Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.

Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

Cerpen Sasti Gotama

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Kalau bukan demi uang, ia tak akan mengirimkan tulisan-tulisan itu. Bukan alasan idealis, demi kesusastraan. Baginya, ini satu-satunya jalan keluar yang bisa ia bayangkan. Tagihan-tagihan itu tidak bisa menunggu. Seumpama melintasi jembatan, ia telah berlari di atasnya sedangkan jembatan di belakangnya telah terbakar.

Yuanita, anak perempuannya telah tertidur sejak pukul tujuh malam. Sepertinya ia kelelahan setelah ekstrakurikuler berenang. Dua puluh menit yang lalu, bocah kelas lima itu bahkan menguap berkali-kali saat mengerjakan PR yang berlembar-lembar. Begitu nomor terakhir ia selesaikan, ia langsung jatuh tertidur di atas buku catatan hingga Alina Karina harus mengangkatnya ke kamar.

Alina Karina kadang heran, sebetulnya sekolah itu tempat belajar atau tempat penyiksaan? Seharusnya sekolah tempat anak-anak bersenang-senang sambil belajar, bukannya tempat menimbun beban, dijejali dengan berbagai hafalan dan hitung-hitungan memusingkan. Buktinya, saat ini semua hafalan Alina Karina di sekolah dasar tentang bahan tambang di Indonesia dan juga daerah penghasilnya tak bisa membuatnya mendapat uang.

Alina Karina berjingkat ke arah meja rias. Sambil memikirkan ide apa yang bisa ia tulis untuk dikirimkan ke koran, ia membersihkan wajah dengan kapas basah. Baru dua karyanya yang menghasilkan. Tiga ratus ribu rupiah langsung menguap untuk biaya rekreasi bersama kelas lima Yuanita. Saat itu ia menulis tentang seorang perempuan yang melahirkan seekor serigala. Padahal ia tak pernah bercinta satu kali pun dengan seekor serigala. Ia hanya bercinta dengan manusia-manusia berhati serigala. Pada akhirnya, serigala yang terlahir itu tumbuh besar, dan kelak akan memakan ibunya sendiri. Sebetulnya ia tak terlalu memikirkan apa pesan moral dalam tulisannya. Ia hanya membuat cerita aneh yang sepertinya lebih disukai media. Buktinya, saat ia menulis sebuah cerita mendayu-dayu dengan pesan moral, balasan yang tercantum seperti kalimat pembuka di atas.

Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saat Alina Karina telah menyelesaikan riasannya. Alisnya sudah melengkung cantik dan bibirnya merah muda. Ia meraih gaun hitam menerawang dari lemari sambil memikirkan bahan cerita lainnya. Ia harus membuat cerita yang baik, alih-alih menulis kisah yang buruk. “Mungkin aku harus menulis cerita yang berisi hujatan pada pemerintah,” gumamnya. Orang-orang suka membaca hal yang buruk, pikirnya. Hal-hal yang baik tak pernah mereka bicarakan, berbeda ketika ada berita buruk, maka dengan semangat empat lima mereka memakan bangkai berjamaah. Serupa bawang, semua dikuliti hingga lapis terakhir.

Seorang editor yang pernah menggunakan jasanya di sebuah kamar hotel kelas melati pernah berkata, “Menulislah karena kau mau menulis. Jangan pernah menulis karena uang.” Ia mengatakan itu sambil menguap dan menarik selimut yang  menutupi sebagian pinggangnya. Kalau meludahi editor tidak akan membuatnya kehilangan uang jasa pelayanan, mungkin sudah dilakukan saat itu juga. Tapi ia butuh uang itu untuk membayar tagihan BPJS yang naik bulan ini.

Alina Karina menggelengkan kepalanya. Menyesal telah mengingat hal menjijikkan itu. Sebetulnya semua yang dilakukannya menjijikkan. Tapi ia terpaksa. Kadang, saat di atas kasur apak dan seseorang menungganginya dari belakang, ia hanya memikirkan Yuanita.

Pelan-pelan ia menutup kamar kos agar Yuanita tidak terbangun. Malam itu dingin sekali, dan bulu-bulu kuduknya –satu-satunya bagian yang tidak ia cukur—meremang. Harusnya aku memakai jaket, pikirnya. Tapi kemudian ia sadar, itu berarti akan membuat keseksiannya tak akan terlihat pelanggan.

Di bawah sinar bulan purnama, Alina Karina berdiri sambil menggosok-gosok kedua lengannya. Di jalan ini belum disediakan lampu penerang. Beberapa rekan seprofesinya tampak duduk-duduk di pembatas jalan dan sungai. Daerah ini lebih dikenal sebagai jalan inspeksi banjir kanal barat. Tak banyak yang lewat. Hanya beberapa motor. Itupun tak ada yang menghampirinya.

Alina Karina memilih untuk bersandar di pohon kersen pinggir jalan. Punggungnya sedikit pegal. Sebetulnya ia tak ingin mengingat-ingat masa lalunya. Namun, ingatan itu dengan seenaknya nongkrong di benaknya. Alina Karina bukan nama aslinya. Tapi ia suka nama itu, juga untuk nama penanya.

Sebetulnya, seperti alasan-alasan klise lainnya, tak ada yang mau jadi tunggangan lelaki yang berbeda-beda jika bukan karena terpaksa. Ia sudah coba melamar ke mana saja, tak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena sosoknya. Kalau memungkinkan, ia ingin pindah ke Thailand, tapi ia urungkan dan berpikir untuk menulis cerita saja. Dalam dunia tulis menulis, orang hanya menilai dari ceritamu, bukan sosokmu. Ia berangan-angan, dengan menulis cerita ia bisa bebas finansial, tak perlu menjajakan diri seperti ini. Sesaat, ia merasa otaknya dipenuhi labi-labi.

Seorang pengendara vario hitam melambatkan motornya dan berhenti di depannya. “Mampir, Mas?” Alina Karina mengedip manja dan melontarkan senyum termanis yang ia punya. Lelaki pengendara motor itu sedikit gugup. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Sinar bulan membuat wajahnya tampak lebih pucat.

“Bonceng saya ke penginapan di ujung jalan sana, ya Mbak.” Alina Karina mengangguk dan langsung duduk di boncengan lelaki berjaket hitam itu. Bau musk yang terlalu pekat segera terhirup olehnya. Ia tidak peduli ke mana lelaki itu membawanya. Pikirannya dipenuhi bahan cerita apa yang bisa dibuatnya.  Ia bernazar, jika cerpen yang akan dibuatnya kali ini bisa tembus media ternama, ia akan berhenti menjajakan diri dan sepenuh hati hanya menulis cerita. Seandainya ia tahu, bahwa banyak penulis yang tak bisa menggantungkan nafkah dari cerita, tentu ia tak akan bernazar seperti itu dengan gegabah.

Pikiran Alina Karina masih dipenuhi dengan ide-ide cerita ketika lelaki itu membelokkan motor ke arah rimbun kebun jagung. Ia bahkan sedang memikirkan kalimat pembuka ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu membanting tubuhnya ke arah sela-sela tanaman jagung. Lelaki itu mencekik leher Alina Karina sambil mengerang bahwa pria yang menyalahi kodratnya seperti Alina Karina patut dimusnahkan dari dunia daripada membawa petaka bagi manusia di sekelilingnya. Di saat terakhir, Alina Karina telah melupakan hal-hal tentang cerita. Ia hanya terbayang Yuanita,  dengan suara cadel memanggilnya “Ayah”.***


Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

Cerpen

Daun Ketapang Merah

Cerpen Sasti Gotama

Kau terbangun dan menyadari  tubuh istrimu sudah tak ada lagi di sampingmu. Sebagai gantinya, ada sebuah guling merah muda yang sudah pudar warnanya dan sejumput aroma istrimu. Kau bangkit setelah mencium aroma kedua yang menyusup ke dalam kamar, aroma rempah-rempah. Sepertinya berasal dari dapur. Kau coba memilah-milah aroma. Sepertinya bau lada, cabai, kunyit, jahe, dan bunga cengkeh. Kau coba menebak-nebak, apa yang dimasak istrimu, namun tiga detik kemudian kau menyerah.

Kau langkahkan kaki menuju dapur dan melihat secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja makan. Satu-satunya penikmat kopi di rumah ini hanya dirimu. Istrimu lebih suka jahe hangat atau wedang uwuh. Jadi bisa kau pastikan, kopi itu memang milikmu.

Istrimu membelakangimu dan ia sedang menghadap wajan. “Aku membuat rendang,” katanya tanpa menoleh. Pastinya ia sudah menyadari kedatanganmu.

Kau mengernyit. Setahumu, rendang buatan ibumu tidak menggunakan bunga cengkeh dan lada. Rendang jawa menggunakan cabai merah besar, bukannya lada sebagai pemeran utama rasa pedas. Sedangkan dari masakan istrimu yang kau intip dari atas bahunya, tak kau temui jejas keberadaan cabai merah. Tapi kau tak mau ambil peduli. Apapun yang dimasak istrimu selalu kau santap. Bagimu, perasaannya lebih penting dari sekedar rasa enak di mulutmu atau rasa mulas di perutmu.

Kau menguap lalu duduk di kursi, menghadap pada kopi Gayo yang diseduh untukmu. Tanganmu meraih koran yang diletakkan di sebelah kopi. Walaupun sebetulnya lebih murah dan lebih cepat informasi dari media digital, tapi bagimu membaca koran adalah sebuah warisan yang kau lihat dari ayahmu bertahun-tahun yang lalu. Ada nilai sentimental sehingga kau tetap mempertahankan.

“Tadi pagi, sebelum Mas bangun, Marni mampir ke sini.”

Kau hanya bergumam tak jelas, hanya sebagai tanda kau mendengarkan istrimu. Kau cukup jelas mendengar suaranya walau ditingkahi suara desisan masakan di atas penggorengan. Matamu lebih terpusat pada tajuk utama berita hari ini. Demo  mahasiswa perantauan di daerah Kayu Tangan kemarin siang. Jalur itu biasa kau lewati setiap hari jika ingin sampai ke kantor tepat waktu. Kau menengok jam bulat di tengah ruangan. Pukul enam kurang seperempat. Setengah jam lagi kau harus berangkat jika tak ingin terlambat.

“Katanya, pohon ketapang di halaman rumah kita terlalu rimbun. Daun-daun keringnya beterbangan ke seluruh desa.  Sebaiknya dipotong saja.” Kau mengangguk setelah meneguk kopimu. Terasa asam. Kurang gula.

“Mereka membicarakan  aku.” Istrimu mendekat sambil meletakkan sepiring nasi dan daging berselimut bumbu cokelat yang ia katakan sebagai rendang.

“Mereka siapa?” Matamu masih tak lepas dari berita koran.

“Marni, Salamah. Semua tetangga kampung.Hanya gara-gara ketapang sialan itu. Kenapa ia berubah warna? Kenapa ia menjadi merah, lalu mengering dan luruh di halaman? Kenapa tak tetap hijau saja?”

“Tak ada sesuatu yang tetap dan tak berubah. Semua pasti berubah,” gumammu. Entah kenapa kau malah teringat tentang seorang gadis, bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia kau pinang menjadi istri.

Gadis bertopi caping merah, duduk mendongak di hadapanmu, di suatu lapangan yang panas dan para mahasiswa senior berteriak-teriak ganas.Ia serupa Pratjna Paramitha atau Ken Dedes menurutmu. Jika Ken Arok tergoda begitu melihat rahsya atau cahaya yang bersinar dari bagian tubuh istimewa Ken Dedes ketika turun dari kereta di Taman Boboji, maka kau langsung jatuh cinta ketika melihat pancaran cahaya dari matanya. Gadis itu menolak menunduk seperti mahasiswa-mahasiswa baru yang lainnya.Matanya berkilat marah.

“Perpeloncoan hanyalah salah satu warisan  kolonial yang dipertahankan!” serunya kala itu. Sebagai salah satu senior, kau bersandiwara membentaknya dan menyeretnya ke ruang X, tempat pembantaian mahasiswa baru. Tapi tentu saja, bukannya memarahinya, kau malah menyatakan cinta setelah kalian berdebat cukup lama. Kau suka gadis yang cerdas. Kau suka gadis pemberontak yang bisa diajak melakukan perdebatan panas. Dan kau pikir, gadis ini memiliki keduanya. Saat itu kau pikir, ia adalah satu-satunya cinta, dan kau takkan pernah jatuh cinta lagi setelahnya.

