Cerpen Indah Fai

Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan: Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan?
Ia mematikan ponsel itu.
Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela.
Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua.
Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon.
Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu.
Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin.
Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK?
Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela.
Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le, peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit.
Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang.
Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan.
Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor.
Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar.
Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.
Njih, Bu?
Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan.
Njih, Bu.
Pulang, ya. Mitoninya di rumah.
Njih, Bu.
Le?
Njih, Bu.
Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le.
Njih, Bu.
Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam.
Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat.
Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi.
Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah.
Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu.
Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha.
Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.
Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang.
Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.
Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.
Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju.
Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.
Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.
Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?
Sang ibu meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar.
Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le?
Lelaki itu diam.
Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya.
Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau.
Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le?
Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya.
Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi.
Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar.
Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan.
Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai.
Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan.
Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens.
Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu?
Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya.
Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga.
Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam.
Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu.
Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu.
Kemudian tibalah hari itu.
Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu.
Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya.
Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam.
Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya.
Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata.
Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega.
Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya.
Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada?
__________________
Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak. Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.
