Buku, Resensi

Mengenang Saat Bocah

Oleh M. Ghaniey Al Rasyid

Kata Freud kepribadian seseorang itu dimulai sedari bocah. Meski demikian teori psikonalisa sampai Phalus Envy nya Freud tetap mengundang kritik. The Childhood is the Father of Man, kurang lebih demikian.

Masa kanak-kanak menyiratkan sebuah kisah nan mendalam. Keberadaannya seperti rekaman yang menembus waktu. Beberapa aktivitasnya acap kali teringat mewarnai insan yang sadar. Kita ada dari puing-puing silam yang berlalu. Hari ini dan esok, konon kitalah yang menentukannya.

Kita bertemu dengan kisah silam. Para esais itu merangkai kata, membeberkan pengalaman yang silam, bocah yang meninggalkan masa kanak-kanaknya itu, berujar jujur.

Buku itu aku temukan di toko buku Gladag. Sore nan basah itu, aku menyelinap mengais tumpukan buku yang dimakan jamur. Ganang pemilik toko, setengah sadar tertidur, sambil memutar tape. Lagu gubahan K3S membikinnya mengantuk sambil menekuk tengannya menjadi bantal.

Aku mengangkat buku-buku yang bertumpuk. Tumpukan buku paling bawah seakan berbisik untuk merogohnya. Debu-debu beterbaran, membikinku bersin. Aroma jamur bercampur aroma tetikus dan kecoak yang menguar, memaksaku untuk tersendat-sendat bernafas.

Sebuah buku berjudul ‘Mengenang…’ membikinku terperanjat. Buku itu terbit tahun 2012, oleh penerbit Jagat Abjad. Tersirat di pojok kanan kaver buku bertulis -Bandung Mawardi, sebagai editor.

Buku itu aku selamatkan. Ia nampak mengenaskan. Kavernya hampir lepas, namun sesampainya di tempat mengetik, aku rekatkan kembali dengan lem. Aku mengira buku itu tidak asli atau imitasi. Penerbit memilih kertas buram, seperti kertas koran. Beberapa bagian sisinya lecek seperti terendam oleh air.

Syahdan, aku menghiraukan itu. Aku fokus dalam isinya. Dua puluh empat penulis, membicarakan tentang masa kanak-kanak. Mereka begitu keranjingan. Seluruh ingatannya tentang masa ketika bocah, tepatnya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ditulis dengan rapi.

Para esai itu mengajakku untuk hadir dan menyigi sudut pandang satu ke lainnya. Esai Afrizal Malna terselip di situ. Adalah Rumah Kata dan Menggigit Sapu Tangan. Ia jujur, menulis kisah dirinya sewaktu bocah.

Mulanya adalah Ibu. Ia mengajarkannya untuk berkenalan dengan kata. “Kamu cukup memegang 26 huruf untuk hidupmu,” kata Ibunya. “Bersama bilangan 0 dengan 9 bilangan lainnya,” tambahnya.

Berkenalan dengan kata, membikinnya bersemangat. Setiap merapal kata yang berjejer dengan huruf-huruf lainnya, ia berteriak. Suaranya membikin telujuk ibunya mendarat persis di mulutnya, “jangan berteriak begitu.” Dia malu tetanggannya terusik oleh rasa keranjingan saat berkenalan dengan kata-kata.

Kata-kata itu kemudian terbesit dalam ingatannya. Segalanya yang nampak di mata, akan tersirat dalam rangkaian huruf membentuk sebuah kata, kalimat sampai rentetan paragraf.

Perjumpaannya dengan kata, membikinnya berkembang. Meski demikian, ia mengaku, perjumpaannya dengan bilangan tak seakrab dengan huruf. Ia pergi ke sekolah, dan pulang karena mencret, lantaran bertemu dengan bilangan dan hitung.

Hal senada namun tak serupa, ditulis oleh Rahmah Purwahida. Adalah Kepada Anak-Anak yang Sekarang Telah Dewasa. Kali ini beda dengan Afrizal Malna yang mencret saat bertemu Matematika, sedangkan Rahmah Purwahida sebaliknya. Ia sangat menyukai Matematika.

Perkenalan dengan Sekolah Dasar, lengkap dan bersahabat dengan Matematika. Beberapa kali ia mendapatkan nilai ujian yang unggul di Matematika. Ia begitu mencintai matematika, sampai-sampai lewat matematikan ia berjumpa dengan puisi-puisi.

Perkenalan dengan kata dan puisi tak lahir begitu saja. Ada sebuah perkenalan yang mengantarkannya. Perkenalan itu lewat Matematika. Perjumpaannya tak seperti Wittgenstein. Saat ujian berlangsung, ia berhasil menyelesaikan soal matematika. Teman-temannya masih bergelut dengan angka. Rahmah berhasil keluar ruangan lebih dahulu. Angka-angka itu terlalu gampang baginya.

Walakin, nasib berkata lain. Ia teledor untuk mengerjakan soal esai matematika. Ia berhasil menyelesaikan soal pilihan ganda. Soal esai tak terselip, naas hasil akhir membikinnya murung. Ia mendapatkan nilai 48. Nilai yang mampus bagi seseorang yang mencintai Matematika.

Rahmah merasakan derita. Nilai Matematikanya remuk. Ia mengurung diri di kamar, sampai-sampai kedua orang tuanya gelisah. Bahagia berganti murung, kengerian nampak seperti kisah dalam guratan Edgar Allan Poe. Ia tercabik-cabik. Mukanya jadi pucat pasi, serasa tak berarti untuk digeluti.

Kedua orang tua dan guru tak ingin Rahmah hanyut dalam derita. Sebuah kalimat meluncur, membikin Rahmah untuk menginjak segalanya yang telah terjadi. Ia ingin menghempaskan kengerian itu –nilai matematikanya remuk. Batinnya seperti bergeming, oleh kata-kata indah yang menggulung kengerian. Ia kemudian bertemu dengan chairil anwar. Sebuah sajak berjudul ‘Aku’.

Rahmah membacanya penuh semangat. Kata dan nada yang keluar dari sela-sela giginya, menggetarkan penikmatnya. Kengerian yang menggumpal ia hempaskan dengan membaca sajak-sajak. Sajak itu menggema, membikin pendengarnya bergidik.

Kepiawannya saat bertemu dan membaca sajak, mendapatk perhatian. Saat-saat penting misalnya dalam acara di kelurahan, sekolah, kecamatan, kantor gubernur Bandar Lampug, mengundang Rahmah untuk membaca sajak. Rahmah menemukan teman baru, yaitu kesusastraan.

Saat akan lulus dari SMA, ia tetap mencintai Matematika. Namun, ada satu hal yang membikin bulu kuduknya bergidik. Adalah kejelitaan. Ia tak ingin rambutnya botak seperti Einstein. Ia tak ingin ruwet. Rambutnya ingin tetap lebat, tebal dan harum. Kemudian, aku mengingat Naomi Wolf menyoal kecantikan. Ia kemudian memilih Bahasa Indonesia, ya memilih untuk menjadi guru Bahasa Indonesia.

Kisah-kisah itu tersirat dengan teliti dan jujur. Para esais itu berkisah yang silam meskipun berlalu, tetap hadir dalam hidupnya. Ia bersama dalam elan vital yang menancap dalam kalbunya. Mengais untuk renungan sepi di malam sunyi. Waktu yang berlalu tak akan pernah kembali.

____________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra yang Tinggal di Kota Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *