
Kamis, nama hari yang kadang bermakna religius. Aku jarang membuat pengertian bermula nama-nama hari. Pengetahuanku belum mendalam untuk mengartikan manusia dan waktu.
Pada, 26 Oktober 2023, aku digoda mengartikan Kamis adalah buku. Di rumah, aku masih bersama ribuan buku berdebu. Keseharian yang berulang, tidak memunculkan makna-makan mengejutkan. Aku yang memegang dan membuka buku-buku, menggunakannya untuk menulis esai atau iseng memanen kutipan. Beberapa buku dipotret untuk dipamerkan di media sosial: dagangan.
Beberapa hari lalu, hujan deras dan angin. Atap rumah berantakan. Air hujan mudah masuk “memandikan” buku-buku. Aku dengan kengawuran naik ke atas seperti mendekati matahari. Yang terjadi adalah tubuh terkena panas dan berkeringat. Di ketinggian, tubuh cepat basah dan gemetaran. Ilmu (tukang) rumah tidak termiliki, berakibat gagal membereskan atap yang berantakan. Aku cuma sedikit merapikan agar tidak terbuka lebar untuk air hujan. Yang terpikirkan: nasib buku-buku bila mendapat berkah hujan.
Siang itu mendapat kabar dari teman. Ia tinggal di Jogjakarta, berpredikat pedagang buku. Kabar datang bahwa ia mungkin mau sedikit merepotkan. Rencana ia mau dolan dan menginap di rumahku saat malam. Aku mendapat penjelasan jika siang ia berdagang buku di Solo. Kaget. Orang dari Jogjakarta “berani” berjualan buku di Solo.
Poster dikirim ke gawaiku. Aku membaca tanpa gairah: “Hari Besar Perpustakaan 2023”. Acara diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta. Telat mengetahui pengumuman acara yang seharusnya mengenai buku. Acara diselenggarakan Kamis-Jumat, 26-27 Oktober 2023. Yang ditawarkan: (1) pasar dan pameran buku, (2) panggung kreasi seni. Di poster, aku membaca diksi buku.
Gambar di poster adalah buku-buku tebal beragam warna. Yang terlihat bukan foto buku. Gambar buku dan bola dunia mungkin diperoleh di internet. Aku yang kelelahan dan gemetaran setelah turun dari ata rumah merasa berkepentingan bertemu teman-teman. Siang yang terang itu memberi alasan terpanas menuju Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta.
Kaget. Parkiran ramai berada di jalan kecil di sebelah kantor. Sepeda motorku parkir di situ, memberi 2 ribu kepada seseorang tidak sah sebagai tukang parkir. Ia tidak mengenakan seragam, tidak memberikan karcis. Aku berikan saja 2 ribu demi membuktikan acara disangka melulu buku.
Salah. Tempat itu ramai oleh ratusan murid SD, para ibu, dan guru. Mereka mondar-mandir. Ibu-ibu duduk atau berkerumun berbagi cerita. Di tangan mereka, gelas es teh dan makanan. Mereka yang memilih terlindung dari sinar matahari tapi tetap saja sumuk.
Aku melihat di halaman depan yang panas. Tenda-tenda untuk penjualan buku. Yang tampak adalah dagangan dari dua toko buku di Solo. Mereka pindah tempat sejenak, berharap mendapat pembeli. Ada pula meja-meja di atasnya banyak buku yang ditunggu oleh Patjarmerah. Ada dagangan buku-buku bekas. Pastilah itu dagangan teman dari Jogjakarta. Aku duduk di situ: panas dan sepi. Orang-orang tidak mampir: menonton buku atau membeli buku. Yang berdagang buku jauh dari kerumunan murid dan ibu.
Dagangan yang ditata rapi itu kesepian. Dagangan tanpa tatapan mata dan sentuhan tangan para “pengunjung” dalam acara Hari Besar Perpustakaan 2023. Dugaanku, ratusan murid datang dalam kepentingan penugasan dari sekolah. Pihak sekolah-sekolah mungkin dapat undangan untuk berkunjung ke perpustakaan. Siasat mencipta keramaian dan “kesuksesan” bagi dinas pemerintah dan sekolah.
Kesadaran yang terlambat. Hal terpenting adalah “kunjungan”. Di poster, aku membaca keterangan bagian bawah: “Kunjungan perpustakaan daerah Kota Surakarta”. Ratusan murid dan ibu adalah “pengunjung”. Mereka sewajarnya mengisi buku tamu atau buku kunjungan. Hitunganku: dua hari bakal ada ratusan pengunjung. Perpustakaan terbukti dikunjungi banyak orang.
Pada saat berkeliling sebentar, aku melihat panggung dan gelaran karpet. Panitia menamakan “panggung kreasi seni”, tidak harus ada hubungannya dengan buku. Ingat, perpustakaan tidak hanya buku. Di lantai atas, murid-murid malah bisa menonton film. Pengertianku kolot bahwa perpustakaan itu buku gara-gara ada “pustaka”. Aku wajib meralatnya.
Di bawah tenda dan suasana yang gerah, aku dan dua teman dari Jogjakarta membuat obrolan enteng. Obrolan bertema buku. Kami memesan es teh dan es jeruk. Menit-menit berlalu, kami tidak betah berada di tenda. Aku bergerak masuk ke perpustakaan. Teman-teman memilih berada di teras.
Murid-murid itu mondar-mandir. Mereka tampak ceria. Beberapa murid membawa buku tulis dan bolpoin. Telingaku mendengar mereka sedang direpotkan membuat tugas dari sekolah berupa laporan kunjungan. Mereka datang dengan tugas, bukan keinginan yang tulus atau berusaha menikmati perpustakaan. Aku pun berkunjung dengan pamrih.
Masuk ke perpustakaan, berharap tidak kepanasan lagi. Dingin perlahan terasa. Di ruang koleksi buku, murid-murid berlarian. Ada yang main petak umpet. Ruangan yang mirip pasar. Ruangan itu menampilkan buku-buku yang tenang dan kesepian. Namun, murid-murid lebih berkuasa di ruangan. Para pegawai tampak kebingungan. Yang pasti mereka “berprestasi” gara-gara jumlah pengunjung terhitung banyak. Aku tidak mengisi buku kunjungan, lekas bergerak ke rak-rak.
Dulu, aku mengunjungi perpustakaan milik pemerintah itu saat masih berada di Jebres dan Kepatihan. Aku membaca koran dan buku-buku lama. Sepuluhan tahun berlalu, aku masuk ke perpustakaan di gedung yang kokoh dan alamatnya dekat Stasiun Balapan (Solo). Mataku masih melihat koleksi buku-buku dari yang pernah terlihat saat di Jebres dan Kepatihan. Koleksi baru tidak banyak. Di ruangan yang ramai, aku ingat masa lalu dan sedih. Aku merasa tidak bergairah untuk masuk lagi ke perpustakaan milik pemerintah. Tatanan rak dan koleksi buku hanya lirih memanggilku. Yang terpenting, di ruangan itu tidak kepanasan atau keringatan.
Aku kembali ke halaman. Pamit ke teman-teman. Sore, jatahku menjemput anak-anak pulang sekolah. Teman-teman tampak sedih. Kamis tidak berarti orang-orang keranjingan buku dengan membeli buku-buku: lama dan baru. Acara itu justru terlihat persekutuan perpustakaan dan sekolah. Teman-teman berjanji mau dolan ke rumah. Mereka mungkin tidak betah di (halaman) perpustakaan yang mengabarkan “hari besar” tapi tidak menghasilkan nafkah.
Malam, dua teman dari Jogjakarta sampai di rumahku. Tiga teman lain yang tinggal di Solo juga berada di rumahku. Kami dalam obrolan seru bertema perbukuan. Obrolan mengandung tawa, ejekan, dan bualan. Di depan kami, seporong teh hangat ditemani martabak dan rokok. Mereka menikmati obrolan bersama ribuan buku berdebu yang berserakan. [] Kabut
