Mochtar Lubis, nama yang selalu teringat dengan novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung dan Senja di Jakarta. Ia menulis beberapa novel, yang mendapat pujian dan kritik, sejak masa 1950-an. Dulu, novel-novel itu tersaji oleh beberapa penerbit. Pada suatu masa, ada terbitan yang istimewa oleh Pustaka Jaya. Para kolektor mengingat novel-novel Mochtar Lubis dalam cetakan bersampul keras dan tebal. Konon, edisi itu sengaja untuk koleksi.
Novel-novelnya cetak ulang. Pemicunya mungkin kebijakan menjadi koleksi di ribuan perpustakaan. Ada pula yang menganggap memang novel-novelnya pantas cetak ulang, mendapat ribuan pembaca. Mochtar Lubis, nama yang diakrabi oleh murid dan mahasiswa dalam pengajaran sastra.
Namanya makin menguat saat mendirikan YOI. Orang-orang mengenalinya Yayasan Obor Indonesia. Banyak buku yang diterbitkan oleh YOI. Buku-buku bertema lingkungan hidup, birokrasi, ekonomi, demokrasi, sastra, dan lain-lain. Bagi yang masih ingin membaca dan mengoleksi buku-buku Mochtar Lubis bisa membeli edisi YOI, yang mudah diperoleh ketimbang edisi Pustaka Jaya atau penerbit-penerbit masa 1950-an.
Mochtar Lubis itu nama yang disebut dalam perdebatan sengit setelah pidato dan terbitnya buku berjudul Manusia Indonesia. Buku yang akhirnya berpengaruh di Indonesia. Pada masa sekarang, buku itu tetap menantang bila dibaca sambil menandai perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Mochtar Lubis telanjur dianggap jurnalis dan pengarang tangguh. Manusia Indonesia menjadi buktinya. Masa lalunya memang ganas dengan kerja di jurnalistik. Ia menggerakkan Indonesia Raya yang dihabisi penguasa. Pada situasi rumit, ia dan teman-teman mendirikan majalah Horison.
Para pembaca novel-novel Mochtar Lubis memberi pujian, tak lupa menyodorkan kritik-kritik. Yang mengamati sikap dan pemikiran Mochtar Lubis mulai menguak hal-hal yang mudah menjadi polemik. Pengamat menemukan kaitan Mochtar Lubis dengan Amerika Serikat dalam urusan politik-kebudayaan. Kita diajak memikirkan masalah otoritas, dana, misi, dan lain-lain.
Ia memang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat. Dulu, ia tidak melulu pengarang. Mochtar Lubis pun menjadi penerjemah. Teks-teks sastra dari Amerika Serikat pernah diterjemahkan oleh Mochtar Lubis, terbit sebagai buku-buku kecil dan tipis pada masa 1950-an.
Bukti kemesraan yang dapat dibaca adalah buku berjudul Perlawatan ke Amerika Serikat. Buku diterbitkan oleh Gapura, Jakarta, 1952. Siapa masih mengoleksi dan mau membahas untuk mengenang Mochtar Lubis? Selalu saja yang terbaca adalah novel-novel dan Manusia Indonesia. Buku lawas itu sebenarnya mengajak kita melek pesona atau kuasa Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Mochtar Lubis menerangkan: “Nama Amerika menimbulkan bermatjam-matjam bajangan dan gambaran. Bagi mereka yang anti Amerika, maka dibajangkan Amerika sebagai negeri berkuasa besar, hendak mendjadjah dan berkuasa didunia dan orang Amerika semata-mata materialistis, pikirnja tjuma bagaimana harus mentjari uang sebanjak-banjaknja. Bagi setengah orang lain, Amerika adalah sebagai dunia mimpi. Semuanja indah, bagus dan bertjahaja.”
Pada suatu hari, Mochtar Lubis berhasil tiba di New York. Manusia asal Indonesia yang mendatangi negara besar dengan kota-kota yang menawan. Yang ditulis Mochtar Lubis: “Inilah New York di Amerika Serikat. Negeri jang kita amat tjurigai di Indonesia dan ditjurigai oleh banjak bangsa-bangsa Asia jang lain. Negeri jang dituduh membantu neo-imperialisme.” Amerika Serikat memang tema yang terlalu besar bagi dunia pada masa 1950-an. Yang mau mengetahui sikap Indonesia terhadap Amerika Serikat bisa membaca tulisan dan menyimak pidato Soekarno. Yang pasti pendapat Mochtar Lubis dan Soekarno tentang Amerika Serikat (sangat) berbeda.
Selama berada di Amerika Serikat, Mochtar Lubis menemukan bukti-bukti sekaligus membuat renungan. Ia biasa meragu tapi berani membuat kepastian asal ada bukti. Yang terpenting lagi adalah argumentasi. Campuran jurnalis dan pengarang menghasilkan renungan: “Melihat kota jang terhampar dengan kilau-kilau lampunja jang redup-redup ditutup embun, maka timbul dalam hati saja pertanjaan. Saja telah djalani lebih dari separoh negeri besar ini. Telah bertemu dengan segala matjam orang, dari kalangan pers, dagang, industri, buruh, dan berbagai-bagai orang lain. Kenalkah saja sudah pada negeri dan bangsa ini? Apakah bangsa ini imperialistis sebagai dituduh oleh Sebagian bangs akita di Indonesia? Ataukah ia sungguh-sungguh demokratis dan tidak ada berkepentingan sesuatu apa diluar negerinja ketjuali untuk memelihara perdamaian dan kemerdekaan sebagai jang disebut orang-orang Amerika?”
Pada saat merenung, Mochtar Lubis bukan penguasa atau pejabat di Indonesia. Ia memiliki bukti dan arah pemikiran yang berbeda dengan elite di Indonesia yang kepikiran beragam hal besar. Mochtar Lubis mulai bingung mengamati hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.
Selama tiga bulan, Mochtar Lubis berada di Amerika Serikat. Ia mengunjungi beberapa kota dan menghadiri acara-acara penting. Kita menyimak pendapatnya tentang manusia Amerika, sebelum ia bikin geger dengan buku berjudul Manusia Indonesia.
Yang dijelaskan Mochtar Lubis: “… orang-orang Amerika Serikat umumnja amat peramah, suka menolong dan mempunjai perasaan sportivitiet jang besar. Dan untuk mendapat tingkat penghidupan jang tinggi seperti sekarang ini, maka mereka djuga bekerdja keras.”
Buku kecil itu condong memuat kagum dan pujian. Perlawatan singkat ke Amerika Serikat menghasilkan ribuan kalimat, yang membenarkan hubungan “mesra” antara Mochtar Lubis dan Amerika Serikat. Konon, para pengamat yang menguak jalinan akrab itu berlanjut dalam babak malapetaka 1965. Mochtar Lubis tampil dengan pendapat-pendapat sesuai dengan kepentingan-kepentingan besar Amerika Serikat di Indonesia.
Aristoteles memang kurang ajar. Namanya hampir tidak pernah absen dari segala bidang keilmuan, dari dulu sampai sekarang. Ilmu bumi-langit, jiwa-raga, tumbuhan-hewan, selalu memunculkan namanya.
Ada lelucon yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana Aristoteles hidup? Katanya: ia lahir, berpikir, kemudian mati. Di kalangan yang lebih tergila-gila olehnya, lelucon itu bertambah hebat pula: “Setelah Aristoteles, semua filsafat hanyalah catatan kaki.” Kalau benar begitu, berarti ribuan tahun filsuf hanya jadi tukang catat rapi-rapi di pinggiran kertas. Padahal, tidak demikian. Kita menonton perdebatan filsafat malah semakin ramai bak sinetron yang tak kenal episode akhir.
Nusantara merindukan sosok demikian, manusia dengan isi kepala paket lengkap. Tak terbayang, bagaimana kesehariannya. Apakah dia tidur dengan tumpukan buku? Dia mungkin berjalan sambil berkomat-kamit menghafal semua pelajaran. Alih-alih mengira-ngira dia dengan mantra atau ramuan apa yang dikonsumsi untuk mengencerkan peredaran darah naik ke otak. Lebih mudah kita menebak derajat isi perutnya. Sebab, mustahil perut keroncongan bermain logika. Biasanya, lambung yang berbunyi menghasilkan pikiran yang serampangan.
Kita masih beruntung bisa mengenal nama yang hidup ribuan tahun silam lengkap dengan keadaan situasi saat itu. Mungkin tidak terlalu akurat. Setidaknya, ada bukti tertulis: tahun dan lokasi jelas. Kita tidak merasa itu sebagai dongeng yang dimulai dengan kata: “Dahulu kala…”
Aristoteles, lahir di Macedonia, sangat jauh dari Nusantara. Tanahnya ditumbuhi pohon zaitun, langitnya sesak oleh cerita dan para dewa. Ia benar-benar manusia dan pernah hidup, tidak dilahirkan oleh dewi kepintaran atau terlahir langsung bisa membaca. Ayahnya adalah pegawai istana, seorang tabib kerajaan. Jika kita coba iseng mencocokkan jabatatannya, kira-kira sepangkat dokter kepresidenan saat ini. Kita juga berasumsi ia tidak termasuk anak yang tumbuh dengan menyandang status malnutrisi. Bayangkan saja: anak seorang dokter, bertugas di dalam istana kerajaan.
Ia tidak berdiri sendirian. Tentu saja, setiap orang kesohor selalu ada sosok yang menakjubkan sebagai pijakannya. Selain seorang ayah yang menjamin perutnya tidak berbunyi kodok, di belakangnya, ada bayang-bayang besar Plato, “sang guru”. Sebuah perpaduan yang serasi antara nafsu perut dan akal budi.
Kita, yang biasa terserang kantuk setelah makan merasa sedikit kebingungan menyambungkan dua frasa di atas. Mungkin rahasianya yang masuk ke mulut bukan sembarang makanan asal kenyang tapi yang berprotein tinggi dan mengandung bermacam-macan vitamin. Perut yang kenyang hanya sebuah perahu dayung, kita perlu mengayuh untuk berlabuh. Cukup banyak anak yang perutnya terisi penuh tapi nalarnya kosong. Peran Plato memang bukan main-main!
Ia bukan sekadar guru yang memindahkan ilmu, tapi perangsang untuk berpikir lebih. Aristoteles tidak diajar untuk patuh, tetapi untuk meragukan, mempertanyakan kembali, membantah, bahkan mengkritik gurunya sendiri.
Indonesia sedang bermimpi mencetak anak-anak menjadi generasi emas pada 2045. Meski kita belum paham sepenuhnya emas semacam apa yang diinginkan. Pelbagai program dimunculkan., dari yang membingungkan sampai menggelikan. Pada halaman awal pemerintahan Prabowo-Gibran, cita-cita itu naik tangga dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sekolah, anak-anak mendapat jatah makan. Entah, mengapa dari sekian banyak pilihan menuju emas, urusan perut jadi agenda pertama yang dipilih. Kita belum tahu apakah Prabowo dan Gibran pernah membaca Aristoteles. Jika pernah, kita tinggal menunggu gebrakan selanjutnya, yakni urusan isi kepala.
Di tengah ceria anak-anak sambil menyantap daun salada yang jauh lebih banyak dari ayam gorengnya, sebagian orang merasa khawatir. Khawatir akan mimpi generasi emas kerap terjebak dalam rumus proyek. Di balik nampan yang berjudul gratis, tampak pula sebuah siklus administratif yang berputar pada laporan, dokumentasi, dan serapan anggaran. Proyek ini sangat gampang untuk diakui sebagai sebuah pencapaian rezim. Orang-orang di barisan Istana sibuk menghitung dan berbangga akan kalori dan protein dalam nampan. Kita berharap mereka tidak lupa menimbang masa pikiran yang seharusnya tumbuh setelah perut terisi. Apakah emas yang kita ukur nanti itu adalah kualitas nalar, atau sekadar angka anak yang tidak lagi kelaparan?
Di berita-berita, riuh soal keracunan MBG, di meja diskusi ramai kerisauan-kerisauan. Saat guru berkata tentang minimnya fasilitas, jawabannya MBG. Ketika orang tua berkeluh tentang biaya, dijawab dengan MBG. Yang dirisaukan: MBG berisiko menjadi tembok besar yang menutupi lubang-lubang masalah lain yang sulit diperbaiki.
Di manakah “Plato-Plato-nya” Indonesia bersembunyi? Apakah mereka masih sibuk memilih foto mana yang akan diunggah atau terjebak dalam birokrasi pendidikan yang kaku? Lebih mendahulukan nilai ujian daripada pikiran yang mendalam? Generasi emas tidak bisa dibangun hanya dengan menyuapi perut dan menyodori soal pilihan ganda. Mereka membutuhkan guru yang tidak takut dikritik, yang mengajak muridnya berjalan-jalan di taman pikiran, merangkai kata menjadi pertanyaan, dan membongkar pasang status qou. Aristoteles, jika tanpa guru yang hebat, mungkin hanya Arjuna berkepala Dursasana. Bertubuh sehat dan angkuh. Lebih menyeramkan: jika yang tercapai hanyalah generasi jamur, tumbuh subur semalam lalu sirna seketika.
Setelah makanan itu dibagikan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: sudah siapkah kita menyambut kelaparan yang berikutnya, yakni kelaparan akan ilmu dan pengetahuan.
Namun, dilema lain selalu menyertai. Anggaran kita tidak cukup untuk belanja hamburger sekaligus mencetak “Plato-Plato” di Indonesia, mana yang lebih didahulukan? Keduanya sama indah sama menawan.
Di belakang halaman 365 hari kepeminpinan Prabowo-Gibran, riak suara tak pernah surut. Ada yang diam-diam kenyang oleh proyek sambil tetap berkeluh kesah, ada pula yang mendadak menjadi ahli gizi. Yang mengkritik banyak, tentu itu tanda cinta. Yang bersikap acuh pun sama banyak. Mereka apatis, yang tidak berharap pada sekotak nasi.
Bagi mereka yang percaya akan kebaikan negara boleh-boleh saja, asal tidak menggadaikan urusan perut dan otak seutuhnya. Sebab, negara tidak pernah berhenti mengidap dilema-dilema.
Begitu perdah itu kusibak, cahaya matahari masuk ke kamar. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kemeja putih yang kupilih dengan cermat, berharap bisa terlihat pantas dan meyakinkan. Kuhela napas panjang sambil meraba saku celana. Di sana tersimpan sebuah kotak kecil yang akan menentukan bagaimana nasibku esok. Tak henti-henti kuucap sebuah ayat yang meneguhkanku pada keputusan hari ini
Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. Yesaya 41:10
Ya, aku sudah mendengar banyak penolakan yang dialami laki-laki sepertiku. Tetapi biarlah, aku percaya selalu ada pengecualian dari segala hal. Yesus pun sebelum diterima sebagai penyelamat, pernah mengalami penolakan meski yang dibawa pesan cinta kasih.
“Iya,” kujawab ketukan pintu. Ibu mendekat, disusul Ayah. Matanya memandangku seperti saat pertama kali melepasku sekolah. Dahi Ibu berkerut, memperjelas tumpukan garis di wajah. Ia tampak tidak marah, tapi seperti menyimpan beban yang menekan pikirannya.
“Biarkan kami ikut bersamamu, ya,” ujarnya memegang tanganku. Ayah berjalan lebih dekat menyentuh pundakku sembari melempar senyum, seolah mengerti yang aku pikirkan. Matanya meyakinkanku untuk mengiyakan permintaan Ibu. Sebenarnya tidak masalah jika mereka ikut menemani, tapi aku khawatir keadaan tidak seperti yang diharapkan.
“Jika di sana nanti Ayah dan Ibu dibuat kesal, berjanjilah untuk tidak menanggapinya,” jawabku, menatap ke arah mereka.
Kami berangkat ke tempat tujuan. Meski hanya menempuh waktu satu jam, aku merasa mengendarai mobil selama seminggu. Tak bisa kusembunyikan rasa gugup yang menyelimutiku. Untunglah, semua sirna ketika Fatimah tampak duduk di depan rumahnya. Kami disambut dengan senyum, lalu dipersilahkan untuk masuk.
Lampu hias tergantung kokoh di tengah ruangan. Ada potret kaligrafi cukup besar ditemani tiga lukisan wajah laki-laki berpenutup kepala. Ayah Fatimah membuka keheningan dengan beberapa pertanyaan. Ayah menjawabnya dengan santun. Untuk sementara semua terasa baik-baik saja, sebelum akhirnya berubah menjadi ketegangan.
“Sebelum Mas Don dan sekeluarga datang, Fatimah baru mengatakan kalau ini menyangkut perbedaan keyakinan,” ucap ayah Fatimah mencondongkan tubuhnya. Aku bisa menangkap dadanya naik turun dengan cepat, menunjukkan ia sedang berusaha menahan amarah yang hampir meledak.
“Saya pikir, ini bisa kita bicarakan, Pak Ibrahim. Mungkin Tuhan memang menitipkan cinta pada anak kita, jadi tidak ada yang salah dan benar.”
“Pak, saya tidak bisa main-main soal agama. Ini menyangkut hidup dan mati. Fatimah tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman.”
