Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Ragam

Adalah Api sebagai Hukuman

Oleh Ferdi

Ada sebuah kisah:

Pada suatu malam, ketika langit jernih tak bernoda, para malaikat turun ke bumi. Mereka mendarat di sebuah asrama di tengah kota, tempat bermukim para penghafal kitab suci. Dengan catatan amal perbuatan di tangan kiri, mereka membacakan dakwaan:

“Kalian telah melakukan dosa-dosa yang amat besar. Hingga membuat Tuhan, atas singgasananya, duduk diam. Ia memang terlihat bergeming. Tapi kami tahu. Kami para pelayan-Nya sangat tahu apa yang sedang menyusahkan-Nya.

“Ya, Tuhan murka. Kalian membuat para penghafal lalai dalam ibadahnya. Dan tipu daya kalian menjadikan mereka semakin jauh dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu, tak bisa ditunda-tunda, dosa kalian harus dibersihkan. Saat ini, di sini.”

Saking kagetnya, para terdakwa diam sejuta bahasa. Meski mereka menguasai satu bahasa, yakni bahasa ke sejuta satu, tak satu pun kata yang mampu terucap sebagai pembelaan. Mereka tahu bahwa siksa neraka datang lebih awal.

“Sialan, kita kan masih di dunia,” keluh salah satu pendosa. “Aku ingat Tuhan pernah berkata kalau Ia hanya akan mendengarkan kesaksian dari seluruh anggota badan di hari yang telah ditentukan. Dan hari itu pasti bukan hari ini.”

Selagi para malaikat menyiapkan tungku pembakaran beralaskan seng yang bergelombang, para pendosa tetap bisu. Tak ada yang berani menyela kesibukan para malaikat. Terutama yang paling besar dengan mata nyalang di sana itu. Tatapannya adalah tiket masuk neraka jalur tol.

Api sudah membara. Mereka dibakar satu per satu. Sudah itu dilempar ke atas seng yang bergelombang. Malaikat melakukannya dengan cepat, sebab tak sudi berlama-lama memegang makhluk berlumuran dosa.

Beberapa tingkat kemalangannya melebihi yang lain. Terutama yang dibakar belakangan. Sebelum dibakar, para malaikat merobek-robek tubuh mereka, lalu membantingnya ke tanah. Ini tidak tercantum dalam susunan acara yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi, siapa suruh membuat para malaikat marah. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan Tuhan juga.

Ketika api yang kelaparan makin lahap menggigit dan mengoyak daging-daging yang kecokelatan, para pendosa masih tak bersuara. Padahal sakit yang mereka rasakan tak ada duanya. Tak ada bandingannya. Inilah sakit yang paling menyakitkan bagi mereka.

Selama ini, yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah Tuhan sebagaimana dititahkan pada awal penciptaan. Hanya satu itu. Mereka telah bersusah payah melakukannya selama ini. Dan ketika momen itu datang, momen ketika tugas itu mulai bisa mereka cicil, datanglah para pesuruh Tuhan menjatuhkan hukuman.

Padahal para manusia akhirnya sudi memegang mereka. Membuka halaman pertama dan membaca sampai halaman terakhir, di sela-sela rutinitas menghafal kitab suci, mereka, para pendosa, tak sempat bersyukur dan melafalkan puji-pujian kepada Tuhan.

Tak ada gunanya mengajukan gugatan. Sedang bertanya saja tidak sanggup. Mau bicara saja tidak mampu.

Tak ada yang sempat meneteskan air mata. Mereka terbakar di hadapan para penghafal ayat-ayat Tuhan.

***

Kisah yang memilukan. Kengerian yang menjadi nyata. Amat sangat nyata bagi mereka, para saksi pembakaran, yang menceritakannya kepadaku, pagi itu, di perpustakaan sekolah.

______________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.

Ragam

PEMILIK 301

Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah masih ramai. Nasib baik. Para murid sekolahan atau santri pondok pesantren masih betah bersama buku di waktu senggang.

Buku-buku dibaca dan dipinjam. Buku-buku dibaca dan dibincang. Buku-buku yang terbaca jadi bahan tulisan-tulisan. Buku-buku digenggam sebelum berganti gawai makin pintar.

Yang mengejutkan, pada suatu pagi, tak lama setelah perpustakaan buka, dua orang datang meminjam buku. Mereka adalah pemilik 300 dan 301 di buku daftar peminjaman buku milik perpustakaan.

300 menjadi 301, dan terus bertambah. Mungkin tak lama lagi jadi 1000. Lalu 1001 sebelum jadi 3760. Angka yang semakin besar, menandakan minat terhadap buku yang terus bertumbuh, dari hari ke hari.

Aku semakin sadar betapa besar impianku agar perpustakaan bukan sekadar pelengkap bagi sesuatu yang disebut sekolah. Juga bukan imbuhan untuk pendidikan. Perpustakaan bisa jadi tokoh utama dalam hidup manusia-manusia disebut murid di sekolah. Kemungkinan yang bukan kemustahilan.

Siasat demi siasat dilakukan demi murid mengakrabi buku-buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang tersedia diupayakan menggugah selera pembaca. Ajakan-ajakan disampaikan di dalam dan di luar kelas. Buku sengaja menggantung di tangan di hadapan murid-murid.

Bukankah itu namanya pamer? Memang! Semoga Tuhan mengampuni dosa para penggenggam buku.

Satu lagi dosa yang kuharap diampuni, yakni dosa membanding-bandingkan nasib perpustakaan sekolah-sekolah.

Yang mengalami perpustakaan sekolah masih sering ramai tergoda memikirkan nasib perpustakaan sekolah lain. Perpustakaan di banyak sekolah masih sering bernasib buruk. Bukan cuma sepi, melainkan tidak ada sama sekali.

Kawanku yang senang berkelana, bercerita mengenai sulitnya menemukan perpustakaan di sekolah-sekolah jauh dari kota. Kalaupun ada, ruangan itu bukan diisi rak dan buku, tetapi meja dan alat-alat olahraga.

Bagaimana bisa ada pembaca pertama bila perpustakaan saja tak ada?

______________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.

Ragam

Berselera Sekardus Buku

Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah biasa buka hari Sabtu. Sejak pagi sampai sore, pemuda-pemudi disebut murid datang silih berganti. Mereka tetap murid meski kita boleh menyebutnya pemustaka.

Sabtu lalu, perpustakaan tidak buka. Aku memang keluar rumah sambil mengendarai motor. Hanya saja, tujuanku bukan sekolah, tetapi pantai kecil dekat pemukiman penduduk di Simboro, Mamuju.

Pagi-pagi ke pantai mencari kesegaran. Kesegaran yang utama pasti mandi. Mandi yang bukan pakai air mengalir dari pipa dan keluar di mulut keran. Di pantai, air melimpah ruah. Mengalir dari sungai atau tumpah dari langit.

Sejauh mata memandang, yang ada hanya air berwarna biru. Di ujung sana, garis tipis antara laut dan langit tetap kentara meski keduanya sama-sama biru.

Sabtu ini, tepatnya besok, 8 November 2025, perpustakaan sekolah tutup lagi. Aku akan tetap ke perpustakaan, tetapi bukan milik sekolah. Perpustakaan yang akan aku kunjungi adalah Perpustakaan Kab. Mamuju. Perpustakaan yang sakti, buka setiap hari.

Kedatanganku besok untuk menukar buku-buku sekardus. Jumlahnya hampir empat puluh judul. Maksudnya, aku akan mengembalikan (hampir) empat puluh buku, lalu akan meminjam lagi sebanyak (semoga bisa) lima puluh. Kami menyebutnya silang layang.

Buku sebanyak itu bukan untuk dibawa pulang ke rumah. Buku-buku akan masuk dalam kardus, berdesak-desakan di sana, untuk kemudian mengisi lemari buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku dalam kardus berpindah tempat, dari perpus (kabupaten) ke perpus (sekolah).

Rencananya, aku akan mengajak murid-murid kelas IX.1. Aku sudah janji bertemu mereka di Perpustakaan Mamuju. Merekalah yang nantinya memilih buku apa saja yang sebaiknya menghuni perpustakaan sekolah. Dengan begitu, besar peluang buku-buku itu terbaca.

Kenapa bisa begitu? Ini kesimpulanku: selera. Selera yang menentukan apakah sebuah buku akan terbaca atau terabaikan.

Begini permulaannya. Ketika pertama kali meminjam puluhan buku dari Perpustakaan Mamuju, akulah yang mencomot buku-bukunya. Hasilnya, banyak sekali buku yang menganggur lebih sebulan dalam lemari.

Saat itulah aku menyadari kesalahanku yang tidak mempertimbangkan selera pembaca: remaja-remaji cap sekolah. Maka, ketika silang layang berikutnya, aku mengajak sebelas orang dari kelas IX.2 untuk membantuku menentukan buku-buku yang akan masuk kardus, kemudian diangkut ke perpustakaan sekolah.

Sejak saat itulah aku makin sibuk melayani murid-murid yang meminjam dan mengembalikan buku-buku di perpustakaan. Ibarat dagangan, buku-bukunya laris manis. Aku sampai sering terlambat masuk kelas karena masih melayani 3-4 orang yang mengembalikan lalu meminjam buku lagi.

Dan, tidak jarang pula aku agak sengaja mengulur-ulur waktu, yakni mengadakan pembicaraan kecil dengan para pemustaka. Paling tidak, aku akan mengajukan pertanyaan, “Bukunya khatam?” Kalau dapat jawaban “iya”, obrolan berlanjut sedikit lebih banyak. Dan, kalau jawabannya “tidak”, aku akan tetap menambahi dengan mengatakan: “Mungkin memang bukan seleramu.”[]

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Ragam

PINJAM BUKU LAGI

Oleh Ferdi

“Kak, mau pinjam buku lagi.” Itu Syanun yang berbicara. Bersamanya, perempuan lain yang ingin meminjam buku Bandit-Bandit Berkelas yang ditulis oleh Tere Liye.

Mereka berdua masih kelas IX. Atau, mungkin sebaiknya kukatakan sudah kelas IX. Mengingat tak lama lagi mereka lulus dan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku selalu berpikir bahwa mereka lebih beruntung dariku. Dalam hal ini, mereka bisa membaca buku sampai halaman terakhir sejak SMP. Bagiku, kali pertama saat itu adalah tahun pertama berseragam putih-abu-abu.

Buku pertamaku pun bukan pinjaman dari perpustakaan sekolah, tetapi dari teman kelas. Seingatku, tak ada buku bacaan di perpustakaan sekolah. Memang, meski dibaca juga, aku yakin buku pelajaran yang digunakan guru sebagai bahan ajar di kelas tidak dikategorikan sebagai buku bacaan.

Coba bayangkan, siapakah gerangan yang mau baca buku Pendidikan Pancasila kelas IX ketika sedang duduk santai di warkop, ditemani es kopi susu, ketika langit sedang merona merah-jingga di atas sana? Aku jelas tak mau!

Meski begitu, aku memang mengenal seseorang yang keranjingan buku pelajaran cap Orde Baru, Orde Lama, hingga yang lebih awal dari itu. Ia terus mencari dan memungut buku-buku seperti itu di toko-toko buku bekas di Gladag, Solo.

Temanku itu pun tak henti-hentinya menjadikan buku-buku pelajaran berusia paruh baya itu tulisan-tulisan. Tak lama lagi, kukira, akan genap satu juta resensi dan esai yang ia tuliskan tentang dan dari buku-buku pelajaran tua.

Kutegaskan: orang itu adalah pengecualian. Tentu saja. Dia bukan orang normal yang menganggap buku pelajaran hanya berarti sepanjang pemiliknya belajar di sekolah. Yang kalau sudah lulus bisa dihibahkan ke orang lain atau ditimbang demi uang.

Dengan begitu, sebagai orang normal, Syanun datang ke perpustakaan sekolah pada hari ini, Senin, 27 Oktober 2025, bukan untuk meminjam buku Pendidikan Al Islam kelas IX. Namun, ia ingin meminjam lagi buku Re: dan Perempuan garapan Maman Suherman. Katanya, ia belum khatam. Maka, dengan senang hati, buku itu kupinjamkan lagi padanya.

___________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju

Ragam

AKHIRNYA, BUKU TIDAK SIA-SIA

Oleh Ferdi

Jarum jam belum setengah jalan menuju angka 9 ketika dia datang. Pemuda itu adalah pemustaka pertama pagi ini, Selasa, 21 Oktober 2025. Setelah memberi salam, ia mengutarakan maksud kedatangannya: ingin mengembalikan buku, lalu meminjam buku lainnya.

“Apa maksudnya ‘darah lebih kental daripada air?’,” ia bertanya setelah meletakkan buku berjudul The Orange Girl garapan Jostein Gaarder di mejaku.

Dalam kenyataannya, darah memang lebih kental daripada air. Juga kelihatan perbedaannya kalau kita menonton film-film yang ada darah-darahnya. Begitu tanggapanku. Spontan saja.

Setelah diam sejenak dan memberi paraf di buku daftar peminjaman, aku balik bertanya. “Kalau ditilik secara harfiah memang begitu. Namun, mungkin saja penulis memakai kalimat itu sebagai kiasan. Apa konteksnya?” Siapa tahu, dengan mengetahui sedikit penggalan cerita, bicaraku bisa lebih banyak.

Ia lalu bercerita tentang seorang tokoh lelaki berumur tua. Sosok yang baik hati. Seseorang dalam cerita berujar bahwa “darah lebih kental daripada air”, merujuk pada si lelaki tua.

Entah, apa maksudnya, kataku menyerah. Payah.

Buku yang diterbitkan Mizan itu memang belum kubaca meski sudah termiliki sejak pengujung Desember 2018. Buku yang telah lama tidur nyenyak berselimut debu.

Buku yang sempat kuabaikan. Pernah mendekam di sebuah kamar asrama di Solo. Lalu di sebuah rumah dekat alun-alun Sukoharjo selama 3 bulan. Berlayar lewati ikan-ikan dan batu karang ke pelabuhan di Makassar. Berlanjut menghuni rumah tak jauh dari kantor Bupati Mamuju, hingga mendekam di salah satu rumah dengan cicilan 20 tahun di atas gunung. Perjalanan panjang sebelum bertemu pembacanya, seorang murid di sekolah tempatku mengajar.

Seandainya buku itu tidak menghuni lemari (bukan rak) buku di perpustakaan sekolah, maka ia akan tersia-siakan.

Tapi, tidak. Syukurlah.

Setelah percakapan singkat itu, dia lekas mencari buku lain. Tak lama, seperti dugaanku, dia datang dengan menenteng buku karangan Jostein Gaarder yang lain. Judulnya The Puppeteer. “Buku yang bagus,” kataku dengan yakin. Selain buku itu, belum ada karangan lain dari penulis bestseller Dunia Sophie  itu yang pernah kubaca.

Aku semakin tidak yakin manakah yang lebih benar: pembaca yang menemukan buku atau buku yang menemukan pembacanya. Yang aku tahu, si pemuda dan si gadis jeruk akhirnya bertemu di perpustakaan sekolah.

___________________

Ferdi. Pemuja buku, tinggal di Mamuju