Katalog

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

Origami di Antara Rautan dan Pensil

Sepasang tangan melipat emosi,

pada kertas origami berwarna marun.

Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,

sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.

Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.

Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.

Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,

terbentuk balon udara.

Bagaimana bisa terlupa?

Kosong tanpa mantera.

Sepasang tangan itu beralih di kepala.

Menarik helaian sesal,

berusaha merontokkan nyeri di dada.

“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,

hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.

Sisi mata hati murni menatap lekat

pada pensil tumpul di atas loker.

Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,

yang coba butakan di mana letak rautan.

Sepasang tangan meraih keduanya,

membiarkan mereka bercumbu membabi buta.

Ia kembali lupa,

hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,

dan ujungnya terlalu runcing.

Rautan berbalut lembaran kayu tipis,

menggigit isi pensil yang sempat patah.

Sepasang tangan itu lunglai di meja,

menatap nanar pada ketiganya.

Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?

Ketika waktu tak lagi berpihak,

sepasang tangan itu meraih pensil,

ditusukkan ke balon udara.

Lubang kecil menganga.

Kembali pensil dan rautan disatukan,

kali ini bergumul mesra.

Napas terengah teratur.

Merapal doa capai kepuasan.

Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.

Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.

“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.

Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.

___________________

Perjalanan

dua buku terbaca judulnya saja

bahkan keripik kentang lenyap

seiring kopi panas yang menghangat

pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,

bandung – yogyakarta

sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya

mengajak berputar-putar bak tornado

membawaku ke perjalanan lain di atas angin

“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu

decit rem disertai klakson panjang menyentak,

disusul serapah juru kemudi

kami akhirnya menepi,

sejenak selaraskan irama jantung dengan napas

kupasang headset dan bantal leher

musik belum dimainkan,

tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar

sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku

___________________

Mabuk Parfum

berlarian

melompat-lompat

berteriak

terbahak-bahak

bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,

yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita

lemon

kayu manis

sweet pea

sedikit koral

dan apel

kau yakin dengan rasa pikiran itu,

digerus dalam drum berbau anyir

hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur

kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku

seperti buah berri,

juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang

kupikir kau tak suka

aku menjauh,

dan kau menarikku

merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh

aku kedinginan,

kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu

aku marah

tapi kau menciumku,

mengendus-endus seperti pudel peliharaanku

kurasa kau mabuk

jarimu menggambar masa depan di dadaku

desahmu seperti doa-doa panjang

kepalaku mulai pening

“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu

ruang kosong ini kian pekat

“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu

__________________

Ingatan Senja

Langkahku terhenti

Bangsal Kenanga, ruang 207

Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil

Meringis menertawakanku

Semalaman aku menimbang isi pesanmu

Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya

Meski kita tak pernah nyata

Selangkah masuk, aku membatu

“Pertahankan jarak itu!” perintahmu

Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit

Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu

Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus

Aku telah mantap

Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang

Bukan biru gelap kesayanganmu itu

“Aku senang kamu datang.

Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi

Enggan aku menunggu lebih lama

Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning

Kusambar pistol di saku celana

Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu

Merah dan kuning berhamburan

Memutuskan lebur jadi satu

Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela

Mimpiku biarlah menjadi impian

Meski di ujung napas namaku tak kau sebut

Aku berhasil menjadi pahlawan

Oranye adalah selimut keabadianmu

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Samping

JEJAK LUKA TANPA KELUH

​Di sebuah sudut jalan, kita sering berpapasan dengan orang yang tampaknya biasa saja. Pakaiannya tak mencolok, langkahnya teratur, dan sorot matanya seperti kosong, serupa lukisan yang belum selesai diwarna. Mereka mungkin bekerja sebagai pedagang asongan yang menjajakan rokok, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan di bawah terik matahari. Mereka bukan pahlawan super, juga bukan tokoh utama dalam drama yang kita tonton. Mereka hanya orang-orang yang, entah bagaimana, berhasil menelan penderitaan dengan senyum tipis.

​Hidup mereka lekat dengan serangkaian badai yang tak berkesudahan. Suatu hari, mereka bangun dengan kabar rumah kontrakan harus dikosongkan. Esok harinya, anak mereka jatuh sakit, biaya rumah sakit melambung, sementara tabungan sudah lama kering. Saat mereka berusaha bangkit, motor satu-satunya mogok. Setiap kali mereka mengira sudah mencapai dasar, ada saja yang menendang lebih dalam. Namun, keajaibannya, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak menumpahkan amarah di media sosial, tidak mengadu pada siapa pun, bahkan pada diri sendiri. Mereka hanya menjalani, seolah semua itu bagian dari kurikulum wajib yang harus diselesaikan.

​Ironi yang paling menyakitkan adalah bagaimana masyarakat memandang mereka. Kita sering melihat keuletan itu sebagai inspirasi. “Lihat, dia begitu kuat! Masalahnya bertubi-tubi, tapi tetap tegar!” Kita mengagumi mereka, memotret mereka, lalu mengunggahnya dengan tagar #motivasi atau #inspirasipagi. Kita seakan lupa bahwa apa yang kita anggap ketegaran mungkin bentuk mati rasa, sebuah mekanisme pertahanan yang tercipta dari luka yang sudah terlalu banyak. Bukan mereka kuat, hanya sudah terlalu lelah untuk berteriak. Mungkin mereka tidak lagi menangis, karena air mata sudah habis terkuras.

​Di balik senyumnya yang tidak menuntut, ada lelucon tragis. “Kenapa kamu tidak mengeluh?” tanya kita, dengan nada kagum yang tulus. “Untuk apa?” jawab mereka, sambil tertawa kecil. “Mengeluh tidak akan membuat harga sembako turun, juga tidak akan membuat anak saya sembuh.” Jawaban itu, sederhana namun menohok, bentuk sindiran paling jenaka sekaligus pedih. Kita, yang sering mengeluhkan hal sepele, seperti lambatnya koneksi internet atau kopi kurang panas, tiba-tiba merasa malu. Mereka mengajari kita, tanpa disadari, tentang proporsi penderitaan yang sesungguhnya.

​Fenomena ini cermin tajam bagi kehidupan modern. Kita hidup di era di mana setiap orang punya panggung untuk mengeluh. Media sosial adalah etalase kesedihan, tempat di mana kita memamerkan luka-luka, berharap mendapat empati dan validasi. Kita menganggap penderitaan kita begitu unik, begitu spesial, sehingga harus diabadikan dalam bentuk utas atau status. Sementara, di dunia nyata, banyak orang menggendong beban jauh lebih berat tanpa pernah mengunggahnya. Mereka adalah bayangan bergerak di antara kita, membisikkan kebenaran yang tidak kita inginkan: bahwa kadang, yang paling menderita adalah mereka yang paling diam.

​ Kisah tentang orang-orang yang terlunta-lunta tanpa keluh juga banyak dalam karya sastra, salah satunya dapat kita temukan di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana ada tokoh Srintil. Penderitaan hidupnya datang bertubi-tubi. Dari kecil ia sudah kehilangan orangtua. Lalu harus menerima nasib sebagai ronggeng, yang dianggap rendah dan menjadi objek eksploitasi. Masalah belum berhenti sudah terseret dalam huru-hara politik yang membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan segalanya.

​Namun, Srintil tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang meratapi nasib dengan tangisan atau keluhan panjang. Ia tidak mencari simpati. Penderitaannya seolah sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Ia terus berjuang, mencoba mencari jati dirinya yang hilang di tengah kehancuran. Tohari tidak membuat cerita ini jadi melodrama yang menguras air mata. Ia justru menyajikan kisah Srintil dengan gaya dingin dan realistis, seakan ingin menunjukkan bahwa penderitaan sebesar apa pun bisa menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Ini sindiran tajam tentang bagaimana penderitaan bisa membuat orang menjadi mati rasa atau, lebih tepatnya, menjadikan ketabahan sebagai satu-satunya pilihan.

​Maka, apa esensi menulis di zaman yang serba digital ini? Mungkin, bukan lagi tentang mencipta cerita yang sensasional, melainkan tentang merekam cerita nyata, yang sering terlewatkan. Menulis bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi tentang keberanian untuk melihat, mendengar, dan menghormati keheningan di balik penderitaan. Kita harus menulis tentang mereka yang tidak bisa menulis kisah mereka sendiri, tentang para penderita yang tidak ingin menjadi pahlawan.

​Ada senyum kecil berselimut haru, ketika kita menyadari bahwa orang-orang yang paling kita kagumi mungkin orang yang paling hancur, kita akan tersentak. Kita mengira mereka kuat, padahal hanya pandai menyembunyikan kerapuhan. Kita mengira mereka bahagia, padahal hanya sudah terbiasa sedih. Senyum mereka bukan tanda kebahagiaan, melainkan tanda bahwa mereka telah menerima nasib buruk sebagai teman seperjalanan.

​Mungkin sesekali kita perlu menyimak dari samping, bukan untuk melihat siapa paling sering mengeluh, melainkan untuk melihat siapa paling sering tersenyum di tengah badai. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik wajah yang datar, ada ribuan cerita yang tidak pernah terucap, air mata yang tidak pernah tertumpah. Dan mungkin, keindahan sejati dari hidup terletak pada kemampuan kita untuk menanggung beban tanpa harus membebani orang lain.

​Penderitaan, pada akhirnya tidak selalu butuh suara, kadang hanya butuh keheningan. Dan mereka yang memilih diam, yang terus berjalan meski lututnya sudah lemas, adalah monumen hidup yang harus kita hargai. Mereka mengajarkan kita bahwa satu-satunya cara bertahan dengan menjadikan jejak luka tanpa keluh. Dan kita, sebagai manusia yang masih bisa memilih, harus belajar untuk membaca jejak-jejak itu.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Pulang

aku melihat kesepian

pada setiap kata-katanya

bahkan rumah

tidak selalu pulang baginya

aku, juga belum pulang untuknya

hanya sebagai persinggahan

hati mengatakan sama

bibir mengatakan beda

percakapan kita

adalah pulang baginya

yang tidak pernah ia temukan

pada rumah ibu

kira-kira seperti itulah

(Surabaya, 2025)

___________________

Doa

mengapa doa tak kunjung terkabul?

mungkin,

karena Tuhan ingin

agar kau terus berdoa

terus mengunjungi-Nya

terus menyebut nama-Nya

hal yang tak pernah kau lakukan

hingga di usia matang ini

 (Surabaya, 2025)

___________________

Katamu

katamu orang-orang mencariku

di matamu

benarkah?

kataku jangan

aku sedang sibuk menggambar di halaman ibu

sembari membaca doa para perantau

di tangan-Nya

bagaimana aku menelusuri?

sedang akulah debar di jantungmu

ya, aku mengutip sedikit ucapanmu

pada pidatomu yang terlampau diam

katamu orang-orang mencariku

di bening matamu

takkan ketemu

karena aku telah pulang

(Baubau, 2023)

___________________

Malam, Kawan

selamat malam, kawan

lama tak jumpa

ranjang ini memanggil sejak lama

dan kita hanya saling menunggu

malam ini milik kita

biarkan kulit yang bersuara

aku mencoba mengabadikannya

dalam kata-kata

hingga aku bingung

malam ini

kita sebagai kawan

atau sebagai kekasih

 (Suarabaya, 2025)

____________________

Sabda Si Pemalas

Tuhan, hari ini aku tak ingin berbuat apa-apa

kecuali tidur sepanjang hari

sampai magrib berkumandang

biar suci puasaku hari ini

kata seseorang yang pernah kudengar

Tuhan, bolehkah puasaku hari ini

diberi pahala yang banyak

sebab tidurku bukanlah caci maki

bukanlah maksiat

di ujung kamar sana

ada ponsel bersuara

“ndasmu.” dari lelaki gemoy

Tuhan, sepeti itukah jawabanmu

atas malasku?

(Surabaya, 2025)

___________________

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (2024).

Belakang

GURU ITU BUKU

Para pembaca novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia masa 1920-an dan 1930-an mungkin enggan membuat album ingatan. Konon, pelajaran di sekolah dan omelan para kritikus sastra mengakibatkan kita malas memuliakan sastra bercap Balai Poestaka atau Poedjangga Baroe. Kita capek membaca gara-gara bahasa: ejaan dan gaya. Kita pun dibikin bosan: pengulangan tema atau pemuatan hal-hal yang tidak penting tapi bikin sesak cerita.

Siapa yang masih merawat ingatan setelah membaca novel-novel masa 1920-an dan 1930-an? Yang teringat mungkin nama-nama tokoh dalam cerita selain judul-judul novel (roman). Kini, novel-novel itu makin kehilangan pembaca walau Balai Pustaka beberapa tahun lalu tetap mencetak ulang dengan garapan sampul baru yang jelek dan salah.

Para pembaca yang masih sabar mengasuh masa lalu dan memuliakan novel-novel bisa membuka ingatan untuk membuat catatan-catatan (tidak) penting. Maksudnya, yang teringat lekas dicatat agar bisa dipikirkan sejauh satu meter atau cukup sepanjang penggaris milik murid SD.

Kita berharap ada pembaca yang mencatat jenis-jenis pekerjaan yang terkandung dalam novel. Bayangkan ada orang membaca selusin novel masa 1920-an dan 1930-an. Ia mencatat nama para tokoh dan pekerjaannya. Maka, kita bisa menduga ada kebiasaan para pengarang memunculkan tokoh yang bekerja sebagai guru.

Novel-novel dari masa lalu mengingatkan guru. Pada awal abad XX, pekerjaan sebagai guru memberi kehormatan. Namun, kita memikirkan lagi: guru itu bekerja di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, perkumpulan atau partai politik, atau komunitas agama. Kemunculan guru berbarengan modernitas dan perwujudan Politik Etis. Yang bekerja menjadi guru adalah sosok-sosok yang berilmu. Ia pun wajib memiliki kesopanan, keberpihakan ideologi, dan mengerti gejolak zaman.

Jadi, tokoh sebagai guru muncul dalam berapa novel yang diterbitkan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an? Tugas kita bukan berhitung dan memberi bukti-bukti. Kita meyakini saja bila guru sering dihadirkan dalam novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Para pengarang masa lalu pun ada yang pekerjaan tetapnya adalah guru.

Yang mengisahkan dan menjelaskan guru bukan cuma novel. Buku-buku bertema pendidikan dan guru juga gencar diterbitkan di tanah jajahan, sejak awal abad XX.  Kita yang masih mau lelah membaca gara-gara bahasa dan tidak takut bersin-bersin saat membukan lembaran kertas lawas berdebu bakal menemukan masa lalu dan berdekatan dengan sosok guru.

Buku masih terpegang tangan berjudul Ngelmoe Goeroe. Yang kita hadapi adalah buku berbahasa Jawa. Artinya, buku yang dapat memberi imbuhan bagi kita mengenali guru selain dalam buku-buku yang berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Kita bersyukur yang terbaca adalah buku berbahasa Jawa tidak menggunakan aksara Jawa. Kita bisa mencret dan pusing selama tiga hari jika harus membuka lembaran-lembaran beraksara Jawa.

Buku berjudul Ngelmoe Goeroe disusun R Soedjanaredja, yang berstatus “mantri goeroe ing Karanganjar”. Guru menulis buku itu kemuliaan. Guru yang ikut memajukan usaha pengajaran dan pendidikan membuktikan keseriusan mengubah nasib tanah jajahan.

Buku terbit 1931 berkaitan debat panjang dan pelik mengenai kebijakan pemerintah kolonial terhadap sekolah dan guru partikelir. Guru-guru dicurigai ikut bikin kacau dan keruh gara-gara berpolitik dan melakukan serangan terhadap kolonialisme.

Arti di Jogjakarta, perusahaan yang menerbittkan buku memiliki harapan: “Soemebaripoen serta poenika tamtoe bade mewahi gamblangipoen para goeroe ing pamoelangan alit anggenipoen nindakake padamelan.” Buku petunjuk atau pedoman yang membuat para guru dapat mengajar secara baik dan benar. Buku diakui penting agar pengajaran menemukan hasil-hasil yang diharapkan.

Soedjanaredja menjelaskan jenis-jenis buku atau “lajang” yang digunakan dalam pengajaran di sekolah. Yang pertama disebut “Leerboek”. Keterangan: “Lajang piwoelang ngelmoe boemi, ngelmoe etoeng, woelang basa lan lija-lijane. Kabeh isi kawroeh kang oeroet-oeroetan (samboeng-sinamboeng) kang preloe disinaoe dening moerid.” Buku yang dimaksud adalah yang memuat ilmu bumi, ilmu hitung, pelajaran bahasa, dan lain-lain. Murid-murid mempelajarinya secara berkesinambungan dan berjenjang.

Yang kedua adalah “Leesboek”. Soedjanaredja mengartikan itu “lajang watjan” atau buku bacaan, yang berbeda dengan buku pelajaran. Buku yang dimaksud adalah huku yang berisi “tjarita kang roepa-roepa kang ora mesti oeroet-oeroetan.” Buku memuat cerita-cerita, yang cara menikmatinya berbeda dari buku pelajaran. Biasanya “lajang watjan” mengisahkan lakon kehidupan bocah atau binatang. Cerita-cerita sederhana yang memikat dan merangsang murid belajar banyak hal dalam sukacita.

Yang ketiga disebut “Leerlesboek”. Buku yang digunakan dalam mengajar yang tidak harus urut atau bersambungan tapi menerangkan ilmu-ilmu yang dipelajari murid sekaligus membuat mereka lancar dalam membaca.

Kita penasaran dengan beragam buku yang terbit pada awal abad XX. Buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah demi sumpah maju dalam peradaban. Buku-buku terbit dalam bahasa Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, dan lain-lain. Ingat, sejarah pendidikan di Indonesia adalah sejarah kertas-kertas atau buku. Yang terpenting sejarah memberi peran besar kepada guru.

Di buku lawas hampir berusia seratus tahun kita menemukan halaman-halaman mengenai pelajaran menulis huruf Latin. Dulu, anak-anak di tanah jajahan yang ingin “madjoe” mesti mengetahui huruf Latin. Surat kabar dan buku-buku yang terbit di zaman “kemadjoean” sering berhuruf Latin. Yang ingin mengetahui zaman dianjurkan bisa membaca dan menulis berhuruf Latin. Modernitas itu datang dari Barat, yang mengubah tanah jajahan melalui huruf dan bahasa.

Yang tidak terlewat adalah pengajaran untuk menulis berhuruf atau beraksara Jawa. Dua hal yang berbeda. Murid-murid memiliki kesulitan yang berbeda agar mahir menggerakkan jari dan alat tulis di atas kertas. Jadi, murid-murid yang bisa menulis (Latin atau Jawa) diharapkan memiliki masa depan yang terang. Mereka memiliki bekal untuk bekerja. Yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang cukup mapan, yang memerlukan kaum terpelajar atau penerapan ilmu-ilmu.

Bab penting lagi yang ikut memajukan pendidikan di tanah jajahan adalah bercerita. Di halaman 83, Soedjanaredja menjelaskan masalah pengajaran bercerita atau “piwoelang tjarita”. Tujuan guru mengajarkan bercerita: “soepaja moerid seneng atine, soepaja kawroehe moendak, soepaja kelakoeane dadi betjik, soepaja basane moendak betjik, nipisake goegon toehon, bisa mbedakake ala lan betjik, bisa goeneman kang ganep.”

Kita mengartikan bahwa memberi cerita kepada murid-murid itu berkaitan dengan pengetahuan, perasaan, berbahasa, tingkah laku, dan lain-lain Cerita-cerita dianggap mudah diterima dan berkesan kepada murid-murid. Dampaknya besar ketimbang selalu memberi perintah dan larangan dalam pembahasaan resmi.

Yang kita buka adalah halaman-halaman buku lawas, yang mungkin tidak digunakan lagi pada masa sekarang. Buku yang diperoleh adalah jilid dua. Di mana buku yang jilid satu? Apakah buku masih ada di Indonesia atau Belanda?

