malam
malam masih dibingungkan
dengan derita yang hujan bawa:
entah lebih jauh mana antara jarak
tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?
pagi memilih mata hujan bertandang
merayakakan gerimis bayang-bayang
(2019)
cincin waktu
empat ribu hari daun bersemi
ia teringat bunga kembang
merayakan cincin melingkar
umpama hujan rintik berkabar
cincin hujan di tangan waktu
pertanda aku merindukanmu
suara telepon, suara hujan,
suara ayam di kebun frasa
semuanya tengah gembira
nun di alifnya hijrah pergi
ke tanah ritme mahligainya
(2019)
Malam Rabu
Suara-suara alif kiai
Serupa suruhan senja
Melampiaskan makna
Hujan tadi sore pergi
Kalimat tinggal dua
Nama aku dan kamu
Jumpa malam hanyut
Pergi ke sungai kali
Ikan-ikan diam bisu
Daun tetap tumbuh
Kaloni mimpi kata
Selatan arah kami
Ada rona perempuanku
Malam Rabu kesaksian
Menyaksikan perasaan
Bersaksi dan beraksi,
Bahwa kita ini puisi
(2019)
Zikir Waktu
Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.
Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.
Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.
Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.
Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam
Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.
Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.
Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya
sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir
(Selasa, 30 April 2018)
Restu Kita
Kita dan waktu duduk meminum
campuran sepi dan puisi. Kongko.
Sesekali puisi dan kopi merasa
cemburu melihat rindu minum restu
Entah barangkali kita adalah mohon
yang dirahasiakan doa di ubun restu
Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi
(2019)
pernikahan aku dan hujan
petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan
kabut hitam yang menyambut tamu undangan
terundang petir awan duduk rapi di pangkuan
bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian
jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai
hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung
ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput
di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian
pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,
keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang
(Pangabasen, 2018)
asmaraloka
“di sini, mereka lupa kata“
angin dan aku bercerita;
tutur daun aku gugur,
cetus jauh aku jarak,
ucap mendung aku hujan,
kata rumput aku rasa,
ucap rasa aku kata; gampang
mencintai, tapi susah dicintai
(Bungduwak, 2018)
ilmu
belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.
memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap
gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan
bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)
butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang
gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan
(Bungduwak, 2018)
taksa
sederas tangan hujan berdoa.
ia duduk, melamun, kadang
hijrah jatuh melilit makna abu
lunglai di mata batin kayu.
kayu-kayu daun terhindar
dari kemarau api gelisah.
searah mata hujan terpana
merias desir-desir makna.
(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).
