Katalog

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].

Ragam

PANGGUNG DAN BUKU

Acara itu megah. Yang menyebabkan megah: musik. Di panggung untuk orkes, aku melihat orang-orang yang memegang biola dan pelbagai alat musik. Di belakang, pasukan bernyanyi. Ruangan itu memiliki dua panggung. Di tengah, pangung untuk beragam peristiwa: pidato, menari, menyanyi, dan lain-lain. Panggung di sebelah khusus untuk musik.

Aku datang ke Pekalongan memenuhi undangan sastra tapi mendapat menu musik yang takarannya lebih banyak. Ditambah tarian dan pidato. Aku ikhlas saja. Dulu, aku sempat berpikiran: acara Prasidatama seharusnya banyak yang mengenai bahasa dan sastra. Di panggung atau ruangan, panitia bisa mengadakan bincang-bincang. Di layar, orang-orang bisa menikmati film dokumenter bertema bahasa dan sastra. Di dinding atau meja, beragam buku atau terbitan bisa dipamerkan. Foto-foto tokoh bisa dipajang di dinding atau berjajar di panggung.

Pikiranku itu kengawuran yang sulit diampuni. Aku mengikuti acara berurusan bahasa dan sastra tapi sulit menemukan pemandangan buku-buku. Balai Bahasa Jawa Tengah rutin memberi penghargaan untuk buku-buku yang ditulis para pengarang di Jawa Tengah. Aku pastikan yang terpenting adalah buku.

Di Hotel Nirwana, aku kebingungan mencari pemandangan buku. Yang aku maksud adalah buku-buku sesuai dengan misi yang diusung Balai Bahasa Jawa Tengah dan pelbagai pihak yang ingin memajukan bahasa dan sastra. Pengarang-pengarang memahang hadir tapi tak ada janji buku-buku ikut hadir.

Di tas, aku membawa beberapa buku, yang akan aku bagikan kepada orang-orang yang berhak. Sengaja, aku menjadikan pertemuan-pertemuan dalam acara untuk mengedarkan buku. Misi yang sembrono. Aku ingin pergi bersama buku-buku. Di alamat-alamat yang didatangi, buku-buku bertemu dan berhak dimiliki orang-orang pilihan.

Seingatku, Indah Darmastuti membawa buku. Di gerbong, ia sempat mengatakan ingin memberikan buku kepada seseorang. Aku tidak mengetahui orang-orang yang sebenarnya membawa buku-buku atau berbagi buku mumpung kumpul bersama di Pekalongan.

Tiba saatnya panggung menjadi milik bahasa dan sastra. Bergantian, orang-orang membacakan pengumuman peraih Prasidatama untuk novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan lain-lain. Yang sering terdengar di telinga: “adalah”. Mereka yang mengumumkan wajib mengucap “adalah”. Pikiran isengku muncul: Prasidatama itu “album adalah”.

Panggung ramai orang. Yang hadir bertepuk tangan. Di depan panggung, orang-orang sibuk memotret. Di kejauhan, aku memandang dengan girang, lupa bertepuk tangan. [] Kabut

Puisi

Puisi Rizka Umami

Sejak Biyung Pergi

Sajak-sajak nyaring itu berhenti

Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa

Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang

dan semua lagu jadi alpa tak bermakna

Kau, tanggal

Sejak biyung pergi

Kau tak lagi punya hasrat berpuisi

Semua kata-kata jadi kaku dan asing

Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering

Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus

Tersisa luput yang belum sempat kau tebus

Begini nasib mendewakan manusia

yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya

Ketika ia kembali

Kau jatuh sendiri.

Pesarean, Oktober 2023


Kepada Sang Maut

Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan

Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas

Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal

Dengan lantam memecah batok kepala

            bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir

Kepada maut,

Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya

Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa

bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan

Aku pernah bermimpi

Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut

yang hangat memeluk jasad sampai sukma

Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena

Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?

Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya

perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu

Kepada maut,

Bagaimana kematianku kelak?

Tulungagung, Oktober 2023


Buat emPuan

Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian

Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat

Petaka hidup menjadi perempuan

Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?

Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan

Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?

Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan

Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak

Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya

Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang

Seorang perempuan terperanjat

Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan

Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Surat Buat Tole

Seorang ibu sedang menggendong putranya

Duduk menunggu pembeli di pasar subuh

Menuju terbit matahari

Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi

Ia bertanya dalam batin

Sudah sampai di mana kita, Le?

Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku

Tapi jangan menghukumku

Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi

Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu

Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah

Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu

Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku

Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Ritual Menuju Akhir

Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08

Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam

Sedang sebuah ritual dijalankan

Mereka saling mendebat warna baju

Yang mencolok menarik perhatian sang ratu

Lalu tahun-tahun melesat jauh

Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik

Membuat semua jerih payahmu koyak

Ada yang tak segan datang

Dari ujung imajimu

Menebas mencuri napas terakhir.

17 Januari 2023


Perihal Batas

matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu

ia lebih keriput setengah renta

kaki kirinya sudah mulai penuh borok

kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes

perkara ia telah sampai limit

kau menyaksi kematiannya lamat-lamat

kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati

lalu ia minta kau jangan kembali

– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada

Tapi kepada siapa kau kembali?

Tulungagung, 02 Juni 2023



Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Ragam

MEJA DAN HIBURAN

Yang bergerak mulai iseng. Aku menghampiri dosen dan para mahasiswa. Saling beri senyum dan mendoakan. Beberapa bulan yang lalu, aku memberi kuliah umum di Universitas Pekalongan: berakibat agak akrab dengan dosen dan mahasiswa. Pertemuan dalam acara Prasidatama membuat kami seperti mau membuat janji menggerakkan sastra sampai berkeringat dan kelelahan.

Buktinya: aku, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama. Yang difoto adalah sepatu kami. Sengaja wajah tidak perlu difoto. Sepatu-sepatu itu lebih penting, yang mengartikan bergerak. Pertemuan sepatu, pertemuan saat para pengarang di Jawa Tengah sudah menunaikan janji bersastra.

Hari mau siang. Aku mulai merasakan bosan. Yang aku lakukan adalah menguji kemampuan berhitung. Berdasarkan pandangan mata, aku menghitung jumlah meja bundar: sembilan. Meja bundar dikelilingi kursi-kursi. Ada yang berbeda. Di meja bundar untuk tamu dan juri, ada piring yang memamerkan pisang, anggur, dan jeruk. Di meja-meja lain, aku tidak menemukannya. Aku berhasil mendapatkan pisang. Jeruk dan anggur cepat dihabiskan teman-teman yang tidak tega menyia-nyiakannya.

Siang itu ada jajanan, minuman, dan buah. Yang tidak boleh dilupakan: beragam tanaman berada di depan panggung. Gedung yang dingin dan sorot lampu yang menghibur. Di luar, panas dan panas dan panas. Maka, berada di dalam ruangan itu keselamatan dari gerah.

Para pengarang tampak saling bicara, bergantian berfoto. Mereka mungkin sudah bosan, merasa waktu bergerak lambat untuk pengumuman para peraih penghargaan Prasidatama. Aku santai saja.

Di panggung, hiburan-hiburan terus disajikan. Tata suara dan tata cahaya cukup memukau. Aku sedikit menikmatinya. Yang aku perlukan adalah membuat percakapan-percakapan sejenak dengan beberapa orang. Aku tidak betah menonton semua hiburan.

Yang mengejutkan saat tiga penyanyi di panggung bergantian membawakan lagu-lagu Nusantara. Musik yang terdengar mengajak orang-orang ikut bernyanyi atau berjoget. Di dekat pintu masuk, aku melihat empat perempuan berjoget. Mereka tertawa dan terhibur. Setahuku mereka adalah para pegawai Balai Bahasa Jawa Tengah. Berjoget membuat mereka senang setelah lelah dan berdebar mengurus acara. Mereka yang bertanggung jawab. Jadi, berjoget sebentar dan tertawa adalah selingan yang menguatkan. Aku tidak ikut berjoget. Malu. Sejak dulu, aku memang pemalu.  

Di Hotel Nirwana, aku mulai berpikiran: acara Prasidatama adalah hiburan-hiburan. Apa aku terlalu menginginkan hiburan? Di ruangan, aku memilih melihat para pengarang Jawa Tengah yang menjadi kaum tabah untuk sampai memegang piala dan piagam. [] Kabut

Ragam

NARUTO DAN PIDATO

Orang-orang sarapan dan omong-omong. Aku ikut menikmati nasi, minuman, buah, dan tempe. Pagi tidak ingin tergesa. Aku masih kepikiran nasib Yuditeha. Apakah ia sembuh? Apakah ia makin tak berdaya?

