Cerpen

Mati Tanpa Nama

Cerpen Ken Hanggara

Ingin kuakhiri semuanya hari ini. Kota sudah terlalu busuk. Udara tak lagi nyaman kuhirup. Anjing-anjing yang menemaniku sudah kulepas ke tangan para pencinta satwa. Rumahku sudah dimiliki sejumlah gelandangan terbusuk di Kalodora. Tak ada keluarga, tak ada teman atau sahabat. Bahkan beberapa wanita yang sempat menemaniku selama belasan tahun terakhir kini entah di mana. Aku tak yakin mereka masih mengingat sosok lelaki kaya raya kesepian yang memutuskan tak pernah memiliki anak sampai mati ini. Itulah yang membuat mereka kabur satu per satu; mereka berharap menimang anak dari percintaan atau pernikahan kami, sedang aku menolak kehidupan seperti itu.

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Melihat situasi taman pusat Kota Kalodora yang nyaris tak pernah ramai ini, tiba- tiba membuatku ingin menangis. Bukan demi penyesalan, tapi demi keinginan yang tak pernah orang-orang pahami.

Maka, aku menangis. Di sebuah kursi besi panjang, aku menangis selama kira-kira sepuluh menit. Tak seorang pun tahu. Mungkin hanya malaikat dan setan sajalah yang tahu bagaimana aku menangis sebelum mengakhiri semua ini. Mungkin juga tidak ada yang tahu sampai beberapa hari kemudian bahwa aku berada di sini, memutuskan untuk selesai dari hidup ini di sini, hingga jasadku membusuk dan orang-orang baru akan menyadari itu jikapun ada yang melintas di bagian tenggara taman yang paling sering dijauhi karena terlalu senyap. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menemukan jasadku, tapi apa pun itu aku tak peduli.

Namun, aku tak cukup yakin sudah berhasil ‘menghilangkan’ diri sejak tadi malam, meski kubuang identitas dan jejak yang membuat seisi kota, bahkan kaum gelandangan yang sehari-hari tak ada kesempatan menonton TV atau membaca berita tentang diriku di koran lokal, tak akan menemukanku.

Aku tak yakin tak ada seorang pun yang bertanya-tanya kenapa seorang lelaki tenar macam diriku berkeliaran di taman kota, di bagian yang paling senyap, seorang diri pula? Apa yang membuat lelaki itu berpakaian apa adanya, malah cenderung mendekati gaya gelandangan? Apa juga yang membuatnya menyerahkan rumah terbaiknya ke sejumlah gelandangan?

Para gelandangan itu mungkin sempat bertanya-tanya siapa aku, tapi aku tak ingin menjawab, dan pada akhirnya mereka bakal tahu juga setelah membongkar setiap sudut dari rumahku, lantas menemukan foto-foto, piagam dan piala, potongan berita tentang kisah suksesku, berbagai skandal, dan lain-lain.

Jejak-jejakku masih tertinggal di rumah, dan karena itu, menunda kematian kurasa akan jauh lebih baik ketimbang orang kota menemukan jasadku dan headline hari yang sial itu berbunyi: Ali Mudakir, pengusaha tersukses di Kalodora, ditemukan mati bunuh diri di bagian tersenyap dari taman kota setelah dengan sengaja meninggalkan seluruh hartanya untuk para gelandangan.

Itu bukan sesuatu yang kudamba. Orang-orang yang dulu pernah menjadi keluarga dan temanku pasti akan sangat terganggu.

Aku berharap sebuah kedamaian untuk akhir yang buruk ini. Aku mau tak seorang pun menyadari diriku saat sudah menjadi jasad nanti. Aku harap sebagian besar tubuhku bisa berguna untuk beberapa mahasiswa di sebuah fakultas kedokteran, di dalam ruang praktik di mana jasad-jasad tanpa identitas diotopsi demi ilmu pengetahuan, sekalipun mungkin sebagian diriku akan membusuk.

Maka, sisa hari itu kuhabiskan dengan berjalan lebih jauh, menuju pinggiran Kota Kalodora, menelusuri bagian-bagian sunyi dan kemungkinan jarang dilalui orang paling tidak hingga beberapa hari ke depan. Waktu itu hari sudah cukup gelap dan aku berjalan tak terlalu jauh dari jalan utama, tapi wajahku tetap terlindungi oleh kegelapan sebab di kawasan tersebut, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi.

Pernah dulu terjadi perampokan di area sini. Seorang pegawai salah satu bioskop terbaik di Kalodora ditemukan berbaring melingkar bagai udang di kotak sampah dan mungkin saja saat ini lokasi tersebut tak terlalu jauh dariku. Aku pasti tak salah tebak. Kawasan ini memang sepi. Rumah-rumah kosong dibiarkan telantar, dan hanya dihuni beberapa orang gila dan orang liar yang tak tepat disebut gelandangan, melainkan lebih cocok menyandang gelar para pengganggu keamanan. Konon mereka datang dari kota sebelah yang sebagian besar hancur total karena kerusuhan beberapa tahun lalu, dan kini kehidupan di kota tersebut jauh lebih buruk ketimbang kesialan yang sehari-hari ditelan oleh orang-orang termiskin di Kalodora. Bisa dibayangkan seliar apa orang-orang itu jika turun, beraksi merampok, atau memalak orang-orang di jalanan. Bisa dibayangkan nyawa para mangsa tak bakal ada artinya demi kebahagiaan memiliki uang dan hidup bersenang-senang seminggu ke depan untuk mereka.

Tiba-tiba aku memikirkan gagasan itu; mati sebagai korban perampokan dari kaum liar ini, lalu jasadku dibuang, hingga ‘hilang’ dari dunia paling tidak sampai tiga atau empat minggu ke depan. Apa mungkin?

Namun, para pembegal pastilah memilih siapa yang layak menjadi korban, dan aku jelas bukan korban yang menggiurkan, sebab yang kubawa hanyalah pakaian lusuh yang tadi pagi masih dikenakan salah satu gelandangan yang kini kubiarkan menguasai tiap sudut rumahku.

Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing orang-orang liar itu ke luar sarang. Mungkin kini mereka mengintai dari balik lorong-lorong gelap di antara rumah-rumah yang lama tidak disambangi pemiliknya sebab sebagian besar dari mereka mati dalam kecelakaan di pabrik bir. Para buruh di pabrik itu tewas dalam kebakaran yang dahsyat beberapa tahun lalu dan kini rumah mereka tak ada yang memiliki, kecuali orang-orang gila dan para begal itu.

Mereka mungkin hanya melihatku sebagai orang gila, atau gelandangan biasa yang tersesat, dan tidak cukup menarik untuk digasak. Demi tewas dengan cara seburuk itu, demi mati sebagai mayat tanpa identitas, aku pancing mereka. Dengan keras kukatakan, “Kalian mau uang dan emas? Ayo, keluar dan bunuh saya!”

Tak seorang pun merespons. Tetap sepi dan hanya terdengar bisik-bisik gerutuan di beberapa rumah: orang-orang gila yang terganggu tidurnya. Kembali kuucap tawaran, tapi tak seorang pun muncul.

Mereka baru tergoda setelah kutampakkan wajahku ke bawah sinar lampu jalanan. Mereka tentu tak sepenuhnya tahu siapa aku, tapi wajahku bukan ciri orang-orang yang lama hidup di jalanan. Mereka dengan sabar mendengarkan sejumlah arahan dariku jika nanti sudah menghabisiku dan menyembunyikan mayatku. Kusampaikan mereka bakal menjemput kekayaan di rumah—di alamat yang kutulis untuk mereka. Tentu alamat itu bukan alamat rumahku. Itu tak lebih alamat palsu sebab jika kutunjukkan rumahku, mati yang kualami bukan lagi mati yang rahasia. Bukankah aku mengharapkan berakhir dan tak seorang pun menyadarinya?

“Bagaimana kami yakin kau tidak bohong?” tanya seseorang dari balik kegelapan.

“Apa gunanya saya berbohong, sedang saya benar-benar bosan hidup?”

“Apa buktinya kau memiliki uang dan emas?”

Tanpa berkata-kata, kulempar sesuatu yang lupa kulepaskan sejak pergi dari rumah mewahku: sebuah arloji emas.

Demikianlah, mereka menghabisiku malam itu. Mayatku dibuang ke suatu selokan di pinggir kota, ditemukan dua hari kemudian oleh sopir taksi yang sedang kencing. Tak ada yang perlu dicemaskan tentang alamat palsu itu. Alamat itu tidak lebih dari sebuah tanah kosong di bagian utara kota, tempat dulu, dua puluh tahun lalu, aku bercinta untuk kali pertama dengan kekasihku yang tidak sudi melanjutkan hubungan kami sebab aku tak pernah berharap memiliki anak.

Aku ingat apa yang kekasih itu katakan usai kami bersetubuh malam itu, “Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik. Tak perlu takut memiliki anak.”

Aku hanya menjawab, “Oh, mustahil. Aku tak akan bisa menjadi ayah yang baik.” ***

Gempol, 14 April-15 Desember 2020


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Museum Anomali 2: Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Cerpen Ken Hanggara

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Kinanti menemani malam-malam yang sepi. Bersama Kinanti, saya kembali paham apa kehangatan. Bersama Kinanti, saya merasa surga ada sejengkal di depan. Dia tidak tahu cara menyembah Tuhan, tetapi tidak bisa diajari mengenal-Nya. Jadi, saya ajari dia tentang surga. Dia suka dengan apa yang saya sebut surga, karena surga di rumah saya ada setiap malam.

Surga saya bukan surga Tuhan. Kinanti tidak paham, tapi tidak ada yang dia dapat pahami lebih dari segala yang fisiknya butuhkan sebagai makhluk hidup. Di sini dia bisa makan apa pun dan tidak perlu bayar atau kerja. Dia cukup ada saja di dekat saya setiap malam.

Teman-teman mencela apa yang saya kerjakan. Masa bodoh. Kinanti toh rela. Dia bahagia mendengar bisikan saya tiap kali kami selesai menyusuri surga di kasur. Kinanti bahagia dan merasa hidup sebagai makhluk paling beruntung.

Kinanti senang melolong-lolong, lalu saya katakan kepadanya bahwa kamu bukan serigala, tetapi manusia. Kinanti tak dapat saya cegah. Ia terus melolong-lolong dan ada juga saatnya mengeong jika butuh sesuatu yang sudah mulai kami sebut surga. Kinanti memang tidak bisa bicara, namun ia mengikik geli setiap kali saya bukakan tirai surga dan di sana tertabur bunga-bunga yang membuat kami tenggelam dalam mimpi paling memabukkan.

Kinanti hanya akan marah jika ia lapar dan mulai mengaduk-aduk isi kulkas dan kadang melempari gelas atau piring hingga dapur pun berantakan. Semua pembantu di sini paham Kinanti butuh semua yang membuat fisiknya bahagia, tetapi mereka tidak perlu tahu terlalu banyak binatang yang mendekam dalam kepala gadis itu.

Saya yakin, di kepala Kinanti ada binatang. Ia, binatang aneh itu, yang mengendali tindak tanduknya, berwujud gaib. Memang begitulah kenyataannya. Di kepala manusia paling waras saja kita bisa menemukan binatang tertentu yang bisa berjumlah lebih dari satu. Binatang-binatang pengendali yang membuat pemilik kepala tidak sanggup hidup tanpa perbuatan jujur. Jujur tidak harus selalu bagus. Jujur itu cara agar tidak menderita karena tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat.

Kejujuran Kinanti, sebagai orang sinting, adalah segalanya bagi saya. Dia serahkan sepenuh jiwa kepada saya segala yang dia miliki. Setiap inci tubuhnya dia relakan untuk saya, bahkan andai mampu, nyawa pun barangkali bakalan dia beri. Semua itu karena saya memberinya makan dan surga.

Teman-teman tahu saya kesepian sejak istri saya meninggal empat tahun lalu, dan sejak itu saya tidak pernah menyentuh wanita. Melihat Kinanti di tepi jalan, berbaju apa adanya, menggoda, membuat sisa-sisa kelelakian di tubuh ini kembali menyala dan lalu menuntut balas. Dan saya membalas dengan indah dalam surga yang saya bangun untuk Kinanti.

“Padahal kamu bisa membayar kupu-kupu untuk menghiburmu. Beberapa kupu- kupu untuk semalam, kukira kamu bisa. Tapi kamu tidak melakukan dan aku bersyukur karena ternyata kamu masih sehat,” kata seorang teman.

Saya katakan kepadanya semua itu terjadi karena saya sendiri tidak tahu. Mungkin binatang di kepala saya ketika itu menganggap bahwa ada saatnya surga saya peroleh lewat tangan perempuan tertentu, jadi binatang itu bunuh diri dan jasadnya hilang jadi debu. Ketika Kinanti datang, saya sambut dan saya jadikan dia ratu surga. Di saat yang sama, binatang lain lahir kembali dalam kepala saya.

Kinanti saya dandani seakan ia perempuan normal. Sekali waktu saya ajak ke pesta, tetapi ia tidak bisa menjadi normal. Ia mempermalukan saya. Sejak kejadian itu, sangkar khusus saya bangun untuknya dan Kinanti menikmati hidupnya yang mengenyangkan dalam sangkar, tanpa mengorek-ngorek selokan.

Kinanti tidak melawan dan binatang di kepalanya mulai jinak. Sesekali dia marah dan melolong-lolong seperti biasa, tetapi karena dia tahu saya orang yang memberinya segala yang dia butuhkan, maka mengeong adalah lebih baik.

“Kamu lebih bagus kalau mengeong, dan mengeonglah setiap hari kepadaku,” kata saya.

Kinanti mengeong setiap hari dan membuat saya bahagia. Sebab, jika ia melolong, itu membuat saya tidak terlalu berhasrat. Saya hanya akan ingat pada kematian istri saya yang dirampok oleh lelaki dengan serigala di kepalanya. Saya memang tidak mengenal lelaki biadab itu, namun saya tahu begitu saja bahwa di kepalanya yang bersemayam adalah seekor serigala.

Istri saya memiliki kucing di kepalanya, sedangkan saya adalah ayam jantan. Tidak ada waktu bermesraan bagi saya, tetapi istri saya cukup romantis dan menganggap suatu tanggal bersejarah teramat sayang untuk dilupakan.

Karena di kepala saya si ayam jantan tidak peduli tanggal, dan hanya peduli pada kepuasan surga, istri menganggap saya tidak menyenangkan dan ia pergi. Di jalan, ia mati dirampok lelaki asing. Sejak itu saya percaya, kadang-kadang kita harus mencari tahu dulu binatang macam apa yang mendekam di dalam kepala pacar kita. Itu supaya tidak terjadi penyesalan seperti yang saya alami.

Saya menggiring agar binatang di kepala Kinanti berubah wujud jadi kucing bukan karena ia bisa menjadi istri saya dan melahirkan banyak anak dan mencatat semua hal yang paling sepele; sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuat dia sedikit lebih waras agar tidak melukai saya sewaktu kami bermain-main di surga ini.

Kinanti senang menggigit, seperti serigala, sehingga saya pikir ia bisa saja berbuat hal yang dapat menghilangkan nyawa saya jika dibiarkan begini.

Saya bilang, “Jangan gigit. Nanti aku mati!”

Selalu itu yang saya katakan. Syukurlah, Kinanti paham. Meski gila, ia bisa diajari.

Akhirnya, beginilah kisah ini berlangsung terus menerus selama ribuan tahun dan bukan hanya terkait saya dan Kinanti: bahwa para binatang berpesta pora di kepala para manusia. Semua manusia. Semua manusia yang hidup dan pernah hidup di permukaan bumi yang biru ini. Semua manusia, tak terkecuali.

Dan para manusia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dan seberapa besar dosa telah mereka kumpulkan? Mereka tidak dapat membedakan perbuatan mana yang mereka lakukan oleh pengaruh binatang di kepala mereka dengan perbuatan mana yang benar-benar datang karena keinginan diri mereka sendiri. Kadang-kadang saya pun juga begitu, tapi saya tidak peduli. Surga ada di tangan saya dan kami bermain-main di sana setiap hari.***

Gempol, 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru- Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Cerpen Ken Hanggara

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Barangkali tak ada yang lebih buruk dari itu. Jika sebatas itu yang terjadi, aku juga tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Bahkan boleh jadi aku tidak pulang selamanya dan baru pulang dalam wujud lain di hari kiamat kelak, ke tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau.

Membayangkan itu aku takut. Anehnya punggung dan leherku tidak merasa ada getaran yang aneh. Dulu dan kapan pun sebelum aku berhenti di titik ini, seseorang atau apa pun akan dengan mudah membuat punggung dan leherku berkeringat dalam getaran yang aneh. Rasa takut memunculkan sensasi tak nyaman. Saat ini, sensasi itu hanya ada dalam wujud yang tak dapat kurasakan selain kupikirkan. Segalanya kian buruk, karena aku sadar aku tak dapat kembali ke masa-masa itu.

Aku tak bisa kembali karena menuruti ucapan seseorang suatu sore di suatu telepon: “Datang ke bawah jembatan. Jam delapan.”

Aku takut terseret ke pengadilan, yang pasti merepotkan bisnis dan keluargaku. Aku datang dan berharap sebuah penyelesaian ditemukan. Kuharap sejumlah uang dapat membuat orang-orang itu membiarkanku pergi. Tetapi, aku dibawa pergi dengan mobil dan kemudian berakhir di tempat ini.

Di sini tidak ada toko atau lalu lalang manusia. Tidak ada rumah makan atau toilet umum atau tempat semacam kios service televisi yang berdiri selama tiga dekade di pojok pertigaan dekat rumahku, yang tak lagi disambangi orang sebab pada saat ini pemilik kios itu pikun dan tinggal sebatang kara tanpa anak istri yang dengan sengaja mencampakkan dirinya. Aku dengar sedikit cerita soal pria tua itu dari beberapa orang di lingkungan rumahku dan aku merasa betapa kasihan dia. Sekarang aku mengasihani diriku sendiri.

Apa yang terjadi padaku tidak lebih baik dari yang dialami pria tua penyepi itu. Dulu aku sering membayangkan, jika tidak sengaja melintasi kios service televisi itu, soal betapa mendungnya pikiran si pria tua atau betapa kosongnya dada yang lama tak ada kehidupan bersama keluarga. Aku curiga orang itu diam-diam memiliki rencana bunuh diri suatu hari nanti, tapi karena belum menemukan cara yang tepat agar dia tidak ditertawakan anak-istri yang membencinya setengah mati, sampai detik di hari terakhir aku melihatnya, dia masih terlihat bernapas walau sorot matanya terlihat sangat lelah.

Apa detik ini sorot mataku pun begitu?

Apa pada suatu hari, jika benar datang seekor anjing yang dapat mengendus datang bersama seorang lelaki atau perempuan waras, maka kedua makhluk itu berpikir sama, yakni tentang sorot mataku?

Aku tak bisa memastikan mataku bersih dari kotoran pada detik ketika orang-orang itu meninggalkanku di sini.

Semua terasa dingin. Tak ada apa-apa. Aku tak bisa pastikan apa keluargaku baik- baik saja. Apa mereka juga berakhir seperti ini, di tempat yang jauh dari sini?

Aku menangis tanpa air mata. Hatiku sakit, tapi jantungku bagaikan pria penyepi itu, di tempat service televisi yang bobrok dan terlihat membatu dan menguarkan aura yang membuat waktu seakan berhenti bekerja pada radius beberapa meter. Aku merasa segala sesuatu di sekitarku membeku dalam waktu yang mendadak henti. Barangkali sama persis seperti situasi ketika nuklir menyebabkan dua kota di Jepang di masa Perang Dunia Kedua hancur lebur; segalanya mendadak terasa membatu dan mati dan tertinggalkan waktu. Apa benar? Apa benar setiap bom yang meledak akan menyisakan sensasi aneh yang membuat kita seolah-olah tidak lagi dipedulikan waktu?

Aku tak tahu rasanya dibom. Mereka tak memasangi tubuhku dengan bom, tetapi kini tiba-tiba aku teringat dengan korban jiwa di berbagai tempat yang mati karena dibom. Aku pikir, “Barangkali panas.”

Aku tak pernah serius memikirkan itu. Aku hanya memikirkan hidupku membaik jika tiap usaha kulakukan untuk memajukan bisnisku. Aku ingin merajai bidang yang kugeluti, tapi suatu hari, mau tidak mau, kuperbuat sesuatu yang merugikan seseorang. Seseorang itu yang kemudian datang menuntut balas atas kematian seseorang akibat ambisiku.

Aku kepanasan karena dengan bodoh menemui orang-orang tersebut di lokasi yang disepakati. Aku kepanasan hingga tidak lagi merasakan batas antara hidup dan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi berada di bawah jembatan. Aku digiring orang-orang berbadan besar ke tempat rahasia, setelah dua mataku ditutup dan dibawa menumpang mobil kira-kira tiga puluh menit.

