Pada pagi yang biasa,
sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah
adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik
seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi
di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta
sebuah perkenalan singkat.
Dua jam ke depan,
pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah
tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara
atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak
tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau
menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.
Lima menit berlalu dan Bu
Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik
lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama
yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh
berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang
akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.
Bu Oka masih
melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar
kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.
“Oke. Kalian tahu, siapa
yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya
melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu
belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.
“Itu adalah kata-kata
Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian
belum kenal?”
Kamu dan teman-temanmu menggelengkan
kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.
Bu Oka menjelaskan
panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh
pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah
mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa.
Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan
pemerintah.
“Kalian harus tahu, kalau
sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”
Bu Oka kembali
menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam
pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.
**
Kamu merasa tidak aneh,
ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah,
walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik
sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak
Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS
(Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran
yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari
teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat
hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh,
atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ,
tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh
mengikuti ujian.
Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih
menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah
memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI
yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu
apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.
Begitulah,
kenapa kamu menyukai Bu Oka.
**
Hampir satu semester
sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah
sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran
yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi
kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham
atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada
ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan
teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90
bagi setiap siswa.
Sepuluh menit waktu
pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti
biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia
datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan
Si Satpam kenal dekat dengan dia.
Sampai di sini, kamu mengakui,
pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu
juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk
berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat
penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu
maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak
bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.
Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali
mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi
dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di
kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu.
Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah
tuannya.
Dua bulan berlalu namun
Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi
tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru
baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib,
begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.
Sama seperti guru sejarah
sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai
dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang
berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan
santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila.
PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi
semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena
baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.
Ketika salah satu dari
kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil
mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur.
Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal
kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.
Maka begitulah, kamu sangat
merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum
kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu
saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah,
kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak
cocok mengajar di sini.
“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa
bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).
Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.
***
2017

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga
ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai
Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan
Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com,
basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai
Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.
0 Komentar