Katalog

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Ragam

Puisi, Tepuk Tangan, Mesin

Senja berlalu tanpa sempat melihat perubahan wajah langit. Malam itu datang saat jumlah lampu menyala makin bertambah. Ruangan-ruangan yang terang, yang menandakan gelaran berjudul malam.

Di atas sepeda motor, aku dan Ahmad meningalkan masjid megah di Solo. Jalanan cukup ramai. Di pinggir jalan, ratusan warung makan menantikan kedatangan kaum lapar. Kami tidak mampir, tak ada kewajiban makan. Malam dan makan yang membuat kota meriah dan penuh pemujaan selera. Kami bukan berpikiran makanan. Di jalan, obrolan kami bersinggung sejarah, tokoh, dan buku.

Di Mesen, Solo, kami berhenti di suatu tempat yang memiliki papan penuh logo. Di situ, logo pemerintah dan logo-logo mengartikan usaha-usaha besar di Indonesia. Aku berada di tempat yang diresmikan dengan logo-logo. Aku belum sempat memikirkannya, tidak ada keinginan memotret untuk suatu hari membuat tulisan mengenai pemerintah dan logo. Malam itu aku datang bukan untuk pembicaraan logo tapi puisi.

Kamis, 7 Desember 2023, hari untuk puisi. Kedatanganku dengan buku puisi berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2003). Beberapa hari lalu, buku itu dikhatamkan. Di tempat dengan lampu-lampu remang, aku duduk bersama tas berisi buku puisi dan kaki tanpa sandal atau sepatu. Aku menikmati malam dengan cekeran. Kaki yang lama terbiasa bersandal jepit merasakan sedikit sakit saat berjalan di atas kerikil-kerikil. Kaki yang manja, tibas saatnya bertelanjang untuk kembali mengenali tanah, tidak selalu lantai. Telapak kaki itu bertemu tanah dan rumput.

Obrolan sebentar bersama teman-teman: dari tema seni (tradisi) sampai sekolah. Salaman dan percakapan menandakan kami tidak ingin malam membisu atau sepi. Di atas meja, asbak digunakan teman-teman suka merokok. Mataku memandingi asap yang puitis. Suguhan kopi cukup nikmat meski tidak dilengkapi gorengan. Aku minum kopi dan bercakap sambil melihat kesibukan orang-orang mau mengadakan diskusi atau obrolan sastra.

Yang dinantikan datang: Saut Situmorang (Jogjakarta). Kedatangan saat malam bertambah malam. Lelaki gendut berambut panjang itu datang bersema Idrian Koto, bos JBS yang menerbitkan (ulang) saut kecil bicara pada tuhan (2023). Setahuku, dulu buku itu diterbitkan oleh Bentang. Aku membaca ketika masih kuliah, membuatku berani mengundang Saut Situmorang ke kampus (UMS) untuk diskusi sastra. Buku yang pernah ikut memberi pengaruh dalam pengenalan puisi-puisi abad XXI.

Pada malam yang  berasap oleh rokok-rokok beragam merek, aku mulai kembali ke puisi-puisi pernah terbaca, sekian tahun lalu. Kursi-kursi sudah diduduki beberapa orang. Empat kursi di depan masih kosong. Aku melihat belum ada tanda-tanda acara bakal dimulai. Angka 8 sudah terlewati. Malam yang bagi orang-orang belum perlu tergesa. Namun, aku memberanikan diri duduk di kursi tanpa ada panggilan dari panitia. Aku mengajak Indra Agusta untuk turut duduk di sampingku agar orang-orang mengetahui dikusi dimulai.

Pembaca acara memegang mikrofon, mengeluarkan kata-kata berkaitan diskusi dalam seri Tilikan. Kerja komunitas seni yang mengajak orang-orang bertemu dan bicara. Aku belum pernah ikut seri Tilikan. Malam itu bagiku kehormatan bisa hadir bersama mereka yang masih terus menggerakkan seni di Solo.

Di samping, perempuan berdiri membaca puisi. Ia terbiasa membaca puisi di panggung dan lomba. Di hadapan orang-orang, ia membaca puisi gubahan Saut Situmorang dengan apik. Ia diganjar tepuk tangan dan pemotretan.

Beri Hanna berperan menjadi moderator. Di depan, Saut Situmorang pun sudah duduk. Kami tidak mengetahui situasi obrolan bakal seru atau sendu. Meja di depan kami agak penuh. Yang terlihat beberapa botol minuman bermineral. Ada tiga potong roti. Anggur di piring kecil. Yang menakjubkan ada botol-botol kecil berisi air bening. Aku yakin itu minuman istimewa. Di meja, ada juga beberapa buku Saut Situmorang yang menanti pembeli.

Indra Agusta mulai memberi kata-kata. Pembicaraan yang berat. Puisi-puisi Saut Siumorang berkaitan dengan hal-hal yang mengacu iman, adat, pengembaraan, dan lain-lain. Puisi-puisi yang berani dalam urusan bahasa. Hal terpenting adalah penulisan “Mu”. Penggunaan huruf kapital itu membuat pembaca sulit dalam kepastian dalam usaha mengerti manusia dan Tuhan. Saut Situmorang justru menulis “tuhan” menggunakan huruf kecil, bukan “T”.

Cara membaca puisi dan menafsirkan puisi belum tersuguhkan. Indra Agusta sekadar mengingatkan usaha pembaca yang jarang mudah dalam memasuki puisi. Ia menemukan kemampuan Saut Situmorang dalam penggunaan beragam (sumber) bahasa untuk turut masuk dalam puisi. Jadi, yang dinikmati pembaca adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia tapi judul kadang berbahasa asing. Di puisi, kata atau istilah asing pun turut hadir selain berasal dari bahasa daerah.

Aku berharapan Indra Agusta membuat resensi untuk buku Saut Sittumorang untuk dikirimkan ke Jawa Pos. Dugaanku, ia mahir membaca buku, tak mau hanya rampung saja. Sosok itu memiliki kekuatan meresensi, yang tidak membiarkan buku tertutup dan berdiam di rak.

Di depan, aku ikut omong masalah buku Saut Situmorang. Aku cuma membicarakan masalah matahari dan bulan. Puluhan puisi melulu mencantumkan matahari dan bulan. Bintang kadang ikut tapi tidak dijanjikan selalu hadir. Aku belum kepikiran masalah “tuhan” atau “Tuhan”. Yang terbaca selama beberapa hari adalah kebiasaan Saut Situmorang menulis matahari dan bulan. Aku menduga ia (tidak) menyadari bahwa matahari dan bulan terlalu “menentukan” puisi-puisinya, digubah sejak masa 1980-an.

Selanjutnya, Saut Situmorang membicarakan diri, puisi, situasi sastra Indonesia. Ia berbagi biografi. Puisi-puisi itu berkaitan biografi. Beberapa omongannya mengejutkan meski beberapa hal aku sudah mendengarnya sejak lama. Dulu, aku membaca esai-esainya yang keras. Malam itu Saut Situmorang tampil agak kalem tapi tidak mengurangi kesombongannya. 

Malam yang diramaikan tepuk tangan. Pemicunya adalah Beri Hanna. Aku sering bingung dengan kebiasaan tepuk tangan dalam diskusi. Malam itu keseringan tepuk tangan. Berri Hanna yang menjadi moderator sengaja mementingkan tepuk tangan. Aku menunduk malu. Tepuk tangan mungkin mengusir sepi dan kemalasan. Aku tidak mau ikut tepuk tangan.

Aku telat mengetahui puisi-puisi gubahan Saut Situmorang itu akrab alam. Puisi-puisi yang religius ketimbang mengumbar lelucon atau “makian”. Di mataku, Saut Situmorang itu “pendakwah” yang menyamar. Ia fasih menyajikan kebijaksanaan-kebijaksaan melalui puisi. Hal berkebalikan dari kebiasannya membuat onar dan perdebatan. Malam itu aku menghormati Saut Situmorang yang sanggup menguak lakon bocah dan religiositas.

Yang membuatku sebal malam itu bukan tiga orang di sampingku yang menikmati air bening dalam botol-botol kecil. Aku terganggu dengan suara mesin air, yang terus bersuara saat kami bergantian omong. Mesin-mesin air berada di sebelah Beri Hanna. Kami bicara puisi bersaing dengan mesin air. Saut Situmorang tidak merasa terganggu mesin air tapi omong tentang mesin sebagai penyair atau penyair sebagai mesin. Aku tidak mengerti yang diomongkannya.

Obrolan perlahan bingung arah. Tepuk tangan tetap terdengar. Tubuhku mulai bermasalah. Aku sulit bertahan. Aku ingin pulang. Malam bertambah malam. Puisi selesai dulu. Aku ingin tidur.

Di akhir, aku ikut menjelaskan masalah sastra dan kelembangaan pendidikan di Indonesia, sejak masa kolonial sampai Orde Baru. Omongan sudah meninggalkan buku berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2023). Aku tidak sanggup lagi bersama orang-orang merayakan malam dengan kata, kopi, buku, rokok, dan lain-lain.

Aku sengaja berpamitan dan minta maaf tidak bisa terus duduk di situ. Aku pulang setelah menganggap selesai omong tentang (buku) puisi. Malam itu aku mendapat kebaikan dan kejutan. Seorang teman memberikan bingkisan dalam kresek hitam. Ada teman memberikan buku puisi terbaru Afrizal Malna. Aku pulang tetap tanpa alas kaki tapi membawa hadiah-hadiah terindah.

Di rumah, aku membuka kresek. Isinya sarung yang berwarna kalem. Yang memberi hadiah mungkin menginginkan diriku rajin beribadah. Sarung bisa digunakan dalam beragam acara, tidak cuma untuk ibadah. Ia mungkin berpesan bahwa aku jarang berpenampilan menarik saat menghadiri acara-acara. Aku mengerti sarung itu tanda pertemanan dan “peringatan”.

Pada saat berbaring, aku mulai membuka halaman-halaman buku Afrizal Malna. Pemberian yang menjawab keinginanku beberapa hari lalu. Aku sempat mengajak teman-teman yang sering dolan ke rumah untuk memesan buku baru terbitan JBS. Buku baru itu malah datang duluan.

Aku sudah berpisah dari acara sastra di Solo. Di atas kasur, aku menjadi cengeng. Malam yang lelah tapi mengesankan. Aku tidak lagi ingat puisi-puisi Saut Situmorang. Kecengenganku untuk kebaikan dua teman yang memberi sarung dan buku. Sebelum mata terpejam, aku mengganti masalah matahari dan bulan dengan sarung dan buku. Malam itu airmata. [] Kabut

Ragam

Di Bumi Seribu Masalah

Siang belum tergusur, masih ada beberapa jam. Aku mencuci pakaian dengan jadwal berubah: memilih siang ketimbang sore. Siang yang mau berakhir inginku semua pekerjaan rampung. Mencuci pakaian dilanjutkan mencuci piring dan gelas. Akhirnya, semua selesai dengan acara penutup: menyapu. Yang membingungkan: mandi di akhir siang. Mandi yang rasanya sia-sia jika keringat mudah mengalir setelah handuk dijemur. Tubuh yang telah mandi tetap berada dalam siang yang berkeringat. Sejenak menaruh tubuhku di depan kipas angin.

Pada menit-menit menjelang sore, aku dan Ahmad ikut keramaian di jalan. Yang ingin kami datangi adalah masjid. Sore bukan untuk hiburan tapi kesadaran menuju tempat ibadah.

Kami berada di jalan menjelang azan terdengar. Beberapa menit yang kami rasakan dengan percakapan tentang sejarah Indonesia. Yang kami sebut adalah nama-nama asing: Kahin, Anderson, Holt, Feith, Liddle, dan lain-lain. Mereka menulis sejarah Indonesia. Kami yang membaca melalui buku-buku edisi terjemahan bahasa Indonesia. Perjalanan ke tempat ibadah di Solo tapi ketagihan omongan sejarah.

Kamis, 7 Desember 2023, bukan hari bersejarah dalam hidupku. Aku mengajak teman untuk berada di Masjid Sheikh Zayed (Solo). Di sana, ada diskusi yang aku ketahui dari pengumuman beredar di media sosial, dua hari sebelumnya. Kedatangan ke masjid mula-mula berhasil ikut shalat asar berjamaah, telat satu rekaat. Pengumuman diskusi terdengar dari mikrofon masjid. Diskusi yang mungkin penting setelah ibadah. Sore yang indah di masjid yang berlampu tidak terlalu terang, tidak seterang matahari yang berada di luar.

Kami menuju menara: naik tangga. Yang aku inginkan di pinggiran tangga adalah buku-buku. Di atas, perpustakaan. Seharusnya, sejak di bawah ada buku-buku atau gambar-gambar mengisahkan buku. Jadi, saat kaki naik tangga ada doa-doa perbukuan. Mata yang melihat buku-buku, mata yang akan melupakan lelah. Yang naik tangga akan berimajinasi naik ke menara buku.

Pintu itu terbuka. Perpustakaan terbuka untuk umum. Aku segera masuk ingin berada di depan rak-rak. Mataku tak sabar melihat buku-buku, yang dimulai dengan punggung-punggung buku. Beberapa detak saja kenikmatan di depan rak buku. Pejabat di masjid itu memanggilku. Ia memintaku masuk ke ruangan berkaca. Mengikuti perintah dan petunjuk meski gagal bersilahturahmi ke buku-buku.

Salaman dengan Yessita dan Afthonul Afif. Di Solo, aku masih sering bertemu dan bersama Yessita. Salaman yang berbeda dengan Afif. Lelaki ganteng dari kudus. Aku mengakuinya sebagai “manusia kudus” atau “manusia suci”. Artinya, salaman itu tidak biasa setelah sepuluhan tahun tak bertemu dan tiada percakapan. Dulu, kami pernah dekat dengan predikat penulis di Koran Tempo dan Kompas. Masa lalu yang memberi arah berbeda untuk ditempuhi. Pada suatu masa, ia menjadi intelektual penting di Indonesia. Aku hanya bergembira menjadi bapak rumah tangga.

Obrolan-obrolan cepat memberat. Sekali lagi, obrolan kami berkaitan sejarah di Jawa (Nusantara). Kami cuma bisa omong sepenggal-sepenggal tentang sejarah di Jawa, kolonialisme, Islam, sekolah, penerbitan, pesantren, kitab suci, pabrik gula, kebatinan, dan lain-lain. Di atas meja, aku memperoleh pisang dan anggur. Di menara, sejarah ingin dijatuhkan dari “ketinggian”. Obrolan yang tidak memungkinkan debat.

Diskusi bertema “Sehat Mental Ala Jawa” dimulai dengan kehadiran 20-an orang. Jumlah yang sedikit tapi membuat ruangan longgar. Ramai dan sesak mungkin tidak enak bagi mataku yang mulai mengantuk. Di depan, Yessita memberi awalan. Afif memberi keterangan panjang mengenai kesehatan mental.

Dua sosok yang menggunakan waktu untuk kata-kata. Yang terlihat: Afif mengenakan jam tangan di sebelah kiri dan Yessita mengenakan jam tangan di sebelah kanan. Di atas, aku tidak melihat jam dinding. Perpustakaan tidak memerlukan jam. Para pengunjung dianggap mudah mengerti tentang jam buka dan jam tutup. Mereka tidak menuntut adanya jam dinding.

Aku mendengarkan dengan berdebar. Banyak masalah-masalah ruwet masa sekarang, yang mengakibatkan depresi dan bunuh diri. Orang-orang yang meminta perhatian. Kegagalan mendapat pujian menimbulkan rasa bersalah. Akhirnya, pamrih-pamrih minta dikasihani malah diumumkan secara terbuka.

Aku menyimak omongan-omongan Afif sambil mengutuki diri. Diskusi yang bakal berisi masalah-masalah dan salah-salah. Contoh-contoh yang diajukan Afif menunjukkan manusia masa sekarang sulit “waras”. Mereka bernafsu bahagia tapi gagal. Mereka ketagihan dolan-dolan tanpa kepikiran jawaban atas masalah-masalah hidup. Yang merepotkan adalah pengalaman bahagia, bukan pengakuan yang manipulatif atau bermutu rendahan.

Mataku melihat dua rak buku yang menjadi batas panggung bagi moderator dan pembicara. Di situ, ada tempelan kertas dengan tulisan: “harap tenang”. Mengapa kertas itu tidak dilepas? Jika tidak dilepas mendingan kata-kata diganti menjadi “harap bahagia”. Aku malah tergoda “harap makan”. Di depanku, ada suguhan berupa panganan rebusan: jagung, ketela, kacang, singkong, dan lain-lain. Aku juga menikmati segelas teh hangat, tak lupa dua iris jadah.

Afif yang bicara lama mulai menyebut nama-nama dan masa. Aku lekas teringat buku-buku kesehatan mental garapan Zakiah Daradjat masa 1980-an. Dulu, masalah itu sudah melanda Indonesia tapi tidak segawat masa sekarang. Afif memilih menggunakan referensi-referensi asing dan mutakhir. Aku sedikit memahaminya. Namun, yang berbobot adalah pengutipan dari Ki Ageng Suryomentara,, yang lahir dan tumbuh di Jawa.

Afif telah menjelajah jauh dalam persoalan bahagia dan sehat mental. Ia menulis banyak buku. Yang terkeren adalah buku-buku mengenai Ki Ageng Suryomentaram. Di Indonesia, ia adalah pakar. Aku mengenalnya setelah membaca buku-buku kajian Ki Ageng Suryomentaram, terutama Psikologi Jawa yang ditulis Darmanto Jatman.

Sore itu kami masih berada di bumi seribu masalah. Kami tidak bisa memesan bumi yang berbeda. Kami pun menantikan langit menurunkan jawaban-jawaban tapi bumi sedang gersang untuk menerimanya. 

Sore itu seharusnya dihadirkan satu pembicara lagi yang bisa omong tentang sastra atau film. Tentu berkaitan erat dengan kesehatan mental. Konon, penerbitan buku-buku dan film-film terbaru ada urusannya dengan kesehatan mental. Buku-buku berisi kutipan-kutipan pendek dan bergaya bijak sedang laris. Buku-buku filsafat klasik dijadikan pegangan bagi yang memburu bahagia.

Yang membuatku menantikan kehadiran orang omong sastra adalah terbitnya novel-novel terjemahan yang menceritakan masalah-masalah mental abad XXI. Aku ingat novel berjudul Vegetarian gubahan Han Kang. Aku pun pernah khatam novel Perpustakaan Malam (Matt Haig). Ada beberapa novel lagi yang membuatku sebagai pembaca mudah murung. Dunia sedang amburadul. Para tokoh dikutuk seribu masalah. Aku yang membaca juga memiliki salah-salah untuk memasuki cerita bergelimang masalah.

Di perpustakaan, aku mau mencari novel-novel yang membahagiakan agar diskusi tidak memberat. Namun, keinginan itu gagal diwujudkan. Tubuhku lungkrah dan mengantuk. Beruntung ada peserta-peserta mengajukan beragam pertanyaan yang mampu membuatku tidak menuruti nafsu tidur. Ikut berpikir lagi. Afin menjadi juru jawab yang sanggup menjelaskan mirip kiai tapi ia menolak disebut kiai.

Acara itu selesai. Di atas kepalaku, berputar novel-novel yang ikut merayakan pedih, depresi, bunuh diri, lara abad XXI. Yang menanggungkan masalah bukan cuma orang-orang Indonesia tapi sedunia. Aku tidak mengira bakal datang kiamat. Inginku menata novel-novel yang turtu “bertanggung jawab” dalam perayaan masalah-masalah yang menyedihkan, traumatik, dan menghancurkan. Aku ingin menebus salah-salah dengan khatam novel-novel. Persembahan fiksi yang melampaui kenyataan-kenyataan yang ditanggungkan. Pembaca novel-novel mutakhir bisa mudah menjadi yang bersalah atau menanggungkan salah di atas salah untuk hidupnya dan pergaulannya dengan orang lain.

Di jelang akhir diskusi, Yessita berulang mengucap terima kasih dan minta maaf. Pengulangan itu justru membuat aku sadar tema diskusi. Jika masalah terima kasih dan minta maaf diajukan sejak awal pasti diskusi bakal seru. Jadi, Yessita berperan ganda sebagai moderator dan pembicara. Dugaanku, ia mampu menjelaskan dua masalah itu berkaitan kesehatan mental. Aku berusaha mengerti terima kasih dan minta maaf yang menentukan kewarasan, kebahagiaan, dan kebersemaan, selain mengurangi siksa kesalahan dan kutukan hidup.

Rampung diskusi, aku ingin segera turun menghindari bayang-bayang buruk mengacu kesehatan mental. Keinginan yang gagal setelah ada lelaki yang menyapa. Kami mula-mula dalam tanya-jawab pendek. Akhirnya, kebablasan serius bercakap tema pendidikan. Tema yang agak menyelamatkanku dari sisa-sia diskusi.

Percakapan itu tetap mengingatkan novel, tidak sekadar kebijakan-kebijakan pemerintah dan usaha-usaha komunitas belajar. Aku malah tergoda lagi omong sejarah, dari masa kolonial sampai Orde Baru. Aku menambahi dengan perkamusan pendidikan beragam bahasa. 

Azan magrib terdengar, kami memutuskan turun dari perpustakaan. Kami ingin beribadah meski mengetahui telat tiga rekaat. Mikrofon digunakan imam sudah terdengar zikir dan doa setelah shalat. [] Kabut

Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Puisi

Puisi Faustina Hanna

Tuguran*

        sejam berlalu semenjak jurit waktu berpiuh bersama

                   keranjang dosa

                                         yang kumuh

/1/

dari kejauhan ada yang menanti;

pada jalur utama sepeda motorku: gapura-gapura teguh

penuh paru lampu. maka mulailah kuhitung teliti  

     −lembar per lembar

kerabat jauh langit merah telah lengkap. semestinya hanya

satu yang termuda akan terlambat melapor.

/2/

perlahan, begitu berhati-hati dan khidmat

induk-induk angin datang berkabar tentang sepenggal kidung

baru. mengapa ada yang sebegitu lembut dan mulia seperti cara

Bunda berbisik di sisi telingaku

/3/

sebelum tiba saatnya, izinkan kami terlebih dahulu kelola hati

berarak serupa larva iman yang mentah, lapar dan kian bergerak

hingga jarak;

bisa saja segala telaten ditanami menjadi sederet kebun jiwa

yang rapat. di sana akan banyak yang bersahutan mesra

tentang lesung usia yang menyimak secara santun setiap wadah

hingga ketukan,

terdengar jelas, bukan? aku, dia, dan sejatinya tentang setiap tubuh.

tak perlu tungku dipesan untuk memasak setiap nama yang

sulit teringat pada daftar panjang kekeliruan serta kesalahan.

sudi pandanglah ketika ranting yang geram itu bisa saja melubangi

beratus pasang mata kami (menuju lantas menggempur nurani

yang terkadang kerdil).

     tidak!

asalkan kami dieratkan oleh aroma dupa nan syahdu milik-Mu.

milik-Mu

yang kerap memulangkan kembara senja kepada kanak-kanaknya.

/4/

semenit lalu aku baru saja mengambil air suci, membuat

tanda salib, lalu biarkan rindu paling abadi yang kumiliki sejatinya

akan bermuara di dada. memperbarui tiap janji darah dan tulangku.

ya, persis hari itu di antara lebat temaram Kau bersabda agar kami

berbuah banyak.

     Tuhan…

kami sungguh ingin menjadi cinta yang bersahaja di dalam rumah-Mu.

/5/

pada altar suci;

induk-induk angin masih bercerita akan kasih mahasempurna dan

segenap anak-anak-Mu serupa gapura-gapura teguh penuh paru lampu

/6/

tiba saat bagi lilin-lilin mungil untuk segera dipadamkan. berilah waktu

sejenak, kepada baris cahaya untuk segera terkatup,

biar hening ini tercipta untuk-Mu. biar kami berdoa kemudian berjaga-jaga

bersama Engkau.

     “Berjaga-jagalah dan berdoalah,

     supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan:

     roh memang penurut, tetapi daging lemah.”**                       

5-6 April 2012-2022

* Tuguran adalah Ibadat dalam umat Katolik yang dilakukan setelah Misa

Kamis Putih Malam. Memiliki makna penting: umat akan berjaga-jaga

bersama Yesus Kristus dalam doa kepada Bapa-Nya di Taman Getsemani.

Umat berdoa bersama di hadapan Sakramen MahaKudus yang telah dipindahkan

dari Altar Utama. Untuk merenungkan wafat Kristus demi umat manusia,

keesokan harinya pada Jumat Agung.

** Injil Matius 26:41


Jantung Hati

− bagi ‘wajah Silentium’ yang dilukis oleh Adikku, Jefron (Viktorinus Dale Hikon)

#1

Maka merupalah bayanganku,

niscaya kau takkan berkhianat

kepada apa yang terjamah

dan terpangkas oleh

cahaya

sepanjang tubuhku.

#2

Terima kasih.

Telah bersedia menjadi biji mata tersendiri

yang teramat kukasihi. Tatkala aku

memutuskan menutup raga,

sepasang mata

pun hatiku

dari setiap kemungkinan

— duka maupun suka cita.

Juli 2023


Risalah Rambut, 1

tanpa sepengetahuanmu −namun sedalam ingatanku− bibir ini

selalu gagal membujuk pulang setiap jejak senyum masamku

yang tertinggal, dan berserakan pada simpanan cermin kamar

mandi. aku tahu, aku telah menghafalnya: segala peristiwa itu

seperti harus terjadi sewaktu kau berhari-hari menjadi lugu,

dan tak tersentuh oleh gemetar jari-jemari di tanganku. kau

acuh tak acuh, seolah bukan lagi bagian dari diriku yang utuh.

kepada cinta yang terasa sulit mengeratkan wewangi sampo

dengan ujung-ujung halusmu, pagi kembali datang bersama gerak

sendu hari kemarin yang dukanya mudah memecahkan vas bunga.

— vas bunga di sisi kiri hatiku. maka; kini kau yang lebih dulu

berani memutuskan berantakan mendahului segala pikiran,

membilangkan isi gumamanku, mendamparkan bagian-bagian

remeh dirimu yang belum lama tumbuh, di keningku.

September 2013-2020


Risalah Rambut, 2

   (bisikanku bagi ujung rambut yang telah mencapai pinggul)

tumbuh, teruslah tumbuh memanjang. hingga cinta menjadi

sedemikian alpa akan keberpihakan malam ini; entah kepada

ujung penghabisanmu, atau kepada mabuk yang dijanjikan

oleh sentuhan bibirnya. abaikan! sebab tentu kau perlu

durhaka pada sepanjang kisah yang ditentang sebagai batas

kewajaran dan keteraturan dalam kembar cermin muram di

hadapanku ini. 

Mei 2020


Anuptaphile

Ada kalanya cinta berupaya mengetuk pintu hati saya.

Dengan teramat santun, saya meminta kepadanya

Agar sabar menunggu, namun tiada sekali pun saya

Bergerak maju untuk membuka pintu dan menyambutnya.

Saya ngeri menghadapi setiap kemungkinan; bahwa saya

Akan mabuk meski tanpa anggur, hingga alpa membedakan

Warna-warna pelangi.

2019


Aksentuasi

Di belantara puisi,

tiada yang dapat menyesatkan sekaligus

menyelamatkan dirimu

selain

bisamu sendiri.

18 September 2023

(17.05)


Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni budaya dan kearifan lokal. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, menekuni fotografi dan ragam kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya telah tersiar di pelbagai media cetak dan online. Silentium (Teras Budaya Jakarta, 2023) adalah buku kumpulan puisi pertamanya. Beberapa sajaknya tergabung dalam antologi. Pernah menjuarai lomba penulisan puisi dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.

Ragam

Khatam Buku dan Makanan Tak Habis

Lama, aku tidak membeli Kompas edisi Minggu. Pagi tapi terasa “siang”, aku begerak menuju perempatan jalan menuju arah Solo. Minggu, 19 November 2023, perutku sudah berisi nasi liwet saat sarapan bersama di Mushola Al Mubarokah. Sejam berlalu, aku mengikuti jalan-jalan warga kampung. Berjalan sekian menit, aku ikut makan bakso.

Yang terjadi: perutku sudah terisi dua kali. Yang belum: bacaan. Aku ingin “sarapan” koran dengan mengeluarkan duit tak sedikit. Sekarang, koran-koran mahal. Orang boleh memilih: semangkuk mi ayam atau Kompas. Pilihan lain: semangkuk nasi-soto atau Jawa Pos.

Hari itu aku berjanji tidak pelit. Aku harus beli koran. Bapak dan ibu pedagang menata koran-koran mau dibawa pulang. Pukul 8 pagi. Aku memilih koran, membaca beberapa koran. Mereka pernah bilang agar aku sering datang ke situ. Baca koran dan obrolan, tidak harus membeli koran.

Pagi rasa “siang” aku membeli dua Kompas: Sabtu dan Minggu. Masalah desa ada dalam edisi Sabtu. Cerita pendek, film, dan musik dalam edisi Minggu. Dua koran dalam tas bersamaku menuju rumah Sanie B Kuncoro di Fajar Indah.

Sepi. Sepeda motor diparkir, pintu dibuka sendiri. Sanie keluar menyambut dengan senyum. Aku salah waktu. Acara yang diselenggarakan Pawon dimulai pukul 09.30 WIB. Sejam aku datang lebih awal. Tertawa, tanda aku malu. Di situ, terlihat ada Artie. Dugaanku, kedatanganku mengganggu mereka yang sedang menikmati Minggu segera menjadi siang. Benar. Dua perempuan itu belum mandi dan berdandan.

Duduk di kursi: memandangi beragam tanaman diselingi membaca Kompas. Hari itu kenikmatan bersama kertas. Pengalaman yang berbeda ketimbang bergawai.

Aku mengajukan diri untuk mengurusi rumah. Sanie tidak membolehkan. Sanie mendorong kursi-kursi, membersihkan lantai, dan tikar-tikar digelar. Pengarang kondang tidak sedang bermain teater. Ia bertanggung jawab agar rumah tampak bersih dan rapi, yang nantinya menghormati kedatangan teman-teman. Aku membaca koran dan kadang-kadang melihat Sanie yang mengurusi rumah. Lelaki yang tidak punya malu.

Situasi agak berubah. Rampung mandi dan berdandan, Artie ikut duduk di teras. Kami bercakap macam-macam: dari bacaan anak sampai surat. Dua orang terlena nostalgia. Percakapan memang sastra tapi bergerak ke segala arah. Mengenang masa lalu isinya rindu-dendam. Di ujung percakapan pendek, aku usul agar diadakan seri belajar menulis surat mumpung orang-orang keranjingan bergawai.

Teman-teman mulai berdatangan. Perjumpaan dan salaman-salaman diimbuhi basa-basi. Suasana jadi meriah. Rumah itu kebersamaan. Kami duduk di tikar menghadapi sekardus Vit. Di piring dan kardus, mata melihat donat, sosis, serabi, kacang, dan lain-lain. Kami sedang berpesta makanan, sebelum omongan-omongan para pembaca buku.

Jumlah makanan dan buku yang dibicarakan tidak seimbang. Mata lebih mengarah ke makanan ketimbang buku. Namun, perjanjian hari Minggu itu buku. Aku harus menjaga kesadaran agar memikirkan buku, tidak gampang tergoda makanan. Mulutku tetap saja kedatangan serabi, sosis, gembukan, dan kacang. Teman-teman yang berada di situ memang bermufakat buku tapi sengaja berpesta makanan.

Ruangan yang terasa penuh atau sesak. Yudhi Herwibowo mulai memberi pengantar. Pertemuan yang telah direncanakan sejak lama. Terjadilah saat Minggu di rumah Sanie. Temu dan buku.

Buku-buku di atas tikar, di tangan, dan di pangkuan. Yang mengawali ulasan buku: Sanie B Kuncoro. Pengarang itu mengenakan pakaian kotak-kotak dengan warna lembut. Sosok yang anggun sedang menunjukkan novel berjudul Namaku Alam gubahan Leila S Chudori. Ia menerima novel dari pengarangnya. Keistimewaan yang sulit kami alami.

Novel mengandung sejarah, terutama 1965. Sanie mengisahkan isi buku secara runtut. Selingan adalah tafsir dan perbandingan dengan pengalaman. Aku sudah membaca Pulang dan Laut Bercerita. Namaku Alam, belum pernah ada di tanganku. Aku belum membeli atau meminjam untuk membacanya. Jadi, aku menikmati yang disampaikan Sanie. Beruntung kata-kata yang diucapkan tidak terbawa angin. Sanie duduk bersandar kursi sambil tangan menggerakkan kipas. Ia berkata dan mengundang angin agar terhindar dari sumuk.

Giliran berikutnya: Puitri. Ia dalam dandanan santun: muslimah. Sosok yang rajin ikut pengajian-pengajian. Aku menduga ia bakal membicarakan novel religius. Salah. Ia omong cukup tenang dan jelas. Novel berjudul Gemulung di tangan tidak bisa tenang. Jari-jari itu menggerakkan novel mengikuti gejolak kata dan imajinasi. Bagiku, omongan Putiri hari itu lancar, tidak seperti masa lalu. Apa ia sudah menjadi penceramah setelah bertahun-tahun ikut pengajian? Aku beharap ia memang penceramah tapi tak melulu masalah agama.

Novel yang ia baca ditulis oleh pengarang yang terbiasa menggarap cerita untuk film-televisi. Lumrah saja isi novel mendebarkan dan “mengejutkan”. Puitri bisa memberi penilaian mengenai penokohan dan latar. Aku kagum menyaksikan Puitri sebagai pembaca, bukan sekadar sebagai penggubah puisi atau cerita pendek.

Di sampingku, perempuan berpenampilan istimewa. Ia menjadi pengulas ketiga: Yessita. Sejak lama, aku melihat penampilannya mengesankan sadar mode dan bercitarasa muda. Sosok ibu yang suka bersepeda dan menulis cerita itu tampak mengenakan celana panjang dan baju dengan warna selaras. Kalung di leher. Jam tangan itu tetap mengabarkan waktu. Di kepala, topi terlihat dipasang dalam posisi terbalik.

Ia seru menceritakan arwah, sejarah, keluarga, kota, dan lain-lain. Pemicunya adalah novel berjudul Kereta Semar Lembu. Novel yang meraih penghargaan DKJ. Yessita membaca saat masa wabah. Ia sulit menganggap itu novel horor-mengerikan. Yang mengesankan adalah sejarah dan pengalaman kota-kota.

Aku yang di sampingnya merasakan takut. Novel isinya arwah dan kematian. Semestinya, Yessita menceritakan untuk edisi malem Jumat. Ketakutanku agak berkurang bila melihat es teh di depan Yessita. Teman-teman minum Vit tapi Yessita bergengsi: memamerkan es teh. Pemandangan yang menyegarkan.

Urutan selanjutnya: Yudi Agusta. Lelaki berkacamata yang akhir-akhir ini sakit-sakitan. Inginku ia waras-waras saja agar rajin menulis novel dan cerita pendek. Di tangannya, novel bercap DKJ. Setahuku, pengarang novel itu pernah terlibat dalam perdebatan ramai di media sosial, perdebatan tentang tulisan. Yudi tidak menyinggungnya tapi menyampaikan hasil percakapan dengan pengarang mengenai “pinjam-buku” atau “beli-buku”. 

Cerita yang masih penuh kesedihan. Cerita bergerak dari Aceh, Medan, dan Jakarta. Aku merasa “sedih” menikmati sinopsis. Mataku memilih untuk melihat pengulas yang mengenakan kaus warna hitam. Aku membaca kata-kata di kaus sisi depan. Kalimat dikutip dari Rumi: “Wahai Tuhanku, jika kasih-Mu hanya layak bagi yang berhati suci, ke manakah para pendosa mencari perlindungan?” Aku menganggap kutipan sesuai sinopsis novel yang disampaikan Yudi.

Di samping Yudi, ada Ngadiyo. Gilirannya berbagi kesan setelah membaca buku berjudul Mimi Lemon. Buku yang dibeli gara-gara desain atau kemasan apik. Isinya pun apik. Ngadiyo mendapat kesan-kesan bahwa pengarangnya matang dalam menghasilkan cerita-cerita.

Aku belum pernah memegang atau membaca Mimi Lemon. Dulu, yang aku baca berulang kali adalah buku puisi CH. Setahuku, ia adalah penggubah puisi yang perhatiannya tentang anak atau keluarga. Ia ternyata menulis sekian cerita pendek. Pada suatu hari di Jogjakarta, aku pernah bertemu dan bercakap sebentar dengan CH. Yang kami obrolkan adalah sastra dan anak.

Yudhi sebagai pemandu acara akhirnya menjadi pihak yang membicarakan buku. Pilihannya novel berjudul Malam Seribu Jahanam gubahan IP. Yang pernah terbaca olehku Sihir Perempuan. Beberapa tahun lalu, aku membeli Gentayangan tapi belum berhasil khatam. Yudhi mengajak teman-teman masuk ke novel terbaru IP. Bagiku, pengulas terhebat hari itu Yudhi Herwibowo. Ia bermain sinopsis dan penilaian-penilaian.

Omongan bisa disalin menjadi tulisan. Aku tidak tahu, sadarkah Yudhi saat omong menggebu-gebu sebenarnya sedang “menulis” resensi untuk novel. Aku tertarik ingin membacanya. Berharap saja suatu hari menemukan edisi bekas di pasar buku Gladag atau media sosial. Yudhi berhasil membuatku memberi perhatian lebih untuk memuji novel Indonesia.

Jatah terakhir: Indah Darmastuti. Ia duduk di bawah televisi dan kipas angin yang agak berisik. Namun, tangan Indah tetap menggerakkan kipas, yang aku duga diperoleh dari kedatangannya ke hajatan pernikahan. Ia dalam penampilan anggun. Rambut yang rapi itu tampak elok saat terkena angin yang lembut.

Di tangannya, aku melihat novel Jatisaba. Aku membaca edisi awalnya, sebelum hadir di pasar oleh penerbit Grasindo. Dulu, aku sempat  menyinggung novel itu saat acara di Salatiga. Acara diadakan para mahasiswa Semarang. Yang menjadi pembicara: aku dan pengarang Jatisaba. Dulu, kami bercakap biasa. Pada suatu masa, aku tidak menduga si pengarang kuliah di negara jauh dan pemikiran-pemikirannya bergerak jauh. Aku pasti mengaguminya.

Indah tak mau kalah dari Yudhi. Ia serius membicarakan novel. Yang tidak terlupa: omongannya menghasilkan tawa. Teman-teman terhibur oleh masalah keamburadulan demokrasi di desa. Novel terbit beberapa tahun lalu tapi dianggap Indah cocok dibicarakan menjelang 2024. Novel yang patut masuk daftar 100 “terpenting” dalam sastra Indonesia abad XXI.

Tujuh buku dibahas tujuh pembaca itu berakhir. Aneh, semuanya berakhir tanpa diikuti habisnya makanan-makanan di piring dan kardus. Padahal, ada 19 orang di ruangan, termasuk lelaki asal Australia. Teman-teman terlena cerita-cerita. Akibatnya, mereka lupa makan atau berkurang gairahnya untuk makan. Teman-teman sungguh kaum beriman sastra ketimbang kaum beriman makanan. [] Kabut

Ragam

Jawa, Omongan, Keringat

Dini hari tanpa kopi. Hari telah Jumat, 10 November 2023. Mataku menatap lagi tumpukan buku yang bertema Jawa. Buku-buku yang semalam bersamaku, sebelum mata terpejam. Mereka dalam hening, sebelum tanganku menyentuh dan membukanya pelan-pelan. Yang membaca (lagi) tak minum kopi.

Kompor menganggur tanpa panci dan air. Aku gagal membuat kopi. Di lemari, tak menemukan bungkus kopi. Habis. Lupa membeli untuk kebahagiaan dini hari. Segelas air bening dianggap cukup untuk menuju “mata air” Jawa dalam buku-buku.

Pagi itu aku meninggalkan rumah, setelah berhasil membuat pameran jemuran pakaian. Mampir ke rumah tetangga: setor 12 ribu untuk bensin. Tujuanku adalah UNS. Di sana, ada Javanologi. Aku bersama sekardus buku, kresek berisi buku, dan tas besar berisi buku bergerak menuju UNS saat matahari memberi berlimpah sinar dan sumuk.

Di pendopo Javanologi, beberapa orang dalam penampilkan rapi. Meja bundar dan kursi-kursi. Aku bersalaman dengan orang-orang yang aku kenali. Mereka dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Pukul 8 pagi tapi masih sepi. Beberapa orang terus melanjutkan persiapan acara. Berdiri di dekat tiang, aku memandangi pendopo dengan suasana tak Jawa. Segala benda yang berada di pendopo sulit mengisahkan Jawa. Mataku mungkin salah. Pikiranku tentu sedang tak keruan. Pagi itu aku tetap belum minum kopi tapi malah terlibat percakapan-percakapan dengan beberapa orang.

Urusanku adalah menata buku-buku di atas meja. Kedatanganku mula-mula sebagai pedagang buku bekas. Puluhan buku ditaruh di meja. Aku mulai bercakap dengan dua orang mengenai buku, bahasa, sastra, tokoh, sejarah, dan lain-lain. Menit-menit berlalu, tetap belum berhasil minum kopi.

Aku diminta panitia berkumpul di ruangan bersama para pembicara dan moderator. Dugaanku diajak sarapan. Di ruangan kecil, kami disuguhi kardus-kardus. Isi: arem-arem dan botol. Mulutku seperti tak membolehkan arem-arem diam dalam waktu lama. Habislah arem-arem dalam hitungan detik. Minum air bening lagi. Ruangan tanpa kopi.

Dampak mulai terasakan. Omonganku sembarangan di hadapan profesor (Jogjakarta) dan pimpinan lembaga (Semarang). Kami lekas memasuki obrolan mengenai arem-arem, khotbah Jumat, humor, lingusitik, dan lain-lain. Ruangan itu tak cukup menampung ocehan dan tawa. Di hitungan menit, kami segera keluar untuk mulai acara dinamakan seminar.

Akhirnya, aku melihat termos di pendopo. Benarlah termos itu bertuliskan kopi. Gelas lekas terisi kopi. Duduk minum kopi. Acara seminar pun dimulai dengan urutan-urutan lazim. Para peserta sudah tampak duduk tenang dan memberi perhatian. Aku tetap memperhatikan kopi sambil memandangi buku pemberian panitia. Di sampul buku, aku membaca nama: Indah Darmastuti. Buku berjudul Tani Cilik, terbitan pemerintah. Akibatnya, buku tidak diperdagangkan. Buktinya di bagian atas: “Milik Negara”. Segelas kopi dan buku mengenai petani.

Duduk bersama peserta. Posisi kursiku tidak memungkinkan mataku melihat dua profesor dan moderator secara lurus. Meja bundar membuatku salah tingkah. Jadi, posisiku “menyamping”. Kepala harus menengok jika ingin berhadapan dua profesor (Solo dan Jogjakarta), yang bergantian menjelaskan naskah-naskah Jawa.

Hari menjelang siang, aku salah kursi dan bingung memperlakukan meja bundar. Panas mulai terasa. Aku mulai pindah ke belakang. Keputusanku adalah duduk dengan meja yang berisi daganganku. Aku sengaja membawa buku-buku mengenai Jawa. Beberapa buku adalah serat dan babad.

Di situ, aku bercakap dengan lelaki gemuk. Percakapan meninggalkan tema seminar. Yang kami obrolkan adalah sastra dalam jalinan Indonesia dan Amerika. Yang terpenting mengenai penerjemahan. Aku omong sembarangan berbekal bacaan-bacaanku. Hari itu bertambah sumuk gara-gara sering omong dan tertawa. Aku diambilkan segelas kopi. Minum lagi dan memandangi dua profesor memberi jawaban-jawaban tetap berpusat Jawa.

Jeda. Kami bergerak ke masjid di UNS untuk melaksanakan sholat Jumat. Duduk di lantai tanpa dilapisi tikar atau karpet, aku tidur. Mata terpejam saat khotbah. Seingatku, khotbah bukan mengenai Jawa. Masjid yang besar membuatku menjadi lelaki dalam kerumunan orang, lelaki yang sulit membuka mata dan mendengarkan khotbah secara serius. Kalah dengan tidur.

Kembali ke pendopo. Aku mengambil kardus. Konon, kardus itu mengesahkan makan siang. Aku membuka tergesa tapi meragu. Di meja bundar bersama teman-teman, aku memilih omong ketimbang serius dengan makan. Di kardus, ada nasi, sambal, telur, daging ayam, dan lain-lain. Aku sulit menikmatinya. Inginku malah nasi bungkus saja, bukan nasi dalam kardus. Hari itu aku menantikan pidato William Wongso di TIM, Jakarta. Ia bakal mengisahkan dan menjelaskan nasi bungkus. Pada saat makan kehilangan selera, aku mengajak teman-teman dalam obrolan mengenai Jawa. Obrolan singkat saja. Makananku tidak habis. Siang yang membuatku bertambah salah.

Duduk di depan, menghadapi para peserta. Di atas meja, aku menumpuk puluhan buku. Aku bersama moderator dan pembicara berambut gondrong bernama Rendra. Aku dan Rendra tidak bergelar profesor. Jadi, kami boleh omong tidak mutu.

Aku berdiri memegang mikrofon. Siang yang sumuk tapi aku memilih berdiri dan bergerak ketimbang duduk. Omonganku dilengkapi dengan tangan bergantian memegang buku agar tampak oleh para peserta. Petikan novel menjadi pembuka. Novel sudah aku baca tiga kali, terkutip dalam esai-esaiku. Novel itu mengenai Jawa dan Eropa. Aku pilih menjadi pembuka untuk mengetahui nasib naskah-naskah Jawa dalam pamrih kolonialisme dan “pembentukan” Jawa abad XIX dan XX.

Omonganku terus berantakan untuk membuka Jawa silam. Yang aku tampilkan adalah perempuan suka duduk lesehan. Perempuan berasal dari Amerika Serikat betah berada di Radya Pustaka, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran. Bertahun-tahun, ia mengurusi naskah-naskah. Risikonya, ia mudah bersin dan batuk. Paru-paru pun kotor. Namun, ia menghasilkan tulisan-tulisan ampuh.

Aku pun memamerkan katalog dan buku-buku berasal dari studi naskah. Buku-buku terbitan pemerintah yang diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan. Selama puluhan tahun, buku-buku berasal dari kajian naskah-naskah itu diam dan sepi tanpa peminjam atau pembaca. Aku memperolehnya dari pasar buku bekas. Wajarlah bila naskah-naskah Jawa terbukti tak diminati orang-orang. Urusan yang rumit dan penuh teka teki. Aku menutup ocehan tak bermutu dengan mengutip dari novel gubahan pengarang Jepang. Novel mengenai toko buku bekas dan keimanan pembaca buku.

Di depan, aku merasa sumuk. Tisu-tisu aku gunakan untuk mengelap keringat. Seminar di pendopo tapi sumuk. Siang yang garang. Semula, aku senang mengetahui seminar diselenggarakan di pendopo terbuka, bukan di ruangan tertutup dengan pancaran lampu dan mesin pendingin udara. Sumuk justru diperoleh dan pemandangan yang tak akrab dengan kejawaan. Moderator di samping malam sempat berbisik: mengantuk. Dugaanku, ia mengantuk gara-gara ocehan dan bau keringatku.

Rendra berdiri sambil menunjuk layar. Omongan yang seru. Ia berbagi pengalaman naik gunung. Keputusan ratusan kali naik gunung bermisi bertemu naskah-naskah Jawa. Rendra mengetahui bahwa naskah-naskah Jawa tak selalu berada di museum atau keraton. Pencarian dan penemuan naskah-naskah di gunung-gunung itu ketakjuban.

Aku menikmati omongan yang menggairahkan. Raga, pikiran, dan imajinasi Rendra selalu bergerak tanpa lelah. Di ketinggian, ia berurusan naskah-naskah Jawa dari masa silam. Ia mengerti beragam hal. Aku menunduk malu. Seumur hidupku belum pernah naik gunung.

Siang itu ramai omongan. Para peserta bisa tertawa dan tepuk tangan. Mereka terhindar dari godaan tidur, melamun, dan bisik-bisik. Rendra tampil memberi “matahari” yang terang bagi orang-orang memasuki naskah-naskah Jawa.

Siang itu aku tidak minum kopi. Aku menghabiskan dua botol berisi air mineral. Siang perlahan menjadi sore. Di kejauhan, terdengar azan. Seminar segera diakhiri saat kaos basah dan wajah berkeringat.

Sore itu pulang. Hasrat terbesarku: mampir ke warung mi ayam. Aku ingin makan yang panas dan pedas. Di Colomadu, sepeda motor diparkir di pinggir jalan dan tubuhku diparkir di depan meja. Semangkuk mi ayam membuat keringat mengalir deras. Warung tanpa kipas angin. Segelas es jeruk lekas habis. Dua bungkus rambak mengurangi mulut yang kepedasan. Sore itu mi ayam, bukan masalah-masalah Jawa yang adiluhung atau picisan.[] Kabut

Cerpen

Kematian Tak Sempurna

Cerpen M Arif Budiman

Pada mulanya Pras belum menyadari bahwa ia telah berada di alam keabadian. Ia baru benar-benar memahami setelah sebuah ambulans datang. Empat petugas medis berpakaian hazmat turun dari ambulans, memasukkan tubuh Pras ke dalam kantung mayat, lantas membawanya pergi. Ambulans pun meraung-raung membelah jalanan kota.

Aneh, begitulah yang ada dalam pikiran Pras ketika menatap orang-orang berpakaian layaknya astronaut itu di dalam ambulans. Mereka memperlakukan tubuhnya selayaknya orang-orang yang terkena wabah menular. Padahal masih ingat betul bahwa ia hanyalah seorang pengidap penyakit narkolepsi akut. Bahkan ia masih ingat kapan terakhir kali berkomunikasi secara sadar dengan Maya dan dokter saraf, sebelum dokter saraf menyuntikkan obat bius ke dalam tubuhnya.

Sesampainya di rumah sakit, petugas medis segera membawa tubuh Pras ke kamar mayat. Setelah mendapat arahan dari penjaga kamar mayat, tubuh Pras langsung dimasukkan ke dalam salah satu lemari pendingin. Pras hanya terdiam ketika melihat tubuhnya perlahan membeku. Kini ia sepenuhnya menyadari bahwa tak mungkin kembali ke dalam tubuhnya. Ia telah sepenuhnya menjadi arwah. Arwah tanpa wadah.       

Pras benar-benar terpukul dengan nasibnya. Ia tak pernah menyangka bahwa akan mati dengan cara yang sedikit aneh dan kurang masuk akal. Padahal semasa hidup ia merasa tak pernah merugikan orang lain. Adapun permasalahannya dengan Maya hanyalah persoalan biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil, silang pendapat, beradu argumen yang tak lain merupakan bumbu-bumbu dalam rumah tangga.

Ketidaktahuan Pras akan penyebab kematiannya mendorongnya untuk terus mencari tahu. Ia terus mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya, termasuk Sarkum, si penjaga kamar mayat.

Pada mulanya Sarkum tak merespon setiap perkataan Pras. Butuh berjam-jam hingga Sarkum menyadari akan kehadirannya setelah Pras menjatuhkan sebuah gunting bedah ke lantai.

“Selamat datang,” ujar Sarkum, santai. Seolah apa yang Pras lakukan tak membuat Sarkum tersita perhatiannya. Ia tetap bergeming menonton acara televisi kesukaannya.

Melihat respon Sarkum, Pras tak lantas putus asa. Ia mencoba mencuri perhatian lelaki paruh baya itu dengan menggeser sebuah kursi.

“Kamu pikir aku takut? Kalau mau ikut nonton, nonton saja. Tak perlu berisik,” ujar Sarkum, acuh.

Pras merasa dirinya tak dihargai oleh Sarkum. Ia pun mencoba menjatuhkan benda lain yang menurutnya akan menyita perhatian si penjaga kamar mayat.

“Sontoloyo!” dengus Sarkum, beranjak dari tempat duduknya sembari berkacak pinggang setelah melihat gelas kopinya jatuh berderai. “Dari sekian banyak tamu yang mampir ke kamar ini, kamu yang paling kurang ajar! Kamu pasti Pras kan? Aku tahu itu sebab hanya kamu tamuku malam ini.”

Melihat tingkah Sarkum, Pras pun tersenyum. Meski demikian ia sangat beruntung karena apa yang dilakukannya mendapat respon.

“Kamu boleh bahagia malam ini dengan mengacak-acak ruanganku. Tapi besok pagi, setelah kamu kumandikan dan kumasukkan ke dalam peti mati, kamu tak akan berbuat banyak. Dengan catatan itu semua atas perintah Dokter S. Namun jika ia menghendaki kamu dibuang begitu saja seperti tempo hari, apa boleh buat. Kamu tak perlu protes!”

Pras terdiam mendengar perkataan Sarkum. Ia bertanya-tanya siapakah sebenarnya Dokter S yang disebut-sebut Sarkum. Apa hubungannya dengan kematiannya. Apakah Dokter S merupakan nama lain dari Dokter Saraf?    

Pras pun kembali memutar otak bagaimana caranya agar ia dapat berkomunikasi langsung dengan Sarkum layaknya manusia pada umumnya. Namun sepertinya Tuhan tak merestui usaha Pras untuk berkomunikasi secara langsung dengan Sarkum. Ia hanya bisa menyentuh benda-benda di sekitarnya.

***

Hari menjelang siang ketika Sarkum dan Markum, seorang penjaga kamar mayat lainnya mengeluarkan tubuh Pras dari dalam lemari pendingin. Tubuh Pras benar-benar telah membeku. Uap es perlahan menguar dari tubuhnya. Dengan penuh kesabaran, Sarkum membawa tubuh Pras menuju meja pemandian.

“Untung badanmu ringan. Jadi aku tak perlu repot-repot minta bantuan banyak orang.”

Sesampainya di meja pemandian, Sarkum dengan penuh kehati-hatian memindahkan tubuh Pras.

“Asal kamu tahu. Meski tamu-tamu yang aku hadapi sudah tak bernyawa lagi, tapi pantang bagiku untuk berlaku kasar. Aku tahu, sebelum para jasad dikuburkan, maka pemiliknya masih menunggui. Termasuk kamu.”

Setelah tubuh Pras berada di meja pemandian, Sarkum dan Markum mulai memandikan tubuh Pras. Dengan perlahan ia menyirami tubuh Pras, lalu mengeramasi rambut Pras dengan sampo juga menyabuni seluruh tubuhnya.

Melihat perlakuan Sarkum, Pras merasa sungkan. Seumur-umur, setelah dewasa, baru kali ini ada yang memandikannya.

“Kamu cukup beruntung karena Dokter S tak jadi membuangmu lagi. Kamu tahu kenapa?”

Pras yang semula berdiri dikejauhan, segera mendekati Sarkum.

“Itu semua karena permintaan istrimu. Aku dengar istrimu yang meminta agar kamu disuntik mati. Kamu tahu kenapa? Sebab kamu tukang selingkuh.”

Mendengar perkataan Sarkum, Pras pun terkesiap. Meski ia kerap berlaku kasar pada Maya, tapi Maya tak mungkin berlaku sekejam itu.

“Ah, tapi itu tadi kabar burung. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Mmm… Tapi tunggu dulu.” Tiba-tiba Sarkum memegang-megang kemaluan Pras. “Astaga… Bagaimana mana mungkin istrimu setega itu? Lihat saja, rudalmu ini tak ada tanda-tanda bahwa kamu tukang selingkuh. Ukurannya saja tak lebih besar dari jempolku!”

Seketika Sarkum dan Markum terkekeh. Sementara mendengar ejekan Sarkum, Pras pun tersinggung. Lalu menghempaskan gayung ke lantai.

“Wah, maaf. Aku tak bermaksud mengejekmu. Percayalah, aku hanya bercanda. Tapi untuk perihal kematianmu, kamu boleh cari sendiri penyebabnya. Kamu bisa temui Dokter S, atau bahkan istrimu sendiri.”

***

Setelah dimandikan, Sarkum pun mendandani Pras sesuai permintaan Dokter S dan tentu saja Dokter S sesuai permintaan Maya.

“Sesuai permintaan Dokter S. Kau tak perlu kupanggilkan tukang rias. Cukup aku saja. Aku juga cukup lihai mendandanimu. Lagipula, kau tak perlu memakai gincu, bukan?”

Pras cukup gusar mendengar pernyataan Markum. Kali ini Pras tak menjatuhkan apapun untuk membuktikan ketidaksukaanya.

“Ssstt… kau tak perlu berlebihan, Pras. Biasa sajalah. Toh aku hanya bercanda,” tukas Markum. Lalu melanjutkan mendandani Pras.

“Wah, kamu gagah juga ternyata setelah memakai setelan jas. Aku dengar jas ini merupakan jas pernikahanmu dulu ya?”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras melihat tingkah polah Sarkum.

“O iya, aku dengar istrimu tak menghendaki kamu dibungkus dengan kain mori. Ia takut kamu akan berubah jadi setan lemper atau arem-arem. Ia juga tak menghendaki kamu di kremasi. Selain baumu nanti seperti satai bakar, ia juga takut abu dari sisa-sisa tubuhmu akan tercecer kemana-mana dan bikin batuk orang lain. Makanya, ia lebih memilih kamu didandani seperti ini. Selain lebih manusiawi, kamu biar terlihat ganteng di hadapan Tuhan. Tapi itu kata istrimu, bukan kataku.”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras lagi.

“Nah, sekarang kamu sudah rapi, sudah wangi. Tinggal dimasukkan ke dalam peti. Tapi sepertinya aku tak bisa sendiri. Aku mesti cari bantuan orang lain. Tunggu sebentar, aku panggilakan Markum dan sopir ambulan.”  

Sarkum meninggalkan tubuh Pras di meja pembaringan.  Sebentar kemudian ia Kembali lagi bersama Markum dan seorang sopir ambulan. Mereka pun segera memasukkan Pras ke dalam peti mati.

“Nah, purna sudah tugasku sekarang. Kau terlihat gagah di dalam sini. Berbaringlah dengan tenang. Sebentar lagi seseorang akan menjemputmu.”

***

Matahari baru sepenggalah ketika ambulans memasuki kawasan pemakaman elit Budi Pekerti. Enam pria berbadan tegap bergegas menghampiri ambulan untuk menurunkan peti mati.

“Hati-hati. Tak perlu terburu-buru,” ujar pria berkaca mata gelap. “Pastikan bagian kepala di depan,” tegasnya.

Keenam pria berbadan tegap meletakkan peti mati di atas stan penyangga di samping liang lahat.

“Kalian boleh menyingkir.”

Enam pria berbadan tegap mengangguk.

Tak lama berselang, sebuah BMW berwarna hitam datang. Pras yang sedari tadi terus memandang peti jenazahnya, kini mengalihkan pandangannya ke sepasang pria dan wanita yang baru saja datang.

“Mari kita berdoa bersama. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Tuan Pras,” ajak pria berkacamata gelap.

Setelah doa bersama selesai, enam pria berbadan tegap menurunkan peti mati ke liang lahat dan menimbunnya dengan tanah. Sementara Pras tampak terpaku menatap satu-satunya wanita yang ada dipemakamannya. Ia tak menyangka bahwa kematiannya tak sepenuhnya sempurna, sebab Maya bersama dokter saraf menghadiri pemakamannya.

Ngablak, Juli 2023


M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.