Tapi kau salah. Lima belas tahun kemudian, kau jatuh cinta pada antitesisnya. Semua tak pernah kau rencanakan, dan tiba-tiba, seperti nyamuk dalam jerat laba-laba, kau sudah terpintal di sarangnya. Perempuan itu, seseorang yang selalu membuatkanmu kopi manis di kantor tempatmu bekerja. Setiap pagi, tak pernah lupa. Sampai pada suatu pagi, kau melihatnya tersedu di pantri setelah alpa membuatkan kopi manis untukmu hari itu.

Ia berkata, putranya sakit, sedangkan suaminya sudah bertahun-tahun tak pernah pulang dari Malaysia, pun tanpa kabar berita. Harusnya saat itu kau ulurkan tisu bukannya sapu tangan. Sama halnya, harusnya kau berikan empati bukan simpati. Tapi kau lupa, dan tiba-tiba saja, seminggu kemudian, kalian adalah sepasang kekasih rahasia.

Perempuan itu, yang kau panggil Dik, tipikal wanita yang memegang teguh falsafah Jawa. Nrimo ing pandum, sendiko dawuh marang sigaring nyowo[1]. Kau adalah raja, dan ia tak pernah membantah sedikit pun. Kau merasa menjadi sebenar-benarnya lelaki yang melindungi perempuan, bukannya partner sejajar seperti yang kau rasakan di rumah.

Istrimu tak pernah tahu. Dan tentu saja ia tak akan pernah tahu jika saja sore itu, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah bank swasta,  tak mampir ke kantormu untuk memberi kejutan ulang tahun pernikahan kalian yang kesebelas. Ia tak sepatutnya masuk begitu saja ke kantormu tanpa mengetuk pintu. Saat itulah ia melihatmu sedang memeluk perempuan yang kau panggil Dik. Ia tak seharusnya terdiam dan meninggalkan kantormu tanpa sepatah kata. Kau lebih suka jika ia berteriak marah dan memecah barang-barang. Namun,istrimumemilih diam dengan mata menerawang, beberapa hari lamanya di dalam kamar, walaupun kau bersujud memohon ampun dan berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Pada hari kesepuluh, ia bangkit dan membuatkan kopi untukmu. Ia memasak aneka masakan dan tak pernah alpa membuatkan camilan. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaan dan tak pernah membantah sedikit pun perkataanmu. Kau merasa ia kembali tapi juga sekaligus hilang. Tak kau lihat lagi cahaya rahsya seperti yang kau lihat bertahun-tahun yang lalu di lapangan rektorat universitas. Ia … padam.

Kau tersadar setelah alarm jam tanganmu berbunyi. Pukul enam tepat. Istrimu masih di hadapanmu, duduk dan memandang tepat ke matamu. “Kenapa rendangnya tak dimakan? Apakah tak enak? Apakah Mas pikir isinya racun dan aku berniat membunuhmu?”

Kau menggeleng. Tentu saja kau tak ingin mengaku bahwa beberapa menit yang lalu kau terseret ke masa lalu. Kala istrimu masih serupa daun ketapang bewarna hijau, belum lagi bewarna merah dan luruh di halaman. “Enak,” katamu setelah mencomot sepotong rendang yang tak jelas rasanya. “Bungkuskan saja. Akan kumakan di kantor.”

Istrimu tersenyum dan dengan sigap menata makanan di dalam kotak makan berwarna jingga. Kau sedang memakai pakaian setelah mandi ala kadarnya ketika istrimu berteriak dari luar kamar mandi. “Nanti sore, bisakah Mas menjemput Anaya? Sekolahnya sedang ada perayaan tujuh belasan sampai petang.” Kau menjawab, menyanggupinya.Entah istrimu mendengarkan atau tidak.

Sesaat sebelum melangkah keluar pintu apartemen, kau mencium pipi istrimu. Lalu kau berbalik dan di hadapanmu hanyalah lorong panjang dengan lampu temaram. Tak ada halaman. Tak ada pohon ketapang. Tak pernah ada seorang anak bernama Anaya. Juga tak pernah ada Marni, Salamah, atau siapa saja. Kau kunci pintu apartemen dari luar dan berjanji pada diri sendiri, nanti sore akan segera pulang dengan membawa martabak. Namun, kau terhenyak. Kakimu memijak sesuatu. Kau menunduk dan melihatnya,selembar daun ketapang berwarna merah.

***


[1] Menerima segala lika-liku kehidupan, siap sedia/patuh terhadap perkataan belahan jiwa (bahasa Jawa).


Sasti Gotama, dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media online.

Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.