Di luar, orang-orang duduk di pinggir kolam. Mereka dalam percakapan yang seru. Aku ikut duduk sebentar. Di seberang, ada kesibukan dan suara-suara keras. Di situlah, tempat untuk acara Prasidatama. Beberapa orang berpenampilan rapi berada di lokasi acara. Senang melihat mereka sudah mandi dan memilih pakaian yang terbaik. Aku belum mandi tapi tidak mungkin terjun ke kolam dan sabunan. Sejenak bersama tiga orang, aku sempat bercakap masalah bahasa dan sastra. Obrolan tanpa kopi dan rokok.

Kembali ke kamar. Menit-menit sebelum mandi, aku masih mendapat beberapa halaman buku berjudul Cakap Kecap (2004). Buku mengenai sejarah dan perkembangan periklanan di Indonesia. Di situ, aku tidak menemukan ingatan atau pembahasan iklan-iklan buku sastra. Buku tidak menjanjikan lengkap. Namun, aku mendapat panggilan ulang untuk merampungkan kliping iklan-iklan buku sastra yang sudah aku kumpulkan, sejak beberapa tahun yang lalu.

Datang ke tempat acara. Para tamu duduk tidak tenang. Mereka omong-omong, berfoto, dan makan. Di panggung, aku kaget melihat Naruto berjoget. Ia tampil bersama tokoh-tokoh Nusantara. Panggung sudah meriah dengan Naruto, yang nantinya disusul kehadiran para pengarang sakti di Jawa Tengah. Mereka tidak usah berjoget. Naruto dan teman-temannya itu menghibur agar yang hadir bergairah, tidak diserang bosan dan mengantuk.

Di panggung, aku melihat gong. Benda yang masih seperti dulu: digunakan dalam pembukaan acara secara resmi. Aku sudah jemu. Membayangkan saja ada cara dan benda berbeda dalam membuka acara resmi. Aku penasaran dengan pemukulnya. Tibalah di meja yang berisi tumpukan piagam dan jejeran piala Prasidatama. Pemukul gong itu berhiaskan kembang melati. Wangi. Wangi. Wangi. Inginku, Senin, 25 September 2023, wangi oleh kebahagiaan para pengarang.

Panggung menjadi pusat. Aku kadang mengalihkan pandangan, tidak mau selalu melihat panggung. Aku bergerak semaunya meski dilihat dan diperingatkan panitia. Jika hanya duduk, tubuhku tidak beres dan waktuku sia-sia. Bergerak saja, bertemu orang-orang dan bicara sembarangan. Yang jelas, panggung tetap ramai.

Selain hiburan, ada tokoh-tokoh yang berpidato. Mereka pasti terhormat, memiliki predikat rektor dan kepala. Kehadiran keduanya di panggung mengesahkan acara yang diadakan beberapa lembaga, yang terpenting: Balai Bahasa Jawa Tengah dan Universitas Pekalongan. Aku tidak menyimak semua isi pidato. Yang satu berpidato tentang bahasa. Yang satu menyampaikan kerja-kerja kebahasaan dan kesusastraan. Seorang tokoh menaruh bolpoin biru di saku baju. Seorang tokoh merasa mimbarnya ketinggian. Aku memandang dari kejauhan.

Akhirnya, gong dipukul. Pembukaan terjadi diringi tepuk tangan. Para pejabat dan beberapa orang berdiri di panggung. Dua belas pemotret di depan panggung. Pemandangan cukup indah. [] Kabut

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Ragam

PENGARANG DAN PENERBIT

Hari pun berganti. Senin, 25 September 2023, telah datang tanpa jadwal pekerjaan. Aku yang membuka mata, aku yang menantikan peristiwa. Gelap masih milik Pekalongan. Lampu-lampu menyala, tidak semua terang. Aku belum menerangkan Senin.

Bekal dari rumah dinikmati: kofemik. Roti masih tersedia. Menit-menit menjelang matahari terbit, kehangatan sudah terasa. Aku melengkapinya dengan membaca Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia (2012) garapan  Francis Wheen. Buku kecil dan tipis yang akan turut campur dalam biografi Senin. Buku yang tak ada urusannya dengan kepergianku ke Pekalongan tapi mengharuskan aku membacanya. Dulu, aku membaca Buku-Buku jang Merobah Dunia, hasil terjemahan Asrul Sani, masa 1950-an. Das Kapital terakui mengubah dunia, berpengaruh dalam arus sastra dunia.

Bagiku, Karl Marx tak melulu ekonomi, filsafat, seni, dan sejarah. Ia pun menggerakkan sastra dengan segala janji, kemiskinan, bualan, kemarahan, dan keterasingan. Nama teringat bagi pengarang-pengarang tenar di dunia. Yang membaca buku-buku susunan Karl Marx turut menentukan selera mereka menggubah puisi, cerita pendek, dan novel.

Yang perlu dikutip: “Ambisi Marx yang paling awal adalah sastra. Sebagai mahasiswa hukum di Universitas Berlin, ia menulis sebuah buku puisi, darma bersyair, bahkan novel berjudul Scorpion dan Felix, yang ditulis bergegas dalam kondisi mabuk imajinasi di bawah pesona Tristram Shandy gubahan Laurence Sterne.” Jika dulu ia terus menggubah sastra, nama-nama tenar abad XX bakal sulit bermunculan. Di Hotel Nirwana, Seninku bersama Karl Marx, kofemik, dan roti seharga dua ribu rupiah.

Ingat lelaki berjenggot lebat, ingat sastra di Indonesia. Aku kadang penasaran dengan babak sastra di Indonesia, 1950-an dan 1960-an. Penasaran itu terjawab saat membaca buku dan majalah lama. Kini, keinginan mengetahui silam itu agak redup. Sastra di Indonesia abad XXI tenang-tenang saja. Orang-orang tetap menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Marjin Kiri, Bentang, Banana, Basabasi, dan JBS terus menerbitkan buku-buku sastra. Buku-buku baru berada di toko buku dan para pedagang di media sosial. Aku melihatnya saja. Aku dikutuk harga. Aku sedang berutang hidup, belum ingin menumpuk utang untuk buku-buku baru.

Senin, 25 September 2023, aku bakal menyaksikan perayaan dan penghormatan sastra dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah. Institusi itu membuat penghargaan memuat ketentuan tentang penerbit. Jadi, buku-buku dinilai juri diharuskan terbit di Jawa Tengah. Pengecualian adalah novel berbahasa Jawa. Aku berkenalan dengan nama-nama penerbit berada di pelbagai kota di Jawa Tengah: Wonosobo, Solo, Demak, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blora, dan lain-lain. Daftar nama penerbit itu wajib dicatat dalam perkembangan sastra di Jawa Tengah meski sulit bersaing di pasar buku nasional.

Prasidatama itu pengarang, buku, dan penerbit. Hal paling rumit itu penerbit. Di Jawa Tengah, banyak pengarang kondang. Buku-buku mereka sering diterbitkan di penerbit-penerbit beralamat di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain. Buku-buku mudah diperoleh di toko buku dan situs-situs perniagaan buku. Berbeda nasib dengan penerbit-penerbit mempersembahkan buku berkiatan ikhtiar sastra dan penghargaan Prasidatama. Buku-buku itu tidak mudah diperoleh. Penerbit-penerbit pun sulit berjanji menerbitkan dalam jumlah ratusan atau ribuan, yang membuktikan gairah sastra tak pernah padam. Aku beruntung membaca puluhan buku dalam pamrih Prasidatama. 

Senin mau bermatahari. Aku menaruh Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia di bawah televisi. Aku tidak mau Senin hanya milik Karl Marx. [] Kabut

Ragam

KAMAR TIDUR

Sejak dulu, aku mengenal Yuditeha bukan lelaki penggemar tidur atau penidur sejati. Mata itu biasa digunakan bersastra, selain melihat rambut saat mencukur. Mata lelaki sulit gemuk itu menjadikan obrolan sastra dan belajar sastra memicu gairah-gairah tak biasa. Yuditeha, pengarang tenar di Indonesia. Ia mudah dilekati Kamar Kata.

Sejak masuk gerbong, ia adalah pesakitan. Aku, Panji Sukma, dan Indah Darmastuti merasa kasihan tapi tidak bisa menyembuhkannya. Ia yang menanggung derita. Dugaanku: sastra mengakibatkan sakit. Yuditeha yang biasanya suka tersenyum tampak murung dan lelah. Ia sedang tidak berpikiran waras: gerbong dilihatnya sebagai kamar tidur.

Aku sedih dan sedih. Beberapa hari yang lalu, aku seharian bersama Yuditeha. Pagi, kami naik bis Solo-Semarang. Hari penentuan bagi kami selaku juri cerita. Yuditeha lebih terhormat sebagai juru cerita dan juri cerita. Di perjalanan, kami adalah lelaki berkicau. Alamat tujuan adalah Ungaran. Di kantor berurusan bahasa dan sastra, kami hadir untuk penilaian dan penentuan para peraih Prasidatama. Pulang, kami dalam kondisi cukup lelah tapi tetap berkicau. Di menit-menit menuju Terminal Tirtonadi, ia akhirnya tidur. Aku ikhlaskan saja. Ia sudah tua. Raga lelah jawabannya tidur.

Peristiwa yang berbeda. Empat orang berangkat bersama menuju Pekalongan. Yuditeha gagal sebagai pencerita. Yang dialami adalah perjalanan menyakitkan. Kereta api menjadi “kamar tidur” yang bergerak jauh. Duduk dekat jendela, ia memilih tidur. Ia mungkin ingin menengok jendela mimpi agar sakit tidak makin parah.

Tiba di Pekalongan, Indah Darmastuti berkelana duluan. Tiga lelaki menanti pesanan mobil. Kami salah tempat. Berdiri di pinggir jalan yang bising dan semrawut. Kami berdiri dekat tong sampah. Malam yang tidak indah untuk mengakrabi Pekalongan.

Aku menduga saja: Yuditeha yang sulit berdiri tegak ingin lekas berbaring. Ia mustahil berani tidur di jalan beraspal. Inginnya segera sampai hotel. Kami dijanjikan menginap di Hotel Nirwana. Bagi Yuditeha, ia tidak terlalu memikirkan “nirwana” atau sastra.

Kasur! Ia ingin tidur di kasur. Gagal sebagai pencerita, Yuditeha mendambakan menjadi penidur sejati. Pekalongan itu ‘kamar tidur” bagi lelaki yang mengelola Kamar Kata. [] Kabut

Ragam

SASTRA DI BELAKANG

Pada menit-menit menjelang sampai Stasiun Pekalongan, aku berganti pasangan obrolan. Di sebelah kanan, ada tas besar dan Panji Sukma. Ia mungkin lelah dengan telinga yang kedatangan suara-suara dari gawai. Panji kangen suara asli dari lelaki bermulut seribu.

Tiba saatnya, aku dan Panji dalam obrolan dengan suara (makin) keras. Gerbong itu bising! Kami tak mau kalah dalam persaingan suara. Obrolan tak selancar bersama Indah tapi kata-kata lekas berhamburan berharap tidak sia-sia.

Bermula masalah kebudayaan. Obrolan yang menyulitkan meraih hiburan. Kebudayaan itu berat dan pelik. Aku asal mengatakan tentang beragam gagasan kebudayaan di Indonesia berinduk epos atau mitos. Seingatku, para pemikir kebudayaan atau budayawan tak jemu-jemu mengutip epos-epos Mahabharata dan Ramayana. Ada pula yang memerlukan mengajukan mitos-mitos lokal. Semua itu memastikan gagasan dan tafsir kebudayaan dianggap bermutu.

Di sampingku, Panji Sukma belajar kebudayaan secara akademik. Aku ingin ia bisa berceloteh dengan bobot pemikiran 1 ton. Bobot wajib lebih berat dari anting-anting di telinganya.

Berlanjutlah kami bercakap tentang humor dan musik. Pilihan agar dua masalah itu memberi gairah ketimbang raga lelah. Perjalanan bisa menghilangkan gairah jika salah pilih tema percakapan. Seru untuk bertukar kata dengan ingatan humor dan musik. Cara tergampang agar masih ingat Solo, Indonesia, tokoh, buku, dan lain-lain.

Aku berdoa satu detik agar Panji tidak bersumpah mau menjadi pelawak. Cukuplah ia girang di musik digenapi sastra.

Sastra, tema di  belakang meski kami berada di gerdong depan. Panji Sukma, sosok yang tangguh dalam sastra di Indonesia. Pastilah ia sungkan menampilkan kewibawaannya di hadapanku. Yang terpenting mungkin kelakar melindungi diri dengan pernyataan bahwa nasib bersastra ditentukan klenik. Ia sering lempar humor berkaitan Jawa tapi tetap aku “haramkan” menjadi pelawak.

Yang sempat terucap tentang sastra adalah keengganan dan rasa malu Panji bila diundang dalam diskusi-diskusi sastra. Ia mengaku tak banyak berilmu. Namun, ia telanjur kondang dengan novel dan cerita pendek. Inginku, lelaki berambut gondrong dan bertato itu mulai ikhlas dan berkenan memberi kelegaan saat berbaur umat sastra di Indonesia.[] Kabut

Ragam

PENGUMBAR KATA DAN PEMANGKU HELM

Aku dan Indah Darmastuti bukan jenis pendiam. Kami seperti memiliki seribu mulut, yang bisa mengumbar kata-kata tanpa lelah. Di sepanjang perjalanan Solo-Pekalongan, posisi kami memang duduk tapi kata-kata berlarian ke segala arah.

Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu perjalanan. Tidur itu pilihan terakhir. Yang menjadikan perjalanan dengan kereta kelas ekonomi terhindar dari bosan adalah obrolan. Terjadilah obrolan tanpa terpaan sinar matahari. Di gerbong, kami terlindung dari matahari dan tak ada janji untuk obrolan yang tenggelam meski menjelang senja.

Obrolan yang sembarangan. Kami mula-mula bicara sastra, bergerak jauh ke belasan masalah yang bisa bikin lelah. Jaminan obrolan adalah roti dan serabi. Mulut kami tidak selamanya bertugas untuk omong. Mulut kami pun memerlukan kedatangan makanan-makanan yang lezat.

Sastra (terlalu) penting bagi kami. Padahal, kami kadang pecundang dalam sastra tapi berlagak mengerti. Sastralah yang mempertemukan kami dan mengesahkan kebersamaan.

Mulut kamu cukup melawan suara guncangan gerbong di atas rel. Kota-kota terlewati kami terus sibuk dengan kata-kata. Di depan kami, seorang perempuan mengenakan masker. Duduk kadang gelisah. Di pangkuan, ada helm berukuran besar. Aku memastikan ia tidak bakal menaruhnya di kepala saat masih berstatus penumpang kereta api. Helm ikut bergerak oleh tangan atau guncangan gerbong.

Aku dan Indah mengerti nasib sial dialami perempuan memangku helm. Telinganya pasti kesakitan mendengar mulut kami yang seperti mesin penggilingan padi. Sastra itu seru diobrolkan diimbuhi tema-tema lain tapi tetap mengikutkan limpahan kata dan imajinasi. Obrolan kami adalah neraka bagi penumpang yang bermasker tapi tak menggunakan helm di kepalanya.

Pikirku, ia bisa berlindung dari kutukan obrolan kami dengan mengenakan helm: mata dan telinganya cukup menghindari siksa kata-kata dan tampang kami yang menyebalkan. Namun, ia pasti malu bila nekat mengenakan helm. Dugaanku, ia bisa menyatakan sebal atau marah dengan memukulkan helm ke kepalaku atau perutku. Tindakan yang mudah terjadi.

Aku dan Indah terlihat duduk. Yang terjadi, kami berlari bersama kata-kata. Alamat yang kami datangi memang Pekalongan tapi kamis justru menempuhi jalan (cerita dan biografi) tak ada ujung.

Akhirnya, kami tiba di Stasiun Pekalongan. Legalah si perempuan yang memangku helm. Indah menjadi manusia sopan dengan memberi kata-kata mengandung permintaan maaf dan doa agar penumpang itu berbahagia setelah kami menghilang dari hadapannya. Aku tak menduga melihat Indah yang sopan dan bijak. Gerbong itu telah terbebas dari segala bualan kami yang berceceran di sepanjang rel atau terbawa angin.[] Kabut