Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Esai

Mengencani Jakarta

Esai oleh Shela Kusumaningtyas

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun pemberhentian  berikutnya. Begitulah pekik yang diumumkan. Speaker yang dipasang di sudut-sudut kereta melantangkan dan terus mengulang pemberitahuan itu. Para penumpang yang berjejalan di tengah gerbong telah bersiap menembus barisan penumpang lain yang juga berjibaku dengan pegangan.

Mereka yang akan turun lantas menyusun jurusnya masing-masing supaya tidak terjepit di dalam kereta yang penuh sesak. Lalu akhirnya terlewat untuk keluar kereta. Sebab pintu kereta terbuka tak lebih dari lima menit.

Penumpang yang kebetulan dapat tempat duduk pun mesti beranjak dari bangku. Mereka harus menyibak celah-celah sempit antara para penumpang yang berdiri. Kemudian mendekatkan posisi dengan pintu kereta.

Gerak mereka mesti gesit. Pasalnya, penumpang di luar juga telah menunggu untuk dapat masuk kereta. Sehingga, dibutuhkan kerja sama antara penumpang yang turun dan naik. Supaya tidak ada yang dirugikan.

Di situlah kesabaran dan emosi diuji. Penumpang yang akan turun akan menyingkal dan menghalau penumpang yang buru-buru naik. Lalu teriakan yang memekakan telinga akan dilontarkan. Bahwa penumpang naik mesti menunggu dulu semua penumpang benar-benar turun.

Sementara penumpang yang akan naik kadung tidak sabar. Mereka abaikan peringatan dari penumpang yang turun. Sebab, jika benar-benar memasuki kereta ketika penumpang dari dalam sudah tidak ada yang turun, kemungkinan untuk bisa dapat ruang di dalam kereta akan sulit.

Kereta sudah begitu sesak sehingga pasti yang akan naik akan dicegah. Lalu mereka disuruh untuk menanti kereta selanjutnya. Padahal, mereka sudah menunggu terlalu lama, hingga parfum yang mereka semprotkan dengan semangat telah menguap baunya. Daya pikat aromanya telah berbaur dengan udara yang mulai tersusupi asap knalpot.

Riasan para perempuan yang akan naik juga mulai terhiasi bulir keringat. Alis yang mereka lukis hampir makan waktu sejam pelan-pelan kehilangan goresannya yang indah. Sebab tak sengaja terseka oleh tisu yang harusnya untuk mengelap keringat.

Penumpang kereta seolah menjelma jadi sosok yang egois. Hampir semuanya menghindari sikap untuk mengalah, karena dengan mengalah, kepentingan mereka akan kacau. Misalnya, waktu untuk tiba ke kantor jadi terlambat.

Selain perilaku saling serobot dan terabas untuk masuk dan turun kereta, keegoisan juga tampak saat kereta melaju. Rasa kantuk seakan langsung menyergap para penumpang yang beruntung bisa menaruh pantat di kursi yang tersedia. Mata langsung disetel terpejam sesaat setelah penumpang duduk, supaya tidur bisa pulas sepanjang perjalanan, mulut dibungkam oleh masker. Tangan mendekap tas. Ini agar sensasi tidur memeluk guling layaknya di rumah bisa dirasakan. Tampilan yang begini menjadi semacam tanda bagi penumpang lain untuk tidak mengusik tidur mereka.

Jika sudah begitu, penumpang lain menjadi patuh terhadap kebijakan tak tertulis tapi telah mengakar di kalangan para pelaju kereta. Dengan demikian, tidak ada yang berani  menepuk pundak penumpang yang tidur.

Tentu bukan tanpa sebab tidur mereka diganggu. Karena penumpang lain akan meminta izin supaya tempat duduknya mereka berikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang membawa balita.

Itulah pemandangan yang jamak ditemui di commuter line. Baik dari atau menuju Jakarta, perjalanan menumpang commuter line menjadi sebuah pertarungan usaha. Ada perjuangan yang mesti dibayarkan supaya tiba di tempat tujuan.

Sikap tolong-menolong dipertaruhkan di dalam gerbong. Kedewasaan dan kebaikan tersorot nyata dalam setiap perlintasan yang dilalui.

Memang betul, acap kali penumpang muda yang sebenarnya masih kuat berdiri dan bergelantungan enggan untuk berbagi kursi. Dalih yang dipakai adalah mereka menempuh perjalanan dari titik mulai hingga titik terakhir relasi kereta.

Dari situ biasanya perdebatan sengit tercetus di dalam gerbong. Semua adu argumen. Tiap mulut kukuh menumbangkan pendapat lawan bicara. Dan masker penutup menjadi pengaman supaya ketika terjadi cekcok soal kursi, tak ada yang mengidentifikasi wajah mereka masing-masing.

