Sepasang Sepatu
Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu
matanya merapi tali ke lubang sepatu
dan tangannya yang berurat waktu
masih sigap mengikat tali sepatu.
Ibu begitu tekun kepada waktu
sambil memangku sepasang sepatu
semoga tak lepas talinya di ujung tunggu
semoga lekas mengantar ke depan pintu
sebelum sebuah ajal memangku.
Semacam ada ruang waktu yang jauh
dari titik matanya yang kian abu-abu
di sepasang sepatu ada air mata ibu
yang menebalkan alas dan ujungnya
yang tak tuntas mengarah kepada rindu.
Serpihmimpi, 2019.
Puisi
Sudah berkali aku menjumpai putus asa
dalam waktu yang kauberikan kepadaku.
Hening selalu lebih dahulu dari apa pun
seperti debu tak tuntas seribu sapu.
Kau dengan gampangnya menyuruhku
membetulkan hatiku sendiri.
“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”
Aku dengan puisi bertubi menggambarmu
dengan kata dan dengan apa pun yang tak
mengandung rasa sakit. segala tetap naif.
Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku
walau terpasang rambu gelisah pada matamu.
Sudah berkali aku menjumpai putus asa
dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.
Serpihmimpi, 2019
Musim Panas
Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan
dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam
dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.
Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin
dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari
perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.
Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil
kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri
meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.
Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung
kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama
terkurung menangis merindukan rumput dan daun.
Serpihmimpi, 2019.
Menjadi Daun
Aku tak pernah menyalahkanmu,
apalagi angin dan musim atau hujan.
Seandainya kau mendengar aku berkeluh
bukan berarti membenci angin yang menarik
lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai
selembar tubuhku, atau deras hujan
yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.
Aku percaya kau bukan pemarah,
karena itu kepada langit aku mengharap waktu.
Mata sulit terbuka menangkap cahaya
dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:
kukira itu kepak burung yang biasa bertengger
ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;
kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.
Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata
tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.
Kini aku berada dekat dengan akar keabadian
aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu
daun besar yang kokoh menghadap hujan;
tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah
oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.
Sepihmimpi, 2019.
Ketika Akan Tertidur
Jam sudah memberi isyarat hati terlelap
kususun wajahmu dengan sisa sungguh
jarum beranjak seperti menguntit jejak
dan persembunyian terbuka di matamu
Adalah langkah yang patah
kertak dari angka ke angka
dan aku bertahan
di jalan yang tak pernah selesai
Kurengkuh degup yang masih menyebutmu
lalu dinding ini memantul-mantulkannya
siapa di antara kita yang terpenjara
cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku
Aku sedang dalam jantung waktu
kata-kata seraya melejang
setelah merasa ada tatap dari jauh
entah dari lubuk hati siapa ke arahku.
Serpihmimpi, 2019.
Menunggu
Akhirnya aku mengerti hidup
hanya berlomba menunggu
kita bergilir menjadi sepi
Kau ataupun aku harus tertib
sebuah suara memanggil
sesuai pesanan dan waktu
Seketika kita saling tinggal
terpenggal kata-kata di sini
segala lesap tak terucap
Tanda itu segera muncul
membacakan nama kita
seperti serangkai pengumuman.
Serpihmimpi, 2019.
Pergi
Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara
tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita
meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.
Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:
bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng
jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,
atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.
Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu
sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita
seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.
Serpihmimpi, 2019.

Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel [email protected] dan akun instagram @serpihmimpi.
