Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 2)

Anton Chekhov

Ketika lagu berhenti, Lyubka terhuyung dan jatuh ke dada Merik. Lelaki itu memeluknya erat, menatap matanya, dan berkata lembut—dengan nada main-main tapi mengandung sesuatu yang gelap: “Nanti aku akan tahu di mana ibumu menyembunyikan uang. Aku akan bunuh dia, bunuh kau, lalu kubakar penginapan ini. Orang-orang akan bilang kalian terbakar. Dengan uang itu aku akan ke Kuban, punya kuda dan domba, hidup bebas.”

Lyubka hanya memandangnya, setengah takut, setengah rindu.

“Apakah di Kuban indah, Merik?” katanya pelan.

Merik diam. Ia duduk di peti, menatap kosong, seolah sedang melihat padang rumput di jauh sana.

Kalashnikov berdiri, mengenakan mantel. “Aku harus pergi. Filya menunggu. Selamat malam, Lyuba.”

Yergunov ikut keluar untuk memastikan kudanya tak dibawa. Salju masih turun, tapi lebih lembut. Angin meniup reranting, membuatnya berderit seperti doa patah. Di balik pagar, dunia tampak penuh bayangan putih menari, seperti roh-roh yang kehilangan tubuh.

Kuda Kalashnikov lenyap di tengah kabut, dan Yergunov kembali ke dalam. Lyubka sedang merunduk di lantai, memunguti manik-manik yang berserakan. Merik sudah tak ada.

Yergunov berbaring di bangku, menatap tubuh Lyubka yang bergerak pelan di lantai.

“Andai Merik tak ada…” pikirnya. “Malam ini pasti berbeda.”

Lyubka berdiri, membawa manik-manik itu ke kamarnya. Lilin padam. Hanya lampu ikon yang masih berkelip, seperti mata malaikat yang menonton dosa manusia.

Yergunov memejamkan mata, tapi pikirannya tak tidur. Ia melihat Lyubka menari lagi—kali ini di dalam kepalanya sendiri.

“Oh, kalau setan mau menjemput Merik malam ini,” gumamnya, “aku akan berterima kasih.”

Malam menua perlahan, seperti arak yang kehilangan hangatnya. Yergunov tak tahu berapa lama ia tertidur di bangku. Kadang ia merasa masih mendengar derak api di tungku; kadang ia merasa dirinya sudah mati dan tubuhnya membeku di bawah salju.
Tiba-tiba pintu berderit. Seseorang masuk. Suara langkah berat. Asap tembakau memenuhi ruangan.

Dalam kegelapan, percikan kecil menyalakan pipanya—dan sejenak wajah Merik muncul: separuh terang, separuh hitam, noda gelap di pipinya seperti tanda kutuk.

Bau tembakau membuat tenggorokan Yergunov gatal.

“Tembakau busuk apa itu?” gumamnya, setengah marah. “Kau mau membuatku mati mual?”

“Campur bunga gandum,” jawab Merik tenang. “Baik untuk dada.”

Ia mengisap, meludah, lalu pergi lagi. Sunyi. Beberapa saat kemudian, cahaya lilin kembali menari di lorong. Merik muncul dengan mantel dan topi. Di belakangnya, Lyubka membawa lilin, wajahnya separuh tertelan gelap.

“Tinggallah malam ini, Merik,” katanya, suaranya lirih, seperti permintaan anak kecil yang tahu akan ditolak.

“Tidak, Lyuba. Aku ingin sedikit hiburan.”

“Kau tak punya kuda. Bagaimana kau akan pergi?”

Merik membungkuk, membisikkan sesuatu di telinganya. Lyubka tertawa di antara air mata.

“Dia sedang tidur, si bajingan sombong itu,” katanya pelan. “Pergilah cepat.”

Mereka berpelukan, mencium dengan tergesa—seolah tahu ciuman itu yang terakhir. Lalu Merik menghilang di pintu.

Yergunov mendadak sadar. Ia mendengar sesuatu di luar, derap langkah di salju. Jantungnya memukul rusuknya sendiri. Ia meraih pistol, bangkit, dan berlari ke lorong.

Lyubka berdiri di sana, membelakangi pintu, tubuhnya seperti bayangan api.
“Menjauh!” teriak Yergunov. “Aku mau melihat kudaku!”

Lyubka menatapnya dengan mata setengah redup, separuh nakal.
“Untuk apa melihat kuda, Tuan?” bisiknya. “Lihatlah aku saja.”

Ia menyentuh rantai di dada Yergunov, jemarinya dingin tapi gemetar seperti burung. “Kuncinya bagus,” katanya. “Beri aku.”

“Berikan jalan!” teriak Yergunov. “Dia akan pergi dengan kudaku, kau dengar?!”

Ia mendorongnya. Tapi Lyubka tetap di tempat, tangannya menahan palang pintu seperti besi hidup.

“Tidak akan,” katanya, napasnya berembus di wajahnya. “Merik tak akan mencurinya.”

“Lepas! Kau perempuan gila!”

Ia mendorong lebih keras. Bahunya menghantam bahu Lyubka. Tubuh mereka beradu, napas bertemu. Dan tiba-tiba, dari amarah tumbuh sesuatu lain: keinginan yang lebih panas daripada vodka.

Ia memeluknya. “Cukup, biarkan aku pergi,” katanya lagi, tapi suaranya sendiri terdengar seperti rayuan.

Lyubka tak menolak. Matanya berubah. Suaranya menurun menjadi desah.
“Tadi kau dengar aku bilang aku cinta Merik,” bisiknya. “Tapi hatiku tahu siapa yang benar-benar kucintai.”

Ia menyentuh kunci di rantai leher Yergunov sekali lagi. “Berikan ini padaku,” katanya pelan.

Yergunov menuruti tanpa sadar. Saat itu, wajah Lyubka tiba-tiba berubah: tatapannya jadi dingin, mata penuh perhitungan. Ia menegakkan tubuh, menajamkan telinga—seolah mendengar sesuatu di luar.

Dan sebelum Yergunov sempat berpikir, ia sudah mendorong perempuan itu ke samping, menyingkap pintu, dan berlari keluar.

Udara menggigit seperti pisau. Ia menyalakan korek, menyorot kandang. Tak ada kuda. Hanya seekor babi yang meringkuk di pojok, mendengus malas. Seekor sapi memukul kandang dengan tanduk. Dan anjing-anjing yang tadi menggonggong kini berlari mengelilinginya, menggigit udara, mengolok-oloknya.

Ia menembakkan pistol ke arah mereka. Sekali. Dua kali. Pelurunya meleset semua.
Lalu berlari ke pagar, menatap kegelapan. Tak ada apa pun selain salju yang berputar, membentuk wajah-wajah aneh—kadang wajah Lyubka, kadang Merik, kadang mayat kuda yang berlari tanpa kepala.

Ia menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam angin.

Ketika kembali ke rumah, ia mendengar langkah tergesa dari dalam—seseorang menutup pintu kamar. Ia menendang. Terkunci. Ia menyalakan korek, menyusuri ruangan, dari dapur ke kamar kecil, hingga akhirnya menemukan Lyubka.

Perempuan itu berbaring di atas peti, tubuhnya diselimuti kain tambal warna-warni, seolah sedang tidur. Yergunov menatapnya dengan marah.

“Di mana kudaku?” katanya pelan, tapi suaranya menggigil.

Lyubka tak menjawab.

“Jangan berpura-pura tidur, pelacur kecil,” katanya. “Di mana kudaku?”

Ia menarik selimut itu. Lyubka bangun, menegakkan tubuh, memegangi pakaian yang robek di leher. Matanya menyala marah dan takut bersamaan.

“Pergi, binatang kotor!” bentaknya.

Yergunov menyeretnya dengan kasar. Kain di pundaknya robek. Ia ingin menakut-nakuti, tapi darahnya sudah terlalu panas untuk berhenti. Ia memeluknya—keras, buta. Tapi Lyubka, dengan tenaga yang lahir dari jijik dan amarah, menghantam kepalanya dengan kepalan tangan. Sekali. Lalu sekali lagi.

Dunia berputar. Kepalanya berdenging. Ia tersandar ke dinding, meraba darah di pelipisnya. Tak bisa berpikir, ia tersandung ke ruang depan, mengambil korek, menyalakan api satu per satu tanpa tujuan—seolah setiap nyala kecil bisa menenangkan malu dan rasa kalah.

Korek terakhir padam. Langit di luar mulai biru. Ayam berkokok. Yergunov mengenakan mantel, tapi pelana dan barang belanjaannya sudah tak ada. Tasnya kosong. Semua lenyap—mungkin bersama Merik.

Ia mengambil batang besi dari dapur untuk menakut-nakuti anjing, lalu keluar.
Salju sudah berhenti. Dunia tampak mati—putih dan sunyi, seperti surat kabar yang kehilangan berita. Di kejauhan, deretan hutan muda tampak biru.

Yergunov berjalan tanpa arah. Ia berpikir tentang apa yang akan dikatakan dokter kepadanya nanti: kehilangan kuda pinjaman, barang, dan harga diri sekaligus. Tapi semakin ia mencoba memikirkan alasan, semakin buyar semua. Yang tertinggal hanya wajah Lyubka, gerak rambutnya, bau kubis di kamarnya, dan suara tinjunya di pelipisnya.

Ia berhenti di bawah pohon birch, menancapkan batang besi ke salju, dan bersandar.

“Kenapa manusia harus seperti ini?” gumamnya. “Kenapa harus ada dokter, bawahan, pegawai, dan rakyat? Kenapa tidak cukup jadi manusia saja, seperti burung atau kuda? Mengapa kebebasan harus tampak seperti dosa?”

Ia menatap langit yang dingin dan tak menjawab.

“Kalau hidup cuma untuk bangun, makan, bekerja, tidur, lalu mati,” katanya pelan, “maka Merik benar. Yang berdosa justru mereka yang tak pernah hidup.”

Ia tertawa. Suaranya tenggelam di salju, dan tak ada yang tahu apakah itu tawa manusia, atau suara setan yang akhirnya merasa kasihan.

Musim-musim berputar seperti kuda tua di kandang sirkus: berjalan, berhenti, berjalan lagi. Setahun lebih telah lewat sejak malam itu. Yergunov tak lagi bekerja di rumah sakit. Ia dipecat—bukan karena kuda yang hilang, tapi karena nasib yang sudah bosan menunggu. Kini ia hidup di pinggiran, menggantungkan diri pada keajaiban yang tak datang-datang: menjadi buruh musiman, penagih obat keliling, peminum tetap di kedai Ryepino.

Malam itu, selepas Paskah, ia keluar dari kedai dengan langkah goyah. Angin musim semi meniup bau tanah basah dan bunga liar. Bintang-bintang menetes di langit seperti mata yang belum sempat menangis. Udara hangat—hangat yang menusuk, karena mengingatkannya pada malam dingin itu, pada Lyubka, pada kuda yang lenyap di salju.

Ia berjalan tanpa arah. Di hadapannya terbentang padang luas, terbuka seperti dada dunia. Angin berdesir, menyentuh rumput, dan entah kenapa Yergunov merasa seolah bumi baru saja disucikan.

Ia menatap langit, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langit terasa tak berujung.

“Betapa besar dunia ini,” katanya dalam hati. “Tapi mengapa manusia mengisinya dengan aturan kecil?”

Ia teringat pada semua pembeda yang diciptakan manusia: antara yang mabuk dan yang sadar, yang berpangkat dan yang dipecat, yang kenyang dan yang lapar. Mengapa mereka yang berperut penuh tidur nyenyak di rumah, sementara yang kelaparan harus berjalan tanpa arah di malam begini? Ia menatap seekor burung melintas di langit.

