Cerpen

Mengakali Agama

Cerpen Yulita Putri

Begitu perdah itu kusibak, cahaya matahari masuk ke kamar. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kemeja putih yang kupilih dengan cermat, berharap bisa terlihat pantas dan meyakinkan. Kuhela napas panjang sambil meraba saku celana. Di sana tersimpan sebuah kotak kecil yang akan menentukan bagaimana nasibku esok. Tak henti-henti kuucap sebuah ayat yang meneguhkanku pada keputusan hari ini

Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau. Yesaya 41:10

Ya, aku sudah mendengar banyak penolakan yang dialami laki-laki sepertiku. Tetapi biarlah, aku percaya selalu ada pengecualian dari segala hal. Yesus pun sebelum diterima sebagai penyelamat, pernah mengalami penolakan meski yang dibawa pesan cinta kasih.

“Iya,” kujawab ketukan pintu. Ibu mendekat, disusul Ayah. Matanya memandangku seperti saat pertama kali melepasku sekolah. Dahi Ibu berkerut, memperjelas tumpukan garis di wajah. Ia tampak tidak marah, tapi seperti menyimpan beban yang menekan pikirannya.

“Biarkan kami ikut bersamamu, ya,” ujarnya memegang tanganku. Ayah berjalan lebih dekat menyentuh pundakku sembari melempar senyum, seolah mengerti yang aku pikirkan. Matanya meyakinkanku untuk mengiyakan permintaan Ibu. Sebenarnya tidak masalah jika mereka ikut menemani, tapi aku khawatir keadaan tidak seperti yang diharapkan.

“Jika di sana nanti Ayah dan Ibu dibuat kesal, berjanjilah untuk tidak menanggapinya,” jawabku, menatap ke arah mereka.  

Kami berangkat ke tempat tujuan. Meski hanya menempuh waktu satu jam, aku merasa mengendarai mobil selama seminggu. Tak bisa kusembunyikan rasa gugup yang menyelimutiku. Untunglah, semua sirna ketika Fatimah tampak duduk di depan rumahnya. Kami disambut dengan senyum, lalu dipersilahkan untuk masuk.

Lampu hias tergantung kokoh di tengah ruangan. Ada potret kaligrafi cukup besar ditemani tiga lukisan wajah laki-laki berpenutup kepala. Ayah Fatimah membuka keheningan dengan beberapa pertanyaan. Ayah menjawabnya dengan santun. Untuk sementara semua terasa baik-baik saja, sebelum akhirnya berubah menjadi ketegangan.

“Sebelum Mas Don dan sekeluarga datang, Fatimah baru mengatakan kalau ini menyangkut perbedaan keyakinan,” ucap ayah Fatimah mencondongkan tubuhnya. Aku bisa menangkap dadanya naik turun dengan cepat, menunjukkan ia sedang berusaha menahan amarah yang hampir meledak.

“Saya pikir, ini bisa kita bicarakan, Pak Ibrahim. Mungkin Tuhan memang menitipkan cinta pada anak kita, jadi tidak ada yang salah dan benar.”

“Pak, saya tidak bisa main-main soal agama. Ini menyangkut hidup dan mati. Fatimah tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman.”

Setelah sejak tadi hanya diam melihat apa yang terjadi di hadapannya, Fatimah bersuara.  Wajahnya menyimpan ketenangan . Matanya masih setegas dulu, seperti kali pertama demo di depan kampus. “Kami saling mencintai, Pak. Don laki-laki yang bertanggung jawab.”

“Fatimah, ridho Allah ada di tangan orang tua.” Ibu Fatimah menatapku. “Eling Fatimah, kamu tidak takut dilaknat Allah. Masuk neraka nanti kamu, Ya Allah!”

Apa kamu pikir Tuhan sebrengsek itu. Mengkotak-kotakan manusia lalu bermain-main membuat neraka dan surga! Aku memaki dalam hati.

Kupandangi wajah ayah ibuku yang mulai geram menahan amarah. Aku tahu mereka ingin membalas kalimat itu, tapi urung dilakukan karena janji yang telah kami buat sebelum pergi.

“Saya mencintai putri Bapak. Ini soal hati, Pak, bukan keyakinan,” kataku. “Dan, saya tidak akan membuat Fatimah keluar dari agamanya.”

Dua jam telah berlalu, percakapan tidak menemukan jalan keluar. Hanya kalimat tajam yang makin melukai hati masing-masing. Akhirnya aku putuskan untuk pamit. Mataku dan Fatimah saling beradu. Aku tahu, ia mengirimkan sebuah kata maaf dan semangat untukku. Meski tak terucap, perasaan itu terasa jelas bisa kuterima.

“Apa kamu benar-benar mencintai Fatimah? Tak bisa diganti dengan perempuan lain?” tanya ibu, memandangku dengan penuh kesungguhan. Kutangkap sorot matanya dari kaca spion di atas kepalaku.

“Hanya Fatimah atau tidak sama sekali.”

“Dalam hal apa pun, jika persoalan agama sudah dijadikan alasan, temboknya akan tebal” ujar Ayah.

Aku mengerti yang Ayah maksudkan. Ini sama seperti yang pernah terjadi pada banyak orang yang diusir dari tempat tinggalnya karena berbeda agama atau dilarang beribadah dengan cara persekusi. Agama memang menjauhkan manusia berbuat jahat, tapi juga banyak kejahatan yang dilakukan atas nama agama. Sekilas, muncul kegelisahan dalam pikiranku, mengapa aku dilahirkan berbeda dengan Fatimah. Siapa yang membuat perbedaan dan untuk apa.

“Ayah tak pernah menyangka jalan hidup kita akan sama.”

“Maksud Ayah?”

“Kamu bukan anak bodoh. Pasti kamu sempat punya pertanyaan yang tidak pernah kamu tanyakan pada kami.” Ayah berpaling ke wajah ibu, “Bu, kamu saja yang cerita ke Don,” lanjutnya.

Dari kaca spion aku lihat ibu menengok ke jendela kaca di sampingnya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya- bukan senyum bahagia, tapi semacam tawa yang tertahan, seperti seseorang yang baru saja mengingat betapa konyol dirinya dulu. Ia melirik ke ayah sebelum akhirnya berucap, “Ayahmu sangat nekat dan gila.”

“Tidak semua orang mau ikhlas melakukannya. Waktu itu, Ayah dan Ibu seperti tak ada rasa takut.” Ayah kembali menimpali.

**

“Apa ini akan berhasil?”

Don tak lekas menjawab pertanyaan Fatimah. Pikirannnya malah terbang mengingat kembali percakapan bersama ayah dan ibunya ketika di mobil malam itu. Orangtuanya tak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, hatinya tiba-tiba merasa yakin, mereka juga melakukan ini. Ia ingat, ibunya pernah bercerita menikah pada pertengahan tahun 1998. Sementara kini, ia menginjak usia dua puluh tujuh tahun. Don semakin yakin dengan dugaannya. Tak mungkin ada hal lain.

“Kupikir, iya… Sudah ada yang pernah mencobanya,” ucap Don, menarik selimut ke arah tubuhnya. Sejenak timbul keheningan. Hanya suara dari televisi yang dibiarkan berceloteh memenuhi ruangan dengan cahaya redup.

“Sayang, kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?” ujar Fatimah mendekat lebih erat ke tubuh Don yang terlentang di sampingnya.

___________________

Yulita Putri. Kontributor di Arina.id. Bergiat di  Savara_org, Pusat Kajian Perempuan Solo dan Gusdurian Solo. Aktif di Surai Sastra Surakarta. Menulis buku bertajuk Menafsir Sastra Anak (2024), beberapa esai dan cerpen tersebar di media online. Instagram: @yulitaaaputri Facebook: Yulita Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *