Jika di dekat sini ada anjing,
aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus
sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat
kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi
sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari
itu. Barangkali tak ada yang lebih buruk dari itu. Jika sebatas itu yang
terjadi, aku juga tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Bahkan boleh jadi aku
tidak pulang selamanya dan baru pulang dalam wujud lain di hari kiamat kelak,
ke tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau.
Membayangkan itu aku takut. Anehnya
punggung dan leherku tidak merasa ada getaran yang aneh. Dulu dan kapan pun
sebelum aku berhenti di titik ini, seseorang atau apa pun akan dengan mudah
membuat punggung dan leherku berkeringat dalam getaran yang aneh. Rasa takut
memunculkan sensasi tak nyaman. Saat ini, sensasi itu hanya ada dalam wujud
yang tak dapat kurasakan selain kupikirkan. Segalanya kian buruk, karena aku
sadar aku tak dapat kembali ke masa-masa itu.
Aku tak bisa kembali karena
menuruti ucapan seseorang suatu sore di suatu telepon: “Datang ke bawah
jembatan. Jam delapan.”
Aku takut terseret ke pengadilan,
yang pasti merepotkan bisnis dan keluargaku. Aku datang dan berharap sebuah
penyelesaian ditemukan. Kuharap sejumlah uang dapat membuat orang-orang itu
membiarkanku pergi. Tetapi, aku dibawa pergi dengan mobil dan kemudian berakhir
di tempat ini.
Di sini tidak ada toko atau lalu
lalang manusia. Tidak ada rumah makan atau toilet umum atau tempat semacam kios
service televisi yang berdiri selama
tiga dekade di pojok pertigaan dekat rumahku, yang tak lagi disambangi orang
sebab pada saat ini pemilik kios itu pikun dan tinggal sebatang kara tanpa anak
istri yang dengan sengaja mencampakkan dirinya. Aku dengar sedikit cerita soal pria
tua itu dari beberapa orang di lingkungan rumahku dan aku merasa betapa kasihan
dia. Sekarang aku mengasihani diriku sendiri.
Apa yang terjadi padaku tidak
lebih baik dari yang dialami pria tua penyepi itu. Dulu aku sering
membayangkan, jika tidak sengaja melintasi kios service televisi itu, soal betapa mendungnya pikiran si pria tua
atau betapa kosongnya dada yang lama tak ada kehidupan bersama keluarga. Aku
curiga orang itu diam-diam memiliki rencana bunuh diri suatu hari nanti, tapi
karena belum menemukan cara yang tepat agar dia tidak ditertawakan anak-istri
yang membencinya setengah mati, sampai detik di hari terakhir aku melihatnya,
dia masih terlihat bernapas walau sorot matanya terlihat sangat lelah.
Apa detik ini sorot mataku pun
begitu?
Apa pada suatu hari, jika benar
datang seekor anjing yang dapat mengendus datang bersama seorang lelaki atau
perempuan waras, maka kedua makhluk itu berpikir sama, yakni tentang sorot
mataku?
Aku tak bisa memastikan mataku
bersih dari kotoran pada detik ketika orang-orang itu meninggalkanku di sini.
Semua terasa dingin. Tak ada
apa-apa. Aku tak bisa pastikan apa keluargaku baik- baik saja. Apa mereka juga
berakhir seperti ini, di tempat yang jauh dari sini?
Aku menangis tanpa air mata.
Hatiku sakit, tapi jantungku bagaikan pria penyepi itu, di tempat service televisi yang bobrok dan
terlihat membatu dan menguarkan aura yang membuat waktu seakan berhenti bekerja
pada radius beberapa meter. Aku merasa segala sesuatu di sekitarku membeku
dalam waktu yang mendadak henti. Barangkali sama persis seperti situasi ketika
nuklir menyebabkan dua kota di Jepang di masa Perang Dunia Kedua hancur lebur;
segalanya mendadak terasa membatu dan mati dan tertinggalkan waktu. Apa benar?
Apa benar setiap bom yang meledak akan menyisakan sensasi aneh yang membuat
kita seolah-olah tidak lagi dipedulikan waktu?
Aku tak tahu rasanya dibom.
Mereka tak memasangi tubuhku dengan bom, tetapi kini tiba-tiba aku teringat
dengan korban jiwa di berbagai tempat yang mati karena dibom. Aku pikir,
“Barangkali panas.”
Aku tak pernah serius memikirkan
itu. Aku hanya memikirkan hidupku membaik jika tiap usaha kulakukan untuk memajukan
bisnisku. Aku ingin merajai bidang yang kugeluti, tapi suatu hari, mau tidak
mau, kuperbuat sesuatu yang merugikan seseorang. Seseorang itu yang kemudian
datang menuntut balas atas kematian seseorang akibat ambisiku.
Aku kepanasan karena dengan bodoh
menemui orang-orang tersebut di lokasi yang disepakati. Aku kepanasan hingga
tidak lagi merasakan batas antara hidup dan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi
berada di bawah jembatan. Aku digiring orang-orang berbadan besar ke tempat
rahasia, setelah dua mataku ditutup dan dibawa menumpang mobil kira-kira tiga
puluh menit.
Mataku terbuka ketika rasa panas
itu menjalar ke kulit di hampir tiap bagian tubuhku. Yang dapat kutatap hanya
lorong hitam di kiri ruangan dan bohlam tua di atas kepalaku. Wajah-wajah
eksekutorku tak benar-benar kuperhatikan dan lagi pula mereka tak terlihat
jelas. Aku berharap ini segera berakhir. Aku tidak tahan dan pingsan, dan
orang-orang gila itu berhenti, lalu membawaku sekali lagi dan menurunkanku ke
sini.
Barangkali seperti ini rasanya
orang kehilangan segala-galanya, namun tidak diberi daya dan upaya oleh langit
untuk berbuat. Begitu sakit. Aku tidak mampu menemukan apa pun selain tubuh
yang tidak lagi berdaya dan waktu yang seakan-akan hengkang dari sisiku.
Seakan-akan aku hidup dengan cara yang lain, karena dijauhi oleh waktu.
Aku merasa hidup sebagai sesuatu
yang lain. Saat sadar aku tak dapat mengubahnya dan hanya bisa membayangkan
sialnya nasibku yang kini jauh lebih sial ketimbang pemilik kios service televisi busuk itu, aku tahu aku
hanya bisa berharap tentang anjing yang dapat mengendus dan seseorang yang
waras pergi bersamanya.
Aku tidak tahu sampai kapan.
Barangkali itu terjadi dalam waktu dekat dan si anjing akan panik tidak keruan
begitu melintasi jalanan yang tak jauh dari bangunan bobrok ini. Barangkali itu
besok atau nanti jam sepuluh malam. Aku bisa membayangkan itu terjadi seminggu
setelah pikiran-pikiran ini terbit atau bahkan lebih lama dari itu.
Apa pun itu, aku harap siapa pun
akhirnya akan menemukanku dan membawaku pulang dengan cara yang mereka mampu
dan itu terjadi sebelum terlambat. Sebelum tubuh yang sejak dua hari lalu mati
ini menjadi tulang belulang.***
Gempol, 25 Juli 2018 – 28 Oktober 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991.
Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di
berbagai media. Buku terbarunya Museum
Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi
Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri
yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

0 Komentar