Bila beruntung buku-buku seharusnya tersimpan oleh anak-cucu-cicit Soedjanaredja. Mereka pasti kagum memiliki leluhur yang guru dan sanggup menulis buku untuk pedoman pengajaran para guru di Jawa atau tanah jajahan. Pada masa lalu, guru yang menulis buku adalah manusia ampuh. Ia berada dalam arus keaksaraan yang menjadikan zaman berubah oleh bacaan-bacaan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Cerpen

Keadilan yang Dikunyah Gerimis

Cerpen Diana Rustam

Kucing liar yang selalu hinggap di bingkai jendela kamar Gerimis itu, mati hari ini. Menurut Pak Harum—pemilik kontrakan tempat Gerimis dan Ilalang menyewa kamar—kucing itu tertabrak sepeda motor Pak Januari, laki-laki paruh baya yang rumahnya berjarak 100 meter dari kontrakan milik Pak Harum.

Kucing hitam itu, tidak sengaja Gerimis temukan di bawah jendela kamarnya dalam keadaan sudah kaku dan dikerubungi semut.

Pak harum bercerita dengan semangat, sehingga Gerimis bisa membayangkan kejadian tertabraknya kucing hitam itu seperti halnya menonton sebuah film.

“Kucing itu melintas di jalan depan kontrakan, sepertinya ingin bermain dengan seekor kucing lain yang ada di seberang. Sewaktu kucing itu tepat berada di tengah jalan, motor Pak Januari lewat dengan kecepatan tinggi. Kelihatan kalau Pak Januari sedang buru-buru.”

“Lalu?”

“Lalu, brak! Ujung ban depan motor Pak Januari menabrak perut kucing hitam. Kucing hitam menggelepar sebentar. Saya langsung melompat dari duduk saya waktu itu. Padahal, saya sedang ingin duduk, karena saya baru saja selesai membersihkan sumur karena kamu dan Ilalang menjatuhkan bungkus sabun cuci  ke dalam sumur. ”

“Hm… Lanjut, Pak, ceritanya. Bungkus deterjen  jangan diungkit dulu,” kata Gerimis protes.

“Anggap saja itu jeda iklan. Baik, saya lanjut, ya. Tadi sampai mana?”

“Pak Harum melompat dari duduk yang… padahal… Ah sudah, pokoknya begitu.”

“Nah, saya dekati kucing itu, tapi kucing itu mendadak berdiri dan lari ke arah belakang rumah.”

“Lalu?”

“Saya ikuti, tapi…lari saya kurang kencang, kamu tahu, kan, kalau saya waktu itu sedang capek karena baru saja membersihkan sumur karena—“

Ucapan Pak Harum dipotong Gerimis, “Karena bungkus detergen yang masuk ke sumur, itu kerjaan saya sama Ilalang!”

“Nah itu! Oh iya, barusan kamu kubur di mana kucing itu?”

“Di tanah kosong sebelah rumah Pak Januari. Di bawah pohon pisang.”

“Baguslah…soalnya pekarangan kita ini sempit.”

Gerimis menarik napas panjang. Meskipun ia punya rambut gondrong yang selama ini terkesan seperti anak muda yang cuek, tapi sebenarnya Gerimis termasuk orang yang gampang terharu.

Singkat cerita, Gerimis menangis.

“Gondrong, Kok, nangis. Nangisin kucing pula, gak cocok,” sindir Pak Harum.

“Panjang pendeknya rambut tidak menentukan kadar ketahanan mental, Pak.”

“Bahasamu, kok, canggih? Gak seperti biasanya? Eh, sory, saya lupa kalau kamu itu mahasiswa hehehehehe.“

Gerimis tidak menanggapi. “Kucing itu saya kasih nama Keadilan, Pak.”

Pak Harum mengangkat kedua alis matanya yang tebal.

“Keadilan itu sudah jadi belahan hati saya. Tiap malam dia saya ajak ngobrol. Keadilan tidak protes kalau saya selalu mengeluh. Semua masalah saya, saya ceritakan padanya. Dia duduk seperti roti di jendela, sambil mendengarkan saya bicara. Sekali-kali Keadilan saya kasih makan mie instan, Keadilan tidak menolak, malahan dia makan dengan lahap.”

“Lalu?” Pak Harum menagih cerita dilanjutkan.

“Mula-mula keadilan itu takut-takut mendekat. Eh, lama kelamaan setelah saya pancing dengan ikan asin dia mulai berani. Pertama-tama di bingkai jendela, lama-kelamaan dia tidur di tempat tidur saya, Pak. Tapi saya tidak keberatan, toh Keadilan juga menyenangkan, tidak pernah merusak barang-barang dalam kamar saya. Jangankan kasur, kalau dia butuh baju, akan saya pakaikan di badannya.”

“Eh, apa kamu juga membicarakan saya pada kucingmu?”

“Tenang saja, Pak. Kucing tidak suka bergosip.”

“Iya, ya. Tapi kenapa namanya Keadilan? Bukan si Hitam, Si Manis, atau si Belang?”

“Tidak mungkin si Belang, soalnya bulunya melulu hitam.”

“Oh iya, kamu betul. Terus?”

“Ya, begitulah, Pak. Saya merasa sangat kehilangan. Saya sedih.”

“Tapi kenapa harus Keadilan?” Pak Harum masih penasaran.

“Entahlah… Keadilan langsung saja muncul di kepala saya waktu itu. Tapi si Keadilan ini memang punya sikap yang adil. Contohnya, sewaktu saya kasih makan, dia tidak mencoba mengambil ikan bagian saya, padahal bagian saya ada di depannya. Kucing lain mungkin akan menggasak milik tuannya kalau makanannya sudah habis. Saya pernah lihat kucing yang rakus, seolah-olah kucing itu tidak pernah kenyang. Kucing itu memakan semua ikan di atas meja tanpa sisa, tulang pun ikut dikunyah sampai habis.”

Keluh kesah Gerimis selesai ketika Ilalang sebahatnya pulang dari kerja. Pak Harum menepuk-nepuk pundak Gerimis. Ilalang ikut menenangkan Gerimis setelah mendengar cerita yang panjang itu dituturkan kembali oleh Pak Harum. “Sabar, ya. Keadilan tidak mati, dia hanya pindah ke tempat lain,” kata Ilalang.

***

Suatu malam, ada ketukan di pintu kamar Gerimis. Segera Gerimis menyudahi menonton televisi dan beranjak membuka pintu. Di depannya, Pak Januari sudah tersenyum kemudian memberi salam.

“Begini, Dik Gerimis…kejadian bulan lalu itu, saya minta maaf,” Kata Pak Januari setelah duduk dan sedikit berbasa-basi. “Saya baru tiba dari kampung kemarin, dan langsung mendengar sedikit cerita dari Pak Harum soal kucing hitam yang saya tabrak itu. Saya betul-betul tidak tahu kalau kucing itu kucing Dik Gerimis. Waktu itu saya terburu-buru, soalnya dapat kabar dari kampung kalau Bapak saya habis jual sawah dan saya mendapat bagian.”

Gerimis merenggut. “Lalu?”

“Ya, saya mau minta maaf. Sudah terlambat sebenarnya. Tapi, kan, tidak ada kata terlambat untuk minta maaf dan menyesali kesalahan, bukan begitu?”

Gerimis menghela napas. “Jadi kalau kucing itu bukan punya saya, Pak Januari gak akan minta maaf?”

“Bukan begitu hehehehe. Anu, kok, masalahnya jadi ribet, ya. Intinya, saya itu paham kesedihan, Dik Gerimis. Tapi itu, kan, hanya seekor kucing, lagi pula—“

Ucapan Pak Januari mendadak dipangkas Gerimis. “Cuma? Anda ini benar-benar tidak menghargai kehidupan. Anda tidak adil pada makhluk hidup.”

“Anu, bukan begitu, Dik Gerimis. Kejadian itu, kan, di luar kesengajaan saya.”

“Hm…sudahlah. Keadilan sudah tidak ada, saya marah-marah pun, dia tidak akan bangkit dari kuburnya.”

“Wah, Dik Gerimis ini memang bijak sekali. Oh iya, ini saya bawakan goreng pisang buatan istri saya. Dia titip salam untuk Dik Gerimis. Goreng Pisang ini dilapisi cokelat dan parutan keju. Rasanya enak sekali. Dik Gerimis pasti suka.”

Setelah meletakkan sekotak pisang goreng yang dibawanya, Pak Januari pamit pulang.

Gerimis mengintip kotak kertas yang dibawa Pak Januari, aromanya memang menerbitkan air liur. Gerimis berpikir, kalau Keadilan masih ada, pasti dia tidak akan menolak disuguhi makan malam dengan pisang goreng. Gerimis kemudian mengajak Ilalang menyantap pisang goreng cokelat keju itu ditemani secerek kopi sebagai kawan menonton pertandingan sepakbola sampai larut.

Esok harinya, Pak Januari datang lagi membawa dua sisir pisang kepok yang sudah matang sempurna. “Dik Gerimis, pisang di rumah saya banyak, ini saya bagi lagi. Soalnya perut saya sudah tidak sanggup menampung semua pisang ini. Saya hampir muntah disuguhi pisang setiap hari. Bayangkan, pagi-pagi saya dikasih pisang rebus, siang dikasih kolak pisang, sore dikasih pisang bakar, malam dikasih pisang goreng, apa tidak mabok pisang lambung saya?

“Bawaan dari kampung, ya, Pak?” tanya Gerimis.

“Oh, bukan. Ngapain saya repot-repot bawa pisang dari kampung. Toh di sini juga banyak yang jual di pasar. Pisang ini hasil panen dari pohon pisang yang saya tanam di tanah kosong samping rumah saya hehehehehe.”

Gerimis terbelalak. “Astaga!”

“Apanya yang astaga?”

“Saya sudah memakan Keadilan, saya sudah mengunyahnya dengan perasaan senang sampai kenyang. Kejam sekali!”

Pak Januari bingung. “Pisang dan keadilan, apa hubungannya? Sejak kapan keadilan bisa dikunyah? Kalau keadilan diinjak-injak, saya biasa dengar di televisi. Begitu kata pembawa berita.”

Gerimis menatap Pak Januari. Mulutnya masih menggumamkan nama Keadilan.

Makassar, September 2025.

______________________________________________

Diana Rustam, menulis cerpen dan puisi, tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Facebook: SuaraTonggeret. Ig: @dianarustam_

Cerpen

Penambang Bermahkota Sorban

Cerpen Heri Haliling

Samar bayang pelan memperjelas gambar. Pada sebuah cermin, rupa terungkap. Tak lagi ada rangkuman 5 jari menutup muka. Oleh tahta ilmu yang terbilas harga.

Nyatanya keberlakuan inilah yang bersemayam dalam diri Komisaris Daif. Mata tuanya nyalang memandang ke arah gerung ekskavator yang menguliti Pulau Sanuri. Komisaris Daif terkekeh. Semua sesuai mimpinya tentang umat. Sang Daif pencipta kesejahteraan itu. Meskipun sekecil lalat pun tahu bahwa pria bersorban itu tak ubahnya parasit pemakan inang.

Kabut debu menari di udara, membawa aroma logam, oli, dan ispa. Komisaris Daif menutup hidung dengan sejadah yang ia lingkarkan di leher. Di singgasana yang ia duduki sekarang, jemarinya mengetuki meja di depan. Meja yang berlapis kaca itu dulunya berisikan peta Sanuri. Di sana ada sungai, hutan hujan tropis, tanah gambut, dan garis-garis kontur pegunungan berusia ribuan tahun. Komisaris Daif mengangguk mantap, semua kini berganti oleh angka, titik bor, dan jalur hauling.

“Hutan bukan untuk dilukai, suamiku. Sungguh sikapmu kini terlampau berani,” tukas Luria Hanifa, istri Daif.

Sang suami memutar kursi mewahnya. Secerah cahaya yang dulu gemilang mulai redup meski sorban yang mengintari kepalanya itu pernah merengkuh Luria dalam suci asmara.

Komisaris Daif berdiri menjejak lantai kayu jati yang sesekali bergetar oleh blasthing tambang. Tangannya masuk ke saku jubah hijaunya. Dari dalam ia keluarkan tasbih kecil. Sekejab biji-biji tasbih itu mulai berputar beriring dengan kedut dua bibirnya.

“Jika kita tidak masuk dalam dimensi kapital ini, kaum yang percaya padaku hanya akan jadi jongos di negaranya sendiri. Melalui PT Umat, kita akan mulai restorasi baru. Mungkin tak adil, istriku. Tapi telah dari dulu bahwa tak akan ada tanaman bunga di ladang api.”

“Ladang api itu dari kita, Abi,” potong Suni, pemuda tegas dengan roman pucat terutama pada lingkar mata.

“Selesaikan kuliahmu dulu. Sampai masa di mana kau paham arti kebangkitan barulah pendapatmu kudengar,” urai Daif kepada putranya yang berusia bujang itu.

Suni yang kuliah jurusan kehutanan semester 6 maju menghadap sang ayah.

“Izin Suni jelaskan arti kebangkitan yang Abi elu-elukan,” katanya sambil mengeluarkan peta. Suni bentangkan peta yang ia pelajari dan yakini. Peta itu bertema vegetasi lahan dari hasil citra satelit dan data kemungkinan longsor. Luria mendekat menunggu penjelasan. Tidak dengan suaminya yang kokoh pada prinsipnya.

“Struktur geologi yang rapuh, seperti lapisan tanah lepas, retakan batuan, dan kemiringan lereng yang curam, membuat Pulau Sanuri rentan terhadap longsor,” urai Suni mengetuki peta dengan jari. Dia melanjutkan, “Kemiringan lereng tebing sangat terjal lebih dari 45 derajat, lokasi gerakan tanah berada di area tambang terbuka dengan metode penambangan teknik under cutting, ditambah kondisi tanah pelapukan litologi batuan yang labil. Ini belum semuanya,” tatap Suni ke ayahnya yang beku enggan peduli. “Potensi metana di Pulau Sanuri telah terdeteksi dengan kadar yang belum diketahui.” Suni menahan napas, “Cukup, kembalilah Abi seperti dulu. Hal ini tidak mungkin diteruskan. Ini genosida ekologis, Abi. “

Komisaris Daif melipat tangan. Dia lalu berjalan pelan menuju koridor samping. Sebuah gelas berisi kopi yang tinggal setengah ia dekati. Dingin kopi ia cecap, tapi ambisi itu tetaplah panas.

“Kita ini khalifah, bukan penjaga taman. Bumi diciptakan untuk dieksplorasi, bukan untuk disembah. Reboisasi adalah romantisme kaum urban. Kita bicara kebutuhan umat, listrik, baja, dan kemajuan. Semuanya telah diperhitungkan oleh sarjana geologi di perusahaan ini. Analisamu itu hanya sekelumit risiko.”

Luria mendekat, “Suamiku, kau bilang Islam itu fleksibel. Tapi bukan elastis sampai bisa membungkus mesin bor dan alat berat. Masa bencana itu datang, semua tafsirmu pun akan runtuh.  Bisakah nanti kau jelaskan ayat tentang longsor yang menelan desa? Apakah ada dalam khotbahmu tentang hadis yang mampu menenangkan ibu-ibu yang kehilangan anak?”

“Diam kalian!” bentak Daif. Dan ekspresi itu tak pernah Luria lihat seumur rumah tangganya sekarang.

Ruangan itu pun menebar rasa kaku dan panas meski mesin pendingin terus berupaya embuskan napasnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menarik perhatian Komisaris Daif. Dia segera berjalan untuk membukanya.

“Ohh Anda, Tuan Cheng? Mari masuk,” pinta Daif semringah oleh tamunya.

Tiga pria berjas rapi masuk ke kantor. Luria dan Suni yang melihat itu kemudian memutuskan pergi.

“Jadi bagaimana perkembangannya Tuan Cheng, apakah nikel kiriman saya cukup?”

Tuan Cheng yang bertubuh tambun dengan mata sipit itu menyulam jari jemarinya.

“Tuan Daif, saya ke sini atas saran atasan Anda juga. Tuan Abidah, selaku menteri SDA dan Energi memandati Tuan untuk tingkatkan ekspor nikel.”

Komisaris Daif memundurkan punggungnya agar lebih mudah bersandar di kursi. Sedikit gelisah mencuat di antara air mukanya.

“Pak Abid belum menghubungi saya terkait ini?”

Satu ajudan Tuan Cheng maju untuk mengantarkan map. Tanpa dipersilakan, Komisaris Daif segera membuka map itu. Isinya surat kontrak persetujuan dari Tuan Abid. Bahkan ada tanda tangan sosok negarawan yang Komisaris Daif tak bisa tolak.

Membaca itu tubuh Komisaris Daif mendadak penuh menguap. Seperti hendak meledak memikirkan tentang kemungkinan yang bakal terjadi.

“Hanya itu saja yang saya mau kabarkan ke Anda, Tuan Daif,” kata Tuan Cheng berdiri. Keduanya bersalaman meski raut wajah Komisaris Daif tak secerah dan seramah di awal. Kebalikannya, roman puas dan perasaan menang membuncah dalam sinar wajah Tuan Cheng.

Setelah langkah ketiganya menghilang di balik pintu, Komisaris Daif lalu menarik laci. Dia ambil sebuah buku catatan dan membukanya. Target rencana kerja, kalkulasi perhitungan, dan keuntungan komersil keluarga tertulis detail di buku itu. Komisaris Daif melepas sorban di kepalanya dan menaruh di meja. Uban di kepala itu bukanlah dusta dari sebuah usia dan mungkin pemikiran. Dia sadar semua tak akan berjalan sesuai targetnya. Alunan pikiran itu juga mengarah tentang sumpah serapah yang akan ia sandang dengan lebih gencar. Betapa tidak, semua ekspor nikel tersebut meningkatkan titik pengeboran. Berpotensi besar warga Sanuri semakin murka. Ironis lainnya, bahkan Pak Abid sendiri baru setengah melakukan pembayaran.

Blarrrr!

Mendadak bunyi dentuman seperti guntur menggelegar dari balik bukit Pulau Sanuri. Semua bergetar hebat dalam penuh keterkejutan. Komisaris Daif yang hampir terjatuh dari singgasananya menyaksikan bagian selatan seperti diatapi awan hitam yang mengepul disusul jilatan api setan raksasa. Lekas ia pasang sorban itu dan berdiri. Dia sadar betul ini bukan guncangan dari bom blasthing.

Brakk! Pintu terdobrak dari luar. Luria dan Suni berlari mendekati sang ayah.

“Abi! Longsor di jalur tambang selatan!” teriak Suni.

Alarm di pusat kantor meraung. Bagai semut semua pekerja dari karyawan lapangan, driver, sampai OB berhambur keluar. Telepon berdering.

Tanpa salam pembuka, Komisaris Daif yang mengangkatnya segera diberitahukan si penelepon tentang insiden dan potensi.

“Keluar dari pulau segera, Pak. Lakukan evakuasi! Kemiringan lereng dalam lubang tambang mengakibatkan longsor dahsyat! Parahnya longsoran itu juga mengoyak lapisan tanah yang mengandung metana! Ini bencana!”

Maka makin terperanjatlah Komisaris Daif. Dan rasa kengerian bercampur ketakutan itu sangat jelas terbaca oleh istri dan anaknya.

*

Seminggu berlalu. Dalam ruang persidangan, hakim menyetujui permohonan jaksa penuntut umum yang membacakan surat tuntutan mengenai bencana tambang di Pulau Sanuri. Tuntutan itu merupakan gabungan dari beberapa elemen bidang meliputi WALHI, tokoh adat, Dinas Kehutanan, bahkan dari pihak perusahaan. Bencana longsor dan meledaknya gas metana menjadikan sebagian Pulau Sanuri hancur berkalang tanah dan batu. Korban jiwa dan kerugian materi dipaparkan dengan rinci. Jaksa pembela seperti hilang taring manakala data telak mendebatnya.

