Cerpen

Tidak Perlu Adil, Apalagi Adil Sejak dalam Pikiran

Cerpen Daruz Armedian

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanmu ada kalimat yang berbunyi sederhana: bertindaklah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasmu. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelasmu meminta sebuah perkenalan singkat.

Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah itu mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.

Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang mata siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan itu beberapa menit ke depan.

Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap siswa di sana. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri.

“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu siswa di situ. Semua terdiam. Kamu belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.

“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”

Kamu dan teman-temanmu menggelengkan kepala. Sungguh, itu kali pertama kamu mendengar namanya.

Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (kamu pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan kamu merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.

“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”

Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali, pikirmu.

**

Kamu merasa tidak aneh, ketika sekarang teman-temanmu semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Bagimu, itu karena pelajaran sejarah Bu Oka asyik sekali meski hampir semua yang diajarkannya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanmu dan tentu saja kamu, meski pada akhirnya setelah itu mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (kamu tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, berarti juga tidak boleh mengikuti ujian.

Hari itu, kamu merasa Bu Oka datang lebih cantik dari biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kamu yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka, toh, tetap asyik cara bertuturnya.

Begitulah, kenapa kamu menyukai Bu Oka.

**

Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelasmu. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau tujuannya cuma mencari nilai. Yang penting paham atau minimal tahu. Tetapi, karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, kamu dan teman-temanmu tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.

Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang di kelasmu. Tidak seperti biasanya. Kamu tahu, Bu Oka lebih rajin dari siswa mana pun di sekolahanmu. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia.

Sampai di sini, kamu mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu, membikinmu ketagihan. Kamu gelisah. Teman-temanmu juga. Akhirnya, salah satu dari teman-temanmu mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukmu sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat kamu maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat itu tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.

Kalian sedih. Tetapi, menanggapi kesedihan itu, Bu Oka berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kalian naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah di kelasmu. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam itu. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.

Dua bulan berlalu namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelasmu. Ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahanmu yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kalian memanggilnya.

Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kalian sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kalian agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.

Ketika salah satu dari kalian tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kalian tidak sering tidur dan padahal kalian tidak malas kalau Si Guru cara mengajarnya enak.

Maka begitulah, kamu sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kamu ketahui, membebaskan kamu dan teman-temanmu bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari kamu memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawabmu, Bu Oka tidak cocok mengajar di sini.

“Ada masalah?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (kamu heran, kenapa bapak itu sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).

Kamu tak berani bicara. Dan kamu tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit untuk kamu pahami.

***

2017


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mengikuti Kelas Menulis Balai Bahasa DIY. Tulisannya pernah di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Lampung Pos, Pikiran Rakyat, detik.com, basabasi.co, dll. Pernah memenangi lomba cerpen se-DIY yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016 dan 2017.

Cerpen

Doa Tentang Anjing dan Kematian

Cerpen Ken Hanggara

Jika di dekat sini ada anjing, aku harap anjing itu mengendus sesuatu. Aku harap anjing itu bisa mengendus sesuatu dan sekaligus bersama dengan seseorang yang waras. Tidak dapat kubayangkan jika anjing yang melintasi bagian depan bangunan bobrok ini pergi sendiri atau ditemani lelaki atau perempuan gila. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Barangkali tak ada yang lebih buruk dari itu. Jika sebatas itu yang terjadi, aku juga tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Bahkan boleh jadi aku tidak pulang selamanya dan baru pulang dalam wujud lain di hari kiamat kelak, ke tempat yang sangat jauh dan tak terjangkau.

Membayangkan itu aku takut. Anehnya punggung dan leherku tidak merasa ada getaran yang aneh. Dulu dan kapan pun sebelum aku berhenti di titik ini, seseorang atau apa pun akan dengan mudah membuat punggung dan leherku berkeringat dalam getaran yang aneh. Rasa takut memunculkan sensasi tak nyaman. Saat ini, sensasi itu hanya ada dalam wujud yang tak dapat kurasakan selain kupikirkan. Segalanya kian buruk, karena aku sadar aku tak dapat kembali ke masa-masa itu.

Aku tak bisa kembali karena menuruti ucapan seseorang suatu sore di suatu telepon: “Datang ke bawah jembatan. Jam delapan.”

Aku takut terseret ke pengadilan, yang pasti merepotkan bisnis dan keluargaku. Aku datang dan berharap sebuah penyelesaian ditemukan. Kuharap sejumlah uang dapat membuat orang-orang itu membiarkanku pergi. Tetapi, aku dibawa pergi dengan mobil dan kemudian berakhir di tempat ini.

Di sini tidak ada toko atau lalu lalang manusia. Tidak ada rumah makan atau toilet umum atau tempat semacam kios service televisi yang berdiri selama tiga dekade di pojok pertigaan dekat rumahku, yang tak lagi disambangi orang sebab pada saat ini pemilik kios itu pikun dan tinggal sebatang kara tanpa anak istri yang dengan sengaja mencampakkan dirinya. Aku dengar sedikit cerita soal pria tua itu dari beberapa orang di lingkungan rumahku dan aku merasa betapa kasihan dia. Sekarang aku mengasihani diriku sendiri.

Apa yang terjadi padaku tidak lebih baik dari yang dialami pria tua penyepi itu. Dulu aku sering membayangkan, jika tidak sengaja melintasi kios service televisi itu, soal betapa mendungnya pikiran si pria tua atau betapa kosongnya dada yang lama tak ada kehidupan bersama keluarga. Aku curiga orang itu diam-diam memiliki rencana bunuh diri suatu hari nanti, tapi karena belum menemukan cara yang tepat agar dia tidak ditertawakan anak-istri yang membencinya setengah mati, sampai detik di hari terakhir aku melihatnya, dia masih terlihat bernapas walau sorot matanya terlihat sangat lelah.

Apa detik ini sorot mataku pun begitu?

Apa pada suatu hari, jika benar datang seekor anjing yang dapat mengendus datang bersama seorang lelaki atau perempuan waras, maka kedua makhluk itu berpikir sama, yakni tentang sorot mataku?

Aku tak bisa memastikan mataku bersih dari kotoran pada detik ketika orang-orang itu meninggalkanku di sini.

Semua terasa dingin. Tak ada apa-apa. Aku tak bisa pastikan apa keluargaku baik- baik saja. Apa mereka juga berakhir seperti ini, di tempat yang jauh dari sini?

Aku menangis tanpa air mata. Hatiku sakit, tapi jantungku bagaikan pria penyepi itu, di tempat service televisi yang bobrok dan terlihat membatu dan menguarkan aura yang membuat waktu seakan berhenti bekerja pada radius beberapa meter. Aku merasa segala sesuatu di sekitarku membeku dalam waktu yang mendadak henti. Barangkali sama persis seperti situasi ketika nuklir menyebabkan dua kota di Jepang di masa Perang Dunia Kedua hancur lebur; segalanya mendadak terasa membatu dan mati dan tertinggalkan waktu. Apa benar? Apa benar setiap bom yang meledak akan menyisakan sensasi aneh yang membuat kita seolah-olah tidak lagi dipedulikan waktu?

Aku tak tahu rasanya dibom. Mereka tak memasangi tubuhku dengan bom, tetapi kini tiba-tiba aku teringat dengan korban jiwa di berbagai tempat yang mati karena dibom. Aku pikir, “Barangkali panas.”

Aku tak pernah serius memikirkan itu. Aku hanya memikirkan hidupku membaik jika tiap usaha kulakukan untuk memajukan bisnisku. Aku ingin merajai bidang yang kugeluti, tapi suatu hari, mau tidak mau, kuperbuat sesuatu yang merugikan seseorang. Seseorang itu yang kemudian datang menuntut balas atas kematian seseorang akibat ambisiku.

Aku kepanasan karena dengan bodoh menemui orang-orang tersebut di lokasi yang disepakati. Aku kepanasan hingga tidak lagi merasakan batas antara hidup dan mati. Pada saat itu, aku tidak lagi berada di bawah jembatan. Aku digiring orang-orang berbadan besar ke tempat rahasia, setelah dua mataku ditutup dan dibawa menumpang mobil kira-kira tiga puluh menit.

Mataku terbuka ketika rasa panas itu menjalar ke kulit di hampir tiap bagian tubuhku. Yang dapat kutatap hanya lorong hitam di kiri ruangan dan bohlam tua di atas kepalaku. Wajah-wajah eksekutorku tak benar-benar kuperhatikan dan lagi pula mereka tak terlihat jelas. Aku berharap ini segera berakhir. Aku tidak tahan dan pingsan, dan orang-orang gila itu berhenti, lalu membawaku sekali lagi dan menurunkanku ke sini.

Barangkali seperti ini rasanya orang kehilangan segala-galanya, namun tidak diberi daya dan upaya oleh langit untuk berbuat. Begitu sakit. Aku tidak mampu menemukan apa pun selain tubuh yang tidak lagi berdaya dan waktu yang seakan-akan hengkang dari sisiku. Seakan-akan aku hidup dengan cara yang lain, karena dijauhi oleh waktu.

Aku merasa hidup sebagai sesuatu yang lain. Saat sadar aku tak dapat mengubahnya dan hanya bisa membayangkan sialnya nasibku yang kini jauh lebih sial ketimbang pemilik kios service televisi busuk itu, aku tahu aku hanya bisa berharap tentang anjing yang dapat mengendus dan seseorang yang waras pergi bersamanya.

Aku tidak tahu sampai kapan. Barangkali itu terjadi dalam waktu dekat dan si anjing akan panik tidak keruan begitu melintasi jalanan yang tak jauh dari bangunan bobrok ini. Barangkali itu besok atau nanti jam sepuluh malam. Aku bisa membayangkan itu terjadi seminggu setelah pikiran-pikiran ini terbit atau bahkan lebih lama dari itu.

Apa pun itu, aku harap siapa pun akhirnya akan menemukanku dan membawaku pulang dengan cara yang mereka mampu dan itu terjadi sebelum terlambat. Sebelum tubuh yang sejak dua hari lalu mati ini menjadi tulang belulang.***

Gempol, 25 Juli 2018 – 28 Oktober 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Granky

Cerpen Win Han

Kucing jantan berbulu oranye itu mengeong-ngeong keras menyerupai gertakan. Cakarnya menggapai-gapai udara dengan bola mata bening mengilat tajam. Zain tidak pernah suka pada cara kucing tersebut bersikap. Ia membalas tatapan tajam kucing itu dengan tatapan tak kalah tajam, seolah-olah sepasang pedang mencuat dari mata mereka dan beradu di udara.

“Jangan begitu, Granky.” Nada menghampiri kucingnya, mengelus-elus, dan memintanya untuk menjaga sikap. Granky, kucing itu, bergeming. Udara dari saluran pernapasannya terasa panas. Ada bara yang belum padam di dada makhluk itu. Lelaki di sofa seberang—Zain—menyaksikan kucing di dekapan kekasihnya dengan dahi mengerut.

Miiiaaauuuwww.

Granky melompat dalam kecepatan kucing marah menuju sofa di seberangnya.

Sekuntum bunga plastik dalam pot keramik di atas meja tersenggol, mengguling ke lantai. Pot keramik pecah menjadi serpih-serpih runcing berceceran di lantai antara meja dan sofa. Erangan kecil memercik dari mulut Zain. Lengan kirinya tersayat dan berdarah. Tiga garis luka cakaran masih terlihat segar di lengan lelaki itu.

“Granky!” seru Nada dengan leher menegang. Ia mencengkeram leher tertutup bulu tebal Granky, mengangkat tinggi-tinggi kucing itu. Dengan langkah cepat, Nada membawanya ke halaman belakang dan melempar Granky seperti melempar buntalan sampah. Granky mendarat dalam posisi kaki agak tertekuk. Ia membisu. Nada meninggalkannya persis seperti meninggalkan sampah.

Di ruang tamu, Nada meminta maaf kepada Zain lantaran kelakuan buruk kucingnya. Dibarenginya permintaan maaf itu dengan hujatan-hujatan pada Granky—suatu hal yang tidak pernah Nada lakukan semenjak menerima Granky sebagai hadiah ulang tahun dari bibinya dan memeliharanya lima tahun silam.

Gadis muda berambut lurus panjang itu mengambil perban dan obat cair dari kotak obat di sisi pintu. Sambil meneteskan obat dan memasang perban ke lengan Zain, Nada kembali meminta maaf seakan-akan ia telah melakukan suatu dosa yang sangat besar.

“Sudah, lupakan saja. Tidak apa-apa, kok,” kata Zain. Jari-jemari Nada masih berkelana di lengan Zain. Zain melepaskan jari-jari itu dari lengannya, berganti menggenggam lengan Nada, erat. Seperti kucing jantan berahi, kepala Zain bergerak liar menuju muka Nada, menggeranyangi pipi dan bibir Nada dengan dengus napas panas dan gegas.

Dering telepon berkali-kali berbunyi dari ponsel di saku celana Zain. Sementara di halaman belakang, Granky menyisakan jejak kakinya di rerumputan hijau kering. Sebuah tembok setinggi bahu orang dewasa membatasi halaman belakang dengan jalanan. Seekor kucing baru saja meloncat ke luar tembok itu.

***

Telah tiga hari tiga malam Granky tak pulang ke rumah.

Nada sudah mencari Granky ke mana-mana, ke tempat-tempat yang biasa Granky pijaki, tetapi ia tetap tak menemukan kucing kesayangannya itu. Ia bahkan membayar salah seorang penjaga keamanan untuk berkeliling komplek mencari Granky, tapi hasilnya masih sama: nihil.

Sehari setelah menghilangnya Granky adalah jadwal rutin Nada memeriksakan Granky ke dokter hewan dan membeli pakan untuk satu bulan ke depan. Namun pada hari itu, Nada tidak ke dokter hewan. Ia hanya membeli pakan kucing di petshop dekat pasar. Pakan kucing itu masih penuh. Belum berkurang sedikit pun. Ia menatapi pakan kucing dalam bungkus plastik itu dengan masygul. Dengan penyesalan dan rasa marah pada diri sendiri terpanggul di pundaknya.

Nada merindukan bulu-bulu lebat nan lembut Granky yang biasa ia usap dan belai tiap hari. Tangannya terasa kering dan kurang tanpa menyentuh Granky. Ia tak pernah berpisah dengan Granky lebih dari satu hari. Dua tahun lalu, ketika acara perpisahan SMA yang mengharuskannya menginap beberapa hari, Nada turut membawa Granky bersamanya. Meskipun pihak sekolah melarang, ia tetap kukuh dan akhirnya diperbolehkan dengan syarat kucing itu tak membuat gangguan.

Ia merindukan suara ngeongan Granky. Suara manja yang biasanya terdengar lebih sering apabila waktu makan Granky tiba. Kucing itu akan pergi ke tempat di mana Nada berada, mengeong-ngeong, memandanginya dengan wajah memelas. Lalu Nada akan mengambil pakan kucing dari atas lemari dapur, menuang secukupnya ke mangkuk kecil, dan ia akan sangat bahagia melihat Granky makan dengan lahap. Sudah tiga hari momen itu tak terjadi. Tinggal sesal dan rindu bertengkar di ruang hati Nada.

Pada hari keempat, Nada menghubungi Zain melalui sambungan telepon. Ia meminta kekasihnya itu menemaninya mencari Granky ke tempat yang agak jauh, ke pusat kota dan keramaian. Ia berharap akan menemui Granky jika ia mencarinya sedikit lebih jauh. Dalam hatinya, Nada pun yakin Granky tidak akan pergi terlalu jauh. Sebelumnya, Granky pun memang tidak pernah pergi jauh—tidak kecuali bersamanya.

“Kenapa kamu masih peduliin kucing itu?” ketus suara di seberang telepon. Nada tahu Zain tidak menyukai Granky. Tetapi, ia ingin Zain tahu bahwa biar bagaimanapun ia dan Granky telah bersama sekian lama, jauh lebih lama daripada dirinya mengenal Zain—yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan. Ia tidak mungkin mengabaikan dan membenci Granky begitu saja.

Nada kecewa dengan tanggapan Zain yang acuh tak acuh. Namun ia juga tidak bisa memaksa lelaki itu untuk menuruti kemauannya. Terakhir kali Nada memaksakan sesuatu pada Zain, Zain marah-marah. Padahal waktu itu ia cuma ingin meminjam ponsel Zain sebentar. Nada menutup telepon tanpa mengatakan apa pun. Ia memandangi bungkus pakan kucing yang kini diletakkannya di atas meja. Memandangnya lamat-lamat seraya menghimpun ingatan-ingatan perihal Granky.

Nada akan mencari Granky seorang diri.

Bayangan Nada sudah memanjang di jalanan ketika ia meminta seorang tukang ojek langganan di gerbang komplek untuk mengantarnya. Ia akan berkunjung ke pusat kota, ke tempat-tempat yang hiruk.

Sepanjang perjalanan melewati gang komplek, kemudian keluar ke jalan besar, mata Nada tak henti bergerak-gerak menoleh ke kanan-kiri. Berharap sesosok kucing berbulu oranye tebal akan nampak. Tidak ada kucing berbulu oranye tebal di sisi jalan. Beberapa orang dan kucing memang berlintasan, tetapi mereka bukan berbulu oranye tebal—mereka bukan Granky.

Setibanya di pusat kota, mata Nada tetap tak bisa diam. Bukan hanya ke kanan dan kiri, kali ini Nada mengamati segala arah. Ke pedagang kaki lima, lalu lintas ramai, pos polisi, halaman-halaman ruko, dan sebuah restoran tempat ia biasa dinner bersama Zain. Restoran dengan beberapa meja di bagian luar itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa pasangan lelaki-perempuan menempati meja berbentuk persegi panjang.

Nada merasa lapar dan ia memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu di restoran itu sebelum melanjutkan pencarian Granky. Ia belum makan sejak pagi.

Tatkala kaki Nada selangkah lagi masuk ke pintu kaca restoran tersebut, sepasang lelaki-perempuan keluar dan menabraknya. Tubuh Nada terdorong ke belakang. Hampir terjatuh.

“Kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak lelaki itu. Nada heran. Seharusnya ia yang lebih berhak mengatakan hal tersebut. Sebab ia sudah berjalan pelan dan tenang, namun lelaki-perempuan itulah yang tergesa saat keluar dari dalam restoran.

Mendengar suara bentakan lelaki itu, Nada tidak marah, ia hanya heran. Selebihnya biasa-biasa saja. Namun, begitu ia melihat wajah pemilik suara tersebut—yang masih menggenggam pergelangan tangan seorang perempuan berpenampilan seksi yang tak pernah Nada lihat—tubuhnya terasa beku. Lidahnya kelu. Sesuatu bergejolak dan membara di kedalaman dada Nada. Lelaki itu adalah Zain.

Nada seharusnya marah. Ia seharusnya menghardik lelaki itu, menampar, atau memukul-mukulnya dengan tas kecil di bahunya. Tetapi semua itu tak Nada lakukan. Ia membalikkan tubuhnya. Tidak jadi membeli makanan. Ia menuju ke tukang ojek yang masih menunggunya. Pergi melaju menjauh dari Zain dan perempuannya yang berdiri mematung dengan muka pucat dan tolol.

***

Di depan pintu rumah, suara tak asing yang beberapa hari tak Nada dengar menyambutnya. Suara ngeongan Granky. Entah sejak kapan, kucing itu sudah kembali ke rumah Nada. Begitu Nada datang, Granky dengan ekor panjangnya yang mekar segera menghampiri Nada, bergelung manja di sela tumit majikan sekaligus sahabatnya itu.

Selama perjalanan pulang tadi, perasaan Nada campur aduk antara marah-kecewa-sedih-dan-semacamnya. Saat ia sampai di rumah dan menemukan Granky kembali, ia seakan lupa pada apa yang sebelumnya terjadi dan kondisi perasaannya sendiri. Ia begitu gembira dengan kehadiran Granky yang telah berhari-hari dicarinya. Nada menggendong Granky, membawanya ke dalam rumah. Ia membuka bungkus pakan yang terletak di meja, menuang sedikit ke mangkuk kecil, dan membiarkan Granky menyantap pakannya. Sepertinya Granky lapar sekali. Kucing itu makan sangat lahap. Nada berbinar-binar menyaksikannya. (*)

Bandung, September 2018


Win Han, tinggal di Bandung. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Bisa dihubungi melalui surel: [email protected]

Cerpen

Sebuah Titipan yang Hanya Darimu

Cerpen Jeli Manalu

Sebuah titipan yang hanya darimu itu menjadi hantu di ingatanku. Waktu itu, kedatanganku ke kota ini di samping bekerja, ialah mencarimu yang mendadak hilang di pagi Jumat pada bulan Januari. Pakaianmu tak ada lagi di kamar. Sepatu, jaket, atau apa saja yang berhubungan denganmu, bahkan tak sebiji pesan kau tinggalkan sebagai isyarat yang barangkali dapat kuterjemahkan meski butuh beratus-ratus malam lamanya.

Kita hanya menguping pada pertengkaran menegangkan dari kamar ayah dan ibu. Kau sering bolos sekolah. Sementara orangtua kita menginginkanmu jadi sarjana. Kau terlalu sibuk main musik dengan anak-anak se-komunitasmu. Kau pun sudah tak pernah lagi jadi muazin di masjid kampung kita, padahal, kau tahu, dada ibu selalu berdebar setiap kali mendengar dan merasakan seruan yang kau kumandangkan dengan syahdu dan tartil itu. Tak jarang ia berlinang air mata, mengusap pipi dengan tangan penuh tanah, kemudian pura-pura berkata: mataku sangat gatal, sepertinya kena serangga.

Ayah cuma kuli bangunan. Sesekali jika orang-orang desa ada rezeki ayah akan mendapat ‘uang terima kasih’ yang diberikan secara suka rela atas anak-anak yang telah diajari mengaji. Sedang ibu, hari-harinya bergumul dengan cangkul, tanah, pupuk, pestisida, hama, musim kemarau atau hujan. Ibu akan menanam kol, bergantian dengan sawi, setelah itu seledri, kadang selada dan juga cabai. Kalau tomat tidak pernah lagi, kata ibu kelewat rumit mengurusnya. Manja sekali. Harus disayang-sayang seperti kita waktu bayi. Namun begitu, mereka berdua tetap mengupayakan kita agar jadi orang sukses.

Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar padahal perusahaan itu merupakan mimpi. Mimpi orang-orang agar bisa masuk ke dalamnya. Berawal dari peristiwa tak sengaja ketika aku masih jadi babu di satu rumah makan mewah. Suatu hari ketika mengemasi biji-biji nasi dan mengelap ceceran gula di meja nomor tiga puluh tiga, ada jam tangan hitam memandangi mataku. Kulihat ke arah lelaki yang baru lesap dengan mobil yang sama warnanya dengan bajuku. Untung lampu merah. Kuketok-ketok mobil itu. Lelaki itu menurunkan kaca mobilnya. Angka di atas kepala kami masih dua puluh. Kami bercakap-cakap sebentar. Ia menyodorkan uang bergambar Sukarno. Aku menolaknya. Ia memaksaku. Aku menolak lagi. Senang berkenalan denganmu, katanya, yang memberiku alamat kantornya. Aku malah tersanjung hingga tak sadar kalau bunyi klakson di belakangku sudah marah-marah.

Dua malam berikutnya lelaki itu mengunjungiku. Entah bagaimana ia tahu tempat tinggalku. Aku menyilakannya duduk. Kami bertanya-jawab mengenai diri kami. Percakapan kami seru. Aku dan ia sama-sama orang Sumatera, dan di tiap perbincangan aku menyebut diriku padanya dengan kata ‘saya’, bukan ‘aku’—sebuah kesan bahwa kami baru berkenalan atau bila seseorang kurasa lumayan berwibawa.

“Buatkan aku kopi, seperti yang sering kamu buat itu.”

“Saya tak suka kopi, Pak.”

“Ya?”

“Maksud saya, saya tidak menyediakan kopi di dapur.”

Mata kami berada di garis sama. Tetap di garis yang sama untuk beberapa saat lamanya. Aku gugup, ia justru senyum. Senyumannya ganteng dan aku suka melihatnya. Setelah itu ia tertawa keras sekali.

“Sepertinya kamu sudah sangat lama tidak tertawa,” katanya, “kalau begitu temani aku minum kopi.”

“Saya?”

“Kamu tidak mau?”

“Bu-bukan, bukan begitu.”

“Aku orang baik-baik kok. Ndak penculik kayak di koran-koran,” katanya seolah bicara pada anak kecil, dan aku menahan senyum agar tak terlampau lebar.

Segera aku ke kamar. Hampir seisi lemari kukeluarkan. Hitam, kuning, hijau, merah, ungu, putih, bunga-bunga, um, tiba-tiba, aku merasa baju-bajuku itu jelek semua. Padahal baju-baju itu masih terawat. Modelnya juga tidak kampungan.

“Tidak usah cantik-cantik, nanti aku naksir,” katanya, melalui handphone.

Detak jantungku menjadi aneh. Serasa ada mengamatinya, serasa ada yang datang perlahan-perlahan. Aku mengepal kedua tangan di bawah dagu. Dingin. Dingin yang menjalar, maka aku cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar dan menemui tamuku itu.

“Kamu sudah pernah berkeliling Jakarta?” tanyanya saat mobil mulai melaju, dan angin sempat menerbangkan rambutku ke lengannya sebelum ia menaikkan kaca di sebelah pipi kiriku.

Lima jam aku dengannya. Mulai dari minum kopi, makan makanan enak, diajak ke bioskop, juga, aku dibelikan gaun di gedung yang sangat mewah, di mana pelayan-pelayan di tokonya sangat ramah. Ada sepuluh baju kucoba. Tapi aku hanya mengambil dua, itu pun karena dipaksa. Jika tidak, aku cuma berani membawa pulang satu.

Sesampai di rumah aku mendapat telepon dari Sumatera, “Sudah empat tahun kau di Jakarta, apa sudah menemukannya?” terdengar suara serak ibu. Kubayangkan ia layu. Mata cekung, kening keriput, pipi kurus, mungkin ia hanya akan makan bila dibujuk-bujuk ayah. Pokoknya kau harus bawa pulang abangmu, kata ibu sembari menyelipkan gambarmu dulu, ketika mengantarkanku ke terminal beberapa tahun lalu.

Fotomu itu foto SD. Foto SMP belum ada, tapi mungkin saja ada namun entah di mana kau meletakkannya. Jadi yang ada dalam bayanganku hanyalah wajah terakhirmu bersamaku: wajah remajamu, walau kini usiamu tiga puluh lima. Tiga puluh lima yang matang dan tak bisa kutebak seperti apa gaya rambutmu. Apakah gondrong, botak, mungkin kau berkacamata atau bisa juga kau gemuk atau malah kurus?

**

Aku terbangun karena kedinginan. Tadinya kupikir hanya sedang mimpi latihan renang lalu sempat megap-megap. Ternyata atap kontrakanku sudah bocor dan aku jadi repot sekali karenanya. Lelaki itu datang menjemputku. Mungkin sebelumnya berkali-kali ia menelepon. Handphone-ku mati. Baterainya kosong, tak sempat kuisi sebelum listrik padam total dan perangkat televisiku disambar petir.

“Kamu seperti adikku saja. Sukanya main hujan.”

“Ya?” ujarku, menatapnya, kemudian menatap diriku yang serba basah.

“Kamu mengingatkanku pada masa kecilku.”

“Apa?”

“Kamu sungguh suka bermain hujan?”

“Bapak meledekku?”

“O-o, bukan.”

“Lalu?”

Ia diam melihatiku yang mulai serius. Kupandangi dirinya, seharusnya aku tak bertemu dengannya. Lelaki seperti dirinya terlalu jauh sempurna untuk orang sepertiku. Ia mapan, rupawan, baik dan banyak lagi. Pasti banyak perempuan tergila-gila padanya. Bagianku cuma: mencintai, selamanya hanya boleh dalam hati.

Ia lihat-lihat kontrakanku. Dindingnya, jendelanya, semuanya. Lalu aku tertawa kuat-kuat persis ketika ia tertawa kali pertama datang ke rumahku waktu itu. Kau tahu, ia itu sinting. Masa sudah tahu licin lantai tapi tetap pula mengenakan sepatu sambil berjingkat-jingkat. Terjatuhlah ia. Kau penasaran bagaimana ia jatuh? Ia tidak jadi jatuh, sih. Aku dengan gesit menarik kemejanya hingga terdengar bunyi krek!

**

Empat bulan kemudian selepas kami melewati ciuman-ciuman kesekian, aku pulang ke kampung halaman. Aku harus mengabarkan berita bahagia yang telah membuatku tidak bisa tidur dan tak henti untuk berpikir. Semoga ibu dan ayah menyukainya. Amin.

Kubawa ibu dan ayah mengunjungi Jakarta, hitung-hitung rekreasi. Ke mall. Makan kentucky, hamburger, pizza, hotdog, ice cream, mengajarinya naik eskalator ataupun lift, dan tak lupa membeli baju-baju bagus. Ini monas, itu ancol, yang sana taman mini, itu istana negara. Aku mengajak mereka keliling-keliling. Kadang aku bohong soal harga. Jika lima puluh ribu, kukatakan saja lima ribu agar mereka tidak enggan. Di kesempatan lain kujelaskan kalau gaji kerjaku lumayan besar. Aku menghambur-hamburkan isi dompet dan beberapa kali masuk ATM—rasanya belum pernah aku sekaya itu.

“Sudah kau dapat kabar abangmu?”

“Kita turun dulu, Bu. Aku mau ganti baju,” kataku, mengalihkan pertanyaan ibu.

“Ini rumahmu?”

“Kontrakanku.”

Bukan seperti sebelum-sebelumnya ketika akan berjumpa dengan lelaki itu ada saja yang kucemaskan. Jerawat, komedo, alis berantakan, kulit kasar, bibir tak segar, kuku yang tak lagi rapi. Tapi hari ini aku tak peduli. Kebahagiaan ibulah yang utama. Kebahagiaan ayah. Kebahagiaan keluargaku.

Kuingat tahun-tahun pertama menempati kontrakan. Jiwaku serasa sudah lekat di situ. Belum pernah aku celaka, walau kutahu kota Jakarta adalah kota yang rawan untuk kita diganggu kejahatan. Kusentuh mawar dan juga lili. Kusirami mereka. Seekor kumbang terbang jauh sekali. Kutulis surat untuk paman pemilik kontrakan: kuncinya kutitip tetangga.

“Ini rumah siapa lagi? Cantik sekali!” pekik ibu.

“Rumah bosmu?” sambung ayah.

Aku menatap mata ayah dan menelepon setelahnya. Sepuluh menit dalam kecemasan mobil warna tembaga masuk pekarangan. Aku mengatur diriku, tak boleh terlihat membingungkan di hadapan orangtua kita. Kugenggam tangan keduanya. Aku berdiri di tengah-tengah menyongsong sosok yang hampir tiba. Bang Darus berjalan kaku ke arah kami. Ia gugup melihatku yang juga gugup.

“Sarah?”

Aku mengangguk. Dadaku penuh, hanya mampu menatap sepasang sepatumu dan sepatuku—sebab saat itu, dua hati telah remuk dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita berempat saling merangkul. Ibu senang. Ayah bersinar-sinar wajahya. Sedang pada hari cerah itu air mataku tak karu-karuan banyaknya, seperti hujan badai yang memporak-porandakan sebuah bangunan. Ingatan, terkadang memang tak bisa dijinakkan. Sore ini di tengah-tengah ramainya orang pacaran, kupikirkan lagi embusan napasmu yang pada suatu malam tepat di hidungku, disusul akan bayangan bila dulu bibirmu itu pernah menitipkan sesuatu di bibirku. **

Riau, September 2016-2019


Jeli Manalu,  lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.

Cerpen

Puisi di Dada Temanku

Cerpen Sri Wahyuni

“Kau sudah mengatuk?” tanyaku.

“Tidak adakah pertanyaan yang lebih penting?”

“Tidurlah jika kau mengantuk.”

“Jika aku tidur, apakah kau akan berhenti bercerita?”

“Tidak. Aku akan tetap bercerita sambil membelai rambutmu sesekali juga dadamu.”

Temanku pernah bercerita tentang kekasihnya dan sebuah puisi, Baruna. Bukan kekasihnya–seorang penyair–yang membuat aku tak bisa melupakan cerita itu, melainkan puisinya. Puisi itu ditulis di dada temanku oleh kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun. Tentu saja temanku sangat bahagia. Sampai terakhir bertemu, lima bulan lalu, perihal puisi itu masih tetap menjadi perbincangan kami. Semangatnya bercerita juga masih sama dengan kali pertama ia bercerita. Begitu pula aku, juga tak kalah semangat mendengarkannya.

Temanku itu kemarin baru saja menikah. Suaminya tentu saja kekasihnya yang menuliskan puisi di dadanya itu. Ia mengabariku lewat pesan melalui facebook, yang belum sempat aku ceritakan padamu. Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku menceritakan kisah cinta temanku di saat kita sedang menikmati pertemuan untuk membunuh rindu yang telah lama meraung-raung dalam hati. Terlebih kisah itu sangat berlawanan dengan kisah kita.

Aku sendiri tak tahu mengapa aku melakukannya. Aku tidak terlalu bahagia mendengar temanku menikah. Aku lebih tertarik pada cerita itu daripada kabar pernikahannya. Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukai cerita itu? Suka atau tidak, aku akan tetap meneruskan ceritaku sambil sesekali memagut dalam-dalam bibirmu.

“Kau masih mendengarku, Baruna?”

“Ini adalah peristiwa langka. Jadi aku akan mendengarnya hingga usai”.

Setelah pernikahan temanku satu bulan lalu, cerita itu semakin terngiang-ngiang di telingaku. Bayangan puisi itu menari-nari di depan mataku. Aku seperti bisa melihat jelas bagaimana kekasihnya itu pelan-pelan mulai menggoreskan tinta di dada temanku. Saat seperti ini, kau seharusnya ada di sampingku, sehingga imajinasiku tidak berkelana sendiri. Aku ingin kau juga melihat proses penulisan puisi itu. Ah, aku mulai merasa senang dengan pernikahan temanku. Betapa bahagianya dia, bisa memiliki suami seorang penyair.

Kebahagiaan itu saat ini dapat aku lihat dengan jelas, Baruna. Puisi di dada temanku itu tak pernah kesepian. Kekasih yang saat ini menjadi suaminya selalu mengunjungi puisi itu setiap hari. Aku mulai iri dengan temanku itu. 

“Apakah kau tak ingin seperti kekasih temanku itu, Baruna? Jika puisi itu telah kau tulis, aku ingin kau mengunjunginya setiap hari.” Itu pertanyaan yang aku ajukan padamu setelah aku mendengar kisah temanku. Kau tak langsung menjawab. Keesokan harinya kau  mengajakku pergi ke sebuah telaga. Aku tidak akan pernah lupa peristiwa itu.

Waktu itu aku dan kau duduk di tepi telaga. Suasananya masih begitu sepi karena hari masih terlalu pagi. Pohon trembesi di sekitar telaga tengah tersapu kabut. Pohon pinus di bukit-bukit yang mengitari telaga masih samar dalam pandangan. Permukaan telaga bagai bertirai garis-garis hujan. Ketika hujan mereda, tiba-tiba aku teringat cerita temanku tentang sebuah puisi dan kekasihnya itu. Sungguh, cerita itu sangat berkesan bagiku. Lalu aku melempar tanya lagi, “Maukah kau menulis sebuah puisi untukku?” Kau mengalihkan pandangan dari tengah telaga berpindah ke wajahku, lalu balik bertanya, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?”

Wajahku memancarkan semburat merah dengan hiasan senyum malu. Belum sempat aku menjawab pertanyaanmu, kau lebih dulu melumat bibirku. Hanya sekilas. Lalu kau mengulangi pertanyaanmu, “Kau mau aku menuliskannya di dadamu?” Aku mengangguk.

“Tulislah puisi itu di sini, Baruna,” Aku menunjuk dadaku.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Hanya untukmu”.

Aku duduk menghadapmu. Kedua kakiku kulipat ke belakang. Rambutku yang menutup dada aku sibak ke belakang. Tak kubiarkan sehelai rambut pun menghalangimu menulis puisi di dadaku. Sementara kau masih sibuk menyiapkan semua perkakas yang kau perlukan. Seperangkat hati, pena cinta, lalu apalagi? Hanya itu yang kau katakan padaku, Baruna.

Kancing kemeja merah muda yang menutup dadaku sudah keluar dari lubangnya masing-masing. Lima menit berlalu. Tak ada sehelai kain pun menutup dadaku. Aku tak sabar merasakan kau menulis puisi itu. Kupejamkan kedua mataku. Kemarin aku hanya mendengar cerita tentang puisi yang ditulis di dada temanku. Namun, kini aku merasakannya sendiri. Bahkan akulah tokoh utamanya. Aku menunggumu dalam kepasrahan. Kutahan kuat-kuat degup jantungku yang semakin cepat berdetak. Kututup rapat-rapat rasa cemas yang melintas di pikiranku.

“Ayo, Baruna, aku sudah tak sabar,” kataku tanpa membuka mata sedikit pun.

Aku tak tahu mengapa kau tak juga mulai menuliskan puisinya di dadaku. Mungkinkah kau masih berpikir bagaimana dan darimana mulai menuliskannya? Kau memang terbiasa menulis puisi, namun kali ini beda. Sebelum aku dan kau berada di kamar ini, pastinya kau telah memikirkan banyak hal tentang bagaimana menulis puisi di dada perempuan. Aku mau kau hanya akan melakukan hal ini sekali dalam seumur hidup.

“Jangan pikirkan bagus tidak puisinya, yang penting tanganmulah yang menuliskannya. Kali ini dadaku adalah kertasmu. Menulislah semaumu”.

“Ayolah Baruna. Tunggu apalagi?” Rajukku mulai tak sabar. Aku khawatir tak sanggup lagi menahan gemetar, tak kuasa lagi mendekap rasa cemas.

Tanganmu mulai bergerak. Kau tarik napas dalam-dalam lalu kau hembuska perlahan-lahan. Mungkin itu untuk menenangkan dirimu.

“Sekarang aku akan memulainya,” Kau berbisik ke telingaku.

Dengan hati-hati kau mulai menggoreskan pena di dadaku yang licin. Aku tersenyum. Huruf demi huruf kau tulis pelan. Sesekali kau hapus, entah menggunakan apa, rasanya dingin. Kadang kau berhenti sejenak. Dengan mata terpejam aku mencoba mengeja tulisanmu. Sia-sia. Aku tak bisa, yang muncul hanyalah wajahmu, Baruna.

“Ini akan segera selesai. Namun, aku enggan untuk mengakhirinya. Aku ingin terus memandangnya,” bisikmu padaku.

Kubuka mataku sambil kulemparkan senyum padamu. Itu tak lama. Kau mulai menulis lagi. Aku memejamkan mata lagi. Aku sekarang tahu mengapa temanku terlihat begitu bahagia ketika menceritakan kekasihnya dan puisi.

Aku masih memejamkan mata.

“Belum selesai juga?” tanyaku padamu.

Kau tak segera menjawab. Dan aku masih terus memejamkan mata tanpa tahu apa-apa. Kau berbisik ke telingaku, “Jangan buka matamu. Aku masih ingin membaca ulang puisi yang kutulis di dadamu.” Aku hanya mengangguk.

Bukalah matamu sekarang.

Kubuka mataku pelan-pelan. Senyummu menyambut. Kulihat keringat menetes dari wajahmu. Kau pasti menuliskannya dengan seluruh tenagamu. Bergegas kualihkan pandanganku ke dadaku. Kueja kata demi kata yang kau tulis.

Ah, aku mulai berimajinasi. Pikiranku berkelana pada masa silam. Maafkan aku.

“Kau sudah tidur, Baruna?”

Tak ada suara. Aku tahu kau sudah tertidur. Namun, seperti kataku di awal tadi. Aku akan tetap bercerita meskipun kau tertidur. Aku akan bercerita hingga malam habis, Baruna. Sebab aku tahu, setelah ini kita tak mungkin bertemu lagi. Mau tidak mau pada akhirnya kita harus menghadapi sesuatu yang paling kita takutkan–waktu–. Waktu tidak akan memihak kita. Waktu tak lagi memberi kesempatan kita untuk bersama. Aku akan menikmati malam terakhir sebelum laki-laki itu menyebutku sebagai istrinya. Lalu setelah itu, kita akan menutup kisah. Saling melupa.

Waktu berjalan begitu cepat malam ini. Satu jam lagi pagi akan segera datang, Baruna. Karena itu, aku akan segera menutup ceritaku tentang puisi di dada temanku, sebelum kita mencapai titik puncak sebuah kesepakatan untuk tak saling menghubungi apalagi bertemu demi kebaikan bersama. Kita harus mengubur dalam-dalam sebuah kisah masa lalu yang indah itu. Seperti katamu, penyelesaiannya semua kembali pada diri masing-masing.

Sebenarnya aku ingin kau mendengar akhir ceritaku, Baruna. Sayangnya kau telah tidur. Tapi tak apa, aku akan meneruskan ceritaku sambil memandang wajahmu untuk yang terakhir.

Baruna, kisah yang kuceritakan itu sebenarnya tidak pernah ada. Teman yang bercerita padaku itu hanya imajinasiku saja. Tentunya tidak ada temanku yang menikah kemarin. Tak ada pula puisi yang di tulis di dadanya. Tak ada penyair pastinya. Kau pasti tahu mengapa aku suka membuat kisah tentang penyair dan puisi bukan?

Kalau saja boleh, aku ingin kau menengok kembali puisi yang sempat kau tulis di dadaku waktu itu, satu-satunya puisi yang kautulis di dada seorang perempuan. Karena itu, bisakah kau bangun sebelum pagi tiba? Jawablah, Baruna!

***

Baruna terbangun dengan selembar kertas di sampingnya. Sepi, yang terdengar hanyalah detik jam dinding yang menunjuk angka tujuh. Baruna mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Sebuah tulisan singkat. Baruna membacanya.

Baruna, jika ada waktu tengoklah puisi yang kautulis di dadaku agar ia tak kesepian.

Dengan tergesa Baruna mengambil ponselnya untuk menghubungi perempuan penulis pesan itu. Baruna terperanjat. Ada panggilan tak terjawab lima menit lalu. Ia lalu  menelpon balik. Nomor yang dituju tidak aktif. Baruna memerhatikan waktu yang terpampang di ponselnya. Jam 07.10 pagi. Kesepakatan kemarin mereka akan berpisah tepat jam 6 pagi. Baruna menyesal mengapa ia tertidur semalam. Kini ia terlambat. Satu jam yang lalu perempuan itu telah pergi. Air membendung di mata Baruna. Perempuan itu telah meninggalkannya dan kembali ke rumah untuk mempersiapkan pernikahannya.

Dengan perasaan tak menentu, Baruna kembali ke tempat tidur sambil memeluk erat-erat kertas yang berisi pesan perempuan itu. Ia diam sesaat. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang berasal dari ponselnya. Ia mengambil dan menyentuh layarnya. Sebuah pesan. Baruna membukanya.

Mas kapan pulang? Putri kecilmu terus menangis mencarimu.

Baruna tak membalasnya. Ia cepat-cepat membuka baju yang melekat di tubuhnya lalu menuju kamar mandi. Ia harus segera pulang. Ada perempuan mulia yang menunggunya dan seorang putri cantik yang menunggu di gendongnya. ***


Sri Wahyuni, tim Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP PGRI Ponorogo. Bergiat di rumah motivasi Sutejo Spectrum Center (SSC) Ponorogo dan Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) STKIP PGRI Ponorogo.

Cerpen

Mendung Jatuh di Mata Bapak

Cerpen Latif Nur Janah

Gelisah membuntuti Ibu. Mengikutinya sepanjang ia menjalani hari. Berserak di wajahnya yang kusam. Pagi tadi, gelisah hadir ketika ia hendak menghidupkan tungku, menghidupkan kehidupan.

Aku yakin, kegelisahan jugalah yang membuat Ibu menjatuhkan piring sebelum ia selesai menata hidangan untuk makan siang kami. Sampai-sampai, ia juga keliru menuangkan cairan cuka ke dalam acar tahu di piring Bapak.

Meskipun aku tak begitu dekat dengan Ibu, sebagai anak yang terlahir dari rahimnya, aku tahu persis manakala Ibu tengah dilanda keresahan. Lain Bapak, ia begitu mahir menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan.

Dari meja makan, terdengar televisi menyiarkan berbagai aksi demo mahasiswa. Aku menghentikan suapanku. Bukan untuk memperhatikan berita, melainkan untuk membaca suasana. Bapak masih terus melahap acar tahunya, meskipun aku yakin ia begitu terusik dengan suara reporter itu. Sementara Ibu beranjak ke dapur. Tempat ia menuntaskan air matanya.

Satu-satunya yang kulakukan adalah segera melicinkan piringku, lalu bergegas mencium tangan Bapak. Sebelum aku melangkah ke halaman, kuhampiri Ibu di dapur, kucium tangannya, lalu kupeluk tubuhnya yang kian ringkih.

“Mas Farhan baik-baik saja, Bu,” bisikku, persis di telinga kanannya.

Ibu menyeka air mata. Kegelisahan di wajahnya memudar sementara.

“Suruh ia pulang. Ibu sudah rindu,” balas Ibu. Mendung kembali hadir di rongga matanya. Aku mengangguk.

Usai kursus membatik di rumah Bu Sukatmi, aku menyusul Bapak ke ladang jagung. Hamparan daun-daun jagung mengeras tersiram panas yang ganas. Meski tak mengenakan sarung tangan, Bapak begitu lihai mengambil tongkol-tongkol jagung dari batangnya. Setelahnya, batang-batang yang kemresek tersenggol gerak tangan dan kaki itu dirobohkan dengan satu injakan. Bapak akan membakarnya sebelum hujan labuh datang.

Tentang Mas Farhan, aku yakin, Bapak menyimpan rindu seperti halnya dengan Ibu. Hanya saja, Bapak adalah tipikal orang yang enggan untuk melihat segala sesuatu dengan perasaan. Lumrah saja, ketika tahu bahwa Mas Farhan secara diam-diam sering bertemu dengan orang tua kandungnya, Bapak merasa dirinya tak dihargai. Sementara ketika mengadopsi Mas Farhan saat berumur dua tahun, orang tuanya berjanji untuk tak akan muncul di kehidupan Mas Farhan.

“Memang sudah saatnya Farhan tahu tentang mereka, Pak,” rintih Ibu suatu sore ketika Mas Farhan baru saja pulang sekolah.

“Iya, tetapi bukan sekarang. Mereka sudah berjanji untuk ini, dan aku pun begitu. Jika harus bertemu, aku jugalah yang harus mempertemukannya.” tangan Bapak berhenti melinting kelobot berisi tembakau dan guntingan cengkeh.

“Seharusnya sudah dari satu tahun yang lalu kita mempertemukan Farhan pada orang tuanya.”

Bapak meraih lintingan kreteknya, lalu menyulutnya, menimbulkan suara kre..tek..kre..tek..

“Atau jangan-jangan, Bapak yang mau ingkar janji dengan tidak mengizinkan Farhan bertemu orang tuanya.”

Ucapan Ibu membuat waktu membisu. Dalam suasana yang begitu ganjil, aku melihat Ibu seolah menelan ketakutan akan ucapannya sendiri. Sementara Bapak lekas berdiri, meraih selopnya di bawah kursi, lalu melempar  puntung kreteknya ke tanah. Apinya padam dengan satu gilasan.

Mas Farhan memang saudara tiriku. Meski begitu, aku dan ia merasa bagai saudara kandung. Ketika Bapak dan Ibu mengadopsinya karena lebih dari tujuh tahun tak memiliki anak, tiga tahun kemudian lahirlah aku.

Dengan beasiswa, Mas Farhan kuliah di Jakarta. Bagai gayung bersambut, ia bertemu orang tuanya yang kini menjadi pedagang kain di Tanah Abang. Semakin lama, ia memang jarang pulang karena terlalu sibuk dengan urusannya di BEM. Dan situasi ini membuat Bapak selalu berpikiran bahwa Mas Farhan telah lupa padanya. Padahal selalu kutunjukkan riwayat panggilan di teleponku. Tetapi, alih-alih melihatnya, Bapak memilih pergi. Sampai suatu ketika saat Mas Farhan pulang, Bapak mengusirnya karena sakit hati.

Hamparan jagung ini menyimpan banyak kisah Bapak dengan Mas Farhan. Sebelum aku sering membantunya, Mas Farhan-lah partner terbaik Bapak di ladang. Aku begitu yakin, di antara dedaunannya yang mengering, terselip rindu yang begitu menggebu. Ada harapan yang membuncah ketika dengan berkarung-karung jagung, saat itu, oleh Bapak dijual dengan harga murah. Tak lain untuk uang saku Mas Farhan ketika berangkat ke Jakarta.

Dua hari yang lalu, aku mendapati Bapak terpekur di depan televisi saat berita tentang demo mahasiswa berlangsung. “Syukurlah.” Ucapnya ketika mendengar tak ada korban jiwa setelah aksi selesai. Sehebat apa pun ia menyembunyikan rasa sedihnya dari Ibu, aku masih bisa melihat resah di setiap bahasa tubuhnya. Ketika ia menyadari kehadiranku, aku melihat sebongkah kerinduan yang nyaris menawan raut wajahnya.

Aku pulang, Nis.

Pesan singkat itu kuterima saat aku berteduh di bawah pohon pepaya. Angin panas yang menerpa wajahku menjelma embusan yang begitu menyejukkan. Ya, aku yakin jika Mas Farhan akan pulang. Ia tak mungkin membiarkan Ibu dirundung gelisah dan rasa bersalah yang tak sudah-sudah. Bagaimana pun, Ibu selalu menganggap dirinya tak mampu menjaga apa yang menjadi tanggungannya jika membiarkan Mas Farhan pergi.

Aku berniat pulang saat menyadari aku lupa membawa bekal minuman. Tak sabar juga bertemu Mas Farhan dan melihat kegembiraan Ibu. Aku sudah tak tahan setiap kali melihat Ibu melamun di dapur. Dapur lebih serupa tempat yang mengekalkan kenangan setelah Mas Farhan jarang pulang. Aku harus meminta pertanggung jawaban Mas Farhan akan hal itu.

“Jangan dihabiskan. Sisakan untuk Bapak.”

Suara itu…

Senyum Mas Farhan mengembang ketika kubalik  badanku. Kuraih sebungkus es teh dari tangannya.

Di hamparan jagung di atas sana, Bapak memandang ke arah kami. Ia diam terpaku. Topi anyaman pandan  yang dikenakannya, melambai tertiup angin.  Saat sosoknya semakin mendekat, ada sesuatu yang membuatku seolah tak tahan melihat wajahnya yang penuh peluh. Gegas, Mas Farhan mencium tangannya. Ada mendung yang bergantung di balik kelopak mata Bapak. Lantas jatuh membentuk setitik air mata, buah kerinduan pada anaknya yang tertahan.

Gemolong, September 2019


Latif Nur Janah, lahir 1990. Menulis fiksi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.


Cerpen

Penderitaan

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu. Setelah menggeram cukup lama salah satu hyena itu menyergapnya dan beberapa hyena lain melakukan hal yang sama dan zebra itu harus merelakan kehidupannya berakhir; sebuah gigitan yang kuat dan bengis di leher membuatnya mati dalam waktu singkat. Ia pun tinggal jasad, tinggal tubuh yang lekas dingin. Dengan gigi-giginya yang runcing berliur hyena-hyena itu mencabik-cabik si zebra dan memakannya seakan-akan herbivora tersebut tak pernah hidup. Dan mereka benar-benar mencabiknya, memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain, tanpa lebih dulu memberikan penghormatan atau apa. Dalam beberapa jam kemudian yang tersisa dari zebra tersebut hanyalah sedikit tulang dan noda darah—yang tercecer di tanah berumput.

Saat pembunuhan dan pembantaian tersebut berlangsung, hyena-hyena itu tentu tak sedikit pun memikirkan karma, dosa, atau semacamnya. Dan mereka juga pastilah tidak merasa bersalah telah melakukan hal tersebut, bahkan menganggapnya hal biasa saja. Benar-benar hal biasa saja. Mereka lapar, dan mereka butuh makan. Dan makanan mereka adalah daging, bukan nasi, atau roti, atau rumput. Dan kebetulan zebra tersebut berada dalam jangkauan mereka,  dan begitulah mereka memilihnya—sebagai santapan mereka. Tak ada kebencian, dendam, atau semacamnya. Ini murni sebuah proses alam semata; terkorbankannya sesosok makhluk hidup untuk kelangsungan hidup makhluk(-makhluk) hidup lain. Jauh sebelum dirimu dilahirkan, leluhur-leluhur mereka telah melakukannya, dengan tingkat kebuasan yang bisa jadi sama.

___

Miyuki menyadari seseorang sedang mengikutinya. Dini hari yang sunyi. Langkah-langkah cepatnya menyisakan bunyi yang memantul-mantul di belakangnya dan menyebar ke kanan dan kirinya, menjelma teror yang membuatnya merasa terancam sehingga ia tak berani menoleh dan hanya terus menatap ke depan saja. Dengan kedua tangannya, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat; ia memeluk dirinya erat-erat seakan-akan mantel hitam tebal selutut yang dikenakannya tak mampu lagi melindunginya dari terpaan angin. Lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang dilewatinya menyala; sebagian terang dan sebagian redup. Miyuki merasa bibirnya kering. Ia berani membayar mahal seseorang untuk sekadar menciumnya dan memeluknya kuat dan menemaninya menuju kamar apartemennya yang masihlah berjarak belasan menit lagi.

Seseorang itu sudah mengikutinya sejak ia keluar dari kelab. Begitu Miyuki meyakini. Ia memang baru menyadarinya lima menitan kemudian, tetapi ia yakin itu pastilah disebabkan ia masih teramat memikirkan apa yang dialaminya di kelab setelah jam operasi berakhir. Si pemilik kelab, seorang perempuan berusia tiga puluh sembilan yang masih terlihat begitu muda dan memesona, menghampirinya dan membisikkan di telinganya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua saja dengannya. Saat itu, Miyuki baru saja berganti pakaian, dan sedang mematut-matut diri di depan cermin, sambil memeriksa riasan wajah.

Di cermin besar di hadapannya, Miyuki mendapati bayangan perempuan itu mengedipkan mata kepadanya, sambil menyunggingkan senyum yang seketika diartikannya sebagai ajakan untuk bercumbu. Dan benar saja, mereka memang bercumbu, berdua saja, di ruangan pribadi si pemilik kelab yang terletak jauh di sayap lain. Awalnya mereka sekadar bicara, lalu perempuan itu mulai memosisikan dirinya di belakang kursi di mana Miyuki duduk, dan tanpa ragu mengelus-eluskan telapak tangannya yang lembut ke lengan Miyuki, lalu ke pundaknya, lalu ke lehernya, lalu ke rambutnya, lalu ke wajahnya. Miyuki tahu lambat laun percumbuan ini akan terjadi. Dan ia tak menolaknya, meski ia merasa sesungguhnya ia bukanlah tipe orang seperti itu; ia masih jauh lebih memilih bercumbu dengan lelaki kendatipun si perempuan sangatlah menarik dan menyegarkan mata. Miyuki tahu, perempuan pemilik kelab itu telah menyukainya sejak lama, dan telah mengincarnya juga sejak lama, dan ia tak memendam kebencian atau perasaan buruk apa pun kepadanya.

Mereka bercumbu, dalam gairah yang semakin lama semakin tinggi, semakin seperti mendidihkan cairan dalam tubuh mereka dan membuat degup jantung mereka seakan berdentum dan berdentum. Miyuki pada akhirnya menanggalkan apa yang dikenakannya. Begitu juga perempuan itu. Tak ada lagu atau musik atau bunyi latar lain. Mereka berdua seolah-olah bersepakat untuk menikmati percumbuan tersebut dalam hening.

Setelah percumbuan tersebut berakhir, ketika Miyuki mengambil ponselnya untuk mengecek jam, ia mendapati ia sudah meluangkan waktu untuk si pemilik kelab lima puluh sembilan menit lamanya. Gara-gara itu ia terpaksa pulang sendirian. Biasanya Miyuki akan berjalan dengan dua hostess lain di kelab tersebut sampai mereka tiba di perempatan kedua atau ketiga; perempuan satu akan berbelok ke kiri dan yang satu lagi ke kanan sementara Miyuki menyeberang lurus; lurus dan terus lurus. Kali ini saat Miyuki berdiri di luar pintu masuk kelab ia dihadapkan pada kesunyian, keheningan, kesendirian. Tetapi di detik itu ia belumlah menyesalinya. Belum, sebab selama lima menitan sejak meninggalkan kelab Miyuki masih sangat memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dengan si pemilik kelab, yang rupa-rupanya menumbuhkan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. (Barangkali Miyuki sebenarnya tidaklah setegas yang ia kira.)

Dan sekaranglah, saat ia terus mempercepat langkah-langkahnya, rasa sesal itu datang, menyergapnya, menghimpitnya, membebaninya, membuatnya merasa ia begitu cepat lelah dan kehabisan napas padahal biasanya ia selalu baik-baik saja saat tiba di depan pintu kamar apartemennya. Miyuki berharap ini hanya perasaannya saja, tetapi seseorang yang mengikutinya itu seperti semakin dekat; seperti jarak antara seseorang itu dan dirinya terus memendek dan memendek. Miyuki bisa mendengar langkah-langkah cepat seseorang itu berseteru dengan langkah-langkahnya sendiri. Masih lebih dari sepuluh menit lagi. Kini Miyuki mencengkeram kedua lengannya, seolah-olah ia ingin sekuat tenaga mencabiknya.

___

Di detik zebra itu menyadari ia akan menjadi santapan para hyena, apa yang mungkin terbit di benaknya? Apakah ia teringat kawanannya, dan ia kecewa pada mereka karena tak satu pun dari zebra-zebra tersebut tergerak untuk menolongnya, atau setidaknya sekadar mengkhawatirkannya? Ataukah ia justru tengah mengingat-ingat rupa tiap-tiap hyena yang akan mencabik tubuhnya dan melenyapkannya, membuat keberadaannya di kehidupan yang dijalaninya itu terasa fiktif, sambil di dalam hati berjanji akan menghantui hyena-hyena itu di sisa hidup mereka? Ataukah justru, ia sedang memikirkan apa itu kematian dan apa sesungguhnya itu kehidupan, dan apa makna dari menyerahkan kehidupannya demi kelanjutan hidup hyena-hyena tersebut? Ataukah ternyata, ia sama sekali tak memikirkan apa-apa?

___

Seseorang itu akhirnya menyergapnya sebelum sempat ia berbelok di perempatan terakhir. Miyuki sebenarnya sudah mencoba berlari, tetapi lari seseorang itu jauh lebih cepat dan ia sendiri sialnya terhambat oleh sepatu boot berhak tinggi yang dikenakannya. Tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk menyudahi perlawanan Miyuki; ia menekankan ke hidung Miyuki lipatan sapu tangan yang dibasahi cairan tertentu berbau kuat. Miyuki berusaha mengumpulkan informasi tentang seseorang itu di detik-detik sebelum kesadarannya hilang, dan tiga hal inilah yang ia dapatkan: (1) kaus dan mantel hitam; (2) sepasang sarung tangan yang juga hitam; (3) wajah yang tampan dan barisan gigi yang bersih-rapi.

Ketika kesadarannya kembali, Miyuki mendapati ia berada di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Sebuah kamar. Mungkin di sebuah apartemen tak jauh dari perempatan tadi. (Bisa jadi tak jauh juga dari apartemennya!) Miyuki menelentang, di sebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali kuat-tebal ke ujung-ujung penyangga ranjang, menjadikan ia jika dilihat dari atas serupa huruf X besar dengan satu tonjolan kecil di atas—kepalanya. Miyuki merasa ruangan itu begitu dingin dan ia lekas memahaminya saat ia mengangkat kepala, mencoba melihat perut dan mungkin kakinya. Di ranjang itu ia dalam keadaan telanjang. Telanjang setelang-telanjangnya.

___

Seandainya zebra itu tak berlari saat seekor hyena menghambur ke arahnya, ia mungkin tidak akan terjebak dalam posisi tadi—berada dalam kepungan sekawanan hyena. Bisa jadi, zebra-zebra lain pun masih akan ada di sekitarnya, menghindarkan ia dari merasa sendirian, dan tak berdaya. Tetapi kalaupun itu terjadi, ia agaknya tetap akan mati. Seekor hyena itu sudah berniat membunuhnya saat memutuskan untuk berlari ke arahnya, dan ia diperlengkapi dengan taring dan cakar dan hal-hal lain yang memungkinkannya melumpuhkan zebra tersebut dalam waktu singkat. Si zebra bisa saja mengeluarkan suara-suara dengan maksud meminta hyena tersebut membatalkan niatnya, tapi sudah pasti itu sia-sia. Sia-sia belaka. Kita harus ingat bahwa “bahasa” zebra bisa jadi tidaklah sama dengan “bahasa” hyena. Dan lebih dari itu, keinginan si hyena untuk beroleh makan malam tak akan teratasi hanya oleh permohonan naif semacam itu.

Jadi kau pun membayangkannya seperti ini: zebra itu mati, dan hyena itu mulai mencabik-cabiknya, mengoyak-ngoyak perutnya yang gemuk dan penuh daging. Zebra-zebra lain mungkin berada tak jauh dari sana, tetapi mereka sama sekali tak melakukan apa-apa; paling-paling mereka hanya mengamati dan dalam hati berbelasungkawa dan bersyukur bukan mereka si zebra yang bernasib malang itu. Hyena-hyena lain? Sangat mungkin mereka berdatangan; mereka mencium kematian si zebra dan mereka tak rela daging empuk si zebra habis tanpa mereka beroleh bagian sedikit pun. Pada akhirnya, mendapati sekawanan hyena itu dengan bengis melenyapkan keberadaan si zebra, zebra-zebra lain mungkin pergi juga, menjauh, mencoba menjaga diri mereka tetap aman setidaknya satu-dua hari lagi. Dengan demikian si zebra yang mati itu kembali sendirian. Ia sendirian dan ia mati dan ia lekas tiada—hampir-hampir tak berbekas. Semuanya sama saja. Herbivora malang itu harus mati karena ia tak diperlengkapi hal-hal yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu. Si hyena, di sisi lain, bisa mengatasi rasa laparnya—dan karenanya ia bertahan hidup lebih lama—karena ia diperlengkapi dengan hal-hal yang membuatnya bisa melakukannya.

___

Seseorang yang tadi menyergapnya itu muncul. Ia telah telanjang; kini Miyuki bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Miyuki tak tahu siapa lelaki itu, juga tak tahu mengapa lelaki itu menyergapnya dan membawanya ke kamar ini (dan mengikatnya dalam posisi hina ini), tetapi ia tahu apa yang akan segera dialaminya, apa yang tak lama lagi akan dilakukan si lelaki terhadapnya. Si lelaki akan menusuk-nusukkan alat kelaminnya yang mengeras ke lubang kemaluannya. Itu pasti. Miyuki mulai membayangkan seberapa sakitnya hal itu. Atau mungkin, lebih tepatnya, seberapa menghinakannya hal itu. Memang ia pernah beberapa kali bersanggama dan belum satu jam yang lalu ia membiarkan jari-jari si pemilik kelab bermain-main di lubang kemaluannya, tapi ia belum pernah diperkosa, dan itu tentu berbeda.

Miyuki tak mengenal lelaki itu. Mulanya ia sempat menduga lelaki itu adalah salah satu pelanggannya yang menaruh dendam padanya namun berapa kali pun ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu tetaplah asing. Asing dan benar-benar asing. Maka itu berarti: kau akan disetubuhi oleh seseorang yang sama sekali tak kau kenal, pikirnya. Ia akan menyakitimu, menyakitimu dan menyakitimu, dan kau tak punya sedikit pun peluang untuk menghindar, sambungnya. Dan lebih menyedihkan dari itu, lanjutnya, kau bahkan tak bisa mencoba bunuh diri untuk menyelamatkan dirimu dari penghinaan tak tertanggungkan itu.

Miyuki bisa berteriak, sebenarnya. Lelaki itu entah kenapa tak menutupi mulutnya dengan plester atau yang lainnya. Ia juga tidak dalam pengaruh obat tertentu yang membuatnya kehilangan suaranya. Miyuki bisa berteriak, mengaum, bahkan melolong jika ia mau. Tetapi ia tak melakukannya. Ia tahu lelaki itu tidak bodoh. Ia tahu lelaki itu telah memperhitungkan kemungkinan dirinya berteriak, dan itu berarti satu hal: percuma saja mencobanya.

Lelaki itu menghampirinya, berdiri tepat di samping kirinya. Miyuki kembali bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Di tangan kanannya rupanya tergenggam pisau. Sejenis pisau yang bisa kaugunakan untuk membersihkan perut ikan mati yang akan kau masak dan kau makan. Miyuki tahu betul lelaki itu akan menggunakan pisau tersebut untuk melukainya; menorehkan di tubuhnya beberapa luka yang akan selalu mengingatkannya pada kekejian ini. Miyuki membayangkan pisau tersebut justru tergenggam di tangannya, dan tangannya itu tidak terikat dan bebas bergerak, dan ia menikamkan pisau tersebut kuat-kuat ke dadanya—agak ke kiri, tepat di mana jantung-hidupnya bersemayam.

___

Baiklah kita bayangkan zebra itu masih hidup. Ia belum dikepung sekawanan hyena tadi, bahkan belum bertatapan muka dengan si hyena yang mengejarnya. Yang dilakukannya adalah mengunyah rumput adalah buang air kecil adalah tidur adalah berjalan adalah minum adalah mencoba kawin adalah berak. Ia tak melakukan keburukan apa pun. Ia tak melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakukan seekor zebra. Ia bergerak bersama kawanan. Ia tumbuh menjadi sebentuk herbivora dengan wujud yang serupa dengan para anggota kawanan. Ia hewan baik. Ia nyaris tak menyakiti hewan-hewan lain. (Nyaris, sebab beberapa kali ia mungkin pernah menginjak serangga-serangga tanpa sengaja dan ia tak menyadarinya.) Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tanpa melakukan kebengisan apa pun, tanpa terlibat dalam kekejian apa pun. Dan begitulah ia mati, seperti yang kausaksikan di layar televisi tadi. Ia mati dan ia dicabik-cabik dan keberadaannya hampir-hampir tak berbekas. Kau merasa kasihan kepadanya. Kau berbelasungkawa, dan kau mendoakan hal-hal baik untuknya, di kehidupannya yang selanjutnya. Seekor zebra adalah seekor zebra semasa ia hidup, dan seekor hyena adalah seekor hyena semasa ia hidup. Kau mengulang-ulang kalimat ini dalam benakmu, dan terus mengulang-ulangnya, dan terus mengulang-ulangnya. Dan tiba-tiba kau merasa, kau bisa membuat sebuah cerita dari apa yang kausaksikan itu.

___

Seseorang itu sudah mulai memasukinya dengan kasar dan Miyuki baik-baik saja dan baik-baik saja. Itu bohong, tentu. Jelas-jelas Miyuki kesakitan, meski ia entah kenapa menahan diri untuk tak berteriak; ia hanya sedikit mengerang dan mendesah nyaris seperti apa yang dilakukannya tadi bersama si pemilik kelab. Ia memejamkan mata, dan sebisa mungkin berusaha membuat bibirnya tertutup. Ia telah mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya, namun terbukti itu sia-sia. Ia merasa kotor; kotor dan sangat kotor. Dan ia mulai membenci dirinya sendiri, seseorang itu, juga apa yang tengah (dan entah sampai kapan) dialaminya ini.

Pada akhirnya Miyuki mencoba pasrah saja dan menganggap rasa sakit yang menyerangnya itu fiktif belaka—begitu juga rasa sakit dari sejumlah luka toreh di perut dan lengan dan pahanya. Ia akan membiarkan seseorang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, sampai ia puas, sampai ia bosan, sampai ia jenuh, sampai ia muak. Miyuki terus memejamkan mata, dan ia mulai membayangkan dirinya berada di kamar apartemennya sendiri, dan waktu dengan cepat mundur ke bulan-bulan lalu, dan berhenti di sebuah malam di mana ia pernah hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tali gantungan sudah siap. Televisi menyala tanpa suara dan surat berisi kata-kata terakhir telah selesai ia buat. Kepada siapa surat itu ia tujukan? Kepada kekasihnya. Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Lelaki itu memutuskan hubungan mereka tepat di hari jadi mereka yang kelima; memutuskan hubungan tersebut dengan sebuah meeru berisi permintaan maaf dan penyesalan betapa selama setahun terakhir ia tak pernah bisa benar-benar mencintainya lagi, sebab ia menyadari ia telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain—seorang lelaki. Di hari jadi mereka yang kelima itu, Miyuki ingat, ia mencoba menelepon si lelaki sebelas kali namun tak juga si lelaki mengangkatnya. Tak juga, atau lebih tepatnya, tak bisa. Lelaki itu menggantung diri beberapa lama setelah ia mengirim meeru perpisahan tadi. Miyuki tak pernah menyangka, seseorang yang ia yakini akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Sementara rasa sakit dari tusukan seseorang itu terus menyerangnya, Miyuki masih berusaha mempertahankan gambaran tentang malam di mana ia hampir bunuh diri itu. Sial sekali aku. Sial sekali aku batal melakukannya, pikirnya. Tadi ia memang berniat pasrah saja dan berharap setelah semua kebrengsekan ini selesai ia akan berpura-pura melupakannya dan mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa, menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi kini ia ragu; ia ragu ia akan bisa melakukannya, bahkan satu detik saja. Lagipula tak ada jaminan semua kekejian ini akan berlalu. Begitu ia kemudian berpikir. Seseorang itu bisa saja belum akan puas dan itu artinya ia masih harus menghadapi perasaan terhina ini lagi dan lagi. Atau, seseorang itu bisa saja menyakitinya lebih jauh dan ia akan semakin tak sanggup lagi menanggungnya. Bisa juga, seseorang itu membunuhnya, segera.

Miyuki akan memilih yang ketiga. Setidaknya itu akan menghindarkannya dari menderita lebih lama. Tetapi apakah ia dalam situasi bisa memilih? Ia kira tidak. Ia sekarang mulai bertanya-tanya kenapa ia mengalami hal ini, seolah-olah lebih dari dua puluh lima tahun hidup yang dijalaninya begitu penuh dengan perbuatan buruk yang dilakukan olehnya. Ia yakin sekali, selama ini ia hanya melakukan apa yang sewajarnya dilakukannya. Kalaupun benar ia melakukan sesuatu yang buruk, menurutnya itu pastilah tanpa kesengajaan dan bukan sesuatu yang teramat besar, sehingga seberapa pantas ia mengalami kebusukan ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri baginya.

Tetapi percuma. Miyuki tahu betul memikirkan hal tersebut saat ini percuma. Seseorang itu akan terus menusuknya dan menusuknya. Seseorang itu akan terus menyakitinya dan menyakitinya. Dan ia akan di sana, memejamkan mata, menahan bibirnya yang kering itu tertutup. Dan ia akan di sana, merasa dirinya begitu hina, dan tak berdaya.***

—Cianjur, 11-12 April 2017


Ardy Kresna Crenata menulis esai, puisi, cerpen, dan novela. Buku termutakhirnya adalah sebuah kumpulan cerpen: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya, yang dari segi bentuk cukup problematis, akan terbit dalam waktu dekat.

Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

Cerpen Sasti Gotama

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Kalau bukan demi uang, ia tak akan mengirimkan tulisan-tulisan itu. Bukan alasan idealis, demi kesusastraan. Baginya, ini satu-satunya jalan keluar yang bisa ia bayangkan. Tagihan-tagihan itu tidak bisa menunggu. Seumpama melintasi jembatan, ia telah berlari di atasnya sedangkan jembatan di belakangnya telah terbakar.

Yuanita, anak perempuannya telah tertidur sejak pukul tujuh malam. Sepertinya ia kelelahan setelah ekstrakurikuler berenang. Dua puluh menit yang lalu, bocah kelas lima itu bahkan menguap berkali-kali saat mengerjakan PR yang berlembar-lembar. Begitu nomor terakhir ia selesaikan, ia langsung jatuh tertidur di atas buku catatan hingga Alina Karina harus mengangkatnya ke kamar.

Alina Karina kadang heran, sebetulnya sekolah itu tempat belajar atau tempat penyiksaan? Seharusnya sekolah tempat anak-anak bersenang-senang sambil belajar, bukannya tempat menimbun beban, dijejali dengan berbagai hafalan dan hitung-hitungan memusingkan. Buktinya, saat ini semua hafalan Alina Karina di sekolah dasar tentang bahan tambang di Indonesia dan juga daerah penghasilnya tak bisa membuatnya mendapat uang.

Alina Karina berjingkat ke arah meja rias. Sambil memikirkan ide apa yang bisa ia tulis untuk dikirimkan ke koran, ia membersihkan wajah dengan kapas basah. Baru dua karyanya yang menghasilkan. Tiga ratus ribu rupiah langsung menguap untuk biaya rekreasi bersama kelas lima Yuanita. Saat itu ia menulis tentang seorang perempuan yang melahirkan seekor serigala. Padahal ia tak pernah bercinta satu kali pun dengan seekor serigala. Ia hanya bercinta dengan manusia-manusia berhati serigala. Pada akhirnya, serigala yang terlahir itu tumbuh besar, dan kelak akan memakan ibunya sendiri. Sebetulnya ia tak terlalu memikirkan apa pesan moral dalam tulisannya. Ia hanya membuat cerita aneh yang sepertinya lebih disukai media. Buktinya, saat ia menulis sebuah cerita mendayu-dayu dengan pesan moral, balasan yang tercantum seperti kalimat pembuka di atas.

Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saat Alina Karina telah menyelesaikan riasannya. Alisnya sudah melengkung cantik dan bibirnya merah muda. Ia meraih gaun hitam menerawang dari lemari sambil memikirkan bahan cerita lainnya. Ia harus membuat cerita yang baik, alih-alih menulis kisah yang buruk. “Mungkin aku harus menulis cerita yang berisi hujatan pada pemerintah,” gumamnya. Orang-orang suka membaca hal yang buruk, pikirnya. Hal-hal yang baik tak pernah mereka bicarakan, berbeda ketika ada berita buruk, maka dengan semangat empat lima mereka memakan bangkai berjamaah. Serupa bawang, semua dikuliti hingga lapis terakhir.

Seorang editor yang pernah menggunakan jasanya di sebuah kamar hotel kelas melati pernah berkata, “Menulislah karena kau mau menulis. Jangan pernah menulis karena uang.” Ia mengatakan itu sambil menguap dan menarik selimut yang  menutupi sebagian pinggangnya. Kalau meludahi editor tidak akan membuatnya kehilangan uang jasa pelayanan, mungkin sudah dilakukan saat itu juga. Tapi ia butuh uang itu untuk membayar tagihan BPJS yang naik bulan ini.

Alina Karina menggelengkan kepalanya. Menyesal telah mengingat hal menjijikkan itu. Sebetulnya semua yang dilakukannya menjijikkan. Tapi ia terpaksa. Kadang, saat di atas kasur apak dan seseorang menungganginya dari belakang, ia hanya memikirkan Yuanita.

Pelan-pelan ia menutup kamar kos agar Yuanita tidak terbangun. Malam itu dingin sekali, dan bulu-bulu kuduknya –satu-satunya bagian yang tidak ia cukur—meremang. Harusnya aku memakai jaket, pikirnya. Tapi kemudian ia sadar, itu berarti akan membuat keseksiannya tak akan terlihat pelanggan.

Di bawah sinar bulan purnama, Alina Karina berdiri sambil menggosok-gosok kedua lengannya. Di jalan ini belum disediakan lampu penerang. Beberapa rekan seprofesinya tampak duduk-duduk di pembatas jalan dan sungai. Daerah ini lebih dikenal sebagai jalan inspeksi banjir kanal barat. Tak banyak yang lewat. Hanya beberapa motor. Itupun tak ada yang menghampirinya.

Alina Karina memilih untuk bersandar di pohon kersen pinggir jalan. Punggungnya sedikit pegal. Sebetulnya ia tak ingin mengingat-ingat masa lalunya. Namun, ingatan itu dengan seenaknya nongkrong di benaknya. Alina Karina bukan nama aslinya. Tapi ia suka nama itu, juga untuk nama penanya.

Sebetulnya, seperti alasan-alasan klise lainnya, tak ada yang mau jadi tunggangan lelaki yang berbeda-beda jika bukan karena terpaksa. Ia sudah coba melamar ke mana saja, tak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena sosoknya. Kalau memungkinkan, ia ingin pindah ke Thailand, tapi ia urungkan dan berpikir untuk menulis cerita saja. Dalam dunia tulis menulis, orang hanya menilai dari ceritamu, bukan sosokmu. Ia berangan-angan, dengan menulis cerita ia bisa bebas finansial, tak perlu menjajakan diri seperti ini. Sesaat, ia merasa otaknya dipenuhi labi-labi.

Seorang pengendara vario hitam melambatkan motornya dan berhenti di depannya. “Mampir, Mas?” Alina Karina mengedip manja dan melontarkan senyum termanis yang ia punya. Lelaki pengendara motor itu sedikit gugup. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Sinar bulan membuat wajahnya tampak lebih pucat.

“Bonceng saya ke penginapan di ujung jalan sana, ya Mbak.” Alina Karina mengangguk dan langsung duduk di boncengan lelaki berjaket hitam itu. Bau musk yang terlalu pekat segera terhirup olehnya. Ia tidak peduli ke mana lelaki itu membawanya. Pikirannya dipenuhi bahan cerita apa yang bisa dibuatnya.  Ia bernazar, jika cerpen yang akan dibuatnya kali ini bisa tembus media ternama, ia akan berhenti menjajakan diri dan sepenuh hati hanya menulis cerita. Seandainya ia tahu, bahwa banyak penulis yang tak bisa menggantungkan nafkah dari cerita, tentu ia tak akan bernazar seperti itu dengan gegabah.

Pikiran Alina Karina masih dipenuhi dengan ide-ide cerita ketika lelaki itu membelokkan motor ke arah rimbun kebun jagung. Ia bahkan sedang memikirkan kalimat pembuka ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu membanting tubuhnya ke arah sela-sela tanaman jagung. Lelaki itu mencekik leher Alina Karina sambil mengerang bahwa pria yang menyalahi kodratnya seperti Alina Karina patut dimusnahkan dari dunia daripada membawa petaka bagi manusia di sekelilingnya. Di saat terakhir, Alina Karina telah melupakan hal-hal tentang cerita. Ia hanya terbayang Yuanita,  dengan suara cadel memanggilnya “Ayah”.***


Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

Cerpen

Taman Dasar Kali

Cerpen Kiki Sulistyo

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah. Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang. Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi? Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak, jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan. Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata, “Kenapa berlalu seperti itu?” Aku berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini, berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata, wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya yang jelita—o, penguasa semesta!—membuatku tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya, meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa. Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama. Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…” kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku. Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari, seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada. Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan. Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti? Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas, nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian. Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan, menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Cerpen Candrika Adhiyasa

            Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian. Kemudian kita membangun surga di kehidupan ini bersama-sama, membangun singgasana megah yang boleh jadi terlihat sederhana. Dengan beberapa bunga, pohon mangga yang remaja, dan beberapa helai rumput yang tumbuh dari sela-sela batuan. Saban pagi, tiap helai daun dan reranting yang gugur di beranda rumah kita selalu kausapu dengan jeli—tiada tersisa di antara bunga kamboja merah muda yang merdeka mewarnai ruang sekehendaknya. Kau sangat menyukai ikan koi yang bergumul ke sana kemari mencari penghidupan di kolam kecil yang ada di sebelah barat taman kita. Dengan senyum tipis yang begitu manja, kau acapkali mencoba berdialog dengan mereka meski kadang-kadang tak mendapat jawaban dalam bentuk apapun.

            “Lemparkan kunci ini ke kolam itu!” pintamu seusai mengunci gembok berwarna perak itu di tepi pagar rumah kita.

            “Ini ‘kan bukan di Perancis.”

            “Memangnya kenapa kalau bukan di Perancis? Bukankah harapan bisa kita tanam di mana pun?”

            Aku hanya tersenyum menanggapi keinginanmu. Kau kadang-kadang begitu konyol, tetapi itu yang aku suka darimu—kesahajaanmu dalam menjalani hidup. Kau barangkali terobsesi dengan mitos yang ada di jembatan Pont des Arts yang berada di sepanjang sungai Seine di samping museum Louvre itu. Aku tentu tidak bisa menolaknya, apalagi ketika kau menunjukkan wajahmu yang cemberut itu—seakan-akan dalam kamus bahasaku hanya bisa kutemukan kata ‘ya’. Maka aku lemparkan kunci yang kauberikan ke kolam di taman kita. Beberapa ikan koi terlihat berpencar karena kaget. Permukaan kolam melahirkan riak kecil yang susul-menyusul. Kau memejamkan mata dan tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Kosakata ‘bahagia’ seketika telah menemukan maknanya. Gembok berwarna perak yang sedari tadi menggantung di tepi pagar itu kautatap dengan penuh harap. Ah, rupanya benda apa pun bisa menjadi indah apabila kita memaknainya, tak terkecuali sebongkah besi yang dibentuk menjadi benda bernama gembok ini.

            Cinta yang abadi selalu menjadi topik pilihanmu dalam setiap perbincangan kita sejak muda. Mungkin jawabanku yang asal-asalan ketika itu secara kebetulan sesuai dengan jawaban yang kauharapkan—yang tidak kaudapatkan dari mulut lelaki mana pun. Dahulu aku pernah berkata, bahwa cinta yang abadi adalah suatu kepastian. Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka akan hidup abadi.

            Sekian puluh tahun sudah setelah kunci gembok itu aku lemparkan ke kolam di taman kita, rambutmu yang dahulu panjang hitam terurai, kini hampir sepenuhnya memutih. Wajah bayi-bayi menggemaskan yang dulu sering kautunjukkan padaku di galeri handphonemu, kini sudah lahir ke dunia dan menjadi dewasa. Kau dahulu berharap memiliki tiga bayi yang menggemaskan dan bisa menghapus segala lelah setelah membanting tulang mencari penghidupan. Kini harapanmu terwujud sudah. Mereka telah lahir ke dunia dan mengalami apa yang dinamakan kasmaran—seperti kita. Mereka juga telah sama-sama berkeluarga—mengurai benang kusut kehidupan dengan fondasi kasih sayang. Rupanya waktu telah memelihara mereka hingga tumbuh menjadi pelaut ulung yang siap mengarungi samudera kehidupan. Kini kita hanya tinggal berdua di istana surga yang selama ini dengan sabar menampung mimpi-mimpi kita.

            Di beranda rumah, kita sama menikmati siang yang hendak bermetamorfosis menjadi sore. Tentu akan kita saksikan pula lukisan Tuhan yang berwarna jingga di ufuk barat kesukaanmu itu. Kau, seperti biasanya, akan takjub dan memendam kata-kata sehingga satu-satunya jalan kaluar bagi mereka adalah melalui bola matamu. Setiap hari, kita selalu mencoba mencatat kelahiran dan kematian waktu melaluinya. Namun, kita tak pernah sadar bahwa sebenarnya kita tengah mencoba mencatat kelahiran dan kematian kita sendiri.

            “Apakah cinta abadi?” ucapmu sembari menatap matahari yang tenggelam hampir sempurna.

            “Tentu saja,” jawabku singkat.

            Kau menoleh ke arahku. Koran lama yang sedari tadi kubaca kini kalah menarik oleh matamu. “Sinar di kedua bola matamu tak pernah meredup, Sayang. Karenanya aku percaya, bahwa cinta memang benar-benar abadi.” Senja yang saban hari kaunikmati itu kini gugur di kelopak matamu. Senyum yang terbit dari bibirmu terasa begitu hangat, sehangat nuansa yang dihidangkan hari yang menjelang peristirahatannya, atau barangkali, kematiannya. Kita tentu akan mati pula, Sayang, dan hal itu memang lazim dikhawatirkan semua orang di usia kita saat ini. Tetapi, Qays dan Laila, yang menurutku tidak seberuntung kita karena sempat bercinta di dunia ini, tetap akan mengecap nikmatnya hakikat cinta yang abadi itu di mana pun, bahkan di luar kehidupan ini. Bunga kamboja yang dahulu selalu bermekaran, kini benar-benar hilang ditelan masa. Namun, bukankah kita selalu mampu mengingat warnanya ketika ia mekar meski kini telah tiada? Tiada yang benar-benar bisa luput dari ingatan, apalagi jika sesuatu itu teramat berharga. Ikan-ikan koi yang senantiasa kauajak berdialog tempo hari, kini mungkin sudah berenang di sungai surga yang mengalir begitu damai. Kolam itu telah lama kering. Pernah beberapa kali aku coba mencari kunci yang tenggelam sekian lama di dasarnya, tentu bukan untuk membuka gembok yang telah berkarat diterpa angin dan hujan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah ia masih ada atau tidak. Tetapi yang bisa kutemukan hanyalah kerakal-kerakal dan semak-semak yang kian semerawut memenuhidasar kolam yang mulai retak-retak. Kau barangkali tak tahu bahwa meskipun aku sudah agak pelupa, aku seringkali tiba-tiba mengingatnya ketika hendak tidur di kamar kita yang mulai sepi ini. Kunci itu memang tak pernah kutemukan, tetapi bukan berarti ia tak ada. Ia barangkali telah menyatu dengan tanah, yang artinya, telah melebur dengan kehidupan ini.

            Di hari-hari berikutnya, kau seringkali menatap langit dengan pandangan yang kosong. Tak kudengar lagi pertanyaanmu tentang cinta yang abadi itu. Apakah kau sudah bosan bertanya atau apa, aku tak terlalu paham. Namun yang kuyakini, mungkin kau sudah dengan utuh memahaminya setelah jutaan kali kautanyakan padaku. Pandanganku semakin kabur kali ini, Sayang. Kacamata sudah hampir tak bisa membantuku melihat sesuatu dengan jelas. Wajahmu … tentu saja, selalu mampu kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam pikiranku, kau selalu tampak selalu cantik seperti kali pertama kita jatuh cinta.

            Ketahuilah, Sayang. Gembok itu masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Aku bahkan hampir percaya pada apa yang kaututurkan tentang Pont des Arts yang mampu mengabadikan cinta melalui ritus serupa. Sayang sekali aku tak bisa mengajakmu menikmati senja di sana. Aku tak pernah benar-benar yakin alasan apa yang membuatku tak bisa membawamu ke sebuah tempat yang barangkali sudah kaunamai sebagai surga itu selain rumah kita. Cinta ini begitu panjang, namun usia, oh, pendek sekali. Kaubilang bahwa keindahan hanya akan hidup sekejap, seperti senja. Namun, kau kembali berusaha untuk yakin bahwa keindahan bisa jadi pula abadi, tidak lepas, seperti gembok yang kehilangan kuncinya. Meski aku sempat menolak untuk percaya pada yang kaukatakan tentang Pont des Arts, tanpa kusadari, ternyata secara diam-diam aku berharap mampu memercayainya.

            Pada suatu siang, tiga anak kita telah pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya, tepatnya menemuimu. Rindu memang acapkali gemuruh ketika hendak diredam. Kita memang seringkali munafik pada perasaan kita sendiri. Lucu, bukan? Tiga bayi menggemaskan yang sudah mendewasa itu akhirnya bekumpul di rumah ini lagi, seperti dahulu kala. Namun yang mengherankan adalah, mereka semua menangis. Aku tak memahami apa yang mereka tangisi, Sayang. Barangkali penyebabnya adalah kapas yang menutup lubang hidung dan telingamu. Mereka bilang kau telah meninggalkan kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin tertawa, Sayang. Aku ternyata lupa mengajari mereka sesuatu yang paling sering kita bicarakan. Bukan tentang senja. Aku tak pernah mau menanggapi keyakinanmu yang akhirnya kaukhianati sendiri. Tetapi tentang cinta yang abadi. Barangkali, setelah tak bernapasnya engkau, aku akan mengajak mereka ke Perancis untuk melihat gembok-gembok yang berjejer di tepi pagar kawat jembatan Pont des Arts. Aku harus mengajari mereka secara langsung mengenai ini. Kau setuju, bukan? Tidak … tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Kau terlihat sudah begitu lelah. Beristirahatlah lebih dulu. Biarkan aku yang mengusap air mata anak-anak kita. Besok kami akan mengantarmu menuju rumah yang lebih indah. Tidak apa-apa. Tidak perlu menyesal. Rumah ini, yang sekian lama telah melindungi kita dari keputusasaan, memang akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah kita yang sejati berada di kehidupan yang lain. Kau pergilah lebih dulu, Sayang. Aku akan segera menyusul. Masih ada saat-saat bagiku untuk merenungi beberapa hal yang sebelumnya tak sempat aku lakukan ketika berada di dekatmu. Bagaimana tidak, bola matamu selalu mampu memenuhi ruang pikiranku.

            Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka pasti hidup abadi. Bukankah itu yang kita percayai? Kefanaan senja adalah raga kita, Sayang, dan cinta adalah apa yang semayam di dalam ruh keabadian.

Setelah mengantarmu ke rumah baru kita, aku akan duduk kembali di kursi beranda rumah ini. Aku, tentu saja, akan berusaha mengamati—meski dengan pandangan yang telah kabur—sisa-sisa kenangan dari warna bunga kamboja, daun-daun dan reranting yang berserakan di halaman rumah, pohon mangga yang kian mendewasa dan hendak berbuah, kolam yang telah kering bersama fosil ikan-ikan koi, dan juga gembok yang masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Dan kau tahu, Sayang? Kini senja telah samar-samar menghitam. Barangkali untuk terakhir kalinya. Aku akan segera berbaring di sampingmu, untuk menikmati kehidupan indah tempat kita benar-benar bisa memahami cinta yang abadi.***

Tasikmalaya, 9 Juni 2018. 03.18 WIB


Candrika Adhiyasa, lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 14 Desember 1996. Ia telah menulis beberapa novel seperti Gurattala (Penerbit Gemala, 2018) serta beberapa buku kumpulan puisi seperti Kenapa Rumahku Kian Sunyi (Bangusastra, 2018). Selain itu, ia kerap menulis cerpen dan esai.