Ragam

PEMBACA DAN KOTA

Malam penderitaan telah berlalu. Malam penuh siksa gara-gara sakit gigi. Kamis, 19 Oktober 2023, datang dengan terang yang sulit ditandingi lampu yang bermerek terkenal menjanjikan “terus terang” dan “terang terus”. Pagi yang siang. Selanjutnya, siang makin tambah siang.

Aku meninggalkan rumah, berpesta panas di jalan. Alamat tujuan adalah toko buku terkenal di Solo. Iseng mau sembunyi dari matahari. Masuk dengan pamrih ikut membaca koran dan majalah. Sejak lama, aku biasa berbekal 2 ribu atau 3 ribu untuk mendekam di toko buku selama 1 jam atau lebih. Di situ, aku adalah pembaca yang tergesa dan pemotret halaman-halaman kertas yang memamerkan huruf-huruf.

Di bawah sinar lampu, aku membaca Kompas. Di luar, orang-orang menikmati sinar matahari tanpa menjadi pembaca koran. Aku membaca Kompas terbitan Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Berdiri membuka halaman-halaman koran yang harganya 9 ribu. Jadilah pembaca cepat!

Aku memberi perhatian yang lama untuk Kompas, Senin, 16 Oktober 2023. Judul berita di halaman depan: “Terjajah Pangan di Kepulauan”. Berita itu bersanding dengan foto Ducati Lenovo di Mandalika, NTB. Aku belum tergoda memikirkan balapan di jalan beraspal. Pikiranku justru ingin balapan membaca berita, segera melupakan atau membuat catatan kecil.

Di toko buku, aku jarang membeli koran, majalah, atau buku baru. Peranku cuma menjadi pembaca. Siang itu aku mewajibkan diri membeli Kompas berisi tulisan-tulisan bertema pangan. Duit untuk beli bensin digunakan untuk Kompas. Pada hari Kamis, aku membeli koran edisi Senin, edisi yang sudah basi. Bensin (12 ribu) membuatku bisa bergerak di jalan beraspal dan pesta panas. Koran (9 ribu) membuatku malu berjalan di muka Bumi makin rusak dan mengalami krisis pangan.

Sore, teman-teman datang ke rumah. Obrolan sejenak mengenai pendidikan, guru, dan bacaan. Sore yang tergesa. Aku masih mengurusi pekerjaan-pekerjaan di belakang tapi harus menghormati teman-teman menginginkan obrolan. Aku tidak bisa menyuguhkan teh hangat. Padahal, teman membawakan pisang goreng. Yang terpenting obrolan singkat.

Aku sempat mengutip hal-hal dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda. Novel yang mengisahkan lelaki muda emoh menjadi priyayi seperti dikehendaki orangtua. Ia memilih bekerja di pabrik. Episode mendapat pengetahuan dan keberanian menentukan nasib dipengaruhi bacaan. Darba, tokoh dalam novel, memiliki gairah membaca beragam surat kabar terbit dan beredar di Solo dalam masa pergantian: akhir abad XIX dan awal abad XX. Ia membaca surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa, sebelum menambahi kemampuan dalam bahasa Belanda.

Di hadapan teman-teman, aku sebenarnya ingin menguatkan masalah pendidikan dan keaksaraan bergerak di Solo masa lalu. Mangkunegaran menjadi tempat penting. Jaswidagda bekerja sebagai pengajar di Mangkunegaran. Ia malah pernah menulis buku berjudul Bocah Mangkunegaran. Aku juga mengabarkan ke teman-teman tentang kesusastraan dan Mangkunegaran. Nama wajib diobrolkan bila mengadakan acara di Mangkunegaran: Partini atau Arti Purbani. Ia adalah pengarang cerita-cerita. Beberapa orang mengenalinya sebagai istri Hossein Djajadiningrat.

Senja, mereka pamit. Aku kembali ke urusan rumah dan mushola di desa. Malam tiba, teman-teman yang lain datang ke rumah. Aku masih sempat mengutip hal-hal dalam novel gubahan Jasawidagda. Novel yang aku baca berulang, masih sering aku jadikan referensi dalam menulis esai-esai.

Hari yang dijanjikan tiba, Jumat, 20 Oktober 2023. Aku dan dua teman naik bis, bergerak dari Terminal Tirtonadi (Solo) menuju Balai Bahasa Jawa Tengah beralamat di Ungaran. Bus yang malas. Pagi itu aku menduga bakal terlambat sampai Ungaran. Di Salatiga, bus tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kami diminta ganti bus. Telat. Telat. Telat.

Di ruang diskusi (Balai Bahasa Jateng), 30-an orang sudah hadir untuk ikut dalam diskusi novel Kirti Njunjung Drajat, menjelang peringatan 100 tahun. Aku masih berada di jalan. Bus sudah kehilangan takdir kecepatan. Kami naik bus sekalian ingin mengenang kepergian Darba, tokoh buatan Jasawidagda, menentukan nasib dengan bekerja. Di Solo, ia sudah magang di Kepatihan sebagai juru tulis, berkemungkinan menjadi priyayi. Ia malah meninggalkan Solo, bekerja di Semarang. Bekerja di pabrik dan menambahi pengetahuan-pengetahuan modern. Perjalanan ingatan dalam novel tidak seperti kenyataan saat harus naik dua bisa tetap terlambat dalam diskusi.

Perut lapar, menahan kencing, dan berkeringat. Aku lekas duduk untuk mengikuti diskusi. Segelas air bening sudah masuk perut. Di kertas lambaran, aku menaruh suguhan yang diberikan panitia: jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Inginku segera menyantapnya. Gagal. Segelas jahe sudah aku taruh di atas meja. Dipandangi dulu setelah mengikuti petunjuk pembawa acara: berdiri untuk bersenandung Indonesia Raya.

Di atas meja, pangan khas desa. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisan di Kompas. Para wartawan menulis tentang pangan terutama di Indonesia timur. Pangan tradisional dihajar nasi dan mi instan. Pagi itu aku sarapan pisang, jagung, dan kacang. Nasi belum masuk perut.

Di novel Kirti Njunjung Drajat, Jasawidagda mengisahkan surat kabar dan pangan: abad XIX dan XX. Aku memilih membahas masalah surat kabar. Semula, Darba berperan sebagai pembaca surat kabar. Ia selanjutnya berani menjadi pembuat tulisan dimuat di surat kabar.

Yang ditulis dalam novel: “Anggenipun Darba maos serat kabar punika dados senengan ageng. Ing saben dinten prasasat boten kendhat pamaosanipun ing serat kabar…” Aku dulu pernah seperti Darba. Kini, aku sulit menjadi pembaca koran setiap hari. Harga-harga koran membuatku tidak sanggup memutuskan menjadi pembaca. Harga koran kadang mengejek bila mengingat (harga) beras dan sayur. Istri dan tiga anak mungkin membuat pemberontakan jika aku rakus “makan” koran. Pada masa lalu, Darba membaca Jawi Kandha, Slompret Melajoe, Bramartani, Medan Prijaji, dan lain-lain.

Jaswidagda mengunggulkan pemuda yang rajin membaca koran untuk mengerti zaman “kemadjoean” dan sanggup bersikap dalam “zaman bergerak” di Solo. Di depanku, 30-an mahasiswa dari pelbagai kampus bukanlah pembaca koran. Mereka malah tidak memiliki pengalaman membeli dan memegang koran. Hidup mereka baik-baik saja. Studi mereka tidak bermasalah. Aku salah omong mengenai pembaca surat kabar di depan kaum muda bergawai, tidak hidup dalam kegandrungan bacaan bekertas. Maka, aku menunduk dan malu. Tertawa menebus kecewa.

Surat kabar dan buku mengubah jalan hidup. Darba dijadikan sosok yang merasakan dampak ketakjuban keaksaraan awal abad XX. Jasawidagda bercerita: “Samangke ingkang tansah dados pamanahan, bab badhe pangupadosipun padamelan. Sampun mesthi kemawon pancen wiwit alit dumugi sekolah saha magang, ingkang kajangka namung anggenipun badhe dados priyantun. Nanging makaten punika Darba namun katut ombaking kathah, liripun anak priyanyun limrahipun dados priyantun, mangka nalika pamagangipun Darba angsal tigang taun, sampun kadhedheran raos boten sakeca, saya malih sareng Darba mindhak-mindhak seserepanipun, dening remenipun maos buku-buku saha serat kabar, tetela bilih kapriyantunan punika inggih satunggaling sarana kemawon kangge pangupajiwa…”

Darba meninggalkan jalan (tradisional) kepriyayian. Ia mengenal seorang Belanda yang memberi ragam pengetahuan dan ajakan untuk bekerja di Semarang. Ia menuruti jalan modern. Di Semarang, ia bekerja dan belajar. Pada akhirnya, kembali ke Solo dengan modal besar digunakan untuk mendirikan toko dan bengkel sepeda saat Boedi Oetomo bertumbuh dan Sarekat Islam memiliki pikat besar di Solo. Rekaman “sejarah” oleh Jaswidagda itu bisa dibandingkan dengan Student Hidjo (1920) oleh Marco Kartodikromo dan Moeslimah (1923) oleh Mochtar Boechari.

Beberapa hari yang lalu, aku khatam lagi Kirti Njunjung Derajat ditemani buku Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak (1997) dan buku Susanto yang berjudul Kanonisasi Budaya (2023). Sejarah yang terbaca dalam tulisan Takashi Shiraishi berlatar awal abad XX memudahkan mengetahui sosok, pers, politik, modal, dan lain-lain. Di buku Susanto, aku menemukan dua buku garapan Jasawidagda digunakan dalam mengungkapkan Surakarta masa lalu: Kirti Njunjung Drajat dan Bocah Mangkunegaran.

Di ruang diskusi, aku ikut mengajukan Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita. Aku anggap itu kitab dagelan terpenting di Jawa. Ranggawarsita tampil dengan humor, bukan pengumbah nasihat-nasihat bijak mengenai pekerjaan. Di hadapan 30-an orang mahasiswa, aku sekadar mengingatkan tentang pendidikan dan pekerjaan mengacu novel gubahan Jaswidagda dan buku-buku berkaitan. Di sampingku, dosen dari Semarang ikut mengingatkan masa lalu dalam ketegangan ideologi, bahasa, dan identitas seperti diceritakan Jasawidagda. Ia sanggup memberi uraian akademik. Aku malah omong sembarangan mengenai novel dan segala hal.

Diskusi rampung. Aku berhasil makan nasi bakar dibungkus daun pisang, tempe goreng, dan kepala ayam. Suguhan yang nikmat sebelum berjumpa Tuhan edisi jumatan. Pada saat makan, bicara dengan beberapa orang, tidak lupa berjualan buku. Kedatanganku tetap sebagai pedagang buku bekas, selain sebagai tukang omong sembarangan.

Siang makin siang. Aku dan teman-teman sempat masuk ke perpustakaan dikelola Balai Bahasa Jateng. Di situ, melihat buku-buku dan obrolan enteng bersama para pegawai. Di bagian belakang, aku melotot dan girang saat menemukan buku mengenai iluminasi dan (sejarah) keaksaraan di Indonesia. Buku besar dan tebal terbitan Lontar. Buku yang mustahil dibaca gara-gara berbahasa Inggris. Terkutuklah!

Kami pulang naik bus. Kami memang tampak naik bus. Aku justru merasa sedang dipanggang matahari. Mesin pendingin udara dalam bus sedang bermasalah. Tubuhku berkeringat. Kaos dan baju basah memberi bau kecut. Di tanganku, ada buku kecil bertema Zen. Aku tidak mau kecewa dan memaki dalam bus. Buku kecil itu terbaca diselingi tidur sejenak yang melelahkan.

Sore, tiba di Terminal Tirtonadi. Sepeda motor yang seharian di parkiran ditunggangi kembali menuju rumah. Di jalan, tunggangan itu kehabisan bensin. Soreku rasanya tetap siang kuadrat. Aku berusaha tidak maki-maki. Hari terlalu banyak keringat tapi tidak sia-sia. [] Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *