Merawat Cinta dalam Jangkauan
lampu mati,
mengirim gelap yang
mendekatkan
senyata kenyataan yang
menghimpit
angkasa lapang,
sepi dari lalu-lalang
pujian
sekhusyuk lilin di
tengah ruangan
fajar di halaman,
rumput-rumput
berdesakan
sembunyikan genangan
hujan semalam
kebun,
harapan yang segan
tumbuh
derai gulma, ilalang
dan tanah jenuh
rumah,
menaungi sisa-sisa
kantor
kran bocor dan tumpukan
piring kotor
anak-anak,
nyala yang tak pernah
kau saksikan
di kepulanganmu yang
masih keruh
istri,
kesejukan yang kau
lewatkan
dalam sunyi dan
kesetiaan menanti
cinta,
adalah bagaimana
kesanggupanmu
menjangkau dan
merawatnya
Ke Mana Pergi
dunia belakangan jadi
sempit
bahkan tak lebih besar
dari ibu jari
sementara zaman demi zaman
kerap melahirkan
orang-orang besar
yang lebih banyak dari
rahim mancanagari
ke mana pergi pewaris
ibu pertiwi?
sehari terasa tak cukup
waktu terengah-engah
hampir tak sanggup
sementara otak tak lagi
berupa lahan subur
kerja otak tak bisa
dihitung
acapkali tak keluar
keringat justru bikin makmur
ke mana pergi pelaksana
hati?
rasa dan ketulusan
cukup dipajang
agar selalu ada
kenangan
sekalipun bukan milik
sendiri
hidup harus hemat
jangan dibuka semua
secukupnya untuk diri
kita sendiri saja
ke mana pergi diri yang
belum mati?
Menunggu Kedatangan
awan berkelipat-gelung
menelan senja yang tak gesa
angin menghimpun gelap
mendorong malam tiba lebih cepat
orang-orang bergegas
mengaliri lorong masing-masing
sementara butiran
kehidupan mulai menitik singgahi segala muka
dan langit semakin
menunduk, kian dekat dari sebelumnya
hitam di mata
orang-orang mendekati batas kelopak pandangan
air muka kerut, simpul
kening menjerat perlihatkan penat
hujan pun tiba dan
malam melindungi penuh gelora
anak-anak memandangi
jalanan basah dari balik kaca jendela
dan aku diam-diam
melepas rindu bersama deras tak berkesudahan
sepertinya anak panah itu melesat,
angan itu bergelantungan,
rindu itu di kedalaman
sepertinya…, tak perlu kau tanyakan
kucing-kucing terdesak
dingin di emperan hingga hujan berselang
gerah seharian dikuliti,
hingga tinggal belulang
tergolek aku di kesendirian, menimbang utang
yang belum lunas
selama purnama masih
terhalang mendung di mata anak-anak negeri
dan sedikit pun tak kukenali
lagi bara api di dada para terpelajar
sepertinya laju takdir tercerabut,
jalan maju kian terentang,
rindu ini belum terlawan
sepertinya…, akan segera datang
Mendekatlah
mendekatlah padaku,
dengarkan kabar tentang
elang
yang melayang tenang
terdorong angin
mengarungi cakrawala
dengan mata waspada
menghitung berapa kali
pusaran berputar
menyaksikan perubahan,
merekam kenyataan
itulah kabar tentang
batas hari ini dan esok
yang harus segera kita
kerjakan
mendekatlah pada-nya,
dengarkan kabar tentang
bintang
yang bertengger di
dahan keabadian
menyandarkan kegalauan
dan keragu-raguan
melabuhkan harapan
penuh penghambaan
menyusun ingatan
tentang pergulatan fana
itulah kabar tentang
batas daya dan upaya akal
yang harus segera kita
endapkan
mendekatlah pada diri,
dengarkan kabar tentang
tanah negeri
yang kering kala hujan
tak datang
menyediakan hamparan
kejujuran
menorehkan jejak-jejak
terdalam
menempuh kesadaran dan
tanggungjawab
itulah kabar tentang
batas selain kau dan engkau
yang harus segera kita
kabarkan
Sejarah Kerinduan
adakalanya kerinduan
menjelma wewangian
terpendar dari rona tersipu bebunga
taman
merayapi
segala penjuru lesu yang hiruk pikuk
hingga para
penghuninya seketika bertengadah
dan serasa
teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas
dari kemerahan
mega saat matahari mulai menggeliat
dan menyingkap
selimut yang semalaman
telah membungkus keseluruhannya dengan rapat
kantuk melarut,
keletihan menguap,
selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip
tapi siapa yang
tahu dari mana datangnya wewangian bunga?
seperti
kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,
tak lagi memberi ruang bagi siapa saja
yang menghuni
lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga
tanpa kita tahu
dari mana awal keberangkatannya
dan di mana
tempat yang menerima kepulangannya
Kalian dan Kita
I
teman
: entah kepada siapa sebutan ini
kutujukan
ketika kusadari napas yang menandai hidup
bersama kalian hingga
detik ini
tatapanku seakan
menghindar
dari kecenderungan
hasrat banyak orang
dan barangkali juga
kalian
alam kita sama, zaman kita sama pula
akan tetapi ada
ruang-ruang kesunyian
yang selalu menarikku
ke sana
sesak kurasakan di
keramaian
kosong kurasakan di
perayaan-perayaan
jiwaku selalu
mengembara
menelusuri celah-celah
tak menarik
mendekati yang kalian
singkirkan
II
teman
: entah kepada siapa tanda ini
kusematkan
kaki angin tersangkut
di sangkar kenangan
ketika kita berdua
tertegun dan sangsi
mentari tak beranjak
seolah memberi jalan
bagi
kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal
kita pernah saling
bertandang
saling berkirim jejak
kaki di lantai yang asing
sebelum akhirnya kita
sadari tak pernah ke mana-mana
saat di mana otak dan
perut kita telah sama-sama terisi
angin masih saja
tersangkut
sepertinya menunggu
dentang rencana
yang barangkali tengah
disiapkan untuk kita
sedangkan kita tak lagi
tertegun dan sangsi
semoga sampai kapan
pun, meski tak lagi di sini
III
pada suatu saat nanti
bersama-sama akan kita petik kembali
kemewahan yang pernah
mengaliri nadi
seperti diamnya batu
seperti kehadiran yang
tertunda sekian lama
dan wangi kemewahan itu
tak bisa kita tolak
mencumbui ke mana saja
angin pergi
bersama tetesan waktu
bersama kening kita
yang batasnya kian menepi
dan cukup lewat berita
yang tak perlu dimuat
sehingga pantas untuk
datangnya senja
pada suatu saat nanti
ada kemilau berputar di
batas nalar
kemewahan yang menjadi
pundi-pundi
Tiga Anak Kucing
tiga kucing kecil
memburu anak sungai
masing-masing berbinar
purnama yang berbeda
jemariku yang hitung
sepekan merasai kelembutan
entah genap atau baru
sedalam sayatan pisau
bulu mataku seketika
rontok tergoyang bayu sasmita
menolak semai
benih-benih pengebirian
tiga anak kucing dengan
ekor terombang-ambing
seburuk ranting yang
patah ketika muda
saat kala melibas deras
tak ambil pusing
lalu terbirit tanpa
sekalipun berpaling muka
putik-putik surya di
kepalaku menangkap bahasa kebisuan
membuka lipatan subuh
yang terbungkam dingin
benih-benih, tandas
begitu ditanam
membingkai jalan
pencarian anak sungai
arah manakah mereka?
tiga anak kucing rebah
lupa gelisah
tupai-tupai pingsan
saksikan langkah memukau, kebingungan
alangkah pelik bekal
yang harus dibawa
bukannya cukup karsa
terhunus tak putus
alam telah sediakan
jalan untuk haus dan lapar
dan tak hanya mentari
yang sanggup memanggang kebekuan
tiga anak kucing mengerontang
kedatangan tua sejuk
bersepoi-sepoi
dan anak sungai masih
nampak di ujung mata
Pada Butir-Butir Padi
sebelum kita sama-sama
tahu
bahwa jalan ini segera
bersinggah
sadar kusongsong pelita
di kedalaman sanubarimu
dan langkah kita
terbawa oleh satu cerita
mengukir dialog- dialog
yang terajut rapat
kita banyak belajar
darinya, tentang sebuah perjalanan
pun ketika kita
berjarak satu sama lain
masih mampu kita hadir
bersama-sama
menjumpai orang-orang
dan keseharian kita masing-masing
kau hadir sertaiku dan
kusertai kehadiranmu
karena cinta bagi kita
alam semesta
karena hidup bagi kita
jalan cerita
tirai
demi tirai terbuka
dan
genggaman kita bersinar seperti matahari
kita
selalu percaya binar itu tak mungkin padam
seperti
halnya kita selalu yakin
kehidupan
masih tersedia pada butir-butir padi
kita sama-sama terdiam
suatu ketika
dan lewat pejam kita
saling berpandangan
bersama kita sadari tak
punya apa-apa
hanya cinta, kesetiaan,
dan rasa percaya
hati kita pun
berdekapan agar lebih kuat
menumbangkan tiupan
angin sekeliling
naskah demi naskah terbaca
dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan
kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan
sulit
seperti halnya kita bertanya ke hati
saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi
Perjalanan Malam
sore, kala
kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan
sukma-sukma yang baru
saja terbangun berkerumun di ujung hari
mendekat satu sama
lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari
subuh masih tercekat di
belahan masa yang berbeda
perjalanan usia nampak
tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri
sementara rembulan
pucat menanti jelaga terhampar
jemari senja kian
nampak sedang meraih bentang angkasa
usai kuundang kenangan
yang tak lagi sekadar kerinduan
sedang raga terlanjur
letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari
sementara jiwa menyapa
beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi
seteguk kerinduan
basahi sekujur angin yang terdiam telanjang
membalut luka kenangan
meski tak sembuh seketika
saat jelaga tumpah dan
di antara kita rasa ini menjadi sahabat
menemani di setiap
putaran, menyertai di setiap perjalanan
sepi pun menyediakan
ruang pengembaraan yang begitu luas
di perbatasan kota, di
mana kenangan membawa serta sekawanan harapan
berdua kita berdiri,
sama-sama menjadi saksi kedatangannya
emas cahaya rembulan
hinggap, memberi irama perjalanan
hingga saat kelambu
malam terbakar di ujung timur
dan lagi-lagi kita
sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari
Hikayat Purnama
purnama mengantarkan
kedatanganmu
di jendela yang sengaja
kubuka malam ini
angin malam
berduyun-duyun menyelimuti
dan langit tersapu
pucat oleh awan-awan tipis
aku sedang menatap
purnama itu
di rengkuhan langit
yang kelelahan
kusaksikan drama yang
begitu panjang
seperti saat kutebus
kerinduan tadi pagi
tertera begitu tegas
namamu
yang sanggup membuat
purnama hadir dengan kerelaan
demi menghimpun
keseluruhan cerita tentang kita
memenuhi rangkaian
episode tak kenal akhir
di jendela yang
membingkainya ke dalam petak-petak kenangan
bersama malam, bersama
dingin
bersama sejarah yang
tengah kita kerjakan
Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.