Katalog

Puisi

Puisi Ethex

Jarak Cinta

jauh dekat menciptakan suasana
yang menimbulkan sebuah rasa

bila dekat—apalagi tak berjarak
apa yang terjadi dan menyeruak

bila jauh—apalagi terpisah ruang dan waktu
apa yang terjadi dan terasa

jarak cinta
jauh dekatnya
menimbulkan rasa

bila jauh—rindu mendera

bila dekat—ahahah bergelora

desember 2019


Tak Sekali Saja

entah ke berapa, -tak sekali saja
kau menebarkan angin
daun-daun terkesima

aku tak pernah menduga
kau pandai bersilat lidah
di mana-mana

dan tak sedikit juga
anginmu jadi luka

kemarin kau berkata -ah
hari ini -ih
esok

tak sekali saja
kau mengelabui diri sendiri
bersembunyi di balik kata

dari kenyataan yang ada

desember 2019


Liburan

Ke mana memanjakan diri dan pikiran
bebas dari rutinitas keseharian
mumpung liburan

Kalau aku tak ke mana pergi
aku tak kenal liburan
rutinitas terus silih berganti
tak ada kata, liburan

Ke mana pun pergi
:walaupun liburan
tetap memulung diksi
di mana kaki berjalan

Liburan, bagi pegawai
saat yang paling dinanti
menghabiskan gajian
pergi ke wisata hibur diri

Sedangkan, liburan
:bagiku sebuah tantangan
bagaimana gaji bulanan
tak hanya dibuat dolan

2019


Sajak Sejak Ada Aplikasi

Sejak ada aplikasi
segala data di aplikasi
disingkronisasi

Sementara kemampuan diri
pada umumnya masih tradisi
belum paham apa itu aplikasi

Apalagi yang online segala
yang menuntut koneksi kuota
fitur yang di-klik pun beraneka
saling terkait dan langsung tersambung
siapa yang tak kerja langsung bisa
diketahui kinerjanya

Perubahan yang ada—tentu saja
ada suka dan duka
yang menimpa
bagi yang paham -enak saja
bagi yang tak paham -apa rasanya

2019


Puisi dari Statusmu

Kata-katamu memang indah
tersusun rapi tak tumpah ruah
penuh makna berisi segala
aku terlena

Sebuah umpama, kau umpamakan
hidup tanpa kesusahan

Membaca statusmu
aku terbawa
antara percaya
tak percaya

Semua orang bisa berkata
semua orang bisa menulis juga
tapi tak semua orang bisa
sesuai apa yang dikata

2019


Apa Tidak Salah Kita

Detak detik malam pergantian tahun

-apa tidak salah kita
Bersuka ria, gembira bersama
saling ke tempat ramai segala
tanpa sadar sebenarnya
waktu kita terkurangi

Apa tidak salah kita
setiap pergantian tahun tiba
pada saling hura-hura
serasa lupa sebenarnya
usia tidak bertambah muda
sisa waktu yang ada
semakin berkurang juga

Apa tidak salah kita
menyambut tahun baru
lupa bila pergantian tahun itu
mengurangi waktu kita

Desember 2019


Akar Cinta

akar cintaku -akar tunjang
yang menancap kuat ke dalam bumi
biarpun angin puting beliung menerpa
cintaku tak akan tercerabut begitu saja

akar cintaku -bukan akar serabut
yang mudah tercerabut

akar cintaku -mengakar

setiap hari -setiap waktu
setiap ruang dan waktu
dan setiap gerak langkahku
akarku cinta -tanpa membedakan

siapa yang aku cinta

1 Januari 2020


Catatan Tahun Terakhir

ada yang terserak
tak tampak
tak tersimak
luput dari jejak

ada yang terserak
begitu tampak
jadi sebuah jejak
yang jamak

sementara angin gelombang
selalu mengajak berdentang
sebisanya aku buat catatan
biar setiap angin dan gelombang
tak hanya lewat tanpa catatan

baik buruknya catatan
dalam tahun berjalan
orang lain yang menentukan

baik buruknya catatan

akhir 2019


Suatu Malam Lewat Kotamu

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap benderang
di pinggir jalan remang-remang
beberapa kaki mengendap-endap

malam lewat kotamu
kau terlelap bercumbu
lewat jendela bus melaju
aku menangkap bayanganmu
mengeluh menahan sesuatu

bus melaju menembus malam
menempuh ruang dan waktu
tatkala lewat kotamu
ada sesuatu sapa ingatanku