Mataku terbuka ketika rasa panas itu menjalar ke kulit di hampir tiap bagian tubuhku. Yang dapat kutatap hanya lorong hitam di kiri ruangan dan bohlam tua di atas kepalaku. Wajah-wajah eksekutorku tak benar-benar kuperhatikan dan lagi pula mereka tak terlihat jelas. Aku berharap ini segera berakhir. Aku tidak tahan dan pingsan, dan orang-orang gila itu berhenti, lalu membawaku sekali lagi dan menurunkanku ke sini.

Barangkali seperti ini rasanya orang kehilangan segala-galanya, namun tidak diberi daya dan upaya oleh langit untuk berbuat. Begitu sakit. Aku tidak mampu menemukan apa pun selain tubuh yang tidak lagi berdaya dan waktu yang seakan-akan hengkang dari sisiku. Seakan-akan aku hidup dengan cara yang lain, karena dijauhi oleh waktu.

Aku merasa hidup sebagai sesuatu yang lain. Saat sadar aku tak dapat mengubahnya dan hanya bisa membayangkan sialnya nasibku yang kini jauh lebih sial ketimbang pemilik kios service televisi busuk itu, aku tahu aku hanya bisa berharap tentang anjing yang dapat mengendus dan seseorang yang waras pergi bersamanya.

Aku tidak tahu sampai kapan. Barangkali itu terjadi dalam waktu dekat dan si anjing akan panik tidak keruan begitu melintasi jalanan yang tak jauh dari bangunan bobrok ini. Barangkali itu besok atau nanti jam sepuluh malam. Aku bisa membayangkan itu terjadi seminggu setelah pikiran-pikiran ini terbit atau bahkan lebih lama dari itu.

Apa pun itu, aku harap siapa pun akhirnya akan menemukanku dan membawaku pulang dengan cara yang mereka mampu dan itu terjadi sebelum terlambat. Sebelum tubuh yang sejak dua hari lalu mati ini menjadi tulang belulang.***

Gempol, 25 Juli 2018 – 28 Oktober 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Berakhirnya Kuasa Tuan Tanah

Cerpen Ken Hanggara

Tuan Markoni memberiku segenggam tanah untuk kubawa pulang. Orang-orang di teras rumah mewah itu menatapku gembira. Aku tak bisa berkata apa-apa. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan terlalu banyak lelaki bertubuh kekar berdiri mengawal tuan tanah keparat itu. Akhirnya, aku mundur. Pulang, meski jelas semua tahu entah ke mana aku bisa pulang. Satu-satunya yang terlintas di benakku adalah rumah Sapono.

Rumah itu terletak di tepi desa, dekat sebuah hutan dan jurang yang semenjak dulu dikabarkan sebagai titik terkutuk; iblis dan sekutunya kerap bercengkerama di jurang itu. Tidak sedikit orang mencari harta dan kuasa di bagian tergelapnya. Entah sejak zaman apa jurang dan hutan itu dianggap keramat dan entah berapa banyak orang yang sudah membuktikan. Orang-orang desa sendiri tak tahu. Mereka hanya berkata, “Sapono yang tahu tentang itu.”

Aku sendiri mengenal Sapono sejak masih kecil. Setahuku, dari dulu hingga kini dia tampak seperti itu-itu saja. Tahun demi tahun menggiringku ke kedewasaan. Wajah Sapono tetap sama seperti saat aku pertama kali melihatnya.

Tidak ada orang yang dekat dengan Sapono. Orang kerap bercerita yang aneh-aneh tentangnya, meski tidak ada bukti. Seperti tentang keluarga yang dia miliki, yang hilang tidak tentu rimbanya di hutan tersebut karena sebuah ritual sesat, namun tidak pernah ada usaha dari Sapono untuk mencari mereka. Versi lain mengatakan, dia menjadikan anak istrinya tumbal agar bisa hidup abadi. Tuduhan ini agak lebih mendekati masuk akal. Pasalnya, seperti yang sudah kubilang, wajah Sapono seakan terkurung oleh waktu; tak berubah bahkan mungkin hingga kiamat tiba nanti.

Jika kini seseorang memotretku dan Sapono yang sedang duduk berdua, barangkali siapa pun yang melihat hasil potretnya akan menganggap kami seumuran. Tentu saja dia jauh lebih tua dariku. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah istrinya dan juga tak pernah memiliki kenangan apa pun tentang seorang Sapono yang berkeluarga. Bagiku dan teman-teman sepantaranku, sedari dulu Sapono sudah terkenal sebagai lelaki tidak waras yang penyendiri.

Dulu, aku dan teman-teman suka menjadikan Sapono bahan ledekan, sebab mengira dia gila. Tapi, kami tak melakukannya di depan yang bersangkutan. Kami akan bersikap sopan dan tenang saat Sapono sang pendiam melintas, lalu menjadikannya bahan-bahan cerita humor yang kami buat sendiri begitu dia sudah sampai di jarak yang kiranya tidak bakal bisa mendengar ledekan kami. Jujur saja kisah-kisah kami tentang Sapono sangat keterlaluan, sehingga ketika usia kami sudah cukup disebut remaja, aku merasa sangat berdosa padanya, dan berhenti melakukan itu, meski sebagian teman masih saja gemar meledek Sapono di belakang.

Sayangnya, perjalanan hidup yang tak mulus membuatku jarang lagi bisa bersama teman-teman. Waktu itu orangtuaku tak bisa berbuat apa-apa selain berutang ke seorang tuan tanah sekaligus lintah darat, Tuan Markoni, untuk menumpas penyakit aneh yang menggerogoti Ibu. Itu terjadi dua puluh tahun lalu. Ibu tidak sembuh. Dokter jelas tak bisa mencoba usaha lain karena tidak ada lagi yang bisa dipinjam dengan catatan utang dan bunga yang terlalu menumpuk. Ayahku, meninggal dalam lelah dan putus asa.

Suatu ketika, saat tiap anak lelaki berlomba-lomba mencari perempuan, aku malah bekerja susah payah dari pagi hingga larut malam di pabrik pengolahan limbah milik Tuan Markoni. Gajiku sebagian besar dipotong guna mencicil utang pembiayaan ibuku dulu, sedangkan sedikit sisanya kupakai untuk makan seadanya. Dalam situasi semacam itulah, kedekatanku dengan Sapono mulai terjadi.

Awalnya, aku menangis sendiri di tepi hutan dengan pikiran-pikiran akan mengajak iblis bersekutu demi memberiku kekayaan. Bagaimana tidak? Aku sudah buntu akal. Di tahun ke tujuh belas semenjak aku mengabdi pada tuan tanah itu, utang-utang kami tak juga dianggap lunas, padahal menurut hitunganku, utang kami sudah lunas sejak lima tahun lalu. Bunga yang terlalu gila dan tak masuk akal, yang terus berkembang dengan sesuka perut sang tuan tanah, menjadikanku tidak henti diperdaya, entah sampai kapan. Demi melihat teman-temanku telah menata hidup mereka, sedang aku sendiri entah tak ada yang tahu akan berakhir seperti apa, ingin rasanya aku bersekutu dengan iblis dan lepas dari jerat lintah darat itu.

Aku belum benar-benar memasuki bagian tergelap jurang dan hutan ketika Sapono tiba-tiba menyapa dan mengajakku pulang ke rumahnya. Entah bagaimana dia mengerti perutku lapar. Dia menyuruhku makan sampai tidak mampu lagi menelan makanan. Dia bahkan memberiku uang untuk bekal sepekan ke depan.

Aku tidak tahu cara membalas kebaikan orang, karena sepanjang hidupku tidak ada orang yang benar-benar berbuat baik padaku, kecuali Sapono. Maka, sering kali, di saat lelah dan tak ada pekerjaan di pabrik, aku pergi ke rumahnya. Sekadar menemani lelaki itu memandangi pepohonan liar dari belakang rumahnya. Kadang, kami duduk di depan televisi butut yang tak bisa lagi dinyalakan dan berbicara sepatah dua patah kata tentang hal-hal di luar sana; tentang perkotaan, tentang manusia modern, tentang politik, tentang apa pun. Tapi, tak pernah membahas diri kami sendiri. Karena itulah, meski mulai dekat dengan Sapono, aku belum juga tahu kebenaran tentang dia. Aku pun juga tak kepikiran untuk bertanya padanya.

Suatu saat, Sapono bertanya, “Kamu percaya yang orang bilang tentangku?”

Aku tak bisa menjawab, namun dia memberikan sedikit gambaran bahwa yang tiap orang sampaikan di luar sana tak sepenuhnya benar. Sapono tak memberikan penjelasan secara mendetail, tapi aku pernah melihat boneka berdebu di sudut ruang tengahnya. Di dapur aku juga pernah melihat celana dalam wanita dewasa yang sudah sangat kumal, yang dialih-fungsikan menjadi kain pel. Dengan pemandangan macam itu, kuasumsikan jika dulu Sapono benar pernah berkeluarga dan memang betul keluarganya kini tak lagi hidup bersamanya; entah apa yang terjadi, aku tak pernah ingin bertanya.

Suatu kali yang lain, Sapono bertanya, “Kamu ingin menjadi kaya?”

Tentu kujawab, “Ya, agar dominasi Markoni berhenti sesegera mungkin!”

Kukatakan padanya kalau selama ini Tuan Markoni memang sengaja memperdaya diriku (dan beberapa orang malang lainnya, kukira) agar bisa memberinya pundi-pundi uang selagi dia terus memeras uang dari siapa pun yang berutang padanya. Bahkan ada pula rumor yang mengatakan, selain memiliki pabrik biasa, dia juga mengatur judi-judi tertentu di tempat paling strategis di kota, sehingga bisa dibilang dialah orang terkaya di desa sekaligus paling berkuasa, meski tidak memiliki jabatan apa pun. Kepala desa pun kabarnya tunduk pada telunjuk Tuan Markoni.

Demi mendengar celotehku, Sapono cuma tersenyum dan, untuk pertama kalinya, dia mulai menyinggung tentang jurang dan hutan itu. Aku mendengar seluruh detail di obrolan kami kali ini. Aku menyimpan seluruh bagiannya, bahkan yang paling sepele. Sepulang dari obrolan yang kurasa sangat mendebarkan itu, aku terpikir untuk melawan. Tidakkah tujuh belas tahun cukup membuat seorang pemuda merasa muak?

