Belakang

TERPUJILAH AMERIKA SERIKAT

Mochtar Lubis, nama yang selalu teringat dengan novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung dan Senja di Jakarta. Ia menulis beberapa novel, yang mendapat pujian dan kritik, sejak masa 1950-an. Dulu, novel-novel itu tersaji oleh beberapa penerbit. Pada suatu masa, ada terbitan yang istimewa oleh Pustaka Jaya. Para kolektor mengingat novel-novel Mochtar Lubis dalam cetakan bersampul keras dan tebal. Konon, edisi itu sengaja untuk koleksi.

Novel-novelnya cetak ulang. Pemicunya mungkin kebijakan menjadi koleksi di ribuan perpustakaan. Ada pula yang menganggap memang novel-novelnya pantas cetak ulang, mendapat ribuan pembaca. Mochtar Lubis, nama yang diakrabi oleh murid dan mahasiswa dalam pengajaran sastra.

Namanya makin menguat saat mendirikan YOI. Orang-orang mengenalinya Yayasan Obor Indonesia. Banyak buku yang diterbitkan oleh YOI. Buku-buku bertema lingkungan hidup, birokrasi, ekonomi, demokrasi, sastra, dan lain-lain. Bagi yang masih ingin membaca dan mengoleksi buku-buku Mochtar Lubis bisa membeli edisi YOI, yang mudah diperoleh ketimbang edisi Pustaka Jaya atau penerbit-penerbit masa 1950-an.

Mochtar Lubis itu nama yang disebut dalam perdebatan sengit setelah pidato dan terbitnya buku berjudul Manusia Indonesia. Buku yang akhirnya berpengaruh di Indonesia. Pada masa sekarang, buku itu tetap menantang bila dibaca sambil menandai perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Mochtar Lubis telanjur dianggap jurnalis dan pengarang tangguh. Manusia Indonesia menjadi buktinya. Masa lalunya memang ganas dengan kerja di jurnalistik. Ia menggerakkan Indonesia Raya yang dihabisi penguasa. Pada situasi rumit, ia dan teman-teman mendirikan majalah Horison.

Para pembaca novel-novel Mochtar Lubis memberi pujian, tak lupa menyodorkan kritik-kritik. Yang mengamati sikap dan pemikiran Mochtar Lubis mulai menguak hal-hal yang mudah menjadi polemik. Pengamat menemukan kaitan Mochtar Lubis dengan Amerika Serikat dalam urusan politik-kebudayaan. Kita diajak memikirkan masalah otoritas, dana, misi, dan lain-lain.

Ia memang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat. Dulu, ia tidak melulu pengarang. Mochtar Lubis pun menjadi penerjemah. Teks-teks sastra dari Amerika Serikat pernah diterjemahkan oleh Mochtar Lubis, terbit sebagai buku-buku kecil dan tipis pada masa 1950-an.

Bukti kemesraan yang dapat dibaca adalah buku berjudul Perlawatan ke Amerika Serikat. Buku diterbitkan oleh Gapura, Jakarta, 1952. Siapa masih mengoleksi dan mau membahas untuk mengenang Mochtar Lubis? Selalu saja yang terbaca adalah novel-novel dan Manusia Indonesia. Buku lawas itu sebenarnya mengajak kita melek pesona atau kuasa Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Mochtar Lubis menerangkan: “Nama Amerika menimbulkan bermatjam-matjam bajangan dan gambaran. Bagi mereka yang anti Amerika, maka dibajangkan Amerika sebagai negeri berkuasa besar, hendak mendjadjah dan berkuasa didunia dan orang Amerika semata-mata materialistis, pikirnja tjuma bagaimana harus mentjari uang sebanjak-banjaknja. Bagi setengah orang lain, Amerika adalah sebagai dunia mimpi. Semuanja indah, bagus dan bertjahaja.”

Pada suatu hari, Mochtar Lubis berhasil tiba di New York. Manusia asal Indonesia yang mendatangi negara besar dengan kota-kota yang menawan. Yang ditulis Mochtar Lubis: “Inilah New York di Amerika Serikat. Negeri jang kita amat tjurigai di Indonesia dan ditjurigai oleh banjak bangsa-bangsa Asia jang lain. Negeri jang dituduh membantu neo-imperialisme.” Amerika Serikat memang tema yang terlalu besar bagi dunia pada masa 1950-an. Yang mau mengetahui sikap Indonesia terhadap Amerika Serikat bisa membaca tulisan dan menyimak pidato Soekarno. Yang pasti pendapat Mochtar Lubis dan Soekarno tentang Amerika Serikat (sangat) berbeda.

Selama berada di Amerika Serikat, Mochtar Lubis menemukan bukti-bukti sekaligus membuat renungan. Ia biasa meragu tapi berani membuat kepastian asal ada bukti. Yang terpenting lagi adalah argumentasi. Campuran jurnalis dan pengarang menghasilkan renungan: “Melihat kota jang terhampar dengan kilau-kilau lampunja jang redup-redup ditutup embun, maka timbul dalam hati saja pertanjaan. Saja telah djalani lebih dari separoh negeri besar ini. Telah bertemu dengan segala matjam orang, dari kalangan pers, dagang, industri, buruh, dan berbagai-bagai orang lain. Kenalkah saja sudah pada negeri dan bangsa ini? Apakah bangsa ini imperialistis sebagai dituduh oleh Sebagian bangs akita di Indonesia? Ataukah ia sungguh-sungguh demokratis dan tidak ada berkepentingan sesuatu apa diluar negerinja ketjuali untuk memelihara perdamaian dan kemerdekaan sebagai jang disebut orang-orang Amerika?”

Pada saat merenung, Mochtar Lubis bukan penguasa atau pejabat di Indonesia. Ia memiliki bukti dan arah pemikiran yang berbeda dengan elite di Indonesia yang kepikiran beragam hal besar. Mochtar Lubis mulai bingung mengamati hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.

Selama tiga bulan, Mochtar Lubis berada di Amerika Serikat. Ia mengunjungi beberapa kota dan menghadiri acara-acara penting. Kita menyimak pendapatnya tentang manusia Amerika, sebelum ia bikin geger dengan buku berjudul Manusia Indonesia.

Yang dijelaskan Mochtar Lubis: “… orang-orang Amerika Serikat umumnja amat peramah, suka menolong dan mempunjai perasaan sportivitiet jang besar. Dan untuk mendapat tingkat penghidupan jang tinggi seperti sekarang ini, maka mereka djuga bekerdja keras.”

Buku kecil itu condong memuat kagum dan pujian. Perlawatan singkat ke Amerika Serikat menghasilkan ribuan kalimat, yang membenarkan hubungan “mesra” antara Mochtar Lubis dan Amerika Serikat. Konon, para pengamat yang menguak jalinan akrab itu berlanjut dalam babak malapetaka 1965. Mochtar Lubis tampil dengan pendapat-pendapat sesuai dengan kepentingan-kepentingan besar Amerika Serikat di Indonesia.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *