
Yang membahagiakan bapak dan ibu adalah mengetahui anaknya yang masih di TK atau kelas 1 SD sudah bisa membaca. Kebahagiaan yang biasanya diwujudkan dengan ucapan: “Oh, anak yang pintar!” Anak itu mendapat pujian-pujian. Bapak dan ibu pun menantangnya untuk membaca tulisan di buku, koran, poster, bungkus makanan, dan lain-lain.
Anak yang sudah bisa membaca diharapkan kelak pintar. Bapak dan ibu pun mengumumkannya kepada keluarga besar, tetangga, dan teman-teman. Nasib yang berbeda dialami anak-anak yang sudah kelas 3, 4, 5, atau 6 SD tapi belum bisa atau belum lancAr membaca. Anak akan mudah mendapat ejekan dan kutukan. Yang tidak bisa membaca seperti mendapat cicilan siksa neraka.
Di Indonesia, masalah anak bisa membaca pernah menyulut polemik. Sumbernya adalah kementerian yang mengurus pendidikan. Konon, beberapa tahun yang lalu, anak-anak di TK dan kelas-kelas awal SD belum ada kewajiban bisa membaca. Guru tidak harus memaksa untuk mengajar membaca kepada anak-anak yang masih suka bermain dan bernyanyi. Namun, masa lalu pun menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak untuk membaca di kelas 1, 2, 3 SD sangat menentukan mutu pendidikan di Indonesia.

Yang sedang kita masalahkan adalah anak-anak yang membaca dalam bahasa Indonesia. Mereka yang belajar di sekolah memang dianjurkan untuk lekas mengerti bahasa Indonesia. Yang belajar bahasa Indonesia, yang cinta tanah air dan memiliki patriotisme. Mereka belajar membaca dalam Bahasa Indonesia tapi kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah.
Pada masa kolonial, anak-anak yang berhasil belajar di sekolah sangat diharapkan dapat membaca dalam bahasa Belanda dan Melayu. Dua bahasa yang akan membuatnya pintar dan mengubah nasib. Orang yang bisa membaca mudah mendapat pekerjaan. Pada awal abad XX, kemampuan dan kekuatan membaca ikut menentukan status sosial dan gaya hidup. Jumlahnya sedikit tapi menandakan bumiputra mendapat berkah modernitas.
Maka, para penggerak Indonesia yang berpengaruh adalah kaum yang membaca sekaligus menulis. Mereka mula-mula belajar membaca dalam kepentingan pendidikan. Ada yang kebablasan menggunakan kekuatan membaca dan menulis untuk melawan kolonialisme, berdakwah agama, atau merayakan imajinasi dengan novel. Dulu, ada sejenis konklusi: yang membaca, yang membentuk Indonesia. Padahal, ada kaum-kaum lain yang turut menentukan Indonesia meski tidak melek aksara.
Yang dipelajari pada masa lalu tidak hanya bahasa Belanda dan Melayu. Di Jawa, murid-murid diajar agar bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa. Artinya, mereka diajar dengan dua aksara: Latin dan Jawa. Jadi, yang berusaha bisa membaca dalam bahasa Jawa mengharuskan keseriusan dan kekuatan ganda. Pada awal abad XX, bahasa Jawa itu penting bagi pemerintah kolonial dan dakwah.

Di Solo, pertengahan abad XIX, berdiri lembaga yang melakukan studi Jawa. Misi besar yang dilakukan adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jawa. Kerja besar yang menguat sampai awal abad XX. Di kalangan sastra, bahasa Jawa menunjukkan estetika dan pesona Jawa. Para pujanga menghasilkan kitab-kitab yang dijadikan sumber ajaran hidup. Pokoknya, bahasa Jawa itu penting dan berkhasiat, disokong pula oleh penerbitan surat kabar yang berbahasa Jawa.
Pada masa revolusi, bahasa Jawa tetap penting, sebelum mengalami pengabaian dan kebangkrutan akibat politik-bahasa nasional dan perubahan zaman. Bahasa Jawa terbukti menggerakkan dan membesarkan revolusi. Namun, perannya makin mengecil saat bahasa Indonesia adalah keutamaan dalam memajukan Indonesia.
Kita ingin mengenang anak-anak masa lalu belajar bahasa Jawa. Yang kita buka adalah buku berjudul Gelis Pinter Matja jiid II, yang disusun A Van Diijck dan R Wignjadisastra. Buku diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Batavia, 1948. Yang paling menarik adalah gambar di sampul. Lihatlah, tiga bocah dalam penampilan yang berbeda! Ada yang mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memilih pakaian dan peci mengesankan Islam. Ada pula anak yang mengenakan pakaian sederhana tanpa tutup kepala. Kita membayangkan tiga anak itu mewakili kaum-kaum yang berbeda tapi memiliki gairah dapat membaca dalam bahasa Jawa.
Yang dipelajari mereka adalah bahasa Jawa dalam aksara Latin. Buku untuk kelas-kelas awal di sekolah dasar. Belajar membaca tidak hanya dengan kata-kata. Penyusun buku memerlukan gambar-gambar yang menggenapi kata. Maksudnya, anak-anak agar senang dan terbantu oleh gambar, yang berpengaruh dalam kelancaran membaca kata.

Di halaman 19, ada gambar tiga anak yang bermain. Kata-kata yang dicetak untuk dieja oleh murid-murid: soer-ti ma-oe pa-sar-an/ do-dol-an-e o-ra te-me-nan/ do-dol-a-ne war-na war-na. Bermain pasaran biasa dilakukan anak-anak perempuan. Maka, yang belajar membaca bakal mudah jika sudah punya kebiasaan bermain pasaran bareng teman-teman.
Pelajaran membaca itu menyegarkan saat sampai halaman 23. Gambar orang yang berjualan es pakai pikulan. Kata-kata yang dicetak untuk dibaca: soe-ra ma-oe i-der re-ne/ do-dol-a-ne es/ a-koe ma-oe toe-koe sa-ge-las/ i-se-ne ta-pe ke-tan/ ra-sa-ne wis ta se-ger toer le-gi. Yang membaca itu membayangkan jam istirahat atau pulang untuk segera jajan es. Di situ, kita tidak menemukan kata-kata yang menyatakan minum es mengakibatkan anak akan batuk dan pilek.
Yang terakhir, kita menyimak bacaan di halaman 38. Gambar seorang bocah yang menggendong boneka. Ia sedang bermain dengan peran menjadi ibu. Kata-kata yang dibaca oleh murid: soer-ti di-toe-kok-a-ke go-lek-an/ go-lek-an-e a-pik/ ma-oe go-lek-an-e di-em-ban/ go-lek-an-e di-oe-rak-oe-rak-a-ke/ la-goe-ne a-na i-ni. Bermain yang menyenangkan: menggendong boneka sambil bersenandung.
Buku kita tutup meski masa lalu masih teringat. Kita justru susah berpikir mengenai nasib bahasa Jawa abad XXI. Kita tidak boleh mudah menyalahkan anak-anak yang tidak mahir membaca dalam bahasa Jawa saat dunia makin dikuasai bahasa Inggris. Anak-anak tampaknya dianjurkan rajin belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab ketimbang bahasa Jawa dengan pertimbangan identitas, iman, nasib, dan lain-lain.
___________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