“Kutunggu di sini,” ucap Sapono sebelum aku pergi saat itu.

Aku kembali lima hari kemudian. Sapono menatap hampa begitu segenggam tanah pemberian Tuan Markoni kucampakkan ke halaman rumahnya. Itulah hasil perjuangan untuk seluruh hartaku yang tersisa di dunia ini. Rumah beserta isinya, disita oleh tuan tanah itu lantaran ucapanku yang mulai menolak untuk mencicil utang yang seharusnya sudah lama kulunasi. Aku mengomel panjang lebar, tetapi Sapono tidak berkata apa-apa selain hanya tampak seakan sedang menunggu sesuatu.

Selepas omelanku kelar, Sapono bersuara, “Bagaimana?”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar tanpa keraguan. Aku bahkan yakin meski di sisiku tak ada Sapono, aku pasti bisa menelusuri sudut-sudut hutan dan jurang, untuk mencari bagian tergelap yang kabarnya hanya bisa ditemukan oleh mereka yang sedang beruntung. Penanda bagian tergelap itu, konon, adalah sebuah prasasti berupa batu nisan yang menancap tepat di dekat pohon kersen.

Sapono, dengan tubuhnya yang tampak kurus, begitu mudah menerabas tumbuhan liar dan semak belukar yang menghalangi, sementara aku kesulitan di beberapa bagian hingga suatu ketika aku tertinggal cukup jauh darinya. Pada satu titik, lelaki itu berhenti di depan sebatang pohon. Aku tahu di situlah bagian tergelap yang telah lama menjadi dongeng dan legenda di desa kami.

“Tidak ada yang dapat mencapai titik ini, kecuali aku. Dulu hingga beberapa menit yang lalu, hanya aku. Sekarang kita berdua di sini. Apa yang kamu minta?”

Aku tak bisa berkata-kata. Aku membayangkan banyak hal. Aku tak bisa mencoba memikirkan uang. Aku juga tak boleh memikirkan wanita secantik bidadari yang sedari lama kudamba. Aku hanya diperkenankan memikirkan wujud binatang liar. Sementara aku membayangkan kematian terburuk macam mana yang pantas bagi seorang rentenir, aku tahu pada saat itu pula Sapono tampak menatapku penuh dengan hasrat yang seakan lama dia tahan. Setelah wujud binatang itu kuputuskan, yakni seekor buaya, Sapono tak lagi bisa menahan hasratnya dan berkata, “Ini saatnya kuwariskan ilmuku. Menikahlah suatu hari nanti dan jangan berhenti hanya padamu.”

Kami pun memeluk batu prasasti itu. Mantra-mantra mengapung pada udara jurang yang pekat dan gelap. Tubuhku terasa dingin dan kaku, tapi kemudian segalanya terasa sangat aneh. Aku merasa tubuhku bebas dari seluruh penyakit. Aku merasa tersucikan, tapi Sapono mendadak terlihat sangat renta.

“Pergilah, Nak, pergilah,” demikianlah ucap lelaki tua itu. “Bereskan tuan tanah itu dulu sebelum membantuku pulang.”

Aku berlari sederas yang kubisa. Aku berlari dan berlari dan mendapati sisik demi sisik bertumbuhan pada permukaan kulitku. Aku tersandung dan jatuh, tapi dapat terus berlari dengan dua tangan dan dua kaki, tapi kemudian tanganku tak lagi terlihat seperti tangan. Seluruh bajuku robek dan kini aku melesat liar ke rumah musuhku dalam wujud lainku. ***

Gempol, 27 Mei 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Cerpen

JANE

Cerpen Ken Hanggara

Aku ingin tenggelam dan hilang selamanya di sebuah kolam atau danau atau apa pun itu. Kubayangkan tubuhku mengecil tanpa ada yang tahu, lalu dengan segenap ilmu sihir, seseorang mengubahku menjadi seukuran semut. Tidakkah itu menakjubkan?

Kalau aku benar-benar menjadi sekecil semut, aku harap bisa tenggelam dan hilang selamanya karena malu. Aku tidak sanggup menatap wajah Jane. Pacar terbaikku sejauh ini dia, tapi karena kesalahan yang kulakukan, dia layak mendapat yang lebih baik.

“Aku tidak peduli walau kamu orang paling dibenci di dunia ini atau orang yang paling berpenyakit. Selama kita bisa bersama, aku tetap di sini!” katanya.

Jane sangat mencintaiku dan kurasa aku tidak bisa mengubah perasaan itu semudah orang-orang membongkar kebusukan masa laluku. Dulu aku sangat amoral dan saat ada kesempatan untuk memperbaiki diri, aku berkenalan dengannya. Ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Aku dan Jane berpapasan di lorong mini market, seperti dalam adegan- adegan klise murahan kegemaran remaja kebanyakan. Saat itu kami sama-sama butuh pembasmi serangga yang kebetulan tinggal sebotol di sebuah rak.

“Buatmu saja,” kataku ketika itu. “Perempuan lebih butuh. Serangga mengganggu perempuan, sedang lelaki bisa mengatasi itu tanpa pembasmi.”

“Kamu dulu yang dapat dan tidak sengaja kurebut botolnya darimu. Jadi, kamulah yang berhak,” sahutnya.