Sedangkan penumpang lain asyik jadi penonton sembari mengabadikan momen itu lewat gawai pintar. Sudah bisa ditebak, keributan itu akan sampai ke akun-akun Instagram yang kerap menyebarkan peristiwa viral dan menggemparkan.

Apakah kejadian singkat di kereta listrik tersebut bisa jadi cerminan betapa memburu waktu di Jakarta bisa mengubah kelembutan hati seseorang? Wajar saja, secara psikologis memang jiwa manusia akan lebih tertekan jika dihadapkan pada ketergesaan. Sedangkan Jakarta selalu menuntut orang-orang untuk gesit dan tahan banting meski sesempit apapun waktunya.

Maka dari itu, banyak perantau di Jakarta yang akhirnya tak lagi jadi dirinya. Jakarta mengubah mereka menjadi egois sekaligus temperamen. Pasalnya, jika tidak beradaptasi seperti itu, orang-orang itulah yang akan tergilas. Lalu keok di tengah laju Jakarta yang terus mengebut dengan kecepatan tinggi, tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan Jakarta nyaris lupa tentang arti bernapas lega, karena seluruh penghuninya dipaksa untuk menabrak batas demi mencapai tujuan tanpa pernah berhenti. Padahal manusia sesekali butuh rehat, hanya sekadar untuk mengamati sekeliling yang perlu dibantu.

Itulah anehnya Jakarta. Kejam tapi banyak yang cinta, sehingga jadi rebutan banyak pendatang yang nafsu untuk mengencaninya.

Tak percaya soal Jakarta yang jadi incaran bak gadis yang ditaksir banyak lelaki? Tengok saja betapa penuhnya Transjakarta yang melayani berbelas koridor? Seluruh Jakarta kini memang telah tersambung dengan bus ber-AC kebanggan pemerintah provinsi ini. Bahkan, masyarakat dari kota penyangga di sekitar Jakarta juga terlayani dengan bus ini. Trayeknya telah diperpanjang lintas provinsi dan menjamah kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Transportasi yang terintegrasi seperti itu tentu memudahkan mereka yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Belum lagi ditambah mudahnya moda transportasi lain untuk menjangkau Jakarta. Sebut saja kereta listrik yang bisa memangkas waktu tempuh dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Rangkasbitung ke Jakarta.

Itu baru moda transportasi yang terhitung jarak pendek. Belum lagi layanan transportasi yang memudahkan masyarakat seantero Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke Jakarta. Misalnya, kereta ekonomi dengan tarif termurah dari Semarang ke Jakarta bisa ditebus dengan harga kurang dari Rp. 150.000,-. Kendati penumpang mesti merasakan duduk di bangku yang keras sembari berbagi dengan satu atau dua orang penumpang lain, nyatanya tiket kereta ini hampir pasti laris terjual terutama saat akhir pekan atau pasca lebaran.

Lihat saja berita-berita yang memenuhi media massa. Kebanyakan mencatat bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta mencapai puncaknya ketika lebaran telah usai. Saat itu, para perantau lama ada yang “menyusupkan” pendatang baru yang tergiur dengan bayangan kesuksesan yang bakal direguk ketika bekerja di Jakarta.

Tak ayal, kontrakan petakan yang menjamur di gang-gang sempit di balik gedung-gedung pencakar akan semakin sesak terisi. Tidak ada yang kosong di Jakarta. Semua lahan bisa disulap jadi tempat tinggal atau tempat memungut rezeki. Di Jakarta yang sepi hanyalah hati para warganya yang telanjur dirasuki oleh hasrat ekonomi sebab untuk mengencani Jakarta butuh modal yang terlampau besar.

Jakarta juga telah menukar segala yang ia punya untuk penghuninya. Apa saja yang telah Jakarta beri ke penghuninya tentu tidak bisa ditukar dengan sikap angkuh para masyarakat. Bayangkan saja, Jakarta rela merusak tubuhnya. Tepian laut diuruk menjadi daratan padat demi masyarakat berkantong tebal yang butuh hunian dengan panorama laut yang membentang eksklusif. Selain itu, tanah makin dikeruk untuk disumpal dengan rel-rel yang bakal dilalui kereta bawah tanah layaknya di negara maju. Tanah juga makin digali demi mendapatkan setetes air untuk membasuh badan yang penuh peluh dan debu polusi. Sekaligus untuk memeroleh air yang mampu menghidupi keringnya kerongkongan.

Demikianlah Jakarta, banyak yang memaki namun tak banyak yang rela terusir dari ibu kota negeri ini. Jakarta mungkin seperti kekasih yang tidak romantis dengan cara-cara yang lumrah dan pasaran. Jakarta gengsi memberikan sebatang coklat atau seikat bunga bagi penghuni tercintanya. Jakarta hanya akan mencurahkan kelimpahan cintanya kepada mereka yang mau bergerak demi perubahan dan kemajuan.