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap lenyap
bahkan jadi remang-remang
tempat binatang nakal

malam lewat kotamu
ada sesuatu yang menegurku
yang membuat aku

tak bisa melupakanmu

malam tahun baru 2020


Tersandung Cinta

ups, asem
mataku menubruk
langkahku terkantuk
pada sebuah wajah dan senyum

di taman sebuah kota
hari senja, kaki langit barat merah jingga
ingin hati menikmati suasana
kota kali pertama kusapa

di bangku beton duduk sendirian
di antara tanaman kembang
senyumnya mengembang
langkahku tertahan

ups, asem -gumamku
ada rasa debar sesuatu
:kayaknya kita pernah ketemu
tanpa babibu -aku duduk di sampingnya
dan meluncurlah kata-kata
yang membuka dialog senja hari

di taman kota

2020


Ethex, lahir dan dibesarkan di telatah Mojopahit (Mojokerto), karyanya berupa puisi, cerpen dan esai sudah dimuat di beberapa media massa, antara lain di Suara Karya, Republika, Sastra Sumbar, Media Indonesia dan lain-lain. Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antologi puisi, antara lain di Temu Sastrawan di Medan, Temu Sastrawan di Kediri. Temu Sastrawan di Malaysia, Dari Sragen Memnadang Indonesia (2012), Malsasa (2013), Poetry2 Flows Into The Sink Into The Getter (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid, I, II, IV, V), Memo Presiden (2015), Temanten Langgit (2015), Tifa Nusantara (2014 dan 2015), Solo Dalam Puisi (2014), Lumbung Puisi (2015), Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Festival Bangkalan (2017), Ruang Tak Lagi Ruang (2017),  Kesaksian Tiang Listrik (2018), Negeri Bahari (Negeri Poci 2018), Jejak Sajak Batu Runcing (2018), Sabda Alam (2019), Zamrud Khatulistiwa (2019), Membaca Hijan di Bulan Purnama (Tembi, 2019)  dan lain-lain. Juga dalam Antologi “Bersetubuh Dengan Waktu” (2014), “Dari Cinta Ke Negara” (2015), “Rasa Ku Rasa” (2016) dan Kumpulan Cerpen “Sepeda Pancal” (2016), “Gapura Menapak Jejak Mojopahit” (2018), “Pemulung Diksi” (2019). Bekerja di UPT Dinas Pendidikan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto, dan  Dosen di Institut Agama Islam Uluwiyah. Aktif di Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, sebagai Wakil Ketua, dan Penggiat Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK).Alamat: Jln. S. Parman 18 Modopuro-Mojosari-Mojokerto 61382 Jawa Timur

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Puisi

Puisi LY. Misnoto

Silsilah Cinta

ketika hati lama mati,

suara rasa terkirim pada kegelapan

setelah kenyataan tak senyata senyummu

ketika pertemuan terlapangkan,

sepi dari tangis dan rasa rindu

semisal lilin yang menyala dalam ruangan

ketika fajar menemuimu di halaman,

rumput-rumput ramai

menyuarakan sisa-sisa bahagia

ketika cinta bertemu tuannya,

harapan sunyi dari derai ilalang

tumbuh di taman kenangan yang gersang

ketika rumah tak beratap,

sisa-sisa namamu tak lagi dinaungi

apalagi hati yang dulu bahagia

selaksa hikayat anak-anak di masa kecil

mendengarkan dendangan hati kita

masih kuwiridkan senyummu

ketika purnama menemukan istri,

sejuk terlewatkan di antara jalan sunyi

pada kesetiaan yang menanti rindu

ketika aku diperjumpakan denganmu,

dalam kesanggupan untuk berikrar

kembali merangkai riwayat cinta

Malang, 2019


Silsilah Perasaan

Siti,

perjalanan ini tak lebih dari rindu

sementara hati mengharap bahagia

setelah zaman melahirkan luka

dari rahim yang disetubuhi waktu

antara bingkai jarak di wajahmu

Siti,

tubuh terengah-engah hampir pasrah

sementara otak masih ditumbuhi senyuman

ketika parasmu menjadi benih cinta

acap kali digarap dengan rasa sayang

pelaksanaannya tersesat di antara hati kita

Siti,

tentang ketulusan dalam setia

telah tertakar bersama perasaan

sekalipun tak akan ada kenangan

setelah semuanya terangkum ikatan

akan utuh di hati sebelum mati

Malang, 2019


Akulah

akulah rindu,

dalam seduhan secangkir kopi

saat segalanya menjadi asap kematian

selepas tertinggal pada jarak

dan kesanggupan kumenghirup

akulah rasa,

dalam makanan yang terhidang

saat segalanya menjadi irisan kehidupan

selepas berlabuh dalam luka

akulah puisi,

dalam setiap buku harian

saat rindu dan rasa memilih tiada

selepas ramalan luka perawan

menghancurkan hati di sepanjang air mata

yang terlanjur melupakan sabda cinta

Malang, 2019


Pertanyaan Berakhir di Ingatan

kenapa harus cemas malam ini?

mungkinkah pekerjaan tadi siang

atau barangkali bingung untuk memulai?

perbedaan adalah variasi

sebelum membahagiakan diri sendiri

tanpa harus memikirkan kami

yang tak sudi mencari jawaban

mengapa kau melakukan berkali-kali,

masih belum puas dengan kuasa di kening?