 “Lihat,” katanya pada dirinya sendiri, “burung itu tak punya pekerjaan, tak punya gaji, tapi hidupnya penuh.”

Ia terus berjalan. Jauh di ufuk timur, ada cahaya merah bergetar, membentang seperti luka besar di langit. Api. Yergunov berhenti, mengernyit, lalu tertawa kecil—tawa yang dingin, seperti logam digesek batu.

Dua kereta melintas di jalan. Dalam salah satunya, seorang perempuan tertidur. Di kereta satunya, lelaki tua tanpa topi duduk, menatap api dari jauh.

“Pak tua,” sapa Yergunov, “api apa itu?”

“Penginapan Andrey Tchirikov,” jawab si tua. “Terbakar habis.”

Yergunov membeku. Nama itu mengguncangnya seperti gong di dada.
Ia menatap cahaya merah di langit. Di baliknya, ia bisa membayangkan rumah beratap jerami, dindingnya yang dulu hangat oleh lilin dan dosa, kini ambruk dalam kobaran api.
Ia membayangkan suara Lyubka—tawa kecilnya, tangannya yang dingin menyentuh rantai di dadanya.

Mungkin perempuan itu kini terbakar bersama ibunya. Mungkin Merik menepati janjinya: membunuh mereka, mencuri uang, lalu pergi ke Kuban, menunggang kuda bebas di padang rumput, tertawa seperti orang gila yang akhirnya dimenangkan takdir.

Yergunov menatap api itu lama sekali. Tak ada rasa sedih di wajahnya, hanya semacam iri yang aneh—iri kepada keberanian yang tak pernah ia miliki.
Ia berbalik, berjalan kembali ke arah kedai, tapi pikirannya tetap di langit timur, di warna merah yang menodai malam.

Di sepanjang jalan, rumah-rumah orang kaya berdiri sepi: pedagang besar, pandai besi, pemilik ternak. Setiap rumah punya pintu besi dan jendela tebal, seolah seluruh dunia harus dijaga dari keinginan. Dan di setiap langkah, Yergunov merasakan sesuatu tumbuh di dadanya—rasa yang belum pernah ia kenal: dorongan untuk mengambil, untuk mencuri, untuk merebut sedikit kebebasan yang selama ini hanya ditonton.

“Bagaimana rasanya,” pikirnya, “masuk ke rumah orang kaya itu, membungkam malam dengan napas sendiri, dan pergi membawa sesuatu—apa pun—yang bukan milikku?”

Ia menatap langit. Api di ufuk perlahan padam, tapi nyalanya berpindah ke dadanya sendiri.

Yergunov tahu ia bukan pahlawan, bukan penjahat. Ia hanya manusia yang terlambat mengerti bahwa kebebasan bukan soal hukum, tapi keberanian untuk melawan nasib.
Di dunia di mana para dokter menulis resep, para pelayan tunduk, dan para pencuri berkuda ke langit, siapa yang bisa mengklaim dirinya benar?

Ia berhenti di pinggir jalan, menatap gelap, lalu tersenyum samar.

“Mungkin,” katanya pada dirinya sendiri, “yang berdosa bukan mereka yang mencuri. Tapi mereka yang menolak kesempatan untuk hidup.”

Malam hening. Seekor burung melintas di atas kepala, sayapnya bergetar seperti helaian kertas terbakar.  Dan entah dari mana, suara tawa Lyubka terdengar di telinganya—pelan, menggoda, seperti dari dunia lain.

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.

Terjemahan

Si Pencuri Kuda (Bagian 1)

Anton Chekhov

Salju turun seperti kutukan yang lupa berhenti. Langit mengembuskan napas panjang, dan dunia pun membeku di bawahnya. Seorang lelaki—Yergunov, asisten rumah sakit, pemabuk dan pembual yang disegani hanya oleh kesepiannya sendiri—berusaha menembus badai. Dokter meminjamkan padanya kuda terbaik, kuda yang katanya bisa menembus malam tanpa tersesat. Tapi kuda, sebaik apa pun, tetaplah makhluk yang butuh arah. Dan malam itu, jalan lenyap ditelan putih.

Mula-mula hari tenang. Lalu sekitar pukul delapan, angin datang seperti roh jahat yang menyalak dari segala arah. Salju memutar, menggigit kulit. Yergunov tak tahu ke mana harus pergi—tak tahu cara mengemudi, tak tahu jalan pulang. Ia hanya berharap kuda tahu arah sendiri, seperti manusia berharap hidup bisa berjalan tanpa keputusan. Dua jam berlalu. Kuda kelelahan. Napasnya mengembun seperti jiwa yang putus asa. Sementara Yergunov, beku dari kepala hingga lutut, mulai merasa bahwa ia tak sedang menuju rumah, melainkan kembali ke masa lalunya sendiri.

Tiba-tiba, di sela jeritan badai, terdengar suara anjing. Samar, jauh, seolah datang dari dunia yang lain. Lalu tampak cahaya merah di tengah kabut—sebuah noda hangat di dada malam. Sedikit demi sedikit, bayangan pagar tinggi tampak, di atasnya deretan paku runcing berkilau seperti gigi iblis. Di balik pagar, tampak sumur tua dengan kerekan yang miring. Dan di balik itu, muncul rumah beratap jerami, kecil, miring, dengan tiga jendela. Satu jendela memantulkan cahaya merah dari dalam, seperti mata yang tak mau tidur.

“Tempat macam apa ini?” gumam Yergunov, menggigil.

Ia mengingat: di sisi kanan jalan, kira-kira empat mil dari rumah sakit, ada kedai milik Andrey Tchirikov—lelaki yang mati dibunuh para kusir mabuk. Setelah kematiannya, kedai itu dijaga oleh janda tua dan anak gadisnya, Lyubka. Dulu, dua tahun lalu, gadis itu pernah jadi pasien di rumah sakitnya. Orang-orang bilang kedai itu sarang pencuri dan pembunuh, tapi malam dan salju tidak memberi pilihan lain.

Yergunov mencari pistolnya di tas, menegakkan tubuh, dan mengetuk jendela dengan gagang cambuk. “Hey! Siapa di dalam? Hei, nenek! Bukalah! Aku ingin menghangatkan tubuhku!”

Tiba-tiba, dari bawah kaki kuda, muncul seekor anjing hitam, lalu putih, lalu hitam lagi—belasan ekor, menggonggong gila seperti makhluk neraka yang lapar. Yergunov menebaskan cambuk, memukul satu, dua kali. Seekor anak anjing kurus melolong, nyaring, seperti suara manusia yang diseret ke alam lain.

Ia terus mengetuk jendela. Lama. Lalu akhirnya, salju di dahan pohon di dekat rumah berpendar merah. Dari dalam, muncullah sosok perempuan membawa lentera.

“Biarkan aku masuk, nenek,” kata Yergunov. “Aku tersesat. Tuhan saksi betapa jahat cuaca malam ini. Aku orang baik, jangan takut.”

Suara perempuan itu kaku, dingin: “Semua orang baik sedang di rumah. Tak ada yang memanggil orang asing di sini. Dan pintu pagar itu tak dikunci.”

Yergunov masuk ke halaman. Kuda berhenti di dekat tangga. “Suruh buruhmu urus kudaku, nenek,” katanya.

“Aku bukan nenek,” jawab suara itu, dan lentera menyorot wajah muda: alis hitam, kulit pucat, bibir keras—Lyubka.

“Para buruh mabuk atau sedang ke Ryepino,” katanya sambil berjalan mendahului. “Hari ini libur.”

Yergunov menuntun kudanya ke gudang. Dalam kegelapan, ia mendengar ringkikan kuda lain. Ia meraba pelana: pelana Cossack. Ada orang lain di rumah ini. Ia pun membawa masuk belanjaan dan pelananya sendiri—jaga-jaga.

Ruangan pertama hangat seperti rahim. Lantainya basah—baru dipel. Bau arak dan asap menempel di udara. Di bawah ikon suci, duduk seorang lelaki berwajah keras, berjanggut pirang, mengenakan kemeja biru tua. Ia memandang gambar dalam buku usang dengan mata tajam dan tak percaya. Di dekat tungku, seorang lain terbaring berselimut kulit domba, hanya sepasang sepatu barunya yang tampak, basah oleh salju.

Yergunov mengenali lelaki itu: Kalashnikov, pencuri kuda terkenal dari Bogalyovka, lelaki yang hidup dari dosa seperti petani lain hidup dari tanah. “Heh, cuaca,” sapa Yergunov, menggosok lututnya. “Salju sudah sampai leher. Aku nyaris mati beku, sumpah. Bahkan pistolku ikut membeku.”

Ia mengeluarkan revolver, memeriksanya, lalu mengembalikannya ke tas. Kalashnikov tidak peduli, tetap membaca.

“Kalau bukan karena anjing di sini,” lanjut Yergunov, “mungkin aku sudah jadi mayat es di jalan.”

“Perempuan tua ke Ryepino,” jawab Kalashnikov datar. “Anaknya sedang menyiapkan makan malam.”

Keheningan menebal. Angin menyalak di cerobong. Bau kayu terbakar. Dari luar, lolongan anjing makin panjang, seperti doa yang tak pernah didengar Tuhan.

Yergunov menggigil, pura-pura sibuk meniup tangannya. Ia bertanya pelan, “Kau dari Bogalyovka, kan?”

“Ya.”

Maka dalam diam itu, pikirannya melayang ke desa itu—Bogalyovka yang terletak di lembah gelap, di mana bulan tampak tergantung di ujung dunia. Desa pencuri kuda dan pemetik ceri, tempat perempuan duduk di depan rumah sepanjang siang, mencari kutu di kepala satu sama lain, tertawa tanpa alasan, sementara lelaki mereka berkeliaran seperti bayangan.

Dan kemudian, langkah lembut terdengar. Lyubka masuk dengan kaki telanjang, mengenakan gaun merah. Ia berjalan pelan-pelan, seperti air yang tahu kemana harus jatuh. Kakinya menyentuh lantai dingin yang basah; ia sengaja menanggalkan sepatu, karena suka mendengar bunyi kulitnya sendiri.

Kalashnikov tertawa kecil, memanggilnya dengan jari. Ia menunjukkan gambar Nabi Elia terbang ke langit dengan tiga ekor kuda. Lyubka menunduk di sampingnya, rambutnya—panjang dan cokelat—jatuh ke lantai. Mereka berdua tertawa, seolah dunia di luar tidak sedang tertelan badai.

“Gambar yang indah,” kata Kalashnikov. “Indah,” bisik Lyubka, matanya memantulkan cahaya lilin.

Angin meraung di tungku. Kayu berderak. Dari celah dinding, terdengar suara seperti hewan dicekik.

“Roh jahat berkeliaran,” kata Lyubka sambil menyilangkan tangan di dada.

“Itu cuma angin,” balas Kalashnikov. Lalu menatap Yergunov.

“Kau orang berilmu, Osip Vassilyitch. Menurutmu, ada setan di dunia ini?”

Yergunov mengangkat bahu. “Kalau pakai ilmu, tidak ada. Tapi kalau pakai hidup, tentu ada. Aku pernah melihatnya.”

Mata Kalashnikov menyipit. “Di mana?”

“Di dekat jurang Zmeinoy, tahun lalu,” kata Yergunov. “Ia menghentikan kudaku, menatap mataku, lalu berkata: ‘Vaksinasi aku.’ Aku lakukan. Setelah itu, pisaunya berkarat.”

Dari dekat tungku, lelaki yang tadi berbaring bangkit. Rambutnya hitam, wajahnya gelap seperti jelaga, dan di pipi kanannya ada noda bulat seperti luka lama. Ia tersenyum dingin.

“Ya, aku memang memegang tali kiri kudamu,” katanya. “Tapi soal cacar, kau bohong, tuan.”

Yergunov menatapnya, tercekat. Dunia tiba-tiba mengecil menjadi satu napas dingin.

Nama lelaki berwajah hitam itu Merik. Dan ketika ia duduk di samping Kalashnikov, aroma asap dan logam terasa berubah—seolah udara kehilangan keperawanannya.

Lyubka menata meja: bacon asin, acar mentimun, daging rebus yang sudah dingin, dan wajan berisi kubis tumis bercampur sosis. Dari botol kristal, vodka mengalir ke gelas-gelas kecil, dan seisi ruangan langsung berbau kulit jeruk dan dosa.

Yergunov ingin bicara, ingin disambut sebagai kawan seperjamuan, tapi dua lelaki itu bicara tanpa menoleh padanya. Ia seperti hantu yang tak diundang. Ia ingin bercakap, tapi hanya kesunyian yang menatap balik.

Lyubka mondar-mandir, menaruh piring, menunduk, tersenyum sekilas. Setiap kali lewat dekat Yergunov, bahunya yang telanjang menyentuh pundaknya. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat darah di kepalanya berdegup seperti genderang perang.

Ia minum segelas. Lalu segelas lagi. Tubuhnya menghangat, lidahnya mulai ingin bersuara.

“Kalian orang Bogalyovka memang hebat,” katanya, berusaha ramah. “Ahli kuda, ahli  mencuri.”

Kalashnikov mengangkat alis. “Hebat? Tak ada yang hebat di sana. Cuma maling dan pemabuk.”

Merik menatap api. “Mereka sudah punah,” katanya. “Sekarang cuma ada Filya si buta. Itu pun tinggal satu mata.”

Kalashnikov mengangguk. “Ya. Dulu, polisi kalau lihat dia selalu berteriak, ‘Hei, Shamil!’ Semua orang tahu dia. Tapi sekarang, cuma ‘Filya Si Satu Mata’. Dulu ia pernah mencuri sembilan kuda dari barak tentara dalam satu malam. Kini tak bisa melihat kudanya sendiri. Dunia berubah jadi lelucon yang pahit.”

Lyubka tersenyum, menggigit bibir. “Tapi Merik tak kalah dari mereka,” katanya, nakal.

“Merik bukan orang kami,” ujar Kalashnikov. “Dia dari Mizhiritch, dekat Harkov. Tapi ya, dia lelaki berani. Setidaknya belum takut mati.”

Lyubka memandang Merik lama, matanya seperti bara yang tahu ke mana akan jatuh.
“Tidak sia-sia mereka dulu mencelupmu ke air es, Merik,” katanya menggoda.

Yergunov menatap, ingin tahu. “Air es?”

Merik tertawa pendek. “Begini ceritanya,” katanya, menyulut pipa. “Filya mencuri tiga kuda dari penyewa tanah di Samoylenka. Tapi mereka pikir aku pelakunya. Tiga puluh orang Molokan menjerat tanganku di pasar. Mereka bilang, ‘Kami tunjukkan padamu kuda baru kami.’ Aku dibawa ke sungai. Di sana mereka potong dua lubang di es, tujuh langkah jaraknya. Mereka masukkan tongkat panjang di bawah es, dengan tali di ujungnya. Mereka ikat tali itu di bawah ketiakku. Lalu—dor!—aku dicemplungkan di lubang pertama, diseret di bawah es, dan diseret keluar di lubang kedua.”

Lyubka menutup mulutnya, ngeri. “Beku, rasanya seperti surga yang membalas,” lanjut Merik. “Tubuhku kaku. Tapi mereka belum puas. Mereka memukuli lutut dan sikuku dengan tongkat sampai aku tak bisa berdiri. Lalu pergi, meninggalkanku di salju. Untung ada perempuan lewat, menjemputku. Kalau tidak, mungkin aku tak sempat menyesal.”

Yergunov menelan ludah. Vodka terasa getir. Ia ingin mengatakan sesuatu yang membuat mereka kagum, agar tak lagi dianggap beku di pojok ruangan. Maka ia mulai bercerita, dengan mulut yang mulai berat karena alkohol.

“Kalau kalian tahu apa yang pernah kualami di Penza—” katanya. Tapi suaranya tenggelam. Kalashnikov dan Merik tak mendengar, atau pura-pura tak peduli.

Mereka bicara lagi, tapi kali ini tak hati-hati. Mereka bicara tentang pencurian, tentang pelarian, tentang malam yang menelan kuda dan manusia seperti lumpur. Yergunov mengerti: ia sedang makan malam bersama dua pencuri, mungkin pembunuh. Tapi anehnya, ia tak takut. Ia hanya merasa iri.

Lalu Lyubka datang lagi, membawa dua botol anggur manis, sepinggan kacang dan biji labu. Ia duduk, menyalakan lilin baru. Cahaya lilin bergetar di pipinya. Kalashnikov mengangkat gelas, bersulang.

“Untuk Andrey Grigoritch, ayah Lyuba,” katanya. “Semoga arwahnya tenang. Dulu, kalau dia masih hidup, kita berkumpul di sini, dengan Filya, Martin, Fyodor. Malam-malam kita penuh tawa. Sekarang, hanya bayangannya yang tersisa.”

Lyubka keluar sebentar. Ketika kembali, ia mengenakan kerudung hijau dan kalung manik-manik berkilau. “Lihat, Merik,” katanya sambil menatap cermin kecil di dinding, “ini pemberian Kalashnikov hari ini.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala agar manik-maniknya berderak, lalu membuka peti, mengeluarkan gaun bermotif bunga, syal biru tua berkilau benang emas. Setiap benda ia tunjukkan seperti anak kecil memamerkan mainan.

Kalashnikov memetik balalaika. Senarnya mengaduk udara dengan nada yang tak jelas: setengah gembira, setengah duka. Lalu Merik berdiri. Ia mulai menari. Tumitnya mengetuk lantai, cepat dan keras. Ia melompat, memutar, menekuk lututnya hingga tampak seperti setan kecil yang siap terbang.

Lyubka berseru kecil, ikut menari. Gaunnya yang merah berputar, seperti api yang lupa padam. Rambutnya terurai, memantulkan cahaya lilin. Mereka menari seperti dua nyala lilin yang saling menjilat.

Yergunov, yang setengah mabuk, menatap dari pojok ruangan. “Perempuan itu seperti api,” pikirnya. “Untuknya, seluruh dunia pun bisa terbakar.”

Ia ingin ikut berdiri, ingin ikut menari, tapi tubuhnya tak berani. Ia hanya duduk di atas peti, menatap Lyubka yang menari seperti roh dari legenda lama—seolah tubuhnya bukan daging, melainkan nyanyian. BERSAMBUNG

____________________

Penulis: Anton Pavlovich Chekhov (1860–1904) adalah penulis dan dramawan besar asal Rusia yang dianggap sebagai pelopor cerpen modern. Ia menulis dengan ketenangan seorang dokter dan kepekaan seorang penyair—menelusuri luka-luka kecil kehidupan sehari-hari, menyingkap kesepian, keinginan, dan absurditas manusia tanpa menghakimi. Dalam karyanya, termasuk The Horse-Stealers, Chekhov menghadirkan dunia yang tampak sederhana namun berdenyut oleh konflik batin yang sunyi: tempat di mana kebaikan dan dosa, cinta dan kebodohan, hidup berdampingan dalam cahaya yang sama redupnya.

____________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.