Setelah sejak tadi hanya diam melihat apa yang terjadi di hadapannya, Fatimah bersuara. Wajahnya menyimpan ketenangan . Matanya masih setegas dulu, seperti kali pertama demo di depan kampus. “Kami saling mencintai, Pak. Don laki-laki yang bertanggung jawab.”
“Fatimah, ridho Allah ada di tangan orang tua.” Ibu Fatimah menatapku. “Eling Fatimah, kamu tidak takut dilaknat Allah. Masuk neraka nanti kamu, Ya Allah!”
Apa kamu pikir Tuhan sebrengsek itu. Mengkotak-kotakan manusia lalu bermain-main membuat neraka dan surga! Aku memaki dalam hati.
Kupandangi wajah ayah ibuku yang mulai geram menahan amarah. Aku tahu mereka ingin membalas kalimat itu, tapi urung dilakukan karena janji yang telah kami buat sebelum pergi.
“Saya mencintai putri Bapak. Ini soal hati, Pak, bukan keyakinan,” kataku. “Dan, saya tidak akan membuat Fatimah keluar dari agamanya.”
Dua jam telah berlalu, percakapan tidak menemukan jalan keluar. Hanya kalimat tajam yang makin melukai hati masing-masing. Akhirnya aku putuskan untuk pamit. Mataku dan Fatimah saling beradu. Aku tahu, ia mengirimkan sebuah kata maaf dan semangat untukku. Meski tak terucap, perasaan itu terasa jelas bisa kuterima.
“Apa kamu benar-benar mencintai Fatimah? Tak bisa diganti dengan perempuan lain?” tanya ibu, memandangku dengan penuh kesungguhan. Kutangkap sorot matanya dari kaca spion di atas kepalaku.
“Hanya Fatimah atau tidak sama sekali.”
“Dalam hal apa pun, jika persoalan agama sudah dijadikan alasan, temboknya akan tebal” ujar Ayah.
Aku mengerti yang Ayah maksudkan. Ini sama seperti yang pernah terjadi pada banyak orang yang diusir dari tempat tinggalnya karena berbeda agama atau dilarang beribadah dengan cara persekusi. Agama memang menjauhkan manusia berbuat jahat, tapi juga banyak kejahatan yang dilakukan atas nama agama. Sekilas, muncul kegelisahan dalam pikiranku, mengapa aku dilahirkan berbeda dengan Fatimah. Siapa yang membuat perbedaan dan untuk apa.
“Ayah tak pernah menyangka jalan hidup kita akan sama.”
“Maksud Ayah?”
“Kamu bukan anak bodoh. Pasti kamu sempat punya pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada kami.” Ayah berpaling ke wajah ibu, “Bu, kamu saja yang cerita ke Don,” lanjutnya.
Dari kaca spion aku lihat ibu menengok ke jendela kaca di sampingnya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya- bukan senyum bahagia, tapi semacam tawa yang tertahan, seperti seseorang yang baru saja mengingat betapa konyol dirinya dulu. Ia melirik ke ayah sebelum akhirnya berucap, “Ayahmu sangat nekat dan gila.”
“Tidak semua orang mau ikhlas melakukannya. Waktu itu, Ayah dan Ibu seperti tak ada rasa takut.” Ayah kembali menimpali.
**
“Apa ini akan berhasil?”
Don tak lekas menjawab pertanyaan Fatimah. Pikirannnya malah terbang mengingat kembali percakapan bersama ayah dan ibunya ketika di mobil malam itu. Orangtuanya tak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, hatinya tiba-tiba merasa yakin, mereka juga melakukan ini. Ia ingat, ibunya pernah bercerita menikah pada pertengahan tahun 1998. Sementara kini, ia menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Don semakin yakin dengan dugaannya. Tak mungkin ada hal lain.
“Kupikir, iya… Sudah ada yang pernah mencobanya,” ucap Don, menarik selimut ke arah tubuhnya. Sejenak timbul keheningan. Hanya suara dari televisi yang dibiarkan berceloteh memenuhi ruangan dengan cahaya redup.
“Sayang, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?” ujar Fatimah mendekat lebih erat ke tubuh Don yang terlentang di sampingnya.
___________________
Yulita Putri. Kontributor di Arina.id. Bergiat di Savara_org, Pusat Kajian Perempuan Solo dan Gusdurian Solo. Aktif di Surai Sastra Surakarta. Menulis buku bertajuk Menafsir Sastra Anak (2024), beberapa esai dan cerpen tersebar di media online. Instagram: @yulitaaaputri Facebook: Yulita Putri
Kata Freud kepribadian seseorang itu dimulai sedari bocah. Meski demikian teori psikonalisa sampai Phalus Envy nya Freud tetap mengundang kritik. The Childhood is the Father of Man, kurang lebih demikian.
Masa kanak-kanak menyiratkan sebuah kisah nan mendalam. Keberadaannya seperti rekaman yang menembus waktu. Beberapa aktivitasnya acap kali teringat mewarnai insan yang sadar. Kita ada dari puing-puing silam yang berlalu. Hari ini dan esok, konon kitalah yang menentukannya.
Kita bertemu dengan kisah silam. Para esais itu merangkai kata, membeberkan pengalaman yang silam, bocah yang meninggalkan masa kanak-kanaknya itu, berujar jujur.
Buku itu aku temukan di toko buku Gladag. Sore nan basah itu, aku menyelinap mengais tumpukan buku yang dimakan jamur. Ganang pemilik toko, setengah sadar tertidur, sambil memutar tape. Lagu gubahan K3S membikinnya mengantuk sambil menekuk tengannya menjadi bantal.
Aku mengangkat buku-buku yang bertumpuk. Tumpukan buku paling bawah seakan berbisik untuk merogohnya. Debu-debu beterbaran, membikinku bersin. Aroma jamur bercampur aroma tetikus dan kecoak yang menguar, memaksaku untuk tersendat-sendat bernafas.
Sebuah buku berjudul ‘Mengenang…’ membikinku terperanjat. Buku itu terbit tahun 2012, oleh penerbit Jagat Abjad. Tersirat di pojok kanan kaver buku bertulis -Bandung Mawardi, sebagai editor.
Buku itu aku selamatkan. Ia nampak mengenaskan. Kavernya hampir lepas, namun sesampainya di tempat mengetik, aku rekatkan kembali dengan lem. Aku mengira buku itu tidak asli atau imitasi. Penerbit memilih kertas buram, seperti kertas koran. Beberapa bagian sisinya lecek seperti terendam oleh air.
Syahdan, aku menghiraukan itu. Aku fokus dalam isinya. Dua puluh empat penulis, membicarakan tentang masa kanak-kanak. Mereka begitu keranjingan. Seluruh ingatannya tentang masa ketika bocah, tepatnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ditulis dengan rapi.
Para esai itu mengajakku untuk hadir dan menyigi sudut pandang satu ke lainnya. Esai Afrizal Malna terselip di situ. Adalah Rumah Kata dan Menggigit Sapu Tangan. Ia jujur, menulis kisah dirinya sewaktu bocah.
Mulanya adalah Ibu. Ia mengajarkannya untuk berkenalan dengan kata. “Kamu cukup memegang 26 huruf untuk hidupmu,” kata Ibunya. “Bersama bilangan 0 dengan 9 bilangan lainnya,” tambahnya.
Berkenalan dengan kata, membikinnya bersemangat. Setiap merapal kata yang berjejer dengan huruf-huruf lainnya, ia berteriak. Suaranya membikin telujuk ibunya mendarat persis di mulutnya, “jangan berteriak begitu.” Dia malu tetanggannya terusik oleh rasa keranjingan saat berkenalan dengan kata-kata.
Kata-kata itu kemudian terbesit dalam ingatannya. Segalanya yang nampak di mata, akan tersirat dalam rangkaian huruf membentuk sebuah kata, kalimat sampai rentetan paragraf.
Perjumpaannya dengan kata, membikinnya berkembang. Meski demikian, ia mengaku, perjumpaannya dengan bilangan tak seakrab dengan huruf. Ia pergi ke sekolah, dan pulang karena mencret, lantaran bertemu dengan bilangan dan hitung.
Hal senada namun tak serupa, ditulis oleh Rahmah Purwahida. Adalah Kepada Anak-Anak yang Sekarang Telah Dewasa. Kali ini beda dengan Afrizal Malna yang mencret saat bertemu Matematika, sedangkan Rahmah Purwahida sebaliknya. Ia sangat menyukai Matematika.
Perkenalan dengan Sekolah Dasar, lengkap dan bersahabat dengan Matematika. Beberapa kali ia mendapatkan nilai ujian yang unggul di Matematika. Ia begitu mencintai matematika, sampai-sampai lewat matematikan ia berjumpa dengan puisi-puisi.
Perkenalan dengan kata dan puisi tak lahir begitu saja. Ada sebuah perkenalan yang mengantarkannya. Perkenalan itu lewat Matematika. Perjumpaannya tak seperti Wittgenstein. Saat ujian berlangsung, ia berhasil menyelesaikan soal matematika. Teman-temannya masih bergelut dengan angka. Rahmah berhasil keluar ruangan lebih dahulu. Angka-angka itu terlalu gampang baginya.
Walakin, nasib berkata lain. Ia teledor untuk mengerjakan soal esai matematika. Ia berhasil menyelesaikan soal pilihan ganda. Soal esai tak terselip, naas hasil akhir membikinnya murung. Ia mendapatkan nilai 48. Nilai yang mampus bagi seseorang yang mencintai Matematika.
Rahmah merasakan derita. Nilai Matematikanya remuk. Ia mengurung diri di kamar, sampai-sampai kedua orang tuanya gelisah. Bahagia berganti murung, kengerian nampak seperti kisah dalam guratan Edgar Allan Poe. Ia tercabik-cabik. Mukanya jadi pucat pasi, serasa tak berarti untuk digeluti.
Kedua orang tua dan guru tak ingin Rahmah hanyut dalam derita. Sebuah kalimat meluncur, membikin Rahmah untuk menginjak segalanya yang telah terjadi. Ia ingin menghempaskan kengerian itu –nilai matematikanya remuk. Batinnya seperti bergeming, oleh kata-kata indah yang menggulung kengerian. Ia kemudian bertemu dengan chairil anwar. Sebuah sajak berjudul ‘Aku’.
Rahmah membacanya penuh semangat. Kata dan nada yang keluar dari sela-sela giginya, menggetarkan penikmatnya. Kengerian yang menggumpal ia hempaskan dengan membaca sajak-sajak. Sajak itu menggema, membikin pendengarnya bergidik.
Kepiawannya saat bertemu dan membaca sajak, mendapatk perhatian. Saat-saat penting misalnya dalam acara di kelurahan, sekolah, kecamatan, kantor gubernur Bandar Lampug, mengundang Rahmah untuk membaca sajak. Rahmah menemukan teman baru, yaitu kesusastraan.
Saat akan lulus dari SMA, ia tetap mencintai Matematika. Namun, ada satu hal yang membikin bulu kuduknya bergidik. Adalah kejelitaan. Ia tak ingin rambutnya botak seperti Einstein. Ia tak ingin ruwet. Rambutnya ingin tetap lebat, tebal dan harum. Kemudian, aku mengingat Naomi Wolf menyoal kecantikan. Ia kemudian memilih Bahasa Indonesia, ya memilih untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.
Kisah-kisah itu tersirat dengan teliti dan jujur. Para esais itu berkisah yang silam meskipun berlalu, tetap hadir dalam hidupnya. Ia bersama dalam elan vital yang menancap dalam kalbunya. Mengais untuk renungan sepi di malam sunyi. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali.
____________________
M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra yang Tinggal di Kota Surakarta
Langit sore itu seperti luka yang belum sembuh. Urat-urat cahaya berkilat di antara awan gelap, seolah petir sedang menulis ayat-ayat rahasia di kanvas langit. Di bawahnya, seorang lelaki muda berjalan perlahan, memeluk tas lusuh di punggungnya — bukan hanya memanggul buku-buku kuliah, tapi juga beban hidup yang terlalu berat untuk bahu semuda itu. Namanya Ahmad.
Ayahnya baru saja meninggal dua minggu lalu. Di rumah petak pinggir sungai yang kini berbau lembap dan anyir, hanya ada ibunya yang renta, dan dua adik kecil yang masih mengenal dunia sebatas buku pelajaran dan mimpi tentang sepatu baru. Ahmad kini menjadi kepala keluarga — bukan karena ia siap, tapi karena nasib telah menunjuknya seperti seseorang yang ditarik paksa ke panggung drama yang tak ingin ia mainkan.
Setiap pagi, Ahmad berangkat kuliah dengan pakaian seadanya. Celananya mulai pudar warnanya, kemejanya menipis seperti harapan yang terlalu sering dicuci dengan kesabaran. Ia menempuh perjalanan panjang ke kampus negeri dengan sepeda tua peninggalan ayahnya — roda depan sedikit oleng, tapi masih bisa berputar seperti jantungnya yang tetap berdetak walau digerus kelelahan.
Di kelas, dosen berbicara tentang ekonomi pembangunan dan teori tenaga kerja. Ironis, pikir Ahmad. Teori yang muluk-muluk itu tak pernah menyentuh tanah tempat kaki rakyat berdiri. Sementara ia, di luar ruang kuliah, sedang mencari pekerjaan serabutan demi menambal kehidupan yang bocor. Kadang ia mengantar paket makanan, kadang menjadi penjaga malam di toko bangunan. Tidur hanya dua atau tiga jam, lalu berangkat kuliah lagi. Di wajahnya, waktu mulai meninggalkan jejak: bukan keriput, tapi bayangan keras kehidupan.
Namun malam itu, petir pertama menyentuhnya.
Hujan turun deras saat Ahmad sedang duduk di halte kampus. Seorang perempuan turun dari mobil sedan hitam, tergesa-gesa, mencari tempat berteduh. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem, dengan aroma parfum lembut yang membuat Ahmad menunduk gugup.
“Mas, boleh duduk di sini?” katanya lembut.
Ahmad mengangguk. Ia tak tahu bahwa pertemuan sederhana di bawah atap bocor itu akan mengubah seluruh lintasan hidupnya.
Perempuan itu bernama Arini. Seorang istri pengusaha besar yang tinggal di kawasan elit kota. Arini bukan hanya cantik, tapi juga menyimpan luka yang tak terlihat. Ia bercerita dengan nada jenuh tentang hidupnya yang gemerlap tapi hampa — tentang suaminya yang sibuk dengan bisnis dan perempuan lain, tentang malam-malam panjang di rumah besar yang sunyi, tentang rindu yang tak punya alamat.
Ahmad mendengarkan dengan sopan, menatap hujan yang menetes dari ujung atap, seperti air mata langit yang malu-malu jatuh.
“Mas kuliah, ya?” tanya Arini.
“Iya, Bu. Jurusan Ekonomi. Tapi… ya, sambil kerja juga.”
“Kerja apa?”
“Apa saja yang halal.”
Arini tersenyum samar. Ada sesuatu di matanya — antara iba dan kekosongan. Ia menatap Ahmad seolah melihat bayangan masa lalunya sendiri, saat ia masih muda dan percaya bahwa hidup bisa diatur oleh cinta.
***
Beberapa hari kemudian, Arini memanggil Ahmad ke rumahnya. Ia menawarkan pekerjaan — menjadi sopir pribadinya.
Sejak hari itu, Ahmad menyetir mobil mewah Arini, mengantarnya ke butik, ke acara sosial, ke tempat spa, bahkan ke gereja tempat Arini sering duduk diam tanpa bicara. Ahmad duduk di depan kemudi, sementara di kaca belakang, wajah Arini terpantul samar — seperti dua dunia yang berjalan beriring tapi tak pernah bersentuhan.
Namun waktu, seperti biasa, selalu punya cara menguji batas manusia. Arini mulai sering berbicara lembut di perjalanan. Kadang menanyakan kehidupan Ahmad, kadang menatapnya terlalu lama lewat cermin depan.
“Mas Ahmad,” katanya suatu sore, “pernah jatuh cinta?”
Ahmad terdiam. “Pernah. Tapi cinta yang miskin cepat habis sebelum sampai ke pelaminan.”
Arini tersenyum getir. “Cinta yang kaya pun kadang mati sebelum sempat dirayakan.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti petir yang menunggu waktu menyambar. Beberapa kali Arini sengaja menyentuh tangan Ahmad saat ia menyerahkan kunci, atau memanggil namanya dengan nada manja. Ahmad selalu menunduk, menahan diri dengan segala tenaga iman yang tersisa. Dalam dirinya ada badai — bukan karena nafsu, tapi karena kesedihan yang berubah menjadi ketegangan moral. Ia tahu, dalam setiap godaan yang datang, ada jurang yang siap menelannya. Namun tak semua lelaki sekuat petir. Ada saat di mana langit pun harus pecah.
Malam itu, hujan turun deras lagi. Arini baru pulang dari pesta ulang tahun temannya. Ahmad membuka payung, tapi Arini menolak. Ia malah memeluk tubuhnya sendiri, menggigil. “Masuk dulu, Ahmad. Basah nanti,” katanya.
Ahmad menolak, tapi Arini menatapnya dalam-dalam, mata yang seperti jurang. “Saya cuma butuh ditemani sebentar,” katanya.
Ahmad ragu. Tapi akhirnya melangkah masuk. Di ruang tamu yang harum dan hangat, Arini duduk di sofa, membuka mantel. Bahunya gemetar. Ia menangis. “Aku capek, Mas… semua orang lihat aku bahagia, tapi aku kosong…”
Ahmad menunduk. “Saya cuma sopir, Bu.”
“Tapi kamu manusia, Ahmad…” Arini mendekat, suaranya bergetar. “Aku cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan, bukan membeli tubuhku.”
Hening. Hujan di luar seperti tepuk tangan dari langit. Ahmad berdiri. “Saya pamit, Bu.”
Namun sebelum ia sempat melangkah, Arini memegang tangannya. “Kamu takut aku, ya?”
Ahmad menatapnya dalam. “Saya takut Tuhan.”
***
Keesokan harinya, hidup Ahmad berputar seperti badai. Suami Arini datang ke rumah kontrakannya bersama polisi. Tuduhan: penodaan terhadap istri orang. Arini menangis di depan penyidik, bersumpah Ahmad telah memperkosanya. Ahmad membeku, mencoba berbicara, tapi suaranya lenyap di tengah gemuruh dunia. Semua terasa seperti mimpi buruk yang disusun oleh iblis yang mahir menulis naskah tragedi. Ia dijebloskan ke sel tahanan, di antara dinding dingin dan bau lembap ketidakadilan.
Namun di tempat itulah, ia mulai menulis. Dengan pena pinjaman dari seorang narapidana lain, ia menulis kisahnya sendiri. Di kertas yang kusam, ia menulis dengan darah hati, bukan tinta. Ia menulis tentang cinta yang salah tafsir, tentang godaan yang menipu, tentang manusia yang terjepit antara iman dan keputusasaan. Ia menulis sampai jarinya gemetar. Kadang ia menatap ke langit-langit sel, membayangkan petir yang menyambar di luar. Baginya, petir bukan lagi ancaman, tapi cahaya. Karena di balik setiap kilat, selalu ada kejujuran alam: terang yang datang setelah gelap.
Suatu pagi, seorang polisi muda bernama Dimas datang memeriksa berkas. Ia membaca tulisan Ahmad secara tak sengaja. “Apa ini tulisan kamu?”
Ahmad mengangguk.
“Kamu tahu… ini bukan sekadar kisah. Ini kesaksian jiwa.”
Dimas membaca terus, lembar demi lembar, hingga matanya berkaca. Dalam tulisan itu, ia menemukan sesuatu yang jarang ia temui di kantor polisi: kebenaran yang jujur tanpa perisai. Dimas pun mulai menyelidiki kembali kasus itu. Perlahan, ia menemukan kejanggalan: tidak ada bukti medis, tidak ada saksi, hanya pernyataan tunggal dari Arini yang penuh kontradiksi.
Dan pada suatu malam yang sunyi, Arini datang ke kantor polisi — menangis. “Dia tidak bersalah,” katanya lirih. “Aku… aku hanya ingin suamiku cemburu. Aku bodoh…”
Ahmad dibebaskan. Tapi ia tidak tersenyum. Ia keluar dari penjara dengan langkah berat, seperti seseorang yang telah kehilangan bentuk lamanya. Ia bukan lagi mahasiswa miskin yang lugu. Ia kini adalah lelaki yang menggenggam petir — luka dan cahaya sekaligus.
***
Beberapa bulan kemudian, novel Ahmad diterbitkan oleh penerbit kecil. Judulnya “Lelaki Penggenggam Petir.” Buku itu bukan sekadar kisah, tapi doa panjang dari seorang manusia yang berjuang melawan badai hidupnya sendiri. Orang-orang membacanya dan menangis. Mereka melihat diri mereka di dalamnya — setiap perjuangan, setiap ketakutan, setiap petir yang menyambar hidup mereka sendiri.
Ahmad tak lagi menjadi sopir atau tahanan. Ia menjadi penulis yang berjalan di antara dua dunia: dunia penderitaan dan dunia pengharapan. Di rumah kecilnya, ibunya duduk membaca dengan mata berkaca. “Bapakmu pasti bangga,” katanya pelan.
Ahmad tersenyum. “Bapak tidak mati, Bu. Ia cuma berubah menjadi cahaya yang menuntunku lewat setiap petir.”
Dan malam itu, saat langit mengguntur, Ahmad keluar rumah, menatap ke atas. Petir menyambar di kejauhan — putih, terang, indah. Ia merentangkan tangannya, seolah hendak meraih kilat itu, seolah hendak menulis sekali lagi di langit kehidupan.
“Terima kasih, Tuhan,” bisiknya. “Telah membuatku kalah, agar aku tahu bagaimana rasanya menang.”
Langit bergetar, hujan turun, dan Ahmad tersenyum di bawah cahaya yang berkedip.
Karena kini ia tahu, dalam setiap petir yang menyambar, ada doa yang menyala.[]
____________________
Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.
Seperti masa di mana kota belum dijajah oleh tangan-tangan pembangunan.
Namun, keindahan hanya milik laut yang tabah dalam meditasi purba,
Tak ada yang indah dari pemandangan yang tak bersahabat ini.
(24 Oktober 2023, Jendela Kehidupan)
___________________
Langit Sore Menyapamu
Hai, apa kabar?
Sudah lima belas tahun, kita tak bersua.
Bagaimana di sana?
Semoga baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun.
Aku ragu kau masih mengingatku, tapi kenangan tetap di hati.
Banyak yang berubah di kota ini,
Lahan kosong yang kita lewati setelah sekolah,
Kini menjadi toko serba ada, dan rumah kita hanyalah lahan parkir.
Tapi kenangan itu tak tersentuh waktu, seperti kita.
Saat ini, melihat fotomu terjatuh di buku,
Ketika aku hendak pindah rumah, kurasakan seperti menemukan kembali
Kenangan yang pernah hilang, yang belum pernah kuingat.
Saat langit senja berubah merah, aku ingin duduk di bawah pohon mangga,
Tempat kita biasa habiskan senja bersama, tapi aku pulang.
Usia membuatku ragu, dan angin sayup saja cukup untuk mengalahkanku.
Sepasang kupu terbang di antara dahan menyambut malam yang mendekat,
Langkahku terasa berat, seperti menginjak kenangan.
(4 November 2016, Langit Sore)
___________________
Kunang-kunang Setia
Saat padam suluh bambuku,
Kau temani langkah kecilku melintasi pematang yang gelap,
Tak lagi menakutkanku, karena ada engkau.
Burung hantu di rimba kelam, pusara di ujung jalan,
Aku tak mampu mengusir cemas yang mengganggu.
Namun, kilaumu, yang tenteramkan hati, mampu menghilangkan gemetar dalam langkahku.
Saat kilaumu, kunang-kunang, terkenang lagi di relung kalbuku,
Jalanku yang hampa menjadi bermakna, berarti karena cahayamu.
Suara sungai di kejauhan terasa sejuk, seperti masa kecilku.
Pulang lagi aku padamu, di kegelapan, di pendar sunyi,
Melambai-lambai dengan sabar dalam doa menuju kepastian.
Aku rindu saat dahulu, sebelum beranjak dewasa,
Saat kunang berkilau terang, cicada bernyanyi riang.
Kini, kilaumu tetap setia, memandu langkahku yang tak pasti.
(19 September 2022, Kunang-kunang Setia)
___________________
Hikmalsst (Hikmal Yazid). Pengajar dari lembaga madrasah dari berbagai tingkat, hikmalsst nama penanya selalu mengisi cela waktu untuk menyempatkan merekam kehidupan dengan aksara.
Perpustakaan sekolah biasa buka hari Sabtu. Sejak pagi sampai sore, pemuda-pemudi disebut murid datang silih berganti. Mereka tetap murid meski kita boleh menyebutnya pemustaka.
Sabtu lalu, perpustakaan tidak buka. Aku memang keluar rumah sambil mengendarai motor. Hanya saja, tujuanku bukan sekolah, tetapi pantai kecil dekat pemukiman penduduk di Simboro, Mamuju.
Pagi-pagi ke pantai mencari kesegaran. Kesegaran yang utama pasti mandi. Mandi yang bukan pakai air mengalir dari pipa dan keluar di mulut keran. Di pantai, air melimpah ruah. Mengalir dari sungai atau tumpah dari langit.
Sejauh mata memandang, yang ada hanya air berwarna biru. Di ujung sana, garis tipis antara laut dan langit tetap kentara meski keduanya sama-sama biru.
Sabtu ini, tepatnya besok, 8 November 2025, perpustakaan sekolah tutup lagi. Aku akan tetap ke perpustakaan, tetapi bukan milik sekolah. Perpustakaan yang akan aku kunjungi adalah Perpustakaan Kab. Mamuju. Perpustakaan yang sakti, buka setiap hari.
Kedatanganku besok untuk menukar buku-buku sekardus. Jumlahnya hampir empat puluh judul. Maksudnya, aku akan mengembalikan (hampir) empat puluh buku, lalu akan meminjam lagi sebanyak (semoga bisa) lima puluh. Kami menyebutnya silang layang.
Buku sebanyak itu bukan untuk dibawa pulang ke rumah. Buku-buku akan masuk dalam kardus, berdesak-desakan di sana, untuk kemudian mengisi lemari buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku dalam kardus berpindah tempat, dari perpus (kabupaten) ke perpus (sekolah).
Rencananya, aku akan mengajak murid-murid kelas IX.1. Aku sudah janji bertemu mereka di Perpustakaan Mamuju. Merekalah yang nantinya memilih buku apa saja yang sebaiknya menghuni perpustakaan sekolah. Dengan begitu, besar peluang buku-buku itu terbaca.
Kenapa bisa begitu? Ini kesimpulanku: selera. Selera yang menentukan apakah sebuah buku akan terbaca atau terabaikan.
Begini permulaannya. Ketika pertama kali meminjam puluhan buku dari Perpustakaan Mamuju, akulah yang mencomot buku-bukunya. Hasilnya, banyak sekali buku yang menganggur lebih sebulan dalam lemari.
Saat itulah aku menyadari kesalahanku yang tidak mempertimbangkan selera pembaca: remaja-remaji cap sekolah. Maka, ketika silang layang berikutnya, aku mengajak sebelas orang dari kelas IX.2 untuk membantuku menentukan buku-buku yang akan masuk kardus, kemudian diangkut ke perpustakaan sekolah.
Sejak saat itulah aku makin sibuk melayani murid-murid yang meminjam dan mengembalikan buku-buku di perpustakaan. Ibarat dagangan, buku-bukunya laris manis. Aku sampai sering terlambat masuk kelas karena masih melayani 3-4 orang yang mengembalikan lalu meminjam buku lagi.
Dan, tidak jarang pula aku agak sengaja mengulur-ulur waktu, yakni mengadakan pembicaraan kecil dengan para pemustaka. Paling tidak, aku akan mengajukan pertanyaan, “Bukunya khatam?” Kalau dapat jawaban “iya”, obrolan berlanjut sedikit lebih banyak. Dan, kalau jawabannya “tidak”, aku akan tetap menambahi dengan mengatakan: “Mungkin memang bukan seleramu.”[]
Yang membahagiakan bapak dan ibu adalah mengetahui anaknya yang masih di TK atau kelas 1 SD sudah bisa membaca. Kebahagiaan yang biasanya diwujudkan dengan ucapan: “Oh, anak yang pintar!” Anak itu mendapat pujian-pujian. Bapak dan ibu pun menantangnya untuk membaca tulisan di buku, koran, poster, bungkus makanan, dan lain-lain.
Anak yang sudah bisa membaca diharapkan kelak pintar. Bapak dan ibu pun mengumumkannya kepada keluarga besar, tetangga, dan teman-teman. Nasib yang berbeda dialami anak-anak yang sudah kelas 3, 4, 5, atau 6 SD tapi belum bisa atau belum lancAr membaca. Anak akan mudah mendapat ejekan dan kutukan. Yang tidak bisa membaca seperti mendapat cicilan siksa neraka.
Di Indonesia, masalah anak bisa membaca pernah menyulut polemik. Sumbernya adalah kementerian yang mengurus pendidikan. Konon, beberapa tahun yang lalu, anak-anak di TK dan kelas-kelas awal SD belum ada kewajiban bisa membaca. Guru tidak harus memaksa untuk mengajar membaca kepada anak-anak yang masih suka bermain dan bernyanyi. Namun, masa lalu pun menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak untuk membaca di kelas 1, 2, 3 SD sangat menentukan mutu pendidikan di Indonesia.
Yang sedang kita masalahkan adalah anak-anak yang membaca dalam bahasa Indonesia. Mereka yang belajar di sekolah memang dianjurkan untuk lekas mengerti bahasa Indonesia. Yang belajar bahasa Indonesia, yang cinta tanah air dan memiliki patriotisme. Mereka belajar membaca dalam Bahasa Indonesia tapi kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah.
Pada masa kolonial, anak-anak yang berhasil belajar di sekolah sangat diharapkan dapat membaca dalam bahasa Belanda dan Melayu. Dua bahasa yang akan membuatnya pintar dan mengubah nasib. Orang yang bisa membaca mudah mendapat pekerjaan. Pada awal abad XX, kemampuan dan kekuatan membaca ikut menentukan status sosial dan gaya hidup. Jumlahnya sedikit tapi menandakan bumiputra mendapat berkah modernitas.
Maka, para penggerak Indonesia yang berpengaruh adalah kaum yang membaca sekaligus menulis. Mereka mula-mula belajar membaca dalam kepentingan pendidikan. Ada yang kebablasan menggunakan kekuatan membaca dan menulis untuk melawan kolonialisme, berdakwah agama, atau merayakan imajinasi dengan novel. Dulu, ada sejenis konklusi: yang membaca, yang membentuk Indonesia. Padahal, ada kaum-kaum lain yang turut menentukan Indonesia meski tidak melek aksara.
Yang dipelajari pada masa lalu tidak hanya bahasa Belanda dan Melayu. Di Jawa, murid-murid diajar agar bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa. Artinya, mereka diajar dengan dua aksara: Latin dan Jawa. Jadi, yang berusaha bisa membaca dalam bahasa Jawa mengharuskan keseriusan dan kekuatan ganda. Pada awal abad XX, bahasa Jawa itu penting bagi pemerintah kolonial dan dakwah.
Di Solo, pertengahan abad XIX, berdiri lembaga yang melakukan studi Jawa. Misi besar yang dilakukan adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jawa. Kerja besar yang menguat sampai awal abad XX. Di kalangan sastra, bahasa Jawa menunjukkan estetika dan pesona Jawa. Para pujanga menghasilkan kitab-kitab yang dijadikan sumber ajaran hidup. Pokoknya, bahasa Jawa itu penting dan berkhasiat, disokong pula oleh penerbitan surat kabar yang berbahasa Jawa.
Pada masa revolusi, bahasa Jawa tetap penting, sebelum mengalami pengabaian dan kebangkrutan akibat politik-bahasa nasional dan perubahan zaman. Bahasa Jawa terbukti menggerakkan dan membesarkan revolusi. Namun, perannya makin mengecil saat bahasa Indonesia adalah keutamaan dalam memajukan Indonesia.
Kita ingin mengenang anak-anak masa lalu belajar bahasa Jawa. Yang kita buka adalah buku berjudul Gelis Pinter Matja jiid II, yang disusun A Van Diijck dan R Wignjadisastra. Buku diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Batavia, 1948. Yang paling menarik adalah gambar di sampul. Lihatlah, tiga bocah dalam penampilan yang berbeda! Ada yang mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memilih pakaian dan peci mengesankan Islam. Ada pula anak yang mengenakan pakaian sederhana tanpa tutup kepala. Kita membayangkan tiga anak itu mewakili kaum-kaum yang berbeda tapi memiliki gairah dapat membaca dalam bahasa Jawa.
Yang dipelajari mereka adalah bahasa Jawa dalam aksara Latin. Buku untuk kelas-kelas awal di sekolah dasar. Belajar membaca tidak hanya dengan kata-kata. Penyusun buku memerlukan gambar-gambar yang menggenapi kata. Maksudnya, anak-anak agar senang dan terbantu oleh gambar, yang berpengaruh dalam kelancaran membaca kata.
Di halaman 19, ada gambar tiga anak yang bermain. Kata-kata yang dicetak untuk dieja oleh murid-murid: soer-ti ma-oe pa-sar-an/ do-dol-an-e o-ra te-me-nan/ do-dol-a-ne war-na war-na. Bermain pasaran biasa dilakukan anak-anak perempuan. Maka, yang belajar membaca bakal mudah jika sudah punya kebiasaan bermain pasaran bareng teman-teman.
