Katalog

Puisi

Puisi Risa Fauziah

Hujan Paling Deras

Kau lupa cangkir itu kosong

Untuk apa kembali meminta

Sedang kopi yang kusuguh hilang

Menjelma langkah detik yang paling hampa.

Kau ingat air itu sulit

Sesulit memintamu berbicara

Hujan kali ini pelit

Tapi air di mataku masih terus mengalir

Tanpa diminta.

Tasikmalaya 2019


Resah

Serupa nama tanpa makna

Serupa seruan tanpa nada

Kita hendak memilih bersama

Namun jeda terlampau lama

Kian hari, kian merontaMeminta arti tak mau pergi

Ingin tinggal tapi takut tak diinginkan

Tasikmalaya 2019


Mendung Singgah

Acap kali mendung singgah

Di langit kamarku, jengah

Membekap bibir tuk bicara

Awan meluap

Tergetar petir ingatan

Tak dapat terbendung

Gelap, mencekam.

Lebat. Meruah dari atap

Beralaskan hati yang rapuh

Tasikmalaya 2019


Paling Dalam

Sedikit katamu, cobalah

Perihal ruang paling dalam

Tidaklah mudah

Bukan satu atau dua kali

Sesering itu, sampai lupa

Sukarnya membuka kembali

Untuk ia yang inginkan menetap.

Tanpa niat singgah.

Tasikmalaya 2019


Tua

Langkahnya masih teguh

Jejaknya tinggalkan bekas mendalam

Dari pagi hingga larut malam

Tanamkan asa melimpah.

Keriputnya tak kenal menyerah

Bungkuknya tak kenal lelah

Jajakan buah seadanyamenawari orang berlalu-lalang.

Wajahnya ceria tak kenal cuaca

Senyummya menyisakan kesan mendalam

Bagi ia yang datang

Membeli atau sekadar tergetar hati.

Tasikmalaya 2019


Sekian

Kau menoleh, untuk apa?

Jika temu saja enggan

Kau berlalu, sudah biasa

Lantas, apa tadi katamu?

Hahaha, aku yang terbaik?

Aku yang terakhir?

Cukup, ucapan basi itu

Muak, janji palsu itu

Sekian.

Tasikmalaya 2019


Si Kecil

Dari Tubuhmu Aku Lahir

Dari pelukmu aku tumbuh

Dari tangguhmu aku kuat

Dari kerja kerasmu aku hebat.

Si kecil dulu kini telah mendewasa

Si kecil dulu kini merasa lelahmu kala itu

Si kecil dulu kini hampir menyerah

Si kecil dulu kini butuh nasihatmu

Dari hidup yang kian keras

Dari dunia yang kian ganas

Tanpa dukungan, tanpa do’a

Sebenarnya aku masih merupa kecilku.

Tasikmalaya 2019


Rumit

Sebanyak apapun aku berpuisi tentangmuSepenuh rasa kutuang kedalamnya

Sekali pun enggan kau baca.

Serumit itu pula aku berhenti

Berhenti dari merindukanmu

Berhenti dari mengenangmu

Berhenti berharap kita kembali

Bersama.

–Tasikmalaya 2019


Arah Takdir

Detakku mengarah padamu

Jauh sebelum wajah kita beradu

Di balik jalan punggungmu

Aku sembunyi dari kemelitanku.

Tanpa dinyana takdir menemu kita

Kembali tanpa banyak kata

Bilik pesan mempersingkat jarak

Sampai di titik paling bahagiaMeramu rasa yang sama.

Tasikmalaya 2019


Usaha Bahagia

Wajah bulat, berkaca mata

Berdampingan. Senyum yang sama

Cekrek …

Potret terakhir tapi tidak cintanya

Harus memang, kakiku melangkah

Bukan maksud menjauh

Lebih dari mengejar hidup

Lebih layak, lebih dapat dipercaya

Nanti, kau bisa kuhidupi

Dengan jerih payahku sendiri.

Melihat kau setiap hari

Tersenyum lega.

Tasikmalaya 2019


Risa Fauziah, lahir di Tasikmalaya 1995

Cerpen

Granky

Cerpen Win Han

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

“Jangan begitu, Granky.” Nada menghampiri kucingnya, mengelus-elus, dan memintanya untuk menjaga sikap. Granky, kucing itu, bergeming. Udara dari saluran pernapasannya terasa panas. Ada bara yang belum padam di dada makhluk itu. Lelaki di sofa seberang—Zain—menyaksikan kucing di dekapan kekasihnya dengan dahi mengerut.

Miiiaaauuuwww.

Granky melompat dalam kecepatan kucing marah menuju sofa di seberangnya.

Sekuntum bunga plastik dalam pot keramik di atas meja tersenggol, mengguling ke lantai. Pot keramik pecah menjadi serpih-serpih runcing berceceran di lantai antara meja dan sofa. Erangan kecil memercik dari mulut Zain. Lengan kirinya tersayat dan berdarah. Tiga garis luka cakaran masih terlihat segar di lengan lelaki itu.

“Granky!” seru Nada dengan leher menegang. Ia mencengkeram leher tertutup bulu tebal Granky, mengangkat tinggi-tinggi kucing itu. Dengan langkah cepat, Nada membawanya ke halaman belakang dan melempar Granky seperti melempar buntalan sampah. Granky mendarat dalam posisi kaki agak tertekuk. Ia membisu. Nada meninggalkannya persis seperti meninggalkan sampah.

Di ruang tamu, Nada meminta maaf kepada Zain lantaran kelakuan buruk kucingnya. Dibarenginya permintaan maaf itu dengan hujatan-hujatan pada Granky—suatu hal yang tidak pernah Nada lakukan semenjak menerima Granky sebagai hadiah ulang tahun dari bibinya dan memeliharanya lima tahun silam.

Gadis muda berambut lurus panjang itu mengambil perban dan obat cair dari kotak obat di sisi pintu. Sambil meneteskan obat dan memasang perban ke lengan Zain, Nada kembali meminta maaf seakan-akan ia telah melakukan suatu dosa yang sangat besar.

“Sudah, lupakan saja. Tidak apa-apa, kok,” kata Zain. Jari-jemari Nada masih berkelana di lengan Zain. Zain melepaskan jari-jari itu dari lengannya, berganti menggenggam lengan Nada, erat. Seperti kucing jantan berahi, kepala Zain bergerak liar menuju muka Nada, menggeranyangi pipi dan bibir Nada dengan dengus napas panas dan gegas.

Dering telepon berkali-kali berbunyi dari ponsel di saku celana Zain. Sementara di halaman belakang, Granky menyisakan jejak kakinya di rerumputan hijau kering. Sebuah tembok setinggi bahu orang dewasa membatasi halaman belakang dengan jalanan. Seekor kucing baru saja meloncat ke luar tembok itu.

***

Telah tiga hari tiga malam Granky tak pulang ke rumah.

Nada sudah mencari Granky ke mana-mana, ke tempat-tempat yang biasa Granky pijaki, tetapi ia tetap tak menemukan kucing kesayangannya itu. Ia bahkan membayar salah seorang penjaga keamanan untuk berkeliling komplek mencari Granky, tapi hasilnya masih sama: nihil.

Sehari setelah menghilangnya Granky adalah jadwal rutin Nada memeriksakan Granky ke dokter hewan dan membeli pakan untuk satu bulan ke depan. Namun pada hari itu, Nada tidak ke dokter hewan. Ia hanya membeli pakan kucing di petshop dekat pasar. Pakan kucing itu masih penuh. Belum berkurang sedikit pun. Ia menatapi pakan kucing dalam bungkus plastik itu dengan masygul. Dengan penyesalan dan rasa marah pada diri sendiri terpanggul di pundaknya.

Nada merindukan bulu-bulu lebat nan lembut Granky yang biasa ia usap dan belai tiap hari. Tangannya terasa kering dan kurang tanpa menyentuh Granky. Ia tak pernah berpisah dengan Granky lebih dari satu hari. Dua tahun lalu, ketika acara perpisahan SMA yang mengharuskannya menginap beberapa hari, Nada turut membawa Granky bersamanya. Meskipun pihak sekolah melarang, ia tetap kukuh dan akhirnya diperbolehkan dengan syarat kucing itu tak membuat gangguan.

Ia merindukan suara ngeongan Granky. Suara manja yang biasanya terdengar lebih sering apabila waktu makan Granky tiba. Kucing itu akan pergi ke tempat di mana Nada berada, mengeong-ngeong, memandanginya dengan wajah memelas. Lalu Nada akan mengambil pakan kucing dari atas lemari dapur, menuang secukupnya ke mangkuk kecil, dan ia akan sangat bahagia melihat Granky makan dengan lahap. Sudah tiga hari momen itu tak terjadi. Tinggal sesal dan rindu bertengkar di ruang hati Nada.

Pada hari keempat, Nada menghubungi Zain melalui sambungan telepon. Ia meminta kekasihnya itu menemaninya mencari Granky ke tempat yang agak jauh, ke pusat kota dan keramaian. Ia berharap akan menemui Granky jika ia mencarinya sedikit lebih jauh. Dalam hatinya, Nada pun yakin Granky tidak akan pergi terlalu jauh. Sebelumnya, Granky pun memang tidak pernah pergi jauh—tidak kecuali bersamanya.

“Kenapa kamu masih peduliin kucing itu?” ketus suara di seberang telepon. Nada tahu Zain tidak menyukai Granky. Tetapi, ia ingin Zain tahu bahwa biar bagaimanapun ia dan Granky telah bersama sekian lama, jauh lebih lama daripada dirinya mengenal Zain—yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan. Ia tidak mungkin mengabaikan dan membenci Granky begitu saja.

Nada kecewa dengan tanggapan Zain yang acuh tak acuh. Namun ia juga tidak bisa memaksa lelaki itu untuk menuruti kemauannya. Terakhir kali Nada memaksakan sesuatu pada Zain, Zain marah-marah. Padahal waktu itu ia cuma ingin meminjam ponsel Zain sebentar. Nada menutup telepon tanpa mengatakan apa pun. Ia memandangi bungkus pakan kucing yang kini diletakkannya di atas meja. Memandangnya lamat-lamat seraya menghimpun ingatan-ingatan perihal Granky.

Nada akan mencari Granky seorang diri.

Bayangan Nada sudah memanjang di jalanan ketika ia meminta seorang tukang ojek langganan di gerbang komplek untuk mengantarnya. Ia akan berkunjung ke pusat kota, ke tempat-tempat yang hiruk.

Sepanjang perjalanan melewati gang komplek, kemudian keluar ke jalan besar, mata Nada tak henti bergerak-gerak menoleh ke kanan-kiri. Berharap sesosok kucing berbulu oranye tebal akan nampak. Tidak ada kucing berbulu oranye tebal di sisi jalan. Beberapa orang dan kucing memang berlintasan, tetapi mereka bukan berbulu oranye tebal—mereka bukan Granky.

Setibanya di pusat kota, mata Nada tetap tak bisa diam. Bukan hanya ke kanan dan kiri, kali ini Nada mengamati segala arah. Ke pedagang kaki lima, lalu lintas ramai, pos polisi, halaman-halaman ruko, dan sebuah restoran tempat ia biasa dinner bersama Zain. Restoran dengan beberapa meja di bagian luar itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pasangan lelaki-perempuan menempati meja berbentuk persegi panjang.

Nada merasa lapar dan ia memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu di restoran itu sebelum melanjutkan pencarian Granky. Ia belum makan sejak pagi.

Tatkala kaki Nada selangkah lagi masuk ke pintu kaca restoran tersebut, sepasang lelaki-perempuan keluar dan menabraknya. Tubuh Nada terdorong ke belakang. Hampir terjatuh.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak lelaki itu. Nada heran. Seharusnya ia yang lebih berhak mengatakan hal tersebut. Sebab ia sudah berjalan pelan dan tenang, namun lelaki-perempuan itulah yang tergesa saat keluar dari dalam restoran.

Mendengar suara bentakan lelaki itu, Nada tidak marah, ia hanya heran. Selebihnya biasa-biasa saja. Namun, begitu ia melihat wajah pemilik suara tersebut—yang masih menggenggam pergelangan tangan seorang perempuan berpenampilan seksi yang tak pernah Nada lihat—tubuhnya terasa beku. Lidahnya kelu. Sesuatu bergejolak dan membara di kedalaman dada Nada. Lelaki itu adalah Zain.

Nada seharusnya marah. Ia seharusnya menghardik lelaki itu, menampar, atau memukul-mukulnya dengan tas kecil di bahunya. Tetapi semua itu tak Nada lakukan. Ia membalikkan tubuhnya. Tidak jadi membeli makanan. Ia menuju ke tukang ojek yang masih menunggunya. Pergi melaju menjauh dari Zain dan perempuannya yang berdiri mematung dengan muka pucat dan tolol.

***

Di depan pintu rumah, suara tak asing yang beberapa hari tak Nada dengar menyambutnya. Suara ngeongan Granky. Entah sejak kapan, kucing itu sudah kembali ke rumah Nada. Begitu Nada datang, Granky dengan ekor panjangnya yang mekar segera menghampiri Nada, bergelung manja di sela tumit majikan sekaligus sahabatnya itu.

Selama perjalanan pulang tadi, perasaan Nada campur aduk antara marah-kecewa-sedih-dan-semacamnya. Saat ia sampai di rumah dan menemukan Granky kembali, ia seakan lupa pada apa yang sebelumnya terjadi dan kondisi perasaannya sendiri. Ia begitu gembira dengan kehadiran Granky yang telah berhari-hari dicarinya. Nada menggendong Granky, membawanya ke dalam rumah. Ia membuka bungkus pakan yang terletak di meja, menuang sedikit ke mangkuk kecil, dan membiarkan Granky menyantap pakannya. Sepertinya Granky lapar sekali. Kucing itu makan sangat lahap. Nada berbinar-binar menyaksikannya. (*)

Bandung, September 2018


Win Han, tinggal di Bandung. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Bisa dihubungi melalui surel: [email protected]

Buku, Resensi

Sempati; Kandar Kilas yang Menolak Fungsi

Oleh Mutia Senja

Semanggi; kepalanya sudah lepas dari tadi. Air mata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum. Sedih tentang mengapa ibunya begitu berjarak sebelum mati. Sedih tentang mengapa ayahnya begitu diam sebelum menghilang (hal. 11).

Setelah pemuda itu bertemu dengan M4; perempuan yang melayani program Bebaskan Kepalamu—yang (mirip) ibunya—Sempati Patangga Bratadikara berperan sebagai pemeran utama yang selalu mendapat sorotan dalam setiap adegan dalam novel ini. Sengaja dibuat meloncat-loncat layaknya figuran ketika ayahnya—jam tangan—mendeskripsikan kronologis kejadian di Bagian Tiga: Kenang—sebelum Sempati berencana memisahkan tubuh dan kepala—sepakat saling cerai sejak bertahan melawan resap bosan oleh jejal kehidupan.

Triskaidekaman membuat permulaan “alfa”—semacam petunjuk menjelajah kehidupan dua keluarga yang rumit; memulai menceritakannya dalam lima bagian: hilang, buang, kenang, datang, dan pulang. Penulis berupaya membuat pikiran pembaca teracak, lalu seperti puzzle—disusun kembali secara ritmis, bertemu ester egg, saling adu, saling tindih, lalu seperti hendak ditertawakan kenyataan. Kenyataan yang membuat Sempati terjerat dalam kegelapan yang samad, ketika suara tawa menggagalkan pertemuannya dengan ‘bahagia’.

Seperti digambarkan dalam blurb buku ini; Sempati merasa kepalanya tak memberi solusi atas ragam persoalan. Tentu, sebuah keniscayaan yang realistis sebab segala persoalan manusia bermuara ke dalam alam pikir. Namun, yang kemudian membuat tak masuk akal adalah ketika Sempati ingin hidup bahagia tanpa kepala, karena dirasa kepalanya justru merepotkan. Persis sebagaimana yang nampak dalam judul buku ini.

Bagian pertama berhasil menghabiskan hampir separuh isi buku dengan cukup menggambarkan alasan Sempati ingin melepas kepalanya. Tanpa bertolak ketika ia membaca selebaran bertuliskan “Program penggal. Mengusir beban pikiran bebal dan sedih yang terus tinggal”. Dia tertarik dalam hitungan detik. Terkesan khayali, memang. Namun inilah kenyataan yang terjadi dalam fiksi. Penulis pun bebas menuliskan apa saja.

Alhasil, mencari celah antara membebaskan kepala dari tubuh atau memanfaatkan fungsi otak dalam memecahkan masalah menjadi dua pilihan yang memuakkan. Hidup bagi Sempati (mungkin juga yang dialami sebagian orang) adalah penolakan, pergulatan, kesendirian, dan jauh dari rasa senang. Seolah membuka kembali memori atas pernyataan Dee Lestari ketika menulis, “aku kini percaya manusia dirancang untuk terluka.”

Lalu, katanya lagi, “tidak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tidak bisa ditangiskan.” Benar saja, Sempati tidak pernah menangis sekalipun (pernah) ia sangat bersedih. Orangtua Sempati: Semanggi dan Merpati bermasalah. Sejak kecil, pemeran utama sangat karib dengan dendam, air mata, kesepian, konflik rumah tangga yang rumit, hingga persoalan diri sendiri yang membuatnya seolah bom waktu—dapat meledak kapan saja.

Dijuluki novel anti mainstream setelah lahirnya Buku Panduan Matematika Terapan, membuat kita meyakini akan hadiah berupa kejutan-kejutan saat membaca buku ini. Sungguh, di bagian 1.4 Triska menyuguhkan seberkas kekhawatiran ketika M4—inisial petugas instalasi (pemegang kunci nasibnya)—menghilang, saat di mana penulis menuliskan masa lalu, hingga Sempati kehilangan kepalanya di sebuah rusun yang dia tinggali. Pembaca dirancang layaknya detektif yang dengan sigap dan teliti mengerti alur yang sedang dimainkan masing-masing tokoh. Dalam hal ini, penulis cermat membuat pembaca seolah tak boleh lepas untuk tetap menikmati paragraf demi paragraf.

Hal tak wajar seringkali muncul, misalnya: Setelah prosesi pemotongan kepala, peserta masih dapat hidup dengan kandar kilas yang diletakkan di tengkuk atau bagian tubuh lainnya. Kandar kilas itu berfungsi mencadangkan isi otak sehingga tubuh masih dapat berpikir, melihat, mendengar, bicara, saat tubuh berpisah dengan kepala nanti. Namun jauh dari harapan agar terbebas dari kehidupan yang bebal, Sempati justru ditimpa tragedi yang gagal menemukan solusi. Terkejutnya, saat ia mendapati kandar kilasnya bengkok.

Lalu di bagian lain digambarkan dengan alur mundur, seperti: Merpati; setelah sekian lama menghilang, dia—di waktu dan tubuh yang lain—menjelaskan kronologis kematian yang diakuinya tak sengaja dilakukan Darnal. Mancakrida kantor dibalut malam yang indah. Dirinya dan Darnal (atasan dan sekretaris) menyepi ke tempat senyap. Rel itu katanya sudah jarang terpakai lagi. Mereka berbaring, menyanggakan kepala pada rel, sambil menatap langit—mengulang kembali tarian kebanggan setelah sekian tahun. Bulu tubuh Darnal masuk dan mereguk cawan Merpati yang lama tak tersentuh. Dia lemas. Lalu pingsan. Golak roda kereta berdesing. Darnal terlambat menyelamatkannya. Merpati mati di tempat.

Hal semacam ini yang terkadang membuat pembaca dipaksa percaya. Walaupun realitanya, tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Sebab dalam bagian terakhir, “pulang”, ia kembali membuat konflik baru dengan memainkan tokoh hasil dari kebangkitan setelah mati. Bahkan dalam hal ini, apa pun dikisahkan Triska dengan bebas dan ia seolah menikmatinya.

Dibuktikan ketika ia mengisahkan kepala yang dapat bicara meski terpisah dari tubuh, kemudian dimasukkan dalam rak (mirip) penitipan barang yang bisa diambil kembali dengan syarat meninggalkan identitas. Tubuh yang terpenggal namun masih dapat menyatu kembali, dan hal menggetarkan lainnya. Hebatnya, Triska dapat mengatasi kejenuhan pembaca dan bertanggungjawab atas imajinasinya yang liar tanpa membuat pembaca melepas kepalanya. Sungguh!

Pembaca makin dibuat jatuh hati ketika Sempati berbisik ke pancang nisan ibunya: Ibu melacur yang baik, ya. Nanti ibu belikan rumah di sana. Aku pasti akan bertandang (hal. 259). Celetuk lisannya persis ketika ibunya berjanji; Kamu sekolah yang baik saja. Nanti Ibu tetap biayai kamu. Ibu belikan kamu jam tangan baru (hal. 257). Korelasi semacam ini yang langka dijumpai dalam cerita dan lekat dalam ingatan. Seperti dibisiki dengan hal-hal menakjubkan dan seketika membuat kita terperanjat saat itu juga. Tetapi yang jadi soal, apakah Triska sengaja membuat kebetulan ini nampak cantik di mata pembaca? Atau mungkin kebetulan bisa dibuat secara sengaja?

Bagaimanapun, uang takkan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit daripada celana. Tubuh kita pun fana (hal. 5) hingga Merpati mengakui di hadapan anak dan suaminya; “Kami tak pernah berpikir soal kualitas. Yang penting berkeluarga. Yang penting kami dicap normal. Bahkan semua masalah uang, popok, susu, nafkah, sekolah, dan jam tangan ini—inilah normal yang masyarakat mau” (hal. 264). Meski belum utuh, mungkin inilah pertanggungjawaban atas fantasi liar si penulis. Triska mengembalikan persoalan kepada sesuatu yang faktual tanpa tergesa-gesa.

Membaca konflik yang terjadi dalam cerita, seperti mengingatkan pada sabda Epictetus mengenai hal ini; “Pada akhirnya nanti, setiap orang harus menebus hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang salah. Jika orang selalu ingat hukum ini, ia pasti tidak akan marah kepada siapa pun, tidak akan dendam, tidak akan mencerca, tidak akan menyalahkan, tidak akan melukai hati, tidak akan benci, kepada siapa pun.” Tapi takdir berjalan sebagaimana Semanggi—yang mengambil lengan kiri Jatayu saat masih di dalam kandungan Tania—akibat menuruti amarah dan dendam setelah menyaksikan perselingkuhan istrinya.

Sempati terus terkejat, mencabik-cabik tubuhnya sendiri; sebelum dia jatuh ke tanah dan terlunglai mati karena lapis-lapis rasa bersalah (hal. 279). Triska tak henti membuat imajinasi liarnya berkecamuk di dada pembaca, menggeliat memenuhi kepala, menjerat seluruh indera untuk memasuki alur ceritanya yang langgas—seperti Sempati saat akan dipenggal kepalanya. Tak boleh beranjak. Sedikit saja menoleh, maka akan tamat riwayat. Setiap bagian, setiap adegan, membutuhkan fokus seperti menjaga kandar kilas supaya tetap hidup tanpa kepala.

Sembari terus membaca bab demi bab, pembaca selalu dihantui rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi kepada para tokoh dalam novel ini. Mereka bersekongkol mengelabuhi pembaca. Penuh misteri. Triska membuat pembaca membolak-balikkan pikiran tanpa permisi dan mencari sendiri akarnya. Seperti melihat pohon tumbuh di atas tanah, sedangkan banyak kisah tumbuh menembus celah tanah—bagian tersembunyi sebelum bertumbuh batang, daun, cabang, dan buah—yang nampak—terkesan ‘rumit’ dan ‘menyebalkan’.

Kita seakan diajak meraba, menemukan kursi untuk sejenak duduk ketika berada di ruang gelap Triska: Kematian bukan penanda akhir sedangkan nasi telah menjadi bubur. Kepalanya sudah lepas dari tadi. Airmata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum (hal. 11).

Lalu kita seakan kembali berjalan hingga menemukan celah cahaya.


Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen. Hobinya menulis sesuka hati. E-mail: [email protected]

Puisi

Puisi Ruhan Wahyudi

Tarian Mata

Lorong kenangan menyibak setumpuk aksara

Menuntaskan tarian mata di puncak sukma

Sebelum kau benar-benar tiada dalam penantian

Sebelum cerita itu senyap ditelan penyesalan

Kali ini mataku seperti terkoyak sebuah percakapan

Di taman kecil yang senantiasa menyulam cinta

Setiap ranting daun patah membuat kita resah

Membuat detak jantung tak bernafas seperti biasa

Kini mataku menari-nari di atas kenangan

Sebagaimana wayang menceritakan sebuah percintaan

Di antara raja dan ratu berselaksa dalam genggaman datuk

Bersemai menuntaskan catatan yang tak usai

Gapura, 2019


Tarian Kembang

Seperti anak ranting mengecup bibir kembang

Lalu menari di atas angin berkepak sayang

Menyemerbak membungkam gelisah di dada

Di saat segala rindu menggerutu dibalik riuh

Hanya sekawanan katak senantiasa menjadi musik

Pada tarian kembang yang tak pernah tumbang

Di hatimu yang selalu menjungkal senyum

Di antara resah-gelisah bersemayam di pundak jiwa

Dan kusuguhkan sejumlah tarian bervariasi

Kepadamu yang selalu menjadi tempat kebahagiaan

Tempat menyimpan masa depan yang hampir hilang

Lalu aku mencintaimu dengan tarian kembang berselendang

Gapura, 2019


Tarian Kunang-Kunang

Sebutir cahaya itu membungkam remang

Di antara pucuk-pucuk bunga

Melukis wajahmu menari di gentayangan

Mengelana di mataku hingga terpaku

Adalah kunang-kunang meringkuk segala resah

Di samping taman Adipura

Tempat menapaki jejak cinta usang

Mengubur kenangan menyatukan masa lalu

Di sini, aku baru saja menikmati kau menari

Sebagai kidung rindu yang menyinari diri

Dan kau tampak gemulai memainkan lentera

Menyulam segala sesak bermusim di dada

Gapura, 2019


Tarian kupu-kupu

Dua kepakan sayapnya menuai pelangi

Membuatku merambati madu di kelopak bunga

Bersijingkat di atas mimbar mataku

Adalah kupu-kupu yang setia menemani sepi

Di alun-alun taman kau tampak ceria

Melepaskan bahagia dikuncup sukma

Dengan aroma kembang yang di kecup bibirmu

Sesudah kau mencuci diri pada cermin sunyi

Lalu aku mengambil setetes madu di keningmu

Untuk menyirami luka yang kian empedu

Agar semua masa lalu tumbang dalam depakan

Hatimu yang tersusun rapi dalam jiwaku

Gapura, 2019


Tarian Sunyi

Dengan cara sunyi kita bisa menumbangkan resah

Membulat di dada yang menjadi detak jantung meruah

Tarian matamu suntuk melepaskan ranting yang patah

Menghapus luka-luka bermuasal di tubuh masa lalu

Sementara semerbak bunga menawarkan aroma rahasia

Memintal sunyi dalam memilah ayat-ayat kerinduan

Di puncak penantian berdebar membungkus satu kehidupan

Di antara aku dan dirimu membangun sebuah rumah, hati

Pada pekat malam bulan membabat cahaya senyum

Sedangkan aku menikmati sunyi dengan secangkir kopi

Menikmati hembusan angin yang ramah di pintu jendela

Hingga tanpa sadar sebuah kecupan kecil menempel di kening

Gapura, 2019


Tarian Angin

Sesudah subuh daun mimpi mengecup dingin

Membelah sisa-sisa peluh di ranjang waktu

Tempat merebah diri demi menuntaskan kantuk

Tubuh yang gelisah dalam dekapan asmara

Dan pada akhirnya setetes embun mulai renta

Melepas usia di tangan matahari yang ceria

Hanya angin yang selalu setia mengabarkan rindu

Dari puncak hatimu yang membeku di tubuhku

Lalu di mana kau memanen sebiji puisi itu ?

Sementara ladangmu sudah penuh ditumbuhi ilalang

Dan bebatuan yang kerap membelit tanah sunyi

Di antara sebungkus angin yang masih perawan

Gapura, 2019


Tarian Rindu

Tak ada yang lebih sunyi

Selain menyulam rindu

Di tubuh waktu

Sambil menunggu kepastian

Dari lisanmu yang perawan

Ke mana aku harus melepas rindu”

Atau mungkin ke dalam hatimu

Yang sering membuatku gelisah

Untuk memintal seluruh sunyi

Di sini, di teras rumahku

Sebuah pigura terpampang rapi

Lukisan wajahmu berkelindan di mataku

Menabur benih rindu

Di ladang tubuhku yang rapuh

Gapura, 2019


Tarian Hati

Setiap detak jantungku yang bisu

Mataku lembab menabur benih rindu

Sedangkan hatiku ombak

Memecah kidung pelayaran

Melempar sauh meruah

Ke matamu yang tajam

Sebab kutahu cara abadi

Adalah menari dalam diri

Gapura, 2019


Tarian Jantung

Detak jantung melepaskan deru

Perisai luka menuntaskan masa lalu

Bersemayam dalam tubuhku yang rapuh

Tak ada yang lebih kencang

Selain menyulam angin perawan

Dari hembusan napasmu yang riuh

Pada lorong masa lalu

Kununtaskan sejumlah kenangan dalam hati

Agar semuanya abadi dalam diri

Tanpa merakasan sakit kembali

Di pucuk penyesalan

Melintang di dua daun yang tumbang

Gapura, 2019


Tarian Lidah

Sering kulumat kata demi kata

Yang kau muntahkan ke palung hatiku

Aku sangat mencintaimu, Tuan.”bisiknya

Hatiku ombak melepas mutiara ke lidahmu rekah

Gapura, 2019


Ruhan Wahyudi. Lahir di Gapura Tengah Gapura Sumenep Madura pada 06 Mei Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, memulai berproses menulis Puisi di bangku MA Nasy’atul Muta’allimin, dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional Disparbud DKI Jakarta, Puisinya juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net)dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres. Tribun Bali.

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Cerpen Sri Wahyuni

“Kau sudah mengatuk?” tanyaku.

“Tidak adakah pertanyaan yang lebih penting?”

“Tidurlah jika kau mengantuk.”

“Jika aku tidur, apakah kau akan berhenti bercerita?”

“Tidak. Aku akan tetap bercerita sambil membelai rambutmu sesekali juga dadamu.”

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun. Tentu saja temanku sangat bahagia. Sampai terakhir bertemu, lima bulan lalu, perihal puisi itu masih tetap menjadi perbincangan kami. Semangatnya bercerita juga masih sama dengan kali pertama ia bercerita. Begitu pula aku, juga tak kalah semangat mendengarkannya.

Temanku itu kemarin baru saja menikah. Suaminya tentu saja kekasihnya yang menuliskan puisi di dadanya itu. Ia mengabariku lewat pesan melalui facebook, yang belum sempat aku ceritakan padamu. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan kisah cinta temanku di saat kita sedang menikmati pertemuan untuk membunuh rindu yang telah lama meraung-raung dalam hati. Terlebih kisah itu sangat berlawanan dengan kisah kita.

Aku sendiri tak tahu mengapa aku melakukannya. Aku tidak terlalu bahagia mendengar temanku menikah. Aku lebih tertarik pada cerita itu daripada kabar pernikahannya. Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukai cerita itu? Suka atau tidak, aku akan tetap meneruskan ceritaku sambil sesekali memagut dalam-dalam bibirmu.

“Kau masih mendengarku, Baruna?”

“Ini adalah peristiwa langka. Jadi aku akan mendengarnya hingga usai”.

Setelah pernikahan temanku satu bulan lalu, cerita itu semakin terngiang-ngiang di telingaku. Bayangan puisi itu menari-nari di depan mataku. Aku seperti bisa melihat jelas bagaimana kekasihnya itu pelan-pelan mulai menggoreskan tinta di dada temanku. Saat seperti ini, kau seharusnya ada di sampingku, sehingga imajinasiku tidak berkelana sendiri. Aku ingin kau juga melihat proses penulisan puisi itu. Ah, aku mulai merasa senang dengan pernikahan temanku. Betapa bahagianya dia, bisa memiliki suami seorang penyair.

Kebahagiaan itu saat ini dapat aku lihat dengan jelas, Baruna. Puisi di dada temanku itu tak pernah kesepian. Kekasih yang saat ini menjadi suaminya selalu mengunjungi puisi itu setiap hari. Aku mulai iri dengan temanku itu. 

“Apakah kau tak ingin seperti kekasih temanku itu, Baruna? Jika puisi itu telah kau tulis, aku ingin kau mengunjunginya setiap hari.” Itu pertanyaan yang aku ajukan padamu setelah aku mendengar kisah temanku. Kau tak langsung menjawab. Keesokan harinya kau  mengajakku pergi ke sebuah telaga. Aku tidak akan pernah lupa peristiwa itu.

Waktu itu aku dan kau duduk di tepi telaga. Suasananya masih begitu sepi karena hari masih terlalu pagi. Pohon trembesi di sekitar telaga tengah tersapu kabut. Pohon pinus di bukit-bukit yang mengitari telaga masih samar dalam pandangan. Permukaan telaga bagai bertirai garis-garis hujan. Ketika hujan mereda, tiba-tiba aku teringat cerita temanku tentang sebuah puisi dan kekasihnya itu. Sungguh, cerita itu sangat berkesan bagiku. Lalu aku melempar tanya lagi, “Maukah kau menulis sebuah puisi untukku?” Kau mengalihkan pandangan dari tengah telaga berpindah ke wajahku, lalu balik bertanya, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?”

Wajahku memancarkan semburat merah dengan hiasan senyum malu. Belum sempat aku menjawab pertanyaanmu, kau lebih dulu melumat bibirku. Hanya sekilas. Lalu kau mengulangi pertanyaanmu, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?” Aku mengangguk.

“Tulislah puisi itu di sini, Baruna,” Aku menunjuk dadaku.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Hanya untukmu”.

Aku duduk menghadapmu. Kedua kakiku kulipat ke belakang. Rambutku yang menutup dada aku sibak ke belakang. Tak kubiarkan sehelai rambut pun menghalangimu menulis puisi di dadaku. Sementara kau masih sibuk menyiapkan semua perkakas yang kau perlukan. Seperangkat hati, pena cinta, lalu apalagi? Hanya itu yang kau katakan padaku, Baruna.

Kancing kemeja merah muda yang menutup dadaku sudah keluar dari lubangnya masing-masing. Lima menit berlalu. Tak ada sehelai kain pun menutup dadaku. Aku tak sabar merasakan kau menulis puisi itu. Kupejamkan kedua mataku. Kemarin aku hanya mendengar cerita tentang puisi yang ditulis di dada temanku. Namun, kini aku merasakannya sendiri. Bahkan akulah tokoh utamanya. Aku menunggumu dalam kepasrahan. Kutahan kuat-kuat degup jantungku yang semakin cepat berdetak. Kututup rapat-rapat rasa cemas yang melintas di pikiranku.

“Ayo, Baruna, aku sudah tak sabar,” kataku tanpa membuka mata sedikit pun.

Aku tak tahu mengapa kau tak juga mulai menuliskan puisinya di dadaku. Mungkinkah kau masih berpikir bagaimana dan darimana mulai menuliskannya? Kau memang terbiasa menulis puisi, namun kali ini beda. Sebelum aku dan kau berada di kamar ini, pastinya kau telah memikirkan banyak hal tentang bagaimana menulis puisi di dada perempuan. Aku mau kau hanya akan melakukan hal ini sekali dalam seumur hidup.

“Jangan pikirkan bagus tidak puisinya, yang penting tanganmulah yang menuliskannya. Kali ini dadaku adalah kertasmu. Menulislah semaumu”.

“Ayolah Baruna. Tunggu apalagi?” Rajukku mulai tak sabar. Aku khawatir tak sanggup lagi menahan gemetar, tak kuasa lagi mendekap rasa cemas.

Tanganmu mulai bergerak. Kau tarik napas dalam-dalam lalu kau hembuska perlahan-lahan. Mungkin itu untuk menenangkan dirimu.

“Sekarang aku akan memulainya,” Kau berbisik ke telingaku.

Dengan hati-hati kau mulai menggoreskan pena di dadaku yang licin. Aku tersenyum. Huruf demi huruf kau tulis pelan. Sesekali kau hapus, entah menggunakan apa, rasanya dingin. Kadang kau berhenti sejenak. Dengan mata terpejam aku mencoba mengeja tulisanmu. Sia-sia. Aku tak bisa, yang muncul hanyalah wajahmu, Baruna.

“Ini akan segera selesai. Namun, aku enggan untuk mengakhirinya. Aku ingin terus memandangnya,” bisikmu padaku.

Kubuka mataku sambil kulemparkan senyum padamu. Itu tak lama. Kau mulai menulis lagi. Aku memejamkan mata lagi. Aku sekarang tahu mengapa temanku terlihat begitu bahagia ketika menceritakan kekasihnya dan puisi.

Aku masih memejamkan mata.

“Belum selesai juga?” tanyaku padamu.

Kau tak segera menjawab. Dan aku masih terus memejamkan mata tanpa tahu apa-apa. Kau berbisik ke telingaku, “Jangan buka matamu. Aku masih ingin membaca ulang puisi yang kutulis di dadamu.” Aku hanya mengangguk.

Bukalah matamu sekarang.

Kubuka mataku pelan-pelan. Senyummu menyambut. Kulihat keringat menetes dari wajahmu. Kau pasti menuliskannya dengan seluruh tenagamu. Bergegas kualihkan pandanganku ke dadaku. Kueja kata demi kata yang kau tulis.

Ah, aku mulai berimajinasi. Pikiranku berkelana pada masa silam. Maafkan aku.

“Kau sudah tidur, Baruna?”

Tak ada suara. Aku tahu kau sudah tertidur. Namun, seperti kataku di awal tadi. Aku akan tetap bercerita meskipun kau tertidur. Aku akan bercerita hingga malam habis, Baruna. Sebab aku tahu, setelah ini kita tak mungkin bertemu lagi. Mau tidak mau pada akhirnya kita harus menghadapi sesuatu yang paling kita takutkan–waktu–. Waktu tidak akan memihak kita. Waktu tak lagi memberi kesempatan kita untuk bersama. Aku akan menikmati malam terakhir sebelum laki-laki itu menyebutku sebagai istrinya. Lalu setelah itu, kita akan menutup kisah. Saling melupa.

Waktu berjalan begitu cepat malam ini. Satu jam lagi pagi akan segera datang, Baruna. Karena itu, aku akan segera menutup ceritaku tentang puisi di dada temanku, sebelum kita mencapai titik puncak sebuah kesepakatan untuk tak saling menghubungi apalagi bertemu demi kebaikan bersama. Kita harus mengubur dalam-dalam sebuah kisah masa lalu yang indah itu. Seperti katamu, penyelesaiannya semua kembali pada diri masing-masing.

Sebenarnya aku ingin kau mendengar akhir ceritaku, Baruna. Sayangnya kau telah tidur. Tapi tak apa, aku akan meneruskan ceritaku sambil memandang wajahmu untuk yang terakhir.

Baruna, kisah yang kuceritakan itu sebenarnya tidak pernah ada. Teman yang bercerita padaku itu hanya imajinasiku saja. Tentunya tidak ada temanku yang menikah kemarin. Tak ada pula puisi yang di tulis di dadanya. Tak ada penyair pastinya. Kau pasti tahu mengapa aku suka membuat kisah tentang penyair dan puisi bukan?

Kalau saja boleh, aku ingin kau menengok kembali puisi yang sempat kau tulis di dadaku waktu itu, satu-satunya puisi yang kautulis di dada seorang perempuan. Karena itu, bisakah kau bangun sebelum pagi tiba? Jawablah, Baruna!

***

Baruna terbangun dengan selembar kertas di sampingnya. Sepi, yang terdengar hanyalah detik jam dinding yang menunjuk angka tujuh. Baruna mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Sebuah tulisan singkat. Baruna membacanya.

Baruna, jika ada waktu tengoklah puisi yang kautulis di dadaku agar ia tak kesepian.

Dengan tergesa Baruna mengambil ponselnya untuk menghubungi perempuan penulis pesan itu. Baruna terperanjat. Ada panggilan tak terjawab lima menit lalu. Ia lalu  menelpon balik. Nomor yang dituju tidak aktif. Baruna memerhatikan waktu yang terpampang di ponselnya. Jam 07.10 pagi. Kesepakatan kemarin mereka akan berpisah tepat jam 6 pagi. Baruna menyesal mengapa ia tertidur semalam. Kini ia terlambat. Satu jam yang lalu perempuan itu telah pergi. Air membendung di mata Baruna. Perempuan itu telah meninggalkannya dan kembali ke rumah untuk mempersiapkan pernikahannya.

Dengan perasaan tak menentu, Baruna kembali ke tempat tidur sambil memeluk erat-erat kertas yang berisi pesan perempuan itu. Ia diam sesaat. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari ponselnya. Ia mengambil dan menyentuh layarnya. Sebuah pesan. Baruna membukanya.

Mas kapan pulang? Putri kecilmu terus menangis mencarimu.

Baruna tak membalasnya. Ia cepat-cepat membuka baju yang melekat di tubuhnya lalu menuju kamar mandi. Ia harus segera pulang. Ada perempuan mulia yang menunggunya dan seorang putri cantik yang menunggu di gendongnya. ***


Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo. Bergiat di rumah motivasi Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo.

Puisi

Puisi Yulia Rahmatika

Persembahan Puisi

: Kepada Tama

Puisi Pertama

Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu

Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu

Jika mengetahuinya

Puisi-puisi adalah kekasihku

Menjelang petang aku selalu merapalnya

Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya

Puisi-puisi ini doa yang khusyuk

Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau kenal

Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk dirimu yang membeku

Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon sabun yang dimainkan adikku

Barangkali langit-langit akan setia memayunginya

Selama ia ingin dan mau menujumu


Puisi Kedua

Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu

Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh

dari gemuruh pesta di jantungmu

aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian

mata angin mengantarkanku, kepada matamu

wajahmu puncak gunung

tertutup tirai kabut

dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh

diantara rimbun semak belukar

dalam jurang kekecewaan

diri ini akan berjuang

mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini


Puisi Ketiga

jangan berlari, dan jangan bersembunyi

aku gemas

akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa

kita berhenti pada bulan merindu

merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang

kita meminang segala macam kebahagiaan

tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,

pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan

seperti yang ada di sekeliling kita sekarang

tak ada gubuk derita, takada yang menderita

dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur pulas


Puisi Keempat

Di sini kita masih menebak jejak

Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau

Kaki ini atau kakimu.

Rasa penasaran mengetuk berkali-kali

Pada gerbang nurani

Seusai aku merangkai salam secara hati-hati


Puisi Kelima

Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?

Saban hari, kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata

Wangimu masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku

Matamu mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya

Yang menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada diriku

“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”

Padahal tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini

Tidak ada nama-nama indah. Tidak ada masa depan

Aku sendiri, tidak tahu, siapa diriku

“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”

Wajahmu selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku

Kau terbang bebas sesukamu, seperti burung-burung

Tapi entah, kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ

Mungkinkah cintamu akan pulang kearah jalannya?

Adakah jalan itu diriku?

Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?

Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu

Diri ini hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat

Asal ia bisa menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap

Di pelupuk mimpi-mimpiku

“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”

Aku tidak tahu.

 “Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”

Siapa lagi?yang kutitipi

yang kuserahi puisi-puisi

dari aku ini yang sungguh tak tahu diri.


Puisi Keenam

Lekuk bibirmu, kekasihku

Adalah keramahan

Suatu hari kelak aku tidak tahu. Bagaimana diri ini berhenti mengagumimu

Entah sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?

Adakah sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?

Pertanyaan itu dengan sendirinya menolak jawaban

Aku berhenti melangkah. Mencengkeram lututku sendiri. Aku telah menyusuri tebing-tebing

Tapi tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku

Aku gadis yang malu-malu. Dua puluh angka mau kudapati. Tapi aku masih berandai kalau aku ini angin. Tapi aku masih berandai jikalau saja aku ini air

Kekasihku;

Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun

Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.

Setiap kali kau begitujangan kau murungkan bibirmu kekasihku.

Sebab disana

Aku telah belajar

Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan

Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan bibirku;

Yang nantinya, kekasihku

Rekah bibirmu, itu sungguh ;

Ia untukku


Puisi Ketujuh

Aku yakin jika kau akan kembali

Tak peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.

Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.

Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai

Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri

Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah  menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar

Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang

Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya


Puisi Kedelapan


Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari

Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah

Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali

Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.


Puisi Kesembilan

Saya tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu

Saya tidak mempunyai cukup suara untuk mengatakan saya sungguh mencintaimu

Saya diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak cukup  menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.

Jadi saya memutuskan untuk takut.

Saya takut untuk mencintaimu.

Saya takut,

Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh tidak pentingnya jika saya mencintaimu.

Saya takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.

Kau mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”

Kemudian saya takut memikirkanmu

Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup ini untukmu

Saya takut,

Saya tidak memiliki apapun,

Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu tidak akan mencintaiku


Puisi Kesepuluh

Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana

Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang mencintaimu dulu; juga termasuk diriku

Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar disimpan saja

Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram

Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal

Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga kecewa


Yulia Rahmatika, lahir di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.

Buku, Resensi

Beban Berat Kaligrafi Semar

Oleh Rizki Amir

Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju ke wilayah timur, tetap mampu bertahan dan kerap melahirkan berbagai penulis cemerlang yang juga layak diperhitungkan dalam kancah bajak laut sastra Indonesia. Lihat saja satu di antaranya, Muna Masyari, penulis perempuan asal Pamekasan yang berhasil menyabet Cerpen Terbaik Kompas tahun 2017 lalu.

Hal semacam itu tentu saja tidak terlepas dari peran ruang-ruang diskusi dan komunitas yang meskipun sporadis, tapi begitu militan. Salah satu komunitas yang turut hadir dalam keriuhan itu adalah Bawah Arus. Meski tergolong kecil, komunitas itu diam-diam telah membimbing Andy Moe untuk maju dan berhasil menjadi peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2018 kategori cerpen. Dan di tahun ini, laki-laki itu telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Kaligrafi Semar (Rumah Akar, 2019).

Sebagaimana pendahulunya, Andy juga mengusung suara-suara dari beban berat kebudayaan Madura yang memberi pemahaman tentang suatu permasalahan dengan menengok hubungan kausalitas berdasarkan kenyataan bagi kepentingan personal. Konsep itu seolah harus dibawa dan dikembangkan agar menjadi ekor yang baik lagi benar.

Dalam cerpen yang berjudul “Ampun”, dituturkan bagaimana Matnaji, seorang bandit besar yang memutuskan memulai hidup baru di pesantren, karena telah kehilangan relasinya dan ia tidak lagi mampu melakukan aksi sendirian. Cerpen ini tampaknya memang sengaja memilih ruang-ruang religiositas guna mengungkapkan kecemasan akan rasa aman dan trauma dari peristiwa masa lampau yang jalin-kelindan. Di pondok pesantren, Matnaji juga harus sabar menghadapi penyakitnya. Penyakit yang sering kambuh, yang didapatnya selepas kejadian itu –.(hal. 7).

Tak hanya itu, sifat mengutamakan kepraktisan dan kegunaan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama dalam cerpen “Boi” juga menunjukkan bagaimana orang Madura yang bergerak cepat. Alih-alih menunggu kehendak Tuhan untuk memberi pelajaran pada bapaknya, tokoh Aku justru memilih melampiaskan kekecewaannya sendiri sebagai seorang anak yang kurang kasih sayang. “Dukk!” Bola handuk berpaku itu mengenai bagian belakang kepala bapak. Lalu kulihat darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Sebentar lagi darah itu akan menjadi banjir. Bapak akan marah padaku. Ia akan mengingatku karena telah menjadi pelempar, seperti aku mengingatnya. (hal. 16).

Di cerpen lainnya, “Nonggul”, meskipun berangkat dari premis apik yaitu mengangkat tradisi lomba setet—jenis layangan yang ada di Madura, di tengah jalan dengan perlahan tapi pasti, cerita bergeser ke arah kepercayaan akan hasrat dan prasangka tanpa peduli tindakannya itu akan merugikan orang lain atau tidak. Sungguh kental aroma mistik yang peserta percayai, bahkan para pemilik setet dapat dengan mudah marah hanya karena gulungan senar mereka dilangkahi seseorang. (hal. 60). Dan konsekuensinya adalah perlombaan itu bukan lagi jadi ajang untuk memperebutkan hadiah, tapi sebuah perang yang harus dimenangkan.

Tapi pertanyaan selanjutnya apakah beban berat kebudayaan daerah itu hanya bisa dituturkan dalam ranah asal? Seberapa besar kemungkinan dari keterpisahan yang terbentuk dan mampu‘hidup’?

Dalam cerpen “Menghadap Langit”, mungkin Andy sudah coba menjawabnya meski tanpa tendensi untuk mempertebal keterpisahan dari asalnya. Sayangnya, dalam posisi bingung dan masygul untuk tetap mempertahankan ironi yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan suspensi, yang empunya cerita akhirnya memutuskan untuk melompati bagian penyebab di balik terjadinya peristiwa.

Serupa dengan itu, di cerpen yang berjudul “Rumah Dulla”, kita akan berjumpa dengan Dulla yang berkemauan keras dan melihat kehadiran ibunya hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Sayangnya ketegangan menghadapi peristiwa malah menghasilkan efek yang terlampau kasar dari perpindahan satu bagian ke bagian lainnya. Jika kau melihat kerusakannya kau tak akan percaya jika Dulla bisa selamat dari kecelakaan itu. Dulla hanya tergores beberapa senti di bagian lehernya saja namun tiga penumpangnya menemui ajal. (hal. 79).

Semua itu hanya eksplorasi, tentu. Tapi pilihan semacam itu justru menujukkan bahwa Andy tidak sedang bermain di ranah yang membuka ruang untuk pertentangan. Ia tampaknya hanya ingin dunia ceritanya dapat diterima sebagaimana mestinya.

Hal yang kuat dan menarik dari buku yang berisi lima belas cerpen itu, bagi kita, sebenarnya adalah bagaimana penulis menawarkan penggabungan antara sesuatu yang abstrak dan yang konkret. Ia berusaha menangkap laku dalam berproses. Dalam cerpen “Kaligrafi Semar” yang menjadi judul buku misalnya, ada gambaran mental yang dalam dari apa pun yang ada di luar subjek, yang digunakan untuk memahami peristiwa dan citra diri, sehingga apa-apa saja yang dilakukan tokoh Semar bukan hanya berguna sebagai tanda, tapi juga cenderung hiperbol.

Hal demikian, sekiranya perlu diketahui para pembaca lantaran mampu membuat buku kumpulan cerpen Kaligrafi Semar memiliki sisi tersendiri di laut lepas yang sudah lebih dulu diarungi para penulis prosa dari daerah Madura lainnya.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Cerpen

Mendung Jatuh di Mata Bapak

Cerpen Latif Nur Janah

Gelisah membuntuti Ibu. Mengikutinya sepanjang ia menjalani hari. Berserak di wajahnya yang kusam. Pagi tadi, gelisah hadir ketika ia hendak menghidupkan tungku, menghidupkan kehidupan.

Aku yakin, kegelisahan jugalah yang membuat Ibu menjatuhkan piring sebelum ia selesai menata hidangan untuk makan siang kami. Sampai-sampai, ia juga keliru menuangkan cairan cuka ke dalam acar tahu di piring Bapak.

Meskipun aku tak begitu dekat dengan Ibu, sebagai anak yang terlahir dari rahimnya, aku tahu persis manakala Ibu tengah dilanda keresahan. Lain Bapak, ia begitu mahir menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan.

Dari meja makan, terdengar televisi menyiarkan berbagai aksi demo mahasiswa. Aku menghentikan suapanku. Bukan untuk memperhatikan berita, melainkan untuk membaca suasana. Bapak masih terus melahap acar tahunya, meskipun aku yakin ia begitu terusik dengan suara reporter itu. Sementara Ibu beranjak ke dapur. Tempat ia menuntaskan air matanya.

Satu-satunya yang kulakukan adalah segera melicinkan piringku, lalu bergegas mencium tangan Bapak. Sebelum aku melangkah ke halaman, kuhampiri Ibu di dapur, kucium tangannya, lalu kupeluk tubuhnya yang kian ringkih.

“Mas Farhan baik-baik saja, Bu,” bisikku, persis di telinga kanannya.

Ibu menyeka air mata. Kegelisahan di wajahnya memudar sementara.

“Suruh ia pulang. Ibu sudah rindu,” balas Ibu. Mendung kembali hadir di rongga matanya. Aku mengangguk.

Usai kursus membatik di rumah Bu Sukatmi, aku menyusul Bapak ke ladang jagung. Hamparan daun-daun jagung mengeras tersiram panas yang ganas. Meski tak mengenakan sarung tangan, Bapak begitu lihai mengambil tongkol-tongkol jagung dari batangnya. Setelahnya, batang-batang yang kemresek tersenggol gerak tangan dan kaki itu dirobohkan dengan satu injakan. Bapak akan membakarnya sebelum hujan labuh datang.

Tentang Mas Farhan, aku yakin, Bapak menyimpan rindu seperti halnya dengan Ibu. Hanya saja, Bapak adalah tipikal orang yang enggan untuk melihat segala sesuatu dengan perasaan. Lumrah saja, ketika tahu bahwa Mas Farhan secara diam-diam sering bertemu dengan orang tua kandungnya, Bapak merasa dirinya tak dihargai. Sementara ketika mengadopsi Mas Farhan saat berumur dua tahun, orang tuanya berjanji untuk tak akan muncul di kehidupan Mas Farhan.

“Memang sudah saatnya Farhan tahu tentang mereka, Pak,” rintih Ibu suatu sore ketika Mas Farhan baru saja pulang sekolah.

“Iya, tetapi bukan sekarang. Mereka sudah berjanji untuk ini, dan aku pun begitu. Jika harus bertemu, aku jugalah yang harus mempertemukannya.” tangan Bapak berhenti melinting kelobot berisi tembakau dan guntingan cengkeh.

“Seharusnya sudah dari satu tahun yang lalu kita mempertemukan Farhan pada orang tuanya.”

Bapak meraih lintingan kreteknya, lalu menyulutnya, menimbulkan suara kre..tek..kre..tek..

“Atau jangan-jangan, Bapak yang mau ingkar janji dengan tidak mengizinkan Farhan bertemu orang tuanya.”

Ucapan Ibu membuat waktu membisu. Dalam suasana yang begitu ganjil, aku melihat Ibu seolah menelan ketakutan akan ucapannya sendiri. Sementara Bapak lekas berdiri, meraih selopnya di bawah kursi, lalu melempar  puntung kreteknya ke tanah. Apinya padam dengan satu gilasan.

Mas Farhan memang saudara tiriku. Meski begitu, aku dan ia merasa bagai saudara kandung. Ketika Bapak dan Ibu mengadopsinya karena lebih dari tujuh tahun tak memiliki anak, tiga tahun kemudian lahirlah aku.

Dengan beasiswa, Mas Farhan kuliah di Jakarta. Bagai gayung bersambut, ia bertemu orang tuanya yang kini menjadi pedagang kain di Tanah Abang. Semakin lama, ia memang jarang pulang karena terlalu sibuk dengan urusannya di BEM. Dan situasi ini membuat Bapak selalu berpikiran bahwa Mas Farhan telah lupa padanya. Padahal selalu kutunjukkan riwayat panggilan di teleponku. Tetapi, alih-alih melihatnya, Bapak memilih pergi. Sampai suatu ketika saat Mas Farhan pulang, Bapak mengusirnya karena sakit hati.

Hamparan jagung ini menyimpan banyak kisah Bapak dengan Mas Farhan. Sebelum aku sering membantunya, Mas Farhan-lah partner terbaik Bapak di ladang. Aku begitu yakin, di antara dedaunannya yang mengering, terselip rindu yang begitu menggebu. Ada harapan yang membuncah ketika dengan berkarung-karung jagung, saat itu, oleh Bapak dijual dengan harga murah. Tak lain untuk uang saku Mas Farhan ketika berangkat ke Jakarta.

Dua hari yang lalu, aku mendapati Bapak terpekur di depan televisi saat berita tentang demo mahasiswa berlangsung. “Syukurlah.” Ucapnya ketika mendengar tak ada korban jiwa setelah aksi selesai. Sehebat apa pun ia menyembunyikan rasa sedihnya dari Ibu, aku masih bisa melihat resah di setiap bahasa tubuhnya. Ketika ia menyadari kehadiranku, aku melihat sebongkah kerinduan yang nyaris menawan raut wajahnya.

Aku pulang, Nis.

Pesan singkat itu kuterima saat aku berteduh di bawah pohon pepaya. Angin panas yang menerpa wajahku menjelma embusan yang begitu menyejukkan. Ya, aku yakin jika Mas Farhan akan pulang. Ia tak mungkin membiarkan Ibu dirundung gelisah dan rasa bersalah yang tak sudah-sudah. Bagaimana pun, Ibu selalu menganggap dirinya tak mampu menjaga apa yang menjadi tanggungannya jika membiarkan Mas Farhan pergi.

Aku berniat pulang saat menyadari aku lupa membawa bekal minuman. Tak sabar juga bertemu Mas Farhan dan melihat kegembiraan Ibu. Aku sudah tak tahan setiap kali melihat Ibu melamun di dapur. Dapur lebih serupa tempat yang mengekalkan kenangan setelah Mas Farhan jarang pulang. Aku harus meminta pertanggung jawaban Mas Farhan akan hal itu.

“Jangan dihabiskan. Sisakan untuk Bapak.”

Suara itu…

Senyum Mas Farhan mengembang ketika kubalik  badanku. Kuraih sebungkus es teh dari tangannya.

Di hamparan jagung di atas sana, Bapak memandang ke arah kami. Ia diam terpaku. Topi anyaman pandan  yang dikenakannya, melambai tertiup angin.  Saat sosoknya semakin mendekat, ada sesuatu yang membuatku seolah tak tahan melihat wajahnya yang penuh peluh. Gegas, Mas Farhan mencium tangannya. Ada mendung yang bergantung di balik kelopak mata Bapak. Lantas jatuh membentuk setitik air mata, buah kerinduan pada anaknya yang tertahan.

Gemolong, September 2019


Latif Nur Janah, lahir 1990. Menulis fiksi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.


Puisi

Puisi Julaiha S.

Beduk Rindu

kaki-kaki menelan tanah sawah

sepanjang usia ibu

hijau-kuning menakar tubuh keriput

di antara senyum itu

ada denyut yang mengeja waktu

tak ada yang nyata menggulung ingin

yang tercermin dari rupa rumah

pohon-pohon ikhlas

mengayun air malam yang kedinginan

menelusuri sisa-sisa letih

yang dijaga ibu sebagai ribuan doa

untuk kaki kuat di tanah kota

Medan, 2019


Kabut-Kabut Kelabu

langit kini nyanyian kabut-kabut kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk

tak ada yang ingin pulang

seperti burung-burung menjelang magrib

yang bersorak-sorak memanggil anaknya

aku tertib mengeja almanak

tata kera kemeja

urutan kancing baju

menghitung detak masa lalu

air selokan begitu tenang 
menjaga kakimu tetap berjalan

aku cinta yang mengalir dari

luka-luka sekujur tubuhmu

aku kandas dalam kemarau

berjiwa kota

di dalam angin

aku merindukan doa-doa

yang terbang tak tahu arah

Medan, 2019


Mata Seberang

tubuhku mencari-cari pandang

yang melipat kata jadi udara

yang tersimpan dari lubuk kenangan

ialah mata-mata seberang

menuntun langkah jauh

mekar di jari-jari kaki perempuan

tubuh angin memelukmu

semilirnya, menggetar kendi

di kepala kakak perempuan

yang di dalamnya bunga beragam rupa

di balik mata seberang

candumu mengemas hilang

yang menetes dari dahan-dahan kering

Medan, 2019


Tugas-Tugas Jarak

jarak ini tumbuh daun-daun kering

menepi menuju masjid

suara sapu lidi menyeret tanah

mengeja langkah kepergian lalu

larut malam kini menyerang rimbun

kaki menaiki kendara

kepala bocah panas waktu

dengan tugas-tugas tak berujung

barulah ia mendaki inginnya

kelebat duka suara ibu

sungguh tak ia ingkari kehadirannya


Medan, 2019


Burung-Burung Tak Menangkap Kabar

cakarmu tak melubangi tanah

detak-detaknya tertanam di sana

yang semakin senja

dan terbenam

Medan, 2019


Yang Diulang-Ulang

berulang-ulang

tasbih berulang-ulang

bulirnya menghantarkan gelisah

berulang-ulang

lantunan kuulang

bawa aku pulang

memelukmu

Medan, 2019


Tampungan Air

kau hanya duduk

mencium tubuh air

simpan aku dalam sedih

dan gulana

mahir ia menerjemahkan

tubuhmu tapi tidak pada tubuhku

di sana rindu tak mencuat

hanya menggelembung seperti

napas yang tanam

Medan, 2019


Menatap Langit

Ada hujan berjatuhan di matamu

kedap bintang mengairi cahaya musim

dari bumi, langit mengasah gulita

yang matang sebagai bakal mimpi

Ia tetap kukuh

mengakarkan rimbun harapan

memoar; menukik janji

sampai pulang ke jangkar hari

dan pagi-pagi penuh recehan ilusi

Medan, 2019


Makna Pagi

Anak-anak mencari subuh

menabung amal, dan menaikkan restu

dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.

mereka telah tunai menanggalkan kantuk

suara panggilan dari ufuk,  mengaburkan mimpi

roh kembali pada jasad setiap malam.

Anak-anak mencari riwayat pagi

sementara kau masih berkabut sepi

membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan

mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu

sebagaimana kita mengadu pada laut.

Pada tangisan tangisan langit, perihal problema

yang mengurangi napas jantung.

tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.

kau telah menghabiskan kesabaran

pada sepi di sebuah lampu kota dan

taman-taman yang tak ada rupa bunga

Medan, 2019


Sebuah Pelita

rahasia tumbuh dari tubuhmu

waktu menata kata menjadi pertanyaan

renta hari, langit menangkap sunyi

masa silam disirami janji

angin telah mewartakan pagi

sebagai awal dari rantai mimpi

kau masih saja memanggul petang

dan riwayat yang kusebut usai

aku telah berkelana

melihat dunia padat di pipimu

setelah usia semakin tumpul,

kau tetap pelita

Medan, 2019


Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).