Curhat Erna Surya

Hari itu seharusnya jadi hari yang damai. Tidak ada pekerjaan, tidak ada tenggat, tidak ada drama hidup yang bikin kepala berat. Hanya saya, kasur, kipas angin, dan kesunyian yang terasa manis di lima menit pertama, lalu berubah jadi sepi yang menyebalkan di menit ke enam. Saya sudah memandangi langit-langit kamar cukup lama. Saya sudah menatap ponsel sampai mata rasanya seperti diperban notifikasi. Saya membuka semua aplikasi yang bisa dibuka, dari TikTok sampai Kalkulator, hanya untuk memastikan tidak ada keajaiban digital yang tiba-tiba menyelamatkan hari saya. Tapi tidak ada apa-apa. Dunia tetap datar, hidup tetap gabut, dan saya masih di posisi yang sama: berbaring di kasur sambil memikirkan kenapa manusia diciptakan dengan rasa bosan.
Akhirnya, di tengah kekosongan itu, muncul ide yang terdengar sangat mulia di kepala saya: “Aha! Menerjemahkan cerpen berbahasa Inggris!” Rasanya seperti pencerahan. Mungkin ini cara saya untuk sedikit produktif, menajamkan otak, dan menipu diri sendiri bahwa saya masih berguna untuk peradaban. Jadi, saya buka laptop, mengetik di Google: “short story in Gutenberg.” Lalu muncullah sederet judul, sebagian terlihat keren. Dan ada satu judul yang langsung menarik perhatian saya: The Yellow Wallpaper karya Charlotte Perkins Gilman.
Saya tidak tahu siapa Charlotte itu, tapi judulnya terdengar tidak mengancam. Wallpaper kuning, pikir saya, mungkin ini kisah lucu tentang interior rumah atau cat tembok yang gagal matching dengan sofa. Jadi, dengan penuh semangat palsu khas orang gabut, saya klik tautannya, membuka teks, dan mulai menerjemahkan kalimat pertama. Awalnya biasa saja. Ceritanya tentang seorang perempuan yang katanya sedang sakit dan disuruh istirahat oleh suaminya, yang kebetulan seorang dokter. Saya membaca sambil santai. Si tokoh utama ini tinggal di rumah besar, istirahat di kamar atas, dilarang melakukan apa pun karena “demi kesehatannya.”
Beberapa paragraf pertama terasa ringan. Saya bahkan sempat berpikir ini mungkin kisah romansa atau sedikit drama domestik. Tapi semakin saya baca, semakin muncul rasa aneh. Tokoh perempuan itu mulai bercerita soal dinding kamarnya yang dilapisi wallpaper warna kuning. Katanya, motifnya aneh. Tidak enak dilihat. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Saya berhenti sebentar, menatap dinding kamar saya sendiri. Warnanya biru muda. Aman. Tidak ada yang bergerak, kecuali nyamuk yang sedang uji nyali. Saya lanjut membaca.
Paragraf demi paragraf berjalan. Si tokoh makin sering menyebut wallpaper itu. Katanya, “pola itu bergerak.” Saya mengetik hasil terjemahan: “The pattern moves, sometimes” menjadi “Pola itu kadang bergerak.” Lalu saya berhenti lagi. Pola yang bergerak? Dalam hati saya berkata, “Mbak, kamu ngantuk ya?” Tapi rasa penasaran membuat saya terus lanjut. Makin ke tengah cerita, suasananya berubah. Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti bisikan dari ruang gelap kepala seseorang. Si tokoh yakin ada sosok perempuan di balik wallpaper itu. Perempuan yang bersembunyi, merangkak, berusaha keluar.
Saya yang awalnya santai, mulai tidak tenang. Otak saya membayangkan wallpaper kuning yang berdenyut pelan, seperti kulit makhluk hidup yang bernapas. Saya menatap dinding kamar saya lagi. Biru muda itu entah kenapa terasa agak kekuningan malam itu. Saya menarik napas dalam-dalam. “Tenang,” saya menenangkan diri. “Ini cuma cerpen, bukan film horor.” Tapi tentu saja imajinasi tidak bisa diajak logika. Di kepala saya, mulai muncul adegan absurd: perempuan dengan wajah pucat keluar dari dinding sambil berkata, “Tolong, wallpaper aku kusut.”
Saya lanjut membaca sambil menahan tawa karena mulai takut dengan diri sendiri. Tapi semakin dalam saya membaca, semakin saya merasa aneh. Saya mulai bertanya-tanya: apakah tokoh ini benar-benar gila? Atau jangan-jangan orang-orang di sekitarnya yang gila karena tidak mau memahami dia? Suaminya, yang dokter itu, melarang dia menulis, melarang dia bekerja, bahkan melarang dia merasa. Semua dengan alasan “ini demi kesehatanmu.” Saya tiba-tiba merasa relate. Bukan karena saya punya suami, tapi karena saya tahu rasanya ketika orang bilang, “Udah, jangan dipikirin, nanti juga hilang,” padahal justru itu yang bikin kepala makin sesak.
Saya berhenti menerjemahkan. Kopi saya sudah dingin, tapi saya masih terpaku pada kalimat si tokoh. Ada kalimat yang bilang dia ingin menulis tapi tidak boleh. Saya terdiam lama. Mungkin kegilaan memang sering lahir bukan dari pikiran yang rusak, tapi dari dunia yang tidak memberi ruang untuk kita bernapas. Dari situ saya mulai simpati. Saya ingin masuk ke dalam ceritanya, mengetuk pintu kamar si tokoh, dan bilang, “Mbak, aku bawa laptop, mau nulis bareng?” Tapi tentu saja saya cuma bisa duduk di depan layar, melanjutkan terjemahan, sambil merasa sedikit tidak stabil secara emosional.
Lalu tibalah saya di bagian akhir. Bagian yang bikin jantung saya berhenti sepersekian detik. Si tokoh benar-benar percaya ada perempuan di balik wallpaper itu. Ia mulai mengintip, mengamati, menunggu momen yang tepat. Dan akhirnya, ia merobek wallpaper itu. Ia ingin membebaskan perempuan yang terjebak di dalamnya. Saya menahan napas waktu membaca paragraf terakhir. Dan di sana tertulis bahwa perempuan yang ia lihat di balik dinding itu… ternyata dirinya sendiri.
Saya membeku. Saya menatap layar laptop seperti baru menemukan rahasia hidup yang tidak saya minta. Jadi selama ini, tokoh itu merasa dirinya sendiri terjebak di balik wallpaper itu? Saya merinding. Bukan karena seram, tapi karena rasanya saya juga pernah di posisi itu — terjebak di antara hal-hal yang saya tidak tahu bagaimana harus keluar. Bedanya, saya tidak punya wallpaper kuning, hanya tembok yang sudah kusam, tapi maknanya sama: kadang kita semua merasa terkurung di ruang kita sendiri.
Malam itu, setelah selesai menerjemahkan, saya tidak bisa tidur. Saya menatap tembok kamar. Semakin lama saya menatap, semakin saya merasa warna biru itu berubah jadi kuning pucat. Saya tahu ini efek sugesti, tapi tetap saja bulu kuduk saya berdiri. Saya akhirnya menyalakan lampu, membuka YouTube, mencari video kucing lucu untuk menetralkan suasana. Tapi tetap tidak bisa. Otak saya masih penuh bayangan perempuan merangkak di balik wallpaper.
Saya mulai sadar bahwa setiap orang sebenarnya punya “wallpaper kuning” masing-masing. Lapisan tipis yang menutupi hal-hal yang tidak ingin kita perlihatkan. Ada yang menutupinya dengan keceriaan palsu di media sosial. Ada yang menutupinya dengan kerja tanpa henti. Ada yang menutupinya dengan candaan setiap kali ditanya “kamu kenapa.” Dan saya mungkin menutupinya dengan terjemahan cerpen ini, seolah saya sibuk, padahal saya sedang lari dari rasa bosan dan cemas saya sendiri.
Saya menatap hasil terjemahan saya keesokan paginya. Tidak terlalu bagus, beberapa kalimat bahkan terasa kaku, tapi saya tersenyum. Karena di balik terjemahan itu, saya tahu ada sesuatu yang lebih dalam. Saya tidak cuma menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tapi juga menerjemahkan kegilaan tokoh itu ke dalam kewarasan saya sendiri. Saya seperti ikut merobek wallpaper di kepala saya—lapisan tipis yang memisahkan antara “aku yang diam” dan “aku yang ingin bicara.”
Dan lucunya, dari semua hal yang saya pelajari hari itu, kesimpulan paling jujur justru sederhana: jangan membaca karya sastra psikologis waktu kamu lagi gabut sendirian. Apalagi kalau kamu punya imajinasi yang aktif tapi stok keberanian terbatas. Jangan juga menatap dinding terlalu lama. Kadang yang menatap balik bukan setan, tapi pikiranmu sendiri. Dan kalau kamu ingin merasa produktif, mungkin lebih aman mencuci piring daripada menerjemahkan cerpen abad ke-19 tentang kegilaan.
Tapi tetap, saya bersyukur sudah melakukannya. Karena dari kegabutan hari itu, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga: bahwa cerita bisa jadi cermin. Kadang yang kita kira cuma kisah orang lain, ternyata sedang memantulkan wajah kita sendiri. Saya menutup laptop, mematikan lampu, dan sebelum tidur saya sempat berkata pelan ke dinding kamar, “Terima kasih ya, sudah diam saja malam ini.”
Dan oh ya, sebagai puncak semangat (dan sedikit keberanian), saya akhirnya mengirimkan hasil terjemahan itu ke sebuah media yang katanya menerima karya terjemahan sastra. Sampai sekarang saya masih menunggu kabar, entah dimuat atau tidak. Kalau dimuat, mungkin saya akan pamer dengan tenang dan menulis status penuh kebijaksanaan di Instagram. Kalau tidak, ya… mungkin saya akan menyalahkan wallpaper kuning itu lagi. Jadi, doakan saja ya—semoga dimuat. Kalau tidak, minimal doakan supaya saya tidak menerjemahkan hal-hal berpotensi mengganggu lagi waktu gabut berikutnya.
___________________

Erna Surya. Penulis dan penerjemah sastra.



