Aku Ingin
Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada
saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang
menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin
dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta
dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas,
sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia
yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah
satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan
bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka
adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak
merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu
siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar
diriku.

2018


Aku Ingin
Berhenti Bunuh Diri

aku ingin
berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran
tak tidur

adalah
mayat di luar peti mati

dalam
pejam kedinginan

angin
melintas-lintas

tak
saling bertemu dalam udara

adakah
pemakaman di tiap simpang waktu

bagi
lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin
berhenti bunuh diri

sebab
seperti mata lampu jalan

aku sudah
kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin
ada suatu hari baik

setelah
kehilangan

aku
lupakan

lagu yang
mematahkan

musik-musik
sedih

seorang
perempuan selalu mengaku

baik-baik
saja untuk tak mengalah

tapi hati
seperti sekumpulan abu

beterbangan
bila disentuh

angin
dingin yang menyakitkan

mengingatkan
pada sudut kecil

tempat
negasi dihidangkan

dan
sesudahnya

hanya
samar

hanya
latar

kau tak
lagi di sini

tak perlu
ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi
hari; dingin memutih

tak ada
angka di kalender

tak ada
ingatan dalam kepala

aku
bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang
seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti
kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar
seluruh ketakutan pergi

dan puisi
kembali dituliskan

2019


Perak

adalah
laut bergulung-gulung

adalah
gugus bintang

adalah
warna rambut bulan

adalah
padang-padang adulam

adalah
daun-daun palma yang ditebar

adalah
perempuan di balik cadar

ia tamar
yang mati dibakar

setelah
yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika
hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar
dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak
jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang
pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang,
ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin
bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski,
prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih
suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang
datang

setelah
lama bermukim

dari
kematian musim

seseorang
datang

membebaskan
diri

dari
seluruh kutukan 

perempuan
yang menderita

menjalani
hukuman

oleh
cinta

bagian
kelam dari kenangan

betapa
panjang usia derita

waktu
serupa nyalak anjing

suara
lonceng di puncak menara

samar
terdengar

2016


Delusi

seseorang
menjadi tak waras

setelah
meneguk anggur

ia
menyeka, matanya seperti basah

tapi film
biru lebih menyedihkan

dari
surat-surat yang dikirim

mereka
mudah terbakar

sedang
cerita, samar dengan kebohongan

sseorang
menjadi tak waras

selepas
menelan pil tidur

ia menyeka,
matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin
menjadi dina

sekalipun
bukan

ia yang
jatuh di tiap kelokan

bicara
pada angin

dan setia
mengasihi dirinya

sebab
padanya

lampu-lampu
langit menyala

juga
sebuah jalan yang

menjauhi
rasa sakit

tapi ia
adalah duka

musik-musik
pujian

yang
luput dari doa 

senantiasa
mendapati dirinya

sendiri
menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin
menjadi dina 

sekalipun
hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.