Karena kami terus menerus berdebat, sedangkan seorang pramuniaga tidak berdaya oleh karena habisnya stok pembasmi serangga tersebut, pada akhirnya kami berjalan ke kasir dengan membawa barang belanjaan masing-masing dan memutuskan untuk bicara soal siapa yang lebih berhak membawa pulang benda tadi di tempat parkir.

Aku tidak tahu bagaimana perkenalan dengan cara seaneh ini terjadi. Yang kutahu, saat itu, semua terjadi begitu saja. Mengalir seperti air dan aliran itu terasa menyegarkan, karena sejauh yang aku tahu, aku tidak pernah merasakan getaran tertentu di dada saat bicara dengan perempuan mana pun, kecuali kali itu.

Jane orang pertama yang menggugah hatiku. Dia cinta pertama. Saat dia datang tepat di pintu gerbang kesadaranku atas dosa-dosa masa lalu, aku mengira, “Barangkali ini yang Tuhan maksud. Barangkali aku dilahirkan untuk berbuat jahat sementara waktu, sebelum jatuh cinta kepada gadis ini dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

Kubayangkan itulah yang terjadi. Takdir bagus yang kudapat bukan tanpa tujuan. Mungkin Tuhan membuatnya begitu agar aku dapat berbagi kisah menakjubkan suatu hari nanti ke telinga banyak orang. Sayangnya, khayalan itu tidak nyata. Orang-orang dari masa laluku datang dan mengejarku atas bekas-bekas dosa yang dulu kukerjakan. Mereka menuntut balas, meski penjara sudah mengurangi banyak waktuku.

Balasan itu, tentu saja, kematianku. Tapi, polisi tak tinggal diam. Orang-orang lain yang juga punya masalah denganku di masa lalu, sebagian tak ingin aku tewas dihakimi pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang menjebloskanku ke jeruji besi selama belasan tahun. Meski kemungkinanku tidak mati dihakimi itu besar, keberadaan orang-orang itu membuat Jane membaca segala yang sejauh ini aku sembunyikan.

“Penjahat itu sebaiknya dikirim ke neraka!”

“Tidak pantas diberi kesempatan!”

Dengarlah suara-suara itu. Hampir setiap hari teror bingkisan berisi bangkai tikus, lemparan batu ke jendela kamarku, membuatku tidak lagi bisa menutup-nutupi ini dari Jane.

Ketika akhirnya gadis itu tahu masa laluku, aku merasa malu. Sejak kami kenalan, kesan baik selalu kubuat agar dia percaya aku lelaki serius yang tepat untuk dia jadikan pendamping hidup. Setelah kebusukan dari masa laluku terkuak, aku merasa tak pantas berdiri di sisinya Alangkah baiknya aku tenggelam di suatu tempat yang dalam dan tak terlacak, lalu hilang selamanya.

Hanya saja, Jane pikir masa lalu adalah lembaran yang sudah tertutup dan tak dapat dibuka untuk diisi ulang dengan tindakan-tindakan baru. Ia tahu semua yang kulalui saat itu telah lama berlalu.

“Kini saatnya bertindak untuk lembaran yang sama sekali kosong,” tutupnya, sama seperti saat kami berdebat soal siapa yang membawa pulang sebotol pembasmi serangga setahun lalu.

Jane menutup perdebatan tentang apakah aku harus pergi sejauh yang kubisa atau tetap menjalani hidupku bersamanya. Demi menjauh dari orang-orang yang dahulu anak mereka kusakiti hanya demi sedikit uang, hingga sebagian di antara mereka mendapat trauma, Jane mengajakku pindah ke luar kota.

“Kita hidup di sana. Ada rumah peninggalan almarhumah Tante. Beliau tak pernah menikah dan tentunya tak punya anak. Saat kecil, aku sering dititipkan Mama ke sana,” jelas Jane ketika mengemasi barang-barangku ke dalam koper.

Aku tidak dapat menjawab dan membisu.

“Ayolah,” lanjutnya, “jangan dipikir aku bakal mengubah pandanganku soal dirimu hanya karena masa lalumu! Bagiku kamu tetap sama. Kamu adalah kamu yang kukenal. Kecuali kamu belum benar-benar berubah.”

“Aku sudah berubah! Tidak sama seperti dulu!”

Jane memeluk dan mengecup keningku. Ia memelukku bagai sosok ibu memeluk anak remajanya yang bertubuh besar. Gadisku ini sangat kurus dan terbilang pendek jika dibandingkan denganku yang jangkung.

Saat momen pelukan ini berlangsung, aku rasa kehangatan sekaligus getaran aneh di dada, dan di kepalaku, semut yang kuharapkan hilang ditelan limpahan air di suatu kolam, selokan, atau waduk, kini berenang-renang menepi. Kubayangkan semut malang itu menjemur diri di tengah terik matahari, persis di tepian genangan air yang baru saja nyaris membunuhnya.

Itu bukan semut. Itulah aku, dalam ukuran kecilku setelah disihir oleh seseorang. Dan makhluk kecil itu membesar seiring waktu. Kembali ke ukuran normal untuk terus melanjutkan hidup.

Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih pada Jane-ku. Penerimaannya pada masa laluku, juga cintanya, membuatku bersyukur pernah secara sadar membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan: pembasmi serangga. Kalau saja dulu aku tak pergi membeli itu, kami tidak akan ketemu dan entah bakal berakhir dengan cara apa diriku kelak. [ ]

Gempol, 2017-2019

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI