Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah
saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya
menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah
kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10
tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan.
Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku
lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir.
Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari,
ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya
tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari
pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar
dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari
meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga
para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak
mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas
mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk
secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan
kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa
memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming.
Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya
kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan
apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan
kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang
kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela
memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu
beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah
beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan
untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat
lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya
semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu
banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai
tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada
sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan
segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan.
Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan.
Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun
lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak
orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat
surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk
bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan
melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk
minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang
mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya
saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain
di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah
mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum
kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya.
Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup,
saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan
bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di
bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa
kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening
saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping
saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang
hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di
panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan
berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya
lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun
diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam
kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh
kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu
setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan
kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan
kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami
punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa
menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak
buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan
sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang
rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi
biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas,
juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah
ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api
melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar
segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya
membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat
saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta
kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa
kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak
dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa
mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup
saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa
tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan
membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan
tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun
lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis
sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di
salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak,
bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada
mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya
tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya
berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya
erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul
berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan
berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur
kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang
sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa
pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa
menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan
Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan
itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk
diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang
dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami
hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua
denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam
kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu,
sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa
neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan
kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami
berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan
menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil
kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan
siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari
saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya?
Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi
mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga
akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget
mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di
kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat
kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu.
Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus
membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya
terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi
dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa
membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan
kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya
hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga
dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara
ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang
punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan
anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku
hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya
riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar,
Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik,
tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku
. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit
yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah
Banani,
penulis asal Jakarta.
Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel [email protected]. Facebook: Halimah Banani