Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie.Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Melihat Peta Baru Perupa Indonesia

Pameran Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”

Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2019. Acara tersebut sudah dimulai pada 23 April hingga 12 Mei 2019. Gelaran ini bersifat terbuka dan memberikan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi, menunjukkan potensi dan kreativitas, serta eksistensinya dalam ajang seni rupa bertaraf nasional, baik bagi para perupa muda maupun para perupa handal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi media pemetaan perkembangan mutakhir seni rupa di tanah air.

Foto-foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Seni Rupa Nusantara 2019 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, pameran ini tidak hanya menitikberatkan pada keterwakilan suatu wilayah, namun lebih menekankan pada keterampilan (skill) para perupa Indonesia yang diwakili dari hasil karyanya yang tentu sesuai dengan tema pameran yaitu “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”.

“Pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi, dan dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru. Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika,” kata Pustanto.

Menurut Pustanto, modernisme dalam seni seharusnya menghasilkan spirit “shock of the new”, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni. “ Pada pameran ini, kita ingin melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan, ide, pemikiran tradisional yang sesungguhnya terus berkembang. Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan sama lajunya dengan perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga,” ujar Pustanto.

Pada pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan, Sudjud Dartanto, Suwarno Wisetrotomo, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono ini, menampilkan 55 karya dari 55 seniman yang diperoleh melalui mekanisme seleksi yang sangat ketat. 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman yang dijaring melalui aplikasi terbuka, sedangkan 19 seniman dan karyanya merupakan undangan secara khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial. Keseluruhan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan eksplorasi media yang kaya, di antaranya lukisan, patung, grafis, batik, dan instalasi.

Dari proses panjang itu, deretan karya-karya dari perupa seperti Nasirun, Ade Pasker, Sasha Yuliana, Prabu Perdana, Tri Wahono, Ayu Laksmi, Heri Dono, dan nama-nama perupa lainnya bisa dilihat di sana. Salah satunya, karya Hono Sun yang bertajuk “Merti Desa” yang menggambakran tentang upacara adat Jawa saat memberikan sesaji kepada danyang atau leluhur desa setempat. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu, maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.

Ada juga  karya Ajeng Martia Saputri, dengan “Happiness for Sale #2” yang mengingatkan bahwa menjual kebahagiaan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, seringkali tanpa disadari. Kebanyakan manusia bertahan hidup dengan cara menukar waktunya dengan uang, yang kemudian uang itu akan ditukar dengan materi yang dianggap bias mendatangkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Konsep lokalitas lainnya juga bisa kita tangkap seperti pada karya I Made Djirna yang menampilkan warna lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui karya “Warna-Warna NTT”. Warna lokal tersebut terinspirasi dari kain tenun tradisional NTT. Wilayah NTT bagian barat dominan dengan warna cokelat, bagian tengah didominasi warna hitam, sedangkan bagian timur merupakan perpaduan cokelat dan hitam dan I Wayan Sujana dengan karyanya “Di Atas Tulang Belulang Agraris” juga menampilkan tradisi melalui kletekan: alat tradisional terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pengusir burung. Pada lukisan digambarkan ribuan kletekan berebutan menyangga sang calon presiden periode 2019-2024 sebagai analogi posisi masyarakat dan pemimpinnya. Lukisan ini diperkuat dengan instalasi kletekan.

Selain pameran, perhelatan ini juga dilengkapi dengan Program Publik berupa Diskusi Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” dan Kunjungan ke Museum MACAN, pada 24 April 2019 lalu. Diskusi Seni Rupa dirancang untuk menajamkan wacana yang diusung melalui presentasi karya-karya di ruang pamer, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang seni rupa. Sedangkan Kunjungan memberikan kesempatan kepada para perupa peserta pameran untuk mendapatkan pengalaman visual artistik sekaligus memperkaya informasi dan sudut pandang yang bertujuan untuk mendapatkan inspirasi berkarya.

Pustanto berharap, Pameran Seni Rupa Nusantara “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” ini mampu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya informasi atau pengetahuan terkait seni rupa, mengingat pameran ini juga diselenggarakan bertepatan untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, pembukaan pameran pada 23 April bertepatan dengan tanggal wafatnya Raden Saleh yang saat ini sedang dalam usulan rancangan sebagai tanggal peringatan Hari Seni Rupa Nasional Kami berharap publik dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh beserta karya para perupa Indonesia yang tak kalah dengan para perupa luar negeri, baik dari segi kedalaman konsep maupun artistik visualnya. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sarana wisata edukasi kultural yang mampu menarik perhatian publik dalam negeri maupun mancanegara. Juga yang tak kalah penting, diharapkan pameran ini mampu mengisi titik-titik penting perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mendorong perkembangan tersebut demi kemajuan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Pameran Seni Rupa “Gemati”: Ekspresi Kritis Astuti

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Keluarga itu duduk dan berkumpul di dalam sebuah ruang tamu berwarna cerah. Sepasang orang tua, dan ketiga anaknya yang duduk saling berdekatan. Kebersamaan yang menggambarkan bentuk keluarga yang ideal dan penuh kedekatan. Namun, sebuah benda kecil yang tergenggam di tangan orang-orang itu membuat jarak yang sebenarnya saling berdekatan terasa berjauhan.

Poster Acara
Pameran Seni Rupa Gemati

Luruhnya rasa kemanusiaan, mungkin, itu kata yang tepat mewakili Pameran Seni Rupa bertajuk “Gemati” yang digelar di Bentara Budaya Surakarta tanggal 24 Februari – 4 Maret 2019. Pameran yang mengusung karya tunggal perupa perempuan dari Yogyakarta, Astuti Kusumo, ini menampilkan sederet karya-karyanya yang menangkap kegelisahan sang perupa tentang hilangnya rasa “gemati” dalam diri manusia seiring dengan kemajuan teknologi.

“Ditengah perkembangan dunia yang serba digital saat ini, percepatan teknologi lambat laun mengikis aspek-aspek kedirian kita sebagai manusia. Percepatan ini pula yang menyebabkan munculnya egoisitas dalam diri kita, hingga acuh pada sekeliling kita. Di lingkungan sosial kita saat ini, lihatlah, tegur sapa antar tetangga, sopan santun, kemesraan keluarga semakin luntur,” kata Astuti.

Seorang pengunjung menikmati lukisan karya Astuti Kusumo dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Gemati. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Pameran yang dipersiapkan Astuti selama dua bulan tersebut, menangkap dengan jelas kegelisahan-kegelisahan perupa perempuan ini dalam beberapa karya lukisannya, antara lain yang berjudul: Keluarga Android, Busy Couple, Happy Alone, Android Party, dan Follow Me. Pada lukisan-lukisan tersebut, perasaan tentang kesepian dan berjarak dengan orang-orang yang sebenarnya berada di sekelilingnya sangat kental terasa. Selain itu, Astuti juga memamerkan sederetan karya yang memiliki ekspresi tak kalah kuat, seperti Temu Rasa, GoShopping, dan Sejoli. “Pameran ini merupakan satu bentuk ungkapan ekspresi saya sebagai perupa atas kikisnya kesadaran dan sensitivitas kita sebagai manusia. Melalui karya dalam pameran ini, saya ingin mengajak menilik kembali definisi dan praktik asah, asih, asuh. Menilik kembali perhatian atas diri dan sesama yang mengedepankan “rasa-pangrasa”,” ujar Astuti.