semakin merajam kecemasan

pada tubuh mereka yang membatu

di punggungnya tersimpan pertanyaan

tentang kebangkitan dan kematian

mungkinkah esok hari

mereka menyelesaikan pertanyaan?

kenapa seakan mereka tak kuasa

ketika kau berlari mengejar arah

di tubuh mereka yang tidak tahu?

masih tetap sama di jarak waktu

jawaban hanyalah harapan

selepas mereka mati tanpa kerangka

meski berkali-kali datang

pertanyaan-pertanyaan resah

yang setia redup dalam ingatan

Malang, 2019


Aku tak Tidur Malam Ini

aku tak tidur malam ini

masih menulis air mata luka

menjadi puisi dan mantra

yang gemar dibacakan untuk kekasih

atau dihantarkan melalui angin roh jiwa

seperti persemadian waktu

yang membutuhkan tumbal hati

yang memerlukan meditasi rindu

dalam cinta tertata

lalu tidurlah aku di wajahmu

aku tak tidur malam ini

membaca segala yang dilihat

dalam segenap rindu

bersama sebuah perjalanan waktu

yang terkadang selalu diburu

mencari wajahmu setelah membuka pintu

aku tak tidur malam ini

masih bersama wajahmu

yang terkadang menjadi halimun

aku tak tidur malam ini

teman-temanku memberikan secangkir kopi

menjauhkan rasa dalam diri

seakan wajahmu terlelap di hangatnya

ketika purnama memulaskan diri

Malang, 2019


Tak Ada Hari Libur

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah keluar dari kalender

menyusul kepergian Bapa

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah menjauh dari cetakan merah

menutup segala kesenangan anak sekolah

dari segenap pelipur perjalanan

yang kerap dicekoki tanggal hitam

Siti,

hari ini tak ada hari libur

biar tak selalu bergegas para pekerja

merapikan segala arah bertampak kertas

yang lusuh menjadi kenangan

yang rapi dilampui warna mahkota

disimpan dalam pecahan sunyi

Siti,

hari libur tak akan ada

ia telah abadi

di suatu tempat nan sunyi

di perkampungan tak berpenghuni

dan tak akan ada caci maki

Malang, 2019


Berhentilah

berhentilah menangis, Siti, berhentilah

kau sudah sampai pada puncak sunyi

bertamulah pada bulan

ada suguhan cahaya di sana

mintalah untuk kaubawa pulang

dan berikan pada masa lalu

berhentilah menyesal, Siti, berhentilah

akan ada puisi untuk kaubaca

menjadikannya obat sakit kepala

hilanglah mantra-mantra masa lalu

berhentilah tidur, Siti, berhentilah

malam ini akan datang purnama

jemputlah ia sebelum pagi

suguhkan rindu di meja tamu

Malang, 2019


Doa di Suatu Pagi

sebelum mata mulai berkerja

matahari belum melampui dedaunan

bising belum berdendang

biasanya selalu menyangkut di telinga

di kening masih terpancar kerut cahaya

melampaui sederet sajadah

dalam segala renung yang ditinggalkan

dan terkadang disimpan di dada

maka biarkan dedaunan mengembus angin

di kerut kening yang diwarnai luka

agar nanti, sebait doa yang kita eja

terbang menemui tuannya

lalu kita menerka yang akan terjadi

sebelum matahari menghisap gelap

biarkan tafsir langkah mengikuti arah angin

dan biarkanlah mata bekerja

di keriput kening bersama doa

Malang, 2019


Sebuah Kisah

matahari sebelum melewati waktu

masih mencondongkan tubuhnya

di kepala yang masih basah dari sisa semalam

sampai di sekujur doa-doa

semestinya kita berkisah di tangisan langit

bersama burung-burung yang pulang pergi

sedari subuh telah ia ikrarkan

demi sebuah kisah dalam harapan

langit masih tak berkawan mendung

meski kita selalu menjemput gerimis

dengan doa-doa di samping rumah

ketika perut-perut sudah kosong

bumi kita sedang sekarat, kawan

seluruh cuaca tak bisa diajak kompromi

meski beribu dupa kau jejalkan

pada ranting-ranting yang kemarau

dan akar yang tak bermusim

seharusnya tak seperti itu

setiap kisah semestinya beriringan doa

namun, doa telah membuatnya bosan

tak perlu lagi berjalan jauh

demi memohon kepada cuaca

sekadar menikmati romantisme gerimis

dan bertawa ria di dalamnya

sudah tiba untuk tak berkisah

tangis hanya sekadar catatan rindu

Malang, 2019


Pada Cuaca Pagi Ini

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menghirup aroma rindu

meski hujan sedang bergerai di luar

mengguyur seluruh doa

yang kita titipkan air mata

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menikmati kegelisahan

yang terbawa dalam tubuh sebelum lahir

dan kita tertimpa panas berkepanjangan

di dada kita, cuaca membaca kenangan

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita merasa haru

pada orang-orang yang memilih bersandiwara

ketika diam-diam tubuhnya merangkai rindu

melupakan kebersamaan

tak lagi melipurkan kedinginan

dan menutup panas yang membakar

Malang, 2019


LY. Misnoto, lahir di Pulau Giliraja, Kab. Sumenep, Madura. Menulis puisi semenjak berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto. Puisi-puisinya dimuat di Radar Madura, Radar Malang, Radar Cirebon, Kabar Madura, Harian Ekspres Malaysia, Majalah Kuntum, dll. buku antologi tunggal barunya berjudul “Mayang”.

Cerpen

Pangeran Katak

Cerpen Gaza Manta

Jika perubahan itu bisa terjadi dalam jangka waktu yang cepat, bisakah cinta menjadi penyebabnya?

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Dia bangkit. Lantai kamar yang dingin menguapkan hasratnya untuk menyambut pagi. Sisa-sisa mimpinya hanya terpantul di cermin. Masih ada seorang peri cantik memandangnya di balik kedalaman kaca.

Matanya beralih ke sebuah akuarium berisi separuh. Air dan tanah telah saling berbagi tempat di kotak kaca itu. Menjadi habitat yang agaknya cukup tepat untuk seekor katak yang kini telah ada di genggaman Mi.

Mi menaruh kembali katak itu dalam akuarium. Dia tersesat hampir dua jam di kamar itu, sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Rutinitas mandi dan bersolek menguncinya dalam mimpi yang tak ingin dia akui.

Semarang, pagi hari, adalah seorang raksasa yang menelan cinta dan mimpi yang cukup memabukkan pada malamnya. Mobil-mobil mengeluarkan sumpah serapah, senantiasa memaki yang ada di depannya. Asap knalpot mengembun di kaca-kaca rumah, di paru-paru, di gitar yang dipetik hanya untuk mengisi perut-perut yang pada akhirnya akan dipenuhi juga dengan embun-embun knalpot itu. Dan di kerongkongan raksasa itulah, Mi bergegas.

Di kantor, di tengah-tengah tumpukan kertas kerja yang menunggu diserahkan, hanya ada kesunyian. Orang-orang terbiasa bekerja dalam keheningan tanpa bicara. Seolah satu patah kata saja akan membuat semua urutan kerja yang telah tersusun secara kronologis akan hancur berantakan. Dan seorang karyawan tak mungkin begitu saja menyerahkan pecahan-pecahan itu kepada atasan.

Namun kesunyian di tempat kerja, bagi Mi, masih lebih baik daripada celotehan dan tawa yang biasanya juga terjadi. Dia tak bermaksud berburuk sangka, namun tawa orang-orang pekerja adalah suatu kemunafikan. Orang bisa saja tertawa lepas di tempat kerja dan bercanda dengan rekan-rekannya, namun itu tak lebih untuk menjaga sikap di depan atasan atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang biasanya terjadi di kemudian hari.

Kemunafikan di tempat kerja, jauh lebih buruk daripada yang dialaminya saat dulu bersekolah di SMK. Saat itu dia seperti punya indera keenam yang bisa membedakan mana tawa yang tulus, mana yang dibuat-buat. Mana senyum yang akan sanggup membuka hatinya yang memang sulit terbuka, mana yang hanya memanfaatkannya. Dia begitu peka saat itu, hingga dia tak pernah khawatir dengan teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Mengapa sebelum dia bisa menyadarinya, semua telah berubah?

Saat makan siang, Mi melihat seorang temannya datang sambil menggandeng seorang lelaki yang luar biasa tampan. Mereka saling berpelukan sambil berjalan ke arahnya. Beberapa orang bersiul dan membuat bunga-bunga di udara. Namun bunga-bunga itu hanya jatuh di kaki mereka dan menghampar seolah jalan khusus bagi mereka.

Mereka duduk, tanpa dipersilakan.

“Halo, Mi! Masih sendiri?” teman perempuannya terkikik.

“Bisa kau lihat sendiri, kan?”

Yang laki-laki tersenyum. Tangannya seolah telah terlekat dengan lem pada pinggang perempuan itu. Lambung Mi tiba-tiba bergolak, makanan yang baru saja ditelannya seolah berontak.

“Perkenalkan! Ini pangeranku!”

Mi mendengus, sinis.

“Dia adalah katak yang aku ceritakan padamu, katak yang aku temukan di Stasiun Tawang. Aku menciumnya tadi padi. Dan…”

Mulut Mi pahit. Sedikit cairan lambung beserta makanan tadi telah naik. Dia ingin muntah. Tanpa permisi, dia lari ke toilet. Di sana dia memuntahkan segala makanannya, kesedihannya, air matanya, embun-embun yang menerpa wajahnya, dan kepenatannya. Pikirannya tertuju pada katak di akuarium miliknya.

Dia bergegas pulang. Kembali menyusuri udara panas Semarang yang menerpa seperti jarum-jarum jahit berkarat. Panasnya berkepanjangan dan bagi orang yang tidak kuat akan membuat jatuh pingsan.

Mi tahu, bahwa semua perempuan memiliki kataknya masing-masing. Katak-katak itu dibesarkan oleh cinta dan diberi makan dengan serangga-serangga pikiran. Harapan akan membuat mereka bertahan hidup lama yang pada akhirnya ketika waktunya tiba, katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran-pangeran tampan yang menjadi dambaan setiap hati perempuan. Tak akan ada pangeran katak yang sama, karena hati setiap perempuan memang berbeda.

Di kamar, Mi mendapati kataknya telah keluar dari akuarium dan melompat-lompat di lantai. Lentingannya tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dan setelah melompat ke sana-ke mari, katak itu akhirnya melompat ke ranjang dan diam di sana. Agaknya dia sedang menunggu Mi dan tahu bahwa perempuan itu sedang gelisah.

Mi mendekat dan duduk di ranjang. Jari-jari kurusnya mendekap katak itu di dadanya. Pikirannya menerawang menembus waktu kembali ke pagi hari. Pada mimpinya yang sebentar tadi masih terselip di bawah bantal dan selimut yang belum sempat dia rapikan. Mi hampir menangis, dia merasakan mulutnya sedang digarami.

Baru saja pagi tadi katak itu membawanya berjalan-jalan di punggungnya. Mereka melompat-lompat di tengah belantara Semarang. Katak itu pasti sudah tahu keinginan Mi. Karena tanpa disuruh, dia sudah memacetkan jalan tol dan membuat para pengendara kendaraan bermotor terbelalak. Mereka menuju Kota Lama.

Di Kota Lama, mereka selalu berhenti di gereja heksagonal itu—yang kubahnya setengah bola dan begitu megah. Mereka melihat Mi yang lebih kecil berlari-lari kecil dan masuk ke gereja. Atau di saat yang lain, mereka akan melihat Mi sedang berada di Taman Srigunting, membaca buku atau mengetik sesuatu di ponsel dengan lidah terjulur karena keasikan. Pemandangan itu akan berlangsung lama dan bersambung dengan Mi di depan Gedung Marba, atau Mi yang sedang makan gorengan di angkringan di depan gedung merah marun itu. Dan melihat semua itu, Mi di punggung katak akan menangis yang merupakan pertanda bahwa mimpi akan segera berakhir dan hari akan kembali berlanjut.

Bahwa setiap dia melihat katak itu, maka dia akan ingat gereja itu, Mi sudah tahu hal itu. Sungguh, dia tak pernah mengharapkan perwujudan gereja dan kotanya akan menjelma dalam bentuk seekor katak, bukannya ikan atau padi yang biasanya dia jadikan sarapan. Padahal lambang kotanya adalah ikan atau padi, bukannya katak. Dan Mi pun tak pernah tahu kalau ada katak yang menjadi lambang kota.

Katak itu sendiri tak disangkanya akan tumbuh besar juga. Awalnya dia tak terlalu bersemangat saat seorang temannya memberikan telur katak itu padanya. Sebuah telur sebesar debu yang ditaruh dalam gelas kaca yang dia dapatkan saat pesta perpisahan.

“Apa ini?”

“Telur katak.”

“Buat apa?”

“Untukmu, agar kau ingat padaku.”

“Kenapa aku harus ingat padamu?”

“Karena suatu hari, aku ingin menjadi katak itu.”

Dan seiring dengan waktu, telur katak itu menetas. Seekor kecebong lucu lahir sambil menggerakkan ekornya yang mirip kuas, memberi warna pada air. Sebenarnya saat menjadi kecebong itulah, saat dimana Mi merasa paling sayang dengan binatang itu. Namun binatang itu tetap bermetamorfosis, dan Mi hanya bisa menerimanya.

Mi menghela napas panjang. Semua begitu berat dan membingungkan. Dia ingin mengakhirinya sekarang dan merasa telah cukup siap untuk itu. Dia mengganti seragam kerjanya dengan celana pendek dan kaos singlet. Dia merasa tenang dengan pakaian itu.

Dielus-elusnya katak itu dan didekapnya berulang-ulang. Mi mendekatkannya ke bibirnya yang kini tanpa polesan, namun begitu basah. Dan saat detik-detik terakhir mulut katak itu menyentuh bibirnya, dia jadi ingat teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Ketika bibir mereka bersentuhan, Mi berubah menjadi katak, diikuti seluruh manusia yang juga berubah menjadi katak. Saat itu dia yakin, kalau cinta dapat membuat perubahan dalam sekejap mata.

Lombok Timur, 24 April 2016


Gaza Manta lahir di Lamongan; menyelesaikan studi di Semarang; kini tinggal di Lombok. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pegasus Lilika (Rua Aksara; 2019).

Puisi

Puisi Anugrah Gio Pratama

Serupa Bahasa dan Kata

Serupa bahasa dan kata,

malam adalah puisi dalam sunyiku.

2019


Malam di Suatu Pasar

Malam yang singkat

dan keramaian

adalah guguran bunga.

Kusaksikan

banyak hal di tempat ini:

barang-barang ditata dengan rapi,

kata-kata dilontarkan dengan santun,

tapi tidak ada puisi. Tidak ada puisi.

Hanya ada senyum yang lahir

dari wajah-wajah yang asing.

Hanya malam yang kian bising.

2019


Gelap Menepuk Pundak Hari

Malam bangkit, waktusemisal

karpet-karpet hitam yang panjang,

yang menghamparkan kesunyian

dan membentangkan ketenangan.

Lalu gelap menepuk pundak hari

agar tuntas cahaya mentari.

Lalu mimpi memungut

seluruh lelah di punggung

para pekerja.

2019


Berada di Jalan

Kau terlahir untuk berada di jalan

biarpunkau bukan petualang yang tangguh.

Karena kauadalah gugusan cahaya

saat gelap membanjiri kota-kota.

Kau terlahir untuk selalu berada di jalan,

menghitung jejak-jejak yang

tak pernah bisa dibaca sebagai

buku-buku sejarah dunia.

2019 


Mata Mimpi

Apakah pintu kamar itu

mesti dibuka, sedang ketok jam

bagai sebongkah batu

yang diam?

Aku rasa tak perlu,

sebab dengkur cuacayang amat panjang

telah menghadapkan wajahku

menuju mata mimpi.

2019


Di Ranjang Ini

Di ranjang ini,

tubuh adalah kata-kata

yang jatuh di jantung puisi.

Di ranjang ini,

umur pergi satu per satu

bersama tik-tok jam yang kian laju.

Di ranjang ini,

mimpi terlahir dan berayun

di antara pohon-pohon musim

yang tumbuh di rahim bulan.

2019


Tabuhlah

:Febryan Nugraha P.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah sebagaimana waktu

menabuh sepi yang tenang; sebagaimana sepi

menabuh mimpi yang dalam; sebagaimana mimpi

menabuh angan yang panjang.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah!

2019


Fragmen Mimpi

Mimpimu yang terluka

mengucurkan seribu nasib baik

yang dikumpulkan seorang ibu

dari masa ke masa.

Sedang kenyataan yang indah

justru tak mengucurkan apa-apa,

tak bisa mengumpulkan apa-apa

kecuali kenangan. Kecuali kenangan!

2019 


Biarkan Saja Kepedihan itu

Biarkan saja kepedihan itu

membentangkan sebuah jalan yang kelam,

sebab cinta saja tak akan sempat mengasuh kita

menjadi makhluk yang dewasa.

2019


Usia

Kemarin adalah usia yang

jatuh berserakan; suara-suara

yang telah hilang gemanya.

Esok adalah usia yang tak pasti.

Sedang hari ini adalah usia

yang dikupas kefanaan dunia.

2019


Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude).

Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak. 

Puisi

Puisi Irvan Syahril

Sepasang Sepatu

Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu

matanya merapi tali ke lubang sepatu

dan tangannya yang berurat waktu

masih sigap mengikat tali sepatu.

Ibu begitu tekun kepada waktu

sambil memangku sepasang sepatu

semoga tak lepas talinya di ujung tunggu

semoga lekas mengantar ke depan pintu

sebelum sebuah ajal memangku.

Semacam ada ruang waktu yang jauh

dari titik matanya yang kian abu-abu

di sepasang sepatu ada air mata ibu

yang menebalkan alas dan ujungnya

yang tak tuntas mengarah kepada rindu.

Serpihmimpi, 2019.


Puisi

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dalam waktu yang kauberikan kepadaku.

Hening selalu lebih dahulu dari apa pun

seperti debu tak tuntas seribu sapu.

Kau dengan gampangnya menyuruhku

membetulkan hatiku sendiri.

“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”

Aku dengan puisi bertubi menggambarmu

dengan kata dan dengan apa pun yang tak

mengandung rasa sakit. segala tetap naif.

Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku

walau terpasang rambu gelisah pada matamu.

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.

Serpihmimpi, 2019


Musim Panas

Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan

dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam

dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.

Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin

dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari

perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.

Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil

kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri

meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.

Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung

kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama

terkurung menangis merindukan rumput dan daun.

Serpihmimpi, 2019.


Menjadi Daun

Aku tak pernah menyalahkanmu,

apalagi angin dan musim atau hujan.

Seandainya kau mendengar aku berkeluh

bukan berarti membenci angin yang menarik

lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai

selembar tubuhku, atau deras hujan

yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.

