios Sriwedari aku bakal jadi pembeli?

Ada kios ditunggu dua bocah. Aku menikmati setumpuk novel. Pilihan sudah ditentukan: A Thousand Splendid Suns (2010) gubahan Khaled Hosseini. Buku terbitan Qanita, diberi keterangan “edisi gold”. Buku masih plastikan tapi kondisi kotor. Bocah itu bilang harganya 30 ribu rupiah. “20 ribu saja,” kataku. Oh, aku tega! Akhirnya harga yang disepakati: 25 ribu rupiah. Dua bocah itu tersenyum, aku berpindah ke kios lain. Duitku masih 40 ribu rupiah! Apakah masih bisa untuk membeli buku?
Aku termasuk orang yang mudah terharu dan mewek membaca buku-buku Khaled Hosseini. Beruntung, aku belum pernah melihat film diangkat dari ceritanya. Kesan-kesan dari ceritanya masih mendekam di tubuhku. Aku biasa membujuk teman-teman untuk membaca buku-buku Khaled Hosseini meski mereka kadang tak percaya dengan ingatan dan tafsira yang aku suguhkan, penggalan-penggalan.
Pada saat hujan, aku tidak ingin mata berhujan. Aku mengelak dengan berimajinasi terjadi “hujan buku” atau “hujan huruf”. Kapan itu terjadi? Bayangkan bila hujan buku menjadi kota-kota di Indonesia “terkutuk” dengan novel-novel asmara dan horor. Yang menikmati hujan harus rela kepalanya kejatuhan buku-buku dalam edisi tipis atau tebal. Gagal dengan “hujan buku”, berharap terwujud “hujan huruf”. Aku ingin menjadi bocah yang tubuhku kuyup huruf. Tanganku menerima huruf-huruf dari langit. Sembarang huruf yang membuatku bisa menjadi pencerita atau pendoa.
Lamunan yang payah saat aku masih bersombong membelanjakan duit yang ada di saku celana. Berdiri di depan kios dengan penunggu lelaki tua yang bertampang putus asa akut. Ia pasti menderita sebagai penjual buku yang selalu sepi, dari hari ke hari. Mataku segera melihat buku kecil berwarna coklat-susu. Buku itu berjudul Judy Moody (2006) gubahan Megan McDonald. Aku sudah membaca tiga bukunya. Aku wajib beli lagi agar memiliki kesombongan bila bercerita di hadapan seribu orang. Ceritanya lucu dan menakjubkan. Aku salah baca. Aku bukan anak atau remaja tapi lelaki brengsek yang mau 45 tahun. Duh, aku telanjur membacanya!

Ada satu buku lagi di tanganku yang berjudul jelek: Mari Jatuh Cinta Lagi (2011). Buku terbitan Zaman. Aku memastikan Zaman sering menerbitkan buku-buku agama. Buku yang di tanganku tentu bukan ajakan untuk kasmaran dan mengumbar berahi. Penglihatanku yang mulai kabur masih bisa membaca nama penulis buku: Ibnu Al Dabbagh. Oh, ulama klasik. Jadi, buku itu terjemahan dari kitab klasi yang berbahasa Arab. Penerjemahnya kurang ajar! Judul yang tidak bermutu. Keterangan di bawah judul: “Kitab Para Perindu Allah”. Aku lekas memilihnya untuk dibeli bareng buku Judy Moody. Lelaki tua yang putus asa itu mau menerima uang dariku 30 ribu rupiah untuk dua buku. Beruntunglah tetap mendapat rezeki saat hujan bikin Rabu yang sendu.
Setengah jam berlalu. Hujan menjadi rintik-rintik saja. Aku harus berani berada di jalan bersama sepeda motor yang kedinginan. Senja itu aku harus ada di GOR Badminton Blulukan untuk ibadah harian: berperan sebagai buruh menyapu dan mengepel.
Sampai di Purwosari, matahari malah nongol setelah hujan. Pemandangan yang membuatku memaafkan matahari setelah tadi siang memberi siksa yang tidak bisa ditebus dengan segelas es teh. Senja, aku menjadi pemilik tiga buku bekas. Aku pun menyadari diriku mulai bekas. Hidup sah telah bekas. Senja yang lekas bekas. Malam bakal datang sambil berharap nanti bisa mengintip bulan sabit. [] Durjana
