Cerpen

Daun Ketapang Merah

Cerpen Sasti Gotama

Kau terbangun dan menyadari  tubuh istrimu sudah tak ada lagi di sampingmu. Sebagai gantinya, ada sebuah guling merah muda yang sudah pudar warnanya dan sejumput aroma istrimu. Kau bangkit setelah mencium aroma kedua yang menyusup ke dalam kamar, aroma rempah-rempah. Sepertinya berasal dari dapur. Kau coba memilah-milah aroma. Sepertinya bau lada, cabai, kunyit, jahe, dan bunga cengkeh. Kau coba menebak-nebak, apa yang dimasak istrimu, namun tiga detik kemudian kau menyerah.

Kau langkahkan kaki menuju dapur dan melihat secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja makan. Satu-satunya penikmat kopi di rumah ini hanya dirimu. Istrimu lebih suka jahe hangat atau wedang uwuh. Jadi bisa kau pastikan, kopi itu memang milikmu.

Istrimu membelakangimu dan ia sedang menghadap wajan. “Aku membuat rendang,” katanya tanpa menoleh. Pastinya ia sudah menyadari kedatanganmu.

Kau mengernyit. Setahumu, rendang buatan ibumu tidak menggunakan bunga cengkeh dan lada. Rendang jawa menggunakan cabai merah besar, bukannya lada sebagai pemeran utama rasa pedas. Sedangkan dari masakan istrimu yang kau intip dari atas bahunya, tak kau temui jejas keberadaan cabai merah. Tapi kau tak mau ambil peduli. Apapun yang dimasak istrimu selalu kau santap. Bagimu, perasaannya lebih penting dari sekedar rasa enak di mulutmu atau rasa mulas di perutmu.

Kau menguap lalu duduk di kursi, menghadap pada kopi Gayo yang diseduh untukmu. Tanganmu meraih koran yang diletakkan di sebelah kopi. Walaupun sebetulnya lebih murah dan lebih cepat informasi dari media digital, tapi bagimu membaca koran adalah sebuah warisan yang kau lihat dari ayahmu bertahun-tahun yang lalu. Ada nilai sentimental sehingga kau tetap mempertahankan.

“Tadi pagi, sebelum Mas bangun, Marni mampir ke sini.”

Kau hanya bergumam tak jelas, hanya sebagai tanda kau mendengarkan istrimu. Kau cukup jelas mendengar suaranya walau ditingkahi suara desisan masakan di atas penggorengan. Matamu lebih terpusat pada tajuk utama berita hari ini. Demo  mahasiswa perantauan di daerah Kayu Tangan kemarin siang. Jalur itu biasa kau lewati setiap hari jika ingin sampai ke kantor tepat waktu. Kau menengok jam bulat di tengah ruangan. Pukul enam kurang seperempat. Setengah jam lagi kau harus berangkat jika tak ingin terlambat.

“Katanya, pohon ketapang di halaman rumah kita terlalu rimbun. Daun-daun keringnya beterbangan ke seluruh desa.  Sebaiknya dipotong saja.” Kau mengangguk setelah meneguk kopimu. Terasa asam. Kurang gula.

“Mereka membicarakan  aku.” Istrimu mendekat sambil meletakkan sepiring nasi dan daging berselimut bumbu cokelat yang ia katakan sebagai rendang.

“Mereka siapa?” Matamu masih tak lepas dari berita koran.

“Marni, Salamah. Semua tetangga kampung.Hanya gara-gara ketapang sialan itu. Kenapa ia berubah warna? Kenapa ia menjadi merah, lalu mengering dan luruh di halaman? Kenapa tak tetap hijau saja?”

“Tak ada sesuatu yang tetap dan tak berubah. Semua pasti berubah,” gumammu. Entah kenapa kau malah teringat tentang seorang gadis, bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia kau pinang menjadi istri.

Gadis bertopi caping merah, duduk mendongak di hadapanmu, di suatu lapangan yang panas dan para mahasiswa senior berteriak-teriak ganas.Ia serupa Pratjna Paramitha atau Ken Dedes menurutmu. Jika Ken Arok tergoda begitu melihat rahsya atau cahaya yang bersinar dari bagian tubuh istimewa Ken Dedes ketika turun dari kereta di Taman Boboji, maka kau langsung jatuh cinta ketika melihat pancaran cahaya dari matanya. Gadis itu menolak menunduk seperti mahasiswa-mahasiswa baru yang lainnya.Matanya berkilat marah.

“Perpeloncoan hanyalah salah satu warisan  kolonial yang dipertahankan!” serunya kala itu. Sebagai salah satu senior, kau bersandiwara membentaknya dan menyeretnya ke ruang X, tempat pembantaian mahasiswa baru. Tapi tentu saja, bukannya memarahinya, kau malah menyatakan cinta setelah kalian berdebat cukup lama. Kau suka gadis yang cerdas. Kau suka gadis pemberontak yang bisa diajak melakukan perdebatan panas. Dan kau pikir, gadis ini memiliki keduanya. Saat itu kau pikir, ia adalah satu-satunya cinta, dan kau takkan pernah jatuh cinta lagi setelahnya.

Tapi kau salah. Lima belas tahun kemudian, kau jatuh cinta pada antitesisnya. Semua tak pernah kau rencanakan, dan tiba-tiba, seperti nyamuk dalam jerat laba-laba, kau sudah terpintal di sarangnya. Perempuan itu, seseorang yang selalu membuatkanmu kopi manis di kantor tempatmu bekerja. Setiap pagi, tak pernah lupa. Sampai pada suatu pagi, kau melihatnya tersedu di pantri setelah alpa membuatkan kopi manis untukmu hari itu.

Ia berkata, putranya sakit, sedangkan suaminya sudah bertahun-tahun tak pernah pulang dari Malaysia, pun tanpa kabar berita. Harusnya saat itu kau ulurkan tisu bukannya sapu tangan. Sama halnya, harusnya kau berikan empati bukan simpati. Tapi kau lupa, dan tiba-tiba saja, seminggu kemudian, kalian adalah sepasang kekasih rahasia.

Perempuan itu, yang kau panggil Dik, tipikal wanita yang memegang teguh falsafah Jawa. Nrimo ing pandum, sendiko dawuh marang sigaring nyowo[1]. Kau adalah raja, dan ia tak pernah membantah sedikit pun. Kau merasa menjadi sebenar-benarnya lelaki yang melindungi perempuan, bukannya partner sejajar seperti yang kau rasakan di rumah.

Istrimu tak pernah tahu. Dan tentu saja ia tak akan pernah tahu jika saja sore itu, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah bank swasta,  tak mampir ke kantormu untuk memberi kejutan ulang tahun pernikahan kalian yang kesebelas. Ia tak sepatutnya masuk begitu saja ke kantormu tanpa mengetuk pintu. Saat itulah ia melihatmu sedang memeluk perempuan yang kau panggil Dik. Ia tak seharusnya terdiam dan meninggalkan kantormu tanpa sepatah kata. Kau lebih suka jika ia berteriak marah dan memecah barang-barang. Namun,istrimumemilih diam dengan mata menerawang, beberapa hari lamanya di dalam kamar, walaupun kau bersujud memohon ampun dan berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Pada hari kesepuluh, ia bangkit dan membuatkan kopi untukmu. Ia memasak aneka masakan dan tak pernah alpa membuatkan camilan. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaan dan tak pernah membantah sedikit pun perkataanmu. Kau merasa ia kembali tapi juga sekaligus hilang. Tak kau lihat lagi cahaya rahsya seperti yang kau lihat bertahun-tahun yang lalu di lapangan rektorat universitas. Ia … padam.

Kau tersadar setelah alarm jam tanganmu berbunyi. Pukul enam tepat. Istrimu masih di hadapanmu, duduk dan memandang tepat ke matamu. “Kenapa rendangnya tak dimakan? Apakah tak enak? Apakah Mas pikir isinya racun dan aku berniat membunuhmu?”

Kau menggeleng. Tentu saja kau tak ingin mengaku bahwa beberapa menit yang lalu kau terseret ke masa lalu. Kala istrimu masih serupa daun ketapang bewarna hijau, belum lagi bewarna merah dan luruh di halaman. “Enak,” katamu setelah mencomot sepotong rendang yang tak jelas rasanya. “Bungkuskan saja. Akan kumakan di kantor.”

Istrimu tersenyum dan dengan sigap menata makanan di dalam kotak makan berwarna jingga. Kau sedang memakai pakaian setelah mandi ala kadarnya ketika istrimu berteriak dari luar kamar mandi. “Nanti sore, bisakah Mas menjemput Anaya? Sekolahnya sedang ada perayaan tujuh belasan sampai petang.” Kau menjawab, menyanggupinya.Entah istrimu mendengarkan atau tidak.

Sesaat sebelum melangkah keluar pintu apartemen, kau mencium pipi istrimu. Lalu kau berbalik dan di hadapanmu hanyalah lorong panjang dengan lampu temaram. Tak ada halaman. Tak ada pohon ketapang. Tak pernah ada seorang anak bernama Anaya. Juga tak pernah ada Marni, Salamah, atau siapa saja. Kau kunci pintu apartemen dari luar dan berjanji pada diri sendiri, nanti sore akan segera pulang dengan membawa martabak. Namun, kau terhenyak. Kakimu memijak sesuatu. Kau menunduk dan melihatnya,selembar daun ketapang berwarna merah.

***


[1] Menerima segala lika-liku kehidupan, siap sedia/patuh terhadap perkataan belahan jiwa (bahasa Jawa).


Sasti Gotama, dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media online.

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Cerpen Nurul Fatimah

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Selama ibu di dapur, sesekali menangis, tapi selebihnya hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah ventilasi yang warnanya kehitaman akibat bertahun-tahun terkena asap kompor dan tidak pernah dibersihkan. Selama ibu di sana, tidak bicara sepatah kata pun pada kami—anak-anaknya. Ibu masuk ke dapur hanya untuk membunuh waktu, membunuh kenangan dan rasa sedih karena ditinggalkan. Seakan tempat itu memiliki dimensi yang memisahkan ibu dari dunia luar.

Dapur selalu menjadi ‘markas’ ibu, bahkan jauh sebelum bapak meninggal. Selalu menghabiskan waktunya di sana dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Seakan-akan pekerjaan di dapur tidak pernah ada habisnya.

Ibu akan bangun di pagi buta sebelum penghuni rumah lain bangun untuk menyiapkan sarapan dan membuat kue yang akan di titipkan ke warung-warung. Ibu tidak pernah terlambat atau lebih tepatnya ibu tidak boleh terlambat. Sarapan harus dihidangkan sebelum bapak duduk di meja makan. Bapak tidak suka menunggu barang semenit pun. Kalau sampai sarapan belum dihidangkan saat ia sudah duduk di meja makan, bapak akan marah besar. Begitu pula kue-kue yang ibu buat harus jadi sebelum aku dan Dio, adikku berangkat sekolah, karena sebagian kue-kue yang ibu jual dititipkan juga di kantin sekolah.

Di siang hari, ibu juga selalu ada di dapur. Ketika aku pulang sekolah, ibu tidak akan ditemukan di mana-mana selain di sana. Sibuk menyiapkan makan siang untuk aku dan Dio. Ia akan makan sebentar saat aku dan Dio makan. Makannya sedikit saja, tidak pernah banyak. Lalu setelah kami selesai, dan ia membersihkannya, barulah ibu ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali menyiapkan adonan untuk kue-kuenya.

Menjelang sore hari waktu ibu biasanya keluar rumah. Ibu akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan bahan kue. Itu pun sebelumnya ibu harus menyiapkan kopi dan cemilan untuk bapak kalau bapak ada di rumah. Tanpa perintah, ibu harus ingat sendiri, seakan-akan itu  tugas wajibnya dan kalau ibu lupa, bapak lagi-lagi akan marah. Jika tidak ada jadwal ke pasar dan bapak tidak di rumah, ibu biasanya duduk sebentar di teras. Sekedar menikmati sore dengan mata menerawang, selalu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya tidak pernah tenang, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Sebelum petang ibu sudah berkutat lagi di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Hanya dijeda waktu salat magrib sebelum menghidangkannya dan sudah harus selesai dibersihkan sebelum azan isya berkumandang. Setelah melaksanakan salat, tanpa istirahat terlebih dahulu, ibu mulai membuat kue agar besok pagi tidak terlambat. Hari-hari berikutnya  semuanya terulang lagi dan terus begitu.

Aku pribadi tidak pernah berpikir bahwa bekerja di dapur dan menjual kue adalah hal yang menyenangkan bagi ibu. Dulu, saat sebelum sesibuk sekarang, ibu terlihat lebih bahagia walau jarang mengekspresikannya. Ada waktu-waktu di mana ibu terlihat bersantai dan menikmati hidup walau dalam diam. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya ibu terperangkap di dapur itu, kehilangan segala gairahnya. Tidak ada waktu bersantai, waktu istirahatnya hanya untuk tidur, atau duduk sebentar dengan wajah bosan karena rutinitas yang melelahkan.

Dapur kadang terlihat lebih seperti penjara bagi ibu karena memisahkannya dari dunia luar. Menyita seluruh waktu yang dimiliki wanita itu untuk menikmati kehidupan. Ibu terperangkap di sana karena banyak alasan. Mengabdi pada keluarga, juga untuk menambal kebutuhan ekonomi yang selalu sulit.

Gaji bapak yang seorang pegawai negeri anehnya tidak cukup untuk menunjang kehidupan kami yang jauh dari kata mewah. Selalu saja kurang hingga berkali-kali ibu harus menyuruh kami berhemat, menyuruh kami bersabar atas keadaan. Ibu tidak pernah mengeluh tentang sulitnya ekonomi pada bapak. Kalau pun pernah itu hanya sesekali saja, namun keluhan itu malah berakhir pertengkaran hingga suatu malam ibu ditampar oleh bapak. Aku yang saat itu masih kecil bahkan masih mengingat suara saat tangan bapak menampar wajah ibu.

Ah. Kalau dipikir-pikir, tamparan bapak malam itulah yang memenjara ibu di dalam dapur. Setelah kejadian itu, ibu benar-benar tidak pernah mengeluh. Ibu memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan bapak. Semua pekerjaan rumah ibu lakukan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya, sehingga bapak tidak punya alasan untuk protes. Ibu juga mulai berjualan kue untuk menambal ekonomi keluarga yang tetap saja bocor di sana-sini meski sebaik apa pun ibu berusaha.

Bertahun-tahun ibu terpenjara di dapur dengan segala aktifitasnya, hingga ibu bertambah tua dan tanpa sadar sudah kehilangan begitu banyak kesenangan dalam hidup yang seharusnya ia dapatkan. Meski begitu, ibu masih juga tidak mengeluh, bahkan pada kami, anak-anaknya. Ibu lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati. Namun, waktu berlalu dan aku juga semakin dewasa lalu kedewasaan membuatku mengerti penderitaan yang tidak pernah diceritakan ibu.

Selain sebagai penjara, dapur sebenarnya juga tempat pelarian ibu. Ada waktu-waktu di mana ibu mencoba untuk menghidar dari pertengkaran dengan bapak meski seringkali pertengkaran tetap tidak bisa terelakkan, dan dapur menjadi tempat ibu bersembunyi. Menangis diam-diam, tidak ingin membuat anak-anaknya ikut sedih. Atau ketika tuntutan hidup menekan ibu dan ia tidak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya, ibu akan duduk melamun di sana. Seakan dinding dapur bisa mendengar semua kesusahan yang dipancarkan oleh mata ibu.

“Bu, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang aku beli dari pedagang ketoprak keliling yang lewat di depan rumah. “Ibu belum makan dari pagi,” kataku lagi karena ibu tidak kunjung menyentuh makanan yang aku sodorkan.

Sudah lewat dua minggu setelah meninggalnya bapak dan ibu masih hampir selalu berada di tempat pelariannya. Kesedihan di matanya masih sama meski ia sudah tidak menangis lagi setelah minggu pertama. Semenjak bapak pergi, tidak pernah ada aktivitas apa pun di dapur. Ibu hanya berdiam diri di sana, biasanya duduk di kursi tuanya sambil melamun.

Ibu tersenyum lemah. “Nanti,” katanya singkat.

 “Bu, Ibu nggak bisa begini terus. Kita harus ikhlaskan kepergian bapak. Ibu harus lanjutin hidup, hidup yang baik.”

Air mata ibu menetes perlahan mendengar kalimatku meski begitu ibu masih tidak bicara apa-apa. Hatiku sakit melihat ibu menangis lagi karena bapak. Semasa bapak masih hidup, ada begitu banyak penderitaan yang ibu alami karena lelaki tua itu dan sekarang setelah ia tiada pun ibu masih saja dibuatnya sedih.

“Bu,” kataku lebih memaksa.

Aku tidak pernah menyangka kepergian bapak akan sebegitu menyiksanya. Aku pikir kematian bapak akan membuat hidup ibu lebih mudah. Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu. Tidak banyak kenangan baik yang tersisa untuk dikenang bahkan setelah aku tumbuh dewasa dan ibu sudah semakin menua. Hanya ada kenangan-kenangan buruk yang membuatku semakin tidak ingin bersedih atas kematian bapak.

“Bu, selama ini bapak sering jahat sama kita. Apa iya ibu harus meratapi kematiannya sampai nggak peduli sama kesehatan ibu sendiri?” Sebenarnya aku tidak ingin berkata begitu, menjelek-jelekkan bapak yang sudah meninggal, tapi aku tidak tahan karena ibu terus berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bagi ibu, nggak akan ada yang bisa menggantikan bapak, Nak. Puluhan tahun hidup sama-sama, tentu ibu butuh waktu, kan? Jadi, ibu mohon biarkan ibu begini.” Ibu berbicara dengan lemah, tidak menatap mataku.

Kata-kata ibu membuatku kesal. Ibu terlalu setia untuk bapak yang entah sudah berapa kali berselingkuh dari ibu. Gajinya selalu habis untuk pacaran dengan entah sudah berapa wanita. Hanya kemarahan dan kekesalan yang bapak bawa ke rumah, dan ibu yang akan dijadikan pelampiasannya.

Terakhir, beberapa minggu sebelum meninggal, bapak bahkan meminta untuk menikah lagi. Aku ingin ibu bercerai saja dengan bapak. Namun, ibu memilih bertahan dalam pernikahannya yang menyedihkan. Ibu memilih diam ketika dipukuli karena menolak keinginan bapak itu. Ah, ibu memang terlalu baik. Sangat baik hingga aku yang harus bertindak. Meracuni bapak.***


Nurul Fatimah. lahir di  Mataram (NTB), 24 Mei 1994. Karya: All My Love (Ragam Media, 2014) (Novel). Call Me Anna (Chapter Eleven, ebook, 2017). Adik Sudah Mati (Cabaca, kumpulan cerpen horor, 2018).

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Cerpen Halimah Banani

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10 tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan. Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir. Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari, ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming. Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan. Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan. Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya. Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup, saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas, juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak, bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu, sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya? Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu. Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar, Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik, tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta. Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel [email protected]. Facebook: Halimah Banani

Cerpen

Kami Harus Pulang ke Rumah

Cerpen Aris Rahman P. Putra

Jep adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku  berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi. Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.

“Kau tahu, Bik Merian suka dengan anak kecil seperti kalian! Kalian akan direbus dalam sebuah kuali besar dan akan dijadikan sop bening!” kata Ben.

“Mengapa ia melakukan itu?” tanya Med agak gemetar.

“Untuk dijadikan ramuan awet muda!”

Apa yang dikatakan oleh Ben tentang Bik Merian membuat Med berjanji untuk tak pernah bermain di sekitar rumahnya, apalagi sampai memasuki pagar. Tapi itu sama sekali tidak menurunkan rasa penasaranku. Kupikir ia sedang berupaya membohongi kami. Sama seperti kebohongannya tentang danau di belakang sekolah yang menjadi tempat tinggal Kadal Buntung atau keberadaan Macan Berkepala Manusia di hutan Jati.

Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku mengajak Med dan Jep untuk mengintai rumah Bik Merian. Tapi sebagaimana bisa ditebak, Med menolak ajakanku mentah-mentah.

“Aku tak ingin dijadikan sop bening!”

“Tak akan ada yang menjadikanmu sop bening, Med!”

“Apa kau lupa apa yang pernah diceritakan Ben?”

“Apa kau benar-benar percaya apa yang dikatakan Ben?”

“Oh, ya, Tuhan, apa kau tak percaya apa yang dikatakan Ben, Ris?”

“Ayolah … apa kau tidak penasaran dan ingin membuktikannya sendiri?”

Sementara aku dan Med berdebat, Jep masih terdiam memandangi setumpuk buku bacaan yang ada di kamar kami. Ia memerhatikan sampul dan membuka beberapa buku dan tak lama kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.

“Gimana menurutmu, Jep?” tanyaku.

Jep tampak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku itu. “Oh, Ris. Kau tentu tahu di sana juga ada banyak kucing garong!”

“Apa yang perlu ditakutkan dari kucing garong?”

“Kucing garong bisa lari kencang, memiliki kuku yang cukup tajam untuk mencongkel bola matamu, dan memiliki taring seperti pisau untuk mencincang daging empuk seperti punya kita.”

“Dari mana kau dapat informasi seperti itu?” tanya Med.

            “Jangan bilang kau mendengarnya dari Ben?” potongku.

“Aku memang mengetahui hal itu dari dia. Dia tinggal di sini lebih dulu daripada kita bertiga dan dia mengenal desa kecil ini seperti ia mengenal saudaranya sendiri.”

Mendengar jawaban itu aku sedikit muak. Memang benar bahwa Ben tinggal di daerah ini lebih dulu  dan juga ia setahun lebih tua dari kami. Beberapa saat lalu ia berkata padaku bahwa ada Kadal Buntung di danau belakang sekolah. Aku yang tak langsung percaya pun sepulang sekolah langsung pergi mengamati danau hingga langit nyaris gelap, tapi aku hanya melihat ikan kecil-kecil dan kodok dan sama sekali tidak melihat kadal raksasa berwarna hijau yang menyembul dari dalam air. Mulai sekarang, selama apa yang dikatakan Ben tak terbukti, aku tidak akan memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Seseorang tidak bisa lagi dilarang melakukan sesuatu tanpa diberi penjelasan mengapa ia tak boleh melakukan hal tersebut, apalagi diberi penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal, itu sama saja pembodohan! 

“Baik, lupakan soal apa yang telah dikatakan Ben,” kataku kemudian. “Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri?”

“Apa kau sudah gila, Ris?” kata Med.

“Tidak, tidak, aku bakal menyusun strategi agar kita bisa tetap dalam kondisi aman. Atau kalau perlu, aku akan mengajak Ben.”

“Baiklah, tapi ingat, kita mesti sudah pulang sebelum langit gelap.” kata Jep sambil menatap langit dari jendela kamar

Sebelum genap pukul tiga siang, kami dan Ben sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan terhadap rumah Bik Merian. Pada awalnya ia bersikeras tak mau menemani kami karena ia tak mau berakhir menjadi sop bening. Ia mengatakan kembali pada kami bahwa Bik Merian adalah seorang dukun yang menguasai ilmu tenung, lalu bersembunyi ke desa kami untuk melarikan diri setelah membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dan merebusnya menjadi sop bening untuk ramuan awet muda. Ia berkata bahwa apa yang akan kami lakukan cukup gila dan berbahaya. Namun, setelah aku memaksanya dengan sedikit menyindir bahwa ia hanya seorang penakut yang hobi membual, ia kemudian setuju untuk ikut dengan kami. Karena bisa jadi penyidikan ini akan benar-benar sangat berbahaya bagi kami, maka masing-masing dari kami berinisiatif untuk membawa barang-barang yang mungkin akan sangat dibutuhkan saat penyelidikan.

Ben membawa segenggam bawang putih yang ia ambil dari dapur rumahnya. Ia berkeyakinan bahwa Bik Merian tidak akan suka dengan anak yang bau bawang. Jadi ketika nanti ia tertangkap oleh Bik Merian, Ben akan buru-buru makan bawang putih itu supaya Bik Merian melepaskannya dan tidak menjadikannya sebagai sop bening. Itu ide yang baik, setidaknya bila apa yang diperkirakan Ben benar, kami bisa minta bawang putih kepadanya dan kami bisa menyelamatkan diri. Tapi aku sendiri tak benar-benar yakin dengan bawang putih karena kupikir itu hanya mempan untuk drakula dan Bik Merian bukan drakula. 

Jep tentu lain cerita, ia pulang ke rumah dan kembali lagi dengan membawa tasbih. Ia merasa yakin bahwa dengan membawa tasbih tersebut, ia akan terhindar dari energi yang jahat atau marabahaya apa pun yang mengancamnya. 

Sementara itu, aku dan Med memilih membawa barang-barang kesayangan kami. Aku membawa topi Timnas dan Med dengan boneka dinosaurus berwarna ungu. Jep dan Ben mengatakan kepada kami bahwa benda-benda yang kami bawa sama sekali tak akan berguna. Tapi aku dan Med sendiri memiliki alasan kenapa harus membawa barang tersebut. Ya, bila memang nantinya kami akan benar-benar menjadi sop bening. Aku dan Med sangat berharap bahwa barang-barang itulah yang akan membuat orang tua kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah semua sudah berkumpul di depan pagar sekolah, aku mulai menyusun rencana. Dalam hal ini, aku akan menjadi pemimpin dalam operasi yang kuberi nama “Kami Harus Pulang ke Rumah”.

“Baik teman-teman, mari kumpul,” kataku. “Jadi begini, misi yang akan kita lakukan ini sangat mudah. Yang perlu kita lakukan adalah menyusup ke rumah Bik Merian, melakukan penyelidikan, lalu pulang ke rumah sebelum langit gelap.”

“Lalu, gimana kita bisa masuk ke rumahnya?”  tanya Jep ragu. 

“Emm … kita bisa lewat pagar di samping rumahnya.”

“Bagaiamana cara kita bisa meloloskan diri dari kucing-kucingnya?”

“Astaga, tak ada yang perlu ditakutkan dari kucing-kucing itu, Jep!”

“Apa kalian tak tahu kalau kucing-kucing Bik Merian bahkan bisa membunuh anjing?” timpal Ben.

“Baiklah, kita bisa membawa beberapa batu di saku celana masing-masing.”

“Apa itu cukup?” tanya Jep.

“Setidaknya kita berempat. Kita bisa saling menjaga. Apa ada lagi yang perlu ditanyakan?”

Semua menggeleng dan kami pun segera memulai operasi yang akan kami lakukan. Rumah Bik Merian letaknya tak terlalu jauh dari sekolah kami, namun cukup terpencil dan terpisah dari rumah yang lain. Kami berjalan dengan perasaan campur aduk hingga kemudian kami melihat rumahnya yang tampak gelap dan muram, seperti istana milik penyihir dalam kartun yang tiap Minggu kami tonton. Pada dindingnya kau akan dapat melihat tanaman-tanaman hijau merambat dan pohon-pohon besar dengan dedaunan yang berserakan di halaman dibiarkan begitu saja. Pagarnya telah berkarat sementara kaca jendelanya telah pecah di beberapa bagian. Atap rumahnya berlubang di sana-sini. Dan seperti yang dikatakan Ben dan Jep,  ada beberapa kucing hitam berkeliaran di dalamnya.   

Aku masuk lebih dulu melalui celah di pagar samping, lalu disusul Jep, Med, dan Ben yang terakhir. Kami berupaya melangkah seperlahan mungkin agar tidak menarik perhatian kucing-kucing Bik Merian. Setelah sampai pada sebuah pohon, kuperintahkan mereka untuk berhenti sejenak. Aku sendiri merangkak menuju jendela yang berhadapan langsung dengan pohon tersebut dan mengintip keadaan di dalam rumah.

Kupikir, apa yang selama ini kubayangkan tentang Bik Merian tak terlalu jauh dengan apa yang kulihat sekarang. Kemuraman yang tampak di luar rumah, tak terlampau berbeda dengan apa yang ada di dalam. Sofa yang mestinya bewarna putih, dipenuhi debu-debu dan bekas terbakar di beberapa bagian. Jahitannya juga telah robek sehingga kapas-kapas bertebaran di atasnya. Mejanya penuh dengan robekan-robekan kertas.

“Bagaimana, Ris?”

Aku menoleh dan mengacungkan jempolku kepada teman yang lain.

“Ben, coba kau cek pintu belakang.”

“Aku sendiri?”

“Jep akan bersamamu.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

“Aku akan melihat pintu depan dan mencari pintu masuk lain. Kau ikut denganku, Med. Tigapuluh detik lagi kita harus kembali ke sini.”  

Dalam sekejap kami segera berpencar.

Aku memegangi lengan kanan Med dan kami mengendap-endap menuju halaman depan rumah, mencoba merangkak melewati rerumputan dan dedaunan kering. Sementara tangan kirinya masih memegang erat boneka kesayangannya.

“Sedikit cepat, Med.”

Med kemudian berhenti dan menarik kaosku.

“Apa sebaiknya kita pulang saja, Ris?”

“Apa maksudmu?”

“Kubilang kita sebaiknya pulang saja.”

            “Kita sudah sejauh ini dan kau mengajak untuk pulang?”

“Ya, kita sudah melangkah sejauh ini dan sebaiknya kita segera pulang.”

“Kenapa?”

“Perasaanku tidak enak …”

“Oh, ayolah, kau hanya takut. Sini, pegang tanganku.”

“Tidak, Ris, aku benar-benar merasa tidak enak.”

“Kalau kau memang ingin pulang, sana pulang sendiri!”

Aku tak menghiraukan Med dan terus merangkak menuju bagian depan rumah. Apakah Med benar-benar akan pulang, aku sudah tak lagi mempedulikannya. Semua rencana yang kususun telah berjalan dengan baik dan dalam tahap ini, aku telah semakin dekat dengan kebenaran.

Syukurlah di halaman tak ada kucing-kucing sehingga tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua benar-benar berjalan lancar. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah membuka pintu ini dan mengetahui semuanya.

Aku menjinjit dan berusaha mengintip keadaan di dalam rumah melalui kaca yang ada di pintu depan. Dan, apa yang sedang kulihat sekarang benar-benar tak dapat dipercaya.   

Di salah satu kamar di samping toilet, terlihat Bik Merian sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki di atas ranjang, dan yang mengagetkan, laki-laki itu mirip ayah Ben, Pak Rasmusin. 

Rambut Bik Merian terlihat berantakan dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedang ayah Ben juga terlihat bertelanjang dada meski ia memakai celana dalam. Mereka terlihat bahagia dan apa yang sedang mereka lakukan tampak seperti sepasang orang dewasa yang telah menikah.

Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi sehingga kuputuskan untuk menyelinap ke dalam. Pintu depan tak terkunci sehingga mudah untuk dibuka. Aku mengendap-ngendap masuk dan lekas besembunyi di bawah meja di ruang tamu. Dari sini, aku dapat mendengar percakapan Bik Merian dan ayah Ben meski agak samar-samar.

“Jadi kapan kita akan menikah?”

“Sebentar lagi …”

“Dulu juga kau bilang begitu, sebelumnya juga, sebelumnya juga…”

“Kali ini aku serius. Aku telah mengurus surat cerai.”

“Benarkah?”

“Tentu benar, sayang.”

“Bagaimana keadaan anakmu, Ras?”

“Ia akan ikut ibunya.”

“Mengapa tidak kita rawat dia, Ras? Aku bosan dengan kucing-kucing.”

 “Ia takut denganmu, ia menganggapmu dukun tenung.”

 “Apa penampilanku semenyeramkan itu Ras?”

“Tidak, kau adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Namun harus kuakui aktingmu sangat bagus hingga dapat mengelabui anak kecil, bahkan setiap orang. Juga keadaan rumah ini … sempurna, sangat sempurna!”

“Tapi aku ingin merawat seorang anak Ras. Aku bosan dengan kucing-kucing.”

“Kita akan memilikinya segera. Kalau perlu kau akan melahirkan 3 atau 4 anak dan kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama, meninggalkan masa lalu masing-masing.”

Percakapan yang sedang kudengar benar-benar terdengar jelas dari sini dan aku benar-benar terkejut mendengar apa yang sedang dibicarakan meski aku tak memahami seutuhnya. Namun sialnya, seekor kucing peliharaan Bik Merian terlihat datang mendekat dan mengeong ke arahku.  Spontan aku berusaha melarikan diri dan berhasil keluar dari pintu dan menghambur ke luar rumah secepat yang kubisa. Di pohon, kulihat Ben dan Jep sedang menungguku dan aku memberi isyarat kepada mereka agar segera keluar dari tempat ini. Sampai di depan sekolah kami menghentikan langkah kami dan menarik napas sejenak.

“Ada apa sebenarnya, Ris?”

“Tidak apa-apa. Kurasa kita harus segera pulang ke rumah. Setelah ini aku akan membuatkan kalian es jeruk. Emm … dan untukmu Ben, kuharap kau jangan terlalu memercayai apa yang dikatakan oleh ayahmu.”

“Sebenarnya apa yang baru kaulihat, Ris?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Kuharap Med telah sampai di rumah sekarang. Kuharap di lain hari ia berhasil mencegahku berbuat aneh-aneh. Kuharap Kadal Buntung benar-benar ada. Ah, mari kita segera pulang.” ***

(2019)


Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Alumni Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.

Cerpen

Kupu-Kupu di Kamar Mei

Cerpen Tiqom Tarra

Aku tidak tahu bagaimana kupu-kupu itu muncul dan memenuhi setiap jengkal kamar Mei, kakak perempuanku. Mereka hinggap di lemari, beterbangan di atas ranjang, dan berkerumun di meja rias. Aku pikir ratusan kupu-kupu itu berasal dari taman bunga tak jauh dari rumah kontrakan Mei, tapi aku salah; tak ada taman bunga di sekitar permukiman di mana Mei menyewa sebuah rumah. Kupu-kupu itu tidak berasal dari mana pun, melainkan muncul begitu saja di kamar Mei seolah mereka berkembang biak di sana.

“Kakak memelihara kupu-kupu?” tanyaku saat pertama kali memasuki rumah kontrakan Mei. Sudah empat tahun ini Mei merantau ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah sembari bekerja.

Ini pertama kalinya aku mengujungi Mei. Dia selalu menolak ketika aku atau keluargaku yang lain ingin mengunjunginya. Namun, kali ini Mei mengiyakan permohonanku untuk tinggal sementara di kontrakannya sembari menghabiskan waktu libur sekolah.

Ketika kutanya perihal kupu-kupu di kamarnya, Mei tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka semua hanya menemani dirinya.

“Sepi sekali karena jauh dari keluarga,” ucapnya.

Aku bisa mengerti. Hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan dan membantu ekonomi keluarga tidaklah mudah. Jujur, aku salut padanya; dia membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja, dan sebagai anak tertua Mei selalu mengirim uang untuk membantu keluarga dan adik-adiknya. Apalagi sepeninggalan Ayah ekonomi keluarga kami terus memburuk.

Mei menjadi kebanggaan Ibu. Setiap hari, Ibu bercerita tentang Mei yang kelak akan menjadi seorang sarjana. Kadang, aku cemburu ketika Ibu selalu membangga-bangga Mei secara berlebihan, tapi Mei memang telah melakukan segalanya demi pendidikan dan keluarga.

Setiap pagi jumlah kupu-kupu di kamar Mei terus bertambah hingga aku tidak bisa menghitung saking banyaknya. Ketika Mei keluar kamar, banyak sayap kupu-kupu yang patah menempel di tubuhnya, tapi dia tidak peduli. Mei hanya akan langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas semua sayap-sayap itu.

“Pasti pekerjaan Kakak berat, ya?” basa-basi aku bertanya ketika kami menyantap nasi uduk untuk sarapan.

Mei terlihat sangat kelelahan dan aku baru tahu kalau dia pulang bekerja pukul tiga dini hari. Pasti sangat melelah, apalagi paginya Mei harus kuliah.

“Kakak sudah terbiasa. Ini tidak seberat yang kamu pikirkan,” jawabnya.

Ah, kakakku ini memang benar-benar pekerja keras. Diam-diam aku berdoa semoga aku juga bisa sepertinya; menjadi kebanggan Ibu dan keluarga.

“Hari ini aku harus langsung ke tempat kerja. Kamu tidak perlu menungguku pulang.”

Setelahnya Mei pergi dan hingga pukul lima dini hari dia belum juga pulang. Aku tentu khawatir meski berulang kali Mei mengatakan dia memang biasa pulang pagi karena kerja sif malam. Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimanapun, Mei adalah perempuan, dan berada di luar ketika malam sangatlah berbahaya.

Aku beranjak dari kamarku kemudian membuka pintu kamar Mei. Di sana kupu-kupu makin banyak jumlahnya, berebut tempat, berputar-putar di atas ranjang seperti angin puting beliung.

“Dari mana sebenarnya kalian berasal?” gumamku diikuti suara kunci yang diputar. Tak berapa lama Mei muncul dari balik pintu dengan wajah kusut kelelahan.

“Kamu tidak tidur?” tanya Mei sembari melangkah masuk. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menunggu?”

“Aku bukan tidak tidur, tapi sudah bangun. Ini sudah subuh, Kak.”

Mei tidak menjawab. Dia hanya membuang napas berat sebelum menutup pintu kamar dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Mei tidak keluar setelahnya. Dia baru keluar ketika hari sudah beranjak senja.

“Selesai makan Kakak ingin kamu ke minimarket depan gang untuk beli beberapa kebutuhan dan jangan pulang sebelum jam sepuluh.” Mei memberiku beberapa lembar uang dan daftar belanjaan.

“Kenapa aku tidak boleh pulang sebelum jam sepuluh?”

Mei tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan makan, sedangkan aku diselimuti banyak pertanyaan tentang kakakku ini. Apa yang sedang disembunyikan Mei?

“Besok aku ingin melihat tempat kerja Kakak.” Entah apa yang aku pikirkan ketika mengatakan itu. Namun, aku tahu Mei menyembunyikan sesuatu dariku.

“Untuk apa?” Kali ada nada kesal yang begitu kentara dari suara Mei. Dia mendengus sebelum meletakkan sendoknya ke piring yang menimbulkan suara nyaring. “Bukankah kamu ke sini untuk liburan?”

“Aku hanya ingin tahu tempat kerja Kakak.”

“Tidak perlu. Sekarang pergilah ke minimarket dan jangan kembali sebelum jam sepuluh.”

Setelahnya tidak ada pembahasan lagi; Mei beranjak ke kamar, membanting pintu kamar dan tidak keluar lagi. Dan itu bukan terakhir kalinya Mei bersikap sedemikian rupa ketika aku membahas tentang tempat kerjanya. Mei selalu menghindari pertanyaanku.

***

Aku tahu ada yang disembunyikan Mei dariku. Di malam-malam tertentu dia menyuruhku ke minimarket dan tidak mengizinkanku pulang hingga waktu yang dia tentukan? Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mei. Dia selalu marah ketika aku memaksa untuk ikut ke tempat kerjanya. Kenapa dia selalu pulang pagi? Dan yang membuatku terus berpikir adalah mengapa kupu-kupu di dalam kamarnya kian banyak seolah akan meledakkan kamar itu? Ada yang aneh antara Mei, pekerjaannya, dan ribuan kupu-kupu di kamarnya.

Sejujurnya, ada satu kesimpulan yang diam-diam aku pikirkan tentang Mei. Namun, memikirkannya saja membuatku sedih. Tidak mungkin Mei melakukannya. Tapi lagi-lagi dia memintaku ke minimarket dan tidak boleh pulang sebelum pukul sepuluh malam.

Demi menyudahi rasa penasaranku, kuhentikan langkah. Aku harus mendapat jawabannya malam ini juga, maka aku berbalik arah. Setengah berlari aku menuju rumah kontrakan Mei. Di sana ada sebuah motor terparkir, padahal ketika aku berangkat ke minimarket tadi belum ada motor itu. Segera aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk.

Mungkin harusnya aku tidak perlu kembali ke rumah Mei dan tetap bertahan di minimarket seperti perintahnya. Atau mungkin harusnya aku tidak perlu datang menyusulnya ke perantauan dan tetap di kampung dengan segala kebanggaan tentang kakakku itu. Namun, di sini, tepat di depan kamarnya aku melihat kenyataan tentang Mei.

Ketika kubuka kamar itu, aku melihat ribuan kupu-kupu beterbangan menyesaki kamar Mei. Kupu-kupu itu lahir dari dua tubuh di atas ranjang yang sedang mereguk kenikmatan.***


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia, detik.com, Gogirl, Fajar Makassar, Harian Solopos, Radar Surabaya, dan ideide.id. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Cerpen

Ingatan Pohon Pisang

Cerpen Dewi Sukmawati

Setelah berkali-kali aku membaca catatan harian ibu. Masih saja belum kutemukan catatan di mana aku lahir dan siapa yang memberiku nama. Sungguh itu hal yang sulit. Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas rumah dari ibu guru? Pada siapa aku harus bertanya? Aku tak punya ibu, aku pula tak punya ayah. Yang kupunya hanya paman galak bertubuh besar dan kekar. Mana mungkin pamanku bisa kuajak berbicara serius? Dia terlalu sibuk dengan kupu-kupunya. Mulai dari kupu-kupu yang cantik, yang langsing, yang mewah, yang kalem, dan yang centil. Kadang aku bertanya dalam diri. Apa ibuku salah satu dari mereka? Buku yang kata pamanku ini warisan ibuku juga tak membantuku sama sekali.

Buku catatan ibuku hanya sibuk membicarakan ritual pohon pisang. Di mana diceritakan buyut, nenek, dan ibuku selalu menanam pohon pisang di usia 17 tahun. Dan setelah pohon pisang berbuah dan beranak, pohon itu mati. Meninggalkan buah dan anaknya pada tuan besar. Tuan besar memakan manis buah pisang dan memindah anak pohon pisang atau menjualnya ke tuan lain. Sungguh ini membingungkan. Bagiku yang masih duduk di bangku SD. Mungkinkah saat aku besar nanti jadi pohon pisang, atau kupu-kupu juga? Entahlah. Aku hanya punya paman di dunia ini. Mungkin aku akan menurut saja padanya.

***

Beberapa hari sebelum Murlin akan menikah, dia melihat calon suaminya jajan di pasar malam dekat taman suram. Karena peristiwa malam itu pula pernikahannya gagal. Dan Murlin memutuskan untuk menjadi jajan di pasar malam dekat taman suram. Di usianya yang masih 17 tahun, bukan hal mudah melakukan itu. Dia pun tak punya ibu atau ayah. Dia hanya memiliki satu pohon pisang yang dulu ditanamnya. Dia merasa hidupnya seperti pohon pisang. Berbuah tanpa ayah. Beranak tanpa ikatan. Dan bertakdir sampai pada keturunan terakhir.

Setiap pulang dari pasar. Murlin selalu bicara dengan pohon pisangnya sebelum masuk ke rumah dan mencatat peristiwanya dalam buku catatan. Pada waktu kemudian, pohon pisangnya berbuah, persis dengan manis dan larisnya Murlin dipesan. Saat pohon pisang beranak dan mati meninggalkan anaknya. Murlin pun demikian, beranak dan mati meninggalkan anak perempuannya. Anak pohon pisang, anak Murlin dan catatan harian Murlin kini dijaga dan dirawat oleh lelaki berbadan besar dan kekar yang beristri juragan kupu-kupu malam yang tak pernah suka pada pisang.

Mungkin anak pisang itu akan beranak pisang saat dewasa. Anak murlin pula akan menjadi ratu malam. Lalu melahirkan dan meninggalkan anaknya kembali pada tuan berkalung emas, berjas, dan berdasi. Sepeti buku panduan yang telah dicacat oleh ibunya di 17 tahun usianya. Ingatan pohon pisang ini memang sudah menjadi garis. Hanya akar pisang yang tahu, kapan garis itu terputus setelah lama berkembang biak di dalam tanah dunia malam.


Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam. Aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto. Beberapa karyanya dimuat Antologi dan Media Massa.

Cerpen

Sebuah Arloji dan Kenangan di Dalamnya

Cerpen Drei Herba

Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?

“Ini pemberian kekasihku.” Tangannya menyodorkan sebuah arloji bulat berwana biru tua dengan strap rubber hitam menyulur sepanjang enam atau tujuh senti. Bukan arloji branded, juga tak terlihat begitu istimewa. Hanya arloji pasaran seharga di bawah seratus ribuan.

“Tolong perbaikilah.” Tatapannya memohon. “Aku akan membayar berapa pun biayanya.” Mataku yang menatap jam tangan segera beralih memandang ke arahnya. Ucapan terakhirnya itu sama sekali tak simetris dengan penampilannya yang tak mengesankan. “Saya memang tidak punya uang saat ini, tapi saya berjanji akan segera membayarnya,” timpalnya setelah membaca caraku memandang.

Aku menggaruk rambutku yang tak benar-benar gatal. Aku memang tukang reparasi arloji, tapi memperbaiki kenangan di dalamnya? Itu bukan keahlianku. Itu soal masa lalu, dan masa lalu selalu tentang waktu. Sementara arloji hanya alat menakar, membaca bentuk waktu yang abstrak.

Ingin sekali aku mengkhutbahinya, namun ucapanku kembali tertahan oleh sorot matanya. Aku kembali pura-pura memeriksa tiap inci arloji itu. Jarumnya masih terlihat normal, sedikit menatih karenq terdorong oleh langkah jarum paling tipis.

Dengan menahan sebisaku, setidaknya, aku dapat merawat harapannya lebih panjang. Lagi pula, ia tak benar-benar ingin memperbaiki arloji ini, ia hanya ingin bercerita. Tapi sorot mata itu, justru membawaku pada ingatan sepuluh tahun silam; ingatan yang tak sepenuhnya terhapus.

Air mataku dengan sendirinya rebah, menyeka kaca arloji yang terlihat mulai kusam ini. Peristiwa itu membawaku kemari. Aku berpikir apakah bentuk sorot mataku saat itu sama dengan sorot mata laki-laki di hadapanku ini?

Hal itu bermula dari kedatangan kabar yang menabrakku. Tak ada gerimis, malam teramat sunyi untuk mengalamatkan pertengkaran. Tapi, tepatkah peristiwa itu disebut pertengkaran? Bukankah itu hanya kepasrahan, malam saat membuka surat darinya, menerima kabar tentang pertunangan Mayda.

Apakah aku marah? Tidak! Tentu saja! Bagaimana caraku marah? Toh, itu hanya sebuah surat. Tidak langsung terucap dalam sebuah pertemuan.

Aku nyaris lupa obsesiku tentang arloji, melihat bagaimana caranya memutar serta mendengar suara tiktoknya memekik. Sepuluh tahun lamanya, sejak kali pertama mereparasi arloji, lalu kemudian sorot laki-laki ini, menggugah kenangan itu kembali.

Kala itu aku penasaran sekalipun jarum yang terus berjalan tapi akan selalu membawa kembali ke tempat asal. Tapi, jarum yang sama tak dapat mengembalikan kenangan ke tempat ia berawal. Jarum itu saja yang berjalan sirkular, melingkar. Tidak dengan kehidupan yang kujalani, perjalanan linear tanpa ujung pangkal.

Aku terlalu sibuk dengan kenanganku, sampai lupa bahwa laki-laki di depanku ini, masih terus menanti dengan gelisah. Masih terselip harapan dari tanganku yang pura-pura serius memeriksa arlojinya, “Kawan, arlojimu bisa kuperbaiki, tapi sulit rasanya bila sekaligus membenahi kenangan di dalamnya?”

“Tidak bisakah memutar balik arah jarumnya?” nadanya terdengarseparau harapannya yang kini mulai mengikis, “bukankah dengan begitu akan membawaku kembali ke masa lalu?”

Dulu aku juga pernah berkeinginan seperti itu. Aku ingin bilang itu mustahil, tapi sorot matanya kembali menahan bibirku. Aku masih ingin merawat harapannya. Hanya itu yang dimiliki, satu-satunya alasan tetap melanjutkan hidup. Lalu, aku harus mengutara dusta seperti apa lagi?

Kini bibirnya terbata-bata bercerita peristiwa pada sebuah malam. Dingin kemarau telah membawa birahinya. Di ranjang yang tinggal kerinduan, ia luapkan bertubi-tubi ciuman. Bibirnya, ibarat kapal yang kini mendarat ke dermaga bibir kekasihnya. Temaram lampu dan sprei menjadi saksi sepasang tubuh itu saling merengkuh. Bersahutan. Membuncah. Mendesah.

Air matanya patah, tertarik gravitasi, rembas perlahan ke pipinya. Malam itu, perjumpaan terakhir, bahkan dalam sebuah perpisahan yang tak pernah tuntas terucap.

“Kekasihmu mati? Benar bukan? Kecelakaan?” sergahku.

“Tidak! Tapi,” katanya lagi, “toh tak ada bedanya. Aku tetap sama-sama kehilangan.”

“Maksudnya?”

Ia lanjutkan ceritanya, kekasihnya akan pindah kerja, dan keesokan harinya ia mengantar. Sementara, ia masih juga tak lulus-lulus kuliah, dan hanya bisa menghadiahi kekasihnya itu dengan potongan puisi. Tapi potongan kata itu tak lagi bisamenahan. Sebulan berikutnya, kabar tak mengenakkan dan yang tak disangka-sangka itu mengiang.

Setelah menggoret kenangan, dan kemudian kenangan itu mengakar pada dirinya. Kekasihnya justru pergi meninggalkan, lalu bertunangan dengan rekan kerja barunya. Laki-laki yang baru semingguan ia jumpai.

Lalu terdiam ia, suasana menjadi begitu sunyi, menyayat. Aku juga diam.

Seumpama belati, cerita itu kini juga mengiris kenanganku, mencacahnya perlahan, kembali merobek luka itu.

Surat malam itu juga tak pernah kusangka-sangka. Itu kira-kira terjadi sebulanan setelah kekasihku memutuskan pulang ke rumahnya. Sebelumnya, ia jatuh ke dalam pundakku. Air matanya rebah, “Ayahku bilang, kerjaku di sini tak menghasilkan apa-apa. Bukankah keberhasilan tak selamanya harus ditakar dengan materi?”

“Lalu bagaimana? Biaya hidup di kota memang mahal, sulit bila hanya ditambal hanya dengan mengajar”

“Kata ayah dengan aku kembali, mungkin akan jauh lebih menghasilkan.” Ia masih ingat percakapan itu, sebelum sebulan kemudian, menerima surat yang sama. Aih, betapa kini kenangan itu kembali datang menyiksaku.

Aku tatap kembali laki-laki di hadapanku, ia masih tetap menunggu, padahal aku hanya pura-pura memperbaiki arlojinya.

“Apakah kamu yakin dengan cara kembali ke masa lalu akan menyudahi segalanya?” aku coba meyakinkan, namun matanya segera menatapku.Lekat.

Ia tak menjawab. Aku yakin pikirannya kini sekacau pikiranku saat itu, “aku hanya tak ingin memulai apa yang tak bisa aku akhiri”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin mengakhiri sebelum memulainya, sebelum ia menjadi peristiwa, sebelum ia menjelma kenangan yang menyika” katanya lagi, “anda bisa memperbaiki arloji saya kan? Saya tidak tahu mengapa itu bisa rusak padahal saya belum pernah memakainya.”

“Bagaimana mungkin anda tak pernah memakai pemberian kekasih anda? Apa anda tak menyukai pemberian itu? Lalu untuk apa membawanya kemari?”

“Ah, tidak.” Elaknya, “Justru dengan cara itu saya menjaganya. Saya tidak ingin kalau nantinya arloji ini akan lecet. Lagi pula, coba bayangkan, apakah arloji ini cocok untuk orang seperti saya ini?” senyumnya menyeringai. Itu senyum pertama yang kudapat dari laki-laki ini.

“Sebetulnya, arloji anda tidak rusak, hanya perlu mengganti dengan batrei” aku mulai lebih terbuka, “hanya saja, sulit rasanya dengan permintaan terakhir anda”

“Bukankah anda sudah bertahun-tahun bergelut dengan arloji? Apakah anda tak benar-benar punya cara? Tolong, jangan sembunyikan keahlian itu dari saya!”

Lagi-lagi, ucapan laki-laki itu kembali mengantar kenanganku. Aku tak pernah menyukai arloji, dan bekerja seperti ini juga bukan cita-citaku. Tapi kekasihku, membuat itu lain, membuatku ingin merawat waktu. Arloji yang pernah ia berikan memang tak pernah kupakai, tapi itu karena aku tak ingin menghitung waktu kebersamaan dengannya.

Namun, setelah menerima surat malam itu, setelah kepergian Mayda justru membuatku ingin mengembalikan waktu yang dulu pernah kurawat. Aku ingin menghapusnya.

Aku terhenyak tiba-tiba, sebuah kesadaran mendesak kepalaku. Aku menatapnya, ia balik menatapku. Kami saling bersitatap. Lekat.

“Bagaimana kamu berpisah dengan kekasihmu?” tanyaku sambil tetap memeriksa arloji yang sedari tadi telah berhasil memotret semua kenanganku.

“Dua hari lalu, kekasihku mengirimi surat” Ia kembali bercerita, “tepat sebulan setelah perpisahan itu, kekasihku memutuskan tunangan dengan rekan barunya. Dapat kumaklumi, aku memang tak kunjung lulus kuliah” sorot mata itu kembali layu, perih.

Aku terperangah, mataku terbelalak. Cerita laki-laki itu terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan dengan kisahku.

“Apakah kekasihmu bernama Mayda?” tanyaku.

Ia diam dan tak segera menjawab. Segera kuburu sorot mata itu, aku ingin memastikan, menatapnya lebih tajam lagi. Namun,tak kudapatiapa pun dihadapanku. Hanya cermin. Sebuah cermin memantulkan seogok wajah dengan sorot mata begitumuram. Kemudian, seorang dalam cermin itu menuding ke arahku, “Bisakah memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?”


Drei Herba T. Tinggal di Jogja. Menulis esai, cerpen dan puisi.

Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Manna dan Buah Merah

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.