Aku percaya kau bukan pemarah,

karena itu kepada langit aku mengharap waktu.

Mata sulit terbuka menangkap cahaya

dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:

kukira itu kepak burung yang biasa bertengger

ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;

kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.

Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata

tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.

Kini aku berada dekat dengan akar keabadian

aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu

daun besar yang kokoh menghadap hujan;

tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah

oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.

Sepihmimpi, 2019.


Ketika Akan Tertidur

Jam sudah memberi isyarat hati terlelap

kususun wajahmu dengan sisa sungguh

jarum beranjak seperti menguntit jejak

dan persembunyian terbuka di matamu

Adalah langkah yang patah

kertak dari angka ke angka

dan aku bertahan

di jalan yang tak pernah selesai

Kurengkuh degup yang masih menyebutmu

lalu dinding ini memantul-mantulkannya

siapa di antara kita  yang terpenjara

cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku

Aku sedang dalam jantung waktu

kata-kata seraya melejang

setelah merasa ada tatap dari jauh

entah dari lubuk hati siapa ke arahku.

Serpihmimpi, 2019.


Menunggu

Akhirnya aku mengerti hidup

hanya berlomba menunggu

kita bergilir menjadi sepi

Kau ataupun aku harus tertib

sebuah suara memanggil

sesuai pesanan dan waktu

Seketika kita saling tinggal

terpenggal kata-kata di sini

segala lesap tak terucap

Tanda itu segera muncul

membacakan nama kita

seperti serangkai pengumuman.

Serpihmimpi, 2019.


Pergi

Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara

tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita

meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.

Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:

bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng

jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,

atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.

Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu

sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita

seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.

Serpihmimpi, 2019.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel [email protected] dan akun instagram @serpihmimpi.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Akulah Namamu

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya telah luruh

Selepas segalanya

tak sanggup lagi kuseduh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat segalanya tiada kuasa bersimpuh

Selepas segalanya tak sempat berlabuh

Akulah namamu

Dalam secangkir kopi

Saat semua memilih tiada

Selepas ramalan berlalu-lalang

Menghancurkan segala rupa wajah

Yang sudah terlanjur belang-belang

Kendal, April 2018


Kerja Sebuah Pertanyaan

Dua malam sudah. Kami cemas.

Pertanyaan kembali bekerja

Hadir dan memulai dengan caranya

yang beda-beda

Mereka lebih senang berbahagia sendiri

Tanpa memikirkan kami,

Yang lelah mencari jawaban bersembunyi

Bergulirlah pertanyaan itu berkali-kali

Bekerja di atas kening mereka sendiri

Kami semakin cemas. Mereka menenteng

bermacam batu-batu

Disimpan rapat-rapat, di balik punggungnya

Yang lebam dan hampir berlubang

Esok hari, kami telah bergulir

Menghampiri pertanyaan kembali

Mereka terus berjalan, seakan kami tak kuasa

mengejar. Semua berlari, menuju segala arah

yang tak pasti kami tahu

Bersamamu segala sesaat, bersama segala waktu

Setelah jawaban urung datang

Selepas segalanya bekerja

dan datang berkali-kali

Dengan pertanyaan-pertanyaan

Yang tak pernah kami ketahui

Kendal, April 2018


Andai Saja Aku Tidur Siang

Andai saja aku tidur siang

Apakah kau masih mau menemaniku

Menjadi peluru, atau menjadi apa saja

Yang lebih gemar melesat melampaui

kecematan cahayamu

Seperti segala waktu,

yang tak butuh perantara

Yang tak sempat berkelit lidah

untuk saling menolak

dan menjejaki segala tidur yang ragu

Andai saja aku tidur siang

Maka kau akan segera melihat

Segenap kegagalan yang melanjutkan tidurku

Menukar sebuah perjalanan yang lelap

Pada petualangan kecil, yang seolah terburu-buru

Mencari segalanya selepas membuka pintu

Andai saja aku tidur siang

Pasti jika kau juga masih begitu saja,

Menjadi segala waktu yang

kau sudah menjadi ngeri

Teman-temanmu yang akan mengangkatmu

tinggi-tinggi

Mereka seakan menemukan kemenanganmu

Saat semua yang terjadi saat itu adalah batu-batu

Kendal, April 2018


Hari Libur di Kalendermu

Di kalendermu

Hari libur telah pulang

Ia memilih keluar lebih awal

Dari kepergianmu yang panjang

Di kalendermu

Hari libur telah hilang

Ia memilih pergi jauh

Meninggalkan banyak kegagalan

Dari segenap ketiadaan

yang kerap tanggal sendirian

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Segalanya seakan bergegas

Memilih tinggal di segala arah

yang lusuh

Melampaui foto-foto yang patah warna

di dinding kamarmu yang pecah-pecah

Di kalendermu

Hari libur telah memilih dimakamkan

Ia memilih abadi

Di kampung yang jauh di sana

Di sebuah hutan

Yang tak pernah lagi dihuni siapa-siapa

Kendal, April 2018


Bulan Tidur Siang

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Kami sudah pesan satu meter ranjang kayu

Yang dikirim langsung dari taman yang gagal

diciptakan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Di atas kasur empuk yang dibeli

dengan sepenuh tunggakan cicilan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Matamu sudah memerah

Semalaman matamu bilang lelah

Menonton rupa-rupa adegan

Yang gagal disetir sutradara pilihan

Tidur sianglah, Bulan. Tidurlah

Dadamu sudah lelah

Ia tak lagi sanggup membaca arah

Dunia telah lelap

Ia memilih tidur sendirian

Sepanjang waktu

Selepas segalanya urung mengguyur tubuhmu

yang kian dangkal

Kendal, April 2018


Biarkan Mata dan Kening Bekerja

Bekerjalah mata, bekerjalah

Berbuatlah melampaui mulutmu

Meninggalkan segala bising

yang nyangkut di kupingmu

Bekerjalah kening, bekerjalah

Berbuatlah melampaui hidungmu

Meninggalkan segala kebusukan

yang nyangkut di dadamu

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening mengerutkan lukanya

Agar nanti, segala kecukupan

Mereka berdua yang mengeja

Membaca dan menerka segalanya

Sebelum semua merasa gelap

Mengikuti jejak dan tafsirmu yang berkelok

Biarkanlah mata bekerja, biarkanlah

Biarkanlah kening bekerja, biarkanlah

Kendal, April 2018


Kisahkan Kepada Kami

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Yang menembus batas kesadaran

Yang menerka batas pemahaman

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Tentang jalanan yang lengang

Tentang segala wujud

yang dibiarkan rumpang

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Menuju perkampunganmu itu

Di balik segala keabadian

yang kian membocorkan banyak kekalahan

Kisahkan kepada kami,

Wahai juru kunci

Agar kami lekas dan bergegas

Bergerak lurus di jalan yang tak lagi lapang itu

Ruas yang tak lagi diterangi banyak pilihan lampu

Yang tiada lagi menemukan

ke mana arah sesungguhnya pulang

dan ke mana arah melarikan diri

dari tubuh yang gagal

Kendal, April 2018


Dalam Gelap, Kita Lelap

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Meski di luar, hujan tak lagi bergegas

Mengguyur kening kita

Yang kian hari kian retak

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Kita tak siap membawa diri lahir

Kepada segenap panas

Yang menggenangi dada kita

Dalam gelap,

kita tak bisa sepenuhnya lelap

Orang-orang memilih penasaran

Kenapa mereka memilih diam-diam

dan tidak datang bersamaan

Untuk saling mendinginkan

Untuk saling membakar

Kendal, April 2018


Mematunglah Kami

Maka mematunglah kami

Kepada hari-hari yang lewat

Kepada segenap gegap

Yang tak lagi beri kami gempita

Lihatlah, di sana mereka memilih diam

Menyaksikan ketiadaan kami

Yang pelan-pelan berjalan mundur

Menyusuri tepi punggung kami

Yang kian sepi dari kerja-kerja kepala

Maka mematunglah kami

Kepada malam-malam yang pekat

Kepala segala palung yang tak lagi merenung

Lihatlah, di sana mereka memilih senyap

Membuang dirinya dalam lelap

Mementalkan dirinya jauh-jauh

Ke atas bukit, ke atas segala ketinggian

yang tiada pernah dijejak

Maka mematunglah kami

Ke hadiratmu, kepada segala duka-duka

Kepada segenap lupa-lupa

Kendal, April 2018


Kepada Segala Tuan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau pegawai pemerintahan desa

yang setiap pagi menenteng batu-batu

Pulang membawa suara-suara

Yang dipasung waktu

Tuan, kenapa kau memilih diam

di dalam ransel bekas

Yang kerap ditenteng

mengelilingi banyak pintu

Apakah kau lebih tenang menjadi dirimu

Yang sempat berjaya pada masa 1970 itu

Saat dinding sekolah tak begitu digubris

Saat segalanya memilih menjadi punggung-punggung

Yang setiap pagi dijatuhkan di lahan-lahan sewaan

Tuan, kenapa kau tak minat

menjadi seperti gurumu

Atau kau memilih berkukuh

Seperti dirimu yang dulu

yang baru mulai mengenal beberapa huruf

yang belum begitu bernafsu

memilah teman untuk menemukan banyak ibu

di sudut-sudut bangku sekolah

Pada zaman dahulu itu,

Saat semua orang mengaku

Bahwa tetap teguh bersekolah

Menjadi segala cara menghancurkan segala salah

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Saat ini sedang menjalani program Residensi Penulis Indonesia 2019 dari Komite Buku Nasional Kemendikbud di Leiden, Belanda.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.