Cerpen

Sebelum Surga Jadi Gundul

Cerpen Indah Fai

Tidak ada yang mengajarinya—seperti saat dulu, orang-orang mengatakan padanya agar menggosok daki di lipatan selangkangan dengan batu kali yang permukaannya berpori, dan kemudian orang-orang itu juga mengajarinya agar cebok menggunakan tangan kiri, dan menyuap makanan dengan tangan kanan, dan mencucup remah-remah nasi di pucuk jemari hingga resik, sebab, kata mereka, itu merupakan sunnah nabi. Tidak seorang pun dari mereka memberitahunya, bagaimana ia sepatutnnya mengelak, ketika—sekarang—ibunya mengirim foto permohonan santunan perbaikan langgar disertai pesan:  Le, tahun ini kamu akan jadi donatur kehormatan lagi, kan? 

Ia mematikan ponsel itu. 

Orang-orang itu, dahulu, dengan suara lantang dan mimik penuh kesungguhan mengatakan, maka apabila ibumu memerintahkan padamu suatu hal lalu kamu berkata uf, berdosalah kamu, tertutuplah seluruh kebaikan dari timur dan barat untukmu hingga ibumu rela. 

Usianya tiga puluh sembilan dan belum sekalipun ia mengatakan uf, af, if, atau humph. Untuk ibunya ia mengatakan ya yang paling santun dalam tata krama berbahasa Jawa, njih, Bu, setiap saat, sejak ia kanak-kanak dan hingga kini, ketika uban semakin gemar bermain cilukba di kepalanya dan garis kerutan di sudut matanya bertambah tiga yang semula cuma ada dua. 

Ia menyalakan kembali ponselnya. Ada dua belas pesan dari sang ibu dan lima belas panggilan tak terjawab. Sebentar kemudian, ibunya kembali menelepon. 

Ia ragu-ragu. Namun, ia seakan melihat raut kecewa ibunya dari layar kecil yang menyala itu. 

Setelah dering ponselnya berhenti. Ia memutuskan untuk membuka aplikasi M-banking, menekan huruf, simbol, angka-angka, dan sandi. Lalu ia mendengar dering pemberitahuan singkat dan nyaring seperti suara seonggok sendok yang jatuh ke lantai. Suara itu membuat senyumnya tampak ringkih dan sedih. Uangnya baru saja berpindah ke rekening ibunya di desa. Tiga juta lima ratus ditambah enam ribu lima ratus rupiah sebagai tambahan biaya admin. 

Kenapa tidak memberitahunya kau di-PHK? 

Istrinya tak kalah murung, berkacak pinggang di hadapannya, merengut kepada jendela. 

Ponselnya berdering lagi. Itu nada pesan. Ibunya memfoto selembar kertas bertuliskan nama-nama donatur perbaikan langgar di desanya. Namanya berada di baris nomor dua, di bawah nama juragan jagal sapi. Juragan itu bersedekah lima juta lima ratus rupiah. Le, peringkatmu disalip Pak Sumitro. Tulis sang ibu di bawah gambar. Eman, Le. Padahal kurang sedikit. 

Aku akan memberitahu ibu. Tetapi bukan sekarang

Lelaki itu memberi istrinya penghiburan. Ia mengelus perut buncitnya dengan lembut. Ia tahu istrinya sedang kesal dan itu bukan sandiwara panggung, tetapi di seberang sana, ibunya juga sedang dongkol setengah mati pada juragan jagal sapi. Ia yakin ibunya belum siap mendengar kabar tak mengenakkan. 

Orang-orang itu, dahulu, mengatakan—jangan kau menyakiti hati ibumu sebab di telapak kakinya terbentang surga yang sejuk dan hijau. Ia tidak mau surga di kaki ibunya menjadi gersang dan tandus. Maka lelaki itu, demi memberi penghiburan kecil untuk sang ibu, mengetik pesan di ponsel, kelak ia akan menambah jumlah santunannya, setelah gajinya dibayarkan kantor. 

Maturnuwun, Le. Mugi-mugi rejekimu diparingi lancar. 

Ibunya menelepon lagi. Dua pekan kemudian.

Njih, Bu? 

Nanik–bulan depan kehamilannya sudah masuk tujuh bulan. Kapan dipitoni, Le? Tanggal satu bulan depan hari baik kata si Mbah. Kemarin Ibu ikut pitungan. 

Njih, Bu. 

Pulang, ya. Mitoninya di rumah. 

Njih, Bu. 

Le? 

Njih, Bu. 

Ini Ibu pulang kondangan dari piton-pitonnya menantunya Pak Ismail. Meriah. Ngundang kyai besar. Ada panggungnya, Le. 

Njih, Bu. 

Istrinya menggerutu. Upacara empat bulanan waktu itu, katanya, masih menyisakan utang di koperasi simpan pinjam. 

Biar kupikirkan, sahut suaminya, saat ia menyarankan agar acara tujuh bulanan nanti cukup dengan bersedekah nasi kotak ke tetangga dekat. 

Jawaban itu. Bukan seperti itu seharusnya lelaki itu menjawab. Istrinya menatap sangsi. 

Sisa tabungan ada berapa? Kata lelaki itu tanpa menoleh si perempuan. Ia enggan melihat mata yang bersedih dan marah itu. Ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan, sebab surga itu ada pada kaki ibunya—bukan pada wajah istrinya yang tidak ramah. 

Dua puluh lima juta dua ratus lima puluh ribu—jumlah keseluruhan uangnya ketika ia menumpang bus malam yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Ia menuju rumah bersama sang istri yang mendengkur halus di sisinya. Kepala perempuan itu bersandar di bahu kirinya sepanjang perjalanan. Tangannya kebas. Tulang punggungnya meronta menuntut rasa nyaman. Namun ia merasa malu membangunkan perempuan itu perkara bahu. 

Ia sedang membongkar isi koper ketika ibunya tiba-tiba menyibak gorden, menerobos ke dalam kamarnya, membuat sang istri yang semula bersila, segera menurunkan kakinya. Ia mengambil sikap duduk yang manis. Dua tangannya menumpang anggun pada paha. 

Ibunya membuka halaman buku yang sedari tadi ia apit di ketiak kanan. Kertasnya agak lecek, beberapa pojoknya menguning, menua. Matanya menelusuri deretan nama dengan pelan, membaca masa lalu.

Ini Bu Yatini, yang nyumbang satu kwintal beras waktu kamu sunat. Ini Pakdhe Lan, yang nyumbang kelapa dan pisang waktu empat bulanan jabang bayimu kemarin. Waktu kalian menikah dulu, beliau yang bayar uang rokok perewang. 

Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.

Mereka semua bakal datang kalau diundang. Tapi ya gitu… kalau enggak diundang, orang desa itu ingatnya seumur hidup.

Anak lelakinya diam. Sementara sang menantu menunduk, pura-pura sibuk melipat baju. 

Undang mereka, ya, Le. Selama Ibu masih bisa masak dan ngurusin dapur, Ibu pingin nunjukin kita ini orang yang nggak lupa utang budi.

Ia menepuk bahu anaknya. Kali ini tidak keras. Tangannya agak gemetar. Anak lelakinya menoleh pelan, lalu melihat: di balik nada tegas dan tubuh yang selalu kelihatan sigap itu, ada wajah yang mulai keriput dan mata yang seperti menyimpan cemas.

Kadang Ibu mikir, kalau nanti sudah nggak bisa ngapa-ngapain, orang-orang ini masih inget Ibu, tho?

Sang ibu  meremas bahu anaknya. Lelaki itu mengaduh. Tetapi suara itu, cuma ia sendiri yang dengar. 

Waktu mapati kemarin, balik kan modalmu, Le? 

Lelaki itu diam. 

Saat acara empat bulanannya rampung, dulu, sisa sembako setelah dibagikan kepada para perewang, perempuan itu tawarkan ke warung kelontong milik seorang cina peranakan,Tacik, begitu orang-orang di desa memanggilnya. 

Ibunya memberitahu, sebagian uangnya habis untuk menambal keperluan upacara jabang bayi lelaki itu. Saat itu bertepatan dengan waktu keberangkatannya dan sang istri ke kota rantau. 

Uang hasil jualan gula dan beras ini boleh buat bekal Ibu, Le? 

Begitu sang ibu mengakhiri keluh kesahnya. 

Di sisinya, sang istri mendelik. Perempuan itu berpesan agar memberitahu ibunya: mereka juga membutuhkan uang itu untuk menambal utang. Sungguh, ia ingin menyampaikan pesan itu kepada ibunya, tetapi, njih, bu—adalah tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sekali lagi. 

Ia mendapatkan pisuhan sepanjang perjalanan dari istrinya setelah adegan itu. Perempuan itu mogok bicara nyaris empat puluh lima hari, dan ketika ia telah mau bicara pendek-pendek dan ketus, sang ibu kembali menelepon, mengatakan tagihan listrik di kampung menunggak, menunggu dibayar. 

Njih, Bu. Kata suaminya. Sekali lagi. Maka perempuan itu tirakat, mencegah diri bicara selama berbulan-bulan. 

Maka—mengapa tak kau katakan saja kau di-PHK adalah suara pertamanya waktu itu, ketika sang mertua menyinggung nama Sumitro dan langgar di telepon. Saat mereka masih di kota rantau. Namun, suara itu keluar bagai ledakan dibuntuti pula denting kasar benda pecah belah yang menimpa lantai. 

Bilang pada ibumu, mengundang tiga puluh orang saja sudah cukup. Bisik istrinya, malam saat mereka duduk beralas tikar pandan di ruang tengah, membahas kesiapan upacara tujuh bulanan yang akan datang pekan depan. 

Lelaki itu merasakan cubitan menyakitkan di lengannya sebab tak kunjung menyahut. Ia menoleh sang istri yang matanya telah akan keluar dari wadahnya. Wajah itu, seperti rona malam yang mistis dan intens. 

Namun, apa ada yang lebih sakral selain air mata ibu yang menitik dari pelupuk, lalu jatuh sebagai pemantik yang membakar surga dan segala sesuatu? 

Maka, njih, bu, sekali lagi, adalah sahutan bakti yang keluar dari mulutnya ketika perempuan tua itu menyodorkan dua ratus nama tamu padanya. 

Pekan itu tiba. Ibunya menyambut para perewang dengan senyum sumringah dan berbangga. 

Dan lelaki itu, yang saban waktu disapa para perewang dengan kebanggaan yang mencolok, sedang berupaya setengah mati menghindari berpapasan dengan sang istri. Maka ia terjebak di bantaran kali, menjadi satu-satunya penonton dewasa bagi para perewang yang sedang membersihkan potongan daging dan ayam. 

Perempuan-perempuan itu mencerabut bulu dengan tangkas dengan tertawa-tawa, dan ayam-ayam yang terkulai itu tampak gundul dalam waktu singkat. Ia menyaksikan semua itu dengan kengerian yang tak terperi, seakan bulu-bulu itu adalah sisa tabungannya yang dicerabuti sang ibu. 

Ia—bak rasul yang diilhami wahyu—kemudian merasa perlu melakukan sesuatu agar tak bernasib persis seperti ayam-ayam mati itu. 

Kemudian tibalah hari itu. 

Seorang kyai kondang didatangkan untuk memberi ceramah dan berkat.Tamu-tamu undangan duduk santun dan sedikit gelisah di bawah naungan terob berwarna oranye sebab nyala kipas yang tidak bersungguh-sungguh. Penjaja makanan dan mainan berimpitan menggelar lapak di tepi jalan. Saat itu matahari cerah dan langit berwarna biru tanpa setitik pun noda putih. Pawang hujan kenamaan desa tetangga menyapu bersih awan di atasnya. Namun lelaki itu tidak di sana, memasang diri, menyambut para tamu. 

Sang istri menanyakan keberadaannya melalui obrolan ponsel. Semua juga tahu, betapa nada bicara perempuan itu menyiratkan kefrustasian yang nyata. Lelaki itu mengatakan terdesak sebuah urusan. Ia menjanjikan akan datang sesaat sebelum prosesi siraman dan pemecahan kelapa gading bergambar wayang Kamajaya dan Dewi Ratih, untuk menebak kelamin bakal bayinya. 

Ia tidak memberitahu siapa pun bahwa ia sedang memanen peluang, mendatangi sebuah masjid dan langgar-langgar di desa itu yang sedang lengang, mencungkil kotak-kotak amalnya, lalu memasukkan isinya ke dalam tas jinjing hitam. 

Semula ia malu. Setiap saat tanpa sengaja melihat kaligrafi bertuliskan lafaz Tuhan di dinding, ia akan menarik kembali tangannya. Ia merasa berdosa. Namun ia diburu waktu. Dan ia sudah berdiri di situ. Maka ia memantapkan niatnya, mendapatkan kembali haknya. 

Lalu ia melakukannya sambil memejamkan mata. 

Kepada Tuhan ia meminta ampun sebab niat menggandakan tabungannya di akhirat luruh begitu saja. Ia hanya sedang mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Dengan begitu ia tidak perlu menjadi seperti ayam-ayam mati yang dikerubungi perewang pada saat itu, sementara di sisi lain, di bawah kaki sang ibu, surga itu tetap akan berwarna hijau dan menawan. Dan istrinya yang selalu mengkhawatirkan biaya persalinan akan merasa sedikit lega. 

Ia mengendap keluar dari pintu belakang setelah menguras isi kotak amal di langgar kelima, dekat rumahnya. Namun, mendadak tas jinjing yang katanya menampung haknya itu terjatuh, merosot dari gendongan, ketika ia melihat sosok perempuan dalam balutan kebaya ungu berdiri mematung di tengah gerbang, di bawah naungan rumpun bambu. Di sisinya, seorang penjaga langgar menganga, terpana oleh perbuatannya. 

Perut perempuan itu buncit. Riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Di belakang mereka arak-arakan warga bergerak mendekat. Ia menoleh ke sekeliling. Ia mencari sosok itu. Ibu. Namun ia tak menemukannya. Di manakah surganya yang sejuk dan hijau itu berada? 

__________________

Indah Fai, Penulis kelahiran Banyuwangi, tinggal  bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Cerpennya disiarkan beberapa media daring dan cetak.  Mengikuti projek kebudayaan penulisan cerpen Singaraja Berkisah bersama penulis pemuda Bali lainnya pada 2023. Perempuan di Kaki Langit adalah kumpulan cerita pendeknya yang pertama di penghujung tahun ini. Seorang guru memberitahunya, belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan ia setuju. Kini ia berupaya terus-menerus meskipun banyak gagalnya.

Cerpen

Balada Rindu

Cerpen Indah Fai

Ya Tuhan, suara lembut ibu merambat anggun memenuhi segala sudut. Ada resonansi merdu ketika suara ibu menimpa perabotan di dalam ruangan ini. Aku mendengar rak buku, lemari pakaian, kasur lantai, meja, kursi, gelas, piring, pigura. Ah, bahkan dinding pun melantunkan suara ibu.

Aku bisa merasakan tatapan hangat  dari bola matanya ketika aku demam tinggi begini. Ibu menghabiskan sepanjang malam duduk di tepi ranjangku dengan mata terjaga. Setiap kali aku terbangun, ibu mencecarku dengan pertanyaan, “Sudah merasa baikan?” Aku mengangguk kemudian  ibu tersenyum dan mengusap punggung tanganku sampai aku jatuh tidur.     

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus.Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Terakhir,  ibu menekan sakelar lampu pada dinding di sisi kanan pintu kamarku. Ruangan menjadi gelap ketika ibu beranjak keluar. Lantas aku bangkit dari ‘tidurku’ menuju meja komputer, menekuri lagi permainan sepak bola sampai larut, sampai aku benar-benar mengantuk.

Pernah di malam tahun baru aku pulang pagi. Ketika akan memasuki kamar, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu kamarku dengan raut wajah kecewa. “Sekarang  pukul setengah empat pagi. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” Suara ibu bergetar tapi masih lembut. Aku tidak menemukan  amarah di sana.

“Coba lihat rambut  pelangi dan jambulmu. Astaga!” Aku mengabaikannya dan melenggang ke kamar. “Cuma setahun sekali, Bu.” Aku menatap ibu sejenak sebelum menutup pintu kamar. Mata ibu dikelilingi lingkar hitam karena menahan kantuk. “Lebih baik ibu tidur saja.”

Ibu mengetuk pintu kamarku, “Tadi ibu memasak semur ayam kesukaanmu. Mungkin sekarang sudah dingin. Apakah kau sudah makan? Ibu akan menghangatkannya lagi supaya enak.”

Seandainya ibu tahu betapa merasa bersalahnya aku waktu itu. Aku bahkan tidak ingin berpura-pura tidur lagi setiap pukul sepuluh malam.

Suatu waktu, ibu menghampiriku di teras rumah. Aku sedang berkonsentrasi menggambar poster grup band kesukaanku yang akan kubawa pada konsernya di alun-alun kota minggu depan. Ibu mencermati gambarku dengan saksama. Ia berkata : “Bagus. Tapi kau tak akan pergi ke konser itu.” Aku menatap ibu tak percaya. “Mereka ini band pro rakyat, Bu. Lagu mereka suara hati rakyat. Menyanyi untuk rakyat. Kenapa tidak?”

Ibu balas menatapku. Senyumnya semanis tebu. “Tidak. Kau tak akan pergi ke konser itu. Percayalah, di sana hanya ada kerumunan pemuda malas yang merokok, minum-minuman beralkohol, berjoget, berteriak, tawuran, dan banyak lagi. Apa yang akan kau lakukan di sana?

Biar Ibu beritahu, lima belas meter dari rumah kita ada panti asuhan. Kau boleh mengajari mereka melukis dengan cuma-cuma. Tetangga kita, Bi Ami, malam kemarin rumahnya kemalingan. Sisihkan uang sakumu dan uang yang akan kau gunakan untuk membeli tiket konser lalu berikan padanya. Atau bantulah ibu menyapu halaman depan sore nanti. Pro rakyat yang lebih manusiawi, kan?”

Ibu tidak memerlukan sihir agar bisa membaca isi hatiku melaui ekspresi tubuh. Pada suatu siang, sepulang sekolah, aku memasuki pintu utama tanpa mengucap salam. Waktu itu ibu tengah menyiapkan makan siang, sekilas ia melihatku tersuruk-suruk menuju kamar. Aku mengurung diri sepanjang sore dan baru keluar ketika ibu mengetuk pintu kamarku untuk yang kesebelas kali—memintaku makan.

Hanya ada suara piring dan sendok makan yang beradu pada menit-menit pertama; kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Ketika nasi di piring kami sisa separuh, ibu menatapku geli sambil menggeleng,  lalu berkata, “Ayahmu berjuang setengah mati untuk bisa menikahi ibu. Ibu selalu menolak setiap ayahmu mengutarakan perasaannya. Tapi, memang dasar ayahmu itu keras kepala. Semakin ditolak, semakin dia penasaran katanya.”

Aku mencerna kalimat ibu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutku. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengaitkannya dengan apa yang berlaku padaku di sekolah pagi itu. Ketika aku memberi sekotak cokelat kepada Vani—dan ia langsung menolaknya.

Pipi ibu memerah seperti kelopak mawar. Aku mengamati kedua mata ibu berputar dengan senyum yang merekah. Jam makan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari ibu:

 “Apakah kau akan memerjuangkan gadis yang kau sukai itu?”

***

Pada pertengahan Agustus, aku mengepak barang-barangku ke dalam koper besar berwarna biru laut pemberian ayah. Ibu memandangiku dari ambang pintu kamar tanpa sepatah kata dan kemudian berjalan pelan menuju ranjang tempatku mengepak barang—ia duduk di sampingku. Aku mendengar ranjangku berderit menampung tubuh ibu. Kemudian ibu berujar lirih, “Kau sungguh ingin kuliah di Malang?” Aku menatap ibu sekilas sambil tesenyum, dan mengangguk mantap.

“Kenapa harus di Malang? Bogor tidak kekurangan Universitas.”

“Adit ingin belajar mandiri, Bu.”

“Di sini juga sama saja.”

“Malang, Bu.”

“Kau tahu berapa jarak Bogor-Malang?”

“Ayolah, Bu. Adit sudah delapan belas tahun.”

“Justru karena kau baru delapan belas tahun, Adit.”.

Aku menarik napas dalam kemudian menghempasnya pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela kamar. Ada bulir-bulir embun mengalir zigzag di sana, sisa hujan semalam. Beberapa daun mahoni yang menguning berguguran tersapu semilir angin Agustus di pagi hari. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ibu. Kepala ibu menghadap lurus ke depan dan matanya beradu pandang dengan dinding, tetapi seakan-akan ia menatap ke kejauhan.

Aku melihat ayah berdiri di ambang pintu kamar seperti yang dilakukan ibu sebelum duduk di sampingku. Entah, sudah berapa lama ayah berdiri di sana. Ayah menyandarkan punggungnya ke gawangan pintu. Ia berkata, “Sudahlah, Bu. Biar Adit belajar mandiri. Sebentar lagi juga liburan Natal, Adit pasti pulang, kan?”

Aku melihat mata ibu berkilau terpapar cahaya yang menerobos dari jendela kamar. Ada semerbak air yang akan tumpah di sana. Ibu berkata, “Siapa yang akan mengingatkanmu untuk mencukur rambut? Memasakkan semur ayam? Astaga, kau akan banyak-banyak makan mi instan di sana. Ya Tuhan, jagalah anak Ibu.” Lalu air di mata ibu tumpah seluruhnya.

***

Beberapa waktu terakhir, setiap pukul sepuluh malam, aku selalu mendengar derap langkah ibu menuju kamar kontrakanku. Ia membuka pintu, mematikan komputer, membenahi selimutku, dan mematikan lampu. Ketika bangun di pagi hari, aku tertegun karena komputer dan lampu masih menyala.

Sekarang, suara langkah itu semakin keras dan dekat. Aku tahu itu ibu. Sebentar lagi ibu akan sampai di depan kamarku dan membuka pintu. Berdiri di sana, lalu berujar, “Kenapa bisa sakit? Kau telat makan?” Sudah lama aku tidak melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan suara lembutnya.

Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan kemudian mengangkat kepalaku ke arah pintu yang setangah terbuka. Aku bangkit dari tidurku, menyandarkan punggungku ke dinding. Aku berkata, “Ibu? Ibukah itu?”

Kemudian pintu terbuka seluruhnya dan aku melihat sosok itu berdiri di sana, kedua alisnya bertaut, “Ibu?”

Dia bukan ibu.

Aku kembali merebahkan punggungku ke kasur lantai. Rizal meletakkan nasi bungkus di atas rak piring mini dekat pintu. “Apa kau ingin aku mengantarmu ke dokter?” Aku menggeleng. “Tidak usah,” kataku pelan.

“Vani bilang akan menjengukmu besok.”

“Aku tahu, boleh minta tolong?”

“Iya?”

“Tolong beritahu Ibuku aku sedang sakit.”

“Kau ingin aku meneleponnya di wartel?”

“Tidak, pakai ponselku saja.”

“Oh, ya? Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya?”

“Aku tidak bisa.”

“Apa kau pikir aku sehebat itu?”

Rizal menatapku kesal lantas ia duduk di  lantai di jalan masuk pintu. Ia membuka bungkusan nasi yang ia letakkan di atas rak piring tadi kemudian memindahkannya ke dalam piring. Rizal menyorok piring itu ke samping kanan kasurku. “Makanlah,” ujarnya. Aku melihatnya tanpa selera, kuamati  langit kamar yang cat putihnya mulai menguning dimakan waktu dan pandanganku terhenti pada lampu yang aku lupa mematikannya pagi tadi.

“Ini sudah bulan kedua kau bertingkah seperti orang gila.”

“Maksudmu?”

“Ayolah, Dit. Ibumu sudah meninggal. Kau harus menyikapi realita dengan baik.”

Aku masih memandangi lampu itu. Cahaya putihnya menyakiti mataku. Rizal bangkit dan menekan sakelar lampu di dinding di sisi kanan pintu masuk. Lampu mati dan ruangan menjadi redup. Hanya sedikit cahaya matahari sore yang menyusup dari jendela kamar kontrakan ini.

 Rizal pamit menuju kamarnya. Kemudian, samar-samar aku mendengar seluruh perabot melantunkan suara ibu lagi. Aku juga mengingat hari pertama aku tiba di  sini. Ibu menelponku sebanyak dua puluh sembilan kali, dan aku mengabaikannya.**


Indah Fai, kelahiran Banyuwangi, 15 Juli 1994. Tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Bisa disapa melaui akun Facebook: Indah Fai dan email: [email protected]