Komisaris Daif duduk di kursi pesakitan. Mendengarkan setiap dakwaan tentang keteledoran sehingga menghilangkan berpuluh-puluh nyawa nyatanya adalah luka yang tersiram garam. Terlebih pihak tingkat tinggi juga ikut mendakwa dengan alasan perjanjian kontrak telah dibuat tapi mangkrak di tengah jalan. Perusahaan mengalami kerugian besar ditambah harus ikut terlibat dengan semua anarki masyarakat yang terdampak.

Luria dan Suni tak mampu berbuat banyak kecuali hanya tangisan sebagai simbol pengantar lara. Mereka berdua yang mendengar dakwaan bercampur hujatan tak sanggup lagi ingin berucap atau bertindak apa.

Bagaimana ini? Pikir Komisaris Daif. Dakwaan 20 tahun penjara telah tersemat. Semua aset dibekukan. Hutang membelit keluarga yang ditinggalkan. Belum lagi ancaman-ancaman untuk keluarganya. Sebagai pria yang dikenal tegas dan mengerti agama, ia tak hendak menangis. Namun kejadian ini sungguh menjungkalkan asanya. Sejatinya ia sadar mengenai bagaimana sebuah profesi mesti terikat pada satu tempat. Mungkin jika bukan pujian dari para penjujungnya atas kemampuan dan prestasi Komisaris Daif. Dia tak akan terima posisi tinggi ini. Pujian yang menjatuhkan. Atau mungkin memang ini hanya jebakan agar ada yang dikambinghitamkan. Akh! Ngiangan tentang dirinya yang mengajari santri mengaji di pondok mendadak muncul kembali. Mengajari ilmu yang seharusnya berlaku tegak lurus. Apa pun, baginya semua hanya nestapa. Komisaris Daif memutar kepalanya. Dia lihat istri dan anaknya yang rapuh itu. Dalam ringkih jiwa, mulut keringnya melontarkan suara lirih.

“Maafkan Abi, keluargaku. Harusnya Abi tak mencampurbaurkan antara ilmu agama dan ambisi dunia.”

________________________________

Heri Haliling, nama pena dari Heri Surahman  Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025).  Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan koran digital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling

Cerpen

Mo dan Kuci

Cerpen Septi Rusdiyana

Untuk Pak Rio

Mo masuk kamar dengan tergesa. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit. Ia pulang sejam lebih lambat dari biasa karena petugas keamanan kantor menahannya.

“Babi-babi gendut itu lama-lama mulai menyusahkan,” gerutu Mo.

Mo meletakkan tas dan goodybag di ranjang. Berjalan menuju akuarium khusus berisi enam ekor kecoa. Empat dewasa dan dua sisanya masih kecil. Mo memanggil semua dengan sebutan Kuci. Ia raih botol berisi air di dekatnya, lalu menyemprot ke arah serangga-serangga bertubuh mengilap itu dari atap akuarium yang penuh lubang kecil. Mereka berlarian tak tentu arah. Beberapa ada yang terbang meski pada akhirnya menabrak dinding-dinding kaca. Tak ada celah yang bisa membuat mereka kabur.

“Kuci-kuci, makanlah, Sayang.” Mo memasukkan tangan kanannya di lubang samping akuarium untuk meletakkan sepotong keju. Ia juga mengisi wadah kosong di dalamnya dengan susu cair. Malam itu Mo tak sempat makan malam di luar bersama teman-temannya. Kini, ia kelaparan. Binatang-binatang cokelat itu bisa cukup menghiburnya. Setidaknya, untuk sesaat.

Mo sangat memperhatikan peliharaannya. Setiap dua hari sekali ia selalu membersihkan akuarium dengan cairan disinfektan. Mo juga selektif pada kualitas makanan dan minuman yang diberikan. Ia ingin membuktikan bahwa semua binatang itu sama. Tidak ada istilah binatang hina karena jorok. Mo yakin, asal lingkungan dan makanannya selalu dijaga, maka binatang itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan hidupnya.

Ponsel Mo berdering. Ada panggilan masuk dari Kara, teman Mo. “Cepat datang atau aku akan mati kelaparan,” ancam Mo. Panggilan pun terputus usai suara di seberang menjelaskan bahwa dirinya tak lama lagi akan sampai.

Mo duduk di ranjang. Menyaksikan para Kuci berkerumun di sekitar keju dan susu. Sejenak Mo seperti sedang berpikir. Ia teringat dengan gosip yang akhir-akhir ini berembus di kantor tempatnya kerja. Memang tidak spesifik menyebut namanya, tapi Mo sangat yakin jika perempuan langu yang mereka maksud adalah dirinya.

Tadi sore, saat Mo menyusuri koridor menuju dapur, sekelompok staf dari divisi perencanaan tertawa ngakak, seperti tak tahan menahan geli. Namun, saat Mo masuk, seketika tawa itu terhenti. Tapi bukannya menjadi hening, justru lanjut dengan saling berbisik dengan volume yang bahkan bisa terdengar dari ruang sebelah. Sialnya, setelah Mo keluar dari dapur usai mengambil tumbler miliknya, mendadak tawa ngakak kembali bergema. Fenomena itu membuat Mo akhirnya yakin, dialah sumber lelucon itu.

“Sori sori, aku harus dua kali pindah tempat karena warungnya jorok.” Kara nyelonong masuk ke kamar. Ia menyerahkan bungkusan berisi salad buah jumbo pada Mo. Tanpa ba bi bu, gegas Mo membuka dan menikmatinya.

“Kamarmu sudah lama nggak dibersihin, ya?” tuduh Kara. Raut wajahnya mulai berubah. Ia bahkan menutup hidungnya.

“Sembarangan kamu!”

“Soalnya bau.”

“Bau salad dan susu maksudmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Bau kecoa,” jawab Kara singkat. “Menjijikkan,” lanjut Kara.

Mendengar kalimat itu, sejenak Mo menghentikan aktivitas makannya. Mo merasa tidak pernah mencium bau kecoa di kamarnya. Ia bahkan tak pernah lupa membersihkan kamarnya setiap hari. Ia juga yakin telah memberi makanan dan treatment terbaik bagi binatang kesayangannya itu. Jadi rasanya tidak mungkin Kuci-kucinya bau.

“Seperti sedang di rumah hantu saja,” komentar Kara. Tangan Kara menyambar parfum di atas meja rias Mo dan mulai menyemprot ke seluruh ruangan. Saat sampai di sudut kamar, Kara mematung. Ia melirik ke arah Mo dengan tatapan menyelidik. “Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu memelihara kecoa. Di kamar. Bahkan kamu bisa sembari makan?”

Mo melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia juga tidak berminat menjawab pertanyaan Kara. Kara masih terus saja mengomel seperti ibu tiri yang kesal saat anak kandungnya kehilangan kesempatan untuk didekati pria kaya gara-gara ulah anak tirinya. Sesaat sebelum akhirnya Kara memilih keluar kamar meninggalkan Mo, ia sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Mo tertegun: Hanya kamar-kamar alien yang punya aroma begini.

Mo mulai kehilangan nafsu makan. Bukan karena bau kecoa seperti yang Kara bilang, melainkan kalimat terakhir Kara membuat Mo kembali teringat pada gosip-gosip yang ia anggap murahan itu. Mo kesal. Apa salahnya jika ia berteman dengan alat pel lantai? Mereka jauh lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya dengan tanpa menghakimi. Mo sering duduk di atas tumpukan kardus bekas dan bicara dengan sarang laba-laba di gudang belakang. Tak ada prasangka. Tak ada nasihat-nasihat klise seperti di buku-buku motivasi yang kalimatnya justru membuat kepala Mo sering berdenyut.

Sekarang, Kara, satu-satunya sahabat yang Mo pikir bisa mengerti dirinya, memilih kabur hanya karena Mo memiliki kandang kecoa di kamarnya. Mo berpikir. Apakah usahanya sia-sia? Bukankah ia telah memberi perawatan dan makanan terbaik untuk binatang peliharaannya itu? Tapi kenapa Kara bilang masih bau?

Mo mulai menciumi aroma tubuhnya sendiri. “Mungkin Kara dan orang-orang di kantor benar. Bau itu bisa jadi berasal dari tubuhku,” gumam Mo. Mo tertawa. Semakin lama tawanya semakin keras. Ia tak lagi peduli dengan Kara. Tak juga peduli pada rekan-rekan kerjanya. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa. Menyelesaikan tepat waktu, dan memilih makan bersama kucing kampung yang sering mendatanginya di halaman belakang kantor saat Mo istirahat. Atau sesekali Mo akan naik ke gudang barang bekas di loteng kantor untuk sekadar bernyanyi sambil berdiri dekat jendela, menikmati pemandangan makam dan aroma kemboja yang menurut Mo semua penghuninya suka pada suara Mo. Mo kangen teman-teman di kantornya itu. Rasanya ingin segera esok dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mo lapar lagi. Sejenak ia lupa pada embusan-embusan kabar terkait dirinya di tempat kerja. Mo melanjutkan suapan demi suapan yang sebelumnya sempat terhenti. Mo tidak peduli lagi dengan apa pun. Mo hanya memikirkan satu hal: sore tadi, sebelum bos Mo kembali pulang, bos Mo sempat meminta bertemu di ruang kerja. Di sana, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di perusahaan, Mo benar-benar merasa menjadi manusia.

“Aku tidak masalah dengan hobi dan kebiasaan anehmu itu. Aku sudah minta petugas kebersihan dan keamanan untuk tetap meletakkan perabot yang sudah kau anggap kawan itu di tempat seharusnya. Bahkan, di satu tempat agar kau senang,” kata bos Mo dengan senyum terbaik yang pernah dilihatnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya lebih kamu sukai: mengerjakan pekerjaanmu, atau bekerja di tempat ini. Yang pasti, kebiasaan-kebiasaanmu di luar jam kerja tidak pernah menggangguku.”

Sejak mendengar kalimat-kalimat itu, Mo merasa terlahir kembali. Suci. Bersih. Meski tak wangi, setidaknya tidak bau. Itulah yang Mo rasakan.

Setelah menuntaskan makan salad buahnya, Mo beranjak dari ranjang menuju kandang di sudut kamar. Ia mengeluarkan binatang cokelat mengilap itu, lalu mengajak Kuci-kucinya untuk mandi bersamanya. Ya, Mo hanya perlu memilih aroma sabun yang bisa memberi efek menenangkan. Bukan sekadar untuknya sendiri, tapi juga untuk binatang kesayangannya.***

______________________________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Samping

MENYENTUH JEJAK DEBU

Di tengah hiruk pikuk hidup, ada kalanya kita menemukan diri sendiri terdiam di depan kandang ayam, merenungi butiran pakan jatuh ke tanah. Atau, mungkin, kita terpaku pada pantulan diri di jendela, jari-jari kita tanpa sadar menyentuh jejak debu, seolah ada rahasia tak terucap. Ini bukan sekadar momen kosong, melainkan jeda yang sengaja kita ciptakan, pelarian yang sering kali kita sadari. Kita melakukannya bukan karena membenci manusia, melainkan kita butuh ruang untuk bernapas, ruang yang tidak menuntut, tidak menghakimi, dan tidak pernah berkhianat.

​Fenomena ini sebuah paradoks. Di satu sisi, ada pembelaan halus, sebuah narasi yang kita ciptakan sendiri: “Aku lebih baik menghabiskan waktu dengan merawat tanaman daripada melampiaskan amarah pada anakku.” Ini tindakan protektif, cara untuk menjaga diri dan orang-orang terdekat dari sisi gelap kita. Memilih untuk menyalurkan energi pada benda mati atau makhluk yang lebih sederhana, karena interaksi dengan mereka terasa aman, tanpa risiko, dan minim drama. Mereka tidak akan mengkhianati, tidak akan ada perberdebatan. Gawai tidak akan pernah memarahi kita, dan tanaman tidak akan mempertanyakan keputusan hidup kita.

​Namun, di sisi lain, ada kenyataan yang lebih getir: terkadang, apa yang kita pikir pelarian, sebenarnya pengalihan. Kita menjadi begitu mahir mencintai hal yang tidak bisa membalas, hingga kita lupa bagaimana mencintai sesama manusia. Cinta kita kepada gawai, kendaraan, atau hewan peliharaan menjadi begitu besar, hingga tak sadar hati kita justru mengeras terhadap orang-orang paling dekat.

​Ironi ini juga sering digambarkan dalam karya fiksi, dan salah satunya dapat kita temukan dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Kita melihat sebuah pergeseran nilai yang begitu menyakitkan. Ayah Margio, Komar, sosok yang kejam terhadap istri dan anaknya. Ia seringkali memukuli mereka, melampiaskan amarah dan frustrasi. Namun, ironisnya, ia begitu peduli pada ayam-ayamnya. Merawat, memberi makan, bahkan mungkin bercerita pada mereka. Kita bisa saja berargumen Komar memelihara ayam sebagai pelarian, sebagai cara menyalurkan sisi baik yang tidak mampu ia tunjukkan kepada keluarganya. Itu pembelaan yang kita inginkan untuknya, senyum kecut yang menyadari betapa rumitnya hati manusia.

​Namun sebenarnya keadaan itu gambaran satir tajam, mengungkap kebenaran yang jauh lebih menyakitkan: perbuatan Komar bukan pelarian, melainkan manifestasi dari nilai yang bergeser. Baginya, ayam adalah aset yang lebih berharga daripada istri dan anak. Ayam bisa menghasilkan telur, daging, dan uang. Istri dan anak, di mata Komar, hanya beban. Ini sindiran jenaka sekaligus tragis: Seorang manusia rela merawat ayam dengan penuh kasih, sementara ia tega merusak jiwa dan raga keluarganya sendiri. Ini bukan perlindungan diri, tetapi tentang kehilangan esensi kemanusiaan.

​Mencintai benda mati, lalu melupakan manusia. Fenomena ini, sayangnya, bukan sekadar fiksi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan betapa mudahnya kita jatuh cinta pada hal yang tidak bisa membalas. Kita melihat orang-orang lebih peduli pada kondisi mobil atau sepeda motor mereka daripada kepada orangtua yang sedang sakit. Kita menghabiskan ribuan jam bersama gawai, tapi tak punya lima menit pun untuk mendengarkan cerita anak usai pulang sekolah. Ini ironi memilukan, kenyataan yang seharusnya menggelitik nurani.

​Mengapa kita memilih jalur yang lebih mudah ini? Mungkin, benda dan hewan tidak akan pernah berkhianat. Mereka tidak akan mengecewakan kita dengan kata-kata kasar atau sikap acuh. Gawai akan selalu merespons sentuhan jari, dan hewan peliharaan akan selalu menyambut pulang tanpa pertanyaan. Keterhubungan dengan mereka terasa aman, minim risiko, dan memberikan ilusi kontrol yang tidak pernah bisa kita dapatkan dari manusia lain. Kita rela terperangkap dalam kepalsuan koneksi, memilih kepastian dari benda mati daripada kerumitan dan ketidakpastian dari hubungan antar manusia.

​Mungkin ada yang perlu kita lihat dari samping, bahwa di balik kasih yang kita curahkan pada benda mati, ada kesepian mendalam. Kita mengisi kekosongan hati dengan hal-hal yang tidak bisa membalas cinta, karena kita takut untuk mencintai dan dicintai manusia yang bisa melukai. Kita membiarkan hati kita mengeras, seolah itu tameng pelindung dari kekecewaan. Tanpa kita sadari, hal itu justru mengunci diri dalam sebuah penjara emosional, di mana kita menjadi satu-satunya tahanan.

​Ini pertanyaan yang harus kita jawab: kepada siapa kita mencurahkan cinta? Apakah mencintai benda dan hewan sebagai pelarian sehat, atau sebagai pengalihan yang menyakitkan? Kebaikan yang kita berikan pada benda dan hewan adalah refleksi dari sisi terbaik kita. Namun, kebaikan itu sia-sia jika tidak mampu kita berikan pada sesama manusia. Lalu bagaimana? Kita sering berkata: “Aku lebih suka ditemani kucingku daripada teman-temanku.” Kalimat itu bisa saja pelarian sehat, tapi bisa juga menjadi pengakuan menyakitkan: kita sudah terlalu lelah dengan drama manusia, hingga kita memilih untuk bersembunyi di balik hal-hal yang tidak bisa menuntut.

​Ini bukan tentang menghakimi, tetapi tentang refleksi. Mungkin, kita bisa mulai menyayangi manusia dengan cara yang sama seperti kita menyayangi barang-barang kita. Kita tidak membiarkan mobil kita berkarat, lalu mengapa kita membiarkan hubungan kita memburuk? Kita tidak membiarkan tanaman layu, lalu mengapa kita membiarkan persahabatan kita mati?

​Ada haru dalam kesadaran ini. Ketika kita menyadari terkadang kita berlaku adil pada hal-hal remeh dan berlaku sewenang-wenang pada manusia, kita akan tertegun. Kita mungkin tersenyum kecil, senyum yang diselimuti penyesalan, saat menyadari betapa lucunya cara kita mencintai. Kita memeluk erat gawai, seolah itu nyawa kita. Tapi, di balik layar, kita bisa saja melupakan ada manusia yang butuh pelukan jauh lebih hangat.

​Pada akhirnya, esensi kemanusiaan tidak terletak pada seberapa besar kita bisa mencintai, melainkan kepada siapa kita mencurahkan cinta. Kita hanya perlu menyingkirkan debu di hati, agar bisa menyentuh jejak debu dari kemanusiaan yang nyaris terlupa. Dan kita tidak ingin orang-orang terdekat ada yang menjelma seperti Margio, yang tega membunuh bukan karena jahat. Ia membunuh karena tidak pernah diajari cara mencintai. Ia tidak tahu bagaimana menjadi manusia, karena tidak pernah melihat bagaimana seorang manusia yang sedang bertindak dengan layak. Ia hanya tahu bagaimana meniru amarah, dan itu satu-satunya pelajaran yang ia dapat dari ayahnya. Harimau itu ada karena tak ada kasih yang mengisi dirinya.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Belakang

NEGARA: KAMUS DAN TIKUS

Negara dibuat dari kata-kata. Kalimat yang gagah tapi bisa salah. Kita tidak sedang membayangkan peristiwa membuat roti. Beberapa hal digunakan dan dikerjakan agar tersaji roti itu tampak mata. Benda-bendanya bisa disentuh dan dipegang tangan. Rasa yang bisa dicicipi. Pilihan rupa dan warna yang mengikuti selera. Padahal, selera cepat berubah jika tidak menyadari adanya ketetapan atau pembakuan.

Negara dan roti itu berbeda! Kalimat yang gampang dimengerti murid di SD, tidak perlu meminta tanggapan dari sarjana. Negara bukan dibuat dari adonan tepung, telur, coklat, dan gula. Negara bukan makanan yang disukai anak-anak. Pada situasi yang misterius, negara sangat sulit dimengerti oleh anak yang memiliki pengetahuan beragam roti: nama, harga, rasa, dan lain-lain, Negara itu tidak menarik. Yang lezat adalah roti.

Kita mengulangi lagi kalimat yang gagah mungkin mengandung salah: “Negara dibuat dari kata-kata”. Yang kita pikirkan adalah Indonesia. Ingatan sebagai negara merujuk 1945. Tahun itu memiliki kejadian-kejadian bersejarah, yang memunculkan tokoh-tokoh yang nasibnya sulit ditebak untuk mulia atau terpuruk. Indonesia itu 1945.  Negara itu teks proklamasi dan undang-undang dasar. Kita menyangka itu kebenaran yang terjadi dalam sejarah.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia,” kalimat penentuan sejarah. Yang terimajinasikan adalah tulisan tangan Soekarno ketimbang kertas berisi teks hasil mesin tik yang dikerjakan Sajoeti Melik. Sejarah ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang sedang bertumbuh dan sangat dipengaruhi oleh politik.

Pada 1945, bahasa Indonesia “beruntung” setelah Jepang membuat kebijakan mengandung dusta: pelarangan penggunaan bahasa Belanda dan “merestui” bahasa Indonesia. Ingat, yang disampaikan Jepang adalah taktik mencipta jinak, patuh, dan tertib. Bahasa Indonesia masuk dalam kepentingan membenarkan hasrat kekuasaan meski terselenggara dalam waktu yang singkat.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang duduk bareng dan bercakap di waktu menegangkan sebelum perwujudan teks proklamasi adalah sosok-sosok yang memiliki penguasaan beberapa bahasa. Yang pasti mereka mampu berbahasa Belanda. Kebiasaan membaca buku dan pergaulan intelektual membenarkan mereka untuk mengetahui atau menguasai bahasa Inggris, Prancis, Arab, Jerman, Latin, dan lain-lain. Di arus pergerakan politik, mereka tentu memuliakan bahasa Indonesia.

Mereka berada dalam zaman pergolakan bahasa yang ikut menentukan pembentukan Indonesia. Maka, sumber-sumber belajar beragam bahasa memberi bekal mengolah identitas dalam laju politik, yang masuk lakon besar Perang Dunia II. Yakinlah bahwa Soekarno punya keseriusan memajukan bahasa Indonesia! Percayalah bahwa Mohammad Hatta membuktikan kemahiran berbahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan, tidak cuma pidato!

Jadi, Indonesia dibuat dari kata-kata? Sementara kita menganggap itu benar sambil melacak asal kata-kata yang akhirnya dipilih dalam penulisan teks proklamasi. Konon, bahasa Indonesia cepat bertumbuh disokong oleh pelbagai bahasa, yang berdatang sejak berabad-abad lampau. Bahasa Indonesia itu “bahasa baru”, yang bergerak lincah sekaligus salah tingkah dalam masa kolonial Belanda, berlanjut pada masa pendudukan Jepang.

Apakah membentuk negara dari kata-kata memerlukan kamus? Kita belum bisa menjawabnya secara tepat. Yang bisa dilakukan adalah mundur ke masa perang untuk menilik produksi dan penyebaran kamus-kamus. Pentingkah kamus dalam pembuatan sejarah yang bimbang dan menakjubkan?

Kita menemukan buku kecil yang memiliki judul dalam tiga bahasa: Inggris, “Melajoe”, dan Belanda. Kita sodorkan yang berbahasa “Melajoe” saja berkepentingan mengingat 1945. Buku itu berjudul “Kamoes ketjil terdiri dari 25.000 kata-kata Melajoe, Belanda, Inggeris”. Buku di tangan adalah cetakan kedua. Kita menyebutnya “Kamoes Ketjil” sambil mencarikan tempat dalam pembentukan negara (Indonesia).

Dulu, “Kamoes Ketjil” tersedia di Boekhandel Sunrise yang beralamat di Klenteng Pekapoeran 3, Batavia. Kita mengetahuinya di stempel warna merah yang terdapat di halaman awal. “Kamoes Ketjil” pernah dimiliki dan dipelajari oleh Liem Hok Soen, yang tinggal di Petjienan Keitjil 32, Malang. Buku yang pernah berada di Malang, yang disahkan melalui stempel pemilik. Pada suatu masa, buku adalah kepemilikan yang membuat orang mafhum kehormatan intelektual dan kebangsaan. 

Yang membuat buku itu mengejutkan adalah tempat terbit. Siapa pernah menyangka “Kamoes Ketjil” menghubungkan Indonesia dan Australia? Buku diterbitkan di Melbourne, Australia. Pergaulan tiga bahasa yang turut dalam lakon pembentukan Indonesia memiliki alamat yang jauh. Maka, penjual dan pemilik buku yang berada di Indonesia berarti melakukan proses yang tidak mudah. Buku datang dengan kapal menyeberangi laut atau samudera. Yang belum kita ketahui adalah harga. “Kamoes Ketjil” berasal dari Australia mungkin berharga mahal berdasarkan jalur distribusi, kualitas cetakan, dan jumlah eksemplar. Ada nama yang kita perlu mengetahui biografinya atau sumbangsih dalam keilmuan. “Kamoes Ketjil” disusun oleh N Helsloot, yang diberi keterangan: “Head Malay Department Netherlands Indies Government Information, Service, Melbourne.”

Apakah “Kamoes Ketjil” pernah dipegang oleh kaum pergerakan politik atau kaum terpelajar dalam hari-hari penentuan Indonesia, sebelum dan setelah 17 Agustus 1945? Apakah kamus itu berguna bagi para pedagang, militer, seniman, atau mata-mata? Yang pasti tahun penerbitan membuat kita penasaran dalam meragukan atau meyakini bahwa negara disusun dari kata-kata.

Di kata pengantar cetakan kedua, kita cuma mendapat sedikit keterangan. Yang kita baca adalah yang berbahasa “Melajoe”. Kamus itu belum menyebut bahasa Indonesia. Penyusun menerangkan: “Soenggoehpoen kamoes ketjil ini djaoeh dari pada sempoerna, tetapi didalam peraktek njata pergoenaannja. Kenjataan itoe tampak bahwa didalam tempoh satoe tahoen tjetakan jang pertama jang tiada sedikit banjaknja, sama sekali habis terdjoeal dan tjetakan jang kedoea dipandang telah perloe poela.” Kita menduga cetakan pertama: 1944. Penganta untuk cetakan kedua ditulis di Melbourne, 30 April 1945.

Kita mengutip paragraf yang terpenting: “Bahagian daftar kata-kata bahasa Belanda dan bahagian bahasa Inggeris pada tjetakan jang kedoea ini tiadalah beroebah. Bahagian daftar kata-kata bahasa Melajoe diloeaskan dengan kira-kira seriboe perkataan. Berhoeboeng dengan demikian, maka nama boekoe ketjil ini diganti.” Pengumuman bahwa ada penambahan jumlah yang banyak untuk kata-kata dalam bahasa “Melajoe”. Artinya, bahasa itu bertumbuh subur dalam beragam sisi hidup. Kita mengingat dua peristiwa penting menandakan perkembangan bahasa “Melajoe” atau Indonesia: Kongres Pemoeda II (1928) dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938). Pembuat buku kecil ditentukan jumlah kata, yang dibuktikan dengan pemberian judul. Bila kita membaca di judul ada 25.000 kata, yang memberi tambahan banyak adalah bahasa “Melajoe”.

Kita mulai dulu dengan mengambil satu kata dalam peengantar: “tempoh”. Di teks proklamasi (17 Agustus 1945), kita pun menemukan “tempo”. Namun, kita jangan tergesa menganggap Soekarno atau Hatta menggunakan “Kamoes Ketjil” dalam keputusan memilih diksi “tempo”. Mereka pasti sudah berurusan dengan “tempo” melalui beragam bacaan atau percakapan. Yang membedakan adalah penulisan. Di “Kamoes Ketjil”, kita membaca itu “tempoh”. Mana penulisan yang benar: tempoh atau tempo?

Kita membuka “Kamoes Ketjil”. Di halaman 56, “tempoh” dalam bahasa Belanda adalah “tijd”. Di bahasa Inggris: “time”. Konon, “tempoh” itu berasal dari bahasa Latin, yang datang dalam bahasa Indonesia lewat bahasa Italia. Terbuktilah bahasa Indonesia bertambah oleh kedatangan bahasa-bahasa dari segala arah. “Tempo” tercantum dalam teks proklamasi. “Tempo” terdapat dalam kamus-kamus. Pada suatu masa, “Tempo” dijadikan nama untuk terbitan majalah dan koran. Penulisan bukan “tempoh” seperti dalam “Kamoes Ketjil”.

1945 itu penentuan revolusi. Istilah yang sudah muncul sejak lama, akhir abad XIX atau awal abad XX. Para jurnalis, pengarang, dan tokoh politik di tanah jajahan terbiasa menulis dan berseru revolusi. Pastilah diksi itu berasal dari bahasa asing untuk diterima dalam bahasa Indonesia. Dulu, ada yang menulis “revolusi” dan “repolusi”.

Di “Kamoes Ketjil”, halaman 98, kita menemukan lema “revolution”. Kata itu diterjemahkan “pemberontakan”. Di bahasa Belanda, ditulis “revolutie”. Pada masa kolonial, “revolusi” itu bikin gejolak dan guncangan. Para tokoh atau partai politik dituduh “revolusi” biasa berkaitan dengan “radikal”, “kiri”, “pemberontak”, “komunis”, dan lain-lain.

Pada masa bergolak, Soekarno yang mengaku paling paham revolusi. Ia sering mengucap revolusi dalam pidato. Jumlah diksi revolusi dalam tulisan-tulisannya mungkin mencapai ribuan. Ia menghendaki revolusi Indonesia. Padahal, kita tidak menemukan “revolusi” di teks proklamasi. Namun, peristiwa-peristiwa sesudahnya, Soekarno sering menginginkan pengulangan dalam penggunaan revolusi. Kita bisa membayangkan itu kata paling dahsyat di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno. Kini, revolusi adalah kenangan yang tidak perlu mengikutkan adanya “Kamoes Ketjil”.

Kemarin, orang-orang membuat peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Yang dirayakan adalah teks proklamasi. “Kamoes Ketjil” cetakan kedua juga berusia 80 tahun. Apa ada yang mau membuat peringatan meski kecil-kecilan?

Yang merayakan adalah tikus. Setahun yang lalu, “Kamoes Ketjil” dibeli dan masuk menghuni rumah bersama ribuan buku. Pembeli dan pemilik sembarangan menaruh “Kamoes Ketjil”. Buku yang menua ditaruh di tumpukan buku di bawah ranjang (amben). Di situ, tikus-tikus berkeliaran, meninggalkan telek, dan berani mengencingi buku-buku. Tikus-tikus membuat “peringatan” dengan merusak punggun buku. Kain di punggung buku rusak parah. Sebagian kain mungkin masuk ke perut tikus. Sisa-sisanya berceceran.

Yang pasti, tikus tidak makan huruf. Ia hanya makan kain yang digunakan di punggung buku. Tikus tidak doyan kata-kata dalam bahasa Inggris, “Melajoe, dan Belanda. Urusannya dengan “Kamoes Ketjil”, bukan untuk belajar bahasa. Tikus pun tidak ingin menengok sejarah.

Akhirnya, buku yang berusia 80 tahun tak mulus lagi. Ia tetap tampak memikar meski terluka. Kita melihatnya sebagai kamus yang teluka, belum kamus yang terlupa. Yakinlah, jumlah kata dalam kamus tetap 25.000, tidak ada yang dimakan tikus atau dihilangkan oleh tikus. Yang payah adalah pembeli dan pemilik “Kamoes Ketjil”. Ia hampir berdosa besar saat membiarkan “Kamoes Ketjil” menjadi mangsa tikus-tikus. Ia yang berlagak mau mengerti sejarah justru biadab dalam kehancuran buku.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

Wawancara Imajiner Bersama Wiji Thukul: Kata yang Tak Pernah Istirahat

Tempat: Sebuah warung kopi di pojok langit. Wiji Thukul telah datang lebih dulu, mengenakan kaus oblong bertuliskan “Lawan!” dan sandal jepit. Ia memesan kopi tubruk, tanpa gula. Kami duduk di bangku kayu, dengan asap rokok yang menggantung malas di udara.

Pewawancara: Mas Wiji, pertama-tama, apa kabar? Di sana masih tetap melawan?

Wiji Thukul: Kabarku ya begini-begini saja. Hidup di alam antara setengah jadi poster, setengah jadi hantu. Tapi tidak apa, toh puisiku masih hidup. Lagipula, di negeri ini yang mati kadang justru lebih cerewet daripada yang hidup.

Pewawancara: Sudah banyak penyair baru bermunculan. Apa Mas Wiji masih sempat baca-baca puisi mereka?

Wiji Thukul: Kadang aku nyelinap ke rak-rak toko buku. Jadi bayangan. Kubaca diam-diam. Ada yang bagus, ada yang bikin aku ingin mati dua kali. Banyak yang sibuk bermain metafora, tapi lupa bagaimana rasanya lapar.

Pewawancara: Wah, agak pedas ini, Mas.

Wiji Thukul: Nggak pedas, cuma jujur. Kalau puisimu bisa dijadikan nasi bungkus buat tukang becak yang baru pulang narik, itu puisi yang benar. Tapi kalau puisimu cuma cocok dibacakan di kafe dengan lampu temaram dan suara musik pelan, ya itu mungkin bukan puisi. Itu dekorasi.

Pewawancara: Puisi-puisi sekarang bukan di kertas, Mas. Koran pada tutup.

Wiji Thukul: Ah, kau ini. Aku tahu. Itu hanya pengandaian.

Pewawancara: Tapi bukankah puisi memang punya banyak rupa, Mas? Ada yang eksperimental, ada yang spiritual, ada yang visual.

Wiji Thukul: Iya, aku ngerti. Tapi banyak penyair sekarang terlalu sibuk mengukir bentuk sampai lupa isi. Puisinya indah, tapi kosong. Seperti lemari kaca tanpa piring. Atau lebih parah: seperti seminar tentang kemiskinan di hotel bintang lima.

Pewawancara: Jadi Mas merasa puisi-puisi sekarang terlalu estetis?

Wiji Thukul: Estetis boleh. Tapi jangan sampai jadi topeng untuk menutupi bahwa kamu tidak punya sikap. Aku nggak minta semua penyair jadi aktivis. Tapi kalau puisimu bisa dibaca tanpa bikin orang mikir apa-apa, itu artinya kamu berhasil menulis tanpa mengganggu siapa-siapa. Dan itu bahaya.

Pewawancara: Bahaya?

Wiji Thukul: Iya. Kekuasaan itu senang sekali pada puisi yang tidak menggugat. Puisi yang bisa dijadikan kutipan instagram pejabat. Puisi yang seperti teh manis: nyaman, sopan, dan cepat dilupakan. Padahal puisi seharusnya seperti kopi pahit: bikin melek dan kadang bikin mules.

Pewawancara: Kalau begitu, bagaimana harapan Mas terhadap perkembangan puisi sekarang?

Wiji Thukul: Harapanku sih sederhana. Biar puisi kembali ke rakyat. Kembali ke jalan. Jangan terlalu sering ngumpet di ruang diskusi ber-AC. Aku pengen lihat puisi dicoretkan di tembok, diteriakkan di demo, disisipkan di selebaran pasar. Bukan sekadar dibukukan, diluncurkan, lalu difoto dengan latar bunga plastik.

Pewawancara: Tapi ada juga penyair muda yang berani bicara soal ketimpangan, Mas.

Wiji Thukul: Benar. Dan itu menyenangkan. Tapi mereka kadang tenggelam di antara penyair-penyair yang sibuk merapikan rima seperti tukang cukur. Yang lebih penting dari berani adalah konsisten. Banyak yang berani hari ini, besok jadi buzzer.

Pewawancara: Jadi Mas menganggap puisi itu harus punya keberpihakan?

Wiji Thukul: Harus. Puisi yang netral itu mitos. Seperti wartawan yang katanya objektif padahal disokong iklan. Bahkan diam pun sikap. Kalau kau diam di depan ketidakadilan, berarti kau sudah memilih berpihak. Hanya saja pada pihak yang salah.

Pewawancara: Jadi bagaimana bentuk puisi yang baik menurut Mas?

Wiji Thukul: Puisi yang bikin orang biasa merasa didengar. Bikin buruh pabrik merasa dia tidak sendirian. Puisi yang bikin mahasiswa nggak cuma sibuk bikin skripsi, tapi juga mikir: “Kok harga kosanku makin mahal, ya?”

Pewawancara: Mas Wiji, kalau boleh menanggapi sedikit, sekarang pemerintah seenaknya menentukan pajak. Kadang rakyat kecil diperas, sementara pengusaha besar dapat keringanan. Apa tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Pajak itu seharusnya gotong royong. Tapi di negeri ini, gotong royong artinya rakyat yang gotong, pejabat yang borong. Rakyat kecil ditagih pajak macam-macam, sementara konglomerat bisa tidur nyenyak karena dapat insentif investasi. Itu bukan pajak, itu perampokan yang pakai jas.

Pewawancara: Tapi katanya demi pembangunan, Mas.

Wiji Thukul: Ah, kata pembangunan itu sering jadi jimat. Padahal yang dibangun cuma gedung-gedung mewah, sementara jalan ke kampung masih becek. Kalau benar demi pembangunan, kenapa rumah rakyat bocor tiap hujan? Jadi pertanyaannya bukan pajak untuk apa, tapi pajak untuk siapa.

Pewawancara: Baik. Kita geser sedikit. Apa Mas Wiji mengikuti berita tentang korupsi dan nepotisme yang masih merajalela?

Wiji Thukul: Tentu. Itu acara rutin. Seperti sinetron tapi bintangnya selalu sama. Bedanya, kalau sinetron bisa tamat, korupsi kita kayak serial tak berkesudahan. Aku yakin, kalau nanti dinosaurus hidup lagi, berita pertama yang mereka baca adalah: Anak pejabat ditangkap KPK, tapi dilepas karena tidak cukup bukti dan terlalu muda untuk paham hukum.

Pewawancara: Ada satu kasus lucu, Mas. Seorang pejabat bilang tidak bisa menjelaskan asal uangnya karena katanya “dikasih Tuhan”. Tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Nah itu! Tuhan sering dijadikan kambing hitam oleh orang yang takut jadi kambing beneran di pengadilan. Kalau Tuhan beneran kasih uang segitu banyak, kenapa bukan ke juru sapu sekolah atau ibu-ibu penjual nasi uduk? Kadang aku yakin Tuhan pun bingung: “Ini siapa yang bilang aku ngasih itu?”

Pewawancara: Jadi menurut Mas, humor bisa jadi cara melawan?

Wiji Thukul: Tentu! Humor itu alat subversif. Ketika kamu menertawakan kekuasaan, kamu sedang mencabut jubah sakralnya. Dulu aku menulis puisi. Sekarang mungkin aku akan bikin stand-up di pasar, temanya: Cara Menjadi Pejabat Tanpa IQ. Bayangkan betapa lucunya kalau rakyat tertawa sambil sadar bahwa mereka sedang dijahili.

Pewawancara: Mas, kalau boleh jujur, banyak orang sekarang mulai apatis. Capek. Merasa percuma marah-marah. Apa Mas punya pesan?

Wiji Thukul: Apatis itu bukan dosa. Itu tanda luka yang dalam. Tapi jangan biarkan luka jadi lumpur. Kita boleh lelah, tapi jangan kehilangan rasa geli terhadap ketidakadilan. Selama kita masih bisa menertawakan kebohongan, berarti kita belum kalah sepenuhnya. Jangan biarkan negara mengatur sampai kapan kamu boleh tertawa.

Pewawancara: Mas, terakhir. Kalau sekarang Mas punya akun media sosial, apa yang bakal Mas unggah pertama?

Wiji Thukul: Mungkin foto sandal jepitku yang bolong. Lalu kutulis: Sandal ini sudah lebih jujur daripada pejabat yang sepatunya selalu mengkilap. Atau video aku baca puisi di WC umum sambil nyemprot pewangi, dengan caption: Inilah tempat paling bersih di negeri yang suka pura-pura wangi.

Pewawancara: Ada pesan khusus untuk penyair muda?

Wiji Thukul: Tentu. Jangan takut bikin puisi yang jelek asal jujur. Daripada bikin puisi indah tapi palsu. Jangan sibuk mengutip Derrida kalau kamu belum pernah ngobrol dengan tukang parkir. Dan yang paling penting: jangan jadi penyair yang takut kehilangan undangan baca puisi. Lebih baik kehilangan panggung daripada kehilangan hati nurani.

Pewawancara: Terakhir, Mas. Kalau Mas bisa turun lagi ke dunia, apa yang akan Mas lakukan pertama kali?

Wiji Thukul: Aku akan ke pasar, beli bakwan, terus duduk di emperan dan baca puisi pakai toa. Biar semua orang denger. Biar mereka tahu: kata-kata belum mati. Dan selagi masih ada ketidakadilan, kata-kata juga belum boleh istirahat.

Pewawancara: Terima kasih, Mas Wiji. Salam untuk langit.

Wiji Thukul: Jangan cuma salam. Lawan juga!