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya dimuat di pelbagai media—baik cetak dan online. Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah. Bisa dihubungi via e-mail [email protected]

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie. Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.

Puisi

Puisi Anjrah Lelono Broto

Patah Hati

Jangan lagi ada janji padanya

Kumpulan berlimpah air menyegara

Laut tak butuh lagi ikrar

Lukanya telah menulis mengakar ke dasar

Bilamana masih ada janji

Di saku, di laci, di almari

Dia bersungguh patah hati.

Suara laut beranjak sayup. Mengertilah

kesabaran juga berbatas galah

seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah

laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah

menjadi muara sekian janji

(Surabaya, 2019)

Mengulang Pertemuan

entah telah berapa windu berlalu

engkau menulis tentang kealpaan

untuk menasbihkan dada juga bahu

selayaknya tiang pancang sandaran

sebentuk napas bernadi biru,

berawan merah jambu, bernapas lugu,

juga beraroma tembakau

jatuh kemudian

“sedemikian menjulang

kerinduan akan duka?”

pertanyaan di hulu hujan

itu kubawa lari langgang ke ladang

terbiar sampai perdu setinggi pinggang

putaran jarum jam lalu menjura

dada juga bahu lalu pun berseikat

menjadi sandaran melukaimu

dan perulangan pertemuan di masa dulu

terasa serupa simponi beralas cadas bebatu

(Mojokerto, 2019)

Senantiasa Sudi

Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian

keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan

ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian

tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,

kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!

Kau mungkin pernah menziarahi prasasti

dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?

Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki

ini terasa berat beribu kati

sarat luka yang kita garit sendiri,

dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.

Tapi. Simpan jantungmu di almari

ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi

menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).

Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi

kemarin, sekarang, juga nanti.

(Mojokerto, 2019)

Wajah-Wajah Penantian

wajah segelas anggur adalah penantian

hangat namun membubung-lupakan

penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu

diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu

terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau

tertebar dan segala ikan diterkam mau

penantian pun mampu menjadi wajah cermin

buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin

di muara usia, wajah penantian adalah penantian

tak ada gelombang; mematung di baris antrian

(Mojokerto, 2019)

Kereta Kenyataan

Nampaknya kereta akan segera tiba

kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk

tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,

“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan

padanya, agar gerbong itu tak menelan

lalu cerita kita dilanjut-bacakan

sampai banyak yang berseru kehilangan,”

kataku padamu, sementara auman

kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.

“Di ngarai yang akan kutuju,

akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu

risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.

Kereta pun telah membujur lalu menamparku

dengan peringatan; “Siapkah aku

menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”

(Malang, 2018)

Kitab Luka

Tapi,

bagaimana jika aku kencing berdiri

dan jakun kemudian tumbuh di tepi?

Pencarianku tentang akar

kemudian sampai pada halaman

kitab batang, dahan, daun,

bunga, buah, dan benih.

Di kitab terakhir,

kupukul perutku kencang-kencang.

Di sana,

tak ada rahim yang menggelinjang.

Serapah lalu menjadi kelaziman

yang mengalir, membuncah, dan

muncrat ke segala arah.

Kukutuk siapa saja,

kukutuk apa saja,

bahkan sesuatu yang bertahta

di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.

(Surabaya, 2019)

Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan

biar saja hujan menghapus kemarau

membasahkan tanah merah

membasahkan batang rebah

air mata tak melukiskan

sekian warna

air mata serupa

lonceng yang berdentang

sekali

lalu sunyi

pegang lengan ini

tak ada yang memilih menjadi berarti

dan atau tanpa nama sama sekali

tapi menjadi muara harapan

adalah pilihan

meski tak berbeda dengan

menimba air mata dari tempayan

di dapur rumah sendiri

(Mojokerto, 2019)

Diterkam Gamang

Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,

bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.

Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.

Bersama perca-perca harap dilepas rindu

dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,

selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.

Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?

Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela

nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,

pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,

kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,

tinggal selembar pula.

Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,

aku berpapasan dengan perempuan muda yang

membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang

yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,

karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang

usia ini diterkam gamang.

(Mojokerto, 2019)

Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga

telah usai sebuah musim bunga

batang pohon lipat dedaun bersahaja

setangkup kuncup pun tiada bersiul

tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul

     telah kucium beragam bunga

     dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)

menambatkan perahu hati

adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa

namun ada yang menguliti tubuh ini

meski ruh masih di kandung badani

kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka

alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan

kami bebas melengkungkan janur

sementara mereka mengaduh

saat pecah perawan dan atau melahirkan

(Surabaya, 2018)

*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002

Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:[email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto

Buku, Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).