Katalog

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Kepada Seorang Novelis yang Malas Bersilat Bahasa Api di Depan Publik

Sekawanan api kata-kata dalam mesin kepalamu

melorot menjelma ular-ular beracun di sarang

hati-hati para penguasa yang kehilangan induk

kasih-sayang.

Sementara, kau sendiri terbenam dalam genangan kesunyian

kesunyian yang jauh dari suara-suara tuhan yang kebingungan

mencari obat untuk bangsanya yang sekarat, akibat persoalan-

persoalan kekuasaan yang semakin memberat.

Barangkali, kesunyian adalah keruwetan ingatanmu menganyam

dongeng-dongeng dari sisa air mata kenangan tentang

orang-orang jelata terpinggirkan, atau tentang bandit-bandit

gendut yang mencita-citakan surga kekuasaan.

Itulah kenyataan satir yang menyihir manusia getir memasuki

hutan-hutan cerita api dalam novelmu. Namun, nyala api nyalimu

masih sepercik korek api di tengah angin puting beliung:

padam induk kobarnya, bak susut nyali nyala api hatimu.

Sebab, kau hanya mampu melayangkan layang-layang kata tajam

di langit-langit negerimu yang terancam kegelisahan.

padahal, demonstrasi kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan

duka-cita kehidupan. Di saat kepulan asap persoalan hukum,

korupsi, agama dan kekuasaan menyesaki paru-paru negeriku-negerimu.


Setan di Hatimu Memanen Kesesatan

Kepadamu yang terlahir sebagai imam kesesatan

Tak kutemukan tuhan dalam dirimu

Hanya berlembar-lembar bahasa dosa

dan metafora kesesatan setebal buku

kamus dibaca waktu.

Padahal, telah kucari letak tuhan

paling strategis di tikungan jalan hatimu

di mana denting doa-doa bisa kudengar

dari sepasang sunyi bibirmu karat dusta.

Barangkali kau perlu menjadi bayi kencur

kembali ke gendongan ibumu. Lalu dewasa

sebagai manusia wibawa.

Sebab, walau selautan air tobat pun tak mampu

menghapus kata-kata dusta dan keangkuhanmu

di kejauhan mata sana.


Tuhan Sedang Berkabung

Dulu agama adalah ladang surga kasih-sayang

kini menjadi biang cacimaki, pembunuhan

dan permusuhan.

Di saat nama tuhan disadekahkan

ke orang-orang tolol soal agama

demi keuntungan massa dukungan.

Dikara segalanya menyenang-nyenangkan tuhan.

Padahal, tuhan sendiri tertawa terkencing-kencing

atau sedang hobi berkabung di hutan sunyi sana.

Melihat raja-raja ahli ilmu agama

Berkoar-koar meremuk-redamkan

rumah-rumah agama lain.

Dikira agama sendiri surga,

dan yang lain adalah neraka.


Agamaku Kopi dan Tuhanku Puisi

Di saat agamamu tak lagi mengepulkan sedap aroma

Kasih-sayang dan perdamaian. Kuputar haluan

Hatiku ke secangkir kopi agama legit kenikmatan.

Di sini, tuhanku bukan lagi ciptaan mesin imajinasi

Tapi, tuhanku realita yang berwujud kata-kata puisi.

Hatinya abadi menyimpan diksi-diksi sakit hati

Atau melunakkan metafor-metafor rasa benci.

Dan rakyatnya adalah perasaan-perasaan sendiri

Yang terbuat dari sebekan-sobekan hati habis dicabik-cabik

Anjing-anjing agama kenangan yang tak menyimpan

Rasa manis ketenangan.


Pada Hatimu

Pada segelas kopi, kuseduh kental hatimu

manis di lidah pahit luka di cecap hatiku

kali ini dedak tidak melekat di lepek waktu

Kecuali jernih sendumu yang kuaduk lalu

Kuseruput kata sampai larut rasa resah di bibir jiwa

dengan pintu mata terbuka tanpa lelap alpa mengunci.


Reportase Akhir Tahun

Tahun terbaring lemah di ranjang waktu dengan

muka senja, sebentar lagi susut ke liang kematian

Sebelum tahun di kubur tengah malam dan letusan

bintang api merayakan tahun perawan di langit kelam

Kukalkulasi detik-detik kehadiran baru tahun

lalu kukalikan hatiku dengan hari-hari sendu

Agar genap suka-luka tigapuluh satu kenangan

di almanak puisiku.


Ayat Pengantin Senja

Menanam beling dendam dalam hati

lebih pedih dari segunung api membakar diri

Pengantin senja haramlah saling memutihkan mata

atau gemar menjerat kata sekedar menyapa

Lihatlah betapa masak buah resah di ranting hati

Merasa malulah kepada kerukunan burung-burung di langit

dari gelap ke terang senyap di ribaan waktu

bagaikan alpa ada apa apa janganpun tutur sapa

tetapi diam mendekap dendam bukan berarti aman dari bala bencana

Bencana sepasang jiwa lebih dahsyat berguncang dari gempa dunia

meski keduanya saling menghapus corak resah di kedua wajahnya

tetapi bila di bilang buah hati, sepeser pun ada getir di dalam hatiku

Duh, pengantin jiwa sambung kembali asmara dalam hati

lalu eratkan tali-tali setia pada pohon kasih meski berumur tua

sebab percintaan yang tua mengalahkan masa muda


Kecupan Terakhir

Lapar atau kenyang satu padu dalam rahim ini

menangis dan tertawa wajib kawinkan di aula hati

supaya tak ada cerai dan perang dalam diri

Dan hidup tak usah cerewet melulu di pertanyakan

walau kematian setia menjadi momok menyeramkan

di masa muda sampai tua

Padahal maut bukan binatang buas yang hobi menerkam

mengapa harus ditakutkan mengapa,

kematian adalah kecupan terakhir yang di berkati Tuhan.


Kematian Kawanku

Kematian adalah teman lamamu

yang kutunggu jua sejak hidup ini

Siapa yang mahir menafsirkan

maut kan datang ?

Tetapi dirimu sendiri paham

bahwa kematian akan menjelang

Setelah bisikan malaikat kepada napasmu

sendiri dirasakan kini


Pengantin Songkok dan Sarung

Berulangkali kunikahkan songkok dan sarung di aurat diri

setiap keluar kuberjalan atau tamu menghampiri

Penghulunya hatiku sendiri, berucap ijab ikhlas sebulat bumi

Boleh sekedip mata waktu sejoli songkok dan sarung bercerai

tetapi tak boleh keluar pagar

Sebab jika kepala kehilangan songkok, lebih baik tulangku

seputih kapur ketimbang putih mata

Atau perut ke kaki telanjang merana menalak sarung, menjadi sobek

baju kewibawaanku legam mata kancing hatiku dan tercemar

Sebab songkok dan sarung adalah seperangkat bendera yang tak pernah

sungkan kukibarkan di tiang tubuhku di mana-mana.


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara -Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan.

Buku, Resensi

Mengurai Ketidaksadaran

Oleh Dwi Alfian Bahri

Jagat Digital, itulah kata yang dipilih Agus Sudibyo untuk judul buku terbarunya. Mungkin judul itu tidak terlalu menggugah selera pembaca, tetapi, ada hal yang menarik di sub judulnya, yakni Pembebasan dan Penguasaan.

Melalui dua kata tersebut Agus Sudibyo coba menjelaskan sekaligus menguraikan hal yang tersembunyi dari jagat digital. Mengeksploitasi permasalahan yang selama ini tidak disadari. Pembebasan dan Penguasaan dijadikan materi dasar atas buku yang berjumlah 466 halaman tersebut.

Ada kutipan yang menarik dalam buku tersebut, “muncul kesadaran di kalangan generasi muda dan terdidik di Barat untuk mulai berjarak dengan semua bentuk media baru. Ketika kesadaran ini makin menguat di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia masih pada fase mengagumi dan menggandrungi media baru dan kurang memperhatikan benar konsekuensi yang ditimbulkannya.” Bisa disimpulkan, secara garis besar penulis ingin menyampaikan hal yang sebenarnya gagal diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jagat digital, sebuah dunia baru yang melenakan sekaligus mematikan. Bangsa Indonesia belum sadar terhadap frasa tersebut. Melalui bukunya ini, penulis menguraikan hal terselubung yang terdapat dalam Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya. Hal terselubung itu ironisnya kita nikmati detik ini dengan nyaman.

Perlu diketahui, tidak ada yang benar-benar gratis: free service dengan free data. Perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan diri. Itu yang dinyatakan Agus Sudibyo dalam bukunya.

Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya sebenarnya telah menghegemoni kesadaran kita. Privasi kita diambil secara mudah dan kita terus tertawa sambil berswafoto sekaligus berselancar di dalamnya.  Ada hal yang menghegemoni pikiran pengguna internet, sehingga secara tidak sadar sedang menjadi objek eksploitasi, alih-alih menganggapnya sebagai kewajaran.

Berpijak pada konsep panopticon (Foucault), Agus Sudibyo memberi gambaran yang jelas betapa sebenarnya kita sedang benar-benar diawasi setiap waktu tanpa jeda sedikitpun. Konsep ini menggambarkan suatu penjara yang di setiap sudutnya dipasangi perangkat CCTV (digital panopticon).

Sudah tidak ada lagi kebebasan, karena yang ada adalah pengawasan dan pengendalian. Karena, hampir semua gerak-gerik penghuni penjara dapat dipantau dan diarahkan. Tujuannya ialah menjadikan pengguna sebagai sumber atau bahan baku gratis untuk proses manufaktur dalam bentuk yang baru dan skala tertentu.

Kembali pada sub judul buku, Pembebasan dan Penguasaan. Kita memang diberi kebebasan yang benar-benar bebas. Dalam buku The New Digital Age: Transforming nations, Businesses, dan Our Lives dinyatakan, “Dunia digital adalah ruang tanpa hukum terbesar di dunia.” Maksudnya, pada ruang inilah kita bebas melakukan apa saja, semua hal tersaji. Sebab, perlahan dan pasti semua hal mulai terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Sayangnya, pembebasan semacam itu berjalan lurus dan beriringan dengan penguasaan yang terjadi.

Free service dengan Free data. Begitulah konsep yang coba diuraikan Agus Sudibyo dalam bukunya ini. Tidak berlebihan rasanya jika Sony Subrata berharap buku ini mampu merangsang studi, riset, dan penulisan karya ilmiah yang lain, karena bangsa Indonesia seyogyanya tidak menyadari betapa luar biasanya pertunjukan di balik layar jagat digital tersebut. Pertunjukan yang belum pernah mereka ketahui. Buku ini bisa dijadikan salah satu pijakan untuk memulai, memahami, dan menguaraikan isi jagat digital.

Selain hal di atas, pada bagian akhir buku ini, dipaparkan hal yang lebih menarik. Sifat jagat digital yang sejatinya semu, ternyata mendapat sebuah legalitas yang baik. Tentu saja sangat memprihatinkan bahwa negativitas media sosial justru diamplifikasi oleh media massa, khususnya media daring dan televisi.

Kekusutan info di media sosial dalam berbagai kasus justru dilanjutkan ke dalam ruang pemberitaan, diskusi publik, dan bincang-bincang televisi (talkshow). Ini semacam fenomena yang mengerikan. Ketika hal yang sejatinya rancu, banal, hiper, rapuh, berkelindan, tiba-tiba menjelma paradigma baru publik. Media massa menjadi follower media sosial, itulah yang ditulis Agus Sudibyo.

Jadi, media massa yang sebelumnya menjadi titik tolak pemberitaan karena kredibilitasnya yang terjamin, kini beralih fungsi menjadi pengikut kebanalan informasi.

Media sosial (jagat digital) sesungguhnya berhasil menciptakan perubahan revolusioner dalam hal mode komunikasi, interaksi sosial, dan partisipasi politik. Di samping itu, ada hal di balik layar yang juga harus dipahami dengan baik dan bijak. Sebagai panduan bersikap di dunia baru tersebut, Agus Sudibyo menawarkan hal yang argumentatif serta perspektif yang kritis dalam bukunya ini.

Eksploitasi masalah-masalah di atas menjadi bahan baku buku ini. Bagaimanapun, pengguna internet di Indonesia tembus 171 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Kalau kita tidak mampu menyikapi fenomena digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini, cepat atau lambat kita akan menjadi ladang penjajahan media owner.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di instagram: @suaraalfian47.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Taman Kota Jam Dua

di taman kota, aku menemukan diriku

sedang awas pada tiap telinga.

kusulut ini rokok dalam diam,

dalam-dalam

ibu, hai yang tak kutahu namanya

demi hebatnya malam

kopi harap segerakan!

mi instan untuk ketegangan seorang

perempuan

dan gelak tawa seorang bujang

pecah apa pun yang jadi sunyi

kutulis puisi 15 menit dan tak peduli

ketika seekor nyamuk menampar mukaku

ia bertanya iseng,

“hai, ini malam Minggu, kau tak ada janji

bertemu?”

2018


Wahai Kesepian

dari mana kau datang wahai kesepian

siapa yang mengutusmu

jarak adalah kisah yang membosankan

bila diceritakan oleh malam

Tuhan sayang, kala pertemuan adalah

makhluk yang hanya kalah tipis dari surga

mengapa Kau perkenalkan perpisahan 

Pariaman, 2014


Goreng Cinta Percintaan

aku tiba di kotamu

melewati kabut gila

asap penuh sesak; bangsat!

sebelum dan sesudahnya

kulumuri karang gigi dengan doa

; tentang apa yang kita sebut harap

; tentang bagaimana menunggu

akan kupeluk kau; sekuat tenaga!

hangat, umpama pijar pada gelap hebat

kita tak tahu lagi orang lewat

bagaimana burung pulang alamat

goreng pisang rasa cinta

dan tulisan Rp.500,- yang dicetak miring tebal

lumat pada mentari yang malu-malu

dan kau yang sedang kuyup

pasti sedang mencari

bagaimana aku sembunyi

di tepi diri

di awal malam

kita sama bertanya,

“kapan dan untuk apa pulang?”

Mei, 2018


Hari Lalu

yang jauh akan pulang

seperti masa lalu dalam ingatan seseorang

tak ada tempat bagi yang pergi

melainkan kembali

seperti kemarin pada hari ini

padi masak sore hari

burung gereja pulang petang di masjid-masjid

angin menemui sarangnya

senja menyembunyikan hari esok

dalam cahaya merah saga

kau pasti kembali

2015


Sepasang Kekasih yang Lupa Bagaimana Cara Bercinta di Atas Awan

pada bumi, salam maaf telah diam di hati
disampaikan di udara, ditulis, dibukukan malaikat
jatuh jua kita, kekasih
sampailah kita pada waktu jauh
jalan pulang yang salah dan panjang

berdamai dengan iblis hitam bertenaga musik metal cadas
kecemasan yang ramai, seperti pengunjung konser musik yang kehilangan kunci motor
rangkul saja aku, kekasih
peluk dengan segala hangat
kecup lagi sedikit, kalau bisa gigit sampai sakit
ya, kita harus siap untuk jatuh

kita adalah sepasang kekasih yang lupa bagaimana cara bercinta di atas awan
tak lain, yang selalu kita jaga hanya doa
itu saja

Ketaping, 08/04/2015


Cinta Adalah

cinta adalah lantunan maha sakit,

tempat di mana ketiadaan harus dipertanyakan,

penyair berkata, lewat akun twitter-nya

“cinta adalah hari libur pedagang pasar pagi,

lebih susah dicari, dari mencari-cari mati.”

2014


Masuk ke Rahimmu

pulang ke rahimmu

aku mencret

ngilu pedih seluruhku

jangan kau lari

kau tak bisa sepenuhnya

sembunyi, dari apa

yang sebabkan mati

kau selamanya bingung

di jantung, kau akan selalu

murung digantung.

kepalamu akan muncul

di gunung-gunung

dan tak seorang pun

pernah ingat kau ada

2018


Obat Luka

beberapa lagu dalam sunyi

bunyi, selalu bunyi

selalu saja, diri ini kehilangan diri

bahkan ketika aku memanggil apa saja

tak seorang pun, bahkan juga kau

mampir ke sini

untuk obati luka

kau di mana, kau?

aku, di mana aku?

kukira kau tau

rupanya kau bukan

2019


Menebar Bunyi

aku ingin dikenang olehmu sebagai bunyi

yang lama dan bertamasya di hati

diam pula di jantung

aku ingin lama di dalam dirimu

seperti siul burung-burung di kejauhan

seperti ledakan di medan perang

yang merebut kemerdekaan

dan memenjarakan ingatan

2019


Di Udara

kita bercinta sekuat tenaga

di udara

kau ayun jiwaku tinggi ke atas

enak, kita berdansa riang

gembira

eh, anu

bergetar ah, ada sesuatu di celana

berdistorsi, bertenaga

dan tentu saja, cintaku, manisku, sayangku,

muah muah

aku akan memenangkan niaga!

2019


Dangdut dari Kejauhan

Gerimis di telinga

Badai di mata

Hati luluh-lantak merana.

Aku mau pulang ke bahumu

Bersandar, meminta jalan pulang.

Meski rumah terbakar, sungguh!

Kamu lebih kilau dengan gingsul

pada gigi. Lubang jepang di pipi.

Sungguh!

Bagai laju kota.

Aku akan selalu berburu.

Orang-orang berlari mengejarmu.

Aku naik motor. Sungguh!

Bukalah pintu!

Seorang baik selesai mengetuk.

Mei, 2017


Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Puisi

Puisi Ethex

Jarak Cinta

jauh dekat menciptakan suasana
yang menimbulkan sebuah rasa

bila dekat—apalagi tak berjarak
apa yang terjadi dan menyeruak

bila jauh—apalagi terpisah ruang dan waktu
apa yang terjadi dan terasa

jarak cinta
jauh dekatnya
menimbulkan rasa

bila jauh—rindu mendera

bila dekat—ahahah bergelora

desember 2019


Tak Sekali Saja

entah ke berapa, -tak sekali saja
kau menebarkan angin
daun-daun terkesima

aku tak pernah menduga
kau pandai bersilat lidah
di mana-mana

dan tak sedikit juga
anginmu jadi luka

kemarin kau berkata -ah
hari ini -ih
esok

tak sekali saja
kau mengelabui diri sendiri
bersembunyi di balik kata

dari kenyataan yang ada

desember 2019


Liburan

Ke mana memanjakan diri dan pikiran
bebas dari rutinitas keseharian
mumpung liburan

Kalau aku tak ke mana pergi
aku tak kenal liburan
rutinitas terus silih berganti
tak ada kata, liburan

Ke mana pun pergi
:walaupun liburan
tetap memulung diksi
di mana kaki berjalan

Liburan, bagi pegawai
saat yang paling dinanti
menghabiskan gajian
pergi ke wisata hibur diri

Sedangkan, liburan
:bagiku sebuah tantangan
bagaimana gaji bulanan
tak hanya dibuat dolan

2019


Sajak Sejak Ada Aplikasi

Sejak ada aplikasi
segala data di aplikasi
disingkronisasi

Sementara kemampuan diri
pada umumnya masih tradisi
belum paham apa itu aplikasi

Apalagi yang online segala
yang menuntut koneksi kuota
fitur yang di-klik pun beraneka
saling terkait dan langsung tersambung
siapa yang tak kerja langsung bisa
diketahui kinerjanya

Perubahan yang ada—tentu saja
ada suka dan duka
yang menimpa
bagi yang paham -enak saja
bagi yang tak paham -apa rasanya

2019


Puisi dari Statusmu

Kata-katamu memang indah
tersusun rapi tak tumpah ruah
penuh makna berisi segala
aku terlena

Sebuah umpama, kau umpamakan
hidup tanpa kesusahan

Membaca statusmu
aku terbawa
antara percaya
tak percaya

Semua orang bisa berkata
semua orang bisa menulis juga
tapi tak semua orang bisa
sesuai apa yang dikata

2019


Apa Tidak Salah Kita

Detak detik malam pergantian tahun

-apa tidak salah kita
Bersuka ria, gembira bersama
saling ke tempat ramai segala
tanpa sadar sebenarnya
waktu kita terkurangi

Apa tidak salah kita
setiap pergantian tahun tiba
pada saling hura-hura
serasa lupa sebenarnya
usia tidak bertambah muda
sisa waktu yang ada
semakin berkurang juga

Apa tidak salah kita
menyambut tahun baru
lupa bila pergantian tahun itu
mengurangi waktu kita

Desember 2019


Akar Cinta

akar cintaku -akar tunjang
yang menancap kuat ke dalam bumi
biarpun angin puting beliung menerpa
cintaku tak akan tercerabut begitu saja

akar cintaku -bukan akar serabut
yang mudah tercerabut

akar cintaku -mengakar

setiap hari -setiap waktu
setiap ruang dan waktu
dan setiap gerak langkahku
akarku cinta -tanpa membedakan

siapa yang aku cinta

1 Januari 2020


Catatan Tahun Terakhir

ada yang terserak
tak tampak
tak tersimak
luput dari jejak

ada yang terserak
begitu tampak
jadi sebuah jejak
yang jamak

sementara angin gelombang
selalu mengajak berdentang
sebisanya aku buat catatan
biar setiap angin dan gelombang
tak hanya lewat tanpa catatan

baik buruknya catatan
dalam tahun berjalan
orang lain yang menentukan

baik buruknya catatan

akhir 2019


Suatu Malam Lewat Kotamu

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap benderang
di pinggir jalan remang-remang
beberapa kaki mengendap-endap

malam lewat kotamu
kau terlelap bercumbu
lewat jendela bus melaju
aku menangkap bayanganmu
mengeluh menahan sesuatu

bus melaju menembus malam
menempuh ruang dan waktu
tatkala lewat kotamu
ada sesuatu sapa ingatanku

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap lenyap
bahkan jadi remang-remang
tempat binatang nakal

malam lewat kotamu
ada sesuatu yang menegurku
yang membuat aku

tak bisa melupakanmu

malam tahun baru 2020


Tersandung Cinta

ups, asem
mataku menubruk
langkahku terkantuk
pada sebuah wajah dan senyum

di taman sebuah kota
hari senja, kaki langit barat merah jingga
ingin hati menikmati suasana
kota kali pertama kusapa

di bangku beton duduk sendirian
di antara tanaman kembang
senyumnya mengembang
langkahku tertahan

ups, asem -gumamku
ada rasa debar sesuatu
:kayaknya kita pernah ketemu
tanpa babibu -aku duduk di sampingnya
dan meluncurlah kata-kata
yang membuka dialog senja hari

di taman kota

2020


Ethex, lahir dan dibesarkan di telatah Mojopahit (Mojokerto), karyanya berupa puisi, cerpen dan esai sudah dimuat di beberapa media massa, antara lain di Suara Karya, Republika, Sastra Sumbar, Media Indonesia dan lain-lain. Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antologi puisi, antara lain di Temu Sastrawan di Medan, Temu Sastrawan di Kediri. Temu Sastrawan di Malaysia, Dari Sragen Memnadang Indonesia (2012), Malsasa (2013), Poetry2 Flows Into The Sink Into The Getter (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid, I, II, IV, V), Memo Presiden (2015), Temanten Langgit (2015), Tifa Nusantara (2014 dan 2015), Solo Dalam Puisi (2014), Lumbung Puisi (2015), Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Festival Bangkalan (2017), Ruang Tak Lagi Ruang (2017),  Kesaksian Tiang Listrik (2018), Negeri Bahari (Negeri Poci 2018), Jejak Sajak Batu Runcing (2018), Sabda Alam (2019), Zamrud Khatulistiwa (2019), Membaca Hijan di Bulan Purnama (Tembi, 2019)  dan lain-lain. Juga dalam Antologi “Bersetubuh Dengan Waktu” (2014), “Dari Cinta Ke Negara” (2015), “Rasa Ku Rasa” (2016) dan Kumpulan Cerpen “Sepeda Pancal” (2016), “Gapura Menapak Jejak Mojopahit” (2018), “Pemulung Diksi” (2019). Bekerja di UPT Dinas Pendidikan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto, dan  Dosen di Institut Agama Islam Uluwiyah. Aktif di Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, sebagai Wakil Ketua, dan Penggiat Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK).Alamat: Jln. S. Parman 18 Modopuro-Mojosari-Mojokerto 61382 Jawa Timur

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Puisi

Puisi LY. Misnoto

Silsilah Cinta

ketika hati lama mati,

suara rasa terkirim pada kegelapan

setelah kenyataan tak senyata senyummu

ketika pertemuan terlapangkan,

sepi dari tangis dan rasa rindu

semisal lilin yang menyala dalam ruangan

ketika fajar menemuimu di halaman,

rumput-rumput ramai

menyuarakan sisa-sisa bahagia

ketika cinta bertemu tuannya,

harapan sunyi dari derai ilalang

tumbuh di taman kenangan yang gersang

ketika rumah tak beratap,

sisa-sisa namamu tak lagi dinaungi

apalagi hati yang dulu bahagia

selaksa hikayat anak-anak di masa kecil

mendengarkan dendangan hati kita

masih kuwiridkan senyummu

ketika purnama menemukan istri,

sejuk terlewatkan di antara jalan sunyi

pada kesetiaan yang menanti rindu

ketika aku diperjumpakan denganmu,

dalam kesanggupan untuk berikrar

kembali merangkai riwayat cinta

Malang, 2019


Silsilah Perasaan

Siti,

perjalanan ini tak lebih dari rindu

sementara hati mengharap bahagia

setelah zaman melahirkan luka

dari rahim yang disetubuhi waktu

antara bingkai jarak di wajahmu

Siti,

tubuh terengah-engah hampir pasrah

sementara otak masih ditumbuhi senyuman

ketika parasmu menjadi benih cinta

acap kali digarap dengan rasa sayang

pelaksanaannya tersesat di antara hati kita

Siti,

tentang ketulusan dalam setia

telah tertakar bersama perasaan

sekalipun tak akan ada kenangan

setelah semuanya terangkum ikatan

akan utuh di hati sebelum mati

Malang, 2019


Akulah

akulah rindu,

dalam seduhan secangkir kopi

saat segalanya menjadi asap kematian

selepas tertinggal pada jarak

dan kesanggupan kumenghirup

akulah rasa,

dalam makanan yang terhidang

saat segalanya menjadi irisan kehidupan

selepas berlabuh dalam luka

akulah puisi,

dalam setiap buku harian

saat rindu dan rasa memilih tiada

selepas ramalan luka perawan

menghancurkan hati di sepanjang air mata

yang terlanjur melupakan sabda cinta

Malang, 2019


Pertanyaan Berakhir di Ingatan

kenapa harus cemas malam ini?

mungkinkah pekerjaan tadi siang

atau barangkali bingung untuk memulai?

perbedaan adalah variasi

sebelum membahagiakan diri sendiri

tanpa harus memikirkan kami

yang tak sudi mencari jawaban

mengapa kau melakukan berkali-kali,

masih belum puas dengan kuasa di kening?

semakin merajam kecemasan

pada tubuh mereka yang membatu

di punggungnya tersimpan pertanyaan

tentang kebangkitan dan kematian

mungkinkah esok hari

mereka menyelesaikan pertanyaan?

kenapa seakan mereka tak kuasa

ketika kau berlari mengejar arah

di tubuh mereka yang tidak tahu?

masih tetap sama di jarak waktu

jawaban hanyalah harapan

selepas mereka mati tanpa kerangka

meski berkali-kali datang

pertanyaan-pertanyaan resah

yang setia redup dalam ingatan

Malang, 2019


Aku tak Tidur Malam Ini

aku tak tidur malam ini

masih menulis air mata luka

menjadi puisi dan mantra

yang gemar dibacakan untuk kekasih

atau dihantarkan melalui angin roh jiwa

seperti persemadian waktu

yang membutuhkan tumbal hati

yang memerlukan meditasi rindu

dalam cinta tertata

lalu tidurlah aku di wajahmu

aku tak tidur malam ini

membaca segala yang dilihat

dalam segenap rindu

bersama sebuah perjalanan waktu

yang terkadang selalu diburu

mencari wajahmu setelah membuka pintu

aku tak tidur malam ini

masih bersama wajahmu

yang terkadang menjadi halimun

aku tak tidur malam ini

teman-temanku memberikan secangkir kopi

menjauhkan rasa dalam diri

seakan wajahmu terlelap di hangatnya

ketika purnama memulaskan diri

Malang, 2019


Tak Ada Hari Libur

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah keluar dari kalender

menyusul kepergian Bapa

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah menjauh dari cetakan merah

menutup segala kesenangan anak sekolah

dari segenap pelipur perjalanan

yang kerap dicekoki tanggal hitam

Siti,

hari ini tak ada hari libur

biar tak selalu bergegas para pekerja

merapikan segala arah bertampak kertas

yang lusuh menjadi kenangan

yang rapi dilampui warna mahkota

disimpan dalam pecahan sunyi

Siti,

hari libur tak akan ada

ia telah abadi

di suatu tempat nan sunyi

di perkampungan tak berpenghuni

dan tak akan ada caci maki

Malang, 2019


Berhentilah

berhentilah menangis, Siti, berhentilah

kau sudah sampai pada puncak sunyi

bertamulah pada bulan

ada suguhan cahaya di sana

mintalah untuk kaubawa pulang

dan berikan pada masa lalu

berhentilah menyesal, Siti, berhentilah

akan ada puisi untuk kaubaca

menjadikannya obat sakit kepala

hilanglah mantra-mantra masa lalu

berhentilah tidur, Siti, berhentilah

malam ini akan datang purnama

jemputlah ia sebelum pagi

suguhkan rindu di meja tamu

Malang, 2019


Doa di Suatu Pagi

sebelum mata mulai berkerja

matahari belum melampui dedaunan

bising belum berdendang

biasanya selalu menyangkut di telinga

di kening masih terpancar kerut cahaya

melampaui sederet sajadah

dalam segala renung yang ditinggalkan

dan terkadang disimpan di dada

maka biarkan dedaunan mengembus angin

di kerut kening yang diwarnai luka

agar nanti, sebait doa yang kita eja

terbang menemui tuannya

lalu kita menerka yang akan terjadi

sebelum matahari menghisap gelap

biarkan tafsir langkah mengikuti arah angin

dan biarkanlah mata bekerja

di keriput kening bersama doa

Malang, 2019


Sebuah Kisah

matahari sebelum melewati waktu

masih mencondongkan tubuhnya

di kepala yang masih basah dari sisa semalam

sampai di sekujur doa-doa

semestinya kita berkisah di tangisan langit

bersama burung-burung yang pulang pergi

sedari subuh telah ia ikrarkan

demi sebuah kisah dalam harapan

langit masih tak berkawan mendung

meski kita selalu menjemput gerimis

dengan doa-doa di samping rumah

ketika perut-perut sudah kosong

bumi kita sedang sekarat, kawan

seluruh cuaca tak bisa diajak kompromi

meski beribu dupa kau jejalkan

pada ranting-ranting yang kemarau

dan akar yang tak bermusim

seharusnya tak seperti itu

setiap kisah semestinya beriringan doa

namun, doa telah membuatnya bosan

tak perlu lagi berjalan jauh

demi memohon kepada cuaca

sekadar menikmati romantisme gerimis

dan bertawa ria di dalamnya

sudah tiba untuk tak berkisah

tangis hanya sekadar catatan rindu

Malang, 2019


Pada Cuaca Pagi Ini

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menghirup aroma rindu

meski hujan sedang bergerai di luar

mengguyur seluruh doa

yang kita titipkan air mata

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menikmati kegelisahan

yang terbawa dalam tubuh sebelum lahir

dan kita tertimpa panas berkepanjangan

di dada kita, cuaca membaca kenangan

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita merasa haru

pada orang-orang yang memilih bersandiwara

ketika diam-diam tubuhnya merangkai rindu

melupakan kebersamaan

tak lagi melipurkan kedinginan

dan menutup panas yang membakar

Malang, 2019


LY. Misnoto, lahir di Pulau Giliraja, Kab. Sumenep, Madura. Menulis puisi semenjak berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto. Puisi-puisinya dimuat di Radar Madura, Radar Malang, Radar Cirebon, Kabar Madura, Harian Ekspres Malaysia, Majalah Kuntum, dll. buku antologi tunggal barunya berjudul “Mayang”.

Cerpen

Pangeran Katak

Cerpen Gaza Manta

Jika perubahan itu bisa terjadi dalam jangka waktu yang cepat, bisakah cinta menjadi penyebabnya?

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Dia bangkit. Lantai kamar yang dingin menguapkan hasratnya untuk menyambut pagi. Sisa-sisa mimpinya hanya terpantul di cermin. Masih ada seorang peri cantik memandangnya di balik kedalaman kaca.

Matanya beralih ke sebuah akuarium berisi separuh. Air dan tanah telah saling berbagi tempat di kotak kaca itu. Menjadi habitat yang agaknya cukup tepat untuk seekor katak yang kini telah ada di genggaman Mi.

Mi menaruh kembali katak itu dalam akuarium. Dia tersesat hampir dua jam di kamar itu, sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Rutinitas mandi dan bersolek menguncinya dalam mimpi yang tak ingin dia akui.

Semarang, pagi hari, adalah seorang raksasa yang menelan cinta dan mimpi yang cukup memabukkan pada malamnya. Mobil-mobil mengeluarkan sumpah serapah, senantiasa memaki yang ada di depannya. Asap knalpot mengembun di kaca-kaca rumah, di paru-paru, di gitar yang dipetik hanya untuk mengisi perut-perut yang pada akhirnya akan dipenuhi juga dengan embun-embun knalpot itu. Dan di kerongkongan raksasa itulah, Mi bergegas.

Di kantor, di tengah-tengah tumpukan kertas kerja yang menunggu diserahkan, hanya ada kesunyian. Orang-orang terbiasa bekerja dalam keheningan tanpa bicara. Seolah satu patah kata saja akan membuat semua urutan kerja yang telah tersusun secara kronologis akan hancur berantakan. Dan seorang karyawan tak mungkin begitu saja menyerahkan pecahan-pecahan itu kepada atasan.

Namun kesunyian di tempat kerja, bagi Mi, masih lebih baik daripada celotehan dan tawa yang biasanya juga terjadi. Dia tak bermaksud berburuk sangka, namun tawa orang-orang pekerja adalah suatu kemunafikan. Orang bisa saja tertawa lepas di tempat kerja dan bercanda dengan rekan-rekannya, namun itu tak lebih untuk menjaga sikap di depan atasan atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang biasanya terjadi di kemudian hari.

Kemunafikan di tempat kerja, jauh lebih buruk daripada yang dialaminya saat dulu bersekolah di SMK. Saat itu dia seperti punya indera keenam yang bisa membedakan mana tawa yang tulus, mana yang dibuat-buat. Mana senyum yang akan sanggup membuka hatinya yang memang sulit terbuka, mana yang hanya memanfaatkannya. Dia begitu peka saat itu, hingga dia tak pernah khawatir dengan teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Mengapa sebelum dia bisa menyadarinya, semua telah berubah?

Saat makan siang, Mi melihat seorang temannya datang sambil menggandeng seorang lelaki yang luar biasa tampan. Mereka saling berpelukan sambil berjalan ke arahnya. Beberapa orang bersiul dan membuat bunga-bunga di udara. Namun bunga-bunga itu hanya jatuh di kaki mereka dan menghampar seolah jalan khusus bagi mereka.

Mereka duduk, tanpa dipersilakan.

“Halo, Mi! Masih sendiri?” teman perempuannya terkikik.

“Bisa kau lihat sendiri, kan?”

Yang laki-laki tersenyum. Tangannya seolah telah terlekat dengan lem pada pinggang perempuan itu. Lambung Mi tiba-tiba bergolak, makanan yang baru saja ditelannya seolah berontak.

“Perkenalkan! Ini pangeranku!”

Mi mendengus, sinis.

“Dia adalah katak yang aku ceritakan padamu, katak yang aku temukan di Stasiun Tawang. Aku menciumnya tadi padi. Dan…”

Mulut Mi pahit. Sedikit cairan lambung beserta makanan tadi telah naik. Dia ingin muntah. Tanpa permisi, dia lari ke toilet. Di sana dia memuntahkan segala makanannya, kesedihannya, air matanya, embun-embun yang menerpa wajahnya, dan kepenatannya. Pikirannya tertuju pada katak di akuarium miliknya.

Dia bergegas pulang. Kembali menyusuri udara panas Semarang yang menerpa seperti jarum-jarum jahit berkarat. Panasnya berkepanjangan dan bagi orang yang tidak kuat akan membuat jatuh pingsan.

Mi tahu, bahwa semua perempuan memiliki kataknya masing-masing. Katak-katak itu dibesarkan oleh cinta dan diberi makan dengan serangga-serangga pikiran. Harapan akan membuat mereka bertahan hidup lama yang pada akhirnya ketika waktunya tiba, katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran-pangeran tampan yang menjadi dambaan setiap hati perempuan. Tak akan ada pangeran katak yang sama, karena hati setiap perempuan memang berbeda.

Di kamar, Mi mendapati kataknya telah keluar dari akuarium dan melompat-lompat di lantai. Lentingannya tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dan setelah melompat ke sana-ke mari, katak itu akhirnya melompat ke ranjang dan diam di sana. Agaknya dia sedang menunggu Mi dan tahu bahwa perempuan itu sedang gelisah.

Mi mendekat dan duduk di ranjang. Jari-jari kurusnya mendekap katak itu di dadanya. Pikirannya menerawang menembus waktu kembali ke pagi hari. Pada mimpinya yang sebentar tadi masih terselip di bawah bantal dan selimut yang belum sempat dia rapikan. Mi hampir menangis, dia merasakan mulutnya sedang digarami.

Baru saja pagi tadi katak itu membawanya berjalan-jalan di punggungnya. Mereka melompat-lompat di tengah belantara Semarang. Katak itu pasti sudah tahu keinginan Mi. Karena tanpa disuruh, dia sudah memacetkan jalan tol dan membuat para pengendara kendaraan bermotor terbelalak. Mereka menuju Kota Lama.

Di Kota Lama, mereka selalu berhenti di gereja heksagonal itu—yang kubahnya setengah bola dan begitu megah. Mereka melihat Mi yang lebih kecil berlari-lari kecil dan masuk ke gereja. Atau di saat yang lain, mereka akan melihat Mi sedang berada di Taman Srigunting, membaca buku atau mengetik sesuatu di ponsel dengan lidah terjulur karena keasikan. Pemandangan itu akan berlangsung lama dan bersambung dengan Mi di depan Gedung Marba, atau Mi yang sedang makan gorengan di angkringan di depan gedung merah marun itu. Dan melihat semua itu, Mi di punggung katak akan menangis yang merupakan pertanda bahwa mimpi akan segera berakhir dan hari akan kembali berlanjut.

Bahwa setiap dia melihat katak itu, maka dia akan ingat gereja itu, Mi sudah tahu hal itu. Sungguh, dia tak pernah mengharapkan perwujudan gereja dan kotanya akan menjelma dalam bentuk seekor katak, bukannya ikan atau padi yang biasanya dia jadikan sarapan. Padahal lambang kotanya adalah ikan atau padi, bukannya katak. Dan Mi pun tak pernah tahu kalau ada katak yang menjadi lambang kota.

Katak itu sendiri tak disangkanya akan tumbuh besar juga. Awalnya dia tak terlalu bersemangat saat seorang temannya memberikan telur katak itu padanya. Sebuah telur sebesar debu yang ditaruh dalam gelas kaca yang dia dapatkan saat pesta perpisahan.

“Apa ini?”

“Telur katak.”

“Buat apa?”

“Untukmu, agar kau ingat padaku.”

“Kenapa aku harus ingat padamu?”

“Karena suatu hari, aku ingin menjadi katak itu.”

Dan seiring dengan waktu, telur katak itu menetas. Seekor kecebong lucu lahir sambil menggerakkan ekornya yang mirip kuas, memberi warna pada air. Sebenarnya saat menjadi kecebong itulah, saat dimana Mi merasa paling sayang dengan binatang itu. Namun binatang itu tetap bermetamorfosis, dan Mi hanya bisa menerimanya.

Mi menghela napas panjang. Semua begitu berat dan membingungkan. Dia ingin mengakhirinya sekarang dan merasa telah cukup siap untuk itu. Dia mengganti seragam kerjanya dengan celana pendek dan kaos singlet. Dia merasa tenang dengan pakaian itu.

Dielus-elusnya katak itu dan didekapnya berulang-ulang. Mi mendekatkannya ke bibirnya yang kini tanpa polesan, namun begitu basah. Dan saat detik-detik terakhir mulut katak itu menyentuh bibirnya, dia jadi ingat teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Ketika bibir mereka bersentuhan, Mi berubah menjadi katak, diikuti seluruh manusia yang juga berubah menjadi katak. Saat itu dia yakin, kalau cinta dapat membuat perubahan dalam sekejap mata.

Lombok Timur, 24 April 2016


Gaza Manta lahir di Lamongan; menyelesaikan studi di Semarang; kini tinggal di Lombok. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pegasus Lilika (Rua Aksara; 2019).

Puisi

Puisi Anugrah Gio Pratama

Serupa Bahasa dan Kata

Serupa bahasa dan kata,

malam adalah puisi dalam sunyiku.

2019


Malam di Suatu Pasar

Malam yang singkat

dan keramaian

adalah guguran bunga.

Kusaksikan

banyak hal di tempat ini:

barang-barang ditata dengan rapi,

kata-kata dilontarkan dengan santun,

tapi tidak ada puisi. Tidak ada puisi.

Hanya ada senyum yang lahir

dari wajah-wajah yang asing.

Hanya malam yang kian bising.

2019


Gelap Menepuk Pundak Hari

Malam bangkit, waktusemisal

karpet-karpet hitam yang panjang,

yang menghamparkan kesunyian

dan membentangkan ketenangan.

Lalu gelap menepuk pundak hari

agar tuntas cahaya mentari.

Lalu mimpi memungut

seluruh lelah di punggung

para pekerja.

2019


Berada di Jalan

Kau terlahir untuk berada di jalan

biarpunkau bukan petualang yang tangguh.

Karena kauadalah gugusan cahaya

saat gelap membanjiri kota-kota.

Kau terlahir untuk selalu berada di jalan,

menghitung jejak-jejak yang

tak pernah bisa dibaca sebagai

buku-buku sejarah dunia.

2019 


Mata Mimpi

Apakah pintu kamar itu

mesti dibuka, sedang ketok jam

bagai sebongkah batu

yang diam?

Aku rasa tak perlu,

sebab dengkur cuacayang amat panjang

telah menghadapkan wajahku

menuju mata mimpi.

2019


Di Ranjang Ini

Di ranjang ini,

tubuh adalah kata-kata

yang jatuh di jantung puisi.

Di ranjang ini,

umur pergi satu per satu

bersama tik-tok jam yang kian laju.

Di ranjang ini,

mimpi terlahir dan berayun

di antara pohon-pohon musim

yang tumbuh di rahim bulan.

2019


Tabuhlah

:Febryan Nugraha P.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah sebagaimana waktu

menabuh sepi yang tenang; sebagaimana sepi

menabuh mimpi yang dalam; sebagaimana mimpi

menabuh angan yang panjang.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah!

2019


Fragmen Mimpi

Mimpimu yang terluka

mengucurkan seribu nasib baik

yang dikumpulkan seorang ibu

dari masa ke masa.

Sedang kenyataan yang indah

justru tak mengucurkan apa-apa,

tak bisa mengumpulkan apa-apa

kecuali kenangan. Kecuali kenangan!

2019 


Biarkan Saja Kepedihan itu

Biarkan saja kepedihan itu

membentangkan sebuah jalan yang kelam,

sebab cinta saja tak akan sempat mengasuh kita

menjadi makhluk yang dewasa.

2019


Usia

Kemarin adalah usia yang

jatuh berserakan; suara-suara

yang telah hilang gemanya.

Esok adalah usia yang tak pasti.

Sedang hari ini adalah usia

yang dikupas kefanaan dunia.

2019


Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude).

Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.