Cerpen

Bunda Menjelma Dewi Kunti

Cerpen  S. Prasetyo Utomo

Kembali Dewi Laksmi dan calon suaminya,Wisnu,  mendatangi Arum, ibu yang meninggalkannya. Arum tengah suntuk berlatih menari. Beberapa hari lagi iamesti mementaskan tari Dewi Kunti di salah satu gedung kesenian di ibu kota – dengan tiket yang sudah habis terjual. Ia yang lama meninggalkan suami dan anak-anak, bertanya dalam hati: benarkah aku telah memerankan Dewi Kunti dalam kehidupanku dengan menyia-nyiakan anak kandung? Ia merasa tidak seagung Dewi Kunti yang setia melindungi  kelima anaknya yang lain.

Permintaan penata tari Retno Ayu agar Arum memerankan Dewi Kunti dalam drama tari klasik telah mengusik perasaannya. Ia sangat mengagumi tokoh itu. Ia bisa menangis saat memerankan Dewi Kunti, saat menghadapi pertempuran dua anak kesayangannya: Arjuna dan Karna. Dewi Kunti telah menyia-nyiakan Karna dari bayi hingga akhir hayatnya.

Begitu mudah Arum memerankan Dewi Kunti, dan begitu cepat ia larut dalam jiwa Dewi Kunti. Terus-menerus ia mengulang menarikanlakonDewi Kunti, meski tanpa gamelan, di setiap kesempatan.

Berhari-hari Arum menarikan penderitaan Dewi Kunti dalam kisah kematian Karna dengan tubuh bergetar. Seluruh gerak, mimik wajah, tatapan, dan getar suara Dewi Kunti dihayatinya dengan kesempurnaan peran.

Dua hari sebelum pementasan, Arum ditemui Dewi Laksmi dan Wisnu. “Apa Bunda tak ingin kembali pada Ayah?”

Arum masih bimbang. “Aku belum bisa memenuhi permohonanmu.”

“Apa indahnya Bunda hidup sendiri?”

“Aku punya dunia sendiri. Bekerja, menari, dan menemukan teman-teman sendiri.”

“Kenapa dulu Bunda tak menuntut hal itu pada Ayah?”

“Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu,” tukas Arum. “Nikahlah. Semoga kau tak mengikuti jejakku, setelah nikah justru mencari kebebasan masa muda yang hilang.”

Arum ingin suntuk menarikan kegetiran jiwa Dewi Kunti. Tak mau direpotkan permintaan Dewi Laksmi. Dibiarkan gadis itu dan calon suaminya meninggalkan rumahnya dengan masgul. Ia terus menari, sambil melenyapkan bayangan wajah suami, anak sulung, Wulan, dan Dewi Laksmi, yang bakal menikah tak lama lagi. Ia menari untuk memenuhi dorongan hati. Ia terus mengikuti gerak tari Dewi Kunti.

                                                            ***

Sangatlama Arum tak ziarah ke makam Nyai Laras, leluhur para penari di kampungnya. Ia terusik untuk berziarah ke makam yang berada di pekarangan belakang rumah Aji, dekat masjid. Pintu pekarangan belakang rumah Aji selalu terbuka, yang memberi kesempatan pada siapa pun untuk ziarah. Langkah kakinya terasa berat, bergetar mendekati makam yang tampak megah, terawat, dan bersih. Masih seperti dulu, bila ia berziarah ke makam Nyai Laras, berhasrat memperoleh ketenangan jiwa. Kali ini pun demikian: menebar bunga, bersimpuh, berdoa, dan menemukan kembali gairah menari.

Ketika Arum bangkit dari berdoa, masih pada pendiriannya: tak ingin kembali pada suami. Ia merasa tenang, ketika tak memikirkan suami dan anak-anak. Ia hanya berpikir tentang menari. Seperti biasa ketika ia berdoa di makam Nyai Laras, kupu-kupu kuning beterbangan di atas rambutnya. Begitu ia bangkit dari bersimpuh, ingin beranjak, segera mengurungkan langkah. Turun dari mobil di pelataran itu pemilik rumah, Aji, keturunan Nyai Laras, bergegas menghampiri Arum. Menyalaminya. Aji sangat mengenal putri bungsunya, Dewi Laksmi.

“Bagaimana kabar Dewi? Lama saya tak ketemu dia.”

“O, dia hampir nikah.”

Arum menahan kegugupan. Ia tak mungkin bertahan lebih lama, takut bila Aji  bertanya lebih lanjut tentang Dewi Laksmi. Ia tak tinggal serumah dengan anak gadisnya itu, dan tak memahami perkembangan kepribadiannya. Meski sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama, tapi ia memutuskan untuk pulang.Arum mohon diri, bergegas meninggalkan Aji.

***

Di gedung kesenian ibu kota, sehari sebelum pementasan,Arum menghabiskan waktu seharian untuk memerankan Dewi Kunti bersama dengan pemeran Arjuna, Karna, dan Surtikanti. Ia menyelaraskan gerak tarinya dengan mereka. Ia juga menyelaraskan gerak tarinya dengan iringan gamelan. Ia mengikuti segala arahan penata tari, Retno Ayu, seorang penari sepuh yang sangat dihormati. Letih sekali tubuhnya. Tetapi ia merasakan kesuntukan menari yang membahagiakan.

Arum menari, meleburkan diri dalam jiwa Dewi Kunti.Ia melupakan suami dan Dewi Laksmi. Ia tak ingin tergoda rasa iba, membiarkan anak gadisnya memasuki gerbang pernikahannya, tanpa seorang ibu. Ia larut dalam gerak tari, ke dalam rasa berdosa Dewi Kunti, membuang bayi Karna. Ia terus menarikan keagungan seorang dewi yang dirapuhkan perasaan nista. Iringan gamelan membawanya lebur dalam derita Dewi Kunti.

Larut malam baru Arum kembali ke kamar hotel. Tubuhnya terasa letih, dan ingin cepat memejamkan mata. Tetapi selalu sajakamar hotel menciptakan keterasingan, yang membuatnya tak gampang tidur. Sepasang matanya terus nyalang.

Ketika minum teh hangat, sebelum sarapan, ia merasakan tubuh yang pelan-pelan terasa segar, meski kurang tidur. Ia masih memiliki waktu beristirahat sampai sore nanti, sebelum menuju gedung kesenian, tempat ia pentas. Di kamar hotel ia memutuskan untuk menari, terus menari, dengan iringan gamelan dari dalam hati. Ia merasa dirinya lenyap, dan yang hadir cuma Dewi Kunti. Caranya menatap, bukan lagi tatapan Arum, melainkan tatapan Dewi Kunti.

Gedung kesenian itu masih sepi, dan di belakang panggung sudah duduk bersimpuh di karpet Retno Ayu. Para penari duduk melingkar di sekelilingnya. “Menarilah seperti saat gladi resik. Temukan hakikat kehidupan kalian dalam setiap gerak tari. Ini hari pertama dari tiga hari pementasan kita. Kalau kalian bisa menyajikan pementasan yang memukau, tentu akan dikenang orang.”

Para penari menerima busana, didampingi perias. Alangkah cekatan perias mematut Arum seperti menjelma sang dewi. Arum naik panggung. Ia menari sebagai seorang ibu yang berada di tengah kancah pertempuran dua anak beda ayah yang berhadap-hadapan: Arjuna dan Karna. Tarian seorang ibu yang tak adil dalam memberikan kasih sayang. Ibu yang menikmati keagungan, mengingkari pengorbanan.

Tepuk tangan yang riuh menggetarkan gedung kesenian ketika seluruh penari memberi hormat pada para penonton, dengan bau harum bunga melati yang tertebar di atas panggung. Arum masih merasa dirinya sebagai Dewi Kunti. Lampu-lampu dinyalakan, sebagian penonton memburu ke panggung, menyalami Arum. Ia sama sekali tak merasakan letih setelah kurang tidur dan melakukan pementasan tari. Wajahnya masih segar,  bahkan mungkin lebih segar dari hari biasa. Sepasang matanya lebih cemerlang. Lebih agung.

Arum baru saja bergerak hendak turun panggung, ketika kemudian datang seorang laki-laki muda, menyalaminya, mencium tangannya. “Apa memang Bunda tega membiarkan kami nikah, tanpa didampingi seorang ibu?” suara lelaki itu tegas. Tetapi suaranyabergetar. Arum masih membiarkan tangannya digenggam Wisnu, calon suami Dewi Laksmi, yang tanpa diketahuinya menonton pergelaran tarinya.

“Sudahlah. Jangan terlalu diratapi,” balas Arum, menahan getar suara. “Akan Bunda pertimbangkan lagi untuk kembali pada keluarga. Tapi kalau saya tetap bertahan tak kembali pada Ayah, jangan kalian berkecil hati.”

Wisnu – sebagai pilot –  yang sedang tidak bertugas, memang sengaja menonton pergelaran tari Arum. Dewi Laksmi yang meminta agar menemui ibu kandungnya. Wisnu yang memahami benar perasaan calon istrinya, getir juga menghadapi sikap calon ibu mertuanya: kukuh pendirian, bukan berkemauan kembali pada keluarga.

                                                                      ***

HARI kedua pergelaran usai, di antara serakan bunga melati di panggung, Arum berharap tak bertemu seseorang yang menyeretnya kembali ke dunia lama: dunia seorang ibu yang tenang, setia pada suami. Begitu banyak orang menyalaminya dengan takjub, dengan rasa kagum dan sanjungan. Ketika para penonton sudah mulai meninggalkan gedung kesenian, ia turun panggung. Ia dihadang suami-istri setengah baya, tampak terpelajar dan santun, menyalaminya.

“Saya ayah Wisnu, calon besan Ibu,” kata sang suami, enam puluh tahun, menampakkan keramahannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu di sini.”

“Sudah sangat lama kami ingin bertemu Ibu,” kata si istri. “Kebetulan suami menerima tawaran sebagai pembicara di sebuah universitas siang tadi, dan berencara nonton pergelaran tari ini. Sekalian saya ikut serta.”

Tersipu-sipu, Arum hampir tak dapat mengatakan apa pun. Canggung. Terpukul. Malu. Tetapi ia mesti bersikap ramah, dan tak luruh kehilangan kepribadian. Ia tahu dari cerita Dewi Laksmi, calon ayah meertuanya seorang guru besar di sebuah universitas ternama di Yogya.

“Terimakasih, sudah bersusah payah mencari saya di sini,” balas Arum. “Titip anak gadis saya, Dewi Laksmi.”

Tak sekali pun mereka, calon besan Arum, meminta padanya agar kembali pada suami. Mereka lebih banyak menyanjung pergelaran tarinya. Kali ini ia lebih tenang, lebih riang, dan merasa terbebas dari segala harapan kembali pada suami.

Suami-istri calon besan itu mesti kembali ke hotel tempat mereka menginap, dan esok pulang dengan penerbangan pagi. Mereka meninggalkan gedung kesenian tempat pergelaran tari. Tetapi Arum masih mematung di panggung: merenungi perilakunya sendiri.

                                                              ***

USAI pergelaran tari hari ketiga, dengan penonton yang memenuhi gedung kesenian, Arum merasakan kesempurnaan pergelaran tarinya. Seluruh penari tampil dengan kesuntukan peran. Ini pergelaran terakhir. Berdiri di atas panggung, dengan tebaran bunga melati – yang kali ini membuka rasa pedih di hati – Arum merasakan keharuan seorang ibu. Ia teringat kematian Karna di pangkuannya, dengan anak panah Arjuna tertancap di dada. Kematian yang gemilang. Tetapi memilukan: anak yang disia-siakan ibu.

Beberapa orang penonton menaiki panggung, menyalami para penari. Retno Ayu, penata tari, memeluk Arum, hangat dan penuh kasih. Penata tari itu berkaca-kaca, suaranya tersendat, “Terimakasih, sudah mementaskan tari tanpa cela. Lain kali, kuajak kau pentas ke lain kota.”

Retno Ayu menyalami penari lain, dan para penonton dengan penuh kesabaran menemui Arum untuk menyalami, foto bersama, atau menyanjung. Panggung pun sepi. Lambat-lambat Arum melangkah hendak menuruni panggung. Telapak kakinya masih terasa menginjak serakan bunga-bunga melati.

Belum mencapai undak-undakan panggung, seorang gadis menyambutnya dengan uluran tangan. Menyalaminya. Mencium  tangannya. Lama. Ketika wajah gadis itu diangkat, terasa lelehan bening yang hangat di punggung tangan Arum. Wajah gadis itu terangkat pelan-pelan. Tampak sepasang matanya yang berair itu menggugatnya.

“Bunda telah menjelma Dewi Kunti,” kata Dewi Laksmi, yang tak diduga Arum, meluangkan waktu menonton pergelaran tarinya. Dewi Laksmi tak menyampaikan permintaan apa pun. Hanya tatapan matanya yang berair itu yang mengisahkan perasaannya.

Dewi Laksmi meninggalkan panggung. Melangkah ke arah pintu keluar gedung kesenian. Arum hanya memandangi punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Gadis itu telah menggugatnya. Bukan menyanjungnya. ***

Pandana Merdeka, Juli 2019


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut(HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Terkapar

Cerpen M. Arif Budiman

Sudah hampir satu jam tubuh Pras terkapar di trotoar. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya. Orang-orang beranggapan ia telah mati. Tidak. Pras tidak mati. Ia hanya tertidur. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tertidur seketika.

Anehnya, Pras melihat tubuhnya sendiri yang terkapar dan menjadi pusat perhatian orang. Ia duduk tertegun dengan kedua kaki dirapatkan ke dada. Ia berpikir, bagaimana mungkin semudah itu ia mengatupkan kelopak mata dan terkapar begitu saja.

Ini bukan hal pertama bagiPras.Sudah banyak cara yang dilakukan Pras untuk mengobati penyakitnya. Mulai meditasi, yoga, fitness, minum obat penghilang rasa kantuk, hingga obat pencegah katapleksi. Namun dari semuanya itu tak ada satu pun yang dapat mengatasi penyakitnya.Pras tetap tertidur dimanapun ia merasa mengantuk.

Melihat penyakit suaminya bertambah parah, Maya berinisitif untuk membawa Pras ke dokter saraf. Menurut pemeriksaan dokter,Pras terserang penyakit narkolepsi, sejenis penyakit saraf yang menyerang sistem pengaturan tidur. Penyakit tersebut membuat si penderita merasakan kantuk yang tak tertahankan. Bahkan acap kali berhalusinasi seperti mendengar suara orang memanggil.

Dari hari ke hari Prassemakin jenuh dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa penyakitnya sudah sangat keterlaluan mendikte hidupnya. Untuk kedua kalinya, ia putuskan mengunjungi dokter. Kali ini Pras datang sendiri tanpa ditemani istrinya.

“Saya sudah lakukan berbagai cara untuk mengobatinya, Dok. Termasuk mengonsumsi obat yang dokter berikan. Tapi hasilnya nihil. Saya masih tetap tertidur dimanapun saya berada. Ini sudahketerlaluan, seolah sengaja ingin menjatuhkan nama saya di depan publik. Bahkan saya menduga penyakit ini tengah mengincar jabatan saya di kantor. Ini tak boleh dibiarkan, Dokter. Molong sembuhkan penyakit saya ini. Saya tak ingin, karier yang selama ini saya bangun dari bawah runtuh begitu saja.”

“Saya harap Anda tetap tenang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan mengobati Anda lebih serius, tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa, Dok?”

“Anda harus menginap di sini beberapa malam dan tak boleh pulang sebelum saya izinkan.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Dok? Jangan-jangan ketika saya izin kerja, penyakit ini akan mengambil posisi saya di kantor.”

Dokter tersenyum, “Anda tak perlu khawatir. Saya sudah siapkan segalanya agar penyakit Anda tetap di tempat ini. Sebaiknya Anda pulang untuk mempersiapkannya.”

Esok harinya, Prasmengunjungi dokterdiantar istrinya, Maya.

“Anda sudah siap menjalani terapi?” tanya dokter.

“Siap, Dok,” jawab Pras antusias.

“Baik. Sebelum saya melakukan pengobatan, saya akan mengecek seluruh kegiatan ketika Anda tertidur. Nantinya Anda akan kami pasang alat untuk mengecek gelombang otak, napas, oksigen dan jantung Anda.”

Setelah Pras menyanggupi perkataan dokter, ia pun diajak ke sebuah ruangan.Pada awalnya Pras merasa takut dengan kondisi ruangan itu. Namun karena desakan keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam dirinya, juga desakan istrinya, ia pun menepis rasa takut itu. Ia menaiki ranjang periksa.

“Sebaiknya Anda minum obat tidur ini untuk membantu Anda cepat tertidur.”

Prasmengangguk, meski ada rasa heran di hatinya. Heran karena ia inginmengobati penyakit yangselalu tertidur, tapi malahminum obat tidur.

Setelah Pras terlelap, dokter mulai memasang alat perekam otak. Beberapa kabel penghubung mulai direkatkan pada titik-titik tertentu di kepala Pras. Mulai dari pelipis, pipi, kening, dagu hingga pangkal leher. Tak lupa selang oksigen terselip di kedua lubang hidup.

Tak butuh waktu lama, segala macam aktivitas dalam tidur Pras pun terekam oleh komputer. Diawali bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, memakai sepatu, naik taksi, turun taksi, bersalaman dengan beberapa rekan kerja, naik lift, keluar lift, masuk ruang kerja, duduk santai, membuka berkas-berkas, membuka laptop, mengecek angka-angka yang tersusun dalam program exel, mengubah angka-angka itu menjadi lebih besar nominalnya, lebih besar, dan lebih besar lagi. Lantas membuka ponselnya, membaca WA ucapan ‘terima kasih’ beserta emotikon setangkup tangan, membaca laporan SMS internet banking transfer dengan nominal uang memiliki sembilan ‘nol’, kembali membaca WA ucapan ‘sayang’ dengan emotikon bibir dan sepasang daun waru merah muda, keluar kantor, naik taksi, check in hotel, masuk kamar nomor 69,check out hotel, naik taksi, pulang, bertemu Maya, dan menyembunyikan peristiwa-peristiwa. Tiba-tiba gambar pada layar komputer berhenti menayangkan frame-frame perjalanan Pras dalam tidurnya.

Seketika itu Pras terbangun. Namun kembali ia dapati melihat tubuhnya terkapar. Ia juga melihat dokter saraf dan istrinya, Maya. Dokter saraf tampak sedang mencopoti kabel-kabel pada kepala Pras, sementara Maya tampak terisak. Seusai mencopoti kabel-kabel dan selang oksigen pada Pras, dokter sarafdengan dibantu Maya membopong Pras ke kursi roda dan memasukkan ke dalam mobil. Mereka membawa tubuh Pras pergi membelah malam.

Di sudut kota, dokter dan Maya menurunkan Pras di trotoar dan meninggalkannya begitu saja. Pras mencoba memanggil mereka, tapi sia-sia. Pras tertegun melihat tubuhnya sendiri. Ia tak habis pikir mengapa merekaseperti tak memedulikannya. Pras mencoba membangunkan tubuhnya, tapi tak bisa. Hingga pagi, tubuh Pras masih terkapar di trotoarmenjadi perhatian pengguna trotoar, namun tak ada satu pun orang yang mencoba membangunkannya. Pras tak bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak tahu doktertelah menyuntikkan arsenik ke dalam tubuh Pras atas permintaan Maya.

***

Kudus, Maret 2018


M.Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Cerpen

Cinta Terlarang

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Cerpen

Jika Ada Cara Termanis untuk Mati

Cerpen Marcelina Chintia Devi

Jika ada cara termanis untuk mati, aku pasti akan memilihnya. Hanya saja, mengatur kematian nyatanya adalah sebuah kepahitan. Semua baju-bajumu kulipat rapi di lemari, barangkali kau akan pulang sebentar, untuk mengambil sisa-sisa barangmu. Secangkir kopi dan sepiring roti bakar, mungkin sudah berjamur, aku masih menunggumu untuk menghabiskan sisanya. Maaf jika ada beberapa barangmu tak kau lihat tampak di kamarmu atau rumah kita ini, sebagian kubuang, tak lama setelah kau memutuskan pergi dari rumah ini.

Awalnya kukira semua sempurna. Kau yang saat itu masih mahasiswa semester awal, begitu aktif di berbagai kegiatan kampus, hingga bertemulah kita di lapangan basket itu. Kau tidak memiliki sanak saudara di kota ini, dan toh aku sendirian di rumahku sepeninggal orangtuaku. Kutawarkan satu kamar di rumahku, dengan biaya yang tak semahal kosan yang lain. Aku tahu kau tak cukup mampu untuk membayar kos, maka tanpa pikir panjang kau mengiyakannya.

Lantas banyak waktu kita habiskan bersama. Di antara anak-anak kos yang lain kau yang paling menarik perhatianku, menurutku. Kau tak banyak bicara, tak seperti yang lain selalu meriuh sampai tengah malam. Bahkan mereka baru pulang tengah malam, sambil menggandeng perempuan masuk ke kamar. Erangan-erangan menjelang pagi selalu saja kudengar. Tanpa merasa bersalah mereka yang masih berbalutkan selimut melingkar di badannya yang telanjang duduk di ruang tamuku sembari merokok. Aku tidak suka dengan sisa-sisa abu yang berjatuhan di mana-mana. Kau selalu membantuku bersih-bersih keesokan harinya.

Kau yang paling sering mengantarku pergi, mungkin karena kau hampir setiap hari di rumah. Seringkali aku menyapu halaman atau menyiram tanaman-tanamanku diiringi biolamu yang terdengar sendu dari luar kamarmu. Kau bantu aku mencuci mobil, memperbaiki semua barang yang rusak, dan kau sangat menghormati aku. Ketika anak kos yang lain tidak betah dan beranjak pergi dari sini, hanya kau yang akhirnya tetap tinggal. Seringkali kau menceritakan sanak saudaramu jauh di sana, dan aku tahu, kau adalah anak kesayangan bapakmu.

Empat tahun berlalu, kukira semua baik-baik saja, sampai suatu waktu kau hampir tak pernah pulang selama sebulan. Akukhawatir, kesepian, rinduku memuncak. Kau bilang sedang urus skripsimu, mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya. Aku pikir itu hal yang biasa, tapi kemudian ada hal yang berbeda kutemukan di kamarmu. Dengan kunci serep kubuka kamarmu, dan tentu saja yang sudah sering kulakukan, membelai-belai bantalmu, atau memeluk gulingmu sampai tertidur. Saat aku menciumi baju-bajumu, aku mencium aroma yang lain. Kamarmu yang biasanya selalu rapi, kali ini berantakan dan tak beraturan. Ingin rasanya aku merapikannya, dan mencucikan semua bajumu, tapi nanti kau akan tahu, aku sering masuk kamarmu.

Suatu malam, ketika aku setengah terbangun, kudengar langkah kakimu, tetapi tidak sendiri. Tampak lirih suara perempuan berbisik, jantungku terasa berhenti, kutahan untuk tidak menangis, dan kugenggam erat guling di kamarku.Sesak napasku setiap kali mendengar erangan itu, semakin malam semakin keras. Kudengar deru napasmu menikmati perempuan itu, membuatku semakin tegang mengerang, namun di sisi lain, hancur pula hatiku. Teringat setiap kali tanpa kau sadari, aku mengintipmu dari lubang jendela yang jarang kau tutup tirainya, kau tidur hampir telanjang, aku bisa melihatmu sepuasnya kala itu, atau ketika terdengar nyanyianmu ketika mandi, membuatku tak sungkan menikmatinya sembari mengintip dari kamar mandi sebelah. Aku hancur, dan aku menyadari, tak lama lagi kau akan pergi.

Pagi itu, dengan mata sembab, aku mencoba keluar kamar, dan mendapatimu duduk di ruang tamu, bersama seorang perempuan yang tersenyum di pelukanmu. Perempuan macam apa itu, tidak pulang dan malah menginap di kamar kosan laki-laki, mengerang sepanjang malam, dan merebut semuanya dariku dalam sekejap. Dikenalkannya dia sebagai pacarmu. Aku mencoba tersenyum, meskipun aku tahu, semakin aku melihatmu bahagia, semakin tajam pisau menancap di jantungku.

Sebulan kemudian kau pamit padaku, kau bilang skripsimu sudah selesai, dan kau sudah serumah dengan perempuan jalang itu, mungkin dalam waktu dekat kalian akan menikah. Kau peluk aku untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mencoba untuk melakukan pelukan formalitas menyambut hangatnya badanmu, meskipun ingin rasanya aku memelukmu lebih lama dan erat.

Kucetak dan kukumpulkan semua foto-fotomu yang diam-diam kuabadikan, setiap malam aku memandanginya, sambil sesekali kulepaskan semua penat dan nafsuku semalaman. Beberapa lembar bajumu yang mungkin kau rasa hilang sebelum kaucuci, kujadikan teman tidurku setiap hari. Kali ini semua sudah kucuci, dan kubereskan, kuletakkan di meja kamar ini dengan rapi. Foto-foto itu untuk kamu, barangkali istrimu mau menyimpannya.

Sudah lama aku memendam perasaan ini, seperti halnya aku memendam jati diriku sebenarnya. Kucoba untuk menghindar dari diriku sendiri. Perempuan-perempuan yang nyatanya setiap hari selalu dating di rumahku, yang membuatmu dan teman-teman kosmu dulu menganggapku hebat dengan seringnya membawa mereka pulang bergantian, toh mereka semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang coba kucari jawabannya. Meskipun aku tahu jawabannya, dan jawabanku adalah kamu.

Tidak mudah bagiku untuk memahami diriku sendiri, bahkan meskipun aku semakin lama semakin meyadari siapa aku ini. Jika pendapat masyarakat tidak berbeda dengan cambukan keras bapakku ketika melihatku memakai rok kakakku, untuk apa aku mengakuinya, dan itu berat. Menahan keinginanku untuk memelukmu setiap kali kau tertidur dengan pintu terbuka, atau melihatmu keluar kamar mandi seenaknya dengan berbalut handuk kecil di kemaluanmu, lantas aku harus segera berlari ke kamar untuk melepaskan semua, kamar yang tak pernah dibuka oleh siapapun, bahkan perempuan- perempuan jalang itu.

Aku sudah selesai, dan tidak mau tersiksa seperti ini, jika manusia sepertiku ini tidak bisa menjadi apa adanya, kenapa aku diciptakan? Lantas aku hanya akan membawa luka yang tertoreh sepanjang waktu,dan cintaku padamu hanyalah angan tak bermakna.

Maka, jika kau merasakan pahit yang sama, minumlah kopi itu bersamaku.

***

Selesai kubaca surat itu, ada perasaan ngeri sekaligus kasihan yang kurasakan. Sembari mencari-cari apalagi yang bisa kujadikan barang bukti, sementara menunggu tim yang lain datang untuk mengevakuasi mayat itu. Miris rasanya, melihat lelaki setampan itu, hanya terduduk kaku di kursi samping tempat tidur, dengan tubuh telanjang dan mulut berbusa.Nampaksemua barang-barang di rumah itu sudah tertata rapi, seolah dipersiapkan untuk menyambut kunjungan kami, atau entah siapa yang dia harapkan datang.

Tak berapa lama beberapa lelaki datang, tetap dengan tenang namun tampak haru, mencoba melihat kondisi kamar tersebut. Kuberikan surat itu kepada mereka. Sejenak mereka membacanya, berubahlah raut muka mereka dengan tajam, dan seorang yang paling muda di sana, yang tinggi besar dan berwajah pemalu, tanpa berpikir panjang langsung lari keluar rumah dengan pandangan nanar dan jijik.

***


Marcelina Chintia DeviLulusan S1 Arsitektur UNS dan S2 Magister Perencanaan Arsitektur Pariwisata (MPar) UGM. Berporses bersama beberapa teman membentuk studio arsitektur bernama oarchstudio, dan bekerja paruh waktu di Yayasan Rumah Karya Kreatif Indonesia sebagai pendamping dalam perencanaan kawasan Desa Wisata Plumbon, Tawangmangu, Karanganyar.

Cerpen

Otok-Otok dan Suara Seorang Perempuan dalam Kepala Gustam

Cerpen Erwin Setia

Sepulang dari kantor, Gustam melewati pinggir pasar, ia mendapati seorang anak memegang otok-otok dan seketika masa lalu membayang di kepalanya.

Masa itu belum terlalu jauh. Belum lebih dari lima belas perputaran bumi terhadap matahari. Tapi rasanya sudah tak bisa digenggam. Sudah jauh lepas dan mengingat-ingat tak membuatnya lantas kembali di genggaman.

Pada usia lima sampai tujuh tahun, Gustam suka ikut dengan ibunya pergi ke pasar. Ia turut ke pasar bukan untuk berjumpa dengan penjual daging yang genit kepada ibu-ibu muda atau untuk mendengar suara serak preman pasar yang napasnya berbau tak sedap—belakangan ia tahu itu aroma minuman keras. Ia mau ikut ke pasar, merelakan diri bangun lebih pagi dari biasanya, hanya untuk melihat-lihat aneka mainan. Syukur-syukur jika ibu berbaik hati membelikannya.

Salah satu mainan yang paling terkenang di benak Gustam adalah otok-otok. Sebuah mainan berbentuk kapal yang terbuat dari bambu atau kaleng. Ketika dinyalakan—lazimnya dengan bahan bakar minyak kelapa—mainan itu akan bergerak di atas air dan menimbulkan bunyi otok-otok. Bunyi itulah yang kini memenuhi kepala Gustam.

            “Apa bagusnya mainan itu, Gustam?”

            “Suaranya lucu, Bu. Bentuknya juga keren. Lihat cara benda itu bergerak. Seperti kapal laut di tv.”

            “Itu hanya mainan. Sebentar lagi juga ia akan berhenti bergerak. Lalu kamu bosan dan tak memedulikannya lagi.”

            “Tidak, Bu. Lihat, ia terus bergerak. Bergerak dan berbunyi unik.”

            “Baiklah. Bang, saya beli otok-otoknya satu.”

            “Wah. Terima kasih, Bu. Aku senang. Aku pasti tidak akan bosan bermain dengan otok-otok ini.”

Percakapan itu, dengan gambaran ibu, otok-otok, dan suasana pasar menjadi latar bagi lamunan Gustam pada sore yang gerah itu. Ia tak ingat sudah berapa lama tak melihat kapal mainan itu—sebelum kemudian melihatnya lagi saat ini. Ia juga tak tahu di mana otok-otok pembelian ibunya—otok-otok pertama sekaligus terakhirnya—kini berada. Apakah dulu mainan itu rusak lalu ayah buang bersama rongsokan lain atau hilang di suatu tempat atau masih teronggok di suatu gudang. Ia tak benar-benar tahu. Dulu, setelah otok-otok, beragam mainan lain muncul menggantikan. Mobil mainan, kereta mainan, pistol mainan, dan begitu banyak mainan lainnya. Otok-otok pun terpendam dan terlupakan. Persis dengan hal-hal lain apa pun di dunia ini. Tidak pernah ada yang bertahan terlalu lama. Karena dunia bergerak begitu cepat dan perubahan begitu kejam melindas hal-hal silam.

Gustam tersadar dari lamunannya ketika seorang gadis menegurnya.

            “Hai, kamu sedang mikirin apa?”

Gadis itu adalah rekan kerjanya. Alena. Ia berdiri di depan Gustam dengan kepala dimiring-miringkan seakan sedang meneliti apa yang terjadi pada diri Gustam sehingga ia terdiam begitu lama.

            “Oh, Alena. Tidak. Hanya hal kecil.”

            “Apa itu?” tanya Alena, masih dengan pandangan menyelidik.

            “Otok-otok. Kau tahu otok-otok?”

            “Ah, iya, aku tahu. Tapi aku lebih suka boneka barbie.”

            “Dulu ibuku pernah membelikanku otok-otok. Kemudian tak sengaja tadi aku melihat seorang anak kecil memegang otok-otok. Dan tiba-tiba saja pikiranku terlempar ke masa lampau. Semacam itulah.”

            “Kau suka bernostalgia, ya?”

            “Tidak juga. Hanya saja, ingatan-ingatan semacam itu memang sulit dicegah.”

            “Kau benar.”

Setelah ucapan pendek Alena itu, keduanya tampak seperti sepasang manusia yang dikutuk menjadi patung. Hanya diam dan nyaris tak berkedip. Saat sebuah becak yang membawa buntalan sayur hendak lewat dan sang penarik becak berteriak menghardik dua orang yang mengganggu jalannya itu, barulah Gustam dan Alena tersadar. Keduanya meminta maaf secara spontan dan berpindah ke tempat yang lebih tepat. Lebih tepat untuk ditempati dua orang yang tampaknya punya cukup waktu luang untuk sekadar bercakap-cakap atau mengamati hiruk-pikuk sore hari.

Di atas kursi halte, mereka duduk, dan mulai berbincang.

            “Rumahmu tak jauh dari sini?” buka Alena yang kelihatan tak nyaman jika hanya berdiam-diaman saja.

            “Satu kali naik angkot lagi, sampai.”

            “Aku juga. Jangan-jangan kita tetanggaan?”

            “Aku naik angkot ke arah barat. Kamu?”

            “Aku ke arah timur. Sayang sekali. Kupikir kita bisa lebih lama bersama dan melanjutkan percakapan di dalam angkot.”

            “Kamu suka ngobrol seperti ini dengan semua orang?”

            “Enggaklah. Malah aku ini sebetulnya pendiam. Memangnya kau tak memperhatikanku sewaktu di kantor. Aku tidak banyak omong, tahu.”

Gustam diam sesaat dan berusaha mengingat bagaimana Alena ketika di kantor. Memang, dibanding perempuan-perempuan lain di kantor, ia jarang mendengar suara Alena. Alena tak terlalu mencolok kalau dibandingkan dengan rekan-rekan perempuannya yang cerewet dan berisik seperti mesin diesel.

            “Entah. Aku memergokimu melamun dan tiba-tiba saja tebersit untuk menyapamu dan membangun percakapan-percakapan. Boleh, kan?”

            “Oh iya. Tentu saja,” kata Gustam sedikit tergeragap.

            “Kau mau tahu sesuatu?”

            “Apa?” Gustam mencoba untuk terlihat antusias. Ia tidak ingin membuat siapa pun merasa tak enak hati.

            “Aku suka membaca cerpen. Pagi tadi aku membaca cerpen tentang seorang lelaki yang bertemu dengan perempuan yang seratus persen sempurna. Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

Gustam berpikir sejenak. Tidak ada gambaran apa-apa di benaknya menyangkut perempuan selain rona ibunya. Ibunya yang sudah beranjak tua dan sakit-sakitan. Tiba-tiba rasa rindu menyambar dirinya. Mungkin pada akhir pekan ia akan pergi ke rumah ibu, mencium tangannya yang berkerut, dan meminta maaf atas segala kesalahannya.

            “Hei, mengapa kau malah diam?” Alena menepuk bahu bidang Gustam. Gustam terlonjak bagai orang yang baru terjaga dari tidur nyenyak. “Hobimu melamun, ya?”

Gustam menggeleng-gelengkan kepala, mengusap matanya, dan meminta Alena untuk mengulang perkataannya.

            “Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

            “Sempurna?”

            “Ya.”

            “Memangnya di dunia ini ada sesuatu yang sempurna?”

Mendengar kalimat itu, Alena tergelak. Ia meminta Gustam untuk melupakannya saja. Ia lalu bertanya apakah Gustam juga suka membaca cerpen. “Kadang,” jawab Gustam. Kemudian Gustam bercerita bahwa baru-baru ini ia membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Dalam salah satu cerpen di buku itu, Gustam ingat betul satu penggalan kalimat, yang kira-kira berbunyi begini: Tapi tak pernah ada penderitaan terakhir. Kau tahu itu.

Alena tergelak lagi. “Kau ini aneh, ya. Aku sedang bicara tentang kesempurnaan. Kau bicara tentang penderitaan.”

Gustam tersenyum tipis. Ia agak malu. Ketika tadi Alena bertanya tentang cerpen, yang terlintas di benaknya memang hanya sebuah cerpen—tepatnya sepotong kalimat dalam cerpen—yang berisi tentang penderitaan. Ia tidak mungkin bisa mengendalikan pikirannya. Pikiran-pikiran semacam itu selalu bekerja di luar kendali.

Sebuah angkot berwarna merah tua dengan bagian bemper sebelah kiri sedikit penyok melintas dan berhenti. Alena bangkit. Ia pamit kepada Gustam dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan. Ketika angkot yang ditumpangi Alena sudah berjalan kembali dengan meninggalkan kepulan asap kelabu, seorang ibu bersama anaknya duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Alena.

Anak itu menggenggam otok-otok. Ia mengangkat mainan itu dan menggerak-gerakkannya seolah-olah udara adalah air sambil menimbulkan bunyi otok-otok dengan mulutnya. Berulang-ulang. Tok-otok-otok-otok-otok...

Gustam memperhatikan gerakan anak itu dan dengan khidmat mendengarkan tiruan bunyi otok-otok yang dibuatnya. Ia membayangkan anak itu dan ibunya sebagai dirinya dan ibunya di masa lalu. Ia senang membayangkan itu. Dan ia akan lebih senang jika kemungkinan bahwa masa lalu indah semisal itu dapat terulang. Tapi tak pernah ada masa lalu yang terulang. Ia tahu itu. Sama seperti tidak ada hal yang sempurna dan tidak ada penderitaan terakhir.

Sebuah angkot berwarna merah tua kembali melintas dan berhenti. Ibu dan anak yang menggenggam otok-otok itu beranjak menaiki angkot. Suara musik dangdut dari angkot itu keras sekali. Begitu angkot itu kembali berjalan dan sayup-sayup suara perlahan menjauh, Gustam merasa seperti seorang penduduk bumi terakhir yang ditinggal para penduduk lain yang sudah pergi ke mars. Sendiri dan sepi.

Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Sudah cukup sore. Tapi angkot yang ditunggunya belum juga tiba. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam.

Ia bangkit dan memutuskan berjalan kaki sambil menanti angkot lewat. Anggaplah pada langkah keseratus sembilan puluh sembilan atau kedua ratus, angkot berwarna biru telur asin melintas. Tapi Gustam memilih untuk terus berjalan kaki. Sementara kakinya melangkah, bunyi otok-otok dan suara lembut Alena sedang bercokol di dalam kepala Gustam. Dan ia tak ingin suara-suara itu berakhir.***

Bandung, 1 Mei 2019


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos,Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Berakhirnya Kuasa Tuan Tanah

Cerpen Ken Hanggara

Tuan Markoni memberiku segenggam tanah untuk kubawa pulang. Orang-orang di teras rumah mewah itu menatapku gembira. Aku tak bisa berkata apa-apa. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan terlalu banyak lelaki bertubuh kekar berdiri mengawal tuan tanah keparat itu. Akhirnya, aku mundur. Pulang, meski jelas semua tahu entah ke mana aku bisa pulang. Satu-satunya yang terlintas di benakku adalah rumah Sapono.

Rumah itu terletak di tepi desa, dekat sebuah hutan dan jurang yang semenjak dulu dikabarkan sebagai titik terkutuk; iblis dan sekutunya kerap bercengkerama di jurang itu. Tidak sedikit orang mencari harta dan kuasa di bagian tergelapnya. Entah sejak zaman apa jurang dan hutan itu dianggap keramat dan entah berapa banyak orang yang sudah membuktikan. Orang-orang desa sendiri tak tahu. Mereka hanya berkata, “Sapono yang tahu tentang itu.”

Aku sendiri mengenal Sapono sejak masih kecil. Setahuku, dari dulu hingga kini dia tampak seperti itu-itu saja. Tahun demi tahun menggiringku ke kedewasaan. Wajah Sapono tetap sama seperti saat aku pertama kali melihatnya.

Tidak ada orang yang dekat dengan Sapono. Orang kerap bercerita yang aneh-aneh tentangnya, meski tidak ada bukti. Seperti tentang keluarga yang dia miliki, yang hilang tidak tentu rimbanya di hutan tersebut karena sebuah ritual sesat, namun tidak pernah ada usaha dari Sapono untuk mencari mereka. Versi lain mengatakan, dia menjadikan anak istrinya tumbal agar bisa hidup abadi. Tuduhan ini agak lebih mendekati masuk akal. Pasalnya, seperti yang sudah kubilang, wajah Sapono seakan terkurung oleh waktu; tak berubah bahkan mungkin hingga kiamat tiba nanti.

Jika kini seseorang memotretku dan Sapono yang sedang duduk berdua, barangkali siapa pun yang melihat hasil potretnya akan menganggap kami seumuran. Tentu saja dia jauh lebih tua dariku. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah istrinya dan juga tak pernah memiliki kenangan apa pun tentang seorang Sapono yang berkeluarga. Bagiku dan teman-teman sepantaranku, sedari dulu Sapono sudah terkenal sebagai lelaki tidak waras yang penyendiri.

Dulu, aku dan teman-teman suka menjadikan Sapono bahan ledekan, sebab mengira dia gila. Tapi, kami tak melakukannya di depan yang bersangkutan. Kami akan bersikap sopan dan tenang saat Sapono sang pendiam melintas, lalu menjadikannya bahan-bahan cerita humor yang kami buat sendiri begitu dia sudah sampai di jarak yang kiranya tidak bakal bisa mendengar ledekan kami. Jujur saja kisah-kisah kami tentang Sapono sangat keterlaluan, sehingga ketika usia kami sudah cukup disebut remaja, aku merasa sangat berdosa padanya, dan berhenti melakukan itu, meski sebagian teman masih saja gemar meledek Sapono di belakang.

Sayangnya, perjalanan hidup yang tak mulus membuatku jarang lagi bisa bersama teman-teman. Waktu itu orangtuaku tak bisa berbuat apa-apa selain berutang ke seorang tuan tanah sekaligus lintah darat, Tuan Markoni, untuk menumpas penyakit aneh yang menggerogoti Ibu. Itu terjadi dua puluh tahun lalu. Ibu tidak sembuh. Dokter jelas tak bisa mencoba usaha lain karena tidak ada lagi yang bisa dipinjam dengan catatan utang dan bunga yang terlalu menumpuk. Ayahku, meninggal dalam lelah dan putus asa.

Suatu ketika, saat tiap anak lelaki berlomba-lomba mencari perempuan, aku malah bekerja susah payah dari pagi hingga larut malam di pabrik pengolahan limbah milik Tuan Markoni. Gajiku sebagian besar dipotong guna mencicil utang pembiayaan ibuku dulu, sedangkan sedikit sisanya kupakai untuk makan seadanya. Dalam situasi semacam itulah, kedekatanku dengan Sapono mulai terjadi.

Awalnya, aku menangis sendiri di tepi hutan dengan pikiran-pikiran akan mengajak iblis bersekutu demi memberiku kekayaan. Bagaimana tidak? Aku sudah buntu akal. Di tahun ke tujuh belas semenjak aku mengabdi pada tuan tanah itu, utang-utang kami tak juga dianggap lunas, padahal menurut hitunganku, utang kami sudah lunas sejak lima tahun lalu. Bunga yang terlalu gila dan tak masuk akal, yang terus berkembang dengan sesuka perut sang tuan tanah, menjadikanku tidak henti diperdaya, entah sampai kapan. Demi melihat teman-temanku telah menata hidup mereka, sedang aku sendiri entah tak ada yang tahu akan berakhir seperti apa, ingin rasanya aku bersekutu dengan iblis dan lepas dari jerat lintah darat itu.

Aku belum benar-benar memasuki bagian tergelap jurang dan hutan ketika Sapono tiba-tiba menyapa dan mengajakku pulang ke rumahnya. Entah bagaimana dia mengerti perutku lapar. Dia menyuruhku makan sampai tidak mampu lagi menelan makanan. Dia bahkan memberiku uang untuk bekal sepekan ke depan.

Aku tidak tahu cara membalas kebaikan orang, karena sepanjang hidupku tidak ada orang yang benar-benar berbuat baik padaku, kecuali Sapono. Maka, sering kali, di saat lelah dan tak ada pekerjaan di pabrik, aku pergi ke rumahnya. Sekadar menemani lelaki itu memandangi pepohonan liar dari belakang rumahnya. Kadang, kami duduk di depan televisi butut yang tak bisa lagi dinyalakan dan berbicara sepatah dua patah kata tentang hal-hal di luar sana; tentang perkotaan, tentang manusia modern, tentang politik, tentang apa pun. Tapi, tak pernah membahas diri kami sendiri. Karena itulah, meski mulai dekat dengan Sapono, aku belum juga tahu kebenaran tentang dia. Aku pun juga tak kepikiran untuk bertanya padanya.

Suatu saat, Sapono bertanya, “Kamu percaya yang orang bilang tentangku?”

Aku tak bisa menjawab, namun dia memberikan sedikit gambaran bahwa yang tiap orang sampaikan di luar sana tak sepenuhnya benar. Sapono tak memberikan penjelasan secara mendetail, tapi aku pernah melihat boneka berdebu di sudut ruang tengahnya. Di dapur aku juga pernah melihat celana dalam wanita dewasa yang sudah sangat kumal, yang dialih-fungsikan menjadi kain pel. Dengan pemandangan macam itu, kuasumsikan jika dulu Sapono benar pernah berkeluarga dan memang betul keluarganya kini tak lagi hidup bersamanya; entah apa yang terjadi, aku tak pernah ingin bertanya.

Suatu kali yang lain, Sapono bertanya, “Kamu ingin menjadi kaya?”

Tentu kujawab, “Ya, agar dominasi Markoni berhenti sesegera mungkin!”

Kukatakan padanya kalau selama ini Tuan Markoni memang sengaja memperdaya diriku (dan beberapa orang malang lainnya, kukira) agar bisa memberinya pundi-pundi uang selagi dia terus memeras uang dari siapa pun yang berutang padanya. Bahkan ada pula rumor yang mengatakan, selain memiliki pabrik biasa, dia juga mengatur judi-judi tertentu di tempat paling strategis di kota, sehingga bisa dibilang dialah orang terkaya di desa sekaligus paling berkuasa, meski tidak memiliki jabatan apa pun. Kepala desa pun kabarnya tunduk pada telunjuk Tuan Markoni.

Demi mendengar celotehku, Sapono cuma tersenyum dan, untuk pertama kalinya, dia mulai menyinggung tentang jurang dan hutan itu. Aku mendengar seluruh detail di obrolan kami kali ini. Aku menyimpan seluruh bagiannya, bahkan yang paling sepele. Sepulang dari obrolan yang kurasa sangat mendebarkan itu, aku terpikir untuk melawan. Tidakkah tujuh belas tahun cukup membuat seorang pemuda merasa muak?

“Kutunggu di sini,” ucap Sapono sebelum aku pergi saat itu.

Aku kembali lima hari kemudian. Sapono menatap hampa begitu segenggam tanah pemberian Tuan Markoni kucampakkan ke halaman rumahnya. Itulah hasil perjuangan untuk seluruh hartaku yang tersisa di dunia ini. Rumah beserta isinya, disita oleh tuan tanah itu lantaran ucapanku yang mulai menolak untuk mencicil utang yang seharusnya sudah lama kulunasi. Aku mengomel panjang lebar, tetapi Sapono tidak berkata apa-apa selain hanya tampak seakan sedang menunggu sesuatu.

Selepas omelanku kelar, Sapono bersuara, “Bagaimana?”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar tanpa keraguan. Aku bahkan yakin meski di sisiku tak ada Sapono, aku pasti bisa menelusuri sudut-sudut hutan dan jurang, untuk mencari bagian tergelap yang kabarnya hanya bisa ditemukan oleh mereka yang sedang beruntung. Penanda bagian tergelap itu, konon, adalah sebuah prasasti berupa batu nisan yang menancap tepat di dekat pohon kersen.

Sapono, dengan tubuhnya yang tampak kurus, begitu mudah menerabas tumbuhan liar dan semak belukar yang menghalangi, sementara aku kesulitan di beberapa bagian hingga suatu ketika aku tertinggal cukup jauh darinya. Pada satu titik, lelaki itu berhenti di depan sebatang pohon. Aku tahu di situlah bagian tergelap yang telah lama menjadi dongeng dan legenda di desa kami.

“Tidak ada yang dapat mencapai titik ini, kecuali aku. Dulu hingga beberapa menit yang lalu, hanya aku. Sekarang kita berdua di sini. Apa yang kamu minta?”

Aku tak bisa berkata-kata. Aku membayangkan banyak hal. Aku tak bisa mencoba memikirkan uang. Aku juga tak boleh memikirkan wanita secantik bidadari yang sedari lama kudamba. Aku hanya diperkenankan memikirkan wujud binatang liar. Sementara aku membayangkan kematian terburuk macam mana yang pantas bagi seorang rentenir, aku tahu pada saat itu pula Sapono tampak menatapku penuh dengan hasrat yang seakan lama dia tahan. Setelah wujud binatang itu kuputuskan, yakni seekor buaya, Sapono tak lagi bisa menahan hasratnya dan berkata, “Ini saatnya kuwariskan ilmuku. Menikahlah suatu hari nanti dan jangan berhenti hanya padamu.”

Kami pun memeluk batu prasasti itu. Mantra-mantra mengapung pada udara jurang yang pekat dan gelap. Tubuhku terasa dingin dan kaku, tapi kemudian segalanya terasa sangat aneh. Aku merasa tubuhku bebas dari seluruh penyakit. Aku merasa tersucikan, tapi Sapono mendadak terlihat sangat renta.

“Pergilah, Nak, pergilah,” demikianlah ucap lelaki tua itu. “Bereskan tuan tanah itu dulu sebelum membantuku pulang.”

Aku berlari sederas yang kubisa. Aku berlari dan berlari dan mendapati sisik demi sisik bertumbuhan pada permukaan kulitku. Aku tersandung dan jatuh, tapi dapat terus berlari dengan dua tangan dan dua kaki, tapi kemudian tanganku tak lagi terlihat seperti tangan. Seluruh bajuku robek dan kini aku melesat liar ke rumah musuhku dalam wujud lainku. ***

Gempol, 27 Mei 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Cerpen

Kisah Tentang Seorang Pemuda Bodoh

Cerpen Adi Zamzam

Coba dengarlah sejenak kisahku ini. Sebuah kisah yang mungkin bisa kalian ambil pelajaran darinya. Kisah yang menceritakan tentang seorang pemuda yang merasa dirinya manusia sempurna. Tampan, cerdas, lahir sebagai keturunan saudagar kaya raya pula. Pemuda yang memelihara pikiran, jika seorang sempurna haruslah berjodoh dengan yang sempurna pula.

Maka, ketika kedua orangtuanya memilihkan jodoh untuk pendamping hidupnya, ia selalu saja menolak.

“Aku ingin jodoh yang sepadan, Ayah,” ujarnya.

“Sepadan bagaimana maksudmu?”

“Si Maya, yang Ayah tawarkan kepadaku itu, kedua matanya terlalu besar untuk ukuran wajahnya yang lonjong. Si Nadia, apa Ayah tak melihat bahwa gigi-giginya mengerikan sekali? Juga si Mega yang Ayah bilang keibu-ibuan itu. Apa Ayah ingin aku menikahi gajah?”

“Lantas yang kau inginkan itu yang seperti apa, Nak? Mana ada orang yang sepadan? Dalam hal jodoh, yang kita butuhkan adalah menyesuaikan diri dengan pasangan,” ganti sang ibu yang mengujar tanya.

“Apa Ibu tak melihatku? Aku ini anakmu, bertahun-tahun aku tinggal bersama kalian. Apakah ada yang terlihat cacat di matamu, Ibu? Yang tiada cela janganlah kau sandingkan dengan yang ada cela, Ibu. Itu jelas tak seimbang.”

Berubah sedihlah wajah sang ibu. Tanpa diduga, perempuan itu pun mengulurkan tangan kanannya demi memperlihatkan jari-jemarinya. Pemuda itu terkejut. Ia baru ingat bahwa jari telunjuk itu telah kehilangan satu ruasnya.

“Musibah itu terjadi sewaktu Ibu membantu kakekmu memanen padi. Jari Ibu terjepit saat berniat membetulkan poros perontok padi. Ibu masih sangat muda saat itu. Sepuluh tahun kemudian barulah Ibu menikah dengan ayahmu. Kami bahagia,” tutur sang ibu dengan lembut.

“Pokoknya aku ingin yang sebanding. Titik!” Pemuda itu meninggalkan kedua orangtuanya dengan marah. Sepertinya percuma saja memberikan pengertian kepada mereka.

***

Dan pemuda itu pun masih terus mencari dan mencari. Setiap ia main ke rumah teman-temannya, hampir selalu ia menanyakan hal yang serupa.

“Apa kau punya saudara atau kenalan seorang gadis yang tiada cela? Kalau punya, kenalkanlah kepadaku. Tentu aku akan sangat senang untuk memintanya sebagai pendamping hidupku.”

Namun jawaban yang ia dapat selalu saja mengecewakan hati. Justru mereka malah memamerkan kekurangan masing-masing.

“Suamiku hidungnya pesek, kepalanya juga sedikit benjol, tapi kami bahagia.”

“Ah, kau lihat sendirilah itu. Istriku cerewet sekali, kayak tukang jual obat kuat di pasar. Jika kami adu mulut, bisa kupastikan telingamu akan tuli. Tapi aku cinta dia. Hingga detik ini kami baik-baik saja. Dan kami bahagia.”

“Dari dulu suamiku suka kentut kalau di ranjang. Tapi aku kagum dengan keperkasaannya. Kami bahagia.”

Demikianlah jawaban dari beberapa temannya yang sudah berumah tangga. Namun pemuda itu tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Aku yakin akan bisa menemukan yang sempurna, yang sebanding denganku. Aku tidak mau kecewa gara-gara mendapati cela di kemudian hari,” kilahnya, jika ditanya perihal dirinya yang amat pemilih.

Dan, bulan demi bulan pemuda itu terus mencari. Gadis demi gadis ia kenali, ia dekati, dan ia memang sadar, gadis sempurna seperti yang diinginkannya memang sukar dicari. Pikirnya, bukankah memang begitu? Bukankah barang bagus itu memang jumlahnya sedikit? Kekhawatiran orangtuanya selalu ia redam saja, meski dalam hatinya terselempit pula sedikit was-was.

Sampai suatu ketika ia mendapat sebuah kabar dari salah seorang pamannya yang baru saja pulang dari mencari barang dagangan.

“Ada tiga gadis kembar yang sangat sempurna. Aku yakin pasti kamu akan terpikat dengan salah satunya. Jika kamu mau, akan kuhubungkan dirimu dengan bapaknya. Kebetulan dia adalah penyuplai beras daganganku.”

“Lebih sempurna dari gadis-gadis kampung kita, Paman?”

Sang paman mengacungkan jempol sebagai jawaban. Ia bahkan berani menjamin di hadapan kedua orangtua si pemuda bahwa kecemasan mereka akan segera berakhir.

Dan benar saja. Ketika pemuda itu turut serta pamannya saat kunjungan berikutnya, ia langsung yakin bahwa di antara ketiga gadis cantik itu akan ada yang jadi istrinya.

Kedua orangtuanya gembira alang kepalang. Mereka bahkan langsung mendatangi ayah gadis-gadis itu guna meminta izin langsung agar anak lelakinya diperbolehkan mengenal satu per satu.

“Aku akan menikahi yang paling sempurna di antara mereka,” ujar pemuda itu di hadapan ayah ibu, serta pamannya.

“Kamu harus cepat, sebab aku dengar kabar katanya sudah banyak pemuda yang mendekati mereka,” tutur sang paman.

***

Hari pertama perkenalan, pemuda tampan itu memulainya dengan gadis yang paling tua.

“Hanya selisih tigapuluh menit?”

“Iya. Kalau dengan adikku yang nomor dua umurku hanya selisih lima belas menitan. Itulah kenapa kemudaan kami hampir tak terlihat perbedaannya,” tutur si gadis tertua.

“Saat ulang tahun kalian pasti selalu patungan untuk merayakannya.”

Gadis itu tertawa mendengar gurauan itu. Tawa manis yang terdengar merdu sekali. Membuat hati si pemuda tampan ingin lebih dekat dan semakin dekat.

Namun suasana cepat berubah ketika mata si pemuda tampan menemukan pemandangan itu. Ya Tuhan, jari tengah kaki kanan gadis itu ternyata cacat! Bentuknya lebih kecil dibanding jari kelingking kakinya sendiri. Dan itu sudah cukup membuat si pemuda tampan merasa mual.

Ketika si pemuda tampan kemudian meminta izin untuk mengenal gadis nomor dua, tahulah orang-orang bahwa gadis yang tertua pastilah punya cacat.

“Coba perhatikanlah jari tengah kaki kanannya yang luput dari pandanganmu, Paman. Jika aku menikah dengannya, pasti salah satu anakku akan ada yang jarinya begitu. Aku tidak mau,” jawabnya ketika ia ditanya sang paman.

Dengan gadis kedua pun sama. Sembari mengajaknya jalan ke beberapa tempat yang menyenangkan, si pemuda tampan diam-diam meneliti dengan saksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Juga dengan gadis yang ketiga.

Hingga akhirnya si pemuda tampan itu pun menjatuhkan pilihannya.

“Aku ingin menikah dengan gadis ketiga,” ujarnya, yang langsung bersambut pekik gembira kedua orangtuanya.

“Yang nomor dua kalau tidur mengorok keras sekali, Paman,” ujarnya ketika pamannya bertanya. “Waktu itu aku mengajaknya nonton konser di pantai. Dia kelelahan. Aku menyewa penginapan kecil. Paginya dia telat bangun. Dari luar kamarnya aku mendengar dengkuran yang keras sekali. Bayangkanlah, gadis secantik dia, tapi dengkurannya seperti raksasa. Mengerikan.”

“Yang nomor tigalah gadis sempurna yang aku cari, Paman. Tak kulihat sedikit pun cacat padanya.”

Pesta pernikahan digelar dengan sangat meriahnya. Ayah si gadis pun tak mau kalah dengan kemewahan pesta yang diadakan calon besannya. Dan sebenarnya, justru lelaki itulah yang paling berbahagia.

Singkat cerita, kebahagiaan itu semakin memuncak tatkala istri si lelaki tampan hendak melahirkan bayi pertama. Ia membayangkan, betapa lengkap sudah kebahagiaan yang dimiliki. Ketampanannya, kecantikan sang istri, harta yang lebih dari cukup, serta sebentar lagi akan ditambah dengan buah hati yang pastinya akan menuruni kesempurnaan ayah ibunya. Cinta yang ada akan semakin tumbuh dan semakin tumbuh.

Tapi ternyata tak demikian. Ketika melihat bayi perempuan yang baru dilahirkan sang istri, lelaki itu justru meradang. Cintanya seketika layu gugur ke tanah.

“Bagaimana bisa anak kami berkulit hitam, Ayah?” tanya lelaki tampan itu kepadaku. Ya, akulah ayah dari ketiga gadis kembar nan rupawan.

“Kulit hitam bukanlah cacat, Nak,” jawabku menenangkan.

“Tapi bagaimana bisa? Aku dan istriku tidak berkulit hitam!” cecarnya.

Hingga akhirnya terpaksalah kuceritakan semuanya. Ibu ketiga gadisku telah meninggal saat melahirkan mereka. Susah payah sendirian aku membesarkannya. Dari ketiganya, si bungsulah yang dulu paling sukar diatur. Dan dia memang pernah berhubungan dengan seorang pemuda berkulit hitam. Mereka kupaksa putus hubungan karena aku tak suka kelakuan pemuda pemabuk.***

Kalinyamatan – Jepara, 2013-2018.


Adi Zamzam, lahir di Jepara. Tulisannya dimuat di berbagai media. Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2005, juara harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke- VII) majalah ANNIDA. Tahun 2008, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami ( LMCPI ke-VIII) majalah ANNIDA. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi  karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA. Unggulan Lomba Cerber Majalah Femina 2014/2015. Juara 1 Lomba Cerpen Kategori C (Umum, Guru, Dosen, Pengarang) Green Pen Award 3 Perum Perhutani 2016. Masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2018.

Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.

Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Cerpen

Sepotong Masa Lalu di Depan Pintu

Cerpen Latif  N. Janah

Akulah saksi perjalananmu. Merebut hatimu sejak keluargamu sendiri tak menerima kau kembali. Akulah pemilik hatimu sekarang ini. Meski begitu, kau selalu berharap agar aku menghilang. Melebur bersama kenangan. Tetapi, nyatanya, aku semakin  hidup dan berjaya megah di kehidupanmu. Jika keluargamu menyebutku noda, kau justru lebih halus menamaiku penyesalan. Akulah yang lantas mengiringi hidupmu sejak Sania mencampakkanmu.

Kau membisu. Tanganmu masih menggegam terali besi jendela. Bibirmu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Terhitung sejak kedatangannya setengah jam yang lalu, yang kau lakukan hanyalah menatap ke luar jendela. Seolah-olah dengan begitu, kau bisa menemukan sedikit pereda kegugupanmu.

Ia datang bersama Maria, gadis kecilmu yang umurnya kini hampir lima belas. Kau sama sekali tak bernafsu melihat keduanya. Meskipun jauh di kedalaman hatimu, kau mengakui sebagai ayah Maria.Tetapi apa yang diajarkan keluargamu, memaksa untuk mengakui bahwa itu adalah aib. Sesuatu yang amat tak patut bahkan untuk dibicarakan sekalipun. Walau pada akhirnya, Maria-lah yang meluluhkan pendirianmu.

“Baiklah, jika kedatanganku tak kau terima. Kau boleh saja melupakanku, tapi tidak Maria.” Ada kepasrahan bergetar dalam suaranya.

Mendengar itu, wajahmu semakin berkerut. Bibirmu mengerucut, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi ia, Sania, wanita yang dulu begitu kau cintai secepatnya pergi. Digandengnya Maria dengan tergesa.

***

Terkadang, dalam pikiranmu, kau anggap dirimu telah mati. Hanya agar kau merasa terhibur. Sementara luka di dadamu masih menganga. Buah dari penolakan yang dilakukan oleh orang tua Sania. Kau merasa seperti sampah. Dicampakkan begitu saja.

“Kau boleh pergi sekarang!” Begitu yang diucapkan orang tuanya ketika itu.

Kalimat itulah yang terpahat membentuk goresan di dalam hatimu. Dan kediaman Sania saat itu, terasa seperti air garam yang mengalirinya. Kau merasa perih tak terkira. Kau merasahanya menjadi alat yang digunakan untuk membuat pengakuan di atas kertas, bahwa Maria memiliki ayah yang sah.

Kepada siapa kau pulang. Itulah perkara yang merongrong pikiranmu. Jangankan menerimamu kembali, keluargamu tentu akan menertawakanmu. Jika saja kau tahu begini akhirnya, kau tak akan sudi menikahi Sania. Rasa cintamu padanya bukan sebuah tiket untuk mendapat penghinaan dari keluarganya.

Suatu hari, entah bagaimana kau sampai pada sebuah jembatan besar. Badanmu entah sudah berapa minggu tak tersentuh air. Daki dan rambutmu yang kumal adalah identitas yang kau sandang saat itu.

Saat matahari sejajar dengan kepalamu, sebuah mobil tiba-tiba mendekat padamu. Hal yang tak kau sadari saat itu adalah bahwa hanya kau sendiri yang berada di sana. Sementara orang-orang yang mirip denganmu sudah berlarian entah ke mana. Itulah yang kemudian merubah nasibmu.

*** 

Kini kau berada dalam sebuah rumah baru. Itulah yang kau dengar dari seorang perempuan yang memberimu sarapan, pagi itu. Kau merasa matahari terasa begitu hangat menyapa kulitmu. Begitulah yang kau lalui bertahun-tahun. Terkadang, kau merasa bahwa inilah yang akan kau lalui sepanjang hidupmu sehingga lambat laun kau melupakan sakit hatimu. Meski kau tak bisa menolak kenyataan bahwa kadang kau merasa iri jika melihat teman-temanmu didatangi orang-orang yang kemudian membawa mereka pulang.

Sampai pada suatu waktu saat seorang yang biasa memberimu sarapan mengatakan bahwa ada dua orang perempuan yang ingin menemuimu. Saat itulah untuk pertama kalinya, api di dalam hatimu seperti dipantik kembali.

“Mereka ingin sekali bertemu dengan Bapak,” ucap perempuan itu. Sementara wajahmu hanya menunjukkan kekosongan. Tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Baiklah kalau Bapak tak mau,” ucapnya kemudian pergi. Saat itulah kau mendengar suara perempuan yang sama sekali tak asing di telingamu.

***

Petang itu, kau dikejutkan dengan kedatangan Maria, putrimu satu-satunya yang secara tiba-tiba berdiri canggung di hadapanmu. Kemudian kau tahu, bahwa ia memaksa untuk bertemu denganmu dengan alasan yang tak bisa ditolak. Wajah sekaligus mulutmu tak berekspresi apa pun. Kau diam untuk menutupi keterkejutanmu.

“Ibu ingin bertemu Ayah.” Dengan sedikit terbata, Maria berkata. Kau tak bersuara.

Dalam bayanganmu hanya ada kau dan Sania. Sania, bagaimana pun juga, pernah kau cintai dan mencintaimu. Meski sempat lupa, kau tak pernah bisa menghapus kenyataan bahwa ia jugalah yang telah membuangmu, hingga kau terdampar di sini, di pusat rehabilitasi.

“Ibu sangat membutuhkan Ayah,” kata Maria sungguh-sungguh. Kau tak mendengar sedikit pun kecanggungan saat ia menyebutmu ayah. Meski begitu, kalimat itu terdengar begitu klise di telingamu. Kau tetap diam, hanya untuk memperlihatkan keteguhan sikapmu.

“Baiklah jika Ayah tak mau. Tetapi perlu Ayah tahu bahwa Ibu tak pernah sedikit pun mengajariku untuk membenci apalagi melupakan Ayah.”

Itulah kalimat Maria yang tertanam di indera pendengaranmu. Sampai pagi datang, kau tak mampu memejamkan matamu. Hanya Maria dan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang ia tinggalkan yang memenuhi pikiranmu.

***

Pagi itu terasa amat asing bagimu. Kau berdiri termangu di depan sebuah pintu. Kau hendak mengetuk pintu sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang melihat siluetmu dari balik jendela.

Kau pupuk keberanianmu untuk masuk. Setelahnya, kau disambut dengan air mata Maria. Entah sedih atau bahagia. Yang kau lihat kemudian adalah Sania yang terbaring di ranjang. Tergolek tak berdaya. Tubuhnya terlilit selang-selang kecil entah berapa banyaknya. Kau memalingkan wajahmu beberapa saat, sebelum akhirnya  matamu kembali bertatapan dengan matanya.

“Berapa kali pun aku meminta maaf, aku tahu tak akan berguna,” kata Sania pelan.

“Meski begitu, itulah yang ingin kukatakan di hadapanmu juga Maria. Kau tak harus memaafkanku, tetapi jika kau berkenan, tinggalah di sini sebagai penebus kesalahanku juga keluargaku dulu.”

Itulah kalimat terakhir yang kau dengar dari Sania. Tangis Maria pecah dalam pelukanmu. Dan saat itu kau sadar, kau tak pernah dilupakan.***

***

Menjelang Sore, Januari 2017-April 2019


Latif Nur Janah Lahir di Sragen.Gemar menulis cerpen.