Pelajaran membaca itu menyegarkan saat sampai halaman 23. Gambar orang yang berjualan es pakai pikulan. Kata-kata yang dicetak untuk dibaca: soe-ra ma-oe i-der re-ne/ do-dol-a-ne es/ a-koe ma-oe toe-koe sa-ge-las/ i-se-ne ta-pe ke-tan/ ra-sa-ne wis ta se-ger toer le-gi. Yang membaca itu membayangkan jam istirahat atau pulang untuk segera jajan es. Di situ, kita tidak menemukan kata-kata yang menyatakan minum es mengakibatkan anak akan batuk dan pilek.
Yang terakhir, kita menyimak bacaan di halaman 38. Gambar seorang bocah yang menggendong boneka. Ia sedang bermain dengan peran menjadi ibu. Kata-kata yang dibaca oleh murid: soer-ti di-toe-kok-a-ke go-lek-an/ go-lek-an-e a-pik/ ma-oe go-lek-an-e di-em-ban/ go-lek-an-e di-oe-rak-oe-rak-a-ke/ la-goe-ne a-na i-ni. Bermain yang menyenangkan: menggendong boneka sambil bersenandung.
Buku kita tutup meski masa lalu masih teringat. Kita justru susah berpikir mengenai nasib bahasa Jawa abad XXI. Kita tidak boleh mudah menyalahkan anak-anak yang tidak mahir membaca dalam bahasa Jawa saat dunia makin dikuasai bahasa Inggris. Anak-anak tampaknya dianjurkan rajin belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab ketimbang bahasa Jawa dengan pertimbangan identitas, iman, nasib, dan lain-lain.
Ketika lagu berhenti, Lyubka terhuyung dan jatuh ke dada Merik. Lelaki itu memeluknya erat, menatap matanya, dan berkata lembut—dengan nada main-main tapi mengandung sesuatu yang gelap: “Nanti aku akan tahu di mana ibumu menyembunyikan uang. Aku akan bunuh dia, bunuh kau, lalu kubakar penginapan ini. Orang-orang akan bilang kalian terbakar. Dengan uang itu aku akan ke Kuban, punya kuda dan domba, hidup bebas.”
Lyubka hanya memandangnya, setengah takut, setengah rindu.
“Apakah di Kuban indah, Merik?” katanya pelan.
Merik diam. Ia duduk di peti, menatap kosong, seolah sedang melihat padang rumput di jauh sana.
Yergunov ikut keluar untuk memastikan kudanya tak dibawa. Salju masih turun, tapi lebih lembut. Angin meniup reranting, membuatnya berderit seperti doa patah. Di balik pagar, dunia tampak penuh bayangan putih menari, seperti roh-roh yang kehilangan tubuh.
Kuda Kalashnikov lenyap di tengah kabut, dan Yergunov kembali ke dalam. Lyubka sedang merunduk di lantai, memunguti manik-manik yang berserakan. Merik sudah tak ada.
Yergunov berbaring di bangku, menatap tubuh Lyubka yang bergerak pelan di lantai.
“Andai Merik tak ada…” pikirnya. “Malam ini pasti berbeda.”
Lyubka berdiri, membawa manik-manik itu ke kamarnya. Lilin padam. Hanya lampu ikon yang masih berkelip, seperti mata malaikat yang menonton dosa manusia.
Yergunov memejamkan mata, tapi pikirannya tak tidur. Ia melihat Lyubka menari lagi—kali ini di dalam kepalanya sendiri.
“Oh, kalau setan mau menjemput Merik malam ini,” gumamnya, “aku akan berterima kasih.”
Malam menua perlahan, seperti arak yang kehilangan hangatnya. Yergunov tak tahu berapa lama ia tertidur di bangku. Kadang ia merasa masih mendengar derak api di tungku; kadang ia merasa dirinya sudah mati dan tubuhnya membeku di bawah salju. Tiba-tiba pintu berderit. Seseorang masuk. Suara langkah berat. Asap tembakau memenuhi ruangan.
Dalam kegelapan, percikan kecil menyalakan pipanya—dan sejenak wajah Merik muncul: separuh terang, separuh hitam, noda gelap di pipinya seperti tanda kutuk.
Bau tembakau membuat tenggorokan Yergunov gatal.
“Tembakau busuk apa itu?” gumamnya, setengah marah. “Kau mau membuatku mati mual?”
“Campur bunga gandum,” jawab Merik tenang. “Baik untuk dada.”
Ia mengisap, meludah, lalu pergi lagi. Sunyi. Beberapa saat kemudian, cahaya lilin kembali menari di lorong. Merik muncul dengan mantel dan topi. Di belakangnya, Lyubka membawa lilin, wajahnya separuh tertelan gelap.
“Tinggallah malam ini, Merik,” katanya, suaranya lirih, seperti permintaan anak kecil yang tahu akan ditolak.
“Tidak, Lyuba. Aku ingin sedikit hiburan.”
“Kau tak punya kuda. Bagaimana kau akan pergi?”
Merik membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya. Lyubka tertawa di antara air mata.
“Dia sedang tidur, si bajingan sombong itu,” katanya pelan. “Pergilah cepat.”
Mereka berpelukan, mencium dengan tergesa—seolah tahu ciuman itu yang terakhir. Lalu Merik menghilang di pintu.
Yergunov mendadak sadar. Ia mendengar sesuatu di luar, derap langkah di salju. Jantungnya memukul rusuknya sendiri. Ia meraih pistol, bangkit, dan berlari ke lorong.
Lyubka berdiri di sana, membelakangi pintu, tubuhnya seperti bayangan api. “Menjauh!” teriak Yergunov. “Aku mau melihat kudaku!”
Lyubka menatapnya dengan mata setengah redup, separuh nakal. “Untuk apa melihat kuda, Tuan?” bisiknya. “Lihatlah aku saja.”
Ia menyentuh rantai di dada Yergunov, jemarinya dingin tapi gemetar seperti burung. “Kuncinya bagus,” katanya. “Beri aku.”
“Berikan jalan!” teriak Yergunov. “Dia akan pergi dengan kudaku, kau dengar?!”
Ia mendorongnya. Tapi Lyubka tetap di tempat, tangannya menahan palang pintu seperti besi hidup.
“Tidak akan,” katanya, napasnya berembus di wajahnya. “Merik tak akan mencurinya.”
“Lepas! Kau perempuan gila!”
Ia mendorong lebih keras. Bahunya menghantam bahu Lyubka. Tubuh mereka beradu, napas bertemu. Dan tiba-tiba, dari amarah tumbuh sesuatu lain: keinginan yang lebih panas daripada vodka.
Ia memeluknya. “Cukup, biarkan aku pergi,” katanya lagi, tapi suaranya sendiri terdengar seperti rayuan.
Lyubka tak menolak. Matanya berubah. Suaranya menurun menjadi desah. “Tadi kau dengar aku bilang aku cinta Merik,” bisiknya. “Tapi hatiku tahu siapa yang benar-benar kucintai.”
Ia menyentuh kunci di rantai leher Yergunov sekali lagi. “Berikan ini padaku,” katanya pelan.
Yergunov menuruti tanpa sadar. Saat itu, wajah Lyubka tiba-tiba berubah: tatapannya jadi dingin, mata penuh perhitungan. Ia menegakkan tubuh, menajamkan telinga—seolah mendengar sesuatu di luar.
Dan sebelum Yergunov sempat berpikir, ia sudah mendorong perempuan itu ke samping, menyingkap pintu, dan berlari keluar.
Udara menggigit seperti pisau. Ia menyalakan korek, menyorot kandang. Tak ada kuda. Hanya seekor babi yang meringkuk di pojok, mendengus malas. Seekor sapi memukul kandang dengan tanduk. Dan anjing-anjing yang tadi menggonggong kini berlari mengelilinginya, menggigit udara, mengolok-oloknya.
Ia menembakkan pistol ke arah mereka. Sekali. Dua kali. Pelurunya meleset semua. Lalu berlari ke pagar, menatap kegelapan. Tak ada apa pun selain salju yang berputar, membentuk wajah-wajah aneh—kadang wajah Lyubka, kadang Merik, kadang mayat kuda yang berlari tanpa kepala.
Ia menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam angin.
Ketika kembali ke rumah, ia mendengar langkah tergesa dari dalam—seseorang menutup pintu kamar. Ia menendang. Terkunci. Ia menyalakan korek, menyusuri ruangan, dari dapur ke kamar kecil, hingga akhirnya menemukan Lyubka.
Perempuan itu berbaring di atas peti, tubuhnya diselimuti kain tambal warna-warni, seolah sedang tidur. Yergunov menatapnya dengan marah.
“Di mana kudaku?” katanya pelan, tapi suaranya menggigil.
Lyubka tak menjawab.
“Jangan berpura-pura tidur, pelacur kecil,” katanya. “Di mana kudaku?”
Ia menarik selimut itu. Lyubka bangun, menegakkan tubuh, memegangi pakaian yang robek di leher. Matanya menyala marah dan takut bersamaan.
“Pergi, binatang kotor!” bentaknya.
Yergunov menyeretnya dengan kasar. Kain di pundaknya robek. Ia ingin menakut-nakuti, tapi darahnya sudah terlalu panas untuk berhenti. Ia memeluknya—keras, buta. Tapi Lyubka, dengan tenaga yang lahir dari jijik dan amarah, menghantam kepalanya dengan kepalan tangan. Sekali. Lalu sekali lagi.
Dunia berputar. Kepalanya berdenging. Ia tersandar ke dinding, meraba darah di pelipisnya. Tak bisa berpikir, ia tersandung ke ruang depan, mengambil korek, menyalakan api satu per satu tanpa tujuan—seolah setiap nyala kecil bisa menenangkan malu dan rasa kalah.
Korek terakhir padam. Langit di luar mulai biru. Ayam berkokok. Yergunov mengenakan mantel, tapi pelana dan barang belanjaannya sudah tak ada. Tasnya kosong. Semua lenyap—mungkin bersama Merik.
Ia mengambil batang besi dari dapur untuk menakut-nakuti anjing, lalu keluar. Salju sudah berhenti. Dunia tampak mati—putih dan sunyi, seperti surat kabar yang kehilangan berita. Di kejauhan, deretan hutan muda tampak biru.
Yergunov berjalan tanpa arah. Ia berpikir tentang apa yang akan dikatakan dokter kepadanya nanti: kehilangan kuda pinjaman, barang, dan harga diri sekaligus. Tapi semakin ia mencoba memikirkan alasan, semakin buyar semua. Yang tertinggal hanya wajah Lyubka, gerak rambutnya, bau kubis di kamarnya, dan suara tinjunya di pelipisnya.
Ia berhenti di bawah pohon birch, menancapkan batang besi ke salju, dan bersandar.
“Kenapa manusia harus seperti ini?” gumamnya. “Kenapa harus ada dokter, bawahan, pegawai, dan rakyat? Kenapa tidak cukup jadi manusia saja, seperti burung atau kuda? Mengapa kebebasan harus tampak seperti dosa?”
Ia menatap langit yang dingin dan tak menjawab.
“Kalau hidup cuma untuk bangun, makan, bekerja, tidur, lalu mati,” katanya pelan, “maka Merik benar. Yang berdosa justru mereka yang tak pernah hidup.”
Ia tertawa. Suaranya tenggelam di salju, dan tak ada yang tahu apakah itu tawa manusia, atau suara setan yang akhirnya merasa kasihan.
Musim-musim berputar seperti kuda tua di kandang sirkus: berjalan, berhenti, berjalan lagi. Setahun lebih telah lewat sejak malam itu. Yergunov tak lagi bekerja di rumah sakit. Ia dipecat—bukan karena kuda yang hilang, tapi karena nasib yang sudah bosan menunggu. Kini ia hidup di pinggiran, menggantungkan diri pada keajaiban yang tak datang-datang: menjadi buruh musiman, penagih obat keliling, peminum tetap di kedai Ryepino.
Malam itu, selepas Paskah, ia keluar dari kedai dengan langkah goyah. Angin musim semi meniup bau tanah basah dan bunga liar. Bintang-bintang menetes di langit seperti mata yang belum sempat menangis. Udara hangat—hangat yang menusuk, karena mengingatkannya pada malam dingin itu, pada Lyubka, pada kuda yang lenyap di salju.
Ia berjalan tanpa arah. Di hadapannya terbentang padang luas, terbuka seperti dada dunia. Angin berdesir, menyentuh rumput, dan entah kenapa Yergunov merasa seolah bumi baru saja disucikan.
Ia menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langit terasa tak berujung.
“Betapa besar dunia ini,” katanya dalam hati. “Tapi mengapa manusia mengisinya dengan aturan kecil?”
Ia teringat pada semua pembeda yang diciptakan manusia: antara yang mabuk dan yang sadar, yang berpangkat dan yang dipecat, yang kenyang dan yang lapar. Mengapa mereka yang berperut penuh tidur nyenyak di rumah, sementara yang kelaparan harus berjalan tanpa arah di malam begini? Ia menatap seekor burung melintas di langit.
“Lihat,” katanya pada dirinya sendiri, “burung itu tak punya pekerjaan, tak punya gaji, tapi hidupnya penuh.”
Ia terus berjalan. Jauh di ufuk timur, ada cahaya merah bergetar, membentang seperti luka besar di langit. Api. Yergunov berhenti, mengernyit, lalu tertawa kecil—tawa yang dingin, seperti logam digesek batu.
Dua kereta melintas di jalan. Dalam salah satunya, seorang perempuan tertidur. Di kereta satunya, lelaki tua tanpa topi duduk, menatap api dari jauh.
“Pak tua,” sapa Yergunov, “api apa itu?”
“Penginapan Andrey Tchirikov,” jawab si tua. “Terbakar habis.”
Yergunov membeku. Nama itu mengguncangnya seperti gong di dada. Ia menatap cahaya merah di langit. Di baliknya, ia bisa membayangkan rumah beratap jerami, dindingnya yang dulu hangat oleh lilin dan dosa, kini ambruk dalam kobaran api. Ia membayangkan suara Lyubka—tawa kecilnya, tangannya yang dingin menyentuh rantai di dadanya.
Mungkin perempuan itu kini terbakar bersama ibunya. Mungkin Merik menepati janjinya: membunuh mereka, mencuri uang, lalu pergi ke Kuban, menunggang kuda bebas di padang rumput, tertawa seperti orang gila yang akhirnya dimenangkan takdir.
Yergunov menatap api itu lama sekali. Tak ada rasa sedih di wajahnya, hanya semacam iri yang aneh—iri kepada keberanian yang tak pernah ia miliki. Ia berbalik, berjalan kembali ke arah kedai, tapi pikirannya tetap di langit timur, di warna merah yang menodai malam.
Di sepanjang jalan, rumah-rumah orang kaya berdiri sepi: pedagang besar, pandai besi, pemilik ternak. Setiap rumah punya pintu besi dan jendela tebal, seolah seluruh dunia harus dijaga dari keinginan. Dan di setiap langkah, Yergunov merasakan sesuatu tumbuh di dadanya—rasa yang belum pernah ia kenal: dorongan untuk mengambil, untuk mencuri, untuk merebut sedikit kebebasan yang selama ini hanya ditonton.
“Bagaimana rasanya,” pikirnya, “masuk ke rumah orang kaya itu, membungkam malam dengan napas sendiri, dan pergi membawa sesuatu—apa pun—yang bukan milikku?”
Ia menatap langit. Api di ufuk perlahan padam, tapi nyalanya berpindah ke dadanya sendiri.
Yergunov tahu ia bukan pahlawan, bukan penjahat. Ia hanya manusia yang terlambat mengerti bahwa kebebasan bukan soal hukum, tapi keberanian untuk melawan nasib. Di dunia di mana para dokter menulis resep, para pelayan tunduk, dan para pencuri berkuda ke langit, siapa yang bisa mengklaim dirinya benar?
Ia berhenti di pinggir jalan, menatap gelap, lalu tersenyum samar.
“Mungkin,” katanya pada dirinya sendiri, “yang berdosa bukan mereka yang mencuri. Tapi mereka yang menolak kesempatan untuk hidup.”
Malam hening. Seekor burung melintas di atas kepala, sayapnya bergetar seperti helaian kertas terbakar. Dan entah dari mana, suara tawa Lyubka terdengar di telinganya—pelan, menggoda, seperti dari dunia lain.
____________________
Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.
____________________
Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi Linguistik Penerjemahan di UNS.
Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan: Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan?
Ia mematikan ponsel itu.
Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela.
Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua.
Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon.
Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu.
Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin.
Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK?
Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela.
Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le,peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit.
Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang.
Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan.
Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor.
Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar.
Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.
Njih, Bu?
Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan.
Njih, Bu.
Pulang, ya. Mitoninya di rumah.
Njih, Bu.
Le?
Njih, Bu.
Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le.
Njih, Bu.
Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam.
Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat.
Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi.
Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah.
Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu.
Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha.
Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.
Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang.
Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.
Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.
Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju.
Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.
Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.
Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?
Sang ibu meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar.
Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le?
Lelaki itu diam.
Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya.
Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau.
Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le?
Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya.
Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi.
Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar.
Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan.
Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai.
Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan.
Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens.
Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu?
Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya.
Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga.
Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam.
Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu.
Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu.
Kemudian tibalah hari itu.
Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu.
Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya.
Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam.
Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya.
Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata.
Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega.
Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya.
Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada?
__________________
Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak. Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.